"Bukankah itu berarti... Soul-kun benar-benar..."
.
.
.
Setelah makan malam yang berantakan itu, Soul tidak bicara apapun. Berkali-kali Maka mengetuk pintu kamar Soul dan meminta penjelasan. Tapi tetap tak ada jawaban.
Bahkan hingga esok pagi saat hujan deras telah reda dan cuaca terlihat sedikit berawan, Maka terbangun tapi tidak menemukan Soul di kamarnya. Soul pasti sudah berangkat ke sekolah duluan dan meninggalkannya. Ia bahkan tak sarapan. Maka benar-benar tak mengerti. Apa yang salah dengan perkataannya semalam? Padahal ia cuma ingin Soul membantu Kid dan Hiro. Maka malah jadi sebal kalau memikirkan tingkah kekanakan Soul semalam.
Ia akhirnya berangkat ke Shibusen dengan jalan kaki. Mengomel dalam hati dan mengutuk Soul sepanjang perjalanan. Ia bersumpah akan mengurangi jatah makan malamnya nanti.
Begitu tiba di Shibusen, Maka segera menuju ke kelas. Saat ia berbelok ke tikungan, ia menangkap sekilas Soul sedang membelakanginya di sudut ujung jalan lain. Maka terhenti. Ia mengamati punggung Soul dengan sebal. Kemudian ia sadar kalau Soul sedang tidak sendirian. Ia berbicara dengan gadis berambut pirang yang dikepang. Maka menghela napas dan berbalik arah. Pasti permintaan patner lagi. Atau pernyataan cinta.
Maka berjalan lewat jalan lain, lalu ia melihat Kid sedang berbicara dengan Hiro di dekat ruang korseling. Ia menghampiri mereka. Kid menyadari kehadiran gadis itu dan menoleh, lalu tersenyum.
"Waktu yang tepat, Maka. Kau dan Hiro sudah bertemu. Sekarang aku ingin kau membicarakan sesi belajar kalian." Hiro tersenyum kikuk saat melihat Maka.
"Tak apa, Kid. Aku sudah atur jadwal tiga hari sekali. Dua jam tiap pertemuan. Aku sudah menyesuaikannya dengan jadwal kerja sambilan Hiro."
"Apa? Kau kerja sambilan?" Kid terkejut bingung. "Kenapa aku tak tau? Dan kenapa kau sudah tau soal ini, Maka?"
"Aku menemuinya beberapa kali di toko obat tradisional cina yang ada di ujung kota. Ia bekerja sambilan di bagian kasir. Ia benar-benar meringankan kerja Nenek pemilik toko itu." Maka tersenyum dan menepuk pundak Hiro pelan. Hiro hanya tertawa canggung. Mukanya merah.
"Yah.. Maka sering ke sana untuk membeli obat. Tapi aku tak pernah menjualinya. Selalu saja nenek itu yang melayani Maka." Yaiyalah, mana mungkin aku meminta kau yang melayani ketika aku membeli obat pereda nyeri haid dan obat s-
"Apa yang kau beli, Maka?" Kid bertanya. "Apa kau mencoba membuat ramuan sihir bersama Blair?"
"Bukan kok! Ugh. Bukan untuk sihir. Tapi untukku. Dan pastinya itu rahasia!" Maka membela diri. "Omong-omong, sebentar lagi kelas akan mulai. Ayo, Hiro. Sekarang kau adalah murid didikku!" Maka menyeret Hiro yang bingung. Kid hanya bisa terdiam -bingung melihat mereka pergi.
"S-s-Soul-senpai! K-kalau boleh a-aku ingin.. jadi partnermu! Kumohon pertimbangkanlah!"
"Aku mengagumimu, senpai! Aku ingin lebih bisa mengenalmu!"
Soul mengingat kejadian yang barusan dialaminya itu. Ia mendesah lelah dalam perjalanan menuju kelas. Sudah ada dua gadis- meister -yang menemuinya, memintanya sebagai partner. Belum lagi ketika ia mengecek lokernya yang dipenuhi surat permintaan yang sama.
Jadi keren dan terkenal terlalu melelahkan. Sepertinya gelar The Last Deathschyte ini terlalu berat untukku. Ia menghela napas panjang dan masuk kelas.
"Yoww, Soul! Kayaknya aku jadi mulai terbiasa lihat wajahmu yang selalu murung di pagi hari! Kau lagi ada masalah ya?" Black Star merangkulnya dari belakang.
"Iya nih. Permintaan partner yang terus berdatangan itu ganggu banget. Rasanya bikin capek aja." Soul duduk di bangkunya dan memijit hidung. Tsubaki duduk di sebelah Black Star di belakang Soul.
"Melelahkan sekali ya jadi terkenal." Tsubaki menimpali sambil mengeluarkan coklat dari kotak. Black Star tertawa. "Kau aneh sekali, Soul! Hahaha! Harusnya kau senang karena banyak orang yang memperhatikanmu dan menganggapmu bintang! Ah tapi kau tidak sebesar aku, sih.."
"Black Star, kalau bisa.. aku ingin semua permintaan dan surat-surat itu ditujukan untukmu saja. Aku sudah capek mikirnya. Semuanya benar-benar keras kepala."
"Apa kau baca semua suratnya?" Black star memakan coklat truffle yang dibawa Tsubaki.
"Gak sih. Awalnya aku senang lah, dapat surat gitu. Tapi lama-lama jadi makin banyak dan makin menyusahkan saja." Soul mengambil satu rasa kopi dan memakannya. "Lagipula tanpa perlu dibaca, intinya tetap sama saja."
"Bukankah itu berarti... Soul-kun benar-benar sudah nyaman dan setia dengan Maka-chan?" Soul terdiam. Ia menelan kata-kata Tsubaki tanpa membalasnya.
Begitu sadar, bel kelas tanda masuk berbunyi. Semua anak berhamburan menuju tempat duduk mereka. Prof. Stein masuk dan mulai mengabsen sambil memutar skrup di kepalanya. Soul memperhatikan sekeliling. Tidak ada sosok Maka, maupun Hiro. Jadi ia berasumsi kalau mereka berdua sedang ada pelajaran privat atau mengikuti kelas lain.
Ghh. Setia itu menyiksa.
"Jadi Hiro, apa yang ingin kau pelajari?" Setelah pelajaran kelas usai, gadis berambut pirang kelabu itu kini berjalan di lorong perpustakaan sambil menenteng tumpukan buku yang tadi diambilnya dari rak. Ia meletakkan tumpukan buku itu di depan lelaki pirang beranting. Hiro menelan ludah.
"Uhm, apa ini yang akan kita pelajari hari ini, Maka?" Ia menghitung jumlah buku yang diletakkan Maka di depannya. Ada satu, dua, tiga belas buku. Semuanya dalam berbagai ukuran dan ketebalan.
"Ini? Oh bukan. Ini hanya beberapa bacaan ringanku saja." Maka duduk di depan Hiro, mengeluarkan buku catatan dan mulai menulis sambil mengambil sebuah buku dari tumpukan itu. "Tapi hanya ada tiga yang akan kupakai untuk referensi untuk belajar." Maka menjawab santai. Diam-diam Hiro menghela napas lega. "Kenapa memangnya?"
"Ah, kupikir kita akan berlatih di luar ruangan hari ini...ternyata kau membawaku ke perpus..." Hiro menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku ingin tahu apa yang akan kita lakukan hari ini, Maka?"
"Hm, meski sekarang aku yang mengajarimu, tetap saja aku harus tau apa kekuranganmu, Hiro." Maka bersandar di kursinya. "Semalam aku sudah cari tahu tentang prestasi belajarmu. Kau cukup bagus dalam hal teori, dan praktekmu lumayan. Hanya saja kau tidak bisa berkata tidak pada seseorang, dan karaktermu yang seperti itulah yang membuatmu sulit mendapatkan partner. Kau jadi mudah dipermainkan seseorang. Harusnya kau lebih tegas."
Hiro mendengarkan. Ia mulai berusaha paham meski sebenarnya agak bingung dengan kalimat berat Maka. "Jadi... hari ini kita akan belajar apa?"
"Yah, hari ini kita akan mengobrol santai saja. Aku ingin tahu karaktermu lebih dalam, supaya aku bisa mencarikan partner yang cocok denganmu." Maka menulis dengan santai sambil terus berbicara dengannya. Mata gadis itu fokus pada kertas dan buku di sampingnya "Aku akan membantumu dan membimbingmu supaya sikapmu jadi lebih baik."
Hiro tersenyum sambil menelan ludah. "Ba-baik. Mo-mohon bantuannya, Maka..."
