"kita lihat apa yang dapat kau lakukan anak manis"
THG 15
Main Cast : Kim Minseok & Xi Luhan
Cast : semua member EXO dan other Cast lainnya
EXO FANFICTION
.
.
.
.
HAPPY READING
CHAPTER 9
"Im Yoonah"
Seorang gadis yang Nampak sangat cantik maju kedepan dengan senyuman di wajahnya namun dapat dilihat ia sedikit kegugupan dalam gerak geriknya. Tangannya selalu ia gosokkan dengan tangan yang satunya lagi seolah mencari kehangatan. Yoonah pun berjalan dengan perlahan ke ruangan penilaian kemudian ia berkata
"Im Yoonah, distrik empat" katanya perlahan dengan nada yang bergetar
"kau gugup? Lakukanlah yang dapat kau lakukan" kata seorang juri yang agak memberikan seringainya pada Yoonah
Setelah dipersilahkan oleh juri Yoonah segera berjalan ke arah tempat yang menyediakan trisula, ia pun kembali berjalan ketengah ruangan kemudian ia sedikit tersenyum melihat ruangan yang agak sedikit lembab, mungkin ini karena Joongmyeon yang baru menggunakan kekuatan pengendalian airnya. Dan selanjutnya Yoonah pun memejamkan matanya sebentar. Kemudian dia membuka matanya kembali dan dapat di rasakan ruangan sekarang menjadi sangat panas dan kering dan dengan cepat juga Yoonah melemparkan trisula yang ia pegang ke arah boneka sasarannya. Setelahnya Yoonah mengubah ruangan lagi menjadi basah karena uap air yang tadi ia uapkan berubah lagi menjadi air yang membuat lantai menjadi licin, dan setelah boneka sasaranya terjatuh karena licin maka Yoonah melemparkan lagi trisula yang ia pegang ke arah boneka sasaranya. Begitu seterusnya hingga ada seorang yang menginterupsinya
"cukup , kau dapat keluar sekarang"
Yoonah tidak mengatakan apapa dia hanya berjalan sambil tersenyum lega.
.
.
.
"Hwang Zitao"
Seorang pemuda yang memiliki lingkaran hitam dimatanya berjalan kedepan, jangan lupakan tatapan tajam yang ia miliki. Zitao berjalan menuju ruang penilaian
"Hwang Zitao distrik lima" Zitao berkata dengan nada yang dingin
"lakukanlah apa yang kau bisa" juri menjawab dengan nada yang sudah agak sedikit malas karena juri juri sudah terlihat agak bosan dengan penilaian sekarang
Kemudian Zitao berjalan menuju kearah rak yang terisi berbagai macam tombak. Kemudian Zitao mengambil tombak itu dan melemparkannya ke arah boneka latihan namun seperinya Zitao kurang menguasai tombak itu dan berakhir dengan tombak yang jatuh jauh dari boneka itu. Zitao melakukan itu beberapa kali namun hasilnya selalu sama dan paling bagus pun ia hanya mengenai lengan boneka itu dan saat itu juga seorang berkata
"cukup kau dapat keluar sekarang" orang itu berkata dengan senyuman yang meremehkan
Zitao berjalan dengan langkah yang pasti menuju keluar tempat latihan dan ia berkata lirih "kita lihat apa yang terjadi nanti, aku sudah menyerahkan semuanya, dan kita lihat apa yang menarik dari pertandingan nanti"
.
.
.
"Park Jiyeon"
Seorang gadis dengan tatapan yang tajam maju dan berjalan masuk menuju ruangan penilaian
"Park Jiyeon distrik lima" Jiyeon berkata sambil tersenyum namun dapat dilihat ada senyum yang licik yang terpancar dari wajahnya
"lakukan apa yang kau bisa" seorang juri mengatakan dengan seringai licik dan meremehkan
Kemudian Jiyeon berjalan menuju pos yang menyediakan pisau baik yang berukuran besar maupun kecil. Kemudian Jiyeon melemparkan pisau pisau tersebut kearah boneka boneka latihan. Namun mungkin kurang menguasainya atau nasibnya memang sama dengan Zitao maka hampir semua pisau yang ia lemparkan tak mengenai boneka itu dan yang paling bagus pun hanya mengenai kaki boneka itu.
Setelah lama Jiyeon melemparkan pisau pisau itu akhirnya sebuah suara menghentikannya
"cukup kau dapat kembali" kata salah seorang dengan suara yang meremehkan
Tak ada jawaban dari Jiyeon dia hanya berjalan menuju keluar namun sebelum sampai di luar dia mendengarkan sebuah suara yang berkata " nampaknya distrik lima memang sangat payah" dan Jiyeon hanya membalasnya dengan seringai andalnnya.
.
.
.
"Kim Jongdae"
Seorang dengan wajah dingin dan datar maju ke depan dan masuk kedalam ruang penilaian
"Kim Jongdae distrik enam" Jongdae memperkenalkan namanya dengan dingin dan datar
"lakukan apa yang kau mau" kata seorang juri dengan muka yang sudah sangat malas
Kemudian Jongdae berjalan menuju pos yang di penuhi pedang kemudian dia berlari menuju ke tengah ruangan dan melemparkan pedang itu ke arah boneka yang ada di hadapannya, jangan lupakan bahwa pedang itu sudah dialiri petir dari kekuatannya sehingga membuat boneka itu hangus seketika. Jongdae terus melakukannya berulang kali. Sampai ada suara yang mnenghentikannya
"cukup kau bisa keluar"orang yang tadi berkata malas Nampak sedikit kaget dengan yang ditunjukan Jongdae
Jongdae tidak mengatakan apa apa dia hanya langsung pergi dari ruangan
Namun setelah Jongdae berjalan agak jauh maka ia berkata dengan lirih "apa aku melakukan hal yang benar? Ibu aku melakukan hal yang benarkan?"
.
.
.
"Lee Yejin"
Majulah seorang wanita yang cantik. Wanita bernama Yejin itu berjalan dengan lumayan santai kedalam ruang penilaian. Sesampainya diruang penilaian gadis itu berkata
"Lee Yejin, distrik enam"
"silahkan" seorang juri berkata dengan malas
Kemudian Yejin memejamkan matanya dan benda benda logam seperti pisau dan tombak mulai berterbangan dan mengarah ke suatu titik yang arahnya menuju sebuah boneka latihan. Dan saat Yejin menghempaskan tangannya ke depan semua benda logam yang terbang itu langsung menusuk ke boneka itu dan membuat boneka itu terjatuh.
Yejin melakukannya lagi menerbangkan benda logam lalu menghempaskannya ke arah boneka boneka latihan lainnya dia terus melakukannya hingga sebuah suara menghentikannya
"Cukup, kau dapat kembali ke ruanganmu" juri yang tadi menyuruh memulai penilaian mengakhirinya juga
"terima kasih"
Yejin berjalan dengan santai ke luar ruangan penilaian
.
.
.
"Do Kyungsoo"
Seorang pemuda bermata bulat maju dengan badan yang gemetar dan langkah yang amat sangat ragu ragu. Mendengar nama itu disebutkan Minseok tersadar dari lamunannya. Dia melirik sedikit ke arah pemuda bernama Kyungsoo itu. Namun setelah melihat tubuh gemetar Kyungsoo maka Minseok kembali kedalam lamunaanya
Kyungsoo berjalan dengan perlahan dan sampai dengan waktu yang agak sedikit lama
"namaku Do Kyungsoo, berasal dari distrik tujuh" Kyungsoo mencoba berkata dengan tidak gemetar namun suara yang dikeluarkan Kyungsioo tetaplah bergetar
"kenapa jalanmu lama sekali? Lakukan dengan cepat" kata seorang juri dengan wajah kesalnya
Kyungsoo berjalan dengan perlahan menuju ke arah pos yang menyediakan kapak, kemudian Kyungsoo berjalan ke arah boneka boneka latihan dan mencoba menarik napas untuk mengnetralkan rasa gugupnya. Kemudian dengan sebuah hembusan nafas panjang Kyungsoo coba melemparkan kapak tersebut. Namun karena tangannya yang bergetar kapak itu melenceng dari arah sasaran sesungguhnya dan itu membuat Kyungsoo semakin gugup karena ia akan menghancurkan nilainya.
Kyungsoo terus melakukan lemparan kapaknya namun hasilnya selalu sama, tak mengenai sasarannya. Alasannya bukan karena Kyungsoo tidak pandai menggunakan kapaknya namun karena kegugupan Kyungsoo yang berlebihan mengakibatkan lemparan Kyungsoo yang tak mengenai sasaran.
Lama Kyungsoo berkutat dengan kapaknya yang tak pernah mengenai sasarannya akhirnya sebuah suara mengintrupsi kegiatannya
"cukup kau dapat keluar dari ruangan" kata seorang juri sambil tersenyum meremehkan pada Kyungsoo
Kyungsoo tak membalas perkataan juri itu dia hanya berjalan dengan menundukan kepalanya berjaln dengan perlahan dan Kyungsoo pun berkata " maafkan aku ayah, aku tak bisa melakukan yang terbaik untukmu" Kyungsoo terdiam lagi " aku sudah berjanji akan melindunginya ayah, jadi maafkan aku tak akan kembali padamu"
.
.
.
"Song Qian"
Seorang gadis cantik bermata lebar maju ke depan dan ia berjalan dengan ringan kearah ruang penilaian. Pemandangan ini berbanding terbalik dengan pemuda dari distrik yang sama dengannya yang berjalan dengan perlahan kearah ruang penilaian.
Sesampainya Qian di ruang penilaian, Qian pun berkata "Song Qian distrik tujuh"
"lakukan apa yang kau bisa" juri yang berkata juga sudah sangat bosan dengan apa yang dilakukan oleh para peserta sekarang, sedari tadi tak ada yang benar benar menarik perhatian mereka, kecuali ada beberapa juga yang cukup bagus dan juga menarik perhatian mereka. Namun selebihnya memang mengecewakan
Qian berjalan menuju pos yang menyediakan tombak dan ia pun mengambil beberapa tombak yang ada di sana. Dan Qian berjalan menuju ke arah boneka yang memiliki kepekaan terhadap suhu. Kemudian Qian memejamkan matanya sekejap. Dapat di lihat bahwa boneka itu menjadi sedikit terduduk karena kedinginan, dan setelah melihat boneka itu kedinginan maka Qian pun melemparkan tombak yang ia bawa ke arah boneka itu. Qian terus melemparkan tombak tombaknya kearah boneke boneka yang Nampak kedinginan. Setelah tombak di tangannya habis, Qian pun berkata
"aku selesai"
"silahkan keluar "
Qian berjalan dengan tambah ringan untuk keluar dari ruang penilaian
.
.
.
"oh Sehun"
Seorang pemuda berjalan dengan biasa menuju ke depan dan pemuda bernama Sehun itu sempat menoleh pada Minseok dan mengucapkan
"semangat Hyung!" Sehun mengatakannya sambil mengepalkan tangannya ke udara
Tak ada jawaban dari Minseok. Minseok hanya memandang datar ke arah Sehun. Saat mata Sehun dan Minseok bertemu dapat dilihat senyuman tulus Sehun pada Minseok. Dan setelah itu Sehun berjalan menuju ruang penilaian.
"oh Sehun distrik delapan"
"lakukan apa yang kau bisa" seorang juri berkata
Sehun berjalan menuju pos yang menyediakan tombak dan kemudian ia membawa beberapa buah tombak. Dan kemudian yang sehun lakukan adalah membuat angin dari kekuatannya yang membuat boneka boneka latihan itu berputar Karena angin yang ia buat, dan kemudian Sehun melemparkan tombak yang ia pegang kearah boneka boneka itu sehingga membuat boneka yang terkena lemparan tombaknya menjadi jatuh seketika. Sehun melakukan itu beberapa kali hingga ia berhenti karena kehabisan tombak. Saat akan mengambil tombaknya lagi maka seorang juri berkata
"cukup, kau bisa keluar sekarang"
"baiklah, terimakasih" Sehun menjawab dengan nada datar dan jangan lupakan ekspresinya yang datar
Setelah itu Sehun berjalan dengan perlahan ke luar dari ruang penilaian dan ia pun mulai berkata lirih "apa yang ku lakukan ini benar? Ibu, ayah kalian bisa menungguku sebentar lagikan?"
.
.
.
"Choi Jinri"
Seorang gadis yang memiliki kulit putih maju kedepan dengan sedikit gugup, namun ia berjalan dengan langkah pasti menuju ke ruang penilaian. Sesampainya Jinri ke ruang penilaian ia memperkenalkan dirinya kepada para juri dengan nada bergetarnya
"Choi Jinri distrik delapan"
"lakukan apa yang kau bisa, dan jangan gugup" kata seorang juri dengan nada yang meremehkan
Kemudian Jinri berjalan menuju pos yang berisi pedang pedang, kemudian ia membawa beberapa pedang baik yang berukuran besar maupun kecil. Kemudian Jinri memejamkan matanya sejenak untuk mengambil napas agar kegugupannya menghilang sedikit. Kemudian dia menerbangkan beberapa benda ringan yang ada di sekitarnya dan kemudian mengarahkannya ke arah boneka boneka latihan. Kemudian dia berniat melemparkan pedang yang ada, di nasib berkata lain entah karena kegugupannya atau memang Jinri kurang mengusai pedang pedang itu, akhirnya pedang yang dilemparkannya pertama kali tidak mengenai boneka sasaran sama sekali.
Jinri mencoba lagi, namun semua yang ia lakukan berakhir sama, karena semua pedang yang ia lemparkan tidak mengenai boneka boneka itu sama selaki. Makin lama Jinri Nampak semakin gugup dan ia makin tertekan. Hingga sebuah suara mengintrupsinya
"kau boleh berhenti, dan bisa keluar sekarang" juri itu berkata sambil terkekeh dan yang lainnya Nampak berseringai
Jinri tidak menjawab dia hanya menundukan kepala dan berjalan perlahan ke arah pintu keluar
.
.
.
"Byun Baekhyun"
Seorang pemuda bermata sipit berjalan kedepan dia Nampak sangat gugup dengan tes ini. Dia Nampak menggenggam ujung pakaian yang ia kenalan. Dan berjalan perlahan ke arah pintu ruang penilaian
"Byun Baekhyun, distrik Sembilan"
"lakukan apa yang kau bisa" kata seorang juri
Baekhyun berjalan dengan perlahan menuju pos yang menyediakan pedang, dia berjalan dengan amat perlahan dan coba mengatur napasnya agar kegugupannya menjauh sedikit. Saat Baekhyun sudah kembali ke tengah ruangan ia mulai melakukan apa yang ia ingin lakukan. Pertama ia menarik napas untuk kesekian kalinya dan coba menghilangkan kegugupannya. Kemudian ia mengeluarkan cahaya yang amat terang dan ia arahkan cahaya itu ke arah boneka yang akan jadi korbannya. Kemudian ia mencoba melempar pedang yang ia pegang. Namun sepertinya Baekhyun kurang menguasai pedang itu dan yang terjadi adalah pedang itu tidak mengenai boneka boneka itu. Baekhyun kaget dengan apa ia lakukan kemudian ia menghentikan cahaya yang ia arahkan ke boneka itu. Yang terlihat hanyalan boneka yang sedikit meleleh karena cahaya Baekhyun.
Baekhyun semakin gugup karena ia tak mengenai boneka itu. Kemudian ia mencoba lagi dengan memancarkan cahayanya lagi dan mengarahkan lagi ke arah boneka itu. Dan kini berbeda dengan sebelumnya ia maju kedepan untuk menyerang boneka itu lebih dekat. Namun nampaknya takdir baik tak ada di pihak Baekhyun kali ini. Saat ia berlari menuju boneka itu, Baekhyun terpeleset dan ia jatuh ditengah ruangan.
"apa kau baik baik saja? Kau dapat berhenti sekarang kalau kau mau" kata seorang juri dan Nampak bahwa juri itu menahan tawanya
Baekhyun tidak menjawab pertanyaan dari juri ia bangkit dari jatuhnya dan berjalan dengan perlahan sambil menundukan kepalanya Nampak juga seskali Baekhyun mengusap butiran yang jatuh dari matanya dan Baekhyun mulai berkata lirih " maafkan aku ibu, aku tak akan pernah kembali kepadamu, aku sudah menyerah sekarang"
.
.
.
"Ahn Sohee"
Seorang gadis bermata tak kalah sipit dengan pemuda sebelumnya berjalan dengan perlahan namun dengan langkah yang pasti kearah ruang penjurian
"Ahn Sohee distrik Sembilan"
"lakukan apa yang bisa, jangan permalukan distrikmu" kata seorang juri sambil terkekeh
Sohee mengangkat sebelah alisnya namun ia tetap berjalan kearah pos yang menyediakan panah sebagai senjatanya. Kemudian ia berjalan namun agak sedikit berlari ke arah boneka yang menjadi sasarannya. Kemudian ia mepersiapkan panahnya dan sebuah seringai muncul di bibirnya dan kemudian ia melepaskan panah yang ada ditangannya.
Namun karena mungkin terlalu percaya diri dengan kemampuannya akhirnya panah yang dilepaskan oleh Sohee tidak mengenai boneka itu. Dan Sohee Nampak sangata kaget dengan apa yang terjadi dan kemudian ia mencoba lagi namun hasilnya tetap sama tak mengenai boneka itu lagi. Sohee mencoba lagi dan lagi namun hasilnya tetap sama tak pernah mengnai boneka itu.
"kalau sudah selesai kau boleh berhenti" kata seorang juri dengan seringai yang meremehkan di wajahnya
Tak ada jawaban dari Sohee dan Sohee berjalan dengan menundukan kepalanya. Nampaknya ia sangat kecewa dengan apa yang ia lakukan namun saat berjalan Sohee mendengar sedikit percakapan juri
"Sembilan sangat mengecewakan"
.
.
.
"Zhang Yixing"
Seorang pemuda maju dia menampakan senyuman yang sangat tulus dari bibirnya, ia memberikan senyuman kepada semua peserta yang tersisa. Pertama ia memberikan senyuman kepada gadis dari distriknya yang dibalas senyuman yang tak kalah tulus dari gadis itu. Kedua ia memberikan senyumannya pada gadis yang berasal dari distrik sebelas yang hanya dibalas lirikan tajam oleh gadis itu. Kemudia Yixing memberikan senyumannya pada Jongin yang hanya di balas dengan wajah datar yang Jongin miliki. Dan kemudian ia memberikan senyumannya pada Jieun yang dibalas dengan senyuman canggung oleh Jieun dan saat memberikan senyumannya pada Minseok Yixing hanya terdiam karena Minseok sama sekali tak melihat padanya.
Setelah menebarkan senyumannya Yixing melangkah masuk ke ruang penilaian
"Zhang Yixing distrik sepuluh" Yixing mengakatannya sambil tersenyum
"silahkan" juri itu berucap dengan malas karena mungkin mereka mulai bosan dengan penilaian ini, dan mungkin karena penampilan beberapa tribut sebelumnya yang mengecewakan
Kemudian Yixing berjlan ke arah pos yang menyediakan tombak kemudian ia berusaha berkonsentrasi dengan lemparannya yang akan dia lakukan. Namun saat ia melempar tombak itu, hasilnya sama dengan dua tribut sebelumnya yang tak mengenai sasaran mereka. Yixing Nampak masih tersenyum dengan apa yang ia lakukan, dan ia kembali coba melemparkan tombaknya lagi namun hasilnya tetap sama dengan percobaan pertamanya yang tak mengenai boneka latihan itu.
"kalau kau lelah kau boleh berhenti dan keluar dari ruangan ini" kata soirang juri dengan nada datarnya
"baiklah, terima kasih atas waktu yang kalian luangkan untuk menilaiku" Yixing mengatakan kalimatnya dengan senyumannya, walaupun bukan senyuman tulusnya yang ia berikan namun setidaknya Yixing sudah tersenyum diatas kekecewaanya
Yixing berjalan perlahan ke luar dari ruang penilaian ia berusaha terus tersenyum walaupun yang keluar hanya sebuah senyuman terpaksa. Yixing nampaknya sangat kecewa dengan apa yang ia lakukan tadi. kemudian Yixing berkata Lirih "tak apa, semua akan baik baik saja, kau hanya perlu melindunginya dan kau akan pergi dengan tenang Yixing"
.
.
.
"Jeon Boram"
Seorang gadis cantik berlesung pipit maju kedepan dengan senyumannya yang tak kalah tulus seperti yang diberikan Yixing. Gadis itu melakukan hal yang sama dengan Yixing dan mendapatkan tanggapan yang sama dengan yang Yixing dapatkan. Ia berjalan dengan langkah yang ringan menuju ke ruang penilaian.
"Jeon Boram distrik sepuluh"
"lakukan yang kau bisa" suara juri itu semakain dingin dan nampak wajahnya Nampak bosan dengan apa yang para tribut ini lakuakan
Kemudian Boram melangkah ke arah pos yang menyediakan panah sebagai senjatanya dan ia mulai melakukan hal yang sama dengan gadis dari distrik Sembilan yang bernama Sohee. Nampak nasib sama menimpa Boram dan Sohee, anak panah yang ia lemparkan tak mengenai boneka yang sasaran.
Boram melakukan kegiatan panah memanah selama beberapa kali namun hasilnya selalu sama dimana anak panahnya tak ada yang mengenai boneka boneka itu.
"kau bisa berhenti dan juga keluar sekarang" kata seorang juri dengan nada datarnya
tak ada jawaban dari Boram. Boram masih terdiam di tempatnya dan beberapa detik kemudian Boram seperti tersadar dari lamunannya dan melangkah keluar dengan langkah yang perlahan dan tampak kekecewaan tergambar di wajahnya
.
.
.
"Kim Jongin"
Seorang pemuda bekulit tan maju kedepan dengan wajah yang datar. Kemudian Jongin melirik kearah Minseok sedikit, dan memberikan seringan yang meremehkan pada Minseok. Dan Minseok yang sadar siapa nama yang di panggil dia pun menoleh ke arah Jongin yang kebetulan memberikan seringainya dan di balas sebuah seringai yang tak kalah meremehkan dari bibir Minseok.
"Kim Jongin distrik sebelas" Jongin berkata dengan nada yang dingin
"lakukanlah apa yang kau mau"nampaknya juri sudah semakin bosan dengan apa yang para tribut lakukan.
Melihat juri yang sudah tidak fokus kearahnya Jongin pun kemudian mendapatkan sebuah ide yang sangat cemerlang. Pertama dia berteportasi ke pos yang menyediakan pedang. Namun karena melihat tak ada reaksi dari para juri. Karena hampir semua juri hanya duduk melamun di kursi mereka masing masing. Akhirnya Jongin berteportasi kearah salah satu juri yang sedang melamun dan saat Jongin sudah sampai di depan juri tersebut ia berkata " perhatikan apa yang mau aku lakukan"
Juri itu lantas kaget dan sedikit berteriak yang membuat semua juri nampak Fokus kembali pada Jongin. Kemudian Jongin menghilang dari hadapan para juri dan ia muncul kembali di depan sebuah boneka dan saat itu juga Jongin langsung menusuk boneka itu tepat di jantungnya. Jongin terus melakukan itu. Menghilang kemudian muncul dan langsung menusuk. Saat di rasa sudah cukup akhirnya ia berkata
"aku selesai, terima kasih atas perhatiannya" Jongin berkata seperti itu sambil memberikan seringainya yang khas
Jongin tidak berjalan menuju pintu keluar yang Jongin lakukan adalah menghilang dengan tiba tiba dari ruang penilaian yang membuat juri semakin kaget dengan yang Jongin lakukan.
.
.
.
"Kim Hyojung"
Seorang gadis berjalan dengan langkah yang angkuh menuju ke ruang penilaian saat gadis itu menghilang di balik pintu akhirnya kini di ruang tunggu hanya tinggal Minseok dan Jieun berdua yang menimbulkan ketegangan diantara mereka.
"Kim hyojung distrik sebelas"
"lakukan apa yang kau bisa" nampaknya semua juri sudah kembali fokus kepada para tribut
Hyojung berjalan ke arah pos yang menyediakan pisau dan pedang. Kemudian ia berlari menuju ke arah boneka boneka yang akan menjadi sasarannya. Ia lemparlan pisau pertamanya ke arah boneka yang terletak paling jauh dari Hyojung, dan lemparan tersebut tepat mengenai kepala dari boneka itu. Kemudian ia berguling sedikit ke arah kanan kemudian berlutut dan melemparkan pisau kearah boneka yang berada di sebelah kanannya. Hyojung melakukan itu terus menerus dan sebagai penutup ia melompat kearah boneka yang berada di depannya dan menusukkan pedang yang paling besar ke arah boneka itu dan tepat mengenai perut dari boneka itu
"aku selesai"
Hyojung tak menindahkan jawaban dari juri ia melangkah dengan langkah yang ringan namun tampak arogan keluar dari ruangan
.
.
.
"Kim Minseok"
Minseok maju kedepan dengan langkah yang pasti dan dengan wajah yang datar. Namun saat ia akan memasuki ruangan penilaian ia mendengar suara yang memanggil namanya
"Oppa" Jieun memanggil Minseok dengan suara yang lirih dan bergetar
Minseok tak menjawab namun ia hanya menoleh kearah Jieun
"lakukan yang terbaik, kau sudah berjanji padaku kau akan melakukan yang terbaik untukku" Jieun mengatakan dengan nada yang lantang namun ia menunduk saat ia mengatakan kalimat itu.
Tak ada jawaban dari Minseok, ia hanya berjalan masuk menuju ruang penilaian, namun saat di dalam ruangan ia melunakkan ekspresi wajahnya dan ia mulai bergumam kecil
"maaafkan aku aku tak akan pernah menepati janjiku padamu Jieun"
Setelah itu Minseok mulai melangkah maju kearah para Juri
"Kim Minseok distrik dua belas" tak ada jawaban dari para juri yang ada hanya obrolan dari para juri yang sedang asik mengobrol
Minseok terdiam dan pergi melangkah ke arah pos yang menyediakan panah. Setelah kembali ke tengah ruangan Minseok pun memulai dengan membekukan boneka yang akan menjadi sasarannya dan kemudian ia melepaskan anak panah yang sudah dilapisi oleh es. Namun apa yang ia lakukan tak ditanggapi apa apa oleh para juri yang malah semakin keras mengobrol di kursi mereka.
Akhirnya Minseok melakukan hal yang seharusnya tak ia lakukan ia menembakkan anak panah yang sudah ia lapisi dengan es ke arah gelas salah satu juri yang membuat juri itu kaget dan menoleh kearah Minseok. Dan saat semua juri itu tersadar dan menoleh ke arah Minseok yang terjadi adalah sebuah hujan salju buatan Minseok terjadi di tengah ruangan yang Minseok tempati.
Karena emosi juga perlahan lahan ruangan yang Minseok dan pada Juri tempati menjadi beku secara perlahan dan kemudian Minseok berkata " terima kasih" dan langsung pergi ke luar dari ruangan yang membeku.
.
.
.
"Lee Jieun"
Butuh waktu lama sebelum nama Jieun disebutkan dan saat ia masuk terasa hawa dingin dan lembab masih sangat terasa di ruangan yang Jieun masuki
"Lee Jieun distrik dua belas"
"lakukan dengan cepat, kami kedinginan disini" kata seorang juri sambil menggosokan kedua tangannya
Jieun memang melakukannya dengan cepat, pertama ia melirik kearah tanaman yang ada di sudut ruangan dan kemudian dengan cepat tanaman itu tumbuh menjadi ukuran yang besar dan menjalar kearah kaki para boneka yang ada di ruangan yang kemudian menarik boneka itu untuk menggantung boneka boneka itu.
Kemudian Jieun mengembalikan ukuran tamanaman tersebut ke ukuran Normal.
"selesai" kata Jieun
"bagus kau menyelesaikannya dengan cepat" kata Juri yang langsung beranjak dari duduknya
"dan kau boleh kembali ke kamarmu" kata seorang juri lagi
Jieun merasa teraneh aneh dengan apa yang terjadi di ruang penilaian karena hampir semua barang yang ada di ruangan itu dilapisi oleh es dan Nampak sudah agak sedikit mencair. Namun hawa dingin dan lembabnya masih sangat terasa
.
.
.
Penilaian telah selesai, Minseok kembali ke lantainya dengan wajah yang semakin dingin. Dan setelah turun dari lift tadi disepenjang jalan yang dilalui Minseok akan mucul es tipis di tempat ia menapakkan kaki dan tercipta sedikit salju ditempat yang ia lewati
Minseok hendak masuk kedalam kamarnya namun ia dihalangi oleh Mentor Choi dan Pembimbing Kang yang berada di ruang makan.
"kau kenapa?" tanya Mentor Choi
Minseok tidak menjawab hanya saja lapisan es yang ada di kakinya semakin tebal dan suhu udara menjadi semakin turun
"Hey, ada apa dengan… awww" Kini Pembimbing Kang berbicara dan menepuk bahu Minseok namun dia merasa kesakitan karena tangannya langsung membeku
Masih tak ada jawaban dari Minseok, dia hanya terdiam dan memasang wajah datarnya
Tiba tiba Jieun masuk ke dalam ruangan
"kau sudah datang? Bagaimana penilaianmu?" Mentor Choi bertanya pada Jieun sambil menggosokan kedua tangannya karena kedinginan
"penilaianku berjalan lancar, namun nampaknya semua juri kedinginan dan menyuruhku agar cepat dalam melakukan penilaianku" kata Jieun
"mempercepat penilainmu? Kedinginan?" Mentor Choi teraneh aneh
Hening sejenak namun beberapa detik kemudian semua mata yang ada di ruangan itu tertuju pada Minseok
"Minseok apa yang kau lakukan pada para juri?" Pembimbing Kang bertanya dengan nada tingginya
"apa kau mau cari mati? Katakan apa yang kau lakukan pada para juri" Mentor Choi bertanya dengan nada yang sangat tinggi dan wajahnya yang memerah karena marah
Masih tak ada jawaban dari Minseok dan udara di ruangan itu semakin dingin
Beberapa saat kemudian datanglah Tuan Jung yang datang karena sebentar lagi tugasnya kan di mulai untuk mendandani Minseok untuk malam wawancara besok
"hey, ada apa dengan kalian? Dan kenapa disini sangat dingin?" tanaya Tuan Jung kebingungan
"tanyakan pada Pengendali es kita" Mentor Choi berkata sambil mencibir Minseok
"Minseok apa yang terjadi?" Tuan jung bertanya dengan nada yang lembut
Tetap tak ada jawaban dari Minseok
"Minseok tolong jawab aku, kau tak maukan semua orang mati kedinginan kan?" Tuan Jung Nampak membujuk Minseok dengan nada lembutnya
Nampaknya Minseok mulai sadar dengan apa yang ia lakukan, perlahan lahan es mencair, di sekitar Minseok tak ada lagi salju dan suhu ruangan perlahan lahan menghangat.
"aku memanah gelas juri dengan anak panah yang kulapisi es, karena mereka tak memperhatikanku dan karena marah juga aku membekukan ruangan itu" Minseok mengatakannya dengan nada yang dingin kemudian pergi menuju ke kamarnya
Semua orang Nampak sangat kaget dengan apa yang Minseok lakukan
"apa kau gila?" teriak Mentor Choi
"apa kau mau cari mati?" Pembimbing Kang berteriak dengan sangat emosi
"tanpa ku cari juga kematian akan menghampiriku dalam beberapa hari kedepan"
Minseok menjawab pertanyaan atau mungkin teriakan Pembimbing Kang dan Mentor Choi sebelum ia menutup pintu kamarnya
Semua orang yang ada di ruangan tengah tampak sangat kaget dengan apa yang Minseok lakukan. Mereka sama sekali tidak percaya bahwa Minseok melakukan itu semua perbuatan yang akan membuatnya mendapat nilai paling rendah mungkin, karena ia mengancam nyawa para juri di ruang penilaian.
"dasar bocah gila" teriak Mentor Choi pada pintu kamar Minseok
"apa kau tak punya pikiran?" Pembimbing Kang juga nampaknya sangat marah
"sudahlah, mungkin dia hanya kelelahan" Tuan Jung menenangkan kedua orang yang sedang emosi itu
"kelelahan? aku juga pernah kelelahan dan tak pernah seperti itu" Mentor Choi menjawab pernyataan Tuan jung dengan nada tingginya
"tenanglah, kalian harus menghadapinya dengan kepala yang dingin" Tuan Jung kembali menenangkan
"kepala dingin? bahkan dengan suhu yang dingin pun ia malah membuat masalah" Mentor Choi masih sangat membara dengan kenyataan yang Minseok katakan tadi
"sudahlah tenangkan diri kalian dulu, dan Jieun kau masuklah ke kamarmu dan istiratlah, nampaknya kau lelah" Tuan Jung masih coba menenangkan kedua orang di hadapannya dan menyuruh Jieun untuk masuk kedalam kamarnya
Jieun tidak menjawab, dia hanya masuk kedalam kamarnya
.
.
.
Malam sudah tiba, sekarang adalah saatnya pengumuman nilai yang sudah dilakukan tadi siang. Seluruh orang sedang duduk di ruang televisi. Suasana disini sangatlah aneh, sejak tadi Minseok keluar kamar, yan terlihat hanyalah wajah datarnya dan auranya yang dingin, walaupun tak menyebabkan membekunya ruangan namun Minseok tetap megeluarkan aura dinginnya.
Memang semenjak makan malam tadi suasana sangatlah tidak enak. Pertama saat Minseok masuk ke ruang makan dengan aura dinginnya tak ada yang mau menyapanya kecuali Tuan Jung yang menyapanya walaupun hanya di balas dengan tatapan oleh Minseok. Jieun tetap sama dengan mode diamnya yang ia pasang sejak kejadian Jongdae itu lalu jangan tanyakan kedua orang yang memiliki masalah dengan Minseok mereka menatap Minseok seolah Minseok adalah pembunuh yang sudah menimbulkan banyak korban. Namun Minseok hanya fokus terhadap makanannya sedari tadi dan sama sekali tak memperdulikan apa yang dilakukan kedua orang yang memandang marah padanya.
.
.
.
Acara pengumuman nilai sudah dimulai dengan pembawa acara yang berpenampilan nyetrik dengan pakaiannya yang berkialauan dan jangan lupakan rambutnya yang berwarna semerah darah dan jangan lupakan juga bibir dan matanya yang di beri warna serupa. Orang orang selalu menyebutnya bernama Tuan Lee.
Pengumuman dimulai, mereka menampilkan foto peserta dengan nilai mereka yang mengelilingi sekitar foto yang sudah diambil.
"mulai dari pemuda distrik satu yang bernama Park Chanyeol mendapat nilai Sembilan" kata Tuan Lee sambil melihat ke arah layar yang menampilkan foto Chanyel yang dikelilingi oleh angka Sembilan
"distrik satu selalu mengesankan" kata Tuan Lee di sela sela pergantian foto yang ada dilayar
Kemudian muncullan foto Sooyoung yang di kelilingi oleh nomor delapan. Setelah itu muncullah Yifan yang dikelilingi oleh nomor sepuluh
"distrik dua memang tak pernah mngecewakan" kata Tuan Lee menanggapi nilai yang di dapat oleh Yifan
Setelahnya muncul nama Yoojin dengan nilai delapannya. Dan setelahnya muncul nilai Luhan dengan angka empat yang mengelilinginya. Dan setelahnya Sooji muncul dengan nilai tiga yang mengelilinginya
"distrik tiga sedikit mengecawakan" Tuan Lee mengatakannya dengan nada yang sedih
Setelahnya distrik empat yang ditandai dengan kemunculan foto Joongmyeon dengan nilai sembilannya dan Yoonah muncul dengan nilai delapannya. Setelahnya Zitao muncul dengan nilai empat yang mengelilinya dan Jiyeon muncul dengan nilai lima
"empat sangatlah bagus tahun ini, namun lima agak sedikit mengecewakan" Tuan Lee kembali memberikan tanggapan atas nilai yang Muncul
Muncullah Jongdae dengan nilai Sembilan yang mengelilinya. Kemudian Yejin dengan nilai tujuhnya
"enam tidak terlau buruk"
Setelahnya muncul Kyungsoo dengan nilai enam. Dan Qian dengan nilai delapan, setelahnya Sehun Muncul dengan nilai sembilannya dan Jinri muncul dengan nilai lima
"pemuda tujuh dan gadis delapan sedikit mengecewakan namun gadis tujuh dan pemuda delapan cukup lumayan"
Setelahnya muncul Baekhyun dengan nilai empat, dan Sohee dengan nilai empat juga dan selanjutnya Muncul Yixing dengan nilai limanya dan Boram dengan nilai empatnya
"Sembilan dan sepuluh sedikit mengecewakan"
Selanjutnya muncul Jongin dengan nilai sebelasnya yang membuat Tuan Lee memberikan komentarnya
"pemuda sebelas sangat hebat bahkan nilainya lebih tinggi dari pemuda dua"
Selanjutnya Muncul Hyojung dengan nilai sembilannya. Dan selanjutnya muncul nilai Jieun yang mendapat Nilai delapan. Tunggu ada yang aneh tetang ini seharusnya nilai Minseok dulu yang muncul disana namun kenapa milik Jieun malah yang Muncul terlebih dahulu.
Apakah nilai Minseok sangat buruk, sehingga ia akan dimunculkan paling terakhir? apakah malah Minseok mendapatkan nilai nol untuk penilaiannya ini?
Dan setelahnya nilai Minseok muncul sebesar….
TBC
Gimana? Masih ada yang penasaran gak sama cerita ini? Atau udah gak ada yang penasaran lagi ya?
Makasih udah mau baca dan buat yang udah mnyempatkan untuk riview makasih buat kalian sekali lagi, sebenernya aku bingung apa tulisan aku ini bahasa membingungkan banget ya? Atau bahasanya malah aneh?, jadi maaf kalau ada yang kurang ngerti dengan bahasanya dan juga tata bahasa yang sangat berantakan jadi aku minta maaf sekali lagi
Dan kalau ada pertanyaan silahkan tanyain aja di kotak riview kalau mau lewat PM juga gak pa2
NEXT CHAPTER
"kau Nampak sangat cantik"
"apa ini tak akan membakarku?"
"kita lihat saja nanti, kalian akan mengetahuinya dengan melihat nanti"
"tenang saja aku bisa mengendalikannya, aku hanya akan membunuh orang yang ingin aku bunuh dan bukan semua orang yang ku temui"
" maafkan aku yang tak bisa menepati janji kita dulu"
"mereka sudah menungguku ditempat yang indah dialam sana"
"aku mencintaimu jadi percayalah padaku untuk sekarang dan selamanya"
"aku hanya ingin bilang bahwa aku sangat menyayangi kalian, dan jangan terlalu berharap banyak padaku"
" aku sudah melakuakannya sebisaku, hidup dengan baik selama ini, namun aku menyerah sekarang, namun sebelum aku pergi aku harus membalas jasamu dulu"
"baik, tapi hanya sedikit ya"
" maaf aku tak bisa kembali pada kalian, aku sudah berjanji, jadi aku harus menepati janjiku itu bu, jadi jangan pernah tunggu aku, aku sangat menyayangi kalian"
RIVIEW?
