Happy Reading :D
.
.
Hari ini cuaca cerah menyelimuti kota Magnolia.
Baju check !
Sepatu check !
Kotak obat check !
berkas dan kertas naskah check !
Jaket oke !
Peralatan mandi siap !
Begitulah gambaran suasana di sebuah kamar seorang gadis pirang yang tengah mengecek semua barang bawaannya. Ya hari ini dan 3 hari kedepan ia akan mengunjungi sebuah desa yang letaknya jauh di pedalaman dan lereng gunung Fiore.
Lucy memakai kemeja berwarna pink muda, celana panjang, sepatu boots berwarna cokelat. Rambutnya ia kuncir satu dan sebuah kacamata bertengger diatas kepalanya. Tak lupa jaket nya ia talikan pada sebuah tali tasnya.
"Yooosshh.. sudah siap semuanya ! tinggal menunggu Sting menjemputku dan berangkat.." Lucy duduk di kursi dan bersandar.
"3 hari ya? selama itu aku tak bertemu dengan Natsu.. tapi ini sudah 2 minggu Natsu tak lagi mengunjungiku.. hhhnnn." Ia menghela nafas.
Pemuda pinkish tersebut tak mengunjunginya selama itu. Dan selama itu juga tak ada lagi buket bunga yang Natsu kirimkan padanya. Entah kenapa dan mengapa ia begitu rindu dengannya. Rindu saat Natsu mengganggunya, dan juga rindu saat menangkis Natsu dengan sebuah frying pan. Ia mencoba memejamkan matanya, mengistirahatkan sejenak pikirannya.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara seseorang sedang memanjat apartemen miliknya. Lucy membuka matanya dan segera menyambar sebuah frying pan yang tiba-tiba sudah berada di meja Lucy. Ia memposisikan frying pan tersebut disebelah kanan kepalanya dan mengendap-endap mendekati jendela balkon kamarnya.
Dilihatnya sesosok pemuda tengah melompat dan suksess mendarat di balkon kamar tersebut. Lucy melihat orang itu dengan hoodie berwarna...
Kuning !
Wajahnyapun tak terekspos sedikitpun, hanya memperlihatkan sepasang matanya saja. Celana yang orang itu pakai juga tampak sobek sana sini.
Siapa itu? mustahil kalau itu Natsu.. batin Lucy.
Ya memang mustahil jika orang itu adalah Natsu. Apalagi yang Lucy tahu, Natsu tidak suka memakai pakaian yang terlalu 'ngejreng' dan juga mustahil Natsu mempunyai celana seperti itu. Lucy mengeratkan pegangannya pada Frying Pan tersebut. Orang itu tampak mengendap-endap memasuki jendela balkon Lucy.
Pasti pembunuh bayaran !
Lucy memasang kuda-kuda untuk bersiap mengayunkan Frying Pan tersebut. Setelah dirasa cukup dekat dengan 'sang pelaku'..
CLANGG !
XXX
"nggghhh.."
Natsu membuka matanya, dan ia memegang kepalanya yang terasa nyeri.
"Sudah ku bilang tuan jabrik ! jangan seenaknya masuk kamarku seperti seorang perampok atau pembunuh.." Natsu menolehkan kepalanya, dilihatnya Lucy tengah menepuk-nepukkan sebuah frying pan di tangannya.
"Hey ! apa maksudmu ! ikhhh.." ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Lucy tak tega melihat Natsu tengah kesakitan. Ia segera mengambil kotak obat dari dalam tasnya dan segera mengobati Natsu.
"Tenanglah Natsu, aku akan mengobatimu.. gomenne.."
Lucy mengambil beberapa tisu kompres dan mengusapkannya pada dahi Natsu. Natsu terdiam menatap wajah Lucy yang begitu dekat dengannya. Ia menelan ludah melihat bibir ranum Lucy. Parasnya terlihat cantik dan mempesona. Lalu matanya tertuju pada sebuah tas lumayan besar di sudut kamar Lucy.
"Aku kemari hanya untuk meminta maaf padamu Lucy tentang-"
"Tidak apa-apa., aku sudah memaafkanmu.. aku yang seharusnya meminta maaf karena aku belum selesai mengatakannya padamu.. aku dan Sting hanya berteman saja.. tidak lebih."
Lucy masih mengusap pelan dahi Natsu yang mulai memar. Natsu tersenyum lega karena mereka tidak punya perasaan dan hubungan spesial. Natsu kembali menatap Lucy, tangannya ia arahkan untuk memegang pipi gadis pirang itu. Sontak gadis itu nampak terkejut dan membalas menatap Natsu.
"Natsu.." ucap Lucy. Natsu tersenyum lembut padanya.
Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Lucy. Hingga jarak mereka kurang dari 1 centi. Lucy hanya bisa pasrah dengan apa yang pemuda itu lakukan. Ya pemuda yang amat ia rindukan. Saat bibir mereka tinggal sedikit lagi menempel suara klakson sepeda motor mengganggu aktifitas mereka. Tiba-tiba Lucy menoleh dan segera berlari ke balkonnya.
Sementara Natsu hanya terdiam ditempatnya dan mematung.
"Tunggu Sting ! aku akan turun beberapa menit lagi !" teriak Lucy. Dan Natsu begitu kelas mendengar teriakan Lucy.
Tunggu ! itu Sting !
Natsu mengarahkan pandangannya kearah tas yang lumayan besar.
Mau kemana dia? batin Natsu.
Lucy memasuki kamarnya dan mengambil kotak obat yang sebelumnya ia gunakan untuk mengobati Natsu lalu memasukannya kedalam tas.
"Lucy, kau mau kemana?" tanya Natsu bingung.
"Oh iya ! aku belum memberitahumu Natsu, aku ditugaskan untuk mendeskripsikan artikel tentang desa pedalaman Fiore, hanya 3 hari saja Natsu.. setelah itu aku akan langsung menemuimu." jelas Lucy sambil memasukkan beberapa barang kedalam tasnya.
Sementara Natsu hanya tertunduk lesu. "Dengan siapa?" tanyanya dengan nada agak tercekat.
Lucy tersenyum. "Dengan Sting.. yah beberapa partner kerjaku tidak bisa ikut, mereka juga sedang mencari beberapa narasumber untuk majalah edisi bulan ini.. " Lucy berdiri dan hendak membawa tas tersebut. Namun Natsu langsung memeluknya dari belakang dan membuat Lucy terkejut.
"Jangan pergi.. tetaplah disini." pinta Natsu dengan suara yang berat.
"Are? Natsu.."
"Tetaplah disini.." Natsu semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi Natsu.. ini adalah pekerjaanku, aku tak bisa memutuskan seenaknya." jelas Lucy.
"Sudah ku bilang ! kalau kau ingin bekerja.. bekerjalah di perusahaanku !" nada suara Natsu semakin meninggi.
"Natsu tapi ak-"
"APA ! BILANG SAJA KAU INGIN DEKAT DENGAN LAKI-LAKI BRENGSEK ITU?! " Lucy terbelalak, lantas ia melepaskan pelukan Natsu dan menatapnya. Aura kemarahan muncul di sekitar Natsu. Matanya menajam dan memerah.
"Nat-"
"APA ?! BELUM CUKUPKAH AKU YANG MEMBERI PERHATIAN PADAMU ?! ATAU KAU MEMANG SENGAJA MEMPERMAINKANKU?!" bentak Natsu.
Manik hazel Lucy berkaca-kaca. Ia tak percaya seorang Natsu menatapnya dengan tatapan marah.
"APA LAGI ?!"
"Natsu.."
"KALAU KAU SUDAH TAK MEMBUTUHKANKU PERGILAH !"
"Natsu "
"PERGILAH DENGAN LAKI-LAKI BRENGSEK ITU !"
"Natsu !"
PLAKKKK !
Sebuah tamparan keras mengenai pipi kiri Natsu. Natsu terkejut dengan apa yang Lucy lakukan padanya. Ia mencoba menatap gadis pirang didepannya. Gadis itu meneteskan air mata.
"KAU ! BERHENTILAH MENGATAI STING ! AKU TAK SUKA KAU MENGATAINYA BEGITU.. DAN AKU TAK BUTUH PERHATIANMU.. AKU JUGA TAK MEMINTA PERHATIAN DARIMU ! KAU YANG DATANG SENDIRI KEPADAKU !"
"KAU BUKAN SIAPA-SIAPA ! JADI KAU TAK BERHAK MELARANGKU !"
Lucy terisak. Ia membawa tas yang berisi perlengkapannya dan beranjak meninggalkan Natsu. Natsu mencoba mengejarnya namun panggilannya tak digubris oleh Lucy. Ia sudah keterlaluan. Natsu masih mengejarnya dan berniat meminta maaf. Ia sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan kepada gadis berambut pirang itu.
"Lucy tunggu !" Natsu mencoba menghentikan Lucy.
"Lucy aku minta maaf padamu.."
Sampailah Natsu di luar apartemen Lucy. Ia melihat Sting yang sedang duduk diatas motornya dan Lucy yang tengah menghampiri Sting.
"Lucy.. ada apa denganmu?" tanya Sting yang melihat Lucy tengah berurai air mata. Sting menoleh kearah Natsu. Tiba-tiba tatapan matanya berubah.
"Natsu apa yang kau lakukan kepada Lucy ?!" Natsu diam saja.
"Sting sudahlah.. jangan hiraukan dia , sebaiknya kita bergegas berangkat.." Lucy menenangkan Sting yang hampir terbakar emosinya.
"Baiklah.." Sting menyalakan mesin motornya. Natsu berusaha mencegah kepergian mereka namun Sting menghentikannya.
"Jika kau tak bisa menjaga Lucy, aku yang akan menjaganya.. dan asal kau tau, yang membuat bibi Grandine meninggal bukan aku, bibi sendiri yang mencoba menyelamatkanku.. kau paham !" ucap Sting. Setelah itu mereka berlalu meninggalkan Natsu yang masih mematung di depan apartemen Lucy.
"Apa?"
XXX
Di bis kota..
"Lucy sudahlah.. jangan dipikirkan lagi. Sikap Natsu memang begitu.." Sting mencoba menenangkan Lucy yang masih murung.
"Iya Sting.." Lucy tersenyum tipis. Tapi terkesan dipaksakan. Sting mengambil sebuah benda di dalam tas kecil miliknya. Sebuah boneka tangan berwarna hijau dan berbentuk seekor kucing.
"Lucy-san.. Lucy-san.. daijoubu?" Sting menggerakkan boneka tersebut dengan tangan kanannya kehadapan Lucy. Suaranya ia buat sekecil mungkin agar serasi dengan boneka tangan tersebut.
Lucy menatap boneka tersebut. Ia tertawa kecil. " Hehe aku baik-baik saja.." ucapnya.
Sting tersenyum. Ia berhasil membuat Lucy kembali tersenyum. Senyumnya pun senyum tulus. Lucy mengambil boneka tangan tersebut dari tangan Sting.
"Sting.. arigatou.." Lagi-lagi seulas senyum mengembang di bibir gadis berambut pirang itu.
"Kau tau Sting? boneka kucing ini mengingatkanku pada seekor kucing milikku dulu.." Lucy mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto mereka bertiga. Lucy, Rogue dan tentunya kucing hijau Frosch. Sting memandang foto itu dan tersenyum.
"Namanya Frosch.. dia berusia sekitar 2 bulan saat aku dan Rogue menemukannya, lalu kami memutuskan untuk merawatnya.." jelas Lucy. Sting mendengarkannya dengan serius.
"Kau pasti tak mengira kami menganggapnya sebagai anak kami hihihi.." Lucy terkikik.
"Rogue sebagai Papa, dan aku sebagai Mama.. tapi setelah umur 3 tahun Frosch tiba-tiba mati.. aku tak tau kenapa, itu membuatku cukup terpukul.." Lucy sedikit menundukkan kepalanya. Sting menatapnya dengan khawatir. Lalu ia mengarahkan tangannya keatas kepala gadis itu dan membelainya dengan lembut. Ia mengambil boneka tangan itu dan memakainya pada tangan kanannya.
"Baiklah.. kita beri nama Frosch.."
"Ne Mama.." Sting menggerakkan boneka itu menghadap Lucy. Lucy sedikit terkejut dengan apa yang Sting lakukan. Terlebih Sting menggerakkan boneka itu dan menyebutnya Mama. Semburat merah terlihat di pipi Lucy. Dan ia tersenyum.
"Baiklah.. Lucy-san menjadi Mama Frosch dan Sting menjadi Papa Frosch.." Lagi-lagi Lucy terkejut. Sungguh itu mengingatkannya pada kenangan manisnya dengan seorang pemuda.
"Ha'i.." ucap Lucy.
"Oh ya Lucy.. ada beberapa peraturan yang harus kau ketahui mengenai desa Pedalaman Fiore." Sting membenarkan posisi duduknya.
"Yang pertama jangan sering melamun dan memikirkan hal-hal yang terlalu menekan pikiranmu.."
"Yang kedua, usahakan jangan berjalan sendirian.."
"Dan yang ketiga, jangan memetik ataupun mengambil dan membawa barang dari sana.."
Sting menoleh pada Lucy. Gadis itu mengangguk pelan. Sting mengarahkan tangan kanannya yang terpasang boneka tangan ke hadapan Lucy.
"Bagus Mama.."
Mereka tertawa bersama-sama melupakan hal-hal yang memang pantas untuk dilupakan. Lucy menoleh kearah jendela bis yang berada di sebelahnya. Melihat pemandangan di seoanjang perjalanan yang terbentang luas. Lucy bisa melihat deretan pegunungan dan pepohonan. Rumah-rumah penduduk berjajar rapi di sepanjang tepian jalan raya. Beberapa diantara mereka menjajakan berbagai masakan dan oleh-oleh.
"Sepertinya kau senang sekali Lucy.." tanya Sting.
"Eeh? ya begitulah.. sudah lama aku tak menikmati pemandangan ini, terakhir kali aku berpergian seperti ini saat kedua orangtua ku masih hidup, kami pergi untuk mengunjungi nenek.." jelas Lucy.
"Oh souka.." Sting mengangguk-angguk mengerti.
"Baiklah.. kau siap untuk petualangan kita?!" teriak Sting. Lucy menatapnya dengan bingung. Namun sejurus kemudian Lucy berteriak membuat beberapa penumpang di dalam bis tersebut menoleh kepada mereka.
"HA'I !"
XXX
Natsu tengah terdiam di ruang kerjanya. Ia duduk dan bersandar pada kursi kerjanya. Ditatapnya langit-langit ruangannya yang berwarna putih bersih. Kelopak matanya berkedip beraturan, sesekali ia memutar bolamatanya. Ia tengah bergulat dengan pikiran-pikirannya.
Jika kau tak bisa menjaga Lucy, aku yang akan menjaganya.. dan asal kau tau, yang membuat bibi Grandine meninggal bukan aku, bibi sendiri yang mencoba menyelamatkanku.
Kata-kata Sting terus berputar-putar dan menggema di dalam tengkoraknya.
Ibuku mencoba menyelamatkan Sting? maksudnya apa? batin Natsu.
"Memang aku tak tau yang sebenarnya waktu itu.. " Ia memejamkan matanya.
"Tapi aku tak akan membiarkan Lucy jatuh ketangan si rambut durian itu !" ucapnya.
"Eh tunggu dulu.. tapi apa yang akan mereka lakukan disana.. berdua.. jangan-jangan.."
Pikirin Natsu melayang kemana-mana. Ia malah berpikir yang tidak-tidak tentang mereka. Jujur saja, Natsu memang cemburu karena kedekatan mereka. Mengapa Lucy lebih memilih pemuda itu? Satu hal yang membuat Natsu harus berpikir ulang adalah tentang Lucy yang sangat akrab dengan Sting. Bahkan atasan dan pegawai yang paling dekat tak sedekat mereka.
Apakah Natsu cemburu?
Ya !
Apakah Natsu benar-benar jatuh hati dengan Gadis itu?
Ya !
Dan apakah Natsu menginginkan gadis itu hanya dekat dengannya saja?
Ya !
Dan semuanya Ya !
Sampai-sampai Natsu gila hanya memikirkan hal sepele tersebut. Bukan ! bukan hal sepele. Memang awalnya adalah hal sepele, penasaran dengan sosok gadis pirang tersebut. Mencari dan terus mencari. Pada akhirnya panah sang Dewi Asmara tetancap di hatinya.
"Baiklah nanti akan ku telepon dia.."
XXX
"Waaahh sugoi Sting.."
Lucy terpana melihat keindahan pemandangan di hadapannya. Pegunungan dengan hijau pepohonan, ditambah matahari sore yang hangat. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata siapapun yang memandangnya.
"Yah tapi kita harus berhalan kaki sekitar 3 kilometer, melewati jembatan gantung dan setelah itu baru sampai di desa tersebut Lucy.." jelas Sting. Manik hazel Lucy melebar.
"APA?!" Sting tertawa kecil dan mengangguk.
"Haaa? apa tak ada jalan alternatif untuk menuju kesana?" tanya Lucy.
Sting menggeleng. "Kalau kau mau ada satu jalur lagi, lebih dekat.. 5 kilometer." ujar Sting enteng.
"Apa?! lebih dekat katamu?! itu malah lebih jauh lagi.." Lucy mendengus.
"Oh baiklah.."
Dengan terpaksa Lucy menyanggupinya. Mereka mulai berjalan di jalan setapak dengan semak-semak belukar di sepanjang sisi jalan tersebut. Pohon-pohon pinus tumbuh menjulang tinggi. Sekilas Lucy merasa ngeri, ia membayangkan jika tiba-tiba ada seekor ulat ataupun ular. Bukannya ia merasa takut akan hewan tersebut, tapi ngeri melihat binatang melata yang bertekstur 'empuk' dan berbulu. Hiiiiii..
Langkah demi langkah mereka tempuh dengan semangat. Pada akhirnya..
"Hhhhhh... Sting.. aku .. lelah.." Lucy terengah-engah dan kemudian ia duduk pada sebuah batu besar di tepi jalan setapak tersebut.
"Baiklah kita istirahat sebentar.. " Sting mengeluarkan sebuah botol air minum dan memberikannya pada Lucy.
"Arigatou.." ucap Lucy. Kemudian membuka botol tersebut dan meminumnya. Saat Lucy meminumnya...
Tunggu dulu !
Lucy berhenti dari aksinya dengan bibir botol masih menempel di bibirnya.
Bukannya ini botol minum Sting?
Jika ia meminumnya berarti secara tak sengaja mereka...
BER-CI-U-MAN ?
Tetapi jika dilihat-lihat air minum dalam botol tersebut belum berkurang sedikitpun. Apa mungkin Sting belum meminumnya?
Mungkin saja.
Begitulah yang dipikirkan Lucy. Kemudian ia menutup botol tersebut dan memberikannya kepada Sting yang tengah duduk di atas tanah. Pemuda pirang itu beranjak dan berdiri membelakangi Lucy. Gadis itu memandangi pemuda didepannya. Rambut spike pirang berantakan, kaos putih terlihat cocok dengan kulitnya yang putih, celana traveling selutut dengan beberapa kantong dan saku, serta sepatu ket. Entah mengapa dimata Lucy, pemuda itu terlihat cool. Tak Lupa sebuah anting di telinga kirinya.
Sting membuka botol yang berada di tangannya, lantas ia meminumnya.
Eh !
Kenapa Sting meminumnya? bahkan bibirnya juga menempel pada bibir botol tersebut.
Lucy menatap cengo Sting dan tak berkedip. Ia merasa syok dengan apa yang terjadi hari ini.
"Lucyyyy... heyyy.." Sting melambaikan tangannya di depan wajah Lucy. Lucy yang akhirnya tersadar kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Eh Sting ada apa?" Lucy terlihat salah tingkah.
"Kau kenapa Lucy? memandangku tanpa sekalipun berkedip.." Sting melirik kearah Gadis itu. Wajah Lucy memerah.
"Baiklah.. tinggal setengah jalan lagi Lucy.." ucap Sting sambil menggendong tasnya. Lucy beranjak dari tempat duduknya.
"Haikk.. aku juga sudah tak terlalu lelah.."
Mereka bersiap berjalan lagi. Hari sudah mulai petang. Suara binatang-binatang malam mulai terdengar bersahutan. Jangkrik dan katak juga tak mau kalah mengeluarkan suaranya. Bagi yang tak biasa berada di hutan mungkin sedikit merinding dan ngeri dengan suasana tempat tersebut.
"Sting..."ucap Lucy ketakutan.
Lucy mendekati Sting dan memegang tangannya. Ia sangat takut dengan suasana gelap. Dalam pikirannya sudah terisi beberapa pikiran yang aneh-aneh. Jika ada sesosok hantu atau hewan melata yang mendekatinya.
"Kau takut gelap.." Lucy mengangguk. Sting mengeluarkan dua buah benda dari tas.
Lampu senter.
"Ini kau pegang satu.." Sting menyodorkan sebuah lampu senter kepada Lucy. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka. Lucy mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Sting. Seulas senyum tipis mengembang di bibir pemuda tampan itu.
XXX
Setelah cukup lama berjalan mendaki dan turun pegunungan, akhirnya sampailah mereka pada sebuah desa yang cukup banyak penghuninya. Lampu-lampu minyak dan obor terpasang di sana-sini sebagai penerangan. Mereka melangkah masuk ke pedesaan tersebut dan disambut beberapa penduduk desa.
"Apa kalian pengunjung desa ini?" ucap satu dari mereka.
"Ya kami dari kota Magnolia.. " jawab Sting.
"Apa kota itu tempatnya ramai?"
"Apa banyak penjual kue disana?"
Dan banyak pertanyaan yang orang-orang lontarkan kepada mereka berdua. Sting dan Lucy kebingungan harus menjawab apa.
"Kalian ikutlah dengan ku.." suara bariton seorang pria tua membelah kerumunan para penduduk. Sting dan Lucy berpandangan.
"Perkenalkan saya Szeto, kepala desa ini.. penduduk desa biasa memanggilku kakek Ze." Pria itu memperkenalkan diri.
"Baiklah kakek Ze.."
Sting dan Lucy mengikuti kakek itu. Mereka berhenti tepat di sebuah bilik kecil dengan beberapa lampu minyak yang menerangi bilik tersebut.
"Bilik ini yang akan kalian tempati.. kami sangat senang, orang luar desa mengunjungi kami.." ucap kakek tua itu.
"Kami juga sangat senang berkunjung kemari kek.. kami kemari untuk membuat artikel tentang desa ini dan memasukkannya kedalam majalah bulan ini kek.." jelas Sting.
"Waaahh.. baiklah besok aku akan memandu dan menjelaskan tentang desa ini.."
"Baiklah kek.. arigatou.." ucap Lucy.
"Ya.. kalian bermalamlah di bilik ini, tapi hanya ada satu kasur dan satu selimut saja.." Sting dan Lucy berpandangan. Dan mereka terdiam sejenak.
"Tidak apa-apa kek.." ucap Sting.
Akhirnya kakek itu berpamitan dan meninggalkan mereka. Merekapun masuk kedalam bilik tersebut. Gelap. Lucy semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Sting.
"Kau takut? aku akan mengambil lampu minyak yang berada di depan.." Lucy mengangguk. Sting meletakkan tasnya dan kemudian melangkah keluar.
Lucy memposisikan duduknya di lantai yang terbuat dari bambu. Ia sungguh takut sendirian didalam gelap. Ia mengambil ponselnya dan mengecek apakah ada pesan yang masuk. Manik hazelnya membesar, cahaya dari lampu ponselnya menyinari paras cantiknya.
35 pesan masuk !
Apa-apan ini ?!
"Siapa orang gila yang mengirimiku pesan sebanyak ini?!" gerutu Lucy.
Ia membuka pesan tersebut. Ya pesan dari si jabrik pinkish. Natsu Dragneel.
"Ish.."
Lucy hendak mengirim pesan balasan kepada Natsu. Namun berkali-kali gagal terkirim. Ia melihat kearah sudut atas ponselnya. Tidak ada sedikitpun sinyal yang terpampang disana. Bagaimana tidak, kini ia sedang berada di pedalaman. Mustahil jika bisa mendapatkan sinyal. Kemudian Sting masuk dengan membawa sebuah lampu minyak.
"Baiklah.. sekarang kita bisa beristirahat Lucy, kau tidurlah di kasur itu.." ucap Sting sambil m
"Lalu kau tidur dimana?" tanya Lucy.
"Aku? kalau aku gampang saja, dilantai juga bisa hehe.. tenang saja aku juga membawa selimut." ucap Sting terkekeh.
"Oh souka.. "
"Ini.. agar tidak terlalu gelap.." Sting menyodorkan lampu minyak tersebut.
Lucy menerima lampu itu dan meletakkan agak jauh dari tempat tidurnya. Ia memposiaikan tubuhnya untuk berbaring pada kasur tersebut dan memakai selimut. Dilihatnya Sting yang juga memposisikan dirinya untuk beristirahat. Jarak mereka kurang lebih 3 meter, lumayan jauh.
Sudah larut malam. Suara jangkrik bersahut-sahutan, terkadang suara lolongan anjing hutan juga terdengar. Lucy masih belum bisa memejamkan matanya. Rasa takutnya malah semakin bertambah. Karena rasa takutnya yang berlebihan akhirnya ia menangis. Isak-isak tangis nya terdengar oleh Sting. Kemudian pemuda itu terbangun dan menghampiri Lucy.
"Lucy.. kau tidak apa-apa? kau belum juga tidur?" tanya Sting.
"Hiks.. aku.. aku.. takut Sting.. hiks.."
Lucy bangkit dan Sting mengarahkan pelukannya. Ia mencoba menenangkan gadis pirang itu yang tengah menangis dan ketakutan.
"Sssshhh.. tenanglah Lucy, aku ada bersamamu.. tak ada yang perlu dikhawatirkan."
Lucy semakin mengeratkan pelukannya kedada bidang Sting. Entah mengapa ia merasa hangat dan nyaman dalam dekapan pemuda pirang itu. Tangisnya mereda, ia mendongakkan kepalanya untuk menatap pemuda itu. Dilihatnya Sting tengah menatap lampu minyak tersebut. Lucy merasa bersalah sudah mengganggu tidur Sting.
"Gomenne Sting, gara-gara aku kau jadi terbangun.." Sting mengangkat satu alisnya.
"Are? jangan salahkan dirimu sendiri Lucy.. " ucap Sting.
"Tidurlah.. aku akan menemanimu.."
Lucy berpikir sejenak. Lalu ia mengangguk dan memposisikan diri untuk berbaring lagi. Sting berada tepat disampingnya dan juga memposisikan diri untuk tidur.
"Oyasumi Lucy.."
"Oyasumi Sting.."
Akhirnya mereka terlelap dalam kegelapan malam. Sinar dari lampu minyak kian lama kian meredup diterpa angin sepoi-sepoi yang masuk melalui celah-celah jendela dan pintu. Malam pun kian menampakkan kesan sunyi dan tenang. Sinar bulan purnama yang masuk melalui kaca jendela menyinari dua insan yang tengah terlelap. Entah apa yang akan terjadi esok hari. Mungkin cerita indah..
.
.
Bersambung..
.
.
Minna-san, arigatou sudah membaca fic aneh saya ini, yooosssshh ketemu lagi di chapter 10... disini masih momen Sticy. T,T gomenasai kalo para penggemar NALU kecewa pada chapter sebelumnya dan chapter ini. Tapi mungkin sampai chapter depan masih momen Sticy dan sedikit Nalu... soalnya rencana awal chapter 10 ini momen Sticynya selesai... tapi apa boleh dikata.. ternyata penjabaran katanya cukup banyaaaaaaaakkkk... T,T
Gomenasaaaaiii...
Saya usahakan kata-kata dan kalimatnya bisa dibaca dan nyambung... soalnya kepuasan para readers itu yang paling penting hehehe.. dan saya usahakan agar update cepet, biar para readers nggak nungguin terlalu lama... soalnya ide cerita yang lain sudah nongol di otak saya...
gomen gomen kalo masih ada salah kata dan kalimatnya yang kurang masuk diakal..
baiklah, saya akan membalas review-review yang masuk :D
#Richan-san : arigatou sudah membaca fic aneh saya :D iya sebenernya di ide ceritanya keliatan bakalan 2 chapter aja, tapi pas penjabarannya sama pengetikannya ternyata mungkin makan 3 chapter huhuhu... T,T tapi saya usahakan habis itu moment Nalunya hehe arigatoo :D
#Anonim-san : bukan begal motor, cuman stylenya aja hehehe.. aku bikin kayak gitu soalnya buat jaga-jaga kalo kepalanya kena frying pan lagi hehehe.. arigatooo :D
#Mkhotim-san : arigatou sudah membaca fic ini, jujur saja review anda bikin saya semangat ngetiknya :D yosh chapter 10 syyyuuudah up.. selamat membaca :D
#RV-san : arigatou sudah membaca fic saya dan arigatou sudah menunggu fic saya ini hehehe... chap 10 up.. selamat membaca :D
#hikari-san : tapi entar happy ending kemungkinan hehehe... chapter depan sepertinya masih momen sticy.. tapi ada momen nalunya juga.. saya juga penggemar nalu hehe.. arigatou.. :D
#chriss-san : arigatou sudah membaca fic saya.. yosh chap 10 up.. selamat membaca :D
.
Dan jujur saja saya tambah semangat ngetik kelanjutannya fic ini gara-gara ngeliat review para readers yang sudah nyempetin nge review... arigatooouu.. di chapter depan saya kasih bocoran sedikit.. Lucy ketemu sama Rogue intinya hehehe..
Dan bagaimana pendapat para readers tentang chap 10 ini? tambah aneh kah?..
Dan juga bagaimana? lanjut lagi atau berhenti?
Minna-san mohon tinggalkan jejak untuk memberikan sedikit kritik dan saran, akan sangat bermanfaat sekali bagi saya untuk memperbaiki fic ini. Yang saya nomor satukan adalah kepuasan para pembaca :D
Review ya :D
see u next chapter..
