Aku mencari handphoneku di tas. Menemukan beberapa pesan dari Chanyeol.
Dari : Chanyeol
Baekhyun, kau dimana sekarang ?! Kenapa sama sekali tidak mengabariku.
Dari : Chanyeol
Baekhyun, angkat telponmu. Sial ! Aku sangat mengkhawatirkanmu ! Bahkan kau tidak mengabari temanmu
Dari : Chanyeol
Kenapa kau tidur di perpustakaan ? Itu berbahaya Baekhyun. Telpon aku jika kau sudah bangun. Aku sangat mengkhawatirkanmu.
Oh Chanyeol.. Aku hanya bingung bersikap di depanmu. Aku mememilih menelpon Chanyeol. Merasa buruk karena membuatnya sangat khawatir.
"Yeobseo, baekhyun ?"
"Chan-"
"Astaga baekhyun ! Aku sangat mengkhawatirkanmu.. Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau pergi ke perpustakaan ? Kau juga tidak menelpon temanmu. Apa kau sedang mengerjakan tugas ? Kenapa tidur di perpustakaan ?" tanya Chanyeol beruntun.
"Chanyeol..satu-satu.. Kau membuatku pusing. Aku menelponmu untuk memberitahumu jika aku baik-baik saja" ucapku.
"Benarkah ?"
"Ya, kau bisa mempercayaiku" ucapku.
"Oke. Kau kesekolah besok ?"
"Tentu saja"
"Baiklah, akan kuantar besok"
"Chan, tidak papa. Aku bisa berangkat dengan pak Kim"
"Tidak. Aku khawatir. Kau berangkat sekolah bersamaku besok. Tidak ada argumen" ucapnya. Aku menghembuskan napas lelah.
"Oke" ucapku. Hening.
"Chan" panggilku.
"Ya"
"Aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu" ucapku segera menutup telpon, lalu melemparkannya asal. Memejamkan mataku. Menghembuskan napas pelan dan mencari kontak nomor hyung.
Untuk : Hyung
Hyung, kau sibuk ?
Tak lama kemudian hyung membalas pesanku.
Dari : Hyung
Tidak. Ada apa ?
Aku segera mengetik balasan.
Untuk : Hyung
Bisakah aku menelponmu ?
Dari : Hyung
Tentu
Aku segera menelpon hyung.
"Baek"
"Hyung"
"Wae wae ?"
"Bagaimana kabar Hyung ? Hyung jarang sekali menelponku"
"Ahahaha... Ya..hyung sedikit sibuk"
"Bagaimana US ? Masih seperti biasanya ?"
"Ya, seperti biasanya"
"Aku harap aku bisa kesana menjenguk hyung. Pasti disana banyak gadis-gadis cantik"
"Ya... Apa disana tidak ada gadis-gadis cantik ?"
"Setidaknya disana aku akan melihat banyak orang memiliki iris dengan warna-warna cerah"
"Astaga"
"Hyung, apa hyung punya kekasih disana ?" tanyaku. Napasku tercekat saat menanyakan ini. Apa hyung benar-benar mempunyai perasaan dengan Chanyeol ?.
"Wae ?"
"Aku..aku hanya penasaran"
"Hyung tidak punya"
"Apa disana tidak ada yang hyung suka ?" tanyaku.
"Eobseo" jawabnya. Dan aku menyadari jika nada suaranya berubah.
"Hyung masih belum bisa melupakannya" lanjutnya. Rasanya hatiku begitu tertusuk saat mendengar hyung mengatakan itu.
"H-Hyung.. Sudah lama hyung di amerika, tapi hyung ..hyung masih menyukainya ?" tanyaku. Hyung belum bisa melupakannya ? Hyung masih menyukai Chanyeol ?.
"Kau tahu baekhyun.. Hyung mencintainya, sulit melupakannya. Dia adalah cinta pertama hyung" ucap hyung diseberang telepon. Aku mengelap pipiku saat tiba-tiba airmata jatuh. Baekhyun ? Apa kau baru saja menangis ?.
"Baekhyun, kurasa hyung harus pergi sekarang"
"O-oh ? Ya. Maaf mengganggu hyung"
"Tidak papa. Lagipula hyung juga merindukanmu"
"Baekhyun..juga merindukan hyung"
"Sampai nanti baek" ucapnya kemudian sambungan telepon terputus.
Hyung masih belum bisa melupakannya.Kau tahu baekhyun.. Hyung mencintainya, sulit melupakannya. Dia adalah cinta pertama hyung.Dia adalah cinta pertama hyungDia adalah cinta pertama hyungDia adalah cinta pertama hyungDia adalah cinta pertama hyung-
Chanyeol juga cinta pertamaku Hyung. Aku menenggelamkan wajahku dibantal. Berharap bahwa ini hanya mimpi dan aku akan terbangun keesokan harinya.
.
.
.
Mata sembab dan lingkaran hitam mengerikan di bawah mataku adalah hal yang kutemukan pagi ini. Aku membuka selimutku dan menuju ke kamar mandi. Aku masih harus sekolah. Segera setelah selesai mandi, aku memakai seragam. Mematut diriku di depan cermin dengan kacamata andalan, aku keluar dari kamar. Baru semenit yang lalu Chanyeol mengirimiku pesan jika dia berada di perjalanan menuju rumahku. Dengan malas aku menuruni tangga. Sepi. Aku melihat jam dinding. Ini masih pagi. Tapi kenapa aku tak menemukan eomma yang berteriak menyuruhku segera turun untuk sarapan atau ayah yang bingung menaruh laporannya pagi ini ?. Aku menghampiri bibi Gong.
"Ahjumma" panggilku.
"Ne, ada apa ?" tanyanya.
"Dimana eomma ? Appa ?" tanyaku.
"Sekitar 15 menit yang lalu nyonya keluar karena ada urusan. Sedangkan tuan belum pulang dari kemarin" jelasnya.
"Oh.." . Aku menarik kursi di meja makan. Jadi aku akan sarapan sendiri ?.
"Anda ingin dibuatkan sarapan apa ?" tanyanya. Aku menoleh.
"Segelas susu dan roti saja" ucapku. Aku mengaktifkan handphoneku. 1 pesan dari eomma.
Dari : Eomma
Maaf tidak bisa sarapan bersamamu. Ibu harus melihat tempat pertunanganmu dan organizer disana. Sampai bertemu saat makan malam
Aku memijat pelipisku pelan. Bagaimana bisa aku lupa jika sebentar lagi aku akan bertunangan ?. Aku meletakkan handphoneku dan memilih untuk menyantap sarapan pagiku yang baru saja bibi Gong buatkan. Handphoneku bergetar. Masih dengan roti di mulut aku melihat siapa yang tengah mengganggu sarapanku. Appa ?.
"Yeobseo, appa"
"Eoh, baekhyun. Kau sedang sarapan ?"
"Ne, waeyo ?"
"Tidak. Maaf appa tidak bisa menemanimu sarapan. Eommamu baru saja mengatakan jika kau sendirian di rumah"
"Gwaencana. Eomma berlebihan, disini ada bibi Gong, aku tidak sendirian. Appa lembur ?" ucapku .
"Ya... Pekerjaan kantor sedikit lebih banyak dari biasanya"
"Apa appa cukup tidur ?. Aku dengar dari bibi Gong appa belum pulang dari kemarin"
"Tidak papa. Jangan mengkhawatirkan appa. Jaga kesehatanmu"
"Hmm.. Apa pekerjaan kantor belum selesai ? Kapan kita bisa bertemu ?" tanyaku.
"Tinggal sedikit. Setelah ini appa menemani ibumu dan keluarga Park di tempat pertunangan kalian. Mungkin saat makan malam nanti" Jelas Appa.
"Arraseo.."
"Ya sudah, appa tutup dulu" ucap Appa mengakhiri sambungan di telepon. Aku menghembuskan napas. Menyembunyikan kepalaku diantara kedua lenganku. Ini... Sangat tidak nyaman. Apa aku egois sekarang ?.
"Tuan Baekhyun.." panggil Bibi Gong membuatku mendongak.
"Baekhyun saja. Sudah kukatakan itu tidak nyaman menggunakan 'tuan' " ucapku.
"Ne ? Ne.. mianhamnida"
"Ada apa Bi ?" ucapku.
"Apa rotinya tidak enak ? " tanyanya. Aku mengeryit lalu melihat piringku. Oh, aku belum menghabiskannya. Aku menggeleng.
"Ini sangat enak. Aku hanya sedikit mengantuk" sambil memaksakan senyumku.
"Ah..ne, kalau begitu saya permisi". Aku mengangguk. Kembali meraih rotiku dan segera menghabiskannya. Aku tersentak saat tiba-tiba pipiku dicium seseorang.
"Astaga.. Chanyeol !" sentakku. Chanyeol hanya tersenyum dan duduk disampingku.
"Kau bisa membuatku tersedak" ucapku sambil memberengut masam. Kurasakan jari Chanyeol mengusap pinggir bibirku membersihkan remah-remah roti. Aku merasa seperti anak kecil sekarang.
"Tidak papa. Aku bisa membantumu untuk minum dengan caraku" ucapnya. 'caraku'? Astaga..ini masih pagi. Aku segera menghabiskan rotiku dan susuku.
"Hei..kau tak perlu tergesa-gesa" ucapnya. Aku melirik Chanyeol sekilas saat meminum susuku. Aku baru saja ingin mengusap susu yang tertinggal di sudut bibir tapi tanganku di tahan oleh Chanyeol.
"Biarkan aku membantumu" ucapnya sebelum menciumku. Mataku terpejam merasakan lembut bibirnya bersamaku. Dia adalah cinta pertama hyung. Aku memegang lengannya saat Chanyeol memegang tengkukku untuk memperdalam ciuman ini. Hyung masih belum bisa melupakannya. Aku mencintai laki-laki ini hyung..eottoke ?.
"Mmmhhh"
"Ngghh"
"Mphh"
"Mphh..chanhh"
Aku mencoba mendorong dadanya saat kurasa tak bisa lagi melanjutkan ciuman ini.
"Ah !" saat ciuman kami terlepas. Chanyeol menghapus sedikit lelehan saliva disekitar bibirku.
"Sangat manis, apa ini susu coklat ?. Tapi sial, lebih manis bibirmu baekhyun" ucap Chanyeol. Blush !. Pipiku memerah sempurna. Belum selesai menetralkan deru napasku, aku meraih tasku.
"Ayo berangkat" ucapku tanpa menoleh pada Chanyeol dan segera berjalan keluar rumah.
"Baek ! Tunggu !"
.
.
.
Perjalanan ke sekolah pikiranku masih saja mengingat percakapan dengan hyung semalam.
Hyung masih belum bisa melupakannya.
Kau tahu baekhyun.. Hyung mencintainya, sulit melupakannya.
Dia adalah cinta pertama hyung.
Hah... Menundukkan kepalaku. Pikiran-pikiran ini sungguh rumit. Bagaimana aku menghadapi ini ?.
"Baekhyun !" . Aku langsung terjingkat saat Chanyeol membentakku.
"Kau tidak mendengarku ?" tanyanya. Aku jadi merasa bersalah menghiraukan Chanyeol.
"M-mianhae.. Kau mengatakan apa ?" tanyaku. Mencoba menormalkan ekspresiku. Ini tidak baik jika Chanyeol bertanya apa yang terjadi padaku. Mungkin pertemuan kami sangatlah singkat. Tapi selama yang aku tahu, aku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiranku jika pada Chanyeol.
"Tidak penting. Sekarang aku tanya, apa kau baik-baik saja ?" tanyanya sambil memegang kemudi. Nah, benar bukan ?. Dia mulai merasa janggal.
"Sebaiknya kau fokus ke jalan. Aku tidak ingin terjadi apa-apa Chan.." ucapku. Chanyeol menggeleng
"Jangan mencoba mengalihkan pertanyaan. Aku bahkan bisa balapan walaupun aku sedang berbicara. Jadi, apa kau baik-baik saja ?" tanyanya. Aku menahan napasku. Baekhyun..semangat !. Aku tersenyum.
"Astaga Chan..apa yang kau khawatirkan ?. Aku sungguh baik-baik saja !. Kau tahu kan murid itu seperti apa. Tugas-tugas" ucapku memberinya alasan. Kumohon, alasan ini membuatnya puas.
"Benarkah ?" tanyanya masih merasa ragu.
"Ya ! Dan sebaiknya kau fokus mengemudi. Aku harus segera sampai ke sekolah" ucapku.
"Arraseo"
Percakapanku tadi dengan Chanyeol sedikit membuatku pening. Aku ingin membuka pintu mobil saat telah sampai di depan sekolah. Cklek !. Aku menoleh pada Chanyeol. Pintunya dikunci.
"Chanyeol" panggilku. Dia melepaskan sabuk pengamannya dan mengubah posisinya sehingga bisa menatapku. Kemudian menarikku.
"Chanyeol !" ucapku saat terkejut ditarik olehnya dan jatuh di pangkuannya. Jadilah sekarang punggungku menyentuh kemudi dengan Chanyeol dibawahku, bersandar dikursinya. Ini sungguh tidak nyaman karena hell ! Ini sempit !.
"Chanyeol lepaskan.. Ini disekolah" ucapku sambil menggeleng. Chanyeol menggeleng.
"Astaga ! Mereka bisa melihat kita" ucapku. Tentu saja negara ini memberlakukan peraturan jika kaca mobil harus dapat dilihat oleh orang-orang dari luar dengan alasan keselamatan.Aku sungguh tak bisa membayangkan jika semua murid membicarakan 'Byun baekhyun bersama seorang pria di dalam mobil dengan posisi yang sangat intim'. Tidak, aku tidak bisa.
"Tak akan-" ucapnya sambil menekan tombol ?.
"kubiarkan mereka melihat milikku dengan posisi seperti ini. Hanya aku yang boleh melihatnya, tanpa terkecuali" . Oh astaga..bagaimana aku tidak jatuh padanya ?. Kata-katanya sungguh..dalam. Memejamkan mataku. Kata-kata posesifnya, segala sanjungannya, setiap kata cintanya mendengung ditelingaku. Dia adalah cinta pertama hyung. Rasanya hatiku sakit setiap ucapan hyung muncul begitu saja dalam pikiranku. Aku membuka mataku saat kurasakan ciuman kecil di pinggir bibirku.
"Gwaencana ?" ucap Chanyeol.
Dahinya berkerut samar. Tidak Chanyeol, aku sungguh tidak baik-baik saja. Aku sangat ingin mengatakan kenapa kau sama sekali tidak menyinggung hyungku selama ini ?. Tapi kembali lagi, aku takut. Takut jika pertanyaan ini membuatmu terganggu. Tapi aku hanya ingin tahu. Aku mengeryit dalam. Merasa semakin pening dengan hal sialan ini.
"Baekhyun, gwaencana ? Kau sungguh membuatku khawatir sekarang" ucap Chanyeol. Kali ini suaranya menjadi lebih tinggi dan kerutan didahinya makin dalam.
Aku menyelami mata phoenixnya. Dia benar-benar mengkhawatirkanku. Aku hanya bingung Chanyeol. Aku meraih tengkuk dan bahunya.
"Bagaimana aku tidak jatuh padamu ?" gumamku setelah itu menciumnya.
Aku sungguh frustasi. Aku menciumnya dalam keputusasaan. Kurasakan tangan Chanyeol memegang punggungku, tak membiarkanku untuk menarik diri. Tangan yang satunya menahan kakiku dan menariknya lebih dekat. Tanganku merambat mencari tombol untuk membuka pintu mobil. Cklek !. Aku melepaskan ciumanku. Menatapnya sendu.
"Baek-"
"Sst..." aku mengusap bibirnya pelan untuk menghapus liur di bibirnya. Lalu menatapnya kembali.
"Chanyeol.." panggilku.
"Baekhyun tidak. Apa yang terjadi ? Kau sungguh membuatku frustasi sekarang. Tidak bisakah kau menjawab pertanyaanku saja?" tanyanya. Aku menggeleng.
"Chanyeol hubungan seperti ini sangat baru bagiku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa sungguh, demi tuhan, aku sangat mencintaimu" ucapku lalu meraih tas dan segera keluar dari mobil.
Berlari menghiraukan teriakkannya. Ini masih terlalu pagi untuk menangis. Tapi airmata tidak bisa diajak bekerja sama untuk tidak keluar. Sangat sakit, sungguh.
Tunggu next chapternya ya chingu-deul~
