Kim Taehyung memejamkan matanya, ditelannya ludah dengan susah payah saat ia mengingat bagaimana Jeon Jungkook yang begitu menginginkannya terlihat sangat menggoda.

Terlalu menggoda.

Dahinya berkerut saat ia merasakan sentuhan-sentuhan kecil di rahangnya. Tangan halus itu berpindah ke telinga, lalu dengan tidak berdosa memainkan daun telinganya, lebih tepatnya, memencet-mencet gemas bagian lobule.

Pria Kim mengumpat dalam hati.

Ia benar-benar tersiksa, apalagi bayang-banyang Jungkook yang melenguh di sela ciuman mereka, pipinya yang merah merona, serta tubuhnya yang begitu menggoda berputar-putar di dalam pikirannya yang semakin menggila.

Lalu bisikan lirih itu terdengar.

"Pa, poppa... apa poppa sudah tidur?"

Pewaris Kim Enterprise pura-pura mati.

Putra kesayangannya sedari tadi memanggil namanya, memegang-megang bagian wajahnya, yang mana saja. Lalu yang sekarang dilakukannya tanpa henti adalah memainkan lobule-nya gemas.

Padahal ia sudah memejamkan mata menghadap putranya tanpa bergerak sedekitpun, namun Kwonnie kelihatannya memilih untuk mengawasi ayahnya agar tidak kabur lagi. Si bocah tidur menyamping menghadap poppa kesayangannya. Sepasang tangan mungilnya bergantian memegangi wajah ayahnya yang ia pikir sudah terlelap. Sementara itu, bokong dan kakinya ia tempelkan pada tubuh momma yang rebahan di belakangnya.

Taekwon menoleh saat merasakan pelukan di perutnya mengerat. Ia mendapati ibunya tengah tersenyum ramah sambil memberikan tanda agar dirinya diam.

"Jangan ganggu poppa. Biarkan poppa tidur karena poppa lelah."

Si balita mengerucutkan bibirnya. Ia mengacuhkan pemuda bersurai madu, lalu kembali fokus untuk memainkan telinga ayahnya. Disembunyikannya kepala bersurai coklatnya di bawah dagu Kim muda.

"Poppa katanya tidur sama Kwonnie tapi malah pergi ketika Kwonnie bangun, pokoknya harus tidur sama-sama. Kwonnie tidak mau tidur karena menjaga poppa yang tidur agar poppa tidurnya nyenyak dan tidak menghilang saat Kwonnie bangun."

Jungkook menahan tawanya saat ia mendapati alis calon suaminya berkerut. Ia tahu betul pria bersurai arang sama sekali belum tidur. Raut wajah pria Kim semakin mengeras dan tubuhnya yang tegang terlihat begitu kaku.

Ya.

Kim Taehyung masih tegang.

Tadinya ia berpikir akan bisa menghabiskan malam panjang berdua saja dengan pemuda manisnya, saling berbagi kehangatan, kenyamanan, dan tentunya rasa nikmat.

Tapi takdir berkata lain...

Ketika dirinya ingin mengulum nipple sebelah kiri Jeon muda setelah mengagumi tubuh kekasihnya yang setengah telanjang, sebuah suara cempreng yang memanggil dirinya langsung memicu Jeon Jungkook untuk mendorongnya kuat hingga ia tidak sengaja mengumpat.

Beruntungnya, Jungkook tidak terlalu mempermasalahkan itu.

Sialnya, kekasih kelincinya itu langsung meloloskan diri darinya dan kembali mengenakan sweater yang sempat ia tanggalkan. Kemudian, tanpa rasa berdosa sedikitpun, Jungkook melesat ke kamar putranya untuk menemani balitanya tidur, meninggalkan dirinya yang sudah menegang sendirian tanpa ada yang mempedulikan.

Pria Kim pikir, penderitaannya hanya sampai di sana, akan tetapi dunia seakan tak rela jika manusia sepertinya hanya merasakan satu kesengsaraan saja.

Jeon Taekwon segera menjerit untuk memintanya tidur bersama.

Jika saja dirinya adalah Lucifer dan Kwonnie adalah Mammon, pasti ia tak akan segan meluapkan kemarahan dan seluruh arogansi yang ia miliki kepadanya. Bahkan, ia tak akan peduli jika itu bisa membunuh sang putra.

Beruntungnya, Kim Taehyung hanyalah manusia biasa yang begitu menyayangi putra semata wayangnya yang manis. Maka yang dilakukannya adalah berjalan gontai memasuki kamar balita menggemaskannya yang begitu aktif.

"Katanya mau temani Kwonnie tapi poppa pergi-pergi! Pokoknya disini terus semuanya sampai besok, sama momma juga."

Si bocah berusia empat menatap sang ayah dengan sorot menghakimi. Sepasang netranya memerah. Ia memunggungi ibunya yang menjejalkan diri diantara tubuh Kwonnie dan tembok.

Kim Taehyung menghela nafas pasrah. Ia segera merebahkan dirinya dengan posisi miring di samping Taekwon. Ia bahkan harus mati-matian menjaga nafas dan seluruh pergerakan tubuhnya agar dirinya tidak jatuh karena hampir separuh dari tubuh bagian belakangnya tidak berada di atas kasur.

Tentu saja, kasur single Jeon Taekwon yang diiisi oleh dua orang dewasa dan seorang bocah menggemaskan adalah sebuah pemaksaan.

Namun pewaris Kim terlalu kesal untuk peduli.

"Tadi poppa minum sebentar. Sekarang, Kwonnie tidur yang nyenyak. Kita tidur bersama."

Taehyung memberikan sebuah kecupan di dahi putra semata wayangnya, berharap agar Jeon mungil langsung memejamkan mata, sama seperti yang dilakukannya.

Naas, yang terjadi hingga saat ini hanyalah Kim Taehyung yang pura-pura terlelap sambil menahan tubuhnya yang tegang, terutama bagian selatannya, agar tubuhnya tidak jatuh ke lantai. Jungkook melakukan hal yang sama, kecuali bagian tubuh tegang yang menahan beban agar tidak terjatuh ke lantai. Untuk bagian selatan, mereka sama.

Sementara sentuhan-sentuhan tetap Kim muda rasakan di wajahnya, gumaman bocah pun sesekali masih terdengar walau ia tidak mengerti lagi dengan apa yang coba putranya sampaikan.

Ia tetap pura-pura mati.

Karena melihat wajah terlelap Jeon Jungkook yang begitu menggairahkan hanya akan semakin menyiksa gundukan di selangkangannya yang semakin berkedut minta disentuh.

Karena jika jagoan kecilnya mengetahui bahwa sang ayah belum tidur, si jagoan akan semakin mengoceh dan bersemangat untuk menyanpaikan berbagai macam cerita yang secara misterius tak ada habisnya.

Pria bersurai jelaga menghela nafas panjang di tengah kegiatannya berpura-pura tidur.

Mungkin ia harus menyerah saja malam ini, membiarkan kejantanannya tersiksa semalaman.

Lagipula sepertinya sang pujaan juga sudah benar-benar tertidur pulas, sehingga ia kemungkinan besar tidak memiliki harapan.

Namun sepertinya takdir memang sedang ingin menggodanya. Ia merasakan sebuah tangan lembut yang menyentuh rahangnya. Kali ini, tangan dengan ukuran yang lebih besar dari tangan mungil pangeran ciliknya. Taehyung tentu langsung membuka mata untuk membunuh rasa penasarannya.

Dan ketika ia mendapati senyum gigi kelinci yang mengembang, juga sepasang mata bulat yang menatapnya, ditambah si bocah yang terlelap dengan bibir setengah terbuka, Kim Taehyung tahu bahwa malam ini akan menjadi sangat panjang baginya.

Perlahan ia bangkit dari ranjang, meluruskan tubuhnya yang terasa begitu pegal. Setelahnya, ia membantu sang kekasih yang terjepit diantara tubuh putranya dan tembok. Sangat perlahan, sehingga Jeon Taekwon tidak menyadari bahwa kedua orangtuanya kini tak lagi berbaring bersamanya.

Pria Kim segera melepas kaosnya, mengambil guling yang dibuang putranya ke lantai demi memberi space kepada poppa-nya untuk tidur bersama. Taehyung segera meletakkan guling itu di samping Jeon cilik, lalu meletakkan kaosnya di atas guling itu.

Dengan begini, Jeon Taekwon akan merasa nyaman dengan aroma tubuh sang ayah yang masih berada di sampingnya.

Semoga saja.

"Tidur yang nyenyak, jangan ganggu poppa dan momma dulu." Gumamnya sambil mengelus kepala si balita. Ia kemudian memberikan sebuah kecupan sayang.

Tanpa disadarinya, sosok pemuda dengan sweater abu-abu tengah merona karena sepasang manik obsidiannya menangkap tubuh topless yang terlihat semakin kokoh.

Kim Taehyung memang selalu terlihat kokoh. Tapi seingat Jungkook, pria Kim yang sekarang terlihat jauh lebih sexy.

"Kook... ada apa, hm?"

Jungkook sedikit terlonjak saat merasakan sentuhan lembut di pipinya, juga suara berat yang menyapa tepat di belakang telinganya. Ia menunduk, tak berani menatap manik tajam prianya.

Sialnya.

Atau, beruntungnya, itu membuat dirinya menatap ke arah dada bidang dan perutnya yang menunjukkan pola sixpacks. Sedikit samar, memang. Namun bagi Jungkook, itu sungguh sexy dan... menggairahkan.

"Suka dengan yang kau lihat, sayang?"

Bulu kuduk pemuda Jeon meremang.

Nada suara Taehyung begitu dalam, membuat sekujur tubuhnya menegang. Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Kita pindah ke kamarmu." Bukan sebuah perintah, bukan pula sebuah permintaan. Taehyung hanya ingin Jungkook-nya tahu bahwa mereka berdua akan segera menikmati malam yang panjang di kamar Jungkook.

Jungkook yang merasakan tubuhnya melayang refleks mengalungkan sepasang lengannya pada leher sang kekasih. Ia merona hebat saat menghirup aroma maskulin yang menguar dari sana.

Isi kepalanya mendadak kosong, tubuhnya terasa panas, nafasnya memburu.

Gairahnya terbakar.

Dan sebelum Jungkook menyadarinya, tubuhnya telah dibaringkan perlahan di atas ranjangnya.

Ia mendesah tertahan saat merasakan telapak besar sang kekasih dengan perlahan menelusup ke dalam sweater yang ia kenakan. Gerakan tangan itu sungguh pelan, namun mampu menyalurkan sengatan-sengatan nikmat yang membuatnya mendesah tertahan.

Kim Taehyung meloloskan sweater abu-abu itu dari tubuh kekasihnya.

Tak ingin membuang waktu, ia segera memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Jungkook yang telah membengkak. Sungguh, hanya sebuah kecupan.

Sebuah kecupan yang menjadi awal dari kecupan-kecupan lainnya yang ia berikan di leher pemuda Jeon, menelusur ke bawah melalui tulang selangkanya yang telah ia tandai, hingga akhirnya ke bagian dada.

Sepasang tangannya tentu tak hanya diam. Keduanya begitu lihai mengusap paha dalam Jeon Jungkook, membuatnya mengangkang dengan suka rela. Gerakannya semakin nakal kala erangan manja yang sarat akan kenikmatan menyapa gendang telinga.

Taehyung membuka bibirnya.

Ia menjulurkan lidahnya untuk menyentuh kulit dada Jeon muda. ia menggerakkannya lincah seolah melukis dengan dada kenyal calon istrinya sebagai kanvas.

"Mmhhh… daddy…" rintih Jungkook. Paha kanannya masih dibelai oleh tangan kiri sang kekasih, dan dadanya yang sebelah kiri mulai diremat oleh Taehyung. Ia merasa dirinya menggila saat merasakan lidah yang menelusur dada sebelah kanannya sama sekali tidak menyentuh bagian nipple.

Bahkan pijatan-pijatan yang dilakukan pada dada yang satunya juga meloloskan bagian puting.

Ia menjepit pinggang pria Kim dengan sepasang paha kencangnya, sementara kedua tangannya meremat surai kelam pria yang mengungkungnya.

Tubuhnya benar-benar merasakan nikmat setelah sekian lama, dan ia menginginkan kenikmatan lebih.

"Daddy.. ahh.. please… "

Jeon Jungkook memohon, namun ia tak berani mengatakan apa yang ia inginkan. Dirinya sudah cukup lancang menyentuh rambut pewaris Kim, dan ia sungguh takut membuat masalah.

Karena seingatnya, yang harus dilakukannya adalah membuka lebar pahanya dan menerima segala perlakuan daddy-nya tanpa banyak meminta.

Rasanya nyeri di dada.

"Buka matamu dan tatap aku, sayang."

Suara rendah itu membuat Jungkook yang tadinya memejamkan mata langsung membukanya. Ia sedikit terlonjak saat mendapati senyum indah yang ditunjukkan pria Kim untuknya. Dengan kedua tangan yang kini masing-masing memberikan pijatan di dada kanan dan kiri Jungkook, Taehyung mencondongkan wajahnya untuk memberikan sebuah ciuman lembut di bibir sang kekasih.

Ia mengulum bibir bawah Jungkook, melumatnya sebanyak dua kali. Setelahnya, Taehyung kembali menjauhkan tubuhnya. "Bukan daddy, sayang. Panggil namaku, Kim Taehyung."

Ada rasa hangat yang menjalar dari dada Jeon Jungkook. Rasa itu menyebar dengan begitu cepat ke seluruh tubuhnya.

Tak terkecuali, pada bagian matanya yang kini berkaca-kaca.

Ia segera mengalungkan kedua lengannya di leher Taehyung, lalu memberinya sebuah pelukan erat.

Jeon Jungkook benar-benar bahagia.

Taehyung terkekeh, ia menghentikan kegiatannya mengerjai dada montok Jungkook, lalu lebih memilih untuk membalas pelukan kekasihnya.

"Kita jadikan malam ini sebagai malam pertama kita, ya?"

Malam pertama.

Jungkook merasa kebingungan. Pasalnya, ia dan Kim Taehyung sudah berkali-kali melakukannya. Dan demi mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya, ia menjauhkan wajahnya dari wajah pria bersurai jelaga.

Yang ditatap menunjukkan senyum simpul. Ia menarik tangan kanan Jungkook, mencium lembut kelima jemarinya.

"Malam pertama Jeon Jungkook dan Kim Taehyung." gumamnya dengan bibir yang masih menempel di tangan Jungkook. Ia kemudian membawa tangan itu untuk menyentuh dada bagian kirinya, tepat dimana jantungnya berdetak menggila. "Malam pertama kita melakukannya dengan perasaan saling mencinta. Bagaimana?"

Jungkook mengangguk cepat. Ia bisa merasakan getaran halus di setiap kalimat yang Kim Taehyung ucapkan. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas tanpa aba-aba.

"Kau gugup." gumam Jungkook lirih. Tangannya bergerak mengusap dada kekasihnya. Kulit kecoklatan itu bahkan mulai berkeringat, sedangkan mereka belum melakukan apapun. Ia terkekeh pelan. Bukan mengolok, hanya kekehan kebahagiaan yang tanpa sadar ia lakukan setelah mengetahui bahwa pria Kim merasakan hal yang sama seperti dirinya. "Kau gugup, hyung."

Kali ini Kim Taehyung yang terkekeh. Ia membenarkan bahwa dirinya memang tengah gugup, benar-benar gugup.

"Kita akan melakukannya bersama-sama, hm?"

Dan anggukan singkat dari Jeon Jungkook menjadi komando bagi Taehyung untuk menariknya berdiri di samping ranjang. Mereka berdua sama-sama berdiri, sama-sama bertelanjang dada, dan sama-sama saling mencumbu.

Bukan hanya pewaris Kim yang menyalurkan getaran rangsang melalui jemarinya yang menjelajah kulit seputih susu Jungkook, namun pemuda Jeon juga tak mau kalah dengan membelai rahang dan pundak dominannya. Ia melumat bibir kekasihnya, melenguh di sela-sela ciuman panas mereka.

Taehyung menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Jungkook, dengan cepat menemukan lidah sang kekasih untuk selanjutnya ia lilit dan hisap dengan rakus.

Pemilik surai madu tak mau kalah, dengan tangan yang meremat surai sewarna jelaga pria Kim, ia menahan lenguhan demi dapat meneguk rakus saliva kekasihnya. Ia bahkan hampir lupa caranya bernafas. Yang ada di dalam kepalanya hanyalah kenikmatan yang diberikan melalui lumatan-lumatan yang diterima bibirnya, atau kuluman menuntut di lidahnya.

Semua terasa begitu memabukkan, membuatnya menginginkan lebih.

Jeon Jungkook sungguh menikmati dirinya yang tengah bercumbu dengan sang kekasih sampai-sampai ia lupa bernafas.

Mungkin, Jungkook akan benar-benar pingsan jika saja penyandang marga Kim tidak memutuskan untuk menyudahi ciumannya.

"Ahh… mwhh!" pekik yang lebih muda saat calon suaminya menggigit perlahan bibirnya. Tidak hanya itu, pinggang sebelah kirinya diremat nakal.

Ia segera meraup udara banyak-banyak hingga dadanya terlihat membusung seakan minta segera dimanjakan. Nafasnya terengah dengan seulas senyum terukir di bibirnya yang membengkak.

"Aku bukan tuanmu, baby. Aku adalah kekasihmu. Kim Taehyung adalah kekasihmu, mengerti?"

Jungkook mengangguk. Ia mendongakkan kepalanya, meloloskan lenguhan panjang saat lehernya dicumbu. Memang hanya ciuman dan lumatan ringan, namun itu sukses membuat libidonya terbakar.

"Kau boleh melakukan apapun yang kau mau. Kau boleh memintaku melakukan apa yang kau mau." gumam Taehyung di sela kegiatannya menelusur kulit mulus sang kekasih dengan bibir dan lidahnya.

Ia meninggalkan jejak saliva seolah benda itu adalah obat perangsang yang membuat kekasihnya semakin terbakar gairah. Bibirnya terbuka lebar dengan lidah yang terjulur menyentuh ujung nipple Jungkook yang sebelah kiri.

"Aa-ahhh… Tae…" rengek yang lebih muda. Ia jelas menginginkan lebih. Sepasang tangannya bahkan tak henti meremat pundak juga rambut sang kekasih.

Nafasnya tercekat kala tiba-tiba pria Kim meraup puting sebelah kanannya yang menegang, lalu mengulumnya di dalam mulut. Begitu rakus, begitu menuntut. Nipple sebelah kirinya dimanjakan dengan pelintiran kuat dan tarikan gemas.

Jungkook melenguh panjang. Ia sungguh menikmati sentuhan pria yang kini menyandang status sebagai kekasihnya. Sepasang kakinya bergerak resah, tanpa ia sadari membuat bagian selatannya bergesekan dengan gundukan di selangkangan Kim muda yang telah mengeras.

Ia merona.

Kim Taehyung berpindah mengulum nipple kanan Jungkook. Puting kanan pemuda Jeon yang basah dan terkena udara benar-benar terasa menyiksa. Sengatan nikmat itu semakin terasa, semakin membakar tubuhnya hingga tanpa tahu malu dirinya memohon untuk semakin dimanja.

"Awhh… Taetae.. mmhhh… hisap… lebih kuathh…"

Pria Kim memang mesum. Dengan senang hati dirinya semakin rakus mengulum dan menghisap tonjolan mungil yang begitu menggoda. Ia menggigit-gigitnya gemas. Tangannya yang semula memelintir nipple yang satunya kini berpindah menelusur perut rata pemuda miliknya.

Rintihan lolos di sela bibir ranum sang kekasih.

Taehyung tahu betul bahwa sepasang kaki jenjang Jungkook mulai melemas akibat perlakuan kurang ajarnya.

Dan ia senang karenanya.

Ia menyudahi kuluman pada puting sang kekasih, memberinya kecupan gemas sebelum berpindah menciumi perut Jungkooknya.

Ia memberi tanda di bawah pusar, menghisapnya kuat-kuat hingga tanda kemerahan muncul di sana.

Tentu Jungkook sudah mengerang sambil menjambak surai kelam kekasih nakalnya.

Taehyung terkekeh senang. Ia berpindah menciumi bekas c-section di perut Jungkook lembut. Sementara itu, tangannya sibuk meloloskan celana yang dikenakan calon istrinya, termasuk celana dalamnya.

Kalau boleh jujur, Kim Taehyung sungguh mengagumi Jeon Jungkook saat ini. Bahkan bekas luka di perutnya, juga stretch marks yang terlihat samar di beberapa bagian perutnya membuat sang kekasih terlihat lebih indah. Itu adalah bukti bahwa Jeon Jungkook telah memperjuangkan Taekwon kecilnya.

Jeon, tidak… Kim Taekwon, putra mereka.

Merasakan bibir pria Kim yang berada cukup lama di perut bawah bagian kirinya, Jungkook menunduk. Ia tersenyum saat menyadari apa yang tengah dilakukan pewaris Kim di sana. Tangannya dengan kasual membelai rambut Taehyung, menyalurkan kasih sayangnya.

Jungkook menggerakkan kakinya perlahan, meloloskan celana yang telah melorot hingga ke pergelangan kakinya. Ia menendangnya jauh.

"Dasar kelinci nakal." gumam pria Kim sambil terkekeh. Ia kini bersimpuh dengan lututnya, tepat di hadapan Jungkook.

Pemuda Jeon merona. Penisnya yang menegang penuh dengan cairan precum yang mulai menetes tentu dapat dilihat dengan jelas oleh Taehyung, dan itu sungguh membuatnya malu.

Taehyung mendongak, tersenyum jahil saat menatap sepasang obsidian Jungkook yang mempesona. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menjulurkan lidahnya dengan sepasang mata tajam yang masih saling bertatapan dengan netra kekasihnya.

Kim Taehyung menyeringai, memiringkan kepalanya.

Dan saat itulah, Jungkook menyadari apa yang akan dilakukan prianya.

"Aaakkhhh! Hyung! Taetae hyuummhh…" Jungkook berteriak, lalu melenguh keras.

Sepasang tangan kurang ajar kekasihnya meremat bongkahan kembar pantatnya, sementara mulutnya menggigit gemas paha bagian dalam Jeon muda.

Kim Taehyung menikmatinya. Ia mengulum, menghisap dan menggigit gemas paha sang kekasih.

Kalau saja Jungkook tidak berpegangan pada sisi ranjangnya, ia pasti sudah ambruk menimpa pria Kim yang dengan gilanya memiringkan kepala dan memakan kedua sisi pahanya bergantian.

Tubuh pemuda Jeon membusur.

Kakinya mengangkang lebar, memberikan akses penuh kepada pewaris Kim untuk menjamah tubuh bagian bawahnya.

"Ohh…. ohh… hentikan!" pekiknya penuh dusta.

Pinggulnya yang bergerak menyambut rematan demi rematan yang diberikan sepasang telapak di bokongnya jelas berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan.

Jungkook merintih nikmat.

Kepalanya mendongak.

Mulutnya terbuka lebar meloloskan erangan.

Taehyung mulai menelusur belahan pantat kekasihnya menggunakan lidah. Posisinya memang tidak terlalu menguntungkan, namun tetap saja, rasanya nikmat dan menyenangkan. Apalagi suara erotis yang keluar dari mulut Jungkook bagaikan lagu penyemangat yang terus memompa libidonya.

"Ohh!"

Taehyung menampar pantat Jungkook gemas.

Ia lalu menarik masing-masing bongkahan sekal itu ke arah yang berlawanan, membuatnya memiliki akses yang lebih leluasa untuk menemukan pintu anal kekasihnya.

"Mnnhhhh… di sana…" lenguh Jungkook saat ujung lidah pria Kim yang terasa panas menyentuh pintu analnya yang langsung berkedut.

Taehyung hanya menyentuh-nyentuh pintu analnya dengan lidah, menjilatnya nakal, lalu menggigit gemas pipi pantat yang sungguh menggairahkan.

Dan diluar dugaan, tubuh Jungkook mengejang, diikuti dengan lenguhan panjang dan cairan hangat yang mengenai pundaknya.

Kalau saja Kim Taehyung tidak bergerak cepat dan segera menegakkan tubuhnya untuk memeluk tubuh sang kekasih, mereka berdua pasti sudah ambruk. Lebih parahnya, punggung Jungkook bisa menimpa sudut ranjang.

"Mhhh… ohh…" lenguh yang lebih muda, masih dengan kejantanannya yang mengeluarkan cairan kental berwarna putih.

Taehyung segera membaringkan Jungkook di atas ranjang. Ia memberinya sebuah kecupan di kening, sebelum akhirnya kembali memposisikan kepalanya di sela paha Jeon muda yang terbuka lebar.

"Hyung… jangan…"

Kim Taehyung terkekeh.

Tadinya ia sengaja mengabaikan penis Jungkook untuk menggodanya. Siapa sangka, rangsangan kecil yang diberinya tetap mampu membuatnya ejakulasi.

Ia menjilat sisa-sisa sperma Jungkook yang menempel pada ujung penisnya tanpa rasa jijik sedikitpun. Setelahnya lidahnya yang lincah kembali mengerjai liang surga sang kekasih.

Jeon muda yang masih lemas hanya bisa melenguh kepayahan.

Ia berniat menyingkirkan kepala Kim Taehyung dari selangkangannya, namun tangannya malah berkhianat dan menekan kepala Taehyung kuat-kuat.

Bibirnya terbuka tanpa suara saat merasakan lidah panas itu menerobos cincin analnya, membuat ia merasakan nikmat yang luar biasa.

Taehyung bergumam tanpa tanpa makna, membuat Jungkook merasakan getaran nikmat di bagian bawahnya. Tangan pria Kim tak tinggal diam. Yang kanan ia gunakan untuk membelai paha pujaannya, menggambar pola abstrak yang membuat Jungkook terkesiap. Sementara itu tangan kirinya terjulur dan mencubit gemas nipple kanan pemuda Jeon yang terasa semakin sensitif.

"Aaahhhh…" tanpa aba-aba, Jungkook menghimpit kepala pria Kim dengan paha kencangnya.

"Kau benar-benar menggodaku, Jeon." gumam Taehyung menyudahi aksinya. Ia segera bangkit dan menurunkan resleting celana yang ia kenakan.

Dengan tergesa, ia mengeluarkan kejantanannya yang telah menegang tanpa melepas celananya. Ia bergerak hingga ujung penis yang berlumuran precum berada tepat di depan wajah sang kekasih.

Jungkook jelas tahu dengan apa yang pria Kim inginkan.

Ia menggunakan kedua tangannya untuk memberikan pijatan-pijatan lembut di sana, membuat Taehyung mendesis nikmat.

Jungkook lalu menjulurkan lidahnya, dan dengan gerakan yang lembut, ia menyentuh ujung kejantanan pria Kim. Diberikannya kecupan-kecupan ringan sebelum akhirnya ia memberikan jilatan. Lidahnya menelusur dari ujung penis tegang Taehyung hingga ke pangkalnya. Ia mengulanginya beberapa kali.

Mendongakkan kepala, sepasang mata bulahnya mendapati wajah Taehyung yang tengah menunduk menatapnya. Bibir itu tersenyum, lalu sebelah tangannya terulur untuk membelai pipi Jungkook.

Jeon Jungkook merona.

Dibukanya mulut lebar-lebar, lalu ia mulai memasukkan ujung penis pria Kim ke dalam mulutnya.

"Mwngnmm…" gumamnya lirih. Ia berusaha memajukan kepalanya supaya kejantanan sang kekasih semakin mengisi rongga mulutnya, namun bibirnya tak bisa membuka lebih lebar dari ini.

Taehyung terkekeh ringan.

"Jangan memaksakan diri. Begitu saja cukup."

Dan Jeon Jungkook mengangguk.

Ia lalu memberikan kuluman dan hisapan di sana, sementara kedua tangannya mengurut bagian yang tersisa di luar mulutnya. Sesekali tangannya akan memanjakan bola kembar Taehyung.

Sekitar lima menit Jungkook melakukannya, dan Kim Taehyung dengan perlahan mengeluarkan kejantanannya dari mulut sang kekasih. Di sudut bibir Jungkook yang masih terbuka, saliva-nya yang sudah bercampur dengan precum Taehyung tampak membentuk benang tipis yang terhubung hingga ke penis berurat pria Kim.

"Cukup, sayang. Aku sudah tidak tahan lagi." gumam Taehyung seraya menunduk dan memberikan ciuman gemas di pipi Jungkook.

Ia lalu memposisikan dirinya di sela paha sang kekasih yang mengangkang lebar. Digesek-gesekkannya ujung penis miliknya ke pintu anal Jungkook yang berkedut.

"Aku akan melakukannya langsung. Boleh?"

Jungkook mengangguk. Ia menunjukkan senyum bahagia karena sebelum ini, Kim Taehyung tidak pernah mempedulikan apa yang ia inginkan.

"Akan sedikit sakit." bisiknya lembut.

Taehyung mendorong miliknya perlahan, benar-benar penuh perasaan hingga akhirnya cincin anal Jeon muda berhasil ia tenbus.

Jungkook mengerang. Ia sempat memejamkan matanya selama dua detik, namun kembali menatap pria Kim dengan sorot sayu yang begitu menginginkan.

Jungkook merasakannya, bagaimana kejantanan sang kekasih dengan perlahan masuk memenuhi dirinya, membuat dinding rektumnya meremat kuat. Ia mencengkeram masing-masing lengan kekasihnya tanpa ampun.

Rasanya sungguh sakit.

Namun wajah teduh Kim Taehyung juga perlakuan lembutnya berhasil membuat Jungkook merasa lebih nyaman.

Pria bersurai jelaga bahkan mendiamkan miliknya di dalam sana, lalu tubuhnya menunduk untuk memberikan kecupan-kecupan menenangkan di wajah sang kekasih.

"Bergeraklah…" bisik Jungkook. Ia membalas seluruh kecupan yang diterimanya dengan sebuah ciuman di telinga sang kekasih.

Dan tanpa diminta untuk yang kedua kalinya, Kim Taehyung mulai menarik penisnya hingga menyisakan ujungnya saja di liang Jungkook. Dengan sekali hentak, dirinya langsung berhasil menemukan titik kenikmatan Jeon mudah.

"Aakhh!"

"Ternyata aku masih mengingatnya." canda pria Kim. Ia terkekeh ringan seraya menegakkan tubuhnya.

Kedua tangannya memegang pinggang Jungkook, menuntunnya untuk bergerak menyambut setiap hentakan yang ia lakukan.

Bibirnya senantiasa meloloskan erangan dan lenguhan.

Seakan tak mau kalah dari sang dominan, Jungkook bahkan memekik dan melontarkan rengekan yang sukses membakar gairah pria Kim. "Angghhh… hyung… mmhhh… milikmu, ahh! Di sana! Lagiihhh ohhh…"

"Kau benar-benar nakal, sayang." gumam Taehyung menahan geraman.

Ia menautkan tangan kanannya dengan tangan kiri Jungkook. Tubuhnya kembali menunduk untuk selanjutnya memberikan kuluman-kuluman rakus pada bibir bengkak sang kekasih.

Sementara tangan kirinya sibuk melebarkan paha kanan Jeon muda, membuat Jungkook meremat frustasi surai arang sang kekasih dengan tangannya yang bebas.

Penis Kim Taehyung semakin kuat menumpuk prostatnya. Ia bersumpah, urat tegang yang bergesekan dengan dinding rektumnya yang ketat membuat isi kepalanya hanya dipenuhi oleh kenikmatan.

Tubuhnya terasa panas.

Kedua putingnya yang tegang dan bergesekan dengan dada Taehyung benar-benar membuatnya tersiksa.

Jeon Jungkook ingin segera mencapai klimaksnya.

"Owmhh… hyuwhh…" Jeon Jungkook merengek. Air mata lolos dari masing-masing sudut matanya.

Kenikmatan yang ia rasakan sungguh membuatnya gila. Tangan kanannya kini bahkan beralih untuk mencakar punggung Taehyung tanpa mempedulikan jika dominannya merasa kesakitan.

Bukan hanya Jeon Jungkook yang tersiksa dengan kenikmatan yang dirasakannya.

Kim Taehyung tak kalah menggila.

Rematan nikmat yang dirasakannya di setian inchi kejantanannya sukses membuat isi kepalanya kosong.

Jeon Jungkook.

Jeon Jungkook.

Jeon Jungkook.

Hanya nama itu yang berulang terus menerus di dalam pikirannya.

Ia menarik tangan kanan Jungkook, menautkan jemarinya dengan jemari tangan kiri hingga kedua tangan mereka kini saling mengisi kekosongan di sela-sela jari.

Taehyung sedikit menjauhkan tubuhnya.

Ia menatap wajah memerah Jungkook yang begitu menggoda. Dihintakkan penisnya semakin kuat dan semakin dalam hingga membuat yang lebih muda mengerang kenikmatan.

Ia melihatnya, Jungkook air mata Jungkook yang mengalir ke masing-masing sisi wajahnya. Namun ia juga tahu, sang kekasih bukan merasa kesakitan, melainkan tersiksa akan kenikmatan.

Karena dirinya pun merasakan hal yang sama.

"Hyung… mmh… hyung… hentikan.. ahh… mau keluar…"

Pemuda kesayangannya merengek seakan tak rela jika hanya dirinya yang mencapai pundak kenikmatan.

"Keluarkan, baby. Aku juga.. mhh.. sebentar lagi." gumam Kim Taehyung dengan suara yang bergetar.

Ia semakin dalam memasuki tubuh Jeon muda, semakin kuat menekan prostatnya, dan semakin tak beraturan saat menggerakkan pinggulnya.

Kim Taehyung benar-benar akan mencapai klimaks.

Ia bahkan merapatkan perutnya ke perut Jungkook, penis yang lebih muda semakin terhimpit kala menerima gesekan dari kulit perutnya.

Jungkook menggelengkan kepalanya, sungguh tak bisa lagi menahan hujaman rangsang yang diberikan oleh sang dominan.

Dan gelombang itu kembali datang.

Ia melenguh keras saat penisnya berkedut dan mulai mengeluarkan cairan cintanya.

Tubuh Jungkook membusur, dadanya membusung hingga mengenai wajah pria Kim yang dengan suka rela meraup puting kiri kekasihnya, menggigitnya gemas dan membuat Jeon Jungkook semakin mengerang.

"Oohhhh… hyung… hyung… Taetae…hyuuuuung! Aaakhhhhh!"

Tubuh yang mengejang itu, rektum yang meremat penis Kim Taehyung kuat-kuat, Jeon Jungkook saat ini sungguh membuat Kim Taehyung kehilangan kendali atas dirinya.

Ia menarik kejantanannya hingga tersisa setengah dari kepalanya saja, lalu dengan sekali hentakan, Taehyung melesakkan seluruhnya, menabrak titik kenikmatan Jungkook dan membuatnya menjerit nikmat.

"Aakhhhh Taee!"

"Ngghhh…. kau benar-benar nikmat, Kook…"

Dan Taehyung menyemburkan benihnya di dalam tubuh Jungkook.

Ia bahkan masih menghentakkan kejantanannya untuk mengeluarkan sisa sperma yang masih ingin keluar.

Begitu banyak cairan cinta yang ia keluarkan hingga Jungkook tak mampu menampungnya.

"Mmnn… kau hebat sayang." gumam Taehyung. Ia menubrukkan dirinya ke tubuh yang lebih muda, menindihnya tanpa ampun.

Namun detik berikutnya, ia membalik posisi mereka sehingga Jungkook kini berada di atasnya. Tentu dengan penis Kim Taehyung yang masih tertanam di dalam anal Jungkook.

"Ouhh!" keluhnya saat merasakan sakit pada bagian punggung dan pinggulnya.

"Jangan berlagak kuat!" keluh Jungkook. Ia memukul perlahan pundak sang kekasih, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Taehyung.

Yang dipukul hanya terkekeh.

Ia malah semakin mengeratkan pelukan di pinggang Jungkook.

"Aku mencintaimu, Kook. Sangat mencintaimu."

Jungkook terkekeh. Kim Taehyung berucap seolah ia adalah anak kecil, dan baginya itu sungguh menggemaskan.

"Aku juga mencintaimu, Kim."

Kim Taehyung mengerang protes. Ia menampar bulatan pantat Jungkook main-main. "Kau sebentar lagi akan menjadi seorang Kim. Panggil namaku yang benar."

Jungkook hanya tertawa. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Kim muda, lalu semakin menenggelamkan wajahnya.

"Kook…" pria Kim mengubah nada bicaranya. Sebelah tangannya kini mengusap surai Jungkook yang basah karena keringat. "Ayo kita ke Seoul. Orangtuaku ingin bertemu denganmu. Akan sedikit menakutkan tapi aku janji kita akan baik-baik saja."

Jeon Jungkook mendongakkan kepalanya. Ia memberikan sebuah lumatan dan hisapan ringan di bibir pria Kim. "Jangan bicarakan itu. Kita hanya akan menikmati malam ini dengan bercinta. Aku tidak mau membicarakan yang lain."

Dan Kim Taehyung yang menyeringai serta mulai menggerakkan pinggulnya menjadi alarm tanda bahaya untuk Jeon Jungkook.

Tapi tidak apa, karena dirinya benar-benar belum siap jika harus membahas masalah pertemuannya dengan Tuan dan Nyonya Kim.

Sejujurnya, Jungkook merasa takut.

"Mmhhh… pelan-pelan, hyuuuung…"

"Tidak. Kau yang meminta, jadi aku tidak akan memberi ampun, ahhh… kau masih saja sempit."

Biar saja.

Malam ini ia akan melupakannya dengan bercinta dengan Kim Taehyung.

Hanya ada dirinya dan sang dominan saat ini.

Tidak ada yang lain.

.

.

.

.

Jungkook mengeryitkan keningnya saat ia merasakan sesuatu yang basah dan agak kasar menyentuh kulit pahanya. Ia mengerang protes, mencoba membuka matanya saat suara kekehan yang familiar memenuhi gendang telinganya.

"Mmhhh.. hyung..." keluhnya saat ia berhasil membuka matanya. Ia semakin mengeryit saat pria Kim hanya mengusap kepalanya, lalu kembali sibuk dengan aktifitasnya.

Jeon muda merasakan kakinya dipegang-pegang, lalu pinggulnya digerak-gerakkan oleh sepasang tangan Kim Taehyung. Ia belum sadar betul sehingga belum bisa memastikan apa yang terjadi pada tubuh bagian bawahnya.

Dan ketika ia berusaha melihat apa yang terjadi di bawah sana, senyum kecil terukir di bibirnya tanpa aba-aba. Senyumnya semakin melebar kala Taehyung beralih menyentuh tubuh bagian atasnya, memakaikan kaos berwarna putih untuk menutupi tubuhnya yang topless. Tentu saja sang kekasih telah memakaikan celana terlebih dahulu.

"Aku hanya membersihkan tubuhmu dengan air hangat. Aku akan mengganti sprei di kamar ini, kau tidurlah dengan Kwonnie. Setelah ia bangun nanti, baru kau mandi, hm?"

Yang lebih muda hanya bisa mengangguk.

Ia segera menenggelamkan wajahnya ke tubuh pewaris Kim saat tubuhnya digendong ala bridal untuk dibawa ke kamar putra mereka. Aroma sabun menguar di sana, Jungkook bahkan bisa merasakan tetesan air dari rambut calon suaminya yang masih setengah basah.

Rasanya ingin menangis.

Ia ingat bagaimana dulu dirinya lebih sering terbangun sendirian setelah menghabiskan malam panas bersama tuannya. Jika tuannya tidak sengaja tertidur bersamanya pun, Jungkook akan selalu menjadi yang pertama membuka mata, lalu ia akan segera menjauh untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi.

Perasaan jijik akan dirinya sendiri,

Rasa sesak di dadanya karena mengingat Kim Taehyung hanya menganggapnya sebagai pemuas nafsu,

Semua begitu terasa menyiksa.

Namun kini pria yang sama begitu berhati-hati merawatnya yang kelelahan.

Tubuhnya bahkan dibersihkan, dipasangkan pakaian, lalu diberikan kecupan hangat.

"Aku takut kau masuk angin jika aku memandikanmu jam segini." Gumam pria Kim menyadarkan lamunan sang kekasih. Suaranya yang dalam begitu terdengar lembut dan menenangkan. Perlahan ia membaringkan tubuh sang kekasih di samping tubuh putra mereka yang masih tertidur pulas sambil memeluk guling.

Si bocah terlihat nyaman ditemaniselimut merah kesayangannya, juga kaos yang kemarin dikenakan sang ayah.

Taehyung berusaha membuat Jungkook merasa senyaman mungkin. Ia mengelus kepalanya lembut, lalku mencium keningnya lama.

"Aku akan mencoba membuat sarapan." Gumamnya seraya menjauhkan wajahnya.

Bibir itu lalu tersenyum lebar sebelum pewaris Kim akhirnya beranjak meninggalkan kedua orang yang paling disayanginya.

Katakanlah Jeon Jungkook bertingkah seperti remaja yang tengah dimabuk asmara karena yang dilakukannya kini adalah menahan pekikan sambil memeluk erat guling yang juga tengah dipeluk putranya.

Ia menenggelamkan wajahnya di sana, tersenyum lebar saat mengingat perlakuan lebut pria Kim ketika mereka bercinta semalam, juga sikap manisnya pagi ini saat Jungkook baru membuka mata.

"Kalau begini terus, bisa-bisa aku semakin jatuh cinta." Gumamnya lirih.

Ia menatap teduh Jeon Taekwon, hasil buah cintanya dengan Taehyung. Bocah itu masih terlelap, terlihat sangat menggemaskan. Raut wajahnya tampak damai, seolah ia tak memiliki masalah apapun.

Jungkook mengusap pipinya lembut, lalu memutuskan untuk kembali tidur, seperti yang calon suaminya inginkan.

"Momma sangat bahagia, sayang. Kau juga bahagia, kan? Kita berdua akan hidup bahagia bersama poppa..."

.

.

Sementara itu, Kim Taehyung tengah berkutat dengan mesin cuci. Ia tidak terlalu payah dalam urusan seperti ini, lagipula ia memang selalu mencuci pakaian dalamnya sendiri.

"Masukkan semua ke dalam mesin, lalu sabun, lalu nyalakan. Oke" gumamnya sambil melakukan hal yang menurutnya benar.

Ia mencuci sprei, selimut, celananya, sweater dan celana Jungkook, juga pakaian dalam mereka bersamaan.

Setelah mesin cucinya bekerja, ia segera kembali ke kamar kekasihnya untuk memasang sprei. Untung saja ia bisa dengan cepat menemukan benda itu di salah satu almari yang ada.

Walau pada akhirnya sprei yang ia pasangkan tidak bisa rapi, Kim Taehyung cukup puas dengan hasil pekerjaannya sendiri.

Ia segera berjalan ke dapur untuk membuat sarapan. Dirinya memang tidak bisa memasak, tapi untuk membuat roti isi, pria Kim merasa dirinya cukup ahli.

Maka ia segera menggoreng telur dan sosis, lalu menata keduanya di tengah-tengah roti tawar. Ia menambahkan saos dan mayo, juga tomat dan mentimun. Jangan lupakan irisannya yang sedikit abstrak dan tidak beraturan.

"Kurasa ini lumayan." Gumamnya memuji karyanya sendiri. Apalagi ia sukses membuatnya tanpa mengandalkan bantuan dari siapapun, termasuk sebuah teknologi bernama internet.

Kim Taehyung lalu membuatkan segelas susu, setelah itu ia menata semua roti isi yang dibuatnya ke atas sebuah piring. Sejujurnya, Kim muda hanya menumpuknya asal. Kemudian ia membawa piring tersebut, juga segelas susu yang telah dibuatnya ke kamar sang putra.

Ia tersenyum saat mendapati calon istrinya yang tiduran dengan posisi miring sambil mengelus kepala putranya yang mulai bergerak-gerak di dalam tidurnya, tanda bahwa ia akan segera bangun.

"Kau tidak kembali tidur, sayang?"

Jungkook menolehkan kepalanya, mendapati sang kekasih yang meletakkan piring berisi entah apa, juga segelas susu ke atas meja nakas di samping ranjang yang ditempatinya. Ia hanya tersenyum, lalu berusaha duduk.

"Sudah tadi, walau sebentar."

Hanya untuk duduk saja, Jeon Jungkook harus bersusah payah.

Tentu sebagai orang yang bertanggung jawab atas kesulitan yang dialami si pemuda kelinci, pria bersurai arang dengan sigap membantunya. Ia bahkan mencuri sebuah kecupan dari bibir Jeon muda yang langsung mengerucut.

"Minumlah, kau pasti haus karena semalam."

Kali ini Jungkook mencubit gemas lengan pria Kim.

Sungguh ia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini dari tuannya. Dan Kim Taehyung yang begitu memanjakannya begitu membuatnya merona. Tentu ia segera meminum cairan putih di dalam gelas yang disodorkan sang calon suami.

Hanya seteguk.

Karena setelah itu ia langsung menjauhkan gelasnya dan menelan susu di dalam mulutnya dengan susah payah.

"Ada apa, hm?"

Jungkook tersenyum simpul. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi takut menyinggung perasaan kekasihnya. Maka yang dilakukannya adalah mengatakan hal lain yang menyelamatkannya dari cairan putih hangat itu. "Hyung, boleh aku minta air putih saja? Aku sangat haus, susu sama sekali tidak membantuku."

"Baiklah, tunggu sebentar."

Untungnya, Kim muda langsung keluar dari kamar setelah meletakkan gelas susunya di atas meja.

Begitu Kim Taehyung tidak terlihat. Ia langsung menunjukkan ekspresi seperti orang ingin muntah.

"Hyung, yang hangat! Dua gelas!" pekiknya segera. Ia memang membutuhkan air hangat.

Bagaimana tidak?

Susu yang dibawakan sang kekasih untuknya adalah susu balita, susu formula milik Jeon Taekwon. Lebih parahnya, cairan putih yang barusan ditelannya benar-benar kental. Jungkook bahkan tidak bisa membayangkan berapa sendok susu bubuk yang dimasukkan pria Kim hanya untuk membuat segelas susu untuknya.

Rasa dari susu itu benar-benar membuatnya mual. Bukan apa-apa, hanya saja, rasanya terlalu pekat.

"Uhh… momma.." rengek balita yang kini sudah mengerjabkan matanya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengucek mata sementara bibirnya menguap lebar. Pemuda Jeon langsung menutupnya menggunakan punggung tangan.

"Kenapa teriak-teriak membuat Kwonnie bangun?" si bocah menatap sekelilingnya, lalu ketika menyadari sesuatu, ia segera mendudukkan dirinya dan mulai berteriak. "Poppaaaa! Ma, poppa-ku hilang, maaaa!"

Jungkook terkekeh melihat wajah panik putranya.

Bocah berusia empat terlihan mencari-cari sang ayah, bahkan hingga ke bawah selimutnya.

"Tinggal kaosnya tapi poppa-ku tidak ada. Ini namanya menghilang tanpa baju!" Jeon Taekwon semakin panik. Ia mengangkat kaos ayahnya, menunjukkannya dengan raut wajah serius kepada bunda kesayangannya. Setelah itu, bibirnya mulai mencebik.

Baru saja ingin kembali merengek, sebuah suara yang begitu familiar kembali membuatnya berteriak.

Kali ini, dengan nada girang.

"Siapa yang menghilang? Poppa hanya pergi ke dapur."

"Poppaaaaaa!" Taekwon melempar kaos yang ditemukannya asal. Ia lalu merentangkan tangannya lebar. Wajahnya yang semula cemberut langsung terlihat senang.

Pewaris Kim menaruh kedua gelas berisi air hangat yang dibawanya, lalu segera naik ke atas ranjang untuk memeluk sang putra. Ia mendapat banyak sekali ciuman di wajahnya, juga pelukan erat di leher sampai-sampai Taehyung merasa dirinya tercekik.

Sementara itu, Jungkook sibuk menghabiskan segelas air yang tadi kekasihnya bawakan. Setelahnya, ia menuang susu ke dalam gelas yang kosong hingga setengah bagian. Tak berhenti di situ, ia segera menuangkan masing-masing setengah bagian air hangat dari gelas lain yang masih penuh hingga yang dimilikinya kini adalah dua gelas susu.

Pemuda Jeon menghela nafas sambil mengaduk susu di gelasnya menggunakan garpu yang terdapat pada piring berisi tumpukan sandwich dengan bentuk yang sedikit meragukan. Ia hanya berharap pria Kim tidak memasukkan bahan yang aneh-aneh ke dalam roti isinya.

"Ma, momma? Kenapa ada susu dan roti di kamar? Katanya tidak boleh makan di dalam kamar kecuali kalau sedang sakit. Kenapa makanan di kamar Kwonnie? Tapi kan Kwonnie tidak sakit." Taekwon mengeyitkan dahinya. Ia ingat betul dengan apa yang sering diucapkan ibunya.

Dan sekarang, sang ibu malah sibuk mengaduk susu.

"Momma sedang tidak enak badan." gumam Taehyung menanggapi. Ia mengusap kepala bocahnya yang langsung mengangguk mengerti.

"Tapi susunya kenapa ada dua? Momma punya dua susu?"

Sungguh, saat ini yang ada di dalam otak mesum Kim Taehyung adalah sesuatu yang lain.

Untung saja, Jungkook segera bisa mengambil alih situasi.

"Karena momma tidak suka makan sendirian, momma ingin Kwonnie makan bersama momma."

Balita bermata bulat menganggukkan kepalanya antusias. Namun belum sempat ia berseru senang, pemuda Jeon sudah terlebih dahulu memperingatkan.

"Tapi harus berhati-hati agar tidak ada makanan yang terjatuh. Mengerti?"

Walau terlihat ragu, Kwonnie menyanggupinya. "Uhh… oke."

Dan ia segera berpindah ke pangkuan ibunya untuk menerima segelas susu yang telah disiapkan. Sebenarnya Kwonnie ingin meminumnya rakus, namun perkataan momma barusan membuatnya meminum dengan perlahan.

"Kook, kenapa kau jadikan dua gelas?" Taehyung sudah paham dengan apa yang terjadi kepada susu yang tadi dibuatnya. Ia hanya heran, mengapa sang kekasih melakukannya. Jika benar ia ingin Kwonnie menemaninya makan, bisa saja Taehyung kembali ke dapur dan membuatkan segelas susu lagi.

Yang ditanya tersenyum simpul. "Susumu terlalu kental, hyung."

Terkutuklah Kim Taehyung.

Jika tadi yang berada di pikirannya adalah dada Jeon Jungkook yang padat, kali ini cairan kental miliknya menjadi hal yang ia pikirkan.

Ahh… kata susu memang memiliki banyak makna.

Dan Jungkook yang menyadari perubahan raut wajah calon suaminya langsung menunjukkan tatapan tajam.

"Dasar mesum!" pekiknya tertahan seraya melayangkan sebuah pukulan ke paha sang pujaan.

Tentu pria Kim mengerang protes karena merasa kesakitan. Namun ia juga harus bersyukur karena pukulan bertenaga si kelinci hanya mengenai pahanya. Jika meleset, sekitar sepuluh sentimeter ke atas saja, bisa-bisa pusaka Kim Taehyung yang menjadi korbannya.

Sementara kedua orangtuanya sedang bermesraan, Taekwon kecil yang sudah menghabiskan susunya langsung menaruh gelas kosong di atas meja. Ia diam-diam mengambil gelas susu yang masih penuh. Balita pintar memang harus melakukannya cepat-cepat karena sang bunda biasnaya tidak mengizinkannya minum lebih dari segelas susu sekali minum.

Harusnya, Kwonnie meminumnya cepat, namun kata yang barusan didengar membuatnya ingin mengajukan pertanyaan.

"Ma, momma. Mesum itu apa?"

Dan kedua tangan mungil itu langsung mengangkat gelasnya. Jeon Taekwon sukses meminum gelas susu kedua selagi ia mengamati momma dan poppa-nya bergantian dengan sepasang mata bulatnya yang sesekali berkedip lucu. Mereka awalnya diam dan saling pandang. Setelahnya, kedua pria dewasa itu mulai menatap Kwonnie sambil tersenyum kaku.

Jungkook tampak menyikut pria Kim. Ia lalu tertawa canggung sambil mengusap-usap kepala Jeon kecil.

Kwonnie bersyukur karena momma tidak tahu bahwa dirinya sedang meminum porsi ekstra susunya.

"Kenapa menyalahkanku? Kau yang mengatakan kata itu." bisik pria bersurai jelaga. Untung saja, si bocah tidak mendengarnya.

"Mu -mungkin maksud Kwonnie, minum?"

Si bocah yang sudah selesai meminum susunya langsung mengeryit. "Ahh… bukan minum, tadi momma bilang mesum."

Jungkook menerima gelas kosong putranya, lalu meletakkannya di meja. Ia melirik calon suaminya, meminta bantuan. Katakanlah untuk yang satu ini ia tidak bisa menjelaskannya dengan baik karena faktor dirinya yang sedang lelah.

Sebenarnya, Jeon Jungkook sedang malas berpikir.

Dan memang topik yang tidak biasanya Jeon Taekwon tanyakan akhir-akhir ini hanya memiliki satu penyebab yang tak lain dan tak bukan adalah Kim Taehyung. Bocah itu mendapat banyak pertanyaan baru dari tingkah absurd ayahnya, terutama hal-hal yang mengarah pada sesuatu yang… mesum.

"Ya, maksud momma pasti minum." Kim Taehyung menambahkan. Untuk yang satu ini, ia juga belum menemukan penjelasan yang tepat. Lagipula tenaganya habis untuk meraih kepuasan bersama sang kekasih semalam. Ia juga belum makan. Otaknya jadi tidak bisa bekerja dengan baik.

Si bocah merasa tidak terima. Ia menatap ayahnya curiga, lalu beralih kepada sang ibu. Ia mengajukan protes dengan nada menuntut. "Tapi tadi Kwonnie dengar mesum, bukan minum."

"Minum, sayang." ujar Jungkook berusaha menggunakan kalimat lembut yang menenangkan. Ia mencium gemas pipi putranya. "Poppa ingin minum susu, tapi lihat… Kwonnie menghabiskan dua gelas, jadi poppa tidak kebagian."

Jeon Taekwon membuka mulutnya dengan mata yang melirik ke kanan, lalu ke kiri. Ia merasa dirinya tertangkap basah karena telah menghabiskan dua gelas susu sekaligus. Ia takut momma akan memarahinya.

Pria Kim terkekeh. "Tidak apa-apa. Poppa bisa minum nanti di dapur."

Dan si jagoan kecil mengangguk sambil menunjukkan cengiran kotaknya saat sang ayah mengusap kepalanya.

"Sekarang kita makan, hm? Poppa buatkan roti isi."

Kwonnie mengangguk bersemangat. Ia segera membuka mulutnya lebar-lebar saat pria idolanya menyodorkan setangkap roti dengan berbagai isian. Ia menggigit sebanyak yang ia bisa lalu mengunyahnya ceria. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya, merasa makanan yang berada di mulutnya enak.

Namun sebenarnya ada hal yang lebih membuatnya senang, yaitu dirinya yang makan di atas ranjang. Biasanya, momma akan selalu mengomel kalau Kwonnie membawa makanan ke kamar tidur, tapi sekarang dirinya bahkan makan bersama momma dan poppa.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Jungkook merasa cukup khawatir dengan roti mencurigakan yang ditumpuk-tumpuk Kim Taehyung di atas piring. Untung saja, benda itu terasa normal, tidak seperti susu yang begitu kental dan membuatnya mual.

Mereka makan bersama di kamar Kwonnie dengan si bocah yang mengajukan perjanjian berulang-ulang. Tentu saja, isinya supaya sang poppa tidur bersamanya dan tidak pergi sebelum Taekwon bangun.

Kim Taehyung menyaguhinya. Ia tahu betul putranya sedang sangat senang karena memiliki seorang ayah. Ia tentu tidak akan merusak kesenangan putranya.

Taehyung memandikan putranya sementara Jungkook mencuci piring dan membersihkan kekacauan yang ada di dapurnya. Sebenarnya tidak terlalu berantakan, hanya kulit telur yang lupa dimasukkan ke tempat sampah, minyak yang berceceran, juga kulit mentimun yang berantakan. Pria yang lebih tua ingin membersihkannya, namun Jungkook ngotot ingin melakukannya.

Bukan apa-apa, ia hanya tidak mau dapurnya semakin berantakan.

Selesai mandi dan memakai pakaian; kaos abu-abu dengan gambar kamera besar, juga celana pendek berwarna hitam yang senada dengan sang ayah yang juga mengenakan style yang sama namun dengan warna kaos hitam dan celana berwarna gading, Jeon kecil segera mengajak pria Kim untuk melakukan sesuatu.

Saat itu momma-nya sedang mandi dan ia meminta ayahnya untuk membukakan sebuah pintu yang terdapat di dekat dapur. Alat-alat kebersihan seperti sapu, kain pel, dan mesin penyedot debu ada disana. Beberapa benda yang sudah jarang dipakai pun tertata di dalamnya.

"Kenapa Kwonnie ingin kesini?" tanya sang ayah ketika putranya terlihat kesusahan menarik belalai yang terhubung pada sebuah benda berwarna hitam-merah.

"Pokoknya poppa bantu Kwonnie untuk membantu momma, oke?"

Taehyung memang masih bingung dengan apa yang ingin dilakukan putranya, namun ia menurut saja. Diambilnya alat yang ternyata merupakan vacuum cleaner tersebut. Ia mengeryitkan dahi saat menyadari bahwa penyedot debu yang kini diseret balitanya keluar memiliki pola mata dan mulut di bagian depannya sehingga terlihat seperti gajah. Kalau Kim Taehyung boleh jujur, itu sungguh seperti gajah berwajah mesum.

"Sekarang Henry dan poppa akan membantu Kwonnie di sini, oke?" jagoan kecil berucap setibanya ia di kamar miliknya. Wajahnya tampak bersemangat sementara sebelah tangannya menepuk-nepuk vacuum cleaner yang tadi diseretnya.

Pria Kim hanya mengangguk. Ia sempat mengeryit kenapa Taekwon menyebut nama seorang pria yang tidak dikenalnya, namun saat membaca kata Henry tercetak di bagian kepala si gajah, ia mengerti bahwa pembersih debu itulah yang dipanggil Henry. Jungkook pasti memberi tahu Kwonnie karena si bocah tentu belum bisa membaca.

Tanpa diminta, Taehyung berinisiatif untuk membantu anaknya menyalakan pembersih debu tersebut.

"Wohoooo!" si balita berteriak girang. Ia segera memegang ujung vacuum cleaner, lalu bagian yang seharusnya ia gunakan untuk menyedot debu di lantai, kasur, atau di benda lainnya itu ia angkat-angkat ke udara. Bibirnya mengerucut sambil berucap. "Wuu… wuhhh… pergi dari kamar Kwonnie dan tidak boleh mengganggu momma!"

Lagi-lagi CEO Vante dibuat bertanya-tanya. Ia memijit pangkal hidungnya saat melihat tingkah sang putra yang seolah tengah mengadakan ritual pengusiran setan.

Butuh waktu sekitar dua menit sampa akhirnya penyandang marga Kim memutuskan untuk mengambil tindakan.

"Jagoan, apa yang kau lakukan?" Taehyung bertanya dengan sabar walau sejujurnya timbul berbagai kekhawatiran mengenai putranya. Diusapnya kepala sang putra, membuat Kwonnie yang masih menggoyang-goyangkan ujung alatnya berhenti.

Mata bulatnya terlihat serius saat berkata, "Kwonnie mau sedot semua nyamuk di kamar Kwonnie."

"Nyamuk?" Kim Taehyung membeo. Menurutnya, tidak ada nyamuk di kamar Taekwon. Well, mungkin ada satu atau dua, tapi itu wajar saja. Dan tindakan putranya yang ingin menyedot nyamuk dengan vacuum cleaner benar-benar… kreatif?

"Ya." ucapnya penuh semangat. "Tadi Kwonnie lihat perut momma sama di paha merah-merah. Itu pasti digigit nyamuk, jadi Kwonnie mau membasmi nyamuknya sampai habis. Henry akan memakan semua nyamuk, disedot pakai belalai."

Kim Taehyung tersenyum canggung.

Ia segera melepaskan tangannya dari kepala Kwonnie, membiarkan putra mungilnya kembali melakukan aksi pembasmian terhadap sesuatu yang tidak nyata.

Mungkin saja balita berusia empat tidak sengata melihat bagian perut atau paha Jungkook, tepat dimana Taehyung membuat kissmark semalam. Balita pintarnya pasti menyimpulkan bahwa warna kemerahan tersebut timbul akibat gigitan nyamuk. Tambahan, ia mengira Jeon Jungkook tidur di kamarnya semalam.

Dan pagi ini, Jeon Taekwon berencana melakukan aksi balas dendam, walau nyatanya salah sasaran.

Karena sesungguhnya tanda kemerahan yang dilihatnya disebabkan oleh sang ayah.

"Ya sudah, sedot yang banyak nyamuknya, jangan sampai tersisa."

Si bocah mengangguk bersemangat. Ia mengacungkan ibu jari kanannya ke arah poppa sebelum akhirnya kembali menggunakan kedua tangan untuk melaksanakan aksi pembasmian.

"Poppa ambil minum sebentar di dapur. Kwonnie mau?" Taehyung hendak beranjak. Ia akan membiarkan putranya melakukan apa yang ia inginkan. Lagipula Kwonnie terlihat senang.

"Mau tapi yang pakai jeruk ada esnya!" seru Taekwon tanpa menolehkan kepala kepada sang ayah.

Pewaris Kim Enterprise mendesah pasrah. Ia segera keluar dari kamar putranya, lalu menghampiri Jungkook yang tengah merapikan baju yang ia kenakan.

"Mau kemana?" Taehyung bertanya. Ia melemparkan tatapan curiga kepada kekasihnya.

Jungkook terkekeh. Dihampirinya pira Kim, lalu diberinya sebuah kecupan singkat di pipi. "Tentu saja bekerja. Memang aku Tuan CEO yang seenaknya bolos dari kantornya?"

Taehyung mengerang protes. Ia segera memeluk pinggang Jeon muda, lalu menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu sempit Jungkook. "Tapi aku bolos untuk mengunjungi calon istriku, juga putraku yang sangat pintar."

Jungkook tertawa renyah. Tentu ia tahu apa yang saat ini dilakukan Kim Taehyung. Ia sadar bahwa pria yang kini menggelendot padanya tengah berjuang untuk hubungan mereka.

Untuk keluarga kecil mereka.

"Untuk yang semalam…" gumam Jungkook pelan. Ia membalas pelukan sang kekasih erat. Memang awalnya ia merasa ragu. Memang perasaan takut itu masih ada, tapi jika begini terus, ia tidak akan pernah bisa memiliki keluarga seperti yang diimpikannya.

Jeon Jungkook sudah memutuskan.

"Aku setuju kita ke Seoul dan menemui keluargamu."

Dan Kim Taehyung segera menjauhkan wajahnya. Sepasang mata elangnya menatap tajam mata bulat Jeon Jungkook. Ia mencoba memastikan apakah sang kekasih tengah bercanda, dan ketika yang ditemukannya adalah keseriusan yang nyata, pria Kim tersenyum lebar.

Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih, juga mengungkapkan janji bahwa semua akan baik-baik saja. Ia juga menghadiahi pemuda kelincinya dengan kecupan-kecupan seluruh wajahnya.

"Sudah, hyung… nanti Kwonnie melihat kita." Jungkook terkekeh, namun ia serius mencoba mengentikan Taehyung yang sedari tadi memberinya kecupan tanpa henti.

"Tidak akan." Kali ini pria Kim yang tertawa renyah. "Kwonnie sedang sibuk membasmi nyamuk menggunakan vacuum cleaner."

"Apa?" Jungkook membeo.

"Kwonnie melihat kissmark di perut dan di pahamu, mungkin ketika kalian berguling di kamarnya tadi. Ia menyimpulkan bahwa itu adalah akibat dari gigitan nyamuk yang ada di kamarnya, jadi ia berencana menyedot seluruh nyamuk yang ada menggunakan Henry."

"Astaga, anak itu…"

Jeon Jungkook beruntung putranya mengira tanda kemerahan di tubuhnya adalah gigitan nyamuk sehingga ia tidak perlu repot menjelaskan yang macam-macam.

Hanya saja, tingkahnya yang unik itu…

Menggunakan vacuum cleaner untuk membersihkan nyamuk…

Ia hanya berharap bahwa Kwonnie tidak akan melakukan yang aneh-aneh ketika ia bertemu dengan kakek dan neneknya yang terkenal tegas..

.

.

TBC

.

.

Otak saya kembali mesum

In the mood of Painted, jadi yang lain menunggu ya… eheheh

.

Akhirnya…

Review please