-PATH OF DESTINY-
NARUTO is only belong to Masashi Kishimoto-sensei.
But, this story is belong to me. :P
Pairing SasuSaku
Selamat membaca :)
Chapter 10: Wanita Lavender dan Coklat Valentine
Sakura's side
Sudah beberapa kali dalam sebulan ini aku berdoa di depan nisan bertuliskan "Pemakaman Keluarga Uchiha", membawakan mawar putih untuk ibu mertuaku yang sudah bersemayam di dalam makam ini lalu mengucapkan kata-kata maaf.
"Sebentar lagi, aku akan bercerai dari Sasuke. Aku mencintainya tapi aku tidak bisa bersamanya. Maafkan aku, Bu." ucapku dalam hati sambil mencakupkan kedua tanganku. Hanya kalimat-kalimat itu yang mampu kulontarkan.
Aku melangkah pulang dari makam didampingi sepedaku. Jarak dari makam ke rumah cukup jauh dan aku hanya menggunakan sepeda? Aku heran kenapa aku meminta sepeda ini sebagai hadiah pernikahan sementara Sasuke diberikan hadiah rumah -meski rumah itu aku yang memilih- oleh orang tuanya? Mungkin karena hanya sepeda ini yang kubutuhkan. Sepeda ini begitu setia menemaniku dan mengantarku kemanapun aku pergi selama enam bulan ini. Enam bulan pernikahanku dengan Sasuke. Pernikahan yang akan segera berakhir.
Waktu sebulan yang telah dijanjikan terlewat begitu saja. Ayah, Itachi dan Shion berharap aku dan Sasuke akan membicarakan lagi mengenai nasib pernikahan kami, tapi percuma saja. Baik aku dan Sasuke sudah memantapkan diri untuk bercerai. Wanita lavender itu pasti sudah hamil besar sekarang. Anehnya, dia seperti tidak keberatan Sasuke menikahiku. Apa dia merasa cukup hanya dengan memiliki anak dari Sasuke? Huh, kalau aku di posisinya mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.
Kuparkir sepedaku di garasi, lalu melangkah menuju pintu depan. Langkahku terhenti. Oh Tuhan, cobaan apalagi ini? Apa yang dilakukan wanita ini di depan rumahku? Ingin rasanya berbalik dan mungkin akan bersembunyi -entah dimana- hingga wanita yang sedang hamil besar itu meninggalkan rumahku. Apa dia mencari Sasuke? Wanita lavender yang baru saja kupikirkan kini berdiri di depan rumahku dan menyadari kedatanganku. Ia tersenyum menyapaku.
"Kupikir tidak ada orang, rupanya kau baru pulang kerja?" tanya wanita berambut ungu itu seraya tersenyum lembut.
Aku masih belum dapat menguasai diriku, melihatnya secara tiba-tiba rasanya seperti baru saja disetrum listrik bertegangan tinggi. Kalau bisa, aku ingin segera berlari menjauh dari sini. Kalau bisa, aku ingin tidak terlihat untuk saat ini. Kalau saja bisa, aku ingin bersembunyi. Dia tersenyum sambil memiringkan kepalanya sedikit, sepertinya dia menunggu jawabanku.
"I-iya" jawabku gugup.
"Sasuke-kun tidak tahu aku kesini, aku hanya ingin berkunjung" ujarnya sambil tersenyum. Lagi-lagi, bagaimana dia bisa tersenyum dengan begitu tulus terhadapku? Itu membuatku sedih dan sakit. "Boleh aku masuk?" Tanyanya. Aku terlalu asyik dengan pikiranku sampai lupa mempersilakannya masuk.
"Tentu saja" jawabku. Kuambil kunci rumah dari dalam tas lalu membuka pintu. Aku mempersilakannya masuk duluan, aku mengikutinya. Dia memandang ke sekeliling rumah sambil tersenyum. Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin dia masih bisa mempertahankan senyum disaat seperti ini. Aku saja sudah tidak tahu bagaimana tampangku. Jantungku berdebar-debar tidak karuan dan tubuhku sedikit gemetar.
"Jadi benar ya..rumah ini mungil" ujarnya bergumam dan itu berhasil membuatku semakin gugup. Setiap kata yang terucap dari bibirnya membuatku begitu gugup. Kami masuk ke dalam rumah. "Boleh aku berkeliling?" pintanya. Aku langsung mengangguk mengizinkan.
Aku menaruh tasku diatas meja makan lalu kulangkahkan kakiku ke dapur mengambil segelas air putih yang dengan segera kuteguk hingga habis. Aku tidak bisa tenang. Aku masih belum bisa menguasai diriku sepenuhnya. Aku hanya bisa terdiam di dapur, berusaha menghindari berbagai pertanyaan dari wanita itu bila aku menemaninya berkeliling rumah. Biarkan dia melakukannya sendiri. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli.
"Aku ingin minum jus kalau ada." suara wanita itu menyadarkanku lagi dari alam pikiranku. Aku segera berbalik dan tampaklah dia sedang duduk di salah satu kursi di meja makan.
"Hanya ada jus kalengan, apa kau tidak keberatan?" ujarku menawarkan. Dia mengangguk. Kuambilkan dia sekaleng jus bergambar jeruk dari dalam lemari pendingin. Kusodorkan padanya. Dia mengambilnya lalu membuka kalengnya dan meneguk isinya sedikit. Dia sama sekali tidak gugup. Tidak seperti yang kurasakan.
"Besok hari valentine, mau tidak menemaniku membuat coklat?" lagi-lagi dia memintaku melakukan sesuatu. Menemaninya membuat coklat untuk valentine lalu coklat itu akan dia berikan pada Sasuke. Dia meminta bantuanku? Apa dia mau membunuhku dengan sikap manis itu? "Kudengar kue yang kau buat sangat disukai bibi Mikoto, sebenarnya itu membuatku iri." lanjut wanita itu.
Dia menyebut ibu 'bibi Mikoto'? Dia sudah mengenal ibu? Dia iri denganku karena membuat ibu menyukai kue buatanku. Aku justru lebih iri lagi padanya. Dia mendapatkan hati Sasuke yang tidak pernah kudapatkan. Seharusnya itu sudah impas. Lalu untuk apa dia datang kemari? Ini membuatku gila.
"Coklat apa yang biasanya kau buat untuk hadiah valentine, Sakura-san?" dia bertanya setelah aku terdiam begitu lama.
"Aku hanya pernah membuatnya sekali. Biasanya cuma beli" jawabku jujur. Itu benar. Selama ini hanya satu kali saja dalam hidupku aku membuat coklat valentine. Itu waktu kelas I SMU. Tapi, coklat valentine itu akhirnya malah kumakan sendiri setelah -lagi-lagi- gagal memberikannya secara diam-diam pada Sasuke. Aku memakan coklat itu sambil menangis karena merasa benar-benar tidak berarti. Semua yang kubuat untuk Sasuke, berakhir untuk diriku sendiri. Sasuke tidak pernah sekali pun khawatir apakah dia akan mendapat kado natal di hari natal, atau apakah dia akan mendapat coklat di hari valentine. Tidak pernah sama sekali karena dia selalu mendapatkannya dari begitu banyak gadis di sekolah. Kudengar, bahkan waktu SMP pun dia sangat populer.
Setiap akan memberikan sesuatu padanya, pikiran-pikiranku selalu berhasil mempermainkanku. Memikirkan bahwa Sasuke hanya akan menganggap coklat yang sudah kubuat dengan susah payah sebagai coklat buatan pabrik dan akan membagikannya pada teman-temannya membuatku frustasi. Daripada coklat itu dinikmati orang lain, lebih baik kunikmati sendiri. Dan aku menyesal setelah memakannya. Seharusnya kuberikan saja pada Sasuke dan membiarkan siapapun memakannya karena rasanya pahit. Apa karena hatiku sedang sedih makanya coklat itu rasanya jadi pahit? Aku benar-benar menyesal waktu itu. Sejak itu aku tidak pernah berpikir untuk membuat coklat valentine lagi. Apakah aku harus menceritakan pengalaman konyol itu pada wanita lavender ini?
Aku menatapnya sambil berusaha tersenyum. "Jadi bagaimana?" tanyaku.
"Kamu sama sekali tidak pernah membuat coklat valentine untuk Sasuke?" wanita itu menjawabku dengan pertanyaan. Aku menggeleng. "Padahal aku selalu membuatkannya setiap tahun" lanjutnya sedikit kecewa.
Aku tersenyum kaku.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuatkan coklat valentine untuknya. Sasuke-kun pasti senang." tawar wanita itu sumringah.
Aku masih bertahan dengan senyuman kaku yang kini bertambah dengan terangkatnya sebelah alisku. Sebenarnya apa sih mau orang ini? Dia mau memamerkan kedekatannya dengan Sasuke atau apa?
"Baiklah." jawabku.
Kebetulan coklat batangan yang akan kugunakan untuk membuat kue kering masih belum terpakai. Coklat bubuk juga masih ada. Tapi dia sudah membawa bahan-bahannya sendiri. Aku menunggunya memberitahuku apa yang harus kulakukan selanjutnya setelah mengeluarkan seluruh isi lemari penyimpanan bahan makananku.
"Pertama, lelehkan dulu coklatnya" ujar wanita lavender itu sambil tersenyum. Aku segera mengambil coklat batangan lalu mulai mengiris-irisnya dengan pisau. "Kau melakukannya dengan baik." ujarnya memujiku. Kalau tidak bisa melakukannya dengan baik bukankah percuma kudapatkan nilai A di pelajaran PKK. Nilai A yang kudapat tidak serta merta jatuh langit lho.
Setelah melontarkan pujian padaku, dia mengeluarkan sesuatu dari kantong kertas yang dia bawa tadi. Itu cetakan berbentuk hati. Ia menaruhnya diatas meja, lalu mengeluarkan lagi sesuatu berbentuk batangan -sepertinya itu white chocolate. Ia melihat kegiatanku sudah hampir selesai, ia beranjak menuju kompor, meletakkan panci berisi air diatasnya lalu memanaskannya. Kurasa itu untuk melelehkan coklat yang sudah kuiris.
"Lelehkan coklatnya disana." ujarnya menunjuk ke panci yang tadi ia panaskan. Aku mengangguk. Segera kulakukan seperti yang dikatakannya. Kutaruh mangkuk aluminium diatas panci yang airnya sudah mendidih, kukecilkan apinya lalu kumasukkan irisan coklat kedalam mangkuk. Perlahan-lahan coklatnya meleleh. Aku mengaduknya.
"Saat kudengar Sasuke-kun akan menikah..." wanita lavender itu berujar. "...aku benar-benar kaget. Kupikir, wanita seperti apa yang akan dia nikahi. Sudah lama aku ingin berkunjung tapi Sasuke melarangku. Makanya sekarang aku datang diam-diam. Setelah bertemu denganmu, aku tahu kau baik dan terampil membuat kue. Aku merasa lega Sasuke menikahi wanita sepertimu" ujarnya. Meskipun begitu, tetap saja kata-kata itu menyakitiku. "Kudengar kalian akan bercerai. Benar-benar disayangkan." lanjutnya seperti bergumam.
"Itu benar." jawabku sambil menoleh dan menunjukkan sedikit senyum. Senyum yang kupaksakan.
"Kenapa?" tanyanya. Ia menoleh padaku. Aku menggeleng, lalu kembali pada kegiatanku. Dia bertanya kenapa? Dia menanyakan alasanku bercerai dari Sasuke? Konyol. Tentu saja perceraianku dengan Sasuke karena pernikahan kami hanyalah kontrak! Terlebih lagi Sasuke sudah memiliki kekasih yang sedang hamil, kau. Kau pikir setelah mengetahui semua itu aku masih bisa mempertahankan pernikahanku dengannya? Oh ini konyol! Bagaimana caramu tersenyum dengan begitu manis padaku? Ini semua salahku karena telah membiarkan diriku terjebak disini. Ibu -mertua- pasti akan mengerti hubunganmu dengan Sasuke dan tidak perlu menepati janjinya pada ibuku karena orang tuaku sudah mengatakan bahwa perjanjian itu tidak penting. Lalu, kenapa Sasuke tidak mengungkap hubungannya dengan wanita lavender ini? Hhaaaahh... memikirkan semua ini membuatku gila! Kurasa aku sudah gila sekarang!
"Apa ada orang lain?" wanita lavender itu bertanya lagi. Kenapa aku selalu menyebutnya wanita lavender? Yep, karena aku tidak ingat namanya. Bagus Sakura, bahkan nama wanita yang akan menggantikan posisimu sebagai istri suamimu pun kau tidak tau. Dia sainganmu Sakura! Katakan kalau satu-satunya pria yang ada didalam hatimu adalah Sasuke, hanya Sasuke! Katakan itu padanya! Dan masalahmu selesai. Sasuke menjadi milikmu dan wanita itu...apa yang akan terjadi padanya?
"Iya" akhirnya jawabanku keluar dari mulutku. Jawaban yang tepat untuk saat yang tepat. Dan ini menyakitiku.
"Maaf, aku terlalu lancang." ujarnya penuh penyesalan.
"Daijoubu." jawabku sambil tersenyum padanya. Setelah itu dia tidak bertanya macam-macam lagi. Kami akhirnya hanya ngobrol ringan mengenai masakan. Aku cukup menyukainya karena dia pintar memasak. Dia mampu membuat coklat valentine jauh lebih baik dariku. Itu membuatku sedikit cemburu. Sedikit? Baiklah kuakui, aku sangat cemburu dan sangat iri padanya. Kami membuat dua buah coklat berukuran sedang, dia memintaku menghias salah satunya -dengan coklat putih leleh-, mengisinya dengan nama Sasuke -inisiatifku sendiri- sementara dia menghias yang satunya lagi. Entah apa yang dia buat diatas coklat itu. Aku tidak sempat melihatnya karena dia buru-buru membungkusnya. Aku juga membungkus coklat yang kuhias.
"Aku rasa aku harus segera pulang. Ini untukmu." ujarnya seraya menyodorkan coklat yang dia hias tadi padaku.
"Apa ini untuk Sasuke?" tanyaku.
Dia mengeleng. "Untukmu." jawabnya. Aku menerimanya dalam diam. "Aku pulang dulu, Sakura-san. Terimakasih sudah menyempatkan diri menemaniku memasak. Sebenarnya aku hanya mencari alasan agar bisa ngobrol denganmu. Lain kali kita ngobrol lagi ya." ujarnya sambil tersenyum sebelum meninggalkan rumah. Aku membukakan pintu untuknya.
"Iya." ujarku bergumam. Aku memandanginya melangkah dengan pelan menuruni undakan di depan rumah sambil memegang perutnya. Aku terus memandanginya, memandanginya hingga akhirnya dia menghilang dari pandanganku. Hari sudah gelap dan aku merasa sedikit frustasi mendapat kunjungan mendadak dari wanita lavender itu. Kupandangi coklat yang ia berikan padaku. Kenapa dia memberikannya padaku? Dia membungkusnya dengan begitu rapi. Kupikir, dia seharusnya memberikan ini untuk Sasuke.
-00-00-00-
Valentine tiba. Valentine, valentine, valentine. Pagi ini suasananya begitu berbeda. Semua orang bergembira. Semua orang -tidak termasuk aku. Yah, tapi aku turut gembira untuk orang lain. Bahkan anak-anak SD pun ribut membicarakan coklat valentine. Anak perempuan meributkan apakah dia akan memberikan coklat valentine pada anak laki-laki yang dia sukai, sementara anak laki-laki meributkan apakah anak perempuan yang dia sukai akan memberikannya coklat valentine atau hari ini akan dia lewatkan tanpa coklat sama sekali. Itu hal lumrah. Bahkan orang dewasa pun meributkan hal yang sama. Budaya valentine ini begitu mendarah daging.
"Haaahhh.. sayang sekali aku tidak bisa memberikan coklat valentine ini untuk Sai!" teriak Ino sambil menggebrak meja. Itu membuatku kaget.
"Kenapa Ino?" tanyaku seraya meliriknya dengan ujung mataku. Tangan kiriku masih menopang dagu sementara tangan kananku sedang memegang ponsel, baru saja akan mengetik e-mail ucapan valentine untuk ayah saat sebuah pikiran terlintas di kepalaku. Apakah perlu mengirimkan ucapan valentine untuk ayah mertuaku dan Itachi? Untuk Itachi sebaiknya tidak karena dia pasti mendapatkan lebih dari sekedar ucapan valentine dari Shion. Untuk ayah mertuaku, yep, aku juga akan mengirimkan ucapan untuk ayah mertuaku. Tunggu, untuk Gaara? Perlu tidak ya? Sejak dia kembali, aku baru bertemu dengannya satu kali. Aku tidak tahu apakah dia sudah punya pacar atau belum. Kalau belum mungkin aku akan kembali lagi padanya setelah bercerai dari Sasuke. Oh betapa jahatnya pikiranku yang satu ini. Tidak. Tidak boleh Sakura. Kau tidak boleh mempermainkan perasaan Gaara. Dia sudah berusaha dengan keras untuk melupakanmu, biarkan dia bebas dengan kehidupannya sekarang. Jadi? Setelah bercerai dari Sasuke, aku akan kembali lagi pada kehidupanku yang dulu? Kehidupan yang sibuk dan tenang? Atau lebih tepatnya kehidupanku yang sedikit monoton dan membosankan. Memikirkan itu membuatku ingin menangis.
Kemarin aku sudah mengisi formulir perceraian tapi setiap kali akan menempelkan stempel di atas namaku, tanganku seketika menjadi lemas. Aku tidak ingin bercerai. Tidak ada seorang istri yang benar-benar menginginkan perceraian dari suami yang dicintainya. Tidak ada. Titik.
"Sai berangkat ke luar kota tadi pagi tanpa memberitahuku, Sakura." jawab Ino. "Aku belum sempat memberikan coklat valentine buatanku padanya." Ino mendesah seraya menghempaskan dirinya di kursi.
"Kau membuatnya sendiri?" tanyaku sedikit tidak percaya. Ino yang biasanya tidak peduli pada hari valentine membuat coklat valentine sendiri? Buatannya sendiri? Untuk Sai? Coba kuingat-ingat apa yang dulu dia katakan padaku saat kuajak dia membuat coklat valentine.
"Untuk apa? Paling-paling Sasuke-mu tersayang akan memberikan coklat buatanmu untuk orang lain, atau lebih buruknya lagi dia akan melemparnya begitu saja. Tidak ada bedanya dengan si Nanas. Kalau aku memberikan coklat valentine padanya, dia pasti langsung melemparnya ke wajahku. Jadi untuk apa kubuatkan dia coklat valentine dengan usaha kerasku." itu yang dia katakan hampir 10 tahun yang lalu. Aku berakhir dengan membuat coklat valentine sendirian, itupun rasanya pahit.
"Sai beda, Sakura." ujar Ino -yang sepertinya merasakan sendiri aura 'tak percaya' yang kupancarkan-.
"Memangnya apa yang berbeda dari Sai?" tanyaku masih dengan lirikan ujung mataku.
"Dia baik dan meskipun dia sedikit -ralat- sangat menyebalkan, aku sedikit menyukainya. Setidaknya aku mulai menyukainya." ujar Ino membela diri.
Aku memutar bola mataku. Ino selalu termakan omongannya sendiri. Akhirnya dia akan mengarang bebas untuk membela diri. Dasar Ino.
Ponselku berdering. Ada email masuk. Disaat yang sama ponsel Ino juga berdering. Aku menaikkan sebelah alisku. Itu email dari Tenten. Bunyinya: "Aku patah hati, sepulang kerja temani aku minum". Aku melirik Ino. "Kau juga dapat email dari Tenten?" tanyaku.
"Humm, ada apa lagi dengan bocah itu ya?"
Entah bagaimana ceritanya, Kakashi-sensei, Kurenai-Sensei, Gai-Sensei, bahkan Shizune-Sensei, pengurus ruang kesehatan, ikut dalam acaraku dan Ino menghidur Tenten. Aku hanya bisa memijit keningku sementara mereka dengan asyiknya berkaraoke-ria. Lalu, orang yang bermaksud kami hibur, Tenten, justru tidak muncul bahkan setelah sejam kami menunggunya. Kuteguk habis sake ditanganku.
"Ada apa sih dengan Tenten, dia yang mengajak kita kemari tapi kenapa dia belum muncul juga sampai sekarang?" umpatku geram. Lagi-lagi kuteguk secawan sake.
"Entahlah. Aku sudah menghubunginya tapi tidak ada jawaban!" jawab Ino sedikit berteriak karena baru saja sebuah lagu diputar lagi oleh Gai-Sensei. Lagu dengan musik yang sedikit keras. Pantas Tenten mengajak janjian di tempat seperti ini. Karaoke memang tempat yang tepat bagi orang-orang patah hati.
"Kaka-Sensei, jangan sampai kau mabuk. Nanti bisa dimarahai Anko-Senpai lhoo" ujarku memperingatkan Kakashi. Ia sudah menghabiskan sebotol sake.
"Istriku sedang marah, Sakura-chan." ujar Kakashi-Sensei disela-sela kesadarannya. Kurasa dia sudah agak mabuk. Diteguknya lagi isi botol sake ditangannya. "Aku bingung bagaimana menghadapi istriku. Aku tidak begitu mengerti apa maunya. Ayo Sakura, kita bersulang." ia menuangkan sake di cawanku. "Ino kau ikut juga." ia juga menuangkan sake di cawan Ino. Lalu beralih ke cawan Shisune-sensei dan Kurenai-sensei, sementara Gai-Sensei sedang asyik bernyanyi dengan suara yang agak sumbang.
Anko-senpai dan Kakashi-sensei menikah sekitar 2 tahun lalu. Kurasa, pernikahan mereka mendapat banyak cobaan. Masalahnya, pernikahan mereka karena dijodohkan orang tua. Entahlah apakah akhirnya mereka saling mencintai atau tidak. Aku berharap pernikahan mereka tidak berakhir seperti pernikahanku.
"Kampaiiiii" kami bersulang. Entah kenapa Ino tidak ikut minum bersama kami. Dia hanya minum secawan sake. Sementara aku...etto...sudah berapa cawan yang kuminum? Lupakan. Aku akan menikmati malam ini dengan minum sepuasnya.
Sakura's side end.
-00-00-00-
Author's side
"Maafkan suamiku sudah merepotkanmu, Ino-chan" ujar Anko, istri Kakashi. Ia datang menjemput Kakashi setelah mendengar dari Ino bahwa Kakashi sedang mabuk berat di karaoke. "Apa perlu kubantu mengantarkan Sakura-chan pulang, Ino?" tawar Anko.
"Tidak, senpai. Aku akan menghubungi suaminya. Bukankah kau cukup berat membawa Kakashi-sensei." jawab Ino.
"Iya sih, kalau begitu kami duluan ya.." ujar Anko seraya memapah suaminya yang kurus itu keluar dari ruang karaoke meninggalkan Ino berdua saja dengan Sakura yang sedang bernyanyi tanpa peduli suaranya tidak karuan. Gai-Sensei dan Kurenai-Sensei yang tidak mabuk sudah pergi beberapa saat yang lalu mengantarkan Shisune-sensei yang mabuk berat. Lalu, dimana Tenten? Padahal dia yang membuat janji tapi dia tidak datang. Ino memijit keningnya. Apa jadinya bila dirinya juga ikut-ikutan mabuk?
Ino melirik tas krem Sakura. Dia berpikir untuk menghubungi Sasuke. Beberapa saat dia sempat berpikir untuk mengurungkan niatnya, tapi kemudian dilihatnya lagi tingkah gila Sakura. Ia tidak bisa menghadapinya sendirian. Dengan cepat ia mengambil ponsel Sakura, lalu mencari nama seperti "Koi", "Honey", "Love" atau "My Husband" di kontaknya. Tapi tidak ia temukan. "Jangan bilang kau menggunakan kata "Sex" untuk nama suamimu di ponsel ya Sakura!" umpat Ino tidak sabaran. Tidak. Bukan koi, honey, love, my husband, my love, sex atau my sex, bukan semua itu. Lalu dia menyebut suaminya apa? Ino mengingat-ingat kata apa yang kira-kira disukai Sakura. Sambil mengingat ia mencari namanya sendiri. Ia memanggil ponsel sakura dengan ponselnya dan muncullah namanya. "Lovely Ino"? Ino menaikkan sebelah alisnya lalu tertawa pelan. Ia mulai berpikir untuk mengganti "Si Jidat Lebar" di ponselnya menjadi "Lovely Sakura".
Di ponsel Sakura tidak ada nama Lovely Sasuke. Ia belum juga mendapatkan nama panggilan untuk Sasuke. Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran di kepalanya. "Uso!" ujar Ino seraya mengetik nama yang sedang ia pikirkan. Matanya terbelalak ketika menemukan nama itu. "Apa sih yang kau pikirkan Sakura?!" gerutu Ino. Ia mencekik leher Sakura yang sedang duduk di sebelahnya sambil minum sake. Yang dicekik tidak peduli. "Bisa-bisanya kau memberiku nama Lovely Ino sementara suamimu kau beri nama Uchiha Sasuke di ponselmu?!" Ino geram. Ia geram pada dirinya sendiri karena berpikir terlalu jauh tentang nama panggilan untuk Sasuke.
Ino segera menekan tombol hijau di ponsel Sakura.
Sasuke sedang berkumpul dengan teman-temannya -minus Naruto dan Neji- di kedai ramen Ichiraku saat nomor Sakura memanggilnya. "Haruno Sakura" nama si pemanggil di ponselnya.
"Pik" ia menekan tombol hijau. Baru saja dia akan mengatakan sesuatu, si pemanggil berhasil mencegahnya.
"Moshi-moshi, aku Ino temannya Sakura." ujar Ino. "Sakura sedang mabuk berat. Apa kau bisa menjemputnya? Di karaoke Rabu-Rabu ruang nomor 3. Iya. Aku akan menunggu."
"Pik" Ino menutup telepon. Lalu mengembalikan ponsel Sakura ke dalam Tasnya.
Sasuke memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya. "Aku pulang duluan." ujarnya seraya beranjak. Teman-temannya memandanginya.
"Oi, kau mau kemana?" tanya Shikamaru.
"Ada urusan. Aku harus segera pergi" ujar Sasuke datar. Ia pun melangkah keluar dari kedai. Diikuti tatapan mata teman-temannya.
"Apa yang menelpon tadi istrinya?" tanya Kiba entah pada siapa.
"Kenapa Sakura-chan menikah dengan pria seperti itu~" Rock Lee menangis dipojokan sambil memakan ramennya.
-000-
Ino duduk sambil memandangi tingkah gila Sakura dengan tatapan kosong, ia pasrah. Kalau sudah mabuk, Sakura menjadi egois, manja, keras kepala, gila, kekanak-kanakan, semua sifat aslinya keluar. Ia hanya membiarkan sahabatnya itu melakukan apapun sesukanya. Bahkan ketika Sakura mempermainkan rambutnya, ia masih duduk dengan tenang. Ia berpikir, pasti ada sesuatu yang sangat membenani Sakura hingga ia minum begitu banyak dan mabuk berat. "Kali ini kau kumaafkan, Sakura" gumamnya.
"Bruukkk..!" Sakura ambruk di atas sofa di sebelah Ino.
"Ino~ apa kau tahu~ hik~ apa kau tahu~ hik... Aku~ aku~ akan segera bercerai.." ujar Sakura di sela-sela cegukannya. Ia tertawa diakhir kalimatnya. "Wanita berambut lavender itu~ hik~ dia adalah sainganku hiks~" cegukannya berubah menjadi isakan. "Aku tidak bisa menyainginya, Ino~ hik~ Apa yang harus kulakukan~?" Sakura seolah-olah menangis tapi sesaat kemudian dia tertawa.
"Perceraian dan wanita lavender? Kau dan Sasuke akan bercerai?" Tanya Ino.
"I~ya~ aku akan menyingkir dari kehidupan Sasuke.." ia mengambil cawan sake. "Lho? Sudah kosong~hik, ka~pan aku meminumnya~? Ino, ayo pesan sake lagi~hik~ aku mau minum~"
"Kau sudah mabuk. Jangan minum lagi, Sakura."
"Aku tidak mabuk~ lihat~ aku sadar kok~"
Tak berapa lama kemudian, Sasuke masuk ke ruangan itu disaat Sakura merengek-rengek minta sake. Ino dan Sakura menoleh ke arah Sasuke.
"Lho~ Sa~su~ke~kun~" Ujar Sakura seraya menghampiri Sasuke dengan langkah gontai. "Sasuke-kun yang kucintai~ suamiku yang sangat~ sangat kuncintai~" Ia memeluk Sasuke.
Sasuke menangkap Sakura dengan kedua tangannya. Dia hanya bisa berbengong-ria. 'Dia menyebutku Sasuke-kun?' tanya Sasuke dalam hati. Ia menaikkan sebelah alisnya.
"Ino~ kau lihat~ Sasuke-kun~ menjemputku~ Sasuke-kun~yang sangat kucintai~ akhirnya datang~" ujar Sakura tidak karuan lalu tertawa.
"Hei Sakura jangan bicara sembarangan!" teriak Ino. 'Matilah kau Sakura, kau sendiri yang mengatakannya' umpat Ino dalam hati. 'Meskipun kau mengatakannya dalam keadaan mabuk. Apa kau lupa, orang bilang saat mabuk seseorang berkata jauh lebih jujur.' Ino hanya tersenyum gugup melihat reaksi Sasuke.
"Naiklah ke punggungku" Ujar Sasuke pada Sakura. Ia sedikit membungkuk.
Dengan senang hati Sakura naik ke punggung Sasuke. "Tasku masih di sofa." ujar Sakura memanja. Ino mengambilkan tasnya dengan segera. "Sepatuku juga!" Ino dengan cekatan mengambil dan menyerahkan sepatunya pada Sasuke.
"Maaf, sudah merepotkanmu, Ino." ujar Sasuke membungkuk sedikit pada Ino sebagai ungkapan penyesalan.
"Tolong segera bawa dia pulang. Aku tidak mau mendengarnya mengatakan yang tidak-tidak" Ujar Ino sambil tersenyum. "Aku juga akan pulang sekarang"
Dalam perjalanan menuju parkiran, Sasuke berjalan dengan perlahan sambil menggendong Sakura di punggungnya. Orang mabuk menjadi lebih berat dari biasanya. Meskipun dia tidak terbiasa menggendong Sakura.
"Sasuke-kun." Ujar Sakura lemah dengan nada sedikit manja. Matanya terpejam, ia tampak begitu nyaman berada di punggung Sasuke.
"Hn" jawab Sasuke.
"Aku mencintaimu"
"Hn, benarkah?"
"Kau pasti tidak tahu, aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu."
"Kapan"
"Kau tidak tahu?"
"Tidak"
"Kau benar-benar payah! Baka! Kau sungguh tidak punya hati! Aku benci padamu!"
"Hn"
Air mata mengalir dari ujung mata Sakura. "Hiks..Aku menyesal menerima lamaran pernikahan ini. Aku menyesal membiarkanmu masuk ke dalam hidupku lagi. Aku seperti baru saja memakan coklat valentine yang pahit seperti saat SMU. Hehehe" Sakura terkekeh dengan kata-katanya sendiri.
Sasuke terdiam. Langkahnya terhenti. Ia memperbaiki posisi Sakura, lalu melangkah lagi. "Aku lelah sekali dengan kehidupanku. Menjalani hidup bersamamu membuatku bahagia walaupun cuma sejenak" ujar Sakura sambil tersenyum dalam ketidaksadarannya. "Aku...mencintaimu...Sasuke-kun..."
Author's side end.
-00-00-00-
Chapter 10 selesai. Ternyata harus tambah chapter lagi.. T.T
Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana orang mabuk. Mohon maaf ya kalau tidak seperti yang sebenarnya.. :(
Aku sedang ngebut menyelesaikan chapter-chapter akhir Path of Destiny..
Sedikit lagi..
Mo Sukoshi...
Ganbare ganbare...
Terimakasih kepada pembaca dan reviewer yang sudah mengikuti sampai chapter ini..
Aku sedikit besar kepala saat membaca review yang mengatakan fanfic-ku bagus. Hehe #tertawajahil
Arigatou Gozaimashita... #ojigi
Path of Destiny masih akan berlanjut, sedikit lagi.. :)
