Expectation of Love

Disclaimer : Masashi Kishimoto

By : wf

Pairing : naruinohina, sasuruko, gaasaku, shikaten, saishion, nejitem, dll

Warning : smart!naru, cool!naru, OOC, maaf kalau cerita ini masih abal, gaje, dan banyak sekali typo, karena saya masih penulis baru dan masih amatir dan juga kalau ada kesamaan cerita dengan author lain, saya sungguh minta maaf, tapi sungguh ini murni dari pikiran saya sendiri, I hope you can enjoy reading this story, guys...

Chapter 10 :

Ya tuhan, apa yang telah aku lakukan, aku telah menyakiti gadis yang paling aku sayangi di dunia ini. Hanya Kau yang tahu betapa terlukanya aku melihat tatapan sendunya. Tuhan, kau boleh menghukumku dengan berat atas kelakuan yang telah aku perbuat.

'tes, tes' tanpa aku sadari air mataku mengalir dengan sendirinya, aku menangis dalam diam, menyesali setiap kejadian yang telah aku lakukan. Aku masih mengingat dengan jelas pandangan terluka yang ia berikan padaku, aku merasa aku adalah laki-laki paling pengecut yang pernah terlahir ke dunia ini.

Flashback (16 tahun yang lalu)

"bersulang" ucap ke sebelas anak yang berada di sebuah cafe pribadi milik keluarga salah satu dari mereka. "aahh" ucap mereka dengan serentak setelah meminum bir pertama mereka secara bersamaan.

"wah, aku tidak menyangka kita akan berpencar untuk mencapai cita-cita masing-masing" ujar seorang gadis bersurai merah muda dengan tiba-tiba, yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari kegiatan minum itu. "aah, kau benar forhead, jujur, aku tidak tahu apakah kau akan sanggup menjalani hidupku tanpa kalian semua" balas gadis yang mereka kenal dengan nama Yamanaka Ino.

"hik, hik benar sekali, aku akan kesepian tanpa adanya kalian" sambung seorang gadis bersurai pirang yang di ikat empat bernama lengkap Sabaku Temari ini. "hm, aku tidak dapat membayangkan jikalau aku harus berpisah dengan kalian, karena aku sudah terbiasa dan tergantung dengan kalian semua" tambah seorang gadis bersurai coklat bernama lengkap Xi Tenten.

"ha'i, aku juga tidak dapat membayangkan itu, walau kita baru kenal sekitar satu tahun lebih, namun tidak dapat aku pungkiri aku menyayangi kaliaan semua," ujar seorang gadis berambut pirang bernama Naruko.

Ke empat gadis itu menatap pada naruko dengan lembut, karena mereka juga merasakan hal yang sama dengan gadis itu. Sedangkan ke enam pemuda itu hanya menyimak obrolan mereka, namun begitu mereka juga dapat merasakan perasaan yang sama dengan para gadis itu, hanya saja mereka tidak memperlihatkannya.

Skip time

"hik hik, kau tahu naru-kun, aku sungguh menyesali semua keputusanku atas pernyataanmu kemarin, kau tahu aku juga sangat mencintaimu. Tapi kita tidak dapat bersama, itu sangat menyakitkan kau tahu" racau ino pada orang tengah memapahnya ini. Dan orang itu adalah naruto.

Mereka berdua memisahkan diri dari teman-teman mereka, ketempat yang lebih nyaman. Apalagi ino sudah mabuk berat, dan naruto sendiri ia juga mabuk berat. Mereka terus berjalan berdua.

"kalau kau mencintaiku, kenapa kau menolak untuk bersamaku ino, kau tahu aku juga sangat sakit mendengar tolakanmu waktu itu. Aku tidak bahagia bersama dengan hinata, aku tidak mencintainya, dan itu tidak akan pernah terjadi. Hanya kau gadis satu-satunya aku cintai selama aku hidup" balas naruto dengan kondisi setengah sadar.

Ino yang mendengar itu tersendak dan merasakan sesak yang amat didalam hatinya. Entah keberanian dari mana ia mulai mendekatkan wajahnya kearah pemuda itu, ia memberikan kecupan ringan pada pemuda itu, untuk menenangkan pemuda itu. Kedua mata naruto membulat akan perbuatan dadakan ino.

Setelah beberapa lama kemudian, ino melepaskan. Namun naruto tidak menyia-nyiakannya, ia kembali menarik tangan dan mencium ino dengan rakus. Pada awalnya, ino terkejut dengan aksi naruto, namun perlahan ia mulai membalas dan menikmati ciuman itu.

Mereka terus berbagi ciuman panas, terus seperti itu, sampai pada akhirnya mereka melakukan hal yang terlarang.

Skip time

Sesuai kesepakatan yang telah di buat oleh keduanya, mereka memutuskan untuk tidak bertemu. Seraya menunggu waktu tempo dua minggu tersebut, naruto memilih untuk tetap berada di rumahnya tanpa mengerjakan apapun.

"hm, kau keatas saja hina-chan, naruto-kun sedang berada di kamarnya" ujar seorang wanita paruh baya bersurai merah pada seorang gadis yang dipanggilnya hina-chan tersebut,

End of Flashback

"aaarrrrgh" teriakku tertahan, aku sungguh tidak ingin mengingat masa lalu itu. Aku sangat menyesalinya hingga sekarang. Sudahlah naruto, jangan memikirkannya. Bisa jadi jika gadis itu sudah hidup bahagia dengan orang lain. Ia mungkin saja sudah melupakan aku. Namun, aku tidak akan pernah bisa melupakan gadis bersurai pirang pucat itu.

'ting' suara nada pesanku masuk.

From : Uchiha Naruko

"Hei, beruang kutub, kau harus ikut dengan kami reuni nanti di cafe shinobi, di jl xxx xxx pukul 8 malam, kosongkan jadwalmu,,, oke nii-chan-baka"

Ck dasar naruko, tidak berubah sama sekali, ia tetap saja kekanak-kanakan, namun aku sama sekali tidak keberatan karena aku sangat menyayanginya. Hm baiklah, aku akan datang nanti.

To : Uchiha Naruko

"Baiklah, kitsune, aku akan datang"

Setelah membalasnya, aku memutuskan untuk pulang, lagipula sekarang sudah menunjukkan jam 5 sore. Aku akan bersiap-siap dulu.

Di perjalanan menuju lobby, semua karyawan yang aku temui membungkukkan badangnya tanda hormat padaku. Aku tanya membalasnya dengan anggukan kecil.

Skip time

"tadaima." Ujarku tepat setelah aku memasuki apartemen tempat aku tinggal dengan keluarga kecilku. "okaeri, tou-san" teriak seorang gadis kecilku, ia berlari kearahku dan memelukku dengan erat. Walaupun ia sudah berusia 14 tahun, namun ia tetap saja aku anggap sebagai putri kecilku.

"hm, ayo tou-san, hima sudah memasakkan makanan untuk makan malam" ujar himawari padaku. Yang menjadi pertanyaanku, kenapa hima yang menyiapkan makanan, kemana perginya hinata.

Aku mengikuti langkah putriku menuju ruang makan, aku dapat melihat putra pertamaku duduk dengan manis di kursi meja makan tersebut.

"cha. Duduklah tou-san" ucap hima padaku, aku mendudukkan diriku pada kursi itu.

"hn" jawabku. Kami bertiga memulai makan malam kami dengan hikmat, setelah selesai makan malam, kami bertiga memutuskan untuk berkumpul di ruang keluarga, ini memang aktivitas kami sehari-hari setelah menyelesaikan aktivitas di siang harinya, ada atau tidaknya hinata. "hm, kaa-san kalian kemana?" tanyaku dengan datar. "tidak tahu, aku tidak peduli" ujar boruto dengan datar dan dingin. "yak, nii-san baka kau tidak perlu berbicara seperti itu, tidak baik, bagaimanapun kaa-san itu tetap ibu kita" sahut himawari dengan nada kesal.

"tou-san,,," suara datar boruto mengalihkan perhatianku dari televise, aku menatap datar kearahnya namun sebenarnya aku penasaran dengan apa yang akan ia sampaikan padaku, hanya saja aku tidak bisa mengekspresikannya.

"hn" "aku sudah menemukan bukti baru, juga tadi di sekolah ada dua murid baru yang ternyata anak kembar mirip sekali denganmu" jelasnya padaku. Oke kalimat pertama aku mengerti dengan maksudnya, ini pasti ada hubungannya dengan kasus korupsi itu. Namun yang kedua aku tidak paham, anak baru dikelasnya ada yang mirip denganku.

"hn, ceritakanlah" ucapku dengan datar. Ia terdiam sejenak, kemudian menatap kearah himawari, hm aku mengerti dengan tatapan itu. "hn, bisakah hima meninggalkan tou-san dan juga nii-sanmu di sini hima" ucapku dengan lembut pada himawari.

Himawari bangkit dari duduknya dan meninggalkan kami dengan mendengus kesal, aku terkekeh pelan melihat tingkah lucunya,

"baiklah, sekarang jelaskan, boruto" tegasku padanya.

"hn"

"tousan, kau tahukan jikalau kasus korupsi itu mengakibatkan kerugian yang cukup besar untuk perusahaan kita, bukti yang terkumpul hanya laporan itu, namun ada kejanggalan disini, pada laporan kemarin, pelakunya kan ditetapkan itu adalah Suigetsu, karena keterlibatannya dalam keuangan juga adanya transaksi atas namakan dirinya. Namun, kau tahu hal apa yang mengejutkanku tousan, kemarin aku meminta uang untuk membeli sebuah mobil pada kaasan, ia mengatakan padaku tidak memiliki uang cash, sehingga ia memintaku untuk mengambilnya sendiri melalui buku tabungannya, setelah aku memeriksa saldonya, ada suntikan dana yang besarnya sama dengan uang itu pada 3 hari sebelum tertangkapnya Suigetsu itu" jelas boruto.

Aku cukup terkejut dengan penjelasannya, apa mungkin hinata memang terlibat dalam masalah itu. Kalau memang seperti itu kami harus mencari bukti lain. "hn, baiklah, anggap saja tousan percaya asumsimu itu, namun bagaimana cara kau akan membuktikannya" tantangku padanya, karena aku ingin tahu seberapa pedulikah ia terhadap perusahaan yang akan ia warisi nantinya ini.

"pertama-tama aku akan menyelidiki hubungan antara suigetsu dengan keluarga hyuuga itu, setelah mengetahui itu barulah aku akan tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya tousan" jelasnya padaku.

"hn, hal kedua itu bisakah kau jelaskan" ujarku dengan datar. "hn, tousan pasti akan terkejut dengan hal kedua yang akan aku katakan" jelas boruto.

"hn" aku menaikkan kedua alisku tanda aku kurang paham maksud dari anak tertuaku ini. "huft, baiklah aku akan jelaskan, hari ini di kelasku ada dua orang anak baru, mereka pindahan dari korea, tousan tahu apa yang menjadi bagian mengejutkannya, mereka benar-benar mirip denganmu apalagi salah satu dari kedua anak itu" jelasnya.

Aku semakin tidak mengerti dengan penjelasannya, mereka mirip denganku, aku mencoba membayangkannya, tapi tunggu jangan katakan kalau mereka anak dari 'dia'. Kami-sama apakah waktu itu 'dia' benar-benar mengandung.

Astaga, apa yang harus aku lakukan, kau benar-benar laki-laki bajingan naruto. Bagaimana kau bisa sebrengsek itu. Sekali lagi aku menatap boruto meminta penjelasan lebih detail lagi mengenai perkataannya itu.

"aku yakin sekali jikalau tousan sudah dapat menebak arah pembicaraan kita, benar mereka adalah anak dari wanita yang bernama Yamanaka Ino, seorang wanita yang masih tousan cintai hingga saat ini" jelas boruto kembali.

Seluruh tubuhku serasa ngilu dan juga lemas, Kami-sama apa yang telah aku perbuat, aku telah melentarakan kedua anakku dan juga wanita yang masih sangat aku cintai.

"tousan jangan khawatir, anak itu tidak membencimu, hanya sedikit kecewa saja, aku sudah berbicara padanya, agar kau dapat bertemu dengannya dan menjelaskan semua yang pernah terjadi antara kau dan ibunya" ujar boruto.

"hn" ucapku dengan datar pada boruto. Setelah beberapa saat, kami terdiam.

Suara dering smartphone ku membuyarkan keheningan diantara kami, boruto memberikan tatapan Tanya padaku, "naruko-baa" jawabku singkat, ia hanya mengangguk singkat.

"hn"
"ck, tidak bisakah kau menjawab telfon dengan benar baka onii-chan,"

"hn" balasku singkat, aku dapat mendengar helaan keras dari nafasnya. Aku tahu dia sangat kesal.

"sudahlah, aku hanya mengingatkan, jangan lupa datang ke reuni itu onii-chan"

"hn" kemudian ia menutup telfonnya, aku kembali memfokuskan diri menonton berita bersama dengan boruto, namun hanya beberapa saat, karena aku teringat dengan perkataan naruko, astaga aku lupa. Aku melirik kearah jam, sudah menunjukkan pukul 7. Aku bangkit dari dudukku kemudian melangkah meninggalkan ruang keluarga.

Skip time

Aku menggunakan kemeja dan celana berwarna berhitam yang aku padukan dengan sebuah jas bewarna merah maroon. Aku kemudian menata rambutku sedikit, mengambil jam tangan kesukaanku bermerek Audemars Piguet Royal Oak Grand, jam ini di buat oleh perancang jam terkemuka, aku membelinya ketika perjalanan bisnis ke Swiss.

Aku langsung tertarik dengan sekali lihat, aku kemudian mengambil sepatu pentofel berwarna hitam.

Setelah puas dengan penampilanku, aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar. Di ruang keluarga aku masih melihat boruto menonton televisi.

"tousan ingin pergi?" Tanya boruto padaku. "hn" jawabku singkat. Ia menganggukkan kepala dengan singkat.

Skip time

Dan disinilah aku sekarang, di café tempat dijanjikannya reuni tersebut.

"hei, naruto" sapa Sai padaku. Aku mengangguk kecil padanya, aku mendudukkan diri di samping sai.

"kau datang juga, naruto" Tanya sai. "hn" gumamku sebagai balasan. "hn, dimana shion" tanyaku dengan dingin. "ia tidak dapat hadir" ucap sai singkat aku hanya menganggukkan kepalaku singkat.

"kalian sudah lama" sebuah suara menghilangkan keheningan diantara kami. Suara itu milik shikamaru yang datang bersama dengan tenten. "tidak, baru juga" jawabku dengan singkat.

"ck, kalian masih sama dengan dulu, dingin" ujar tenten dengan nada kesal. Mau bagaimana lagi memang seperti ini sifat kami. "hn" ujarku dan sai bersamaan.

"arrggh, bisa tidak kalian menggunakan kata lebih dari itu, bahkan dua huruf itu belum tentu dapat di katakan sebagai satu kata" ujar tenten.

"hn"

"ck, merepotkan, biarkan saja mereka hime, jangan kau ambil hati" ujar shikamaru menenangkan tenten.

"bagaimana kabar kalian berdua" Tanya shikamaru padaku dan sai, "baik, kau shika?" jawabku. "hn, sehat" sambung sai.

"baik, hanya saja sekarang hidupku serasa lebih merepotkan" ujar shikamaru yang dibalas tatapan mematikan oleh tenten, aku tersenyum tipis. Mereka belum banyak berubah, masih sama dengan terakhir kali aku kenal.

"ah, ya, aku baru ingat, bagaimana kabar kasus korupsi diperusahaan kau itu naruto?" Tanya shika. "hn" sambung sai. "sudah selesai menurut hukum, namun boruto sepertinya belum puas dengan hasil persidangan itu" jelasku dengan singkat. "hn, jadi anak itu masih menyelidikinya" ujar sai.

"hn" balasku. "boruto? Kenapa?" Tanya shika kembali. "iya, dia mengatakan kalau suigetsu itu pasti diperintahkan oleh seseorang" jawabku. "siapa?" Tanya sai, sepertinya ia mulai tertarik dengan pembicaraan kami.

Aku menaikkan kedua alisku melihat wajah penasaran kedua sahabatku ini. "hn, aku kurang tahu, ia hanya mengatakan ia mencurigai kaa-sannya sendiri" jawabku. "eh, hinata" kaget tenten yang sedari tadi diam dan hanya fokus dengan smartphonenya.

"hn"

"kenapa ia mencurigai hinata" Tanya tenten, "aku juga tidak tahu, ia hanya mengatakan padaku kalau aku hanya perlu diam" jawabku. "ooh, bagai…"

"tenten.." sebuah teriakan memotong perkataan sai, "sakura" balas tenten dengan teriakan juga. Kami (para laki-laki) hanya diam.

"gaara" ujar shikamaru, aku dan sai. Gaara hanya menganggukkan kepala dan mendekati kami, sedang kedua wanita itu sibuk dengan obrolan mereka sendiri.

"apa kabar gaara" Tanya sai. "baik kalau kalian bertiga" jawab gaara. "baik juga" jawab kami bertiga dengan singkat.

"ku dengar kau membangun villa di Indonesia" Tanyaku membuka perbincangan di antara kami. "hn, benar, aku membangun beberapa villa di raja ampat, kalian tahu bisnis di sana cukup menjanjikan, karena pemandangan di sana benar-benar indah, aku dan banyak wisatawan jatuh cinta dengan keindahannya, itu sebabnya aku bekerja sama dengan salah satu perusahaan Indonesia untuk membangun villa itu, memangnya kenapa naruto" jelas gaara.

"tidak, hanya saja jika kau ingin membeli bahan-bahan bangunan, beli saja padaku" ujar setengah bercanda. Dapat aku lihat wajah sweatdrop dari sai dan shika, namun gaara memandang dengan mata berbinar-binar padaku.

"wah, benar juga, kau kan bisnis property, baiklah aku akan membelinya darimu, namun ada diskon ya" sahut gaara dengan semangat. Aku, shika dan sai menatap jijik kearah gaara.

"sejak kapan kau jadi alay begini gaara" ujar shikamaru dengan tatapan jijik padanya, ucapan shikamaru di anggukan setuju olehku dan sai.

"apakah kau di beri makan yang aneh-aneh oleh sakura" Tanya sai dengan datar. Sepertinya sai salah mengucapkan kata-kata, lihat saja sakura menghentikan pembicaraannya dengan tenten.

Sai sepertinya kau membangunkan singa yang tertidur, "apa kau bilang sai" amuk sakura, sai menundukkan kepalanya tidak memiliki keberanian untuk menatap sakura.

"tidak, aku tidak mengatakan apapun, mungkin kau salah dengar" ujar sai dengan datar, namun aku dapat merasakan ketakutanya sekarang.

"benar, hime, salah dengar, tidak mungkinlah ia berkata seperti itu, benarkan sai" tenang gaara pada sakura. "hn, bagai—" suara sakura terpotong oleh sebuah suara yang sangat aku kenali "hai semua" benar saja suara naruko. "hai naruko, sasuke sini" balas tenten dengan berteriak pula. Naruko dan Sasuke mendekat kearah kami, namun aku baru menyadari jikalau ada orang lain yang juga ikut dengan mereka. Ia memakai gaun yang warnanya sama denganku, rambut pirangnya mengingatkanku akan 'dia'. Tunggu selain aku dan naruko hanya ia yang berambut pirang, apa wanita ini memang 'dia'.

"hm, naruko, siapa dia?" suara .

"hm, inilah kejutan yang aku maksudkan tadi, coba tebak aku membawa siapa, dia adalah Yamanaka Ino, ayo dong ino angkat kepalamu" jawab naruko. Ia menganggkat kepalanya dengan perlahan, aku dapat melihat raut wajah shock dari teman-temanku, dan aku, aku merasakan sesak dibagian dadaku, aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Mata kami bertemu, aku kembali melihat mata biru laut itu.

"yyey, akhirnya kita bertemu kembali, ino" suara teriakan dari sakura memutuskan kontak mata kami, sakura memeluknya dengan erat, "'apa kabar ino, kau kemana saja selama ini" tanya tenten padanya, kemudian tenten juga memeluknya.

"hmm, aku baik" jawabnya singkat. "wah, senang bertemu denganmu kembali ino" ujar shikamaru padanya, shikamaru mendekatkan dirinya pada ino dan memeluknya juga.

"hn" gumamku, gaara dan sai. Satu persatu temanku memeluknya, giliranku memeluknya, aku kembali merasakan kehangatan yang tidak pernah aku dapatkan dari hinata, kehangatan yang hanya aku dapatkan darinya, aku memeluknya erat.

,"we meet agian,, how are you? And you know, I miss you", ujarku dengan nada yang sangat lirih.

"ekhm" suara milik sakura menarik kami kembali ke dunia nyata.

End of Naruto pov

"ino, ayo duduk disitu" ujar tenten sembari menarik ino ketempat duduk mereka.

Mereka mendudukkan diri di tempat masing-masing. Canggung, itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan suasana diantara mereka. "ekhm, selama ini kau berada dimana ino" Tanya sakura mencoba menghilangkan suasana canggung tersebut.

"hm, aku berada di korea selatan" jawab ino singkat. "ooh, kenapa kau tidak mengabari kami dulu, jikalau kau akan pergi kesana" protes sakura, ino hanya tersenyum mendengar protesan sahabatnya ini.

"hm, maaf jikalau waktu itu aku tidak sempat mengabari kalian semua, waktu itupun berangkat kesana tidak dengan perencanaan, mendadak" balas ino dengan nada tenang namun didalam hati ia tetap berdoa semoga alasannya pergi tidak terbongkar.

"kenapa begitu" Tanya sai dengan datar dan diikuti anggukan setuju dari yang lain dengan pertanyaan sai itu. Ino terdiam, ia bingung menjawab pertanyaan itu, jikalau ia menjawab dengan jujur maka rahasia yang selama ini ia jaga akan terbongkar, namun jika ia berbohong akan sama saja ia dengan dirinya selama ini, ino bimbang memilih antara jujur atau tidak. Sebagian hatinya mengatakan ia harus jujur sebaliknya setengah hatinya mengatakan jangan dulu.

"..no..ino" sebuah suara membuyarkan lamunan ino. "ino kau tidak apa-apakan? Kenapa kau melamun?" ujar naruko dengan nada khawatir. "tidak, aku tidak apa-apa, benarkah aku melamun" ucap ino dengan nada polos.

Semua yang berada disekitarnya menghela nafas, "benar, kau melamun ino, sebenarnya apa sih yang kau lamunkan" Tanya tenten dengan nada khawatir juga.

"tidak ada, baiklah kalian ingin mendengar alasanku bukan" Tanya ino kepada para sahabatnya, teman-teman ino menganggukkan kepalanya, semuanya bersiap untuk mendengarkan cerita dari ino.

"baiklah sebenarnya alasanku pergi ke korea selatan adalah…"

.

Sementara itu sebenarnya ada mengawasi acara reuni mereka tanpa mereka sadari, "lapor, hyuuga-sama, sepertinya 'ia' akan mengatakan tentang hal 'itu"' lapor orang itu pada seseorang yang dipanggilnya Hyuuga-sama ini.

"hn, biarkan saja, namun tetap lanjutkan pengintaianmu" ujar suara itu dengan dingin dan datar, "ha'I" balas sang pengintai. Menurut Hyuuga-sama ini masalah tentang ino ini nanti saja, karena sebelum itu ia akan menyelesaikan masalah kasus korup yang dilakukannya. Ia sadar jikalau Namikaze Boruto itu sudah mencurigainya.

.

.

Boruto mencoba mencari sesuatu yang dapat ia jadikan bukti dari setiap laporan yang berasal dari bulan terjadinya kasus tersebut. Ia mencoba menggali informasi tersembunyi. Ia terus membaca sampai pada akhirnya ia menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Ia segera mengambil smartphone nya, ia kemudian menghubungi seseorang.

"hn"

"kau benar"

"hn?"

"dugaanmu benar, ruto, ternyata memang 'mereka' pelakunya"

"hn, darimana kau yakin kalau itu 'mereka'?"

"dari sebuah berkas, kau bisa datang untuk mengeceknya besok"

"hn"

"aku akan mengirimkan alamat apartemen kami padamu"

"hn, kau yakin? Apakah tousan tidak akan curiga padaku, apalagi jika itu hinata-baa"

"yakin, soal 'hinata' ia tidak akan berada di rumah, ia sudah cukup lama meninggalkan rumah kami"

"baiklah"

"bagus, karena aku membutuhkanmu untuk membuktikannya, karena bukti ini belumlah cukup"

"hn"

Setelah menutup telfonnya, boruto kembali memeriksa laporan yang lain.

.

.

.

"baiklah sebenarnya alasanku pergi ke korea selatan adalah aku hamil" lirih ino.

.

.

.

.

.

TBC

Hai minna-san ketemu lagi bersama dengan author gaje, ini dengan lanjutan fic gajenya juga hehehe, author meminta maaf jikalau update nya agak lama, dan inilah lanjutan dari fic ini, semoga tidak mengecewakan reader-san ya,,, jikalau banyak ditemukan typo jangan sungkan-sungkan untuk mengkritik author ya minna.,,.

Selamat membaca,,,, terima kasih bagi yang sudah mereview chap kemarin,,,