Chapter Sebelumnya
"Sakura-san? Apa yang kau lakukan disini?"
"Hah…. Saso-chan ada dua" Sakura menutup mulutnya dengan kedua tangannya menunjukkan dia terkejut,
"Apa maksudmu? Tentu aku adalah Sasori sedang dia adalah…"
"Tunggu…. Tunggu… aku bisa memecahkan ini… aku akan segera mengetahui siapa Saso-chan yang asli"
"Sasori jika kau mengenal wanita aneh ini, tolong bawa dia pergi menjauh dariku" pemuda berambut merah yang tadi dipeluk Sakura bersuara. Ia terdengar kesal.
"Ternyata kau adalah Saso-chan" ujar Sakura sambil menunjuk Sasori yang berdiri dipintu.
"Tentu saja aku adalah Sasori, dan dia adalah Gaara" ujar Sasori sambil menunjuk Garaa yang terlihat kesal.
"Ah begitu, maaf ya Gaa-chan aku sudah salah mengira kamu adalah Saso-chan" Sakura membungkuk pada Gaara lalu mengelus kepala Gaara lembut. Hal ini membuat Gaara semakin marah, ia merasa dipermalukan. Mengerti suasana hati Gaara yang semakin kesal, dengan cepat Sasori menarik tangan gadis tersebut menjauh.
Sasori tak habis pikir, apa yang dilakukan Sakura di sekolahnya. Bahkan ia membuat keributan dengan Gaara. Sasori benar-benar pusing dengan tingkah laku Sakura yang seenaknya. Tetapi karena Sakura ia seperti melupakan sesuatu yang penting. Apa yang ia lupakan?
.
.
.
Chapter 9
Sasori harus bekerja extra keras untuk meminta Sakura segera meninggalkan sekolahnya. Ia sudah cukup malu dengan perlakuan Sakura terhadap Gaara. Sasori merasa beruntung Gaara tidak mempermasalahkan hal ini lebih jauh. Tetapi bagaimanapun juga ia masih tetap merasa bersalah.
Setelah perdebatan yang sedikit panjang, akhirnya Sakura mengalah dan segera pergi meninggalkan sekolah Sasori. Tetapi gadis merah muda itu ingin pulang bersama dengannya sore nanti. Sasori benar-benar tak mengerti mengapa gadis itu senang sekali menempel dengannya.
Karena kejadian itu, ia menjadi bahan ejekan kedua sahabatnya. Ia bahkan tak mengerti sahabat Shion menyalahkannya ketika Shion menangis. Sasori tak pernah merasa menyakiti hati Shion sebelumnya hanya bisa menghela napas lelah.
Pulang sekolah, Sasori sudah melihat Sakura berdiri stand by di dekat gerbang. Ketika gadis itu melihat kedatangan dirinya, ia melambai dramatis lalu berlari menyongsong dirinya. Sasori sadar, banyak pasang mata memperhatikan dirinya sejak Sakura melambai dan berlari kearahnya. Ditambah lagi, lengannya kini digandeng erat oleh Sakura.
Biasanya selelah apapun dia, Sasori selalu menyempatkan untuk mampir di Rin's café. Tapi kali ini ia tidak bisa. Ia sudah terlebih dahulu diseret Sakura untuk menuju stasiun kereta bawah tanah. Ia tak memiliki kesempatan untuk menolak ketika Sakura terus mengoceh tentang perjalanan harinya.
Karena ini adalah jam pulang sekolah, kereta terlihat sedikit padat. Banyak tempat duduk kini telah terisi. Sayangnya Sasori dan Sakura hanya menemukan satu tempat duduk.
"Nah Saso-chan, karena aku tahu kamu lelah dan aku sedang baik hati silahkan kamu duduk dan aku akan berdiri disini" merasa harga dirinya terlukai Sasori jelas menolak tawaran Sakura.
"Tidak Sakura-san, kau adalah wanita jelas kau lah yang lebih berhak duduk"
"Gak apa-apa kok Saso-chan, aku tahu kamu capek jadi kamu aja yang duduk"
"Aku selalu mengutamakan perempuan Sakura-san jadi silahkan"
Ekspresi Sakura tak bisa terbaca jelas. Walau senyum manis terpasang di wajahnya tetapi senyum itu tak sampai pada matanya. Sasori jelas tahu saat ini Sakura sedang kesal.
"Iiiiihhhh, kalu aku bilang yang duduk Saso-chan berarti Saso-chan harus duduk!" kini suara Sakura mulai meninggi.
"Tapi, Sakura-san…"
"Gak ada tapi-tapian Saso-chan, sekarang duduk!" suara Sakura yang keras menarik perhatian penumpang yang lain, termasuk seorang pemuda berambut raven.
Pemuda tersebut memperhatikan Sakura yang sedang mengomel. Binar tertarik jelas terlihat dikedua matanya. Tetapi alisnya tertekuk dalam melihat interaksi Sakura dengan Sasori.
Sasori yang merasa diperhatikan segera menolehkan kepalanya mencari. Tatapan matanya tiba-tiba saja berhenti ketika ia melihat bidadarinya sedang duduk tak jauh darinya. Ia dapat melihat bidadarinya sedang duduk bersandar pada seorang pemuda. Kedua matanya tertutup menyembunyikan warna bola matanya yang indah.
Sasori dapat melihat wajah tenang sang bidadari yang sedang terlelap. Ia juga dapat melihat salah satu sisi headset terpasang ditelinganya. Sedang sisi satunya terpasang pada telinga pemuda tersebut. Sekali lihat saja Sasori sudah tahu betapa romantisnya mereka. Hal ini membuat dada Sasori berdebar tak nyaman.
"Saso-chan…. Saso-chan…. Kau mendengarku!" goyangan pada bahunya membuat Sasori kembali pada dunianya. Ia kembali memperhatikan Sakura yang sedang menggembungkan pipinya kesal.
"Sekaran kamu duduk Saso-chan!" baru saja Sasori membuka mulutnya, Sakura sudah memotongnya "Jangan membantah!"
Memilih menurut, Sasori duduk pada bangku kosong tersebut. Ketika ia sudah duduk nyaman, tiba-tiba Sakura duduk dipangkuannya menyamankan diri. Karena terlalu terkejut Sasori tidak dapat banyak bereaksi.
"Biar adil, aku duduk dipangkuanmu saja Saso-chan. Kan gak mungkin aku yang memangku Saso-chan"
Dan Sasori hanya menghela nafasnya kasar perempuan berambut merah muda ini selalu berbuat sesukanya.
"Kau tidak usah terpesona seperti itu pada ku Saso-chan… aku tau kalau aku ini sangat manis" ucapnya dengan begitu percaya diri Sasori hanya mengernyit bingung sejak kapan tatapan lelahnya di anggap sebagai tatapan terpesona. Perempuan merah muda di depannya benar-benar mengacaukan dunianya.
Sasori mencoba memejamkan matanya mencoba tidak mendengarkan bisik-bisik orang-orang di kereta yang sedang mengomentarinya karena sedang memangku perempuan bersuari merah muda yang terlihat sangat ceria dan senang.
"Wah lihat laki-laki berambut merah itu, dia manis sekali ya dan sangat romantis dengan memangku kekasihnya seperti itu"
"Iya iya so sweet sekali"
"Hmmm… apa mereka ingin menjadi sweet couple!" dan bisikan lainnya yang membuat sasori jengah, manik hazelnya melirik pada perempuan yang kini ada di pangkuannya. Sakura masih asyik dengan tab yang ada di tangannya. Kedua telinganya terpasang headset, sesekali kepalanya ikut bergoyang mengikuti irama lagu. Sasori kembali memejamkan matanya dan saat manic hazel itu terbuka pandangannya mengarah pada sosok laki-laki berambut raven yang sedari tadi menjadi sandaran seorang perempuan yang dia sebut bidadarinya. Lagi-lagi rasa tidak nyaman itu hadir lagi entah mengapa Sasori merasakan seakan dadanya di cubit keras oleh sesuatu tak kasat mata dan dia meringis. Dan Sasori mengalihkan pandangannya dan kini manik hazelnya jatuh pada manik emerald yang sedang menatapnya lekat. Tiba-tiba saja ada sebuah ketenangan yang sasori rasakan saat sedang menjelajah di hutan yang damai dan tentram.
"Saso-chan kenapa? Saso-chan sakit?" Tanya Sakura khawatir. Belum sempat Sasori menjawab tiba-tiba saja kening Sakura sudah menempel dengan keningnya, dan bisik-bisik di kereta itu semakin menjadi setelah apa yang di lakukan Sakura.
"Sa-Sakura-san apa yang kau lakukan?" Sasori bertanya terbata-bata rasa gugup melingkupinya, perempuan di hadapannya benar-benar gila. Dengan cepat Sakura menjauhkan wajahnya dari Sasori.
"Suhu tubuhmu normal Saso-chan, tapi kenapa muka mu seperti orang kesakitan" Sasori mendesah kesal.
"Kau tidak harus menempelkan keningmu dengan keningku hanya untuk memeriksa ku! Dan aku baik-baik saja asal kau tahu!" Ada nada membentak pada suara sasori, Sakura terperanjat beberapa bulan mengenal Sasori baru kali ini laki-laki berambut merah ini membentaknya, wajahnya berubah pias.
"Gomen Sasori-kun, kaa-chan selalu memeriksa dengan cara seperti itu jika aku demam kata kaa-chan cara seperti ini lebih akurat dari pada memeriksa dengan punggung tangan" suara Sakura bergetar, tak ada lagi embel-embel Saso-chan dan ofokuro karena Sakura tau Sasori sangat tidak suka panggilan-panggilan itu dan Sakura juga tidak mau membuat Sasori bertambah marah. Dengan cepat Sakura bangun dari pangkuan Sasori dan berjalan menjauhi Sasori.
"Sakura-san" panggil Sasori tapi perempuan merah muda itu lebih dulu menghilang dari pandangannya. Sasori berdecak menyadari kesalahannya karena telah membentak Sakura, entah mengapa hari ini dia begitu kesal dengan Sakura bukan hanya datang dan mencari masalah dengan Gaara tetapi juga melakukan hal seperti itu di depan umum, Sasori hanya takut bila perempuan berambut pirang yang duduk tidak jauh dari Sasori melihat apa yang dilakukan Sakura terhadapnya. Sasori tidak mau perempuan itu salah faham. Hey! Bahkan Sasori tidak tau mengapa harus berbuat seperti itu. Dan benar saja kini perempuan berambut pirang dan laki-laki berambut raven sedang menatapnya. Lagi-lagi Sasori menghela nafas, Sasori langsung berdiri untuk mencari keberadaan Sakura. Sebelum kaa-san nya tahu kalau Sasori telah membentak Sakura, karena Sakura adalah salah satu anak faforitnya.
.
.
.
Pemuda berambut raven itu masih terus mencuri pandang pada gadis bersurai merah muda yang tengah duduk di pangkuan seorang laki-laki berambut merah sambil mendengarkan musik. Tapi tiba-tiba saja manik onyx itu melebar saat mendapatkan gadis bersurai merah mudanya itu meletakkan keningnya dengan laki-laki berambut merah itu, seakan mau menciumnya. Pemuda tersebut berdecak kesal.
"Dasar anak kecil bisa-bisa nya melakukan hal seperti itu disini" ucapnya sarkatis tapi entah mengapa ada sudut hatinya yang nyeri saat melihat pemandangan itu.
"Ada apa Sasuke-kun?" suara lembut itu terdengar pelan Sasuke menoleh kesampingnya di mana gadis bersurai pirang terbangun dari tidurnya yang kini sedang mengusap kedua matanya.
"Hn kau sudah bangun?" gadis berambut pirang itu mengangguk dan mengikuti arah pandang Sasuke, yang sedang menatap seorang laki-laki berambut merah dan perempuan yang unik karena memiliki warna rambut yang aneh menurutnya.
"Kau kenal dengan mereka Sasuke-kun?" Sasuke hanya menggeleng singkat.
"Ayo sebentar lagi kita turun" Sasuke berdiri dan menautkan tangannya pada gadis bersurai pirang itu.
"Kau tidak harus menempelkan keningmu dengan keningku hanya untuk memeriksa ku! Dan aku baik-baik saja asal kau tahu!" Suara yang terdengar sedikit keras itu kembali menarik perhatian Sasuke. Ia memperhatikan perempuan tersebut terlihat ketakutan dan menunduk. Ia dapat melihat mulut perempuan tersebut bergerak pelan, mungkin ia meminta maaf.
Ketika ia melihat perempuan tersebut bagkit dengan cepat dan segera meninggalkan pemuda merah itu sendirian, ada rasa kesal yang sangat di sudut hatinya. Ia ingin menghajar pemuda merah tersebut. Ia benar-benar tak mengerti dengan dirinya kali ini.
"Kasihan sekali perempuan tersebut, pacarnya benar-benar tidak gentleman sekali" gerutuan seseorang terdengar di telinganya "Kau jangan menjadi seperti dia Sasuke-kun, itu tidak baik" gadis berambut pirang di sampingnya memberikan nasihat tetapi sama sekali tak menatapnya. Matanya terus menatap tajam pemuda merah disana.
"Hn, jangan menasihatiku seperti itu Dobe. Kau tahu aku bukan tipe laki-laki seperti itu" ia mengacak-acak rambut sahabatnya sambil tersenyum lembut.
"Aku tahu itu, berhenti mengacak tatanan rambutku dan jangan pernah memaggilku Dobe lagi Teme!" ia hanya bisa tersnyum dalam hati melihat tingkah sahabat pirangnya itu.
Melupakan sebentar hatinya yang sedang tak menentu, Sasuke segera melangkahkan kakinya menuju kediamannya bersama sahabat yang ia sayagi. Berkali-kali ia tersenyum melihat kelakuan sahabatnya yang aktif. Untuk saat ini ia tak ingin mengingat-ingat rasa aneh yang ia rasakan tadi. Tetapi ia berharap masih dapat bertemu dengan gadis berambut sewarna sakura itu. Kita masih bisa bertemu lagikan? Wahai engkau pemilik rambut sewarna sakura.
TBC
Alurnya semakin berantakan, semoga reader-tachi masih mau untuk membaca fic ini. Jangan lupa untuk comment memberikan kritik dan saran ya, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Dan untuk Fumio-chan, ganbatte buat senin nanti. Terimakasih sudah membaca :)
