Harry Potter © JK Rowling
The Standard You Walk Past © bafflinghaze
Alih bahasa oleh neko chuudoku
.
CHAPTER 10
.
Ketika Harry terbangun, waktu itu masih dini hari dan langit dihiasi susunan cahaya indah. Untuk sekali ini, dia tak merasakan sesuatu yang ganjil, karena dia ada di sana, di kasur Draco; dan entah bagaimana selama malam, dia dan Draco telah menutup jarak.
Draco sudah bangun, kepala miring ke buku yang mengapung di atas kasur dan tangannya mengelus rambut Harry. Sebuah getaran kehangatan mengaliri dirinya.
Draco menoleh, sebuah senyuman bebas terpasang di wajah. "Selamat pagi, Harry."
Harry balas tersenyum. "Kau bukan penggerutu di pagi hari ya."
Draco melengkungkan sebelah alis dan menyeringai. "Kalau penggerutu membuatmu turn on, aku bisa kok menggerutu padamu sepanjang waktu."
Memori akan ciuman mereka—lebih tepat disebut cumbuan—mengalir masuk dan Harry merona. "Sepertinya aku benar-benar gay kalau begitu," katanya pelan.
"Dan Cho Chang dan Ginevra Weasley?" cerca Draco. "Jelas-jelas kau tampak tergila-gila waktu itu."
"Kau dan Pansy Parkinson?" serang Harry.
"Sahabat terbaikku," rengut Draco.
Harry memutar mata. "Kau sendiri yang mulai duluan."
Draco mencolek lengan Harry. "Aku hanya mencoba menunjukkan bahwa kau tak usah membatasi dirimu dengan istilah Muggle. Merlin, kita bahkan bisa bercinta dengan spesies lain."
Harry menggeliat di kasur. "Aku tak pernah memikirkan itu." Dia menolehkan kepala pada Draco. "Berpikir? Ini pasti yang pertama kalinya bagimu, Potty."
Draco membuka mulut, siap untuk protes, tapi Harry memotongnya lagi.
"Demi Merlin, apa itu jawaban terbaik yang bisa kau keluarkan? Sesuatu yang lebih original, mungkin?"
"Lebih baik," gumam Draco. Dia menarik tongkat sihir, menjentikkan tirai terbuka dan bangkit dengan mulus dari kasur. "Kalau kau sudah selesai cekcok dengan dirimu sendiri, sudah waktunya sarapan."
"Baiklah." Tapi Harry tidak membuat gerakan untuk bangun, puas hanya menonton Draco masuk ke kamar mandi lebih dulu.
xxx
Ketika Harry menangkap sekilas surat kabar yang dikirimkan pada Draco, dia merasakan jantungnya berhenti satu detakan. Daily Prophet masih menulis tentang Dumbledore.
"Aku tak mengerti," gumam Harry pelan, mencoba untuk membebaskan perasaannya.
"The Prophet?" Draco mendongak dari Quibbler. "Apanya yang bisa dimengerti?"
Harry mengindikasikan ke arah koran. "Kau tak keberatan…dan Ron serta Hermione juga tidak. Lalu kenapa Prophet mempermasalahkannya?"
Draco mengangkat sebelah alis. "Skeeter, tentu saja. Dilihat dari sejarahnya, tidak diragukan lagi dia hidup dalam skandal-skandal."
"Yeah, tapi—kenapa ini termasuk skandal?"
Draco mengangkat bahu. "Kau mengharapkan aku untuk mengerti perasaan publik dunia sihir?"
Harry merengut. Draco tampak pura-pura bodoh dengan sengaja.
Draco balas menatapnya pasif, tapi dia menurunkan surat kabarnya. "Kau tak ingin terlihat bersamaku didepan publik," katanya datar.
"Tidak. Aku—tidak terlalu dekat." Harry mengacak rambutnya, merasa sebal saat Draco hanya lanjut menatapnya kosong. "Aku ingin menunggu sampai semua ini reda dulu."
"Kau ingin kita berada dalam—sebuah hubungan rahasia?"
Harry tersenyum lemah. "Apakah itu yang kita punya? Sebuah hubungan?"
Mulut Draco membentuk satu garis tipis. "Aku berasumsi kau mengerti apa maksudku tadi malam."
"Ya," desis Harry. "Merlin, kenapa kita sudah bertengkar sih? Hanya, biarkan aku menjelaskan dulu."
Draco sedikit memiringkan kepala.
"Aku hanya ingin menjaga kita"—Harry merasakan senyuman terbentuk pada pemikiran itu, tapi Draco tidak tergerak—"sebagai rahasia, untuk sekarang. Mungkin, hanya beberapa orang yang boleh tahu. Orang-orang yang aku—kita kenal. Hermione dan Ron sudah tahu aku menyukaimu, jadi aku ingin memberitahu mereka. Dan semua keluarga Weasley pada akhirnya."
"Ibuku, dan Pansy," kata Draco pelan.
Harry berkedip. "Kalau mereka janji tak akan memberitahu siapapun—"
"Mereka bisa menjaga rahasia."
"Oke."
"Berarti tetap saja kita menjalani hubungan rahasia kalau begitu." Draco akhirnya memberikan semacam senyum pada Harry, tapi Harry menyadari kepasrahan di ujungnya.
Jantung Harry serasa memukul-mukul saat dia memikirkan apa yang hendak dia lakukan selanjutnya. Draco memalingkan muka lagi—Harry mengulurkan tangan dan mencengkeram lengan Draco, menariknya lebih dekat dan memutarnya untuk menghadap Harry lagi. Dia melihat mata Draco melebar sekilas sebelum matanya tertutup dan dia menempatkan sebuah ciuman di mulut Draco.
Otak Harry kosong untuk sementara karena kelembutan semua ini. Sambil mundur, Harry harus takjub tentang bagaimana mereka bisa berubah dari musuh menjadi ini.
"Itu baru dua," Harry menyadari.
Draco menatapnya aneh. "Dua apa?"
"Dua ciuman. Ciuman dalam mimpi tidak dihitung."
Draco meluruskan punggung. "Dan sebagai Sang Penyelamat Dunia kami yang amat termasyhur, aku menduga kau menuntut lebih banyak ciuman?"
Harry menggelengkan kepala. "Kau yang seorang Malfoy. Kurasa kau yang akan menuntut lebih. Mungkin satu juta. Atau satu milyar. Pokoknya jumlah menggelikan yang lebih banyak dari orang lain."
Pelan-pelan mulut Draco membentuk seringai. "Apa kau bersedia menjadi dispenser-ciuman pribadiku?"
"Ugh, itu kedengarannya jorok." Dahi Harry berkerut, tapi bibirnya nyengir melawan kehendaknya.
Draco tertawa.
xxx
"Aku minta maaf, Harry."
Harry menatap bingung pada Hermione. "Soal apa?"
Diam-diam Hermione mengerling ke sekeliling ruangan, sebelum mendekat dan berbisik, "Aku mencoba meyakinkan Rita Skeeter untuk menarik pernyataannya. Tapi rupanya sekarang dia sudah terdaftar sebagai animagus resmi." Mulut Hermione membentuk ringisan. "Aku sudah cek, dia benar-benar sudah terdaftar."
Harry berusaha untuk tersenyum menenangkan pada Hermione. "Aku baik-baik saja kok."
"Apa Malfoy mengatakan sesuatu soal ini?"
Harry merona, dan dia melihat mata Hermione membelalak. "Dia…dia juga menyukaiku."
"Oh."
"Untuk sekarang, ini masih rahasia," tambah Harry. Tapi dia sudah mulai punya pemikiran kedua.
Hermione menatapnya penuh makna. "Apa kau akan memberitahu Ron?"
Harry mengangguk. "Yeah."
Hermione mengangguk pada dirinya sendiri, matanya sudah berkelip penuh pemikiran. "Mungkin aku harus memberimu the talk, kalau begitu. Aku akan mencarikan beberapa buku untukmu—hubungan antara dua laki-laki itu berbeda—"
"Hermione!"
"Dan tentu saja, kami harus menemui Malfoy dengan pantas."
Harry memutar mata. "Tapi, mungkin dia tak ingin bertemu dengan kalian."
Hermione menyempitkan mata. "Apa dia yang ingin merahasiakan hubungan kalian?" tanyanya tajam.
Harry meringis. "Bukan." Sekarang, dia menyesali keputusan itu. "Aku yang ingin."
Hermione merengut. "Harry, kenapa?"
"Aku sudah dewasa sekarang, Hermione," jawab Harry keras kepala. "Aku akan meminta Draco untuk menemui kalian besok pagi, oke?"
Hermione mengangguk dan mengganti subjek pembicaraan. Tapi dia masih tampak ingin menegur Harry. Seperti seorang kakak perempuan yang overprotektif, renung Harry.
xxx
"Malfoy."
Tangan Draco dengan segera meraih tongkat sihir, tapi itu hanya Granger. Dia menaruh bukunya di tangan yang lain dan menoleh pada Granger. Profesor Vector yang berada di depan kelas mengerling penasaran pada mereka tapi tidak mengganggu.
"Granger," jawabnya. Dia hanya bicara dalam keadaan genting—dia tadinya berharap tak usah bicara di publik untuk sepanjang sisa tahun ajaran, dan menghindari dikutuk untuk yang ketiga kalinya.
Granger sudah menyelempangkan tasnya di sebelah bahu. "Bisa aku bicara padamu, di luar kelas?"
Pasti Harry sudah cerita padanya. Draco sedikit mengangguk. "Ya." Dia memasukkan buku terakhir ke dalam tas dan mengikuti Granger keluar dari kelas.
Granger berbalik padanya dengan tampang minta maaf. "Sebenarnya, aku ingin bicara empat mata denganmu."
"Mantra peredam," jawab Draco monoton. Dia mulai merasa jengkel.
Granger buru-buru merapalnya. Setelah mengangguk pada dirinya sendiri, dia akhirnya bicara. "Ini tentang Harry." Granger menatapnya penuh harap, tapi Draco tak menawarkan apapun. "Apa dia sudah mengajakmu untuk belajar bersama di hari Sabtu?"
"Sudah."
Granger mulai tampak malu-malu. "Apa kau akan datang, kalau begitu? Harry sudah cerita soal hubungan kalian."
"Aku tahu. Aku akan datang." Dia akan datang, karena dia harap bahwa kesempatan kali ini akan berjalan baik, tidak berjalan buruk seperti hal lainnnya. Harry menginginkan kerahasiaan dan pintu tertutup, tapi dia telah menamai Granger sebagai salah satu orang yang akan dia beritahu.
"Bagus," Granger tersenyum. "Kita akan bertemu di ruang rekreasi setelah sarapan dulu dan pindah ke Perpustakaan dari sana."
Draco mengangguk.
Granger berubah tegas. "Dengar, Malfoy, kalau kau ingin menjadi kekasih Harry, kau akan sering bertemu dengan kami. Demi Harry, kita harus mencoba berteman, tapi pertemanan hanya bekerja dua arah, jadi jika kami harus berusaha, kau juga harus." Sihir Granger menyala keluar, hanya sedikit, dan Draco bertanya-tanya apakah itu ciri khas Gryffindor. "Kalau kau hanya ingin main-main dengan Harry, maka lebih baik kau hentikan itu sekarang."
Orang idiot mana yang berani melibatkan diri untuk mempermainkan Anak Emas Britain?
Draco bicara pelan-pelan, "Aku mengerti sepenuhnya akan kebutuhan pertemanan di antara kita." Dia menatapnya tegas, memutar kata-kata dalam benaknya sebelum bicara. "Aku minta maaf atas kelakuanku di masa lalu, dan aku minta maaf atas aksiku, atau kekurangan aksiku, selama Perang."
Granger mengerjap, seolah dia terkejut mendengarnya. "Itu tak masalah. Permintaan maaf diterima."
Draco mencoba tersenyum kecil. "Setelah segalanya, kau telah membuktikan dirimu sebagai murid paling pandai di angkatan kita."
Granger tampak melembut. "Terima kasih. Panggil aku Hermione."
"Draco."
Granger mengangguk. "Sampai nanti, kalau begitu, Draco." Dia memutuskan mantra peredamnya.
"Ya."
Granger pergi dengan cepat, sementara Draco memindai murid sekitar dengan hati-hati. Salah satu dari mereka menangkap matanya, seorang murid yang familiar. Si anak menatapnya dan menghilang ke dalam kumpulan murid yang keluar dari kelas.
Draco telah terlihat sedang berbicara.
xxx
Ketika Draco terjatuh ke dalam mimpi Harry, dia menyadari entah Harry merangkak ke kasur dengannya, atau dia tidur-berjalan lagi.
Mimpi Harry berisi potongan-potongan memori. Draco terpisah, jalan-melayang di belakang Harry saat mimpinya menyusuri hari-hari Harry. Dia merasa senang saat Harry memimpikan ciuman pagi mereka.
Kemudian, dapur memudar menjadi Aula Besar, dan kumpulan kebisingan tampak bicara berbarengan.
"Dumbledore gay!"
"Apa kau percaya itu—ternyata dia seorang shirt-lifter!"
"Fuck, aku selalu curiga ada sesuatu yang aneh tentang dia."
Draco ingin mencibir pada suara-suara itu. Dia sudah mendengarnya sepanjang hari dan sudah cukup muak, tapi Harry yang berada di tengah-tengah hanya menatap dengan mata terbelalak. Draco mendekatinya, mencoba untuk menghiburnya; tapi Harry malah mengeluarkan suara menderita, mendorong Draco menjauh, tapi kemudian dia mengulurkan tangan untuk menariknya mendekat lagi.
"Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja." Harry menggumam pelan.
Gambarannya pindah—hanya warna blur sekarang. Apa yang Draco dengar sekarang masih baru.
"Apa menurutmu Dumbledore mengubah Harry Potter jadi gay?"
"Jelaskan kenapa Harry Potter tidak mengencani gadis manapun—dia bisa memiliki siapa saja!"
Harry mengecil tepat di depan mata Draco, dan Harry jadi anak kecil lagi. Paman dan sepupunya membayangi, lebih besar dari kehidupan.
"Jangan jadi banci, nak," si Muggle yang lebih tua mencemooh.
"Apa, jangan bilang kalau Cedric itu pacarmu? Aku selalu tahu kau itu orang aneh," kata yang lebih muda.
"Harry," panggil Draco.
Harry-kecil mendongak untuk menatap Draco sekilas, sebelum kepalanya menunduk lagi. "Tak apa. Aku baik-baik saja, Dwaco, aku bukan owang aneh, kan?" katanya pelan, teredam oleh lipatan jubah Draco.
Draco mengelus kepala Harry. Ini adalah percakapan yang harus dia lakukan dengan Harry nanti begitu dia bangun, saat bukan hanya Draco yang sadar.
"Tidak, kau bukan orang aneh," jawab Draco lembut.
"Kuhawap begitu," gumam Harry-kecil. Dia makin melesak ke jubah Draco.
Mimpinya berubah, dan Draco kembali menyanyi.
xxx
Draco berguling dan bangun sepenuhnya. Harry meringkuk di sisinya, dan jari-jari Draco otomatis pergi ke rambut Harry.
Harry adalah sumber kontradiksi dan perasaan tak berdaya. Dia membuat Draco merasa—amarah, dan afeksi, dan nafsu. Draco tidak ingin. Dia ingin terus berada di sekeliling keluarga dan sahabat-sahabat masa kecilnya. Dia tak ingin membiarkan masuknya orang baru—apalagi Harry Potter. Semakin sering dia berinteraksi dengan orang-orang, semakin berbahaya pula baginya. Kemungkinan kewaspadaannya akan menurun.
Draco merasa tak berdaya. Ketika Harry Potter tak ingin menjadi temannya, Draco bukan temannya. Ketika Harry Potter ingin menjadi temannya, Draco menjadi temannya. Ketika Harry Potter ingin menjadi kekasihnya, Draco menjadi kekasihnya. Segalanya berjalan sesuai keinginan Harry.
Dia merasa sedikit bersalah. Dia pikir Harry ingin merahasiakan hubungan mereka karena dia adalah Draco, satu-satunya Pelahap Maut yang dibiarkan berkeliaran bebas. Tampaknya mustahil untuk menduga bahwa Harry berpikir menyukai sesama laki-laki itu salah. Tapi kemudian, tampaknya mustahil pula untuk menduga bahwa Harry memiliki masa kecil yang buruk. Dan Daily Prophet—Draco merasa ingin mencemooh, dan di waktu yang berbeda, dia akan minta ayahnya untuk menyuap mereka.
Harry seharusnya bukan manusia biasa, sang pahlawan yang sempurna. Dan dia kuat, Draco mengingatkan dirinya sendiri. Dia tak menjadi pemurung. Dia telah membunuh Pangeran Kegelapan, dan menyelamatkan dunia—dunia yang, pada saat itu, membencinya.
Harry bergerak. Draco mendiamkan tangannya, dan Harry menyeruduk tangannya.
"Draco?" gumam Harry, matanya masih tertutup.
"Kembalilah tidur," bisik Draco.
Harry menggumam tak jelas. Draco lanjut mengelus rambut Harry dan melihat saat Harry kembali tidur.
Dan dia mempercayaiku. Itulah hal yang paling penting, bukan?—bahwa entah bagaimana, Harry percaya bahwa dia layak untuk dipercaya.
Dan untuk itu, Draco akan berusaha untuk terus menggenggam hadiah yang sebenarnya tak layak dia dapatkan ini.
xxx
Granger dan Weasley menunggu mereka di ruang rekreasi, setelah dia dan Harry kembali dari dapur.
Granger menyapa mereka dengan sebuah senyum. "Harry. Draco."
"Hai, Hermione," jawab Harry riang.
Draco menganggukkan kepala sedikit. "Hermione."
Weasley melangkah maju. Dia menatap antara Harry dan Granger, sebelum mengulurkan tangannya pada Draco. "Ron."
Harry menyenggol Draco menyemangati. "Draco," kata Draco, saat dia menjabat tangan Weasley. Weasley tidak menyembunyikan—atau gagal untuk menyembunyikan—kelegaan di wajahnya saat Draco melepaskan tangan mereka.
"Bagus," angguk Granger. "Ayo kita pergi ke Perpustakaan."
Mereka meninggalkan menara dengan berpasangan dan Granger menempatkan dirinya di samping Draco, membuat Draco kaget.
"Senang kau ada di sini, Draco. Akhirnya aku punya teman untuk diajak bicara soal Arithmancy dan Rune Kuno." Granger menatap jengkel pada dua orang di depannya. "Mereka berdua tidak mengerti soal pengetahuan."
Dan aku akan punya teman untuk diajak bicara,pikir sebuah bagian kecil dalam benak Draco secara sarkastis.
"Kau sudah mulai proyek Mantra tengah-semester?"
"Sudah," jawab Draco.
"Lihat kan!" kata Granger nyaring. Draco merengut, tapi dia menyadari bahwa Granger bukan bicara padanya. Granger cepat-cepat maju sedikit dan menyentuh punggung Harry dan Weasley. "Draco juga sudah memulai proyeknya!" Harry dan Weasley membuka ruang untuk membiarkan Granger masuk ke tengah-tengah, dan merekapun jadi Trio Emas lagi.
Draco merasakan jarak antara dia dan mereka bertambah.
"Itu kan dikumpulkannya nanti setelah libur natal, Hermione," rengek Weasley. "Kami akan mengerjakannya selama libur, bukan sekarang."
"Ronald Weasley, kau tahu jelas bahwa kau tak pernah mengerjakan PR selama liburan!" kata Granger tegas.
"Kalau begitu kami akan mengerjakannya setelah libur. Kurasa Flitwick tidak mengharapkan kita untuk mulai mengerjakannya sekarang—kita masih belum mempelajari semua yang kita butuhkan!" protes Weasley.
Granger melipat lengan. "Dia sudah mengajarkan cukup untukmu mulai mengerjakannya. Seluruh inti dari tugas ini adalah semacam proyek berkembang yang harus kau bangun, bukan untuk kau kebut di minggu terakhir." Dia menoleh pada Harry. "Bagaimana denganmu, Harry?"
Harry melangkah menjauh. "Aku—aku akan mulai sebelum Natal?" katanya ragu-ragu. "Dan aku punya kau dan Draco untuk membantuku." Dia menolehkan kepala dan tersenyum pada Draco.
Draco balas mengangkat sebelah alis dan kaget saat Harry menyambar tangannya, menariknya untuk berjalan sejajar—memenuhi koridor. Harry cepat-cepat menjatuhkan tangannya dan Draco merindukan kehangatannya dengan segera.
Granger mengangguk semangat. "Tepat sekali! Aku tak akan selalu ada untuk membantumu, atau selalu mampu untuk membantumu."
Oh, Merlin, Draco menyadari bahwa dia mungkin berakhir terpaksa akrab dengan Granger berkat PR.
Mereka tiba di Perpustakaan lebih cepat dari kebiasaan Draco. Granger segera memimpin, menuju salah satu meja persegi di pojok belakang. Draco menemukan dirinya diatur untuk duduk di sebelah Granger, dengan Harry tepat di seberangnya.
Weasley menatap Granger dengan sedih. "Akan sulit bagimu untuk membantu kami kalau kau duduk di sebelah sana."
Granger nyengir sebagai balasan. "Hmm, memang itu maksudnya."
Draco mengacuhkan percekcokan mereka dan mengeluarkan PR-nya. Dia agak terkejut saat menemukan bahwa Trio Emas bisa bekerja dengan tenang. Saat dia berdiri untuk mencari sebuah buku setengah jam kemudian, mereka bertiga sedang bekerja dengan tekun—bahkan Weasley. Granger mengangguk sekilas padanya, yang dia balas sebelum pergi ke rak-rak buku.
Gumaman percakapan pelan di bagian Perpustakaan yang lebih dalam membuat Draco waspada. Dia menarik tongkat sihir dan maju ke sumber suara tersebut.
"Kami sedang pakai buku itu!"
"Well, mungkin aku pun ingin memakai buku ini—"
"Tapi itu buku pelajaran tahun pertama. Kau bukan murid tahun pertama!"
Draco bisa melihat dua anak kecil Slytherin dari celah-celah rak buku. Seorang anak Ravenclaw yang lebih tua sedang memegang tinggi-tinggi sebuah buku, terlalu tinggi untuk diraih mereka—dan kemungkinan buku itu dicengkeram dengan kuat supaya tak bisa diambil dengan mantra pemanggil.
Dia mendesah terpaksa dan berjalan ke rak yang paling dekat dengan mereka. Seksi Buku Mantra—setidaknya dia punya alasan bagus untuk berada di sana. Pada awalnya dia pura-pura tak melihat mereka, tapi mereka dengan segera berhenti bicara dan menoleh padanya.
Draco menatap mereka dengan malas sambil mengamati buku yang sedang dipegang si Ravenclaw. Dia mengangkat sebelah alis. "Goshawk, Kelas 1? Aku kaget seorang Ravenclaw gagal menguasai mantra Tahun Pertama," katanya lambat-lambat.
Si Ravenclaw menegang, mencemooh balik. Dia menaruh buku itu dengan kasar ke meja dan melangkah ke arah Draco dengan tongkat sihir teracung. "Aku terkejut mereka membiarkan kau kembali ke Hogwarts sama sekali."
Draco melangkah maju ke rak paling jauh, menjauh dari para anak Slytherin. "Begitu pula aku," bohongnya. "Aku harus tanya pada Harry Potter soal itu. Karena dia yang membelaku saat di persidangan."
Sesuai dugaan, si Ravenclaw terkejut mendengar nama itu, matanya menyempit berbahaya. Tapi saat itu, Draco sudah berpaling dan sedang melihat-lihat buku. Dengan hembusan napas pelan, dia pindah ke rak buku selanjutnya, seolah tak bisa menemukan apa yang dia cari.
Si Ravenclaw mengikuti. Draco menyelip masuk ke lorong lainnya, kembali ke tempat Trio Emas—cari jalan aman, dia menyadari.
"Sudah menemukan apa yang kau cari?" tanya Granger.
Draco menggelengkan kepala. Di sudut matanya, dia melihat si Ravenclaw ragu-ragu, merengut, lalu pergi.
Granger mengerutkan dahi. "Kau cari buku apa?"
"Buku yang menjelaskan tentang hubungan Mantra dan Rune Kuno—rasanya aku pernah membaca buku semacam itu sebelumnya, tapi aku tak bisa menemukannya."
Kerutan Granger makin dalam. "Tidak, memang ada—aku juga pernah baca. Tunggu di sini, akan kucarikan bukunya."
Draco mengangguk, merasa bersyukur. Kalau Granger ingin berteman dengannya, dia pasti tak akan diam saja melihat para Slytherin ditindas.
Harry menatap Draco curiga. "Ada sesuatu yang salah?"
Draco menyeringai. "Potter, tak ada yang salah dengan pekerjaanku, tapi mungkin kau harus cek punyamu lagi."
Harry memutar mata dan mendorong pekerjaannya ke arah Draco. "Periksa untukku, kalau begitu."
"Dan bagaimana kalau aku ingin bayaran?"
Weasley tersedak tiba-tiba dan wajahnya memerah.
Draco dan Harry menoleh padanya berbarengan.
"Kau baik-baik saja, Ron?"
Ren celingukan ke sekeliling sebelum berbisik. "Aku tak keberatan kalian berkencan tapi tolong jangan saling merayu di depanku."
Harry merona sama merahnya dengan Weasley dan menatap Draco dengan gugup. "Barusan itu rayuan?"
"Bukan, Potter, aku bermaksud untuk minta kompensasi keuangan. Sepuluh galleon per halaman, tergantung tulisanmu bisa dibaca atau tidak," kata Draco serius.
Harry kehilangan rona merah di mukanya dengan cepat dan mencolek Weasley. "Kurasa bukan begitu."
Weasley memutar mata. "Sobat, itu rayuan, dan yang barusan kedengarannya seperti sebuah lelucon."
Draco menunduk maju di atas meja. "Oh, kau belum menyaksikan rayuan yang sebenarnya, Ronald Weasley."
Weasley mencicit. "Kau tahu aku berkencan dengan Hermione, kan?" katanya cepat-cepat.
Draco menyeringai. "Kau yakin dia akan keberatan? Mungkin kita bisa mencoba foursome…"
Weasley berubah semerah rambutnya dengan cepat.
"Hermione!" teriak Weasley sambil melompat dari kursi. Dia bergegas ke arah Hermione yang baru saja muncul.
Hermione menatapnya bingung. "Aku juga merindukanmu," katanya, tersenyum.
Harry tertawa kaget, dan setelah beberapa saat, Draco nyengir balik.
.
TBC
.
