Cerita ini hanya imajinasi semata, bila ada kesamaan alur dan tempat mohon dimaklumi.
.
.
.
Selamat membaca 'v'
.
.
.
Chapter 8 : Ruang kosong
Aku berjalan sendirian dalam sebuah terowongan yang sangat gelap dengan cahaya jauh diujung sana, tak ada siapapun disini, dari yang bisa kusimpulkan adalah tempat ini bukan sebuah terowongan biasa. Ini adalah terowongan menuju alam akhirat.
"Arghhh! Ujungnya kenapa jauh sekali sih!?" Aku terduduk saking sebalnya karena terowongan ini seolah tidak berujung, kenapa sejak tadi aku tidak sampai-sampai sih ?
Bisa kurasakan tanah disekitarku bergetar dan terowongan itu mulai runtuh, aku segera berdiri sebelum ikut tertimbun disana, "Uoohhh gila! Kenapa sudah mati begini aku masih saja kena sial sih!?" Omelku, aku memutuskan pasrah menerima kematianku yang tragis sejak 15 menit yang lalu.
"Hei, sebelah sini nona!" Seorang bocah dengan jubah hitam menarik tanganku, dan tiba-tiba tubuh kami menghilang bersama cahaya.
"Aaakkkkk!" Aku berteriak saat tubuhku jatuh ke tanah, sedangkan anak tadi malah menertawakanku, "Manusia memang lucu, mereka memang tidak bisa berteleportasi!"
"Heh, aku ini dimana ?" Tanyaku sambil mengelus pantatku yang terasa perih.
"Di akhirat laah, kau kan sudah mati"
"Aku tahu, tapi kenapa akhirat malah berbentuk terowongan tak berujung begitu!?" Aku menunjuk kebelakang, dan tiba-tiba terowongan itu sudah berubah jadi lukisan piano tua. Apa apaan ini ?
"Tadi kau terjebak, itu bukan terowongan, tapi perbatasan hidup dan mati, sepertinya kau jadi korban salah cabut nyawa." Jelasnya, kuperhatikan anak itu lekat-lekat, lalu apa yang dilakukan bocah ini di akhirat ?
"Aku adalah dewa kelahiran,. Namaku Gaara" ia mengenalkan diri. Pakaiannya sudah berubah menjadi jubah berwarna keemasan dan rajutan bunga berwarna merah.
"T-tapi... Bagaimana dengan Neiji?" Tanyaku
"Aah... Pria itu sudah masuk ke ruang tunggu reinkarnasi diujung lorong kematian" jawabnya santai.
"Tunggu, katamu malaikat itu salah mencabut nyawa, apa Neiji juga ?"
"Tentu saja, tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur kukirim ke atas" ucapnya cuek sambil menuangkan teh dalam cangkir kecil.
"Apa bagi kalian para dewa hidup kami tak berguna ? Sampai-sampai kau bicara dengan santainya 'mau bagaimana lagi?', apa kau tidak tahu apa yang sudah ku lalui hah ?!" Aku melepaskan sepatuku lalu melemparkannya pada dewa cebol itu sekuat tenaga, dasar sialan !
"Heh, berani sekali kau melempari dewa hah ? Maumu apa ? Mau kau kuhidupkan ? Aku ini dewa kematian, membuat kalian mati adalah hobiku wanita bodoh!" Ia balas melempariku dengan sendalnya yang berhasil kuhindari, "Aarggghhh!" Teriakku.
"Ya sudah pergilah sana! Pergi dan bangkitlah dari kematian, pergi kelorong itu dan cari ujungnya kalau kau sanggup!" Ia menunjuk sebuah pintu berwarna hijau dibelakangnya.
"Kau kira semudah itu!?" Aku masih tak percaya pada dewa cebol ini, dasar gila, dia kira kami boneka, apa dia tak tahu apa yang sudah kualami saat hidup!?
"Yasudah, akan kubuat perjanjian denganmu. Akan kubangkitkan kau dari kematian, tapi saat sudah hidup, carikan aku ujung pelangi, maka akan kubangkitkan temanmu itu juga!"
"Kau berjanji?" Aku menatapnya menelisik, bagaimana jika dia berbohong ?
"Ya... jika kau gagal, cari pria bernama Sasori, dan katakan kau membuat perjanjian denganku." Dia tersenyum, aku melihat ada seringai diujung bibirnya, tapi kuyakinkan diriku bahwa dia tak mungkin berbohong.
"Baiklah" aku mengangguk, segera berdiri dan membuka pintu yang ditunjukkannya tadi, aku bisa merasakan betapa dinginnya lorong gelap itu ketika membuka pintunya, samar-samar aku mendengar teriakkan minta tolong dari sana. Apa dia benar-benar tak berbohong ? Aku menoleh, menatapnya penuh harap tapi ia malah balas menatapku cuek.
"Silahkan." Ada nada memaksa dalam kalimatnya.
"Jika kau menipuku, aku bersumpah bahwa kau akan jatuh ke bumi, dan nama dewa mu itu takkan pernah menyelamatkanmu. Ingat itu." Aku mengancamnya, masa bodoh kalau suaraku bergetar, aku tak perduli lagi soal sembah menyembah dewa.
"Aku bisa melihat ketakutanmu nona, tapi manusia takkan bisa mengutuk dewa sekalipun kau memiliki dendam pribadi padanya. Jadi..." ia menyeringai, seringai penuh kemenangan yan dari tadi kulihat, "Sampai jumpa!" Ia melambai padaku dengan senyum manis, kemudian tubuhku terhuyung masuk ke lorong itu seolah seseorang menarikku ke sana.
Aaaakh sialan !
Bersambung...
Curhat author:
Hai readers, author kembali dari tidur panjang, kenapa ff ini pendek ? Karena author banyak pr. Kenapa ff ini lama baru update ? Karena author banyak pr. Sedih memang TvT
Oiya, halo Taeoh, terimakasih atas review dan komentarnya, ngomong-ngomong author biasanya nunggu kamu komen dulu baru update lagi looh, soalnya klo gk ada yg komen itu rasanya agak sedih gimanaaaa gitu.
Terimakasih sudah membaca dan mengikuti, author harap kalian tetap setia membaca disini, karena author kesepian! Mendadak readers di sepi dan pindah ke app sebelah TvT
Dan toh bentar lagi ff ini tamat. TvT
