The Prom Nite
.
Vampire Knight belongs to Hino Matsuri
.
"Wah! Cantiknya!"
Meski Yori bilang cantik, benda itu tampak biasa saja di mataku. Malah, terlihat jelek. "Tidak butuh!" Dengan kejam dan tanpa perasaan, kucampakkan gaun itu ke ranjang.
Yori dengan iba mengambilnya. "Yuuki, gaun ini cantik sekali lho! Pasti mahal!" Yori menunjukkan gaun putih itu persis ke depan mataku. Hidungku bisa mencium aroma baju baru yang artinya baju ini masih segar dari toko. "Masa tidak mau dipakai?"
Aku tetap menggeleng. Enak saja aku pakai gaun! Sampai kapan pun aku tidak akan mau! Gaun dan hal-hal feminim seperti itu tak cocok untukku. Tak peduli apakah gaun itu berwarna putih semu pink favoritku, dengan tepi rok bergelombang dan pita merah manis … Akh! Apa yang sedang kupikirkan?! Apa aku tertarik mengenakan gaun itu?
Kupandang gaun yang masih dipegang Sayori. Sahabatku itu sangat ingin melihatku memakai gaun ke pesta dansa. Ia menentang keras keinginanku untuk tetap memakai seragam ke sana. Gaun itu memang cantik, tetapi …
"Apa gaun itu pantas dipakai olehku, Yori-chan?" gumamku gundah.
"Pantas kok. Cocok sekali untukmu!" bujuk Yori dengan semangat menggebu-gebu.
"Tapi aku tidak bisa berias," tandasku.
Yori langsung mengacungkan jempolnya dengan percaya diri. "Serahkan padaku!" Aduh. Kenapa aku jadi ragu ya?
Kemudian, Yori menepuk pundakku. "Kalau kau ke pesta itu, kau bisa mencari tahu siapa yang memberimu gaun ini kan? Kau juga bisa sekalian berterima kasih padanya."
Pemberi gaun? Oh iya. Gaun ini sampai di kamarku secara misterius beberapa jam lalu. Tanpa nama pengirim. Tanpa pesan apa pun. Hanya sebuah kado berbungkus kertas putih dan dibalut pita pink dengan isi yang menghebohkan. Siapa yang mengirimkannya ya? Ayah? Rasanya tidak mungkin. Ayah tidak pernah memberikan kado dengan cara seperti ini. Ia akan langsung memberikannya seperti ayah-ayah pada umumnya.
Sebuah nama mengisi pikiranku. Kak Kaname. Mungkinkah? Iya. Mungkin saja. Kalau memang benar, aku harus berterima kasih padanya.
Lebih baik kucari dia sekarang.
.
.
Ini aneh. Kak Kaname tidak sedang berpatroli di mana pun. Tidak di lorong, koridor, atau pun di beranda sekolah. Tidak ada juga di taman sekolah. Padahal aku sudah izin untuk menyiapkan pesta dansa nanti malam. Kutanya ke teman sekelasnya dan mendapat jawaban bahwa Kak Kaname sudah pulang.
Akhirnya di sinilah aku. Berdiri di depan kamar kakak. Kuketuk pintunya beberapa kali, tetapi tak mendapat jawaban. Mungkinkah ia tak ada di dalam?
"Permisi, Kak Kaname." Kuberanikan diri untuk membuka pintu. Tidak dikunci. Kepalaku menyembul sedikit dari daun pintu dan mengintip.
Mataku tidak bisa melihat apa pun, padahal ini masih siang. Semua tirai ditutup dan lampu dimatikan. Aneh. Suasana kamar sunyi senyap. Namun, di dalam kegelapan, aku bisa melihat sesuatu terbaring di tempat tidur. Tanganku menggapai-gapai sakelar lampu yang seingatku berada tak jauh dari daun pintu.
Setelah kutemukan sakelar, kudorong tombolnya hingga lampu menyala. Sosok di atas ranjang itu menjadi jelas. Rambut hitamnya menyembul dari balik selimut yang menutupi sampai bagian leher. Dari sini ia kelihatan seperti ulat bulu raksasa. Tanpa suara, kuhampiri sosok itu.
"Kakak kenapa? Apa Kakak sakit?"
"Tidak," jawab Kak Kaname singkat.
"Kakak tidak patroli?"
"Kau sendiri tidak menyiapkan pesta? Kelasmu kan mendapat giliran," balasnya.
"Aku ke sini karena Kakak tidak terlihat di mana pun. Aku jadi khawatir," ungkapku. "Kenapa kakak sendirian di kamar gelap begini?"
Kakak tidak menjawab. Oke. Ada sesuatu yang aneh di sini. Aku mengangkat tangan kanan untuk menyentuh Kak Kaname, menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Jangan sentuh aku!" Tanganku berhenti beberapa senti dari permukaan selimut Kak Kaname. Berhenti dan melayang di sana. Lalu, kutarik tanganku lagi. Aku sudah mendapat jawaban atas pertanyaan tadi.
"Kakak baik-baik saja?"
Diam sejenak. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit …" Kalimat itu tidak pernah selesai.
Aku mendesah lelah. "Kakak tidak meminum obat hari ini?"
Kulihat selimut yang melingkupi tubuh Kak Kaname sedikit mengencang. "Tidak bisa." Meski pelan, suaranya terdengar penuh amarah. "Tubuhku terus menerus menolak pil itu, tidak peduli berapa kali pun aku sudah mencobanya."
Tubuh yang menolak pil darah. Seperti yang diceritakan Ayah. Tubuh seorang vampir yang dulunya manusia perlahan akan jatuh menjadi level E, dimulai dari gejala di mana tubuhnya menolak meminum pil darah. Pil itu akan terasa seperti kertas amplas di kerongkongan mereka: kering, tak berefek apa pun. Tubuh mereka menginginkan darah segar makhluk hidup, namun bukan hewan juga. Rasa darah hewan tak cukup memuaskan mereka. Harus darah manusia atau darah vampir. Tetapi, tidak akan ada vampir yang sudi menolong vampir level D seperti kakakku.
"Kalau memang tubuh Kakak tidak bisa meminum obat itu, berhentilah meminumnya." Jelas saja tubuh kakakku langsung gemetar mendengar pernyataan itu. "Aku akan menjadi ganti obat itu."
"Yuuki, aku tidak bisa—
"Aku tidak bisa melihat kakakku terus menerus menderita seperti ini!" tukasku dengan tegas, "dan aku… tidak bisa membiarkan Kakak jatuh ke level E."
Kakak diam. Tak ada jawaban keluar dari mulutnya, namun aku bisa melihat tubuhnya yang sedikit lebih rileks daripada semenit tadi.
"Berbaliklah," suruhnya.
Alisku terangkat tinggi-tinggi. "Hah? Kenapa?"
"Aku tidak ingin kau melihat wajahku yang kelaparan lagi." Kakak. Dia masih sempat memikirkan perasaanku bahkan saat dirinya sendiri dalam kondisi memprihatinkan begini.
Aku duduk di tepi ranjang dalam posisi membelakanginya. "Sudah," ujarku. Tak lama kemudian, ada gerakan yang terasa. Berulang kali ranjang naik dan turun, seperti ada yang merangkak di atasnya. Napas dingin itu berembus di kulit leherku, menciptakan sensasi dingin yang akan membuat bulu kuduk siapa pun meremang.
"Maaf." Sedetik setelah kata itu terucap, rasa sakit menyiksa itu kembali datang.
.
.
Tak terhitung sudah berapa kali kubetulkan ujung-ujung rambut hasil keterampilan tangan Sayori. Kubetulkan pita merah di leherku. Jangan sampai bekas luka di sana terlihat, apalagi oleh Kakak.
Oke. Jangan lupakan tujuan utamamu, Yuuki. Cari si pengirim gaun misterius ini. Omong-omong soal gaun …
"Yori-chan, kau yakin gaun ini kelihatan pas untukku?" Lagi-lagi kulihat gaun yang menempel di tubuhku ini untuk kesekian kali.
"Itu cocok sekali, Yuuki!" jawab Yori tanpa mengeluh sedikit pun, meski ia sudah menjawab pertanyaan itu puluhan kali.
Kami berdua berjalan berdampingan tepat menuju gedung besar yang kelihatan sangat terang. Semua pintu dan jendela di gedung itu terbuka lebar, menunjukkan betapa gemerlap pesta yang sedang berlangsung di dalam sana. Jendela gedung itu berkilau keperakan oleh sinar lampu sementara alunan musik sudah terdengar. Musik Vienna Waltz.
Orang yang kutemui di pintu depan adalaha Ayah. Saat melihatku, wajahnya dua kali lebih konyol dari biasa—meski setiap hari dia selalu tampil konyol—Astaga! Apa penampilanku menggelikan?
"Yuuki, kau manis sekali~" Penyakit lebay Ayah—yang super akut—kumat. Tanpa malu, ia menari-nari di depan pintu masuk gedung pertemuan. Berputar dan menari dengan wajah konyol yang menggelikan.
Ini desahanku, setidaknya yang kesepuluh kali. "Ayah, sudah dong."
Untungnya Ayah menurut. Ia berdeham dan dengan gaya seperti gentleman, lalu mengulurkan tangan padaku. "Wahai putriku, sudikah kiranya engkau berdansa dengan ayahmu ini?"
Cara bicara Ayah seperti orang abad pertengahan saja, tetapi tentu aku tidak mengatakan hal itu secara terang-terangan. "Iya, tapi nanti saja ya."
Ayah bertepuk satu kali. "Benarkah? Kalau begitu, sampai nanti ya!" Dengan kegirangan setengah mati, Ayah menghilang ke dalam gedung pertemuan, di antara pertemuan sinar perak dan puluhan orang berpakaian mewah.
Sekali lagi kutatap tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Berulang kali aku menyangsikan penampilan sendiri. Bukannya mempertanyakan kemampuan Sayori merias orang lain, aku hanya tidak pede akan kecantikan sendiri. Aku merasa seperti anak jalanan yang lusuh dan kotor dalam bungkusan gaun mahal. Semua aksesoris yang melekat di tubuhku sekarang, semua diambil dari dalam kado misterius itu. Dan kesemuanya barang bermerk. Pasti mahal.
"Siapa pun yang memberimu kado itu, pasti mengerti betul soal dirimu ya, Yuuki," komentar Sayori.
"Eh? Dari mana kau tahu?"
"Soalnya semuanya pas dengan tubuhmu sampai ke sepatunya. Warna aksesoris dan gaunnya pun pas dengan warna kulitmu," jelas Sayori. "Selain itu, dia tahu kalau warna putih semu pink itu warna kesukaanmu."
"Yori-chan, jangan keras-keras!" Ugh. Sahabatku ini malah terang-terangan memberi tahu warna favoritku yang sangat feminim itu. Memalukan!
Tetapi, omongan Yori benar juga. Hal ini membuat kemungkinan orang yang mengirim kado ini semakin meruncing. Kemungkinan besar memang orang itu pengirimnya.
.
.
Pemuda itu berdiri di pojok ruangan seperti patung. Tak bergerak seujung jari pun. Meski begitu, pandangan matanya tak henti berlari ke segala penjuru, meneliti setiap jengkal aula pertemuan yang luasnya lebih dari dua puluh meter persegi itu. Ia masih berpatroli, dilihat dari handband guardian yang melingkari tangannya, sama sepertiku.
Kuhampiri ia dan langsung mendapat perhatian.
"Ada apa, Yuuki?" tanyanya. Ia memerhatikanku lebih detil. "Kau manis sekali."
Pujian itu kubalas dengan satu senyuman. "Terima kasih. Ini juga berkat gaun yang Kakak berikan."
"Gaun?" Sebelah alis Kuran Kaname terangkat. "Gaun apa?"
"Gaun… ini." Kuberikan isyarat padanya dengan menunjuk gaun yang sedang kupakai. Aduh. Aku jadi salah tingkah dan linglung. Kenapa Kak Kaname balik bertanya ya? Apa dia pura-pura tidak tahu atau… sedang bercanda? "Kakak yang memberiku gaun ini kan?"
Kening kakakku berkerut. Pandangannya berubah tajam. Aduh dia pasti marah!
"Ma-Maaf—
"Tidak apa-apa, Yuuki. Aku tidak marah kok," tukas Kakak. "Tapi sayang, bukan aku yang memberi gaun ini."
"Kakak serius?"
Kak Kaname mengangguk tanpa sekali pun berkedip atau lari dari mataku. Ia tidak bercanda. Bukan Kakak yang mengirim gaun ini. Satu tanda tanya besar muncul.
Siapa yang memberiku gaun ini?
"Ah!" saruku saat ada satu nama lagi melintas. Aku tak pernah memikirkan sampai sana. Tak bisa dipercaya. Mustahil. Mana mungkin orang itu yang memberikannya? Orang berhati es seperti dia memberiku kado? Kedengaran mustahil sekali. Apalagi, baru-baru ini ia bersikap kurang ajar padaku. Itu menambah kemustahilan yang sudah mustahil itu. Tetapi, bila bukan kakakku, lantas … Ah tidak ada salahnya bertanya.
"Apa Kakak lihat Kiryuu-senpai?"
Kakakku mengangkat telunjuknya. Ujung jari itu mengarah ke seberang aula, melewati keramaian anak Night Class dan Day Class yang berbaur menjadi satu. Jauh dari kerumunan di aula, di tengah kesepian dan kegelapan beranda, ada seorang pemuda berambut putih keperakan yang berdiri sendirian. Rambut putihnya bahkan berkilau di dalam kegelapan.
"Terima kasih, Kakak!" Tanpa buang waktu lagi, aku pergi dari kakakku dan berbalik menyeberangi ruangan, menuju beranda. Tepat berlari ke arah pemuda yang tengah sendirian saja di sana.
.
Jarak di antara kami hanya terpaut dua meter, namun aku merasa ada samudera luas yang memisahkan. Ia seperti tak terjangkau. Memang seperti itulah ia sehari-hari. Tak ada yang mengerti perasaannya, tak ada yang tahu isi hatinya, tak ada yang tahu apa yang mungkin akan dilakukannya. Hanya bisa menebak-nebak dan bergantung pada keberuntungan saja bila berurusan dengannya. Termasuk saat ini. Aku hanya bisa berharap kehadiranku di sini–yang cuma sekedar ingin bertanya—tidak mengundang kemarahannya.
"Permisi, Kiryuu-senpai." Pemuda itu langsung menoleh kepadaku.
Di daerah yang hanya diterangi sinar lampu dari dalam aula ini, entah kenapa Kiryuu-senpai terlihat lebih berkilau. Seperti guci yang berpendar dari dalam. Rambut silvernya tak pernah lebih putih dari ini dan mata lilacnya seperti batu amethyst yang berharga. Mungkin ini karena dia berdarah murni.
"Sudah kuduga gaun itu cocok untukmu." Pernyataan itu membuat jantungku melompat. Mulutku jatuh tanpa bisa dihentikan.
"Jadi Kiryuu-senpai yang—
"Sebagai permintaan maafku karena mengusirmu malam itu," tukasnya.
Permintaan maaf? Ternyata dia memikirkannya. Aduh. Aku sudah telanjur memanggilnya pemuda berhati es! Siapa sangka ia bisa hangat begini? Ah paling-paling setelah ini ia langsung bersikap dingin lagi seperti biasa. Ini hanya formalitas saja. Tak lebih.
"Kau masih marah?"
Pertanyaan itu menyentakku. Buru-buru aku menggeleng lemah. "Tidak."
"Syukurlah." Mataku membelalak. Kutatap Kiryuu-senpai di seberangku dengan tatapan tak percaya. Apa tadi dia baru saja lega?
Saat itulah, aku melihat sesuatu yang tak pernah kulihat dari Kiryuu-senpai sebelum ini. Ekspresi lain dari dirinya. Ia terlihat lega sekali. Sangat lega. Seperti orang yang dibebaskan dari semua masalah hidupnya di saat bersamaan. Dan lagi… kedua sudut bibir itu terangkat naik, membentuk sebuah… senyuman?! Kiryuu-senpai tersenyum. Memang sangat tipis, namun jelas sekali kalau itu senyuman. Senyum itu membuat perubahan besar pada wajah Kiryuu-senpai. Aura sedingin antartika yang selalu kulihat darinya, seketika itu juga meleleh, menunjukkan sebuah kehangatan yang tak pernah ditunjukkannya kapan pun sebelum ini.
Ah, tetapi mungkin saja setelah ini …
"Pasti setelah ini Kiryuu-senpai akan kembali dingin kan?" Nada bicaraku langsung menuduhnya tanpa basa-basi. Kubuang wajahku ke arah lain. Ke mana pun boleh, asalkan tidak memandangnya. "Sebaiknya Senpai tidak usah memasang senyum itu!"
"Apa maksudmu?"
Saat aku memandangnya lagi, senyum itu sirna. Telah berganti dengan wajah bingung. "Aku lelah, Senpai. Aku bingung mana diri Senpai yang asli. Senpai terus berbuat baik dan jahat secara bergantian. Aku lelah dibuat terus berharap bahwa di balik sikap yang dingin ini, Senpai sebenarnya baik! Aku lelah dikecewakan oleh sikap Senpai yang tiba-tiba berubah dingin lagi setelah begitu baik padaku!" Di akhir kalimat itu, satu air mata lolos dari mataku.
Argh sial! Kenapa aku menangis? Ini bukan pertama kalinya aku dikecewakan seseorang. Kenapa aku sampai sesedih ini? Lagipula, aku dikecewakan oleh orang yang paling kubenci di sekolah. Tidak ada ruginya. Lalu, kenapa hatiku tersiksa begini?
Tiba-tiba, sebuah ibu jari dengan lembut menghapus sisa air mata di pipiku. Kepalaku mendongak dengan kaget, lebih kaget lagi saat melihat siapa yang sudah sangat lembut menyentuh pipiku.
"Kiryuu-senpai …"
Ekspresi yang tertanam di wajah itu sama seperti ekspresi saat dia menolongku dalam beberapa kesempatan: tampak sedih dan sangat cemas.
"Tak akan ada lagi topeng. Mulai hari ini dan seterusnya, kau akan melihat diriku yang sebenarnya… Yuuki."
Sesuatu meleleh di dalam dadaku saat Kiryuu-senpai mengucapkan namaku dengan volume suara pelan yang terkesan lembut. Terdengar hampir dengan sayang. Ini pertama kalinya ia memanggilku dengan nama, bukannya dengan panggilan "kau".
"Lalu, kenapa Senpai selalu bersikap dingin padaku selama ini?" Pertanyaan itu meluncur keluar begitu saja dari mulutku. Spontan dan tiba-tiba.
Jawaban yang kuterima sangatlah di luar dugaan. Tanganku turun tak berdaya menggantung di kedua sisi tubuh. Kehangatan menjalar di setiap inci kulitku saat kedua lengan itu mengapit tubuhku dengan lembutnya. Detik berikutnya, aku sudah tenggelam ke dalam pelukan Kiryuu-senpai. Ia memelukku dengan erat dan penuh sayang, tak sampai membuatku sesak. Air mata lagi-lagi keluar dari mataku. Ugh. Kenapa sekarang air mata ini tidak bisa berhenti mengalir?
"Aku hanya ingin melindungimu." Kiryuu-senpai berbisik lembut, melumpuhkan semua tubuhku. "Kau tahu apa aku ini. Aku dan semua orang-orang sepertiku bisa dengan mudah menyakitimu. Aku tidak mau kau sampai tersakiti, karena itu… aku menjaga jarak darimu." Kenyataan itu justru memperparah tangisanku. Perlahan, kubalas pelukan Kiryuu-senpai.
Kehangatan yang menyelimuti tubuhku membawa sensasi aneh. Ada sebuah perasaan rindu yang merayap keluar.. Sangat perlahan seakan ia sudah lama tertidur di dasar hatiku dan baru saja terbangun malam ini, detik ini. Anehnya, perasaan rindu ini sangat familiar, sangat kuinginkan. Seperti sudah lama kunanti, namun baru sekarang dapat terwujud. Kupejamkan mata dan kubiarkan perasaan rindu itu memenuhi diriku, membiarkan air mata mengalir deras karenanya.
Tercipta sebuah rasa kehilangan saat kedua lengan itu berhenti memelukku. Ada sebuah tangan yang dengan lembut mengusap semua air mata di pipiku. Saat kubuka mata, wajah Kiryuu-senpai berada sangat dekat denganku.
"Apa aku menyakitimu?" tanyanya, bahkan kekhawatiran dalam suaranya melebihi suara khawatir kakakku.
Kata-kata tak sanggup keluar dari mulutku. Hanya sebuah gelengan kepala yang bisa kuberi sebagai jawaban.
"Lantas kenapa kau menangis?" tanyanya lagi.
"Aku tidak tahu," isakku. "Rasanya aneh. Aku seperti pernah merasakan perasaan ini sebelumnya, entah kapan dan di mana. Rasanya rindu sekali."
"Yuuki." Kiryuu-senpai mengusap air mataku lagi. "Tolong berhentilah menangis. Air matamu… menyiksaku."
Aku menghela napas panjang beberapa kali dan tangisan itu pun berhenti. Begitu pula dengan air mata yang dari tadi tak kunjung berhenti.
Kiryuu-senpai mengulurkan tangan kanannya. Senyum menghiasi wajahnya lagi. Kali ini, senyum itu lebih jelas dan lebih cemerlang. "Maukah kau berdansa denganku?"
Penawaran itu mau tak mau membuatku tersipu. Antara senang luar biasa dan malu. "Aku… tidak bisa berdansa, Kiryuu-senpai." Aku mengakui dengan malu.
Sejenak terdiam. "Tidak apa-apa. Kita akan berdansa pelan-pelan." Kata-kata Kiryuu-senpai membesarkan hatiku.
Meski awalnya tanganku ragu dan bergerak dengan terlalu pelan, Kiryuu-senpai tetap mengulurkan tangannya. Tak sedikit pun bergerak mundur atau turun. Akhirnya kuterima tangan putih itu.
"Pertama, pasang badan untuk berdansa." Kiryuu-senpai menjelaskan sambil praktek. Salah satu lengannya melingkari pinggangku. Jantungku melompat tak keruan di dalam dada. Ugh. Kuharap ia tidak mendengarnya. Tenaga Kiryuu-senpai menarikku lebih dalam mendekati dadanya yang bidang. Tubuhku dan dirinya saling merapat. Jarak di antara kami musnah sudah. Belum lagi, tangan yang mengapit pinggangku dengan erat. Saat ini, tidak ada yang bisa memisahkan kami.
Dengan sabar, ia menarik tanganku dan ditaruh di salah satu pundaknya. Astaga. Wajahku panas seperti sayuran mendidih. Semoga ia tidak menyadari perubahan pada diriku ini.
"Gerakkan kakimu dengan perlahan," suruh Kiryuu-senpai. Astaga. Andai ia tahu kalau tak satu pun perintahnya bisa kumengerti. Seluruh sel otakku mendadak macet. Tak bisa berpikir jernih. Seluruh sendi tubuhku seperti berkarat. Susah sekali untuk digerakkan. Sekalinya bisa, gemetaran sekali. Memalukan. Ada apa sih denganku ini? Kenapa aku berdebar-debar begini? Mungkinkah aku …
Pandanganku naik ke atas, ke wajah seorang pemuda berambut putih keperakan yang sedang menjadi pasangan dansaku. Dalam gerakan yang lembut, wajahnya tak terlalu samar. Aku bisa dengan jelas melihat wajahnya. Dalam keremangan yang diterangi sinar bulan begini, Kiryuu-senpai kelihatan tampan sekali.
Kedua mata sewarna amethyst itu terpejam, senyum tipis terkembang di wajahnya. Ia kelihatan seperti orang yang tertidur. Damai dan tenang.
"Kenapa, Kiryuu-senpai?" tanyaku.
"Aku bahagia," jawabnya singkat.
Aku menelengkan kepala dengan bingung. "Bahagia kenapa?"
"Aku tidak pernah bermimpi bisa berdansa denganmu. Tak kusangka hari ini akhirnya tiba juga." Sekali lagi ia mengucapkan kalimat romantis, rasanya aku akan pingsan. Saat ini saja, jantungku melompat-lompat bahagia. Meski sudah kutahan sekuat tenaga, namun senyum itu mengalahkan segala pertahananku.
"Bermimpi?" ulangku dengan nada bahagia yang sama sekali tak ditutup-tutupi. "Kiryuu-senpai begitu inginnya berdansa denganku?"
Ia hanya memberikan satu senyum misterius sebagai jawaban. Lalu, baru kusadari, alunan lagu yang terdengar di dalam sangat berbeda dengan irama dansa kami.
"Se-Senpai, kita tak berdansa dengan nada di dalam sana," ujarku mengingatkan.
"Memang." Kiryuu-senpai mengakui. "Aku ingin berdansa pelan-pelan denganmu."
Baiklah. Tubuhku, silakan pingsan kapan saja!
"Yuuki."
"Apa?"
"Kau tidak perlu memanggilku dengan panggilan 'senpai'." Mataku langsung terbuka selebar-lebarnya.
"Kenapa?" Oh. Ini bukan seperti yang kubayangkan kan? Tidak mungkin jawabannya untuk mengakrabkan suasana seperti yang biasa kulihat di film-film roman picisan lebay itu kan?
"Karena kita seumuran."
Itu malah lebih mengagetkan lagi. "Seumuran? Jadi, senpai juga—
"Umurku sama denganmu. Kalau aku di Day Class, aku juga masih kelas satu," terangnya dengan wajah polos.
"Ta-Tapi Senpai kan ke-ketua asrama?" Ucapanku mendadak berubah gagap.
"Status keluarga, tidak lebih," jawabnya. Oh iya. Kiryuu-senpai kan berasal dari keluarga Kiryuu, yang menurut ayah adalah keluarga pureblood terkuat dan tertua. Mereka mewarisi kekuatan kuno bangsa vampir generasi pertama. Keluarga yang ditakuti. Bila mempertimbangkan hal itu, wajar saja bila Kiryuu-senpai menjadi ketua asrama, meskipun masih seumuran denganku.
"Baiklah, Kiryuu-kun!" jawabku. Dan wajah bahagia itu kembali terlihat.
Meski kedua kakiku sudah lemas dan tenagaku menguap, malam ini menjadi malam paling luar biasa dalam hidupku. Paling indah. Tak akan pernah kulupakan apa yang terjadi malam ini.
.
.
.
Author: "Fiuh. Akhirnya chapter ini selesai juga."
Hikari: "Ngebut nih ceritanya?"
Author: "Bukan begitu. Cuma bayar hutang saja karena hampir tiga bulan tidak update."
Hikari: "Ya sudah, tapi apa-apaan isi chapter ini?" (blushed)
Author: "Romantis sekali ya?" (Ikut-ikutan tersipu)
Hikari: "Kau kebanyakan nonton G*S ya?"
Author: "Kebanyakan baca novel teenlit, tepatnya. Ya sudahlah, biarkan otakku yang sedang error ini mengarang bagian romance seakut-akutnya." (membayangkan bagian-bagian romance di chapter selanjutnya)
Hikari: "Nah semuanya, silakan tinggalkan review kalian!"
