A/N: YAHAAA! Kalian yang pingin PruCan bakil lagi, silakan scroll terus hingga inti cerita! OK?
Don't Like? Don't Read.
.
.
Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo.
Pairing: PrusCan, USUK and other pairing (ini OTP saya, kalau tidak suka jangan dibaca) , Slight SpaMano, GerIta and NetherIndo(ini juga OTP)
Summary: Dimana ketika hati itu terkoyak. Dimana saat kau bawa diri itu menghilang. Kupastikan aku akan menemukanmu. Karena tanpa kau sadari, benang merah yang selalu menghubungkan kita lah yang membawaku ketempat mu.
.
.
Red Thread
(...Tak akan pupus... meski langit dan bumi menjadi pembatasnya...)
Original Story by Rin
Disclaimer © Hidekaz Himaruya
Family, Friendship, Hurt/Comfort, Romance
Rated M
.
Chapter. 10
.
"DIMANA KAU IVAN?" derap itu semakin mendekat dan seketika helai kembar yang tadinya tengah tertutup didobrak dengan keras hingga hancur. Pemilik suara itu menatap marah yang terpancar dari kedua rubynya yang berkilat pada Violet yang kini tengah menatapnya dengan senyum riang sekaligus dingin disaat bersamaan disebuah ruang dengan cahaya minim yang hanya berasal dari api lilin dan hangat unggun yang menyala, tak ada hal berarti lainnya selain seseorang yang ia kira sudah tak bernyawa lagi yang tengah terduduk pada salah satu kursi di ruang yang disominasi oleh antik kelam dari perabotannya. Irisnya berputar, seketika menangkap sosok seseorang yang sangat ia rindukan, tergolek dalam ikatan yang membelenggunya.
"Da, akhirnya kamu datang Gil-gil."sambut pria Russia itu senang.
"Apa maksudmu...? desisnya.
"Da?"
"APA YANG KAU INGINKAN IVAN?" raung marah meluncur dari kedua belah bibir yang tengah mendesiskan tanya. "Apa maksud perbuatanmu dengan menusuk Alfred dan menculik Matthew?"
Violet milik Ivan berkilat tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh sepupu jauhnya itu. "Kenapa Gil-gil marah? Aku hanya ingin Gil-gil senang bertemu dengan Matthew." Nada polos tak mau disalahkan layaknya anak kecil terlantun. Wajah pria Russian itu sendu, sebelum akhirnya kilat marah tersirat pada permata yang menghias perawakan wajahnya. "Aku hanya ingin kau senang."
BUAGH!
Selantun pukulan menghantam dada pria albino itu hingga ia jatuh terduduk dilantai. Violet miliknya menatap rendah pada pemuda yang tengah bersujud dihadapannya itu. Sebelum violetnya itu melirik pada violet lain yang tengah terperangah menghadapi semua yang tertangkap retinanya. Dimana kini iris ungu miliknya membelalak lebar saat kaki itu membawa tubuh sang Russian semakin mendekat dalam setiap langkahnya.
"Eggh!" erangnya ketika tangan itu menjabak dirty blonde miliknya paksa. Kasar ia bawa tubuh itu meninggalkan tempat dimana tadi ia terbaring, kepada pemuda albino yang sudah berdiri dengan marah pada ruby melihat apa yang dilakukan Ivan pada Matthew.
"Lepaskan dia Ivan!"
Tak ada jawab dari pemilik nama yang tersebut, hanya tatap dingin tanpa senyum yang merekah seperti biasa pada wajah itu. "Kau mengatakan hal yang sama dengan Alfred." Ucapnya dengan dingin yang menusuk. "Bukankah kau selalu mengatakan padaku kalau kau ingin bertemu dengannya?"
"..."
Sadarlah Gilbert kenapa Ivan melakukan semua ini, semata-mata hanya ingin mewujudkan apa yang pernah dikatakannya pada pria itu. Ivan sangatlah polos dan kepolosannya itu membuatnya tidak dapat menyadari benar salah apa yang tengah dirinya lakukan hingga menodai tangannya sendiri. Tapi...
"... bukankah sudah kukatakan..." tubuhnya menerjang maju Ivan dan melepaskan cengkram tangan sang Russian pada sanderanya dan balik mencengkram kerah baju yang tengah tertumpuk oleh syal yang terbelit pada leher putih itu, menariknya hingga Violet itu sejajar dengan ruby miliknya. "Aku tak akan membiarkanmu membuatnya menangis!"
Selayang tepis menghantam sebilah tangan yang mencengkram leher pemuda itu. Dan selayang tinju kembali melayang, membalas tepis yang dilakukan oleh pria Russian itu padanya.
BUAGH!
Telak mengena hingga Ivan terjungkal kebelakang berdaratkan pada sebuah kayu yang membingkai kaca hingga pecah berkeping menjadi serpih, menjatuhkan suatu kaki besi tempat dimana penghasil sinar pada ruangan itu limbung terjatuh sebelum akhirnya merembet melebar melalap apapun yang dihadapannya, membuat cahaya itu makin besar tercipta. Membuat tubuh itu terkurung dalam lingkaran api yang semakin meraung ganas meminta persembahan lebih.
Ruby itu berbalik, berlari pada Violet yang tengah terbaring dalam belenggu dengan tatap yang sangat ia rindukan. Membungkuk perlahan dan melepaskan belenggu yang berbekas noda merah pada perhubungan kaki dan tangannya. Entah apa arti sorot mata yang kini ditunjukkan padanya, tapi buncah bahagia karena pemuda itu tidak menghindarinya kini.
Tanpa bisa ia tahan. Tanpa ia bisa melawan. Tubuh dan otaknya bekerja sama, merengkuh mungil kecil itu dalam dekapnya.
"Matthew..." bisiknya dengan senyum bahagia sekaligus sedih merasa getar kecil pada tubuh yang tengah dalam dekapannya. Satu perbuatan nekat kembali ia lakukan, tanpa peduli konsekuensi bila pemuda itu akan semakin membencinya. Tapi, perasaan ingin bertemu dengannya semakin tak terbendung hingga ia nekat memeluk dirinya yang sudah terang-terangan menolak kehadirannya disisinya.
Ia rindu dengan Violet yang selalu memancarkan hangat.
Bukan dengan tatap dingin yang berkilat disana.
Ia ingin kembali melihat lukis senyum malaikat itu.
Bukan maki yang menolak kehadirannya.
Ia ingin bersamanya.
Bukan menjauhinya.
Dan kenyataannya ego untuk memilikinya masih ada meski sekian tahun telah terhapus oleh waktu.
"..maaf." bisiknya tepat ditelinga itu, meski begitu ia tetap dalam posisinya, merengkuh tubuh itu menikmati wangi yang telah lama tak dihirupnya. Getar pada tubuh itu masih terasa, tapi tak sekalipun ada tanda penolakan yang direaksikan dari tubuh itu. Tidak ada. Selain bahwa kenyataan, violet itu kembali meretakkan kaca dengan mengalirkan bulir air dari permatanya. Dan bibirnya terus melantunkan pertanyaan yang sama berulang-ulang ditengah deru api yang makin meraung.
"Kenapa...?"
Rengkuh itu makin kuat, menenggelamkan isak tangis yang terdengar.
"...kenapa?"
Terus mengalir berulang-ulang tanpa jawab yang pasti.
"Kenapa?"
Tanya yang semakin mengeras akan emosi yang tertumpah. Meski bergetar, tapi tangan itu terulur memeluk balik tubuh yang mendekapnya. Diam yang menjadi emas, tapi sekarang saatnya mengatakan hal yang telah menjadi alasan semua perlakuanku padamu. "Ich liebe dich, Matthew." Yang terucap dalam suatu bahasa asing yang memiliki satu makna pasti dalam katanya. Yang dimana kata itu pernah ia ingin sampaikan pada pemuda yang tengah menyampaikan kata itu padanya.
Isak itu masih terdengar. Namun getar tubuh itu kini terhenti seperti sihir mendengar ketulusan hati yang telah terucap. Ditengah panas kobar api, violet itu tertutup menikmati semua emosi yang sesungguhnya ia rindukan. Sentuh hangat ketika mereka masih bersama dengan sungging senyum yang menghias mereka yang telah terikat oleh seutas benang kasat yang kuat mengikat menghubungkan mereka tanpa mereka sadari. Tenggelam dalam kasih hangat dari dekap yang menenangkan.
Violet itu terbuka. Merah menghiasi perak yang sudah ternoda. Dengan senyum sadis yang tersungging. Berdiri tegap dibelakang menatap mereka dengan sebilah senjata ditangannya.
BUAGH!
Satu hantaman melayang pada perak yang serupa dengannya. Hingga merah menodai pada perak pada dia yang kini meringkuk menahan sakit luar biasa yang menyerang kepalanya. "Ukkhh..." ringisnya dalam dera sakit yang diderita.
BUAGH!
Tanpa peringatan apapun, satu hantam melayang kembali pada punggung dengan sebilah besi yang seperti pipa.
BUAGH!
Satu lagi menghajar wajahnya.
BUAGH!
Lagi.
BUAGH!
Lagi.
"GILBERT!"Jerit ngeri dikumanangkan melihat pemandangan dimana orang yang mencintainya dipukuli membabi buta.
"Argh!"rintihnya meluncur saat sebuah benda besar menekan kasar dadanya. Nafasnya tersenggal menahan sakit dan sesak yang menderanya. Dibawah tatap dingin yang memandangnya. Mata itu diam dan marah menjadi sirat. Dia sama saja. Sama saja dengan mereka.
"Sama seperti mereka."
Sekelebat bayang akan orang-orang yang pernah memenuhi masa lalunya muncul satu persatu.
"ARGH!"
"Meninggalkanku."
Yang pernah bersamanya.
"Ugh..."
Yang pernah menyayanginya.
"Sendiri."
Yang pernah mencintainya.
" –Ivan."
.
Deg
.
Grep.
Jenjang tangan itu terulur. Mendekap dia yang lebih besa darinya. Menahan diri itu agar tidak melanjutkan kembali perbuatannya. Violet itu berbalik menoleh menatap pada pirang kecil dengan pandang violet yang serupa dengannya.
Yang dimana tatap itu seperti 'dia'.
"Hentikan... kumohon." Bisiknya memlohon pada pria besar yang tengah dalam dekapnya yang terdiam seakan merespon kata permohonan yang meluncur dari mungil merah yang tersembunyi dibalik punggungnya.
"Yao..."
Sang kekasih yang telah berpulang. Ia sebut nama itu dalam bisik. Kenappa wajah itu sekilas mirip dengannya?
Diam dalam bisu. Kakinya yang sempat melukai seseorang tengah kembali berpijak pada bumi. Tangan mungil yang tadi mendekapnya kini tengah berlari pada dia yang telah dilukai tergeletak pada dingin lantai.
"Gil... Gilbert." Panggilnya parau.
Permata darah yang sempat tertutup mengerjap. Erang nyeri saat kepalanya kembali dilanda dera karena luka yang mengotori wajah dan rambut keperakannya dengan warna serupa dengan permata miliknya yang lebih pekat. Retina itu mendapati wajah yang sangat ia sukai mengalirkan bulir sedih akan cemas yang tergambar dalam violet yang menatap dirinya. Mengukir senyum. Jarinya terangkat, terulur demi menghapus sisa jejak air yang mengalir. "Aku tidak apa-apa Matt." Ucapnya.
Jemari mungil itu kembali berbalik menggenggam tangan besar yang menyentuh lembut wajahnya. Dalam isak yang masih terdengar. Dirinya kembali mempertanyakan perasaannya sendiri. Dimana seluncur kalimat yang seperti nasihat agar dia bisa memilih dan menyadari keinginan sesungguhnya terngiang dalam batin.
.
" –...Kau masih mencintainya, 'kan?"
.
Kepalanya merunduk perlahan. Memperkecil jarak dimana bibir itu berada.
.
"Bila pernah mencintai seseorang, terkadang kita akan sulit melupakannya, meski semua itu hampir habis dimakan waktu."
.
Mungkin memang benar.
.
"... sangat sulit."
.
Mungkin jauh dalam lubuk hati yang tertutupi oleh awan kelabu akan kekecewaan yang didapatinya dimasa lalu, sesungguhnya...
Satu sentuh dibelah kedua bibir yang bersatu. Mengikat kembali erat benang merah yang sempat merenggang.
.
'Aku masih mencintaimu.'
.
.
Emerald itu hanya dapat terpaku, menatapi dengan permatanya orang-orang erseragam dinas berusaha menghentikan amuk kuda merah yang melalap sebuah kediaman bagai istana dihadapannya. hanya bisa menatap kosong dimana genggam tangannya mencengkram sebuah benda yang berisi sebuah pesan akan keberadaan adik yang sanagt mereka sayangi.
.
.
"Ma- Matt..?" tanya akan kejut yang tersurat, mendapati dimana pemuda American diatasnya tengah menciumnya, meski sesaat. Mendengar respon yang terucap, Matthew sontak mengangkat wajahnya, memalingkan rona merah yang tergambar jelas dari tangkap cahaya permata Ruby tersebut. "Ma-ma..."
BRAKHH!
Bongkah kayu yang dimakan api, menyadarkan mereka akan situasi darurat yang tengah berlangsung. Tanpa mereka sadari, api yang tadinya hanya setitik kecil tengah meluas mengelilingi mereka dalam panas yang menyesakkan.
"...ukhh!" tertatih, tubuh yang tersurat luka berusaha berdiri dengan bertumpu pada kedua kakinya yang serasa mati, sebelum sakit yang sangat mendera lengannya. "Gi –Gil...tanganmu?"
"Ya... kelihatannya patah. Tapi, tidak apa-apa. Kita harus cepat keluar." Tuturnya memegangi lengan yang kini serasa ditusuk oleh nyeri yang luar biasa. "Ah." Violet itu menyadari sesuatau.
"Gil... kita tidak boleh meninggalkan Ivan." Ucapnya ketika tahu bahwa pemuda Russia itu tidak ada lagi didekat mereka. Melainkan tengah berdiri diseberang api yang membara, disamping sebuah kursi yang terduduki oleh tubuh kaku tak bernyawa, tersenyum menatap malam yang kini terbakar oleh siluet merah kuning disekelilingnya.
"IVAN!"
"..."
Tidak ada respon dari pemuda itu.
"Ivan! –uhuk- cepat pergi!" serunya ditengah kabut hitam yang menyesakkan dada dan penglihatan.
Seulas senyum terkembang pada mereka yang memanggilnya. "Pergilah duluan Gil. Aku ingin menemani Yao-yao saja." Ucapnya senang ketika menyebut nama sang kekasih.
"Jangan bercanda, bodoh! Cepat kem –...!"
BRAGH!
Api yang mengganas mulai melahap habis langit-langit, menjatuhkan salah satunya hingga menghapus pandang mereka pada dia yang terkurung dalam kobar api. Menghapus jarak serta komunikasi diantara mereka.
Melihat sudah tidak mungkin lagi, dan percuma saja, geram dirinya membawa Violet yang masih menatap sesuatu yang menghilang tertelan amuk panas yang menari.
"Kita harus lari, Matt!" kata yang terucap sebelum akhirnya mereka meninggalkan eksitensi yang mencari kematiannya sendiri.
Deru api yang berkobar, menjadi melodi penjemput pada tubuh yang berdiri dihadapan mayat yang pada akhirnya termakan api jua. Wajah tersenyum lembut yang ditunjukkan khusus untuk orang yang paling dikasihinya. "Aku akan bersama Yao-yao. Dengan begitu kita tidak akan sendiri, da."
Bisik itu semakin tertelan, dalam amuk meraung yang memenuhi sunyinya malam dikala bulan bersinar.
.
.
.
BRAK! BRAKH!
Satu persatu bongkah-bongkah besar yang terlahap merah membara jatuh dari langit-langit yang disusunnya. Menghalangi langkah mereka yang ingin menyelamatkan hidup dalam kobar api. Dalam penglihatan minim akibat terang cahaya yang terlalu menyilaukan, mata mereka berusaha mencari jalan keluar lain dimana jalan yang sesungguhnya sudah terhalang api, yang gjatuh dari reruntuhan langit diatas.
"Uhuk, uhuk!" sesak yang semakin melanda akibat menghisap karbon monoksida berlebihan mengharuskan mereka segera keluar dari kepung api disekeliling mereka.
"Matt!" satu suara yang menyebut nama pemuda violet itu membuatnya memalingkan wajah pada asal suara.
Byur!
Kuyup mengalir dari sekujur tubuhnya, menyadari dirinya tengah disiram air secara tiba-tiba membuat dirinya menyeru kesal pada pelaku penyiraman tersebut. "GIL! Apa-apaan?"
Pluk.
Kini selembar kain merah basah yang tadinya terpasang pada tubuh kekasihnya telah berpindah tempat menutupi dirinya. "Cara kuno." Ucapnya menyeringai. "Setidaknya dengan ini kau tidak akan terbakar api dan terluka oleh pecahan kaca."
"Ka –kaca? Apa maksud -..."
Sebelah tangan yang lebih kekar darinya memeluknya secara tiba- tiba. Membawanya berlari kearah depan jendela yang belum terbakar api. Mengertilah sekarang apa maksud Gilbert melakuakan ini padanya.
"Gi-Gil... kita tidak bi-...!" kata itu tak selesai saat wajahnya didekap erat dalam peluk yang menenggelamkan dada bidang pemuda Albino tersebut setelah melempar satu kecup kecil pada kening. "Percaya padaku."
.
.
"Sudah tidak bisa lagi! Apinya tidak mau padam!"
"Apa? Masih ada orang didalam!"
"Bagaimana? Kita tidak bisa masuk!"
Jerit panik yang saling bersahutan dari para petugas berseragam yang mempertaruhkan jabatan pekerjaan mereka dalam menyelamatkan jiwa yang terjebak dalam bahaya.
Arthur hanya bisa menggeram mendengar ketidak bergunaan orang-orang itu. Bukankah tugas mereka adalah menyelamatkan jiwa seseorang?
"FUCK! SHIT!" makinya pada dirinya yang tidak berguna disaat seperti ini. Dimana nyawa seorang adik yang sangat berharga bagi dirinya dan Alfred tengah tejebak dalam kungkung api yang menggila. "Brengsek! Seseorang tolong adikku! Dia masih didalam!" yang hanya didapat jerit pasrah karena tidak memungkinkan mereka untuk masuk kedalam dimana rumah yang bagai istana itu hampir ambruk karenanya.
PRANGGG!
Ditengah ribut yang memekakkan telinga, sebuah suara pecah kaca tertangkap daun telinganya. Ini bukan suara kaca karena kebakaran? Pikirnya saat itu.
Ia pun berlari meninggalkan kerumunan orang-orang yang sekedar menjadi penonton disana. Mencari dimana asal suara itu berasal. Sekeliling kediaman luas itu ia tapaki, matanya melihat berkeliling mencari satu harap yang menjadi do'a dalam hati. Dan dimana kaki itu berhenti melangkah, mendapati siluet dua orang penuh luka yang tak sadarkan diri diantara semak-semak hijau yang ia lewati.
Dimana mereka tertidur damai dalam dekap erat yang tak akan terpisah lagi.
.
.
TBC
.
.
A/N:gimana? Puas? Hohohoho. Bagi yang keberatan ceritanya jadi begini silakan komen sepuas-puasnya, OK? * lagi demam OK nih *apaan tuh*?*
For Reviewers:
Aiko-chan Lummiera: ebuset, banyak emet permintaannya. Maaf tapi bila saya sudah fokus pada satu cerita, sebisa mungkin saya ingin menyelesaikan cerita itu dulu baru bisa bikin cerita baru. Memang tak puas saya publish dua hari sekali? Sequel? Wah saya belum mikirin itu. Tapi kalau lemon *smirk* silakan tunggu chap depan! *PLAK
RikuSena: tenang, tenang, chap ini matt balik ama gil kok, puas kan? Ya udah, dah update kok *PLAK
Yumemiru Reirin: memang anda berpikir ceritanya jadi seperti apa?
Zubei: ehhhh? EsPrus? Masa sih? Aku gak sadar lo. *PLAK. Soalnya menurutku itu hanya sekedar hubungan batin antara sahabat saja sehingga tonio bisa ngerti perasaan gilbo yang gelisah.
Jawaban reviewnya pada gak nyambung ya? Maklum lah saya juga lagi gak nyambung soalnya. Langsung saja ya...
REVIEW?
