Deal To Love

.

Park Jimin / Min Yoongi

And others

Boys Love

.

Happy Reading~

.

.

Chapter 10

.

.

Sepasang mata yang telah terpejam untuk beberapa jam yang lalu berlahan-lahan mulai mengerjab kecil. Menandakan bahwa seorang Min Yoongi telah terjaga dari tidurnya yang entah mengapa begitu lelap semalam. Dan hal pertama yang ia dapati ketika membuka mata adalah sebuah dada cukup bidang berada tepat di depan wajahnya.

Untuk beberapa detik Yoongi hanya terpaku. Mulai menyadari bahwa semalam ia memang tak tidur sendirian di atas ranjang yang sedang ia tempati kini. Melainkan ia harus berbagi tempat dengan orang lain. Bergemul berdua di bawah selimut yang sama.

Dan sialnya orang itu adalah Park Jimin.

Yoongi berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya kembali saat dirasanya ia mulai melamun dengan pikiran yang melayang-layang. Kepalanya mendongak dan apa yang dilihatnya sukses membuatnya merona. Serta debaran jantung yang semakin kencang menghentak dadanya saat mendapati wajah Jimin begitu dekat dengannya. Lagi dan lagi.

Yoongi mencoba untuk sedikit menggeliat sebelum ia berniat menuruni ranjang. Namun hal tersebut harus ia urungkan saat ia merasakan sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya. Membuatnya harus bergerak berlahan untuk mengintip ke dalam selimut, dan apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi. Jimin benar-benar tengah memeluknya. Ah, apakah semalaman posisi mereka seperti ini?

Telunjuknya terangkat untuk menusuk salah satu pipi milik Jimin. Namun tak ada tanda-tanda bahwa pemuda tersebut akan terbangun. Bahkan sekedar lenguhan malas pun tak keluar dari bibirnya. Kedua matanya masih setia terpejam erat. Terlihat begitu damai hingga Yoongi tak tega untuk membangunkannya.

Yoongi menghembuskan nafasnya berlahan. Pelan-pelan ia mulai menyingkap selimut dan mengangkat lengan Jimin yang tak mau lepas dari pinggangnya. Hingga sebuah nafas lega terhembus olehnya saat ia berhasil memindahkan lengan Jimin. Membuat Jimin menggeliat lalu membalik posisi tidurnya.

Segera saja Yoongi menuruni ranjang. Membuat sepasang telapak kakinya bersentuhan dengan lantai kayu yang dingin. Yoongi lalu berdiri dan merapikan selimut yang masih melapisi tubuh Jimin, sebelum ia beranjak untuk membuka gorden yang masih menutupi jendela.

Kedua tangannya mendorong pintu kaca yang langsung membawanya ke balkon kamar. Hawa dingin khas pagi hari di pedasaan langsung menyambutnya. Begitu dingin di kulitnya namun terasa sangat segar di pernafasannya.

Yoongi semakin berjalan maju, hingga ia sampai pada pagar pembatas. Terpukau dengan apa yang kini tengah dilihatnya. Bagaimana keindahan matahari yang baru saja terbit terbingkai awan yang masih sedikit kemerahan. Dan hamparan ilalang hijau penuh bunga dandelion berembun di bawah sana.

Rasanya Yoongi tak ingat bahwa tempat ini begitu indah semalam. Samar-samar Yoongi juga dapat mendengar suara gemericik air jenih dari kejauhan, yang ia yakini sebagai suara air terjun yang sempat diberi tahukan oleh sang resepsionis semalam.

.

Entah sudah berapa lama Yoongi hanya berdiri memandangi apa yang tersaji di hadapannya. Yoongi rasa ia terlalu hanyut pada keindahan alam di depannya kini, hingga tak sadar bahwa sudah berpuluh-puluh menit berlalu dan Jimin dengan tiba-tiba telah terbangun dan berada tepat di belakangnya.

"Sudah pagi, ya?"

Yoongi berjengit di tempat. Berbalik untuk mendapati Jimin yang tengah menguap lebar seraya mengusap sebelah matanya yang masih setengah terbuka.

Yoongi hanya mengangguk beberapa kali untuk merespon pertanyaan Jimin. Sebelum akhirnya meninggalkan Jimin untuk mandi tanpa sepatah katapun terucap darinya.

.

.

Tepat saat Jimin dan Yoongi keluar dari pondok penginapan, terlihat Namjoon yang sudah berada di depan pondok. Bersandar pada kap mobilnya lalu memberi sebuah lambaian pada mereka berdua.

Jimin dapat melihat Namjoon yang menaikkan sebelah alis di balik kacamata hitamnya sebelum Namjoon melepaskannya. Dan sebuah senyum lebar tercipta di bibir Namjoon menandakan sebuah kepuasaan.

"Tidur di sini semalam?" tanya Namjoon bermaksud menggoda. Matanya bergerak memperhatikan pondok yang mulai ramai dengan pasangan-pasangan yang keluar dari dalam sana. Membuat sebuah decihan lolos dari bibir Jimin. "Menurutmu?"

"Ahaha ayolah santai saja. Yoongi, Jimin tidak berbuat aneh-aneh padamu kan?"

Yoongi yang diam saja di samping Jimin tiba-tiba merasa seperti tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan Namjoon.

Aneh-aneh? Kalau Jimin memeluknya semalaman itu termasuk aneh-aneh juga bukan?

Lagi-lagi kedua pipi Yoongi tak bisa diselamatkan dari serangan rona merah dan kenaikan suhu hingga berderajat-derajat itu.

Sebuah pukulan ringan mendarat tepat di bahu kanan Namjoon. Membuat laki-laki itu malah tertawa terbahak alih-alih mengerang kesakitan.

"Bicara apa kau hyung? Sudah ayo kita cepat-cepat ke rumah orangtuamu, aku sudah lapar. Oh, ya dan jangan lupa suruh orang untuk memperbaiki mobilku." Ucap Jimin tidak sabaran. Kemudian langsung membuka pintu penumpang di samping kemudi dan memasukinya. Sedangkan Namjoon hanya menggelengkan kepalanya, lalu membuka pintu penumpang lain untuk Yoongi.

.

.

Namjoon segera memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah yang luas milik kedua orangtuanya. Di sana juga sudah tampak beberapa mobil yang telah terparkir rapi memenuhi halaman.

Mereka bertiga segera turun dari mobil setelah Namjoon mematikan mesin mobilnya. Yoongi hanya dapat mengekor di belakang Jimin dan Namjoon yang berjalan di depannya. Memasuki sebuah rumah yang nampak masih tradisional dan begitu besar. Dan tentunya begitu asing untuknya.

Yoongi membawa pandangannya berkeliling. Suasana tenang dan nyaman begitu kentara saat Yoongi baru menginjakkan kakinya di sebuah ruangan yang diyakininya sebagai ruang keluarga.

Namun langkahnya mengitari ruang demi ruang rumah orangtua Namjoon harus terhenti saat dua orang yang sedari tadi diikutinya telah lebih dulu berhenti berjalan. Namjoon lalu berbalik untuk menatapnya lalu beralih pada Jimin.

"Letakkan dulu tas kalian di kamar tamu, ya. Setelah itu segera pergi ke halaman belakang, acaranya sudah dimulai sepuluh menit yang lalu." Kata Namjoon. Jari telunjuknya menunjuk ke sebuah pintu kamar berwarna cokelat tua di samping kanannya, sebelum akhirnya pergi lebih dulu menuju halaman belakang.

Jimin langsung membuka pintu kamar yang sudah sangat tak asing lagi baginya. Mengamati kamar tersebut dalam beberapa detik untuk memastikan apakah ada perubahan di sana.

Ia mengangguk pelan beberapa kali saat tak mendapati perubahan apapun di kamar yang sudah sangat sering ia tempati itu. Kecuali dengan gorden dan seprai yang telah diganti dari terakhir kali ia menempatinya bulan lalu.

Jimin meletakkan ranselnya di atas ranjang dan menoleh pada Yoongi yang hanya berdiri mematung di belakangnya. Asyik mengamati segala sesuatu yang ada di dalam kamar.

"Taruh tasmu di kursi saja." Ujarnya pada Yoongi. Yang segera diangguki dan dikerjakan oleh Yoongi.

Kemudian mereka memeriksa penampilan mereka untuk yang terakhir kalinya, sebelum melangkah keluar ketika merasa sudah siap. Jimin segera saja meraih tangan Yoongi untuk digenggamnya. Menuntun Yoongi ke arah halaman belakang rumah keluarga Kim yang sudah sangat dihafalnya.

"Kenapa harus gandengan sih? Jangan sok bertingkah baik denganku." Protes Yoongi. Mengangkat tangan mereka yang saling bertautan dan mengoyang-goyangkannya di depan wajah Jimin. Dengan menampilkan ekspresi wajah yang mati-matian ia buat seperti tengah kesal. Padahal yang ia rasakan adalah kebalikannya.

Jimin segera menurunkan tangan mereka. Menatap Yoongi yang kini tengah berdecak. "Sudah jangan protes. Oke?"

Yoongi hanya memutar bola matanya. Kemudian menunduk untuk menyembunyikan sebuah senyuman yang tak bisa ia tahan lagi. Dan tanpa sadar jari-jarinya megerat di sela-sela jemari tangan Jimin. Membuat Jimin diam-diam juga tersenyum melihat sikap Yoongi yang diakuinya menggemaskan itu.

Tak sampai hingga 2 menit, Yoongi sudah dapat melihat betapa ramainya halaman belakang rumah itu. Dan entah mengapa pandangan mereka semua tiba-tiba tertuju pada Jimin dan Yoongi yang baru saja datang untuk ikut bergabung dalam acara. Membuat Yoongi tersentak kaget dan salah tingkah karena harus menjadi pusat perhatian orang-orang yang bahkan wajahnya tak dikenali oleh Yoongi.

Selang beberapa detik, suasana menjadi ramai kembali. Walau Yoongi dapat menangkap orang-orang tengah membicarakannya dengan Jimin. Disertai beberapa lirikan dari mereka ke arahnya. Meskipun Yoongi tahu mereka tidak bermaksud negatif, namun tetap saja Yoongi merasa gugup menjadi bahan pembicaraan.

Seorang wanita paruh baya lalu terlihat buru-buru keluar dari kerumunan. Tetapi setelahnya berjalan pelan ke arah mereka berdua dengan senyum berseri yang ia tampilkan.

"Jimin-ah, akhirnya datang juga. Ahjumma merindukanmu." Ujar wanita tersebut yang merupakan ibu Namjoon seraya memeluk Jimin erat.

"Aigoo siapa ini manis sekali, pacarmu ya? Akhirnya kau bawa pacarmu juga Jimin."

Yoongi tersenyum kikuk saat wanita tersebut tiba-tiba juga memeluknya. Dengan hati-hati ia membalas pelukan wanita tersebut sebelum melepasnya.

"Jadi siapa namanya?" tanya ibu Namjoon masih dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.

Yoongi mencoba untuk membuat senyumnya tampak sewajar mungkin sebelum menjawab, "Min Yoongi."

"Wah, manis sekali. Aduh, Jimin kau sudah mendahului Namjoon ya. Anak itu mau sampai kapan sendiri terus. Mungkin nak Yoongi mempunyai teman yang bisa dijodohkan dengan Namjoon? Yang semanis dirimu?"

Yoongi tertawa canggung mendengarnya. Yang kemudian disusul sebuah teriakan tak terima terdengar memekakkan telinga karena perkataan dari ibu Namjoon tersebut. Siapa lagi kalau bukan dari Namjoon sendiri.

Setelah sebelumnya memberi seulas senyum ramah pada Yoongi dan menyuruh mereka untuk menikmati acara, ibu Namjoon akhirnya pergi meninggalkan mereka dan kembali pada tempatnya semula bersama para kerabatnya.

Yoongi menghembuskan nafas lega selepas ibu Namjoon sudah tak lagi di hadapannya. Lalu ia segera melayangkan sebuah pukulan keras pada lengan Jimin. "Harusnya kau menjelaskan yang sebenarnya. Lihat, ahjumma itu salah paham dengan kita."

Mendengar protes dari Yoongi untuk yang kedua kalinya membuat Jimin malah tersenyum tanpa maksud yang jelas. Lengannya terangkat untuk menghentikan tangan Yoongi yang mulai memukuli bahunya. Kemudian Jimin kembali mengapit lengan Yoongi dan mendekatkan wajahnya.

"Dikira sepasang kekasih untuk sehari sepertinya tidak masalah. Lagipula, aku tahu kau juga tak keberatan."

Dan sebuah seringaian Jimin tampilkan, sebelum akhirnya menarik Yoongi untuk bergabung dengan para tamu.

.

Acara yang berlangsung memang cukup sederhana, namun itu semua tak mengurangi kehangatan saat mereka semua tengah berkumpul saat ini. Para tamu di sana juga sangat ramah pada Yoongi yang walaupun ia bukanlah salah satu anggota keluarga. Hal itu membuat Yoongi nyaman berada di sana dan menikmati acara.

Kini Yoongi mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang di pinggir halaman dengan tangan membawa segelas jus jeruk. Ia mendesah pelan saat tubuhnya telah duduk di atas bangku dengan nyaman.

Yoongi hanya sendirian disana. Karena Jimin tengah mengobrol bersama beberapa tamu yang Yoongi tak tahu siapa. Ia lebih memilih untuk duduk saja dibandingkan harus berdiri menemani Jimin mengobrolkan topik yang bahkan Yoongi tak paham. Ditambah lagi Yoongi benar-benar merasa perutnya sangat terisi penuh dan tak sanggup berdiri terlalu lama setelah menyantap beberapa makanan yang dihidangkan. Entah apa saja yang sudah dimakannya tadi. Yoongi sendiri juga tidak ingat.

Selang beberapa saat sejak ia baru mendudukkan diri di atas bangku sambil memperhatikan Jimin, pemuda yang lebih muda darinya itu tampak berjalan ke arahnya. Jimin memberikan sebuah senyum pada Yoongi sebelum akhirnya ikut duduk di sampingnya.

"Aku cari ternyata malah menyendiri disini."

Yoongi menggeleng pelan mendengar ucapan Jimin, meletakkan gelas jus di atas meja dan bersedekap. "Aku lelah dan perlu duduk." Ucapnya.

Setelah itu mereka mulai mengobrol bersama. Membicarakan ini dan itu dengan tawa yang sesekali meluncur di sela-sela obrolan mereka.

Entah mereka yang terlalu menikmati waktu berdua atau sengaja tak mempedulikan sekitar, sehingga keduanya sama sekali tak menyadari bahwa berpasang-pasang mata di sekeliling mereka tengah memperhatikan. Menjadikan mereka sebagai objek untuk ditatap dengan kagum seolah berkata bahwa mereka terlihat sangat serasi saat bersama.

Keduanya benar-benar terlalu larut dalam obrolan dengan topik random milik mereka. Dan tak sadar bahwa seorang anak perempuan tengah berjalan menghampiri tempat mereka. Dengan kedua tangan yang mendekap sebuah boneka beruang yang cukup besar.

"Jimin oppa."

Jimin berhenti tertawa saat ia mendengar sebuah suara bervolume rendah disertai tarikan pada celananya menginterupsi. Jimin menengok ke sumber suara, dan mendapati gadis kecil manis tengah menatapnya dengan tatapan polos.

"Wah, annyeong Yunji-ya."

Jimin tersenyum begitu lebar saat gadis kecil yang dipanggilnya Yunji tersebut kini memandanginya dengan berbinar. Gadis kecil itu kemudian berjalan pelan mendekati kursi lalu memanjat ke atas kursi untuk dapat duduk disana.

Jimin yang melihat Yunji tampak kesulitan segera meraih tubuh mungil gadis tersebut dan menggendongnya, lalu mendudukkan Yunji di antara dirinya dan Yoongi.

"Oppa, Yunji kangen!" Ucap gadis kecil itu. Tangan kecilnya mencoba untuk memeluk Jimin walau ia terlihat kesulitan karena ia tak melepas boneka yang masih berada dalam pelukannya.

Jimin kembali tertawa. Mengusap-usap rambut Yunji yang diikat ekor kuda dengan lembut. "Jimin oppa juga kangen Yunji, kok."

Mendengar ucapan dari Jimin membuat Yunji sontak mengangkat kepalanya untuk dapat memandangi wajah orang yang tengah dipeluknya dengan susah payah itu.

"Benarkah?"

Jimin hanya mengangguk disertai gumaman pelan. Masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.

Menyadari bahwa ada orang lain di samping kanannya, Yunji melepas pelukannya pada Jimin lalu menoleh. Gadis kecil itu memandang bingung ke arah Yoongi yang kini memberikan senyum padanya. Dengan sebuah tangan yang terangkat untuk memberikan lambaian padanya.

"H-halo."

Kerutan kecil tampak muncul di kening Yunji. Tangan kecilnya yang masih menggenggam lengan Jimin digerak-gerakkan dengan cepat.

"Oppa, dia siapa?" tanyanya penasaran.

Jimin melirik Yoongi sejenak, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan gadis itu.

"Namanya Min Yoongi. Yunji bisa memanggilnya Yoongi oppa. Dia itu–"

"Yunji-ya!"

Jimin memutus kalimatnya saat sebuah teriakan menginterupsinya. Terlihat seorang wanita tengah berjalan menghampiri mereka. Dan tak butuh waktu lama baginya untuk dapat sampai di depan kursi yang telah diisi oleh tiga orang itu.

"Mama!"

Wanita itu tersenyum pada tiga orang di hadapannya. Kemudian berniat untuk menggendong Yunji, namun hal itu harus ia urungkan karena Yunji yang mengelak darinya.

"Yunji sayang ayo sama mama. Jangan ganggu Jimin oppa terus ya." ucapnya. Kembali membujuk anaknya untuk ikut bersamanya.

Yunji tampak menggeleng. Kedua tangannya mengerat menggenggam lengan Jimin. "Yunji mau sama Jimin oppa, ma. Nanti aja ya perginya. Kan kalau Jimin oppa pulang, Yunji cuma bisa lihat Jimin oppa di tv."

"Eeh, nggak boleh."

"Emang kenapa ma?"

"Jimin oppa kan lagi sama pacarnya."

"Uhuk!"

Yoongi memukul-mukul dadanya kencang karena tersedak jus yang baru saja ia minum. Wanita di hadapannya yang merupakan ibu Yunji itu segera memegang bahu Yoongi dan mengusap-usap punggungnya pelan. "Tidak apa-apa?"

Yoongi hanya mampu mengangguk beberapa kali menanggapi pertanyaan dari ibu Yunji. Kemudian ia berucap terimakasih setelah batuknya telah mereda.

Yunji memandangi Yoongi dengan lekat. Sebelah tangannya beralih untuk menyentuh jari-jari Yoongi dan menggenggamnya. Membuat Yoongi tertunduk untuk menoleh padanya.

"Oppa ini benar pacarnya Jimin oppa?" tanya Yunji. Matanya yang polos melebar dengan kilatan ingin tahunya.

Yoongi menelan ludahnya pelan. Melirik Jimin yang tengah memberi kode untuk mengiyakan saja pertanyaan gadis kecil itu. Dan kemudian Yoongi hanya menggangguk pasrah menanggapinya.

"Begitu ya? Padahal Yunji menyukai Jimin oppa, lho. Tapi tidak apa-apa, nanti kalau Yoongi oppa menikah dengan Jimin oppa jangan lupa undang Yunji ya."

Yoongi memandangi bingung Yunji yang kini tengah tersenyum lebar ke arahnya. Lalu gadis kecil itu bangkit untuk berdiri di atas kursi. Memeluk leher Yoongi setelah sebelumnya memberikan boneka beruangnya kepada ibunya. Dan sebuah kecupan singkat tiba-tiba mendarat di pipinya.

"Yunji tunggu ya." ucap gadis itu. Sebelum akhirnya berpindah tempat ke atas gendongan ibunya dan berlalu pergi. Meninggalkan Yoongi yang sekarang malah terdiam kaget karena ucapan Yunji padanya.

"Menikah?"

Yoongi bergumam tak percaya. Tangannya menyentuh pipinya yang telah dikecup oleh Yunji. Yang kini pasti sudah sangat memerah. Tapi tiba-tiba saja ia meringis keras saat merasakan pipinya dicubit oleh seseorang. Yoongi menoleh dan mendapati Jimin tengah mencubiti kedua pipinya dengan kekehan pelan.

"Pipimu merah sekali hyung. Malu ya?"

Yoongi yang masih belum dapat sadar sepenuhnya hanya dapat memandangi Jimin dengan tatapan kosongnya, dengan bibir yang sedikit terbuka. Membuat Jimin yang melihatnya jadi merasa gemas sendiri dan makin menguatkan cubitan di kedua pipi Yoongi.

Yoongi memukul tangan Jimin untuk segera melepaskan cubitannya. Dan tangannya langsung mengelus pipinya yang telah memerah karena cubitan dari Jimin. Serta tentu saja karena rona merah yang sedari tadi sudah muncul di kedua pipinya itu.

Jimin mengeraskan tawanya dan mengelus pucuk kepala Yoongi. "Malu ya? Yunji itu masih kecil, dia tidak tahu apa yang sebenarnya ia katakan. Atau jangan-jangan, kau benar mau menikah denganku ya?"

Usapan di kedua pipi Yoongi berhenti dengan tiba-tiba ketika mendengar ocehan tidak penting dari Jimin di sampingnya. Mata kecilnya ikut membelalak semaksimal yang ia bisa. Dan tanpa disadari oleh Yoongi sendiri, sebelah tangannya sudah menekan erat dadanya. Merasakan debaran keras di dalam sana.

Sebisa mungkin Yoongi menetralkan kembali ekspresinya dan menghadap Jimin. Memasang wajah jengkel yang masih memungkinkan untuk ia buat. "Apa yang kau katakan? Diam! Berisik! Jangan Mimpi!"

Dan umpatan-umpatan tak bisa lagi Yoongi tahan untuk mengalir dengan lancarnya dari bibir kecilnya. Membuat Jimin makin gemas dan tanpa pikir panjang langsung saja meraup bibir pink segar milik Yoongi dan melumatnya pelan. Membuat Yoongi terbelalak kaget disertai suara teriakan para tamu undangan melihat perbuatan Jimin yang tiba-tiba itu.

"Park Jimin sialan! Ku bunuh kau nanti!"

Dan tentu saja itu teriakan Namjoon dari kejauhan yang menyaksikan perbuatan Jimin di tengah-tengah acara, dengan tangan yang susah payah menutupi sepasang mata milik Yunji yang berada di gendongannya.

.

.

Deal To Love

.

.

"Taehyung-ah, sudah dapat hadiahnya belum?"

"Belum nuna. Aku tidak tahu harus membeli apa."

Untuk yang kesekian kalinya Taehyung harus menghembuskan nafas beratnya. Tangannya bergerak untuk melepas masker dan snapback yang sedari tadi menutupi wajahnya, lalu ia serahkan pada seorang perempuan yang berdiri di belakangnya.

Matanya kembali menjelajahi seisi toko yang kini tengah ia kunjungi bersama kakak perempuannya. Omong-omong tentang kakaknya, kakaknya itu baru saja pulang dari Jepang untuk mengisi liburannya, sekaligus mengunjungi adiknya dan tentu saja kedua orangtuanya. Karena kakak Taehyung yang bernama Kim Jihyun itu memang tinggal di Jepang bersama kakek dan nenek mereka. Dan ia baru akan menetap di Seoul setelah lulus kuliah nanti.

Taehyung mengamati berbagai barang yang tersusun rapi di dalam rak. Begitu banyak barang yang dapat dipilihnya tetapi sampai sekarang belum juga ada yang mampu menarik perhatiannya.

Jihyun hanya bersandar pada salah satu rak sembari menunggu adiknya yang tengah mencari-cari sesuatu untuk ia berikan pada Seokjin sebagai hadiah ulang tahunnya yang tinggal menghitung hari lagi.

Selalu seperti ini. Taehyung akan benar-benar bingung dengan apa yang akan ia berikan untuk Seokjin di hari ulang tahunnya. Dan ini sudah toko kesekian yang telah ia masuki bersama kakaknya, namun sampai sekarang belum ada barang yang ia anggap cocok untuk ia berikan pada Seokjin.

"Tae, masih lama?"

Jihyun mencoba bertanya sembari memainkan snapback milik adiknya yang berada di tangannya. Kemudian memusatkan perhatiannya pada Taehyung yang masih saja sibuk berpikir di depan jajaran rak berisi barang-barang yang cukup menarik menurutnya. Tapi sepertinya tidak untuk adiknya.

Ayolah, ia sudah cukup lelah menemani adiknya ini memasuki setiap toko di pusat perbelanjaan yang besar ini. Bisa patah kakinya yang berlapis heels jika harus mengikuti Taehyung mencari barang yang bahkan Taehyung sendiri tak tahu ingin membeli apa. Padahal di depannya sana sudah berdiri rak-rak dengan barang yang bisa ia pilih salah satunya dan bisa langsung ia bungkus. Selalu saja adiknya ini membuat apapun menjadi sulit jika itu berhubungan dengan Seokjin.

Dasar, adik kecilnya memang sedang jatuh cinta.

Taehyung tidak menjawab pertanyaan kakaknya yang selalu sama setiap 5 menit sekali itu. Kedua mata Taehyung kembali menjelajahi apa saja yang dapat ditangkapnya. Hingga pandangannya terhenti pada sesuatu yang langsung mengingatkannya dengan sosok Seokjin.

Apalagi kalau bukan karakter bernama Mario Bros. Bahkan semua orang sudah tahu bahwa seorang Kim Seokjin adalah penggila karakter plumber tersebut.

Taehyung mengulurkan tangannya untuk menggapai sebuah miniatur dari Mario Bros di atas rak. Ia menatapi benda yang berada di tangannya dan menimbang-nimbang untuk membelinya atau tidak.

"Nuna, menurutmu figur Mario Bros ini cocok untuk ku berikan pada Seokjin hyung ti– tunggu..."

Jihyun mengerutkan dahinya mendengar adiknya yang malah memutus perkataannya sendiri. Dilihatnya Taehyung yang kini tengah mengaduk isi tasnya dengan terburu-buru mencari sesuatu. Hingga beberapa detik kemudian pergerakannya terhenti, bersamaan dengan tangannya yang menarik keluar secarik kertas.

Taehyung menatapi lembaran kertas di tangannya kini. Lembaran yang baru saja tadi pagi ia dapatkan di dalam hadiahnya. Berisikan sederet huruf yang selalu sama di setiap hadiah yang diterimanya. Sederet huruf yang selalu membuatnya penasaran dengan siapa sebenarnya pengirim semua hadiah yang selama ini dialamatkan padanya.

Taehyung memutar otaknya cepat. Sedikit demi sedikit ia mulai mendapatkan petunjuk siapa yang selama ini rutin mengirimkan hadiah untuknya. Rasanya, kenapa ia tak kepikiran dengan hal ini sebelumnya?

Taehyung tersenyum kecil saat dirasanya tebakannya benar-benar tepat kali ini.

"Mario, ya?" Taehyung berdesis. Melipat kertas yang digenggamnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

Taehyung memeluk box berisikan figur Mario Bros yang sedari tadi memang sudah berada di tangannya. Senyumnya merekah lebar dengan mata yang menatap kakaknya bahagia. Membuat Jihyun merasa takut jika ternyata adiknya menderita gangguan jiwa mendadak.

"Nuna, aku sudah menemukan hadiah yang cocok untuk Seokjin hyung!" Ucap Taehyung girang bersama ringisan lucunya. Kemudian berjalan meninggalkan Jihyun untuk membungkus hadiahnya di kasir.

Jihyun menghembuskan nafasnya lega mendengar ucapan adiknya. Akhirnya kata-kata yang sudah hampir 3 jam lamanya Jihyun tunggu-tunggu kini sudah diucapkan dengan mantap oleh adiknya. Kakinya mulai akan berjalan untuk menyusul Taehyung keluar dari lorong rak-rak yang entah kenapa sepi itu menuju kasir, namun sesuatu membuatnya berhenti melangkah.

Jihyun menatapi benda-benda yang berada di tangannya. Dan ia menahan nafasnya untuk beberapa detik menyadari bahwa masker dan snapback milik Taehyung masih berada pada dirinya. Dan Jihyun dapat menebak apa yang akan terjadi setelah ini...

"Astaga Taehyung oppa!"

"Itu Taehyungie!"

"Apa?! Taehyung ada disini?!"

"Wow daebak! Aku bertemu Taehyung!"

Jihyun menghembuskan nafasnya untuk yang entah keberapa kali dalam sehari ini. Ia memijat pelipisnya yang rasanya berdenyut saat mendengar teriakan super nyaring dari para penggemar Taehyung yang menangkap basah adiknya itu tengah berkeliaran di mall tanpa penyamaran sedikitpun. Dan berteriak-teriak heboh layaknya maniak.

Kembali, desahan berat Jihyun keluarkan dari bibirnya. Membuatnya berpikir bisa saja ia mengalami penuaan dini jika terus begini. Dan sepertinya ia yang harus membungkus hadiah milik Taehyung. Karena sudah pasti Taehyung kini tengah berlari ke toilet untuk menghindari kejaran para fansnya.

.

Derap langkah kaki berlapis sepatu berhak milik seorang perempuan menyusuri lantai mall yang dipenuhi dengan berpasang-pasang kaki yang menapakinya. Dengan kepala menunduk dan jari-jari menari di atas ponsel, Jihyun berjalan tanpa tentu arah mengikuti kemana saja kakinya membawanya pergi.

Jihyun mendesah lega saat satu pesan telah berhasil dikirimnya untuk Taehyung yang kini masih saja tertahan di dalam toilet, menghindari para penggemarnya yang berebutan ingin mengejar adiknya itu. Untung saja adiknya masih menyimpan beberapa benda untuk menyamar di dalam tasnya.

Ia mendongak setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjingnya. Kemudian matanya berputar melihat sekelilingnya untuk memastikan dimana dirinya sekarang, sehingga ia bisa memberitahu Taehyung dimana keberadaannya saat adiknya itu telah berhasil keluar nanti.

Dan saat Jihyun membawa pandangannya ke dalam sebuah kafe yang berada di sampingnya, ia menangkap bayangan seseorang yang terasa begitu familiar baginya. Jihyun tersenyum lebar. Menatapi seorang laki-laki yang tengah duduk termenung dari kaca jendela transparan kafe. Walaupun laki-laki tersebut memakai masker dan topi yang hampir membuat wajahnya tenggelam tak terlihat, namun Jihyun sangat yakin bahwa laki-laki itu adalah seseorang yang sangat dikenalnya.

Setelah ia mengambil ponselnya dan mengetik kembali pesan pada Taehyung –untuk memberi tahu nama kafe yang sempat diliriknya di atas pintu masuk, Jihyun segera memasuki kafe tersebut. Melangkah dengan percaya diri mendekati laki-laki yang telah diperhatikannya sejak tadi dan langsung duduk di hadapannya tanpa basa-basi.

Sadar akan orang lain yang tiba-tiba mengambil tempat di hadapannya tanpa permisi, laki-laki bermasker tersebut sontak mendongakkan kepalanya. Menatapi seorang perempuan yang muncul di hadapannya. Dan kurang dari 5 detik, laki-laki itu membelalakkan matanya dan memekik pelan.

"Jihyun!"

Jihyun hanya tersenyum senang. Menyedekapkan kedua tangan di depan dada dan bersandar dengan nyaman di kursi.

"Hai, Seokjin. Lama sekali tidak bertemu ya." ucap Jihyun.

Laki-laki yang tak lain adalah Seokjin itu sontak membuka maskernya dan membiarkannya menggantung di bawah dagu. Matanya masih lekat memandangi Jihyun di hadapannya.

"Kapan kau pulang? Jahat sekali tidak memberi tahuku. Ku pikir selama ini kita teman." Seokjin merengek. Membuat Jihyun rasanya mual seketika melihat ekspresi palsu pada wajah Seokjin yang sangat tidak pantas di matanya.

"Tolong jangan bertingkah seperti itu. Aku muak."

Seokjin meringis mendengarnya. Menampilkan raut sakit hati pura-puranya sambil memegang dadanya. "Jahat sekali."

Jihyun memutar bola matanya. "Jahat mana dengan kau Seokjin?" tanya Jihyun tanpa basa-basi. Mulai menajamkan tatapannya kepada laki-laki di hadapannya.

Seokjin menurunkan tangannya dengan dahi berkerut. Ia menyudahi acara bercandanya dan menanggapi Jihyun. "Apa maksudmu?"

Sebuah decakan terdengar keluar dari kedua belah bibir berlapis lipbalm milik Jihyun. Ia kemudian menegakkan tubuhnya dan menempatkan kedua tangannya yang bertaut di atas meja.

"Kau tahu, aku pulang kemari karena adikku terus menangis saat meneleponku sejak seminggu yang lalu. Dan saat aku tanya apa masalahnya, dia bilang kau menganggap ungkapan perasaannya hanya candaan. Kau tahu kan Seokjin dia sangat menyukaimu."

Seokjin terdiam mendengar penjelasan dari Jihyun. Membiarkan perempuan itu meraih minuman yang belum tersentuh olehnya di atas meja. Seokjin berdehem sedikit keras. Mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa tak begitu menyenangkan.

"Aku tahu Jihyun-ah." Ucap Seokjin pelan. "Tahu sekali"

Jihyun masih menatap Seokjin. Namun dengan tatapan yang telah ia lembutkan. Kemudian menghela nafas sejenak. "Aku tahu kau juga menyukai Taehyung, Seokjin. Kenapa tidak kau terima saja pernyataan adikku itu?"

Seokjin dapat melihat pancaran kesedihan dari kedua mata Jihyun. Seokjin tahu Jihyun sangat menyayangi Taehyung. Dan Jihyun pasti tidak akan membiarkan Seokjin begitu saja, apalagi telah membuat Taehyung menangis karena ulahnya. Sekalipun Seokjin adalah sahabatnya sendiri.

Dengan satu tarikan nafas dan membuangnya, Seokjin kemudian membuka mulutnya. "Aku punya alasan, Jihyun-ah."

Dan tepat saat kalimat tersebut terlontar dari mulut Seokjin, mereka berdua merasakan seseorang tengah berjalan ke arah mereka. Dan setelah itu, sebuah suara seketika menginterupsi dan membuat mereka terdiam seketika.

"Jihyun nuna. Ah, S-Seokjin hyung?"

Seokjin dan Jihyun serempak menoleh. Mendapati seorang pemuda dengan kaca mata tanpa frame dan topi menutupi sebagian wajah berdiri di hadapan mereka.

Melihat itu Jihyun langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri pemuda yang tak lain adalah Taehyung. Kemudian ia melingkarkan lengannya dengan lengan adiknya itu.

"Seokjin kami pergi dulu ya. Sudah hampir sore. Kau juga cepatlah pulang, jangan sampai orang-orang mengenalimu. Bye." Ucap Jihyun lalu segera menarik Taehyung yang tampak bingung. Namun tetap saja mengikuti kakaknya dan berjalan menjauh untuk keluar dari kafe.

Tetapi sebelum itu, Taehyung menyempatkan diri untuk menolehkan kepala pada Seokjin yang masih menatapi kepergiannya. Menarik sebuah senyum simpul untuk Seokjin, kemudian menoleh kembali untuk fokus pada jalannya. Meninggalkan Seokjin yang masih terpaku sendirian melihat senyuman pertama Taehyung sejak terakhir kali mereka bertemu minggu lalu. Hari dimana Seokjin membuat Taehyung menangis karena ulahnya. Karena setelah kejadian itu, Taehyung seperti menarik diri darinya.

.

.

Deal To Love

.

.

"Ayolah, Yoongi hyung. Jangan cemberut terus seperti itu."

Yoongi berdecih mendengar kalimat yang Jimin ucapkan. Semenjak 1 jam yang lalu mereka berpamitan untuk pulang, Yoongi sama sekali tak mau repot-repot untuk sekedar melirik lelaki yang tengah mengemudi di sampingnya.

Jimin yang diabaikan sepanjang perjalanan hanya mampu meringis kecil. Sudut matanya mengambil tiap kesempatan untuk sekedar melirik Yoongi. Namun yang dilirikpun bahkan tak sudi meliriknya ganti. Seakan kegelapan di luar sana lebih menarik dari pada wajah memelas Jimin.

Hingga akhirnya Jimin memilih menyerah dan membiarkan udara penuh hening mengisi ruang dalam mobil. Percuma saja mengajak Yoongi bicara hingga mulutnya berbusa. Menggerakkan seujung jari saja Yoongi enggan, apalagi mengeluarkan sebaris kata untuk dilayangkan padanya.

Yah, setidaknya ia bisa bicara nanti dengan Yoongi ketika telah sampai di rumah, pikir Jimin.

.

Kurang dari 30 menit kemudian, mereka telah berhenti di depan rumah besar milik Jimin. Langsung saja Yoongi bergegas membuka pintu begitu Jimin mematikan mesin mobil. Namun entah memang Yoongi yang terlampau lamban atau Jimin yang terlalu cepat, pergerakan Yoongi itu dengan mudah dihentikan oleh Jimin.

Lengan kurus milik Yoongi tertarik kuat dalam cengkeraman Jimin, lalu dengan cepat menghimpit tubuh Yoongi dengan pintu mobil yang belum sempat terbuka.

Pekikan kecil terdengar keluar dari Yoongi ketika sebuah denyutan terasa menghantam kepala bagian belakangnya. Cukup untuk membuat Yoongi memejam seketika. Begitu tiba-tiba hingga membuat dirinya merasa sedikit terkejut.

Setelahnya, tidak butuh waktu lama untuk Yoongi mengembalikan ketenangannya. Matanya terbuka. Mengerjab lambat mendapati Jimin tepat di depan wajahnya sebelum mendelik tajam. Lengannya menepis cengkeraman Jimin pada pergelangannya, disusul sebuah dorongan kuat pada kedua bahu Jimin.

"Sakit bodoh!"

Mendengar umpatan yang dikeluarkan oleh Yoongi, Jimin berangsur-angsur malah menarik sudut bibirnya ke atas. Tangannya terangkat mengelus kepala Yoongi yang terantuk jendela, dan membawa lengan yang satu lagi mengusap pergelangan tangan Yoongi yang bahkan tak memerah sedikitpun karena cengkeramannya.

"Nah, aku lebih senang mendengarmu mengumpatiku daripada kau tak mau bicara denganku seperti tadi."

Masih dengan sorot tajamnya Yoongi menatap Jimin. Terasa seakan menusuk Jimin tepat di mata melalui tatapannya. Membuat Jimin melunturkan senyum yang melekat di bibirnya.

"Kau pikir apa yang kau lakukan itu lucu?"

Yoongi bergumam. Nafasnya mulai terputus-putus demi meredamkan emosi yang ingin meledak dalam dirinya.

"Bahkan aku merasakan bibirmu bergetar menahan tawa saat menciumku. Kau pikir ciuman itu hanya candaan yang bisa kau lakukan seenaknya? Apa karena kau aktor yang sering berciuman, kau anggap itu sepele?!"

Kembali nafas Yoongi terputus-putus. Bentakan demi bentakan ia layangkan pada Jimin yang saat ini hanya mampu memandanginya tanpa niatan membalas.

"Jangan pikir kau itu–"

"Aku apa, hm?"

Yoongi seketika membungkam bibirnya dan menelan kembali segala umpatan yang telah siap ia teriakan begitu kedua tangan Jimin menangkup kedua pipinya. Berbisik di hadapan wajahnya yang kini telah terbakar karena rasa emosi dan gugup yang tak terkendali.

Oh, kombinasi yang sangat tidak bagus.

Kedua ibu jari milik Jimin berlahan bergerak membelai pipi merona Yoongi. Tatapan lembut yang dipancarkan dari kedua mata Jimin seakan menenangkan Yoongi detik itu juga. Seperti sebuah mantra kasat mata yang melemahkan seluruh sendi tubuh Yoongi tanpa alasan. Bahkan Yoongi kini telah melupakan segala amarahnya akan kejadian siang tadi dimana Jimin yang dengan sengaja menciumnya di depan umum.

Tepat di bibir.

"Jadi karena itu kau marah?"

Kembali seulas senyum terlukis menghiasi wajah Jimin.

"Dengarkan aku, Yoongi hyung. Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Maaf jika hal itu membuatmu marah. Aku benar-benar tidak bermaksud."

Yoongi mengedip. Mendapati kilatan rasa bersalah di mata Jimin membuatnya tertegun. Perasaan aneh dan tak enak tiba-tiba menyelimuti hatinya, ketika dirasakannya jantungnya mulai berdebar kuat. Seiring dengan Jimin yang menurunkan lengannya dan memberikan raut serius. Membuat suasana menjadi menegang bagi keduanya.

"Dan, ada yang ingin aku sampaikan malam ini padamu, hyung. Jadi, dengarkan baik-baik."

Jimin memulai. Nada gugup sedikit mendominasi kalimatnya. Terdengar jelas saat ia terlalu memberi banyak jeda di setiap kalimat yang ia lontarkan.

Jimin menarik nafas dalam. Memejamkan mata dan membukanya kembali menatap Yoongi yang hanya mampu diam memperhatikan dirinya. Kembali ia menarik nafas dan menghembuskannya berlahan untuk sekedar mengurangi debar jantungnya.

"Aku akan memutuskan hubunganku dengan Jungkook. Terlalu banyak hal tentangmu yang membuatku terus berpikir bahwa keputusan itu adalah yang terbaik. Kau membuatku mengerti bahwa perasaanku tak sedalam itu pada Jungkook. Karena, bertemu dirimu membuatku sadar akan sesuatu."

Keterdiaman menguasai keduanya. Yoongi bahkan telah mengepalkan erat kedua telapak tangannya yang berkeringat dingin. Situasi ini tidaklah benar baginya. Bukan yang seperti ini yang harusnya terjadi sekarang. Yoongi benar-benar tidak mengerti mengapa ini semua bisa terjadi. Dan Yoongi rasa, sampai kapanpun ia tak akan pernah siap untuk mendengar kalimat yang dilontarkan Jimin selanjutnya.

"Aku menyukaimu, Yoongi hyung."

Hening.

Bahkan sekedar menelan ludah saja terasa begitu berat tepat setelah kalimat tersebut didengar oleh Yoongi.

Yoongi membeku. Seperti lumpuh seketika. Jangankan bergerak sedikit, otaknya bahkan tak tahu harus melakukan apa.

Sedangkan Jimin masih saja menatap Yoongi. Pandangannya lembut. Terlalu lembut. Dengan kedua sudut bibir yang sedikit terangkat. Memberikan sebuah ekspresi yang bahkan tak bisa Yoongi pungkiri bahwa Jimin terlihat begitu bersungguh-sungguh padanya.

Gelengan pelan Yoongi lakukan ketika mendapat kesadarannya kembali dari rasa keterkejutan berlebihnya. Bahkan Yoongi kini tak sanggup untuk menatap mata Jimin. Terlalu menakutkan karena bisa saja jantungnya keluar kapanpun saat ia tak sengaja menatap Jimin tepat di mata.

Yoongi mengusap wajahnya. Menggeser posisinya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

"Tunggu, Jimin. Kau tidak sungguh-sungguh, kan?"

Jimin meraih tangan milik Yoongi yang masih menutupi wajahnya.

"Kau menganggap ini hanya candaan, hyung?" Jimin menghembuskan nafasnya. Mengeratkan genggamannya pada kedua tangan Yoongi.

"Begini, asal kau tahu. Aku bahkan tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Kau tahu, aku bukan orang yang seenaknya mencium orang lain di depan umum. Namun saat bersamamu, aku bahkan tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku–aku hanya merasa aku benar-benar menyukaimu. Sangat menyukaimu, hyung. Dan aku akan mengakhiri hubunganku dengan Jungkook demi dirimu. Aku serius."

Yoongi menarik tangannya yang entah kapan sudah Jimin letakkan di atas dada kiri milik pemuda itu. Membuat Yoongi dapat merasakan debaran cepat di rongga dadanya. Yoongi kembali menutup wajahnya. Tidak, raut wajah Jimin yang lagi-lagi terlihat terlalu tulus itu membuat Yoongi sulit untuk menyangkal bahwa dirinya juga memiliki perasaan yang sama dengan Jimin.

Menyadari Yoongi yang terlihat tak tahu harus melakukan apa membuat Jimin kembali menarik kedua tangan Yoongi.

"Hyung, tidak usah cemas. Kau tidak perlu menjawab sekarang." Jimin tersenyum. "Setidaknya aku lega telah mengatakannya, dan kau juga sudah tahu perasaanku."

Yoongi terdiam sekali lagi. Dan kini ia mengarahkan tatapannya tepat pada manik kelam milik Jimin yang begitu lembut menatapnya. Menarik tangannya dari genggaman Jimin dan beralih menangkup wajah pemuda itu. Untuk beberapa detika Yoongi hanya memandangi wajah Jimin yang berada tepat di depan matanya. Namun Yoongi tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat dengan cepat ia menarik Jimin dan mempertemukan bibir mereka berdua.

Ah, masa bodoh dengan harga dirinya yang selangit. Yoongi tak mau peduli lagi. Karena Yoongi rasa dirinya memang sudah gila karena Park Jimin.

.

.

Deal To Love

.

.

Sudah seminggu sejak hari pertemuan terakhir Seokjin dengan Taehyung di mall waktu itu. Pagi-pagi sekali Taehyung tiba-tiba mengiriminya pesan untuk menemuinya di restoran langganan mereka malam ini.

Dan Seokjin sudah datang sejak 30 menit sebelum waktu janji mereka. Duduk di sebuah meja di luar restoran yang ternyata sudah Taehyung pesan untuk mereka. Ditemani segelas wine Seokjin mengamati pemandangan kota bertabur cahaya di bawah sana sembari menunggu Taehyung.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sudah menjadi hal rutin baginya dan Taehyung untuk merayakan tiap hari ulang tahun mereka di restoran ini. Namun ini menjadi yang pertama bagi keduanya harus merayakan acara pertambahan umur itu dengan keadaan yang tak telalu baik. Penyebabnya tentu saja karena hubungan mereka yang tak sedikit merenggang akhir-akhir ini yang disebabkan pengakuan tiba-tiba dari Taehyung yang mengatakan bahwa ia menyukai Seokjin.

Seokjin mendongak saat seseorang berjalan menghampirinya. Dilihatnya Taehyung yang kini berada beberapa langkah darinya. Dengan sweater longgar berwarna pink lembut melapisi tubuhnya. Mungkin anak ini sengaja memakai pakaian berwarna merah muda demi dirinya, pikir Seokjin.

Taehyung tersenyum simpul saat dirinya telah berdiri di hadapan Seokjin. Lalu duduk di atas kursi kosong yang masih tersisisa, dengan sebuah paper bag berukuran sedang berada di pangkuannya. Yang diam-diam cukup mencuri perhatian Seokjin.

"Kau datang cepat sekali, hyung. Aku bahkan berusaha datang 10 menit lebih awal dari janji kita. Kau bersemangat sekali ingin bertemu denganku, ya?"

Taehyung terkekeh setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Dengan senyum kotaknya yang terlalu manis bagi Seokjin. Entah sudah berapa lama Seokjin tidak melihat senyum dan mendengar tawa laki-laki yang lebih muda 3 tahun darinya itu. Rasanya sudah lama sekali hingga Seokjin tak mampu mengingatnya. Walaupun kenyataannya tak selama itu.

Taehyung meredakan tawanya dan berdehem pelan saat Seokjin tak merespon apapun. Ia meraih gelas berisi wine yang baru saja dituangkan oleh pelayan. Meneguknya sedikit dan kembali berdehem pelan.

"Selamat ulang tahun, hyung. Wow, rasanya cepat sekali ya. Dan sebentar lagi aku juga akan berulang tahun." Ucap Taehyung senang. Kembali tersenyum lebar hingga kedua mata penuh binarnya terlihat seperti bulan sabit. Terlalu indah bagi Seokjin.

Seokjin mengerjab pelan. Entah ada apa sebenarnya, namun malam ini Taehyung terlihat terlalu mempesona di matanya. Walaupun tiap saatpun Taehyung begitu menarik baginya.

"T-terimakasih, TaeTae."

Seokjin mulai tersenyum. Melihat Taehyung yang sama sekali tak melunturkan senyumnya sejak mereka bertemu membuat Seokjin lega. Sepertinya Taehyung sudah melupakan kejadian waktu itu yang bahkan telah membuatnya menangis. Ah, Seokjin jadi merasa seperti orang jahat. Dimana ia telah membuat anak manis di hadapannya menangis, dan ia bahkan tak sempat berkata maaf.

Lama mereka hanya berdiam diri, Taehyung mulai terlihat ingin membuka percakapan. Jarinya mengetuk-ngetuk di atas meja. Tampak sedikit gelisah dengan sesuatu. Namun saat bibirnya akan mulai terbuka, seorang pelayan lebih dulu menginterupsinya untuk menanyakan apa yang akan mereka pesan.

Dengan cepat Seokjin memesan saat Taehyung hanya menjawab, "terserah". Sepeninggal pelayan restoran, Seokjin kembali membawa fokusnya tertuju pada Taehyung. Yang kini tengah menggigit bibirnya sambil meremas paper bag di pangkuannya.

"Eum, hyung. A–aku punya sesuatu untukmu."

Taehyung mengulurkan tangannya dengan cepat. Memberikan sebuah kantung kertas yang lagi-lagi berwarna merah muda ke hadapan Seokjin dengan kepala menunduk.

Seokjin yang melihatnya menahan tawa. Demi semua barang berwarna pink di dunia, sungguh, Taehyung tampak sangat menggemaskan.

Berlahan Seokjin meraih paper bag yang Taehyung sodorkan padanya. Dan dengan cepat Taehyung menarik kembali tangannya dan menyimpannya di atas paha. Meremas-remas tangannya pelan dengan gugup serta pandangan matanya yang berusaha menghindari Seokjin. Samar-samar Seokjin juga dapat melihat rona tipis sedikit mewarnai kedua pipi Taehyung. Membuat Seokjin menjadi penasaran akan hadiah apa yang diberikan Taehyung padanya hingga Taehyung bertingkah begitu aneh –menggemaskan sebenarnya.

Dan dengan segala rasa penasarannya, Seokjin membuka paper bag tersebut, kemudian mengintip isinya. Ia tertegun beberapa saat, hingga akhirnya menarik keluar benda apa yang ada di dalam kantung kertas tersebut.

Sebuah box berisi figur Mario Bros kini telah berada di tangannya.

"Well, Seokjin hyung. Ah, apa aku harus memanggilmu, Mario?"

Taehyung tertawa senang mendengar apa yang telah diucapkannya sendiri. Seperti anak kecil yang barus saja mendapatkan 1 cone es krim gratis. Menatap Seokjin yang kini hanya terdiam tak percaya di hadapannya.

Oh, hell, ia sudah tertangkap basah.

"Aku tak sebodoh itu untuk tak menyadari bahwa kau yang selama ini menjadi pengagum rahasiaku, Seokjin hyung." Kata Taehyung. Namun tawa Taehyung terhenti tiba-tiba. Wajahnya seketika berubah murung tanpa alasan.

"Tapi mengetahui hal itu, aku jadi merasa sedih. Jika kau menyukaiku, kenapa kau menolakku waktu itu hyung?"

Seokjin seakan tersedak ludahnya sendiri mendengar apa yang diucapkan Taehyung. Tangannya mengerat menggenggam paper bag –yang sebelumnya sudah Seokjin masukkan kembali box Mario Bros yang diberikan Taehyung ke dalamnya. Ia mendesah pelan, "Aku tidak menolakmu, Taehyung. Aku hanya tidak menjawabnya."

Kening Taehyung berkerut. Ia sungguh tidak tahu apa yang sebenarnya Seokjin inginkan. Kenapa Seokjin malah bertingkah berbelit-belit, sementara Seokjin hanya perlu menerimanya pada saat Taehyung mengungkapkan perasaannya. Ya, tapi itupun jika Seokjin benar juga menyukainya.

"Tapi benar kau kan hyung yang selama ini mengirimiku hadiah-hadiah itu?"

Seokjin mengangguk.

"Dan kau–kau menyukaiku kan hyung?"

Seokjin diam. Tak mengangguk dan tak menggeleng. Membuat Taehyung harus menggigit takut bibirnya untuk mengurangi rasa gelisahnya. Tolong, Taehyung benar-benar tidak siap untuk kembali ditolak Seokjin. Jika benar Seokjin akan menolaknya, ia benar-benar tidak tahu dengan apa yang akan terjadi pada hubungan mereka kelak. Namun yang pasti, mereka tidak akan pernah bisa memperbaikinya lagi. Terlalu rumit. Memikirkan itu Taehyung jadi terpikir untuk memilih memutus hubungan mereka saja daripada harus merasa canggung tiap kali mereka bertemu. Kemudian mengubur seluruh perasaannya pada Seokjin dan ikut dengan kakaknya ke Jepang untuk memulai kehidupan baru.

Namun semua rencana yang Taehyung buat dalam kepalanya harus lenyap tanpa sisa begitu Taehyung melihat Seokjin mengangguk.

Taehyung mengernyit heran. Sepertinya ia terlalu sibuk memikirkan hal-hal tidak jelas hingga melupakan pertanyaan apa yang ia berikan pada Seokjin sebelumnya, yang membuat laki-laki itu mengangguk mantap beberapa kali.

Tetapi keterbingungan Taehyung tak berlangsung lama, begitu dengan yakinnya Seokjin berucap sesuatu padanya. Sebaris kalimat yang membuat Taehyung seketika lupa cara bernafas.

"Aku menyukaimu, Taehyung-ah."

Satu detakan kuat menghantam dada Taehyung. Taehyung menahan nafas. Matanya melebar sempurna. Jantungnya bahkan terasa terlalu cepat bekerja memompa darahnya. Membuatnya bahkan tak bisa bereaksi sedikitpun.

Kemudian sebuah sentuhan kecil dari Seokjin yang membelai tangannya membuat Taehyung mulai mendapat ketenangannya kembali. Diamatinya jemari Seokjin yang kini mengelus pelan punggung tangannya yang entah kapan sudah ia letakkan di atas meja.

Taehyung mendongak, mensejajarkan tatapan mereka.

"Kalau hyung juga menyukaiku, kenapa hyung menolakku saat itu?" tanya Taehyung lirih. Matanya mulai berair. Bahkan ia sendiri tidak tahu ia ingin menangis karena sedih atau karena terlampau bahagia.

Seokjin berdehem, "Sudah ku bilang aku tidak menolakmu, Kim Taehyung." Seokjin menghembuskan nafasnya. "Aku melakukan itu karena–karena seharusnya aku yang mengungkapkan perasaanku padamu lebih dulu."

Seokjin menggenggam tangan Taehyung. Menarik pelan dan membawa tangan Taehyung ke hadapan wajahnya untuk memberikan satu kecupan di punggung tangan Taehyung.

"Jadilah kekasihku, Kim Taehyung."

Satu air mata menetes dari mata kanan Taehyung begitu Seokjin mengucapkan kalimat –yang entah kenapa terlalu indah di telinga Taehyung. Dan tak lama kemudian suara isakan mulai terdengar. Taehyung menangis di hadapan Seokjin, yang kini malah tengah memasangkan sebuah cincin ke jari manisnya. Kemudian memberikan sebuah kecupan untuk yang kedua kalinya di atas punggung tangan Taehyung.

"Tadinya ingin ku berikan saat hari ulang tahunmu, dan aku juga berencana menyatakan perasaanku pada hari itu. Tapi ternyata situasinya jadi seperti ini, dan juga sepertinya perasaanku tidak bisa aku tahan lagi."

Seokjin tersenyum. Mengamati Taehyung yang masih saja menangis sesenggukan di hadapannya.

"Hei, kenapa malah menangis, TaeTae?"

Seokjin menarik kursinya mendekati Taehyung dan mengusap air matanya. Sedangkan Taehyung kini tengah menatap cincin yang sudah berada di salah satu jarinya. Dan tentu saja tetes-tetes air matanya masih keluar mengalir di pipinya.

"Aku menangis karena senang tahu." Taehyung menjawab dengan susah payah di tengah isakannya yang belum mereda. Lalu menatap Seokjin yang tiba-tiba mengangkat dagunya.

"Jadi bagaimana? Kau belum menjawabku." Tanya Seokjin. Beralih menangkup pipi Taehyung dan kembali mengusap air mata yang mengaliri pipinya.

Taehyung terisak sekali lagi. Kemudian tanpa peringatan memeluk erat Seokjin, menyembunyikan wajahnya pada leher laki-laki itu.

"Tentu saja aku menerimamu, hyung bodoh." Umpat Taehyung pelan.

Seokjin terkekeh mendengarnya. Lalu membalas pelukan Taehyung. Membuat Taehyung tiba-tiba terkikik dalam dekapannya.

Taehyung melepaskan pelukannya pada Seokjin dengan senyum yang tidak bisa ia tahan sama sekali. Dan Seokjin juga melakukan hal yang sama. Mengingat anak manis dihadapannya –yang sekaligus cinta diam-diamnya selama hampir 5 tahun kini telah menjadi miliknya.

Seokjin mendekat. Kembali tersenyum gemas saat mendapati Taehyung yang lebih dulu memejamkan matanya. Kemudian tanpa banyak membuang waktu Seokjin segera menangkup wajah Taehyung dan memberikan Taehyung sebuah ciuman di bibir.

Hanya sekedar sentuhan antara bibir mereka berdua untuk beberapa detik pertama. Namun seiring berjalannya waktu, Seokjin mulai memberi lumatan lembut membelai bibir Taehyung. Dan sebuah hisapan pelan pada sudut bibir Taehyung, yang dibalas juga oleh pemuda itu.

Baru saja Taehyung ingin membuka bibirnya, namun mereka harus diinterupsi oleh suara seorang wanita yang menyadarkan bahwa mereka masih berada di tempat umum.

"Tuan, maaf, pesanan anda sudah datang."

Seokjin dan Taehyung saling melepas diri. Mata mereka menatap canggung seorang pelayan wanita yang kini tengah mengisi meja mereka dengan makanan yang mereka pesan, dengan wajah merona parah.

Dan setelah pelayan tersebut selesai mengantarkan pesanan mereka, ia langsung saja cepat-cepat pergi meninggalkan meja Seokjin dan Taehyung setelah sebelumnya membungkuk dengan gugup.

Taehyung tertawa canggung melihatnya. Kini wajahnya juga ikut terbakar karena malu telah tertangkap basah berciuman dengan kekasih barunya ini. Langsung saja ia kembali memeluk Seokjin untuk menyembunyikan wajah malunya. Dan terkikik geli di dada Seokjin.

"Sepertinya besok pagi nama kita berdua akan tercetak jelas di semua majalah, hyung." Taehyung berbisik.

Seokjin tersenyum menanggapinya. "Biarkan saja, itu akan menjadi berita yang membuatku bahagia selain berita pernikahan kita nanti."

Taehyung merasa wajahnya semakin merona mendengar kata-kata Seokjin. Dan senyumnya makin melebar, begitu pula pelukannya yang mengerat pada pinggang Seokjin. Ah, Taehyung rasa, ia tidak akan pernah bisa berhenti tersenyum mulai hari ini.

.

.

Deal To Love

.

.

Yoongi memakai jaketnya bersamaan dengan dirinya yang keluar dari dalam kamar. Ia berjalan menuju ke ruang tengah berniat mencari Jimin yang sedari tadi tengah menonton tv disana.

Yoongi menghembuskan nafasnya berlahan ketika ia ingat tujuannya mencari sudah memikirkan hal itu seharian, dan Yoongi memutuskan untuk memberikan jawabannya malam ini juga.

Ketika ia telah sampai di ruang tengah, Yoongi dapat melihat Jimin yang tengah menonton tv sambil memakan camilan di tangannya. Kemudian ia segera saja menghampiri Jimin dan berdiri di sampingnya.

"Jimin, ada yang ingin aku katakan padamu."

Jimin langsung mendongak dan berdiri begitu mendapati Yoongi yang tiba-tiba telah berada di dekatnya.

"Mengatakakan apa hyung?" tanya Jimin sedikit antusias, lalu menggaruk rambutnya dengan asal. Sejak kemarin malam dimana Yoongi yang tiba-tiba menciumnya, Jimin jadi merasa selalu gugup jika bertemu dengan Yoongi.

"Nanti akan ku katakan. Setelah aku pulang dari minimarket untuk membeli beberapa makanan. Bye, Jimin."

Setelah itu Yoongi berlari meninggalkan Jimin. Disusul dengan suara pintu utama yang tertutup. Menyisakan Jimin yang hanya terdiam melihat tingkah Yoongi, lalu tersenyum sendiri menyadari Yoongi yang jadi bertingkah begitu manis di hadapannya.

Jimin kembali duduk dan mengganti channel sembari menunggu Yoongi pulang. Dan hal itu membuat Jimin jadi berkhayal sendiri tentang apa yang akan Yoongi katakan. Siapa tahu Yoongi akan menciumnya lagi malam ini.

Oh, si Park mesum sudah kembali lagi. Oh.

.

Tepat setelah 10 menit Yoongi meninggalkan rumah, Jimin mendengar bel rumahnya berbunyi berkali-kali. Ia berdecak pelan saat bunyi nyaring itu mengganggu acara santainya. Namun tetap saja ia bangkit dan berjalan untuk membuka pintu.

Setelah pintu terbuka, Jimin mengernyit melihat seseorang yang kini sudah berada di hadapannya.

"Kookie-ya?"

Jungkook tersenyum lebar. Kemudian berjalan cepat memeluk Jimin. Membuat Jimin langsung meronta melepaskan pelukannya.

"Kenapa hyung? Kau tidak merindukanku?" tanya Jungkook dengan bibir yang kini mengerucut kesal.

Jimin hanya diam. Tak menanggapi rengekan Jungkook. Lalu Jimin teringat kembali akan niatnya yang ingin mengakhiri hubungannya dengan Jungkook. Mumpung Jungkook sedang berada disini, sekalian saja Jimin mengatakan keputusannya itu pada Jungkook.

Namun apa yang sudah Jimin siap katakan harus dipotong oleh Jungkook yang sudah lebih dulu buka suara.

"Hyung bawa aku kabur!"

Jimin melebarkan mata mendengarnya.

"Atau nikahi saja aku sekalian."

Dan mata Jimin makin melebar mendengar apa yang diucapkan Jungkook. "APA?!"

Jungkook terkekeh melihat reaksi Jimin akan ucapannya. Namun detik berikutnya ia segera memasang raut memohonnya. "Aku mohon, hyung. Appa berencana kembali untuk menikahkanku dengan Hoseok hyung. Dan parahnya Hoseok hyung kini menyetujuinya. Ayolah hyung, kau tidak mau kan aku menikah dengan Hoseok hyung?"

Jimin tidak dapat berkedip setelah mendengar semua perkataan Jungkook. Apa-apan ini. Ia bahkan bermaksud mengakhiri hubungannya dengan Jungkook. Tapi Jungkook tiba-tiba datang dan menyuruhnya untuk membawanya kabur dan menikahinya? Yang benar saja.

"Dengar, Kook. Aku tidak bisa. Aku sudah tidak bisa bertahan dengan hubungan kita. Aku ingin kita akhiri saja semuanya sampai disini."

Seketika Jungkook melunturkan wajah bersemangatnya. Terganti dengan mata yang membelalak lebar dan mulai berkaca-kaca menatap Jimin.

"Kau, bercanda kan, hyung?"

Jungkook berusaha menggapai tangan Jimin, namun Jimin dengan segera menepisnya, lalu maju beberapa langkah dan berbalik menghadap Jungkook.

"Aku serius, Jungkook-ah."

Jungkook mengepalkan tangannya. Ia menatap tak percaya pada Jimin.

"Apa lak-laki tak tahu diri itu yang membuatmu ingin memutuskan hubungan denganku? Apa yang ia lakukan padamu hingga kau mau menurutinya? Sejak awal aku sudah curiga dengan kalian. Huh, ternyata benar apa yang aku pikirkan selama ini. Jadi apa yang ia lakukan padamu hingga kau mau menurutinya untuk putus denganku? Dia memberikan tubuhnya padamu, huh?!"

Jimin mengangkat tangannya dan berniat menampar Jungkook begitu kalimat penuh cacian untuk Yoongi didengarnya. Namun tangannya terhenti dan mengepal di udara melihat Jungkook yang memejamkan matanya erat menunggu pukulan keras untuk mendarat di pipinya.

"Jaga mulutmu, Jeon Jungkook."

Jungkook membuka matanya. Ia tersenyum remeh pada Jimin. "Tampar saja aku. Bahkan aku akan serahkan tubuhku juga asal kau tidak jadi mengakhiri hubungan kita."

Jimin menggeram kesal mendengarnya. "Tutup mulutmu atau aku akan kehilangan kesabaranku! Sekarang pergi dari sini!"

Seakan tak peduli dengan perkataan Jimin, Jungkook bergerak menghadang Jimin yang akan berjalan masuk ke dalam rumah.

Dan tepat saat itu, Jungkook melihat Yoongi dan Hoseok berjalan menghampiri mereka. Yoongi tampak tersenyum dan mengangkat sebelah tangannya bersiap untuk memanggil mereka. Namu hal itu tak akan pernah terjadi, karena setelah Jungkook menampilkan sebuah seringaian, dengan cepat ia menarik Jimin dan mencium Jimin di hadapan Yoongi dan juga Hoseok.

.

.

.

Hampir 20 menit lamanya Yoongi menghabiskan waktunya di dalam minimarket 24 jam yang berada tak jauh dari kompleks perumahan dimana rumah Jimin berada.

Yoongi mengusap-usapkan tangannya yang membawa sebuah kantung plastik berisi makanan ringan. Udara cukup dingin malam ini, membuatnya sedikit menggigil karenanya.

Namun rasanya Yoongi tidak ingin cepat-cepat sampai di rumah, mengingat ia yang akan menjawab perasaan Jimin –yang diungkapkan padanya semalam. Walaupun Yoongi memang mencium Jimin, tapi Yoongi sama sekali belum menjawab perasaan pemuda itu. Karena semalam setelah ia mencium Jimin, ia langsung berlari memasuki kamarnya, tidak bisa untuk menahan malunya lebih lama.

Yeah, lupakan bagian saat ia mencium Jimin. Terlalu memalukan.

Sibuk dengan segala pemikirannya, Yoongi berhenti berjalan saat sebuah mobil asing tiba-tiba berhenti di sampingnya. Kaca jendela mobil langsung terbuka dan menampilkan Hoseok yang tengah berada di dalam mobil.

"Yoongi-ssi, kau mau kemana?" tanya Hoseok ramah pada Yoongi yang kini harus sedikit menunduk demi dapat melihat wajahnya..

Yoongi tersenyum dan kemudian menjawab, "Pulang. Baru saja dari minimarket."

"Masuklah. Aku juga akan ke rumah Jimin."

Yoongi sedikit terkejut mendengarnya. Matanya masih menatap wajah Hoseok yang tersenyum begitu lebar. Untuk apa malam-malam begini Hoseok pergi ke rumah Jimin?, pikir Yoongi.

"Benarkah? Apa tidak merepotkan? Lagipula rumah Jimin tidak terlalu jauh juga."

"Sudah masuk saja. Ayo!"

Dan Yoongi tidak punya alasan untuk menolak Hoseok. Ia langsung saja membuka pintu penumpang di samping Hoseok dan memasuki mobil.

"Ada perlu apa ke rumah Jimin?" tanya Yoongi. Menyuarakan apa yang tengah dipikirkannya, juga mencoba mencairkan suasana di antara mereka setelah Hoseok kembali menjalankan mobilnya.

"Mencari Jungkook. Jungkook pergi dari rumah tanpa memberi tahuku. Sepertinya ia sedang berada di rumah Jimin."

Yoongi terdiam mendengarnya. Ah, jadi ada Jungkook di rumah Jimin sekarang, batin Yoongi. Memikirkan hal itu membuat Yoongi seketika merasa gelisah tanpa alasan.

.

Tak sampai 5 menit kemudian, mereka hampir sampai di depan gerbang rumah Jimin. Seiring dengan itu, mobil yang ditumpangi oleh Yoongi mulai berjalan lambat dan akhirnya berhenti tepat di depan gerbang. Yoongi membawa matanya memperhatikan pintu gerbang yang masih tertutup seperti saat ia meninggalkan rumah, lalu menengok ke arah Hoseok. "Akan aku bukakan pagar, penjaga rumah Jimin sedang libur hari ini. Tunggu sebentar." Ucapnya, seraya melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuhnya.

Hoseok ikut melepas sabuk pengamannya setelah ia mematikan mesin mobil. "Aku parkir disini saja. Lagipula aku tidak akan lama."

Yoongi mengangguk mengerti, kemudian mereka berdua keluar dari mobil.

Setelah memastikan bahwa mobilnya telah terkunci, Hoseok berjalan mengikuti Yoongi yang sudah membuka pagar dan melewatinya. Mereka mengobrol sedikit ketika berjalan melintasi halaman depan rumah Jimin yang tak bisa dibilang kecil itu.

Dan saat mereka melihat ke teras rumah, tampak Jimin dan Jungkook yang tengah berdiri disana. Entah apa yang dilakukan mereka hingga lebih memilih berbicara di luar daripada masuk ke dalam di hari yang dingin ini.

Baru saja Yoongi bersiap mengangkat tangannya ingin memanggil Jimin, namun suaranya seakan menghilang begitu saja saat ia hanya mampu membuka lebar matanya melihat apa yang tengah terjadi di depan matanya kini.

Dengan jelas Yoongi melihat bagaimana Jungkook yang dengan begitu cepatnya menarik Jimin dan langsung menciumnya tepat di bibir pemuda Park itu.

Yoongi membeku di tempat. Ia Juga dapat menyadari bahwa Hoseok di sampingnya juga tengah terkejut melihat pemandangan memuakkan di hadapan mereka.

Yoongi segera menarik pandangannya, membawanya menatap jalanan di bawahnya. Seketika hatinya terasa begitu sakit melihat apa yang baru saja terjadi di hadapannya.

Yoongi memejamkan matanya erat. Ia juga merasakan sebuah usapan lembut di punggungnya, dan sebuah bisikan pelan.

"Maaf."

Itu suara Hoseok. Yang Yoongi tahu juga tengah menahan rasa sakit hatinya melihat Jimin dan Jungkook.

Setelah kurang dari 3 menit hal itu berlangsung, Yoongi mendengar namanya diserukan oleh Jungkook. Dengan nada kaget yang dibuat-buat, padahal Yoongi dapat mendengar nada gembira sedikit mendominasi panggilannya. Dan kemudian ia mendengar suara teriakan Jimin memanggil namanya.

Yoongi mendongak. Kemudian menoleh pada Hoseok dan tersenyum kecil padanya. Segera saja Yoongi melangkahkan kakinya cepat menghampiri Jimin. Namun kenyataannya tidak, Yoongi hanya berjalan melewati Jimin tanpa meliriknya sedikitpun.

Melihat hal itu Jimin segera mengejar Yoongi yang memasuki rumah. Tidak peduli dengan Jungkook yang memanggil namanya, ataupun ketika Jungkook ditarik paksa oleh Hoseok.

Jimin mundur beberapa langkah saat pintu kamar Yoongi tertutup kencang di depan wajahnya. Ia terlambat mengejar Yoongi yang langsung saja berlari begitu ia memasuki rumah. Membuang semua belanjaannya hingga tercecer di atas lantai.

Jimin mengetuk pintu kamar Yoongi pelan. Mendengar pintu kamar Yoongi yang dikunci dari dalam membuat Jimin mendesah frustasi.

"Hyung, tolong buka pintunya dan akan aku jelaskan semuanya."

Yoongi tidak menjawab. Tubuhnya merosot ke bawah. Menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya.

"Hyung, aku mohon." Lirih Jimin. "Hyung. Yoongi hyung."

Di balik pintu, Yoongi kembali mengangkat kepalanya dengan lelehan air mata membasahi wajahnya. Ia terisak pelan. Menyandarkan kepalanya pada pintu kamar di belakangnya.

"Yoongi hyung. Aku mohon buka pintunya."

Kembali Yoongi mendengar suara Jimin. Terdengar bergetar. Namun Yoongi berusaha tak mempedulikannya. Cukup sudah semua yang Jimin telah perbuat.

"Yoongi hyu–"

"Pergilah, Jimin."

Jimin berhenti mengetuk pintu kamar Yoongi. Tubuhnya ikut merosot, dan menyandar pada pintu kamar Yoongi.

"Aku tidak akan pergi sebelum kau membuka pintu. Aku harus menjelaskan semuanya. Apa yang kau lihat tidaklah seperti kenyataannya Yoongi hyung. Dan bukankah kau juga ingin mengatakan sesuatu padaku?" ucap Jimin, sambil menahan genangan air mata yang telah mengumpul di pelupuk matanya.

Yoongi terisak sekali lagi. "Lupakan saja. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang tidak penting untuk kau dengar." Ucapnya.

Jimin mengubah posisinya menjadi menyampingi pintu kamar Yoongi. Ia menukuk lututnya, dan menempelkan sebelah pipi dan telinganya pada pintu. Dapat ia dengar Yoongi tengah menangis di dalam sana.

"Katakan, hyung."

Yoongi menggigit bibirnya. Menahan isakannya yang terasa ingin keluar begitu saja.

"Sudah ku katakan itu hal yang tidak penting! Pergilah Jimin aku lelah!" teriak Yoongi. Setelah itu ia kembali menenggelamkan wajahnya ke atas lututnya. Meredam isakannya yang kembali terdengar.

"Aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakannya."

Ucapan Jimin membuat Yoongi mengangkat kepalanya. Tentu saja ia tidak akan mengatakan bahwa ia sebenarnya menyukai Jimin. Omong kosong, bahkan ungkapan perasaan Jimin sudah dianggapnya sebagai sebuah bualan menjijikan.

Yoongi meremas kuat jari-jari tangannya. Ia menahan nafasnya. Setelah itu meredakan tangisnya dan berusaha menstabilkan nada bicaranya.

"Baiklah jika kau ingin mendengarnya." Yoongi memulai. Menahan sekuat tenaga isakannya yang terus mendorong ingin kaluar. Dan air matanya kembali menetes saat ia berhasil mengatakan hal yang benar-benar hanyalah sebuah dusta.

"Aku masih menyukai Seokjin hyung."

.

.

To Be Continued

.

.

A/N

Halo, gila lama banget nggak update, maaf. Tapi ini udah ditebus kan ya, 8k+ loh, wow, kerasa ga sih? Nggak mabok kan ya bacanya hahaha...
Btw, jangan marah-marah sama tbc nya, apalagi sama jungkook, dia nggak salah apa-apa kok serius, salahin jimin aja/g.
Buat yang kemarin tanya pin bbm nih aku kasih, 59AEA2B6 bisa tuh diinvite kalo mau kenalan, ngobrol, nagih update, saran, atau mau curhat juga boleh. Kalo mau id line atau akun lainnya tanya lewat pm aja ya.
Oiya sorry nggak bisa bales reviewnya, maaf banget...

Yaudahlah kebanyakan capek ngetiknya. Komen, kritik, dan saran diterima.

Review please?