Karamatsu menatap nanar ibunya. Orang yang ditatap meneguhkan niat untuk mulai bicara, namun selang sebentar ia melirik ke sebelah Karamatsu, menatap udara kosong. Ini seperti bermaksud mengutarakan bahwa anaknya harus diletakkan di karantina supaya terlepas dari status NEET, bahkan lebih berat. Firasat tak menentu membuatnya bimbang. Tukikan alis Karamatsu pun menjadi makin jelas melihat gerak-gerik sang ibu. Akhirnya, ia menarik napas dan mengembuskannya pelan-pelan.
"Kamu tidak usah kerja dulu," ucap Matsuyo dibuat datar.
"Eh?" Karamatsu tidak mengerti.
"Dokter bilang kalau kamu harus banyak istirahat, makan teratur. Oh, dan juga jangan minum dulu." Ia melipat kedua tangan di depan dada berlaku tegas. Ada penekanan di bagian kata 'minum' walau ia tahu kalau Karamatsu tidak separah anak pertamanya soal alkohol. Malah, Choromatsu diam-diam adalah orang yang menempati posisi terparah kedua setelah kakak sulungnya itu. Ia hanya minum ketika sedang berkumpul dengan saudara-saudaranya saja. Sering tidak, jarang pun tidak—dengan begini pun Matsuyo tetap harus mempertimbangkan kadar minum rutinnya.
"Um, iya, Bu." Karamatsu memang masih bingung. "Tapi, aku tampil di sana tidak setiap hari, kok, Bu?"
"Pokoknya, jangan dulu. Kamu boleh mulai lagi setelah Ibu yakin kamu sudah sembuh total."
Sekarang pun ia tidak merasakan apa-apa, namun perkataan seorang ibu siapalah yang hendak melawan.
"Baiklah," ucap Karamatsu menuruti. Ruang tengah menjadi sepi hingga telepon rumah berdering. Matsuyo beranjak dan mengangkatnya. Ketika sang ibu kembali, Karamatsu tidak menanyakan apa-apa.
"Ya, sudah. Kamu kalau mau pergi, silakan," kata sang ibu padanya. Karamatsu permisi untuk keluar ruangan.
Ia berjalan ke pekarangan belakang. Menghabiskan waktu duduk-duduk di atas lantai berkayu adalah rutinitas baru yang sudah dimulai entah sejak kapan. Jika banyak pikiran, ia akan memandang langit untuk mengosongkan isi benak seperti namanya. Kalau tidak, ia hanya akan melihat rerumputan hijau yang sudah meninggi melewati tumit kaki.
Tidak ada siapa-siapa, dan Karamatsu hanya duduk. Tanpa membawa barang pendampingnya: gitar, pelumas, dan cermin. Bahkan, kacamata hitamnya tidak ia gantung di kerah jaketnya.
Kadang ia sadar, dia ini pria dewasa. Harus mencari kerja. Harus hidup dengan benar. Bukannya menjadi sampah berantai bersama kelima saudaranya. Dia ini termasuk orang yang moody-an, asal kalian tahu. Tak selamanya ia ingin menebar pesona pada setiap wanita yang lewat di dekat jembatan. Tak selamanya ia ingin memakai pakaian bling-bling kurang bahan (nah, yang ini sudah terbukti, 'kan?). Tak selamanya, dan tak selamanya ia ingin menjadi orang eksentrik yang auranya hanya bisa membuat orang kesakitan.
Dia juga ingin jadi manusia biasa, dan ia sadar pada akhirnya ia juga manusia biasa. Ia heran, tidak bisakah orang-orang melihat itu? Lalu menerima dirinya apa adanya?
(Perkataan Osomatsu waktu di tempat pemancingan sepertinya bermakna begitu, namun bergulirnya waktu demi waktu membuat dirinya kembali ragu)
Ia teringat pertanyaan Todomatsu tempo lalu. Apakah sikap-sikapnya itu, perbuatannya itu, dan segalanya yang ia tunjukkan pada orang-orang adalah dirinya yang asli?
Detik ini, Karamatsu mencoba memikirkannya, kemudian tak lama langsung mendapatkan jawabannya: iya dan tidak. Sebuah oksimoron yang terdapat dalam jiwanya. Ada sebuah sisi yang mengatakan bahwa itu memang dirinya, dan bagian yang lain juga mengakui bahwa itu hanya untuk dilihat orang-orang saja. Bisa jadi sepatutnya ia hanya muak karena dirinya tidak diakui orang lain. Seharusnya Karamatsu sadar kalau apa yang dia inginkan hanya untuk dirinya saja. Ia tak bisa memaksakan kehendak orang lain—bahkan tak pernah untuk mencoba meski hatinya bergejolak ingin.
Namun, Karamatsu tetap mencoba untuk mengubah dirinya. Ia mendapatkan pekerjaan, walau hanya sampingan. Itu lumayan, 'kan? Setidaknya, ia sudah mulai maju satu langkah. Memulai dari lingkup kecil, yaitu untuk keluarganya. Di jalan perubahannya ini, ia berupaya untuk meneguhkan niat terbaiknya. Di saat yang sama ia juga diselubungi rasa was-was yang tak bisa dijelaskan. Ia takut seseorang membencinya—ia takut orang-orang yang ia sayang—ia rela untuk memberi kasih sayang setulus-tulusnya—malah berbalik membencinya. Menganggapnya asing. Menanggapnya tak ada. Karamatsu jenuh dengan semua prasangka buruk yang bergolak dalam kepalanya.
Ia berbaring, membiarkan persendian di lutut menekukkan bagian bawah kakinya ke tanah. Netra menatap ke langit, tapi ia tak pasti sedang melihat langit. Ini adalah sekelumit masa yang saudara-saudaranya takkan pernah temukan.
Akan tetapi, mulai sekarang sepertinya tidak akan begitu.
"Hoi."
Karamatsu mendengar suara yang dalam, familier. Ia melirik ke belakang kepalanya. Sebuah celana training biru bergaris putih. Ia tertegun.
"Kakimu entar sakit kalau ditekuk begitu." Ichimatsu seakan membalas kata-kata kakaknya kemarin. Tak butuh waktu lama untuk menunggu respons Karamatsu. Ia tertawa.
"Kok perhatian?" tanya Karamatsu. Ia jadi gemar menggoda adik ungunya itu.
"Enyah kau." Ichimatsu mendecih. Karamatsu tergelak lagi.
"Karamatsu."
"Hm?"
"Sejak kapan responsmu jadi begitu?"
Karamatsu tersenyum miring. "Sejak aku tahu kalau adik gelapku ini sebenarnya yang paling sayang padaku." Karamatsu benar-benar berniat hanya mengganggunya, tidak lebih. Apa lagi sejak Ichimatsu berkata bahwa ia tidak membencinya—yang sebetulnya Karamatsu pun tahu akan hal itu, hanya saja dia butuh kepastian—ia jadi semakin semangat untuk mendekatkan diri pada sang adik seperti dahulu lagi. Saat mereka masih berumur sepuluh dan tidak memikirkan kehidupan orang dewasa. Apa yang mereka lakukan hanyalah bermain dan bermain.
"Kau salah." Ada nada serius di sana, membuat roman Karamatsu berubah. "Ada yang lebih sayang denganmu daripada aku."
Mudah ditebak, namun Karamatsu kembali ragu.
"Siapa?" Ia bertanya. Ichimatsu membisu. Kepalanya yang sedari tadi menunduk setengah akhirnya mendongak, berbalik meninggalkan Karamatsu. Lelaki ber-hoodie biru itu bangun, menoleh pada punggung adiknya yang kemudian menghilang di balik ruangan. Rasa janggal yang baru muncul di dada berkelindan bersama kebimbangannya.
Belakangan ini laki-laki biru itu mencoba untuk sendiri. Sayang, ia tak bisa untuk tidak berpapasan dengan saudaranya. Yah, saat makan malam, sih, tidak apa-apa. Saat tidur bersama juga tak apa. Saat makan bareng di warung Chibita pun masih tak apa. Hanya saja, kalau sekarang, apa lagi sekarang, di depan pintu rumah ini, yang berada di hadapannya ini adalah—
"Oh, Karamatsu." Suara ringan yang hampir cempreng itu. Osomatsu.
Tunggu. Karamatsu tidak paham mengapa dirinya enggan bertemu Osomatsu. Mengapa? Merasa tak enak? Akan apa? Atau dia benar-benar ingin sendiri dan tidak ingin berurusan dengan siapa pun kecuali angin yang berembus dan gerisik dedaunan?
Kenapa ia harus merasa canggung begini dengan kakaknya?
"Kau kenapa?" Sekalipun Osomatsu dianggap sampah masyarakat, tapi firasat seorang kakak, terlebih anak kembar, takkan bisa dielakkan. Ia curiga dengan tingkah Karamatsu yang tampak kikuk.
"O-Osomatsu-niisan—nggak." Yap. Ia sudah kehilangan tampang (yang menurut empunya) kerennya. Sesekali ia memanggil Osomatsu begitu, cuma kini ia merasa sangat malu dengan dirinya. Osomatsu mematung—jujur saja ia paling lemah kalau dipanggil adiknya yang satu itu kakak.
Tiba-tiba Osomatsu tidak berekspresi seakan ia baru saja menghapus memori secara jangka pendek untuk hal yang baru saja terjadi. "Mau minum?"
"A-ah, nggak." Karamatsu menjawab dengan suara rendah. "Aku sedang tidak …." Ia malas melanjutkan.
"Suasana hatimu akan membaik kalau sudah minum!" Wajah Osomatsu berubah riang sekali.
"Bukan." Sang anak kedua sudah bisa mengontrol sikapnya. "Aku sedang tidak diperbolehkan."
"Eh? Kenapa?" tanya Osomatsu, menekuk kedua alisnya.
"Gara-gara kemarin, lah." Karamatsu menoleh ke arah lain sambil menggaruk belakang kepalanya. Ia belum sepenuhnya terkendali.
"Bukankah kau hanya sakit kepala?" Terdengar remeh, namun ada nada cemas yang terlontar dari mulut si merah. Selanjutnya, ia bergumam dan sedetik kemudian berkata, "Kau sampai masuk rumah sakit, ya."
Karamatsu jadi terpikir mungkin ibunya memberi tahu keempat anaknya—tidak termasuk Choromatsu tentunya—bahwa Karamatsu hanya sakit kepala akibat terlalu lelah tampil malam itu supaya tidak membuat mereka khawatir. Memang, sakit kepala yang Karamatsu alami bukannya termasuk penyakit kronis atau parah. Selama hidupnya ia baru menderita seperti itu sekali. Apakah itu sebuah rekor ketika ia merana dan sengsara dikarenakan perkara baru? Seolah-olah miris sekali hidupnya.
"Kalau begitu, mau jalan?" tanya sang kakak meminta. "Es krim tak apa, 'kan?"
"Iya. Terus yang bayar aku," sindir Karamatsu padanya, berlagak kesal.
"Kau tak boleh meremehkanku, Karamatsu, atau kau benar-benar kusuruh mentraktirku!"
"Lihat anak tertua bokek ini. Emang pantas jones seumur hidup." Lelaki itu sudah siap memasang kuda-kuda untuk kabur.
"Dasar, kau—!" Osomatsu meraih kerah bajunya, namun sang adik keburu menunduk dan mengambil sepatu di rak dengan satu tangan, kemudian berlari meninggalkan kakaknya.
"Karamatsu! Sini kau!" Ia mengejar Karamatsu yang masih cukup dekat untuk dipandang mata. Karamatsu menoleh ke belakang, kemudian semakin mempercepat larinya. Rasanya menyenangkan menjahili Osomatsu.
Ia terus berlari, sampai di suatu masa tiba-tiba ia merasa mengambang. Belum, kakinya belum berhenti. Di depan ada tikungan, dan langkah lebar seperti melompat-lompat diperlambat tidak bisa lelaki itu hentikan, terlihat goyang, seakan Karamatsu bakal tumbang. Osomatsu masih jauh di belakangnya gara-gara ia sudah tidak selincah semasa ia masih SMA dulu, yang selalu berkelahi sana sini melawan murid antarsekolah. Ia berhenti berlari diiringi napas tersengal-sengal. Karamatsu masih beberapa meter di depannya, sedang memegang tiang lampu lalu lintas. Di saat jantung Osomatsu sudah tidak berdegup begitu kencang, ia dapat melihat adiknya kesusahan berdiri dan sudah dua tangan yang menopang tubuhnya pada tiang agar bisa bertahan. Selanjutnya, jidat Karamatsu menempel pada topangannya itu. Ia menutup mata dalam-dalam seolah menahan rasa sakit.
"Karamatsu?" Osomatsu berjalan menghampirinya. Ia berdiri di tikungan dekat Karamatsu. Deru kendaraan tertangkap pendengarannya. Sebuah truk, masih jauh, mengarah pada jalan di sebelah mereka. Namun, Osomatsu tak yakin kendaraan besar itu akan tetap pada lajurnya.
"Karamatsu, kau bisa berdiri?"
Dan ketika Osomatsu menoleh lagi, truk itu sudah dekat seratus meter dengan ban yang memutar di atas trotoar sepersekian bagian.
"Karamatsu!" Osomatsu menarik tudung jaket Karamatsu ke belakang, membawanya pergi dari tempat itu. Sang kakak tak pernah menduga bahwa tubuh sang adik lumayan berat. Alih-alih melangkah mundur, yang ada mereka terjungkal. Sebelum pantat mereka mendarat di trotoar, suara bertubrukan langsung memekakkan telinga. Tiang yang menopang badan Karamatsu tadi sudah tidak lurus vertikal. Pandangan keduanya lurus masih dalam keadaan tidak bisa mencerna situasi.
Osomatsu mengerjap, lalu mendongak sedikit. Sebuah truk yang sisi depannya tak berbentuk terlihat di maniknya. Pengemudi truk tersebut tidak kelihatan dari sudutnya terduduk. Setelahnya, ia berpaling pada Karamatsu yang berposisi sama dengan dirinya. Belum bergerak. Tak jauh, bisa diraih tangan—
"Karamatsu! Kau tahu apa yang baru saja terjadi?! Untung aku menarikmu ke belakang!"
—karena Osomatsu sadar jarak antara tumit Karamatsu dengan kendaraan yang menampung muatan banyak itu tak sampai setengah meter.
Karamatsu meraih pergelangan Osomatsu yang kemudian refleks dibantu berdiri. Jalanan di sekitar mereka kini anehnya memang sedang lengang tanpa lalu-lalang kendaraan beroda dua dan empat lainnya. Sang adik menatap kakaknya sebentar, lalu beralih pada kaca samping truk yang masih tak bisa menampakkan sang pengemudi di dalamnya.
"Ah, brother! Sopirnya—"
Osomatsu mencegah Karamatsu yang hendak mendekati truk itu lebih lagi. Sebuah asap mulai muncul dari sisi depan kendaraan itu.
"Kita pergi."
Osomatsu memaksa tenaganya untuk menyeret Karamatsu kabur menjauh. Benar saja. Waktu mereka sudah dekat dengan rumah, sebuah ledakan dapat didengar keduanya. Osomatsu berhenti. Karamatsu menoleh ke belakang, menatap ngeri.
"Tak apa, Karamatsu." Saat ini Osomatsu mencoba membuat Karamatsu tidak khawatir. "Sudah ajalnya."
"Ta-tapi …." Rasa bersalah menggerayangi Karamatsu. Tipikal si lelaki biru. Bukan berarti Karamatsu biasanya selalu menyelamatkan orang, atau jutsru karena ia pikir kali ini ia punya kesempatan untuk itu tetapi rupanya tak bisa.
Ia menunduk dalam-dalam. "Maaf, Kak. Tadi tiba-tiba kepalaku …."
"Nggak." Lelaki berjaket merah itu merangkul lehernya. "Aku yang maaf. Kepalamu sekarang bagaimana?"
"Waktu lari menjauh tadi lenyap telak."
"Itu kata menyakitkanmu yang baru atau malah salah pilih kata?"
"Eh?"
Osomatsu menuntunnya berjalan perlahan. Mereka berdua memasuki halaman rumah, lalu Osomatsu berhenti lagi sebentar.
"Kalau masih sakit bilang saja. Sepertinya kau harus cek rutin ke dokter—dan tidak usah melibatkan ibu. Aku mau kok menemanimu periksa," ucap Osomatsu.
"Osomatsu …," gumam Karamatsu terpana. Ia mulai merasa Osomatsu mungkin memang dalam keadaan tak wajar untuk terlalu memperhatikannya begini. Terlalu bingung sehingga prasangkanya hanya sampai situ.
Kegiatan saling tatap tetap berlangsung sampai sosok serupa menanggapinya dengan tatapan risih.
"Kalian sedang apa?"
Butuh waktu lama untuk membuat keduanya menoleh. Adik yang lebih muda beberapa detik dari mereka itu memasang tatapan berisyarat berhenti melakukan hal tak beguna seperti itu.
"Aku dengar ada kecelakaan di dekat rumah kita, makanya aku langsung pulang. Aku tak menemukan siapa-siapa di tempat. Ternyata kalian berdua baik-baik saja di sini."
Kalau saja ia tahu kedua kakaknya nyaris direnggut sang pencipta dari TKP.
Sebenarnya saya lagi nggak mood nulis.
NEXT ▶▶
