Annyeong~ Author baru bisa cuap-cuap lagi di chapter ini karena di chapter kemaren ngepost buru-buru bahkan sampai nggak ngedit sama sekali. Author sekarang juga lagi terharu-terharunya baca reviews dari para readers kesayangan yang bikin semangat lanjutin ff ini walaupun ide lagi stuck *cium readers satu-satu* Hehehe
Chapter ini ditulis dalam waktu super cepat jadi kalau bahasa maupun ceritanya nggak memuaskan author minta maaf ne. Tapi tenang aja cerita ini udah tamat kok dalam otak author, cuma kadang menuangkan ide dalam kata-kata itu sedikit susah.
Tetap review yaa~ Gomawo~
.
.
.
Chanyeol tidak pernah merasa sekacau ini dalam hidupnya. Tidak ada hal baik yang terjadi padanya sejak Baekhyun pergi, ia kacau dan hidupnya juga mendadak tidak teratur. Ia mengetahui bahwa ia satu-satunya yang tidak diberi tahu Baekhyun mengenai kepindahannya. Selain itu ia juga harus menghadapi kemarahan semua orang. Semua orang!
Dimulai dari orang tuanya yang mengutarakan kekecewan mereka padanya, orang tua Baekhyun yang - walaupun tidak sefrontal orang tuanya - juga mengutarakan kekecewaan padanya, teman-teman Baekhyun yang menatap tidak suka padanya, dan sekarang gadis yang ditinggalkannya begitu saja, Kyungsoo.
Gadis itu baru bersedia menemuinya lagi beberapa hari setelah kejadian ia meninggalkannya begitu saja. Tatapan enggan gadis itu tidak bisa menyembunyikan raut kesedihan yang masih terlihat oleh matanya. Seperti yang sudah-sudah, Kyungsoo terlalu mudah dibaca.
"Maafkan aku, Soo" Ia memulai. Bagaimanapun ia bukan pria brengsek dan pengecut yang akan meninggalkan seorang gadis begitu saja. Ia tidak akan menghilang tanpa menyelesaikan urusannya dengan Kyungsoo.
Kyungsoo mencoba untuk tersenyum sinis, "Untuk apa meminta maaf?" Setengah hatinya masih berharap bahwa permintaan maaf Chanyeol karena pria itu ingin kembali padanya.
"Untuk. . . Untuk sikapku yang telah menyakitimu."
Kyungsoo mendesah pelan, jadi benar-benar sudah berakhir antara dirinya dan Chanyeol. Ia tidak bisa menolak rasa sakit yang terasa di dadanya.
"Apa kau mencintainya?"
Chanyeol terdiam, tidak mampu menjawab pertanyaan Kyungsoo. Ia merasa seperti sedang dihakimi.
"Aku tidak menge. . ."
"Jawab saja oppa!"
Chanyeol menghela nafas lalu mengangguk pelan. "Aku mencintainya"
"Sudah kuduga seperti ini. Seharusnya aku melarang kau menikah dengannya dulu."
"Aku tidak berniat menyakitimu, Soo. Hanya saja, ini diluar kemampuanku."
Kyungsoo mengangguk. Chanyeol mengejarnya dulu karena pria itu memang mencintainya. Berbeda dengan Baekhyun, Chanyeol bahkan tidak butuh kesadaran untuk bisa mencintai gadis itu.
"Aku tidak akan memaafkanmu."
Chanyeol membulatkan matanya mendengar jawaban Kyungsoo, "Soo. . ."
"Aku tidak akan memaafkanmu oppa. Karena dengan memaafkanmu hanya akan membuatku lemah. Aku membutuhkan sesuatu untuk tetap membencimu."
Chanyeol terdiam.
"Akulah yang paling dirugikan disini. Kau tahu, aku tidak akan mengenalmu lagi setelah ini, kau tidak bisa menemuiku. Kau hanya akan menjadi orang asing bagiku."
Chanyeol menelan ludah, sadar bahwa Kyungsoo juga memberinya pilihan saat ini. Ia bisa meminta maaf, mengatakan bahwa ia membutuhkan Kyungsoo dan kembali bersama gadis itu. Bagaimanapun mereka sudah bersama cukup lama. Atau ia bisa melakukan seperti yang dikatakan gadis itu, tidak menemuinya lagi dan menjadi orang asing satu sama lain.
Baekhyun memang meninggalkannya dan ia tidak tahu apa masih ada harapan baginya dan gadis itu. Bersama dengan Kyungsoo jelas merupakan sebuah jalan teraman. Gadis itu menawarkan penenang baginya, Kyungsoo bisa memperbaiki hidupnya. Tapi bukan seperti itu yang diinginkannya. Ia tidak ingin lagi menyakiti perasaan Kyungsoo.
Saat ia menyadari bahwa ia mencintai Baekhyun, semua yang dimilikinya untuk Kyungsoo terasa tidak ada artinya. Ia menyadari bahwa selama ini ia hanya merasa takut. Ia berpikir bahwa kehilangan Kyungsoo akan menghancurkannya. Mungkin memang begitu pada awalnya. Namun kemudian Baekhyun mengambil alih hal itu. Saat bersama Baekhyun ia tidak menyadari bahwa gadis itu mengambil alih ketakutannya. Gadis itu selalu disana, menunggunya dan melayaninya dengan baik. Sayangnya ia terlalu bodoh untuk mengartikan perasaannya lebih cepat.
Chanyeol mengangguk, "Kau pantas membenciku."
"Bahkan jika kau menyesal dan berlutut, aku hanya akan menendangmu" Kyungsoo tersenyum sendiri diakhir kalimatnya, entah apakah ia benar-benar mampu menendang Chanyeol jika pria itu kembali padanya. Ia tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
"Aku pastikan kau bisa memukuliku hingga puas jika aku melakukannya."
Kyungsoo mengangguk, ini benar-benar sudah berakhir. Chanyeol meninggalkannya demi gadis lain. Dan tidak ada yang pantas bagi pria itu selain rasa bencinya. Bahkan ia harus membencinya cukup besar agar perasaan lainnya bisa dihapuskan.
"Kalau begitu selamat tinggal, Park Chanyeol" Ia beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Chanyeol. Tahu bahwa kali ini pria itu tidak akan mengejarnya.
.
Menyelesaikan masalah dengan Kyungsoo nyatanya tidak mampu membuat perasaan Chanyeol membaik sedikitpun. Ia justru semakin merasa bersalah. Dan satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah melimpahkan perasaan itu pada seseorang yang ia tahu tidak akan menanggapinya dengan baik, hanya saja menceritakannya pada orang itu dirasanya akan membuatnya merasa sedikit ringan.
"Kau hanya mencariku setiap kali kau terdesak. Aku bukan psikiatermu, dobi!" Makian itu adalah hal pertama yang didapatnya ketika duduk didepan Oh Sehun.
"Semua orang sedang muak kepadaku. Hanya kau yang bisa kupikirkan."
"Memangnya menurutmu aku tidak muak padamu?"
Chanyeol memutar bola matanya dan menyerahkan sekaleng kopi dingin yang dibelinya tadi pada Sehun.
"Sogokanku hanya ini? Bayaranku mahal, kau tahu."
"Kumohon, Sehun" Chanyeol mengusap tengkuknya tidak nyaman. Ia tidak dalam keadaan bernafsu untuk membalas ucapan Sehun.
Sehun tertawa kecil memperhatikan Chanyeol. Temannya itu terlihat kusut walaupun ia memakai rapi kemejanya. Ekspresi wajahnya yang membuat Chanyeol terlihat kusut.
"Baiklah. Ada apa?"
Chanyeol menghembuskan nafas lega karena Sehun akhirnya bersikap serius, "Baekhyun meninggalkanku."
Sehun mengangguk-angguk, "Ada lagi?"
"Baekhyun meninggalkanku. Aku dan Kyungsoo putus."
"Wow, inikah yang membuat kau terlihat kusut? Aku benar-benar ketinggalan gosip."
Chanyeol mendelik tajam pada Sehun, membuat pria itu terkekeh geli.
"Oke, oke. Bukankah itu hal bagus? Kau bisa bebas lagi" Sendiri bagi playboy seperti Sehun berarti hal yang baik. Ia tidak terikat dengan siapapun dan bebas melakukan apapun yang diinginkannya.
Namun tidak bagi Chanyeol, sendiri saat ini berarti malapetaka. Ia ingin terikat dengan Baekhyun, bahkan jika bisa hingga ia mati nanti. Tapi mengingat surat perceraian dan cincin pernikahan yang ditinggalkan Baekhyun mematahkan keinginannya itu.
"Kau bisa mencari gadis lain dan jatuh cinta lagi."
Tidak, Chanyeol tidak ingin jatuh cinta lagi. Bahkan ia tidak pernah ingin jatuh cinta jika perasaan itu justru membuatnya berakhir menyedihkan seperti sekarang.
Ia menggeleng, "Aku mencintai Baekhyun."
"Waah, akhirnya kau mengakuinya. Selamat Tuan Park, akhirnya kau jatuh cinta pada istrimu. Lalu bagaimana dengan kekasihmu?" Seringai mengejek tercetak di bibir Sehun.
Chanyeol mengangkat bahunya, "Aku kehilangan keduanya."
Seringai Sehun akhirnya berubah menjadi tawa geli, "Kalau begitu selamat menikmati karmamu."
Chanyeol menggeram, "Kau tahu, aku bisa memukuli orang dengan sangat brutal saat ini!" Ia memperingatkan dengan nada rendah.
"Baiklah, baiklah" Sehun menghentikan tawa dan mengontrol dirinya. "Apa yang akan kau lakukan?"
Inilah pertanyaan yang mengganggunya. Apa yang akan dilakukannya? Ada begitu banyak hal kacau dalam hidupnya sekarang dan ia tidak tahu apa yang harus dibereskannya terlebih dahulu. Ia menggeleng frustasi.
"Karena itulah kau sangat bodoh, Park. Jika kau mencintainya, maka kau harus mengejarnya. Bawa ia kembali padamu, apapun caranya. Seorang pria tidak akan menyerah dengan mudah."
Bukannya Chanyeol tidak memikirkan hal itu, tapi ada begitu banyak hal yang menghalanginya.
"Ia pergi ke luar negeri, aku tidak bisa menghubunginya dan aku tidak tahu harus mencari kemana. Bertanya pada orang tuanya dan teman-temannya sama saja membiarkan diriku menjadi santapan singa."
"Maka kau harus menjadi pawang yang hebat agar tidak dimakan. Ayolah Park, singa bisa dijinakkan."
Chanyeol terdiam mencoba mencerna ucapan Sehun. Hal ini yang membuatnya selalu mencari Sehun dalam kekalutannya. Pria sahabatnya itu memang menyebalkan dan selalu menguji kesabarannya, namun akhirnya Sehun juga selalu bisa membantunya dalam masalah apapun.
"Jika kau benar-benar ingin bersamanya, selalu ada cara untuk menemukannya. Berusahalah sedikit lebih keras agar nanti kau tidak menyesal."
Kali ini Chanyeol mengangguk, merasakan bahwa ucapan Sehun memberinya tujuan baru. Ia mencintai Baekhyun dan ingin bersama dengan gadis itu. Ia membutuhkan Baekhyun untuk membuat hidupnya kembali normal. Mungkin memang akan sulit, tapi karena ini kesalahannya maka akan dihadapinya kesulitan itu. Seperti ucapan Sehun, ia harus mendapatkan Baekhyun lagi bagaimanapun caranya atau ia akan menyesal nanti. Dan ia tidak butuh penyesalan baru saat yang dirasakannya sekarang saja sudah menghantamnya kuat. Ia memandang Sehun dengan tatapan berterima kasih.
"Jangan menatapku dengan wajah mengerikan seperti itu! Sekarang pergilah dan jangan datang lagi padaku dengan masalah baru! Aku bukan penasehat urusan cintamu."
.
Chanyeol menyabarkan hatinya memandang dua gadis dengan tatapan tajam dan raut wajah tidak suka yang tidak disembunyikan sedikitpun ketika memandangnya. Luhan dan Tao memang jalan yang dirasanya paling mudah jika tujuannya adalah Baekhyun karena menghadapi orang tua gadis itu sudah pasti tidak gampang.
Namun tetap saja, melihat Chanyeol didepannya kedua gadis itu langsung memasang ekspresi paling tidak suka di wajah masing-masing. Ditambah dengan tatapan tidak bersahabat yang membuat Chanyeol harus menghela nafas sabar.
"Bisakah kalian memberi alamat Baekhyun padaku? Atau kontaknya agar aku bisa menghubunginya."
Mulut Luhan membulat tidak percaya, sedangkan Tao tersenyum sinis. "Apakah ada yang belum diselesaikan Baekhyun? Bukannya ia sudah menyelesaikan semuanya, ya?" Tao bertanya pada Luhan.
Luhan mengangguk, "Jika ada yang terlupa oleh Baekhyun, kau bisa mengatakannya pada kami Chanyeol-ssi. Kami akan menyelesaikannya."
Chanyeol menahan dirinya. Ia tahu kedua gadis didepannya ini sedang mempermainkannya. Lihat saja wajah sok polos kedua gadis itu.
"Aku ingin berbicara dengannya."
Luhan mengangguk-angguk paham, jelas sekali dibuat-buat. "Kau bisa berbicara pada kami. Kami akan memberitahunya pada Baekhyun" Ia tersenyum -sok- menenangkan diakhir kalimatnya.
"Aku ingin berbicara dengan istriku!" Chanyeol menekankan kata 'istriku' diakhir kalimatnya.
"Jika ingin berbicara dengan istrimu" balas Tao juga menekankan kata 'istrimu' dalam kalimatnya, "Mengapa kau mencari kami. Bukankah seharusnya kau yang paling tahu dimana dia."
Lagi-lagi Chanyeol harus menahan diri, "Ada yang harus kuselesaikan dengan Baekhyun."
"Oh, apa masalah perceraian? Apa bocah itu melupakan sesuatu?"
Cukup, gadis bernama Tao itu benar-benar menguji kesabarannya. Tidak heran, karena saat pertemuan pertamanya dengan Tao, gadis itu juga bersikap menyebalkan pada Baekhyun.
Chanyeol beralih pada Luhan yang duduk disebelah Tao. Mungkin Luhan tidak semenyebalkan Tao.
"Luhan-ssi, kau sahabat baik Baekhyun. . ."
"Aku juga sahabat baiknya" Tao memotong, namun Chanyeol mengabaikan gadis itu.
"Masalah kami tidak akan selesai jika seperti ini."
Luhan menghela nafas dan Chanyeol berharap Luhan akan menolongnya. Namun ia tidak tahu bahwa gadis itu yang paling mengerti bagaimana menderitanya Baekhyun karena dirinya. Tentu saja tidak semudah itu bagi Luhan untuk menolongnya.
"Chanyeol-ssi, aku tidak tahu dimana Baekhyun tinggal. Tapi jika kau benar-benar ingin tahu, kau bisa bertanya pada Kris."
Gotcha! Mendengar nama Kris disebut-sebut membuat Chanyeol tersentak kaget. Kemungkinan buruk mulai menari-nari dalam kepalanya.
"K-Kris?"
"Ne. Baekhyun tidak memberitahumu ya? Ia kan pergi bersama Kris ge" Tao menambahkan polos. Ia bukannya tidak melihat perubahan wajah Chanyeol, justru karena melihatnya lah gadis itu semakin memanasi. Bisa dilihatnya wajah Chanyeol memerah.
Luhan yang juga melihat perubahan wajah itu merasa cukup mengerjai Chanyeol. Ia beranjak berdiri dari duduknya dan menarik lengan Tao bersamanya. "Kami harus kembali bekerja, maaf tidak bisa membantumu" Ujarnya walaupun bisa dilihat jelas tidak ada permintaan maaf sedikitpun dari matanya.
"Aku mencintai Baekhyun."
Langkah Luhan dan Tao sontak terhenti mendengar pernyataan itu. Keduanya membulatkan mata karena terkejut. Sementara Chanyeol menghembuskan nafas pasrah, Luhan dan Tao entah orang keberapa yang diberitahunya mengenai pernyataan cinta itu. Hampir semua orang mengetahuinya sekarang. Ia mengumbar pernyataan cintanya ke semua orang kecuali pada orang yang dicintainya. Menyedihkan.
Tatapan mata Luhan melunak, tapi tidak dengan Tao. Gadis itu dengan cepat mengambil alih sebelum si lemah Luhan mengumbar semuanya hanya karena satu kalimat itu. "Maaf Chanyeol-ssi, kami benar-benar tidak bisa memberi tahu apapun padamu. Baekhyun mungkin akan marah. Kau tahu seberapa mengerikannya Baekhyun jika ia sudah marah" Ia tersenyum sangat manis lalu menyeret Luhan pergi dengan cepat.
Langkah cepat dan raut wajah angkuh itu terus dipertahankan Tao hingga mereka benar-benar tidak bisa melihat Chanyeol lagi. Namun begitu mereka berbelok dan benar-benar jauh dari Chanyeol, gadis itu melepaskan raut wajah angkuhnya.
"KYAAAA!" Ia berteriak keras membuat Luhan tersentak kaget.
"Unnie, kau mendengarnya? Kau mendengarnya kan? Ya Tuhan, ia mencintai Baekhyun, unnie!"
Luhan menutup telinganya dengan sebelah tangan begitu mendengar sorakan heboh Tao. Tidak ada lagi sisa-sisa raut wajah angkuh yang dipakainya tadi. Yang bisa dilihatnya sekarang adalah Tao yang melompat-lompat seperti anak kecil.
"Kita harus memberi tahu Baekhyun!" Tao mengeluarkan ponselnya dan memencet benda itu heboh.
"Ya! Ya! Ya!" Luhan merebut ponsel dari tangan Tao. "Biarkan saja, ini bukan urusan kita."
"Tapi unnie. . ."
"Biarkan mereka menyelesaikannya Tao. Jika ia memang mencintai Baekhyun, ia harus berusaha dan menunjukkannya."
Tao akhirnya mengangguk setuju dengan ucapan Luhan. Biarkan saja pria keterlaluan itu sedikit menderita, ia pantas menerimanya.
.
Mengetahui bahwa Baekhyun pergi dengan Kris membuat Chanyeol semakin kalut. Bagaimana tidak, pria itu selalu muncul setiap kali ia memiliki masalah dengan Baekhyun dan bahkan sekarang ia berani membawa Baekhyun. Istrinya! Chanyeol menggeram dan meremas kaleng di tangannya, membuat benda itu remuk dan pria yang berada dihadapannya mendelik kesal.
"Kau datang menerobos kantorku, mengganggu pekerjaanku lalu sekarang menghancurkan sesuatu didepanku. Aku akan memanggil satpam untuk mengusirmu."
"Aku ingin berbicara."
Sehun mendecak, "Bukankah sudah kubilang untuk tidak menemuiku lagi. Kau membuatku ikut pusing dengan masalahmu!"
Chanyeol meringis, jika dipikirkan ia memang sudah sangat mengganggu Sehun dengan masalah-masalahnya. Seperti sekarang ini, ia datang ke kantor Sehun dan mengganggu pekerjaan pria itu. Tapi mau bagaimana lagi, hanya Sehun satu-satunya orang yang bisa mendengarnya sekarang. Berbicara dengan orang tuanya tidak akan melegakan kecuali ia mau menerima kemarahan ayahnya.
"Aku merasa hampir gila" Ujarnya mengabaikan keberatan Sehun.
Sehun menghela nafas dan merutuki nasibnya yang harus menjadi sahabat pria bodoh yang ada didepannya saat ini. "Ada apa lagi?"
Maka Chanyeol menceritakan pertemuannya dengan gadis-gadis sahabat Baekhyun dan juga pria bernama Kris. Seolah menunjukkan pada pria itu bahwa apa yang diucapkan Sehun tidak semudah itu untuk dilakukan. Sungguh otaknya kacau dan pelampiasan mungkin akan sedikit membantunya.
Namun Sehun bukan pria semacam itu, setelah berbagai makian dan umpatan Chanyeol ditambah sedikit tuduhan atas ucapannya bahwa 'singa bisa dijinakkan', ia hanya menatap Chanyeol dengan wajah datarnya yang khas. "Lalu apa masalahnya?"
"Semuanya masalah!" Chanyeol mengerang frustasi. Sehun seringkali mengatakan bahwa ia pria bodoh, namun pria itu juga tidak kalah bodoh.
Baekhyun pergi, itu masalah. Semua orang menyalahkannya, itu masalah. Hidupnya kacau, itu masalah. Teman-teman Baekhyun yang menyebalkan, itu masalah. Kris, itu masalah.
See? Semuanya masalah dan Sehun masih bertanya padanya!
"Tidak ada masalah. Jika pria bernama Kris itu yang membawa Baekhyun pergi, maka kau harus menemukannya."
"Tentu saja, aku akan menghubunginya, mengajaknya minum lalu bertanya mengenai Baekhyun!" Chanyeol menjawab sarkastis. Lagi-lagi Sehun menguji kesabarannya.
"Bukan begitu bodoh! Menemukan Baekhyun mungkin akan sulit. Tapi jika pria itu adalah salah satu direktur sebuah perusahaan besar, menurutmu sesulit apa menemukannya? Dan jika memang ia yang membawa Baekhyun pergi, maka kau hanya perlu menemukannya dan ia akan menggiringmu ke tempat istrimu."
Chanyeol terpaku mendengar ucapan Sehun. Ia memang sangat bodoh! Kenapa hal ini tidak terpikir oleh otaknya? Ia tidak perlu ribut mencari informasi mengenai Baekhyun.
Yixing mengatakan padanya bahwa Baekhyun pergi ke Hong Kong, dan ia masih ingat dengan jelas bahwa bos baru Baekhyun itu adalah pria China salah satu pewaris perusahaan besar tempat Baekhyun bekerja, ditambah lagi dengan ucapan Tao bahwa Baekhyun pergi bersama Kris.
Menemukan Baekhyun mungkin akan sulit karena gadis itu hanyalah gadis biasa, tapi tidak dengan menemukan Kris. Sesulit apa menemukan seorang direktur perusahaan besar? Ia hanya perlu mencari perusahaan Kris, menemukan pria itu dan membiarkan pria itu menggiringnya pada Baekhyun.
Chanyeol menatap Sehun, lagi-lagi dibuat tercengang dengan otak jenius pria menyebalkan itu. Ya memang tidak ada salahnya menahan kesabarannya atas sikap Sehun kalau pada akhirnya pria itu selalu memberikan solusi padanya.
"Jangan menatapku dengan wajah menjijikkan itu. Kau membuatku merinding!"
.
Baekhyun membereskan meja kerjanya dan berdiri lalu membungkuk pada beberapa orang yang masih tersisa dalam ruangan itu. Sebuah kebiasaan lama yang sulit diubah. Di tempat ini sangat jarang ditemukannya orang yang membungkukkan badannya pada orang lain. Tapi ia tetap melakukannya walaupun orang-orang akan meresponnya dengan balas membungkuk canggung.
Saat itulah ia merasakan ponsel di sakunya bergetar. Gadis itu segera meraih ponselnya, menatap layar ponsel itu sebentar lalu tersenyum kecil ketika menerima panggilan.
"Yeoboseyo"
"Kau harus merubah sapaanmu, Baekki-ya. Kita bukan di Korea lagi."
Baekhyun mendengus kecil dalam senyumnya, "Karena aku tahu kau yang menghubungiku, ge. Makanya aku tetap memakai bahasa ibuku."
"Jika kau lupa, aku ini pria China nona Byun."
"Kau pria China yang fasih berbahasa Korea. Aku memanfaatkan hal itu."
Kris terkekeh diseberang, "Baiklah, kau menang. Kau sudah selesai? Turunlah! Aku menunggu di bawah."
Baekhyun melirik sekelilingnya, masih cukup ramai. "Gege, aku bisa pulang sendiri. Tidak perlu menungguku."
"Tidak ada alasan. Cepatlah turun! Aku sudah kedinginan."
"Gegeee. . ." Baekhyun merengek. "Disini masih ramai. Aku tidak enak" Sekali lagi ia melirik sekelilingnya. Masih ada banyak karyawan disekitarnya dan ia sebagai 'anak baru' setidaknya harus menjaga citranya. Bayangkan saja apa yang dipikirkan orang-orang ketika anak baru yang dibawa Kris selalu ditunggu oleh pria itu setiap kali jam kerja berakhir.
"Kau ingin turun sendiri atau aku perlu menjemputmu kesana?"
Baekhyun mendecak kesal. "Aku turun!" Ia memutuskan panggilannya dengan Kris dan bergegas turun ke lantai bawah. Didalam hati ia berdoa supaya tidak ada yang memperhatikannya yang lagi-lagi naik ke mobil Kris sore ini.
Memang semenjak mereka sampai di negara tirai bambu ini hampir tiga minggu lalu, Kris sedikit bersikap lebih protektif padanya. Dimulai dengan mencarikannya tempat tinggal yang nyaman, memberinya pekerjaan di kantor yang sama walaupun ada banyak cabang lain perusahaan Wu dan hampir selalu mengantarnya kemanapun gadis itu ingin pergi. Demi Tuhan, Baekhyun bukan orang baru di tempat ini. Ia menghabiskan beberapa tahun tinggal di negara ini, di kota ini, karena itu ia tidak akan hilang bahkan jika ditinggal sendirian. Tapi Kris tetap saja dengan sikap protektifnya yang tidak melepaskan Baekhyun terlalu lama diluar pengawasannya.
Baekhyun sampai di lobi dan melihat Kris sudah menunggunya dengan bersandar di mobil. Ia semakin mempercepat langkahnya hingga berhenti didepan Kris. "Ayo!" Ajaknya.
Kris mengulum senyum melihat gadis didepannya. Baekhyun hampir setiap hari mengeluh dengan keinginannya walaupun pada akhirnya gadis itu tetap menuruti keiginannya itu. Tiba-tiba otak jahilnya memberi ide untuk menggoda Baekhyun.
Dengan gerakan cepat direntangkannya kedua tangannya hingga mencapai Baekhyun dan ditariknya tubuh gadis itu hingga menabrak tubuhnya sendiri lalu mengunci Baekhyun dalam pelukannya.
Baekhyun terkejut sehingga mata sipitnya membulat sempurna. Ia menggerakkan badannya berusaha mengurai pelukan Kris, tapi tenaga pria itu jauh lebih kuat daripadanya sehingga ia bahkan tidak bisa melonggarkan pelukan Kris sedikitpun.
"Gege!" Ancamnya gusar.
"Apa sayang?"
"Lepas!"
"Apa yang harus kulepas?"
"Aku benar-benar akan membunuhmu!"
Tawa Kris akhirnya meledak. Ia melepas pelukannya pada Baekhyun dan memegangi perutnya yang terasa sakit karena heboh tertawa. Sementara itu Baekhyun menggembungkan pipinya kesal. Wajahnya memerah karena menahan malu dan khawatir ada orang yang melihat mereka.
"Wajahmu seperti tomat, Baek" Kris tertawa lagi.
Baekhyun mengalihkan tatapannya memandang Kris yang berusaha mengontrol tawanya ketika dipandangi tajam oleh Baekhyun.
"Kau menyebalkan!" Baekhyun mendesis rendah dan mencubit lengan Kris keras.
"Aaww, aku minta maaf. Lepaskan, Baek!" Kali ini pria itu berteriak heboh berusaha melepaskan jepitan jari Baekhyun di lengannya.
Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian lebih lama lagi, Baekhyun melepas cubitannya pada Kris namun tetap memandang pria itu dengan raut wajah kesalnya.
"Gege minta maaf, oke."
Baekhyun mengabaikan permintaan maaf Kris, "Aku pulang sendiri saja" Rajuknya.
Kris tersenyum mendengar rajukan Baekhyun, dirangkulnya leher gadis itu, "Ayo pulang."
Baekhyun memegang tangan Kris yang melingkar di lehernya dan menghempaskan tangan itu, "GEGE!"
Kris tertawa lagi, ia mengangkat kedua tangannya, "Baiklah, baiklah. Aku tidak bercanda lagi. Ayo pulang!" Dibukanya pintu mobil untuk Baekhyun dan sedikit didorongnya tubuh gadis itu agar masuk kedalam mobilnya.
Baekhyun merengut kesal namun tetap menurut dan masuk kedalam mobil Kris. Bagaimanapun kesalnya, tujuan utamanya saat ini adalah pergi secepatnya sebelum Kris mulai menggodanya lagi. Tidak masalah jika Kris menggodanya di tempat lain, tapi saat ini mereka sedang di kantor. Demi Tuhan!
Tanpa keduanya sadari - baik Kris maupun Baekhyun - seseorang memperhatikan mereka tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Orang itu tetap berdiri disana bahkan hingga mobil Kris melaju meninggalkan gedung. Tatapan orang itu tidak bisa dibilang tenang. Wajahnya memerah menahan marah dan nafasnya sedikit memburu.
Cemburu.
TBC
