.
.
A Romantic Story About Love "HAEHYUK YAOI VER" (Remake Story)
.
Desclaimer:
Cerita ini adalah murni bukan karya saya, ini hanya bentuk Remake dari Novel luar biasa karya Santhy Agatha dengan judul asli "A Romantic Story About Serena". Dengan perubahan genre menjadi Boys Love alias YAOI, pergantian cast sesuai dengan bayangan saya serta penambahan dan pengurangan di sana sini sesuai dengan kebutuhan jalan cerita. Semua Cast yang nantinya ada di sini murni milik Tuhan, Orang Tua, dan diri mereka sendiri, karena saya hanya meminjam nama. Tapi untuk Lee Donghae, masih diharapkan hanya menjadi milik saya dan hanya dengan Lee Hyukjae saya rela berbagi ^ , ^.
Untuk penggambaran sosok Donghae dan Hyukjae dalam cerita ini, silahkan bayangkan seperti gambar cover-nya ya...
.
Bagi yang tidak suka dengan semua yang berbau Remake, jangan dibaca, Monggo silahkan langsung tutup ini halaman dengan cara klik tanda silang di pojok kanan atas. Jangan ada bash apalagi hujatan, karena itu terlalu buang-buang energi anda.
Terima Kasih
.
Selamat Membaca ^^
.
.
BAB 14
Sejak saat itu Donghae seolah-olah menghilang dari kehidupan Hyukjae. Hyukjae merenung di dalam mobil rumah sakit yang kini membawa mereka pulang ke apartemen.
Hari ini Siwon sudah boleh pulang dari rumah sakit, bersama Sungmin dan Leeteuk mereka pulang ke apartemen. Leeteuk memutuskan untuk tinggal sementara membantu Hyukjae, dan Sungmin sudah berjanji akan berkunjung setiap hari untuk mengecek kondisi Siwon dan melakukan terapi rutin.
Kata Sungmin, Donghae memutuskan mengambil tugas perjalanan ke Eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama. Dada Hyukjae terasa nyeri, ketika sekali lagi mengakui kenyataan itu kepada dirinya sendiri. Oh ya, dia merindukan Donghae, sangat merindukannya.
Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan. Hyukjae mencintai Donghae. Dia tidak tahu kapan perasaan ini tumbuh. Hyukjae hanya tahu dia mencintai Donghae, itu saja.
"Aku tidak menyangka atasanmu yang kelihatannya sombong itu bisa begitu baik, meminjamkan apartemennya."
Siwon memecah keheningan, menatap Hyukjae dengan sedikit menyelidik. Dia bertanya-tanya karena akhir-akhir ini Hyukjae terlihat begitu murung.
"Aku yang membujuknya."
Sungmin yang duduk di kursi depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Hyukjae pasti kebingungan dengan pertanyaan Siwon itu.
"Donghae adalah sahabat suamiku. Aku bilang merawatmu penting bagiku, karena kau adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan yang menewaskan suamiku. Jadi Donghae mau meminjamkan apartemen itu, toh apartemen itu tidak terpakai."
Diam-diam Hyukjae dan Leeteuk menarik napas lega mendengar kelihaian Sungmin menjawab. Mereka sampai di apartemen, dan Hyukjae mendorong kursi roda Siwon memasuki ruangan itu.
Begitu mereka masuk tanpa sadar Hyukjae mengernyit, semua kenangan itu seolah menghantamnya. Di sini, di apartemen ini dia menghabiskan waktu berdua dengan Donghae, makan malam bersama, bercakap-cakap bersama….
"Apartemen yang sangat bagus, kita beruntung Hyukkie. Atasanmu itu sangat baik."
Siwon mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Hyukjae sambil tersenyum. Mau tak mau Hyukjae memaksakan senyuman di bibirnya. Kuatkah ia berada di sini? Apalagi di kamar itu... Hyukjae melirik kamarnya, tempat Donghae juga menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Tidak! dia tidak mau masuk lagi ke kamar itu!
Dengan cepat dan efisien mereka menyiapkan segalanya sehingga Siwon selesai di terapi dan beristirahat di kamarnya. Leeteuk menjaganya sebentar, lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, berjanji akan pulang dan menginap di sini nanti malam.
Setelah memastikan Siwon tertidur pulas, Sungmin menyeduh teh dan mengajak Hyukjae duduk di ruang depan.
"Dia sudah kembali dari Eropa."
Sungmin membuka percakapan, menatap Hyukjae dari atas cangkir kopi yang diteguknya. Seketika itu juga hati Hyukjae melonjak, tahu siapa yang di isyaratkan Sungmin sebagai 'dia' itu.
"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Hyukjae pelan.
Sungmin tersenyum miring mendengar kelembutan dalam suara Hyukjae.
"Kau itu baik hati ya, sudah menerima arogansinya yang tidak tanggung-tanggung, tetapi masih saja mencemaskannya." Dengan pelan Sungmin meletakkan cangkirnya.
"Yah, dia baik-baik saja. Sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti beruang terluka. Tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya dalam radius 100 meter kalau dia sedang mengeluarkan aura pemarahnya. Bahkan direktur keuangan memilih berhubungan dengannya via telepon."
Sungmin terkekeh. Lalu wajahnya berubah serius kala melihat kesedihan Hyukjae.
"Yah... dengan melupakan fakta kalau akhir-akhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia, sepertinya dia baik-baik saja."
Hyukjae memalingkan wajahnya dengan pedih.
"Dia menderita Hyukkie..." Desah Sungmin kemudian.
"Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya."
"Sudah..." Hyukjae tidak tahan lagi mendengarnya, penderitaan Donghae serasa mengiris-iris hatinya.
"Sudah aku tidak mau mendengar lagi."
Sungmin menarik napas.
"Tapi tadi dia memintaku menyampaikan pesan kepadamu."
Kata-kata Sungmin yang menggantung membuat Hyukjae menoleh, tertarik.
"Pesan?"
Sungmin menggangguk.
"Ya, sebuah pesan... Malam ini jam delapan, ditunggu di restaurannya."
Lalu Sungmin menyebutkan nama sebuah hotel. Dan Hyukjae mengernyit, hotel tempat pertama kali dia bersama Donghae.
..:: [HaeHyuk] ::..
Hyukjae merasa tidak nyaman, pakaiannya terlalu biasa-biasa saja untuk ukuran hotel yang mewah ini. Dia berdiri dengan kikuk di lobby, tak tahu harus berbuat apa.
Entah dorongan apa yang membuatnya datang menemui Donghae malam ini. Dia tahu dia nekat, seperti memancing iblis untuk membakarnya. Tapi dia tidak bisa menahan diri. Dia ingin bertemu Donghae, walaupun mungkin ini untuk terakhir kalinya.
"Bisa dibantu Tuan?"
Lelaki petugas hotel itu datang menghampiri, sepertinya melihat kebingungan Hyukjae.
"Eh saya...saya Lee Hyukjae...saya sudah ditunggu..."
"Tuan Hyukjae."
Petugas itu berubah sopan dan membungkukkan tubuh.
"Silahkan, anda sudah ditunggu, mari saya antar."
Dengan ragu Hyukjae melangkah mengikuti petugas hotel itu, memasuki restaurant yang tertata dengan mewah dan elegan. Dan disanalah Donghae, duduk dengan pakaian resminya. Mata Donghae sudah melihatnya ketika dia memasuki ruangan. Dan tidak lepas memandanginya dengan tajam setelahnya. Ketika Hyukjae mendekat, Donghae berdiri dengan sopan lalu duduk lagi setelah Hyukjae duduk. Hening sejenak, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Terimakasih sudah datang." Gumam Donghae lembut.
Hyukjae mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat kelembutan tatapan Donghae.
"Mungkin ini untuk terakhir kalinya, mungkin setelah ini aku tidak akan datang lagi." Gumam Hyukjae pelan. Donghae menggangguk.
"Setelah ini aku tidak akan pernah memintamu datang lagi."
Hening lagi. Sampai pelayan membawakan makanan pembuka, mereka makan malam dalam diam. Sampai kemudian Donghae menuangkan anggur ke gelas Hyukjae. Hyukjae mengernyit melihatnya.
"Aku tidak pernah minum alkohol."
Donghae tersenyum menggoda, senyum pertamanya malam itu.
"Tenang saja, aku akan menjagamu. Kemungkinan terburuknya mungkin kau diperkosa saat mabuk."
Pipi Hyukjae langsung merona dan Donghae terkekeh. Anggur itu mencairkan segalanya, suasana menjadi hangat, dan percakapan mereka mengalir lancar. Donghae menceritakan tentang perjalanannya ke Eropa dan Hyukjae mendengarkannya dengan penuh minat. Sampai kemudian, Donghae menggenggam tangan Hyukjae lalu mengecupnya.
"Aku ingin memelukmu."
Hanya satu kalimat, tapi Hyukjae mengerti. Dia menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dia menyetujuinya. Mungkin karena anggur itu sudah mempengaruhi pikiran normalnya. Yang pasti Hyukjae juga ingin merasakan pelukan Donghae. Dengan lembut Donghae menghela Hyukjae, melangkah ke lantai atas. Ketika Donghae membuka pintu kamar, Hyukjae menatap Donghae bingung, dan Donghae tertawa menyadari kebingungan Hyukjae.
"Yah... kamar yang sama... Kuakui... aku memang agak sedikit sentimental."
Donghae mengangkat bahu, pipinya sedikit merona.
"Kupikir... tempat saat pertama akan cocok untuk menjadi tempat saat terakhir kita."
Hyukjae tersenyum lembut, dan membiarkan Donghae membimbingnya memasuki kamar. Mereka berdiri dengan canggung, sampai Donghae mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya.
"Aku membawa cincin keluargaku, cincin yang diberikan turun-temurun untuk pengantin keluarga Lee."
Dengan tenang Donghae membuka kotak itu dan menunjukkan cincin dengan berlian biru yang mungil dan cantik.
"Aku ingin memberikannya kepadamu."
"Tidak!" Hyukjae langsung berseru keras, menolak.
"Jangan Donghae, itu... itu cincin yang sangat penting, itu untuk pengantinmu!"
"Bagiku, kaulah pengantinku."
Donghae menarik tangan Hyukjae, memaksa memasangkan cincin itu ke tangannya, lalu menggenggamnya erat-erat ketika Hyukjae berusaha melepaskan cincin itu.
"Aku ingin kau memilikinya."
"Donghae..." Hyukjae merintih penuh penderitaan, penuh air mata. Dan Donghae mengusap air matanya lembut, mengecup air matanya lembut.
"Hyukjae." Bisiknya seolah kesakitan, lalu mencium bibir Hyukjae dengan lembut dan penuh perasaan.
"Astaga... Hyukjae... Hyukjae... Betapa aku merindukanmu..."
Ciumannya semakin dalam, semakin bergairah, semakin penuh kerinduan, tak tertahankan...
..:: [HaeHyuk] ::..
Donghae melepaskan ciumannya dan menatap Hyukjae lembut.
"Kau mabuk ya?" Senyumnya.
Merasa senang karena Hyukjae membalas ciumannya dengan sama bergairahnya. Hyukjae hanya merangkulkan tangannya erat-erat di leher Donghae, merasakan benaknya melayang-layang. Sepertinya dia memang mabuk, karena sekarang dia merasa bebas dan begitu nyaman bersama Donghae. Donghae terkekeh geli.
"Aku senang kalau kau mabuk, kau begitu penurut dan tidak takut-takut."
Dengan lembut Donghae mengecup telinga Hyukjae, mencumbunya dengan penuh kelembutan.
"Biarkan aku mencintaimu malam ini Hyukkie..."
Dengan lembut Donghae menghela Hyukjae ke atas tempat tidur dan mengecupi wajahnya penuh perasaan.
"Selama ini kita berhubungan seks... Tapi malam ini aku berjanji, kita akan... bercinta."
Donghae menggerakkan tangannya, membuka kemeja Hyukjae perlahan dan mulai mengecupi pundaknya, tersenyum senang ketika mendengar desahan Hyukjae.
"Hmm, kau senang sayang? Kau menyukainya ya?"
Dengan penuh perasaan di kecupinya semua permukaan kulit Hyukjae. Hyukjae merasa dirinya melayang-layang, pengaruh alkohol, ditambah kemesraan Donghae yang luar biasa membuatnya merasa di awang-awang. Dibukanya matanya, dan samar-samar dilihatnya Donghae mengecupi jemarinya. Ketika Donghae menatapnya, mata laki-laki itu tampak berkilauan.
Posisi mereka begitu intim, telanjang bersama dengan tubuh menyatu. Donghae mendesakkan dirinya lebih rapat, menikmati tubuh Hyukjae yang melingkupinya. Dadanya serasa membuncah oleh perasaan hangat, ketika mata mereka bersatu dalam pesan yang tersirat.
"Aku mencintaimu." Bisik Donghae lembut.
Dan Hyukjae pun melayang, terbawa oleh cinta Donghae.
..:: [HaeHyuk] ::..
Donghae memeluk tubuh Hyukjae yang lunglai dan terlelap, tubuhnya rileks setelah percintaan mereka. Tapi otaknya berpikir keras. Dia sengaja membuat Hyukjae mabuk malam ini, agar Hyukjae tidak waspada. Agar Hyukjae tidak menyadari, tidak menyadari apa yang sudah dia rencanakan jauh sebelumnya. Donghae tidak memakai pelindung saat mereka bercinta tadi. Dia berusaha membuat Hyukjae hamil.
Donghae memejamkan mata dan mengernyit ketika sengatan rasa bersalah menyerbunya. Dia telah memanipulasi ketulusan perasaan Hyukjae dengan menjebaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah berusaha melupakan Hyukjae.
Tuhan tahu dia berusaha sangat keras, apa saja agar Hyukjae bahagia bersama Siwon yang sudah dipilihnya. Dia bahkan mengajukan diri untuk perjalanan bisnis ke luar negeri agar bisa melupakan Hyukjae. Tapi Pemuda itu membayanginya, membuatnya gelisah dan tidak bisa berkonsentrasi.
Donghae merasa dirinya nyaris gila ketika memutuskan akan pulang dan memutuskan untuk memiliki Hyukjae dengan cara apapun. Jika Hyukjae tidak mau memilihnya, maka Donghae akan memaksa Hyukjae memilihnya!
Dengan lembut Donghae mengecup dahi Hyukjae yang berbaring di lengannya. Sebelah tangannya meraba perut Hyukjae yang telanjang di balik selimut dan mengelusnya.
Anakku mungkin sudah tumbuh di sini, pikirnya posesif. Rasa memiliki dengan intensitas luar biasa muncul tiba-tiba dalam hatinya ketika menyadari bahwa anaknya mungkin sudah mulai bertumbuh dan terbentuk di dalam rahim Hyukjae.
Dengan lembut diusapnya perut Hyukjae, Donghae tidak bisa menahan diri. Pelan-pelan diletakkannya kepala Hyukjae di bantal, lalu dia bergerak turun dan mengecup perut Hyukjae.
"Kau harus tumbuh di sana." Bisiknya penuh tekad.
"Kau harus tumbuh sehat dan kuat di sana, agar ayahmu bisa memiliki ibumu." Donghae berbicara sambil mengecup perut Hyukjae.
Kemungkinan bayi itu terbentuk dari percintaan mereka adalah 80%, Donghae sudah mempelajarinya dari semua referensi yang bisa ia dapat. Ia mengetahui benar keistimewaan Hyukjae dan kemungkinan Hyukjae hamil sangat besar. Donghae tahu benar jika di usianya sekarang, Hyukjae benar-benar siap dibuahi.
Ciuman-ciuman lembut yang ia rasakan di perutnya membuat Hyukjae terbangun, dia membuka mata dan menatap Donghae.
"Donghae?"
Hyukjae bertanya-tanya kenapa Donghae mengecup perutnya. Donghae tersenyum, senyum yang sedikit kejam menurut Hyukjae. Tapi usapan tangan lelaki itu yang dilakukan sambil lalu di sepanjang kulitnya yang telanjang, terasa begitu lembut sekaligus menggoda.
"Aku bergairah lagi." Gumam Donghae Serak, lalu bergerak naik dan mengecup bibir Hyukjae penuh gairah.
Donghae berbeda dengan tadi, pikir Hyukjae. Kali ini sedikit lebih kasar, tidak menahan diri dan sangat posesif. Ciumannya begitu bergairah, melumat bibir Hyukjae kuat-kuat, lidahnya menjelajahi mulut Hyukjae dengan panas, tangannya mengusap tubuh Hyukjae penuh gairah,
"Kau milikku Lee Hyukjae."
Gumam Donghae parau sebelum bercinta lagi dengan Hyukjae.
..:: [HaeHyuk] ::..
Hyukjae terbangun dalam pelukan Donghae. Matahari fajar sedikit menembus tirai putih jendela hotel itu, masih gelap dan dingin. Dengan nyaman Hyukjae makin bergelung dalam pelukan lelaki itu. Dan secara otomatis Donghae mengetatkan pelukannya, melingkarkan lengannya erat-erat di tubuh Hyukjae.
Hyukjae memejamkan matanya, menenggelamkan wajahnya di dada telanjang Donghae, menghirup aroma Donghae kuat-kuat dan menyimpannya rapat-rapat dalam memorinya. Tiba-tiba air mata merembes dari sela bulu matanya, dan Hyukjae menahannya agar tidak menjadi isakan.
Kenapa? Kenapa Tuhan membuatnya jatuh cinta lebih dulu kepada Donghae sebelum kemudian mengabulkan doanya agar Siwon terbangun dari komanya? Apa rencana Tuhan di balik semua peristiwa ini? Kenapa di saat Siwon benar-benar sudah bangun, hatinya sudah jatuh dimiliki oleh Donghae?
Hyukjae mengigit bibirnya agar tangisnya tidak semakin keras dan membangunkan Donghae, dia tidak boleh menangis. Ini semua sudah menjadi keputusannya. Dia sudah memiliki Siwon. Siwon yang mencintai dan dicintai olehnya sejak awal. Siwon yang sebatang kara dan tidak akan punya siapa-siapa kalau Hyukjae tidak ada di sampingnya.
Siwon lebih membutuhkan Hyukjae dibandingkan Donghae. Tanpa Hyukjae, Siwon akan rapuh, sedangkan tanpa Hyukjae, Donghae akan tetap kuat. Donghae bisa mencari Hyukjae-Hyukjae yang lain dengan segala kelebihannya, sedangkan Siwon hanya memiliki Hyukjae.
Dia sudah memutuskan dalam hatinya, tapi kenapa hatinya tetap terasa begitu sakit? Rasanya seperti disayat-sayat ketika memikirkan Donghae, ketika ingatannya melayang pada setiap kebersamaan mereka. Kenapa rasanya masih terasa begitu sakit?
Dan malam ini Hyukjae memutuskan bertindak egois. Hanya malam ini ya Tuhan, ampuni aku, desah Hyukjae dalam hati. Dia tahu semua ini akan terjadi. Dia tahu jika dia datang menemui Donghae pada akhirnya mereka akan berakhir di ranjang dan bercinta. Hyukjae tahu itu semua akan terjadi, tapi dia tetap mengambil konsekuensi itu, dia butuh merasakan pelukan Donghae untuk terakhir kalinya, dan kemudian meyakinkan dirinya bahwa ini adalah perpisahannya dengan Donghae.
Pelukan Donghae tiba-tiba mengencang dan lelaki itu dengan masih malas-malasan mengecup dahi Hyukjae.
"Dingin?" Tanyanya Serak.
Hyukjae mendongakkan wajah dan mendapati mata sendu itu menatapnya. Lalu tersenyum lembut, dan menggeleng. Donghae meraih dagu Hyukjae dan mengecupnya dengan kecupan singkat.
"Aku menyakitimu tidak semalam?"
Sekali lagi Hyukjae menggeleng dan menenggelamkan wajahnya ke dada Donghae, menahan air mata. Ini adalah saat berharganya. Berada dalam pelukan erat Donghae, merasakan kelembutan dan kemesraannya. Dia akan menyimpan kenangan ini dihatinya, biar di saat-saat dia merasa pedih dan merindukan Donghae, dia tinggal menarik keluar kenangan tentang pagi ini, dan hatinya bisa terasa hangat.
Seperti inilah dia akan mengenang Donghae nanti, lembut, penuh cinta dan memeluknya erat-erat. Seolah mengerti pikiran Hyukjae yang berkecamuk, Donghae tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya memeluk Hyukjae erat-erat dan mengusap punggungnya dengan lembut, mereka larut dalam keheningan dan usapan Donghae membuat Hyukjae setengah tertidur,
"Aku harap kau tidak menyesali malam tadi." Bisik Donghae lembut, membangunkan Hyukjae dari kondisi setengah tidurnya. Hyukjae mendongakkan kepalanya lagi dan menatap Donghae lembut.
"Kau tahu aku tidak menyesal."
Tangannya dengan hati-hati mengusap wajah Donghae, takut akan reaksi Donghae karena dia tidak pernah melakukannya sebelumnya. Tapi Donghae langsung memejamkan mata, menikmati setiap usapan Hyukjae dengan penuh perasaan.
Merasa mendapatkan izin, dengan lembut Hyukjae menggerakkan tangannya, meraba wajah Donghae. Mulai dari dahinya, lalu ke alisnya, ke mata yang terpejam itu, ke bulu mata tebal yang hampir menyentuh pipi ketika Donghae terpejam, ke hidungnya, ke tulang pipinya yang tinggi, ke rahangnya, hingga ke bibirnya yang tipis, bibir yang tak terhitung lagi sudah mengecupnya berapa kali.
"Hyukjae..."
Donghae mendesah, mengernyitkan keningnya merasakan usapan lembut Hyukjae di wajahnya, tangannya lalu menahan jemari Hyukjae di bibirnya dan mengecupnya. Matanya membuka dan menatap Hyukjae bagai api yang menyala.
"Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan membuat kau mensyukuri malam ini." Gumam Donghae misterius.
Hyukjae mengernyitkan kening mendengar kata-kata Donghae yang penuh arti. Apa maksud Donghae? Tapi sebelum Hyukjae bisa berpikir lebih lanjut, Donghae sudah meggulingkan tubuh Hyukjae dan menindihnya. Bercinta lagi dengannya.
..:: [HaeHyuk] ::..
Hyukjae membuka pintu apartemen dengan berhati-hati dan menemukan Sungmin sedang duduk di ruang tamu sedang menyesap kopi dan menonton televisi. Sungmin tersenyum penuh pengertian ketika menatap Hyukjae. Saat itu jam 8 pagi, Hyukjae sengaja meminta Donghae memulangkannya pagi-pagi sehingga Siwon belum bangun. Semalampun ia berangkat setelah yakin Siwon sudah tertidur pulas.
"Siwon belum bangun." Jawab Sungmin tenang, menjawab pertanyaan di mata Hyukjae.
Hyukjae menarik napas lega.
"Hyung menginap di sini?" Tanyanya pelan dan Sungmin mengangguk.
"Teuk Hyung memintaku menemani untuk berjaga-jaga, dan aku tidak keberatan, toh aku tidak ada acara apa-apa."
Sungmin tersenyum lembut kepada Hyukjae
"Kuharap semalam menyelesaikan segalanya."
Pipi Hyukjae memerah mendengar ucapan Sungmin yang penuh arti itu.
"Dia agak marah tadi pagi saat aku buru-buru pulang demi Siwon." Bisik Hyukjae pelan.
Sungmin terkekeh sambil meletakkan cangkir kopinya.
"Dia memang begitu, tak usah pedulikan. Aku yakin sebenarnya dia bahagia kau telah memberinya kesempatan." Suara Sungmin berubah serius.
"Dan setelah semalampun kau tetap pada keputusanmu Hyuk?"
Hyukjae tercenung mendengar pertanyaan itu. Sejenak ragu, tapi lalu menganggukkan kepalanya mantap.
"Aku harus terus bersama Siwon, dia membutuhkanku." Jawabnya lembut.
"Kau selalu memikirkan orang lain, bagaimana dengan dirimu sendiri?" Tanya Sungmin tiba-tiba. Dengan masih tersenyum Hyukjae menjawab.
"Aku tidak apa-apa Hyung, aku merasa bahagia karena semua orang bahagia."
Semua orang bahagia selain kau dan Donghae. Pikir Sungmin miris ketika Hyukjae berpamitan ke kamar untuk berganti pakaian. Sungmin tahu kalau Hyukjae sama tersiksanya dengan Donghae. Dan dia ingin berteriak marah kepada Hyukjae, memarahi ketidak egoisan pemuda itu, sekaligus bertanya sampai kapan Hyukjae mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan orang lain? Untuk kebahagiaan orang lain?
Sungmin merasakan dorongan kuat untuk memaksa Hyukjae berbuat egois, mementingkan kepentingannya sendiri, berusaha meraih kebahagiaannya sendiri. Tapi dia tahu Hyukjae, dengan kebaikan hatinya yang luar biasa itu tidak akan mau melakukannya. Dan tiba-tiba Sungmin teringat pertemuannya dengan Donghae ketika lelaki itu baru pulang dari Eropa beberapa hari lalu, mata Donghae saat itu tampak penuh tekad, setengah gila dan menyala-nyala.
"Kalau dia tidak bisa memilihku, maka aku akan memaksanya memilihku."
Wajah Sungmin memucat mendengar nada final dalam ucapan Donghae waktu itu.
"Astaga Donghae, kau tidak sedang berencana melakukan tindakan kasar dan pemaksaan untuk memiliki Hyukjae kan?"
Berbagai pikiran buruk melintas di pikirannya, seperti kemungkinan Donghae menculik Hyukjae dan membawanya pergi, atau kemungkinan Donghae akan menyingkirkan Siwon dengan cara kasar. Itu semua bisa dilakukan Donghae dengan kekejaman dan kekuasaannya. Dan Sungmin takut Donghae kehilangan akal sehatnya dan memutuskan melakukan salah satu dari hal yang ditakutinya itu.
Donghae menarik napas panjang.
"Aku akan membuatnya hamil anakku." Gumamnya setelah jeda yang cukup lama.
Sungmin menganga mendengarnya.
"Apa?" Sungmin sudah mendengar cukup jelas tadi, tapi dia sama sekali tidak yakin dengan apa yang didengar telinganya. Dia butuh mendengar lagi.
"Aku akan membuatnya mengandung anakku." Gumam Donghae penuh tekad.
"Kau sudah gila ya Donghae?" suara Sungmin meninggi menyadari keseriusan dalam suara Donghae.
Tapi Donghae sama sekali tidak terpengaruh dengan nada marah dan ketidak setujuan Sungmin, dia tetap tenang dan berpikir.
"Jika Hyukjae mengandung anakku, mengingat sifatnya, dia tidak akan mungkin mengugurkannya. Itu berarti dia akan mengakui hubungan kami kepada Siwon, dan aku akan menggunakan segala cara - dengan menggunakan anak itu sebagai alasan - agar aku bisa mengklaim Hyukjae."
"Kau gila!" Seru Sungmin tidak setuju.
"Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan Siwon? Hatinya akan hancur, dan Hyukjae juga akan menderita jika dia sadar dia telah menyakiti hati Siwon."
"Kau pikir mereka saja yang menderita hah?" Sela Donghae keras, membuat Sungmin tertegun.
"Aku juga menderita! Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur! Aku menjalani detik demi detik, menit demi menit penuh penyiksaan! Aku sama saja sudah mati akhir-akhir ini! Aku juga menderita, menyadari bahwa aku bisa memiliki Hyukjae tetapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuatnya memilihku! Sebelum kepulanganku aku sudah bertekad akan melakukan ini! Tidak ada yang bisa menghalangiku!
"Donghae." Sungmin melembut, mencoba meredakan emosi Donghae.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi bagaimana kalau nanti Siwon ternyata menerima kondisi Hyukjae apa adanya dan kemudian Hyukjae memutuskan membesarkan anak itu bersama Siwon?"
"Kalau itu terjadi aku akan menggunakan cara kekerasan." Jawab Donghae dingin.
"Aku akan memberikan ultimatum, Hyukjae memilihku, atau aku akan merenggut anak itu darinya. Kalau perlu aku akan menempuh jalur hukum."
"Kejam sekali." Sungmin bergumam spontan.
Donghae mengangguk tidak membantah.
"Ya memang kejam sekali." Jawabnya menyetujui, tanpa penyesalan dan tampak penuh tekad menjalankan rencananya.
Dan sekarang Sungmin duduk di ruang makan, mencoba menarik kenangannya kembali. Dengan pelan disesapnya kopinya lagi, Semoga Tuhan melindungi Hyukjae kalau Donghae benar-benar membuatnya hamil malam kemarin. Semoga Tuhan mengampuninya karena dengan kesadaran penuh dia sudah mendukung rencana Donghae.
.
.
A Romantic Story About Love "HAEHYUK YAOI VER" (Remake Story)
.
.
BAB 15
Hampir sebulan sejak kejadian itu, dan Donghae menepati janjinya. Tidak menemui Hyukjae lagi. Atas bujukan dan desakan Sungmin, Hyukjae kembali bekerja di perusahaan Donghae. Lagipula bujukan Sungmin ada benarnya juga, Hyukjae butuh gajinya untuk menghidupi mereka semua. Dan selama sebulan itu Donghae, sang CEO menjadi orang yang paling sulit dilihat di kantor. Jika tidak sedang melakukan perjalanan bisnis, lelaki itu mengurung diri di ruangan kerjanya dan tidak keluar-keluar.
Sesekali Hyukjae masih berpapasan dengan Kyuhyun, lelaki itu masih bekerja di sini, Donghae tidak jadi memecatnya. Sepertinya dia dan Donghae sudah berhasil menyelesaikan kesalah pahaman di antara mereka.
Dan Hyukjae merindukan Donghae. Dia sudah bertekad melupakan Donghae, tetapi hatinya punya mau sendiri. Kadang dia menatap lift khusus direksi yang menyambung langsung ke ruangan Donghae dengan penuh harap. Berharap tanpa sengaja dia melihat Donghae keluar dari sana, melangkah ke parkiran mobilnya. Tuhan tahu betapa ia bersyukur seandainya saja dia bisa melihat Donghae, biarpun cuma satu detik, biarpun cuma dari kejauhan. Tapi entah kenapa Donghae seperti punya pengaturan waktu sendiri agar tidak bertemu Hyukjae.
Sore itu Hyukjae melangkah memasuki apartemennya dengan lunglai, dia tidak enak badan, sedikit panas dan meriang, jadi dia minta izin pulang cepat. Ketika memasuki ruang tamu, dia mendengar suara tawa dari ruang tengah. Suara Siwon dan Sungmin.
Sungmin sudah mendapat izin dari Donghae untuk menggunakan setengah hari kerjanya guna melakukan terapi khusus pada Siwon. Terapinya sudah membuahkan hasil, Siwon sudah bisa menggerakkan jari-jari kakinya, sedikit mengangkatnya dan melatih saraf-sarafnya. Optimisme bahwa Siwon akan bisa berjalan lagi semakin besar.
Hyukjae melangkah ke ruang tamu dan melihat Siwon sedang duduk di kursi rodanya, sedang Sungmin menuangkan teh untuknya, sepertinya session terapi sudah selesai. Siwon mendongak ketika merasakan kehadiran Hyukjae dan tersenyum lebar, mengulurkan tangannya
"Hai sayang,"
Dengan senyum pula Hyukjae melangkah mendekat, menyambut uluran tangan Siwon. Lelaki itu membawa jemari Hyukjae ke bibirnya dan mengecupnya.
"Bagaimana session terapi kali ini?" Tanyanya lembut.
Siwon tertawa dan Hyukjae mengamatinya dengan bahagia. Siwon banyak tertawa akhir-akhir ini. Lelaki itu makin sehat, warna kulitnya juga sudah jadi cokelat sehat, tidak pucat pasi seperti dulu. Badannya sudah berisi dan tampak lebih kuat. Siwon sudah menjadi Siwonnya yang dulu, yang penuh tawa dan vitalitas, dengan semangat hidup yang memancar dari dalam dirinya.
"Aku tadi sudah belajar berdiri, sulit sekali sampai keringatku bercucuran. Tapi aku senang sudah sampai di tahap sejauh ini." Jelas Siwon bahagia.
Hyukjae membelalakkan matanya senang.
"Benarkah?" Dengan gembira ditatapnya Sungmin.
"Benarkah Hyung?"
Sungmin mengangguk dengan senyum dikulum.
"Perkembangan Siwon sangat pesat Hyuk, aku optimis dia akan bisa berjalan lagi."
Dengan bahagia Hyukjae memeluk Siwon erat-erat.
"Oh aku bangga sekali padamu sayang!" Serunya dengan kegembiraan murni. Tapi tiba-tiba Siwon melepaskan pelukannya dan menatap Hyukjae sambil mengerutkan alisnya.
"Sayang, badanmu panas."
Gantian Hyukjae yang mengerutkan keningnya lalu meraba dahinya sendiri.
"Benarkah? Aku memang merasa tidak enak badan, makanya aku pulang cepat."
Dengan cemas, Siwon menoleh ke arah Sungmin.
"Dokter, badannya panas bukan?"
Sungmin segera mendekat dan menyentuh dahi Hyukjae lembut.
"Benar, kau panas Hyukkie, apakah kau terserang flu?"
Hyukjae menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak pilek ataupun batuk Hyung, tapi ada masalah dengan perutku. Akhir-akhir ini aku sering memuntahkan makanan yang ku makan, makanya badanku terasa lemah dan..."
"Memuntahkan makanan?" Sungmin mengernyitkan keningnya, begitu serius.
Hyukjae menganggukkan kepalanya, tidak menyadari betapa seriusnya pandangan Sungmin menelusuri tubuhnya.
"Sudah berapa lama?" Tanya Sungmin lagi. Hyukjae tampak berpikir.
"Baru beberapa hari ini, mungkin seminggu terakhir ini."
"Apa kau kena maag sayang?" Siwon menyela tampak semakin cemas.
"Mungkin." Hyukjae mengusap perutnya.
"Soalnya aku sering mual."
Sungmin mengikuti arah tangan Hyukjae dan menatap perut Hyukjae.
"Kau tampak pucat Hyuk, berbaringlah dulu. Aku akan menyusul dan memeriksamu nanti setelah selesai dengan Siwon."
Hyukjae menganggukkan kepalanya, lalu menunduk dan mengecup dahi Siwon.
"Aku berbaring dulu ya." Bisiknya lembut dan Siwon mengangguk, balas mengecup dahi Hyukjae.
Seperginya Hyukjae, Sungmin memijit kaki Siwon untuk session pelemasan akhir sambil berpikir keras... Tidak enak badan, mual, memuntahkan makanannya... Jika dihitung-hitung tanggalnya, semuanya tepat. Apakah Hyukjae sudah hamil dan tidak menyadarinya?
"Dokter?" Siwon yang menyadari kalau Sungmin melamun menegurnya hingga Sungmin tergeragap.
"Dokter tidak apa-apa?"
Sungmin berdehem salah tingkah.
"Ah, maafkan aku Siwon, aku sedang memikirkan Hyukjae."
"Kalau begitu sebaiknya dokter memeriksa Hyukjae dulu, aku juga mencemaskannya dok." Siwon tersenyum melihat Sungmin ragu-ragu.
"Tidak apa-apa dok, aku sudah lebih kuat sekarang, aku bisa membawa diriku sendiri ke kamar dan mengurus diriku sendiri. Kumohon, uruslah Hyukjae dulu."
Sambil mengangguk, Sungmin bergegas menyusul Hyukjae ke kamarnya. Hyukjae sedang berbaring miring memegangi perutnya, tampak kesakitan dan pucat pasi. Sungmin duduk di sebelah ranjang, menyentuh dahi Hyukjae lagi, panas membara, meskipun keringat dingin mengalir deras.
"Aku muntah-muntah lagi barusan Hyung."
Hyukjae memejamkan matanya dan tidak berani membukanya, seolah takut kalau dia membuka matanya, rasa mual yang hebat akan menyerangnya lagi.
"Berbaringlah dulu, aku akan membuatkan teh mint untukmu, untuk mengurangi mual, nanti aku akan membuatkan resep obat untukmu." Obat untuk orang hamil.
Sungmin mulai merasa yakin melihat kondisi Hyukjae. Hyukjae hanya mengangguk patuh masih memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian, Sungmin kembali datang dan membantu Hyukjae duduk, lalu membantunya meneguk teh mint itu, setelah itu dia membaringkan Hyukjae yang lemas di ranjang. Hyukjae meletakkan kepalanya di bantal dengan penuh syukur.
"Terima kasih Hyung, tehnya sangat membantu. Perutku tidak begitu bergolak lagi seperti tadi."
Sungmin tersenyum lembut.
"Cobalah untuk tidur." Gumamnya sebelum melangkah keluar kamar.
Ketika merasa suasana cukup aman, dengan Siwon yang sepertinya sudah masuk ke kamarnya, Sungmin meraih ponselnya dan mendial nomor telepon Donghae. Donghae memang menghilang dari kehidupan Hyukjae, tetapi lelaki itu tetap memantau setiap detik kehidupan Hyukjae. Lelaki itu menuntut laporan yang sedetail-detailnya dari Sungmin setiap saat. Dan menurut Sungmin, Donghae berhak mengetahui dugaannya ini.
"Sungmin Hyung." Donghae mengangkat teleponnya pada deringan pertama.
"Donghae." Sungmin berbisik pelan, bingung memulai dari mana. Sejenak suasana hening, dan tiba-tiba suara Donghae memecah keheningan.
"Dia hamil." Itu pernyataan bukan pertanyaan.
"Aku tidak bisa menyimpulkannya seakurat itu sebelum dilakukan test urine dan test lainnya, tapi kemungkinan besar dia hamil, dia memuntahkan semua yang dimakannya, dan mual-mual setiap saat."
"Dia hamil." Kali ini rona kegembiraan mewarnai suara Donghae.
"Aku akan melakukan test urine dulu Donghae, kau tak bisa..."
"Aku akan segera kesana." Dan Donghae menutup telepon. Membiarkan Sungmin ternganga di seberang, lalu menggerutu dengan ketidak sabaran Donghae.
Donghae mau kesini, lalu apa? Langsung melemparkan bom itu ke muka Siwon dan Hyukjae? Dasar! Sungmin berniat menunggu Donghae di depan apartemen, berusaha mencegah Donghae bertindak gegabah. Lelaki itu harus berusaha pelan-pelan, apalagi kehamilan Hyukjae belum dipastikan secara akurat.
Lama sekali Sungmin menunggu di ruang tamu, hampir satu jam. Kenapa Donghae lama sekali? Apakah Donghae membatalkan niatnya kemari? Sungmin mulai bertanya-tanya. Saat itulah Siwon mendorong kursi rodanya ke ruang tamu. Sungmin menoleh dan tersenyum.
"Hai Siwon, bagaimana kondisimu?"
Siwon balas tersenyum.
"Tidak pernah lebih baik, aku tadi membaca di kamar, dan mulai merasa bosan jadi aku keluar, bagaimana keadaan Hyukjae?"
Sungmin menarik napas.
"Dia sudah tidur pulas sepertinya, kasihan sepertinya perutnya bermasalah."
Siwon mengernyitkan keningnya,
"Dia bekerja terlalu keras." Gumam Siwon sendu.
"Dan itu semua gara-gara aku."
"Siwon," Sungmin menyela dengan lembut.
"Kita sudah pernah membahas ini kan? Kau tidak boleh menyalahkan diri sendiri, lagipula Hyukjae melakukannya dengan sukarela."
"Benarkah?" Suara Siwon menjadi pelan.
"Kadang-kadang aku merasa dia hanya kasihan kepadaku."
"Siwon..."
Sungmin tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat diliriknya layar ponselnya. Kyuhyun.
"Kyu?" panggilnya setelah mengangkat telepon.
"Kyu kau tahu di mana Donghae? Dia bilang akan ke sini, tapi sampai sekarang dia belum datang..."
"Hyung, Donghae Hyung kecelakaan di tol."
..:: [HaeHyuk] ::..
"Hyukjae."
Dengan lembut Sungmin menggoyangkan pundak Hyukjae yang tertidur pulas. Sementara Siwon mengikuti di belakangnya. Dengan sedikit lemah Hyukjae membuka mata dan agak waspada melihat wajah Sungmin yang pucat pasi. Dengan segera dia duduk, gerakan tiba-tiba itu langsung membuat kepalanya pening, tapi Hyukjae menahannya sambil mengernyit.
"Ada apa Hyung? Siwon kenapa?"
"Aku baik-baik saja di sini." Gumam Siwon dalam senyum.
Hyukjae menatap Siwon dengan lega, tapi lalu menatap Sungmin yang begitu pucat pasi.
"Hyukkie, aku... Ah aku bingung bagaimana mengatakannya, tapi aku harus segera pergi, ini darurat... Tapi aku bertanya-tanya mungkin kau mau ikut.."
"Ada apa Hyung?" Hyukjae mulai tegang ketika Sungmin tidak juga mengatakan maksudnya.
"Donghae, barusan kecelakaan di jalan tol. Dia sudah dibawa ke rumah sakit, tapi kami belum tahu kondisinya. Kyuhyun juga sedang dalam perjalanan menuju kesana."
"Apa?" Warna pucat mulai menjalar ke wajah Hyukjae, lalu segera digantikan dengan kepanikan luar biasa.
"Ya Tuhan, aku ikut ke rumah sakit, Hyung!"
Siwon mengamati kepanikan Hyukjae dari kejauhan, tapi dia hanya diam dan menatap. Hyukjae tampak pucat pasi dan ketakutan luar biasa. Kenapa sampai begitu? Seolah-olah kondisi Donghae benar-benar membuatnya cemas. Padahal Donghae kan hanya atasannya di perusahaan? Atau... Jangan-jangan lebih dari atasan ? Pikiran buruk itu menyeruak dalam benak Siwon, dan dia cepat-cepat menyingkirkannya.
Tapi ketika dia melihat betapa Hyukjae mulai gemetaran karena cemas dan panik ketika bersiap-siap berangkat, mau tak mau pikiran buruk itu memenuhi benaknya. Ada hubungan istimewa apa antara Donghae dengan Hyukjae?
Perjalanan ke rumah sakit berlangsung begitu menyiksa bagi Hyukjae, dia terus menerus berdoa, seakan semua trauma masa lalu menghantamnya lagi keras-keras. Ini hampir sama dengan kecelakaan yang membunuh kedua orang tuanya dan melukai Siwon dulu. Dan Hyukjae tidak akan kuat menanggungnya kalau sampai terjadi apa-apa pada Donghae.
Ya Tuhan! Jangan sampai terjadi apa-apa pada Donghae. Dia belum sempat mengatakan... Dia belum sempat mengatakan dengan jelas, bahwa dia... Bahwa dia mencintai Donghae.
Hyukjae berlari di depan menuju ruangan gawat darurat, sementara Sungmin mendorong kursi roda Siwon di belakangnya. Dia melangkah memasuki ruang perawatan itu dan langsung bertatapan dengan Donghae.
Lelaki itu duduk di meja perawatan, telanjang dada, kepalanya terluka dan sudah di tutup perban. Dokter sedang membalut luka di pundak dan lengannya. Banyak darah, tapi sudah dibersihkan. Selebihnya, Donghae tidak apa-apa. Lelaki itu masih hidup, masih untuh, dan ketika Donghae memalingkan kepalanya lalu menatap Hyukjae dengan matanya yang menyala-nyala,
Hyukjae pingsan.
..:: [HaeHyuk] ::..
Donghae berteriak memanggil Hyukjae, begitu juga dengan Sungmin dan Siwon yang ada di belakang Hyukjae. Tapi Hyukjae pingsan mendadak dan jatuh ke lantai. Dengan kasar Donghae menyingkirkan tangan dokter yang sedang membalut lukanya dan melompat turun, setengah berlari menghampiri Hyukjae. Perawat datang menghampiri, tapi Donghae menyingkirkannya.
"Biar aku saja." Gumamnya serak. Mengeryit sedikit ketika mengangkat Hyukjae menyakiti luka di lengan dan bahunya. Tapi dia tidak peduli, dipeluknya Hyukjae dengan posesif dan dibaringkannya ke meja perawatan.
"Tuan, saya belum menyelesaikan membalut lukanya." Gumam dokter di ruang gawat darurat itu sedikit jengkel.
"Nanti saja."
Donghae bergumam tajam dengan arogansi yang sudah seperti pembawaan alaminya sehingga membuat dokter itu terdiam, mengangkat bahunya lalu pergi.
"Sayang."
Donghae menepuk pipi Hyukjae, tapi Hyukjae begitu pucat pasi. Dengan panik, Donghae menoleh ke arah Sungmin di pintu, mengabaikan Siwon
"Dia tidak apa-apa?"
Sungmin mendorong Siwon mendekat, lalu menyentuh Hyukjae.
"Dia demam Donghae, dia sedang sakit ketika memaksa mengikuti aku kesini. Terus tepuk pipinya pelan-pelan dan sadarkan dia, sepertinya dia shock."
Sungmin menatap Donghae tajam.
"Dan kau..kau tidak pernah kecelakaan selama hidupmu. Apa yang kau lakukan di jalan tol tadi sehingga berakhir di rumah sakit ini? Apakah kau mabuk?"
Donghae mengeryit.
"Aku tidak mabuk, aku hanya terlalu buru-buru ingin cepat sampai jadi kurang hati-hati."
Saat itulah Hyukjae bergerak membuka mata.
"Ah, sayang…..sayang, kau baik-baik saja?"
Hyukjae mengerjap-ngerjapkan matanya, begitu mendapati wajah Donghae ada di dekatnya, airmata mengalir di pipinya. Tangannya bergetar ketika terangkat dan menyentuh wajah Donghae, meyakinkan dirinya bahwa betul-betul Donghae yang ada di depannya. Dengan lembut Donghae meraih tangan Hyukjae dan mengecupnya.
"Aku ada di sini, aku baik-baik saja." Gumamnya setengah berbisik.
Hyukjae membiarkan tangannya dalam genggaman Donghae, merasakan kulit Donghae yang panas, mensyukuri bahwa lelaki itu masih hidup. Tadi rasanya seperti mau mati saja ketika mengetahui bahwa Donghae kecelakaan, pikiran-pikiran buruk melandanya, membuatnya ingin menangis dan berteriak, membuatnya hampir menyalahkan Tuhan. Karena dia sudah memutuskan akan menerima tidak bisa bersama-sama dengan Donghae lagi asalkan lelaki itu tetap hidup, asalkan lelaki itu masih ada, hidup dan bernafas di dunia ini, biarpun Hyukjae tidak bisa melihatnya lagi.
Pikiran bahwa Donghae bisa saja meninggal dan tidak ada di dunia ini hampir membuatnya ingin menyusul saja. Karena itulah tadi ketika melihat Donghae masih hidup meskipun terluka membuatnya lega luar biasa sehingga pingsan.
Hyukjae merasakan dadanya sesak ketika menyadari, bahwa cinta barunya, cintanya yang tidak diduga, cinta yang bertumbuh tanpa disadari karena kebersamaan mereka yang tidak direncanakan itu ternyata sudah mencapai tingkat intensitas yang sangat besar.
"Jangan pernah ulangi lagi." Suara Hyukjae bergetar ketika mencoba berbicara serius kepada Donghae.
"Jangan pernah ulangi lagi melakukan seperti ini kepadaku."
Donghae meraih kedua tangan Hyukjae dan mengecup jemarinya dengan lembut.
"Aku berjanji." Jawab Donghae penuh perasaan.
"Sekarang tidurlah sayang, aku ada di sini."
Dengan lembut Donghae mengusap dahi Hyukjae yang panas, membuat pikiran Hyukjae melayang. Dia merasa lelah sekali, tubuhnya, jiwanya dan raganya. Tubuhnya sakit dan lunglai sedang jiwanya kelelahan menahan perasaan. Usapan tangan Donghae di dahinya membuatnya dipenuhi kelegaan luar biasa, membuatnya dipenuhi rasa damai tidak terkira sehingga Hyukjae akhirnya terlelap lagi.
"Kemari, lukamu harus dibalut."
Sungmin mencoba menarik perhatian Donghae, lelaki itu menatap Hyukjae dengan serius, memastikan bahwa Hyukjae sudah tidur, lalu menurut menggerakkan tubuhnya agar Sungmin lebih mudah membalut luka di pundak dan lengannya. Saat itulah Donghae menyadari kehadiran Siwon, yang hanya diam saja menatap semua kejadian itu tanpa berkata-kata. Mata Donghae berkilat-kilat.
"Aku mencintainya." Gumamnya terus terang, membuat Sungmin tersedak dan saat itulah dia juga baru menyadari kehadiran Siwon. Siwon hanya terdiam, menatap Hyukjae yang tertidur pulas dengan sedih,
"Aku tahu." Gumamnya pelan.
Donghae mengangkat dagunya, mengernyit ketika perban itu membalut kencang lukanya.
"Dan dia juga mencintaiku, tetapi dia memilihmu." Sambungnya getir.
Siwon menghela nafas.
"Itupun aku juga tahu."
"Sudah selesai." Sungmin menyela cepat, lalu menepuk pundak Donghae.
"Berbaringlah dulu di ranjang sebelah."
Sungmin mengedikkan bahu ke ranjang di sebelah ranjang yang dipakai Hyukjae yang masih kosong.
"Kau harus berbaring, kepalamu terbentur dan jika kau tidak segera berbaring kau akan mengalami vertigo." Sambungnya tegas ketika melihat Donghae akan membantah.
Semula Donghae akan membantah, dia ingin melanjutkan pembicaraan dengan Siwon, menjelaskan semuanya. Tetapi Sungmin benar, rasa pusing mulai menyerangnya, pusing dan nyeri di bahu dan kepalanya. Obat penghilang rasa sakit yang disuntikkan dokter jaga tadipun mulai bereaksi, membuatnya merasa lemas dan lunglai. Akhirnya Donghae mengangkat bahu dan melangkah ke ranjang kosong itu.
"Kita belum selesai bicara." Gumamnya pada Siwon, mulai menguap.
"Nanti saja." Sela Sungmin mengernyit, lalu meraih kursi roda Siwon dan mendorongnya keluar.
"Ayo Siwon, kita harus membiarkan mereka beristirahat." Bisiknya lembut dan mendorong mereka keluar dari ruangan perawatan itu.
Sungmin membawa Siwon sampai di ruang tunggu yang tenang dan sepi, lalu duduk di sofa di sebelah Siwon. Suasana hening, dan Siwon hanya termenung tidak berkata-kata cukup lama. Sungmin menunggu, menunggu sepatah pertanyaan dari Siwon sebelum menjelaskan semuanya, dan akhirnya pertanyaan itu datang setelah menunggu sekian lama.
"Apa yang terjadi di sini?" Gumam Siwon serak.
Dia tetap bertanya meskipun kebenaran itu sudah menyeruak dalam kesadarannya, membuat dadanya sesak. Sungmin menghela napas mendengarnya.
"Ceritanya panjang..."
"Aku punya banyak waktu." Sela Siwon tak sabar.
"Jelaskan semuanya."
"Hyukjae tidak pernah bermaksud mengkhianatimu kau tahu." Gumam Sungmin sedih.
"Dia selalu berusaha setia kepadamu."
"Kau bicara begitu padahal jelas-jelas di depan mataku tadi dia jatuh cinta setengah mati kepada lelaki lain?" Gumamnya getir.
"Kau tahu, Hyukjae putus asa ketika dia akhirnya berhubungan dengan Donghae... Biaya operasimu... operasi ginjalmu – dokter mengultimatum kau harus segera dioperasi ginjal untuk menyelamatkan nyawamu – sangat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta, sementara seluruh harta Hyukjae sudah habis, dia menanggung hutang yang sangat besar di perusahaan... jadi... jadi Hyukjae memutuskan menjual kesucian dan tubuhnya kepada Donghae."
"Oh Tuhan!"
Wajah Siwon pucat pasi, keringat dingin mengalir di tubuhnya. Jadi semua ini bermula dari dirinya? Semua kegilaan tak diduga ini bermula dari keinginan Hyukjae menyelamatkan nyawanya? Menjual kesuciannya! Oh Tuhan, Siwon tidak pernah peduli apakah Hyukjae masih suci atau tidak, baginya Hyukjaenya adalah Hyukjae yang sama.
Tapi... Mengetahui bahwa Hyukjae melakukan itu demi dirinya benar-benar menghancurkan hatinya. Mengetahui bahwa pada akhirnya Hyukjae menyerahkan hati pada lelaki lain yang disebabkan oleh dirinya sangat menyakiti perasaannya.
"Dan Donghae, atasan Hyukjae itu pasti laki-laki brengsek karena mau mengambil manfaat dari seseorang yang sedang kesulitan." Desis Siwon marah.
Sungmin menggeleng.
"Tidak seperti itu Siwon. Donghae sangat kaya, dia bisa mendapatkan siapapun yang dia mau. Tapi sudah sejak lama dia menginginkan Hyukjae, menurutku sebenarnya sudah sejak lama Donghae mencintai Hyukjae tetapi dia tidak menyadarinya, karena itu mungkin Donghae menganggap satu-satunya cara untuk memiliki Hyukjae adalah menerima tawarannya."
Siwon mengernyit mendengar penjelasan Sungmin, hatinya sakit menyadari bahwa sekarang dia menjadi penghalang antara dua orang yang saling mencintai.
"Kenapa Hyukjae tidak membiarkan aku mati saja?" Rintihnya dalam geraman penuh kesakitan.
"Mungkin lebih baik aku dibiarkan mati saja sehingga aku tidak menghalangi kebahagiannya..."
Sungmin menyentuh pundak Siwon lembut.
"Jangan pernah punya pemikiran seperti itu," Selanya tegas.
"Hyukjae mencintaimu sepenuh hati, dia berjuang mati-matian demi kehidupanmu, jangan pernah menghancurkan hatinya dengan kata-kata seperti itu."
"Dia sudah tidak mencintaiku lagi, dia hanya kasihan padaku. Tatapan lelaki itu, tatapan Donghae kepadaku ketika mengatakan bahwa Hyukjae lebih memilihku dibanding dirinya tadi begitu penuh penghinaan dan kemarahan. Seolah lebih baik aku tahu diri dan menyingkir saja."
"Donghae memang seperti itu, dia marah karena Hyukjae memilih untuk bersamamu. Tapi Donghae mencintai Hyukjae, karena itu dia menghormati keputusan Hyukjae."
"Lelaki itu, apakah benar dia mencintai Hyukjae? Dia terlalu berkuasa, terlalu mendominasi, terlalu arogan. Aku takut dia hanya ingin menunjukkan kekuasaannya, hanya ingin memuaskan arogansinya untuk memiliki Hyukjae..."
Sungmin menggeleng,
"Donghae yang dulu memang seperti itu, tapi ketika bersama Hyukjae, Hyukjae dengan segala kepolosan dan kebaikan hatinya telah merubahnya. Donghae benar-benar mencintai Hyukjae, aku mengenal Donghae sejak dulu kau tahu, dan dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Begitu mencintai seeorang, begitu tergila gila hingga hampir dikatakan bisa gila karenanya."
Siwon menghela nafas panjang.
"Kalau begitu, kau ingin aku yang melepaskan Hyukjae?"
Sungmin mengangkat bahunya pedih.
"Keputusan ada di tanganmu. Hyukjae sendiri tidak akan pernah meninggalkanmu, dia terlalu setia dan menyayangimu untuk meninggalkanmu. Dia rela mengorbankan perasaannya demi kau. Jadi, kalau kau tidak melepaskannya, dia juga tidak akan pernah mengkhianatimu demi Donghae."
Siwon memegang pangkal hidungnya, mengernyit seolah kesakitan.
"Aku sangat mencintai Hyukjae." Gumamnya perih.
Air mata Sungmin mulai menetes melihat kepedihan Siwon, pelan dia berjongkok di depan Siwon dan memeluk lelaki itu. Siwon tidak menolak, dia juga tidak menahan air matanya menetes. Kepedihan itu begitu dalam, kepedihan untuk merelakan diri melepaskan sesuatu yang paling berharga di tangannya, agar sesuatu paling berharga itu bisa menemukan kebahagiaannya.
"Aku tahu dan aku bisa mengerti kesedihanmu, kau tak perlu melepaskan Hyukjae kalau kau tak bisa." Bisik Sungmin lembut, mengusap kepala Siwon di bahunya, membiarkan lelaki itu terisak dengan kepedihannya.
Lama Siwon menumpahkan perasaannya, dengan isakan tertahan dan keheningan yang dalam, lalu dia mundur, melepaskan diri dari pelukan Sungmin, duduk tegak dengan tekad kuat di matanya.
"Aku tidak mungkin membiarkan Hyukjae menderita dengan bertahan bersamaku, tidak setelah aku melihat betapa dalamnya perasaan Hyukjae kepada Donghae tadi. Tapi sebelumnya aku ingin berbicara dengan Donghae."
.
.
..:: [TBC] ::..
.
.
Chapter depan Ending Brooo... END!.. :v
