Chapter 9

Liberation


Viltus sudah bersiap-siap untuk misi hari itu. Ia berjalan ke arah dock untuk melihat kesiapan dari kapal komandonya. Pada saat ia tiba di sana, Elisa terlihat sangat kelelahan. Viltus berjalan ke arah dia dan berkata,

"Selamat pagi, Elisa..."

"Ah... Viltus..."

"Sepertinya sudah selesai, ya ?"

"Sudah... Menyiapkan meja untuk petugas sonar dan petugas radar pesawat... Menyiapkan layar khusus untuk menyatukan informasi dari sonar dan radar pesawat... Meja khusus untuk memberikan kondisi peta... Menyiapkan beberapa senjata tertentu untuk perlindungan kapal komando... Semua itu dilakukan hanya dalam satu hari saja..."

"Ahahahahaha... Sekali-kali kau bekerja keras seperti itu bagus, Elisa."

"Tapi tidak terlalu sering... Jika terlalu sering bergadang..."

"Jika terlalu sering ?"

"Kulitku akan tidak terawat mengerti..."

"Tenang saja... Hanya hari kali ini saja... Mungkin..."

"Tunggu... Kau bilang mungkin ?! Hei !"

Viltus langsung naik ke kapal komandonya dan melakukan pengecekan. Kapal komando miliknya sedikit berbeda dari kapal komando laksamana lainnya. Ini semua dikarenakan hanya kapal komandonya saja yang menggunakan awak kapal untuk mengurus sonar dan radar, yang masing-masing dikerjakan oleh Anastasia Konoplyanka dan Magyar Libyet.

Viltus langsung mengecek jangkar dari kapal, dan juga persenjataan khusus. Tidak berapa lama, ia mendengar suara dari belakang. Suara dari gadis yang sangat dikenalnya,

"Laksamana... Kau jangan terlalu banyak bergerak... Tanganmu masih belum sepenuhnya pulih..."

"Tenang saja, Taihou... Tangan ini tidak akan pergi kemana-mana. Fufufufufu"

"Kau ini..."

Viltus membalikkan badannya dan melihat Taihou yang sedikit khawatir dengan Zuihou di sebelahnya. Zuihou mendadak berkata,

"Ummm... Laksamana... Semua persenjataan ini ditujukan untuk apa ? Bukankah ada kami Gadis Kapal yang akan melindungi kapal komandomu ?"

"Ya... Untuk berjaga-jaga... Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di medan perang... Karena kita tidak bertempur di atas kertas."

"Kau... Benar juga..."

Zuihou terlihat berpikir mendengar jawaban dari Viltus. Viltus kemudian berjalan masuk ke dalam ruang komando. Di sana sudah tersedia kursi untuk Magyar dan Anastasia, dengan meja untuk mereka berdua bekerja. Selain itu, di bagian tengah sudah ada meja khusus untuk membaca peta digital selama pertempuran.

Taihou dan Zuihou terlihat sangat terkejut dengan perubahan dari ruang komando di kapal tersebut. Viltus langsung berkata,

"Aku sudah membuat desain untuk ruang komando baru setelah Magyar bergabung... Meja ini dan meja milik Magyar sudah disiapkan dari dulu... Namun, dikarenakan Anastasia bergabung dengan kita, meja sonar miliknya baru diimplementasikan kemarin..."

"Kemarin ?! Pantas saja Elisa-san terlihat lelah..." ujar Taihou

"Ahahahaha..."

"Viltus... Kau jangan memaksakan Elisa untuk..."

"Ya... ini untuk pembalasanku atas beberapa hari tanpa tidur dahulu karena dokumen yang telat ia berikan dan harus dikumpulkan keesokan harinya..."

Taihou dan Zuihou terlihat ketakutan melihat tatapan kosong dari Viltus yang juga tertawa kecil. Setelah itu, Viltus menarik nafas panjang dan bertanya kepada mereka berdua,

"Apakah peralatan kalian sudah siap ? Apakah kalian ingat apa saja yang akan digunakan ?"

"Tentu saja..." ujar Taihou

"Sebutkan kepada diriku... Apa yang akan kau bawa, Taihou..."

"Aku akan membawa dua skuadron pesawat tempur, empat skuadron pesawat penerjun, dua skuadron pesawat pembawa torpedo dan satu skuadron pesawat pengintai."

"Lalu, bagaimana dengan dirimu, Zuihou ?"

"Ah... Aku akan membawa empat skuadron pesawat tempur, dan dua skuadron pesawat pembawa torpedo..."

"Bagus jika kalian ingat..."

Taihou dan Zuihou melihat satu sama lain dan kemudian Taihou bertanya,

"Mengapa kami harus membawa cukup banyak skuadron pesawat tempur ?"

"Itu mudah... Karena lawan yang akan kita hadapi adalah Abyssal yang menjaga pelabuhan mereka... Dapat dipastikan lawan akan meluncurkan cukup banyak pesawat..."

"Oohhh..."

"Saat ini, kita akan menurunkan empat divisi kapal induk, yang terdiri dari Akagi dan Kaga, Shoukaku dan Zuikaku, Hiryuu dan Souryuu, dan divisi kita."

Taihou dan Zuihou mengangguk mendengar hal tersebut. Viltus langsung melanjutkan,

"Selain itu, kita akan menurunkan divisi kapal perusak yang khusus untuk menghadapi pesawat."

"Eh ? Akizuki-chan akan membantu kita ?" ujar Taihou

"Ya... Bersama semua adiknya."

"Aku merasa cukup tenang jika demikian."

Viltus kemudian duduk di kursi miliknya, dan kemudian berkata,

"Sudah... Kalian siap-siap saja kembali... Kita akan membahas tujuan dari misi kita setelah semuanya berkumpul... Ingat kita akan jalan pada jam 1000."

"Siap, Laksamana !"

Taihou dan Zuihou langsung memberi hormat kepada Viltus dan berjalan keluar dari kapal komando Viltus.


Tiga puluh menit menjelang misi, Magyar dan Anastasia sudah di dalam kapal komando. Selain mereka berdua, Haruto dan Elisa juga hadir di sana. Magyar kemudian bertanya,

"Elisa... Apakah kau dapat membuat radar ini agar selalu sinkron dengan apa yang dipancarkan oleh radar gadis kapal ? Dengan begitu dapat lebih mudah membaca dan jangkauan akan jauh lebih luas."

"Tentu saja, tunggu sebentar..."

"Elisa... Apakah kau dapat melakukan hal yang sama dengan sonar ini dan sonar para Gadis Kapal ? Dan juga apakah aku dapat menggunakan headphone yang jauh lebih keras dalam mendengar suara ?" tanya Elisa.

"Ah... Aku bisa membenarkan hal tersebut... Dan untuk masalah headphone... Itu yang paling bagus saat ini kami miliki..."

"Begitukah ? Baiklah..."

Elisa langsung melakukan perubahan untuk sonar dan radar agar sesuai dengan harapan dari Magyar dan Anastasia. Haruto langsung berjalan ke arah Viltus dan berkata,

"Kau tahu... Kapal komandomu cukup nyaman juga... Walaupun akan sedikit ramai..."

"Ahahahahaha... Cuma ini jauh lebih baik daripada pada saat misi hanya akan diam merenung saja."

"Hah... Yang ada nanti aku akan menghubungi dirimu untuk berbicara selagi menunggu laporan."

"Seperti biasa, huh ?"

"Ahahahahaha..."

"Sudahlah..."

Viltus melihat ke arah Elisa dan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Tidak berapa lama semua Gadis Kapal yang akan mengikuti misi tersebut sudah tiba. Viltus langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Baiklah... Karena semuanya sudah..."

"Tunggu sebentar, Viltus... Kau membawa mereka semua ?!" ujar Haruto

"Iya... Karena aku membutuhkan tenaga mereka di beberapa bagian..."

"Kau sudah mendapat persetujuan..."

"Tentu saja. Kau kira pembicaraan berhari-hari itu atas dasar apa ?"

"Ah..."

"Sudahlah... Aku akan membicarakan mengenai tujuan utama dari misi ini."

Semua orang termasuk Haruto langsung fokus pada saat mendengar hal tersebut.

Viltus langsung berkata,

"Tujuan utama dari misi ini adalah membebaskan salah satu pelabuhan dari genggaman Abyssal. Itu adalah pelabuhan yang kita temukan pada misi sebelumnya. Dan pelabuhan tersebut akan kita gunakan sebagai lini depan dan juga tempat perbaikan sementara, sekaligus untuk mengisi bahan bakar."

Semuanya langsung terdiam mendengar hal melanjutkan,

"Misi ini akan terdiri dari empat divisi kapal pengintai yang masing-masing terdiri dari tiga kapal perusak. Dua divisi kapal penjelajah ringan untuk menghadapi kapal Abyssal yang menghalangi jalan. Empat divisi Kapal Induk untuk memberi perlindungan udara dari pesawat lawan. Dua divisi Kapal Tempur untuk membombandir pelabuhan. Dan Enam divisi Tentara Angkatan Darat."

Mendengar angkatan darat, semuanya langsung terkejut. Viltus langsung menjelaskan,

"Mereka yang akan membersihkan sisa dari Abyssal yang tidak dapat kita hancurkan. Mereka juga yang akan memulai pembangunan tempat tersebut. Setelah pertempuran ini, dua divisi kapal perusak dan satu divisi kapal penjelajah ringan akan menjaga tempat tersebut."

Viltus berdiri dan menjentikkan jari tangan kirinya. Kemudian, muncul hologram dari meja di meja tengah. Semuanya terlihat sangat terkejut melihat hal tersebut, sementara Elisa hanya tertawa saja. Ia senang hal tersebut berhasil. Viltus langsung berjalan maju, dan kemudian berkata,

"Haruto... Kalau tidak salah kau yang akan dapat dihubungi perihal divisi kapal penjelajah ringan, benar ?"

"Tepat sekali."

"Di mana kapal komandomu akan berlabuh ?"

"Di daerah sini..."

Viltus melihat ke titik yang ditunjuk oleh Haruto. Tempat tersebut cukup jauh dari target, tetapi mencukupi untuk masalah komunikasi. Haruto langsung bertanya,

"Kau sendiri di bagian mana ? Kau kan sebagai pemimpin dari divisi Kapal Induk... tentu akan jauh..."

"Di sini..."

"Tunggu sebentar ?! Tempat itu bukannya cukup..."

"Tempat ini yang paling strategis dari semuanya berada di posisi yang cukup dekat dengan setiap divisi... Walaupun cukup riskan karena cukup dekat dengan pelabuhan lawan, tetapi dari kontur alam dan keadaan tanah di dalam air yang cukup datar... Ini yang paling aman saat ini, walaupun tidak menutup kemungkinan akan diserang oleh lawan..."

Haruto langsung terdiam mendengar hal tersebut. Mendadak Magyar berkata,

"Tenang saja... Jika ada pesawat, aku pasti sudah mendengarnya ! Sistem kerja dari kapal komando ini hanya berkisar di persenjataan pertahanan dan melakukan pelayaran saja."

"Kau ada benarnya..."

Haruto langsung menghela nafas setelah berkomentar demikian. Haruto kemudian melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Namun, ingat ! Misi ini merupakan misi yang cukup besar, sama seperti itu..."

"Aku tahu... Dan aku sudah memperhitungkan semuanya."

"Jangan sampai ada korban lagi..."

"Aku membawa nyawa cukup banyak orang di kapal komando ini... Tentu saja aku tidak akan bertindak gegabah."

Magyar, Elisa dan Anastasia terlihat bingung dengan apa maksud dari pembicaraan tersebut. Sementara, semua Gadis Kapal mengerti apa maksud dari Haruto. Haruto langsung berjalan ke pintu keluar dan berkata,

"Baiklah... Semoga saja kita kembali semua."

"Tentu saja."

"Jika kita kembali semua, aku akan memasak untuk kedua divisi kita."

"Oho... Menarik sekali... Aku dengar dari sebuah sumber terpercaya, makananmu dapat menandingi makanan buatan Houshou."

"Sumber terpercaya, ya... Sudahlah... Semoga berhasil, Viltus."

"Kau juga... Semoga dewi fortuna di pihakmu."

Haruto langsung meninggalkan kapal komando Viltus dan menuju ke kapal komandonya sendiri. Viltus tersenyum dan langsung bersiap-siap untuk rencananya hari itu. Pertempuran hari itu, akan dimulai sebentar lagi.


Waktu sudah menunjukkan saatnya untuk meluncur dari dock masing-masing. Divisi Viltus melakukan perjalanan untuk sampai di tempat pemberhentian mereka. Selama perjalanan, semua Gadis Kapal dan awak kapal Viltus melakukan berbagai kegiatan.

Yuudachi memilih untuk tidur sebentar. Yura dan Kinu terlihat berbincang-bincang mengenai beberapa hal. Uzuki, Yayoi, dan Shigure terlihat senang akan satu hal. Aoba sedang memotret di geladak kapal. Ryuujou sedang bertengkar dengan Magyar. Zuihou sedang duduk di pangkuan Anastasia sembari rambutnya dielus dengan lembut. Dan Taihou sedang berdiri di sebelah Viltus sembari memperhatikan rencana dari Viltus.

Pada saat Viltus melirik ke arah Magyar dan Anastasia, Taihou langsung berkata,

"Tidak kusangka... Anastasia dapat beradaptasi dengan lingkungan ini dengan cepat..."

"Itu kebiasaan dia... Saat ada pelatihan militer saat itu... Pada saat dia cukup stress, dia akan mengambil satu anggota kami yang paling pendek... Dan mengelusnya seperti itu..."

"Ehem..." ujar Anastasia.

"Ahahahaha... Kau mendengarnya ya ?"

"Tentu saja..."

"Maaf... Maaf..."

Viltus langsung tertawa setelah meminta maaf, yang hanya mendapatkan helaan nafas dari Anastasia. Anastasia langsung berkata,

"Aku melakukan ini karena..."

"Karena apa ?"

"Zuihou-chan itu imut sekali..."

Taihou dan Viltus terlihat terkejut dan tidak dapat berkata apa-apa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Anastasia. Zuihou sendiri terlihat seperti ingin membebaskan diri dari pelukan Anastasia. Viltus kemudian berkomentar,

"Entah mengapa..."

"Ada apa, Viltus ?" tanya Taihou

"Kau tahu... Divisi kita memiliki tiga kapal induk... Namun, aku melihat dua dari tiga kapal induk kita lebih menyerupai anak kecil..."

"HEI !" teriak Ryuujou dengan wajah yang marah, tanpa menghiraukan gangguan dari Magyar.

"Oh... Ada yang merasa ya ? Padahal aku tidak mengatakan siapa, lho..."

"Kau... Hei, Magyar... Jangan ganggu aku dulu !"

Viltus langsung tertawa melihat tingkah laku dari Ryuujou dan Magyar. Begitu pula dengan semua orang yang ada di dalam kapal komando tersebut. Taihou melihat ke arah Viltus sebentar. Viltus langsung berkata,

"Jangan bilang kau merasa dirimu adalah anak kecil yang satunya..."

"Hei !?"

"Ehehehehe... Aku cuma bercanda... Cuma bercanda."

"Uuuhhh..."

"Jangan pukul Laksamana malang yang tangannya cedera ini..."

Taihou yang bermaksud memukul Viltus langsung mengurungkan niatnya. Ia melihat sekali lagi ke wajah Viltus dan menyentuh pipi Viltus. Ia langsung berkata,

"Ummm... Viltus..."

"Ada apa ?"

"Luka di pipimu sudah menghilang..."

"Ah... Begitukah ?"

"Padahal baru beberapa hari yang lalu cedera, benar ?"

Taihou melihat ke arah Anastasia yang hanya menutup mata saja. Viltus langsung tertawa kecil dan kemudian berkata,

"Kau tahu... Semenjak aku membantu ayahku, beberapa lukaku dapat sembuh dengan cepat..."

"Eh ?"

"Dan cedera di tangan ini... Sepertinya akan sembuh dalam satu hari lagi..."

"Mustahil !"

"Aku tahu... Semua orang menyebut diriku monster... Begitu pula dengan Anastasia..."

"..."

"Tapi aku sudah terbiasa... Namun, ada satu efek samping..."

"Apakah itu ?"

"Aku tidak dapat memberitahumu sekarang... Jika aku memberitahumu, aku yakin kalian semua akan langsung rusuh..."

"Begitukah ?"

Mendadak mereka mendengar shutter kamera yang menutup dan terbuka kembali, diiringi dengan cahaya dari kamera. Semuanya melihat ke arah pintu dan melihat Aoba,yang terlihat terkejut akan sesuatu. Ia langsung berkata,

"Anastasia-san ?! Bagaimana mungkin kau..."

"Aku tahu dirimu dengan mudah... Pada saat aku melihat dirimu yang mengintip dari pintu, aku tahu cepat atau lambat kau akan memotret kami... Daripada aku dalam keadaan tidak siap, lebih baik aku bersiap-siap. Benar tidak, Zuihou ?"

Zuihou langsung mengangguk, sementara Aoba menerima kekalahannya diiringi tawa dari semuanya. Tidak berapa lama, mereka mendengar laporan.

"Kapal telah tiba di titik target."

"Laksamana ke Kapal Komando. Turunkan jangkar sekarang. Persiapkan untuk meluncurkan semua Gadis Kapal dalam waktu 30 menit dari sekarang."

"Diterima."

Viltus langsung berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah meja di depannya. Semua Gadis Kapal langsung berlari menuju ruang persiapan di lambung kapal. Sementara, Magyar dan Anastasia langsung fokus akan pekerjaan mereka saat ini. Tidak ada tanda bersahabat dari mereka bertiga saat ini, karena misi ini merupakan misi yang sangat penting.

Tidak berapa lama, mereka mendapat panggilan dari Haruto.

"Viltus... Kau di sana ?"

"Aku sudah tiba. Ada apa ?"

"Baguslah."

"Sepertinya kau hanya mengecek saja..."

"Aku tidak perlu menjawabnya. Dan sebelum kau bertanya, semua divisiku sudah meluncur dan bersiap untuk melakukan penyerangan."

"Apakah salah satu dari mereka..."

"Seperti yang kau minta..."

"Bagus. Lakukan pengecekan secara berkala. Aku akan menunggu laporan dari dirimu."

"Siap."

Setelah itu satu per satu orang yang bertanggung jawab di setiap divisi sudah menghubungi Viltus.

Tiga puluh menit sudah lewat, Viltus kemudian berkata,

"Semua Gadis Kapal diijinkan untuk meluncur sekarang ! Berikan kepada mereka kehebatan dari manusia !"

Semua Gadis Kapal langsung meluncur dari lambung kapal yang sudah terbuka. Pertempuran tersebut sudah dimulai.


Viltus mendengarkan berbagai laporan dari semua Gadis Kapal, seperti Divisi Kapal Perusak yang menemukan beberapa unit kapal transport Abyssal. Selain itu, Divisi Kapal Induk yang terus memberikan laporan mengenai udara sekitar mereka. Divisi Kapal Penjelajah Ringan yang terus melakukan penyerangan terhadapa divisi lawan yang ditemukan dari udara.

Semuanya berjalan sesuai rencana. Yang harus mereka lakukan adalah menunggu datangnya Divisi Kapal Tempur yang dipimpin langsung oleh Laksamana Yanagi Tadahisa. Viltus menghela nafas, dan kemudian duduk di kursinya. Ia terlihat cukup lelah akan satu hal. Anastasia dan Magyar melihat ke arah Viltus dan membiarkan dia beristirahat. Tidak berapa lama, Anastasia berkata dengan pelan,

"Hmmm..."

"Ada apa, Anastasia ?"

"Aku mendapatkan sinyal Kapal Selam di dekat sini..."

"Kapal selam... Di tempat terbuka ? Berapa banyak ?"

"Hanya dua... di timur kita"

"Dua... Sepertinya mereka mencari kapal komando dan menyerang kapal tersebut jika mereka temukan..."

Kapal Komando merupakan mangsa paling mudah diserang oleh Kapal lawan. Walaupun dapat dikatakan cukup canggih, masih terdapat sedikit kelemahan dari Kapal komando tersebut. Mereka sama sekali tidak dilengkapi dengan persenjataan yang mumpuni karena digunakan hanya untuk memimpin di medan perang saja.

Berdasarkan peraturan dari angkatan laut, Kapal komando harus dilengkapi dengan beberapa perlengkapan penghancur pesawat dan kapal selam. Praktis hanya kapal selam saja yang dapat mereka hancurkan karena pergerakan mereka lebih lambat dari Abyssal yang di permukaan laut. Namun, hal tersebut memakan cukup banyak memori dari sistem, sehingga banyak Laksamana yang memilih melepas hal tersebut dan membiarkan Gadis Kapal yang menjaga mereka.

Viltus berpikir sebentar dan kemudian berkata,

"Laksamana kepada sistem. Angkat jangkar sekarang. Arahkan kapal ini 40 derajat ke timur, dan bergerak ke lokasi kedua dengan kecepatan 20 knots."

Magyar dan Anastasia sangat terkejut mendengar perintah dari Viltus. Viltus langsung berkata,

"Kita sudah ketahuan... Pertama yang harus kita hancurkan adalah kapal selam tersebut. Depth Charge kita sudah cukup menghancurkan mereka. Walaupun demikian, pasti ada unit yang datang. Tepat setelah kita menghancurkan kapal selam tersebut, aktifkan Chaff Grenade dan Smoke Screen."

"Siap."

Kapal komando mulai berlayar kembali. Viltus langsung memberitahu Taihou,

"Taihou, kami ketahuan... Kami akan pindah ke lokasi kedua. Beritahu yang lain."

"Siap, Laksamana."

Viltus tersenyum dan kemudian duduk di kursinya kembali.


Kapal Komando mulai bergerak ke arah kedua kapal selam. Pada saat mulai mendekati kapal selam tersebut, mereka tidak melakukan apapun. Viltus terdiam sebentar, dan memberi tanda kepada Anastasia untuk melepaskan Depth Charge.

Setelah melepaskan Depth Charge tersebut, Anastasia terdiam sebentar. Tidak berapa lama, Anastasia memasang tanda ledakan sudah terdengar. Viltus langsung berkata,

"Aktifkan Chaff Grenade ! Kita akan menyiapkan smoke screen dalam hitungan 120 detik !"

Magyar langsung memberi tanda bahwa ada beberapa pesawat lawan yang mulai mendekati mereka. Viltus langsung berkata,

"Huh... Mereka melewati pertahanan udara Taihou... Sepertinya dari tempat lain..."

"Aku dapat mengkonfirmasikan adanya kapal induk lawan sedikit di utara Pelabuhan tersebut."

"Hmmm... Data dari kapal perusak bukan ?"

"Iya..."

Viltus langsung berkata,

"Kapal komando. Masuk ke persenjataan anti-pesawat. Aktifkan Chaff Grenade 180 detik setelah siap, dilanjutkan dengan Smoke Screen 120 detik kemudian !"

Mereka semua mendengar suara tembakan bertubi-tubi diiringi dengan bunyi ledakan. Anastasia langsung memberitahu mengenai suara torpedo yang masuk ke dalam air. Torpedo tersebut meleset sedikit dari kapal komando. Dan tidak berapa lama, Chaff Grenade aktif diikuti dengan Smoke Screen.

Viltus langsung bernafas lega, dan kemudian langsung kembali fokus. Ia berdiri dan berkata,

"Dari laporan semua divisi kita... Kita mengetahui lawan membagi wilayah mereka menjadi empat bagian... Namun, yang paling ketat adalah divisi di selatan pelabuhan dan di barat pelabuhan."

"Itu data yang kudapatkan dari divisi lain."

"Divisi kita cukup jauh untuk membantu mereka, namun untuk serangan udara sudah memadai. Kita butuh satu divisi lagi untuk membagi jumlah lawan agar dapat kita hadapi dengan tenang."

"Dipisah-pisah ?"

"Tepat sekali... Penggunaan cukup banyak divisi kapal perusak dan kapal penjelajah ringan dikarenakan mereka dapat bergerak dengan cepat. Pada saat jumlah mereka tinggal sedikit, baru kita hancurkan dengan kapal berat seperti divisi kapal tempur."

Magyar dan Anastasia mengangguk mendengar penjelasan dari Viltus. Pada saat mereka akan kembali fokus, sistem memberi laporan,

"Satu divisi lawan yang terdiri dari empat kapal perusak dan dua kapal penjelajah ringan berada di jalur."

Magyar langsung berkomentar,

"Ah... Sepertinya ini akhir..."

Tidak berapa lama, mereka mendengar suara meriam yang ditembakkan dan torpedo yang meluncur dari arah selatan lawan. Viltus hanya tersenyum saja dan berkata,

"Baguslah... Mereka sudah di lokasi ini..."

Viltus langsung berdiri dan berkata,

"Laksamana kepada sistem. Arahkan kapal komando menuju ke arah selatan ke titik ketiga. Bergerak dengan kecepatan 35 knot."

"Dilaksanakan."

Kapal komando mulai bergerak ke arah selatan diiringi dengan senyum dari Viltus. Anastasia dan Magyar hanya terdiam saja melihat wajah Viltus.


Setelah sampai di posisi ketiga, Viltus langsung berkata,

"Pada saat ini... Seharusnya dua divisi kapal perusak sudah menarik lawan ke posisi penghancuran lawan oleh pesawat torpedo dari divisi kapal induk kita... Apakah ada laporan ?"

"Tunggu sebentar..." ujar Magyar.

Anastasia mendengarkan dari sonar kembali dan berkata,

"Aku mendengar sebuah ledakan di dekat sini."

"Ledakan ?"

"Seperti ledakan torpedo..."

"Hmmm..."

Magyar langsung melapor,

"Divisi kapal perusak yang dipimpin oleh Akizuki dan Fubuki telah menarik lawan, dan sudah memberitahu tiga divisi kapal perusak lawan sudah hancur."

"Baguslah... Magyar, cari informasi mengenai ledakan tersebut."

"Siap !"

Magyar langsung menghubungi divisi lain perihal hal tersebut. Anastasia langsung mengambil alih penggunaan radar udara dari Magyar sementara waktu. Pada saat itu, Magyar berkata,

"Divisi kapal perusak yang dipimpin oleh Teruzuki dan divisi kapal penjelajah ringan yang dipimpin oleh Tenryuu berhasil menarik lawan ke dekat sini, mereka telah menghancurkan dua divisi kapal penjelajah ringan, satu divisi kapal penjelajah berat dan empat divisi kapal perusak. Mereka memberitahu, Satsuki, Murakumo, Tatsuta dan Abukuma terkena serangan telak."

"Perintahkan mereka yang tidak dapat melanjutkan kembali ke kapal komando masing-masing dengan ditemani dua kapal perusak. Beritahukan ini kepada mereka, sisa dari divisi kapal perusak dan divisi kapal penjelajah ringan tersebut diijinkan untuk bergabung dan melanjutkan misi."

"Siap."

Magyar langsung menghubungi semua divisi yang bersangkutan. Pada saat itu, Haruto langsung menghubungi Viltus,

"Hei, Viltus..."

"Ah... Haruto, divisimu baik-baik saja ?"

"Sendai memberitahu diriku pertempuran ini menyenangkan, walaupun melelahkan karena menjaga kapal komandomu yang terus bergerak."

"Fufufufufufu..."

"Inikah yang kau bicarakan kemarin ?"

"Tepat sekali... Walaupun hanya sebagian..."

"Apakah ini sudah sesuai dengan rencanamu ?"

"Ya... Semua ini berjalan sangat lancar..."

"Namun, terlalu lancar... rasanya ada..."

"Tepat sekali... Ah... Sebentar lagi tahap untuk membombandir pelabuhan lawan... Tarik mundur semua divisimu dan kembali ke kapal komando masing-masing."

"Siap... Siap..."

"Dan jangan lupa janjimu."

"Tentu saja."

Viltus langsung duduk kembali dan melihat ke hologam di depannya. Hologram tersebut menunjukkan titik-titik setiap divisi berdasarkan laporan masing-masing. Ia pun sudah meminta Anastasia untuk menghubungi divisinya sekarang untuk kembali. Pada saat itu, mereka mendapat panggilan dari Taihou,

"Viltus..."

"Ah... Kebetulan sekali, tarik mundur divisi kita kembali ke kapal komando... Saat ini kita ada di titik ketiga..."

"Baik..."

"Hmmm... Dari nada bicaramu sepertinya ada sesuatu ya ?"

"Iya..."

"Apakah itu ?"

Belum sempat Taihou membalas, Magyar berkata,

"Divisi yang dipimpin oleh Akizuki terjebak ! Mereka cukup dekat dengan pelabuhan lawan."

"Apa ?!"

Viltus langsung terkejut mendengar hal tersebut. Pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Magyar, Taihou langsung terdiam. Berita itulah yang ingin dilaporkan oleh Taihou kepada Viltus. Viltus langsung berpikir.

Perkiraannya adalah 15 menit dari sekarang, kapal tempur akan membombandir daerah pelabuhan. Jika divisi Akizuki berada di luar radius 100 KM dari pelabuhan, tentu saja akan aman. Tetapi, dari laporan Akizuki berada di dalam radius 80 KM dari pelabuhan, radius yang pasti akan terkena bombandir.

Viltus masih terdiam dan melihat semua divisi lain. Mayoritas divisi cukup jauh dari lawan, dan yang paling dekat adalah divisi kapal induk mereka. Namun, jika kapal induk mendekat tentu saja akan bunuh diri. Jika membagi divisinya akan ada resiko diserang oleh lawan.

Mendadak Aoba berkata,

"Aoba akan pergi menolong mereka."

"Kau tidak diijinkan pergi ke sana..."

"Kenapa ?"

"Cukup berbahaya untuk dirimu..."

"Apa kau ingin mengorbankan mereka ?"

"Tidak."

"Lalu, mengapa kau diam saja ? Aoba akan pergi menolong..."

"Aoba..."

Mendengar nada suara dari Viltus, Aoba langsung terdiam. Suara tersebut sangat lembut, namun sangat menekan. Viltus langsung menarik nafas panjang dan kemudian berkata,

"Yura... Kinu..."

"Siap !" ujar Yura dan Kinu

"Apakah kalian dapat mengawal mereka keluar dari radius penyerangan ?"

"Kami bisa mengeluarkan mereka." jawab Yura

"Dalam kurun waktu 10 menit ?"

"Jika lawan terlalu banyak, tentu akan sulit..." ujar Kinu.

"Taihou, Zuihou, Ryuujou... Apakah kalian dapat menyebutkan berapa pesawat pembawa torpedo kalian yang tersisa ?"

Mereka bertiga langsung memberitahu kepada Viltus sisa pesawat torpedo mereka. Viltus langsung berkata,

"Itu lebih dari cukup. Kalian akan menyerang lawan dengan menggunakan pesawat pembawa torpedo dan pesawat penerjun. Kita akan memulai ofensif untuk menyelamatkan mereka."

"Siap."

"Kita akan bagi divisi kita. Divisi yang akan maju ke depan adalah Yura, Kinu, Shigure dan Yuudachi. Sementara untuk membuka jalan dan menyerang dari jauh adalah Taihou, Ryuujou, Zuihou yang akan dilindungi oleh Aoba, Uzuki dan Yayoi."

"Siap."

"Untuk mereka yang maju ke depan... kalian HARUS terus memberitahu apapun yang kalian lakukan... JANGAN bertindak gegabah... jangan..."

"..."

"Bawa kembali semuanya... Ini perintah..."

"Siap."

Semua Gadis Kapal mengerti mengapa Viltus berkata seperti itu. Tidak berapa lama, Viltus mendapat laporan dari Yura mereka sudah mulai bergerak. Misi untuk menyelamatkan Akizuki pun dimulai.


Viltus memperhatikan jam sakunya. Hampir waktu dari penyerangan kapal tempur, namun belum ada kabar dari Yura. Wajah Viltus terlihat sangat pucat dan gelisah. Ia harus menunggu hingga Yura keluar dari radius, dan tidak dapat meminta ayahnya untuk menunda kehadirannya karena akan beresiko membuka kejutan dari mereka.

Viltus terlihat panik dan nafasnya menjadi berat setiap detiknya. Magyar melihat ke arah Viltus dan melihat dirinya setelah pertempuran di pegunungan tersebut. Mata orang yang sudah kehilangan sesuatu, dan mungkin akan kehilangan mereka di depan sana.

Magyar langsung berkata,

"Mereka pasti akan kembali..."

"Aku tahu..."

"Jangan memasang wajah seperti itu..."

"Aku tahu..."

"Apakah perang itu ?"

"Iya..."

Magyar langsung berdiri dan menepuk pundak Viltus. Ia langsung berkata,

"Tenang saja... Mereka pasti akan sampai dengan selamat."

"Aku tahu..."

Tidak berapa lama, Tadahisa menghubungi Viltus.

"Laksamana Amarov. Saya sudah tiba di lokasi dan akan melakukan penyerangan dalam hitungan 5 menit dari sekarang."

"..."

"Laksamana Amarov ?"

"Lakukan persiapan sekarang. Setelah siap, bombandir seluruh area dan kirimkan semua angkatan darat ke lokasi."

"Tentu saja."

Viltus menghela nafas dan kemudian melihat ke arah Anastasia dan berkata,

"Anastasia, hubungi semua pemimpin divisi kapal perusak... Mereka akan menyiapkan perlindungan untuk angkatan darat."

"Siap."

"Lalu, untuk mereka semua... aku hanya dapat berdoa saja..."

Magyar dan Anastasia langsung mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus, dan kembali ke tugas yang diberikan oleh Viltus kepada mereka.


Viltus terlihat sangat tidak tenang. Tenggat waktu untuk serangan kapal tempur sudah tiba, namun tidak ada laporan dari Yura. Magyar dan Anastasia terlihat sangat khawatir juga. Pada saat mendengar laporan dari Tadahisa bahwa dirinya akan menyerang, Viltus memberikan lampu hijau untuk menyerang.

Viltus langsung tertawa dan terlihat sedikit hancur. Ia berkata,

"Maafkan aku... Aku..."

"Laksamana..."

"Eh ?!"

"Maaf baru melapor, kami telah berhasil mengawal divisi Akizuki keluar dari radius penyerangan. Sekarang kami semua dalam perjalanan kembali..."

"Kalian selamat..."

"Iya... Saat ini kami..."

"Sudah kembali saja dahulu ! Menjauh dari area penyerangan."

"Ah... Siap..."

Viltus langsung duduk dengan wajah lega. Semuanya tersenyum dan dapat terlihat mereka melepas ketegangan mereka. Mereka bertiga kemudian tertawa bersama, dan menandakan misi mereka telah berakhir bersamaan dengan suara ledakan dari peluru Kapal Tempur diikuti dengan kapal motor dari angkatan darat.


Pertempuran tersebut telah berakhir. Mereka telah menguasai pelabuhantersebut. Tidak ada korban tenggelam, hanya beberapa Gadis Kapal yang terkena serangan fatal dan saat ini sedang diperiksa oleh masing-masing mekanik.

Sementara itu, Viltus masih di dalam kapal komandonya dan melihat ke arah semua gadis kapal dari divisinya. Ia langsung tersenyum dan berkata,

"Selamat kalian semua... Kita telah berhasil menjalankan misi ini."

Semuanya mengangguk. Viltus langsung menghela nafas dan berkata,

"Misi ini sudah berjalan dengan baik, namun karena satu hal... Hampir saja hal tersebut membuatku kehilangan kepercayaan diriku lagi..."

Semuanya langsung mengangguk. Viltus langsung tersenyum lebar dan berkata,

"Misi ini telah selesai... Dan akan menjadi batu pijakan kita semua untuk membebaskan lebih banyak wilayah lagi... Dan pada saat itu, maukah kalian membantuku lagi untuk menghadapi mereka ?"

"Tentu saja." ujar Magyar

"Kau tidak perlu menanyakan hal tersebut."ujar Anastasia

Semua Gadis Kapal langsung mengangguk mendengar pertanyaan dari Viltus. Viltus mengangguk dan kemudian berkata,

"Sekarang... Ayo kita kuasai ruangan Haruto dan meminta makanan kepada dia !"

"Ayo !"

Semua orang langsung berteriak dengan semangat dan berjalan keluar dari kapal komando Viltus. Setelah cukup sepi, Viltus langsung berjalan ke Taihou dan mengelus kepala Taihou dengan pelan. Ia berkata,

"Selamat..."

"Selamat juga untuk dirimu..."

"Ahahahaha..."

"Aku yakin kau panik pada saat mereka belum memberitahumu..."

"Tentu saja... Aku khawatir... Mereka akan menerima nasib seperti Harusame..."

Taihou melihat ke arah Viltus dan mengelus kepala Viltus sekaligus tersenyum. Viltus langsung merah dan bertanya,

"Mengapa kau..."

"Itu mudah... Karena kau sudah berjuang untuk kita semua... Kau adalah MVP dari pertempuran ini..."

"Tidak juga... Kau terlalu melebih-lebihkan..."

"Ehehehehe... Sekarang apa yang akan kau lakukan ?"

"Istirahat selama sehari..."

"Aku akan memperhatikan dirimu agar tidak bekerja besok."

"Aku tahu... Aku tahu..."

Viltus tertawa dan mulai berjalan keluar dari ruang komandonya. Pada saat ia sampai di pintu, ia membalikkan badan dan mengulurkan tangan kirinya sembari berkata,

"Ayo kita ke tempat Haruto... Dia punya janji dengan kita semua..."

"Ayo."

Taihou langsung menerima tangan tersebut dan berjalan bersama dengan Viltus ke ruangan Haruto.


HakunoKazuki di sini...

Ahahahaha

Update chapter ini cukup cepat ya... Ya karena harus menunggu dengan satu acara di dunia nyata dan tidak ada kerjaan, jadinya dapat menulis ini dengan cepat...

Tidak banyak yang ingin dibahas, kecuali mengenai satu review yang baru saja saya baca...

Hmmm... Saya sih tidak masalah jika ada yang review jelek, tetapi saya tidak suka jika menggunakan bahasa yang tidak sopan...

Jadi maaf ya bagi yang melakukan review dan terpaksa kuhapus

Semoga kalian menikmati seri ini, dan menunggu chapter selanjutnya

Sayonara