.
.
.
Hana Yori Dango 3
The Next Generation
Season II
.
.
.
Disclaimer
Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,
sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto-sensei.
Written by ButaTokki and CamsaHead
Translated by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 10
"Aku benci roller coaster," kata Sakura, bersidekap sambil mengimbangi langkah Sasuke. Keduanya sedang berjalan-jalan dan menikmati suasana.
"Ya... aku juga."
"Jadi kenapa kita naik roller coaster?!" Sakura protes saat mereka bergerak lebih dekat ke wahana itu.
"Karena sepertinya menyenangkan," kata Sasuke polos. Sebenarnya dia hanya ingin mengulur waktu, mencoba mengalihkan perhatian Sakura sebanyak mungkin.
"Itu tidak masuk akal!"
"Lakukan saja ini denganku, please?" Sasuke memohon padanya.
"Baik, tapi tetap saja tidak masuk akal," Sakura setuju. Setelah beberapa saat, ketika hanya ada sekitar 3 pasangan lagi sebelum mereka naik, Sakura menyadari bahwa Sasuke tampak gugup.
"Ada apa denganmu?" dia bertanya.
"Aku.. uh," Sasuke menyeret kakinya, "takut ketinggian..."
Sakura menatap Sasuke, benar-benar bingung mengapa mereka harus naik roller coaster. "Menarik. Aku jadi tahu hal lain tentangmu," katanya sambil menautkan tangannya dengan tangan Sasuke. "Kita akan bisa melalui ini, entah bagaimana."
"Jadi perjalanan ini telah berubah menjadi tantangan bagi kita, ne~" kata Sasuke sambil tertawa, menyukai bagaimana tangannya bertautan dengan tangan Sakura. Sangat pas.
"Sou," Sakura mengangguk singkat. Matanya menatap ke depan saat pemandu mengantar mereka ke tempat duduk. Antrean bergerak dan akhirnya giliran mereka tiba. Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangkat kakinya dengan gugup saat mereka menunggu wahana bergerak. Para pengunjung lain mengambil tempat duduk mereka dan kemudian seorang pria datang untuk memastikan mereka telah terikat dengan erat di kursi mereka. "Siap?" Sakura bertanya, berpaling kepada Sasuke dan menyeringai melihat betapa pucatnya dia, tapi Sasuke hanya mengangguk. Sakura meraih tangan Sasuke, menautkan jari-jarinya, menggenggamnya erat. Sasuke berbalik menghadap Sakura. Tiba-tiba dia melupakan dunia di sekitarnya.
"Tak apa. Aku ada di sini bersamamu. Tepat di sisimu." Sakura meremas tangannya. "Kita bisa melakukan ini bersama-sama," katanya.
Sasuke tidak mendengar suara mesin, juga tidak merasa mulai bergerak. Dia akan terjebak dalam adrenalin dan berteriak dalam ketakutan tapi untuk sekarang dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Sakura. Kata-katanya bergema di kepalanya. Sakura berada di sampingnya dan dia menyadari bahwa di sanalah dia selalu menginginkan Sakura, tepat di sampingnya.
.
.
#The Next Generation#
.
.
F3 dan lainnya duduk di food court besar. Hinata telah memesan makanan dan minuman. Mereka semua menunggu Karin yang masih belum berbicara. Ino dan Sai... sudah menghilang. Meskipun mereka memiliki gagasan samar tentang apa yang mungkin mereka lakukan di kamar mandi atau di tempat tersembunyi di taman hiburan itu, pada akhirnya Ino dan Sai akan menemukan jalan mereka ke tempat di mana seharusnya mereka berada.
"Karin, kapan kau akan memberi jawaban?" tanya Sui. Dia duduk di kursi sejauh mungkin dari Karin, sesuai permintaannya, meskipun semua orang ingin keduanya berbaikan satu sama lain.
"Berhenti menggangguku tentang hal itu!" Karin mengeluh.
"Aku telah bepergian sejauh ini untukmu. Aku begitu putus asa ingin melihatmu. Aku tidak bisa tidak mengganggumu!" Sui menjawab.
"Tidak ada yang memintamu untuk melakukan perjalanan sejauh ini!" Karin membentak.
"Apa kau akan lebih suka jika orang lain yang melakukannya?" tanya Sui serius dan Karin tidak menjawab. Sui terlalu mengenal Karin. Dia tahu dia sudah dimaafkan, jauh di dalam hati Karin. Karin hanya takut, dan itu adalah kesalahannya. "Karin, aku berjanji itu tidak akan terjadi lagi," dia bersumpah.
"Kau tahu, kupikir nasib benar-benar mengacaukan kita. Ini terjadi berulang-ulang. Misalnya Sasuke dan Sakura putus, dan ketika mereka berbaikan, hal lain terjadi pada Sai dan Ino. Ketika mereka berbaikan, kini beralih ke Suigetsu dan Karin," Sasori bertanya-tanya.
"Ada apa dengan takdir?" tanya Sui.
"Tidak banyak, hanya suka bermain-main dengan kehidupan kita," jawab Naruto.
"Ini sangat kacau. Aku tidak pernah mengerti apa yang terjadi," gumam Lee.
"Aku tidak berpikir takdir mengacaukan kita~," kata Shion, menyandarkan kepalanya di bahu Lee.
"Hei, apa yang kami lewatkan~" tanya Sai sambil mendekati yang lain. Tangan Ino berada dalam genggamannya.
Tayuya berbalik untuk melihat mereka. "Jika kau tidak pergi berlarian seperti kelinci, kau akan tahu."
Ino berpaling dari mereka. Mencoba untuk tidak merona.
"Aku suka jadi kelinci," kata Sai sambil duduk, menggerakkan tangannya sedikit agar Ino bisa duduk di pangkuannya.
"Ya, kami tahu. Kau mengambil kesempatan sebisa mungkin," Shion menggoda dan Ino harus menahan senyum.
"Dia sengaja marah padamu untuk mendapatkan seks," kata Lee.
"DIAM!" Ino berteriak, berbalik untuk menyembunyikan wajahnya di leher Sai yang hanya menyeringai. Tangannya bertumpu penuh kasih di pinggang Ino.
"Apa kalian pernah mendapatkan sesuatu tanpa ada hambatan?" tanya Sui. Semua orang berbalik untuk menatapnya.
"Tidak." Mereka semua berkata pada waktu yang bersamaan.
Karin menghela napas dan menatap Sui, lalu kembali menatap Naruto. "Dia memintaku duluan," katanya, melihat Naruto yang tersenyum.
"Aku tahu. Aku memintamu hanya untuk mengerjai Sui." Naruto pindah sedikit ketika Suigetsu memelototinya.
"Jadi..." tanya Sui.
Karin memutar matanya dan menghela napas. "Oh terserah lah, bagaimana pun kita akan menikah."
Semuanya bersorak pada saat itu. Sui bangun dan berjalan ke arah Karin, mencium bibirnya dengan lembut dan duduk di sampingnya.
"Bukankah kita seharusnya mencari Sakura?" tanya Gaara.
"Tentu... tapi kau tahu hidup akan selalu menemukan jalannya." Hinata berkata sambil mengambil minumannya dan menghirupnya.
"Kehidupan di taman ini tampaknya sudah direncanakan dengan sengaja," kata Gaara sambil menatap Hinata.
"Atau hanya berjalan sesuai apa yang sudah ditakdirkan," jawab Hinata sambil tersenyum padanya.
.
.
#The Next Generation#
.
.
"Itu tadi menakutkan," kata Sakura. Suaranya gemetar saat keduanya terhuyung-huyung menuju pintu keluar.
"Setidaknya kita tidak mati," kata Sasuke kepadanya. Tiba-tiba Sakura kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke samping, ke arah Sasuke. "Whoa, kau baik-baik saja?" tanyanya cemas, menempatkan lengan di sekeliling Sakura untuk menjaganya agar tetap berdiri.
"Ya," jawab Sakura.
Sasuke berlutut, punggungnya menghadap Sakura. "Naiklah," katanya.
Sakura tersenyum sendiri dan tanpa berpikir dua kali dia naik ke punggung Sasuke. "Ini benar-benar piggy back ride. Kau piggy," kata Sasuke menggoda, kemudian berdiri.
"Diam. Kau yang piggy! Buta-Sasu," Sakura menggoda balik. "Ke mana rencananya kau akan membawaku?"
Sasuke menatap langit. "Yah, ini sudah senja. Ayo kita naik wahana yang lebih lambat," jawabnya, tersenyum sendiri.
Sakura mengangguk dan melihat ke sekeliling saat mereka terus berjalan. Ketika lampu-lampu bianglala menghiasi cakrawala, dia tersenyum dan meringkukkan wajahnya di leher Sasuke. "Jalan ke arah cahaya itu," katanya lembut.
Mata Sasuke menangkap bianglala dan dia tersenyum. "Permintaanmu adalah perintah bagiku."
Sakura merasa matanya berair. Andai saja itu benar. Andai saja dia boleh meminta Sasuke untuk mengingat semuanya. Dia menekan tubuhnya lebih dekat dengan Sasuke, membungkus dirinya dalam kehangatan saat Sasuke membawanya menuju bianglala. Sasuke bersenandung ringan, seolah-olah dia tidak peduli pada dunia. Suara lembutnya mulai membuai Sakura. Mereka agak jauh dari tempat tujuan dan Sakura mendapati dirinya jatuh tertidur.
.
.
#The Next Generation#
.
.
"Sudah cukup." Gaara berdiri, kesal dengan seluruh situasi. "Aku sangat senang kehidupan cintamu sesuai jalur, tapi aku sudah selesai duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa. Aku akan pergi mencari pacarku," dia berkata, menekankan kata pacar dan menatap F3 kesal.
Sasori berdiri, berjalan ke arah Gaara dan mulai membenahi baju Gaara yang kusut. Yang dia lakukan jelas-jelas merupakan ancaman. "Kupikir kau dan aku sama-sama tahu, kami tidak terlalu peduli padamu," katanya, menampar bahu Gaara.
Gaara menatapnya. "Yah, setidaknya ada sesuatu yang kita sepakati." Dia berkata tajam, yang lain menyaksikan diam-diam. Sai dan Naruto berdiri di samping Sasori.
"Ini adalah pertarungan. Kau tidak akan menang," kata Sai, mengacu pada pertarungan antara Gaara dan Sasuke dalam memperebutkan Sakura.
"Kalau aku jadi kau, aku akan mulai mundur sekarang," kata Naruto.
"Aku senang aku bukan kau," kata Gaara, menatap lurus pada Naruto. "Aku tidak akan membiarkan dia pergi dari tanganku seperti yang kau lakukan." Saat kata-kata itu meninggalkan mulutnya, kepalan tangan Naruto melakukan kontak dengan wajah Gaara dan menjatuhkannya ke tanah.
"OMG! Naruto!" Karin berdiri dari kursinya.
Gaara segera pulih dan berdiri, meninju perut Naruto. "Aku sudah muak dengan ini! Aku akan mencarinya!" Dia berteriak dan berbalik untuk pergi, tapi Naruto menahannya, menarik lengannya saat Sai bergerak untuk memukulnya kali ini.
"Guys, berhenti," kata Sasori yang selalu menjadi pelerai seperti ayahnya. Dia ingin memukul Gaara juga, tapi mereka berada di tempat yang tidak pantas.
"Jangan ganggu mereka!" Naruto berteriak pada Gaara.
"Kenapa kau peduli?! Aku hanya melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan sebelumnya! Dan kali ini aku benar-benar memiliki hak untuk memperjuangkannya. Dia pacarku!" balas Gaara. Naruto meringis akan memori persaingannya melawan Sasuke.
"Kalau begitu cukup! Kau tahu lebih baik Gaara! Jika kau benar-benar mencintainya, biarkan dia bahagia!" kata Sai.
"Bahagia?! Apa kau melihat keadaan Sakura sebelumnya?! Bisakah kau benar-benar MENYEBUTNYA bahagia?" Gaara menuntut.
"Guys, STOP!" kata Hinata, masuk di antara mereka. "Kalian menimbulkan keributan! Kalian menarik terlalu banyak perhatian!" omelnya.
"Aku akan menemukannya," kata Gaara dengan nada final saat dia meninggalkan rombongan. Tidak ada yang bisa menghentikannya setelah apa yang dia katakan kepada mereka.
"Ya ampun, semua ini—," Sasori memulai, menunduk ke bawah dengan frustrasi dan berhenti ketika dia melihat sesuatu. Dia menampar lengan Sai.
"OW! Ada apa?" Sai menuntut.
"Bung!"
"Apa?"
"Resletingmu masih terbuka!" Sasori berbisik, mendesak temannya.
Sai melihat ke bawah, kemudian menyeringai dan melihat ke arah Ino yang meletakkan tangannya di depan mulutnya, berusaha menyembunyikan tawa, di saat yang lain tertawa lepas.
"Yah well, kami tadi terburu-buru." Sai mengatakan dengan santai sambil menarik resletingnya.
"Ketika kau mengatakan terburu-buru, maksudmu tentang seks kilat atau tentang berusaha menemukan kami?" Lee bertanya, membuat semuanya tertawa lagi, namun Sai hanya mengangkat bahu.
"Keduanya."
Lee membuat ekspresi 'O' sebelum beralih ke Ino yang tiba-tiba sangat tertarik pada beberapa semut di lantai.
.
.
#The Next Generation#
.
.
Sasuke menempatkan Sakura di kursi bianglala, dengan cepat duduk di sampingnya hingga kepala Sakura beristirahat di bahunya. Dia membayar pemandunya hingga lelaki itu memungkinkan mereka untuk naik setidaknya tiga putaran. Saat gondola mulai naik Sakura terbangun, melihat sekeliling dengan malu.
"Di mana kita?" Dia bertanya dan perlahan duduk.
Sasuke tersenyum. "Dalam perjalanan menuju bintang-bintang," katanya.
Matahari hampir sepenuhnya tenggelam dan warna merah muda kini berubah menjadi ungu. Sakura berpaling pada Sasuke dan tersenyum, duduk kembali hingga kepalanya sekali lagi bertumpu pada bahu Sasuke. Tangan mereka terjalin dengan nyaman.
"Aku berharap waktu bisa berhenti." Dia berkata pelan setelah beberapa saat, menyaksikan pemandangan yang dengan lembut melewati mereka.
"Bagiku jarum jam sudah berhenti," kata Sasuke sambil mendesah, memejamkan mata. "Aku berusaha keras untuk membuatnya berjalan lagi." Dia menjawab dan Sakura tiba-tiba mengerti bahwa Sasuke sedang berbicara tentang kenangannya.
Sakura menggigit bibirnya, menyesal atas apa yang tadi dia katakan. "Mungkin... tidak apa-apa seperti ini," gumamnya.
"Apa?" tanya Sasuke.
Sakura menutup matanya. Dia tidak bisa mengatakannya. Sasuke sudah punya Hinata. Dia ingin mengatakan pada Sasuke bahwa semua akan baik-baik saja... selama Sasuke masih mencintainya. Tapi itu tidak mungkin.
"Lupakan apa yang aku katakan," katanya, membuka matanya, bersandar jauh dari Sasuke, melihat keluar jendela dan berusaha menghindari tatapan Sasuke.
"Sakura... Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," kata Sasuke, membuat Sakura lengah.
"Hah?" tanya Sakura, berbalik menghadap Sasuke dan terkejut karena dia begitu dekat dengannya.
"Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena melupakanmu. Aku mencoba mengingat sebanyak yang aku bisa tapi—,"
"Yang kau bisa?" tanya Sakura. Matanya terbuka lebar dan jantungnya berdegup kencang. Apakah Sasuke benar-benar mengingatnya? Apakah dia mengingat segalanya?
Sasuke menghela napas. "Tidak.. hanya...," dia terdiam, mencari kata-kata yang tepat. Sakura menyaksikan bagaimana Sasuke menarik diri, menghirup napas tajam sambil bersandar di kaca gondola, matanya melihat ke bawah, dan jarinya meraba-raba. Dia tidak bermaksud untuk mengatakannya. Dia tidak mau memberi Sakura harapan tanpa alasan yang nyata. "Kita bertengkar," katanya, masih tidak memandang Sakura. "Yah kita bertengkar... Sering," katanya, perlahan-lahan mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Sakura. "Aku tampaknya selalu membuatmu marah." Sakura menggigit bibirnya sambil tersenyum. "Aku terus bertanya-tanya," dia menghela napas, "jika kita bersama-sama mengapa kita sering bertengkar. Aku hanya bisa mengingat kita bertengkar," dia terkekeh. "Kau serius ingin memukul wajahku."
Sakura tertawa. Air mata jatuh dari matanya. Setidaknya… setidaknya Sasuke teringat sesuatu. "Hanya itu yang kau ingat? Kita bertengkar?" Sakura bertanya dan Sasuke mengangguk sedikit.
"Kurang lebih," katanya, melihat keluar kaca menuju taman besar. "Tapi meskipun kita bertengkar..." dia berbalik untuk menatap Sakura, "aku bisa merasakannya." Dia melihat napas Sakura tercekat di tenggorokannya. "Aku mencintaimu," katanya dan air mata Sakura jatuh lebih cepat. "Pada satu titik kupikir aku membenci fakta bahwa aku mencintaimu."
"Kau bermasalah," kata Sakura sambil tertawa dan Sasuke mengangguk.
"Sesuatu selalu menghalangi jalan kita, sebanyak yang kupikir aku ketahui... seseorang... selalu menghalangi jalan kita..." katanya lebih kepada dirinya sendiri, masih berpikir bahwa gadis yang tidak bisa dilihatnya adalah orang ketiga.
"Seseorang," Sakura berbisik, berpikir bahwa yang dimaksud Sasuke adalah Naruto dan Gaara. Dia melihat ke arah yang berlawanan, keluar menuju taman. Gondola berhenti di atas saat penumpang lain mulai turun. Sejenak mereka berdua terhenti di bagian paling atas.
"Sui?!" tanya Sasuke tiba-tiba, mengejutkan Sakura setelah keheningan panjang. Sakura memandangnya saat dia menekan wajahnya ke kaca. "Ya, itu Suigetsu!" katanya.
Sakura menghampirinya dan melihat ke bawah. Di sana ada teman-teman mereka. Semuanya berdiri menunggu bianglala.
"Mengapa Karin memegang tangan orang itu?"
"Aku tidak yakin tentang itu...," Sasuke menjawab pelan.
"Hah?" Sakura bertanya dan Sasuke membenturkan kepalanya ke jendela.
"Ini sangat membuatku frustrasi. Mengapa aku tidak ingat...," bisiknya pada diri sendiri. "Aku menyedihkan. Aku tidak ingat kau, aku hampir tidak bisa mengingat Sui dan Karin, aku bahkan tidak bisa ingat dengan jelas mengapa aku kehilangan ingatanku."
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri," Sakura menghibur, mengeratkan tautan jari-jari mereka. "Kau mulai ingat, itu saja sudah cukup," Sakura melanjutkan saat Sasuke tidak mengatakan apa-apa tapi dia tahu bahwa dirinya sendiri mengharapkan sesuatu yang lebih.
"Gaara tidak ada...," kata Sasuke tiba-tiba dan Sakura ditarik kembali pada realita. Gaara... dia nyaris melupakannya. Sakura tiba-tiba merasa bersalah. "Dia mungkin meninggalkan kelompok untuk mencarimu," kata Sasuke, mengetahui bahwa jika Gaara bersama Hinata, dia tidak akan pernah menemukan Sakura. Dan Sasuke tahu bahwa itulah yang Gaara inginkan.
"Hinata di sana," kata Sakura, menarik tangannya perlahan-lahan, menjauh dari Sasuke.
Sasuke berbalik dan menatapnya, ujung jarinya menangkap jari Sakura sebelum benar-benar terlepas. "Hinata mencintai Naruto," jawabnya singkat, kepalanya masih bersandar di kaca. Sakura merasa detak jantung meningkat. Sasuke bisa merasakan detak jantung Sakura melalui jari-jarinya. "Dia sudah jatuh cinta padanya selama setahun," kata Sasuke lembut, menatap Sakura saat dia menatapnya speechless. "Aku memintanya untuk berpura-pura menjadi pacarku."
"Kenapa?" Sakura bertanya, sedikit merasa dikhianati.
"Karena sejak awal tahun... sejak awal tahun aku..." Sasuke tidak bisa mengatakannya. Dia ingin mengatakan banyak hal tapi dia tidak yakin apakah dia boleh mengatakannya. "... aku melihat betapa besar usahamu untuk bebas dariku," katanya. "Aku ingin memberimu pilihan untuk bebas. Kurasa bahkan aku bersedia melakukan apapun yang kau inginkan, tidak peduli apa itu." Dia berpaling jauh dari Sakura dan kembali menatap teman-teman mereka saat gondola mulai bergerak. "Aku membiarkanmu memilih, dan kau memilih Gaara," katanya lembut saat gondola mereka terhenti. Sasuke berbalik untuk menatap Sakura. Air mata jatuh dari mata Sakura saat dia menatap Sasuke dan Sasuke menatapnya balik. Ketika pintu gondola dibuka, Sasuke mendesah. "Kembali ke realita," bisiknya lirih sambil melangkah keluar dari gondola.
"Sasuke!" Sakura memanggil, melangkah keluar dengan cepat untuk mengikutinya.
"Apa?" Sasuke bertanya, berbalik untuk menghadap Sakura saat dia berdiri di dekat pintu keluar.
"Aku—"
"AH! Sasuke!" Sui berseru, memotong Sakura. "Akhirnya ketemu! Aku bertanya-tanya ke mana kau pergi!" Sui melanjutkan, menuju mereka saat Sasuke melewati pintu keluar. Sakura berdiri membeku di tempat itu. Hinata menyaksikan dengan ngeri saat dia melihat Sui menuju Sasuke. Rencananya hancur. Dia memelototi Karin.
"Aku sedang sibuk!" kata Karin membela diri karena dia yang bertugas melacak Sasuke agar mereka tidak bertemu. Hinata memutar matanya pada Karin dan memandang Sakura yang masih tidak bergerak.
"Apa kau pikir itu berhasil?" Tayuya bertanya pada Hinata, menggedikkan kepala ke arah Sakura. Dari tempat mereka berdiri, hanya beberapa meter dari Sui dan Sasuke, mereka bisa melihat dengan jelas Sakura menangis atau lebih tepatnya, berusaha menghentikan tangis.
"Rencanaku tidak pernah jadi bumerang," kata Hinata percaya diri dan menatap Sakura. "Tapi... mungkin kali ini terjadi."
.
.
.
TBC
