KaiHun Area, Side Story

Do Kyungsoo point

Presented by Kim Jonghee a.k.a JongCay

Disclaimer:

Para cast milik Tuhan, dirinya sendiri juga orang-ornag yang menyayangi mereka. Cerita tanpa alur, bertypo, bahasa yang nggak sesuai kaidahnya murni milik yang buat cerita. Karena semua itu, murni dari pemikiran saya, hehe

A/N:

Katakanlah Jongie iseng bikin side story XD #plak
tapi, sayur gak sedep rasanya kalo gak pake bumbu. Apalagi kalo pake merica dikit, pasti pedes banget XD #waks! /abaikan

Tapi seriusan, bagi yang mau silahkan dibaca, yang enggak, yowes ndak apa-apa.
Yang baca, ditunggu kripik pedas juga santannya XD

Jongie gak bisa banyak bicara XD silahkan dinikmati

KaiHun Area, Side Story: Do Kyungsoo Point

.

.

.

Kyungsoo itu orang yang tidak begitu peduli dengan sekitarnya. Orang yang terlalu diam—terkadang, sering menyendiri atau menghilang tiba-tiba. Kim Jongdae, teman semasa kecilnya, kadang masih tidak mengerti dengan kelakuan temannya yang satu itu.

Kyungsoo, bukannya tidak suka. Kyungsoo bukannya tidak mau bergaul akrab dengan teman-temannya. Kyungsoo hanya menganggap dirinya biasa dan tidak penting. Jadi, untuk apa berakrab-akrab dengan orang yang nantinya—entah kapan, bisa setahun atau beberapa tahun ke depan, menjadi asing baginya. Cukup berteman saja tanpa mencari masalah.

Yah, itulah Kyungsoo. Kalau pun ada yang tidak suka, untuk apa susah-susah membuatnya suka. Suka tidaknya menjadi hak semua orang. Jika memutuskan untuk tidak manyukai seseorang, berarti kau sudah siap untuk tidak disukai juga oleh orang lain.

Tapi, kadang Kyungsoo tidak mengerti. Sebegitunyakah rasa tidak senang seseorang sampai harus menggunakan kekerasan untuk melampiaskan rasa tidak sukanya?

"Hidup itu tidak adil, huh?" suara berat khas orang yang dikenalnya menyambangi pendengaran. Kyungsoo menoleh ke arah sumber suara. Tepatnya di sebelah kirinya. Tubuh tinggi menjulangnya mengharuskan Kyungsoo sedikit mendongak. Orang itu balik menatap Kyungsoo, senyum miring—yang kebanyakan gadis menyebutnya mempesona—terpahat sempurna di wajah tampannya. Ugh! Benar-benar sosok kharismatik yang bisa membuat luluh siapa saja.

"Dipukuli lagi?" suara itu kembali berdengung di telinga Kyungsoo. Kali ini tangan pemuda itu ikut andil membuat jantung Kyungsoo berdebar dua kali lebih cepat. Heh … dia bukan seperti kebanyakan gadis kecentilan di luar sana kan?

Meraih wajah Kyungsoo, jempol tangan berukuran lebih besar dari sang empunya wajah mengusap sudut bibir Kyungsoo lembut. Angin bersiur lembut menyapa, burung bercicit riang ikut menyemarakan suasana dan … waktu seakan berjalan lambat di sekeliling Kyungsoo.

"Sekali-kali kau harus memberikan mereka pelajaran, D.O-ssi," kata Jongin sok misterius dengan senyum mengambang juga mata mengedip sebelah. Hey! Apa itu maksudnya?

Kim Jongin pun berlalu, dan Kyungsoo entah bagaimana diam membatu.

Tunggu! Kenapa Jongin bias tahu nama lain Kyungsoo? Bagaimana pemuda itu …. Jadi selama ini Jongin memperhatikannya. Kim Jongin, Kim Jongin yang itu.

Seulas lengkung indah terbentuk di bibir Kyungsoo. Tak cukup lebar karena di detik berikutnya, pemuda bermata bulat itu meringis kesakitan. Luka sialan!


Percaya tidak, bahwa manusia mempunyai fase dimana dirinya mudah terpengaruh atau mudah menerima siapa saja masuk dalam kehidupan kita sekalipun orang itu baru beberapa jam berkenalan dengan kita. Percaya atau tidak, hal itu yang terjadi pada seorang Kyungsoo.

Setiap kali Kyungsoo melamun, merenungkan segala permasalahan di hidupnya, merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tidak bersemangat menyelesaikan sisa harinya, maka bayangan itu kembali berkelebat. Saat dimana Jongin muncul tiba-tiba di sampingnya, berbicara dengannya, kemudian memamerkan senyum miring kharismatik miliknya. Kyungsoo dapat mengingat tiap detailnya, dan tiap kali bayangan itu muncul, Kyungsoo akan tersenyum sendiri. Perasaan senang tiba-tiba merayap memenuhi rongga dadanya. Apalagi jika Kyungsoo ingat tawa menggemaskan Kim Jongin.

Jujur saja, setelah kejadian tempo hari, Kyungsoo sering memperhatikan Jongin diam-diam. Sikap angkuh Jongin, diamnya Jongin, cara tertawa pemuda itu yang kelewat unik, Kyungsoo suka.

Mengingat semua itu membuat Kyungsoo tertawa sendiri, tersenyum malu sendiri dan jika ada orang yang melihat, sudah pasti akan menganggapnya gila. Bahkan Kyungsoo bisa melupakan sejenak masalah yang mengungkungnya. Kyungsoo bisa merasakan bahagia sejenak. Bisa merasakan hal-hal menggelikan yang di alami kebanyakan remaja sepertinya.

Ah, perasaan macam apa itu?

Kyungsoo selalu senang melihat Jongin tersenyum. Selalu bahagia saat pemuda itu meraih kemenangan yang dimimpikannya. Dan … selalu berdebar saat senyum itu ditujukan padanya.

Cinta?

Hah, jangan gila! Bagaimana Kyungsoo bisa jatuh cinta pada makhluk indah seperti Jongin. Bagaimana ia bisa jatuh cinta pada seseorang sepertinya, maksudnya sama-sama namja. Makanya Kyungsoo percaya pada teori yang dibuatnya sendiri. Bahwa Jongin hadir di saat Kyungsoo membutuhkan seseorang untuknya berkeluh kesah. Atau setidaknya men-supportnya secara tidak langsung. Yah, seperti itulah.

"Kyungsoo-ku yang polos dan pendiam. Yang baik hati nyatanya jahat sekali." Telak saja Jongdae mendapat sikutan di perut juga tatapan tajam seorang Do Kyungsoo. "Cinta itu anugerah. Bisa dating pada siapa saja. Cinta itu tidak terbatas pada siapa saja. Cinta ibu pada putranya, cinta ayah pada putrinya, ada juga cinta kakak pada adiknya. Jadi cinta itu universal," jelas Kim Jongdae di suatu kesempatan saat Kyungsoo dengan sengaja menyinggung tentang "Cinta itu apa?".

"Kalau cinta pada sesama jenis?" Tanya Kyungsoo to the point.

Jongdae tampak berpikir sebentar memilah kata yang tepat untuk ia rangkai menjadi kalimat yang pas. "Menurutku, ini sih, menurutku yah. Kembali pada teori yang pertama, Cinta itu anugerah. Sebagaimanapun sialnya kau bertemu seseorang yang kau cintai, mau orang itu menyiksamu, mencampakkanmu, menyakitimu, atau perbuatan buruk lainnya, kalau kau sudah mencintainya, kau akan tetap bertahan dengannya, kan?" Jongdae berhenti sejenak hendak membaca air muka Kyungsoo dengan penjelasannya.

"Begitu pula dengan cinta pada sesama jenis. Selama tidak ada pihak-pihak yang tersakiti, why not? Tapi … tentu saja hal itu tidk mudah diterima. Makanya manusia diberi akal untuk memikirkan hal-hal apa yang bakalan terjadi dengan satu keputusan yang kita ambil. Jangan asal tembak yang penting bahagia. Pikirkan juga perasaan orang-orang di sekitarmu. Biarpun di mulut mereka mengatakan iya, di dalam hati, siapa yang tahu," lanjut Jongdae berapi-api. Ia bahkan harus meneguk air mineralnya setelah berpidato panjang.

"Tunggu! Kenapa aku merasa tengah menasehatimu yah?" tanyanya bingung.

Kyungsoo yang sejak tadi terperangah dengan penjelasan sang rekan tercinta, terhenyak kemudian terbahak mendengar kalimat penutup Jongdae. "Memangnya siapa yang memintamu berpidato seperti itu."

Jongdae berdecak, benar apa yang dikatakan Kyungsoo. Tapi, kenapa pemuda bermata bulat itu harus tertawa seperti itu sih? Dengus Jongdae.

"Pidato yang bagus, Chen. Harusnya kau ikut pemilihan kandidat olimpiade." Kyungsoo berujar ngawur setelah menyelesaikan tawanya. Sedangkan Jongdae hanya memutar bola matanya malas lalu berakhir dengan bentakan mengerikan yang bakalan dibalas tawa lahak seorang Do Kyungsoo.

Dalam hati Jongdae bersyukur, siapapun yang membuat temannya seperti itu, mau perempuan ataupun laki-laki, Jongdae berterimakasih. Karenanya, Kyungsoo menjadi lebih baik. Setidaknya, pemuda bermata bulat itu akhir-akhir ini sangat sering tertawa. Apalagi yang menyebabkan hal itu kalau bukan karena jatuh cinta. Kalaupun itu karena laki-laki, ia rasa tidak masalah. Selama Kyungsoo tidak jatuh terlalu dalam.

Seperti sudah menjadi kebiasaannya, hobi, atau sesuatu yang ia suka, Kyungsoo kembali menyendiri. Jauh dari keramaian, jauh dari teman-temannya. Karena dengan menyendiri, Kyungsoo dapat memikirkan hal-hal yang menganggungnya dengan lebih tenang. Maka dari itu, Kyungsoo berakhir di atap sekolah. Kebun belakang sekolah mulai ramai dikunjungi siswa lain semenjak dibersihkan. Padaha Kyungsoo suka kebun yang dulu. Yang ditumbuhi banyak ilalang juga sangat jarang dijamah orang.

"Kim Jongin." Kyungsoo merapal nama yang memenuhi mimpi-mimpinya setiap harinya. "Mungkinkah … mungkinkah aku jatuh cinta padamu?" gumam Kyungsoo nyaris tidak terdengar sama sekali.


Kalau diingat lagi, rasanya tidak mungkin Kyungsoo dapat menjadi kekasih Jongin. Jangankan begitu, terkadang, sekedar untuk mengobrol saja sulitnya minta ampun. Jongin selalu dikelilingi teman-temannya, juga beberapa siswi popular di sekolah mereka.

Menjadi salah satu teman Jongin? Rasanya itu juga tidak mungkin. Apalah Kyungsoo yang bukan apa-apa. Hanya siswa biasa yang tidak begitu penting. Yang akan cepat terlupa satu atau dua tahun setelah mereka lulus.

Kyungsoo tersenyum miris.

Biarlah ia menikmati perasaannya sendiri. Asalkan Jongin bahagia, Kyungsoo pun demikian. Mungkin … setelah beberapa bulan atau lebih Jongin menghilang dari jarak pandang Kyungsoo setelah kelulusan nanti, perasaan itu akan menguap dengan sendirinya. Iya, pasti seperti itu.

Tuk! Tuk! Tuk!

Langkah kaki seseorang yang tengah mendekat mengalihkan atensi Kyungsoo, awalnya ia merasa kesal karena akan ada orang lain selain dirinya di atap gedung ini. Menganggapnya tak ada atau mungkin mengusirnya secara halus sekalian.

Niatnya urung saat dilihatnya sang pemilik langkah. Tanpa pikir panjang, Kyungsoo mengambil seribu langkah untuk menyembunyikan diri. Rasanya tidak perlu ditanya lagi siapa yang datang.

Kim Jongin melenggang santai dengan kedua lengan terselip diantara saku celananya. Kedua atensinya mengedar pandang menjelajah sekitar. Kalau-kalau ada orang lain—dan orang itu masuk dalam daftar yang harus dihindari Kim Jongin, maka pemuda tan itu lebih baik memutar arah saja.

Kyungsoo kian mengkerut dipersembunyian—bayangkan saja, Kyungsoo berdiri menghadap tembok yang berada tak jauh dari tempat Jongin kini berdiri—saat Jongin berdiri di sana dan sepertinya tidak berniat untuk hanya singgah sebentar. Kyungsoo diam mematung dengan buliran keringat mengalir dari pelipis, rahang lalu ke dagunya. Napasnya diatur sedemikian rupa agar Jongin tidak menyadari keberadaannya, walau nyatanya, dada Kyungsoo bergemuruh, jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya.

Dasar! Seseorang yang tengah jatuh cinta yang kelakuannya tidak jauh bahkan mendekati gila. Biarpun hampir mati berdiri dengan kedatangan Jongin yang tiba-tiba—yang bodohnya, kenapa Kyungsoo harus bersembunyi, padahal ia bisa berbasa basi dengan sang pangeran hati. Pemuda bermata bulat itu sesekali mengintip dari balik tembok. Tersenyum layaknya orang gila saat pemandangan indah itu tertangkap sang retina.

Dari tempatnya Kyungsoo dapat melihat dengan jelas apa yang tengah Kim Jongin lakukan saat ini. Kyungsoo sudah seperti stalker sempurna bagi Jongin.

Jongin tersenyum memandangi layer ponsel miliknya, tak jauh berbeda dengan senyum Kyungsoo tadi. Mungkinkah Jongin juga tengah jatuh cinta seperti dirinya. Kyungsoo mencelos. Dengan pandangan tertunduk, Kyungsoo menggeser posisinya sedikit lebih dalam.

"Yak! Begitukah kalimat sapaan untuk suamimu ini, hm?"

Suami? Ah, mungkin Jongin sudah memiliki seseorang untuk mendampingi hidupnya.

Kyungsoo kian ciut. Sesuai dugaannya, seorang Kim Jongin dengan prestasi segudang, bagaimana mungkin tidak mempunyai seorang kekasih, atau … calon isteri.

Perasaan Kyungsoo? Entahlah. Bagaimana ia menggambarkannya yah?

Kecewa? Sepertinya.

Sakit hati? Tidak juga sih. Tapi … kenapa rasanya sesak sekali yah? Sampai-sampai untuk bernapaspun Kyungsoo rasanya sulit sekali.

Bukankah Kyungoo ingin Jongin bahagia, maka diapun akan bahagia karenanya. Dengan hati-hati, Kyungsoo memberanikan diri kembali mengintip dari balik tembok. Memperhatikan Jongin yang tengah tersenyum lembut menikmati percakapan satu arah.

"Kalau begitu, berhentilah berguling-guling. Peluk guling dan tarik selimutmu, lalu cobalah untuk memejamkan mata, Sehunnie."

Oh, nama kekasihnya Sehunnie.

Eh? Tunggu!

Sehun.

Sehun yang itu?

Mata lebar Kyungsoo kian melebar begitu sebuah nama meluncur dari bibir Jongin. Kyungsoo makin menajamkan pendengarannya. Mungkin saja ia yang baru patah hati terganggu pendengarannya hingga mendengar yang tidak-tidak.

"Sehunnie."

"…"

"Saranghae~"

Kyungsoo tidak salah dengar. Jongin melafalkan kata Sehun. Mungkinkah Oh Sehun yang itu. Sehun si pangeran es yang tak kalah popular dari Jongin. Sehun si murid teladan dengan segudang kelebihan lain yang dimilikinya. Sehun yang juga … seorang namja seperti dirinya?

Oh, ya ampun! Katakan Kyungsoo sedang bermimpi saat ini. Tapi … kalaupun iya, kenapa pemuda bermata bulat itu merasakan euphoria aneh di dalam dadanya. Kepalanya berat, pandangannya buram, kaki pendeknya yang menginjak lantai serasa lemas seperti jeli.

"Yak! Kyungsoo-ya! Ternyata kau di sini? Apa yang terjadi? Kim Jongin melakukan hal yang tidak-tidak padamu? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Kim Jongdae, teman sekelas yang merangkap tetangganya menghujani pemuda bermata bulat itu dengan rentetan pertanyaan aneh bin ajaib.

Wajah pucat Kyungsoo kian pias begitu mendengar nama Jongin disebut-sebut temannya itu. "Kau bilang, Kim Jongin? Kau bertemu Kim Jongin?" saking terkejutnya, Kyungsoo mengguncang kuat tubuh Jongdae.

"Tentu saja! Aku berpapasan dengannya saat naik kemari."

Jongdae kadang seram sendiri dengan rekannya yang satu ini. Jangan lihat tubuhnya yang kecil mungin ditambah matanya yang bulat. Terlihat mudah ditindas, kalaupun sebenarnya memang iya. Tapi, jangan terkejut kalau Kyungsoo sudah mengeluarkan ilmu beladirinya. Bukannya selamat, mungkin kau bisa dibuatnya babak belur.

"Hey, Do Kyungsoo! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa wajahmu sepucat ini? Apa si hitam arogan itu sudah melakukan hal yang buruk padamu? Yak! Kyungsoo-ya, jawab aku!"

Kyungsoo tak perduli serangkaian pertanyaan Jongdae yang berdengung di telinganya. Di kepalanya kembali berputar bayangan dimana Jongin begitu bahagia saat berbicara dengan seseorang di depan sana. Tawa juga kekehannya, bagai melodi paling indah di dunia ini. Namun, dari semua keindahan yang disaksikannya siang ini, seucap nama yang menjadi mimpi buruknya terselip di antara keindahan ini.

Sehun.

FIN

Sekian dulu yaaa~ XD /plak

Untuk KaiHun day 3, Afternoon-nya segera menyusul…

Semoga lebih cepat XD

Terimakasih semuaaaa~~~ :D