maaf sebelumnya, ada sedikit perubahan di fict ini lebih jelasnya lagi di chapter 5, karena kesalahan dan keteledoranku chapter 5 kemaren ke delete... =_=, yah... menyedihkan bukan?, makanya aku membuat ulang chapter 5, terima kasih sebelumnya, dan inilah chapter 10...

Love Between

Disclaimer : Naruto always Masashi Kishimoto's belonging

Rated : T-M

Genre : Romance, Drama, Friendship

Hujan turun dengan lebatnya, membasahi seluruh lokasi pemotretan yang tadinya cerah, sosok wanita berambut pink yang sedang duduk di dalam tenda merenungi kekasihnya yang baru saja pergi, dia tidak ingin pulang, ingin sekali rasanya menunggu kekasihnya datang disini. Dia melamun seorang diri, sampai akhirnya seorang laki-laki memecahkan lamunannya.

"Sakura."

Gadis itu menoleh ke arah pintu masuk tenda, yang ternyata laki-laki itu adalah sahabat kekasihnya.

"Sasuke," panggil Sakura lemas.

"Ayo kita pulang," ajak Sasuke mengulurkan tangannya dengan tatapan lembut.

Sakura menatap Sasuke juga dengan lembut dan meraih uluran tangan itu.


"Hinataa!" panggil Naruto di sebuah rumah yang sudah diberi tahu Hinata lokasinya.

"N-Naruto… bagaimana kau bisa masuk?" tanya Hinata yang datang dari dapur.

"Aku lewat belakang, di depan banyak sekali wartawan, kenapa bisa begini?" ucap Naruto yang bingung.

"Aku tidak tahu… Naruto, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf," kata Hinata yang benar-benar merasa bersalah.

"Sudahlah, sekarang kita harus memikirkan cara untuk keluar dari sini," jawab Naruto.

"Aku tadi sudah menelepon kak Neji, dan katanya dia akan menjemputku," ucap Hinata.

"Ah! Aku punya ide," ujar Naruto yang melihat boneka manekin.

"Mau apa kamu?" tanya Hinata yang bingung melihat Naruto sibuk memakaikan manekin itu dengan kain dan wig.

"Aku akan mengalihkan para Paparazzi itu dengan ini, aku akan membuat mereka menyangka aku sedang memboncengimu." Jawab Naruto sambil nyengir, "Saat itu, ketika Neji datang, kau langsung masuk ke dalam mobil Neji dan pergi, OK?"

"Ehm," jawab Hinata mengangguk, "Naruto, terima kasih banyak!"

"Sudahlah, kamu kan sudah kuanggap seperti adikku sendiri, aku juga khawatir kalau kamu kenapa-kenapa," kata Naruto sambil mendandani manekin itu.

"Naruto, maaf aku selalu menyusahkanmu, mulai saat ini aku berjanji, akan menerima hubunganmu dengan Sakura, dan aku akan menyerah tentangmu," pikir Hinata sambil tersenyum yang sedang melihat Naruto sibuk dengan manekin.


"Terima kasih sudah mengantarku, Sasuke," ucap Sakura di depan apartemennya.

"Sama-sama, kamu istirahat yah, wajahmu terlihat sangat lelah," usul Sasuke sambil memegang pipi Sakura.

"Ung, terima kasih," jawab Sakura yang tatapannya sedikit kosong.

Sakura masuk ke dalam apartemennya, ketika dia berjalan menuju kamarnya yang melewati ruang TV, dia sangat terkejut melihat Ino yang sedang berciuman dengan Shikamaru. Sakura terpana dan mematung disana, sampai pada akhirnya Ino menyadari kehadiran Sakura.

"Waah! Sakura kenapa tidak bilang kalau sudah dataaang!" sewot Ino yang wajahnya memerah.

"M-Maaf… aku tidak sengajaaaa!" teriak Sakura yang merasa malu dan langsung masuk ke dalam kamarnya.

"Waw, polos sekali reaksinya," kata Shikamaru dengan santai. "Kalau posisi Sakura ada di kamu, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan menghajar Naruto sampai tamat!" jawab Ino dengan tegas.

Sakura memegang dadanya yang berdebar-debar larena melihat adegan Ino dan Shikamaru, dia masih belum bisa menyangka saja kalau Ino dan Shikamaru sekarang berpacaran. Sakura menutup wajahnya memakai kedua tangannya dan kembali memikirkan Naruto, dalam benaknya dia bertanya-tanya, apa yang dilakukan Naruto ke Suna? Kenapa dia sangat tergesa-gesa? Pertanyaan itu tidak bisa dilontarkan lewat SMS maupun telepon, Sakura tidak ingin mengganggu, dia takut kalau ternyata itu urusan penting, tapi sesaat dia merasa tadi harus mencegahnya untuk pergi.

Sakura berjalan ke arah meja riasnya, dan di situ dia memandangi fotonya bersama Naruto yang sudah dipasang bingkai kecil, terlihat Naruto sedang tersenyum gembira sambil memeluk dirinya dari belakang, terlukis senyuman kecil di bibir Sakura saat itu, dia mencium foto itu dan memeluknya.

Begitu Sakura ingin mengganti pakaiannya, dia meletakkan foto itu kembali dan meninggalkannya, tapi entah mengapa foto itu terjatuh ke lantai dan membuat bingkai itu retak. Sakura bingung, karena dia merasa tadi meletakkan bingkai itu sedikit lebih ke dalam, tapi kenapa bisa jatuh? Akhirnya Sakura mengambil bingkai itu dan melihatnya lagi. Begitu dia melihat foto yang bingkainya retak pas di bagian wajah Naruto, hati Sakura merasa sakit seperti teriris-iris.

Wajahnya berubah menjadi pucat dan jantungnya berdebar-debar, Sakura tidak mau berfikiran negatif, dia menggelengkan kepalanya dan langsung meletakkan bingkai itu dalam posisi tertidur, lalu dia pergi untuk mengganti pakaiannya.


"Itu Neji," tunjuk Naruto yang sedang mengintip keluar. "Baiklah, aku akan memancing Paparazzi yang ada di depan, begitu mereka semua mengikutiku, kamu langsung pergi yah?"

"Ok! Naruto kamu hati-hati," kata Hinata.

"Tenang saja, aku kan sangat mahir dalam mengendarai motor," jawab Naruto sambil menyengir.

Naruto membawa manekin itu dan meletakkannya dibelakang motornya, lalu mengikatkannya ke pinggangnya seakan terlihat sepeperti wanita yang sedang duduk dibelakang Naruto, apalagi manekin itu dipakaikan wig oleh Naruto. Begitu Naruto menyalakan mesin, Naruto berucap sengaja mengeraskan suaranya.

"HINATAAA, PEGANG YANG ERAT YAAAAH." teriak Naruto agar para paparazzi itu bisa mendengarnya.

Semua wartawan yang berada di depan berlari ke belakang dan melihat Naruto menjalankan motornya.

"Itu merekaa! Ayo kejaaar! Kita harus mendapatkan beritanya!"

Naruto berhasil membuat semua paparazzi hilang dari sana dan mengikuti Naruto, ada yang memakai mobil ada juga yang memakai motor, yang akhirnya Naruto kejar-kejaran dengan para paparazzi.

"Hinata, ayo masuk!" teriak Neji.

Hinata berlari dan masuk ke dalam mobil Neji, setelah itu mereka mengikuti jejak Naruto dan paparazzi itu dari belakang.

Naruto menambahkan kecepatan motornya agar para paparazzi itu tidak dapat mengejarnya, setidaknya tidak satu jajar dengannya. Dia terus fokus ke depan, tapi para paparazzi itu tidak menyerah, mereka pun menaikan kecepatan mereka, sehingga Naruto hampir terkejar.

Di tengah-tengah perjalanannya yang sedang menegangkan itu, hp-nya bergetar. Tapi saat ini dia tidak bisa mengangkatnya karena dia dalam keadaan posisi sangat ngebut. Hp-nya terus bergetar. Naruto pikir jangan-jangan itu adalah Sakura yang menelepon, akhirnya dia nekad meraih hp di sakunya dan menjawab telepon itu di balik helmnya.


"Kenapa si bodoh itu tidak mengangkat teleponnya? Apa dia tidak ada di rumah? Padahal aku ingin menginap di sana," gumam Sasuke sambil menempelkan hp di telinganya.

"Halo Sakura?" ucap Naruto yang akhirnya mengangkat hpnya.

"Naruto, malam ini aku ingin sekali bercinta denganmu," ledek Sasuke sambil berwajah kesal dan menirukan suara Sakura.

"Sasuke brengsek! Jangan sekali-kali kau menirukan suara Sakura-ku!"

"Di mana kau? Berisik sekali," tanya Sasuke yang mendengar suara-suara mesin motor dan mobil.

"Sasuke, aku sedang dijalan, aku dikejar paparazzi, tadinya aku ingin mengalihkan paparazzi yang sedang mengepung Hinata, tapi tak kusangka mereka akan benar-benar mengejarku!"

"Apa? Sekarang kau sedang berada di daerah mana?" ucap Sasuke yang khawatir.

"Aku berada di jalanan panjang antara Suna ke Konoha."

"Ya Tuhan, Naruto kau adalah orang paling terbodoh di dunia ini… aku akan menjemputmu!" kata Sasuke yang langsung mengambil kunci mobilnya.

"Baiklah, aku juga butuh pertolonganmu, aku akan menunggumu di... HUAAAA BRAAAAK! "

Itulah yang terdengar oleh Sasuke di telepon, Sasuke terdiam lalu memanggil Naruto berkali-kali.

"Naruto? Hei NARUTO!" teriak Sasuke. "Siaal!"

Sasuke langsung mengambil kunci mobilnya dan menutup teleponnya, dia menyalakan mobilnya dan langusng meluncur ke tempat yang tadi Naruto katakan.


"Haaah!" Sakura terbangun dari tidurnya, nafasnya ngos-ngosan padahal dia tidak sedang mimpi buruk.

Dia memegang dadanya, berusaha menenangkan jantungnya, lalu dia memutuskan untuk menghubungi Naruto, dia tidak bisa menahan lagi, kali ini Sakura benar-benar khawatir, takut akan terjadi apa-apa dengan Naruto. Sakura menelepon hp-nya namun tidak ada yang menjawab, kini kekhawatirannya meningkat, akhirnya Sakura memutuskan untuk pergi ke kamar Ino.

"Ino…" panggil Sakura sambil mengetuk pintu kamar kakaknya itu. "Ino~~"

"Ya, ada apa Sakura?" jawab Ino dari dalam.

"Hhhmm, aku… aku…."

"Tunggu sebentar," pinta Ino yang agak lama keluarnya, begitu Ino keluar dia hanya memakai piyama balutan. "Ada apa?"

"Aku…" Sakura bingung harus mengadu apa pada Ino, saat ini perasaannya sangat gundah.

"Ngh… Haloo," ucap suara laki-laki yang berada di kamar Ino.

Hal ini membuat Sakura terkejut kedua kalinya, Sakura menoleh ke arah Ini seakan bertanya, 'Shikamaru berada di dalam?'

"Ehehe… hehehe…" Ino menyengir sambil menggaruk kepalanya.

"APAA!" teriak Shikamaru yang membuat Ino dan Sakura kaget, Ino menarik Sakura untuk masuk ke dalam kamarnya, begitu melihat Shikamaru yang telanjang dada, Sakura langsung otomatis menutup matanya.

"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Shikamaru yang wajahnya kini pucat dan sangat serius, bisa dilihat tangan Shikamaru pun gemetar.

"Aku akan segera kesana! Kau tenang! JANGAN GUGUP SEPERTI ITU BRENGSEK! AKU AKAN KESANA!" bentak Shikamaru yang kini benar-benar emosi.

"Shikamaru," panggil Ino lembut. "Ada apa?"

Shikamaru beranjak dari tempat tidur dan memakai pakaiannya dengan lengkap. "Ino ganti pakaianmu sekarang, Sakura kau juga, pakailah baju hangat kalian berdua! Sekarang!"

"B-Baik!" jawab Sakura yang langsung pergi ke kamarnya.

"Shikamaru… ada apa ini?" tanya Ino yang penasaran.

Shikamaru yang tadinya berdiri sekarang kembali duduk dan menjambak rambutnya sendiri. Ino merangkulnya dari belakang dan bisa dia rasakan tubuh laki-laki itu gemetar.

"Naruto…"

"Kenapa? Ada apa dengannya?"

Dan akhirnya, Shikamaru pun memeluk Ino sambil menangis di dadanya. "Naruto meninggal."

Ino sangat shock sampai-sampai dia juga ikut gemetar mendengar kabar itu, Ino menutup mulutnya yang ternganga karena tidak percaya akan kabar itu, lalu perlahan air mata Ino pun mengalir.

"S-Sakura… bagaimana caranya agar kita memberi tahu Sakura?" ucap Ino yang mengeluarkan getaran dari suaranya.

Sakura yang sudah memakai baju hangatnya datang kembali ke kamar Ino sambil berlari, "Aku sudah ganti baju, sebenarnya ada apa ini?" tanya Sakura yang ekspresinya bingung.

Terlihat ekspresi yang memilukan dari wajah Ino dan Shikamaru, dan Sakura hanya bisa terdiam tidak berani bertanya lebih banyak lagi. Akhirnya mereka berdua pergi ke tempat yang akan menjadi kenangan buruk bagi Sakura.

Di sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari salah satu orang yang berada dalam mobil Lexus itu. Shikamaru yang menyetir sambil menyenderkan kepala memakai tangannya yang menempel di kaca jendela, Ino yang terdiam sambil menundukkan kepalanya, berusaha menahan suara tangisannya agar Sakura tidak mendengarnya, ketika Shikamaru sadar bahwa Ino menangis, dia mmeutarkan lagu dengan kencang agar Sakura tidak mendengar tangisan Ino.

Sedangkan Sakura, dia hanya melamun menyenderkan kepalanya di jendela sambil menatap langit yang saat itu sangat gelap dan tidak ada bintang sama sekali, Sakura yakin diluar itu pasti sangat dingin karena kondisi cuaca saat ini baru selesai hujan. Sesampainya ditempat tujuan, Sakura mengikuti Shikamaru dan Ino yang berlari di lorong rumah sakit, Sakura bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang terjadi. Sampai pada akhirnya Sakura melihat Shikamaru menghampiri Sasuke yang sedang duduk di bangku dan berbicara dengannya dengan suara kecil.

Ino langsung menghampiri Sakura dan menggenggam tangannya, Sakura menatap Ino dengan wajah cemas serta bingung, sampai pada akhirnya Sasuke menghampiri Sakura lalu menatap gadis yang dia cintai itu dalam-dalam, dan memeluknya.

"S-Sasuke?" panggil Sakura yang kebingungan.

"Sakura..." panggil Sasuke dengan tubuh dan nada yang gemetar yang membingungkan Sakura itu efek karena udara dingin atau karena hal lain? "Naruto..."

"Ada apa? Kenapa kalian seperti ini sih? Benar-benar membuatku bingung." Gerutu Sakura sambil melepaskan pelukan Sasuke dengan pelan.

Ino menghampiri Sakura yang setengah badannya berada dalam pelukan Sasuke, "Sakura... Naruto mengalami kecelakaan maut dan..."

"Dia tidak selamat." Sambung Sasuke.

Berita ini membuat Sakura merasa dirinya seperti dihantam oleh benda yang sangat keras, pikirannya kosong, tubuhnya kaku, dan dia tidak bereaksi apa-apa. Kondisi seperti ini yang Shikamaru takutkan, dia lebih memilih melihat Sakura yang bereaksi seperti Ino karena itu melepaskan emosinya.

"Apa kamu ingin melihat jasadnya?" tanya Sasuke dengan lembut.

Sakura tidak menjawab dia masih belum bisa percaya akan berita ini, Sasuke perlahan menuntunnya ke kamar dimana Naruto di simpan, ketika Sasuke membuka pintu, Sakura berhenti di depan pintu. Sasuke menoleh ke Sakura yang masih tidak berekspresi itu, Sakura melihat sosok tubuh yang sedang ditutupi kain putih dari ujung kaki sampai lehernya, dan begitu dia melihat bagian paling atas, Sakura langsung berlari kearah tubuh itu dan memegang pipinya.

Terlihat wajah Naruto yang seperti sedang tidur itu, Sasuke melihat tatapan Sakura walaupun gadis itu memandangi Naruto, namun tatapannya seperti kosong. Bahkan Sasuke yang biasanya bersifat kalem, kali ini dia mengeluarkan air matanya, karena Naruto adalah sahabatnya yang paling baik dari mereka kecil.

"Sasuke, kalau aku punya pacar nanti, aku ingin sekali yang pandai memasak."

Sasuke mengingat kembali satu persatu kalimat-kalimat yang pernah dilontarkan Naruto dari kecil sampai hembusan nafas terakhirnya.

"Kalau sudah besar nanti kita lihat, siapa yang akan dapat pacar duluan."

Itu adalah tantangan pertama yang dilontarkan oleh Naruto saat Sasuke berumur 13 dan Naruto berumur 11.

"Sasuke kau curang! Kamu sudah dapat pacar duluan!"

Keluhan pertama Naruto pada Sasuke tentang Sasuke yang mempunyai pacar.

"Hei, kamu ganti pasangan lagi? Hati-hati kena karma."

Peringatan pertama dari Naruto untuk Sasuke saat Sasuke memulai dirinya menjadi playboy.

"A-Aku titip Sakura, t-tolong jaga dia... dia sangat rapuh, aku mohon lindungi dia... katakan padanya... a-aku... mencintainya..."

Serta amanat pertama dan terakhir dari Naruto untuk Sasuke disaat hembusan nafas terakhirnya, disaat-saat terakhir pun Naruto tetap memikirkan Sakura. Kini Sasuke hanya bisa menangis melihat Sakura yang seperti menjadi boneka hidup dihadapannya.

Saat pemakaman, semua berkumpul di rumah duka dengan pakaian yang serba hitam, upacara pemakaman berlangsung tanpa kehadiran seorang Sakura, sejak kejadian malam itu, Sakura mengunci dirinya dikamar, dia tidak mengizinkan siapapun masuk ke kamarnya. Sebelum dikremasi, Sasuke ingin Sakura melihat Naruto untuk yang terakhir kalinya, akhirnya dia memutuskan untuk menjemput Sakura seorang diri.

Sesampainya di apartemen Sakura, Sasuke masuk dan mengetuk kamar Sakura. Tentu saja tidak ada jawaban dari Sakura.

"Sakura, kalau kau tidak membukanya, aku akan mendobrak pintunya." Ancam Sasuke.

Ceklek.

Tiba-tiba pintu terbuka, dan Sasuke melihat sosok Sakura yang sudah memakai baju dengan atasan hitam dan rok hitam, tapi wajahnya tetap tidak menunjukkan ekspresi apapun. Sasuke menggandeng tangannya lalu membawanya pergi ke tempat upacara pemakaman.

Sesampainya kembali di tempat itu, terdengar suara tangisan dari seluruh fans-fans Naruto yang datang. Sasuke berjalan melewati para wartawan yang sedang memotretnya, Sasuke begitu kesal melihat kamera dimana-mana, sampai akhirnya Sasuke berucap.

"Tolong hargai perasaan kami yang sedang berduka," ucap Sasuke yang langsung melanjutkan langkahnya ke peti dimana Naruto di letakkan.

Sasuke berlutut disamping peti itu bersama Sakura, dia ingin Naruto tahu bahwa Sakura pun melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Ino makin menangis dalam pelukan Shikamaru, Sasori yang datang bersama semua anggota Akatsuki menghampiri Sakura dan mengelus kepalanya dengan lembut, namun tetap tidak ada reaksi dari adiknya itu, Itachi menatap Sasuke dengan cemas, karena dia sangat tahu bagaimana hubungannya dengan Naruto itu sedekat apa, bahkan Hidan dan Dediara pun menjadi bisu dalam keheningan itu, sampai pada akhirnya Hinata datang.

"Narutoooo!" teriak Hinata yang matanya sudah sembab bersama Neji dan Sai.

"Huaaa! Gara-gara akuu! Ini semua gara-gara akuu!' teriak Hinata yang menyalahkan dirinya disamping peti sambil memeluk peti itu, begitu Hinata melihat Sakura yang tidak menangis, dia makin merasa bersalah dan memeluk Sakura.

"Sakura! Maafkan akuu! Aku sungguh-sungguh meminta maaf padamu! Kalau saja aku tidak menyuruhnya datang ke Suna, kalau saja aku tidak manja terhadapnya!" hisak Hinata dalam pelukan Sakura.

Sakura hanya terdiam mendengar tangisan Hinata, lalu Sasuke melepaskan pelukan Hinata dari Sakura.

"Cukup! Jangan buat Sakura makin tertekan!" pinta Sasuke.

"T-tapi.. tapi..."

"Hinata." Panggil Ino dari belakang dengan nada yang lembut, begitu Hinata menoleh, Ino menggelengkan kepalanya, menandakan agar meninggalkan Sakura sendiri.

Begitu saat kremasi tiba, jasad Naruto diangkat, dan raungan tangisan makin kencang diseluruh sudut, semua berdiri mengikuti peti Naruto yang dibawa, Sakura pun ikut berdiri, namun begitu melangkahkan kakinya, tiba-tiba Sakura terjatuh pingsan.

BRUUKK.

"Sakuraaa!"


A/N : end of chapter 10... aku belum buat chpater 11 nya, jadi aku ngga bisa janji kapan updatenya... maaf yaah, ada sediki ke erroran sama laptopku juga gara-gara *g sengaja* kebanting T.T

okee, makasih review kalian yaah, sampai bertemu di chapter 11... :)

Special thanks for Suu Foxie yang udah bantu-bantu dalam pembuatan chapter 10, hehehehee... thank youuu