Memory 3:

Satoru maupun Koichirou tidak mau bertemu dengan Nikolas Sarkozy. Sifatnya terlalu arogan untuk menjadi seorang member Templar Order. Bayangkan saja, Satoru sering kena PHP karena dia diajak berdiskusi dengan mantan PM Prancis tersebut. Namun, dia juga menghormati beliau karena dia pernah berjuang melawan para teroris di Syria, yang kebetulan juga markas para Assassins.

Saat ini, Satoru dan lainnya berada di depan pintu got yang berlapiskan beli hitam dan dibuat pada abad 17-18. Mirip seperti catacomb. Tetapi, tidak bercabang-cabang dan hanya 1 jalan saja meski di tengah-tengah banyak sekali jalur yang ditempuh. Mungkin saja, perancangnya berpikir bahwa jalur ini hanya bisa masuk-keluar ke tujuan yang sama.

"Apa yang kau lakukan di sini, Monseiur Nikolas?" kata Satoru.

"Mengambil apa yang jadi milikku. Benar, kan?"

"Jangan bilang kau mencari the box dan the manuscript. Benar kan?" Tanya Koichirou

"Tentu saja tidak. Aku tidak tertarik hal itu." Kata Nikolas tenang.

"Jangan bohong kau! Kau arogan. Menggunakan uang rakyat hanya demi keserakahanmu, dan kau tidak peduli dengan rakyat. Bahkan, kau menerapkan kebijakan pengetatan—"

"Bla bla bla. Berita selalu saja menyudutkanku. Tidak melihat dari versiku terlebih dahulu. Master Satoru, ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu. Ikuti aku." Ujar Nikolas.

Mereka kebingungan. Tetapi, karena rasa penasarannya, jadi memutuskan untuk mengikuti Nikolas. Sewaktu-waktu dia berkhianat kepada Grandmaster, Koichirou tidak segan-segan membunuhnya.

"Memangnya apa yang kau cari, Monseiur?"

Nikolas terdiam. Dia menggali, dan terus menggali, hingga dia mendapatkan sebuah peti. Tidak jelas apakah peti tersebut berisi emas atau tidak, karena dari bentuknya, pasti itu berisi emas yang tertimbun di tanah.

"Ini yang aku cari. Kau tahu peti ini berisi apa?" Tanya Nikolas.

Mereka semua menggeleng pelan.

"Peti ini berisi peta elektrik. Dan yang kalian cari sebenarnya tidak ada di Paris."

"Lho kok—" Mayuri dan Mayumi terkejut bukan main.

"Aku juga tidak yakin. Tetapi yang harus kalian pahami, ada member yang tidak senang dengan kehadiranmu, Master Satoru. Apa Master mengetahui siapa dibalik semua ini?" Tanya Nikolas.

Koichirou tidak paham. Mengapa para Templar ingin mencuri manuscript dan box tanpa sepengetahuan oleh Grandmaster itu sendiri? Ini pasti coup de'tat, pikir Ichi-san.

"Bagaimana kau bisa mengetahui kalau manuscript dan box dicuri? Apa jangan-jangan—"

"Bukan. Intel ku mengatakan, yang perlu kalian waspadai sebenarnya adalah—"

Tiba-tiba, smoke grenade menggelinding di tanah.

"Smoke Grenade. Hati-hati!" teriak Satoru.

Tapi terlambat. Mereka semua terkena tidur dan pingsan di got. Satoru berusaha untuk tidak menghirupnya, tetapi dia dipukul di bagian lehernya hingga pingsan. Muncul Sudou yang mengenakan sarung tangan dan gas mask supaya dia tidak terhirup dengan Smoke Grenade yang dicampur dengan sleeping gas.

"Sayang sekali, Grandmaster Satoru. Aku ambil semua apa yang kau cari. Dan sekarang, kalian berada di wilayahku, Paris. Khu khu khu khu hahahahahahaha!" teriak Sudou.