Cuaca di Korea masih sangat dingin. Walaupun suhunya tidak se-ekstrim saat musim dingin, tetap saja dengan hawa seperti ini saat-saat yang tepat untuk bergelung dengan selimut.

Junhui dan Minghao juga tentunya tidak ketinggalan. Mereka sedang menggulung tubuh mereka dengan selimut hangat milik Minghao. Setelah pernyataan cinta Jun kemarin sore, Minghao merengek pada Jun untuk menemaninya di flat kecil miliknya.

Tentu saja dengan senang hati Jun menerimanya. Ngomong-ngomong, saat Jun memberitahu ibu dan kakaknya tentang resminya hubungannya dan Minghao, mereka berdua benar-benar heboh menanggapinya. Mereka sampai teriak-teriak mengucapkan selamat kepada Jun dan Minghao. Kadang Jun heran kenapa dia mempunyai ibu se-absurd itu.

"Ge, ini coklat panasnya." Junhui tersenyum sambil menerima coklat panas dari tangan Minghao.

Setelahnya Minghao mendudukkan diri di samping Junhui. "Mau menonton film?" kata Junhui sambil menyeruput coklat panasnya.

Minghao menoleh ke arah Junhui. "Film apa?" Junhui menyeringai.

"Film biru." Minghao membelalakkan matanya dan refleks memukul tubuh Junhui.

"Nappeun!" Minghao terus-terusan memukul tubuh Junhui dan Junhui mengaduh kesakitan sambil tertawa keras.

"Eyy iya Minghao maafkan aku! Aduh! Minghao!" Akhirnya Minghao menghentikan pukulannya dan menatap Junhui sinis.

"Salah sendiri kenapa kau mesum." Jun hanya nyengir dan merangkul bahu Minghao.

"Aku bercanda Hao-ie. Kau ini polos sekali." Minghao mendengus. "Terserah."

Junhui terkekeh dan bangkit menuju rak kaset film di bawah TV. Tiba-tiba Junhui mengumpat, "Astaga." Minghao mengernyit.

"Ada apa, ge?" Junhui membalikkan badannya menghadap Minghao sambil mengangkat sejumlah kaset bercover karakter Mickey Mouse.

"Serius, Minghao. Kau ini sudah delapan belas tahun tapi masih suka kartun?" Minghao giliran nyengir.

"Hehe. Habisnya aku suka sekali pada kartun. Fyi, aku ini maniak kartun." Junhui memutar bola matanya malas.

"Iya, aku juga tahu-sangat tahu malah jika kau ini adalah maniak kartun. Tapi ya, tidak menyangka saja." Junhui mengacak-acak koleksi kaset Minghao dan akhirnya menemukan kaset yang agak 'wajar'.

"Ya sudah, kita nonton ini saja." Junhui kembali ke sofa setelah memasukkan kaset 'Home Alone' ke DVD. Ya ampun. Selera Minghao benar-benar.

Minghao langsung merapatkan tubuhnya pada tubuh Jun. Jun tersenyum dan mengelus kepala Minghao yang ada di bahunya.

Satu jam berlalu. Sesekali mereka tertawa pada para penjahat yang dijahili oleh Kevin-pemeran utama film itu. Jun masih fokus menonton film sampai dirasa bahunya semakin berat.

Jun menoleh ke arah kanannya dan mendapati Minghao dengan mata yang sudah terpejam. Astaga, kalau saja ini dunia komik, mungkin emotikon-emotikon ala fangirl sedang bertebaran di tubuh Jun.

Demi tongkat martial arts-nya, Minghao sangat menggemaskan! Kedua mata indahnya terpejam, mulutnya terbuka sedikit dan hidungnya merah efek cuaca dingin.

Jun bersyukur tadi dia tidak jadi menonton film biru. Kalau tidak, Jun sudah-

Aish, Jun butuh air suci sekarang. Dia harus disemprot gara-gara pikiran kotornya itu.

.

Minghao menggeliat pelan, lalu pandangan pertama yang ia lihat adalah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi.

Ah, masih pagi ternyata.

Eh, iya. Tadi malam perasaan dia tidur di sofa, kenapa-

"Sudah bangun, cantik?" Oh, ini jawabannya.

Jun mendekat ke kasur Minghao sambil membawa nampan berisi roti selai dan segelas susu vanilla kesukaan Minghao. "Kok kau disini, ge?" Tanya Minghao sambil mangambil rotinya.

Jun terkekeh, "Aku tidak mau meninggalkanmu sendirian kemarin." Minghao mendengus jahil. "Bilang saja jika kau mau bersamaku disini." Jun hanya tertawa dan menyambar roti selainya.

"Oh iya, ge. Kau kan tidak pulang ke rumah, eomoni tidak mencarimu?" Jun menelan rotinya dan menjawab pertanyaan Minghao.

"Ibu sudah tahu aku disini. Malah ibu yang menyuruhku menemanimu. Ya aku mana bisa menolak untuk menjaga malaikatku ini." Minghao memanas sedikit namun dia sembunyikan dengan wajah-gagal datarnya.

"Salah apa aku punya pacar yang hobi gombal sepertimu, ge." Jun terkekeh pelan, "Eii, tapi kau mencintaiku, kan?" Minghao memukul lengan Jun dengan pipi yang merona.

"Diam." Minghao memakan rotinya kembali dengan tenang.

"Minghao, kapan kau akan kembali ke ekskul dance? Kelas sepi tidak ada dirimu." Minghao tiba-tiba murung mendengar pertanyaan pemuda Shenzhen itu. Dia teringat kembali insiden cidera kakinya pada saat dia masih ada di ekskul dance.

"Entahlah, ge. Sebenarnya aku ingin sekali kembali, tapi aku masih takut bertemu dengan Hoshi hyung." Jun tersenyum tulus,

"Hei, kenapa harus takut? Hoshi tidak marah padamu. Tidak sama sekali malah. Ngomong-ngomong kakimu sudah sembuh, kan?"

Minghao menunduk sambil mengelus kakinya, "Kakiku sih tidak apa-apa, ge. Tapi entahlah ge, mentalku masih belum siap."

Jun mengangguk mengerti dan mengelus rambut halus Minghao, "Ya sudah, aku mengerti, kok." Minghao tersenyum kecil dan memakan rotinya lagi.

"Oh iya, Minghao. Hari ini keluar, yuk." Minghao melirik, "Keluar kemana?"

Junhui berpikir sebentar, "Bagaimana jika taman dekat balai kota?" Minghao mengangguk saja dan Jun tersenyum.

.

"Ge, sepertinya ada hal menarik disana. Ayo kesana!" Jun mengangguk dan tangannya ditarik oleh Minghao ke kerumunan orang.

Setelah menyusup ke beberapa orang akhirnya mereka menempati posisi paling depan. Ah, ternyata sebuah pertunjukkan bakat, "Ada lagi relawan untuk kedepan?"

Junhui tiba-tiba mengacungkan tangannya, "Aku!"

Minghao menatap heran kekasihnya dan kekasihnya menatapnya, "Kau mau apa-hei!" Belum selesai Minghao menyelesaikan pertanyaannya, Jun terlebih dahulu menarik tangannya menuju bagian tengah kerumunan tersebut.

"Ah, kau akan menampilkan apa, nak?" Jun melirik Minghao yang memelototinya sekilas lalu meraih microphone, "Aku ingin battle dance dengan pacarku ini."

Sumpah, Jun frontal sekali astaga.

Sontak tepuk tangan riuh pun menggema di sekitar mereka berdua. Paman pemilik pertunjukkan mengutak-atik radio nya dan setelahnya lagu khas hiphop terdengar.

Minghao masih bingung dan menatap heran Jun yang mulai menggerakkan tubuhnya. Jun cukup lama meliukkan badannya kemudian mengakhirinya dengan jari telunjuk yang bergerak seolah menantang Minghao untuk beradu dance.

Ya, hitung-hitung pemanasan sebelum dia kembali ke ekskul dance.

Minghao mulai meliukkan badannya dan mendapat tepukan riuh dari penonton. Setelah sekitar dua puluh menit mereka saling beradu dance, mereka akhirnya mengakhirinya dengan Jun yang tiba-tiba menarik tubuh Minghao ke pelukannya.

Jangan tanya Minghao, wajahnya sudah panas sekali. Susah memang punya pacar sefrontal Wen Junhui.

"Wow! Tarianmu keren sekali, nak! Sebagai hadiah, aku berikan kalian ini! Walaupun bukan hadiah besar, tapi aku harap kalian menyukainya." Paman itu menyodorkan dua es krim dan mereka berdua menerimanya dengan senang hati.

"Terima kasih, paman." Balas mereka berdua kompak serta ceria.

"Wah, kalian memang pasangan yang cocok, ne?" Tiba-tiba seluruh penonton menyorakinya seperti, "Iya, mereka sangat cocok!" "Wah, aku iri dengan mereka."

Sementara Jun dan Minghao hanya tersenyum malu saja sambil menautkan tangan mereka.

.

"Tadi itu seru sekali, ne?" Minghao mengangguk, "Iya! Aku tidak menyangka bisa dapat respon seheboh itu."

Jun tersenyum dan mengusak rambut Minghao. Mereka sedang duduk di bangku taman dengan kepala Minghao yang bersandar di bahu Jun.

"Ngomong-ngomong, aku jadi percaya diri untuk menari lagi, ge."

"Benarkah? Jadi kau mau kembali ke ekskul dance?" Minghao mengangguk pasti, "Iya, mungkin besok aku akan kembali."

Jun tersenyum lagi dan menepuk kedua bahu Minghao, "Kau berubah pikiran cepat sekali, ne? Padahal tadi pagi kau bilang kau masih takut untuk kembali ke ekskul, tapi sekarang?"

Minghao mengangkat bahunya, "Well, ini juga karenamu, ge. Kalau tadi kau tidak mengajakku untuk battle dance, mungkin aku tidak akan berani selamanya."

Pemuda Shenzhen meletakkan telunjuknya di bibir pemuda Anshan, "Sstt. Hey, itu bukan karenaku. Kau menjadi berani lagi karena tekadmu sendiri, Minghao."

Minghao langsung memeluk Junhui dengan senyuman di wajahnya, "Terima kasih, ge. Kau paling mengerti diriku."

Jun terkekeh, "Jelaslah, warna celana dalammu saja aku tahu. Masa hal sekecil ini saja aku tak mengerti?"

Minghao refleks melepas pelukannya dan memasang poker face andalannya, "Ge, kenapa sih? Sekalinya kau bijak, kau langsung menghancurkannya dengan pikiran jorokmu. Heran deh."

Jun tertawa keras, "Itu memang kenyataan, kok. Aku mengerti seluk beluk tentang dirimu. Makanya, jika kau sedang gelisah atau sedih, kau jangan sungkan-ah maksudku kau harus menceritakannya padaku. Jangan ada rahasia diantara kita, oke?"

Minghao mendecih, "Orangtuaku dan diriku saja ada rahasia, kenapa kita harus tidak ada?"

Jun menggeleng, "Pokonya, aku ingin kita selalu terbuka satu sama lain, oke? Termasuk terbuka diatas-"

"Mulai lagi, deh." Jun meringis dan memeluk tubuh Minghao.

"Aku mencintaimu, Minghao."

"Aku tidak mencintaimu, tuh." Jun langsung melepas pelukannya dan memegang bahu Minghao.

"Apa kau bilang? Kau tidak mencintaiku?"

Minghao mengangguk, "Iya, aku tidak mencintaimu,"

CUP

"Tapi aku saaaangat mencintaimu."

"Kau membuatku jantungan saja."

"Kau nya saja yang bodoh, ge."

"Sstt, sudah ah. Ayo pulang." Junhui mengulurkan tangannya,

Dan disambut oleh Minghao, "Ayo!"

.

FIN

Astagaa absurdnyaa TaT Maaf ya hasilnya –selalu- mengecewakan TT Ff Junhao selalu simple simple ya, ga bisa bikin suasana ruwet kaya kapel lain.

Alhamdulilah sih ini akhirnya bisa di post, sebelum minggu-minggu depan ruwet sama ujian sana-sini -_- Duh mana Seventeen mau comeback lagi T.T

Kalian kemaren liat V App ga? Mereka dengerin preview musiknya gitu, kan? Duh, kayanya bakal konsep bad boys gitu yaa :v Moga-moga Seventeen comebacknya minggu kedua atau minggu keempat deh :3 Duh ga sabar mamaa

Tiada hentinya(?) aku ucapin makasih buat semua reader ff aku :) Apalagi kemaren ff Cheolsoo dapet respon yang tak terduga :D Jadi semangat bikin ff terus :)

Review? :)

p.s. Seventeen April Comeback, hwaiting!