Naruto Mr, Mk
The Reason
Sasuke, U dan Hinata, H
Rate M
Drama/Hurt/Comfort.
Happy reading.
...5 tahun kemudian...
Pagi ini hujan turun dengan lebat, sang raja masih bersembunyi di balik awan gelap yang menyelimuti langit di atas kota Konoha, hampir seluruh kota basah karena guyuran air hujan.
Seorang pemuda berusia 22 tahun baru saja tiba di tempat kerjanya, pakaianya sedikit basah karena mengendarai sepeda motornya, meskipun sudah memakai rain coat tetap saja air hujan membuatnya kebasahan.
Pemuda tersebut masuk ke tempat kerja dengan tepat waktu, sebagai karyawan dia harus taat pada peraturan dan salah satunya adalah hal tersebut.
"Selamat pagi, Sasuke?" salah seorang teman kerjanya menyapa.
"Selamat pagi, Kiba?" jawab Sasuke pada pemuda bernama Kiba.
Kiba adalah rekan kerja Sasuke, sudah dua tahun ini mereka bekerja sama di sebuah perusahaan musik, seorang produser memperkerjakan mereka sebagai karyawan di perusahaan tersebut.
Walaupun Kiba sangat cerewet Sasuke tidak keberatan dengan semua itu, sulit mencari teman yang mau mengerti dengan keadaan Sasuke yang seorang mantan pekerja seks, Kiba tau dan menerima keadaan Sasuke, saat melihat Kiba, Sasuke akan mengingat sahabatnya dulu, Naruto, Gaara dan juga Sai, satu hal yang Sasuke syukuri, bahwa sampai saat ini ketiga sahabatnya masih bersedia meluangkan waktu mereka untuk berkumpul bersama.
Naruto, sudah bekerja di perusahaan milik ayahnya, dan kabarnya si blonde itu berpacaran dengan Haruno Sakura, Gaara belum memiliki kekasih tapi pemuda itu sudah bekerja di kota asalnya Suna sebagai seorang arsitek, sedangkan Sai, dikabarkan sedang mendekati Ino si gadis barbie yang kebetulan menjadi model untuk karya seni lukisnya.
"Oi, Sasuke, kau lembur malam ini?" tanya Kiba.
"Tidak, aku ada acara bersama sahabat lamaku, kau mau bergabung Kiba?" jawab Sasuke.
"Tidak, terima kasih." jawab Kiba, saat ini sudah waktunya mereka pulang.
Sasuke tinggal di sebuah apartement sederhana yang mampu disewanya, Sasuke tidak tinggal bersama Itachi karena tidak ingin mengganggu Itachi dan istrinya, ya Itachi dan perawat Yugao akhirnya menikah dua tahun lalu, Sasuke sangat bersyukur dan berterima kasih pada Yugao karena mau menerima keadaan kakaknya, tidak hanya merawat Yugao juga selalu mendampingi Itachi, tapi Itachi masih bisa bekerja, usaha Itachi mendapat kemajuan ada perusahaan perfilman yang memakai jasanya untuk membuat aksesoris untuk properti film, dan hasil karya Itachi begitu di sukai dan kabarnya Itachi di undang untuk mengadakan pameran untuk hasil karyanya dan karya Itachi yang banyak di sukai adalah kalung buatanya yang selalu di buat indah dan unik.
The Reason.
Empat orang pemuda tengah bersenda gurau menikmati malam, kebetulan sabtu malam ini mereka semua libur dari pekerjaan, beberapa kaleng minuman bersoda dan camilan tersedia di meja yang berada di hadapan mereka, tidak lupa beberapa bungkus rokok juga ada di sana beserta gasolinya.
Suara petikan gitar terdengar, salah seorang dari mereka juga bersenandung mengiringi suara petikan gitar sedangkan yang lain hanya menyimak sambil sesekali menghisap benda yang terbuat dari tembakau kemudian mengepulkan asapnya.
"Suaramu masih bagus, Gaara." ucap Naruto pada Gaara yang sedang bernyanyi dengan suara yang pelan.
"Ya, kau benar, sudah lama kita tidak tampil di panggung lagi, rasanya aku rindu masa-masa itu." Sai menanggapi ucapan Naruto.
"Hei, kita bukan anak SMA lagi, jika dulu para gadis akan terpesona dengan penampilan aneh kita, tapi sekarang wanita akan tertarik pada pria dengan penampilan berkelas dan juga uang." Gaara berhenti bernyanyi kemudian menjawab ucapan kedua temanya.
"Dan kau Teme?, bagaimana menurutmu." Naruto mengalihkan perhatian pada Sasuke yang tidak berhenti memainkan gitarnya.
"Hn, aku tidak tahu, aku tidak ingin memikirkan apa yang wanita lihat dari diriku, aku tidak peduli." jawab Sasuke, ketiga temanya terdiam, mereka semua tau, Sasuke tidak bisa membuka hatinya lagi, hati Sasuke hanya milik gadis itu seorang, gadis yang sudah lama tidak di temuinya, gadis yang menjadi cinta pertamanya, gadis yang sudah pergi meninggalkanya.
"Kau masih memikirkanya?" tanya Naruto.
"Dan kau masih menunggunya, Teme?" lanjut Naruto, Sasuke berhenti memainkan gitar dan melihat ke arah Naruto.
"Hn, kau lupa?, aku yang mengusirnya dari kehidupanku?, ya terkadang aku teringat padanya tapi aku tidak menunggunya." ucap Sasuke seolah tanpa beban tapi ketiga temanya tau, Sasuke tidak pernah sedetikpun melupakan gadis itu, Sasuke hilang harapan karena sudah lama dia tidak bertemu dengan gadis pujaanya, bahkan sejak kepergian gadis itu Sasuke tidak pernah tau lagi bagaimana kabar gadis itu.
Naruto, Gaara dan juga Sai sangat mengerti betapa Sasuke merindukan Hinata, seandainya Sasuke tidak terlambat dan menghentikan Hinata waktu itu, mungkin saat ini Sasuke dan Hinata sedang tertawa bersama, tapi sampai sekarang mereka juga tidak tahu bagaimana kabar gadis itu bahkan Sakura dan Ino pun tidak tahu lagi keadaan Hinata.
Flashback.
Keringatnya menetes membasahi wajahnya tapi dia tidak peduli, dia tetap berlari untuk mencapai tempat tujuan.
Sasuke yang menangis sambil terduduk segera mengangkat wajahnya.
"Tidak, aku tidak akan melepasnya, Hinata." Sasuke segera beranjak dan dengan cepat pergi ke bandara.
Sasuke berlari dan mencari keberadaan Hinata di bandara Konoha, Sasuke ingin menghentikan Hinata yang akan pergi ke Amerika.
'Hinata, kumohon jangan pergi, aku sangat mencintaimu.'
Sasuke mengedarkan pandangan ke semua tempat yang berada di bandara tersebut, tapi dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Hinata, Sasuke meremas rambutnya, napasnya terengah, segala emosi bercampur aduk dalam dadanya.
"Teme, kau datang kesini?" Sasuke mengalihkan perhatian, dari arah belakang Sasuke melihat ketiga sahabatnya mereka juga bersama gadis-gadis sahabat dari Hinata.
"Hinata?" napas Sasuke masih terengah, semuanya terdiam.
"Kau terlambat, Hinata sudah pergi, pesawatnya lepas landas 10 menit yang lalu." ucap Karin, semua orang menatap sedih pada Sasuke.
Sasuke terdiam, pijakanya terasa lemah, jantungnya berdebar kencang tidak tergambarkan rasa kehilangan yang Sasuke rasakan, betapa sakit rasanya kehilangan orang yang kau cintai.
"Teme, apa kau baik-baik saja?" Naruto menghampiri Sasuke yang tampak terdiam.
Sudah sekitar setengah jam Sasuke masih duduk di kursi tunggu bandara, kepalanya masih menunduk, ketiga sahabatnya masih setia menemaninya, mereka juga tidak berani mengatakan apapun.
"Sebaiknya kita pulang." Gaara berucap pelan, Sasuke memijat pangkal hidungnya dengan jemari tanganya, rahangnya terlihat mengeras, Naruto, Gaara dan Sai terkejut, mereka tahu Sasuke tengah menahan dukanya, Sasuke berusaha menahan laju air matanya, ketiga sahabatnya mengalihkan perhatian pada hal lain karena merasa tidak tega pada Sasuke.
"Sudahlah Teme, aku yakin suatu hari nanti dia akan kembali." Naruto menepuk pundak Sasuke seolah menguatkan sahabatnya.
"Ya, itu benar, dia pasti kembali, Sasuke?" Sai juga menepuk pundak Sasuke, mereka bertiga hanya berusaha menghibur Sasuke, karena sebenarnya mereka juga tidak tahu apakah Hinata akan kembali atau tidak.
Setelah kepergian Hinata, tidak ada yang tahu bahwa Sasuke sangat menderita dengan rasa rindunya, pemuda itu hidup dengan normal seperti yang lainya, tapi jauh di dalam hatinya dia merasakan kekosongan dan kehampaan yang menyiksa, dan Sasuke tahu kisah cintanya sudah berakhir untuk selamanya.
Flashback end.
Naruto menghela napas, melihat Sasuke yang terlihat begitu tenang, pemuda itu bertingkah seolah tidak memikirkan apapun.
"Sebenarnya ada yang ingin kami sampaikan padamu, aku yakin kau ingin mengetahuinya." ucap Naruto, pemuda itu menyerahkan sebuah majalah dan Sasuke menerimanya, Gaara dan Sai terdiam.
"Hinata akan kembali, tapi dia kembali untuk bertunangan." ucap Gaara, gerakan tangan Sasuke terhenti saat membuka lembaran majalah.
"Sai yang pertama kali mengetahuinya, Ino mendapat kabar langsung dari Hinata sendiri." Naruto menjelaskan pada Sasuke.
Hening..
Tidak ada yang berbicara hanya suara kertas yang dibalik setiap halamanya, ketiga pemuda berbeda warna surai tersebut masih menunggu respon dari Sasuke, sepertinya pemuda itu terluka kembali, sebenarnya ketiga pemuda tersebut tidak tega untuk memberitahukan hal tersebut, tapi Sasuke harus bisa memerima kenyataan dan melupakan Hinata.
"Aku sudah tahu." Naruto, Gaara dan Sai terkejut mendengar suara Sasuke.
"Atasanku punya seorang putra bernama Taymujin yang tinggal di Amerika, dan pemuda itu akan kembali besok untuk bertunangan dengan gadis bermarga Hyuga."
"Aku sudah mendapat undanganya." ucap Sasuke sambil mengambil selembar kertas hitam dengan tinta emas untuk tulisanya.
"Apa?" ketiga pemuda sahabat Sasuke sangat terkejut mendengarnya.
Sasuke menyerahkan kertas hitam tersebut, Naruto segera membuka undangan tersebut dan benar ada nama Hinata Hyuga dan Taymujin di dalamnya.
"Besok hari minggu tapi aku tetap masuk kerja, atasanku akan mengadakan sebuah acara untuk karyawan, dan malam harinya kita akan pergi ke pesta, aku yakin kalian juga sudah mendapat undanganya." ucap Sasuke panjang lebar.
The Reason.
Hari minggu adalah hari libur untuk semua orang, banyak yang memanfaatkan hari tersebut untuk liburan ataupun berkencan bagi mereka yang memiliki pasangan.
Sebuah gedung perusahaan yang bergerak di bidang musikal terlihat begitu ramai, terlihat beberapa karangan bunga di setiap sudut ruangan, terlihat juga banyak pengusaha terkenal yang hadir di tempat tersebut.
"Oi, Sasuke, ayo bergabung bersama yang lain, kenapa diam saja di situ?" Kiba menepuk pundak Sasuke yang sedang duduk di salah satu kursi yang berada di sudut ruangan.
"Hn, tidak aku di sini saja." jawab Sasuke dengan nada suara yang datar.
"Oh, ayolah, bos kita punya tamu istimewa, putranya yang bernama Taymujin sudah datang." lanjut Kiba.
"Aku tahu." jawab Sasuke tanpa melihat ke arah Kiba.
Kiba menghela napas, Sasuke memang sulit untuk di bujuk dan Kiba tidak bisa memaksanya.
"Hei, Uchiha!, bos memanggilmu!" seorang pria tiba-tiba datang dan memanggil Sasuke.
"Sebaiknya kau cepat temui bos atau kau akan di pecat dari pekerjaanmu." ucap pria itu lagi sambil tersenyum mengejek.
"Sialan, kau mau kuhajar, Hajime?" Kiba tidak suka dengan ucapan rekan kerjanya yang bernama Hajime, pria itu selalu bersikap buruk pada Sasuke.
"Sudahlah." Sasuke beranjak dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan rekan kerjanya.
Kiba menyusul Sasuke dan berjalan bersama untuk menemui bosnya, Kiba hanya melihat ekspresi wajah yang datar yang ditampilkan Sasuke.
Kiba dan Sasuke menghampiri sekumpulan pria dewasa berjas yang tampak berbincang satu sama lain.
"Permisi." Sasuke menyapa beberapa pria tersebut.
"Oh, Sasuke, kemarilah." seorang pria dengan postur tinggi besar mengalihkan perhatian pada Sasuke dan Kiba.
"Apa tuan memanggil saya?." tanya Sasuke pada pria tersebut.
"Ya benar, kenalkan mereka adalah rekan kerja perusahaan kita, dan anak muda ini adalah putraku Taymujin." pria itu memperkenalkan tiga orang temanya dan seorang pemuda dengan warna rambutnya yang terang.
"Dan Sasuke ini adalah salah satu karyawan terbaik disini." pria itu berkata pada empat orang lainya.
Sasuke membungkukan tubuhnya sebagai rasa hormat.
"Ayahku sering menceritakan tentangmu, katanya kau pintar membuat komposisi musik dan suaramu juga bagus." seorang pemuda yang merupakan anak dari atasan Sasuke membuka suaranya, Sasuke hanya tersenyum ringan.
"Itu benar dan nanti malam akan kuminta dia untuk membuktikanya di pesta pertunanganmu."
Sungguh rasanya Sasuke ingin sekali pergi dari tempat itu, tidak ada yang tahu apa yang tengah dirasakanya, bagaimana kau bisa bertahan dengan semua itu.
Sasuke tahu bahwa dia akan bertemu Hinata nanti malam, bagaimana apa yang akan terjadi nanti, apa dia bisa menunjukan wajahnya yang menyedihkan pada Hinata, gadis yang bahkan Sasuke lupa betapa lembut suaranya saat dia berbicara.
"Permisi."
Deg...
Detak jantung Sasuke terasa menggema di dadanya, suara lembut seorang gadis yang berdiri di belakangnya membuat Sasuke terpaku di tempatnya berdiri.
"Hei, dari mana saja, kemarilah." Taymujin berjalan melewati bahu Sasuke dan berjalan menuju gadis tersebut.
"Maaf, aku dari toilet sebentar." jawab gadis itu.
"Ayo kuperkenalkan pada rekan kerja dan karyawan ayahku." sungguh Sasuke ingin lari dari kenyataan, dan berharap semua ini hanya mimpi, Hinata berada dekat denganya, Sasuke tidak menyangka seperti inikah pertemuan dengan Hinata, yang bahkan sulit di bayangkanya.
Sasuke masih berdiri membelakangi orang-orang tersebut, Sasuke juga mendengar perkenalan mereka dengan Hinata, suara Kiba terdengar gembira, oh Sasuke lupa dengan keberadaan Kiba.
"Hei." Sasuke terkejut saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
"Ayo bergabung." Taymujin mengajak Sasuke bergabung.
"Hinata, dan dia adalah karyawan terbaik ayahku." ucap Taymujin, dengan terpaksa Sasuke membalikan posisi tubuhnya.
"Uchiha Sasuke."
Deg...
Waktu terasa berhenti, gadis itu tampak terkejut, ada sorot mata yang tidak terbaca, Sasuke tidak mampu mengucapkan apapun, Hinata tampak berbeda, terlihat lebih dewasa dan juga cantik.
"Dan Sasuke, dia adalah calon tunangan dari putraku." ayah Taymujin juga memperkenalkan mereka berdua.
Sakit...
Kenapa rasanya sakit sekali, Hinata memalingkan tatapanya ke arah lain, apa dia membenci Sasuke, ataukah dia sudah lupa pada Sasuke, mungkin saja keduanya benar.
Sasuke mengepalkan kedua tanganya, tentu saja semua karena kesalahnya, Sasuke menyadari hal itu, sejak lama Sasuke sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk seperti yang sedang di alaminya sekarang.
"Kudengar Sasuke sangat piawai dalam memainkan alat musik, apa itu benar ayah?" Taymujin bertanya kepada sang ayah dan hanya di jawab anggukan oleh pria paruh baya tersebut.
"Sasuke akan menunjukannya malam ini, benarkan Sasuke.?" ayah Taymujin berkata sambil menepuk pundak Sasuke dan hanya di jawab anggukan oleh Sasuke.
The Reason.
Waktu terasa cepat bagi mereka yang menikmati hidup, tapi tidak bagi Sasuke, waktu terasa begitu lambat, setelah kembali tadi sore dari acara penyambutan anak dari atasanya, sekarang Sasuke harus pergi kembali untuk acara pertunangan.
Sebenarnya Sasuke tidak ingin kembali bertemu dengan Hinata, karena akhirnya harapan yang Sasuke miliki harus di buang, iya tentu saja Sasuke masih mengharapkan Hinata, setelah lima tahun yang dilaluinya dengan penuh perjuangan dan inilah hasilnya, semuanya berakhir.
"Teme apa kau sudah siap?" suara Naruto membuyarkan lamunan Sasuke yang sedang berdiri di depan cermin.
"Seperti biasa teman kita yang satu ini selalu tampak luar biasa." Sai juga muncul bersama Gaara.
Keempat sahabat tersebut memang akan berangkat bersama ke pesta pertunangan, tidak, sebenarnya sebagai sahabat sejati Naruto yang punya rencana untuk pergi bersama, Gaara dan Sai menyetujuinya, mereka tahu Sasuke membutuhkan teman saat ini.
"Sudahlah kita punya pertunjukan, bukankah kalian merindukan saat seperti ini, bernyanyi di atas panggung dan di hadapan banyak orang.?" suara Sasuke terdengar begitu dingin, tadi sore Sasuke meminta ketiga sahabatnya untuk tampil bersama untuk memenuhi permintaan atasanya.
Mendengar perkataan Sasuke, ketiga pria muda tersebut hanya menghela napas, mereka tahu apa yang dirasakan Sasuke saat ini.
"Aku tidak mengerti, mengapa hidupnya berbeda dengan kita." Sai kembali berucap setelah Sasuke berjalan meninggalkan mereka.
"Sudahlah Sai, dia hanya butuh dukungan." Gaara berucap pada Sai.
"Sakura dan Ino pasti sudah berada di sana untuk menemani Hinata." ucap Naruto.
"Iya, Karin dan Tenten juga pasti sudah berada di sana." jawab Sai.
"Entahlah, Sakura juga tidak tahu tentang pertunangan ini, jelas dia terkejut karena Hinata tidak pernah menghubunginya." Naruto kembali berucap pada kedua sahabatnya.
"Ayo berangkat, Sasuke bukan yang mau menunggu kalian." Gaara menyela ucapan kedua temannya kemudian berjalan mendahului mereka.
The Reason.
Hiruk pikuk menjadi ciri khas suasana pesta, begitu ramai di penuhi para tamu undangan, pria dan wanita dari kalangan pengusaha yang terlihat berkelas juga menjadi pemandangan umum di tempat tersebut.
Pakaian dan perhiasan mahal tampak dikenakan para tamu, bahkan wangi parfum mahal pun tak luput dari indra penciuman.
Setelah membawakan beberapa lagu Sasuke dan ketiga sahabatnya duduk berkumpul di salah satu sudut gedung, pertunangan Hinata dan Taymujin sudah diresmikan beberapa menit yang lalu.
Jauh di dalam hati Naruto sebenarnya rasa cemas bergelut dalam dadanya, Naruto tidak melihat ekspresi apapun di wajah Sasuke, padahal Hinata baru saja resmi menyandang status tunangan atau calon istri dari Taymujin Haido.
"Hei sayang, kenapa kau melamun?" suara gadis cantik bersurai bunga membuyarkan lamunan Naruto, gadis itu merangkum wajah tampan Naruto.
"Sakura, aku hanya memikirkan Sasuke." jawab Naruto sambil menyentuh tangan Sakura kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Entahlah Naruto, aku juga tidak tahu harus bagaimana, Hinata sangat sibuk, aku, Ino, Karin dan Tenten juga belum sempat bicara denganya." Sakura menghela napas.
"Kalau aku katakan kasihan padanya, si Teme pasti menhajarku, dia tidak suka dikasihani." Naruto kembali berucap.
"Mungkin ini memang yang terbaik untuk mereka berdua." jawab Sakura, Naruto hanya menganggukan kepalanya.
The Reason.
Setelah selesai dengan kegiatan menghibur para tamu dan berkumpul bersama sahabatnya, Sasuke memutuskan untuk pergi dari ruang yang penuh sesak, bukan hanya ruang gedung yang terasa sesak tapi dada Sasuke juga terasa begitu menyakitkan seperti sulit bernapas apalagi setelah melihat Taymujin menyematkan cincin cantik di jari manis Hinata, orang tua Hinata juga hadir di sana, tapi sepertinya meereka tidak menyadari kehadiranya.
Pemandangan malam di atas gedung memang tampak indah berkilauan, lampu kota seperti bintang bertaburan dengan warna yang berbeda.
Sasuke menghela napas lelah, sekali lagi Sasuke harus merasakan pahitnya hidup yang dia miliki, haruskah dia menangis tapi Sasuke bukanlah seorang yang cengeng, apapun yang terjadi akan dia hadapi, akan tetapi kali ini rasanya begitu sakit, satu-satunya cahaya dan harapan hidupnya juga pergi meninggalkannya.
"Hiks,...maafkan aku." Sasuke sedikit terkejut, ada suara seorang gadis yang sedang menangis, dengan langkah ragu Sasuke melangkah mendekat pada sumber suara yang sedikit tersembunyi di sudut atap gedung tersebut, ternyata ada orang lain selain dirinya ditempat tersebut, Sasuke hanya takut jika gadis tersebut sedang di ganggu seseorang.
The Reason.
Sasuke tidak bisa memejamkan mata untuk tidur, kejadian di atap gedung tadi terus diingatnya, bagaimana hatinya terasa semakin menyakitkan bahkan saat menarik napas rasanya begitu sulit dan menyesakan.
Flashback.
Dengan cepat Sasuke melangkah, mungkin saja gadis tersebut membutuhkan bantuanya.
'Hiks ...maafkan aku.'
Langkah Sasuke terhenti dan terpaku di tempat, tatapanya tertuju pada seorang gadis yang sedang di peluk erat seorang pemuda yang di kenalinya.
Sakit...
'Sudahlah, Hinata semua akan baik-baik saja, kau hanya gugup.'
Sungguh Sasuke tidak ingin melihat ini, tapi apa salahnya? mereka sudah bertunangan, Hinata dan Taymujin, tapi tetap saja Sasuke tidak rela melihatnya, melihat mereka.
Flashback end
Sasuke merasa dilema dalam hidupnya begitu menyiksa, tapi sesulit apapun itu dia harus bisa menghadapinya, dan hari ini Sasuke memutuskan untuk menerima takdir dari Tuhan, tidak ada gunanya melawan takdir, nasib manusia mungkin bisa di ubah tapi tidak dengan takdir Tuhan.
"Hey, selamat pagi Sasuke."
"Selamat pagi Kiba."
"Kupikir kau tidak masuk hari ini?" Kiba bertanya pada Sasuke yang baru saja tiba di tempat kerjanya.
"Tidak alasan untuk libur selama kau masih bisa bekerja." jawab Sasuke dengan hanya senyumnya yang begitu tipis.
"Baiklah sampai bertemu nanti saat makan siang." ucap Kiba setengah berteriak karena Sasuke sudah berjalan menuju ruangan tempatnya bekerja.
Seperti yang biasa di lakukan, Sasuke dan Kiba makan siang bersama di kantin perusahaan, sudah terbiasa bagi Kiba melihat pemandangan temannya yang selalu makan dengan tenang dan tidak berisik, tapi Kiba tahu semua kehidupan Sasuke, walaupun hanya sedikit Sasuke selalu bercerita tentang hidupnya saat dia menginginkanya.
Satu hal yang tidak pernah Sasuke ceritakan yaitu tentang gadis yang disukainya, tidak pernah sekalipun Kiba mendengar nama seorang gadis yang special dari mulut Sasuke.
"Permisi, apa kami boleh bergabung?" lamunan Kiba menjadi buyar karena ada sebuah suara terdengar, Kiba juga melihat Sasuke yang berhenti mengunyah makananya.
"Oh, Taymujin-san, Hyuga-san, tentu saja, silahkan." Kiba berinisiatif untuk menjawab karena Sasuke tidak kunjung membuka suara.
Sebenarnya Sasuke tidak menyangka Taymujin dan Hinata berada di kantin perusahaan.
"Kenapa anda berada di sini, apa ada yang bisa kami bantu?." Kiba membuka suara dan berbincang dengan Taymujin tanpa menyadari Sasuke dan Hinata terlihat tidak merasa nyaman.
"Aku hanya mampir saja, aku dan Hinata ingin berjalan-jalan, tapi aku tidak tahu kemana." jawab Taymujin, dua pria tersebut kemudian melanjutkan pembicaraan kecil mereka.
Sasuke tidak begitu peduli dengan apa yang di bicarakan Taymujin dan Kiba, karena mata obsidianya tidak lepas dari pemandangan cantik yang ada dihadapanya, Hinata sama sekali tidak menatapnya karena gadis itu terus menunduk.
Jauh di dalam hatinya Sasuke merasa rindu, ingin sekali menarik Hinata kedalam pelukanya dan mengatakan rasa rindunya, Hinata sudah banyak berubah sejak terakhir kali di lihatnya.
"Suke..."
"Sasuke..."
"Eh?..."
Sasuke tidak menyadari panggilan Kiba dengan segera Sasuke tersadar dari segala yang dipikirkanya.
"Sasuke aku harus segera kembali, pekerjaanku masih banyak." Kiba segera bangkit setelah mendapat jawaban dari Sasuke tidak lupa berpamitann pada dua orang lainya yaitu Taymujin dan Hinata.
"Kalau begitu aku juga permisi sebentar." Taymujin juga segera bangkit setelah Kiba pergi.
"T-Tunggu kau mau pergi ke mana?" suara Hinata terdengar gugup, mungkin dia tidak ingin di tinggal sendiri.
Sasuke tersenyum kecut di dalam hati saat melihat tingkah Hinata, mungkin Hinata memang membencinya, gadis itu tidak mau melihatnya sama sekali.
"Aku hanya ke toilet sebentar, ada Sasuke kau bisa berbicara denganya." jawab Taymujin, pemuda itu segera pergi tanpa menyadari aura canggung di antara Sasuke dan Hinata.
Hinata terlihat bergerak tak nyaman dalam duduknya, Sasuke menyadari hal itu, mungkin lebih baik jika dirinya pergi atau diam saja.
"Aku,..."
"Lama tak bertemu, apa kabarmu, Hinata?" pada akhirnya Sasuke memutuskan untuk memulai pembicaraan, dia tidak bisa terus menghindar, Sasuke harus menghadapi semuanya.
Hinata terdiam saat mendengar suara Sasuke, gadis itu hendak beranjak tapi dia mengurungkan niatnya saat mendengar pertanyaan dari Sasuke.
"A-Aku, ..." Hinata begitu gugup dan tidak tahu harus berkata apa.
"Aku senang melihatmu baik-baik saja." suara Sasuke kembali terdengar, Hinata mengalihkan tatapan dan untuk beberapa saat tatapan mereka terkunci.
"Iya, terima kasih, kau juga terlihat baik, Sasuke." ada sedikit getaran dalam suara Hinata.
"Selamat untuk pertunanganmu, kemarin aku tidak sempat mengucapkanya." senyum kecil terpatri di bibir Sasuke, dan Hinata tampak sedikit terkejut.
"Oh, terima kasih."
"Kalau begitu aku permisi, masih ada yang harus ku kerjakan." Sasuke beranjak setelah mendapat anggukan dari Hinata, pemuda itu berjalan tanpa berpaling lagi.
Langkah kaki Sasuke terasa begitu hampa, rasanya dia sedang meninggalkan sesuatu yang begitu berharga, tanpa Sasuke sadari air matanya juga menetes, rasanya begitu sakit karena tidak bisa berbuat apapun.
'Sasuke...'
Sasuke juga tidak menyadari bahwa seseorang yang di tinggalkannya juga tengah meneteskan air matanya, tangisan pilu sarat akan rindu dan juga luka yang dia rasakan.
"Hiks,..."
To be continue...
Hi...The Reason chap 10
Lagi-lagi g bisa tamat di chap ini, ga cukup...
Ok readers ada yang nungguin ff ini ga?
mungkin chap depan baru chap akhir...
Ff selanjutnya yg aku update...Another Love...
I love u all...c u next chap...
Salam aisyaeva ( Eve Queen )
