Pernyataan Tegas (2)

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, High school love life

Rated : T

Warning :

AU!, Typo(s), gaje

.

Present~

.

.

Latihan terus saja berjalan, hilang keseimbangan pun beberapa kali sempat terjadi diantara para atlit gabungan. Ini sudah kali ke-20 kami latihan, namun perselisihan masih saja terjadi.

Aku tidak ingin ikut campur dengan orang-orang yang berkelahi, dan juga orang lain yang mencoba melerai mereka. Aku hanya berdiri di pinggir lapangan sambil menenteng dua plastik penuh air mineral dan roti. Aku piket hari ini.

Belum sempat ku dekati orang-orang kurang asupan gizi itu, justru ada yang menepuk pundakku lebih dulu. Aku mau tak mau jadi menoleh ke belakang, mengabaikan sebentar perkelahian di depan mata.

"Eh, Sasori. Ada apa?"

"Kau latihan terus, tidak lelah?"

Aku tersenyum saja ketika laki-laki ini mengacak rambutku. Aku senang dia masih mau perhatian padaku setelah apa yang terjadi pada Sakura. Mungkin bisa dibilang aku cukup beruntung sampai bisa mendapat perlakuan seperti ini.

"Mana bisa aku lelah, yang lain saja sudah meluangkan waktunya untuk latihan bersama."

Aku memandangi Sasori yang selalu terlihat keren.

"Ini aku punya minuman untukmu."

Begitu ku lihat Sasori menyodorkan minuman kaleng berwarna merah, aku langsung menengok sebuah kaleng yang sama di samping pom-pomku yang tergeletak. Ada sebuah minuman yang sama.

"Bukannya kamu sudah memberi ini tadi?"

Sasori menatapku bingung.

"Minuman yang itu bukan darimu?"

Ia menggeleng. "Aku baru sempat ke sini sekarang. Dari tadi sibuk belajar dan ulangan."

Ah, kalau begitu ada orang lain yang diam-diam meletakannya di sana. Bolehkah aku berharap kalau orang yang meletakannya adalah dia yang sudah ku kenal?

"Oh baiklah, terimakasih ya?"

Aku hampir pergi kalau saja Sasori tidak menahanku. Hal itu membuatku berdebar, rasanya aku sangat takut kalau-kalau ia ingin membahas apa yang terjadi di rumah sakit kemarin. Padahal sedari tadi aku sudah menahan rasa canggung dengan senyuman.

"Kenapa kemarin kau lari?"

Habis sudah.

"Kau tidak mendengar semuanya, kan?"

"Ak-aku tidak mengerti maksudmu."

"Percakapanku dengan Sakura, kau dengar semuanya?"

Aku menunduk penuh sesal, tidak berani menatap manik Sasori barang sebentar. Kini rasanya aku seperti seorang pencuri yang baru saja akan diringkus polisi. Posisiku benar-benar sulit saat ini.

"Ak-aku tidak bermaksud mencuri dengar semuanya. Hari itu aku memang berniat menjenguk Sakura, tapi kau sudah lebih dulu datang."

Sasori mengangguk, mungkin ia sudah bisa memahami keadaannya. Ia jadi tidak perlu khawatir kalau aku mendengar semua ucapannya. Lagipula aku hanya orang tak pentin-

"Aku senang kalau kamu sudah dengar, jadi sekarang aku tidak punya alasan lagi untuk mundur."

Heh? Apa?

"Kau pasti sadar kalau aku bukannya tidak punya alasan kenapa tiba-tiba mendekatimu."

Mulutku terbuka, speechless.

"Ino, aku suka padamu. Aku ingin kau tidak cuma jadi teman saja. Aku ingin jadi paca-"

"Ja-jangan diteruskan,"

Tiba-tiba saja mulutku bicara seperti ini, aku sendiri kaget. Sekarang aku jadi harus menjelaskan betapa lancangnya jawabanku.

"Anu, maksudku aku tidak tahu harus jawab apa kalau kau tiba-tiba bicara begitu. Aku benar-benar bahagia selama bersamamu. Bintang lapangan sepertimu mau jadi temanku, membuatku sangat bersyukur hari itu."

Aku tidak bermaksud menolaknya, tapi hatiku memaksa untuk tidak memberi ruang pada seseorang di hadapanku kini. Entah kemana lenyapnya perasaan kagumku saat itu itu pada Sasori.

Semuanya sudah berubah.

Kini aku hanya bisa membatu, menatap Sasori yang tidak beranjak dari posisinya sejak tadi. Benar-benar membuatku dipenuhi rasa bersalah.

Harusnya aku bisa bicara lebih baik tadi.

"Sasori, aku tidak bermaksu-"

"Tidak apa-apa. Aku mengerti." Pemuda itu mengulaskan senyum.

"Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu ya, kamu semangat. Kompetisinya sudah dekat, kan?"

Aku mengangguk, menatap wajahnya yang tidak ku tahu sedang menampilkan ekspresi macam apa. Tapi aku mengerti, Sasori tidak akan sebaik dulu padaku nantinya. Aku hanya perlu mempersiapkan diri ketika waktunya tiba.

Begitu Sasori berlalu, hal pertama yang ku lakukan adalah menaruh minuman pemberian pemuda itu di samping botol yang satunya. Aku mengamati botol yang entah dari siapa itu. Aku lantas menghela napas lelah.

"Minta ditampar, hah? Memangnya aku tidak tahu kalau kalian ini keganjenan di depan kakak kelas sewaktu masa orientasi?"

Adu mulut ternyata belum usai sejak tadi.

Baiklah, aku harus bergegas sebelum kami semua dipanggil ke ruang kepala sekolah. Terutama Tenten, dia pasti akan kena damprat yang paling banyak karena jadi yang pertama memancing adu mulut. Sisanya, tentu saja akan dapat hukuman yang sama.

.

.

.

Hari ini adalah hari yang panjang ku rasa, karena selain harus menghadapi Sasori, nyatanya aku harus menghadapi hal lain. Aku harus bertemu Sakura, berhubung kemarin rencana yang sudah ku susun batal.

Aku sudah bertekad akan mengatakan sejelas-jelasnya tentang apa yang menjadi beban pikiran perempuan itu. Lagipula, kalau dipikir-pikir semua masalah ini berawal dariku. Aku justru yang sadar paling akhir.

Bodoh sekali aku ini.

Terlalu lambatnya cara berpikirku bisa membuat orang lain terluka. Aku tidak mau menjadi orang yang menyusahkan, jadi sebaiknya aku benar-benar bisa jadi lebih pengertian dengan situasi orang lain sekarang.

"Hai, Sakura?" Ku lihat perempuan itu tengah membaca sebuah novel.

Perempuan itu diam saja, hanya menatap sekilas.

Aku jadi harus berdehem sebentar untuk mengusir kecanggungan.

"Aku bawakan buah, kamu suka kan? Aku tahu karena sering melihatmu makan buah saat istirahat."

Masih saja diam.

"Aku sebenarnya mau bawakan bunga, tapi pasti sudah banyak kan yang bawakan kamu bunga, haha. Jadi aku ganti beli buah saja."

Belum ada respon.

"Kamu tidak suka aku datang ke sini, ya? Ah, maaf kalau begitu. Aku tidak akan menjengukmu lagi lain kali."

Buku Sakura baru saja tertutup, dan sekarang perempuan itu beralih melihatku. Matanya menyiratkan kebencian, itu yang bisa ditangkap mataku. Aku meneguk ludah, takut.

"Bawakan ke sini buahnya, sayang kalau tidak dimakan. Pasti mahal."

Begitu ku dengar kalimatnya, aku tak bisa menahan senyum. Pikiranku tentang ia yang menakutkan sudah tertepis jauh. Sakura sepertinya sudah tidak marah lagi padaku. Mungkin aku tidak perlu canggung lagi.

"Kamu suka apel?"

Sakura mengangguk.

Aku dengan segera membuka sekeranjang buah-buahan yang ku dapat dari hasil patungan dengan teman satu tim. Tak perlu waktu lama bagiku untuk segera mencuci satu buah berwarna merah itu dan memberikannya pada Sakura.

Sementara itu, aku yang tak punya hal untuk dilakukan hanya duduk sambil bermain dengan kuku jari. Sakura sibuk dengan dunianya, seolah tak ingin diganggu. Aku jadi berulang kali memutar otak untuk mengajaknya bicara, ya walaupun aku tahu itu pasti akan mengganggu acara makannya.

Tapi kan, aku tidak datang ke sini untuk diam saja.

"Ah, aku baru ingat. Teman satu timku bilang minta maaf padamu, tolong diterima permintaan maaf kami, ya?"

Sakura samar-samar mengangguk.

"Selama kamu di rumah sakit, aku terus merasa dihantui rasa bersalah. Aku tidak dapat hukuman yang pantas karena sudah membuat kecerobohan sebesar ini."

Tanpa peduli Sakura yang hanya diam, aku terus saja menceritakan keluh kesahku.

"Aku senang bisa ikut kompetisi nasional, walaupun sebenarnya timku masih terlalu junior untuk mendapatkan hal semewah ini. Di samping itu, aku juga merasa malu di waktu yang sama. Bukannya dapat hukuman sehabis membuatmu celaka, nama timku malah jadi naik. Aneh sekali, bukan?"

Aku menghela napas sejenak, untuk kemudian tak henti-hentinya bercerita.

"Seumur hidup, aku mungkin tidak akan melupakan pengalaman ini, terlalu indah rasanya. Yah, walaupun akhirnya timku harus adu mulut terus dengan grup lain setiap hari. Tapi aku tidak merasa semuanya jadi beban, karena justru kelakuan teman-temanku itu yang membuat mood kami jadi bagus. Kami tertawa tiap Tenten adu mulut dengan tim lain, karena tim lain hanya berani bicara saja, tapi takut ketika Tenten mau menonjok mereka."

Aku membuang muka sambil tersenyum.

Akhirnya, apa yang aku rasakan bisa tersampaikan juga. Aku yang tadinya hampir tidak berani bicara justru mencurahkan semuanya.

"Aku berharap kamu bisa jadi temen baikku sampai kapanpun, karena aku selalu merasa bahagia ketika punya teman baru. Kamu pasti tidak tahu, tapi dari kecil aku selalu kesusahan mencari teman, sampai aku pernah mengurung diri. Jadi, bisa dibilang kehidupanku yang sekarang ini benar-benar tidak terlupakan."

"Dan soal Saso-"

"Oke, kau tidak perlu minta maaf. Semua yang sudah terjadi ya sudah, itu pun sebagian besar hal buruk yang menimpamu justru berasal dariku. Aku tidak suka bilang ini, tapi aku yang harusnya minta maaf."

Aku mendongak.

"Ta-tapi aku sudah membuatmu cidera sampai masuk rumah sakit begini."

"Ini semua salahku sendiri, jadi kau tidak perlu merasa bersalah lagi. Intinya, aku minta maaf."

Aku tersenyum lebar. "Aku sudah memaafkanmu."

.

.

.

Beberapa hari telah berlalu, hingga akhirnya kini aku dan semua anggota timku harus menghadapi apa yang sudah kami tunggu selama ini, meskipun tak menampik ada rasa takut yang diam-diam menyelinap di dalam hati kami.

Aku sudah mempersiapkan semuanya, mental, dan juga tenaga ekstra, serta kehati-hatian. Mungkin orang lain juga mempersiapkan hal yang sama, lebih baik malah. Dalam hati aku mengucap doa berkali-kali.

Namun, belum selesai aku berdoa, bahuku sudah ditepuk. Ada yang mencariku.

Dengan langkah cepat ku temui orang itu, nyatanya hanya Kiba. Seperti biasa, Kiba tersenyum lebih dulu. Aku menyambut senyumnya, dan segera saja berdiri di hadapannya dengan perasaan campur aduk.

"Kenapa?"

"Semangat ya,"

Jauh-jauh ke depan ruang ganti atlit, hanya itu saja yang dia katakan? Buang-buang waktu sekali.

"Iya, terimakasih. Kalau begitu aku mau masuk lagi."

"Eits, sabar dulu kenapa sih?"

Lenganku sudah digenggam pemuda ini. Aku langsung membatu.

"Lihat aku," Ujar Kiba dengan suara rendahnya.

"I-iya." Aku tiba-tiba saja lemah mendengar suaranya.

"Aku pernah bilang tidak akan menunjukkan siapa orang yang aku suka sampai orang itu sadar sendiri. Tapi sepertinya harapanku terlalu tinggi, sampai sekarang bahkan orangnya tidak pernah mau sadar."

Aku menatapnya kaget, terlebih ketika Kiba mencuri semua perhatianku lewat tatapan mata. Ini tidak bisa dibiarkan, kalau terlalu lama seperti ini pasti hidungku…

Kiba baru saja mendaratkan sebuah kecupan di hidungku.

"Aku ingin bilang sekarang saja kalau aku sebenarnya suka kamu, Ino. Aku suka pada hidung merahmu, senyumanmu, semangatmu. Semuanya benar-benar membuatku semangat untuk menjalani hari-hari yang mengesalkan ini."

Aku semakin membatu.

"Kamu tahu kenapa aku keluar dari pelatihan? Karena aku frustasi ketika tidak bisa melihat wajahmu tiap hari. Bagaimana aku bisa semangat menjadi calon atlit nasional kalau semangatku justru ku tinggal sendirian di sekolah?"

Aku menunduk, menyembunyikan senyum dan hidung yang semakin merona.

"Kamu tidak keberatan kan kalau aku mengatakan ini sebelum pertandinganmu? Kamu tidak merasa terganggu, kan?"

Aku kini mendongak, menatap Kiba dengan sebuah senyuman yang belum bisa luntur. Aku tidak pernah ingin mengatakan hal norak seperti ini, tapi…

…Aku sudah merasa menang meski pertandingan belum dimulai.

Rasa bahagiaku sebesar itu.

"Tidak mengganggu sama sekali kok, aku malah suka."

Giliran Kiba yang tersenyum lebar hingga giginya hampir nampak seluruhnya.

.

.

.

Undian maju sudah diatur, dan nomor 7 adalah yang grup sekolahku dapatkan. Kami semua sudah berbaris rapi untuk segera menghadapi pertempuran yang sesungguhnya. Kompetisi ini merupakan langkah awal bagi kami untuk segera diakui, dan untuk segera melintasi batas yang lebih lebar lagi.

Memoriku menguar begitu saja. Tentang ibuku yang selalu menangis haru atas apapun yang aku raih, tentang ayahku yang meskipun terlalu sibuk bekerja namun tetap mendukung langkahku. Aku sangat mencintai mereka, dua orang yang tidak pernah menyerah atas diriku yang sejak dulu menyusahkan ini.

Aku juga teringat Sakura, temanku yang paling aneh. Teman yang paling berambisi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski begitu, bukannya tidak ada sisi baik yang dia miliki. Ada banyak, kalau saja aku mau lebih akrab lagi dengannya.

Sasori, akhir-akhir ini aku sering melihatnya membantu Sakura berjalan ketika di sekolah. Aku senang melihat mereka berdua sudah baikan. Aku pun sama, aku sudah baikan dengan Sasori. Aku sempat kaget karena Sasori mau memaafkanku yang tidak bisa menerima perasaannya, tapi mungkin itulah sifatnya yang selalu disanjung banyak orang.

Terakhir, aku juga kepikiran tentang Kiba. Ketika memikirkannya, ada hal berbeda yang ku rasakan. Aku merasa berdebar setiap kali mengingat namanya, dan betapa beruntungya aku karena bisa mendapatkan hatinya. Kami akhirnya saling memiliki mulai hari ini.

Sekarang aku hanya perlu menatap lurus ke depan, mencari apa yang ingin ku cari, dan mendapatkan apa yang pantas ku dapatkan. Tim ini harus berjaya agar suatu saat kami jadi salah satu tim yang paling banyak diceritakan kepada adik-adik kelas kami nantinya.

Begitu panggilan untuk tim nomor 7 sudah dikumandangkan, maka dengan langkah apik, satu persatu dari kami mulai memasuki arena pertandingan.

Lihatlah, kami pasti akan memberikan penampilan terbaik kami!

.

.

Red Nose

End

.

.

.

Epilogue

Kaki-kaki yang menggantung bebas di atas kursi, jemari-jemari yang telaten membuka berlembar buku album, dan wajah yang berseri-seri memperhatikan tiap halamannya, serta hidung yang memerah.

Ino tersenyum berkali-kali. Layaknya seorang muda yang tengah berbinar-binar mendapat surat cinta pertama, hanya saja ia tidak sedang mengagumi sebuah surat cinta. Apa yang tengah ia baca adalah album kenangan sma, yang mana sudah lewat 13 tahun lalu.

Di sampingnya, sang suami yang tengah bersiap-siap berangkat kerja menyadari sesuatu yang timbul di hidung istrinya. Sudah lama warna itu tidak muncul, membuat sang suami rindu masa-masa di mana ia menjadi orang yang paling sering melihat warna itu timbul dan memudar.

"Ino, liat kacamataku dimana?"

"Sepertinya masih tertinggal di meja makan tadi. Coba aku carikan."

Ino mendudukkan anak satu-satunya di atas kursi, seraya mencoba bangkit untuk membantu suaminya yang akan segera berangkat kerja.

Tak lama kemudian ia kembali.

"Ini kacamatamu, Kiba."

"Ki-ba Ki-ba," Sebuah suara mengagetkan keduanya.

Si kecil menirukan suara ibunya.

Ino dan Kiba lantas terkikik geli, menertawakan betapa masih polosnya panggilan mereka untuk satu sama lain. Sepertinya nama panggilan mereka penting untuk diubah ketika sebuah hubungan juga berubah.

"Sayang, panggilnya papa ya," Ujar Ino ke anaknya.

"Iya, mama." Itu Kiba yang mengucapkan, seraya merengkuh pinggang istrinya dari belakang.

"Ih Kiba apa sih?!"

"Panggil papa dong, kita kan sudah menjadi orang tua. Sah-sah aja kok, ma."

Ino hanya bersemu lagi dan lagi, hingga hampir lupa bahwa sejak beberapa detik lalu hidungnya sudah jadi sasaran ciuman demi ciuman yang didaratkan suaminya.

"Papa, sepertinya kau harus cepat berangkat ke kantor."

.

.

Really End

.

Wah, kita sudah berada di penghujung cerita. Betapa senangnya aku bisa sampai tahap ini. :') *padahal cuma remake*

Dengan ini, lunas sudah satu ffku. Masih ada yang belum kelar sih, tapi belum ada ide buat lanjutinnya. Masih mentok. :3

Terima kasih banyak yang sudah menyempatkan membaca ff ini, baik yang ikut mereview ataupun yang tidak. Tapi, sampai di chapter sebelumnya, jumlah reader ff ini sudah mencapai 1000 lebih pembaca. Senang saya tuh, ternyata peminat KibaIno nggak dikit dikit amat. xD

Nggak mau janjiin nulis ff baru, tapi akan saya usahakan untuk menyapa kalian lagi di lain kesempatan. :)

.

.

Salam manis,

Waan Mew