Ajakan Natsu masih terngiang-ngiang dalam kepala. Apa telingaku tidak salah dengar? Ternyata si hati baja bisa perhatian juga. Aku segera menaiki tangga, setelah ibu membukakan pintu depan rumah. Kabar gembira ini harus diberitaukan pada Levy, pasti dia sangat kaget! Handphone di atas meja belajar, langsung ku sambar secepat kilat, mengetik kalimat demi kalimat menggunakan kekuatan sepuluh jari. Belum lama menunggu, balasannya sudah sampai ke kotak masuk.
From : Levy
Selamat, Lu-chan! Aku turut senang untukmu, tetapi, bukankah tante melarangmu ikut kegiatan klub?
Kenapa hal paling penting justru terlupakan? Lagi-lagi hambatanku terdapat pada larangan ibu. Sudah dua bulan lamanya aku bersekolah di SMA Fairy Tail, apa tidak bisa diikhlaskan saja? Baiklah, otakku terpaksa diputar untuk menciptakan suatu kebohongan, yang kira-kira masuk akal dan tidak menimbulkan kercurigaan.
To : Levy
Kau benar, tetapi baik ayah maupun ibu tidak berhak menghentikan mimpiku! Aku membutuhkan bantuanmu. Latihan klub musik dimulai hari Selasa, Kamis dan Jumat. Aku akan mengatakan pada ibu, ingin belajar kelompok di rumahmu. Boleh, ya?
SEND!
Bukan kebiasaanku untuk membohongi orang tua, aku hanya berharap semoga mereka mau mengerti, jika suatu saat nanti terbongkar. Ibu memanggil dari lantai bawah, menyuruhku turun membersihkan diri, usai Virgo menyiapkan bak mandi setengah jam lamanya. Levy tak kunjung menjawab, kebiasaannya berpikir dua kali jika dimintai tolong yang buruk. Kalau dia menolak, pupuslah sudah impianku bergabung dengan klub musik.
Dua puluh menit kemudian….
Drrt…drtt…drttt….
From : Levy
Aku mau membantu Lu-chan. Harus serius, ya, latihan bernyanyinya! Omong-omong, mengejutkan juga karena Natsu-san menerima kehadiranmu.
Lihat, Levy saja terkaget-kaget! Selesai menggosok rambut, aku mengambil posisi senyaman mungkin, sesekali tetawa mengetik balasan SMS, saat mengingat wajah Natsu tersipu malu sewaktu berkata, 'tiga bulan ke depan mohon bantuannya'. Mungkin perlahan-lahan tapi pasti, dia mulai menerima posisiku sebagai murid. Sifat tsundere-nya saja, yang membuat si hati baja mengatakan bahwa rasa bencinya mustahil dihilangkan.
To : Levy
Hahaha….! Makanya aku sangat kaget, apalagi Natsu sampai mengajakku mengarungi sungai mimpi itu bersama-sama.
Membosankan sekali, kenapa pula hujan di luar sangat deras? Padahal aku ingin nonton di ruang tamu. Suara ibu kembali terdengar, bau ikan goreng tertangkap oleh indra penciumanku, membuat perut berkeroncong ria melantukan bunyi khas. Jam menunjukkan pukul 18.00, ternyata memang sekarang waktunya makan malam.
Ayah terlihat sibuk membaca koran. Virgo mencuci perlatan masak di dapur. Ibu menyiapkan sumpit berserta mangkuk, tak ketinggalan membawa sepanci sup hangat. Aku duduk setelah mereka mulai makan (karena begitulah peraturan keluarga Heartfilia), termasuk dilarang berbicara selama proses berlangsung, nasi tidak boleh tersisa, wajib dihabiskan hingga ke butir terakhir. Jelas rumit, aku membutuhkan waktu sangat lama agar terbiasa.
"Ibu. Ada yang ingin aku katakan" ucapku setelah selesai mengunyah porsi terakhir. Mata beliau menatap lekat iris karamelku dengan serius. Bukan kebiasaannya untuk bermain-main, atau tersenyum lembut setiap saat
"Langsung katakan. Setelah ini ibu harus mengurus pekerjaan"
"Levy mengajakku belajar bersama di rumahnya, hari Selasa, Kamis dan Jumat. Boleh, ya?"
"Baiklah selama itu tidak menganggu rutinitas harianmu. Kira-kira pulang jam berapa?" syukurlah diizinkan! Jantungku sampai berdegub kencang menanti persetujuannya
"Tidak lama, kok! Sekitar jam lima sore"
"Apa kamu tidak memiliki teman di sekolah? Sampai harus pergi ke rumah Levy segala" tanyanya sambil meneguk secangkir kopi hangat, asyik membaca rubrik olahraga tentang kekalahan tim 'Crocus'. Tadi ibu, sekarang ayah, selanjutnya siapa yang mau menguji kesebaranku?
"Sayang. Apa kamu lupa? Sekarang Lucy bersekolah di SMA Fairy Tail. Temannya itu anak berandal semua, masih bagus dia tetap dekat dengan Levy!" bela ibu menaikkan volume suara. Aku yang hendak buka mulut terpaksa diam lagi
"Lucy tidak mudah terpengaruh, bahkan sampai sekarang kamu masih melarangnya ikut kegiatan klub. Kalau begini terus, kapan anak kita punya kesempatan untuk mengembangkan bakat?"
"Jangan berkata yang aneh-aneh! Setiap hari kamu sibuk bekerja, tau apa tentang sekolah Lucy? Dia adalah pewaris tunggal rumah sakit keluarga Heartfilia. Bagaimana bisa pintar kalau lingkungan belajarnya buruk?"
"Hanya sekolahnya saja, Lucy sudah pintar sejak TK. Sayang, kamu ingat kan hasil tes IQ anak kita? Dia itu cerdas, bukan rata-rata atau normal. Asalkan hasil tesnya tinggi, Lucy bisa kuliah di kedokteran"
"Tapi, pelajaran di SMA Fairy Tail terlalu mudah. Masuk jurusan IPA saja semudah membalik telapak tangan"
"Jangan meremehkan suatu hal! Lucy pasti berjuang, untuk bersaing dengan teman-teman sekelasnya. Kamu harus mendukung anak kita, Sayang!"
"Bagaimana aku bisa mendukungnya, jika dia masuk ke SMA peringkat terbawah di Magnolia? Padahal Lucy punya kesempatan besar masuk ke Blue Pegasus, tetapi karena ajaranmu dia jadi seperti sekarang"
"Ajaranku tidak salah. Jiwa sosial Lucy memang tinggi, kau tau?"
Awalnya aku mengira, ayah bisa membuat hati ibu menjadi lunak, dan memperbolehkanku ikut kegiatan klub. Malah terjadi sebaliknya, mereka bertengkar dan mempermasalahkan lingkungan belajar, pewaris tunggal rumah sakit pun dibawa-bawa ke dalam obrolan absurd tersebut. Diam-diam aku kabur meninggalkan ruang makan. Mengcek kotak masuk, mendapati satu SMS dari Levy belum dibaca. Setidaknya ada sedikit hiburan, agar aku mampu bernafas normal usai dijepit sampai sesak.
From : Levy
Ini hanya perikiraanku. Sepertinya Natsu-san menyukai Lu-chan, hehehe….oh iya, apa klub musik kalian punya tujuan?
A-apa, si hati baja tsundere itu menyukaiku? Tetapi bukan perasaannya yang harus aku pikirkan, melainkan pertanyaan Levy mengenai tujuan klub musik SMA Fairy Tail. Memalukan jika menjawab tidak ada, namun, karena begitulah kenyataan yang terlukis, maka harus diberitaukan sejujur mungkin.
To : Levy
Entahlah, belum disepakati mungkin.
Pada akhirnya, jawaban yang ku berikan bermakna ambigu, antara bingung dan benar-benar tidak tau. Jujur, aku memiliki keinginan ikut serta dalam lomba band di kota Crocus. Juara tahun lalu SMA Blue Pegasus, disusul Lamia Scale lalu Mermaid Heel. Kalau bertanya kapan nama Fairy Tail masuk nominasi, maka tanyakanlah pada rumput yang bergoyang. Saat masih SMP, aku tidak pernah tau ada sekolah itu di Magnolia. Setelah browsing di internet, barulah jendela duniaku terbuka.
Selain SMA Fairy Tail ada dua terbawah, yaitu Quartro Cerberus dan Raven Tail. Meski sebenarnya kurang penting untuk diinformasikan. Aku dengar-dengar, band mereka sempat juara tiga tahun lalu mengalahkan Blue Pegasus. Jelas mengejutkan, tetapi yang lebih wow adalah, kita belum punya piala apapun di ruang kepala sekolah.
Ya, cukup tau.
Keesokan harinya….
Latihan dimulai setelah pulang sekolah. Sempat pula, aku mendapat dukungan semangat dari Chelia-san, bahkan dia mendoakan kami agar punya album sendiri. Rasa penasaranku tentang sejarah klub mulai membara, siapa tau penuh perjuangan dan jatuh bangun. Natsu selaku ketua hanya terdiam, sewaktu pertanyaan itu melayang tepat mengenai ulu hatinya. Gray dan Loke mesam-mesem suram. Jellal tengah melamun memandangi matahari sore sebatas jendela. Tingkah mereka mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.
"Kami baru membuat klub ini satu minggu lalu" cerita Natsu amat, sangat jujur. Aku nyaris terkena serangan jantung, ternyata berhasil dibuat salah sangka
"Ka-kalau tujuan klub ini apa?" umur boleh semuda jagung, yang penting tekad mereka! Natsu merubah pose berpikir sebanyak tiga kali. Pertama-tama mengelus dagu. Kedua memiringkan kepala ke kiri dan kanan. Ketiga menggabungkan semua itu. Ternyata dia memang gila
"Hmmm….nanti saja. Sekarang, kita mau menjadi band apa?"
"Bagaimana kalau rock and roll? OUW YEAHH!" usul Loke memainkan senar gitar asal, sampai melakukan headbang seakan sedang menonton konser
"Asal Lucy tidak kesulitan, maka aku menerimanya" jawab Jellal bermalas-malasan di atas lantai. Dimana letak keseriusanmu saat mengatakan hal tersebut?
"Jazz boleh juga. Kalau pop terlalu pasaran"
"Aku setuju dengan Gray! Jadi, bisa kita mulai latihannya?" interupsiku gerah memperhatikan perdebatan kecil mereka. Jika dilanjutkan, aku yakin hingga malam pun mustahil selesai
"Kali ini usulmu diterima. Ingat, HANYA KALI INI!" tidak perlu, kan, sampai menekan kalimat akhir? Aku mengangguk lesu, segera bersiap di posisi setelah Natsu memberi aba-aba. Merepotkan jika dimarahi lagi olehnya, bisa-bisa telingaku tuli duluan sebelum bisu
Latihan pertama band Fairy, dimulai!
Dua jam kemudian….
Nafasku terengah-engah nyaris habis, apalagi dipaksa melihat mereka bertengkar kecuali Jellal, karena masalah sepele. Latihan macam apa ini? Dibanding bermain musik, kami lebih sering melontarkan ejekan satu sama lain. Kurang kompaklah, salah nada, terlalu cepat atau lambat, semua itu menghancurkan ritme yang telah tersusun rapi awalnya. Untuk menyesuaikan, mau tidak mau aku harus mengulang setiap salah satu dari mereka mulai cari ribut.
"Hoi Natsu. Permainan gitarmu terlalu cepat tadi!" kritik Gray berhenti memetik senar. Fokus menghadap ke arah lawan bicara yang siap membalas dengan nada sesinis mungkin
"Kamu saja yang mainnya terlalu lambat. Tempo nyanyian Lucy sudah pas, tau!"
"Aku mau pulang…." keluh Jellal memainkan pemukul drum. Mirip anak kecil berusia lima tahun, yang merengek pada ibunya untuk dibelikan mainan
"Semangatmu lemah sekali. Ya, aku juga lelah, sih" sekarang Loke malah ikut-ikutan. Tidak lagi menghiraukan pertengkaran anak kecil Gray dan Natsu
"Berhenti! Sekarang sudah sore, lebih baik kita pulang" teriakku bersuara serak, macam terserang penyakit batuk akut
"Sebelum kita pulang ke rumah masing-masing, aku punya pengumuman penting"
"Cepatkan katakan, flame head" desak Gray sesekali menguap. Terlihat jelas, di bawah matanya ada kantung hitam milik panda. Entah apa yang dia kerjakan sampai kurang tidur
"Kita akan mengikuti kompetisi antar band SMA di kota Crocus!"
Tu-tunggu, telingaku tidak salah dengar? Bukan hanya aku yang kaget. Jellal langsung terbangun dari tidur kebo-nya. Loke berlagak bodoh akibat terkejut setengah mati setengah hidup. Gray cengo sampai mulutnya turun lima centi meter. Natsu memang gila! Mau apa dia, dengan band yang baru dibentuk seminggu lalu? Aku ingin mencegat tindakan gila tersebut, tetapi kepala pink itu ikut sekeras baja seperti hatinya.
Huft….helaaan nafasku menjadi sangat berat sekarang, mengingat tujuan baru klub musik kami. Aku tidak merasa senang lebih-lebih bangga, cemas mendominasi perasaanku yang acak kadut senja ini. Natsu pamit duluan begitu juga Loke. Sekarang aku bersama Gray dan Jellal tengah beristirahat sebentar, mampir membeli minuman dingin di toserba terdekat. Sekaleng coca-cola ku teguk beruntun, cukup segar guna menghilangkan dahaga, setelah dilanda kekeringan selama satu jam.
"Lucy?" panggil Gray mengambil posisi duduk di sebelahku. Sementara Jellal hanya duduk termangu memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang
"Kenapa memanggilku?"
"Aku mohon, tolong maklumi perkataan Natsu barusan" eh, mendadak sekali, aku sampai bingung mesti mengatakan apa
"Maklum apa?"
"Bagimu pasti mustahil ikut kompetisi band di Crocus, aku juga berpikir demkian, tetapi, karena yang mengatakakan itu adalah Natsu. Maka tidak ada alasan untuk mengkhawatirkannya" serius, ucapan Gray sulit aku mengerti menggunakan akal sehat. Ada perlu apa dia memberitau hal ini?
"Sejak SMP, Natsu memiliki impian ikut kompetisi band di Crocus. Saat dia hampir berhasil, salah satu anggotanya sakit dan mereka terpaksa mundur. Personalitas Natsu sebagai ketua memang diragukan, tetapi aku yakin, jika saatnya tiba dia dapat memimpin band ini dengan baik"
"Menurutmu bagaimana, Jellal?" tanyaku memecah lamunannya. Dia seperti menahan nafas, sewaktu pertanyaan tersebut aku ajukan tiba-tiba
"Ya, tidak ada salahnya mencoba. Manusia bisa berencana, namun Tuhan yang berkehendak. Aku pulang dulu, bye!"
"Bye"
Kepulangan Jellal disusul oleh Gray di belakang punggungnya. Jam menunjukkan pukul 5.30, aku sadar terlambat tiga puluh menit dari perjanjian, memacu kecepatan mengingat jarak yang harus ditempuh lumayan jauh. Seorang lelaki berambut silver menghalangi jalan di depan, mengenakan seragam SMA Lamia Scale beserta tas jinjing berwarna biru. Siapapun dia, aku harap bukan preman apalagi penculik! Suasana hening selama lima menit, bibir itu tak kunjung berbicara sepatah katapun.
"Maaf. Apa tujuanmu memblokir rute pulangku?"
"Juvia…." Untuk apa, pemuda itu menyebut nama wanita kesayangan Gray? Aku mengerutkan dahi heran, dia kembali diam usai mengujarkan makna ambigu
"Apa kamu punya urusan dengan Juvia-san? Jangan menemuinya dulu, dia sakit parah" kilahku memotong gerak bibirnya yang hendak berbicara. Mana mungkin aku berkata, 'Juvia menghilang kemarin ditelan cahaya putih'. Disuruh masuk RSJ, pasti!
"Juvia sudah meninggal, kebohonganmu tidak berarti apapun. Sebelumnya perkenalkan, nama Lyon Vastia, kita pernah bertemu di Fairy Playland"
"Oh, temannya Lisanna-chan! Lalu, maksud dari Juvia sudah meninggal….?"
"Kemarin aku melihat Gray bersama Juvia. Dia memiliki penyesalan sehingga jiwanya tidak tenang di alam sana. Dua tahun lalu…."
Flashback….
Sebenarnya hatiku tidak terima, karena Juvia lebih memilih Gray. Kami mengenal sejak kelas satu SMP. Pasti kamu tau, aku punya sahabat bernama Jellal, hubunganku dengannya hancur ketika memutuskan untuk pindah ke SMA Fairy Tail. Jelas aku sangat kecewa, demi seorang guru dia sampai rela melepaskan segalanya.
Menginjak kelas dua SMP, aku mendengar berita Gray terlibat tawuran dengan sekolah lain. Kepala sekolah menjatuhi hukuman skors, dia pun tidak sekolah tiga hari lamanya. Juvia benar-benar khawatir, bahkan ketika pelajaran olahraga dimulai sempat pingsan akibat sakit maag-nya kambuh. Aku mengantar ke UKS, tak lupa mengoleskan minyak kayu putih agar keadaannya lebih membaik. Terlihat jelas, air muka Juvia amat kacau dirundung kesedihan.
"Kata Baba-san penyakit lambungmu kambuh. Nanti aku temani jajan atau makan bekal, ya?" tawarku mengelus lembut surai biru gelombangnya. Menggantikan posisi Gray yang tidak berada di sini
"Terima kasih atas perhatianmu, Lyon. Juvia baik-baik saja, kapan Gray-sama selesai diskors?"
"Hari Kamis nanti dia masuk sekolah. Saat Gray tiba di sekolah, kamu harus terlihat sehat, oke?"
"H'ai!"
Melihat senyumnya terkembang sudah cukup bagiku. Bel pulang berbunyi, aku mengantar Juvia pulang ke rumah. Om dan tante sempat cemas, setelah kejadian tadi ku ceritakan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan dia kecuali Tuhan. Respon buruk adalah buah yang tertuai, bersikeras menginginkan agar Gray tidak dekat-dekat lagi dengan putri semata wayang mereka. Aku langsung membantah mati-matian, mengenai gosip buruk yang dikaitkan dengan temanku.
"Gray bukan anak berandal. Dia itu korban!"
"Tetap saja termasuk masalah besar. Tante tidak mau Juvia berpacaran dengan Gray!"
"Tapi, om dan tante sudah merestui hubungan mereka. Aku mohon jangan kecewakan Juvia!"
"Dia lebih pantas berpacaran denganmu. Anak baik-baik apanya, ternyata sangat buruk!"
"Aku mohon beri Gray…."
PRANNGGG!
Terdengar suara gelas pacah dari arah dapur. Tante menghampiri seseorang, yang tidak lain adalah Juvia. Tangannya berdarah memungut pecahan kaca, aku tau dia sengaja melukai diri sendiri, frustasi mendapati larangan orang tua tercinta. Entah sejak kapan, percakapan kami dikupingi olehnya yang bersembunyi dibalik tembok. Merasa bersalah, aku langsung menghampiri bermaksud minta maaf, tetapi yang terjadi ialah sebaliknya, ia mengusirku jauh-jauh dan berteriak, 'jangan balik lagi ke rumah Juvia!'.
Hubungan kami retak total. Juvia semakin dekat dengan Gray, sedangkan aku diacuhkan mati-matian seperti patung.
Hingga suatu hari, Jellal menyampaikan kabar buruk bagi seisi kelas. Aku yang baru masuk kelas terkejut bukan main, mendapati tangis Juvia pecah usai mendengar pengumuman dari ketua kelas. Tinju hampir melayang ke arah pipinya jika Gray tidak menghentikan serangan tersebut. Karena melanggar peraturan sekolah sebanyak tiga kali, maka dia dikeluarkan atas perintah kepala sekolah, lalu dipindahkan ke SMP Fairy Tail.
"Bodoh! Kenapa kamu seceroboh ini sampai di drop out?!" bentakku menarik kerah bajunya. Gray tidak melakukan perlawanan, hanya terdiam seribu bahasa menyimpan masalah dalam benak
BUAKKK!
"Kita ini teman, setidaknya bagilah dukamu padaku!"
"Kau tidak akan pernah mengerti, kenapa aku sampai melanggar peraturan sekolah tiga kali berturut-turut!"
Usai mengucapkannya, Gray berlari meninggalkan kelas, menghiraukan panggilan Jura-sensei untuk mengikuti pelajaran IPS. Aku tidak mengerti apa masalah Gray. Aku gagal sebagai teman. Juvia disuruh beristirahat karena panas tubuhnya mendadak naik, dan semua itu disebabkan olehku seorang. Sebuah penyesalan yang tidak mungkin terbayarkan, walau berusaha ditembus seumur hidup.
Jam istirahat tiba, dan Jellal memberitauku satu fakta yang mencengangkan.
"Jangan berprasangka buruk terhadapnya. Gray bertengkar dengan preman jalanan, karena mereka melecehkan Juvia"
"Katakan dengan jelas, aku tidak mengerti maksudmu!" aku membantah fakta tersebut. Apa selama ini, Juvia menjadi korban pelecehan seksual, dari sekelompok lelaki di gang sana? Jellal mengambil jeda beberapa saat, baru lanjut berbicara
"Gray pernah berkata, 'Aku mana bisa tinggal diam, jika orang yang ku sayangi terlukai. Mereka mengungkit-ungkit masa lalu Juvia. Mengatai ibunya seorang pelacur. Ayahnya pemabuk berat, lalu menjadi yatim piatu dan dititipkan ke orang lain. Lalu kenapa dengan semua itu? Siapa yang peduli, jika mencintainya setulus hati.'"
Dasar bodoh! Atas dasar apa aku berkata menyayangi Juvia? Gray berpuluh kali lipat, bahkan beribu kali lipat lebih pantas menjadi pacarnya. Kenyataan itu sukses menyayat hatiku. Hanya air mata yang mampu menyampaikan sepatah kata 'menyesal'. Jellal tidak banyak omong, menyuruhku mengucapkan selamat tinggal, sebelum benar-benar berpisah. Pertemuan kami berakhir, sesudah teman-teman pulang dan suasana kelas jauh lebih sepi.
"Berjanjilah padaku, Gray. Meski kau dan Juvia tidak lagi bertemu, jangan pernah lupakan perasaan cintamu"
"Tentu saja, aku pasti mengingatnya. Berjanjilah juga padaku, tolong jaga Juvia baik-baik"
"Dan Juvia, setelah kita berpisah jagalah kesehatanmu dengan baik. Mengerti?" tanya Gray memberi perhatian terakhir, kepada gadis besurai biru gelombang itu. Dia mengangguk pelan, memeluk erat tubuh 'pacarnya' yang belum direstui seratus persen
"Demi Gray-sama Juvia akan berjuang!"
Siapa sangka, itu adalah kali terakhirnya aku mendengar suara Juvia.
Dia meninggal ditabrak truk nyasar. Kehilangan banyak darah dengan keadaan mengenaskan, tangannya putus entah kemana. Patah kaki sekaligus mengalami gegar otak berat. Dua hari setelah kami bertiga berpisah, Juvia dipanggil oleh Tuhan ke terus merahasiakan kenyataan pahit tersebut dari Gray.
Pada akhrinya, ia tidak sungguh-sungguh tau mengenai apa yang terjadi pada Juvia.
End flashback….
Peristiwa pilu yang memukul hatiku berulang kali, semakin lama semakin sakit. Lyon menundukkan kepala sendu. Lampu jalan menerangi bayangan kami di bawah naungannya. Udara bertambah dingin, arloji hitamku menunjukkan pukul 5.40, dan ke terlambatanku pasti membuat ibu bertanya-tanya. Aku memutuskan balik tanpa memandang wajahnya sekali lagi, berada di antara bimbang dan sedih. Tidak ada yang perlu dibicarakan, karena semua sudah jelas terpampang di depan mata.
"Bersemangatlah untuk lomba band-mu, Lucy-san"
"Eh, kamu tau aku ikut kontes musik di Crocus?"
"Kebetulan band-ku juga mengikutinya. Mari bersaing"
"Ya, kami tidak akan kalah semudah itu!"
Dua bulan tersisa bagi kami, guna mempersiapkan segalanya sebaik mungkin. Mulai dari latihan sampai alat musik.
~Skip time~
Sepatu ketsku dipasang bergantian, mengikat simpul sederhana asalkan terikat rapat. Aku berpamitan pada ibu nonton konser di kota Crocus bersama Levy. Jelas tujuanku bukanlah bersenang-senang, melainkan berjuang demi kemenangan. Kami berlima janjian di halte bus jam tujuh pagi. Wajar saja, karena jarak yang harus ditempuh lumayan jauh sekitar tiga kilometer. Levy pun ikut serta, katanya ingin mendukung Fairy band di bangku paling depan. Padahal aku tau, dia anti bangun pagi di hari libur.
"Selamat pagi, Lucy" sapa Jellal yang ternyata sampai pertama kali, disusul Loke dan Gray tanpa Natsu. Apa si bodoh itu bermalas-malasan dan lupa jam pertemuannya?
"Dimana Natsu?" tanyaku singkat, padat, jelas. Malas menanyakan keberadaan lebih-lebih kabar
"Katanya dia menyusul nanti. Kita berangkat duluan" Loke langsung memberhentikan bis, memaksa kami bertiga naik walau berniat menunggu Natsu lima menit lagi. Kira-kira kenapa dia sengaja mengaret?
Perjalanan terasa panjang, ditambah macet berkepanjangan di jalan tol Magnolia-Crocus. Aku dapat membayangkan raut wajah Natsu yang mabuk berat, membayangnya saja sangat lucu hingga mengocok perut! Kami saling terdiam selama tiga jam, sedangkan tujuan masih jauh di depan mata. Tentu membosankan, tetapi aku bingung harus membicarakan apa untuk mencairkan suasana. Terutama melihat gerak-gerik Jellal mirip maling siap membobol rumah. Membuat hilang feel saja.
Daripada membuang tenaga, lebih aku tidur dan pura-pura tidak dengar percakapan rahasia mereka.
"Psst…pssttt….jadi, bagaimana perasaanmu terhadap Lucy?" tanya Gray menyisipkan nada iseng lewat godaan mautnya. Jellal langsung memerah mirip kepiting rebus. Loke cekikikan di belakang jok, menutupi mulutnya menggunakan tas supaya tidak ketahuan
"A-apaan, sih? Aku menganggapnya sebatas teman"
"Bohong pantatmu bisulan!" sekarang Jellal dipojokkan oleh sumpah serapah Loke. Dia sengaja memejamkan mata, enggan terbuka di tengah hiruk pikuk penumpang bus
"Curang, kau malah tidur!" tak terima diacuhkan, Loke mengguncang-guncang bahu Jellal keras. Namun sia-sia, yang bersangkutan tidak bergeming sedikitpun
"Biarkan saja pantatnya bisulan, hahaha"
Diam-diam aku tertawa dibalik bantal. Lucu membayangkan pantat Jellal bisulan, lalu dia berteriak kesakitan dan kesulitan duduk. Lah, itu tertawa di atas penderitaan orang lain namanya.
-ll-
Matahari bersinar cerah menerangi kota Crocus. Aku meregangkan kedua tangan sebelum menjelajah, pegal karena duduk terus-menerus di bus. Batang hidung Natsu masih dipertanyakan, padahal dia berkata pasti datang jam dua belas, sekarang malah ingkar janji dan terlambat sepuluh menit! Kami memutuskan mengunjungi tempat kontes diadakan, di sebuah gedung mewah berlantai 25 tingkat. Sukses membuat orang kampungan seperti kami berdecak kagum dibuatnya. Ayah pasti malu berat jika melihatku tak berdaya di depan sini. Mau ditaruh dimana muka keluarga Heartfilia?
"Ayo masuk dan mendaftar!" ajak Gray menggantikan Natsu sebagai ketua sementara. Awalnya Jellal yang ditunjuk, tetapi dia menolak habis-habisan tanpa alasan jelas
"Si hati baja itu….kenapa pula kita mendapat giliran kelima?!" keberuntungan Gray memang sedang buruk sekarang. Kami dipaksa siap dalam kurun waktu lima belas menit. Natsu tidak datang habislah sudah
"Aku mencoba menghubungi Natsu, tetapi tidak dijawab" lapor Jellal memasukkan handphone-nya pasrah. Semoga ada keajaiban yang terjadi
16 menit berlalu….
Empat menit sebelum seleksi dimulai, dan Natsu belum datang! Aku mondar-mandir cemas menunggunya, begitu juga Gray, Loke dan Jellal. Seseorang menepuk dari belakang, surai putih sebahu yang nampak familiar dengan dress hitam selutut. Spontan kakiku beranjak bangkit, kebetulan apa sehingga aku dan Lisanna-chan dipertemukan?! Mendadak tatapan mereka berdua berubah drastis, kecuali Jellal yang disuruh berdiri di depan pintu, bertugas memberi kode jika si salam tiba.
"Lisanna-chan?! Kamu juga ikut kontes ini?"
"Jelas kan iya. Selamat karena impianmu telah terkabul, aku turut senang untuk Lucy-chan!"
"Semua berkat Jellal, makanya aku bisa bergabung dengan band mereka. Masih menjadi vokalis?"
"Ya, begitulah. Apa posisi Lucy-chan di band, bagian keyboard?"
"Sama sepertimu. Loke yang memegang posisi keyboard. Jellal drumer -nya, sedangkan Natsu dan Gray sebagai gitaris" mendengarku menyebut nama Natsu, iris Lisanna membesar dua kali lipat. Entah apa yang membuatnya salah tingkah, namun aku merasakan firsat buruk dibalik ekspresi tersebut
"Ya ampun Lucy-chan! Kenapa kamu tidak memberitauku jika satu sekolah dengan Natsu?" tanya Lisanna-chan histeris. Aku bingung bukan kepalang, memangnya penting banget, ya?
"L-lho, aku…."
"Berhati-hatilah terhadap Natsu, dia tidak sebaik yang kamu kira. Sungai mimpimu pasti diakhiri olehnya, percayalah padaku dan mundur dari kompetisi ini, oke?'
PLAKKK!
Telapak tangan Natsu telak mengenai pipi Lisanna-chan, meninggalkan bekas merah yang terasa sakit sesaat. Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dia menamparnya sangat keras, membuat kami berempat tercengang atas aksi gila tersebut. Tubuh kekar lelaki bersurai salam itu aku dorong ke belakang, mencermati baik-baik kondisi Lisanna-chan yang pasti terpukul. Tega sekali Natsu melakukannya, tega…tega….kenapa ia menyakiti sahabatku?!
PLAKKK!
"Ini adalah balasan, karena kamu berani menampar Lisanna-chan!"
"Balaslah sebanyak yang kau mau, Lucy. Tapi ingatlah, tanganku bisa MELUKAIMU LEBIH DARI TAMPARAN BARUSAN!"
"Ingin adu tampar denganku? AKU SIAP MELADENIMU PENGECUT!"
"Kalian berdua berhentilah bertengkar. Sekarang giliran kita" bentak Jellal menaikkan suaranya satu oktaf lebih tinggi. Kami berdua hanya menurut, lolos seleksi adalah prioritas utama kami
Namun aku sadar, lolos seleksi apalagi meraih kemenangan, sangatlah mustahil menerawang kondisi saat ini.
Bersambung….
Balasan review :
GummyZone : Nanti bakalan terungkap lho di chapter depan, apa Jellal itu benar-benar suka sama Lucy atau enggak. Akhir chapter sebelumnya emang sengaja dibikin kurang jelas kok, wkwkw. Oke thx ya udah review. Maaf kalau update-nya kelamaan
Fic of Delusion : Yep, artinya memang sungai mimpi (tetapi saya gagal menggambar semua itu dalam satu chapter singkat). Maaf apabila kecewa dengan chapter ini. Sayangnya moment NaLu masih samar-samar, karena sifat tsundere Natsu yang bener2...keterlaluan banget! Thx ya udah review.
udin dragneel : pasti dilanjut kok sampai tamat. Thx ya udah review!
Linda521 : Natsu memang sengaja dibuat seperti itu, karena dia sendiri tidak tau apakah menyukai atau membenci Lucy, menggambarkan grafik perasaan anak remaja yang emang bikin gregetan kadang-kadang. Moment JeLu bakalan ada lho di dua chapter selanjutnya, barulah perasaan Natsu akan menjadi lebih jelas. Thx ya udah review dan fav!
