I LIVE IN HELL!
Disc: Masashi Kishimoto.
Rat: T.
Warn: OOC, BL, dan Miss Typo.
Don't Like! Don't Read!
Terima kasih untuk review-nya di chapter sebelumnya. Dan terima kasih juga untuk yang fave.
m(_._)m
Selamat membaca…
Sasuke Honesty
Pemakaman. Cuaca yang cerah. Kedua hal yang sangatlah ironis bagi Naruto. Di cuaca yang sangat cerah, Naruto harus mendatangi pemakaman orang tuanya dan mendapatkan ucapan bela sungkawa dari kerabat kedua orang tuanya. Meskipun hari sudah semakin terik, Naruto tetap duduk dan memandang kuburan kedua orang tuanya, berharap jika semua ini hanyalah mimpi dan mencoba menahan air matanya-tepatnya mencoba untuk terlihat tegar di depan para kerabat kedua orang tuanya.
Tetapi..
Akhirnya, setelah semua kerabat orang tuanya pergi, Naruto tidak bisa menahan air mata yang sudah penuh di pelupuk matanya dan Naruto pun mulai meneteskan air mata yang telah dibendungnya sejak tadi-seiring kepergian para kerabat kedua orang tuanya. "Ayah, Ibu… aku harus bagaimana?" lirih Naruto.
"Aku harus bagaimana? Kenapa, Ayah? Kenapa cuman aku yang tidak bisa merasakan rasa kasih sayang orang tua? Kenapa? Aku sejak kecil selalu ditinggalkan… tetapi aku tahu dan mempunyai harapan kalian akan kembali dan mengajakku bermain. Tetapi sekarang…," Naruto memeluk kuburan ibunya. "Sekarang… aku tidak punya harapan lagi…," lirih Naruto.
Keluarga Uchiha-kecuali Itachi-yang sejak tadi menemani Naruto hanya bisa memandang Naruto dengan tatapan prihatin. Mikoto mendekati dan memeluk Naruto. "Naruto…," lirih Mikoto dengan air mata yang membasahi pipinya.
Sedangkan Sasuke?
Sasuke memandang Naruto yang sedang menangis di atas kuburan Minato dan Kushina. 'Dobe… aku cuman bercanda waktu menertawakanmu… aku kesal karena kau tidak pernah memperhatikanku.. aku tidak menyangka akan seperti ini,' pikir Sasuke.
Sasuke menepuk pundak Naruto dengan pelan. "Naruto, ayo kita pulang!" ajak Sasuke, tetapi Naruto hanya menggelengkan kepala. 'Sudah aku duga,' pikir Sasuke. "Ayah, Ibu. Pulanglah lebih dulu! Biar aku yang menemani Naruto," kata Sasuke.
Mikoto melepaskan pelukannya dan memandang Sasuke. "Tetapi-"
"Dia membutuhkan ketenangan sayang. Ayo kita percayakan Naruto pada Sasuke," bisik Fugaku pada Mikoto. Mendengar bisikan Fugaku, Mikoto menganggukkan kepala. "Jaga dia Sasuke," kata Mikoto.
Sasuke menganggukkan kepala, "hn," kata Sasuke. Setelah itu, Fugaku dan Mikoto pergi, meninggalkan Naruto dan Sasuke.
-
-
Fugaku berjalan sambil memandang Mikoto yang sedang menghapus air matanya. "Kau tahu? Aku berharap Naruto bisa menjadi anak kita," kata Mikoto. Mendengar perkataan Mikoto, Fugaku mengangguk pelan, "hn. Aku pun berharap seperti itu." Mau bagaimanapun aku mempunyai hutang budi padamu, Minato.
-
-
Sasuke memandang Naruto dan menghela napas. "Naruto…," kata Sasuke sambil merubah posisinya yang berdiri menjadi jongkok-di samping Naruto.
Sasuke mengelus rambut Naruto, "kau tidak sendiri," kata Sasuke. Mendengar perkataan Sasuke, Naruto menggigit bibir bagian bawah, "aku tidak punya siapa-siapa setelah orang tuaku meninggal," kata Naruto.
Sasuke menghela napas dan memejamkan matanya lalu membuka matanya kembali secara perlahan, "kau tahu? Aku siap untuk menjadi pendampingmu kapan pun kau mau. Aku siap membantumu," kata Sasuke. Asal kau tahu tidak ada yang bisa mencintaimu melebihi diriku, dan akan aku buktikan hal tersebut.
Naruto memandang Sasuke dengan pandangan penuh emosi, "Kau. Jangan berharap, Teme!" teriak Naruto.
Sasuke kembali menghela napas, 'terserah kau mau berkata apa Naruto, karena aku tidak akan pernah mencabut perkataanku,' pikir Sasuke. "Aku tidak akan pernah berhenti berharap sampai aku mendapatkan dirimu. Aku… di depan kedua orang tuamu, resmi melamarmu menjadi kekasihku bahkan calon pendampingku untuk selamanya, Naruto," kata Sasuke.
Naruto membelalakkan mata dan melupakan seluruh kesedihannya untuk sesaat, "kau jangan berkata hal seperti itu pada saat kau sendiri menertawakan nasibku," kata Naruto. Jangan jadi orang munafik, Sasuke.
-
-
Gaara sedang membaca koran di ruang council, sedangkan Shikamaru sedang tertidur di sofa. "Apa Sasuke sedang menghadiri pemakaman Namikaze?" tanya Kiba yang sedang mengelus-elus Akamaru.
Gaara melipat koran yang sedang dibacanya dan memandang Kiba, "Menurutmu?" tanya Gaara dengan nada yang datar. Setelah mendengar pertanyaan Gaara, Kiba memperlihatkan seringainya. "Ya!" seru Kiba. Mendengar seruan Kiba, Gaara hanya beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan ruangan sebelum…
Neji.
Neji membuka pintu ruangan council dan langsung bertatap muka dengan Gaara. "Gaara," sapa Neji.
"Hn," kata Gaara. Setelah itu Gaara melangkahkan kakinya kembali untuk keluar ruangan, meninggalkan Neji dengan perasaan tidak nyaman.
Merasakan atmosfir yang berbeda dari sebelum Neji datang dan Gaara pergi, Shikamaru membuka matanya dan Kiba memandang Neji dengan pandangan penuh tanya. "Kalian sedang bermusuhan?" tanya Kiba. Mendengar pertanyaan Kiba, Neji menghela napas dan berjalan ke arah sofa, "itu bukan urusanmu!" seru Neji sambil duduk di samping Shikamaru yang sudah terbangun. "Mendokusei…," kata Shikamaru. Mood Neji sangat buruk.
-
-
Gaara berjalan menelusuri koridor ketika ponselnya berbunyi. Gaara mengambil ponsel di celananya dan melihat layar ponselnya.
Tulisan yang bertulisan 'Itachi-nii' terdapat di layar ponsel kepunyaan Gaara. Dan Gaara pun menekan tombol hijau yang berada di ponselnya.
"Jadi bagaimana Itachi-nii?" tanya Gaara pada Itachi-tanpa menyapa.
"Kita berdua berpikiran sama. Tidak akan membuat Sasuke terluka, tetapi…,"
"Tetapi?" tanya Gaara.
"Aku aku tidak bisa menjamin Sasuke akan mengalami luka yang sangat mendalam kali ini.." lirih Itachi.
"Apa maksudmu, Itachi-nii?" tanya Gaara.
Itachi pun menceritakan semua masalah-masalah mengganjil yang terjadi pada kecelakaan pesawat yang telah merengut kedua orang tua Naruto.
-
-
Naruto menghapus air matanya dan menghela napas. "Aku pergi dulu ayah, ibu," kata Naruto. Setelah itu, Naruto pun meninggalkan tempat peristirahatan terakhir orang tuanya. Sasuke pun mengikuti Naruto dan berjalan cepat untuk menyusul Naruto. "Naruto, ikut aku!" seru Sasuke sambil menarik tangan Naruto.
'Mau apa lagi sih, Teme?' pikir Naruto sambil memandang tangannya yang telah digenggam oleh Sasuke.
"Lepas!" seru Naruto sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Sasuke.
"Tidak!" Sasuke makin mempererat genggamannya.
Le-"
Sakura?!
Naruto melihat Sakura yang berdiri di depannya dan memandang tangannya yang sedang digenggam oleh Sasuke. "Sakura-chan…," lirih Naruto dan kali ini Naruto berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke.
"Sasuke…," kata Sakura yang sama sekali tidak mempedulikan Naruto. Sedangkan Sasuke hanya memandang tajam Sakura dan kembali menarik tangan Naruto, "ayo!" kata Sasuke.
Naruto melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke dan segera berlari ke arah Sakura. "Sakura, ada yang ingin aku bicarakan," kata Naruto.
Bicara?
'Bicara apa? Membicarakan jika kau menikamku dari belakang? Berpura-pura mencintaiku padahal kau berniat merebut Sasuke dariku? Jahat sekali kau Naruto. Aku kira semua hal kemarin cuman lelucon, sampai-sampai aku rela hadir kemari untuk mendatangi pemakaman orang tuamu, jika tahu seperti itu tidak mungkin aku datang kemari,' pikir Sakura.
"Sakura-chan?" Mendengar namanya disebut oleh Naruto, Sakura pun tersadar dari lamunannya.
"Apa lagi yang perlu kita bicarakan Naruto? Genggaman tangan Sasuke pada tanganmu?" tanya Sakura yang sekarang sedang sangat cemburu pada Naruto.
"Sakura-chan," lirih Naruto.
"Kau benar-benar jahat!" kata Sakura sambil meneteskan air matanya.
"Sakura!" seru Sasuke sambil mendekati Sakura dan menarik Naruto agar menjauhi Sakura.
"Jangan salahkan Naruto. Aku bertepuk sebelah tangan, aku mencintai Naruto, Sakura dan Naruto tidak mencintaiku... jadi akulah yang salah," kata Sasuke. "….Jadi kau tidak pantas untuk mengatakan Naruto adalah orang jahat… karena sesungguhnya akulah yang jahat."
Sakura membelalakkan mata dan memeluk Sasuke, "Kenapa? Kenapa kau seperti ini? Apa kekuranganku?" tanya Sakura sambil memukul-mukul dada Sasuke.
Melihat Sasuke dan Sakura, tiba-tiba rasa sakit menghampiri hati Naruto. 'Aku tidak bisa melihat Sakura menangis…,' pikir Naruto. Tidak bisa.
"Kalian…," lirih Naruto. Mendengar lirihan Naruto, Sasuke memandang Naruto.
"Kalian bersamalah…," kata Naruto dan sukses membuat Sasuke membelalakkan mata dan Sakura melepaskan pelukannya.
Naruto mengepalkan tangannya dan tersenyum lebar, "kalian sangat cocok bersama…," kata Naruto. Setelah itu, Naruto pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura. 'Sudah aku bilang bukan? Aku adalah orang yang sudah dihukum oleh Tuhan untuk tidak mendapatkan apa yang aku inginkan,' pikir Naruto sambil berjalan menjauhi Sasuke dan Sakura. Tetesan air mata pun kembali hadir di pipi Naruto.
'Apa aku akan mendapatkan kebahagiaan? Akupun tidak tahu jawabannya.' pikir Naruto. Tetapi kebahagiaan Sakura adalah kebahagiaanku juga.
-
-
Gaara memandang ponselnya. Gaara tidak percaya jika Naruto akan terancam nyawanya. Kabar penyabotasean pesawat orang tua Naruto adalah hal yang paling mengejutkan yang pernah dia terima, terlebih jika Itachi memintanya untuk membantunya. Pastinya kasus ini sangat parah.
Membantu apa?
Gaara diminta Itachi untuk menjaga Naruto dimanapun Naruto berada, dan kini Gaara sedang berada di dalam mobilnya untuk menuju ke tempat dimana Naruto berada. Lalu Kenapa bukan Itachi yang menjaga Naruto? Itachi dan Kakashi sedang menyelidiki kasus Naruto. Meski Itachi bukan bagian dari anggota kepolisian, tetapi apa salahnya jika dia mencoba untuk menemukan siapa dalang penyabotasean pesawat keluarga Namikaze? Dan lagipula bukannya malah akan semakin membahayakan nyawa Naruto jika seluruh masalah ini dipercayakan seutuhnya pada petugas kepolisian dan dibiarkan lama-lama untuk diselidiki? Mungkin tidak mungkin iya, karena mau dipercayakan atau tidak, nyawa Naruto tetap terancam.
Gaara memacu mobilnya dengan cepat. Meski ponselnya berbunyi dan memperlihatkan nama 'Neji' di layar ponselnya, Gaara tidak mempedulikannya, karena mau bagaimanapun…
Gaara tidak bisa membuat Neji terluka…
-
-
"Itachi-sama. Apa kau yakin akan mempercayakan semua ini pada Sabaku-sama?" tanya Kakashi pada Itachi yang sedang memandang langit.
'Langit yang berawan dan sangat cerah. Secerah mata Naruto, tetapi akankah mata biru itu terus bersinar seperti langit hari ini?' Itachi menghela napas dan memejamkan matanya. 'Baik keluargaku maupun dirinya tidak boleh ada yang terluka.' Tidak boleh.
"Aku tahu apa yang aku lakukan, Hatake," kata Itachi sambil tersenyum a la Uchiha. "…Karena ibu dan ayah sudah mempercayakan semuanya padaku."
'Mempercayakan padaku jika aku sebagai anak terbesar dari mereka bisa melindungi Sasuke maupun Naruto. Kedua adikku.'
Kakashi tersenyum dari balik masker-nya. "Kau tahu Itachi-sama? Tadinya aku kira kau adalah orang yang keras, ternyata kau adalah seseorang yang sangat sayang pada keluargamu," kata Kakashi.
Itachi mendengus, "itu adalah pujian yang sangat jarang bagiku, Hatake," kata Itachi. Mendengar perkataan Itachi, senyum Kakashi pun bertambah lebar. Aku jadi iri padamu Sasuke-sama. Kau mempunyai kakak terhebat yang siap mendampingi dirimu dalam keadaan sesulit apapun.
-
-
Sakura dan Sasuke saling bertatapan. Mereka berdua sedang berada di dalam restoran yang bernuansa Eropa. Alunan musik romantis, dan wangi kue tercium di seluruh penjuru ruangan, tetapi tetap saja, suasana se-romantis apapun, tidak merubah perasaan atau suasana yang mengganjil di antara mereka berdua. "Manusia tidak akan pernah merasa puas, terlebih jika mereka belum mendapatkan apa yang mereka inginkan," kata Sasuke selelah meminum kopi yang berada di depannya.
Sakura memandang Sasuke dengan heran. "A-apa maksudmu, Sasuke?"
Sasuke memejamkan matanya untuk sesaat, "apabila aku tidak bertemu dengan Naruto, pasti kaulah orang yang menempati ruang kosong dihatiku," kata Sasuke. "Berbicara denganmu, mengingatkanku pada pertama kali aku bertemu dengan kalian berdua."
Flashback.
Sekolah adalah tempat yang paling menyebalkan bagi Sasuke. Selain hanya ajang untuk pamer kekayaan, Sasuke pun menganggap sekolah hanya sebagai perkumpulan Fans Club Uchiha yang jumlahnya hanya Tuhan-lah yang mengetahui. Meski wanita maupun pria banyak yang menyukai Sasuke, tetapi tidak satupun yang membuat Sasuke tertarik. Tidak satupun!
Bersama kelomponya yang terdiri dari Neji, Gaara, Shikamaru, dan Kiba. Sasuke berjalan menelusuri taman dan menikmati suasana taman yang begitu indah karena pohon-pohon Sakura sedang bermekaran, memperlihatkan keindahan bunganya.
"Aw!" teriak seseorang dan membuat Sasuke dan kawan-kawannya melihat ke arah sumber suara.
Gadis berambut merah muda, dan paras yang cantik sedang diganggu dan dihina sedemikian rupa. Sasuke memperlihatkan senyumnya ketika mengetahui gadis yang dikerjai tersebut adalah orang yang mengejeknya sebagai orang sombong dan melawannya pada saat Sasuke menghajar seseorang yang bernama Rock Lee. Alhasil, Sasuke memerintah seluruh orang di sekolahnya untuk membuat gadis berambut merah tersebut sengsara.
"Uchiha-sama, ini air kotaran yang anda minta," kata pesuruh Sasuke sambil menyerahkan sebuah ember yang berisi air kotoran pada Sasuke.
Sasuke berjalan mendekati Sakura dan diikuti oleh ketiga temannya sambil membawa sebuah ember. Senyum a la Uchiha terus tersirat di parasnya yang tampan dan matanya tidak berkedip sama sekali. Memandang Sakura sang gadis berambut merah muda seperti elang memperhatikan anak ayam. Sasuke terus berjalan sampai di depan Sakura yang sudah terjatuh tidak berdaya. Dan…
Air yang dibawa Sasuke pun ditumpahkan Sasuke tepat dimana Sakura berada.
Tetapi..
Air tersebut tidak mengenai Sakura, melainkan mengenai seseorang dengan rambut pirang, bermata biru, dan terdapat tiga garis luka di masing-masing pipinya.
Naruto Namikaze telah melindungi Sakura dari air yang telah ditumpahkan Sasuke Uchiha.
Naruto beranjak dari tempat dimana dia melindungi Sakura. Dipandangnya Sasuke dengan tajam. "Kau brengsek!" teriak Naruto dan sukses membuat Sasuke membelalakkan mata. "Apa kau tidak berpikir jika yang kau lawan itu adalah seorang wanita?!"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "aku tidak peduli," kata Sasuke.
Shikamaru menghela napas, "mendokusei…," kata Shikamaru. Ini akan menjadi sebuah pertarungan yang sengit.
"Kau tidak peduli? Apa kau tidak pernah diajarkan oleh orang tuamu untuk mempedulikan lingkungan?" tanya Naruto pada Sasuke dengan bersungut-sungut.
Sasuke memutar kedua bola matanya, "itu bukan urusanmu," kata Sasuke.
Naruto mengepalkan tangannya lalu memeluk Sasuke secara tiba-tiba. "Rasakan!" teriak Naruto yang telah berhasil membuat baju Sasuke kotor dan berbau air kotoran yang telah dibanjurkannya pada 'Naruto.'
Semua membelalakkan mata, bahkan Neji pun tidak tahan untuk tidak menahan senyumannya. "Lepas!" teriak Sasuke, dan untuk pertama kalinya bagi Sasuke topeng sebagai orang terdingin di sekolah terlepas.
"Akan aku peluk kau, Teme! Rasakan!" seru Naruto dan pelukan pada Sasuke makin dipereratnya.
"Lepas Dobe!" teriak Sasuke sambil mencoba melepaskan pelukan Naruto.
"Tidak!" teriak Naruto.
"Lepas!" teriak Sasuke. Kiba pun tertawa dengan keras dan membuat suasana menjadi lebih ramai. Sedangkan Gaara? Gaara hanya menggelengkan kepala. 'Dasar kekanak-kanakan,' pikir Gaara.
"Mendokusei," kata Shikamaru sambil menguap.
"Chk, chk, chk," decik Neji sambil menggelengkan kepala.
Akhirnya, untuk beberapa saat kemudian, Naruto pun melepaskan pelukannya dan sukses membuat baju Sasuke kotor dan bau. "Apa kau mau aku cium agar wajahmu pun kotor?" tanya Naruto.
Sasuke memandang Naruto dengan pandangan a la Uchiha. "Akan aku balas kau!" seru Sasuke sambil beranjak pergi meninggalkan Naruto dan Sakura.
Teman-teman Sasuke lainnya pun mengikuti Sasuke dari belakang.
"Rasakan kau, Teme! Makanya jangan cuman berani sama wanita!" teriak Naruto sambil tertawa.
End Flashback.
"Semenjak itu, aku tidak pernah bisa mengalihkan pikiranku untuk mengerjai Naruto… sampai-sampai aku tidak sadar jika aku sudah jatuh hati pada Naruto..," kata Sasuke. Setelah berkata demikian, Sasuke mengambil cangkir di depannya kembali dan meminum kopi yang berada di dalam cangkir tersebut.
"Lalu kenapa kau menembakku? Bukan Naruto?" kata Sakura dengan nada yang sangat sedih dan penuh emosi.
Sasuke tersenyum tipis-tampak bukan Uchiha. "Aku cemburu padamu," kata Sasuke.
Sakura membelalakkan mata, "cemburu?" tanya Sakura.
"Ya. Aku cemburu… karena begitu seringnya aku memperhatikan Naruto, aku menjadi tahu apa yang dia suka dan apa yang dia tidak sukai," kata Sasuke sambil membayangkan wajah Naruto yang cemberut, tersenyum, bahkan sedang menguap. Bagi Sasuke, dari segi manapun Naruto tetaplah indah.
"Ja-jadi kau memanfaatkanku?" tanya Sakura.
Sasuke menganggukkan kepala, "aku kesal… karena kaulah yang selalu diperhatikannya. Sampai-sampai aku berpikiran untuk merebut apa yang dia sukai agar dia berhenti memperhatikanmu..," kata Sasuke dan membuat Sakura menundukkan kepalanya. Air matapun telah membasahi wajah Sakura. "Kenapa? Kenapa kau tega Sasuke?"
"…Karena aku mencintai dia…," kata Sasuke. "Aku sangat mencintai dia sampai-sampai akupun tidak tahu apa yang aku perbuat akan membuat Naruto senang atau hanya membuat Naruto menderita."
'Kau begitu gay, Sasuke!' pikir Sakura. 'Aku tidak percaya akan mencintai orang sakit sepertimu.'
Sakura menyiramkan segelas es jeruk yang berada di depannya pada Sasuke dan membuat seluruh pengunjung memandang ke arah Sasuke maupun Sakura. "Aku tidak percaya akan mencintai orang seperti dirimu. Kau adalah orang yang paling hina yang pernah aku temui, Uchiha! Kau tidak pantas mendapatkan cinta, meskipun hanya sedikit!" teriak Sakura. Setelah itu, Sakura pun pergi meninggalkan Sasuke yang masih belum mengelap wajahnya yang basah.
'…Dengan begini, aku bisa tenang untuk mencintai Naruto," pikir Sasuke sambil memadang kopi di depannya tidak peduli muka dan bajunya yang sudah sangat basah.
-
-
Naruto sedang berdiam diri di taman sambil duduk di sebuah bangku taman dekat pemakaman orang tuanya sampai sebuah mobil audi terparkir di pinggir jalan raya, depan taman. Gaara keluar dari dalam mobilnya dan sebelum menutup pintu mobilnya, Gaara melempar kaca mata hitamnya ke kursi pengemudi. Gaara pun berjalan ke arah Naruto…
"Naruto..," sapa Gaara dengan nada datar.
"Gaara?! Ada apa kau menyuruhku diam disini?" seru Naruto dengan seringai di bibirnya setelah Gaara tiba di depannya.
"Aku mau mengantarmu pulang," kata Gaara.
"Eh?! Kenapa kau tahu aku tidak pulang dengan orang lain?" tanya Naruto yang sedikit terkejut.
Gaara duduk di sebelah Naruto dan memandang Naruto, "aku memang mencarimu… tetapi pada saat Sasuke meng-sms-ku untuk mengantarmu pulang, aku segera kemari," kata Gaara.
Naruto mengangkat sebelah alisnya, "Sasuke meng-sms-mu untuk mengantarku pulang?" tanya Naruto.
Gaara menganggukkan kepalanya, "iya."
'Iya aku berbohong.' pikir Gaara.
"Teta-"
Gaara menarik tangan Naruto. "Sudah, ayo kita pulang!" kata Gaara sambil menarik tangan Naruto, dan Naruto menurut apa yang Gaara katakan.
Berbohong?
'Tentu saja berbohong, mana mungkin Sasuke mengijinkanku pergi denganmu, Naruto,' kata Gaara dalam hati. '..Karena.. Sasuke itu adalah orang yang sangat menjaga apa yang sudah dicap menjadi miliknya.'
-
-
Sakura sedang berjalan di dalam basement-sendirian, hendak menuju mobilnya ketika beberapa orang telah menghadangnya. Orang-orang yang berpakaian serba hitam dan memakai kaca mata hitam tersebut menyingkir dari hadapan Sakura dan berbaris menyamping-seolah-olah memberi jalan pada seseorang. Beberapa saat kemudian sesosok manusia bernama Kabuto sedang membetulkan kaca matanya sambil tersenyum licik muncul di hadapan Sakura dan berjalan perlahan mendekati Sakura.
Kaca mata yang telah dibetulkan posisinya oleh Kabuto pun berkilat tajam. "Apa kau sedang patah hati, Nona?" tanya Kabuto. "...Jika benar, aku bisa membantumu."
Mendengar perkataan Kabuto, Sakura membelalakkan mata. 'Bagaimana dia tahu?!' seru Sakura di dalam hati.
Siapa dia?
Bersambung…
Udah baca? Minta Review-nya donk… Hehehe…. Oh iya, cuman mau bilang jaga-jaga takut Pete hiatus... Kemungkinan besar Pete nge-publish cerita ILIN sama yang lainnya lebih lama. thx.
Salam hangat,
Pete.
