Chapter 10
"The Girl and The Glasses"
Kohan44
.
Intermesso
.
Nafas… uap.. suhu dingin.. dan keringat. Waktu itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Saraf-sarafku seolah mati, menolak rasa sakit dari luka-luka segar. Yang ku rasakan hanyalah paru-paru yang makin sulit mengambil udara. Satu-satunya penglihatan buram menjadi titik tumpu kesadaranku. Mengharapkan pertolongan seseorang, membawa tubuh terkapar lemah ini pulang. Namun itu hanya sebatas pengharapan fana. Bahkan teman yang mengalami pertempuran senasib pun tak dapat membantuku bangkit.
"Karin… Karin…"
Terdengar gumam lemah Naruto, satu-satunya orang yang paling sehat di antara kami bertiga; dia, aku dan Sasuke. Entah kenapa gumamannya terdengar seperti rintihan kesakitan. Mungkin dia terluka. Ah, aku tak tahu persisnya. Ingatanku memburuk setelah seseorang memukul bagian belakang kepalaku. Rasanya ngilu dan berputar-putar. Persendianku seakan berderit dan tulang-tulang gemetar menahan sakit dan suhu dingin.
Mungkin aku satu-satunya anak perempuan SMA yang berkelahi melawan anak laki-laki pada malam hari. Mereka lebih pantas menjadi lawan Sasuke. Berawal dari rasa ingin melindungi, mungkin. Segerombolan anak SMA menggodaiku. Aku tak tahu bagaimana cara mengatasinya dengan tepat, maka ku putuskan untuk mengacuhkan mereka. Yang terjadi,salah satu diantara mereka menarik rokku. Aku tak banyak mengharapkan perlindungan dari Naruto. Meski Naruto jelas berusaha melindungiku, aku tahu dia terlalu lemah, pada akhirnya akulah yang melindungi diri sendiri dan melindungi Naruto juga. Setelah tubuh tak lagi kuat menahan luka, karena faktanya segerombolan anak laki-laki itu tega melukai perempuan, Uchiha Sasuke menyelamatkanku. Ah, lebih tepat menyelamatkan Namikaze Naruto yang hanya memiliki luka memar. Jika ada kesempatan, aku ingin menendang Namikaze Naruto saat itu.
Sekarang,setelah menang melawan bandit-bandit remaja, Uchiha Sasuke tengah mengkhawatirkan keadaan Namikaze Naruto. Aku tak berdaya. Hanya memohon kekuatan kepada Tuhan agar aku bisa berjalan pulang.
Beberapa kali ku pijat kening sampai pemandanganku menjadi lebih baik. Tanganku yang lain meraba-raba tanah sekitar, mencari kacamata. Begitu ku rasakan struktur kacamata, aku menghela nafas pendek, penuh rasa kecewa. Kacamataku tak lagi sebaik dulu kala. Kaca sebelah kiri retak dan gagang sebelah kanan patah. Alasan apa yang harus ku katakan pada kedua orang tuaku? Entah.. aku harus memikirkannya sambil berjalan menuju rumah. Aku benar-benar terlambat pulang.
Sebelum bisa pulang, aku bersusah payah berdiri dan membereskan isi tas selempang yang berhamburan. Agak tergesa-gesa ku lalukan, karena entah sejak kapan, Sasuke dan Naruto tak lagi berada di dekatku. Mereka… tak ingin ku sebut ini adalah sebuah pengkhianatan, tetapi bagiku seorang teman tak seharusnya meninggalkan teman lainnya. Ku betulkan posisi kacamata yang terus-terusan melorot, memastikan di sekelilingku memang tak ada Namikaze Naruto dan Uchiha Sasuke.
Satu demi satu kaki ku seret, membuat langkah berat. Tak terpikirkan lagi soal orangtua. Rasanya aku tak peduli jika mereka memarahiku karena aku pulang terlambat dalam keadaan seperti ini. Tubuhku lesu. Kepalaku menunduk dalam seperti seseorang yang hendak mencari koin dalam gelap, dengan kacamata rusak berat yang ku lilitkan dengan akar tanaman ke kepala supaya tidak melorot. Penglihatanku sangat payah di malam hari tanpa kacamata. Jadi ku paksakan saja memakai kacamata.
Pikiranku mulai melayang-melayang. Kejadian tadi sore seolah mimpi. Memang tak aneh jika anak cupu sepertiku di bully oleh orang-orang yang memiliki beberapa derajat di atasku, dan tentu saja terdengar aneh jika anak sepertiku melawan mereka, mendapat bantuan dari ketua macam Sasuke dan menang. Cih! Bicara apa aku? Aku nyaris melupakan soal kebetulan dan keberuntungan. Jika Sasuke bukan pacar Naruto, entah apa yang terjadi padaku. Mungkin tak akan ada pertolongan untukku, atau kemungkinan yang lainnya adalah… ini semua tidak akan pernah terjadi dalam hidupku.
Tes... nafasku tercekat. Begitu sadar, langkahku terhenti. Mataku membulat sempurna. Menyadari sesuatu yang basah menyentuh pipiku. Mengalir deras dan sulit untuk dihentikan. Ini terjadi sangat tiba-tiba. Bahkan butuh waktu bagiku untuk menyadarinya.
"ARGHT!" aku menggeram frustasi sembari mencabut paksa kacamata yang telah terikat cukup kuat dengan kepalaku. Ku seka dan ku seka menggunakan lengan switer sampai-sampai mataku terasa panas akibat gesekannya. Namun, air ini tak juga berhenti.
Krek! ah, aku menggengam kacamata terlalu kuat. Mungkin ada bagian lain yang patah. Tak peduli soal itu, toh kacamata ini memang sudah hancur.
Bak! satu pukulan di dinding terdengar lemah. Air mata berhenti, dan aku mulai bersyukur. Tak bertahan sampai satu menit, kembali cucuran air mata jatuh. Aku mulai merasa frustasi dua kali lipat pada diriku sendiri. Aku tak bisa membiarkan diriku menangis dan membuatku terlihat lemah. Air mata tak pantas untukku. Aku ini sudah lemah, oleh karena itu tidak dibutuhkan air mata untuk menegaskan kelemahanku!
BAG! Kali ini aku memukul lebih keras, dan air mata benar-benar tak bisa dihentikan sekarang. Air mataku semakin deras saat menyadari seberapa bodohnya aku; menaruh pengharapan pada seorang Uchiha Sasuke. Apa yang bisa ku harapkan dari seseorang seperti dia? Bahkan dia tidak pernah memikirkan soal aku. Dia terlalu mempedulikan Namikaze Naruto. Apa yang istimewa dari laki-laki berisik macam Naruto? Aku tidak bisa mengerti.
Perjalanan pulangku tersendat karena sepasang mata yang nyaris tidak berguna. Aku tak peduli jika ayah dan ibu melihat tubuhku penuh luka, tetapi jika yang mereka lihat adalah air mata… satu tetes pun aku tak akan rela.
"Berhentilah mencintai Sasuke."
Ingin ku lakukan hal itu, namun aku sadar pada diriku sendiri, tak semudah itu melupakannya.
Seseorang berdiri di belakangku entah sejak kapan, tahu-tahu dia telah berkata tanpa menunjukan wajahnya lebih dulu ke hadapanku. Segera ku seka air mata, memastikan tak ada yang tersisa. Aku benci jika orang lain melihat wajah sedihku, karena itu akan membuatku nampak menyedihkan. Cukup Sai Senpai yang melihatnya. Hanya dia yang boleh melihat ini.
"Kenapa kau mencintai seseorang yang menyakitimu?"
Sekuat apapun aku menahan dan sekeras apapun tanganku menggosok, mata ini tak berhenti… Andai saja aku bisa melepas kedua mata ini lalu menaruhnya di toples, pasti rasanya lega. Jika mata ini telah kering, barulah akan ku pakai lagi.
Ku paksakan mengenakan kacamata kemudian menunduk. Membiarkan tetes demi tetes air mata jatuh membasahi kacamata. Membuat genangan dalam kaca. Airnya ada yang merembes, menetes keluar melalui retakan kaca.
"Tolong pergi." Kataku tegas meski terdengar serak dan sedikit bergelombang layaknya orang menangis.
"Jam sekolah sudah lama berakhir, kau tak bisa membully ku di luar sekolah!" kataku lagi.
"he? Buruk sekali pikiranmu.. siapa juga yang mau membully?" jawabnya enteng sembari berjalan ke hadapanku. Kini aku tak berani bergerak apa-apa, bahkan untuk mengangkat kepalaku.
"Kau yakin, kau bisa pulang dengan selamat dalam keadaan seperti ini?" katanya, tiba-tiba dia merendahkan tubuhnya, melihat dengan seksama luka-luka di kakiku.
"ini terlihat parah…" gumamnya singkat. Terlihat serius dengan beberapa kali anggukan dan desisan ngeri setiap kali melihat lukaku. Aku pun baru menyadari ada banyak luka di sekitar betis. Kedua kakiku penuh oleh darah. Entah dimana letak persisnya luka-luka itu. Semuanya tertutup oleh darah bercampur tanah.
"erh!" aku mengerang perih ketika satu tetes air mengalir melewati salah satu alis dan masuk ke mata. Entah itu tetes air keringat atau hujan. Eh, bukan kah ini musim panas? Jadi, sepertinya itu adalah keringat. Ku tengadahkan kepala dengan sebelah mata tertutup. Buru-buru ku lepas kacamata dan menyambar mata yang terasa sangat perih.
"Jangan!" larangnya cepat-cepat sambil menahan tanganku.
"keningmu berdarah,"
Shit! Pantas saja rasanya perih, ternyata yang masuk adalah darah, bukan keringat.
Dia mengeluarkan sapu tangan dari salah satu saku celana gakurannya. Menempelkannya ke keningku penuh kehati-hatian. Pemandanganku memang buram, tapi dalam jarak sedekat ini aku bisa melihat dengan jelas wajah seriusnya. Tak pernah aku melihat wajah Sakon seserius ini. Ya, orang di hadapanku ini adalah Sakon.
Siapa bilang seseorang yang selalu merendahkanmu tandanya orang itu membencimu? Aku tidak memiliki pikiran seperti itu. Karena orang di hadapanku, salah satu anggota geng Sasuke, yang hobi melecehkanku di sekolah, dia menyukaiku dengan caranya sendiri. Hari ini, waktu ini, dia menunjukan sisi lembutnya padaku, fakta yang menguatkan bahwa dia menyukaiku. Ini sudah sangat jelas. Bukan karena aku kePDan, instingku selalu 95% benar.
"Hentikan.." kataku lemah seraya menahan tangan Sakon. "Tolong menyingkir dari hadapanku, aku harus pulang.."
Dengan tangan lain, Sakon mencengkram pergelangan tanganku. Sentuhannya terasa yakin bahwa sesuatu yang dia inginkan tidak bisa ku tolak.
.
Intermesso
.
Hari ini aku tidak masuk sekolah. Bangun siang dengan banjir keringat. Luka-luka di tubuhku mulai terasa sakit, cenat cenut linu, terutama luka sobekan di kening. Semoga lukanya tak berbekas.
Beranjak dari tempat tidur, aku melangkah lunglai ke jendela kamar. Membukanya lebar-lebar supaya sirkulasi udara dalam kamar lancar. Aku merasa panas, mungkin ini efek dari penyembuhan luka. Semalam, aku kesulitan tidur karena kepanasan, dan tadi malam kedua orangtuaku tidak marah, ini sedikit aneh. Padahal aku pulang bersama Sakon. Semua orang tahu, Sakon siswa macam apa lewat pakaian dan tindikan di sekitar telinganya.
Aku turun dari kamar, menuju dapur. Perutku terasa sangat lapar. Tapi apa yang bisa ku harapkan dari dapur? Ibu dan ayah pasti sudah berangkat kerja, dan mereka hanya menyisihkan sedikit sarapan pagi. Sial, kenapa aku memiliki orangtua macam mereka?
Belum sampai di dapur, aku mendengar bising minyak goreng. Lalu tercium aroma makanan. Ada rasa kaget tersendiri, ketika yang ku lihat di depan penggorengan adalah punggung laki-laki. Dia bukan ayahku, apalagi ibuku. Ku tarik salah satu kursi makan, duduk di atasnya. Meja makan separuh penuh oleh hidangan yang menggiurkan.
"Oh!" Seru laki-laki itu, menyadari keberadaanku. Aku hanya diam, dengan muka polos dan piama acak-acakan. Mataku tidak bisa melihat jelas semenjak kacamataku rusak berat.
"Tadi aku bertemu dengan ibumu. Dia baik sekali mengizinkanku merawatmu. Hehehe mungkin karena aku mengaku sebagai pacarmu." Katanya, kembali focus pada masakannya.
Aku menggeleng singkat. Tak peduli apakah dia tahu aku menggeleng atau tidak.
Setelah masakan terakhirnya selesai, dia duduk di hadapanku. Mempersilahkanku untuk memakan hasil masakannya. Masih berbalut wajah polos, ku tatap bergantian antara hidangan dan dia. Ini seperti mimpi. Aku menyembunyikan rasa kagetku supaya tak membuatku terlihat seperti orang bodoh. Ini pertama kalinya dalam hidupku, ada yang begitu perhatian.
"karena tidak ada apa-apa untuk sarapan, jadi aku membuatkannya untukmu. Kau belum sarapan kan?" katanya seolah aku bertanya. Sebelah tangannya meraih kepalaku. Mengacak-acak lembut rambutku yang sudah berantakan.
"Arigatou.." kataku lemah. Lalu ku ambil sumpit dan berdo'a sebelum makan. "itadakimasu.."
Entah setan baik macam apa yang merasuki dirinya. Dia sampai sanggup membolos sekolah karena aku. Padahal dia sudah kelas tiga, waktunya bersiap menghadapi ujian masuk universitas.
"anou.." kataku. "senpai tahu dari mana aku tidak sekolah?"
"sederhana saja, kau tidak ada di sekolah."
Aku berhenti menyuap. Menggigit ujung sumpit, sementara tatapanku tertuju pada Senpai. Tatapan lembut yang menuntut, Senpai tidak memberikan jawaban yang aku inginkan. Dia berbohong.
"ehehe.." cengirnya enteng saat merasa dirinya terpaksa harus memberikan jawaban yang jujur. "Aku tahu dari Sakon.
"Lain kali, jangan berkelahi lagi, ya?"
Aku mengangguk singkat. Tak lama, aku kembali berkata "ee? senpai tahu dari mana aku berkelahi?" aku sudah 'meminta' Sakon untuk tutup mulut soal tadi malam.
"Sasuke memberitahuku." Jawabnya riang. Dia terlihat senang memperhatikanku.
Aku kembali menyuap. Namun, tak lama aku kembali terhenti. Rasanya Sasuke bukan tipikal orang yang senang banyak bicara. Sasuke yang memberitahunya, atau senpai memaksa Sasuke memberitahunya? Bagaimana Senpai tahu dari Sasuke?
Ku lirik sembunyi-sembunyi wajah Senpai, ada memar di sudut matanya. Ada semacam jejak kaki di lengan kemeja putihnya. Mataku merambat, memperhatikan setiap detail keadaan Senpai. Sampai aku tak sadar, senpai memergoki mata nakalku. Kami saling beradu pandang.
Apakah senpai berkelahi? Dengan Sasuke atau Sakon kah?
.
Hari selanjutnya aku pergi sekolah. Mengabaikan seribu tatapan menusuk. Aku jadi sorotan sekolah dengan keadaan penuh luka, plester dan perban begini, dan kacamata setengah hancur yang sudah tidak layak pakai. Hampir semua orang kaget, mungkin mereka mengira aku berkelahi tadi malam meskipun aku tidak memiliki ciri-ciri gangster. Baguslah, aku makin terkenal saja di sekolah. Sebelumnya aku sudah terkenal sebagai 'korban tetap'Sakon. Ketenaran Sasuke pastilah tersaingi olehku, ck!
Semua tatapan mengganggu itu ku abaikan. Menganggap hari ini sama dengan hari biasanya. Berawal dari mengganti sepatu, berjalan menuju kelas, duduk, dan diam sampai guru tiba di kelas. Aku tidak mau bicara pada Naruto atas kejadian kemarin lalu. Bahkan dia tidak menjenguk atau setidaknya memberiku mail. Malah Sai senpai yang lebih peduli.
Entah kemana perginya si Naruto pagi ini. Tasnya ada di atas meja, tetapi bangkunya kosong. Persetan dengan Naruto. Paling-paling dia pergi bersama Sasuke.
Jam istirahat berdering. Segera aku keluar kelas sebelum Naruto menghentikanku. Sepanjang jam pelajaran, aku mengacuhkannya. Jadi, sekarang aku berusaha menghindarinya. Berlari menuju lantai tertatas sekolah. Menyendiri.
Beberapa menit aku berkeliling. Memastikan tempat ini kosong, dan hanya ada aku. Kemudian aku duduk di lantai yang terkena bayangan. Menarik kedua lutut mendekati dada, memendam muka dalam pelukan lutut. Aku hampir melupakan diriku yang sebenarnya, aku selalu begini di sini atau di kelas sebelum mengenal Namikaze Naruto. Banyak waktu yang ku habiskan dengan menyendiri.
.
Dentingan bel terakhir sekolah tak terdengar lagi. Bahkan jerit riang murid-murid telah lenyap. Tetapi aku, yang tersisa di hari ini karena dikerjai oleh anak-anak gym, masih berada di sekolah. Hanya langit oranye semu merah dan kepakan sayap burung gagak menemaniku. Langkahku tak terdengar. Sunyi. Ketika ku buka roker sepatu, terdengar derit engsel, lalu..
BRAKK!
"AW!" Aku menjerit kesakitan. Kedua lututku tertarik jongkok otomatis sambil menempelkan kedua telapak tangan di perban kening. Sesuatu dari dalam roker mengenai tepat di bagian luka keningku. Rasanya sakit tak karuan. Aku nyaris menitikkan air mata saking sakitnya. Setelah rasa sakit sedikit berkurang, aku kembali bisa berfikir tenang. Lewat sudut mata, aku melihat ujung sepatu seseorang di hadapanku.
"Sakon?" ku tengadahkan kepala. Meyakinkan diri bahwa yang di hadapanku memang Sakon, hanya dia dan Sasuke yang memiliki dandanan paling tidak rapi di sekolah ini, gangster.
"Gara-gara kau.." katanya pelan. Aku tak tahu apa yang dia katakan. Kepalanya menunduk dalam.
"Gara-gara kau, Senpai berkelahi denganku…
Gara-gara kau, Sasuke putus dari Sakura.."
Aku bangkit berdiri, tanpa melepas sentuhan pada luka di kening.
"Gara-gara kau, Sasuke memacari seorang laki-laki..
Gara-gara kau… Hubungan pertemananku dengan Sasuke..."
"Sakon?"
"Gara-gara Isamine Karin…
INI SEMUA GARA-GARA KAU!" Raungnya mengerikan.
Aku terhenyak kaget. Dalam gerakan cepat Sakon sudah berada di hadapanku, mencengkram kerah kemejaku.
"S-sakon!" kataku tercekat, tak sempat menghindar. Kedua tangan lebar Sakon melingkar erat di leherku.
"Gara-gara kau, Isamine Karin.." bisiknya horror. Sakon tidak seperti biasanya. Suaranya berat dan serak. Matanya merah. Sekalipun aku menutup mata, aku masih mendengar suara dan deru nadas Sakon. Semua ini membuatku takut.
"Uhukk.. uhukk!" beberapa kali aku terbatuk. Sakon serius mencekik. Dia ingin membunuhku!
Hubunganku dengan Sakon memang tidak pernah menjadi hubungan yang bagus, apa lagi special. Kami seperti musuh tanpa latar belakang. Aku, diriku sendiri membiarkan Sakon bertindak sesuka hatinya merendahkanku. Aku memang tak berdaya untuk melawan Sakon. Dia akan bertindak semaunya, tanpa sebab pasti dan tanpa bisa ku tolak. Entah apa yang membuatnya begitu. Mungkin ini nasib seorang gadis payah. Ditindas.
.
Menangislah Untuk Tersenyum
.
Sasuke menggendong Mahiru dalam perjalanan menuju mobil. Setelah banyak bercerita tentang masa lalu, aku merasa sedikit.. err, aku benci mengakuinya, tetapi aku memang galau. Menemukan banyak fakta yang tak ku ketahui di masa lalu. Membuat rasa penyesalan di masa sekarang. Meskipun aku berusaha tidak tenggelam dalam masa lalu, tetap saja aku merasa galau dan ingin kembali ke masa lalu.
Malam ini hari pertama salju turun. Begitu dingin dan aku melihat kehangatan Mahiru dalam pelukan Sasuke. Tiba-tiba saja terlintas pikiran semacam Sasuke menggenggam tanganku. Cih! Salju ini membuatku gila. Otakku terlalu banyak tercocoki cerita manga. Yah… mau bagaimana lagi. Pekerjaanku kan editor manga.
"Hei, Mahiru," kata Sasuke. "Sebagai tanda perkenalan, bagaimana kalau Paman Sasuke mengajakmu makan?"
.
.
.
"Terimakasih…" satu kata itu meluncur mulus dari bibirku. Membiarkan Sakon menggeram lebih keras, lalu senyumku mengembang.
"UNTUK APA KAU BERTERIMAKASIH?"
Karena meski aku tak tahu apa-apa soal ini, tetapi aku merasakan sesuatu, yakin oleh sendirinya bahwa kau… kau memiliki perasaan yang rumit, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata singkat. Meski kau sering menamparku, melemparku dan membuatku terjatuh, itu hanya semata-mata menutupi perasaan yang sesungguhnya.
PLAKK!
Seribu tamparan pun, aku tidak bisa membecinya. Berapa kali pun kau melukaiku, rasa benciku tidak pernah kalah dari rasa senang. Aku mungkin orang bodoh. Ya, itu aku. Aku tak bisa melukai seseorang yang mencintaiku, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku mengerti bagaimana pahitnya cinta sebelah mata. Jika kau ingin membuat perasaan itu tertutup dan tetap rahasia, maka aku akan menjaganya, dengan luka tertahan dalam diriku..
"BERHENTI TERSENYUM, BODOH!"
"Maaf.. terimakasih ya, Sakon!"
Kau benci fakta bahwa aku, gadis yang tak ada apa-apanya dibanding Haruno Sakura, telah mengalihkan dunia Uchiha Sasuke, menimbulkan perkelahian antara kau dan Uchiha Sasuke. Lebih dari itu, kau membenci fakta bahwa kau menyukai seorang gadis sepertiku.
"AARGHHT!"
.
.
A/N
Tanpa terasa, sudah chap 10^^ ini cukup menguras semangat juga. Hahaha (tertawa tak bergairah)
Ngomong-ngomong soal kacamata, chap ini diangkat dari pengalaman. Emm… pengalaman milik siapapun lah hehhe^^"
Wah… aku dapat reviewer baru! Terimakasih reviewnya, mohon bantuan untuk kedepannya! m(_ _)m
Kalau boleh promosi, sebenarnya aku ingin mempromosikan fict action pertamaku di fandom Black Rock Shooter^ ^
Tapi karena sepi pengunjung, jadi ku pindahkan ke fandom vocaloid tanpa mengubah peran utamanya. Aku harap fict actionku tidak membosankan.
Dan hal terakhir yang ingin aku katakan : sekarang aku memiliki account facebook^^, teman-teman semuanya bisa menghubungiku lewat kohanlwrncs(at)gmail(dot)com
Oke, aku banyak bicara sekali di chap ini hehehe
Sampai juga di bab selanjutnya^^
