Yo minna-saaaaannn! Gomeeeen! Natsu telat banget updatenya! Soalnya Natsu baru sembuh dari WB! ;( *sujud-sujud*

Natsu ngerjain fic ini sambil dengerin lagunya Bang Haji Rhooma Irama, Keramat! Entah mengapa pas dengerin lagu itu Natsu jadi teringat mama, dan cepet-cepet lanjutin fic ini! *plakk!* *apa hubungannya?*

Yaaa... mau gimana lagiii? Abis, Natsu ditagih mulu, ama Kirin-san dan Pearl-chan! DX *lirik Gaara Zaoldyeck 'Lucifer & whitypearl*

Yosh! Tanpa basa-basi lagi, silahkan baca ajaaa! XD

.

Cerita Sebelumnya :
Gadis itu menyalakan kran air, lalu membasuh wajahnya yang sedikit berkeringat. Diambilnya tisuue yang tergantung di sana, dan mengeringkan wajahnya.

Kurapika menatap pantulan dirinya di cermin. Dipegangnya bibirnya itu dengan jemari telunjuk dan tengahnya. Seketika wajahnya berubah menjadi merah. segera ia kembali membasuh wajahnya, menghilangkan perasaan aneh yang bergejolak itu.

"Pirang,"

Mata Kurapika membelalak, begitu mendengar suara yang dikenalnya, memanggilnya dari belakang. Tak perlu lagi ia menoleh, memngingat sebuah cermin terpajang indah di sana. Ditatapnya pantulan bayangan Pakunoda dengan tatapan benci, seolah ingin memusnahkan gadis itu.

"Mau apa lagi kau?" tanyanya dengan nada sinis.

.

.

Disclaimer : Togashi Yoshihiro

Title : AmI Really Hate You?

Story by : author super lebay, Natsu Hiru Chan

Genre : Romance and Friendship

Rated : T (buat jaga-jaga)

Pairing : Kuroro nii-kun tetap bersama Kurapika nee-chan selamanya!

Warning : AU, abal, norak, OOC, typo bertebaran kesana kesini, lebay (sangat), pokoknya nih fic hancur-sehancur-hancurnya!

Summary : Nyawa Kurapika di selamatkan oleh seorang pemuda, ketika ia mengalami kecelakaan. Dan di tubuh Kurapika mengalir darah pemuda itu. Kurapika pun menganggap pemuda itu sebagai cinta pertamanya.

.

.

.

.

Don't like, don't read… XD

.

Chapter 10 :

Kurapika kini tengah duduk di lapangan basket sendirian, dangan kedua tangan yang menopang kedua pipinya. Entah yang sudah kesekian kalinya ia menghela nafas panjang, begitu panitia perwakilan dari kelasnya memberitahunya, bahwa ia masuk dalam perlombaan basket putri kali ini.

Bukan apanya. Masalahnya... Kurapika sama sekali tak bisa bermain basket. Tepatnya tidak pernah. Berbeda dengan teman-teman perempuannya yang tidak suka olahraga, karena tidak suka berkeringat. Gadis itu jauh lebih menyukai belajar secara teori, dibanding dengan olahraga yang hanya menguras stamina. Jika ia mau, gadis itu bisa saja mendapat nilai tertinggi dalam pelajaran olahraga. Masalahnya, ia hanya tidak mau...

Bisa dipastikan, kelas Kurapika akan kalah dalam perlombaan kali ini. Lihat saja para pesertanya. Ada dirinya, Neon, Shizuku, Eliza, dan gadis kecil yang bernama Miyuu. Dan semuanya tidak tahu menahu mengenai olahraga populer di negara bagian barat yang satu ini. Mereka hanya dipilih secara acak saja.

Ia baru saja selesai latihan, bersama keempat teman setimnya, sementara sisanya tengah mengikuti pekan olahraga di luar. Namun keempat temannya itu sudah selesai, dan memilih untuk keluar, menonton pertandingan. Lagipula, pertandingan basket putri akan diadakan beberapa jam lagi. Sayangnya Kurapika lebih memilih untuk tinggal. Ia tak mau berpanas-panas di luar sana, dan mendengar teriakan dukungan dari seluruh siswa.

Gadis itu kembali menghela nafas. Diambilnya bola basket yang menggelinding ke arahnya, dan menatap bola itu dengan tatapan datar. Gadis itu teringat, akan perkataan, lebih tepatnya tantangan Pakunoda kemarin, di wc putri.

Flash Back

"Mau apa lagi kau?" tanyanya dengan nada sinis.

Pakunoda lalu berjalan, dan bersandar di westafel, samping Kurapika. sedari tadi mereka saling menahan emosi, tak ingin menyulut api perang sebelum waktunya tiba.

"Ada yang ingin kubicarakan padamu,"

Kurapika kembali membasuh wajahnya, tidak peduli. Seakan Pakunoda hanyalah botol sabun ukuran jumbo, yang tergeletak tak bernyawa di sana. "Tak ada yang harus dibicarakan," ucapnya tak acuh.

"Ini mengenai Kuroro,"

Kurapika tertegun sejenak, lalu kembali mengeringkan wajahnya. "Katakan apa maumu kali ini?" tanyanya dingin. Tatapannya tertuju pada rahang pakunoda yang terbalut perban. Gadis itu tersenyum mengejek dalam hati.

"Bagaimana... Kalau hubunganmu dan Kuroro tersebar di seluruh sekolah?" ujar Pakunoda kembali berkata, dengan seringai yang mengembang di wajahnya.

Yang ditanya hanya menggertakkan giginya, berusaha menahan amarah. "Kau ingin rahangmu yang satunya lagi retak?" tanyanya sinis.

"Aku datang di sini baik-baik. Aku hanya ingin... Mengambil Kuroro-ku kembali,"

"Kuroromu? Sejak kapan dia jadi milikmu?"

Pakunoda tersenyum meremehkan. "Kau tak tahu? Sejak kecil kami selalu bersama, dan Kuroro... sangat menyukaiku,"

Kurapika terdiam. Kuroro menyukai Pakunoda? Bisa saja, Kurapika berkata bahwa ia sama sekali tak mempercayainya, tapi entah mengapa ucapan Pakunoda terdengar begitu menyakinkan. Dan... hati Kurapika entah mengapa terasa sakit, mendengarnya. Gadis itu hanya menatap Pakunoda sinis, seolah menunggu kelanjutan kalimat wanita itu.

"Dia pernah menyatakan perasaannya padaku, saat SMP dulu. Tapi aku menolaknya, karena kupikir dia tidak serius. Aku baru menyadari perasaanku yang sebenarnya, saat kami kelas 2 SMU. Baru kusadari, betapa sempurnanya lelaki itu..." Kurapika bisa melihat sirat kelembutan,dari mata sayu Pakunoda yang kini tengah menerawang itu. Bukan Pakunoda yang sinis, bukan Pakunoda yang egois. Ia melihat... sosok Pakunoda yang cantik, dan dulunya disukai Kuroro. Jika perkataan wanita itu benar, pasti Kuroro menyukainya karena tatapan lembut Pakunoda yang baru pertama kali Kurapika lihat ini.

Dan tatapan itu kembali sinis. "Dan saat aku menunggu dia menyatakan perasaannya lagi, kau malah datang dan mengacaukan segalanya!"

"Apa katamu? Kenapa aku yang kau salahkan?"

"Tentu saja kau datang ke sekolah ini, merayunya seperti pelacur!"

Emosi Kurapika mencapai puncaknya. Tangan gadis itu mengepal kuat, dan giginya gemerutuk. Kurapika langsung melayangkan pukulannya ke Pakunoda, namun gadis berambut pirang keabu-abuan sebahu itu dengan lihai menghindar, dan malah menangkap pergelangan Kurapika.

Kurapika yang sudah dikuasai emosi kembali melayangkan tangannya yang bebas, namun hal itu malah membuatnya kehilangan keseimbangan, dan terpeleset hingga hampir terjatuh. Untungnya ia sempat perpegangan pada westafel, dan satunya lagi masih dipegang oleh Pakunoda.

Betapa memalukannya! Ia bertekuk lutut di depan wanita yang paling dibencinya!

Pakunoda tersenyum meremehkan. Dilepaskannya tangan kecil namun kuat itu, dan menatap si empunya dengan sinis. "Saat ini aku tak mau berkelahi dengan gadis ingusan sepertimu. Aku hanya ingin menantangmu, secara sehat,"

Kurapika langsung berdiri, menatap perempuan yang lebih tinggi darinya itu. "Apa maksudmu?"

"Saat pertandingan besok, jika kita bertemu, saat itulah yang aka menjadi penentuan. Jika aku kalah, aku akan mundur, dan tidak akan pernah megganggu kalian lagi. Namun jika kau yang kalah, jangan pernah coba-coba untuk mendekati Kuroro lagi,"

"Kuroro bukanlah tropi yang harus di perebutkan. Dia juga manusia," Kurapika berkomentar dengan dingin.

"Kau takut,"

"Sama sekali tidak. Tapi untuk membuktikannya, akan kuterima. Tapi aku tidak bisa menjaminnya,"

"Kuharap kau bisa menepati janjimu,"

"Aku tak berjanji,"

Pakunoda menghela nafas kesal. Akhirnya ia berkacak pinggang, dan bersiap meninggalkan toilet itu. "Sampai jumpa besok. Kuharap kau menghabiskan saat-saat terakhirmu yang indah, bersama Kuroro,"

"Sampai jumpa, Pakunoda-senpai..." Kurapika membalas dengan nada mengejek. Setelah Pakunoda hilang di ambang pintu, gadis itu langsung saja dijalari oleh rasa penyesalan yang besar. Bagaimana jika ia benar-benar kalah? Apakah... ia tak bisa bersama dengan cinta pertamanya lagi untuk selamanya?

.

.

Kurapika mulai berdiri dari duduknya, dan mulai memantulkan bola basket orange yang tadi ia pegang. Ia memang tak bisa, namun apa salahnya jika ia mencoba. Gadis itu hanya berharap, semoga saja ia tak bertemu dengan Pakunoda. Tidakkan itu terdengar sebagai seorang pecundang, Kurapika?

Pecundang? Kalau masalah cinta, ksatria tegar pemberani dan kuat pun bisa menjadi pecundang besar...

Kini Kurapika berhadapan dengan ring basket yang cukup tinggi itu. Gadis itu fokus, untuk memasukkan bola ke keranjang. Begitu ia melempar bolanya, bola itu malah jatuh, bahkan sebelum sempat menyentuh ring. Gadis itu mendecak sebal.

"Kau harus memberikan tenaga lebih, terhadap siku dan pergelangan tanganmu,"

Mata sapphire itu membelalak sepurna, begitu mendengar suara yang begitu familiar. Suara orang yang paling ia percayai saat ini. Suara orang yang paling dekat dengannya. Suara orang yang ia cintai. Kuroro Lucifer.

Segera gadis itu menoleh, mendapati Kuroro dengan pakaian olahraga berdiri di sana. Oh, betapa tampannya pria itu. Kuroro nampak begitu dewasa, begitu maskulin, di usianya yang masih menginjak 18 tahun. Lelaki itu tersenyum tipis padanya, senyuman yang sangat disukai oleh Kurapika. Kurapika tak tahan untuk tidak membalas senyumannya, namun setelah beberapa saat, ia baru sadar bahwa ia telah menggali lubang jebakan untuk harga dirinya sendiri.

"Apa yang kau lakukan di sini," Kurapika bertanya, berusaha tampil sedingin mungkin.

"Aku bosan di lapangan..." Kuroro berjalan mendekati Kuraika, dan mengambil bola basket yang ada di sana.

Kurapika memperhatikan Kuroro dengan seksama. Lelaki itu nampak memantulkan bolanya beberapa kali, lalu tatapan misteriusnya berpindah ke keranjang basket. Tatapannya fokus, bagaikan tatapan singa yang sedang mencari titik kelemahan lawannya. Tangannya terangkat, mengambil pose siap melempar, dan, bola itu pun melayang, memasuki keranjang lalu jatuh, akibat tertarik oleh gravitasi bumi.

Tersirat sedikit kekaguman di hati Kurapika. Kuroro tidak hanya tampan dan cerdas. Tetapi lelaki itu juga keren, type lelaki yang sangat banyak disukai oleh para gadis.

"Mau kuajari?" pertanyaan itu sukses membelalakkan mata Kurapika. Gadis itu menatap Kuroro dengan tatapan tidak percaya. Apa katanya? Kuroro menawarinya bantuan? Yang benar saja.

Tatapan tidak percaya itu lalu beralih, menjadi tatapan curiga. Kuroro yang menyadarinya hanya memutar bola matanya dengan malas. "Ya sudah, kalau tidak mau,"

"Hei! Aku tak pernah menolak 'kan!?" Kurapika segera berdiri dari duduknya. Entah mengapa jiwa yang tadinya lesu itu pun kembali bersemangat.

Kuroro hanya tersenyum tipis, lalu melemparkan bola basket itu pada Kurapika. Gadis itu menangkapnya dengan sigap. Kuroro pun mengajari Kurapika cara bermain basket, mulai dari dasar, hingga prakteknya.

Gadis itu dengan cepat bisa menangkap apa yang dijelaskan oleh Kuroro, namun tidak bisa mempraktekkannya dengan baik. Beberapa kali ia hampir mencium lantai, akibat menginjak bolanya sendiri. Untunglah Kuroro dengan sigap menangkap tubuhnya, yang sukses membuat jantung Kurapika berdebar begitu keras.

Tibalah, saat gadis itu harus melempar bola ke keranjang. Ternyata jauh dari yang diharapkan oleh Kuroro. Terkadang bola itu melambung terlalu tinggi, terkadang pula terlalu rendah. Gadis yang satu ini tidak bisa mengontrol kekuatannya dengan baik, pikir Kuroro.

Lelaki itu memperhatikan tiap gerakan Kurapika. Jika ada lelaki yang melihatnya sedang bermain basket, wajah mereka pasti memerah. Jika dilihat, tubuh gadis itu sangat atletis—bagi perempuan. Ia tinggi, tegap, dan terlihat begitu keras, meski agak kurus. Begitu Kurapika melempar untuk yang kesekian kalinya, bola itu malah tidak sampai menyentuh ring. Kurapika jadi berdecak sebal dibuatnya.

Di mata para lelaki—yang MUNGKIN juga—termasuk Kuroro, Kurapika yang bermain basket seperti itu terlihat begitu, err... seksi. Ditambah dengan keringat yang menetes di dahinya, membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan bersikeras, menahan diri mereka untuk tidak berbuat macam-macam terhadap gadis berwajah dingin itu.

"Coba kau melempar bola itu sekali lagi dengan kekuatan yang sama seperti tadi,"

"Kenap—kyaaaa!" belum sempat Kurapika bertanya, ia langsung diterkejutkan begitu Kuroro, yang bisa kita sebut sebagai 'majikan'nya memeluknya, dan mengangkatnya setinggi-tingginya. Jika seseorang melihat mereka seperti ini, mereka pasti akan pingsan dengan hidung yang mengeluartkan darah segar. Ayolah, saat ini kedua insan itu nampak seperti sepasang pengantin baru yang bahagia.

"A—Apa yang kau lakukan!? Turunkan akuu!" Kurapika berteriak kencang, tentunya tak lupa dengan wajahnya yang sudah sangat memerah, dikarenakan oleh posisi mereka yang begitu dekat.

"Cepat lempar bolanya," Kuroro berkata malas, seolah tidak mendengar debaran jantung Kurapika yang begitu cepat. Pemuda itu tetap berekspresi datar, menunggu sampai Kurapika mau melempar bola yang ada di pegangannya.

"Aku bisa sendiri! Turunkan aku!" Kurapika meronta dalam gendongan Kuroro, dan hal itu malah membuatnya kehilangan keseimbangan. Hanya dua pilihan. Membiarkannya jatuh, entah kepala, atau bokong yang mendarat di lantai terlebih dahulu, atau refleks memeluk leher Kuroro, agar ia tetap berada dalam tempat yang aman.

Dan Kurapika memilih yang kedua. Kuroro bahkan tidak menduga hal ini akan terjadi. Ia bisa merasakan 'sesuatu yang kenyal' menempel pada bahunya. Kurapika memeluknya erat, takut terjatuh ke lantai dan merasakan sakit. Bola basket yang sebelumnya di pegang gadis itu terjatuh begitu saja di lantai, memantul beberapa kali, hingga menggelinding menjauh.

Mereka berada dalam posisi itu untuk waktu yang cukup lama. Keduanya diam mematung, saling menghirup aroma masing-masing. Kurapika memiliki aroma manis, yang tercium seperti aroma teh mint segar. Sedangangkan Kuroro beraroma mint, sukses membius Kurapika dalam pesona lelaki itu. keadaannya yang berkeringat membuat aroma maskulinnya semakin kental.

"Ehm," Kuroro berdehem sebentar, mencoba untuk menyadarkan gadis yang saat ini dipeluknya.

Dan hal itu berhasil. Kurapika langsung memisahkan dirinya dari Kuroro, meski tangannya masih mencengkram pundak lelaki itu. Yah, setidaknya mereka tidak sedekat tadi... Tak bisa dibayangkan, betapa merahnya wajah gadis itu sekarang. Kuroro berupaya menahan tawanya, melihat ekspresi Kurapika saat ini.

Ia lalu menurunkan gadis itu, kembali ke lantai. Kurapika menunduk, menyembunyikan ekspresinya. Dan wajahnya terangkat, begitu Kuroro mengangkat dagunya.

"Mau mencari kesempatan dalam kesempitan?" lelaki itu mencoba menggodanya.

"Enak saja! Kau yang mengangkatku duluan!" Kurapika berujar marah. Ia belum bisa menetralkan detak jantungnya, serta desiran darahnya yang bagaikan arus sungai yang derasnya minta ampun.

Kuroro hanya meresponnya dengan senyuman tipis."Kuprediksikan, timmu pasti akan kalah dalam pertandingan basket kali ini," ucapnya dengan nada mengejek.

"Aku tahu! Tapi apa salahnya aku berusaha?"

Kuroro nampak diam, memperhatikan gadis di depannya dengan seksama. Kurapika yang merasa diperhatikan mulai merasa risih, lalu menatap lelaki itu dengan tajam. "Apa yang kau lihat!?"

"Mana ikat kepalamu?"

Pertanyaan itu menyadarkan Kurapika. Gadis itu mengangkat tangannya, menyentuh dahinya, dan tidak menemukan kain yang terbalut di sana. Matanya membelalak kaget. "Ah! Mungkin tertinggal di kelas," ucapnya berusaha menghibur diri.

"Cepat ambil, sebelum hilang,"

"Memang apa pentingnya?"

"Bukannya kau ingin menukarkannya dengan orang yang kau sukai usai pekan olahraga ini?" ujar Kuroro, seraya menyeringai nakal. Ia pun memutar badannya, meninggalkan tempat itu. meninggalkan Kurapika dalam keheningan.

.

.

Tiba saatnya pertandingan basket. Setiap kelas diutus sepuluh orang. Lima untuk putra, dan lima untuk putri untuk bertanding. Tidak memandang itu kelas satu, dua atau pun tiga, semuanya bersaing untuk memperoleh kejuaraan.

Untuk basket putra, dua tim yang berhasil adalah kelas 3-A, dan kelas 3-C. Mereka bertanding dengan hebat, mengalahkan tim lawan satu-persatu. Hingga akhirnya babak final, saat kedua tim hebat itu harus bertanding.

"KYAAAAA!" pekikan-pekikan terdengar memekakan telinga, begitu kelas 3-A yang beraksi. Mereka bermain dengan begitu kerennya, membuat siapa pun menjadi terpesona. Dan yang paling menjadi bintang utamanya adalah, lelaki yang sedang memegang bola itu.

Dia! Kuroro Lucifer! Pemuda itu nampak menggiring bola, dengan tatapan dinginnya, yang sukses mengundang teriakan hsiteris dari para gadis yang melihatnya. Ia melempar bola itu kepada teman setimnya, dan menerimanya kembali. Keringat menetes di dahinya, membuatnya nampak semakin keren.

Pemuda itu melirik sekilas ke arah penonton, dan ia tak mendapati orang yang dicarinya di sana. 'Mungkin dia sedang latihan bersama teman-temannya,' pikirnya.

Sayangnya kosentrasinya teralihkan, membuat bola merah yang muda memantul itu berpindah ke tangan lawan. Aksi saling merebut bola ala pemain basket pun berlangsung menegangkan,

Dan pertandingan pun berakhir, dengan skor 9-1 untuk kelas 3-A. Semua gadis langsung mendatangi para senior itu, memberikan pujian-pujian kekaguman yang sangat berlebihan.

Pandangan Kuroro lalu tertuju pada sesosok gadis berambut pirang, yang saat ini sedang berbincang dengan teman-temannya. Sesekali ia tersenyum tipis, sesekali juga ia cemberut. Ekspresi yang disukai oleh lelaki itu.

Tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu. Kuroro lalu memberikan senyuman. Senyuman meremehkan, seolah ia sedang berkata 'Bagaimana? Aku hebat bukan?' Kurapika hanya membalasnya dengan menatap Kuroro dengan mulut yang sengaja dimanyunkan membentuk sebuah ekspresi cemburut di wajah gadis itu, yang membuat lelaki mana pun yang melihatnya pasti tak tahan untuk memeluknya—minus Kuroro.

.

.

Sayangnya Kurapika tak sehebat, atau lebih tepatnya tak seberuntung Kuroro. Timnya kalah, pada pertandingan pertamanya, dan yang lebih memalukannya, mereka dikalahkan oleh siswi-siswi kelas 1! Semuanya menggerang kecewa, mengingat kelas 2-A, adalah salah satu kelas, yang memiliki mayoritas siswi cantik dan populer, setelah dilakukan survei entah oleh siapa, kapan, di mana, dan bagaimana.

Kurapika hanya berekspresi datar. Ini hanya permainan. Tapi ia tak suka kalah, apalagi saat melihat ekspresi mengejek dari pria yang paling dicintainya itu. Rasanya gadis itu ingin memukul wajah tampan itu, agar pria itu tak bisa tersenyum lagi.

Ia menghela nafas panjang, teringat akan perkataan Pakunoda kemarin. Jika dirinya kalah, maka Kuroro bukan miliknya lagi. Ralat! Ia bukan milik Kuroro lagi, dan Kurapika tak menginginkannya. Sayangnya, ini adalah perlombaan terakhir yang diikuti Kurapika, sehingga gadis itu tak memiliki peluang apa-apa.

Tidak bertemu kepada orang yang disukainya, dan melihatnya bersama gadis yang disukai orang itu membuat Kurapika menjadi risih. Ia tahu, sikapnya kali ini benar-benar egois, dan juga... picik. Tapi ini bukanlah drama picisan, yaitu ketika seseorang merelakan orang yang dicintai dan dikasihinya, demi kebahagiaan orang itu. Ini adalah kehidupan remaja biasa! Cinta pertamanya. Hal yang datang sekali seumur hidup!

Kuroro lah orang yang telah menyelamatkan nyawanya, Kurorolah yang telah mengalirkan kehidupan pada dirinya. Berbagai masalah menimpa Kurapika, dan Kuroro selalu ada di sana untuk menolongnya, seolah mengetahui tiap gerak-gerik gadis itu. Lelaki itu telah mengajarkan sesuatu yang selama ini dianggapnya lelucon bodoh, yang dipercaya banyak, bahkan seluruh orang di seluruh dunia. Cinta.

"Awas!"

BUK!

"Kurapika!"

Kepala gadis itu terhuyung-huyung, begitu merasakan sebuah benturan keras di wajahnya. Bola basket yang baru saja berciuman dengan wajah Kurapika itu terjatuh ke lantai, setelah meninggalkan 'jejak' di wajah mulus gadis itu. Darah mengalir melalui hidungnya, membuatnya hampir kehilangan kesadarannya.

Untunglah Neon dengan sigap menahan tubuhnya, sebelum gadis itu terjatuh di lantai, merasakan benturan untuk yang kedua kalinya.

"Kurapika! Kau baik-baik saja?" Neon berujar khawatir, seraya melepaskan gadis itu, menyadari pergerakan Kurapika yang mencoba untuk kembali berdiri.

Kurapika menggosok atas bibirnya, menepis darah dari sana, sebelum masuk ke mulutnya yang mungil. "Aku tidak apa-apa. Aku mau membersihkannya dulu," ucapnya, seraya berjalan cepat, menuju toilet sekolah itu.

.

.

Gadis itu menyalakan kran westafel, lalu menundukkan kepalanya di bawah pancuran air itu, membiarkan seluruh kepalanya basah oleh air yang dingin itu.

Ia mengutuk dirinya, karena kehati-hatiannya kurang. Hidungnya masih terasa sedikit nyeri, akibat benturan yang cukup keras tadi. Tentu saja sangat keras! Jika orang lain yang terkena bola itu, dia pasti akan langsung pingsan di tempat. Tapi Kurapika masih bisa bertahan, dan berjalan sendiri. Ia tidak mau merepotkan orang lain. Ia tak mau berhutang budi pada orang lain, karena ia takut tak akan bisa membayarnya kelak.

Hutang harus dibayar. Prinsip itulah, yang membuatnya harus terjerat dalam permainan seorang Kuroro Lucifer. Rasa bertanggung jawabnya terlalu besar, dan ia harus membayar hutang budi lelaki itu dengan menjadi anak buahnya sampai ia lulus SMU. Hanya membutuhkan beberapa bulan saja, lelaki itu sudah menarik hati Kurapika, dengan kebaikan hatinya yang selalu saja tertutupi oleh wajah datar itu.

"Payah,"

Suara bariton yang sudah sangat familiar itu menyadarkan lamunan gadis itu. segera ia menoleh, dan langsung disambut dengan handuk yang menutupi seluruh kepalanya.

Kuroro menggosok, tepatnya mengeringkan rambut gadis itu, seperti seorang ayah pada putrinya. Kurapika hanya terdiam untuk beberapa saat, hingga ia tersadar sesuatu.

"Apa yang kau lakukan di sini!?" tanyanya seraya menahan tangan kekar lelaki itu, agar tak bergerak lebih jauh lagi.

Kuroro pun menarik handuk itu, dan menyerahkannya pada Kurapika. seolah memberi instruksi agar gadis itu menggosok sendiri. "Kebetulan lewat saja," jawabnya, yang jelas-jelas bahwa saat itu dia sedang berbohong. Kuroro sengaja ke sini untuk mendatanginya, dan Kurapika tahu hal itu.

Kurapika pun menutupi setengah dari wajahnya, mulai dari hidung hingga dagu dengan handuk pemberian Kuroro. Gadis itu memandang menerawang. Lihat? Ia berhutang budi lagi. Hanya kepada lelaki di depannya ini. "Terima kasih," ucapnya lirih.

Kuroro tak menyahut. Ia hanya diam, mengamati pergerakan gadis itu. Lama Kurapika dalam posisi itu tanpa bergerak sama sekali. Gadis itu semakin menanamkan wajahnya, pada handuk yang dipegangnya.

"Apa..." gadis itu berucap lirih, seraya semakin menanamkan wajahnya. "Apa ada orang yang kau sukai?" tanyanya dengan suara yang tidak jelas, namun hal itu bisa terdengar oleh Kuroro. Lelaki itu membelalakkan matanya, tak percaya dengan pertanyaan gadis di depannya ini.

Kurapika hanya berharap, Kuroro tak menjawab 'Pakunoda.' Ia lebih memilih lelaki itu menjawab 'saat ini tidak ada'. Meski sebenarnya Kurapika ingin Kuroro memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Yah, cinta telah merubahnya menjadi gadis yang egois. Sangat egois.

Lelaki itu lalu menyeringai, menatap gadis di depannya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. "Kenapa kau ingin tahu?" tanyanya dengan nada mengejek.

Kurapika yang menyadari nada suara itu langsung menggeleng cepat. Diserahkannya handuk pemberian Kuroro itu, seraya tersenyum terpaksa. "Tidak. Aku hanya ingin tahu saja. Tapi kalau kau tak berniat untuk memberi tahunya, tidak masalah!" ucapnya cepat. Gadis itu menyadari sikapnya yang selama ini benar-benar bodoh. Berharap lelaki sesempurna Kuroro menyukainya? Sungguh naif!

Kurapika segera membalikkan tubuhnya, siap meninggalkan tempat itu. Namun perkataan Kuroro selanjutnya menghentikan langkahnya.

"Ada,"

Gadis itu menoleh tidak percaya, menatap lelaki itu seolah menuntut penjelasan. 'Gadis... yang disukai Kuroro?' Ingin sekali ia menanyakan, siapa orang yang dimaksud pemuda tersebut, namun gengsi serta harga dirinya yang terlalu tinggi menjadi penghalang besar baginya.

"Aaa... Aku mengerti. Aku tidak menyangka, seorang Kuroro Lucifer bisa menyukai seorang gadis," ucapnya seraya tersenyum hambar.

"Kalau begitu aku harus kembali! Sampai nanti,"

"Hei," panggilan Kuroro memaksa Kurapika harus menoleh (lagi). "Usai pekan olahraga nanti, bawakan aku es krim. Mengerti?"

Kurapika mengangkat sebelah alisnya. "Kau suka es krim?"

Kuroro menjawabnya dengan senyuman tipis. "Tidak boleh terlambat," ucapnya seraya berlalu, melewati Kurapika begitu saja, dan meninggalkan toilet itu. meninggalkan Kurapika yang diam mematung di sana.

Gadisitu memegangi dadanya yang sedari tadi bergetar. Tubuhnya mengkhianatinya. Senyuman miris terukir di wajahnya yang cantik. "Bolehkah aku berharap?" gumamnya semakin menunduk.

.

~AM I REALLY HATE YOU?~

.

"Apa maksdumu?"

Kurapika menghela nafas pasrah. "Aku tak bisa memperlakukan Kuroro seperti barang. Perjanjian kita batal,"

Pakunoda masih menatap gadis pirang itu, menunggunya sampai ia melanjutkan kalimatnya. "Aku punya pengakuan. Aku... aku dan Kuroro sama sekali tak memiliki hubungan apa-apa,"

Saat itulah mata wanita berambut pirang sebahu itu membelalak sempurna. Ia bisa saja berkata bahwa ia tidak percaya dengan perkataan Kurapika, namun mata biru gadis itu menunjukkan kejujuran.

"Karena suatu kejadian, aku harus terjebak dalam permainannya. Dan aku tahu, bahwa aku benar-benar terjebak dan tidak bisa lari lagi. Kau boleh mengambil Kuroro, karena kau bilang sejak awal dia adalah milikmu, dan ia bukanlah milikku,"

Senyuman miris terukir di wajah gadis itu. "Tapi apa salahnya, aku juga ikut memperjuangkan orang yang kusukai?"

Setelah mengatakan itu semua, Kurapika pun berbalik pergi, meninggalkan Pakunoda dalam keheningan.

Kurapika mengepalkan tangannya erat, dan memejamkan matanya. Ia tahu, ia telah nekat memilih lawan seperti Pakunoda, juga entah beraparatus gadis yang menyukai lelaki yang disukainya itu.

Ia teringat, akan perkataan terakhir lelaki itu. Kuroro menyukai seorang gadis. Hal itu membuat Kurapika penasaran setengah mati. Dari sekian banyak gadis di dunia ini, lelaki itu hanya menyukai seseorang. Entah itu dirinya, Pakunoda, atau gadis lain. Hal itu membuatnya penasaran setengah mati.

.

~AM I REALLY HATE YOU~

.

"Kenapa aku harus menyatakan perasaanku!?" Kurapika bertanya, seraya mengerutkan kedua alisnya. "Lagipula kau tahu apa, soal perasaanku padanya?"

Neon lalu memasang tampang cemberut, sekaligus memelas, yang sukses membuat Kurapika muak. "Ayolah Kurapikaaa~! Aku tahu, kau menyukai Kuroro-senpai! Pokoknya usai pekan olahraga nanti, kau harus menyatakan perasaanmu padanya!"

Kurapika menghela nafas berat. Inilah ruginya, jika ia menceritakan sesuatu pada Neon. Gadis itu akan bertindak sebagai 'sutradara' yang mengatur segalanya, dan tidak akan menyerah, sebelum keinginannya terkabul. Lagipula... mana mungkin Kurapika menyatakan perasaannya pada Kuroro terlebih dahulu! Harga dirinya akan hancur berkeping-keping, apalagi saat lelaki itu menolaknya. Tapi... hatinya seolah terbagi menjadi dua. Antara gengsi, dan perasaannya. Di sisi lain, ia tak mampu lagi menahan perasaannya, pada lelaki tampan itu. namun sisi lain hatinya selalu mengutamakan harga dirinya yang menjulang tinggi. Ia adalah seorang Kurapika Kuruta, ingat?

"Aku tidak bisa Neon. Aku bahkan tidak yakin, kalau aku menyukainya," ucapnya berat.

Neon nampak memutar bola matanya. "Kau menyukainya," ucapnya malas. "Dan kau tak pernah peduli akan hal itu,"

"Aku..."

"Terserah, apa katamu. Tapi kau tahu, aku sangat senang, begitu mengetahui bahwa kau ternyata menyukai seorang pria! Aku mendukungmu!" ucap Neon ceria, seraya mengambil ikat kepalanya yang tergeletak di meja, dan meninggalkan kelas itu. "Ganbatte, Pika-chaaaannn!"

Kurapika menatap kepergian Neon dengan pasrah. Ia tak tahu, harus bagaimana lagi. Gadis itu memegangi dadanya, tepat di mana jantungnya berada. Jantung itu... jantung inilah yang memompa darahnya. Darahnya yang bercampur dengan darah Kuroro, lelaki yang pernah sangat dibencinya. Seandainya saat itu, kejadian entah beberapa minggu yang lalu, Kuroro tidak ada dan segera menolongnya dari kecelakaan, Kurapika pasti tak ada di sini sekarang. Ia mungkin sudah berada di sisi ibunya, di alam lain.

Kuroro sangat berjasa baginya.

Gadis itu menghela nafas panjang, seraya mengambil ikat kepalanya yang juga tergeletak di meja. Ia pun bergegas meinggalkan kelas itu, dalam kebimbangan.

.

.

Kurapika sampai di lapangan sepak bola, dengan menjenjeng kantungan plastik yang berisi beraneka macam es krim yang baru saja ia beli.

Pekan olahraga baru saja berakhir. Seluruh siswa sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah, usai bersenang-senang hari ini. Terkecuali beberapa panitia, yang masih tinggal di sekolah untuk membereskan semuanya. Namun ada beberapa siswa juga yang tinggal untuk membantu.

Tidak termasuk lelaki yang di sana. Lelaki yang terbaring di hamparan tanah miring, menggunakan kedua tangannya yang kekar sebagai bantalan. Sinar matahari senja membuatnya terlihat bagaikan karya lukisan pelukis terhebat, yang harga lukisannya selangit.

Tangan kanan gadis itu menggenggam erat ikat kepalanya. Kurapika memang tak percaya akan mitos-mitos murahan seperti itu, tapi... Apa salahnya ia mencoba? Mungkin inilah saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya.

.

.

.

~TO BE CONTINUED~

.

Nyaaaaanggg! :3
Akhirnya chapter ini selesai jugaaaaaa! *sujud syukur*
Natsu seneng banget, akhirnya bisa nyelesein chapter ini!

Yaaahh! Moga hasilnya gak mengecewakan minnaaa! Maklum, Natsu ngerjainnya sambil dikejar-kejar ama yang namanya deadline! DX
Apalagi tanggal 15 nanti bakal diadain IFA khusus HxH indo, yang diselenggarai oleh Pearl-chan (whitypearl), Kaoru-san (October Lynx), dan Sends-san (Sends). Yaaahh... satu keluarga itu emang bikin Natsu puyeng! *dor!*

Minna berparsitipasi yaaahh! Jadi reviewer aja udah cukup kok! X3 *promosi*

Siippp! Beralih ke topik lain, arigato gozaimazu, buat para reader, terutama yang kasih review! *sujud-sujud sambil benturin kepala di lantai* Natsu seneng banget dapat review dari kalian semuaaaaa!~! TT^TT *nangis gaje*

Gomen, Natsu gak sempet balas review bagi yang login lewat PM! Maklum, pulsa modem BENAR-BENAR udah terbatas!

Jadi Natsu balasnya di sini aja yaaahh! :

. Just kurokura lover :
Hhehehehehe! Kalo gitu Natsu manggilnya Jkl-san aja yaaaa! *plakk!*
Arigato udah reviewwww! X'D
Hehehehehe! Rasa penasaran Jkl-san udah kejawab di chapter ini 'kan? X3
Damai? Yaaa... ntar Natsu pikirin deh! XD

. hana-1 emptyflower :
Makasih udah R&R Hana-saaaaaann! XD
Hehehehehe... gomen, di sini nggak ada adegan kiss-nya! XD
Errr... Soal Wareware No Ryōhō, Natsu lagi buntu! DX Saran selalu Natsu terimaaaa!

. 1 :
makasih udah R&R Fadya-saaaan! XD
NOOOO! Kuroro nii is mine! DX *peyuk kuroro nii*

. Mikyo :
makasih udah R&R Mikyo-saaaaaann! XD
* balas peluk**rebut Kuroro nii* Jangan sentuh Kuroro niiiiii! DX
Eumm... soal kemunculan Leo masih jadi pertimbangan!
Soal yang nembak, udah ketahuan 'kan? *smirk* Tapi belum pastiiiii! XD *dilempar ke jurang*
Makasiiiihh! XD

. .Junction :
Errr... pantes aja Natsu cari-cari penname 'JunKun' nggak ketemu-ketemuuuuu! DX
Makasih udah R&R dan C&C Jun-saaaaannn! XD
Tentang iket kepala itu, terinspirasi dari komik 'When Love is Hiding'! Tau gak?
Hahahahahaha! Nggak kok! Buktinya fic Jun-san semuanya Bahasa Inggris! Natsu mah baik Bahasa Inggris, maupun Bahasa Indonesia, semuanya nggak beres! -,-
Natsu mau nanya! Judulnya, bagusnya "Do I Really Hate You' atau "Did I Really Hate You?"? silahkan balas lewat PM, atau paling tidak lewat review selanjutnyaaa! X3

. Gaara Zaoldyeck 'Lucifer :
Makasih udah R&R kirin-saaaaann! XD
Kuroro nii emang tampan! XD *ikut jedotin kepala ke tembok*
Hahahahahahaha! Makasih atas pujiannyaaaa! ^/ / / / / ^

. karata :
Makasih udah R&R Karata-saaaaaann! XD
Errr... Natsu cari-cari 'karatakagamine' tapi kok gak ketemu-ketemu yah? Ato gini aja! Karata-san kasih link profile karata-san aja! Lewat review juga nggak apa-apa!^^ Entar Natsu cari, ok?
Hehehehehehe! Arigatooo! XD

Yosh! Segitu ajaaa! XD Kayaknya Natsu banyak cincong banget yah? Gomen ne, minnaaa! XD

Yosh! Sekarang, bolehkah Natsu minta review anda lagi? Mau ngasih konkrit, kritik, saran, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan senang hati…^^

Lanjut tidaknya fanfic ini, ditentukan dari review kaliaaaannn! X3

Akhir kata, REVIEW PLEASE…

.

~ARIGATO~

NATSU HIRU CHAN