Tittle : LIFE
Cast : Cho Kyuhyun, Choi Minho, Shim Changmin, Choi Siwon, Kim Kibum, Lee Jonghyun, others.
Genre : Brothership and Family.
Warning : Typos, OOC, No Yaoi.
Chapter 9
"Akh. Pelan-pelan, Kyu."
"Diamlah."
Minho menggerutu karena merasakan perih pada tangan dan kakinya yang lecet akibat jatuh. Ia meringis ketika Kyuhyun mulai mengoleskan obat merah pada setiap luka yang berada di tubuh sahabatnya itu.
Mereka kini tengah berada di rumah kontrakan yang kini hanya ditinggali oleh Minho ini. Kyuhyun tadinya ingin membawa Minho ke rumah sakit, namun dengan tegas pemuda itu menolak. Dan dengan terpaksa Kyuhyun membawa Minho ke rumah.
"Sini biar aku saja." Changmin dengan kasar merebut kapas dan obat yang tengah Kyuhyun pegang. Ia mengambil alih untuk mengobati luka Minho. Ia masih kesal karena Kyuhyun hanya memberinya sebuah teks pesan yang bertuliskan untuk mengambil motor miliknya sendiri. Dan yang lebih membuatnya jengkel, motor tersebut dengan manisnya tergeletak di jalan tanpa ada seorangpun di dekatnya. Beruntung motor itu dalam keadaan utuh.
"Kau masih kesal?" Tanya Kyuhyun sangsi.
"Cih. Kau tahu sendiri jawabannya, Cho Kyuhyun." Kyuhyun memutar bola matanya tidak perduli.
"Kenapa kau lakukan itu, Min. Kau sadar kan kalau apa yang kau perbuat itu berbahaya." Keluh Kyuhyun. Ia beralih memandang Minho yang terus saja meringis ketika kapas tersebut menyentuh kulit putihnya.
"Dia terpaksa." Minho menyenggol lengan Changmin kasar tepat setelah Changmin menjawab pertanyaan Kyuhyun.
"Apa maksudmu? Terpaksa bagaimana?"
"Seharusnya kau yang bertanding dengan Jonghyun malam ini. Tapi Minho tidak memberi tahukan padamu. Dan ia memilih untuk menggantikan posisimu." Masih Changmin yang menjawab.
"Shim Changmin."
"Apa?! Aku mengatakan yang sebenarnya Min. Dia berhak tahu." Kilah Changmin.
"Katakan yang sebenarnya, Choi Minho." Minho menelan ludahnya gugup mendengar nada datar dari suara Kyuhyun, lengkap dengan tatapan tajamnya.
"I..itu.. Emm..karena.."
"Karena kau baru sembuh." Potong Changmin. Minho memandang pemuda bertubuh tinggi itu dengan pandangan terima kasih.
"Kau pikir kami bodoh?! Membiarkanmu yang baru keluar dari rumah sakit hanya untuk sekedar balapan." Lanjutnya.
"Tapi aku bisa menundanya. Jangan ambil resiko. Kau belum pernah balapan sebelumnya, menantangnya sama saja dengan cari mati. Lihat apa yang ia perbuat padamu." Ucap Kyuhyun sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Tapi dia memaksa."
"TAPI KAU BISA MENOLAK!"
Minho terkejut bukan main mendengar teriakan Kyuhyun. Bahkan Changmin kaget sampai melempar kapas dan obat yang dipegangnya. Ini pertama kalinya bagi Minho melihat Kyuhyun semarah ini. Bahkan nafas Kyuhyun terdengar tersengal akibat menahan emosi.
"Maaf." Lirih Minho sambil menundukan kepalanya.
"Aish." Kyuhyun mengusap wajahnya kasar. Ia merasa sangat marah saat ini, baru satu hari ia tidak tinggal satu atap dengan Minho. Tapi ia sudah berani melakukan hal yang di luar batas bagi Kyuhyun.
"Sudah. Changmin pulanglah. Biarkan Minho beristirahat." Lanjutnya. Changmin menganggukan kepalanya dan bergegas mengambil tas dan memakai sepatunya kembali.
"Lalu kau?" Tanya Minho bingung.
"Tentu saja akan menginap. Kau pikir aku akan membiarkanmu sendirian dalam keadaan seperti itu?" Jawab Kyuhyun tegas.
"Lalu bagaimana dengan ke.."
"Kyuhyun-ah!"
Pertanyaan Minho terputus dengan suara berat dari dua orang pemuda yang baru saja memasuki rumah kecilnya. Wajah Kyuhyun terlihat pucat ketika mengenali siapa pemilik dari suara berat itu.
"Beraninya kau pergi sendiri dan tidak memberi tahu kami."
"Kau baru saja keluar dari rumah sakit dan sudah berani kabur malam-malam."
"Pikirkan kesehatanmu, Kyuhyun."
Suara kedua orang itu bergema di telinga tiga pemuda lainnya. Changmin mencoba tidak perduli dan langsung pergi dari rumah tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Bagaimana bisa..."
"Kami tadi sempat berputar-putar mencarimu. Tapi akhirnya kami menyadari kalau kau pasti berada di sini." Salah satu pemuda berucap. Wajahnya terlihat lega ketika melihat seseorang yang sedari tadi dicarinya itu dalam keadaan baik.
"Kau terluka, Minho-ssi?"
"Ah. Tidak apa, hanya kecelakaan kecil saja Siwon-ssi."
Kyuhyun memandang Siwon dan Kibum yang baru saja datang itu dengan heran. Ia sempat berpikir kalau mereka akan langsung menyeretnya keluar dari rumah yang sempat ditinggalinya selama bertahun-tahun itu, namun ternyata tidak terjadi.
"Kyu, kau mau pulang atau menginap?" Tanya Kibum.
"Ne?" Kyuhyun bertanya seolah tidak percaya dengan tawaran hyung keduanya itu.
"Kau mau menginap atau pulang bersama kami?" Ulang Kibum.
"Bolehkah?" Tanya Kyuhyun sangsi.
"Kenapa tidak boleh." Jawab Siwon sambil mengacak rambut Kyuhyun.
"A..ku mau menginap." Baik Siwon dan Kibum langsung menganggukan kepala mereka.
"Baiklah. Tapi bagaimana dengan sekolahmu besok?" Tanya Kibum.
"Aku bisa pakai seragam milik Minho. Dan buku pelajaran bisa pakai punya Minho juga."
"Ya sudah. Kalau begitu kami pulang dulu. Minho-ssi, cepat sembuh ya." Minho tersenyum canggung mendengar ucapan Siwon. Ia sempat berpikiran sama seperti Kyuhyun tadi, namun ternyata semua diluar pemikirannya.
"Tidurlah, Min." Perintah Kyuhyun ketika kedua hyungnya telah meninggalkan rumah kecil itu.
"Mereka baik." Ucap Minho pelan. Kyuhyun mengerutkan alisnya bingung dan menatap Minho meminta penjelasan.
"Aku pikir mereka akan menyeretmu paksa keluar dari rumah ini. Tapi ternyata mereka mengizinkanmu untuk menginap." Jelas Minho.
"Itu taktik mereka. Salah satu jalan supaya aku bisa menerima mereka." Ucap Kyuhyun.
"Bukankah itu bagus? Mereka memperlakukanmu dengan baik. Kurasa memaafkan mereka bukan hal yang sulit."
"Diam Choi Minho. Masuklah ke kamar. Aku akan menyusul setelah membereskan perlengkapan ini." Minho menurut dan langsung masuk ke kamarnya. Sementara Kyuhyun membereskan perlengkapan yang tadi digunakan untuk mengobati luka-luka Minho.
Setelah semua barang sudah kembali ke tempat semula, ia mulai memasuki kamar yang ia bagi bersama Minho. Dilihatnya Minho sudah menutup kedua matanya dengan posisi menyamping membelakangi tempat tidur Kyuhyun. Tanpa banyak bicara, Kyuhyun pun langsung merebahkan tubuhnya di kasur miliknya.
"Aku tidak suka keadaan seperti ini, Min." Kyuhyun seakan tahu kalau Minho belum benar-benar tidur. Ia berucap tanpa mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamarnya.
"Aku menerima keputusanmu untuk membiarkanku tinggal bersama kedua orang itu. Tapi bukan berarti kita seperti ini. Aku merasa seperti orang lain saat bertemu denganmu lagi." Kyuhyun terus berucap, tidak ia perdulikan Minho yang terus menutup kedua matanya dan bertingkah seakan-akan telah tertidur.
"Banyak hal yang tidak kuketahui di dunia ini. Seperti alasanmu membiarkanku pergi, Jonghyun yang terus saja bersikeras mengalahkanku, Changmin yang tidak akur dengan kedua orang tuanya, dan banyak lagi hal yang tidak ku ketahui tentang orang-orang di sekitarku." Kyuhyun memberi jeda sebentar.
"Dan aku membencinya. Aku seperti tidak berguna untuk kalian. Bahkan kau selalu bilang kalau selama ini kau adalah beban untukku. Bukankah itu sama saja dengan kerja keras yang selama ini kulakukan untukmu hanya sia-sia. Aku selalu menganggapmu sebagai bagian dari keluargaku, sedangkan kau menganggapku sebagai penopang hidupmu." Kyuhyun tersenyum miris saat mengucapkannya.
"Tapi aku tidak perduli. Aku ini orang yang keras kepala. Karena kau adalah alasanku untuk tetap hidup sampai sekarang. Tapi saat mendengar kau mengambil keputusan untuk menyerah, sempat terbesit dalam pikiranku untuk mengakhiri hidup ini. Rasanya saat orang yang satu-satunya kau miliki di dunia ini sudah tidak menginginkanmu lagi, perasaan sama yang kurasakan 12 tahun yang lalu."
"Sesak dan... Sakit." Kyuhyun memegang dada kirinya.
"Tapi aku memilih bertahan. Karena aku orang yang egois. Aku tidak perduli apa anggapanmu tentangku selama ini." Kyuhyun membalikan badannya ke samping membelakangi Minho.
"Aku akan selalu menganggapmu sebagai keluargaku. Seorang adik kecil yang akan kujaga selamanya. Walau kau menolak." Kyuhyun menutup kedua matanya setelah menyelesaikan ucapannya dan mulai masuk ke alam bawah sadarnya.
Meninggalkan Minho yang kini wajahnya telah basah akibat air yang tidak berhenti keluar dari kedua matanya. Bahkan ia sampai berusaha keras tidak mengeluarkan isakan dari mulutnya. Bibirnya sedari tadi tidak berhenti mengucapkan kata 'Maaf' yang sayangnya tidak bisa didengar oleh Kyuhyun.
...
"Hoamm"
Changmin keluar dari kamarnya masih dengan keadaan lusuh dan berantakan. Tangannya sibuk mengacak-acak rambutnya yang memang sudah tidak teratur. Ia melirik jam dinding yang tergantung di rumahnya. Dan ia membelalakkan matanya ketika melihat jarum pendeknya telah berada di angka 6.
"Aish. Kesiangan!" Keluhnya sambil melangkahkan kakinya ke dapur.
"Pagi Minnie." Sebuah sapaan hangat menyambutnya di perjalanannya menuju dapur. Di meja makan kini terlihat Ibunya yang sibuk mengolesi selai pada roti yang di tangannya. Sementara sang Ayah tengah sibuk membolak-balikan koran pagi di tangannya.
"Kalian..."
"Cepat mandi. Lalu kita sarapan bersama." Ucap sang Ibu lembut. Changmin masih setia diam di tempatnya karena masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya seakan ia merasa masih di alam mimpi.
"Cepat. Nanti kau terlambat." Suara berat dari sang Ayah memecahkan lamunan Changmin. Ia membatalkan niatnya untuk mengambil air mineral di dapur dan memilih untuk langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama bagi Tuan dan Nyonya Shim untuk menunggu anak tunggal mereka selesai bersiap. Kini Changmin telah memakai seragam sekolahnya lengkap dengan tas punggung dan jaket yang menutupi tubuhnya.
"Nah. Ini sarapanmu." Kata sang Ibu sambil mengangsurkan sebuah piring berisii roti dengan selai coklat di tengahnya. "Eomma tidak tahu apa rasa selai kesukaanmu. Tapi Eomma harap kau menyukai yang satu ini." Lanjutnya.
"Eomma..Appa." Panggil Changmin. Sang Ibu menghentikan kegiatan makannya sementara sang Ayah melipat korannya. Kini pandangan mereka teralih pada Changmin yang tengah menunduk.
"Gomawo." Gumam Changmin pelan. Namun masih bisa didengar oleh kedua orang tuanya.
"Untuk apa? Seharusnya kami meminta maaf karena selama ini kami tidak pernah menyisakan waktu untukmu. Bahkan hanya untuk sekedar sarapan." Nyonya Shim yang berada tepat di sebelah Changmin memegang tangan anaknya dengan lembut.
"Eommamu benar. Sekarang lebih baik kau habiskan sarapanmu, jangan sampai kau terlambat." Ucap sang Ayah. Changmin mengangguk dan mulai memakan sarapannya dengan senyum bahagia yang bertengger di bibirnya.
"Aku berangkat sekolah dulu." Pamit Changmin pada kedua orang tuanya setelah menghabiskan roti di piringnya. Sang Ibu bangkit dari kursinya dan merapikan rambut serta pakaian Changmin.
"Cha. Hati-hati di jalan. Jangan terlalu cepat melajukan motormu." Titahnya. Changmin menganggukan kepalanya dan sedikit membungkukkan badannya pada sang Ayah yang dibalas dengan sebuah senyuman.
Changmin keluar dari rumah mewahnya dengan perasaan bahagia dan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya. Ia kemudian mengeluarkan motornya dari garasi dan mulai melajukan motornya dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya. Ia tidak perduli kalau ia akan terlambat nantinya, perasaannya terlalu senang pagi ini.
...
Kibum POV
Pagi hari pertama bagiku berada di rumah Siwon hyung. Kakakku yang selama ini menjadi saingan bisnisku dan juga saingan dalam merebut hati Kyuhyun. Tapi itu dulu, kini aku dan dia sudah saling memaafkan dan memutuskan untuk berusaha menjalin sebuah keluarga yang telah terbengkalai akibat masalah masa lalu.
Aku ingin memperbaiki hubungan kakak adik yang telah terpecah selama bertahun-tahun ini. Walaupun Kyuhyun masih belum mau mengakui dan menerima kami kembali. Namun kami yakin seiring berjalannya waktu semua akan kembali seperti semula. Ya aku harap begitu.
"Pagi hyung." Sapaku ketika melihat Siwon telah siap dengan baju formal dan tas yang tergantung di tangannya.
"Pagi Kibum." Balasnya sambil tersenyum. Ia kemudian mendudukan tubuhnya di sampingku dan menatapku lekat.
"Apa tidak sebaiknya kita menjemput Kyuhyun? Ia baru sembuh, lebih baik tidak usah sekolah dulu." Ucapku. Siwon hyung tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Biarkan saja. Lebih baik kita tidak terlalu memaksanya." Jawabnya. Aku menghembuskan nafas dan menundukkan kepalaku.
"Kenapa?" Tanya Siwon hyung.
"Aku hanya merindukannya." Siwon hyung kemudian menyampirkan tangannya di bahuku dan mengelusnya pelan.
"Kita tidak boleh egois. Kejadian ini masih berat untuk Kyuhyun, biarkan semua mengalir apa adanya. Yang kita lakukan adalah meyakinkannya kalau kau dan aku benar-benar menginginkan ia lagi."
Aku terdiam memikirkan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Dia benar. Siwon hyung benar. Aku tidak boleh egois lagi seperti dulu. Seharusnya aku bersyukur karena setidaknya Kyuhyun mau tinggal bersama kami walaupun sifatnya masih acuh dan dingin.
"Kau benar Hyung. Maaf aku terlalu egois." Sedetik berikutnya aku merasakan dua buah tangan kekar memelukku erat. Hangat dan nyaman. Walaupun aku tidak membalas pelukannya, namun aku sangat menyukai pelukan darinya.
"Tidak. Jangan ucapkan kata yang seharusnya keluar dari mulutku. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi hyung terbaik untuk kalian."
.
.
.
Author POV
Changmin berjalan dengan riang menuju ruang kelasnya. Ia bersiul senang sepanjang perjalanan, tidak lupa dengan senyum manis nan lebar yang bertengger di bibirnya. Bahkan tidak ia perdulikan pandangan dan cibiran aneh dari beberapa teman sekolah yang berada di sekitarnya. Ia terlalu senang hingga tidak memperdulikan orang lain.
"Sepertinya ada yang sedang bahagia."
Sebuah suara menghentikan siulan Changmin, ditengokan kepalanya ke belakang dan senyumnya semakin melebar ketika melihat sahabatnya itu tengah menatapnya.
"Yo Minho." Tanpa sungkan Changmin menaruh satu tangannya menyampir di pundak Minho.
"Aku sedang senang pagi ini. Nanti akan kuceritakan." Ucapnya masih tersenyum.
"Baguslah." Tanggap Minho pendek. Changmin mendengus kesal melihat reaksi biasa dari sahabatnya itu.
"Eh ngomong-ngomong kemana Kyuhyun? Apa dia masih sakit? Lalu bukankah kau yang seharusnya beristirahat?" Tanya Changmin beruntun. Ia baru menyadari kalau cara berjalan Minho hari ini sedikit berbeda.
"Aku baik-baik saja. Hanya kakiku sedikit susah untuk di ajak berjalan. Selebihnya hanya luka biasa." Jawab Minho. Changmin menganggukan kepalanya mengerti.
Tidak terasa kini mereka sudah sampai di kelas yang biasa mereka tempati. Setelah menaruh tas di meja masing-masing, Changmin baru sadar kalau ada pertanyaannya yang belum terjawab oleh Minho.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Keluh Changmin.
"Yang mana?"
"Kyuhyun."
Bukannya menjawab, Minho justru tersenyum penuh arti. Matanya menerawang ke atas seperti sedang membayangkan sesuatu. Changmin melihat sahabatnya itu dengan alis berkerut. 'Gila' mungkin itu satu-satunya kata yang terlintas di kepalanya.
"Ya!" Kesal, Changmin menepuk kepala Minho cukup keras. "Kenapa malah tersenyum bodoh seperti itu?!" Minho mengelus kepalanya dan bercemberut ria.
"Aku sedang membayangkan seperti apa wajah Kyuhyun ketika ia tahu apa yang ku perbuat padanya pagi ini."
"Memang apa yang kau lakukan? Meninggalkannya lagi?" Minho menggelengkan kepalanya sambil menatap Changmin.
"Kau tahu kan aku melarangnya untuk balapan lagi karena ksesehatannya?" Changmin menganggukan kepalanya sekali.
"Aku berusaha untuk mencegahnya pergi."
"Caranya?" Tanya Changmin bingung.
"Mengurungnya."
.
.
.
Di sebuah tempat yang berantakan dan lusuh, Lee Jonghyun menatap ponsel di tangannya dengan kesal. Berkali-kali ia menekan-nekan layar ponselnya dengan gusar, namun tidak sedikitpun mengurangi raut wajahnya yang mengeras.
"Bagaimana bisa habis?!" Teriaknya kesal. Beberapa orang yang berada di sana memandang Jonghyun dengan heran.
"Apa ada masalah dengan Cho Kyuhyun itu lagi?" Tanya salah satu temannya.
"Bukan. Ini lebih parah. Coba kau lihat ini." Jonghyun menunjukkan layar ponselnya pada temannya itu.
"Wah. Orang tuamu berhenti mengirimkan uang padamu lagi, huh? Kalau segitu hanya cukup untuk taruhan 2 kali." Ucap temannya santai.
"Sepertinya mereka mengetahui kalau selama ini aku gunakan uang mereka untuk taruhan. Dan mereka mulai menghentikan mengirimkanku uang lagi." Jonghyun masih menatap kesal layar ponselnya yang menunjukkan jumlah rekening bank miliknya yang hanya tinggal beberapa ratus ribu won saja.
"Kudengar lawanmu itu jadi anak orang kaya." Ucap teman Jonghyun yang lainnya.
"Cih. Dia saja bekerja di café dan tinggal di kontrakan kecil. Bagaimana bisa kau menyebutnya orang kaya?"
"Haha. Kau belum tahu rupanya. Kemana saja kau? Dia itu sebenarnya adik kandung dari keluarga Choi Siwon, pemilik dari perusahaan kontraktor yang sangat besar." Jonghyun menautkan alisnya bingung. Pasalnya ia sama sekali tidak terlalu tahu tentang kehidupan pribadi Kyuhyun.
"Begitukah? Kau cari tahu tentangnya. Sementara aku akan mencari cara untuk mengalahkan dia nanti malam." Teman-teman Jonghyun menganggukkan kepala mereka. Sementara Jonghyun menampilkan sebuah smirk di bibirnya.
.
.
.
BRUK BRUK
Entah untuk sudah keberapa kalinya seorang pemuda menendang pintu kamarnya sendiri. Bahkan kakinya sudah terasa nyeri akibat perbuatannya sendiri. Kata-kata umpatan meluncur mulus dari mulutnya.
Siapa yang tidak kesal ketika kau mencoba membuka pintu kamarmu dan menemukan fakta bahwa pintu tersebut telah dikunci dari luar. Sekeras apapun ia berusaha menendang tetap saja tidak membuahkan hasil.
"Choi Minho…"
Kyuhyun –sang pemuda- kaget ketika dirinya terbangun dan tidak mendapati Minho di sampingnya. Lalu jam di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dan kekesalannya memuncak ketika mendapati ia tidak bisa membuka pintu kamarnya sendiri. Jendela kamar pun sudah tertutup dengan sempurna tanpa bisa dibuka.
Dan kemarahannya semakin menjadi ketika mendapati dua piring berisi nasi dan lauk pauk yang tergeletak manis di meja. Ia semakin yakin kalau ini semua ulah Minho yang mungkin berniat melarangnya untuk balapan lagi malam nanti.
"Aish.." Kyuhyun mengacak rambutnya kasar. Sudah berjam-jam ia terkurung seperti ini. Ponsel miliknya pun tidak ada di tangannya. Yang ia lakukan sedari tadi hanya diam tiduran dan menendang-nendang pintu malang tersebut.
"Ya Minho! Tunggu aku!"
Sebuah suara nyaring milik Changmin membuat Kyuhyun menempelkan daun telinganya ke pintu. Ia yakin kalau Minho sudah kembali pulang dan bersama Changmin.
DOKK DOKK
"YA! Choi Minho! Buka pintunya!" Kyuhyun berteriak sekuat tenaga sembari mengedor-gedor pintu kamarnya.
"Wah ternyata kau benar, Min. Tega sekali kau mengurungnya seperti ini." Suara Changmin memenuhi pendengaran Kyuhyun.
"Diamlah Kyu. Percuma kau berteriak sekencang apapun, tidak akan mempengaruhiku." Ucap Minho santai. Ia yakin tanpa berteriak pun Kyuhyun sudah bisa mendengarnya.
"Kau ini kenapa sih? Kalau begini sama saja kau memperlakukanku seperti kedua orang itu." Kyuhyun yang sudah mulai lelah memilih untuk duduk bersandar di pintu kamar. Kaki dan tangannya terasa sakit akibat usaha sia-sianya.
"Aku hanya melarangmu untuk balapan lagi. Hargai keinginanku, Kyu."
"Tapi ini untuk yang terakhir kalinya. Aku berjanji tidak akan meladeninya lagi setelah ini."
"Kau baru saja keluar dari rumah sakit dan sudah mau balapan lagi. Dimana pikiranmu huh?" Tanya Minho tajam.
"Kau pikir salah siapa aku sampai melakukan ini? Siapa yang sok tahu dengan bodohnya menerima tantangan seorang Lee Jonghyun. Yang bahkan sama sekali tidak punya pengalaman apapun."
"Aku punya alasan kenapa sampai menggantikanmu." Kilah Minho. Changmin hanya bisa diam menanggapi pertengkaran mulut antara kedua sahabatnya itu.
"Apa? Beritahu aku. Kalau ini bersangkutan denganku, kau harus memberitahukannya padaku."
"Kau hanya perlu mengikuti keinginanku. Kalau ku bilang tidak boleh ya tidak boleh!" Kyuhyun menggertakan giginya kesal. Bukankah kemarin Minho sudah menyerah, lalu kenapa ia bersikap seperti ini.
"Aku akan menghubungi kedua hyungmu dan meminta mereka untuk menjemputmu. Dan tidak lupa memberitahu mereka tentang niatmu untuk bertanding malam nanti." Kyuhyun menelan ludahnya keras. Dipastikan ia tidak akan bisa kemana-mana ketika kedua kakaknya itu mengetahui kalau ia akan melakukan balap liar.
"Ayo Chang. Antar aku." Kyuhyun mengerutkan dahinya bingung ketika mendengar Minho meminta Changmin mengantarkannya. "Kau mau kemana?" Tanya Kyuhyun setengah berteriak.
"Kerja di café tempat kau dulu." Jawab Minho ringan. Tidak mengetahui kini wajah Kyuhyun yang mengeras menahan emosi. Ia tidak tahu kalau Minho sampai bekerja setelah tidak tinggal bersamanya lagi.
Setelahnya terdengar bunyi motor yang semakin lama suaranya semakin hilang melesat meninggalkan rumah kontrakan kecil itu. Kyuhyun menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan keras.
.
.
.
TOK TOK
Seorang pemuda kisaran umur 28 tahun mengalihkan pandangannya dari layar laptop di hadapannya menjadi pada sebuah pintu di depannya.
"Masuk." Ucapnya sedikit nyaring.
Tanpa menunggu waktu lama seorang wanita berbusana fomal masuk dan membungkukkan badannya pada pemuda tersebut.
"Ada yang ingin bertemu dengan anda, Sajangnim." Ucap wanita tersebut sopan.
"Siapa?" Tanya sang pemuda.
"Choi Siwon-ssi." Sang pemuda mengerutkan dahinya bingung, namun tetap menyuruh wanita tersebut untuk memperilahkan tamunya untuk masuk.
Selang beberapa detik, masuklah seorang pemuda tampan nan tegap ke ruangan yang bertuliskan 'President' di pintunya.
"Kita pulang sekarang, Kibum." Tanpa memberi salam pada sang pemuda yang ternyata Kibum, Siwon langsung menyuruhnya untuk pulang.
"Ada apa?" Tanya Kibum bingung.
"Kita jemput Kyuhyun di rumah Minho." Tanpa menunggu waktu lama, Kibum segera bangkit dan berjalan keluar dari ruangannya.
"Jadi Kyuhyun berniat akan balapan lagi nanti malam, tapi Minho melarangnya dan memilih mengurungnya di kamar. Lalu menyuruh kita untuk membawa pulang Kyuhyun."
Siwon menganggukan kepalanya membenarkan perkataan Kibum. Kini mereka telah berada di dalam mobil milik sang kakak tertua.
"Minho yang memberitahukannya padaku. Ia meminta kita untuk membawanya pulang."
Tidak sampai berapa lama keduanya telah sampai di rumah sederhana yang di sewa Minho. Setelah memakirkan mobil mewahnya, Siwon dan Kibum langsung masuk ke dalam rumah kecil tersebut sesuai perintah Minho.
"Kunci kamarnya ada di meja nakas." Ucap Siwon. Kibum mulai mencari dan berhasil menemukan sebuah anak kunci di salah satu meja. Dengan segera ia memasukkan anak kunci tersebut ke lubang yang telah tersedia. Lalu dibukanya pintu kamar tersebut dengan perlahan.
"Kyuhyun."
Gumam Siwon ketika melihat adik keduanya itu tidur terduduk sambil menyenderkan tubuhnya di salah satu ranjang.
"Hei bangun." Siwon menepuk-nepukkan pipi Kyuhyun pelan berharap ada reaksi dari adiknya itu.
"Eunghh." Sebuah lengungan keluar dari bibir Kyuhyun. Matanya perlahan mulai terbuka dan mengamati keadaan sekitarnya. Ia mendesah kecewa ketika di hadapannya terdapat dua orang yang berstatus sebagai kakak kandungnya.
"Kita pulang!" Ajak Siwon tegas sambil membantu Kyuhyun untuk berdiri. Namun Kyuhyun tampak tidak bergeming dari tempatnya, membuat Kibum menatapnya bingung.
"Kenapa Kyu?" Tanya Kibum pelan.
"Bisakah.." Kyuhyun menghentikan ucapannya dan menatap keduanya lirih.
"Bisakah kalian mengizinkanku kali ini saja." Lanjutnya.
"Kau gila huh?! Kau baru saja pulang dari rumah sakit kemarin. Terlalu berbahaya untukmu." Siwon mencoba meredam amarahnya.
"Aku mohon. Kali ini saja. Setelah itu aku berjanji akan menuruti semua keinginan kalian." Kyuhyun bersikukuh memohon pada kedua kakaknya itu.
"Kalau aku tidak memenuhi janjiku, maka Minho yang akan melakukannya untukku. Dan itu lebih berbahaya untuknya." Lanjutnya. Ia menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepalanya dalam. Siwon menatap Kibum seakan meminta jawaban, sementara Kibum hanya mengendikkan bahunya bingung.
"Kau belum makan?" Tanya Siwon ketika melihat dua piring berisi nasi dan lauk yang masih utuh di atas meja. Kyuhyun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kau harus makan dulu. Tunggu di sini, akan ku belikan kau makanan." Lanjut Siwon sembari berdiri dari posisinya. Namun sebuah tangan berhasil membuatnya mengurungkan niat. Dilihatnya tangan sang magnae yang tengah memegang pergelangan tangan miliknya.
"Kau belum menjawab permintaanku." Keluh Kyuhyun. Siwon menghela nafas lelah dan menatap Kyuhyun dalam.
"Kau berjanji akan menuruti semua keinginanku kalau aku mengizinkan?" Tanya Siwon. Kyuhyun dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Termasuk memaafkan kami?" Kyuhyun diam sejenak tampak berpikir, namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya walau ragu.
"Tidak mengacuhkan dan menerima segala perhatian yang akan kami berikan padamu?" Kali ini Kibum yang bertanya. Kyuhyun menghembuskan nafas pasrah sebelum menganggukan kepalanya. Entahlah yang ada di pikirannya saat ini hanya tidak membiarkan Minho mengambil keputusan yang salah seperti kemarin.
"Baiklah. Tapi ini yang terakhir kalinya kau balapan liar. Setelah itu jangan harap kau bisa keluar dari rumah tengah malam tanpa pengawasan." Putus Siwon. Kyuhyun tersenyum lega dalam hati. Walaupun sulit untuk memenuhi segala permintaan kedua kakaknya, tapi setidaknya ia bisa bertanding malam ini.
TBC
Updateeeeeeeee
Hayo Kyuhyunnya belom tanding di chap ini kekeke. Tunggu chap depan yaaa
ElfSparkyu1302 : Iya ga papa kok ^^ Hmm..sekuelnya harap sabar ya…masih dalam proses..kkk thank udah review….
Okta1004 : Minhonya saya bikin baik-baik aja ya.. ga tega..huhu ayo doain kyu semoga menang ya..kk Thanks reviewnyaaa..
heeeHyun : Yup Changmin akhirnya berani ngomong juga.. hehe Diizinin ngga nya udah terjawab di chap ini..kkk Makasih udah reviewwwwww…
Run Maharani : Eh benarkah? Padahal saya selama ini kalau mau update suka ragu.. takut ga bagus..he Terima kasih udah bilang ini keren, bener-bener jadi motivasi saya buat terus nulis ^^
Guest : rata-rata kyu bias itu /termasuksaya/ paling suka kalau liat kyu d ff menderita..haha *ditendangkyu* Ne Hwaiting! ^^
Missbabykyu : Minho ga papa kok..berkat pengobatan dari author #plakk Yup..semoga kyu baik-baik aja.. makasih udah review ^^
Ichigo song : Mungkin yang egois di sini Minho.. dia mau kyu sehat tapi dengan cara yang termasuk salah. Atau mungkin juga kedua hyungnya yang egois karena tidak menawarkan minho untuk tinggal bersama mereka.. atau author yang egois karena suka sama semua anggota kyuline.. #plakk kkk makasih udah review ^^
DesvianaDewi12 : Ehhh jangan di cekek Jonghyunnya TT *pelukJong* Semoga ini ga termasuk lama..kkk makasih udah review…
Vha Chandra : belum tegang karena belum balapan…kkk Makasih udah review ^^
Riekyumidwife : Yeee KyuLine! Saya juga lagi tergila-gila sama kyu-line nihhh..huhu ok nanti saya siksa kyu..tapi di kamar saya saja yaaa..hoho makasih udah reviewww..
Jmhyewon : Ne Minhonya ga papa kok..kk makasih udah reviewww..
Kkyu32 : Ne. makasih udah review ^^
Ay : Ini udah cukup panjang belom..kkk makasih udah review ^^
Cho fikyu : Makasih udah review ^^ diusahakan selalu bisa cepet..
IyElf : Haha. Akhirnya ada yang sadar juga nasib sial si Chwang..kkk *pukpukChang* Ne Fighting! Makasih udah review…
ChoYeonRin : Masih dapet Lope Lope ga nihhh..kkk makasih udah reviewww…
Aisah92 : Jonghyunnya baikan ga yaaaaa… hoho iya Siwon sama Kibum udah baikan. Mereka lebih milih buat bersatu memperjuangkan hati Kyuhyun.. #apaini kkk makasih udah review ^^
Ochaiia : Jangan dijitak Jonghyunya..kasiaaann..kkk tandingnya ga di chap ini..di chap depan aja ya.. makasih udah reviewwww…
Deluc33 : Diusahakan update secepatnyaaa.. makasih udah review ^^
Blackyuline : Ini masih kependekan ga..kk makasih udah review ^^
Yunia christya : Di chap ini belum tanding…di usahakan lebih cepat yaa..kk makasih udah review..
Cece : Go! Makasih udah reviewww..
Gyurievil : ne dia laki-laki idaman author..kk makasih udah reviewww…
Cha. Makasih ya yang udah review di chap sebelumnya. Ditunggu reviewnya lagi.
Chap ini belum ada scene kyu vs jong karena takut kepanjangan..kkk
Chap selanjutnya diusahakan cepat. Hoho
Oke.. Arigathouuuu
