"Maaf dan terima kasih untuk selama ini kau beri. Aku sudah capek dengan ini semua Sasuke-kun, kamu itu terlalu abu-abu bagiku. Kau seenaknya datang dan pergi dalam kehidupanku. Dulu disaat aku menyatakan perasaanku kau pergi begitu saja dan hanya meninggalkan sebuah luka yang membekas dalam hatiku."
".."
"Dan sekarang ketika luka itu hampir sembuh karena seseorang kau seenaknya datang dan membuka luka itu kembali? Sudah Sasuke-kun, aku terlalu sakit untuk melihatmu jangankan melihat memikirkan saja sudah membuatku—"
Sakura berlalu pergi dengan rombongan Gaara, dan tanpa menoleh kebelakang. Disaat itu Sasuke hanya bersujud sedih melihat orang yang dicintainya pergi. Entah bagaimana kelanjutan dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer Naruto Masashi Kishimoto
Dia atau Dia Dhita82
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke x Haruno Sakura
.
.
.
.
.
OOC-maybe, OC, Canon, Gak jelas, Abal dan yang selalu pasti ada adalah miss typo(s) yang menyebar dicerita ini, EYD yang berantakan, dan teman sejenisnya.
.
.
.
Hurt/Comfort, Romance, Friendship, Drama
Summary :: Ketika aku mencoba melupakanmu mengapa kau datang dengan cinta yang dulu kuharapkan. Sedangkan kini aku sudah bersamanya.
.
.
Here
We
Go
.
.
Happy Reading ^^
.
.
.
.
BRUK
"SASUKE!"
Naruto yang baru datang langsung berteriak melihat tubuh Sasuke jatuh tak berdaya. Sakura yang mendengar teriakan Narutopun segera berbalik dan alangkah terkejutnya ketika melihat Sasuke dipangkuan Naruto yang berlumuran darah.
"SASUKE-KUN!"
Sakura berlari kearah Naruto dan Sasuke, Gaara yang dibelakang Sakura hanya menatap datar drama yang didepannya itu.
"SASUKE BANGUN!" Teriak Naruto sembari mengguncang-nguncang tubuh Sasuke. Sakura dengan sigap menyebuhkan Sasuke dengan chakra yang ia punya.
Sakura menggigit bibir bawahnya, "Sasuke-kun kau kuat! Aku mohon~" tak terasa setetes liquid bening jatuh diperut Sasuke. Dan ternyata itu adalah air mata Sakura, Gaara mendekati Sakura. Dan setelah beberapa menit usaha Sakura ternyata sia-sia.
Tsunade dan yang lainnya datang dan begitu sampai merekapun terkejut. Tsunade dan Shizune langsung mendekati Sasuke. Menyingkirkan Naruto dan Sakura yang ditarik oleh Gaara secara paksa.
"Tidak mungkin!" Tsunade terkejut ketika melihat tubuh Uchiha bungsu itu.
"Kenapa darahnya terus keluar?!"
Melihat kepanikan nonanya, Shizune mendekati Tsunade dan Sasuke. Dengan sigap ia mengeluarkan chakranya dan segera menghentikan pendarahannya. Namun itu semua sia-sia,
"Sa-su-ke-kun~" Sakura tiba-tiba kehilangan keseimbangannya namun dengan sigap Gaara mendekapnya. "KAKASHI, NARUTO CEPAT BAWA SASUKE KERUMAH SAKIT!" Tsunade berteriak pada Naruto dan Kakashi. Dan dengan sigap mereka membopong Sasuke dan pergi.
Sakura hendak pergi namun dicegah oleh Gaara. "Sasuke-kun!"
"Kita harus pergi Sakura," cegah Gaara
"Tapi—"
BUAGH
Tubuh Sakura tiba-tiba terjatuh dikarenakan pukulan telak pada tengkuk Sakura.
"Kerja bagus anak muda, uruslah dia. Dan untuk selanjutnya aku serahkan dia padamu. Tetapi ingat! Jangan pernah memaksanya!" Tsunade dan Shizune pergi meninggalkan Gaara dan Sakura yang tengah pingsan.
Gaara menggendong tubuh Sakura ala bridal style, dan segera ia bawa pada –semacam gerobak tapi ada atapnya *gomen aku enggak tau apa namanya- untuk Sakura. Dan ia bersama rombongan segera pergi meninggalkan Konoha. Dan mungkin untuk —selamanya.
.
.
.
.
.
.
"Eghh~" Gadis bersurai soft pink itu menggeliat pelan ditempat tidurnya, ia terduduk dan membuka secara perlahan matanya itu. "Aku dimana?"
KRIEET
Suara pintu terbuka mengalihkan gadis itu, seorang berpakaian seperti suster masuk, dan sepertinya aku mengenalnya batin gadis itu. Seseorang yang berpakaian suster itu membawa nampan yang berisikan bubur, air putih dan beberapa botol yang sepertinya obat.
"Ternyata kau sudah bangun Sakura-san, jangan banyak bergerak dulu. Ini minumlah dulu air ini," Gadis berpakaian suster itu menaruh nampan coklat tersebut dan mengambil air yang ia bawa dan memberikannya pada Sakura.
Sakura meminumnya namun hanya sedikit, gadis berambut coklat itu menaruh gelas tersebut. Namun ia sedikit terkejut –terlihat dari air yang sedikit terguncang ketika Sakura gadis bersurai soft pink itu bertanya.
"Kau Matsurikan? Bisakah kau beritahu aku mengapa aku berada disini?"
Fyuuh~
Matsuri –gadis yang berpakaian suster tersebut menghela nafas, dan mengambil tempat duduk disamping ranjang Sakura.
"Kau masih belum pulih Sakura-san, lebih baik sekarang kau tidur karena besok akan ada acara penting bagimu dan desa ini."
"Acara penting? Bagiku dan desa? Maksudmu aku sekarang berada di Suna?!" tanya Sakura dan Matsuri hanya menganggukkan kepalanya berarti iya.
"Acara ap— ah! Sasuke-kun! Bagaimana keadaan— maaf," Sakura menundukkan kepalanya sedih, mengapa ia begitu peduli dengan pemuda yang bahkan tidak memperdulikannya itu.
Matsuri tersenyum melihat Sakura yang tiba-tiba sedih, "tenang saja, aku yakin dia akan baik-baik saja." Matsuri mengelus punggug Sakura, namun karena terasa sedikit asing dengan sentuhan Matsuri membuat Sakura sedikit tersentak.
"Ah! Maaf! Aku hanya reflek mengelus punggungmu!" ujar Matsuri.
"Oh ya tidak apa-apa aku juga, tapi maksud dari acara penting yang kau bicarakan apa?"
".."
"..?"
".."
"Matsuri—"
"Acara pernikahanmu tentunya, sudah yaa aku hanya bertugas mengantarkan itu saja! Aku permisi, jangan lupa meminum obatnya."
Matsuri berdiri dan segera pergi tanpa melihat raut wajah Sakura yang bingung. "Pernikahan? Pernikahan siapa? Oh ya! Aku ingat pernikahan antara aku dan—" sejenak Sakura melihat Matsuri menutup pintu dan kalau matanya tidak salah melihat Matsuri sempat mengusap matanya.
"Matsuri~ gomen~"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
8 Tahun Kemudian—
Sakura dengan seorang anak laki-laki sedang berjalan santai didaerah pinggiran Otogakure. Sakura membawa seikat bunga berwarna putih, dan sedikit melompat-lompat kecil karena anak kecil yang ia gandeng.
Anak kecil yang bersuraikan merah bata itu, nampak senang sekali berjalan dengan Sakura. Seperti seorang ibu dan anak. Meraka berdua menyusuri jalan setapak itu, dan setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai pada sebuah taman.
"Kaa-san! Kaa-san!" anak kecil berambut merah bata itu melepaskan gandengan Sakura dan segera berlari menuju sebuah pohon. Sakura yang melihat itu hanya tersenyum, dan menyusul anak kecil itu. "Matte Rei-kun!"
Setelah berlari-lari kecil ia akhirnya sampai pada bawah pohon Sakura yang belum mekar itu. Terlihat anak kecil berambut merah bata itu berjongkok disamping batu yang lumayan besar. "Ne kaa-san, disinikah tempat Sasuke-jisan?"
Sakura tersenyum mendengar logat bicara anak kecil yang memanggilnya kaa-san tersebut. Sakura mendekati Rei dan ikut berjongkok disampingnya. Sakura taruh bunga yang dari tadi ia bawa. "Gomen ne, Sasuke-kun aku baru berkunjung kesini."
Rei yang melihat Sakura berbicara pada batu hanya diam dan tidak mengerti maksud Sakura. "Ne, kaa-san kenapa belbicala dengan batu?"
Sakura tersenyum kembali pada Rei, ia mengusap air matanya yang jatuh. "Ne, Rei-kun katakan tadaima pada Sasuke-jisan."
"Hm? Ta-tadaima Sasuke-jisan,"
Sakura tersenyum (lagi) dan segera mengacak-ngacak rambut Rei, namun Rei bukan marah atau apa. Ia malah mengusap air mata Sakura yang terus menerus mengalir dari matanya.
"Kaa-san kenapa nangis? Apa ada yang jahat sama kaa-san?"
Sakura tiba-tiba memeluk Rei dan hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak Rei-kun~ tidak~"
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura berlari menuju pintu keluar, ia berlari dengan sepenuh tenaga. Ia tidak perduli dengan orang-orang yang ia tabrak. Setelah beberapa mencari akhirnya Sakura menemukan Matsuri yang tengah mengajar ninjutsu medis pada salah satu muridnya.
Sakura mendobrak pintu tersebut dan membat para murid tersebut kaget. Sakura tidak peduli dengan itu, ia segera menarik Matsuri pergi menghiraukan teriakan Matsuri dan anak-anak itu. Setelah menyeret Matsuri akhirnya Sakura berhenti pada ujung lorong.
"Aku mohon Matsuri! Aku harus membatalkan pernikahan ini! Aku harus kembali ke Konoha untuk mengetahui keadaan Sasuke-kun!"
".."
"Aku mohon MATSURI!" Sakura memegang pundak Matsuri dengan erat hingga membuat rintihan kesakitan pada Matsuri.
"Aku mohon~ sejujurnya aku masih tidak bisa menerima Gaara, aku tau kau bisa mengerti aku karena memang hanya kau yang bisa mengertiku!"
".."
"Tolong bantu aku keluar dari sini Matsuri!"
".."
"Hiks~ Hiks~"
".."
"Hiks~"
"Maaf—" Matsuri melepaskan cengkraman Sakura dan membuat Sakura menatap Matsuri.
"Kenap—"
"Karena aku tidak bisa membiarkan kau pergi begitu saja."
"Kenapa? Aku tau kau menyukai Gaara! Mengapa tidak kau saja yang menikah dengannya?!
"Aku tidak bisa!"
"Kenapa bukankah kau—"
"KARENA GAARA MENCINTAMU!"
DEG
"Apaa?"
"IYA DIA MENCINTAMU! PERCUMA SAJA AKU MEMBIARKANMU PERGI KARENA PADA AKHIRNYA GAARA HANYA MENCINTAIMU! BAGAIMANA IA BISA MEMANDANGKU SEDANGKAN DIHATINYA HANYA ADA KAU?!" Matsuri sedikit terhuyung kebelakang karena omongannya barusan.
Sakura hanya terdiam tanpa kata. "Maaf—"
"Aku sudah berusaha keras untuk membatalkan pernikahan kalian! Namun apa?! Usahaku sia-sia! Suatu hari aku berfikir jikalau membatalkan pernikahan kalian tidak bisa, maka tidak ada dari kalian berdua yang boleh saling memiliki. Namun bukankah itu kejam? Aku egoiskan?!"
".."
"Percuma saja aku membatalkannya! Akhirnya aku berusaha untuk ikhlas, dan akhirnya aku memberi tahu tetua untuk mempercepat pernikahan kalian! *Sakurakaget* Kau tau kenapa?! Karena aku tidak mau merasakan rasa tersiksa ini!"
"Jadi kau yang melaporkannya?" ujar Sakura lirih
"IYA! KARENA AKU TIDAK MAU SAKIT LAGI! DAN SEKARANG APA? KAU MEMINTAKU BANTUAN?! KAU BILANG HANYA AKU YANG MENGERTI ENGKAU?! OMONG KOSONG!"
"Maaf~"
"AKU TIDAK BUTUH MAAFMU! AKU HANYA BUTUH SENDIRI! SEKARANG KAU LEBIH BAIK PERGI MENEMUI SASUKEMU ITU!"
"Maksudmu?"
"Para penjaga sedang sibuk dengan acara pernikahanmu, keamanan sedikit longgar kau bisa pergi~"
"Matsuri kau?!"
"CEPAT PERGI!"
Sakura tersentak dan segera berlari meninggalkan Matsuri, ia berlari sambil mengusap air matanya. "Arigatou Matsuri~" Sakura pergi meninggalkan Matsuri yang menangis namun tersenyum.
.
.
.
.
.
.
"Hah~ hah~ hah~"
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam akhirnya Sakura sampai didepan gerbang Konoha. Ia segera pergi menuju rumah sakit Konoha untuk menemui sang Hokage dan Sasuke tentunya. Namun dikarenakan Sakura yang buru-buru itu membuat Sakura menabrak seseorang.
BRUK
"Iitai~" ringis Sakura,
"Sakura-chan?" ujar orang yang ditabrak oleh Sakura itu,
Sakura mendongakkan kepalanya dan segera berdiri, "Naruto?!"
"Kenapa kau ada disini Sakura-chan? Bukankah besok hari pernikahanmu?"
"Lupakan tentang itu sekarang bagaimana keadaan Sasuke-kun?!"
".."
"JAWAB NARUTO!" Sakura mencengkram erat pundak Naruto yang berjubahkan jubah orange itu.
"Teme sudah~" Naruto menundukkan kepalanya, melihat itu Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya.
"DIA MASIH HIDUPKAN NARUTO?! DIA BELUM MATIKAN NARUTO?! SASUKE-KUN ITU KUATKAN?! IYAKAN NARUTO? IYAKAN?! JAWAB AKU NARUTO!" Naruto mendekap Sakura yang masih diselimuti oleh kemarahan, pertama Sakura mencoba melepaskan pelukan Nauro namun lama-kelamaan tenaga Sakura makin menyusut.
"Enggak mungkin~ Sasuke-kun itu kuat~"
"Tenanglah Sakura-chan~"
"Hiks, hiks~ Sasuke-kun~"
.
.
.
Dia akhirnya bisa kembali kepangkuan sang maha kuasa, walaupun tidak dengan senyum kebahagiaan. Tetapi itu semua yang ia katakan adalah tulus. Tak ada kebohongan dalam setiap ucapan yang ia keluarkan.
.
.
.
Sakura melepaskan pelukannya pada Rei karena sebuah bola mengenai kepala Sakura. "Kaa-san! Kaa-san tidak apa-apa?" tanya Rei, Sakura hanya menganggukan kepalanya sembari mengusap-ngusap kepalanya. Rei mengambil bola tersebut, dan sesosok gadis cilik bersurai merah maroon menghampiri mereka.
"Tou-san! Bolanya ada disini!" teriak gadis kecil itu pada seorang pemuda dibelakangnya. "Hn,"
Gadis kecil itu menghampiri Sakura dan Rei, "Ano~ gomen, bolanya apakah mengenai kalian berdua?"
"Iya tau! Bolamu mengenai kepala Kaa-sanku!"
"Go-gomen~" gadis itu menundukkan kepalanya,
"Sudahlah Rei-kun lagian dia tidak sengajakan?"
"Tapi Kaa-san—"
"Kei apakah bolanya sudah—" Sakura diam membeku ketika melihat sosok laki-laki dibelakang gadis berambut maroon tersebut.
"SASUKE?!"
"SAKURA?!"
.
.
.
.
.
.
A/N
Yoo kita bertemu lagi—
Sepertinya saya masih membutuhkan satu chapter lagi untuk ending fic ini, nah aku bingung dibuat sad ending apa happy ending yaa? Jujur deh yaa, awal aku nulis fic ini gak terpikir akhirnya bakal bagaimana. Setiap aku nulis ff aku hanya mencetuskan sebuah ide/prolog pada noteku dan jika udah mood aku tulis di laptop akuu~
Saatnya bales review ^^
farah : Hahaha iya ini udah to be continue kok, silahkan membaca soal happy atau sadnya aku masih fifty2 tergantung mood dan ide aku, apakah akan happy atau sad ending.
Dhita82 :iya iini udah lanjuut, nah soal ada tidaknya happy ending di cerita ini aku tegaskan sekali lagi kalau aku masih bingung -_- eh tapi ngomong2 kenapa nama kita sama yaa? Wah jangan2 kita jodoh #digampar
lily : iya ini udah lanjut selamat membaca yaa
khumaira : iya ini udah lanjut sebentar lagi juga anti klimaksnyaa, maunya happy ending yaa? Tapi aku ragu kalau happy ending
Regina : Hahhaa aku juga maunya Sasukenya sam Sakura tapi aku cemburu kalau mereka jadi couple #ditendang ini udah update semoga puas
Gramela : Hahaha iya iya ini udah lanjut kok, tenang2 rasa penasaranmu akan bertambah satu level lah(?) #pergi
Yosh yang login aku bales lewat PM okey, soal yang jadi hokagenya nanti akan dijelaskan dichapter selanjutnya see you in the next chapter
Sign
Uchiha Dita Fullbuster
