Locura de Amor
10th
Louie and his brother
LDA
"Louie—kau akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan. Mommy's prince, you are Mommy's treasure."
"Louie—ibu sangat menyayangimu."
"Maafkan ibu, Louie—ibu harus pergi malam ini. Kau tidur ditemani Yunho-samcheon saja ya? ibu akan kembali esok pagi."
Then, she never come back in the morning, until now.
She'd lied to me.
"Chanyeol-ggoon sekarang sudah besar. Tahun depan akan masuk sekolah menengah."
"Samchon, I wanna stay with Granny in Korea."
"Tapi Tuan Besar sudah merencanakan akan mendaftarkan Chanyeol-ggoon di sekolah yang bagus di California."
"Aku ingin Granny. Aku akan ke Korea."
"Tapi, Chanyeol—ggoon—"
"Samcheon—please, take me to Korea. Daddy bisa menunggu, Sekarang Daddy sudah tidak kesepian. Aku ingin tinggal di Korea. Please."
"Jagganim."
Chanyeol berhenti berjalan dan melonggarkan genggamannya pada tangan kurus Baekhyun tanpa membalik badannya. Lelaki itu tidak menoleh sama sekali meskipun Baekhyun sudah berulang kali memanggil namanya.
"Jagganim—aku.." apa kau baik-baik saja…
Chanyeol tidak menghiraukan, ia lalu membuka sebuah kamar dan memanggil seorang wanita yang sepertinya sudah siap dengan perlengkapan berdandan di depan meja rias.
"Elly—please take care this lady. Make sure she's ready in ten minutes. I'll be waiting outside."
"Okay, Mister Park. Take your time."
Dan lelaki itu berlalu.
Chanyeol menutup pintu. Masih belum menatap gadisnya yang memandangnya penuh dengan rasa ingin tahu.
Sebaiknya memang, gadisnya tidak perlu tahu.
LDA
Chanyeol mengepalkan tangannya, berdiri membelakangi pintu kamar yang di dalamnya ada Baekhyun yang sedang di dandani.
Mengapa dari sekian banyak lelaki di California—dia harus bertemu Kris?
Sesuatu yang sangat Chanyeol takuti mungkin saja sebentar lagi akan terjadi. Bukan sesuatu yang sulit bagi Ayahnya untuk mencari tahu tentang kehidupan anak lelakinya. Chanyeol memejamkan matanya sejenak, menahan rasa menyesal karena mengucapkan sesuatu yang tak harus dia ucapkan di depan Kris. 'Baekhyun itu—gadisnya?' sebaris kalimat itu bisa saja melukai Baekhyun. Mungkin juga Junmyeon tidak akan pernah memberinya izin untuk menjadikan adiknya sebagai gadisnya?
Yang harus dia lakukan adalah menjauhkan Baekhyun dari lingkungan keluarganya. Terutama Kris.
"Louie?"
Oh—jangan nama itu!
Chanyeol terperanjat, lalu segera menoleh kepada seseorang yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Long time no see, my little brother."
"Louie, This is Yifan. He is your big brother from now on. Say, 'Hyeong'"
"Hello, Louie."
"Say 'Hyeong', Louie."
"Behave, Louie."
"My name is Chanyeol. Stop calling me with that weird name, Aboeji."
"Aku hanya ingin kau menyapa kakakmu, Chanyeorah. Kau sudah akan sekolah menengah, jaga sikapmu. Tidakkah kau senang memiliki teman sebaya di mansion besar ini."
"Louie—"
"It's Okay, Papa. Maybe, Louie needs time."
—He Called my Aboeji with 'Papa'?!
"Bukankah kau seharusnya menyambut hangat kakakmu?"
Menurut Chanyeol, wajahnya masih sama. Dengan senyum datar, Kris—bahkan Chanyeol sendiri enggan memanggil namanya dengan sebutan kakak,tapi dia masih harus menghormatinya, paling tidak di depan orang-orangnya. Lelaki tiga puluhan itu masih bisa menatap hangat adik tirinya dengan mata yang tajam. Sikap seperti ini yang ingin Chanyeol tampik, Kris selalu menganggap dirinya sendiri kaka dari Chanyeol. Tapi bagi Chanyeol, ia bukan siapa-siapa, hanya seorang figuran di dalam hidup dan keluarganya. Tapi ayahnya selalu membanggakan Kris di depan Chanyeol. Secara hukum Kris memang sebagai anak tertua di keluarganya. Tapi secara garis keturunan, Chanyeol adalah pewaris sah dari semua kekayaan ayahnya.
Namun, tak ada satu pun jenis kekayaan ataupun perusahaan yang mau Chanyeol tangani. Semua kerajaan perusahaan keluarga Park di pimpin oleh kakak tirinya, Wu Yifan a.k.a Park Kris.
"Apa noona yang mengundangmu? Aku tidak ingat menulis namamu dalam daftar undanganku."
"Mu? Padahal baru tadi pagi kau memanggilku hyeong." Kris mendengus seraya tersenyum tipis. "Apa aku butuh undangan untuk menghadiri pesta adikku sendiri?"
Chanyeol menggertakan giginya. "Berhentilah bicara seolah-olah kau itu kakakku."
"Baiklah." Kris menghela napas, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. "Tidakkah kau terlalu terbuka? Jika kau menyimpan sebuah 'permata' di dalam rumah, harusnya kau tutup lebih rapat pintu dan jendelamu. Bahkan dalam situasi seperti ini, tembok saja dapat mendengar dan melihat."
Chanyeol mengernyit, "Apa maumu?"
"Kau harus menahan emosimu, Louie. Bukan aku yang harusnya kau khawatirkan. Papa sudah tahu, Minseok juga sudah dapat peringatan dari Papa, tinggal bagaimana caramu untuk mempertahankannya."
Chanyeol mendengus meremehkan. "Jangan mengajariku seolah kau tahu apa saja yang aku alami."
"Kudengar Junmyeon belum tahu? Segera beri tahu dia. Kau juga harus lebih dewasa dalam bersikap Louie. Persahabatanmu jadi taruhannya. Aku kenal siapa Junmyeon, Baekhyun itu adalah hidupnya."
"Berhenti mengajariku, brengsek!" Chanyeol berusaha untuk tidak meninggikan suaranya. Banyak tamu yang lalu lalang di koridor hotel, dan, bisa saja Baekhyun mendengarnya. Chanyeol tidak mau Baekhyun sampai mengetahui pertengkaran kakak-beradik-tidak sedarah itu.
"Kau paling tahu apa yang telah kusampaikan, Louie. Permatamu memang indah. Tapi aku tidak tertarik dengan milik orang lain."
Chanyeol meringis meledek. "Tidak tertarik dengan milik orang lain? Katakan itu seolah-olah kau tidak merebut apapun dariku."
Kris menghela napas, "Pulanglah. Maka kau akan tahu, aku tidak pernah mengambil apapun dari hidupmu. Bahkan, Mama sangat ingin mengunjungi Mansion mu andai saja kau berkata 'ya' saat beliau meminta."
Chanyeol membatu. Ia ingin membalas ucapan Kris andai saja ia tidak melihat Minseok berjalan ke arahnya dengan tergesa. Chanyeol melihat dari kepala Minseok seperti keluar asap, matanya menyalak galak. Minseok sampai mengangkat gaunnya agar lebih cepat berjalan.
"Bisa kalian hentikan." Wanita itu berdiri di antara Kris dan Chanyeol. "Kalian sudah lama tidak bertemu, tapi yang kalian ributkan hanya itu-itu saja. Adu mulut hanya membuat kalian haus."
Kedua pemuda itu tidak bergeming. Hanya saling melempar tatapan tajam.
"Chanyeol—" Minseok menepuk pundaknya. "Masuklah ke dalam ballroom acara sudah di mulai. Kau Highlights nya. Jangan mengecewakanku. Mengerti?"
Chanyeol membuang napas berat sebelum melangkahkan kaki panjangnya menjauh dari situasi tidak mengenakan tersebut. Minseok lalu memandang Kris sambil melipat tangan di dada.
"Ya! pabboya! Bisa hentikan itu untuk sekali saja? Jika rindu katakan rindu, jangan adu mulut di koridor seperti ini. Banyak yang melihat. Bagaimana jika nanti paparazzi membuat berita konyol tentang kalian, hah?!"
"Seperti kau tidak tahu saja." Kris langsung berbalik meninggalkan Minseok yang masih memarahinya.
"Ya! Mau kemana?! Masuklah acara sudah akan mulai!" tanpa sadar suara Minseok setengah menjerit.
"Aku mau tidur saja. Jangan bangunkan aku." Ucap Kris sambil melambaikan tangan dan terus berjalan meninggalakan Minseok merengut sendiri.
"Akan kuberi pelajaran mereka, lihat saja!" dengan kesal Minseok menyusul Chanyeol ke ballroom. Tidak menyadari sosok gadis yang terdiam di balik pintu.
LDA
Baekhyun seperti sedang tersesat. Ruangan ini besar dan ramai. Penuh dengan meja bundar yang sebagian sudah diisi oleh wanita berbusana mewah dan berpotongan rendah. Baekhyun menunduk, jadi menatap dirinya sendiri. Tadinya, wanita yang mau meriasnya memberikan gaun merah cerah padanya. Dan langsung Baekhyun tolak.
Gaun hijau, biru, dan kuning. Semua Baekhyun tatap dengan kernyitan dan gelengan. Pilihannya tetap jatuh pada gaun nude Dior tanpa lengan dan menampilkan bahu polosnya. Gaun yang disiapkan Minseok untuknya. Rambutnya diikat ponytail tinggi tanpa poni, tapi wajahnya masih terlihat mungil dengan natural look. Seutas kalung dengan bandul ribbon perak berukuran kecil menjadi pemanis di sekitar collarbone Baekhyun. Roknya jatuh di atas lutut, sepasang stiletto putih gading dengan pita nude senada pada bagian pergelangan kakinya, membuat jenjang kaki Baekhyun terlihat lebih tinggi.
Baekhyun pikir, dia memakai baju paling heboh. Ternyata, banyak wanita yang berdandan lebih wow dan bergaun cukup seksi di acara ini.
Baekhyun memperhatikan sekeliling, ada Minseok yang sedang bercengkrama dengan beberapa lelaki berjas. Salah satu yang paling dekat dengannya merangkul pinggangnya sambil tersenyum lucu. Baekhyun pikir, mungkin itu kekasihnya, karena Minseok juga ikut tersenyum bahagia kearah lelaki itu.
Baekhyun melirik ke sekitar lagi mencari-cari lelaki yang meninggalkannya sendirian di kamar pagi tadi. Chanyeol belum terlihat di mana-mana. Di depan ada mimbar putih yang dihiasi oleh pita-pita emas dan empat buah microphone emas. Betapa resminya acara ini.
Dan Baekhyun mematung, barusan ada yang hinggap di pikirannya. Apa ayahnya juga datang? Apa lelaki yang satu taksi tadi juga kebetulan akan kesini? Setidaknya ini adalah pesta menyambut kemenangan Chanyeol. Tidak mungkin 'kan jika tidak seorang pun dari keluarganya tak datang.
Bukankah memiliki anak seperti Park Chanyeol itu sebuah kebanggaan? Penulis yang sukses di luar negaranya sendiri. Bahkan novelnya sedang dilirik untuk dibuatkan film Hollywood. Baekhyun yang hanya figuran di hidup Chanyeol saja merasa bangga hanya karena mengenalnya.
"Novel itu biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Hanya khayalan si penulis, dengan dibubuhi sedikit bualan. "Ah—itu…"Rapat ini bernilai milyaran dollar.."
Kata-kata Kris terngiang oleh Baekhyun. "Rapat miliyaran dollar apanya." Baekhyun mendengus. "Jika rindu katakan saja—"
Separah itukah hubungan mereka? setidak sukanya kah dia dengan adiknya? Baekhyun jadi menghela napas berat sebelum kembali melangkahkan kaki menuju sudut ruangan mencari celah yang tak begitu ramai.
Ketika Chanyeol keluar dari sebuah pintu belakang podium, napas Baekhyun tertahan. Lelaki itu keluar dengan senyum terbaiknya. Terlihat tulus dari matanya, rambut hitam yang sudah dipotong rapih. Kumis dan jenggot tipisnya sudah bersih. Baekhyun memang sudah bertemu Chanyeol sejak kejadian depan lift tadi, tapi dia tidak memperhatikan wajah lelaki itu. Chanyeol yang sedang di podium sekarang benar-benar penulis kecintaan semua orang.
Baekhyun tetap berdiri di tempatnya, menatap Chanyeol dengan penuh puja. Chanyeol bicara tanpa beban di atas sana. Mulutnya bergerak, tapi suaranya tidak sampai pada telinga Baekhyun. Meski begitu, mata lelaki itu yang bicara, mata Chanyeol yang selalu terlihat lelah luar biasa, di atas sana matanya bersinar. Seperti anak kecil yang sedang menceritakan hari pertamanya di sekolah.
Riuh tepuk tangan membuat Baekhyun tersadar, dan ikut menatap sekitar. Chanyeol turun dari podium dan para wanita berdesakan menyambutnya dengan bunga-bunga dan bungkus kado. Tak ada yang tahu, betapa bangga Baekhyun saat ini melihat Chanyeol di sana berbagi senyum dengan orang-orang yang juga mecintai dia.
Baekhyun masih berdiri di tempatnya, sampai ada seseorang yang berbisik di samping kepalanya hingga Baekhyun terkesiap.
"Kau sedang lihat apa?"
Baekhyun menoleh, "Loh? sunbae?"
LDA
Luhan tidak pernah merasa semarah ini. Dua bulan sejak Sehun, mahasiswa kedokteran yang memintanya untuk menjalani hubungan serius itu sekarang justru hilang kontak. Jika Sehun sibuk dengan kuliah dan persiapan bea siswanya, seharusnya lelaki pucat itu masih bisa menghubungi Luhan setidaknya sehari sekali. Dan Luhan dengan keras kepalanya, tidak mau memulai untuk menghubungi. Prinsipnya, dia tidak ingin menjadi yang mengejar-ngejar. Karena cukup dulu dia mengejar Chanyeol.
"Lihat saja nanti jika sudah habis sabarku. Aku cincang 'kebanggaannya' " Luhan menggumam penuh penekanan. Saat ini dia menyibukan diri dengan setumpuk makalah dan beberapa buku yang sengaja dia pinjam dari Profesor Kim.
Ada rencana untuk mengambil gelar Profesor juga, tapi masih Luhan pertimbangkan. Dukungan dari Profesor Kim serta Chanyeol selalu menjadi penyemangat. Tapi masih ada satu hal yang menganjal di hati Luhan.
Akan kah baik-baik saja? sedangkan Sehun belum berhasil mengambil spesialis apa pun. Dia bahkan belum menjadi koas. Di usianya kini, Luhan tidak hanya memikirkan kesenangan saja. Tentu, ia suka dekat dengan Sehun. Sehun yang selalu menginap di apartemennya. Sehun juga yang menjemputnya saat ada kelas malam.
Tapi, Luhan ingin bersama Sehun bukan hanya sebagai sepasang kekasih. Terlalu cepat memang. tapi, apa salahnya menginginkan komitmen yang lebih? bukankah, ujung sebuah hubungan itu adalah pernikahan?
Apa perlu beritahu Sehun jika ia akan mengambil gelar Profesor? Bagaimana perasaan Sehun jika jarak yang Luhan pupuk kini semakin tinggi?
Bagaimana jika Sehun berpikir jika Luhan semakin jauh untuk digapai?
Luhan jadi dilema. Buku-bukunya dibiarkan terbuka begitu saja. Kepalanya merebah di atas meja. Waktu sudah menujukkan jam tujuh malam. Dan sepi yang menjelma di sekitarnya membuat perasaannya semakin dingin.
Jauh di pusat kota, Chanyeol sedang mengadakan pesta. Luhan diundang, tentu saja. Tapi Luhan enggan untuk datang. Masalahnya dengan Sehun saja belum bisa dikatakan jelas. Jadi tidak ada alasan untuk datang ke pesta-pesta.
Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menjalar ke hati Luhan. "Bagaimana jika—dia hanya bermain-main denganku?" bisiknya penuh keputus asaan.
Sehun begitu muda, begitu ceria, begitu gagah, dan masih begitu panjang jalan di depannya.
Helaan napas berat kesekian kalinya, Luhan masih setia merebah di atas buku tebal atas meja.
"Jika kau hanya ingin tidur-tiduran saja, pulang saja."
Oh—itu Profesor Kim. Wajahnya kusut, padahal ia sedang merapihkan diri akan menghadiri acara yang dibuat oleh mantan istrinya.
"Pergi saja. Nanti aku pulang—" Luhan membalas malas.
"Kau sedang memikirkan Mahasiswa kedokteran itu kan?"
Luhan hanya bergumam tak ingin meladeni Profesor gila itu.
"Tenang saja. Dia sedang bekerja keras untuk menggapaimu, Luhan. Yang kau perlukan hanya sebuah kepercayaan. Tidak mudah mengencani seseorang dengan jenjang pendidikan yang jauh."
Kali ini Kim Jongin yang agung benar. Ya, ini lah sisi dari Kim Jongin yang Luhan kagumi. Meski kadang sedikit gila dan suka menggoda Luhan dengan kata-kata aneh. Tapi Kim Jongin tetap seorang Profesor dengan pesona yang sangat tidak disangka, cara mengajar di kelas, serta cara bicaranya jika sedang serius, semua itu bisa jadi panutan setiap laki-laki.
Kecuali satu—masalah cinta.
Sejak setahun lalu, Jongin sudah bercerai dengan istrinya secara baik-baik. Masalahnya, Luhan tidak terlalu mengerti. Tapi Kim Jongin dan Istrinya masih berteman dekat. bahkan Jongin mau repot-repot mengurusi pernikahan istrinya kelak.
"Kau tak apa aku tinggal di sini sendiri?" Kim Jongin dan segala kekhawatirannya.
"Tak apa, Prof."
"Sekali-kali panggil aku Oppa, tak apa Lulu. Tidak ada siapa pun di sini."
"Berhentilah bercanda, dan cepat enyah."
"Hahaha.." tawa Jongin bergema. Tawanya dengan suara berat dan serak yang khas sangat Jongin sekali.
Sebelum sampai pintu ruangan itu tertutup, Jongin kembali melihat Luhan hingga Luhan mengangkat kepalanya.
"Sekali-kali, wanita yang memulai, itu bukan sebuah dosa, Luhan. Menanyakan kabar bukan hanya tugas laki-laki kan?"
Luhan menatap wajah senyum separuh Jongin. "Lebih baik, dari pada kau hanya menerka-nerka yang belum pasti. Telepon, email, Line, Katalk—apa gunanya itu semua jika kau hanya di sini menunggu Sehun mengabari. Kau yakin Sehun baik-baik saja? bagaimana jika dia sakit? atau lebih parahnya—"
Luhan melempar buku paling tebal ke arah Jongin yang sudah siap menghindar. "Berhenti bicara Kim Jongin bodoh!"
Tawa itu lagi. Tawa yang mneyebalkan.
"Mulailah lebih dulu Luhan. Sebelum kau kehilangan banyak."
Dan di sanalah Luhan. Duduk di ruangan dengan ponselnya di atas meja. Menunggu keputusannya, sebaiknya menghubungi? Atau tidak?
LDA
Kim Jongin belum pernah membayangkan ini akan terjadi.
Terjebak di ruangan yang sama dengan gadis itu. Gadis yang sejak seminggu lalu mengklaim dirinya harus bertanggung jawab atas masa depannya.
Semua akan terasa mudah untuk dijelaskan andai saja gadis itu bukan seseorang yang sangat ia kenal. Akan terasa lebih mudah jika gadis itu bukan adik dari mantan istrinya.
Lagi pula, Jongin tidak pernah melakukan sesuatu yang di luar batas. Dia bahkan tak menyentuh barang seinchi pun dari kulit gadis itu.
"Jadi—ada yang mau kau jelaskan Kim Jongin?"
Itu suara dari Gayoung. Mantan istrinya.
Di sana berkumpul ibu dari Gayoung. Kakak lelakinya yang memang teman dekat Jongin. Dan juga seorang gadis yang sejak tadi merengek minta dinikahi oleh Jongin. Membuat pening kepala saja.
"Apa yang harus aku jelaskan? aku bahkan tidak mengerti mengapa dia memintaku untuk bertanggung jawab?" Kim Jongin hampir saja ingin menangis saat mengucapkannya. Pernah menikahi kakaknya saja sudah membuat dia menyesal, bagaimana bisa dia menikahi adiknya juga?
Jongin melirik Kwangsoo, kakak lelaki mantan istrinya yang sedang menahan tawa menunduk dan berdeham. Ibunya bahkan hanya bisa tersenyum mengelus gadis gila itu.
"Tapi kenapa adikku selalu bilang kau harus bertanggung jawab untuk menikahinya?"
"Aku juga tidak tahu, Gayoungah—" jawab Jongin frustasi.
"Jangan bilang kau lupa—" Gadis itu duduk tegak, menatap Jongin dengan mata bulat serupa Gayoung jika sedang marah. "Hyeongbu sendiri yang bilang kalau aku calon istrinya di depan teman-temanku!"
Mata Jongin melebar, tapi tawa Kwangsoo semakin terdengar keras. "Aku tidak?!"
"Aku jadi tidak bisa menikah dengan orang lain! Dia berbicara seakan-akan dia itu tunanganku di depan semua orang!"
"Memangnya kapan aku bilang aku akan menikahimu?"
"Seminggu lalu saat aku pulang promnite!"
"Seminggu—" Jongin tercenung— "Jangan bilang saat aku menyelamatkanmu dari anak-anak brandal itu?"
"Mereka bukan brandal! Tapi mereka teman-teman sekolahku!"
Jongin menghela napas kasar. "Teman-teman mana yang menggerayangi tubuh teman gadisnya sendiri? saat itu bukankah kau sendiri yang meminta pertolonganku?"
Si gadis hendak menjawab lagi, tapi suara tersedak membuatnya menoleh ke sumber suara.
"Tunggu—kau di gerayangi?" itu Kwangsoo, wajahnya yang tak lagi tertawa. Badannya jadi duduk tegak dan mimik wajahnya tegang. "Jawab Kyungsoo!"
Sang Ibu yang duduk di samping gadis yang dipanggil Kyungsoo itu memeluk anak gadisnya. "Pelankan suaramu, Kwangsoo."
"Tapi tadi Jongin bilang dia digerayangi, Ibu."
"Kau digerayangi?! Dan tidak bilang kepada kami?!" Jongin menghela napas berat. Itu tadi Gayoung yang berteriak tepat di samping telinganya. Ini yang membuat dia tak tahan. Semua keluarganya sering sekali berteriak satu sama lain.
"Ya! beritahu oppa, siapa yang menggerayangimu? Tinggal di sini memang tak aman buatmu." Kwangsoo memang sedang marah, tapi dia tetap meraih sandwich dan mengunyahnya. "Kau memang harus segera menikah!"
Dan ludahnya menyimprat kemana-mana. Jongin hampir saja mengumpat jika tidak melirik melihat Ibu mertuanya.
"Aku tidak bisa menikah dengan orang lain oppa. Hyeongbu sudah bilang akan menikahiku!"
Jongin mengerang, rasanya ia ingin sekali mencabuti rambut keriting panjang milik Kwangsoo saat ini. "Aku tidak pernah bilang seperti itu. Ibu mertua tolonglah—aku tidak berniat seperti itu. aku hanya berniat menolong Adik ipar saat itu, itu saja."
Sang Ibu hanya bisa tersenyum pasrah. "Maaf Jonginah. Kyungsoo sulit untuk ditolak."
"Ibu—" Jongin memang tak pernah bersikap lemah kepada siapapun. Tapi jika itu Ibunya Gayoung, Ibu mertuanya yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri, Jongin sanggup untuk menangis semalam suntuk di hadapannya.
"Benar—" dan si gila Gayoung mulaii membuka suara. "Kau yang harus menikahinya."
"Tidak!" Jongin menggeleng, sambil mengusap rambutnya kasar.
Dan Kyungsoo menangis keras. "HUWEE! Hyeongbu* menolakku!"
"Ya! nikahi saja! kita bisa jadi keluarga lagi?!" Jongin hampir melempar gelas berisi jus jika ia tak mengingat ada Ibu mertuanya saat ini.
"Kau gila?!" Jongin setengah berteriak.
"Kau tidak mau dengan adikku? Dia lebih cantik dariku, lebih muda, lebih—" Jongin langsung membungkan mulut Gayoung dengan tangannya.
"Berhentilah sebelum ku hancurkan acara pernikahanmu bulan depan." Jongin menggertakkan giginya, berbisik penuh aura hitam.
"Sepertinya memang Jongin butuh waktu." Oh Ibu mertua tercinta, tolong jangan paksa aku. Jongin berwajah memelas dan sekali lagi dan meminum habis jus nya.
Ada yang terbakar di kepalanya. Tugas mengajar di kampus. Pembinaan program Profesor untuk Luhan. Belum lagi gadis ini. Adik ipar yang sama gilanya dengan mantan istrinya.
Jongin menggelengkan kepalanya sekali lagi, menuangkan jus dan mengaknya habis, dan menuangkannya lagi lalu ditenggak lagi hingga ia tersedak. Tak peduli dengan tangisan Kyungsoo yang belum redam, ocehan Kwangsoo yang tak masuk akal, atau pun lirikan Gayoung yang mengisyaratkan 'Jangan hancurkan pernikahanku' .
Karena di usia yang sudah menanjak tiga puluh lima tahun ini. Mana bisa dia menikahi anak tujuh belas tahun?!
LDA
"Bagaimana Sunbae bisa ada di sini?" Baekhyun kini ada di dekat pintu masuk Ballroom bersama Kangjun, menghindari sorot lampu kameradan suara bising.
"Ibuku diundang dan aku menemaninya."
Baekhyun mengerjap menatapnya penuh tanya. "Ah—kau belum tahu ya. Ibuku itu dulu pernah mengajar di kampus kita. Kampus Jagganim juga."
Baekhyun membulatkan bibir peachnya, menangguk-angguk paham.
"Sekarang Ibuku sebagai mentor dari setiap novel yang di tulis oleh Park Jagganim."
Jadi sekarang Baekhyun mengerti, mengapa Kangjun sering sekali menanyakan tentang Chanyeol dan tahu mengenai seluk-beluk kehidupan Chanyeol. Baekhyun menoleh melihat betapa sibuknya Chanyeol menyalami tamu-tamunya. Baekhyun senang sekali melihat senyum itu, senyuman Chanyeol yang tulus berterima kasih kepada orang-orang yang mengapresiasikan karyanya.
"Jadi—" Baekhyun menoleh mendengar Kangjun berbicara, "Ayo kita mengobrol di tempat yang tenang. Aku benci sekali tempat ramai."
"Eh—" Baekhyun menoleh sekali lagi melihat Chanyeol di antara kerumunan. Sebenarnya, Baekhyun segan untuk pergi tanpa izin, tapi melihat betapa repotnya Chanyeol saat ini, Baekhyun pun mengiyakan permintaan Kangjun.
Setelah keluar dari hiruk pikuk pesta, Baekhyun tak sadar ada sepasang mata yang memperhatikan kepergiannya. Sepasang mata yang tak ingin kehilangan bayangannya.
"Wah—apa tidak apa-apa aku masuk ke sini?" Baekhyun bermaksud untuk bersikap sopan. Karena, Seo Kangjun membawanya ke dalam salah satu kamar di The East.
"Tidak apa. Aku sendiri di sini. Ibuku di kamar seberang. Ayo masuk, aku punya ramen instan."
Baekhyun menyeringai, "Bagaimana aku bisa makan ramen dengan gaun secantik ini?"
Kangjun tertawa sambil membuka jasnya, "Duduklah dulu aku akn ambilkan minum. Jus? Atau Wine?"
Baekhyun mengibaskan tangannya. Ia teringat terakhir kali minum Wine, hal yang tidak-tidak hampir saja terjadi. "Jus saja."
Baekhyun memeriksa ponselnya. Berharap ada satu atau dua chat, setidaknya panggilan tidak terjawab dari Chanyeol yang menanyakan dirinya. Bahu Baekhyun merosot menatap layar ponselnya. Layar itu masih kosong, belum ada notifikasi apa pun.
"Sedang apa?" Seo Kangjun datang dengan dua gelas jus jeruk di tangannya. Lelaki itu masih mengenakan kemeja putih formalnya minus dasi biru yang tadi melingkar di kerahnya.
"Tidak." Baekhyun menyimpan ponselnya ke dalam tas tangannya. Lalu meraih jus yang disodorkan oleh Kangjun. "Terima kasih. Aku belum minum apa pun di pesta tadi."
Kangjun tersenyum separuh, "Kalau begitu habiskan jusmu. Sebelum Jagganim mencarimu."
Baekhyun meneguk jus itu hingga setengah gelas. "Ahh—segarnya."
"Jadi Baekhyun, kau juga menginap di hotel ini?"
Baekhyun mengangguk, "Tapi aku belum tahu menginap di kamar yang mana. Tadi—aku hampir saja telat untuk menghadiri acara ini. Lalu hal yang sangat mengejutkan terjadi. Sunbae tahu, aku satu taksi dengan Kakak laki-laki Jagganim lalu saat mereka bertatapan, mereka sempat adu mulut di depan lift dan—"
"Tunggu dulu—" Seo Kangjun menegakkan duduknya. "Kau bilang—kau naik taksi dengan Kris? Kris naik taksi? Apa kau tidak salah? Itu hal yang tidak mungkin terjadi. Kris tidak pernah tahu caranya naik angkutan umum, sekali pun taksi. Dia biasa menyewa sebuah Limo jika supirnya tidak bisa mengantarnya."
Baekhyun menguap, "Itu benar dia! Jagganim bahkan memanggilnya Hyeong—kami bertengkar di dalam taksi tentang siapa yang lebih dulu mendapatkannya. Tapi dia tidak mau mengalah dan kami berakhir naik taksi bersama. Aku belum tahu kalau dia itu benar-benar Kakak lelaki dari Jagganim. Aku bahkan tidak peka sama sekali."
Bakehyun menguap lagi, matanya terasa sangat lelah dan berat. Suaranya pun melambat. "Rasanya sedih sekali melihat hubungan mereka yang tidak terlalu baik. Jagganim sangat kesepian sebelumnya, mungkin hanya ada aku dan beberapa maid yang membersihkan rumah. Bertemu dengan Kakak tirinya membuat hatinya semakin buruk, kenapa mereka jadi seperti itu? Aku yang melihat interaksi mereka saja rasanya sedih sekali. Tidak bisakah mereka baik-baik saja—"
Baekhyun mengucek matanya pelan-pelan. Wajahnya masih penuh dengan make up dan matanya terus menerus berair karena menguap sedari tadi. Rasa kantuk luar biasa menyerang kepalanya, pandangannya berputar sebelum gelap mengukungnya dan kesadarannya hilang.
Baekhyun tertidur di sofa kamar Kangjun. Dan pemuda itu menghilangkan senyum ramah di bibirnya.
LDA
Sudah berapa lama Kangjun merencanakan hal ini, mungkin jika dia ingat lagi sudah sejak mereka makan ramen bersama? Atau saat Chanyeol datang tiba-tiba menyeret Baekhyun yang sedang mengobrol bersamanya di lorong kampus?
Sejak saat itu Kangjun ingin sekali mengerjai Baekhyun. Bukan untuk menyakiti, tapi lebih untuk membuktikan. Sesuatu yang Kangjun sendiri belum begitu yakin akan hal itu. Dan saat inilah saat yang tepat untuk membuktikannya.
"Kita lihat seberapa berharganya kau bagi Park Chanyeol."
TIdak sulit bagi Kangjun untuk menggendong tubuh kurus Baekhyun. Gaunnya tersingkap, tapi Kangjun cuek saja membaringkan gadis itu di ranjangnya.
"Andai saja kau tidak sesumbar tentang kedekatanmu dengan Chanyeol. Aku tidak akan melakukan sejauh ini. Ini—hanya penasaran saja oke? Jangan marah ya?" Kangjun berbicara seolah-olah Baekhyun terbangun. Kali ini Kangjun merendahkan badannya hingga sejajar dengan wajah pulas Baekhyun. "Kenapa wajahmu kecil sekali, apa Chanyeol suka yang mungil begini? Apa saja yang sudah kalian lakukan selama ini?"
Selanjutnya, Kangjun meraih tas tangan Baekhyun mengeluarkan ponselnya. Bukan hal sulit membuka kata kunci ponsel Baekhyun, karena sebelumnya Kangjun pernah diberi tahu sekali oleh Baekhyun sendiri. Jika Kangjun mengingat lagi, betapa polosnya gadis yang sekarang sedang tertidur di ranjangnya ini. Terlalu percaya dengan orang lain yang bahkan ia sendiri tak tahu apa yang ada di isi kepalanya.
"Coba kita lihat apa yang ada di sini—"
Kangjun menyeringai melihat kontak di sebuah folder favorit. Lalu menekan tombol panggil.
Setelah satu nada panggilan, sebuah suara familiar menyapa gendang telinganya. "Dimana kau?!—"
"Halo Jagganim—ini aku, Kangjuni." Sebuah seringai main-main Kangjun tarik dari bibirnya.
LDA
Chanyeol menggeram di tengah tamu-tamunya dengan sebuah ponsel di telinga. "Mau apa kau? kenapa ponselnya ada padamu?!" Lalu ia melangkah lebar-lebar, sebelumnya meminta maaf untuk meninggalkan tamunya yang berkerumun.
Chanyeol sudah menahan emosi sejak adu mulut dengan Kris. Lalu Chanyeol tidak sengaja melihat Kangjun menyeringai terhadapnya, saat hendak mendekati Baekhyun. Dan sebuah tatapan kemenangan dari Kangjun saat membawa keluar Baekhyun dari Ballroom.
Chanyeol tahu semua itu, hanya saja, tamu dan tetek bengek pesta merepotkan ini membuat jarak antara dia dan Baekhyun. Ingin sekali rasanya ia menggandeng tangan Baekhyun untuk selalu di sampingnya saat semua tamu menyalaminya. Tapi perkataan Kris saat di koridor, lagi-lagi membuatnya ragu untuk menggandeng Baekhyun di depan para paparazzi.
Baekhyun hari ini terlihat lebih dari sekedar cantik. Tubuh putihnya yang mungil sedikit terekspos dengan gaun nude yang cantik. Chanyeol menahan hasrat untuk tidak melompati podium dan menerjang tubuh mungil Baekhyun yang berdiri jauh dari kerumunan.
Tapi hasrat hanya tinggal hasrat. Satu persatu rangkaian pesta membuat Chanyeol tercekik. Chanyeol jadi sulit untuk meraih Baekhyun di sana. Akibatnya lelaki aneh seperti Seo Kangjun lah yang berhasil membawanya kabur.
'Datanglah ke sini.'
"Brengsek." Chanyeol menggertakan giginya, melangkah lebar-lebar keluar tempat acara. "Jangan sampai kau meletakkan seujung jari pun di tubuh Baekhyun. Akan kubuat kau menyesal—"
Ada suara tawa menyebalkan di seberang sana. 'Aku tak berniat dengan gadis lugu itu. Aku hanya ingin kau cepat datang ke sini. Dan—dengarkan yang aku minta.'
Holy Shit!
LDA
Kangjun belum pernah berdebar sekencang ini. Melihat Chanyeol berdiri menjulang di hadapannya dengan tatapan tajam namun seksi.
"Di mana dia?"
Mendengar suaranya dalam jarak sedekat ini saja membuat Kangjun menggigit bibir bawahnya. Dengan tersenyum Kangjun mendekati Chanyeol. "Mengapa terburu-buru? Mari kita bicara sambil minum kopi. Jagganim suka kopi kan?"
Chanyeol memejamkan mata mengerang sebal, "Cepat beritahu aku. Aku tak mau berlama-lama di tempatmu."
"Mengapa terburu-buru." Kangjun mempersilahkan Chanyeol untuk duduk di sofa, tapi Chanyeol masih menolaknya.
"Jangan main-main denganku, Seo Kangjun. Aku hanya butuh Baekhyun untuk kubawa kembali ke tempatku."
"Tidak pernahkan kau melihatku selama ini?" mungkin terdengar menyebalkan, tapi Kangjun lelah harus menatap Chanyeol dari kejauhan terus. Kangjun ingin jadi orang terdekat Chanyeol. Meski pun terlihat salah di mata orang lain, tapi Kangjun tetap mempertahankan rasa sukanya terhadap Chanyeol. Sejak dulu.
Chanyeol mendengus hampir saja tertawa, "Meskipun kau jadi wanita pun aku tak akan memandangmu dengan tatapan tertarik. Kau tetap anak dari Sunbaeku. Dan kau juga laki-laki"
"Junmyeon juga laki-laki."
Senyum Chanyeol menghilang. "Jangan bawa-bawa Junmyeon-heyong."
Kangjun menarik bibirnya ke bawah, matanya merah karena sebal. "Tapi aku sudah jadi penggemarmu sejak kau belum terkenal. Aku bahkan selalu menemanimu saat kau belajar di rumah Ibuku dulu."
Ya. Chanyeol ingat, Kangjun remaja sering menemani Chanyeol, jika dia sedang berada di rumah seniornya yang menjadi Mentor selama ini. Kangjun juga selalu bertanya kepada Chanyeol tentang apa saja yang berkaitan dengan menulis. Tak jarang pula Kangjun membuatkannya kopi dan camilan. Meski pun Chanyeol tak begitu suka camilan, tapi tetap ia makan untuk menghormati pemuda itu.
Tapi itu dulu. Sebelum dia tahu, Kangjun menyukainya lebih dari sekedar junior ibunya.
"Dan Junmyeon ada di saat-saat terburuk dalam hidupku. Jangan samakan Hyeong dan dirimu."
"Apa kurangnya aku?!" Kangjun setengah berteriak.
"Aku tidak berhasrat kepadamu. Itu saja." Chanyeol berjalan mendekati Kangjun yang berdiri bergetar menahan tangis. "Lagi pula—aku suka wanita, bukan pria lemah yang menjebak gadis lain untuk memancingku."
Chanyeol bergegas mencari Baekhyun. Dia menyusuri tiap pintu yang ada. Ada dua kamar dan satu pintu kamar mandi. Di pintu kamar terakhir, dia melihat malaikatnya terbaring tak berdaya. Masih cantik, hanya saja gaunnya sedikit tersingkap, dan itu membuatnya marah.
"Kau—"
Baru saja Chanyeol ingin berteriak marah, tiba-tiba Kangjun langsung memeluk dirinya. "Jangan seperti ini, Jagganim. Aku sudah menyukaimu sejak dulu. Jangan tolak aku."
Chanyeol menghela napas lelah. Dia tidak bisa bersikap kasar dengan Kangjun, bagaimana pun, Ibunya tetap seseorang yang berjasa dalam karir menulisnya. Dan Kangjun, dulu saat remaja pernah memperlakukan ia layaknya seorang kakak. Chanyeol tidak pernah bisa bersikap kasar, meski pun di abisa menlontarkan kata-kata yang pedas.
"Dengarkan aku Kangjuni. Aku tak mungkin bersamamu. Sekarang lepaskan aku sebelum aku berlaku kasar."
"Aku tidak akan melepaskanmu!"
"Lepaskan aku." Chanyeol menggertak tanpa menyentuh tubuh Kangjun. Pemuda itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidak."
"Lepas Seo Kangjun."
"Tidak akan!"
Chanyeol menggerakkan tubuhnya untuk mencoba bebas dari kungkungan pemuda ini. "Lepaskan aku atau aku tak akan mau menganggapmu ada lagi."
"Tidak akan."
"Lep—"
"Jagganim—" suara serak itu—Chanyeol hafal sekali.
"—Sunbae—" dengan segera mereka berdua menoleh ke arah ranjang. Wajah keduanya sama-sama terkejut. Mulut Chanyeol malah terbuka saat melihat Baekhyun sudah duduk terbangung dan menatap mereka berpelukan.
"Kalian sedang apa?"
Dan runtuhlah harga diri Kangjun di depan gadis itu.
LDA
Bersambung
LDA
Hyeongbu = Kakak ipar
Setiap tanggal 21 pada bulan selanjutnya.
Untuk yang masih ingat dengan cerita ini, aku cinta kalian.Maaf aku gak bisa janji lagi adegan smut Chanyeol dan Baekhyun. Tapi pasti ada, cuma kejutan aja di chapter keberapanya, hanya bagi yang masih setia sama LDA ku yang meskipun mandek masih sering review.
Rencananya bakalan mass update sama author yang lain. Coba cek akun mereka.
nisachu, hyurien92, cactus93 (wattpad)
Semoga makin suka, semoga dapet feel nya saat baca.
Cinta di udara,
Pandananaa.
/reach me on ig ; @.pandananaa.ffn / @.pandananaa_/wattpad ; Pandananaa
