Misi dan Momochi Zabuza.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: adventure, action, family and hurt/comfrot
Rate: M
NARUTO: Jalan Hidupku
Dua tahun kemudian.
.
.
Ctang!
Dua pedang saling berbenturan dan mencoba saling mendominasi. Salah seorang pemegang pedang meloncat kebelakang mencoba menjaga jarak dengan lawannya. Rambut merahnya melambai pelan akibat loncatannya tadi, kulit putih mulusnya basah oleh keringat baju yang ia kenakan juga tak terhindar dari keringat.
Naruko nama pengguna pedang tadi memandang lawannya yang berdiri agak jauh darinya. Lawan Naruko sendiri adalah seorang laki-laki yang memiliki wajah yang sedikit pucat dan memakai pakaian standart Jounin. Sesekali suara batuk keluar dari mulut lelaki tersebut.
Sringg
Suara gesekan pedang dan sarungnya terdengar pelan ketika Naruko mengambil pedang dari punggungnya. Saat ini Naruko memegang dua pedang ditangannya. Tanpa perintah, Naruko langsung melesat menuju lawannya.
Setelah sampai didepan lawannya Naruko langsung menebaskan pedangnya secara vertikal.
Ctang!
Tebasan Naruko dapat ditahan oleh lawannya. Ia lalu mencoba memenggal kepala lawannya dengan pedang yang menganggur ditangan kirinya.
Swuss
Namun hanya udara kosonglah yang menjadi korban tebasannya ketika lawannya menunduk. Naruko langsung meloncat kebelakang lagi ketika sebuah kaki mencoba menjegalnya.
Sett
Kembali Naruko melesat menyerang lelaki tadi. Naruko langsung menyerang lawannya dengan kemampuan berpedang yang ia miliki. Sedang dengan lawannya hanya menangkis semua serangan Naruko.
Clep!
Dua pedang yang tadinya terpisah bergabung menjadi satu, membuatnya hampir mirip sebuah tombak yang memiliki dua sisi tajam. Kembali, Naruko menyerang lawannya. Jual beli serangan tak terhindarkan lagi.
Slash.
Meloncat kebelakang setelah melakukan sebuah serangan. Naruko memandang laki-laki yang menjadi lawannya.
"Butuh lebih dari sepuluh tahun untuk menebasku Naruko." ucap lelaki itu.
Naruko memandang lelaki tersebut dengan senyum diwajahnya. "Sensei memang benar, aku memang akan sulit untuk memberi goresan pada tubuh Sensei. Tapi lihat saja baju sensei."
Lelaki itu langsung melihat baju yang ia kenakan, matanya sedikit melebar ketika melihat sebuah sobekkan cukup panjang dibajunya. "Kau hebat untuk ukuran seorang Genin Naruko-chan." Ekspresi yang tadinya terkejut berubah menjadi senyum bangga. "Aku bangga bisa menjadi Sensei mu."
Ya, Naruko memang sudah menjadi Genin beberapa minggu yang lalu. Ia mempercepat masa belajarnya di akademi, sehingga ia dapat lulus lebih cepat dari teman seangkatannya. Naruko juga seorang Genin spesial yang dimana hanya dia sendiri diteamnya dan Senseinya yaitu Gekko Hayate.
Gekko Hayate adalah seorang ahli dalam bermain pedang atau Kenjutsu di Konoha. Ia dipilih oleh Hokage untuk mengajari Naruko, karena cocok dengan gaya bertarung Naruko yang menggunakan pedang juga.
Naruko tersenyum ketika mendengar pujian yang diucapkan Senseinya. "Terima kasih atas pujiannya Sensei. Apa kita bisa melanjutkan latihannya?". Naruko kembali membuat kuda-kuda untuk menyerang Hayate.
"Uhuk! Sepertinya tidak bisa. Karena kita dipanggil oleh Hokage-sama." Hayate lalu menyarungkan pedangnya dipunggung.
Naruko mendesah malas ketika latihannya tertunda. "Apakah ada misi lagi?"
Hayate mengangguk membenarkan perkataan Naruko.
"Hah... Kuharap misi ini lebih menantang dari misi lainnya." kembali Naruko mendesah malas. Ia merasa bosan jika harus menjalankan misi yang memiliki rank-D. "Awas saja jika aku diberi misi rank-D lagi. Aku tak akan segan mencincang tubuh Tou-san" sungut Naruko. Ia lalu menyarungkan dua pedangnya dengan posisi menyilang di punggungnya.
Hayate hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah Naruko. "Sudah, lebih baik kita segera pergi ke gedung Hokage."
Hayate lalu berjalan menuju gedung Hokage diikuti Naruko dari belakang.
.
.
.
.
Di lain sisi terlihat seorang remaja laki-laki yang memiliki surai pirang yang membingkai wajah tampannya sedang berjalan dengan sebelah tangan yang dimasukkan didalam kantong celananya. Di sebelah kanannya berjalan seorang pemuda laki-laki bersurai raven dengan model emo. Sedangkan di sebelah kirinya seorang gadis yang memiliki surai merah muda panjang.
Mereka adalah anggota tim tujuh yang beranggotakan Namikaze Menma, Uchiha Sasuke, dan Haruno Sakura. Tim tujuh sendiri sudah terbentuk kurang lebih sudah satu bulan lebih. Tim ini juga sudah menjalankan lebih dari 20 misi rank-D dan hari ini mereka mendapat panggilan misi lagi.
"Dia itu selalu saja meninggalkan kita." satu-satunya gadis ditim tersebut berkata dengan nada kesal. "Kenapa orang seperti dia bisa menjadi Sensei kita."
"Ck, dasar cerewet. Bisa tidak kau diam." Sasuke berdecak kesal mendengar keluhan Sakura. Hampir setiap hari ia mendengar keluhan gadis musim semi itu dan hal itu sangat mengganggunya.
Sakura tak lantas langsung menuruti perkataan Sasuke. "Tapi dia itu sudah kelewatan Sasuke-kun. Sudah sering datang terlambat, malas melatih kita dan lebih parahnya lagi dia menelantarkan kita."
Menma hanya mengelengkan kepalanya ketika mendengar keluhan yang diutarakan Sakura. Memang Sensei mereka itu aneh, jadi Menma memaklumi tingkah Sakura. "Sudahlah, kita sudah ditunggu Sensei di kantor Hokage."
"Biarkan dia menunggu kita seperti biasanya kita menunggunya." ucap Sakura masih kesal.
Kembali Sasuke bedecak kesal mendengar ucapan Sakura. "Kalau begitu kau disini saja. Aku dan Menma akan kegedung Hokage." ucap Sasuke datar.
"E-eh.. Tu-tunggu aku!" Sakura berjalan agak cepat saat ia mulai tertinggal dari dua rekan timnya. Mereka lalu berjalan bersama menuju gedung Hokage.
.
.
.
.
Dua orang laki-laki berjalan beriringan di sebuah tempat yang cukup gelap. Salah seorang itu memakai kaca mata dan memiliki surai putih yang cukup panjang. Seorang lagi pemuda yang memiliki surai hitam yang sedikit panjang didepan sehingga menutup sebelah mata kanannya, mata biru sedingin es itu menatap datar kedepan.
"Sebenarnya ada urusan apa ular tua itu memanggilku Kabuto." pemuda bersurai hitam itu memecah keheningan denga suara dinginnya.
Laki-laki bersurai putih yang bernama Kabuto itu hanya menatap kedepan saja, cukup lama ia tak menjawab pertanyaan pemuda tadi. Di hadapannya terlihat dua lorong yang terpisah. "Aku tidak tau. Seharusnya kau harus lebih sopan pada Senseimu Naruto-kun." Dan Kabuto memilih lorong sebelah kanan.
Kembali mereka berjalan dalam keheningan, hanya suara langkah kaki yang menemani mereka berdua. Banyak pintu ruangan yang telah mereka lewati, namun belum sampai pada tujuan. Kembali mereka menemukan empat lorong terpisah dan mereka memilih lorong bagian kanan lagi. Tempat ini bagaikan sebuah labirin. Dan sebuah labirin pasti memiliki banyak jalan yang menyesatkan dan berakhir buntu. Siapa pun bisa tersesat jika tak terbiasa tinggal di sini.
Naruto sudah terbiasa dengan tempat ini. Jalan di tempat ini bagaikan kehidupannya, berliku-liku, penuh kegelapan, dan kadang juga tersesat. Apa tak ada jalan yang mulus untuk hidupnya? Naruto pernah bertanya pada dirinya sendiri. Ia kadang juga bimbang memilih jalan hidupnya. Ia ingin berjalan kecahaya namun dia sudah terlanjur jatuh kegelapan. Ia ingin berjalan ke kegelapan namun ia tidak bisa. Ia hanya terombang-ambing di antara putih dan hitam. Hanya waktu yang akan membuatnya jatuh diatara hitam atau putih. Tapi, jika dia boleh berharap, ia tak ingin ada di hitam maupun putih. Ia hanya ingin sebuah ketenangan tanpa memihak. Mungkin warna abu-abu cocok untuknya tidak hitam maupun putih. Namun semua kembali lagi semua itu hanya harapan.
Kabuto menghentikan langkahnya ketika sampai di depan sebuah pintu yang menghubungkan dengan ruangan di baliknya.
Clek.
Terlalu larut dalam pikirannya, Naruto tak sadar jika sudah sampai pada tujuannya. Ia lalu menghentikan langkahnya saat mendengar suara pintu terbuka. Dengan tenang Naruto mengikuti Kabuto masuk kedalam ruangan tersebut.
Sebuah ruangan yang cukup gelap dan banyak menguarkan bau obat-obatan yang cukup menyengat menyambut Naruto. Pandangannya tertuju pada dua sosok yang sedang saling berbicara.
"Jadi ada apa kau memanggilku?" Tanpa sopan santun Naruto langsung menyela percakapan dua orang tadi.
Dua orang tadi menoleh dan menatap Naruto. Salah satu dari mereka yang memiliki surai putih memandang tajam Naruto. Sedang yang satunya lagi hanya tersenyum. Senyum yang begitu menjijikan.
"Khu khu khu... Menyela pembicaraan orang lain tanpa ijin itu sungguh tidak sopan Naruto-kun." Orochimaru berucap desertai dengan tawa khasnya.
Sedangkan pemuda di depan Orochimaru masih menatap tajam Naruto. Ia sedikit merasa tidak senang dengan kehadiran Naruto.
Naruto tak mengindahkan tatap tajam pemuda berambut putih itu. Mata biru sedingin esnya menatap datar Orochimaru. "Jadi?" Naruto menuntut jawaban atas pertanyaan sembelumnya tadi.
"Selalu pada intinya." Orochimaru masih melihat Naruto yang memasang wajah datar dan dinginnya. "Apa kau masih mencari sebuah pedang?"
Ya, Naruto memang mencari sebuah pedang yang pas untuk dirinya gunakkan. Sebenarnya dia sudah memiliki banyak pedang. Tapi semua pedang yang ia miliki hanya pedang biasa dan ia menginginkan sebuah pedang yang mempunyai kemampuan khusus tersendiri. Dan sebenarnya ia juga sudah menemukannya namun...
"Aku tak akan memberikan Kusanagi padamu." Ucap Orochimaru seakan mengerti apa yang di pikirkan Naruto.
...pemiliknya tak mau memberikannya. "Lalu pedang apa yang akan kau berikan padaku?"
Seringaian mengembang di wajah pucat Orochimaru. "Aku tak bilang aku akan memberikan sebuah pedang." Sejenak Orochimaru menjeda perkataannya. "Aku ingin kau mengambilnya sendiri dari pemilik pedangnya."
Walaupun hanya ekspresi datar yang terlihat di wajah Naruto, namun ia sebenarnya sedikit bingung dengan ucapan Orochimaru. "Tak usah berbelit-belit cepat katakan apa maksudmu."
" khu khu khu... Selalu tak sabaran. Apa kau tau pedang Kubikiribocho?"
"Hm." Jawab Naruto singkat.
Kubikiribocho adalah sebuah pedang pemenggal. Pedang ini termasuk salah satu dari tujuh pedang legendaris dari Kirigakure. Pedang ini di katakan sebagai pedang yang tak bisa di potong. Di sebut seperti itu karena setiap pedang ini patah akan tumbuh lagi jika di lumuri darah. Pedang ini akan menggunakan zat besi dari darah untuk meregenerasinya ketika patah. Terakhir yang Naruto tau pedang itu saat ini masih di tangan seorang yang bernama Momochi Zabuza. Itu berarti ia harus...
"Jadi aku harus merebutnya dari Momochi Zabuza." Sebuah pernyataan di utarakan oleh Naruto.
"Khu khu khu... Kau benar. Dan aku akan menugaskan Kimimaro ikut bersamamu." Orochimaru lalu memandang pemuda berambut putih yang ada di depannya.
Naruto memandang datar Kimimaro lalu beralih memandang Orochimaru lagi. "Aku bisa pergi sendiri. Jika dia ikut pada nantinya dia akan menjadi beban saja."
Tangan Kimimaro terkepal erat. "Apa maksudmu?" Mata Kimimaro memicing tajam tak suka ke arah Naruto.
"Kau hanya orang yang sakit-sakitan. Aku tak ingin saat bertarung nanti aku harus melindungimu."
"Kau!" Kimimaro mengeram marah atas ucapan yang Naruto lontarkan. "Aku tak akan menjadi beban, tapi kaulah yang ak- uhuk uhuk uhuk!" Ucapan Kimimaro harus tehenti ketika dadanya merasa nyeri. Ia lalu melihat tangannya yang ia pakai menutup mulut saat batuk tadi. Noda merah cukup banyak di telapak tangan Kimimaro. Darah itu lah yang saat ini di pikiran Kimimaro.
Orochimaru memandang datar Kimimaro. "Sepertinya apa yang di ucapkan Naruto-kun benar. Kondisimu belum pulih benar." Orochimaru lalu memanggil Kabuto yang sedari tadi hanya diam. "Kabuto, kau urus Kimimaro."
Kabuto yang tadi hanya diam dan mendengarkan saja mengangguk atas perintah Orochimaru. Lalu Kabuto menghampiri Kimimaro yang terduduk di ranjang di depan Orochimaru.
Sedangkan Orochimaru berjalan lebih dekat kearah Naruto.
Sekarang Naruto dan Orochimaru saling berhadapan. "Jadi, dimana aku bisa menemukan Zabuza?"
Masih memandang Naruto, seringaian kembali muncul di wajah Orochimaru. Inilah yang ia suka dari sosok Naruto, selalu bicara langsung pada intinya. "Aku mendengar informasi bahwa saat ini Zabuza sedang berada di..."
.
.
.
.
"Nami no kuni?" Tanya Sakura setelah mendengar lokasi misinya nanti.
"Ya, misi kalian adalah mengantar seorang arsitek pembuat jembatan dan juga melindunginya sampai pembangunan jembatan selesai." Minato menjeda ucapannya. Ia lalu menatap semua orang yang ada di dalam kantornya.
Tim tujuh, Naruko, Gekko Hayate, dan seorang pria yang memiliki rambut silver yang melawan gravitasi. Mereka di kumpulkan di sini karena mereka akan menjalani satu misi yang sama. Misi yang akan mereka jalani termasuk rank-B.
Awalnya Minato akan menugaskan tim tujuh saja, namun mengingat ini misi rank-B pertama mereka jadilah Minato menambahkan tim Naruko. Ia yakin tim ini akan dapat menyelesaikan misi ini, mengingat kemampuan Menma, Sasuke, Naruko, dan Sakura yang akan mendukung sebagai ninja medis. Di tambah dua Jounin yang memiliki pengalaman banyak di luar sana. Hatake Kakashi dan Gekko Hayate.
"Misi ini termasuk rank-B, jadi kalian mungkin akan menemui ninja yang mungkin akan menjadi musuh kalian." Minato melanjutkan perkataannya.
Sakura meneguk susah payah ludahnya. Ia merasa belum siap dengan misi seperti ini, namun melihat ekspresi dua rekannya Sakura harus mengesampingkan rasa pesimisnya. Mungkin ia tak akan membantu bertarung dua rekannya, tapi ia akan menutupinya dengan kemampuan medis yang ia miliki. Ia tak ingin menjadi beban saja di tim ini.
Berbeda dengan Sasuke yang malah menampilkan sebuah seringaian. Inilah yang ia tunggu sebuah misi keluar desa. Ia akan mencoba mengasah kemampuannya dengan ninja di luar sana. Dan juga mencari informasi tentang 'Dia'.
Sedangkan dengan Menma dan Naruko mereka hanya diam. Namun satu yang saat ini mereka pikirkan. Mencari informasi tentang Naruto. Ini merupakan sebuah kesempatan mereka berdua.
Kakashi memandang Minato yang merupakan Senseinya dulu. "Tapi bukankah Nami no Kuni lebih dekat dengan Kirigakure. Kenapa malah memilih Konoha?"
"Kirigakure saat ini sedang mengalami konflik Internal dalam desa. Jadi saat ini desa itu tidak nenerima permintaan misi." Minato menatap Kakashi sejenak lalu berpindah menatap pintu masuk ruangan tersebut. "Tazuna-sab silahkan masuk."
Cklek
Seorang laki-laki yang cukup tua mamasuki ruangan Hokage. Bau sake menyeruak ketika Tazuna memasuki ruangan. Lelaki tua tersebut menatap semua orang yang ada di ruangan ini. Matanya lalu menatap langsung sang pemimpin desa Konoha. "Apa hanya sekumpulan anak-anak ini yang akan menjagaku?"
Sasuke mendengus kesal mendengar ucapan Tazuna yang seperti sebuah penghinaan itu.
"Jangan menilai orang dari sampulnya Tazuna-san." Walaupun nada bicara Menma santai, namun aura yang di keluarkan berbalik pada muka santainya.
Tazuna hanya bisa terdiam mendengar perkataan Menma.
"Walau kami masih anak-anak, namun kemampuan kami tak bisa di remehkan." Bukannya sombong tapi itu memang benar. Tim tujuh merupakan tim terbaik dari semua angkatannya di tambah Naruko yang merupakan Genin spesial.
Minato tersenyum mendengar perkataan Menma.
Tazuna menghela napas lelah, sepertinya tidak ada pilihan lain. "Baiklah, setengah jam lagi kita berangkat." Dengan itu Tazuna lalu keluar dari kantor.
"Baiklah kalian semua boleh pergi dari sini dan mempersiapkan perlengkapan kalian." ucap Minato.
"Ha'i/hn." jawab mereka serempak.
"Kecuali Kakashi dan Hayate." ucapan Minato menghentikan langkah dua Jounin pembimbing itu.
Kakashi dan Hayate lalu menghadap ke Minato lagi.
"Aku berharap banyak pada kalian berdua." Minato menatap kedua Jounin di depannya. "Ini adalah pengalaman pertama mereka menjalankan misi di luar desa, jadi aku berharap kalian dapat melindungi mereka."
"Kami mengerti Hokage-sama." jawab kedua Jounin tersebut.
Minato menghela napas lega. "Baiklah kalian boleh keluar sekarang."
"Ha'i." Kakashi dan Hayate lalu berjalan pergi meninggalkan kantor Hokage.
Minato menyenderkan tubuhnya pada punggung kursi. Apa ia terlalu kuatir? Minato bertanya pada dirinya sendiri. Namun wajar saja bukan ketika melihat dua orang anakmu menjalankan misi yang cukup berbahaya untuk pertama kalinya. Apa lagi jika istrinya mengetahuinya, mungkin ia akan menjadi...
Minato mengelengkan kepalanya kita membayangkan kemarahan istrinya. Menatap tumpukan kertas yang menggunung Minato menghela napas lelah. "Hah, entah kenapa aku merasa tumpukan kertas ini tak pernah habis."
Skip time.
Tim tujuh dan tim Naruko sudah bersiap menunggu klien di depan gerbang desa.
Sakura menatap tajam Kakashi yang sedang membaca buku berwarna oranye dengan sampul gambar yang terlihat err... Aneh. "Tumben Sensei tidak telat."
Sejenak Kakashi menurunkan bukunya dan menatap Sakura. Lalu ia mengangkat bukunya menutupi wajahnya lagi. "Ini adalah misi. Ketepatan waktu adalah hal penting dalam misi."
Sakura ingin membantah lagi, namun perkataan yang ia siapkan harus lenyap begitu saja ketika mendengar suara yang menarik perhatian semua orang di sana.
"Apa semua sudah siap?" tanya Tazuna ketika sudah sampai di depan mereka.
Hanya anggukanlah yang menjadi jawaban atas pertanyaan Tazuna.
Pluk
Kakashi menutup buku yang sedari tadi ia baca dan memasukkannya kedalam kantong. "Baiklah, kurasa semua sudah berkumpul. Sekarang ayo kita berangkat."
"Hn/ha'i/ya." jawab mereka serempak.
.
.
.
.
Naruto berjalan pelan di bawah rindangnya pepohonan. Tujuannya saat ini ialah Nami no Kuni. Setelah mendapat informasi tentang keberadaan Zabuza, Naruto langsung saja pergi dari tempat Orochimaru. Sebenarnya ia juga merasa bosan jika harus selalu berada di tempat yang gelap dan pengap.
Menatap langit yang terlihat cerah, Naruto memejamkan mata menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Suatu hal yang sangat ia sukai. Jubah hitam yang ia kenakan melambai pelan di terpa angin.
Membuka matanya dapat Naruto lihat seekor burung terbang bebas di angkasa. Ah, seandainya ia bisa seperti burung itu. Terbang dan bebas tanpa beban.
Naruto kembali memfokuskan pandangannya kedepan lagi. 'Sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang.' pikir Naruto.
.
.
.
.
Kakashi mengawasi keadaan sekitar dengan teliti. Ia sedikit merasa janggal selama perjalanan sejak tadi. Jika ini misi rank-B maka pasti akan ada ninja yang akan menyerang. Namun sejak keberangkatannya dari Konoha dan hingga sore ini masih belum ada tanda-tanda musuh menyerang. Dan hal itu malah membuat dirinya kuatir. Bukannya takut pada musuh jika menyerangnya, namun ia takut jika musuh menyerang anak didiknya apalagi kedua anak Senseinya.
"Apa yang kamu berpikir seperti yang aku pikirkan, senior?" Hayate sedikit melirik kearah Kakashi.
Kakashi memberikan eye smile atas pertanyaan Hayate. "Kurasa begitu. Aku merasa janggal dengan situasi saat ini."
Hayate mengangguk membenarkan ucapan Kakashi. "Senior benar. Aku juga sedikit janggal dengan situasi ini."
"Perahu sudah siap." ucap Tazuna memotong pembicaraan antara Kakashi dan Hayate.
Mereka semua lalu naik keatas perahu yang cukup besar itu. Selang beberapa menit perahu yang mereka tumpangi berlabuh di pinggir sungai.
"Maaf aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini saja." Sang pemilik perahu berucap ramah.
Tazuna hanya mengangguk mengerti. "Tidak apa-apa lagi pula rumahku sudah cukup dekat."
Setelah menerima beberapa koin uang sang pemilik perahu langsung pergi dari tempat tersebut.
Tazuna menatap semua orang yang bersamanya. "Kita sekarang sudah dekat dengan desa Nami." Ia lalu mengambil langkah di depan.
Swuss~
Sebuah senjata yang mirip cakar yang terhubung rantai melesat cepat kearah Tazuna.
"Awas!" Teriak Menma agak keras.
Sedangkan Tazuna hanya menatap horor senjata yang mengarah padanya itu.
Ctang!
.
.
.
.
Hari sudah mulai sore dan Naruto tak ada niatan untuk beristirahat. Masih berjalan dengan tenang Naruto memandang datar empat sosok bandit yang mencoba menghalanginya.
"Serahkan semua barang yang kau miliki bocah." Seorang laki-laki bertubuh kekar menodongkan sebuah golok kearahnya.
Naruto menghentikan jalannya, pandangan dinginnya masih menatap empat sosok bandit tersebut.
Pria bertubuh kekar tadi mendecih kesal melihat sikap Naruto. "Ck, kau dengar perkataanku atau tidak. Cepat serahkan semua barang kau miliki atau kami akan mem-"
Bugh.
Ketiga rekan pria kekar tadi, menatap horor sebuah kapala yang jatuh menggelinding di bawah kaki mereka. Mengarahkan pandangan kedepan dapat mereka lihat tubuh tanpa kepala milik pemim Xpin mereka yang mulai roboh.
Naruto masih pada posisinya berdiri, sebuah pedang tergengam di tangannya. Pedang yang nampak masih bersih tanpa noda. Padangan datar masih ia arahkan pada ketiga laki-laki yang masih berdiri di depannya. "Jangan halangi jalanku."
Suara dingin yang menusuk jiwa itu seakan membuat nyali ketiga bandit itu menciut. Namun karena ego mereka lebih tinggi dari rasa takut, mereka mencoba melawan Naruto. "Ka-kau tak akan kami lepaskan begitu saja setelah melihat apa yang kau lakukan pada bos kami."
Ketiga bandit tadi langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Golok, kapak, dan pedang tergenggam di tangan mereka.
"Heaah!"
Mereka bertiga langsung melesat menyerang Naruto. Namun belum sempat mereka mencapai tempat Naruto, tiba-tiba mereka terjatuh. Mereka bertiga mengernyit bingung. Mengalihkan panda ngan ke kaki, mata mereka di paksa membulat dan...
"Arghh!"
...berteriak kesakitan. Kaki yang tadinya mereka gunakan untuk berlari sudah terpisah dari tempatnya. Mereka berteriak kesakitan sambil memegang kedua pahanya. Senjata yang sebelumnya mereka pegang jatuh berserakan di sebelah mereka.
Naruto masih pada posisi sebelumnya. Ia lalu menurunkan pedangnya yang seperti habis di gunakan untuk menebas sesuatu. Pedang itu masih bersih tanpa ada noda sedikit pun. Lalu, apa yang melukai ketiga bandit tadi jika pedang Naruto masih bersih? Jawabannya adalah Kaze no Dageki. Ya, Naruto sudah menyempurnakan jutsu ini. Jutsu ini juga sudah termasuk sebagai salah satu jutsu andalannya.
Mata beriris biru itu memandang datar empat sosok bandit yang saat ini dalam kondisi yang mengenaskan. Apa ia terlalu berlebihan? Ia rasa tidak. Mereka memang pantas mendapatkan semua itu. Mereka hanya kumpulan bandit yang meresahkan banyak orang. Tak akan ada yang menyesali mereka jika mati.
"Kakiku.."
Samar-samar Naruto mendengar rintihan dari ketiga bandit yang kehilangan kakinya itu.
Tap tap tap.
Naruto berjalan melewati ketiga bandit yang masih merintih kesakitan itu. Ia sama sekali tak mengindahkan alas sepatunya yang saat ini menginjak-injak genangan darah.
.
.
.
.
Naruto membasuh wajahnya di sungai. Segarnya air merasuk ke pori-pori wajah Naruto. Sepatu ninjanya tergeletak di sebelahnya, sepertinya ia habis menyucinya. Kurang puas hanya wajahnya saja, Naruto juga membasahi rambutnya.
Sebentar lagi ia akan sampai ke Nami no Kuni. Memakai sepatunya lagi, Naruto lalu bersiap melanjutkan perjalanannya. Ia ingin cepat menyelesaikan urusannya kali ini, masih ada hal lain yang harus ia selesaikan.
Berjalan menyusuri sungai langkah Naruto terhenti ketika melihat lima orang sedang berdiskusi. Dari penampilannya saja Naruto mengira lima orang tersebut adalah ninja. Empat dari lima orang tersebut menghilang dari sana dan meninggalkan seorang ninja yang membawa pedang besar.
'Tunggu dulu.' Naruto menyipitkan matanya menatap pria yang membawa pedang besar itu. Seringaian tercipta di wajah Naruto. Dengan langkah cepat Naruto lalu menghampiri sosok pria tadi.
Tap!
Naruto berhenti tepat sepuluh meter dari sosok pria tadi.
Pria yang membawa pedang besar itu menoleh kebelakang. Tatapan tajam ia layangkan pada Naruto.
Seringaian makin melebar di wajah Naruto. "Akhirnya aku menemukanmu...
...Momochi Zabuza."
TBC
Yo~
Chap10 up, semoga ini cukup memuaskan.
Di sini saya membuat penampilan Menma seperti Minato kecil. Untuk Naruko penampilannya sama seperti chap8. Dan untuk Naruto sendiri penampilannya memakai jubah hitam lengan panjang, sebagai dalaman Naruto memakai kaos oblong berwarna abu-abu dan celana hitam panjang. Saya memang membuat Sakura sedikit mengetahui ilmu medis dan sifat FGnya tidak terlalu berlebihan.
Oke, saya akan menjawab beberapa pertanyaan pembaca.
Reiko Kanazawa: Yami memang sudah ada di dalam tubuh Naruto, bukan karena Orochimaru.
Wahyuaja0806: mungkin Naruto akan sedikit menjadi kejam dan soal akan di kuasai Yami itu masih belum terpikirkan.
Guest: belum terpikirkan, mungkin saja bisa jadi incest
The KidSNo OppAi: mungkin di chap12 atau chap13 Naruto akan bertemu dua saudaranya.
Jasmine DaisynoYuki: Orochimaru tidak tau siapa yang melukai Naruto dan untuk rencana cadangan memang Sasuke.
Dan untuk yang lainnya saya ucapkan terima kasih sudah mau mereview dan memberi saya saran dan masukannya.
Dan kalau ada yang tanya akun fb saya nih saya kasih tau.
Eko Edi Susanto .
Terima kasih sudah mau membaca, review, fav dan follow cerita buatan saya ini.
.
.
.
.
..
Sampai jumpa lagi...
