SPRING DAYS
Summary: 2045, Omega dan Beta perempuan mengalami degradasi populasi, angka kelahiran menurun, cuaca yang terus memburuk, perang dunia. Jeon Jungkook, wakil kapten dari Pasukan Brigade Khusus ke 13, harus terjun ke dalam kejamnya peperangan dan menemukan setitik harapan di dalam tahun-tahun yang mengerikan.
Warnings: Rape, forced pregnancy, ABO AU, mpreg, much action sequences, gore, character death, typos, slight angst. In this chapter, it will include an act of cannibalism. Prepare yourselves. Plus this involves a slow moving plot. (Iya saya payah banget bikin plot yang rapi dan singkat :") selamat berbosan ria membaca ini (?))
Author's note: more drama, romance, and angst to come
7 November 2045, Kijŏngdong, North Korea
00.21 a.m
Regu satuan yang mengemban tugas operasi kecil untuk menyelundup masuk ke wilayah perbatasan, kini telah mencapai separuh dari tujuan yang hendak mereka capai. Regu satuan yang merupakan aliansi dari tentara Yeokjuk beserta tentara Daehanminguk Gukgun yang kini bernama satuan Minguk dan dipimpin oleh Jungkook sebagai sersan atau pemimpin misi sementara, serta Namjoon sebagai wakil sersan, melakukan perundingan menentukan tempat tinggal sementara mereka selanjutnya dikarenakan badai salju yang tiba-tiba bergolak.
Persediaan makan mereka yang tersisa pun sudah tidak cukup untuk jatah makan sepuluh orang. Setelah serangan mendadak dari Chugyeokja—para manusia kanibal—yang telah membuat mereka mau tak mau angkat kaki dari kota tak bernama yang sempat mereka singgahi, regu satuan Minguk tersebut pada akhirnya membuat kesepakatan untuk singgah di sebuah perkampungan kecil—menunggu hingga badai salju mereda.
Sama seperti kota-kota sebelumnya yang telah mereka lewati, perkampungan tersebut telah lama ditinggalkan oleh penduduk sebelumnya, entah karena perang atau karena mereka dijarah oleh para tentara musuh. Hanya ada beberapa rumah-rumah berbentuk persegi berkubu menciptakan barisan panjang. Beberapa jalan dan hamparan luas tanah lapang yang hampir sepenuhnya tertutup salju, masih menyisakan bekas-bekas yang menggambarkan jika dulunya perkampungan tersebut memiliki berblok-blok galengan pematang sawah.
Taehyung berlutut memegangi beberapa gundukan serpihan putih salju yang masih menyisakan sisa-sisa jalanan setapak yang tampaknya pernah dilalui oleh banyak orang. Ia tertegun cukup lama sewaktu menyentuh permukaan salju yang terasa dingin di balik sarung tangan taktis—tactical gloves—yang diberikan cuma-cuma oleh Jungkook. Pikirannya melaju pada kenangan masa kecilnya, di mana keluarganya masih segar bugar. Kakek dan neneknya sering kali mengajak Taehyung dan kedua adik-adiknya berjalan ke sekitar pematang sawah mereka yang hanya terdiri kurang dari tiga petak—memanen segala jenis hasil ladang, termasuk buah stroberi kesukaannya. Walaupun kecil, ladang tersebut telah memberikan banyak kenangan manis pada dirinya, sebelum peperangan semakin marak dan Taehyung harus kehilangan anggota keluarganya—kecuali kakeknya—dalam pengeboman masal yang dilakukan oleh kaum pemberontak di Daegu.
"Tempat ini pasti dulunya indah," kata Yoongi tiba-tiba padanya. Alpha itu siaga dengan senapan panjang—assault rifle bertipe AK-74 kebanggaannya. "Sedikit mengingatkanku akan Daegu bertahun-tahun yang lalu."
Taehyung tertegun mendengar penuturan Yoongi. Ia dan Alpha itu dulu sama-sama menetap di panti asuhan setelah kehilangan seluruh anggota keluarga mereka dan tumbuh bersama-sama. Dulu ia belum terlalu berhubungan akrab dengan Yoongi hingga akhirnya ia mengajukan diri menjadi anggota tentara muda Daehanminguk Gukgun dua tahun setelah Yoongi mendaftar.
"Ya." Ia bangkit dari posisinya, merasakan hempasan angin semakin berhembus kuat ke wajahnya yang telah terpasang masker yang berfungsi sebagai penyaring udara. Di sekeliling mereka, para kawan-kawan yang lain telah bergerak untuk memeriksa keadaan sekitar, memastikan situasi aman. "Aku bisa membayangkannya. Entah bagaimana kita masih sanggup bertahan dari wabah kelaparan kalau ladang-ladang dan lahan pertanian seperti ini terus menerus dilanda musim dingin dan juga kemarau berkepanjangan."
"Aku berani bertaruh kalau tempat ini pasti ditinggalkan jauh sebelum musim dingin tiba. Mungkin penduduk sebelumnya pergi karena senjata biologis yang dilancarkan atas ide bodoh Daetonglyeongnim, tanpa menyisakan satu penyintas pun di sini." Alpha itu menerawang sebentar—jauh ke depan. "Sebenarnya ada sempat terlintas bayangan, kalau saja dunia ini tidak sedang berperang—dan kalau saja masih memungkinkan aku dan Jimin bisa bertemu, aku akan membawanya tinggal di daerah perkebunan. Kami akan membuka lahan, tidak perlu besar-besar asalkan cukup untuk memberi kami makan sehari-hari. Jimin yang bertugas mengurus sawah kami, sementara aku yang menunggunya sambil tidur-tiduran di bawah pohon rindang. Saat musim panen tiba, aku akan memetik hasilnya dan menjualnya ke pasar."
Taehyung tertawa mendengar penjelasan Yoongi, tawa yang sangat lepas dan tulus. "Astaga, Hyung. Kau tidak bisa membiarkan Jimin sendirian untuk mengurus kebun sementara kau bermalas-malasan, kan?" dengan gemas ia menepuk pelan punggung Yoongi.
"Soalnya aku payah dalam soal mengurus kalau menyangkut tumbuh-tumbuhan. Kecuali kalau kami juga memiliki peternakan. Aku akan bertugas merawat dan mengurus ternak beserta pembagian pakan sementara Jimin yang mengurus ladang kami," kekeh Yoongi yang menurut Taehyung terdengar sedikit dipaksakan seraya berlalu menyusul yang lain.
Ada sedikit pertanyaan pada Yoongi yang terlintas di benaknya, Lalu, apakah kalian juga akan membangun bahtera rumah tangga normal seperti halnya keluarga pada umumnya? Berapa banyak anak yang kalian cita-citakan nantinya? Tapi ia memilih diam karena tahu betapa sensitifnya topik itu bagi Yoongi. Bahkan ia sendiri juga masih belum berani membayangkan bagaimana perkembangan masa depan keduanya serta apa jadinya kalau ia dan Jungkook hidup di dunia alternatif lainnya. Apakah dia akan tetap menjadi seorang Alpha? Apakah ia akan memiliki kesempatan untuk bertemu Jungkook? Apakah justru ia dan Jungkook akan hidup menjalani takdir yang berbeda dan menemukan pasangan hidup masing-masing?
Setidaknya Taehyung merasa lega ia masih dipertemukan oleh Jungkook. Pria itu telah melewati banyak hal demi dirinya dan juga demi orang banyak. Ia juga telah membuat kekosongan di hati Taehyung kembali terisi setelah kematian Seojoon. Jungkook membuatnya merasakan banyak perasaan dan pengalaman baru, juga mengubah sudut pandangnya. Apabila Seojoon membuatnya menerima identitas barunya sebagai seorang Omega, maka Jungkook lah yang telah membuatnya semakin merasa ringan hati untuk memeluk gender keduanya yang baru.
Mungkin pada awalnya Jungkook sama sekali tidak bisa mengontrol sisi Alpha dan juga birahinya terhadap Taehyung. Tetapi lama kelamaan Alpha itu berubah dan bersikap semakin protektif padanya—sekaligus mau berganti peran sebagai mentor Taehyung. Sama sekali sulit dipercaya, Jungkooknya yang manis—yang dulu selalu mengekor, merengek meminta bantuan, dan mengeluhkan banyak hal padanya, kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seseorang yang independen dan juga bahu untuknya bersandar. Terhitung pula perannya sebagai seorang Alpha yang dapat diandalkan dan juga berpandangan luas. Jungkook malahan menganggap status Taehyung saat ini bukanlah sebagai degradasi dari gender lamanya, melainkan sebagai suatu anugerah. Banyak hal yang ia pelajari dari Jungkook, termasuk membangun kepercayaan dirinya yang telah lama hilang.
Taehyung memegangi bekas klaim yang ditinggalkan oleh Jungkook, yang masih terasa hangat setiap kali ia memikirkan malam 'perkawinan' mereka.
Ia beruntung telah kembali dipertemukan dengan Jungkook. Beruntung karena dicintai oleh Alpha itu. Beruntung karena ia telah memilih Jungkook sebagai Alphanya, bukannya hanya sebagai pengganti dari Seojoon.
Matanya tertuju pada Jungkook yang sedang berjalan keluar masuk—mendobrak pintu-pintu rumah yang terkunci dan memastikan keadaan di dalamnya. Ia tertawa setelah melihat Alpha itu terantuk di tengah-tengah aktivitasnya. Jungkook menoleh dengan gelagat kikuk sewaktu menyadari Omeganya sedang menertawakan dirinya.
"Daripada kau tertawa di situ, lebih baik kau juga ikut membantu mengecek rumah-rumah yang lain. Siapa tahu kita bertemu Chugyeokja di sini," ucap Jungkook padanya—yang mungkin saja merona merah karena merasa malu tertangkap basah karena baru saja tersandung.
Taehyung berjalan mendekati Alpha muda itu, tersenyum jahil, dan menggusak rambut Jungkook yang dipenuhi oleh serpihan salju. "Ya, ya. Aku akan bantu mengecek keadaan. Berhentilah mengomel."
Ia berjalan masuk ke salah satu rumah yang terletak di penghujung perkampungan—bangunan terakhir yang berdiri kokoh—dikelilingi oleh pondasi kayu-kayu yang telah lapuk dimakan usia dan perubahan cuaca yang ekstrem. Taehyung berhenti sebentar untuk mengamati tumpukan tulang yang telah berwarna kecoklatan dan tertumpuk salju, merasakan kuduknya meremang sesudah menyadari tulang belulang bagian torso dan tengkorak yang sedang dilihatnya berasal dari sisa-sisa hewan berkaki empat. Mungkin anjing, jika ia lihat dari ukurannya. Kendati demikian, ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam bangunan tersebut.
Bangunan tersebut telah kehilangan pintu yang sebelumnya menggunakan rantai sebagai pengaman. Diperhatikan seksama dengan bantuan senter saku, ia bisa melihat di dalam bangunan tersebut langit-langit dipenuhi oleh kuda-kuda lengkap dengan kaso-kaso dan gording dari balok-balok panjang baja ringan—seluruhnya tertutupi oleh debu dan suam hitam. Lampu-lampu tuba telah lama kehilangan dayanya, dibiarkan menggantung sembarangan. Ada banyak lapak berjajar yang dibatasi oleh partisi dari logam ringan, membentuk enam baris bilik.
"Tampak seperti tempat untuk mengandangkan ternak," ucapan Seokjin mengagetkannya. Taehyung nyaris meletupkan pistol tangannya kalau saja ia tidak segera mengenali suara tersebut.
"Ya. Mungkin dulu sumber-sumber makanan kita berasal dari tempat ini," sahut Taehyung, masih berupaya mengatur detak jantungnya. "Di depan sini ada saluran pembuangan air dan juga tempat untuk menaruh makan ternak tampaknya."
Seokjin berjalan lebih dekat ke sisi Taehyung, ikut mengamati. "Tempat ini cukup besar. Kalau saja tempat ini masih bekerja, mungkin kita bisa makan daging hari ini," katanya setengah bergurau. "Sudah beberapa tahun aku tidak menyantap daging segar."
Taehyung mengangguk menyetujui ucapan Seokjin sampai kemudian goggle dengan penglihatan malam yang ia kenakan terantuk sesuatu. Ia mendongak dan menyadari ada sesuatu yang menyerupai kail mencuat dari langit-langit, "Uhh, tampaknya ini juga tempat jagal. Ada semacam kail pengait daging hewan ternak di sini."
Seokjin ikut mengamati benda yang ditemukan oleh Taehyung dan menyorotkan lampu senternya ke sisi yang lain. Ia menyumpah pelan tatkala menyadari sesuatu. "Taehyung-ah. Kurasa—kurasa tempat ini bukan sepenuhnya tempat penjagalan hewan."
"Hah? Apa maksudnya?"
Pelan-pelan, Seokjin menarik tangan Taehyung untuk mengamati suatu pengait lebih dekat. "Ada tulang manusia—di sini." Sorot lampunya menunjuk pada tulang lengan seukuran manusia dewasa yang tergantung pada salah satu pengait daging beserta tumpukan tengkorak manusia yang berhamburan di lantai. Cukup banyak cipratan noda darah pada dinding konkret bangunan di sekitar mereka sewaktu Seokjin mengarahkan senternya ke sebuah sudut. "Astaga… Ini memang tempat penjagalan manusia!" Ia menarik mundur Taehyung menjauhi area penjagalan tersebut.
"A-apa mungkin ada Chugyeokja di sekitar sini?" tanya Taehyung ketakutan.
Seokjin tidak menjawab dan membawa lari Taehyung serta merta untuk bergabung bersama yang lain. Namjoon langsung melempar pandangan heran pada mereka yang berlari terengah-engah—kalang kabut seperti sedang berupaya kabur dari sesuatu.
"Ada apa?" suara Namjoon terdengar khawatir, "Apa kalian menemukan sesuatu?"
"A-ada rumah penjagal di sana—" Seokjin berusaha mengatur napas.
Jungkook setengah berlari menghampiri Taehyung dan melingkarkan tangannya secara protektif ke bahu Omega tersebut. "Rumah penjagal?"
"Rumah penjagal manusia—ada banyak tulang belulang manusia di sana—" desis Taehyung kehabisan napas.
Jungkook dan yang lain terkesiap mendengar laporan tersebut. Tanpa sadar, Jungkook mengangkat senapannya dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia teringat akan rumah jagal yang ia masuki sewaktu Taehyung diculik oleh para Chugyeokja. Beberapa jeruji besi yang berfungsi sebagai tempat menyambung para tawanan—para tawanan yang nantinya akan dijadikan sebagai sumber makanan oleh para Chugyeokja.
Udara di sekitar mereka kian mendingin, termasuk pula suara hempasan angin es yang semakin membekukan tulang.
Jackson muncul dengan tertatih-tatih, nyaris tersandung oleh langkah kakinya sendiri saat ia menunjuk pada suatu rumah, "Semuanya—kalian tidak akan menyangka ini," ujarnya terdengar risih. Jungkook dan yang lain mengikutinya masuk ke sebuah rumah, "Lihat."
Lampu senter LED yang ia gunakan menyorot penuh pada satu ruangan. Pada dinding ruangan tersebut, tergantung berbagai jenis tengkorak hewan, termasuk pula tengkorak manusia. Beberapa hiasan lainnya terdiri dari kulit sapi yang sudah dikeringkan—juga kulit manusia; tampak jelas dari tekstur pori-pori dan rambut-rambut halus yang masih menempel. Pada jendela yang sebagian kacanya telah membeku, tampak tali-tali yang menggantung beberapa jari-jari manusia yang masih berkuku dan telah menghitam.
Taehyung meremas lengan Jungkook dengan buncahan perasaan ngeri bercampur mual sewaktu Alphanya mengamati satu kaleng berisi bola mata manusia yang sudah sebagian berwarna kuning, entah karena sorot lampu LED atau karena cairan memuakkan di dalam botol.
"Mungkin tempat ini dulunya ditinggali oleh para Chugyeokja," kata Namjoon berdeduksi sendiri. Di sebelahnya, Hoseok membuat suara mual dan mengeluhkan aroma tidak sedap yang menyeruak ke dalam hidungnya.
Jackson tertawa di sebelahnya dengan tawa yang hambar. "Sewaktu aku dan tentara Daehanminguk yang lain sedang dalam perjalanan ke markas Yeokjuk, kami menemukan banyak perkampungan manusia yang melakukan aksi kanibalisme. Mereka tampak seperti manusia normal, sama sekali tidak mirip dengan Chugyeokja yang sudah kita saksikan sebelumnya. Hanya saja mereka menculik para pendatang yang kebetulan masuk ke wilayah mereka atau beberapa tentara yang bernasib sial. Aku hampir saja kehilangan sebagian orang dari pleton terbaikku kalau Mark tidak cepat-cepat menyadari kalau kami sedang diperdayai oleh mereka. Untung saja kami bernasib baik, bisa melarikan diri."
Seisi ruangan bergidik ngeri mendengarnya, "Bagaimana mungkin? Mereka memakan daging manusia?" tanya Hoseok sambil memegangi perutnya yang terasa mulas. Jinyoung menepuk-nepuk bahu Beta berambut merah tersebut, ikut bersimpati setelah mengingat teman setimnya tersebut memiliki nyali ciut.
"Perang," sahut Yoongi, menerawang senternya ke sebuah sofa yang ternyata dibuat dari kulit manusia. "Kita sudah semakin kesulitan mencari sumber makan sejak memasuki musim perang, ditambah lagi cuaca yang buruk. Ke mana manusia mencari sumber makanan kecuali dari manusia itu sendiri."
Seisi ruangan lengang sampai akhirnya Won-sik berucap, "Kalau begitu, bukankah sebaiknya kita pergi dari sini? Sebelum ada sesuatu yang berbahaya terjadi dan menyerang kita? Bagaimana kalau Chugyeokja yang lain muncul di tempat ini? Mereka hampir ada di mana-mana, di semua tempat yang pernah kita singgahi."
"Tidak bisa," sahut Jaebeom cepat sambil menunjuk ke arah luar menggunakan senapan panjang yang ia pegang. "Amukan badai salju terlalu kuat. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan kalau salju terus menerus menerjang kita dan menghalangi penglihatan," Alpha itu sendiri tampak panik di balik masker yang ia kenakan. Terlihat dari caranya mengepal dan mengendurkan tangannya pada senjata api yang ia pegang.
Jungkook dan Namjoon saling bertukar pandang, "Kita tidak punya pilihan lagi selain bermalam di sini," kata Jungkook pada akhirnya.
"Kita bisa memilih satu rumah dan tidur bersama-sama, sementara cukup dua orang yang berjaga dan bergantian sampai subuh menjelang," Namjoon menambahkan.
Semua orang tidak ada yang menyangkal ide kedua Alpha tersebut. Pada akhirnya, mereka bermalam di sebuah bangunan yang terletak di tengah-tengah pemukiman yang telah tidak berpenduduk tersebut, menunggu hingga badai setidaknya telah mengurangi intensitas kekuatannya.
7 November 2045, Kijŏngdong, North Korea
06.23 a.m
Taehyung hanya sempat memejamkan matanya selama empat jam penuh sebelum kemudian ia kembali tersadar ke dunianya yang semula. Di sebelahnya, Jungkook masih mendengkur pelan dengan kedua tangan dan satu kaki mengapit bagian bawah tubuh Taehyung. Dengan hati-hati, Taehyung memisahkan diri dari rengkuhan Alphanya dan berjalan menuju ruang tengah rumah yang kini mereka singgahi.
Di ruang tengah, di atas sebuah meja makan berpermukaan bundar dari bongkahan blok kayu berlapis bahan veneer, sudah ada Namjoon duduk sendirian. Alpha itu tidak berpangku dengan jurnal yang ditulis oleh presiden Moon Jae-in, melainkan hanya duduk dengan kedua tangan terpilin di atas meja dan mata menatap lurus ke kaca jendela yang menghadap langsung ke pemandangan luar.
Semula Taehyung berniat menghampiri Namjoon, tetapi begitu matanya menangkap gambar di luar sana, ia memilih untuk duduk di sisi yang lain. Tampaknya Namjoon melihat keanehan pada sikap Taehyung dan menolehkan kepalanya ke arah sang Omega.
"Kau sama sekali belum sepenuhnya pulih dari ketakutanmu dengan Hanbando Bimujang Jidae, kan?"
Sebagai respon, Taehyung berjengit kaget di atas sofa yang ia duduki. "A-aku—kalaupun aku masih takut melihatnya secara langsung, aku akan tetap ikut dengan kalian dan menjalankan misi."
"Baguslah kalau begitu," tukas Namjoon di seberangnya, "Percuma sekali membawamu ke sana kalau sama sekali tidak bisa memanfaatkan kemampuan hebatmu itu."
Percakapan mereka terputus selama beberapa saat.
"Di mana Jin-hyung?" tanya Taehyung setengah berbasa-basi, berusaha mengangkat suasana kaku di antara mereka.
Entah karena mereka sudah lama tidak bertemu, atau karena dirinya yang telah turun status menjadi seorang Omega, Taehyung merasa hubungannya dengan para Alpha lain jadi semakin canggung, apalagi dengan Namjoon. Selama ini, Taehyung selalu mengagumi kecerdasan verbal dan tekstual Alpha itu. Sejak lama pula, Taehyung berusaha mengejar prestasi Namjoon dalam penguasaan pengetahuan yang ia miliki. Namjoon adalah lawan bicara yang baik, kalau mereka memang memiliki bahasan topik yang tepat untuk diobrolkan. Dan kini setelah bertahun-tahun tidak banyak berbicara dengan Namjoon, rasanya semakin sulit untuk memilih bahasan yang tepat dengan Alpha pemimpin Pasukan Brigade Khusus ke 13 itu.
"Dia masih tertidur. Setidaknya aku ingin membiarkannya istirahat lebih lama setelah apa yang terjadi dua hari yang lalu," jawab Namjoon singkat, tetapi memberikan cukup elaborasi bagi Taehyung. Saat kembali ada jeda di antara mereka, Namjoon kembali berkata, "Apa kau masih ingat—bagaimana gambaran keadaan di dalam sana? Seperti apa pertahanan yang mereka punya?"
Taehyung merasakan tangannya berubah dingin dalam sekejap, begitu gambaran masa lalunya kembali mengiang di dalam kepalanya. Begitu kedua matanya bertumbukan dengan sepasang mata milik Namjoon, buru-buru ia menjelaskan, "Benteng fortifikasi yang mereka miliki, tidak jauh berbeda dengan bangunan militer di Sadong-guyok, Pyongyang. Menara pertahanan yang mereka miliki sudah dilengkapi oleh persenjataan canggih sekaligus dijaga oleh pasukan tantara yang siaga selama 24 jam. Itu yang kudengar dari tentara sekitar."
Namjoon memandangi Taehyung cukup lama, "Apa kau masih ingat, di mana mereka membawamu dulu?"
Kali ini Taehyung merasakan tubuhnya gemetar sewaktu bayangan dirinya dan rekan-rekan setim yang lain digiring masuk ke dalam penjara bawah tanah yang berbau lembab dan pengap. "A-apa peta benteng perbatasan yang kalian buat sama sekali belum jelas sampai-sampai kau ingin aku menjelaskannya? Jaebeom pasti cukup paham tentang hal ini."
"Tidak. Aku hanya ingin memastikan gambaran yang aku terima dari peta dengan gambaran yang diberikan olehmu—yang jelas-jelas pernah menapakkan kaki di sana. Kalau kau tidak ingin menjelaskannya secara seksama, aku tidak akan memaksamu, Tae."
"Aku akan menjelaskannya," sahut Taehyung spontan. Bagaimanapun juga, ia akan menghadapi sumber ketakutannya yang kedua setelah Hyung-sik tidak lama lagi. "Tempat itu hanya memiliki satu barak latihan, tapi cukup besar untuk menampung lebih dari 20.000 personel tentara, masing-masing untuk infanteri, artileri dan sisanya tank militer. Seorang tentara yang—" ia membayangkan para tentara yang dulu menyiksa dan memperkosanya setiap malam berterbangan di sudut matanya, "—yang pernah menghamiliku, menjelaskan kalau wilayah perbatasan setidaknya juga memiliki 50.000 tentara cadangan. Sekarang, aku tidak tahu pasti jumlah mereka. Bisa saja jumlah mereka sudah jauh berkurang."
Namjoon mengangguk paham sebelum kembali bertanya, "Apa dulu mereka mengurungmu di satu tempat yang sama dengan tahanan lainnya? Yang sama sekali tidak menjadi Omega seperti kalian?"
"Tidak. Selama aku berada di sana, kami benar-benar jauh dari tahanan yang lain. Aku menduga, mungkin mereka punya lebih dari tiga jenis penjara di sana. Penjara untuk korban eksperimen, penjara khusus untuk tentara tahanan, dan penjara untuk para korban penjarahan. Walau aku yakin mereka terkadang mengambil tahanan yang lain sebagai percobaan."
Selesai Taehyung menyelesaikan ucapannya, Namjoon beranjak dari kursi dan berjalan menuju Taehyung, mengusap kepala Omega itu. "Aku tahu. Pasti mengerikan dipenjara di dalam sana selama bertahun-tahun. Terima kasih sudah menjelaskan semuanya setelah apa yang kau alami selama ini. Begitu sampai di sana, kita tidak akan bisa mundur lagi. Kau harus menghadapi ketakutanmu kalau kau ingin misi kita berhasil."
Taehyung membalas dengan mengangguk. "Aku benar-benar lega kau masih bersedia menerimaku sebagai bawahanmu, Hyung. Kau sama sekali tidak menolak saat aku memutuskan untuk ikut bergabung dalam misi ini. Padahal Jungkook pada awalnya ingin aku mengundurkan diri—aku tahu dia mengkhawatirkan keadaanku, tapi aku yang sekarang sudah bisa melindungi diri sendiri seperti dulu."
Namjoon tertawa kecil, "Sejujurnya, aku pun juga tidak setuju kalau kau sampai ikut dengan kami dalam misi ini. Untungnya, begitu aku ingat kau pernah ditawan tempat ini, mungkin kau bisa menjadi sumber informasi yang bagus selama menuju perjalanan ke sini. Lagipula, aku juga yakin sejak awal kau bisa kembali pulih menjadi Taehyung yang dulu. Misi kita yang sebelumnya berjalan sempurna berkat dirimu, walaupun harus mengorbankan Seojoon."
Taehyung menggigit bibirnya saat ia teringat akan Alphanya yang telah lebih dahulu menghadap Tuhan, berharap Namjoon tidak akan menyebutkan bagaimana Alphanya yang terdahulu kehilangan nyawa.
"Ah," Namjoon langsung membaca perubahan ekspresi Taehyung, "Sepertinya aku sudah kelewatan berbicara, ya? Mian, aku benar-benar tidak bermaksud menyinggung tentang kematian Seojoon. Dia adalah Alpha yang sangat hebat. Dan pasti kau tahu, 'kan, kalau aku menghormatinya?"
"Aku tahu, Hyung."
Namjoon akhirnya mendudukkan diri di sebelah Taehyung, "Tapi sesungguhnya, aku penasaran dengan apa yang terjadi pada Bogum dan yang lain. Apa—apa selain dirimu, ada yang telah berhasil diubah menjadi Omega oleh tentara Korea Utara?"
Tangan Taehyung terpilin dan terlepas secara berulang, "Ne. Bogum-hyung. Ilhoon. Kami bertiga berhasil dimodifikasi menjadi Omega," ia mulai bercerita. "Sayangnya, Ilhoon-hyung meninggal karena bunuh diri dan Bogum-hyung meninggal begitu Hyung-sik—" suaranya mulai teredam oleh rasa amarah mengingat makhluk terkutuk yang namanya terakhir kali ia sebutkan, "—begitu Hyung-sik menyiksanya. Dia meninggal di meja operasi, saat para petugas medis berupaya membantunya melahirkan."
"Rupanya begitu," Namjoon berdehum mendengar penjelasan Taehyung, "Markas Hanbando Bimujang Jidae ini—merupakan salah satu pusat penelitian alterasi genetik dan kromosom setelah markas militer di Pyongyang."
"Aku tidak bisa memastikan soal itu, tapi ada banyak hasil penelitian dari Pyongyang yang dibawa ke tempat itu. Selama aku berada di sana, aku sudah sering bolak balik masuk ke dalam fasilitas kesehatan di sana. Aku masih ingat persis seperti apa suasana di dalamnya, bahkan aku juga masih ingat ruangan di mana mereka mengubahku menjadi seorang Omega," Taehyung memegangi bekas klaim di lehernya—yang berasal dari Jungkook. Kedua matanya menyorot ke atas lantai berkayu. "Ada banyak etalase kaca berisi—aku tidak tahu berisi cairan apa. Yang pasti, salah satu cairan di dalamnya lah yang mengubah kami menjadi Omega."
Remasan di bahu Taehyung membuat Omega itu mendongak pada Namjoon. "Baiklah, kurasa sudah cukup ceritanya. Aku tidak ingin membuat lubang lebih dalam dengan memintamu bercerita tentang masa lalumu yang pahit."
Taehyung mengangguk samar. "Apa kau sedang memastikan sesuatu dariku, makanya kau bertanya seperti itu, Hyung? Apa ini ada kaitannya dengan jurnal yang saat ini sedang kau baca?"
"Kau punya insting yang tajam, masih seperti dulu," Namjoon tersenyum kecil dan mengangguk. Dari salah satu kantung celana, ia mengeluarkan sebuah jurnal kecil yang telah lusuh dan menunjukkannya pada Taehyung. "Di sini memang Daetonglyeongnim menjelaskan semuanya yang berkaitan dengan eksperimen yang membuatmu menjadi Omega—tidak secara eksplisit, tapi hanya dengan kau berhasil menjadi Omega dan melahirkan Jihoon dengan selamat, artinya kau menjadi harta paling berharga di muka bumi ini."
"Aku sudah tahu itu. Makanya Hyung-sik menginginkanku kembali padanya," dengus sang Omega, menyisir surai abu-abunya dengan sikap acuh tak acuh. "Akan berbahaya kalau negara lain juga tahu tentang diriku sebagai Omega yang telah berhasil hidup dan melahirkan bayi sempurna."
"Aku punya pendapat lain soal itu, sebenarnya," kata Namjoon, menyentuh dagunya sendiri dan menerawang jauh ke depan. "Aku punya asumsi, kalau bisa saja kasus keguguran dan kematian bayi yang selama ini kalian—para Omega artifisial—alami justru disebabkan oleh tentara Korea Utara ingin memodifikasi anak-anak di rahim kalian menjadi Omega begitu lahir. Anak-anak yang tidak berhasil selamat inilah, yang mati di dalam kandungan ataupun yang mati begitu lahir, mereka tidak sanggup melawan mutasi genetik yang terjadi di dalam tubuh mereka."
Pernyataan Namjoon membuat Taehyung memutar kepalanya dengan cepat, "Ma-maksudmu—selama ini kami dikembangbiakkan hanya untuk—"
"Ini hanya asumsiku saja," Namjoon kembali menerangkan, "Makanya aku juga berpikir kalau kemungkinan besar Jihoon akan tumbuh menjadi Omega menjelang pubertas nanti, sesuai dengan harapan mereka. Begitu Omega yang mereka harapkan ini tumbuh dewasa, bisa saja mereka akan kembali mengembangbiakkannya, menambah populasi Omega di dunia."
Taehyung memasang wajah panik, "Kau bisa saja salah, Hyung. Kalau Jihoon sampai menjadi Omega—" ia menelan ludah dengan susah payah dan buru-buru berbelok ke topik lain, "Jimin—saat Jimin hamil, dia sama sekali tidak melewati penelitian yang sama denganku dan Omega lain saat kami di Hanbando Bimujang Jidae, tapi tetap saja—dia… dia keguguran."
"Makanya, aku bilang ini hanya asumsiku. Bisa saja hal ini berhubungan dengan kondisi fisik dan rahim Omega yang bersangkutan. Atau dengan kondisi dunia sekarang ini yang semakin memburuk. Ada banyak kemungkinan yang menjadi penyebab lainnya. Tapi aku bersikukuh dengan asumsi pertamaku ini."
Belum sempat Taehyung melontarkan opininya, pintu depan terbuka dan menunjukkan Hoseok dalam balutan masker dan mantel tebalnya berujar keras, "Badai sudah mulai mereda. Sepertinya dalam beberapa jam kita bisa melanjutkan perjalanan."
"Bagus kalau begitu. Aku akan membangunkan Seokjin-hyung," Namjoon berucap dan menoleh pada Taehyung, "Dan kau bangunkan Jungkook. Sesuai kesepakatan, kau dan Jungkook bisa gantian berjaga di luar sana."
Anggukkan patuh diberikan oleh Taehyung. Setengah bergegas, Omega itu pergi menuju kamar tidur untuk membangunkan Jungkook. Beberapa menit berupaya menyadarkan Alphanya, pada akhirnya Taehyung berhasil menyeret Jungkook yang masih setengah tersadar keluar dari rumah yang mereka singgahi untuk sementara dan berganti giliran jaga dengan Won-sik dan Hoseok.
Di luar, udara masih dingin dan langit yang kelam ikut menyambut mereka, sedangkan badai mulai larut-larut menjadi terpaan angin yang lebih jinak. Taehyung mengajak Jungkook mengelilingi komplek pemukiman yang telah lama ditinggalkan penduduknya tersebut, melakukan pemeriksaan ulang, dan kembali ke posisi semula.
Hanbando Bimujang Jidae masih terletak puluhan kilometer dari wilayah perbatasan tempat mereka berpijak, tetapi dari area tersebut, Taehyung bisa melihat bangunan benteng tersebut menjulang bersamaan dengan ulasan lereng pegunungan. Tinggi dan mencekam, melihat dari jauh saja sudah membuat Taehyung menggigil oleh rasa takut di dalam dirinya.
Tidak lama lagi ia akan kembali ke tempat yang dulu pernah memenjarakannya—tempat yang telah merebut kemerdekaan dari diri seorang Kim Taehyung.
"Kalau kau masih merasa ketakutan, jangan memaksakan diri untuk terus menerus menyorot ke arah tempat itu berada," Jungkook menegur sang Omega sembari menarik tubuhnya mendekat.
"Aku tidak mungkin mengalihkan pandanganku dari tempat itu, Jungkook-ah," kata Taehyung menyela, "Tempat itu—bagaimanapun juga aku akan memijakinya dalam beberapa jam ke depan."
"Selama kau berada di dekatku, aku bisa melindungimu, Hyung."
"Aku tahu." Omega itu membiarkan suara angin menyeruak di antara mereka. "Aku—aku kepikiran tentang ucapan Namjoon-hyung beberapa saat lalu."
"Hmm? Memangnya apa yang dia katakan?"
"Kalau Jihoon akan tumbuh menjadi seorang Omega."
Jungkook membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah Taehyung dengan lebih jelas, "Huh? Bagaimana mungkin? Kalau dia tumbuh menjadi Alpha atau Omega aku akan percaya, tapi Omega? Bagaimana dia bisa tumbuh menjadi Omega secara natural kalau di dunia ini kalau kau dan yang lain menjadi Omega dengan bantuan suntikan pemodifikasi kromosom gender kedua?"
"Memang tidak secara natural. Tapi sudah jelas penelitian Hyung-sik lah yang membuat hal ini bisa terjadi," ujar Taehyung. "Seojoon pernah bercerita padaku, ayah Hyung-sik sudah dari lama membuat penelitian tentang modifikasi genetika pada seorang Alpha dan Beta agar dapat mengubah mereka menjadi Omega. Lalu saat Namjoon-hyung bilang kalau Korea Utara kemungkinan besar juga melakukan eksperimen dengan bayi-bayi kami dengan tujuan mengubah mereka dapat tumbuh menjadi seorang Omega, sehingga bayi-bayi kami ini tidak pernah bisa terlahir dengan selamat, kecuali mereka yang berhasil menerima mutasi gen. Semuanya cocok, begitu masuk akal, apa yang diterangkan oleh Namjoon-hyung dan Seojoon."
Dengan sengaja, Jungkook menepuk punggung Taehyung, "Kita tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Jihoon. Kita akan melindunginya bersama-sama," ujar sang Alpha berusaha meyakinkan.
Taehyung menggeleng, "Sejujurnya, saat ini aku lebih takut menemukan apa yang terjadi dan tersembunyi di balik tempatku dikurung dulu. Sudah pasti, Hyunwoo, Jongdae-hyung, Junmyeon-hyung, dan juga Kyungsoo, mereka antara menjadi tahanan biasa atau mungkin ikut dimodifikasi secara paksa menjadi Omega sepertiku. Penyiksaan yang aku alami, bagaimana mereka bisa melaluinya? Sudah pasti mereka semua telah mati saat ini, Jungkook-ah. Entah karena bunuh diri atau karena melalui penyiksaan—"
"Hyung. Kita sudah sampai sejauh ini. Dan kau sudah berjanji tidak akan lagi mengungkit-ungkit soal rencana awal kami untuk menyelamatkan mereka—"
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa mengenyahkan semua pikiran itu dari kepalaku!" Taehyung meremas-remas tangannya sendiri, "Kalau kita sampai tertangkap, aku sudah pasti akan kembali menjadi budak seks mereka. Lalu aku akan dipaksa hamil lagi. Entah bagaimana denganmu, dengan yang lainnya—kemudian mereka pasti akan kembali mengambil Jihoon—"
Jungkook menyentuh masker yang ia kenakan, seolah-olah berniat membelai wajahnya. "Sudah terlambat untuk mundur. Ini adalah pilihan yang telah kau ambil. Aku tahu kau merasa ketakutan dan tidak ingin berhadapan lagi dengan masa lalumu. Tapi tujuan kita ke sini adalah untuk menyelamatkan Junmyeon-hyung, Hyunwoo-hyung, Jongdae-hyung, dan Kyungsoo-hyung. Kalau kau mundur sekarang karena ketakutanmu, itu artinya kau menyerah sebagai seorang Omega. Aku sudah berulang kali bilang, Hyung, kau adalah Kim Taehyung. Kau adalah seorang Alpha yang pemberani, selalu berani mengambil resiko dan berhasil menyelesaikan semua misimu dengan sukses."
"Tidak sebelum Korea Utara menangkapku—"
"Dan setelahnya aku berhasil menyelamatkanmu. Sekarang kau kembali lagi menjadi Kim Taehyung yang dulu. Apa kau masih mau menyerah pada dirimu yang seorang Omega?"
Taehyung menggeleng. "Aku ingin berjuang di sisimu."
"Bagus." Tukas Jungkook simpul, matanya menyipit di balik masker yang ia kenakan. "Mari berjuang bersama-sama."
Mereka menunggu selama beberapa jam kemudian—berdiri di atas hamparan salju putih dengan wajah menghadap lurus ke depan dan sikap siaga, sebelum Yoongi datang menghampiri keduanya.
"Namjoon memberi ide untuk kita berangkat sekarang," kata Yoongi pada mereka.
Tepat pukul 12 siang, mereka melanjutkan perjalanan.
7 November 2045, Hanbando Bimujang jidae, North Korea
07.51 p.m
Kyungsoo merasakan suhu tubuhnya berubah hangat daripada biasanya. Sementara perutnya yang sejak beberapa minggu terakhir sudah menggembung hingga mencapai batasnya, semakin terasa semakin menyiksa. Ia kesulitan hanya untuk berjalan menuju kamar mandi akibat perutnya yang semakin besar dan semakin menyeretnya turun menuju pusat gravitasi bumi. Tidak hanya itu, bahkan seluruh persendian di tubuhnya terasa sakit, termasuk area punggung dan juga bagian selangkangannya. Setiap kali Jongin mengajaknya berhubungan seksual, ia selalu menolak dengan sengit, beralasan tubuhnya sudah tidak mau bekerja sesuai dengan keinginannya. Ia tidak berbohong—karena sejak tubuhnya mulai diisi oleh parasit yang bertempat tinggal di dalam perutnya, seluruh bagian tubuh yang paling tidak ia sangka-sangka semakin sensitif. Ia pun mudah terangsang hanya saat Jongin bersentuhan dengannya, terutama putingnya yang sejak beberapa hari lalu mulai mengeluarkan cairan berwarna putih (dan baru saja kemarin ia tahu dari Jaehwan kalau ia sedang memproduksi ASI. Bagaimana ia tidak merasa jijik dengan tubuhnya sendiri?).
Ia begitu membenci keadaan tubuhnya sekarang. Ia tidak mengerti bagaimana Jongin tetap saja merasa tergiur dengan bentuk tubuhnya yang semakin tidak jelas. Ia menerka-nerka bisa saja Alpha itu hanya tertarik dengan vaginanya—karena alat seksual Omega adalah salah satu hal sangat jarang untuk ditemui dan dinikmati saat ini.
Dalam hatinya, Kyungsoo merasakan dirinya bersimpati pada Taehyung. Bagaimana mungkin Omega itu melalui kehidupan seperti ini selama delapan tahun lebih? Terlebih lagi dengan melewatkan berbagai penyiksaan mengerikan dari berbagai tentara yang pernah singgah ke lubang kemaluannya. Kyungsoo masihlah dalam tahap orang yang 'beruntung'—kalau ia memang mau mengakuinya. Jongin memang temperamental, tapi Alpha itu hanya beberapa kali memukul Kyungsoo di awal kehamilannya dan malahan selanjutnya ia melampiaskan kekesalan pada benda-benda di sekeliling mereka. Dan juga, Alpha itu selalu memperhatikan kondisi kesehatan Kyungsoo, bertanya-tanya kalau ada sesuatu yang ia butuhkan begitu tahu Kyungsoo mengandung anak darinya. Kalaupun Kyungsoo menolak untuk tidur bersamanya, Jongin juga tidak pernah memaksa untuk tetap tidur satu ranjang.
Setiap kali benak Kyungsoo mengatakan Jongin sesungguhnya adalah orang yang baik, benaknya yang lain menyuruh Kyungsoo untuk tetap menutup diri dari sang Alpha. Bagaimanapun juga, Jongin telah membunuh dua orang rekannya, dan mungkin juga telah membunuh Jongdae setelah pertemuan terakhir Kyungsoo dengan Beta itu beberapa waktu yang lalu.
Sejak ia bertemu Jongdae di dalam kamar besar yang kini telah menjadi rumah tetapnya, ia tidak pernah mendengar kabar rekannya tersebut. Ia yakin, Jongin membawa Jongdae ke ruang tahanan dan menyiksanya di dalam sana, seperti yang Alpha itu lakukan pada tahanan yang lain. Entah apa saja yang telah diperbuat oleh Jongin agar Jongdae mau membuka mulut—membocorkan semuanya tentang pasukannya, yang jelas, kondisi fisik Jongdae tidak lebih baik darinya sekarang.
Jongdae kehilangan sebelah telinga dan juga dua jari-jarinya. Kyungsoo ingat persis bagaimana penampakan rekannya tersebut. Jongdae, dalam balutan kaus yang sudah kumal, aroma tubuh yang tengik, dan rambut acak-acakan, wajah yang sudah ditumbuhi oleh rambut-rambut halus di sekitaran mulut dan dagu—persis seperti gelandangan yang telah lama kehilangan tempat tinggalnya. Membayangkannya saja Kyungsoo tidak tega.
Ia selalu mengutuki Korea Utara—mengutuki apa yang telah mereka perbuat pada rekan-rekan setimnya. Ia tidak peduli betapa banyak kata-kata manis yang meluncur keluar dari Jongin, betapa banyak pengendalian diri yang sudah dilakukan oleh Alpha muda itu agar tidak menyakitinya, betapa sering Jongin berupaya menyenangkan hatinya, tetap saja Alpha itu telah menjadi tersangka yang menyebabkan kematian kedua rekannya dan juga kondisi memprihatinkan Jongdae sewaktu mereka bertemu. Semua perhatian Jongin yang telah Alpha itu berikan padanya, ia tampik begitu saja dengan amarah yang lebih besar.
("Kau membunuh teman-temanku! Jangan harap aku mau memaafkanmu!"
Ia selalu meneriakkan kata-kata yang sama pada Jongin, membuat Alpha itu pada akhirnya menarik diri dari Kyungsoo sembari mengobrak-abrik barang yang dapat ia temukan.)
Sekarang, Kyungsoo telah kehilangan perhitungannya akan hari-harinya di dalam kamar yang ia tiduri bersama Jongin. Kalau ia masih bersama dengan teman-temannya yang lain, sudah pasti ia tahu tanggal berapa sekarang, jam berapa, dan bagaimana keadaan di luar sana. Sekarang, ia hanya bisa melihat perubahan waktu melalui kaca skylight anti peluru yang dipasang di atas langit-langit kamar yang ia tiduri.
Ia tidak tahu sudah berapa lama parasit di dalam perutnya tinggal, tapi ia yakin tidak lama lagi ia bisa mengeluarkan parasit itu dari tubuhnya.
Cukup lama ia tenggelam dengan pikirannya sendiri saat ia merasakan dirinya ingin membuang air kecil. Hampir setiap saat termasuk saat ia berusaha untuk tidur, parasit di dalam tubuhnya itu jumpalitan, menendang kantung kemihnya dan membuat Kyungsoo mau tak mau harus ke kamar mandi untuk memuaskan hajatnya. Selesai ia membuang air kecil, Kyungsoo dengan gusar melihat ke arah perutnya yang hanya berbalut kaus katun berwarna putih.
"Kau memang makhluk parasit yang senang membuatku menderita. Apa tidak cukup untukmu melihatku susah payah seperti ini? Setelah ayahmu membunuh teman-temanku, dan membuatku harus membawamu di dalam perutku seperti ini," gumamnya dengan wajah masam.
Ia meringis saat perutnya kembali bergolak oleh makhluk hidup di dalam sana, melonjak-lonjak seperti ingin membebaskan diri. Sambil mendecih, Kyungsoo melihat ke arah cermin kamar mandi.
Rambutnya yang dulu telah ia pangkas menjadi gaya militer, kini telah kembali panjang menutupi sebagian mata dan juga lehernya. Ingin sekali ia mencukur habis rambutnya seperti dulu, tetapi sudah pasti Jongin tidak akan membiarkan benda-benda tajam di sekelilingnya. Kyungsoo nyaris meninju habis cermin di hadapannya, tapi urung karena ia teringat cermin di hadapannya tersebut merupakan cermin dua arah. Sudah pasti Jongin sedang mengamati gerak-geriknya di suatu tempat di balik dinding.
Sesampainya ia kembali ke area tempat tidur, Jaehwan sudah menunggu Kyungsoo bersama dengan peralatan medik yang senantiasa ia bawa, dibantu oleh dua orang Beta lain.
"Oh. Kyungsoo. Hari ini kita akan mengadakan pemeriksaan rutin lagi," kata Jaehwan bersahabat padanya. Kyungsoo mendelik jengkel pada Jaehwan, dan kemudian memutuskan untuk mengikuti keinginan Jaehwan.
Jaehwan membantu Kyungsoo merebahkan diri di atas tempat tidur dan mengenakan sarung tangan berbahan lateks miliknya. Salah seorang Beta yang menjadi kaki tangannya, menurunkan celana yang dikenakan oleh Kyungsoo dan seorangnya lagi memakaikan sebuah selimut untuk menutupi sebagian tubuh Kyungsoo yang terekspos. Tangan Jaehwan kemudian sibuk meraba-raba ke bagian bawah tubuh sang Omega, wajahnya berubah cerah saat ia menemukan sesuatu.
"Berita baik. Posisi kepala bayimu sudah berada di antara tulang panggulmu. Apa kau merasa sedikit kesulitan berjalan akhir-akhir ini? Atau mungkin terasa nyeri di bagian tubuh tertentu?"
Kyungsoo merasa sedikit malu harus menceritakan semuanya pada Jaehwan—terutama tentang selangkangannya yang setiap hari terasa nyeri, tentang nyeri di punggungnya yang membuatnya kesulitan untuk tidur, bagian tubuhnya yang terasa lebih sensitif daripada biasanya, juga lain-lainnya. Sesuai yang ia duga, kepala parasit di tubuhnya kini berpindah tepat di antara panggul. Pantas saja setiap kali ia berjalan, ia merasa ada sesuatu yang menggantung di antara kedua kakinya. "Umm, ya. Itu artinya aku sudah bisa melahirkannya, kan?"
"Tidak secepat itu, tapi bisa kupastikan kau akan melahirkan anak ini dalam beberapa hari lagi," ujar Jaehwan memberitahu. "Kondisimu sejauh ini berjalan dengan baik. Tidak banyak komplikasi. Kehamilanmu berjalan sama sempurnanya dengan V. Hanya saja, di kehamilan pertamamu, kau sama sekali tidak keguguran."
"Begitu aku melahirkan parasit ini, apa Jongin akan kembali menghamiliku?"
Jaehwan yang masih memeriksa keadaan Kyungsoo, melirikkan matanya ke arah Beta yang telah berganti status menjadi Omega itu. "Aku tidak tahu. Mungkin kau bisa menanyakan langsung padanya."
Kyungsoo menggeram tertahan, "Sudah pasti dia akan menghamiliku lagi. Seperti yang kalian lakukan pada Taehyung dan juga Omega lainnya."
"Kau masih jauh lebih beruntung daripada V maupun Omega lain yang pernah berada di sini, Kyungsoo," ujar Jaehwan, berusaha untuk tetap bersikap ramah. "Kau tahu bagaimana mereka mengalami penyiksaan setiap harinya dan bergelut dengan penderitaan. Kami, para tenaga medis, tidak diberikan kesempatan untuk memonitor keadaan para Omega, kecuali jika mereka tengah sekarat atau keguguran. Juga Kai—Jongin. Dia begitu memperhatikan keadaanmu. Alpha V sebelumnya—Hyung-sik, pria yang membuatku terpaksa menyuntikkanmu dengan cairan pengubah kromosom, dia adalah jelmaan setan. Bisa kau bayangkan bagaimana mengerikannya dia dibandingkan Jongin."
Kyungsoo mendengus, "Kalau dia memang peduli padaku, dia tidak akan membunuh kedua temanku. Ataupun menghamiliku dengan benihnya dan mengurungku di sini. Aku juga yakin, kalau anak ini berhasil kulahirkan dengan selamat, kalian akan segera melakukan eksperimen padanya."
Jaehwan membulatkan matanya, tersentak dengan ucapan blak-blakan Kyungsoo. Beta itu tampak enggan selama beberapa saat, sebelum berusaha kembali tersenyum. " Kupikir kau sama sekali tidak mau mempedulikan anak di dalam perutmu itu."
"Aku memang tidak peduli," Kyungsoo mengelak dengan cepat. "Tetap saja, apa yang akan kalian lakukan pada parasit di dalam tubuhku ini, sama sekali bukan hal yang manusiawi."
Ucapannya itu tidak digubris lagi oleh Jaehwan yang kemudian melepaskan sarung tangan lateksnya dan membuangnya ke tempat sampah terdekat. "Kalau begitu, kurasa pemeriksaan hari ini sudah cukup. Kalau ada sesuatu, kau ingat untuk—"
"Membunyikan tombol di sebelah tempat tidur. Aku mengerti," Kyungsoo menyelesaikan kalimat Jaehwan dengan cepat.
Jaehwan menarik napas dan mengambil semua peralatan yang ia bawa, menyuruh dua Beta bawahannya mengikut dari belakang. "Bagus. Sampai berjumpa lagi, Kyungsoo."
Pintu tertutup tak lama sesudahnya.
8 November Hanbando Bimujang jidae, North Korea
11.33 p.m
Bangunan yang dikenal dengan nama Hanbando Bimujang Jidae tersebut menjulang di antara barisan pegunungan rendah dan lahan-lahan berwarna putih kelabu—yang dulunya masih diselimuti oleh hamparan mewah lahan pertanian yang hijau sebelum cuaca di seluruh dunia berubah ekstrem. Bangunan tersebut dibangun dari bebatuan gemping dan kapur, dengan didukung oleh pondasi bebatuan gunung di atas lapisan aanstamping dan urug. Pada setiap sloof di bawahnya, terdapat bekisting yang menyangga bangunan sehingga setiap kali ada serangan gempa yang menyerang, tidak akan ada struktur bangunan yang ikut bergeser mengikutinya.
Beberapa orang tentara satuan tank militer, tampak mondar mandir memperhatikan sekeliling, sementara barisan tentara infanteri berlarian membentuk barisan panjang menuju sebuah pintu gerbang yang terbuka otomatis di luarnya. Sekilas, bangunan sepanjang ratusan hektar tersebut tampak seperti seekor ular raksasa berwarna hitam yang sedang sibuk menggelar tubuhnya di kaki gunung jika tidak ada enam menara agung yang berfungsi sebagai menara fotifikasi, di mana masing-masing dijaga ketat oleh mesin mitraliur yang siap melancarkan serangan tiap kali ada orang yang mencurigakan yang lewat.
Jungkook mengamati bangunan tersebut dari kejauhan, dengan lensa binokular miliknya, memperhatikan setiap kesamaan bangunan Hanbando Bimujang Jidae miliki dengan bangunan Komisi Militer terpusat di Pyongyang. Dibandingkan dengan bangunan Pusat Militer Korea Utara, jelas-jelas bangunan yang berdiri sepuluh kilometer di hadapannya itu memiliki sistem pertahanan lebih menyulitkan. Ditambah lagi ada beribu-ribu pasukan infanteri yang singgah di sana. Dari tempat itulah, kegiatan penjarahan, pengeboman illegal, dan segala jenis agresi militer lainnya bermula.
Sebentar, Jungkook menoleh ke arah Taehyung yang jelas-jelas tampak menggigil di balik pakaian tebal yang ia kenakan. Omega itu setengah memeluk tubuhnya sendiri, berusaha mengendalikan rasa takutnya. Mudah saja bagi Taehyung mengajukan diri untuk ikut misi kali ini kalau ia sendiri sama sekali belum berhadapan langsung dengan sumber ketakutannya.
"Hyung."
"Aku tahu. Seharusnya aku tidak boleh merasa gentar seperti ini. Tapi aku tidak bisa menyembunyikannya," Taehyung mengaku begitu ia sadar Jungkook berbicara padanya.
"Kita akan pulang dengan selamat hari ini."
Taehyung cuma terpatut dalam diam.
Jungkook menghela napas perlahan dan memanggil teman-teman yang lain berkumpul di satu van militer. Sementara Namjoon bertugas menjelaskan brief misi mereka kali ini, Jungkook sesekali ikut membantu menambahkan poin-poin yang dirasanya masih kurang. Won-sik yang biasanya bertugas memegang kendali atas transportasi militer, ikut dilibatkan dalam misi saat ini. Sementara Jinyoung dan Jaebeom berjaga di van militer supaya Jaebeom dapat menganalisis area yang akan mereka singgahi sebelum mencapat tujuan utama.
"Kalau benar sesuai dengan perkataan V dan juga peta yang diberikan oleh Seojoon-daehwi, kita harus mengambil alih satu menara, mematikan kontrol mesin mitraliur otomatis dan masuk dari pintu di sana."
Jungkook mengalihkan pandangannya pada Hoseok, "Hobi-hyung. Kau bisa melakukannya, kan?"
Hoseok mengacungkan jempolnya, "Serahkan saja padaku."
"Lalu dari menara ini, kalian akan terhubung ke area tidak jauh dari barak tentara. Lebih amannya, kalian sebaiknya mengambil jalur rahasia melalui saluran ventilasi—air duct."
"Jadi, seperti yang kita lakukan sewaktu di markas utama Korea Utara?" tanya Yoongi menyela penjelasan Jaebeom.
"Ya. Hanya saja, kalian turun di dekat saluran ventilasi ruang medik. Kalian akan tahu kalian sudah tiba di sana kalau menemukan saluran pneumatic tube." Jaebeom memberitahu. "Dari sini, akan ada tiga jalur bercabang. Satu menuju penjara bawah tanah, dan dua lainnya ada lift yang membawa kalian menuju penjara sisanya."
Namjoon mengarahkan tubuhnya pada Taehyung. "Katamu, pasukan Korea Utara menyembunyikanmu di ruang bawah tanah, kan?"
"Ya," jawab Taehyung sedikit tidak antusias.
"Mungkin sebaiknya kita berpencar menjadi tiga kubu mulai dari tempat ini. Satu menuju penjara bawah tanah, dua yang lain menuju dua tempat sisanya. Bagaimana?"
"Apakah tidak berbahaya kalau kita berpencar-pencar seperti itu? Apalagi di tempat yang sudah pasti akan banyak pasukan infanteri berjalan di dalamnya," sela Jackson tidak setuju pada ucapan Namjoon. "Bagaimana kalau kita membagi menjadi dua kubu? Begitu tepat tiga puluh menit, kita kembali ke tempat semula dan bersama-sama ke ruang bawah tanah."
Jungkook menjetikkan jarinya dengan antusias, "Aku setuju dengan ide Jackson-hyung. Kita akan lebih kesulitan jika berhadapan dengan tentara lain apabila membawa jumlah personel tentara seperti ini."
Namjoon melipat kedua tangannya dan mengerutkan dahi, "Baiklah. Kita hanya membagi menjadi dua kelompok. Tepat tiga puluh menit setelahnya, kita kembali ke tempat semula."
Mereka melanjutkan brief sampai waktu menunjukkan pukul satu pagi. Begitu brief selesai dilaksanakan, segera saja para tentara yang ikut masuk ke dalam benteng perbatasan bahu membahu menyiapkan persediaan senjata dan kebutuhan masing-masing sementara Jaebeom, Hoseok dan Won-sik tetap membawa kendaraan menuju tempat yang lebih dekat dengan tujuan utama mereka.
Sesampainya di salah satu menara yang menjadi incaran, Jungkook mengendap-endap mendekati bangunan tersebut diikuti oleh yang lainnya. Ia menjadi orang pertama yang mendaki menara menjulang tersebut dengan bantuan ice axe, didukung oleh kemampuan fisiknya. Di bawah, Jackson berkomunikasi pada Jaebeom mengonfirmasi kapan mereka bisa mulai mengambil alih kendali mesin mitraliur yang dipasang pada puncak menara pertahanan. Sementara Hoseok sudah sedari tadi masuk ke dalam benteng, mencari-cari ruang kontrol panel yang terletak tidak jauh dari menara pertahanan melalui lubang pembuangan air.
Taehyung tidak pernah melepaskan pandangannya dari Alphanya, kedua tangannya terpilin pada gagang pistol membentuk gestur orang yang sedang berdoa. Ia berharap kamera pengintai yang selalu bergerak 360 derajat tidak melihat pergerakan Jungkook dan menembakkan timah panas ke salah satu anggota tubuh sang Alpha.
"Hobi-yah, bagaimana keadaan di dalam sana? Kau sudah mencapai ruang kontrol panel? Jungkook sebentar lagi akan tiba di puncak menara."
"Aku sudah berada di dalam. Sekarang aku sedang mencari cara mematikan kamera pengawas dan juga mesin mitraliurnya. Beri aku waktu tiga menit untuk—oh, sudah ketemu rupanya."
Kamera pengawas yang sedari tadi sibuk menyorotkan lampu penerangan ke sekitar, mendadak berhenti pada posisinya. Di saat yang bersamaan, Jungkook telah mencapai puncak menara dan melemparkan tali tambang pada belay dan rappel. Satu persatu tentara mengambil tali tersebut dan menaiki menara.
Saat semuanya telah mencapai puncak menara, Jungkook menunjuk pada suatu pintu rahasia di bawah mesin mitraliur.
"Lewat sini, semuanya."
Mereka segera memasuki pintu tersebut dan pelan-pelan menuruni tangga. Area yang mereka masuki setelahnya cukup lengang dari orang-orang, mengingat waktu masih menunjukkan pukul setengah dua pagi. Saat Seokjin menyadari setidaknya ada empat kamera pengawas di sekitar mereka, ia menyuruh yang lain untuk merapat di pojokan lorong sambil menunggu Hoseok keluar dari ruang panel kontrol. Perlu setidaknya lima menit berikutnya supaya semua tentara kembali bergabung.
"Jaebeom, ke mana kami harus pergi setelah ini?" tanya Jackson pada Jaebeom melalui HT yang terpasang di arloji kirinya.
"Kalian berjalan ke arah sebaliknya. Putar balik dan terus berjalan lurus. Hati-hati karena tidak jauh dari sana ada ruang pengawasan."
Semua orang mengikuti perkataan Jaebeom, termasuk Taehyung yang sedari tadi tidak dapat berhenti melempar pandangannya ke sekeliling. Ia merasakan giginya tetap bergemeletuk karena rasa takut, termasuk tangannya yang sedari tadi masih memegangi ganggang pistol berpeluru kaliber 9 mm yang ia terima dari Hoseok sebagai pertahanan diri.
Ia mengingat betul lorong yang memanjang secara horizontal dan vertikal. Lorong yang memanjang secara horizontal tersebut dibagi menjadi empat tingkatan, masing-masing memiliki balkon yang dikelilingi oleh dinding beton setengah tinggi orang dewasa, dengan pagar kawat dan jeruji besi. Dari tempat itulah, Taehyung yang masih berstatus Alpha, mulai menerima serangan penyiksaan secara verbal oleh para tentara Korea Utara. Wajah-wajah bengis mereka berlayangan dalam memorinya, menunjuk-nunjuk ke arah Taehyung seolah-olah ia adalah seorang tontonan publik yang patut untuk diperolok-olok sebelum menjalani eksekusi paling menyakitkan.
Saat matanya menyusuri lantai berwarna abu-abu, ingatan di mana ia diseret paksa oleh para tentara Korea Utara, dengan kedua tangan terborgol. Ia juga ingat betul saat Bogum ditendang oleh Sungjae—seorang tentara Korea Utara yang pernah ikut ambil bagian dalam penyiksaan terhadap dirinya—sampai kemudian ia menantang balik Beta itu dan berakhir dengan bahu dan punggung lebam. Gambaran itu barulah permulaan dari penyiksaan yang akan ia dapatkan setelahnya.
"Taehyung, percepat langkahmu kalau kau tidak kita tertinggal dari yang lain," bisik Seokjin pelan di belakangnya.
Taehyung berjengit kaget saat ia merasakan tangan Seokjin menyentuh pundaknya, tanpa sadar menampik kasar Beta itu menjauh. Seokjin sedikit terkejut melihat sikap Omega itu, walaupun ekspresinya terhalang oleh masker. "A-aku mengerti," sahut Taehyung spontan, merasa sedikit bersalah. Dengan segenap nyali yang masih tersisa, ia berusaha menyusul teman-temannya yang lain di depan, sementara Seokjin mengekor dari belakang.
Mereka berjalan selama beberapa menit, lurus ke depan, menyusuri lorong yang semakin jauh dari tempat awal mereka tiba, semakin pula langit-langit di atas mereka menciut mendekati atas kepala. Bagian ceiling yang terekspos, dengan berbagai macam saluran ducting, air filter, dan HVAC, mengeluarkan bunyi desingan aneh. Pada suatu sudut dengan saluran air grille yang lebih besar, Jungkook mengambil inisiatif untuk memanjat dan masuk ke dalamnya, diikuti oleh yang lain.
Taehyung menjadi yang terakhir masuk karena matanya tidak lepas memandang sekeliling, mewanti-wanti kalau-kalau ia mendengar suara langkah sol sepatu boots milik seorang tentara.
"Saatnya untuk bersenang-senang!"
"Hyung?" suara Jungkook mengalihkan perhatian Taehyung, memutus fokusnya dari alam pikiran, "Apa yang kau lakukan? Kami semua menunggumu."
Taehyung mendongak perlahan-lahan, "O-oh, mian—" ia ikut melompat ke dalam saluran air grille.
Di dalam saluran air grille itu, udara terasa lebih pengap dan lembab. Suara-suara yang dihasilkan di dalamnya juga terdengar lebih dekat di telinganya, termasuk suara desahan napasnya sendiri. Taehyung sesekali menyampirkan pandangan ke bawah—menyelinap di balik jeruji louver. Ada setidaknya beberapa orang tentara yang sibuk mondar mandir membawa senapan. Tidak ada tanda-tanda tahanan di sana—juga tidak ada tanda-tanda tentara yang membawa masuk Omega atau setidaknya tahanan yang menjadi bahan eksperimen.
"Sepertinya kita sudah sampai di tempat yang dimaksud oleh Jaebeom," kata Jackson memutuskan sambil melihat arloji di pergelangan tangan kirinya.
"Ah. Aku juga sudah bisa melihat saluran pneumatic tube di bawah sini. Sepertinya ini tempat pelayanan kesehatan khusus bagi tentara—"
Taehyung memotong ucapan Hoseok, "Juga tempat untuk mengeksperimen mereka yang menjadi tahanan Korea Utara," ia merasakan napasnya tertahan setiap kali ia mengingat di mana posisi ia sekarang.
Satu persatu kelompok Minguk menuruni saluran ventilasi, sementara Jungkook bertugas sebagai pemegang kendali keadaan sekitar. Saat terdengar suara langkah mendekat ke arah mereka, Jungkook menyuruh anggota Minguk yang masih berada di dalam ventilasi untuk menyetop sebentar aksi mereka sementara ia menyelinap ke sumber suara. Suara lenguhan kesakitan terdengar beberapa saat kemudian disusul oleh suara debuman pelan. Jungkook kembali dan menginstruksi yang lain untuk melanjutkan aksi mereka yang sempat tertunda.
Bau antiseptik dan cairan steril lainnya—meski cuma samar—mulai menyengat hidung mereka. Taehyung berusaha menahan napas setiap kali bau iodin menyeruak masuk ke dalam saluran nasalnya, merasa mual. Tanpa perlu melangkah lebih jauh ke balik pintu kembar yang dilapisi oleh kaca tembus pandang dan terbingkai aluminum, ia bisa membayangkan bagaimana situasi di dalam sana selama masa penahanannya di bawah Korea Utara secara jelas, sejelas melihat air di dalam gelas berkaca bening.
"Ah, percobaan genetikku akhirnya berhasil!Kau hamil! Setidaknya 10 minggu!"
Kemudian pemandangan berdarah di mana ia berkali-kali kehilangan orang-orang yang ia kenal, juga anak-anaknya yang tidak akan pernah sempat hidup ke dunia. Ia berusaha menghapus pikiran itu jauh-jauh sambil mengarahkan pandangannya pada Jungkook yang mulai membagi mereka menjadi dua kelompok. Sudah bisa dipastikan, ia dan Alpha muda itu menjadi rekan satu tim.
Kelompok Minguk terpisah menjadi dua tim saat mereka berjalan berseberangan arah dengan fasilitas medis. Ada Jungkook, Won-sik, dan Hoseok bersamanya. Sewaktu mereka berjalan beriringan memasuki lorong yang lebih gelap dan dikelilingi oleh tembok-tembok beton, Taehyung baru menyadari Jungkook terus menerus memandanginya.
"Kau tidak boleh merasa takut sekarang, Hyung. Kita sudah sampai sejauh ini."
"A-aku tidak takut, aku baik-baik saja!" ujar sang Omega keras kepala.
Won-sik merangkul bahu Jungkook dan Taehyung, berbisik pelan, "Pelankan suara kalian. Aku bisa mendengar sayup-sayup suara orang tidak jauh dari sini."
Sesuai dengan ucapannya, Hoseok langsung menyuruh ketiga rekannya yang lain untuk menepi di balik kolom besar, bersembunyi dari enam orang tentara yang sedang berlari-lari ke arah mereka tanpa persenjataan. Mereka tertawa-tawa sebentar, saling menendang satu sama lain. Tanpa curiga, enam tentara tersebut berlari melewati tentara Minguk yang bersembunyi di balik bayang-bayang kolom dan menghilang di ujung persimpangan—suara mereka kian larut terendam oleh tembok beton.
Taehyung menyadari Jungkook mendekap tubuhnya erat-erat begitu mereka keluar dari balik kolom, kembali memastikan kalau situasi telah aman. Meski sebentar, aroma pekat kayumanis Alpha itu—yang persis dengan aroma Seojoon—membuatnya seperti baru disuntikkan oleh zat endorfin.
"Pasti tidak jauh dari sini ada penjara yang sedang kita tuju," ujar Won-sik, berjalan duluan. Ia menyuruh yang lain untuk diam dan mendengarkan. "Dengar. Ada suara teriakan."
"Apa mungkin itu suara tahanan yang disiksa?" tanya Hoseok, terdengar takut-takut.
"—mungkin," jawab Taehyung, merasa tidak yakin untuk memberikan jawaban secara pasti. Ia mengeluh tertahan saat Jungkook melepaskan dekapannya.
Tidak mungkin ia terus menerus bergantung pada Jungkook. Bagaimanapun juga ia telah mengambil keputusan untuk ikut dalam misi ini.
Mereka melanjutkan tujuan—menyeberangi sebuah jembatan berlantai plat besi dan berpagar kawat. Suara teriakan kesakitan bertambah banyak seiring mendekatnya mereka di tempat tujuan. Mereka menaiki sebuah undakan dan tiba di ruangan berbentuk trapesium. Ruangan trapesium tersebut berdinding rendah, nyaris menyentuh puncak kepala Jungkook, sementara beberapa macam ruang sel menyebar di sekeliling mereka.
Masih ada dua orang tentara yang berjaga di dalam sana, salah satunya sedang menyeret paksa seorang tahanan keluar dari dalam selnya. Tahanan tersebut—dari caranya berseru dengan bahasa asing, Taehyung menebak ia adalah orang Jepang. Tentara Korea Utara—seorang Beta—menarik kerah baju tahanan Jepang tersebut, dan menyeretnya keluar hingga menumbuk lantai berbatu. Saat si tentara Jepang berusaha melawan, tentara Korea Utara yang lain menginjak lehernya dan mengambil seutas sabuk di pinggangnya.
Suara lecutan bergaung dari arah lorong mereka tuju bermuara diiringi suara pekikan kesakitan. Taehyung merasakan darahnya membeku. Seolah-olah bisa merasakan kengerian dari pasangan Omeganya, Jungkook langsung memutar kepalanya ke arah Taehyung.
"Kita ke sana," kata sang Alpha bersurai hitam tersebut pada seluruh rekan-rekan yang sedang bersamanya, meski pandangannya hanya tertuju pada Omeganya.
Mereka memperkecil jarak ke tempat dua tentara Korea Utara tersebut berada, mendengarkan lebih banyak suara lecutan dan suara erangan kesakitan yang semakin saling sahut menyahut. Keempat tentara Minguk menyelinap dengan tubuh membungkuk serendah mungkin, berharap dua tentara tersebut tidak menyadari keberadaan mereka. Dengan gerakan sehalus riak kecil air, Jungkook menarik pisau dari balik bootsnya dan menoreh mata tajam benda logam di tangannya ke leher salah seorang tentara, sementara Hoseok menirukan aksinya pada tentara yang lain.
Dua tubuh tentara Korea Utara itu langsung jatuh tanpa banyak suara ke atas lantai berbatu diikuti muncratan darah segar. Tubuh mereka menggelepar selama beberapa saat sebelum menghembuskan napas terakhir. Taehyung menyaksikan pemandangan tersebut dengan ekspresi yang tersembunyi di balik maskernya, tapi jelas sekali Jungkook bisa melihat tangan Omeganya gemetaran saat memegangi ganggang pistol.
Won-sik memeriksa salah seorang tahanan berkewarganegaraan Jepang yang ikut terkapar di atas lantai berbatu, tidak sadarkan diri dengan punggung yang sudah bersimbah cairan merah, menodai pakaian yang jelas-jelas sudah cukup lama dikenakan tanpa pernah dicuci. Seisi ruangan kini dipenuhi oleh aroma amis darah di samping aroma pesing air kencing dan feses manusia.
Dibantu oleh Hoseok, Jungkook menyembunyikan ketiga tubuh yang sudah tidak bernyawa itu ke sebuah sel yang masih kosong. "Kita periksa satu persatu sel di sini. Kalau kalian menemukan salah satu dari mereka, segera kabari dengan kode yang sudah kita sepakati."
Ada sedikit perasaan enggan saat Taehyung harus berpisah dari Jungkook walaupun hanya beberapa menit. Ia melangkah ke sudut lain, melihat ke belakang, dan memperhatikan kalau Jungkook sendiri tidak sedikit pun berhenti menilik ke arahnya. Taehyung menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan, mempersiapkan diri. Ia melambaikan tangannya pada Jungkook sebelum membalikkan tubuh membelakangi sang Alpha. Sedikit lagi, ia akan menyelesaikan misi ini, dan bisa kembali ke Jihoon. Juga menghabiskan waktu lebih lama dengan Alpha barunya.
Tempat itu sedikit berbeda dengan penjara bawah tanah yang ia diami selama mengalami masa transisi menjadi Omega. Berlangit-langit dari dak beton yang lebih rendah, serta nuansa ruangan yang lebih gelap. Aroma defekasi juga membuatnya merasa sedikit mual. Ada setidaknya sepuluh sel yang ia periksa, masing-masing diisi oleh tiga hingga lima orang tahanan.
Ada sebersit perasaan kasihan berkecamuk dalam dadanya melihat kondisi para tahanan tersebut. Tubuh mereka kering kerontang, terbungkus seragam bertugas yang menandakan kalau mereka adalah tentara Jepang. Beberapa orang dari mereka menyentakkan kepala saat Taehyung bergerak mendekat, melemparkan pandangan padanya, seolah-olah menyadari kalau namja di hadapan mereka ini istimewa. Aroma manis Omega begitu kentara di antara aroma lainnya bagi semua Alpha dan sebagian Beta, sudah pasti mereka akan mengenali perbedaan aroma tersebut tanpa perlu berlama-lama menghirupnya.
Taehyung menyorotkan lampu senter ke sebagian sel, berharap semua mata berhenti tertuju ke arahnya. Tidak peduli mereka adalah tentara Jepang yang telah menghancurkan negaranya atau bukan, tetap saja ia tidak bisa mengesampingkan rasa iba melihat penampilan tahanan yang kondisi tubuhnya sudah tidak jelas.
Sama mengerikannya dengan sel berisi para Omega yang dulu sering ia lihat.
Ia memeriksa tempat itu sekali lagi, memicingkan mata saat beberapa dari mereka tidak berhenti menggaruk permukaan kulit mereka—membuat batinnya semakin tidak nyaman. Setelah yakin ia tidak menemukan salah satu rekan setimnya dulu di dalam sana, Taehyung kembali ke tempat semula.
"Kau tidak menemukan siapapun?" tanya Jungkook, yang pertama kali menginjakkan kaki di titik pertemuan yang telah mereka tentukan.
Taehyung menggeleng sedih, "Tidak."
Hoseok dan Won-sik yang menyusul setelah mereka, ikut memberikan hasil negatif.
Jungkook mendesah panjang, "Semoga kita mendapatkan kabar baik dari Namjoon-hyung dan yang lain."
Mereka berjalan meninggalkan sel, sebelum Taehyung menyetop mereka.
"Ka-kalian tidak akan membebaskan mereka? Para tahanan-tahanan di sini?" tanyanya, sedikit mewanti-wanti.
Jungkook terdiam sejenak, setengah tubuhnya menghadap Omeganya. "Percuma untuk melakukannya. Mereka sudah tidak punya tenaga untuk kabur dan juga akan sia-sia bagi kita membebaskan mereka. Lagi pula, mereka adalah tentara Jepang. Untuk apa kau menginginkan mereka bebas dari tempat ini?"
Ucapan Jungkook terdengar masuk akal dan juga salah di saat yang bersamaan. Taehyung menoleh ke arah ruang penjara tersebut untuk terakhir kalinya dan menggumam pelan pada dirinya sendiri, "Ini adalah perang. Sudah sewajarnya hal seperti ini terjadi. Apa yang kupikirkan, huh?"
Suara langkah kaki mereka berhenti menggema di dalam ruangan tersebut beberapa saat kemudian.
04.26 a.m
Yoongi berhasil menjatuhkan seorang tentara sesampainya mereka di blok sel tujuan dan menyembunyikan mayatnya di pojok ruangan. Sel tersebut terdiri dari tiga tingkatan, memanjang ke atas, terdiri dari tembok-tembok beton dan lapisan plaster yang sudah menghitam. Pintu-pintu dari logam berat menjaga tahanan di dalamnya, dengan hanya satu bukaan di bawah pintu sebagai tempat transportasi makanan.
Seokjin memutar pandangannya ke sekeliling, mendengar suara teriakan parau dari para tahanan di balik pintu bersamaan dengan suara gebrakan pintu. Saat suatu tangan menyeruak masuk dari balik lubang pintu, Seokjin memekik kaget, berusaha menghindari sepotong tangan yang tampak berusaha meraih-raih sesuatu.
"Jin!" Namjoon berusaha menarik sang Beta menjauh dari pintu tersebut.
"Shibal, hampir saja kakiku tertangkap oleh tangan itu!"
"Tempat ini benar-benar mengerikan. Terlalu gelap," gerutu Jackson sembari membetulkan posisi senter, mengarahkan cahaya ke tangan di balik lubang yang perlahan-lahan kembali menciut ke dalam.
"Sepertinya kita akan kesulitan untuk memeriksa tempat ini," kata Namjoon, menyorotkan lampunya dengan hati-hati pada setiap pintu yang sudah dinomori.
"Bagaimana kita akan memeriksa kalau begini keadaan tempatnya? Dari mana kita mulai memeriksa?" Seokjin bertanya-tanya.
Namjoon berdehum, berpikir. "Akan sedikit menyulitkan untuk memeriksa tempat ini satu persatu tanpa mengundang perhatian tahanan lainnya. Mungkin kita bisa coba membuat kode yang hanya diketahui oleh Pasukan Brigade Khusus ke 13, dan kalau ada di antara mereka yang menjawabnya dengan tepat, pastilah mereka salah satu dari teman-teman kita yang ditangkap."
Ketiga rekan-rekannya yang lain berpencar. Jackson dan Seokjin pergi ke lantai dua dan tiga, sementara Yoongi di lantai satu. Namjoon bertugas memeriksa di sudut lain, yang membawanya ke sebuah tempat terdiri dari dinding kaca tembus pandang. Ia mendengar suara ketukan yang saling sambung menyambung, menggema di lorong yang baru saja ia lewati—suara kode morse yang telah disepakati oleh para anggota Pasukan Brigade Khusus ke 13 semasa mereka masih bertugas sepenuhnya di medan perang dan di daerah perbatasan.
Namjoon mengarahkan senternya pada ruangan berbentuk kubus di ujung lorong, ruangan yang ia asumsikan sebagai ruang interogasi, berdinding batu yang telah diplaster. Ia mengintip di balik kaca tembus pandang. Di dalam ruangan tersebut, ia bisa melihat ada setidaknya dua kursi yang saling berhadapan dan dipisahkan oleh sebuah meja panjang dari besi ringan. Ada dua kamera CCTV yang ia sadari kemudian sama sekali tidak berfungsi, berjaga di depan pintu masuk ruang interogasi tersebut.
Nada terkejut menggelegak keluar dari tenggorokannya saat ia melihat begitu banyak jejak darah di sekitar pintu. Saat ia mempelajari jejak darah tersebut, sorot senternya berakhir pada meja interogasi yang ia sadari ternyata tergenang oleh cairan merah—darah.
Apakah mungkin para tahanan disiksa di tempat ini sebelum kembali ke sel tahanan mereka?
Pertanyaan tidak terjawab karena ia mendengar suara langkah kaki berat perlahan-lahan mendekat ke arahnya. Suara langkah berat tersebut disertai suara lenguhan rendah. Namjoon merasakan kuduknya meremang. Sontak ia memutar tubuh, mengira ia sedang dikintili seorang tentara Korea Utara tanpa sepengetahuannya. Justru yang ia lihat adalah seorang tahanan—berseragam tentara Jepang dengan warna krem—terseok-seok melangkah ke arahnya dengan sebelah kaki yang telah hancur.
"Tabemonooo—"
Tiba-tiba saja tentara tersebut melontarkan dirinya pada Namjoon. Namjoon berusaha menghindar secepat yang ia bisa sebelum tentara Jepang tersebut meraih torsonya. Ia berhasil luput dari sang tentara Jepang, tetapi tampaknya Beta tersebut belum mau menyerah dan kembali berusaha meraih salah satu kaki jenjang Namjoon. Namjoon meraih senjata di balik holster celananya, melepaskan timah panas tepat di antara kedua mata si tentara Jepang.
Suara tembakan berdengung di telinga Namjoon, tetapi setidaknya teredam oleh supresor yang dipasang di moncong pistol tangannya. Darah sedikit mengenai ujung celana yang ia kenakan, bisa ia rasakan dari sensasi basah yang menjalar sana.
"Joon-ah?" ia mendengar suara Yoongi bertanya padanya—memastikan. Alpha berambut perak itu setengah berlari ke arah sang kapten, "Kau baru saja meletupkan tembakan? Apa terjadi sesuatu?" ia kembali bertanya dengan nada khawatir.
Namjoon menyipitkan mata saat senter Yoongi menembus wajahnya, "Ada seorang tahanan yang berhasil kabur tampaknya."
Yoongi berlutut di dekat jasad tentara tersebut, mempelajari jasadnya. Namjoon ikut berlutut. Beberapa detik berselang, dua-duanya sama-sama terkesiap.
"Chugyeokja."
Namjoon bisa melihat mata Yoongi membulat sempurna di balik masker yang Alpha itu kenakan. "M-mereka juga ada di tempat ini?"
"Kalau ada satu orang Chugyeokja di tempat ini, pasti ada yang lainnya juga di sekitar," Yoongi berucap, suaranya terdengar sedikit panik.
Terdengar suara pekikan nyaring.
Seokjin.
"Jinnie?!"
Namjoon nyaris tidak bisa menahan seruan nama sang kekasih tatkala ia mendengar suara Beta itu bergema mencapai lorong yang ia pijaki. Alpha itu berlari ke asal suara Seokjin, tidak mempedulikan suara langkah kakinya sendiri yang bertempa di sepanjang baris undakan anak tangga metal yang ia naiki.
Dilihatnya, Seokjin tengah terduduk di depan suatu pintu, mengarahkan moncong pistolnya ke lubang pintu yang sedang terbuka. Dari lubang tersebut saat Namjoon menyorot dengan lampu senter, tampak jelas sejumlah tangan berlumuran luka bakar yang sudah menghitam, berupaya menggenggam ujung boots Seokjin.
Namjoon menancapkan ujung pisau lipat di balik rompi yang ia kenakan ke punggung tangan tersebut, membuat seonggok tangan itu mengejang selama beberapa saat dan masuk ke balik lubang.
Yoongi membantu Seokjin berdiri saat sang Beta yang merupakan kekasih Namjoon tersebut mulai merancau, "Chugyeokja! Di tempat ini ada mereka!" ujarnya ganar, "A-aku melihat ke balik lubang pintu, dan ada sepasang mata berwarna merah menatapku dari sana!"
"Aku dan Yoongi sudah tahu soal itu," kata Namjoon meremas pundak sang Beta. "Aku juga diserang sebelum ke sini."
Jackson berseru tidak kalah panik di bawah mereka, "Hei! Yang benar saja, tempat ini ada banyak Chugyeokja!" ia menyorotkan lampu senter LEDnya ke pojok blok sel, "Ada mayat seorang tentara di sana! Jasadnya masih baru. Bagian perutnya berlubang, seperti ada yang berusaha merobek perutnya!"
Namjoon menyumpah. "Jackson—apa mungkin tempat ini sudah terkontaminasi gas flakka seperti yang kau jelaskan?"
"Aku tidak tahu—"
Terdengar suara pintu besi di sekeliling mereka digedor-gedor secara paksa bertepatan dengan suara erangan dan gaduh lainnya. Suara tersebut semakin lama semakin cepat, membahana dalam seisi blok sel.
"Apa yang terjadi?" Seokjin bertambah panik.
Ada suara dentuman langkah kaki yang jelas-jelas bukan milik mereka, berhamburan dari arah menara pengawas yang terletak berseberangan dari blok sel. Ada setidaknya sepuluh orang tentara bersiaga di sekeliling, lengkap dengan senjata.
Namjoon menyuruh anggota timnya bersembunyi di balik cerukan lorong yang dapat mereka temukan, begitu merasa situasi berbalik genting.
"Bisakah kalian diam?!" teriak salah seorang tentara Korea Utara sambil menendang salah satu pintu, "Suara kalian mengganggu ketenangan kami sampai menara pengawas!"
Suara teriakan dan gedoran pintu tidak kian mereda.
Seorang tentara membuka pintu dan menyeret tahanan dari dalam. Ia dengan sengaja menabrakkan tubuh tahanan yang tampaknya adalah warga sipil secara sembarangan ke atas lantai. Sang tahanan melompat ke arah tentara tersebut, tetapi dua temannya yang lain menahan.
"Tampaknya terjadi sesuatu yang aneh dengan para tahanan di sini. Mereka ini para tahanan yang kita pindahkan dari sel di bawah tanah, kan?" gusar seorang tentara yang sibuk bersandar di dekat pintu.
"Ya. Benar-benar aneh," celetuk salah seorang tentara yang lain, "Akhir-akhir ini banyak yang keluar masuk ruang medik setelah menerima serangan dari para tahanan di sini. Mereka bertingkah seperti orang gila. Tidak bisa dikendalikan dan tiba-tiba saja sudah melukai teman-teman kita."
Dua tentara yang sedang menahan tubuh sang tahanan, menoleh begitu suara derap langkah mengiringi mereka dari belakang. "Huh? Apa-apaan—"
Salah satu pintu sel tiba-tiba terbuka tanpa sebab, menampakkan tiga orang tahanan dari dalam kubik sel. Ketiga tahanan ini menyerang dua orang tentara yang masih menahan satu orang tahanan lain dengan beringas. Teriakan kalang kabut bercecaran ke segala arah bersamaan dengan suara dobrakan pintu yang lain.
Pemandangan di depan mata tentara Minguk semakin berubah mengerikan.
Sekitar enam pintu di lantai terbawah blok sel terbuka dengan sendirinya dan sejumlah tahanan menyeruak keluar, menyerang para tentara Korea Utara yang kelabakan untuk membela diri mereka. Suara tembakan senjata api bergaung di sekitar. Ada setidaknya lima orang tahanan yang berhasil dijatuhkan, tapi jumlah tentara Korea Utara yang jatuh jauh lebih banyak.
Para tentara Korea Utara yang tidak berkutik, mengejang kesakitan di posisi mereka masing-masing saat para tahanan yang telah berubah menjadi Chugyeokja—dengan sepasang mata merah menyala di balik remang-remang lampu dan kulit sehitam malam, meraih tubuh mereka dengan cakar-cakar mereka yang panjang. Seorang Chugyeokja mengambil sebilah combat knife dari boots tentara yang terkapar karena ditindih oleh dua orang Chugyeokja lain, sebelum kemudian membelek perutnya hidup-hidup. Tidak sampai di situ, ia mulai mengambil suato organ dari bagian torso yang terkoyak sebelum mengengdusnya.
Namjoon meremas tangan Seokjin di sebelahnya, berusaha mengalihkan pandangan saat ia melihat pemandangan di hadapan mereka berubah menjadi aksi kanibalisme. Para tentara yang masih hidup, berusaha berteriak mencari pertolongan, tetapi suara mereka terendam oleh gerungan kumpulan Chugyeokja yang kelaparan.
"Kita harus segera bergegas pergi dari sini. Kita tidak menemukan siapapun kecuali—"
Namjoon sama sekali belum mengungkapkan kalimat sepenuhnya saat pintu-pintu di belakang mereka pada akhirnya terbuka dengan suara dobrakan yang memekakkan telinga. Para tahanan yang telah berubah menjadi Chugyeokja mengaum seperti binatang ke arah mereka, menyerang. Langsung saja, Namjoon mengambil senjata dan menembakkan peluru yang masih terpasang di pistolnya ke arah kepala-kepala yang bisa ia lihat. Seokjin, Yoongi, dan Jackson menirunya, menembakkan pistol mereka masing-masing ke arah Chugyeokja.
"Sekarang! Kita harus pergi sekarang sebelum mereka bertambah banyak!" teriaknya.
Ada satu orang tentara Korea Utara yang menyadari keberadaan mereka, melihat para tentara Minguk menuruni tangga metal. Tetapi perhatiannya itu tersita selamanya saat seorang Chugyeokja meraup wajahnya.
Namjoon memerintahkan ketiga rekan-rekannya untuk terus berlari, melarikan diri dari situasi pelik yang tidak terduga di belakang mereka, sampai kemudian mereka bertemu dengan sekelompok tentara Korea Utara di persimpangan.
"Siapa kalian?!" seru seorang pemimpin dari kelompok Korea Utara tersebut sambil mengacungkan pistolnya tepat ke dahi Namjoon.
Namjoon tidak perlu menjawab karena para Chugyeokja di belakang mereka berhamburan masing-masing ke tentara Minguk dan tentara Korea Utara, menyerang siapapun yang mereka lihat. Pada akhirnya, tentara Korea Utara sibuk menembaki Chugyeokja. Para tentara Minguk hanya sempat menembak beberapa orang tentara Korea Utara dan juga Chugyeokja sebagai perlawanan, hingga sejumlah Chugyeokja yang lebih banyak semakin bermunculan di sekeliling.
Jackson nyaris terseret oleh kawanan Chugyeokja jika Yoongi tidak menariknya secepat mungkin. "Mereka—jumlah mereka semakin banyak—"
"Lupakan para Chugyeokja, Jackson! Kita harus melarikan diri dari sini sekarang juga dan menemui Jungkook juga yang lainnya!"
Mereka meninggalkan para tentara Korea Utara yang masih sibuk bergumul dengan Chugyeokja, kembali ke meeting point—titik pertemuan yang sejak awal telah ditentukan. Namjoon melihat ke arloji di tangannya, mereka telat setidaknya dua puluh menit dari waktu yang telah disepakati bersama.
Sesampainya di persimpangan lain—Jungkook, Taehyung, Hoseok, Won-sik, menunggu mereka. Tidak jauh dari tempat keempatnya berdiri, ada sedikit bercak darah yang menodai lantai.
"Kalian terlalu lama ke sini. Kami sudah menghabisi setidaknya tujuh orang tentara yang kebetulan lewat," ujar Jungkook sedikit kesal dengan keterlambatan Namjoon dan yang lain.
"Kalian masih beruntung—" balas Yoongi dengan napas tersengal-sengal. Ia dan ketiga temannya yang lain tampak sama-sama kewalahan. "Kami bertemu dengan puluhan tentara Korea Utara—"
Hoseok menyelak, "Ini markas Korea Utara, apa yang kau harapkan dari tempat seperti ini, Hyung. Makanya kami mewanti-wanti kalian untuk hati-hati—"
"—dan juga Chugyeokja. Makanya aku juga berharap kau tidak memotong ucapanku, babo," gerutu Yoongi.
Jungkook, Taehyung, Hoseok dan Won-sik terkesiap secara bersamaan.
"Chugyeokja? Ada Chugyeokja di sini?"
Seokjin menganggukkan kepala, menyahuti Won-sik, "Ada banyak—mereka semua berasal dari tahanan yang ada di sini."
"Kita bicarakan soal ini di saluran ventilasi saja," Jungkook memutus pembicaraan. Tepat seperti yang ia duga, suara derap langkah kaki menunjukkan kalau tempat yang saat ini mereka jamah akan dilalui tentara Korea Utara sebentar lagi.
Barisan hitam tentara Korea Utara bergerak seperti kawanan semut dari balik lubang grille di mana tentara Minguk berada sekarang.
"Yang benar saja. Tempat ini juga sudah terkontaminasi oleh gas biologis milik kita?! Jackson-hyung, apa-apaan?! Kenapa kau tidak memberitahu kami?!" Jungkook berbisik keras-keras pada Jackson. Alpha muda itu membuka maskernya, membuat ekspresi jengkelnya tergambar jelas.
"Jangan menyalahkanku!" balas Jackson frustasi. "Aku tidak tahu kalau gasnya sudah sampai ke sini! Pasti Daetonglyeongnim yang menyuruh bawahannya diam-diam untuk mengirimkan gas ke sini. Mungkin ide bagus untuk menghabisi Korea Utara secepatnya, tapi aku tidak menyangka kalau dia benar-benar melakukannya tanpa sepengetahuanku atau siapapun!"
"Senjata ini mengerikan," Taehyung menegaskan di belakang Jungkook. Omega itu bersandar pada dinding metal saluran ventilasi. Ia juga turut melepaskan masker dan membuat rambut abu-abunya tampak acak-acakan. "Bagaimana kalau ternyata salah satu dari teman-teman kita yang akan kita selamatkan, menghirup gas tersebut?"
"Kemungkinannya besar sekali," Namjoon menyetujui ucapan Omega tersebut. "Tapi kita tidak akan pergi dari sini sampai setidaknya kita tahu apa yang terjadi pada teman-teman kita. Sekalipun hanya melihat jasad mereka yang sudah terbelah."
"Benar. Masih ada satu lagi penjara di bawah tanah yang belum kita masuki," kata Hoseok, teringat.
Namjoon, Seokjin, Yoongi dan Jackson saling berpandangan.
"Berita buruknya, kami mendengar dari salah satu tentara Korea Utara, ruang bawah tanah di sana kemungkinan memenjarakan lebih banyak Chugyeokja. Akan lebih berbahaya kalau kita bersikeras tetap pergi ke sana." Namjoon menginformasikan.
Semua orang terpegun.
"Jadi," Jungkook angkat bicara, "Apa kalian masih mau mundur sekarang?"
05.37 a.m
Jongin yang sedari tadi menyibukkan diri di ruang kerja pribadinya yang sebulan lalu khusus dibangunkan untuknya, kini tengah mempelajari beberapa informasi terakhir yang ia terima berkenaan dengan tahana di lapas Korea Utara. Setidaknya dalam beberapa minggu terakhir, para tentara Korea Utara di bawah kendalinya berhasil menjarah dua pemukiman terakhir di daerah Kungmang-Bong dan Hyangnobong-Sanmaek dan menangkap setidaknya lima ratus penduduk sipil yang masih hidup. Jumlah yang menurun drastis dari sebelum-sebelumnya dan Jongin menyalahkan hal ini karena badai salju yang menghalangi pergerakan tentara Korea Utara ke daerah-daerah tersebut dan juga jumlah desa yang semakin berkurang setelah peperangan berlangsung cukup lama.
Biasanya, sejumlah penduduk yang mereka tangkap ini akan dijadikan tahanan biasa, dipaksa sebagai tenaga kerja manusia, ataupun sebagai bahan percobaan. Sayangnya, selama beberapa bulan terakhir, hanya tiga orang tawanan yang berhasil dimodifikasi menjadi Omega, termasuk Kyungsoo yang kini tengah mengandung benihnya.
Entah bagaimana, jumlah obyek percobaan modifikasi kromosom yang dilakukan pada sejumlah tahanan, semuanya berakhir gagal. Ia telah kehilangan setidaknya sembilan puluh orang dalam penyuntikkan cairan alterasi kromosom ke tahanan Korea Utara secara bersamaan. Mereka yang kebanyakan terdiri dari pria Beta berusia dua puluh hingga tiga puluh tahunan, meninggal hanya dalam waktu dua hari, sehari sebelum gender kedua mereka berubah seratus persen menjadi Omega.
Dua Omega yang lain—salah satu dari mereka meninggal begitu mengalami kelahiran prematur, satu Omega lainnya meninggal akibat pendarahan. Setelah sekian lama ia menjadi tentara Korea Utara, entah kenapa Jongin semakin menyadari sisi buruk dari tugas yang ia emban. Selama ini, ia selalu antusias dalam menjalani tugas yang diberikan oleh Hyung-sik. Ia menikmati berbagai penyiksaan yang dilakukan pada para tahanan—mendengarkan erangan kesakitan semetara ia duduk dan menertawakan penderitaan mereka. Setiap kali ia merasa tertekan begitu ia menerima makian atau kekerasan fisik dari Hyung-sik, maka ia akan melampiaskannya pada tawanan di blok sel.
Apalagi sewaktu ia masihlah seorang kelasi biasa di Batallion ke-3, yang selalu diinstruksi melakukan segala hal tanpa henti seenaknya. Tentu saja, hubungan antara senior dan junior di sini begitu kentara, tampak dari perlakuan para tentara yang lebih tua. Butuh mental batu kalau ingin berbaur dengan orang-orang seperti mereka. Buang semua rasa kemanusiaan yang ia miliki, maka Jongin dapat dengan mudah menjadi salah satu orang yang dianggap.
Sewaktu ia dikenalkan pertama kali pada para tahanan yang berhasil dijadikan obyek penelitian sebagai Omega, Jongin semakin menyukai tugasnya. Ia disuguhkan oleh pemandangan eksotis para Omega—dengan tubuh telanjang mereka yang siap melayani para tentara Korea Utara selama 24 jam. Aroma tubuh Omega memang menggiurkan, tapi yang paling membuatnya ikut kecanduan adalah sensasi di mana penisnya berada di antara lubang vagina mereka. Seumur hidupnya hingga ia masih berstatus kelasi bawah, Jongin tidak pernah merasakan dorongan seksual sampai ia dikenalkan pada para Omega. Mungkin sebagian dari para Omega memiliki wajah yang sama sekali tidak menarik minatnya, tapi ia tidak bisa memungkiri bagaimana nikmatnya berhubungan seks dengan mereka.
Terutama saat ia berhubungan dengan V—Omega Hyung-sik untuk pertama kalinya. Wajah Omega itu—wajahnya yang paling menarik di antara para Omega, dengan tubuh mulus dan sempurna, corak kulit kecoklatan, perawakan tinggi, dan juga vagina yang begitu ketat—siapa yang tidak tergoda? Jongin tidak berani mengakui Hyung-sik sebagai orang baik karena Alpha itu dengan sukarela 'meminjamkan' Omeganya secara cuma-cuma pada bawahannya. Ia memang berhubungan seks sekali dengan V seumur hidupnya, tetapi seks dengan Omega itu menjadi momen tidak terlupakan bagi Jongin. Suara bariton Omega itu setiap kali batang kejantanan Jongin menggesek vaginanya, berteriak ke telinga Jongin, membuat Jongin menginginkan klimaks yang sama, lagi dan lagi.
Hingga kemudian kelompok tentara Korea Selatan—Pasukan Brigade Khusus ke 13, yang salah satu anggotanya dikenal dengan sebutan Heugpyobeom—berhasil menyelinap masuk ke dalam ruang bawah tanah rahasia yang dibangun di dekat bangunan Hanbando Bimujang Jidae, di daerah Korean Peninsula. Mereka memang tidak banyak menghancurkan gedung persenjataan di sana, tapi aset berharga mereka dengan mudahnya diambil begitu saja—para Omega yang memegang peran bagi Korea Utara.
Hyung-sik marah besar begitu tahu Omeganya berhasil dibebaskan oleh tentara Korea Selatan. Setelah ia menerima penyiksaan fisik dari atasannya yang bengis itu, Jongin diberi beban untuk kembali merebut Omega dari tentara Korea Selatan. Tentu saja, mereka terlalu meremehkan kemampuan para tentara tersebut—termasuk sang Heugpyobeom dari Pasukan Brigade Khusus ke 13. Mereka hanya berhasil menyekap empat orang tentara Korea Selatan dan kehilangan setidaknya dua puluh prajurit.
Tentara yang bernama Hyun-woo, tewas setelah menerima penyiksaan berturut-turut selama 48 jam tanpa henti. Tentara lain yang bernama Junmyeon, perlahan-lahan mati akibat tubuhnya tidak sanggup menopang perubahan kromosom di dalam tubuhnya. Sedangkan Jongdae—seorang tentara yang sengaja dibiarkan hidup dan disiksa selama berbulan-bulan demi mendapatkan informasi berkenaan tentang pasukan Korea Selatan, kini telah dipindahkan ke blok penjara bawah tanah.
Semenjak ia memindahkan Jongdae ke sel bawah tanah—entah kenapa—tiba-tiba saja dalam waktu dua bulan terakhir para tahanan bawah tanah mendadak berubah gila. Mereka menjadi lebih agresif, lebih beringas, dan juga tidak segan-segan untuk menyerang tentara penjaga sel. Sudah ada setidaknya puluhan kasus tentara yang bertugas jaga di bawah sana terkena serangan dari para tahanan. Beberapa tentara yang masih belum mengalami hal serupa, dipindahkan ke blok sel lain di lantai dasar, sementara tentara yang mendadak berubah gila dikurung begitu saja di dalam ruang bawah tanah. Jongin ingat saat ia bertandang ke sana seminggu yang lalu. Ia bisa mendengar suara gerungan mirip binatang disertai dentuman pintu besi, menandakan para tahanan yang berusaha memberontak dari dalam sel. Salah satu tahanan di dalam sel itu adalah Jongdae—tentara Korea Selatan yang sudah selama beberapa minggu tidak ia temui untuk disiksa.
Terakhir, tentara Korea Selatan yang masih tersisa lainnya adalah Omeganya sendiri, Kyungsoo. Pada malam pertamanya menjadi seorang Omega, Kyungsoo langsung terisi oleh benih dari Jongin, membuat Alpha yang bersangkutan merasa bangga dengan kondisi cairan spermanya. Ia sudah sering melakukan hubungan seksual dengan Omega yang menjadi obyek percobaan Hyung-sik, tapi tidak satu pun dari mereka berakhir mengandung benihnya. Pengecualian untuk V karena Omega itu tengah mengandung saat Jongin berhubungan seks dengannya.
Semula, ia tidak terlalu peduli dengan Kyungsoo. Tetapi saat ia menyadari tubuh Omega itu semakin menggembung karena mengemban benihnya, ia tambah merasa tertarik pada sang Omega. Ada perasaan ingin melindungi yang timbul dalam dirinya, terutama begitu ia mengklaim Kyungsoo sebagai miliknya. Ia berusaha mengontrol amarah setiap kali berhadapan dengan sikap keras kepala Kyungsoo, termasuk berusaha memenuhi segala kebutuhan Omega tersebut. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Jongin ingin melihat bayinya terlahir dengan selamat. Ia kehilangan keluarganya bertahun-tahun lalu dalam perang, dan saat tahu Kyungsoo mengandung bayinya, tentu saja ia begitu antusias menyambut jabang bayi yang berikatan darah dengannya.
Sayangnya Kyungsoo terlalu acuh terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Ia tampak merengus mengetahui dirinya mengandung. Setiap saat pasti ia memanggil bayi di dalam perutnya dengan sebutan parasit. Meskipun ia tidak pernah sampai melakukan aksi bunuh diri seperti yang dilakukan oleh para Omega terdahulu, ia secara terang-terangan menunjukkan kebenciannya pada benih Jongin melalui cara mogok makan dan menolak melalui pemeriksaan medis secara berkala. Untung saja, setelah Jaehwan menjadi dokter tetap yang mengawasi perkembangannya, Omega itu perlahan-lahan mulai menurut.
Hanya saja tatapan kebencian yang selalu ia arahkan pada Jongin tidak kurung berlarut-larut hilang.
"Kau membunuh teman-temanku dan juga memaksaku untuk mengandung parasit di dalam tubuhku ini."
Kyungsoo selalu mengucapkan kata-kata tersebut setiap kali Jongin berusaha bersikap baik padanya. Ucapan tersebut terasa semakin tajam menyayat setelah Jongin menyeret keluar salah seorang rekan Omega itu keluar dari dalam kamarnya, saat ia memergoki Beta tersebut berhasil menyelinap keluar dari ruang sel dan kembali ditemukan sedang berdialog dengan Kyungsoo. Naik pitam, Jongin menghajar Beta yang kondisi fisiknya sudah tidak dapat dikatakan sempurna tersebut hingga wajahnya hampir-hampir tidak dikenali untuk ketiga kalinya. Belum sampai di situ, ia pun kembali menyeret Jongdae kembali ke dalam sel yang menahannya selama 24 jam penuh kalau para bawahan Jongin yang lain tidak menyiksanya di ruang interogasi.
Jongin merasa ada sisi di dalam dirinya yang merasa waswas melihat Omeganya yang sedang mengandung anaknya seketika dibawa pergi oleh orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai musuh. Kyungsoo adalah miliknya, pun dengan janin di dalam rahim Omega itu. Tidak ada seorang pun yang boleh merebut mereka dari Jongin. Dan lagi, ia ingin keduanya selamat.
Sekelebat ide untuk membawa pergi Omeganya ke suatu tempat dan memulai kehidupan yang baru telah ia buang jauh-jauh. Hanya di tempat inilah ia bisa mempercayakan keselamatan Kyungsoo. Apalagi ia paham benar kondisi para Omega buatan yang berlarut-larut kritis setiap kali mereka jatuh mengandung. Ia tidak bisa mengambil resiko Kyungsoo dan anaknya jatuh dalam nasib yang sama.
Dan lagi, berkhianat terhadap Korea Utara adalah suatu kesalahan yang besar.
Baru beberapa saat ia berlarut-larut dalam pikirannya sendiri sewaktu mesin interkom berbunyi, memanggil namanya.
"Mayday. Mayday. Daejangnim, tahanan di blok sel C mengamuk dan lepas kendali. Sekarang mereka menyebar ke dalam bangunan lain dan menyerang tentara kita."
Jongin berjengit terkejut mendapati kabar tersebut. Sontak ia berdiri dari kursi dengan menghentak ke permukaan meja keras-keras. "Bagaimana bisa lepas kendali? Apa tidak ada petugas yang berjaga di dalam blok sel?! Kalian punya senjata, apa tidak kalian pergunakan?!"
"Satu orang tentara jaga mayatnya ditemukan dalam keadaan anggota tubuh tidak sempurna. Ada juga sepuluh orang tentara yang mendengar keributan di sel datang untuk memeriksa keadaan, tapi rekaman kamera pengawas menggambarkan kalau para tahanan tiba-tiba saja menyeruak dari balik sel. Tampaknya mereka berhasil mendorong pintu dari dalam—"
Rasa heran menyelimuti benak Alpha itu. Pintu sel terbuat dari sistem keamanan canggih. Bagaimana para tahanan bisa melarikan diri? "Kirim lebih banyak tentara lagi untuk menahan mereka. Bunuh juga kalau perlu. Jumlah mereka tidak terlalu banyak, seharusnya kita dapat menuntaskan mereka dengan cepat."
"Satu lagi, Daejangnim," mesin interkom belum sepenuhnya mati. "Kamera pengawas menangkap setidaknya ada delapan orang penyusup masuk ke dalam bangunan barat, berjarak setidaknya dua kilometer dari blok sel C."
Jongin menggertakkan giginya. Apa jangan-jangan penyusup ini adalah para tentara Yeokjuk?! Padahal jelas-jelas Seojoon sudah mati dalam bom bunuh diri di markas pusat! "Kirim pasukan juga untuk berjaga-jaga di sepanjang lorong sayap barat. Kabari tentara medis untuk berjaga-jaga kalau kita telah disusupi—" ia teringat akan Kyungsoo. "—juga beritahu Ken untuk menemani Omegaku di kamar kami."
Mesin interkom terputus.
Jongin mengusap wajahnya dengan lelah dan kembali terduduk di atas kursi kerja. Ia menyalakan layar komputer, meminta sistem untuk memunculkan tiga puluh rekaman kamera pengawas pada setiap sudut yang berbeda di bagian barat markas. Ia membuka jendela baru setiap beberapa detik sekali, mengamati. Matanya membulat saat ia mendapatkan gambaran delapan orang yang sama sekali tidak ia kenal melompat turun dari langit-langit dan berjalan menyusuri lorong panjang hingga berhenti tepat di persimpangan menuju bangsal fasilitas kesehatan dan lorong menurun menuju penjara bawah tanah.
Hal berikutnya yang ia lakukan adalah mengambil pistol tangan di atas meja dan menyelipkannya pada holster di ikat pinggangnya, memasang rompi anti peluru, lalu berjalan keluar ruangan.
05.42 a.m
Taehyung mengetatkan pegangannya pada pergelangan tangan Jungkook, tidak berharap melepaskan Alpha itu dari sisinya.
"Tidak, Jungkook-ah. Aku juga akan ikut bersamamu ke sana," ujar Taehyung keras kepala.
Jungkook sempat tertegun mendengar perkataan Taehyung, "Hyungie. Di bawah sana berbahaya. Untuk sementara kau dan yang lain akan menunggu sampai kami selesai memeriksa keadaan penjara di bawah sana. Lagipula kalau membawa banyak orang, kita akan mudah ketahuan tentara Korea Utara lainnya."
"Tidak ada tempat di sini yang lebih aman—"
Jungkook kembali melepas masker yang ia kenakan dan menarik kedua pundak sang Omega, menciumnya tepat di bibir dan mencium di bagian leher—di mana bekas klaim darinya belum lama bersemayam di sana. "Aku akan kembali ke sini dalam waktu sejam. Aku berjanji kami akan kembali ke sini dalam keadaan baik-baik saja."
Taehyung dengan enggan balas mengecup dagu Jungkook, merasa berat hati begitu ia melepaskan genggaman di pergelangan tangan sang Alpha.
Seokjin menjulurkan tangannya pada Taehyung, sementara Jungkook melangkah ke jalan menurun di seberang mereka bersama dengan Yoongi dan Hoseok, mengenakan masker masing-masing. Suara langkah mereka terdengar kian menjauh.
"Mereka akan baik-baik saja," kata Seokjin meyakinkan, walaupun nada suaranya membuat kalimat yang ia utarakan terdengar seperti kalimat tanya.
Tapi Taehyung sama sekali tidak bisa meyakinkan dirinya untuk tetap tenang. Pada rencana terakhir yang dibuat oleh Seojoon dan Jungkook, mereka berhasil keluar dari markas utama Korea Utara dengan berbekal pengorbanan dari Seojoon. Bisa saja kalau Jungkook dan sikap heroiknya yang selalu muncul sembarangan juga berniat mengorbankan dirinya seperti Seojoon. "Kalau mereka tidak tiba dalam waktu sejam—"
Beberapa saat yang lalu, mereka baru saja mendengar derapan sol boots tentara Korea Utara menghantam permukaan konkret lantai dan kali ini, mereka bisa mendengar suara derapan langkah kaki yang sama. Menuju ke arah Taehyung dan yang lain berada.
"Uhh? Kenapa suara derap langkah kaki ini sepertinya menuju ke arah kita?" Won-sik bertanya-tanya pada seluruh rekan-rekannya yang lain, menyuarakan isi pikirannya.
Tepat seperti yang ia katakan, di balik kisi-kisi air grille, puluhan kepala tentara Korea Utara bermunculan seperti riak air pada aliran deras sungai. Mereka berhenti di mulut persimpangan, di antara koridor menuju ruang detasemen kesehatan militer dan jalan menurun ke penjara bawah tanah.
Namjoon berbisik pelan, "Kelihatannya keberadaan kita sudah diketahui lebih cepat daripada yang sudah aku tebak." Alpha itu mengambil pistol dari holster pada ikat pinggang yang ia kenakan. "Sebaiknya kita semua segera merangkak pergi dari sini sebelum—"
Letupan senjata api memecah focus semua tentara Minguk di saluran ventilasi.
Tanpa perlu diminta dua kali, Jackson yang berada di barisan belakang langsung merangkak menjauh dari saluran ventilasi yang mereka tempati sebelumnya. Suara letupan senjata yang lain menyusul tidak lama kemudian, berbenturan dengan permukaan alumunium saluran ventilasi yang telah digavalnis, membuat banyak lubang terbuat di permukaan.
"Mereka gila! Menembaki saluran ventilasi!" seru Seokjin setengah berbisik.
"Jangan menoleh ke belakang, cepat pergi dari sini!" instruksi Namjoon pada yang lain.
Taehyung berusaha untuk tidak menoleh saat di belakang mereka, ia mendengar suara dentingan logam diikuti getaran di sekeliling saluran yang dilalui. Seluruh tubuhnya mendadak seperti mati rasa saat ia mencium aroma Alpha lain yang bukan Alphanya—kembali memutar film masa lalunya selama dipenjara oleh Korea Utara. Seorang tentara melepas tembakan di dalam saluran ventilasi yang luput mengenai suatu sudut. Tentara Minguk yang lain telah berhasil merangkak lebih jauh ke dalam, menjauh dari para tentara Korea Utara di belakang mereka.
Suara tembakan tidak kunjung mereda.
"Jackson, kabari Jaebeom kalau kita dikejar oleh tentara Korea Utara dan terjebak di lubang ventilasi. Juga minta padanya untuk mencarikan kita jalur yang paling aman keluar dari sini. Bergantung pada peta akan menyulitkan kita. Juga sepertinya tentara lain mulai mengantisipasi titik-titik di mana kita akan memunculkan diri," kata Namjoon dalam satu tarikan napas.
Jackson mematuhi instruksi Namjoon karena terdengar Beta tersebut berusaha tidak gelagapan saat berusaha menghubungi Jaebeom melalui HT yang terpasang di arloji pada pergelangan tangan kirinya, berkomunikasi dengan Jaebeom.
"Lewat sini!" seru Jackson pada yang lain, mengarahkan mereka ke saluran yang cukup meliuk-liuk dan sedikit licin untuk dilalui.
Di sudut lainnya, terdengar suara benturan dan gesekan benda-benda yang menggema pada sepanjang jalur sirkulasi udara, memberitahukan kalau jumlah tentara yang mengejar mereka bertambah. Untung saja, Jackson telah menemukan pintu kisi-kisi grille di sudut yang masih belum tercapai oleh tentara musuh. Selang berapa detik dari lubang ventilasi, Jackson memandu mereka menuju sebuah koridor yang sedikit lebih gelap daripada koridor menuju fasilitas kesehatan tadi—tapi juga jauh lebih terang daripada blok sel C yang terletak di bagian sayap timur bangunan markas besar Hanbando Bimujang Jidae.
Langkah kaki tentara yang bergema dari beberapa arah, membuat Namjoon meminta rekan-rekannya untuk bergerak lebih cepat menjauh dari sumber suara. Ada sebuah ruangan yang tertutup oleh sepasang pintu kembar dari baja. Pada dua sisi pintu, terpasang kamera pengawas dan dua klap mencurigakan di pinggirnya. memberi kesan kalau ada sesuatu di dalamnya yang tidak boleh dimasuki oleh orang yang tidak berwenang.
Ada aura menakutkan yang menguar dari balik ruangan tersebut, entah kenapa.
"Sekarang kita ke mana?" tanya Seokjin pada Namjoon.
Namjoon meletakkan satu jari telunjuk ke masker yang ia kenakan, menyuruh sang Beta untuk diam.
Ada setidaknya empat pasang langkah kaki yang berbeda-beda mendekat. Suaranya tidak terdengar seperti derap langkah prajurit yang agresif dan siap menggempur, justru terdengar agak terburu-buru.
Tanpa mereka sangka-sangka, ada empat orang Beta berjalan mendekati pintu tersebut. Satu di antaranya mengenakan seragam bertugas tenaga medis.
Taehyung merasakan jantungnya kian berdegup saat ia mengenali siapa Beta yang mengenakan pakaian tenaga medis tersebut.
"Yang mengenakan pakaian jas putih—aku tahu siapa orangnya," kata Taehyung spontan pada Seokjin yang berdiri tepat di sebelahnya.
"Apa katamu?" Seokjin memiringkan kepalanya ke Taehyung, terdengar kaget.
Namjoon seolah-olah mencuri dengar ucapan sang Omega karena kemudian ia berkata pada Jackson dan Won-sik dengan tubuh masih setengah menghadap Taehyung. "Jackson, Won-sik, bisakah kalian membantuku menghabisi keempat tentara di sana?"
Taehyung mencengkeram lengan Namjoon, menarik perhatian Alpha itu. "Tidak. Setidaknya sisakan satu orang yang mengenakan jas lab. Pasti dia bisa menjadi informan yang berharga bagi kita."
Namjoon tercenung sebelum kemudian mengubah instruksinya, "Sisakan satu orang yang mengenakan jas lab kalau begitu."
Taehyung dan Seokjin bersembunyi sementara Namjoon, Won-sik, dan Jackson bertugas menghabisi tiga tentara Korea Utara yang menjadi incaran mereka.
Won-sik menggapai leher salah seorang dari mereka dengan pisau lipatnya, sedangkan Namjoon dan Jackson meniru aksinya. Tiga tubuh terperosok ke atas lantai secara perlahan-lahan tanpa disadari oleh tentara medis yang mengenakan jas lab, hingga Won-sik lah yang membuat perhatian Beta itu teralihkan dengan hunusan pisau tepat di bagian trakeanya berada.
"Kalau kau berani bergerak," desis Won-sik penuh nada mengancam saat ia merasakan tubuh Beta tersebut menegang di dekatnya, "aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawamu sekarang juga."
Beta itu hanya diam, tidak berdaya, bahkan saat Won-sik menyeret tubuhnya menjauhi pintu bersistem pengaman. Namjoon meminta Seokjin untuk membantunya dan Jackson memindahkan mayat ketiga tentara lainnya di cerukan antar dua dinding beton yang menonjol keluar.
Taehyung memperhatikan Beta itu melempar pandangan pada mayat rekannya yang telah dipindahkan jauh darinya dengan tatapan nanar bercampur kejerian. Barulah selepas Namjoon dan yang lainnya memindahkan tiga jasad tentara Korea Utara yang lain, Won-sik membawa Beta yang sama sekali tidak bias lagi berkutik itu ke hadapan empat kawan-kawan setimnya, melemparkan tubuhnya ke atas lantai konkret dan menginjak punggung Beta itu keras-keras—nyaris mematahkan tulang belakangnya.
"Tunggu—Hyung. Kau menyakitinya," Taehyung berkata pada Won-sik.
Won-sik meringankan beban pijakan di punggung Beta itu.
Sang Beta bersurai hitam kecoklatan tersebut mengangkat kepalanya dan memandang takut-takut ke arah Taehyung. Matanya membulat saat ia menyaksikan Taehyung membuka masker yang ia kenakan.
"V?"
"Sayangnya aku lebih senang saat kau memanggilku dengan nama asliku, Jaehwan-ssi," ucap Taehyung datar. "Hanya Jimin dan Baekhyun yang boleh menyebutku dengan nama itu."
"K-kenapa?" desis Jaehwan tak percaya. "Kenapa kau kembali ke sini?"
"Yang pasti bukan untuk menyerahkan diri," Taehyung menjawab dengan nada suara yang lebih rendah. "Aku dan teman-temanku—kami, kami ke sini untuk menyelamatkan teman-teman kami yang lain."
Wajah Beta itu semakin bertambah pucat, "A-apa—"
Namjoon menyelak ke hadapan Jaehwan, "Biar aku yang jelaskan," Alpha itu memulai, "Kau ingat? Pada akhir Januari yang lalu, kau dan kawan-kawanmu melakukan penyerangan di basis militer Pasukan Brigade Khusus ke-13 dan menangkap empat orang teman-teman kami. Sekarang katakan dengan sejujur-jujurnya, atau kau akan kehilangan nyawa hari ini."
Jaehwan menggemeletukkan giginya dan menyentakkan kepala saat Won-sik kembali mengerahkan mata pisau lipat ke lehernya.
"T-teman-teman kalian—" kata Jaehwan terbata-bata, napasnya memburu, "—dua orang teman kalian sudah mati. Sa-satu orang yang bernama Junmyeon mati setelah kami menyuntikkannya cairan komponen pemodifikasi kromosom seks sekunder. Satu orang lainnya mati saat berusaha kami interogasi."
Seokjin mengeluarkan lengkingan kaget mendengar kabar kematian rekan mereka. Seharusnya kematian keempatnya sudah dapat diantisipasi, tapi tetap saja menerima berita kematian orang yang sama dekatnya seperti anggota keluarga merupakan hal yang menyakitkan.
"Dan dua orang lainnya?" tanya Namjoon, mulai tidak sabaran karena Jaehwan memutus kalimatnya.
Won-sik hampir membelek leher Beta itu hidup-hidup, "S-satu orang kami penjarakan di ruang bawah tanah! Dan satu orang lainnya ada di ruangan di balik pintu di sana!"
Taehyung dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah pintu dengan sistem pengamanan ketat tersebut. Tubuhnya terasa menggigil saat ia kembali mengingat ia tidak berada jauh dari ruang pribadi Hyung-sik—ruangan di mana semua penderitaannya kian menukik tajam sampai ia bertemu dengan Seojoon.
"Aku paling tidak suka Omega yang senang melawan."
Gema suara lecutan, tamparan antara permukaan kulit dengan permukaan kulit lainnya, dan hentakan benda tumpul berdenging tepat di telinga Taehyung. Omega itu mengusap wajah, berusaha menghapus pikiran buruk tersebut sebersih mungkin dari benaknya dan tentu saja ia gagal.
"Bawa kami ke sana," suara Namjoon membuatnya kembali ke dunianya. Taehyung memutar kepalanya kembali pada Jaehwan. "Tapi sebelumnya, beritahu kami bagaimana mematikan sistem keamanan pada pintu. Atau beritahu kami bagaimana cara mengelabui kamera pengawas di sana supaya kami bisa masuk ke dalam. Aku tahu pasti di balik klap dekat kamera pengawas, ada senapan otomatis, kan?"
Jaehwan berusaha untuk tidak menelan ludahnya, "K-kalian bisa mematikan sistem listriknya kalau kalian mau. Panel listriknya terhubung langsung tidak jauh dari pintu." Ia menunjuk pada suatu tempat.
Jackson mengajukan diri, "Biar aku saja yang mengatasinya." Beta itu merangkak keluar dari persembunyian mereka menuju panel listrik yang menempel pada satu sisi berdekatan dengan kolom penyangga. Keempat rekannya melihat dari jauh. Ia mengutak-atik benda tersebut dengan bantuan pisau lipat. Kedua kamera pengawas di atas pintu berpengaman semi otomatis yang semula selama beberapa detik sekali bergerak-gerak menyelami keadaan sekitar, terhenti. "Sudah aman," kata Jackson sekembalinya ia pada kelompoknya.
"Sekarang bagaimana cara membuka pintunya?" tanya Seokjin masih belum sepenuhnya puas, seperti halnya Taehyung, Namjoon, Jackson, dan Won-sik.
"Mungkin kau mengerti bagaimana caranya supaya kami bisa masuk ke dalam sana," Won-sik menekan punggung Jaehwan dengan sol sepatunya dan mengeratkan sisi pisau lipat ke leher Beta itu dengan sikap dingin.
"A-aku punya kartu pengenal yang bisa mengizinkanku untuk mengakses ke dalam sana—"
"Kalau begitu lakukan. Apabila kau berbuat sesuatu yang mencurigakan, aku tidak akan segan-segan memecahkan kepalamu dengan timah panasku," ancam Won-sik, mendorong Jaehwan ke dekat pintu begitu menukar pisau lipatnya dengan pistol tangannya.
Jaehwan terseok-seok berjalan ke arah pintu, setengah menolehkan kepalanya pada Taehyung yang juga balas menatapnya dengan tatapan datar. Taehyung bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Beta itu hanya dengan sekali melihat. Terkejut, panik, ketakutan.
Yang pasti ia terkejut karena melihat kedatangan Taehyung yang tidak ia sangka-sangka setelah berbulan-bulan berhasil diselamatkan oleh Pasukan Brigade Khusus ke 13. Jaehwan sekarang pasti memikirkan apa yang akan Omega itu lakukan selanjutnya terhadapnya. Apakah mungkin Taehyung akan membunuhnya? Atau mungkin menyiksanya seperti yang dilakukan oleh tentara Korea Utara terhadap Omega itu selama penahanannya di penjara bawah tanah Hanbando Bimujang Jidae?
Tenang saja, aku tidak akan terburu-buru melakukan hal buruk terhadapmu. Kau adalah orang yang baik-baik. Aku tahu itu. Hanya saja, kau berada di sisi yang salah.
Selama ia berpikir demikian, Taehyung kembali mengenakan maskernya.
Ia dan yang lain memperhatikan Jaehwan dari belakang. Beta itu dengan takut-takut menyelisipkan kartu pengenal sebagai syarat untuk mengakses pintu diikuti oleh sensor pemindai retina. Dari jarak empat meter, Taehyung bisa melihat bahu Jaehwan bergerak naik turun, gemetar. Ada selang lima detik sebelum pintu benar-benar berdesir terbuka, menunjukkan lorong lebih lapang dengan pintu berdaun besi dan berpengaman pada ujungnya. Saat Jaehwan menunggu mereka berempat masuk, Taehyung berusaha menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak ingin terus memandangi pintu yang membawa banyak kenangan buruk padanya selama delapan tahun penahanannya. Hanya saja tangannya tidak berhenti terasa dingin hingga mereka tiba pada sebuah ruangan berpintu aluminium.
Jaehwan mendorong daun pintu, mencoba tidak terlihat begitu tegang setiap kali Won-sik mengarahkan moncong pistol ke bagian belakang kepalanya.
Ia membawa mereka masuk lebih dalam ke ruangan tersebut—yang didominasi oleh warna putih. Taehyung merasakan kuduknya meremang karena ia bisa mencium aroma jelas Omega—manis dan menggairahkan bagi Alpha.
"Kyungsoo."
Kedua mata Taehyung berhenti pada sebuah tempat tidur di mana di atasnya duduk seseorang yang seharusnya ia kenal sebagai bekas rekan sepelatihannya sewaktu ia masih menjabat sebagai anggota tentara muda. Taehyung mengekor yang lainnya menghampiri temannya tersebut dengan perasaan lega dan suka cita sampai kemudian ia teringat dan tersadar dari mana aroma Omega lain yang ia hirup sewaktu memasuki ruangan tersebut berasal.
Darahnya membeku saat ia melihat pakaian berwarna putih yang dikenakan oleh Kyungsoo, tepat merentang di bagian perut temannya tersebut. Begitu banyak perubahan yang terjadi pada Kyungsoo, termasuk status gender keduanya dan juga perutnya yang menggembung seolah-olah mengancam akan pecah seperti balon air.
"K-Kyungsoo?" Taehyung mendengar suara Namjoon gemetar tatkala mereka mendapati kondisi terbaru rekan mereka tersebut.
Kyungsoo yang semula kelihatan ingin menjauh dari Jaehwan, mendadak berhenti pada posisinya begitu ia mengenali siapa Alpha yang berbicara padanya. "Daehwi?" desisnya tak percaya sembari berusaha bersandar pada kepala tempat tidur.
Namjoon membuka masker yang ia kenakan, diikuti oleh Taehyung, Seokjin, Jackson dan Won-sik. "Ini kami. Kami ke sini untuk menyelamatkanmu," ujar Namjoon pada temannya yang kini telah berganti status menjadi Omega.
Kyungsoo menatap Namjoon dengan wajah tercengang sebelum akhirnya Seokjin menjadi orang pertama yang memberikannya pelukan. Mungkin karena buncahan perasaan bahagia kembali bertemu dengan anggota tim setelah berbulan-bulan lamanya, Kyungsoo menangis di bahu Seokjin, mencurahkan semua perasaannya.
"Ini—ini benar-benar kalian, kan? Shibal—kupikir aku tidak akan pernah bertemu kalian lagi—"
Taehyung, Namjoon dan Jackson ikut mengerubungi keduanya. Mereka saling berpelukan, melepas rindu. Won-sik tanpa ingin bergabung dengan mereka, tapi ia hanya bisa menyaksikan dari dekat karena harus tetap mengawasi pergerakan dari Jaehwan.
"Mereka mengubahmu menjadi Omega dan menghamilimu?" tanya Taehyung, merasa begitu berat hati menanyakan hal tersebut pada Kyungsoo.
Kyungsoo menggigit bibirnya dan mengarahkan wajahnya pada Taehyung, "Junmyeon-hyung—mereka juga mengubahnya menjadi Omega. Tapi—tapi dia sudah mati—" air matanya kembali mengucur, "Dia mati kesakitan—begitu juga dengan Hyun-woo setelah mereka menyiksanya selama dua malam—"
"Sekarang sudah ada kami di sini," bisik Seokjin di telinga Kyungsoo, kembali merengkuh tubuh Beta yang telah menjadi Omega sama seperti Taehyung. "Kami ingin membawamu keluar dari sini."
Kyungsoo mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat baru sampai kemudian ekspresinya berubah kaget, "Astaga. Jangan sampai kita melupakan Jongdae—beberapa waktu sebelumnya, dia mendatangiku dan mengatakan kalau ia ingin membawaku keluar dari tempat ini. Tapi tentara yang lain berhasil menangkapnya dan juga—ada orang brengsek yang menghajarnya hingga babak belur, membawanya pergi dari sini. Apa yang terjadi padanya?" matanya tertuju pada Jaehwan. Tatapan menyalahkan. "Ke mana kalian membawanya?"
"Dia sudah mengatakan pada kami kalau tentara Korea Utara memenjarakannya di ruang bawah tanah," ujar Namjoon menjelaskan. "Jungkook, Yoongi-hyung dan Hoseok pergi memeriksa penjara di bawah sana."
Kyungsoo menghapus air matanya, mendengus, "Baguslah kalau begitu. Aku harap mereka akan baik-baik saja. Tentara di sini—" ia memandangi Taehyung, "—aku sudah tahu seberapa berbahaya dan menjijikannya mereka."
Taehyung meremas bahu Kyungsoo, "Mereka akan baik-baik saja. Jungkook sudah berjanji padaku."
"Kalau begitu," potong Jackson, "Sebaiknya kita lekas hengkang dari tempat ini. Kurasa sebentar lagi akan ada tentara lain yang menyadari tubuh-tubuh tentara yang kita sembunyikan tidak jauh dari sini."
"Tepat. Aku hampir-hampir melupakan hal itu karena terlalu senang bertemu kembali dengan Kyungsoo," sahut Namjoon sependapat.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya, "Tapi… sebelumnya, tidakkah kalian menyadari kondisiku sekarang? Aku—kalau kalian membawaku pergi dari sini, justru akan menyulitkan—"
Taehyung memotongnya, "Justru tujuan kami ke sini adalah menyelamatkan kalian. Untuk apa kami ke sini hanya untuk pergi meninggalkanmu hanya karena melihat kondisimu seperti sekarang ini?"
Kyungsoo tercenung mendengar ucapan Taehyung, sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Mereka kembali mengenakan masker dan bergegas keluar ruangan.
Taehyung berjaga di belakang Kyungsoo, sementara Seokjin memapah Omega yang tengah hamil tua tersebut. Namjoon berdiri tepat di depan mereka, sedangkan Jackson berusaha menghubungi Jaebeom—memintanya mencarikan kembali rute yang aman sembari berjalan di belakang Won-sik yang masih sibuk mengacungkan pistolnya ke belakang kepala Jaehwan dan mengangkat tinggi-tinggi kerah Beta itu. Mereka baru saja keluar dari mulut lorong bersamaan dengan suara langkah sepatu yang kian mendekat. Namjoon menyuruh mereka untuk segera bersembunyi, sayangnya tidak ada satu celah pun yang dapat menjadi tempat persembunyian yang cocok.
Jackson baru saja memutuskan jalur baru saat suatu suara menyambut mereka.
"Berhenti! Siapa kalian?!"
Mau tak mau, mereka berhenti pada posisi masing-masing.
"Sekarang, putar tubuh kalian ke sini dan angkat tangan."
Jackson menoleh ke belakang, melihat ke arah Namjoon sejenak, memastikan apa yang harus mereka lakukan setelah ini. Namjoon pun kehilangan akal, karena mendadak mereka telah dikelilingi oleh setidaknya dua puluh orang tentara.
Seolah-olah memanfaatkan kesempatan, Jaehwan berteriak, "Eunkwang! Mereka tentara Korea Selatan!"
Bunyi letupan senjata api bergema tak lama kemudian.
06.34 a.m
Jungkook merasakan jantungnya terus berkejut-kejut, memompa tanpa henti, saat ia terus menerus mendengar suara derap langkah kaki yang jelas-jelas bukan milik mereka ataupun milik rekan-rekannya yang ia tinggalkan di persimpangan lorong. Alpha itu tidak bisa menahan diri untuk mendongakkan kepalanya, berdoa dalam hati memohon agar tidak terjadi hal-hal buruk pada Omeganya.
"Inikah penjara bawah tanah yang kita cari-cari?" Hoseok bertanya-tanya dan terpaksa Jungkook kembali memusatkan perhatiannya pada Beta itu.
Yoongi menyorotkan senter pada koridor yang lebih cocok disebut terowongan bawah tanah, karena terbangun dari bebatuan pegunungan yang beberapa bagian sudah ditumbuhi lumut. Ada banyak saluran pipa air di langit-langit atas kepala mereka. Terowongan tersebut masih mengarah ke bawah, dengan undakan yang lebih curam. Pemandangan di dalam sana terasa lebih gelap, lebih lembab, dan juga terasa lebih mencekam.
Permukaan lantai kembali berupa material konkret selepas mereka menuruni undakan terakhir.
Jungkook mengira ruangan tersebut hanya berupa ruang bawah tanah biasa, sampai kemudian Yoongi menyinari semua sudut ruangan dengan senter yang ia miliki. Penjara bawah tanah tersebut memanjang secara vertikal, dengan pintu-pintu besi berjajar setiap jarak satu meter. Ia tidak bisa membandingkan keadaan penjara blok sel yang ia datangi sebelumnya dengan blok sel penjara bawah tanah yang sekarang ia tandangi. Yang jelas, di dalam penjara bawah tanah ini keadaan jauh lebih berbahaya karena kemungkinan besar sejumlah Chugyeokja ada di dalam tempat ini.
Kenyataannya, penjara bawah tanah di sana hening. Begitu heningnya sampai-sampai Jungkook bisa mendengar suara desahan napas dan detak jantungnya sendiri.
"Tempat ini—terlalu sunyi."
Jungkook menyetujui ucapan Yoongi dalam hati.
Mereka berjalan mendekati setiap pintu, memeriksa dengan hati-hati dan seawas mungkin.
"Bagaimana kalau ada yang menyerang kita tiba-tiba?" rasa takut menyelimuti nada suara Hoseok.
"Sebelum berpikir sampai ke situ, lebih baik sekarang kita pikirkan bagaimana menemukan teman-teman kita di tempat segelap ini."
Yoongi memberi ide pada kedua rekannya untuk membunyikan kode morse yang sama seperti yang ia lakukan di blok sel sebelumnya.
Suara ketukan mulai bermunculan pada setiap pintu. Hingga terus berulang dan berulang.
Nihil. Tidak ada jawaban.
Putus asa, Jungkook menginteruksikan Yoongi dan Hoseok untuk kembali berkumpul.
"Sepertinya benar-benar sudah tidak ada yang berada di tempat ini lagi. Mungkin mereka semua sudah mati," parau Yoongi, kehilangan semangat.
"Sudah pasti. Penjara ini terlalu sunyi. Bahkan tidak ada tentara yang berjaga di sini. Sudah pasti tahanan di sini mati karena kelaparan, lupa mereka beri makan. Kalau Korea Utara memang masih berbaik hati mau memberi mereka makan."
Jungkook berusaha untuk terdengar tegar, "Kalau begitu, kita kembali ke destinasi awal."
Baru saja ketiganya menjauh dari penjara bawah tanah tersebut, terdengar suara ketukan di balik pintu.
Suara ketukan tersebut terdengar begitu lemah dan ada jeda cukup lama antar kode. Tetapi hanya dengan mendengar suara itu, Jungkook dan yang lain sukarela membalikkan tubuh mereka, memastikan.
"Itu—ada yang menjawab kode morse kita barusan?" lirih Yoongi tak yakin.
"Bagaimana, Jungkook-ah? Apa kita harus mengecek ke sana?" Hoseok memastikan.
"Sebaiknya kita mencoba mengecek. Setidaknya persiapkan senjata kalian."
Ketiganya kembali ke blok sel dengan rasa waspada sekaligus sedikit harapan yang masih tersisa. Setidaknya, ada salah satu anggota mereka yang berada di tempat ini. Yoongi mengetukkan kode morse, menunggu jawaban yang menjadi pemandu mereka menemukan sumber suara tersebut. Mereka baru saja melewati enam baris pintu saat suara ketukan morse terjawab oleh ketukan morse lainnya. Pelan-pelan, dengan sedikit rasa ragu-ragu, Jungkook memimpin yang lainnya menuju sumber bunyi yang mereka dengar. Ketukan itu berhenti tepat begitu mereka tiba di muka pintu.
Jungkook menelan ludahnya, menggumamkan kalimat dari balik pintu. "Dangyeol?"
Hanya suara ketukan lemah yang menjawabnya.
Ia membalikkan tubuh, menyorot senter ke satu persatu dua rekannya yang lain. "Aku akan membuka pintu ini. Kalian bersiap-siap kalau terjadi sesuatu padaku."
Yoongi dan Hoseok mengangguk mantap, walau gestur tubuh mereka berkata sebaliknya.
Tanpa pikir panjang, Jungkook mengambil dua pasang kawat dari rompi taktis di balik bandolier yang ia kenakan. Ia mengutak atik lubang pada mesin pembaca kartu akses dan gagal. Frustasi, Alpha itu pada akhirnya mengacungkan moncong pistol pada mesin tersebut.
"Kau gila?! Suara pistolmu akan menyita perhatian orang ke tempat ini!" seru Hoseok setengah berbisik, gelagapan.
"Setidaknya ini cara paling mudah untuk membuka pintu."
Jungkook menembak mesin tersebut hingga hancur berkeping-keping, "Semoga mereka tidak bodoh untuk berdiri di belakang pintu ini," dan segera menendang daun pintu dengan ujung sol bootsnya.
Pintu terbuka lebar.
Suasana kembali hening.
"Junmyeon-hyung? Kyungsoo-hyung? Jongdae-hyung? Hyunwoo-hyung? Salah satu dari kalian, tolong jawab aku?" Jungkook sedikit mengeraskan suaranya.
Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya terdorong oleh hempasan keras. Terlambat mengelak, Jungkook pun terhempas ke atas permukaan lantai yang dingin, sementara Yoongi dan Hoseok belingsatan berusaha menolongnya.
Jungkook kehilangan sumber pencahayaan untuk sementara karena senter yang dibawa oleh Yoongi ikut terlempar bersamanya. Yang pasti, ada sesuatu yang berat menimpa tubuh Jungkook. Sesuatu tersebut juga berusaha mencengkeram lehernya, dan Jungkook mati-matian berusaha menepis. Ia bisa merasakan napas panas berhembus ke tengkuk tubuhnya. Ada suara lenguhan yang mengingatkannya akan suara hewan. Pada akhirnya, Jungkook mengerahkan insting dan juga seluruh kekuatannya untuk balas menghempas.
Ia sempat bergulingan dalam gelap selama beberapa kali di atas lantai konkret bersama seseorang yang menyerangnya, bergulat satu sama lain.
"Jungkook-ah!" Hoseok tidak dapat menahan rasa paniknya lebih lama. Ia ikut menahan sosok tersebut, tetapi tanpa penerangan, ia pun kesulitan.
Yoongi berhasil menemukan lampu senternya dan mengarahkan cahayanya ke sekeliling, sebelum berakhir tepat di posisi Jungkook.
Jungkook merasakan seluruh tengkuknya menegang sewaktu ia melihat sepasang mata merah menyala di balik wajah hitam yang menyerangnya. Dengan gerungan rendah, Jungkook menggulingkan tubuh sekali lagi, mencengkeram sepasang lengan dan menguncinya ke atas permukaan lantai. Sosok di bawahnya tersebut tampak sama sekali belum mau menyerah, berusaha menyerang Jungkook dengan membuka rahangnya lebar-lebar dan mengatupnya setiap kali Jungkook berusaha melihat wajah pria itu dengan lebih jelas.
"Chugyeokja?" gumam Yoongi di sebelah Jungkook. Ia ikut menahan berat tubuh Chugyeokja tersebut dengan menginjak bagian dadanya, berharap dengan demikian si Chugyeokja akan kesulitan untuk berusaha meraup wajah Jungkook.
"Apa Chugyeokja ini yang menjawab kode morse kita tadi? Tapi—bagaimana mungkin?" Hoseok terdengar kebingungan.
Jungkook memperhatikan Chugyeokja tersebut lebih lama, mempelajari fitur wajahnya. Hoseok dan Yoongi ikut memperhatikan di sebelahnya.
Meski wajahnya sehitam jelaga dan kedua matanya semerah darah, Jungkook bisa mengenali siapa Chugyeokja yang saat ini sedang ia bekuk. Jakun Alpha itu bergerak naik turun, sementara antusiasnya yang semula meluap-luap mengingat mereka berhasil menemukan rekan mereka yang telah lama disergap oleh tentara Korea Utara, kini telah sepenuhnya sirna.
"Jongdae…hyung…?"
Yoongi dan Hoseok sama-sama terkesiap mendengar kata yang mengalir dari mulut Jungkook.
"Astaga—kau benar—" kata Yoongi sambil memfokuskan cahaya senter ke wajah Chugyeokja yang masih diringkus Jungkook. "—Chugyeokja ini…"
"Jongdae-hyung." Hoseok menyelesaikan kalimat Yoongi.
Seolah-olah menangkap apa yang diucapkan oleh tiga orang di sekitarnya, Jongdae menyentakkan kepalanya ke arah Jungkook, Yoongi, dan Hoseok dengan cepat. Sampai kemudian ia kembali berusaha memberontak dengan beringas. Ia berhasil membebaskan diri dari boots Yoongi yang menahan dadanya dengan menggigit tulang kering Alpha itu, membuat Yoongi mengangkat kakinya dengan suara lengkingan kesakitan sebagai refleks.
Jungkook pun tidak dapat menahan tubuh Jongdae lebih lama karena sesudahnya Jongdae menendang tulang rusuk Alpha itu dengan dengkulnya, lalu menyerang Hoseok. Senapan milik Beta itu terpental ke arah lain, sebelum ia sempat menyelamatkan diri. Hoseok belingsatan, berusaha menahan Jongdae yang tampaknya berniat untuk melahap lehernya.
Dengan cekatan, Jungkook mengambil pistol tangannya di balik holster yang terletak pada sabuk celananya. Ia melepaskan satu bidikan timah panas tepat ke belakang kepala Jongdae. Suara letupan senjata api menggema di seisi blok sel penjara bawah tanah. Hoseok mengeluarkan bunyi pekikan rendah saat ia merasakan cairan basah menyemprot ke wajahnya, terkaget-kaget begitu sadar tubuh Jongdae jatuh jatuh lunglai tepat di atas tubuhnya.
"—oh—"
Yoongi membantu menurunkan tubuh Jongdae dari Hoseok, merentangkan jasadnya ke atas lantai konkret. Jungkook ikut ambil bagian dengan memapah Hoseok kembali ke posisi berdiri.
Kondisi mayat Jongdae cukup memprihatinkan mengingat bagaimana cara Jungkook mengakhiri hidupnya. Bagian depan tempurung kepala Beta itu terpecah belah, menampilkan bagian otaknya yang hancur dan dialiri oleh cairan merah darah. Bau amis menyergap indera penciuman ketiganya. Menyadari apa yang telah ia lakukan, Jungkook jatuh berlutut di depan jasad rekannya tersebut, terisak pelan.
"A-aku membunuhnya—"
"Jangan menyalahkan dirimu. Kita tidak mungkin melakukan hal sebaliknya begitu tahu ia sudah menjadi seorang Chugyeokja," ujar Yoongi dengan getir. Ia mengusap punggung Jungkook, berusaha meredakan perasaan bersalah Alpha muda itu.
Hoseok ikut berlutut bersama Jungkook. "Tampaknya selama ia ditahan di sini, sudah banyak penyiksaan yang dilakukan padanya. Lihat," ia menunjuk pada telinga Jongdae. "Ada seseorang yang merobek telinganya. Lihat saja."
Jungkook dan Yoongi sama-sama merasa tidak nyaman melihat ujung telinga Jongdae yang sudah terkoyak dengan ujung yang telah hilang entah ke mana. Sorot lampu senter juga ikut menyorot pada bekas luka di sekujur tubuhnya yang telah menghitam seperti terkena luka bakar dan berhenti pada dua jari yang sudah berbentuk tidak sempurna.
"Apa sama sekali tidak ada satu pun dari teman-teman kita yang masih hidup?" parau Yoongi, pupus harapan.
"Kita tidak punya harapan kecuali membalaskan dendam mereka," sahut Jungkook. Nada suaranya terdengar datar, tapi ada sorot kebencian di balik ucapan yang ia lontarkan. "Tentara Korea Utara—setidaknya kita harus membalaskan dendam teman-teman kita pada mereka."
Hoseok menarik lengan baju Jungkook, "Hei, hei. Jungkook-ah. Kau sama sekali tidak berpikir jernih saat ini. Kau sekarang adalah seorang kapten, pengganti Seojoon, enyahkan pikiran yang sama sekali tidak menguntungkan bagimu jauh-jauh."
"Tapi kau bisa lihat apa yang mereka lakukan pada Jongdae-hyung! Mereka menyiksanya!"
"Lalu kau berniat menghancurleburkan bangunan ini? Kita hanya bersepuluh, Jungkook-ah," kata Yoongi ikut menenangkan. "Kalaupun kau ingin membalas dendam, sumber masalah tidak akan lenyap semudah itu."
Jungkook menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya, berusaha mengontrol emosi dan juga cara berpikirnya. Sudah sewajarnya ia merasa marah melihat kondisi teman-temannya, kan? "Baiklah."
Setelah kembali menempatkan mayat Jongdae kembali ke dalam sel yang ternyata juga didiami oleh tiga jasad yang sudah membusuk—serta memberinya penghormatan terakhir; Jungkook, Yoongi, dan Hoseok memutuskan untuk kembali ke titik pertemuan yang sedari awal telah disepakati. Jungkook berbalik untuk terakhir kalinya ke depan sel yang didiami oleh Jongdae, kembali memberikan gaya salam militer. "Dangyeol¸ Jongdae-hyung." Dan menutup pintu sel. Mereka tidak punya pilihan kecuali meninggalkan mayat Jongdae di sana—di tempat yang telah berbulan-bulan menjadi saksi atas penderitaan yang selama ini telah ia alami.
Bertepatan dengan pintu sel yang tidak tertutup sepenuhnya, lamat-lamat terdengar suara gedoran pada seluruh pintu di sekitar mereka. Sama persis dengan apa yang Yoongi saksikan saat ia bertandang ke blok sel C.
"—tampaknya tahanan yang lain di sini juga sudah terkontaminasi sebagai Chugyeokja," kata Yoongi memberitahu. "Pasti pada salah satu saluran pipa di sini telah menyebarkan gas senjata biologis yang digunakan oleh Daetonglyeongnim."
"Apa mungkin Daetonglyeongnim telah berencana menyebarkan senjata biologis ini ke markas Korea Utara?"
Jungkook tidak menoleh. "Mungkin. Pasti dia pun juga mengirimkan beberapa orang mata-mata untuk menyelinap masuk ke sini dan menyebarkan senjata biologis ini." Ia bergegas melangkah pergi menjauh dari penjara bawah tanah, sebelum gedoran keras pada semua pintu bertambah keras, disusul suara lengkingan dan gerungan yang sudah dapat dipastikan berasal dari para tahanan yang telah bertransformasi menjadi Chugyeokja.
Mereka hampir mencapai permukaan saat Yoongi berkata dengan napas sedikit terengah-engah, "Bukankah—ini berarti kemungkinan besar gas-gas itu masih berada di tempat ini? Bagaimana—kalau—ternyata saat ini, kita tengah menghisap gas yang menjadi senjata biologis milik tentara kita?"
"Kalau memang demikian kenyataannya, kita harus bergegas keluar dari tempat ini, hyung."
Setidaknya ketiganya telah berlari selama dua puluh menit secara kontinu dan tiba di pangkal koridor di mana mereka berpisah dengan rekan yang lain.
Rasa terkejut yang mencekam menyergap mereka saat ketiganya menyadari tempat tersebut sudah dijaga ketat oleh beberapa orang tentara Korea Utara. Ada sekitar dua tentara lain yang sibuk memeriksa lubang ventilasi di atas langit-langit yang terbuka lebar-leba. Ada banyak lubang bekas senjata api. Tapi tidak ada Taehyung maupun yang lainnya di sana.
"Gawat. Ini benar-benar gawat. Ke mana yang lainnya?" seru Hoseok berusaha tidak panik saat mereka menyembunyikan diri di balik sebuah dinding pembatas.
Jungkook menggertakkan giginya. Yang paling ia khawatirkan saat ini adalah Taehyung. Omega itu merasa ketakutan saat memasuki tempat ini. Terlebih lagi, aroma khas milik pasangannya tersebut membuat Taehyung rentan diserang oleh Alpha lain. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Omeganya tersebut, Jungkook sama sekali tidak mampu memaafkan dirinya sendiri. "Hyung," kata Jungkook pada Yoongi, "Kau bisa coba hubungi Jackson? Atau setidaknya Jaebeom-hyung untuk melacak di mana mereka?"
"Aku akan mencoba menghubungi Jackson terlebih dahulu," kata Yoongi berusaha tetap berpikir jernih. "Dengan menentukan sinyal asal mereka, kita bisa melacak Namjoon dan yang lain."
Yoongi mengutak atik HT yang terpasang di arlojinya, memanggil Jackson dengan menyebutkan kode militer. Hanya bunyi dengungan menyahutnya.
"Tidak ada jawaban."
"Kalau begitu hubungi Jaebeom-hyung. Dia bisa membantu kita ke mana destinasi terakhir Tae-hyungie dan yang lain."
Lagi-lagi, Jungkook menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.
Yesu-nim, kalau kau memang benar-benar ada, kumohon lindungilah Tae-hyungie dan yang lainnya.
06.58 a.m
Won-sik melepaskan tembakan ke arah seorang tentara yang berdiri empat meter darinya, tepat di atas kedua alis. Jackson dan Namjoon menirunya. Dengan cekatan, Namjoon menyisipkan kembali pistol tangannya ke balik holster dan sebagai gantinya memasang senjata submachine gun di punggungnya—menembak ke sekeliling. Karena Won-sik menggunakan tubuh Jaehwan sebagai tameng, beberapa orang tentara tampak enggan untuk mulai menembak dan berakibat jumlah tentara Korea Utara yang berjatuhan lebih banyak.
Sementara itu, di belakang, Taehyung mulai ikut bergerak dengan menembak ke sekelilingnya. Ia berusaha bergerak secara zig-zag untuk menghindar dari lancaran serangan timah panas yang dilepaskan. Seokjin membungkuk di belakangnya, merangkul tubuh Kyungsoo sembari melepaskan dua tiga tembakan ke tentara yang berusaha mendekat.
"Apa yang kalian lakukan?! Jangan ragu untuk menembak!" teriak si pemimpin pleton pada tentara di depannya.
Para barisan tentara terdepan mulai bergerak, melepaskan tembakan. Mulai kesulitan, Namjoon menyuruh yang lain untuk bergerak ke arah di mana masih belum ada tentara yang mengepung mereka. Jauh di belakang,
Taehyung mulai kewalahan karena harus berusaha menghindar dari begitu banyak tembakan yang diarahkan padanya. Bahkan ada satu timah panas mengenai pundak dan juga betisnya. Tapi ia belum mau mengangkat tangan begitu saja.
Sebelumnya ia memang merasa ketakutan harus menghadapi masa lalunya, tapi kini adrenalinnya yang telah lama tersendat kembali mengucur dengan deras, mengalir ke seluruh aliran darahnya. Sewaktu ia berusaha menyelamatkan putranya dari markas komisi utama Korea Utara, ia dilindungi oleh Jungkook dan Seojoon, juga oleh rekan-rekannya yang lain. Sekarang, ialah yang harus berjuang sendiri melindungi dirinya, rekan-rekannya, juga melindungi Kyungsoo. Ia sama sekali tidak punya banyak pilihan kecuali berusaha melindungi dirinya sendiri juga putra semata wayangnya.
Kini, ia merasa dengan mengemban tugas baru, dengan kembali memegang tanggung jawab baru melindungi orang yang lebih lemah di belakangnya, dirinya yang lama kembali hadir—kembali mencuat ke permukaan. Mungkin karena latihan yang selama ini ia jalani bersama Jungkook, mungkin juga karena batinnya terus berteriak agar ia mau menghadapi ketakutan terbesarnya, Taehyung dengan mudahnya berhasil menghabiskan sebagian tentara sendirian.
Aku harus membuktikan pada Jungkook kalau aku bisa berjuang sendirian. Kalau aku bukanlah seorang Omega yang lemah. Aku bisa melindungi diriku sendiri dan juga orang lain.
Saat matanya menangkap cela pada barisan tentara yang ia hadapi sendirian, Taehyung berteriak pada Jackson, "Jackson!"
Jackson menoleh ke arah Taehyung. Mereka hanya perlu saling bertatapan mata sampai kemudian melalui instingnya, Jackson melemparkan bom asap ke sela antara mereka dengan satu barisan tentara. Sosok mereka tersembunyi di balik kepulan asap, dan Taehyung berseru pada yang lain, "Semuanya, ikuti aku!"
Taehyung menerobos barisan tentara yang kelimpungan berusaha menghadang mereka—mulai menembak secara membabi buta. Taehyung, Namjoon dan Jackson menjadi tameng bagi tentara Minguk, mengambil jalan yang tepat. Taehyung memanfaatkan ujung ganggang pistolnya untuk menempeleng kepala para tentara Korea Utara setiap kali ia mendapatkan kesempatan, diakhiri dengan tembakan pistol miliknya.
Won-sik yang berlari paling belakang, masih dengan menyeret Jaehwan ikut serta bersamanya, menembakkan senapan ke arah belakang mereka. Tidak lama kemudian, Namjoon ikut membantunya dengan melemparkan granat jauh-jauh ke arah para tentara.
Bunyi ledakan menyertai mereka bersamaan dengan getaran keras yang mengguncang tempat mereka berpijak. Iringan pekik kesakitan menyusul sesudahnya.
"Joon-ah! Kalau kau melemparkan granat sembarangan seperti itu, kau juga akan menghancurkan langit-langit di atas kepala kita!"
"Mianhae, Jin-Hyung!" balas Namjoon.
Setidaknya mereka berhasil lolos dari terkaman maut untuk sementara.
Jackson memfokuskan kembali atensinya pada arloji di tangannya, "Situasi sudah aman, Jaebeom. Sekarang, carikan ke tempat aman manakah yang bisa kami tuju. Dan juga, bisakah kau mengabarkan Jungkook dan yang lain kalau kami sekarang sedang menuju ke tempat aman tersebut?"
Tiba-tiba saja terdengar suara erangan dari Kyungsoo.
Semua mata mengarah ke arah Omega itu—yang sedang berusaha menyeimbangkan dirinya pada Seokjin. Dari raut wajahnya yang pucat dan bersimbah keringat, sudah pasti ia kelelahan setelah berlarian selama puluhan menit dari tentara Korea Utara.
"Sudah kukatakan sebaiknya kalian meninggalkanku—" erang Kyungsoo, memegangi perutnya. Tak pelak ia ambruk ke atas lantai sekalipun Seokjin sudah berupaya menahan berat tubuh Omega itu.
Taehyung ikut berlutut di sebelah Kyungsoo, mengkhawatirkan keadaan mantan rekannya tersebut. "Kami tidak akan meninggalkanmu, Kyungsoo."
"Dia terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan. Kehamilannya pasti sudah terlalu tua daripada yang kita kira," ujar Seokjin pada Namjoon.
Namjoon menilik ke sekitar dan matanya menumbuk pada sebuah pintu yang setengah terbuka—ruangan yang tampak seperti gudang penyimpanan kecil. Ada banyak boks-boks berisi perlengkapan yang sudah tidak dipakai, termasuk rongsokan barang-barang yang sudah tidak berfungsi. Ruangan itu cukup besar dan cukup aman untuk dimasuki, setidaknya oleh mereka.
"Baiklah. Kita sembunyi di dalam sana untuk sementara."
Dengan hati-hati, Taehyung membantu Seokjin menurunkan tubuh Kyungsoo ke atas lantai, mendudukkan Omega itu untuk sementara waktu. Taehyung meringis saat ia merasakan nyeri di pundak dan betisnya.
"Tae. Kau terluka," kata Seokjin begitu ia menyadari ekspresi kesakitan sang Omega.
"Aku baik-baik saja. Lebih baik kau awasi keadaan Kyungsoo."
"Biarkan Jin-hyung memeriksa keadaanmu, Tae," kata Kyungsoo keras kepala. "Selama ada Jaehwan di sini, dia bisa menggantikan peran Jin-hyung untuk memeriksa keadaanku. Dialah yang selama ini secara rutin memeriksa kandunganku."
Semua orang menajamkan tatapan mereka pada Beta yang namanya baru saja disebutkan tersebut.
Jackson bertanya dengan heran, "Won-sik. Aku tidak mengerti kenapa kau tetap menyeret Beta itu bersama kita? Sudah jelas dia memberitahu keberadaan kita secara gamblang pada rekan-rekannya. Lebih baik kau menghabisinya sekarang juga."
Jaehwan tampak pucat saat Jackson berkata demikian, "T-tunggu dulu—"
Taehyung ikut melirik pada Jaehwan. "Tidak. Kita akan membutuhkan tenaganya untuk memastikan Kyungsoo baik-baik saja. Orang ini—dialah yang sudah menolongku selama aku hamil di dalam tempat ini."
Hening memberi jeda untuk sementara.
Namjoon menghela napas panjang beberapa detik menyusul, "Kalau begitu," katanya pada Jaehwan, "Kau punya tugas untuk memonitor keadaan Kyungsoo. Kalau sampai terjadi hal yang sama dua kali seperti tadi—membuat teman-temanmu segera menyadari siapa kami, aku tidak akan segan-segan meminta rekanku membunuhmu."
Won-sik mendorong tubuh Jaehwan mendekat pada Kyungsoo dengan moncong pistol yang ia gunakan. "Kau dengar apa yang daehwi kami katakan. Sekarang lekas laksanakan tugasmu."
Jaehwan hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Namjoon dan Won-sik. Sesekali ia melirik ke arah Taehyung, dengan tatapan yang masih tampak terkejut melihat sang Omega itu berdiri begitu dekat dengannya.
Sementara Seokjin mengobati luka di tubuh Taehyung, Jaehwan memeriksa keadaan Kyungsoo. Taehyung tidak bisa berhenti menoleh setiap kali Kyungsoo melenguh sembari melebarkan kedua kakinya.
Ada sesuatu yang tidak nyaman mengganjal di hatinya.
"Jaehwan," panggil Taehyung pada sang Beta yang tengah memeriksa keadaan Kyungsoo. "Sudah berapa lama usia kandungan Kyungsoo?"
Jaehwan menggigit bibirnya dengan kikuk. Tapi ia tidak menjawab.
"Jaehwan?"
Jaehwan baru menjawab saat Won-sik mengacungkan moncong pistol ke pelipisnya. "S-seharusnya pada minggu ini ia diperkirakan bersalin…"
Seokjin menyumpah sampai-sampai ia menghentikan pembersihan luka di pundak Taehyung. "Oke. Ini benar-benar keadaan darurat."
Sementara Jackson, Namjoon dan Won-sik masing-masing hanya bisa terpaku di tempat mereka berdiri.
"Apa mungkin—kau sudah merasakan kontraksi, Kyungsoo?" tanya Taehyung pada sang Omega.
Kyungsoo tampak kebingungan. "A-aku tidak tahu. Perut dan punggungku memang terasa seperti dililit sesuatu dan selalu terasa sesak. Tapi aku selalu merasa begini semenjak parasit di dalam tubuhku ini mulai bisa bergerak di dalam perutku."
"Kalau Kyungsoo sampai melahirkan sekarang, kita akan bertambah kesulitan membawanya keluar dari sini," ujar Jackson menyimpulkan.
Namjoon membungkukkan tubuh sehingga ia bisa bertatapan dua muka dengan Kyungsoo, "Kau sendiri, apa sekarang kau yakin bisa menggerakkan tubuhmu sekali lagi?"
Kyungsoo kembali menumpahkan airmatanya, "A-aku sebenarnya ingin sekali pergi bersama kalian, kalau kondisiku memungkinkan. Hanya saja, saat ini aku cuma akan mempersulit usaha untuk kabur dari sini."
Taehyung mendadak berdiri dari posisinya semula. "Biar aku yang menggotong Kyungsoo."
Seokjin mendengus, menceletuk, "Yang benar saja? Kau bahkan mudah kelelahan menggendong putramu sendiri."
Kyungsoo tampak kaget, "Putra?"
"Kami baru saja berhasil menyelamatkan putraku dari markas komisi utama Korea Utara di Pyongyang. Sekarang aku meninggalkannya di markas gabungan tentara Yeokjuk dan Daehanminguk Gukgun," jelas Taehyung.
"Hmm. Tampaknya aku ketinggalan banyak berita."
"Makanya. Kami ingin sekali menunjukkanmu banyak hal setelah ini. Beberapa di antaranya ada sedikit kabar baik."
Kyungsoo mengusap kedua matanya dan mengumbar senyum kecil mendengar ucapan tulus yang mengalir dari Taehyung.
"Kalau begitu, aku bisa bergantian membopong tubuhmu bersama dengan Taehyung," Seokjin menambahkan. "Sementara yang lain berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu."
Won-sik menodongkan senjatanya ke pelipis Jaehwan, "Kau dengar itu? Kau beruntung kami bersedia menyelamatkan hidupmu."
Jaehwan sama sekali tidak berkomentar.
Ada bunyi pelatuk pistol mencuri perhatian mereka diikuti langkah kaki. Semua tentara Minguk dengan waspada menyentakkan kepala mereka ke arah pintu. Namjoon mengarahkan tangannya ke mulut, menyuruh mereka berdiam diri dan tidak membuat suara, sementara Jackson menjadi sukarelawan yang mengamati keadaan di luar.
Baru saja Beta itu mengeluarkan kepalanya ke lubang pintu, bunyi desing peluru menghiasi sekeliling mereka.
Taehyung dan yang lain merasakan jantung mereka nyaris terhenti saat suara langkah kaki tersebut bertambah banyak disertai suara tembakan senjata api, sahut menyahut. Jackson buru-buru mengurungkan niatnya untuk memeriksa keadaan, ikut menunggu seperti yang lain. Tak lama kemudian, sekeliling mereka berubah sunyi setelah suara letupan bedil terakhir dibunyikan.
Semuanya kecuali Kyungsoo dan Jaehwan, sudah siap sedia dengan senjata masing-masing, mengarahkannya ke mulut pintu begitu tiga sosok tentara berpakaian seragam tentara Minguk memasuki ruangan.
"Jungkookie!" Jungkook tidak perlu melepas masker yang ia kenakan karena Taehyung langsung mengenali aroma tubuhnya. Omega itu lantas memeluk sang Alpha. "Kupikir terjadi sesuatu padamu!"
"Justru aku mengira ada sesuatu yang terjadi padamu—pada kalian semua!" balas Jungkook, memeluk Omeganya lebih erat. Di belakang Alpha itu, Hoseok dan Yoongi serentak ikut memasuki ruangan. Berbeda dari kedua rekannya yang lain, masker yang dikenakan Hoseok bersimbah darah segar. "Saat kami kembali ke meeting point yang semula kita sepakati, kami sudah menemukan tempat itu dikelilingi oleh banyak tentara Korea Utara dan bejibun lubang bekas tembakan di atas langit-langit! Untung saja Jaebeom mengabari kami ke mana kalian menuju!"
"Yang di luar tadi itu apa? Apa yang kalian lakukan? Kenapa ada suara tembakan?" tanya Jackson terheran-heran melihat ketiganya tampak tenang-tenang saja begitu memasuki ruangan.
"Ada dua regu tentara Korea Utara di dekat tempat ini. Kami pikir pasti mereka sedang mengejar kalian. Dan untung saja aku mengikuti instingku dan menemukan kalian di sini," Jungkook menjelaskan.
"Bagaimana keadaan di penjara bawah tanah sana? Kalian menemukan yang lainnya?" selidik Namjoon pada Jungkook, Yoongi dan Hoseok.
Yoongi membuka maskernya, menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya setelah selama beberapa jam harus mengenakan benda sintetis tersebut. "Sayangnya tidak. Kami—kami sempat menemukan Jongdae. Tapi dia dalam keadaan yang sangat buruk."
Kali ini Kyungsoo menyambar ucapan Yoongi, "Kalian bertemu Jongdae di penjara bawah tanah?"
Jungkook, Yoongi, dan Hoseok menolehkan kepala mereka ke arah Kyungsoo.
"Kyungsoo?!" seru Hoseok penuh sukacita, berlari menuju Kyungsoo setelah melihat rekannya yang telah lama tidak ia jumpai kini berada tepat di depan mata mereka. Selangkah dari Kyungsoo, Hoseok menghentikan langkahnya. Nadanya terdengar termangu-mangu saat matanya menumbuk ke perut Omega itu, persis seperti yang dilakukan oleh Jungkook dan Yoongi di sebelahnya. "Tunggu? Apa yang terjadi? Kenapa perutmu membesar seperti itu?"
"Dia sedang hamil," Seokjin yang mewakili diri menjawab untuknya. "Tentara Korea Utara memodifikasi tubuhnya menjadi Omega, sama seperti yang terjadi pada Taehyung, Baekhyun, dan Jimin."
"Omega?! Kau sekarang menjadi Omega?!" Yoongi mengangkat kepalanya, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Belum sempat menceritakan semuanya, Namjoon memotong, "Lalu, bagaimana dengan Jongdae? Kenapa kalian tidak membawanya serta bersama kalian ke sini?"
Yoongi menampakkan raut getir di wajahnya, "Dia sudah menjadi Chugyeokja."
Tentara Minguk yang lain menyuarakan keterkejutan mereka.
"Sewaktu kami membunyikan kode morse di bawah sana, kami mendengar seseorang membalas kode morse yang kami bunyikan. Begitu aku membuka pintu, tahu-tahu ada yang menyerangku. Dan ternyata yang menyerangku adalah Jongdae-hyung."
Jungkook mengingat-ingat bagaimana Jongdae sempat sejenak mengenali dirinya, hampir menarik diri untuk tidak menyakiti Jungkook, sebelum kemudian kewarasannya menghilang sekali lagi. Sorot mata Jongdae yang seolah-olah berkata pada Jungkook—kenapa kalian ada di sini? Apa yang sedang kulakukan pada kalian?—lalu sorot mata Jongdae berubah lagi menjadi sorot mata seseorang yang telah kehilangan prakarsa sebagai manusia.
"Lalu pada saat dia menyerang Hobi-hyung, aku tidak punya pilihan kecuali membunuhnya."
Perasaan bersalah kembali melingkupinya.
Tentu saja semua orang berduka mendengar kabar tersebut. Jackson pun dengan sengaja melepas maskernya untuk menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.
"Jadi—hanya aku yang masih hidup?" Kyungsoo seperti bertanya-tanya pada dirinya sendiri setelah mendengar cerita dari Jungkook. Air wajahnya berubah keruh. "Padahal bisa saja dia pergi dari sini tanpa memikirkanku—tanpa perlu ditangkap oleh Jongin dan yang lain—"
"Kita hentikan dulu percakapan ini sampai di sini," kata Namjoon menegaskan. "Kyungsoo, kalau keadaanmu sudah cukup membaik, kita bisa mulai pergi dari tempat ini sekarang juga."
Taehyung tampak hendak mendebat Namjoon, tapi Kyungsoo segera bangkit dengan bertopang pada Won-sik. "Ya. Kita harus secepatnya pergi dari sini. Alpha yang mengklaimku—Jongin, dia pasti sudah tahu situasi saat ini dan berniat menghabisi kalian."
"Tapi sebelumnya—" Jungkook kembali menginterupsi sembari menunjuk pada Jaehwan, "Siapa orang asing ini?"
"Dia tentara Korea Utara yang akan membantu memonitor keadaan Kyungsoo," jawab Taehyung dengan cepat, mendorong pelan bahu Jungkook, menyuruh Alpha itu kembali fokus ke situasi sekarang.
Sewaspada mungkin, mereka keluar dari ruangan. Sayangnya, ada beberapa jalan yang tidak dapat mereka lalui karena banyak tentara yang berkeliaran di setiap koridor yang dapat mereka temui. Mereka berakhir di gudang penyimpanan yang sama.
"Semua tentara menyebar. Ada kerusuhan yang membuat mereka semua bersiaga hampir di semua tempat. Termasuk saluran air ducting."
Jackson terdengar putus asa saat menghubungi Jaebeom, "Apakah kau tidak bisa memilihkan jalur yang aman? Kami harus tiba secepatnya. Rekan yang berhasil kami selamatkan ada yang ikut menjadi percobaan Omega oleh tentara Korea Utara dan sedang hamil saat ini."
"Aku akan usahakan mencari jalan terbaik secepatnya—"
"Kalau kau tidak bisa menemukannya dalam waktu kurang dari satu jam, kau dan Jinyoung harus kembali ke markas berduaan tanpa kami," ucap Jungkook pada Jaebeom, memberi sabda pada bawahannya tersebut.
"Roger."
"Lalu sekarang kita akan ke mana? Terlalu banyak tentara yang mondar mandir di sini," kata Taehyung khawatir. Omega itu tampak agak kesulitan membantu Seokjin memapah Kyungsoo.
Tepat ia berkata demikian, ada sepasukan tentara yang berjalan ke arah mereka. Jungkook menginstruksikan yang lainnya untuk menepi, "Aku punya rencana yang apik." Ia memberi isyarat pada Hoseok dan Won-sik. Won-sik menggelengkan kepalanya seraya menunjuk pada Jaehwan. Ujungnya, Yoongi dan Jackson ikut serta membantu rencananya.
Jungkook hanya berkata beberapa patah kalimat menyampaikan rencananya selama satu menit sebelum para kawanan tentara Korea Utara berjalan melewati mereka. "Kita akan menyamar sebagai sebagian dari mereka. Sekarang, kita hanya perlu ke tempat di mana kita menyembunyikan para tentara yang sudah kita bunuh sebelum tiba di ruangan ini."
Yoongi dan Hoseok menyuarakan kekaguman mereka akan ide yang diberikan oleh Jungkook, sementara Jackson menunjuk ke arah Alpha itu dengan tatapan bangga dan kagum. "Tak percuma kau menjabat sebagai daehwi dari kelompok Yeokjuk untuk saat ini."
Keempatnya menjalankan misi kecil dadakan mereka, sementara Taehyung dan tentara yang tidak ikut berpastisipasi menunggu di dalam ruangan.
Selama menunggu, Kyungsoo berkata, "Jungkook-ah. Dia banyak berubah. Dia seperti kembali menjadi dirinya yang dulu."
Taehyung tertegun mendengar ucapan Kyungsoo. "Benarkah begitu? Aku tidak pernah tahu seberapa berubahnya dia sejak aku disekap oleh tentara Korea Utara. Apakah dia benar-benar berbeda dengan karakternya saat ini?"
"Ya. Dia memang bersikap lebih dewasa. Tapi entah kenapa, dia tetap mengingatkanku akan Jungkook yang dulu." Kyungsoo terdiam selama beberapa saat, mengendus aroma Taehyung. "Apa terjadi sesuatu di antara kalian? Kenapa aroma tubuhmu sama persis seperti aroma tubuh Jungkook?"
Seokjin terkikik pelan mendengar pertanyaan Kyungsoo, sudah tahu sepenuhnya apa yang terjadi di antara mereka. Sedangkan Taehyung hanya bisa mengalihkan matanya ke arah lain, masih terlalu malu-malu mengakui akan hubungan barunya dengan Alpha muda bersurai hitam itu. Karena ada jeda terlalu lama di antara mereka, Seokjin menyahut untuknya, "Benar. Taehyung dan Jungkook—mereka berdua baru saja menjadi pasangan beberapa hari ini."
Kyungsoo menganggukkan kepalanya dan ikut tersenyum, sedikit menertawakan kesan canggung di balik sikap Taehyung. "Ah. Begitu rupanya. Pantas saja kau juga tampak lebih—lebih hidup daripada sebelum aku ditangkap oleh Korea Utara. Pasti dia benar-benar membuatmu bahagia, sampai-sampai kau rela diklaim olehnya." Tangan Omega itu bergerak ke belakang tengkuk lehernya, membuat Taehyung dan Seokjin menyadari sesuatu yang sama sekali belum mereka lupakan sebelumnya. Kenyataan kalau Jongin juga telah diklaim oleh seorang Alpha, tampak dari bekas gigitan di leher sang Omega.
"Jongin yang sudah mengklaimmu, huh?"
Kyungsoo kembali mengangguk sebagai jawaban dengan sebelah alis terangkat. Ia tertegun saat tahu Taehyung seperti mengenal Jongin. "Yah. Tampaknya kau mengenal Alpha bernama Jongin ini. Kalau kau ingin mengatakan dia adalah orang brengsek yang suka bersikap seenaknya, maka aku tidak akan ragu untuk mengiyakan."
"Yah. Tapi dia tidak seburuk yang lainnya," kata Taehyung menambahkan. Matanya berhenti pada Jaehwan. "Dia dan Jaehwan. Mereka—mereka adalah orang-orang yang salah mengikuti pilihan hidup, kurasa."
Ekspresi Kyungsoo berkerut jengah, tersinggung mendengar pernyataan Taehyung, "Kau tidak tahu, Tae. Jongin—dialah yang sudah menyiksa Hyun-woo sampai mati. Lalu mengurung Jongdae-hyung di penjara bawah tanah, membuat Jongdae-hyung kehilangan telinga dan juga sebagian tangannya. Sekarang Jongdae-hyung pun sudah bergabung bersama dengan teman-teman kita yang lain, yang sudah jauh mendahului kita."
Taehyung tidak mau mendebat persoalan tersebut dan hanya bisa menutup mulut rapat-rapat.
Jungkook kembali memasuki ruangan, kali ini berpakaian ala militer Korea Utara. Kalau saja ia dan Yoongi, Hoseok, serta Jackson tidak mengenakan masker dan menunjukkan wajah mereka, sudah pasti Namjoon memerintahkan yang lain menembaki mereka. Jungkook melemparkan beberapa pasang seragam bertugas tentara Korea Utara pada mereka.
"Kenakan semua perlengkapan seragam ini. Kita akan menyusup dengan cara ini, melakukan penyamaran. Aku harap tidak ada yang curiga kalau kita bukan salah satu dari mereka."
08.44 a.m
Para tentara Minguk berhasil mengelabui setidaknya tiga regu tentara yang bersinggungan dengan mereka di koridor. Kyungsoo berjalan di paling belakang, diiringi oleh Taehyung dan Seokjin yang masih mengenakan masker mereka untuk menyembunyikan identitas. Mungkin para tentara Korea Utara yang melewati barisan tentara Minguk berpikir mereka hendak memindahkan Kyungsoo ke fasilitas kesehatan, karena Jaehwan memimpin di depan, masih mengenakan jas labnya. Sesuai yang Namjoon dan lain harapkan, Beta itu mau berkoordinasi dengan sama sekali tidak memberitahu siapa tentara dengan perlengkapan perang lengkap yang mengikut di belakangnya, hanya mengangguk setiap kali para tentara memberi hormat padanya.
Delapan orang tentara Minguk tersebut, ditambah Kyungsoo dan Jaehwan, mempercepat langkah mereka sampai di dekat bukaan menuju menara yang telah mengantar mereka masuk ke dalam basis perbatasan. Jungkook baru saja mendongakkan kepalanya ke anak tangga saat sebuah moncong pistol ditodongkan tepat di antara kedua matanya.
"Angkat tangan kalian."
Para tentara Minguk yang sama sekali belum bisa membaca situasi di sekeliling mereka sepenuhnya, membelalak saat dua pleton tentara mengerubungi mereka. Satu dari bukaan menuju menara pengawas, dan satu lagi di belakang mereka.
Taehyung yang sedari tadi memapah Kyungsoo bersama dengan Seokjin, merasakan kakinya terasa lemas saat ia melihat Peniel dan Sungjae memunculkan diri mereka dari balik bukaan menara, lengkap dengan senapan di kedua tangan mereka.
"Aku tidak sabar untuk menyicipimu duluan."
Taehyung menelan ludahnya.
Kenapa? Kenapa sekarang aku harus bertemu mereka?
"Seharusnya di sini tidak ada protokol yang mengizinkan tentara yang sedang berada di dalam markas untuk mengenakan masker kecuali dalam situasi yang genting," Beta yang bernama Peniel, memainkan lidah di dinding mulutnya, tampak angkuh begitu matanya memandangi satu persatu wajah tentara Minguk yang ia lihat. Ia masih botak seperti dulu, tapi hal tersebut sama sekali tidak mengurangi ekspresi bengis di wajahnya.
Sungjae mendekati Jaehwan, menodongkan senjatanya ke Beta tersebut, "Hyung? Apa yang kau lakukan di sini? Kukira kau seharusnya sedang mengecek keadaan Omega milik Jongin. Tapi kenapa kau malah membawa tentara-tentara ini memasuki menara fortifikasi?"
Jaehwan terbata-bata, "A-apa maksudmu? Kami baru saja hendak pergi ke fasilitas kesehatan."
Peniel ikut mengintervensi, "Fasilitas kesehatan ada jauh di belakang kalian. Kenapa kau malah pergi ke sini? Memangnya sudah berapa tahun kau bekerja sebagai tenaga medis, Hyung?"
Seorang tentara berusaha menyentakkan masker yang dikenakan Taehyung. Taehyung menghindari sentuhan tangan tentara tersebut, menarik lengan sang Beta sebelum menyergap tubuhnya ke atas permukaan tanah. Para tentara Korea Utara yang menyaksikan aksinya, langsung mengangkat senjata ke arah Omega tersebut. Jungkook berjuang menuju ke arah sang Omega, tapi tiba-tiba saja dua orang Alpha memberangus tubuhnya.
"Tunggu dulu, kenapa kau begitu defensif saat kami ingin membuka masker yang kau kenakan?" tanya Peniel menghampiri Taehyung, diikuti oleh tiga orang tentara lainnya. Taehyung masih mengelak saat Peniel bermaksud mengambil ujung dari masker yang ia kenakan, menampiknya dengan kasar. Sedetik, Taehyung menyadari luka di tangan Beta itu—luka yang dulu disebabkan oleh tembakan dari Hyungsik yang mengenai telapak tangannya. Ekspresi sumringah di wajah Peniel tidak berubah saat matanya melihat ke arah Kyungsoo. "Ohh? Omega dari Jongin rupanya bersama kalian, huh? Padahal aku dengar dari kabar yang beredar beberapa tentara Yeokjuk berhasil memasuki kamar pribadi Jongin dan mengambil Omeganya dari dalam sana."
Sungjae menatap lekat-lekat Jaehwan. "Hyung? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan? Atau mungkin kau bisa jelaskan dari regu manakah tentara-tentara yang tidak kita kenal ini?"
Jaehwan tampak seperti ayam yang kehilangan kepalanya, hingga akhirnya Yoongi mengambil alih keadaan dengan menembak secara acak ke beberapa barisan tentara, mengalihkan perhatian. Dua orang tentara yang perhatiannya teralihkan dari Jungkook, berakhir di lantai saat Alpha muda itu balik menghantam keduanya ke atas lantai. Ia mengambil bilah pisau di balik boots yang ia kenakan, menorehkan luka panjang di bawah leher dua Alpha tersebut dan membuat muncratan darah segar menyiprat ke wajahnya.
Namjoon pun ikut turun tangan dengan menembakkan submachine gun miliknya ke bagian perut beberapa orang, menyebabkan serentetan tubuh berjatuhan ke lantai diiringin pekikan kesakitan. Jackson, Won-sik, dan Hoseok membantu dua atasan mereka—menambahkan serangan balasan. Tidak mau kalah, para tentara Korea Utara menembak ke arah mereka secara membabi buta.
"Jangan lukai Omega dari Jongin!" pekik Sungjae pada tentara yang lain.
Peniel yang telah mengangkat senjatanya, menembakkan timah panas ke arah Taehyung. Secara tangkas dielak oleh sang Omega dengan menyikut dan membanting tubuh Beta tersebut, membuat Peniel memekik kesakitan begitu ambruk ke atas lantai.
"Jin-hyung! Bawa Kyungsoo jauh dari sini!" teriak Taehyung tanpa sadar pada Seokjin yang berusaha menghindari rentetan tembakan seraya menjauhkan Kyungsoo dari tempat baku tembak terjadi.
Taehyung baru saja akan menodongkan pistolnya tepat di wajah Beta itu saat suara tembakan lainnya yang bersahutan-sahutan di sekelilingnya bertambah banyak, salah satunya mengenai pistol yang ia gunakan. Pistolnya terlempar menjauh dari tangannya. Ia pun tidak sempat mengambil pistolnya karena Peniel menginjak pergelangan tangannya, membuatnya tertahan pada posisinya. Di tempat lain, Won-sik yang terluka di bagian lengan kirinya masih berusaha melakukan perlawanan, tetapi ia kewalahan karena tentara musuh yang menyerang mereka kian berdatangan. Yoongi dan Hoseok saling memunggungi satu sama lain, tembak menembak, tapi tenaga mereka pun mulai terkuras, pun dengan jumlah peluru yang mereka gunakan.
Namjoon melempar granat, tapi ledakan yang dihasilkan tidak cukup untuk mengubur tentara yang jumlahnya terus bertambah.
"Tidak akan mempan! Jumlah mereka terlalu banyak!" teriak Jackson panik padanya.
Jungkook yang menyadari Omeganya sedang terjebak dalam situasi gawat, kehilangan harapan untuk menyelamatkan Taehyung saat ia merasakan timah panas bersemayam di pinggang kirinya. Ia masih melawan dan memaksakan diri berlari menuju Omeganya, tapi tiga Alpha berdatangan dan menahan tubuhnya ke atas tanah.
Tentara Korea Utara telah sepenuhnya menyergap pasukan tentara Minguk, menghentikan aksi mereka saat muncul seorang Alpha diiringi oleh enam orang tentara di belakangnya. Taehyung langsung mengenali Alpha itu sebagai Jongin—tentara yang dulu masihlah menjadi kelasi bawah. Tapi kini, dilihat dari seragam bertugasnya dan lencana yang terpatri di dadanya, tampak jelas Jongin memegang posisi penting di daerah perbatasan saat ini.
"Jadi ini—tentara Yeokjuk yang menyelinap masuk ke dalam wilayah kita?" Jongin berjalan mendekati Kyungsoo yang dengan terang-terangan menampakkan raut tidak senang melihat kehadiran Alpha itu. Saat ia menyentakkan tangan ke sekeliling tubuh Kyungsoo, sang Omega memberontak keras. Ia hampir menyakiti Kyungsoo dengan memuntir pundak Omega tersebut, tapi buru-buru menurunkan tangannya. "Tentu saja, seharusnya aku tahu ada salah satu temanmu di antara kawanan Yeokjuk ini. Apa mungkin tentara Yeokjuk dan tentara Korea Selatan sekarang sedang berupaya untuk menyelamatkanmu dari sini?"
"Persetan denganmu," kecam Kyungsoo, matanya mememlototi Jongin, "Aku tidak pernah sudi untuk mengandung anakmu. Semoga jiwamu membusuk di neraka sama seperti juga—"
Kali ini Jongin tidak main-main saat melayangkan tamparan ke wajah sang Omega, memotong ucapannya. "Kalau saja kau tidak sedang hamil, aku bisa saja menghajarmu saat ini. Tapi beruntung aku tidak pernah ingin benar-benar menyakitimu kecuali kau membuat kesabaranku menipis seperti sekarang." Kyungsoo masih memelototinya, meski mulutnya sedikit mengeluarkan darah akibat gusakan antar gigi dengan bibirnya.
Jongin kemudian beralih pada Seokjin—yang sedang ditahan oleh seorang Alpha, menyentakkan masker yang Beta itu kenakan hingga menampakkan wajahnya. "Oh," seru Jongin, tercengang melihat wajah Seokjin. "Kau punya fitur wajah yang menarik. Aku jadi penasaran, apakah wajahmu itu bisa diimbangi dengan kemampuanmu di atas tempat tidur kalau kau menjadi seorang Omega?"
Namjoon berteriak ke arah Jongin, dan dengan cepat dua orang tentara kembali menekan wajahnya hingga mencium permukaan lantai. "Kalau kau menyentuhnya—" geram Namjoon mengancam, "Kau akan merasakan akibatnya—"
Jongin menyeringai mendengar ucapan Alpha itu. "Sayangnya kau tidak akan bisa mengancamku. Karena kau yang akan tersiksa setelah ini."
Namjoon kembali berteriak, memaki-maki pada Jongin—suatu sisi yang sama sekali tidak pernah tentara Korea Selatan lihat dari Alpha itu. Bagaimanapun juga, Namjoon adalah Alpha yang berkepala dingin, tidak pernah kehilangan kendali hingga saat ini. Seokjin yang jelas-jelas sama tidak berdayanya dengan sang kekasih, hanya bisa menundukkan pandangannya karena gelisah dan takut.
Taehyung berusaha melepaskan diri dari jeratan Peniel yang sebelumnya masih menginjak pergelangan tangannya kini telah sepenuhnya menyergapnya ke atas permukaan lantai. Dalam hati, Taehyung berharap Jongin tidak pernah berjalan padanya. Sia-sia karena Alpha itu kini telah memandanginya dengan tatapan penasaran. Ia berlutut di hadapan Taehyung, mengendus-endus ke leher Omega itu.
"Menyingkir darinya, brengsek!" pekik Jungkook beberapa meter dari posisi mereka berada.
Jongin menyentakkan kepalanya pada Jungkook, tersenyum mengejek. "Ah. Aku ingat kau. Kita pernah bertemu sebelumnya, sepertinya. Kalau tidak salah, sebelum kami menangkap teman-temanmu." Ia menyentuh masker yang dikenakan oleh Taehyung. "Tampaknya kau adalah prajurit yang handal, karena sampai-sampai tiga orang Alpha bawahanku harus menahanmu. Kau tidak tertarik untuk menyalurkan bantuan ke negara kami?"
"Suatu saat negara kalian akan hancur," decih Jungkook, penuh amarah.
Seorang Alpha menempeleng wajahnya dengan ujung senapan. Jungkook memejamkan mata dan tidak sempat menggertakkan giginya, membuat aliran darah segar mengucur dari gusinya.
Ia tidak mampu berbuat apa-apa begitu melihat Jongin mengulang apa yang telah ia lakukan pada Seokjin—yakni menyentak masker yang dikenakan oleh pasangan Omeganya, membuat wajahnya terekspos pada semua mata. Ada suara yang menyiratkan rasa terkejut saat menyadari siapa salah satu tentara musuh yang menyusup ke dalam markas perbatasan mereka.
Peniel memagut dagu Taehyung, berusaha membuktikan kembali kalau di hadapannya adalah benar Taehyung alias V—Omega yang dulunya pernah memuaskan nafsu birahinya selama beberapa tahun. Ia terkekeh-kekeh senang mendapati kalau kenyataannya Omega tersebut kini menampakkan diri di hadapan tentara Korea Utara, tanpa perlu bersusah payah menemukannya.
"V? Siapa yang menyangka kau sendiri yang akan datang ke sini? Sebegitu rindunya kau pada tempat ini, sampai-sampai menyempatkan diri datang berkunjung ke sini?" ia terbahak-bahak, membuat Taehyung mengalihkan wajahnya, berharap liur Beta itu tidak sampai ke wajahnya.
Di lain sisi, Taehyung menyumpahi dirinya sendiri. Bertanya-tanya akan keputusannya sendiri untuk bergabung dengan Jungkook dalam misi kali ini. Sekarang, ia telah terseret ke dalam masalah besar yang menjadi mimpi buruknya selama bertahun-tahun. Kembali ditangkap oleh tentara Korea Utara. Ia bisa mendengar Jungkook mengancam Peniel dan tentara lain yang berusaha menyentuh sang Omega, tapi percuma karena mereka semua dalam keadaan tak berkutik.
"Bawa para penyusup ini ke penjara bawah tanah, kecuali V dan Omegaku. Bawa keduanya ke ruanganku," kata Jongin memberi intruksi. Ia bersitatap dengan Jaehwan yang sama sekali menolak bertatap muka dengannya. "Dan kau Hyung. Aku anggap kau tidak mampu melawan mereka karena sudah pasti mereka mengancammu. Sekarang, kau urus dua Omega ini di fasilitas kesehatan."
Taehyung dan Kyungsoo dibawa serta ke tempat yang berlawanan dengan rekan-rekan mereka yang lain. Jungkook melawan, berhasil memukul telak seorang Alpha sebelum kemudian dua Alpha lagi menahan dan kali ini memborgol tangannya, menyeret kapten tentara Minguk tersebut menjauh dari sang Omega.
"TAE! Taetae!"
"Kook—" suara Taehyung tertahan saat Peniel menyusupi tubuhnya dengan salah satu tangannya yang memiliki bekas luka dari Hyungsik. Ia merasakan darahnya berhenti berdesir, pikiran buruk tentang selama penahanannya di Korea Utara kembali bergentayangan. Ia tidak mampu membayangkan apa yang akan mereka lakukan padanya setelah ini.
Jihoon—bagaimana dengan Jihoon setelah ini?!
"Aku sudah tahu kau akan kembali padaku, V," bisik Peniel ke telinganya.
Taehyung ingin sekali menghajar Beta itu, membuatnya menyesal telah berkata seperti itu. Tapi ia hanya bisa patuh saat Peniel menyuruhnya masuk ke dalam area fasilitas kesehatan.
Pemandangan berwarna putih menyambutnya sebelum ia ambruk ke atas lantai.
01.17 p.m
Jungkook masih belum mau sepenuhnya mengalah saat ia harus dikerubungi oleh enam tentara Korea Utara sekaligus.
"Jangan pikir kalian bisa menghentikanku, brengsek!" teriak Jungkook berontak, menghantam dan menyundul beberapa orang tentara hanya dengan tubuhnya. Dua orang tentara jatuh tertindih oleh tubuhnya, dan salah satunya harus menerima bogeman mentah tepat di rahang.
"Shibal—tentara Korea Selatan ini kuat sekali! Mau tak mau kita harus mengikat kedua tangan dan juga kakinya!"
"Dia yang disebut sebagai Heugpyobeom oleh senior-senior di sini!"
"Bagaimana kalau kita menembak kepalanya?"
"Dan ingin dia mati begitu saja tanpa membuat kita bersenang-senang?"
"Tidak bisakah kita minta bantuan lagi? Dia benar-benar seperti pantera hitam!"
Tepat dengan tersebutnya nama julukan Jungkook yang begitu dikenal oleh Korea Utara sebagai sosok yang tangguh di medan perang, seorang tentara lagi-lagi jatuh ke atas lantai dengan salah satu tangannya terpuntir akibat ulah Jungkook. Kesal, akhirnya dua tentara yang baru bergabung membantu rekan-rekan mereka yang lain dengan menahan tubuh Jungkook ke atas lantai, kali ini memborgol kuat-kuat pergelangan tangannya dan menahan leher Alpha itu dengan ganggang senapan. Dua orang tentara lagi mengikat kakinya lalu menyeretnya ke dekat tiang pancang.
Namjoon, Seokjin, Won-sik, Hoseok, Jackson, dan Yoongi, hanya bisa melihat keadaan teman mereka dengan pasrah. Enam orang tentara tersebut tergolek di sebuah tiang pancang, dengan keadaan dua tangan mereka terikat kuat pada empat buah tiang tersebut. Beberapa orang tentara yang dari tadi masih asyik mengata-ngatai, menendang-nendang, dan menyudutkan puntung rokok ke sekujur lengan mereka, akhirnya memusatkan perhatian pada Jungkook. Sudah lebih dari satu jam sepuluh orang tentara bergantian berusaha menghentikan perlawanan Jungkook dan berakhir dengan empat orang tentara Korea Utara mengalami luka serius.
Mereka sudah berusaha menghentikan Jungkook dengan mengetatkan ikat pinggang ke sekeliling leher Alpha tersebut, menjeratnya, namun dengan mudahnya Jungkook melucuti borgol yang mengunci kedua tangannya sekaligus mematahkan dua tulang rahang dua orang tentara. Kalau ia terus menerus melawan, Jungkook akan kepayahan. Tenaganya semakin lama akan semakin terkuras dan ia tidak akan bisa memberikan perlawanan lagi.
Tae-Hyung. Bagaimana dengan Tae-Hyung?
Seorang tentara botak—yang entah kenapa, membuat darah Jungkook mendidih saat ia menyaksikan bagaimana Beta itu memandangi wajah Omeganya dengan wajah penuh nafsu seksual yang menjijikkan. Raut wajah Taehyung yang tampak ketakutan saat berhadapan dengan Beta itu, menyiratkan kalau dulu ia pernah berbuat sesuatu yang sama sekali tidak layak untuk dilakukan pada sang Omega. Jungkook masih ingat bagaimana cara Beta berkepala botak itu memegangi bokong Taehyung dan membuat sang Omega langsung tunduk untuk mengikuti kata-katanya.
Beta yang kepalanya ditutupi oleh topi tersebut berlutut di depan Jungkook, menjambak rambut sang Alpha sebelum kemudian melayangkan tinju tepat di tengah-tengah wajahnya. Jungkook menggertakkan giginya, membuat benturan yang terjadi antara tulang jari dengan tulang wajahnya tidak terlalu berdampak besar. Tapi tetap saja, luka di gusinya kini bertambah parah.
"Aku tahu siapa kau," kata Beta itu dengan sikap pongah. "Kau bernama Jeon Jungkook, si Heugpyobeom dari Pasukan Brigade Khusus ke 13," ia mengendus-endus Jungkook dan memekik kaget saat sang Alpha berusaha menggapai lehernya dengan mulut. "Astaga. Kau benar-benar liar dan sulit ditaklukkan, huh. Tidak perlu kuragukan lagi, kau ikut serta dalam upaya penculikan Park Jihoon—putra dari panglima kami."
"Menculik? Justru kami menyelamatkannya dari neraka yang telah kalian buat," Jungkook meludah ke wajah Beta itu.
Sang Beta memasang raut jijik dan tidak berhasil menghindari liur yang diludahkan oleh Jungkook. Ekspresi wajahnya langsung berubah sengit dan sekali lagi, ia merebut senapan dari salah seorang tentara kelasi dengan kasar, lalu menghantamkannya berkali-kali ke wajah Jungkook.
"Kau tahu apa tentang neraka?! Mau kuperkenalkan neraka kami yang sesungguhnya padamu, hah?!"
Jungkook hanya membungkukkan tubuhnya, berusaha menghindar agar kepalanya tidak terkena luka fatal.
Seokjin memekik panik, juga Namjoon dan Jackson.
Yoongi berusaha bangkit, tapi kedua tangannya terikat kuat-kuat pada tiang pancang. "Berhenti! Kau akan membunuhnya!"
"Jungkook-ah!" teriak Hoseok dan Won-sik bersamaan, berusaha menggapai Jungkook yang tidak jauh berada di antara mereka.
Beta itu berhenti setelah pukulan yang kesepuluh, tertawa puas saat mendapati wajah Jungkook telah dipenuhi luka lebam. Pelipis dan bibir Alpha itu terkoyak, menyebabkan sebaris panjang kucuran darah. Jungkook jatuh lunglai di atas lantai, kehabisan tenaga.
Beta itu menendang pundak Jungkook, membuat suara remukan tulang yang membuat ngilu.
"Aku juga tahu apa hubunganmu dengan V. Aku bisa mencium aroma tubuhmu padanya. Sayang sekali, setelah ini dia tidak akan menjadi milikmu lagi," desis si Beta ke telinga Jungkook. Jungkook menggerung rendah, hendak membalas, tapi ucapannya terdengar tidak karuan akibat luka di mulutnya. "Kau tidak penasaran, apa yang akan kami lakukan setelah ini padanya? Sewaktu ia baru menjadi Omega, kami bergiliran menyetubuhinya. Tidak peduli itu siang atau malam. Dia adalah Omega dengan visual yang paling menarik, Omega yang paling memuaskan yang pernah kami cicipi. Bahkan walaupun dia sedang hamil, dia tetap terasa seperti perjaka. Dia suka melawan, sama sepertimu, hanya saja lebih menggairahkan." Ia terbahak-bahak mendengar ucapannya sendiri, mengacuhkan Jungkook yang kembali menggerung rendah pada dirinya. "Memang paling menyenangkan kalau bisa memiliki Omega saat kau seorang Alpha. Tapi sayangnya aku lebih senang seks beramai-ramai. Bisa kau bayangkan, saat V menghisap penisku sementara seorang tentara lain menyetubuhinya, dan dua tentara lain menjilati tubuhnya. Aku tidak sabaran untuk melakukan itu lagi setelah ini."
Jungkook menyumpahi Beta itu berkali-kali, dengan ucapan tak jelas sama seperti sebelumnya. Para tentara lain yang bertindak sebagai penonton, ikut menertawakan ketidakberdayaan Jungkook.
"Sudah cukup," kata Beta itu mengangkat tangan, menyuruh bawahan yang lain untuk diam. Ia menunjuk ke arah para tentara Minguk yang terikat pada tiang pancang kecuali Jungkook yang terkapar di atas lantai, "Bawa mereka semua ke ruang sel yang masih kosong. Kecuali untuk satu orang ini, biarkan dia terikat di sini. Kalau sudah tiba malam, kita siksa lagi dia."
Para tentara mematuhi perintah sang Beta, memasukkan masing-masing tentara Minguk ke dalam sel dan meninggalkan Jungkook tetap terikat pada tiang pancang. Begitu selesai, mereka berjalan berbaris meninggalkan ruang penjara bawah tanah.
Jungkook merasakan kepalanya tiba-tiba pening. Ia ingin sekali tidur, tetapi kepalanya tidak bisa berhenti memikirkan Taehyung.
Apa yang akan mereka lakukan pada Taehyung?
Ia tidak ingin membayangkan Taehyung yang sama tidak berkutik seperti dirinya, diperkosa lagi oleh tentara Korea Utara. Ia sudah berjanji akan melindungi Omega itu. Tapi ia gagal.
Jungkook mulai terisak. Ia pun teringat Seojoon.
Maafkan aku, Seojoon. Aku tidak bisa menepati janjiku—
Suara gedoran pada pintu besi diikuti bunyi lengkingan kembali bergema di dalam seisi area blok sel, dan mereda tidak lama kemudian.
05.39 p.m
Taehyung terbangun di sebuah ruangan berukuran 2x3 meter dengan cat abu-abu memenuhi seisi ruangan. Terkejut mendapati di mana ia berada sekarang, ia langsung merapatkan diri ke sudut ruang, meraskaan jantungnya yang semula teratur kini berdetak tidak karuan. Ia panik, tidak tahu harus berbuat, menyadari dirinya dimasukkan ke dalam ruangan yang dulu pernah mengungkungnya sebelum ia dibawa menemui Hyung-sik. Di tempat ini, sebelumnya ia kehilangan calon anaknya setelah memforsir tubuhnya untuk melakukan praktik aborsi—dan kemudian menyaksikan Bogum yang meregang nyawa saat berusaha melahirkan anak dari Hyung-sik.
Taehyung tergugu membayangkan ulang pemandangan mengerikan tersebut. Ia pun memeluk dirinya, merasakan sekujur tubuhnya gemetaran.
Ia benar-benar ketakutan.
Semua perlengkapan dan persenjataan yang ia miliki telah dilucuti saat ia jatuh tidak sadarkan diri. Dan sekarang ia dimasukkan ke dalam ruangan yang hanya memiliki satu pintu dan satu matras yang digeletakkan begitu saja di atas lantai.
"J-Jungkook—" Taehyung merasakan dirinya kembali lemah tanpa Alpha yang melindunginya. Ia berdoa dalam hati, berharap Jungkook baik-baik saja. Berharap Jungkook akan membebaskan diri dari tentara musuh dan kemudian menyelamatkannya dari tempat ini.
Bodoh sekali ia berdoa demikian. Tidakkah ia melihat bagaimana Jungkook ditangkap dan diseret menjauh darinya?
Jihoon—bagaimana dengan Jihoon? Bagaimana kalau aku terus berada di tempat ini? Apa yang akan terjadi pada Jihoon? Bagaimana kalau Jimin dan Baekhyun tidak dapat melindunginya?
"Seojoon. Lindungilah Jihoon," pinta Taehyung pada ruangan kosong di hadapannya. "Juga Jungkook. Jangan biarkan apapun terjadi padanya..."
Padahal dia sudah berjanji akan melindungiku—
Pintu terbuka dengan dobrakan.
Taehyung hanya bisa meringkuk di sudut saat Peniel berjalan memasuki ruangan bersama dengan Sungjae dan tiga orang tentara lainnya.
"Kau ikut dengan kami," perintah Beta itu kepadanya.
Taehyung sama sekali tidak berontak saat Sungjae menariknya keluar ruangan, sementara tiga orang tentara lain terkekeh-kekeh menyoroti tubuhnya dari atas ke bawah, lantas memainkan lidah mereka ke arahnya. Taehyung menurunkan pandangannya, takut bertatap muka langsung dengan mereka. Ia tidak tahan melihat pandangan penuh nafsu seksual yang diberikan oleh para tentara Korea Utara, menatapnya seolah ia adalah mangsa yang akan sepenuhnya disantap. Mungkin juga salah satu dari mereka sudah punya bayangan akan beronani di hadapan sang Omega, sebelum benar-benar menggagahinya beramai-ramai.
Di koridor yang bersambungan langsung dengan fasilitas kesehatan, ia mendengar suara teriakan yang berasal dari ruang perawatan medis. Suara tersebut tak lain dan tak bukan berasal dari Kyungsoo. Kalau saja ia tidak terlalu takut dengan para tentara Korea Utara yang mengerubunginya seperti hyena kelaparan, ia sudah pasti menangkap rasa pilu yang menyayat.
Peniel dan para tentara lain mengirim ke sebuah yang dulu pernah ia datangi sebelumnya—ruang asrama para tentara. Ada begitu banyak tentara di dalam sana, sontak mengamatinya dengan raut lapar. Taehyung merasakan seluruh tubuhnya kembali disesaki perasaan kalut, ngeri, hingga membuat kakinya kehilangan kekuatan untuk menyangga tubuhnya lebih lama. Peniel mendorongnya ke atas sebuah matras yang ditumpuk menjadi dua tingkat, sementara para tentara lain berbondong-bondong mengerumuninya dalam lingkaran besar.
"Oh! Sunbae, inikah Omega yang dulu kau selalu ceritakan?!"
"Aromanya manis sekali—"
"Wajahnya juga menarik. Apa dia benar-benar seorang Alpha dulunya?"
Peniel mengangkat kedua tangan, menyuruh tentara di sekitar bungkam. "Kalau kalian ingin kebagian mencicipinya, sekarang setidaknya biarkan para tentara yang lebih senior melakukannya terlebih dahulu."
Para tentara yang lebih muda mengerang kecewa, tapi menuruti apa yang diperintahkan oleh Beta tersebut.
Sekarang hanya ada lima orang tentara di dalam bangsal asrama.
"Buka bajumu," titah Peniel pada Taehyung.
Taehyung merasakan dirinya menurut. Tangannya bergerak menuruni kancing bajunya yang terlalu gemetaran, kesulitan untuk membuka kancing seragam yang ia kenakan. Sungjae menertawakan kesulitannya tersebut.
"Kita biarkan saja dia dalam seragam seperti ini. Toh tidak akan mengurangi keelokannya."
Tentara lain menganggukkan kepala, setuju.
Peniel akhirnya bergerak menciumi tengkuk Taehyung sementara Sungjae membantunya menahan kedua tangan sang Omega pada permukaan matras. Taehyung mengalihkan wajahnya, berusaha tidak tergiur oleh sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Aromamu tidak berubah. Memang masih manis seperti dulu. Hanya saja sekarang ada aroma Alpha lain yang sedikit menodainya," desis Peniel di dekatnya.
Taehyung menggigit bibir. Matanya menangkap sebuah persenjataan yang tersimpan dengan rapi di atas salah satu bunk bed, lengkap dengan bandolier berisi peluru dan sebuah assault pack. Jika saja ia bisa melarikan diri, ia hanya perlu berlari ke sana selama beberapa detik, mengambilnya dan—
Tiba-tiba seorang tentara lain menyentak buka sabuk dan menurunkan celana yang ia kenakan. Taehyung menelan ludahnya, mempersiapkan diri.
Kalau sekali lagi usahaku untuk melarikan diri gagal—
Peniel yang masih tenggelam dengan dunianya, terpental dari atas tubuh Taehyung saat Omega itu menyundulnya keras-keras tepat di bagian wajah. Sungjae pun ikut panik saat menyadari Taehyung telah berhasil meloloskan diri dari jeratannya dalam selang beberapa detik, setelah melepaskan diri darinya. Ia berusaha kembali menggapai Taehyung, tapi sang Omega memuntir lengannya, menyebabkan Beta itu memekik ngilu. Tiga orang tentara lain hendak menangkapnya, tapi Taehyung sudah luput dari atas matras, berlari menuju bunk bed yang baru beberapa menit lalu ia lihat.
Ia mengambil senapan berlaras pendek, bandolier dengan peluru sebagai isinya serta sebuah assault pack—dan menembak ke arah dua orang Beta dan satu Alpha—salah satunya terdiri dari Sungjae. Ketiganya pun jatuh ke atas lantai dengan isi kepala yang berhamburan. Tidak sampai di situ, ia segera berlari sejauh mungkin dari bangsal asrama. Peniel berteriak di belakangnya, menyuruh tentara lain menangkapnya.
Taehyung merasakan suntikan energi baru terus menerus mengalir dalam darahnya, menyetrumnya seperti listrik. Ia menembak ke kepala beberapa orang tentara yang mengejar di belakang. Puluhan tentara lain mulai bergabung—ikut memburu Taehyung dan Taehyung tidak punya pilihan melewati orang-orang tersebut dengan menembak ke bagian langit-langit—menembak pada struktur pipa ventilasi yang langsung ambruk menimpa beberapa orang tentara sekaligus. Orang-orang mengeluarkan lolongan kesakitan, meminta pertolongan, dan Taehyung tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk terus berlari melewati mereka.
Sekarang, ia hanya perlu menemukan Alphanya di penjara bawah tanah.
Sekarang aku yang akan menolongmu, Jungkook-ah.
06.55 p.m
Kyungsoo meraung-raung di atas ranjang rumah sakit, menolak saat Jaehwan hendak memindahkannya ke atas roda tandu untuk dipindahkan ke ruang operasi.
"Biarkan aku mati di sini!" pekik Omega itu keras kepala.
"Bisakah kau berhenti melawan?!" Jongin ikut berteriak padanya, menarik tangan Kyungsoo dengan sentakan keras, tapi sang Omega tidak bergeming sedikit pun dari atas ranjang. "Memangnya siapa yang akan membiarkanmu mati seperti ini?!"
"Kau sudah membunuh teman-temanku, karena itu—" napas Kyungsoo tertahan, ia membenamkan wajah ke atas bantal sembari memegangi perutnya yang begitu besar. "—biarkan aku juga ikut mati bersama mereka—"
Jongin dengan emosi menendang meja instrumen yang diletakkan tepat di sebelah ranjang sang Omega, berteriak marah.
Jaehwan buru-buru menyempilkan dirinya di sisi Kyungsoo, mengusap punggung Omega itu, "Kyungsoo. Aku tahu kau menginginkan kembali pada teman-temanmu, tapi—apakah kau benar-benar juga berniat membunuh anakmu sendiri?"
"Dia bukan anakku, dia hanyalah parasit," lirih Kyungsoo.
Jongin melabraknya, "Oh, tentu saja! Kalau begitu, matilah seperti teman-temanmu!"
Jaehwan melemparkan pandangan kesal pada Jongin, "Jongin. Sekarang lebih baik kau meninggalkan ruangan ini sebelum membuatnya semakin tidak nyaman. Dia butuh ketenangan saat ini."
Mendengar perkataan Beta tersebut, Jongin kembali melampiaskan kekesalannya pada kursi yang terletak berseberangan dengan kaki tempat tidur, lalu berjalan keluar dari ruang perawatan diiringi oleh dua orang tentara.
Jaehwan menggelengkan kepala dengan tidak senang.
"Aku tahu kau tidak ingin melahirkan sekarang, tapi kita tidak punya pilihan untuk membawamu ke ruang operasi. Jongin membawa teman-temanmu ke penjara bawah tanah, dan ada kemungkinan besar mereka masih hidup. Kalau kau mau, aku tidak keberatan membawamu ke sana begitu kau berhasil hidup dalam persalinan ini."
Kyungsoo menolehkan kepalanya ke arah Jaehwan, matanya berlinangan air mata, putus asa. "K-kau bersungguh-sungguh akan melakukannya?"
"Selama Jongin tidak mengetahui tabiatku ini, aku berani bersumpah atas hidupku untuk melakukannya."
Kyungsoo tampak bimbang selama beberapa saat, sebelum kemudian mengangguk lemah. Menarik napas lega, Jaehwan memanggil dua perawat Beta kepercayaannya yang masih tersisa untuk memindahkan Omega tersebut ke brankar, mengirimnya ke ruang operasi. Setelah memastikan semuanya sudah berjalan sesuai perkiraannya, Beta itu berjalan ke ruang pribadinya di dalam area fasilitas kesehatan. Ia baru saja hendak menggesek kartu pengenalnya ke mesin pembaca kartu begitu ia mendengar suara pelatuk berderit tepat di belakangnya.
Jaehwan menoleh, dan mendapati Taehyung berdiri tepat di belakang tepat dengan moncong pistol mengacung padanya.
"Bawa aku ke penjara bawah tanah. Sekarang."
X
07.13 p.m
Jongin berdecak kesal. Baru beberapa saat lalu di saat yang bersamaan, ia mendapatkan kabar para tahanan di blok sel C mengamuk dan melukai puluhan tentaranya, dan juga kabar penemuan penyusup yang ternyata berasal dari pasukan tentara Korea Selatan dan Yeokjuk. Setidaknya ia masih beruntung menemukan para penyusup sebelum mereka membawa serta Kyungsoo keluar dari perbatasan, namun berita tentang penyerangan yang dilakukan oleh tahanan yang kebanyakan berasal dari warga sipil dan tentara Jepang, tidak kunjung reda.
Blok sel B juga kini dipenuhi oleh tahanan yang memberontak. Para tentara Korea Utara yang berusaha menahan mereka, lagi-lagi banyak yang harus kehilangan nyawa. Yang paling mengejutkan, para tahanan ini tidak hanya sekadar menyerang dan melukai bawahannya, tapi juga melakukan aksi kanibalisme pada mayat-mayat tentara yang tumbang. Sudah ada lebih dari sepuluh laporan yang memintanya mengirimkan pasokan tentara bantuan. Hingga sekarang ini, setidaknya para tahanan sudah berkeliaran dengan bebas di beberapa koridor.
"Tidak bisakah kalian membunuh mereka dengan cepat? Kalian punya senjata!" teriak Jongin pada seorang tentara yang menghubunginya melalui jaringan HT.
"Kami sudah mengerahkan tentara sebanyak mungkin dan mengebom beberapa titik yang dilalui oleh para tahanan ini, tapi jumlah mereka terlalu banyak, Daejang—AHH!" terdengar suara pekikan kesakitan disertai suara geraman.
Jongin melompat kaget saat mendengar bunyi tersebut, menyumpah dalam hati.
Mau tak mau, ia harus ikut turun tangan.
07.25 p.m
Jaehwan mengantarnya menyusuri lorong panjang dengan jalanan menurun—tempat di mana ia berpisah dengan Jungkook, Hoseok, dan Yoongi yang berencana untuk menemukan salah satu rekan mereka yang ditawan. Ajaib—karena selama mereka keluar dari fasilitas medis, mereka belum berpapasan dengan tentara manapun. Mungkin para tentara lain sedang menghadapi situasi pelik, mengingat para Chugyeokja berhasil meloloskan diri dari blok sel C dan mengamuk di dalam markas perbatasan. Demikian pun, Taehyung tidak ingin mengambil resiko. Ia memegangi senapan laras pendeknya kuat-kuat, berharap tidak lagi dilucuti dari sumber pertahanan utamanya.
Keduanya berjalan dalam hening. Hanya ada suara ketukan tapak boots dan suara desahan napas masing-masing. Kini ia tidak mengenakan masker sama sekali, dan kalau sampai ada tentara yang berpapasan dengannya, sudah pasti wajahnya akan langsung dikenal.
"Hyung-sik-daejangnim masih hidup," kata Jaehwan padanya saat mereka berjalan beriringan.
Taehyung nyaris merasakan seluruh aliran darahnya seperti berhenti terpompa. "Apa katamu?"
"Hyung-sik-daejangnim masih hidup," Jaehwan kembali mengulangi ucapannya. "Sewaktu aku dan yang lain mencari mayatnya di antara puing-puing runtuhan bangunan, kami menemukannya masih dalam keadaan hidup. Sekarang dia dalam keadaan koma, tapi cepat atau lambat, dia akan kembali pulih dan sadar—"
Mulut senapan kini berada di belakang kepala Jaehwan, "Apa alasanmu mengatakan ini?" tanya Taehyung, berusaha terdengar tidak goyah, yang justru membuat suaranya terdengar gemetaran.
"Tenang saja. Aku senang saat tahu Seojoon-junjangnim datang menyelinap ke markas komando utama untuk menyelamatkan putramu, Jihoon. Sayangnya, dia mati sia-sia. Hyungsik—daejangnim tidak kehilangan nyawanya."
Taehyung menyeret Jaehwan hingga wajah Beta itu membentur tembok. "Dia sudah mati dengan terhormat. Aku tidak ingin kau mengatakan dia telah mati sia-sia."
Jaehwan gelagapan, "Tentu saja aku tahu dia mati dengan terhormat! Aku pun juga membencinya, sama seperti dirimu! Aku memberitahumu tentang ini karena begitu dia sadar dari tidur panjangnya, dia pasti akan mencari cara untuk membalaskan dendam dan merebutmu serta Jihoon kembali padanya!"
Taehyung pun mengendurkan laras senapannya dari kepala Jaehwan, "Aku tidak sudi kembali padanya. Kalaupun harus kehilangan tangan dan juga kakiku, aku akan terus melawan sampai dia benar-benar melepaskanku."
"Apabila diperbolehkan, aku ingin bergabung dengan kalian," kata Jaehwan pada akhirnya, membuat Taehyung perlahan-lahan menurunkan senjatanya.
"Apa yang kau rencanakan dengan mengatakan ini? Yang benar saja—kau ingin bergabung dengan kami?"
"V. Aku sudah melihat banyak hal di tempat ini dan juga di markas utama. Aku sadar betapa busuknya orang-orang di tempat ini. Penyesalanku selama ini adalah, tidak pernah diberi pilihan untuk memilih akan lahir dari pihak yang mana."
Taehyung masih memandanginya dengan tatapan curiga, kembali mengacungkan senapannya pada Jaehwan, "Ini jebakan? Kau mengatakan ini untuk menjebakku, kan?"
"Sudah pasti kau tidak akan percaya padaku. Setidaknya, setelah ini kalau kau membunuhku, aku ingin kau melihatku bukan sebagai seorang yang jahat."
Nada bicara Beta itu terdengar begitu tulus dan Taehyung pun tidak punya niatan untuk terus mengacungkan moncong senapannya pada Jaehwan. "Terus lanjutkan tujuan. Kalau kau sampai berkhianat, timah panas ini akan bersemayam di kepalamu."
Jaehwan tidak menyahut dan mematuhi keinginan sang Omega. Selang beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di penjara bawah tanah. Taehyung menajamkan pendengarannya, memastikan bila keadaan di sekitar mereka aman. Ruang bawah tanah tersebut adalah tempat yang dulu menjadi rumah keduanya, tempat di mana ia disiksa dan diperkosa beramai-ramai. Tempat di mana ia berkali-kali hamil dan keguguran. Salah satu sumber mimpi buruknya di tempat ini selain kamar pribadi Hyung-sik.
Tidak ada satu penerangan pun yang memberikan pencahayaan di dalam blok sel bawah tanah tersebut. Langit-langit yang sebelumnya masih memiliki sumber pencahayaan alami, kini telah ditambal dengan atap beton. Aroma lembap langsung menyergap hidungnya begitu ia memijakkan kaki di tempat itu. Ada sedikit suara gedoran pintu, terdengar begitu jauh, dan beberapa suara teriakan milik manusia.
Jangan takut sekarang, jangan takut, jangan takut. Jungkook ada di tempat ini bersama yang lainnya. Aku harus menyelamatkan mereka.
Pelan-pelan, dengan bantuan cahaya lampu senter milik Jaehwan, kedua pergi mengitari blok sel tersebut. Luas ruangan tersebut setidaknya sekitar empat hektar, tapi Jaehwan dengan penuh keyakinan membawanya ke deret sel yang terletak paling ujung.
Suara Taehyung tercekat saat ia melihat sosok Jungkook tersorot oleh cahaya senter, terikat pada sebuah tiang pancang.
"Kook!" seru Omega itu senang bukan kepalang melihat pasangan Alphanya.
Jungkook menyentakkan kepalanya ke arah Taehyung, wajah tampannya kini hampir-hampir tidak ia kenali karena diselimuti oleh luka memar dan merah darah. Bagian dadanya yang terbuka—yang menampakka bekas luka tembakan yang dulu Alpha itu terima, dikelilingi oleh bekas sayatan benda tajam. Taehyung merasakan air matanya mengancam untuk tumpah melihat keadaan terkini sang Alpha. Ia belum sepenuhnya tiba di dekat Jungkook saat melihat Alpha itu menggerakkan bibirnya, berusaha mengucapkan sesuatu, tapi sia-sia karena sisi bibirnya yang robek membuatnya sedikit kesulitan berbicara.
"Jungkook, Jungkook! Aku di sini!" seru Taehyung, tidak sepenuhnya mengerti apa yang diucapkan oleh Jungkook. "Aku akan mengeluarkanmu—"
Langit-langit di atas kepala mereka tiba-tiba saja menyala, menerangi seisi blok sel. Taehyung terpaku, membeku di tempatnya saat mendengar suara ketukan langkah kaki manusia disertai siulan. Ia menoleh dan melihat Peniel beserta tentara Korea Utara yang lain telah berdiri tepat di belakangnya. Beta itu—meskipun hidungnya tampak bengkok dan sebagian wajahnya biru, tampak berbahaya dengan sebuah pistol di tangannya.
"Aku sudah tahu kau akan ke sini, Omega," ujar Peniel dengan senyuman sumringah yang begitu ia benci.
Taehyung memundurkan langkahnya, begitu pula dengan Jaehwan.
"Kalau kau sekali lagi berusaha melawan, aku benar-benar akan memperkosamu dan menyiksamu habis-habisan. Jika perlu, aku akan mengikat kedua tangan dan kakimu di tempat ini sehingga kau tidak bisa lagi kabur."
Jungkook menggeram di belakangnya, dan Taehyung bisa merasakan aroma tubuh sang Alpha mengancam pada para tentara yang berusaha mendekat. Setidaknya ada tujuh orang tentara Korea Utara di blok sel, semuanya sama-sama siaga dengan senjata di masing-masing tangan mereka. Salah keputusan, Taehyung tidak bisa menjamin dirinya maupun Jungkook akan selamat.
"Turunkan senjatamu, Omega." Perintah Peniel padanya.
Taehyung terpaksa menjatuhkan senjata miliknya ke atas lantai melihat ia berada dalam keadaan terdesak.
"Sekarang kemarikan dirimu. Apabila kau menolak, aku dan salah satu bawahanku akan menembaki kepala Alphamu."
Taehyung melirik ke arah Jungkook yang balas menatapnya dengan tatapan ganar, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tae—"
Ia merasakan Peniel meraih pinggulnya, menariknya mendekat. Sang Beta menggertakkan giginya sembari meremas pinggul Taehyung, sampai-sampai ia bisa merasakan tulangnya seperti remuk. "Kau akan merasakan akibatnya setelah apa yang kau lakukan, Omega—"
Tanpa disangka-sangka siapapun, Taehyung ikut meletakkan kedua tangannya di ikat pinggang Beta tersebut, membungkukkan diri untuk mengangkat tubuh Peniel dengan sisi tubuhnya yang lain, dan memutarnya di udara selama beberapa detik sebelum melemparkannya ke para tentara yang baru saja kembali mengacungkan senjata mereka pada Omega tersebut. Taehyung berhasil menghindar dari seorang tentara yang menembakinya secara beruntun, menghantam tubuh Alpha tersebut dengan sisi tubuhnya yang paling dominan sampai limbung ke atas lantai. Dalam hatinya, Taehyung bersyukur telah memaksa Jungkook untuk mengajarinya adu gulat, mempelajari beberapa trik murahan Judo.
Seperti mendapat suntikan energi baru, ia merebut senapan panjang yang dipegang oleh salah seorang tentara, menubrukkan ganggang senapan ke wajah tentara tersebut dan mulai menembaki para tentara sisanya. Semuanya berlangsung dalam waktu kurang dari tiga menit, dan ia sudah berhasil menjatuhkan tujuh orang tentara sekaligus dalam satu waktu secara bersamaan.
Baru saja ia berpikir ketujuh orang tentara tersebut sudah mati, saat ia mendengar suara tawa mengalir dari Peniel yang telentang di atas lantai. "Jangan pikir—setelah ini kau akan berhasil keluar dari sini dengan membawa serta teman-temanmu," kata Beta itu, menunjukkan barisan gigi yang tampak sempurna. Walaupun Beta itu kelihatan mengalami patah tulang dari tangannya yang bengkok dalam sudut yang tak wajar, Peniel sama sekali tidak mau berhenti memprovokasi sang Omega, menyulut kemarahannya. "Kami masih ada tentara lain yang mengincarmu. Mereka akan kembali membawamu dan juga teman-temanmu ke sini. Menyiksa kalian. Dan juga menyicipi tubuhmu yang nikmat—"
Taehyung melemparkan dirinya ke arah Beta itu, melemparkan tinju ke tulang wajah Peniel, lagi dan lagi. Suara tawa Peniel semakin lama semakin larut menjadi suara desis kesakitan. Ia bisa mendengar bunyi remuk yang membahana setiap kali kepalan tangannya menyentuh wajah Peniel. Taehyung melampiaskan semua kebenciannya pada sang Beta dalam satu terjangan. Ia bisa ingat apa saja yang telah tentara itu lakukan padanya dan juga teman-temannya.
"Jangan pernah berharap aku akan memaafkanmu!" teriak Taehyung marah, napasnya mulai tersengal. "Kalian semua adalah monster! Kalian tidak berhak untuk hidup!"
Ia terus menghujani Peniel yang semakin lama semakin tidak melawan. Beta itu pada akhirnya diam di atas lantai, sesekali tubuhnya menyentak setiap kali Taehyung melayangkan tinju ke wajahnya.
Jaehwan-lah yang memanggilnya, menyadarkan kembali Taehyung ke dunia semula. "V. Hentikan. Dia sudah mati."
Seperti yang Jaehwan katakan, Peniel sama sekali bergeming di posisinya. Beta itu tewas dengan wajah yang sudah tidak beraturan, penyok di sana sini. Taehyung melihat kedua tangannya yang dilumuri oleh darah dan sebagian terasa ngilu setelah berkali-kali menghantamkan tinju ke wajah orang yang telah berkontribusi pada penderitaannya selama ditawan oleh Korea Utara. Merasa begitu lemah, ia memaksakan diri untuk bangkit dan berjalan ke arah Jungkook. Tangannya masih terasa sakit dan menggelugut sewaktu ia berusaha melepaskan tali yang mengikat Alpha itu pada tiang pancang.
Jungkook memeluknya, menenangkan sang Omega sembari membisikkan kata-kata yang walaupun terdengar tidak begitu jelas, setidaknya membuat denyut nadinya mulai kembali ke tempo normal.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kau sudah menyelamatkanku. Semuanya baik-baik saja sekarang. Dia sudah mati."
Taehyung membenamkan wajahnya di pundak Jungkook, terisak, "Kupikir aku akan kehilangan dirimu—mereka menyiksamu sampai seperti ini—"
Ia merasakan tangan kalus Jungkook mengusap wajahnya, menyeka air matanya.
Jaehwan memangkas adegan inti di depannya dengan suatu pernyataan, "Lalu—bagaimana dengan rekan-rekan kalian yang lain?"
Ekspresi Jungkook langsung berubah. Alpha itu menunjuk ke suatu arah, "—sana, mereka dikurung di sana!"
Taehyung memapah Jungkook untuk berdiri, tapi Alpha itu bersikeras untuk berjalan sendiri. Setidaknya ia masih bisa berjalan meski sekujur tubuh serta wajahnya dipenuhi luka. Ketiganya berjalan menuju deret sel yang terletak tepat di sebelah tiang pancang Jungkook diikat. Jaehwan menggunakan kartu pengenalnya untuk membuka pintu sel. Ada dua sel yang mengurung masing-masing tiga tentara Minguk di dalamnya.
Namjoon dan yang lainnya tampak sama-sama terkejut mendapati Taehyung berdiri di ruang sel mereka, memegang senjata di tangannya.
"Bagaimana—bagaimana kau bisa melarikan diri?" tanya Namjoon terheran-heran. Ia mengernyitkan dahi saat melihat Jaehwan ada bersama mereka. "Dan kenapa orang ini masih bersama kita?"
"Mukjizat. Dan orang ini akan membantu kita, seperti kataku." jawab Taehyung sekadarnya, menyeka air matanya yang mulai mengering. "Kita harus segera bergegas dari sini dan menyelamatkan Kyungsoo—"
Jaehwan menyentuh pundak Omega itu, membuat yang bersangkutan menoleh, "Tunggu! Aku melupakan soal Kyungsoo! Kami memindahkannya ke ruang operasi sekarang!"
Seokjin memasang tampang gugup, "Jangan katakan—dia sedang bersalin sekarang?"
Jaehwan mengangguk, "Ya. Sekarang dia baru mengalami fase laten dari tahap 1 proses persalinan. Sebenarnya tidak masalah aku meninggalkannya karena—"
"Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan sekarang? Lebih baik kita melihat keadaannya sekarang!"
Semuanya satu suara dengan apa yang dikatakan oleh Taehyung. Mereka baru saja akan angkat kaki saat terdengar suara geraman yang terus berkelanjutan. Bunyi gedoran kian membahana. Jungkook menyentuh pundak Taehyung, meminta perhatian sang Omega.
"Senapan."
Taehyung tidak paham apa yang hendak dilakukan oleh Alpha itu, saat ia mengekor di belakang Jungkook yang berjalan menuju sebuah ruang sel yang ternyata pintunya sudah terbuka. Ia sempat mengira ada tahanan yang berhasil lolos selain mereka dan menemukan dua orang Chugyeokja sedang memakan jasad Jongdae di dalamnya, tidak mengidahkan dua mayat lainnya. Taehyung menarik baju Alpha itu, bermaksud menahannya agar tidak mendekat, tapi Jungkook tak urung menembakkan dua timah panas ke kepala dua orang Chugyeokja tersebut.
Jaehwan berteriak terperangah melihat pemandangan berdarah tersebut. "Gila! Dua makhluk tadi—apa-apaan mereka?! Mereka memakan daging manusia?!"
"Paling tidak, aku ingin Jongdae-hyung beristirahat dengan tenang," kata Alpha itu, tidak menjawab pertanyaan Jaehwan.
Taehyung mendekat ke arah mayat di hadapannya, diikuti oleh Namjoon, Seokjin, Jackson dan Won-sik. Seokjin mengerang tertahan, menggenggam tangan Namjoon kuat-kuat saat melihat penampakan mayat Jongdae.
"Jadi terakhir kalinya aku berjumpa denganmu, Jongdae," kata Won-sik tertegun sejenak, "Kau sudah dalam wujud seperti ini. Semoga kau sudah tenang di alam sana. Bersama dengan yang lainnya."
Yoongi dan Hoseok ikut menghampiri. Bersama-sama, sekali lagi mereka memberi salam terakhir pada rekan mereka yang telah gugur. Seokjin dan Jackson menyeka mata mereka sebelum semuanya memutuskan untuk beranjak pergi.
Bunyi gedoran di sekitar mereka lagi-lagi bertambah riuh. Bunyi pekikan dan geraman menghiasi seisi sel. Baru saja Won-sik yang berlari paling akhir mencapai mulut anak tangga yang menuju ke permukaan, terdengar bunyi pintu sel didobrak keras-keras, menarik atensi semua orang.
"Lagi-lagi, para Chugyeokja di sini bisa melepaskan diri mereka dari sel!" ujar Yoongi terkejut mendengar suara dobrakan pintu yang tidak kunjung berhenti.
Jaehwan yang sedari tadi tampak kebingungan, akhirnya menyuarakan pikirannya, "Tunggu, siapa yang kalian maksud dengan Chugyeokja? Dan para tahanan tadi—kenapa wujud mereka seperti bukan manusia?!"
"Kami tidak punya waktu untuk menjelaskannya sekarang! Yang penting, teruslah berlari kalau kau ingin hidup!" sahut Namjoon padanya.
Mereka berhasil mencapai lantai dasar dan kini menuju koridor yang lain. Sewaktu mereka berbelok ke lorong satunya, ada sepasukan tentara yang baru saja akan memasuki ruang bawahn tanah. Teriakan kesakitan dan jenis bunyi-bunyi yang mengisyaratkan kengerian lainnya menyambar hingga ke seisi lorong yang mereka tempuh tidak lama kemudian. Geraman serta gerungan yang jelas-jelas seperti bukan berasal dari manusia, mengikuti mereka dari belakang.
Jaehwan sesekali melihat ke belakang, matanya tampak gelisah. "Apa kalian yakin mereka tidak mengejar kita? Tampaknya jumlah mereka banyak sekali—"
"Fokus saja ke tujuan kita sekarang!" teriak Jungkook menggerung rendah, menitahkan. Ia tampak kesakitan setelah berteriak ke arah Jaehwan.
Mereka akhirnya tiba di area fasilitas kesehatan dan masuk ke dalamnya. Zona instansi kesehatan tersebut tampak sepi dari tentara Korea Utara begitu mereka menginjakkan kaki, kecuali tiga empat pasang perawat yang sedang mendorong brankar yang ditempati oleh para tentara yang terluka, ketakutan saat menyadari siapa yang menginvasi kegiatan di dalam area tersebut. Seorang yang hendak berbicara melalui mesin interkom untuk mengabari situasi darurat, langsung dihentikan oleh Jaehwan.
"Jangan laporkan tentang ini pada siapapun, atau kau akan mendapatkan hukuman dariku," ancam Jaehwan pada perawat muda tersebut, yang hanya menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
Beta itu kemudian membawa mereka melintasi lorong panjang lainnya dan berbelok masuk ke lorong yang lebih pendek, lalu menunggu tepat di depan ruang operasi berpintu otomatis dengan papan penanda di atasnya. Dari dalam ruangan tersebut, terdengar suara erangan yang bisa ditebak berasal dari Kyungsoo di dalam ruangan tersebut.
"Aku tidak akan mengizinkan kalian semua masuk ke dalam sini karena akan membuatnya dalam keadaan distresi. Nah, siapa di antara kalian yang ingin mengajukan diri untuk masuk ke dalam?"
Taehyung langsung mengangkat tangannya dan Seokjin ikut di sebelahnya.
"Aku juga seorang tentara medis. Biarkan aku ikut masuk ke dalam untuk mengantisipasi apa yang terjadi pada rekanku," kata Seokjin dengan nada takzim.
Jaehwan mempersilahkan keduanya masuk.
"Lalu kami harus menunggu di luar sini?!" tanya Hoseok tidak percaya. "Bagaimana kalau ada tentara lain yang masuk ke dalam sini dan menyerang kami?! Kami tidak punya persenjataan sama sekali!"
Jaehwan menunjuk dengan ibu jari ke suatu arah, "Dua blok dari sini, ada ruang penyimpanan di mana tentara kami menyimpan barang-barang bawaan kalian."
Namjoon menunjuk pada Jackson dan Won-sik, "Kita bertiga yang turun tangan. Setidaknya Jungkook yang saat ini sedang memiliki senjata yang mengawasi keadaan bersama Yoongi-hyung dan Hoseok."
Jungkook bergumam pada Namjoon, "Jangan sampai mati di luar sana, Hyung. Ada kekasihmu yang menunggu di dalam sini."
Namjoon hanya menyeringai kecil, "Kau juga. Doakan kami berhasil mengambil perlengkapan dengan nyawa dan tubuh yang masih utuh."
Mereka pun berpisah.
09.13 p.m
Kyungsoo tidak pernah paham bagaimana para Omega dan Beta wanita pada saat dunia masih dalam keadaan hidup dan sentosa, mampu melahirkan beberapa generasi anak secara kontinu. Ia juga tidak paham, bagaimana bibinya yang hingga dua belas tahun lalu masih hidup, bisa memiliki lima orang anak bersama suaminya yang seorang Beta pria. Sama seperti tidak pahamnya ia pada Taehyung yang selama delapan tahun hidup menderita di bawah kungkungan tentara Korea Utara dan melahirkan begitu banyak anak, meski hanya satu orang yang berhasil hidup.
Rasa sakit saat bersalin tidak bisa dibandingkan dengan ketika jari-jari tangannya dipatahkan tanpa ampun oleh seorang tentara Korea Utara pada misi keduanya sebagai anggota Pasukan Brigade Khusus ke 13 ataupun dengan rasa sakit saat perutnya ditusuk oleh mata pisau milik tentara Jepang.
Tulang panggulnya seperti mengancam akan remuk, dan isi perutnya seperti sedang dikoyak dari dalam, memburai usus dan juga lambungnya. Cairan perspirasi sudah sebagian membasahi pakaian putih yang ia kenakan, membuat material dari bahan muslin tersebut terasa lengket di permukaan kulit. Ia mengutuki Jongin yang telah membuatnya mengandung, membuatnya terpaksa merelakan status keperjakaannya sebagai seorang Beta dengan menjadi seorang Omega.
Sekarang ia hanya bisa terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dengan kedua kakinya terbuka lebar-lebar. Selang beberapa saat, ia mampu menangkap oksigen sebanyak-banyaknya, sebelum di saat yang lain rasa sakit membuatnya lagi-lagi kesulitan bernapas. Ia sudah berteriak pada beberapa perawat lain, meminta mereka menghentikan penderitaannya dengan menyuntiknya mati. Atau setidaknya memberinya obat penenang dan pereda rasa sakit. Para perawat tersebut bilang padanya untuk menunggu sampai ia mencapai tahap yang lebih lanjut.
"Memangnya berapa tahap lagi yang harus kulalui?!"
Tepat ia berkata begitu, tiga orang lain masuk ke dalam ruang operasi. Ia mengenal salah satunya sebagai Jaehwan dan dua orang lainnya, yang mengejutkan, Taehyung dan Seokjin.
Hampir-hampir saja ia mengira sedang berhalusinasi karena ia ingat bagaimana tentara Korea Utara menyeret Taehyung dan tentara lainnya menyeret kawanannya yang lain ke dua arah yang berlawanan, memisahkan mereka dengan tujuan jahat yang tidak bisa ia bayangkan.
Taehyung dan Seokjin segera beralih ke sisinya, masing-masing memegangi tangan dan mengusap dahinya.
"B-bagaimana kalian bisa melarikan diri?" tanya Kyungsoo, terlalu senang melihat dua rekannya tersebut. Ia tidak tahu air mata yang berlinang dari kedua matanya apakah disebabkan dirinya terlalu senang melihat kemunculan dua temannya tersebut atau karena rasa sakit yang terus bergolak.
"Tentara Korea Utara yang hendak memperkosaku—aku berhasil melarikan diri dari mereka. Setelahnya, aku menyelamatkan yang lain," cerita Taehyung kehabisan napas.
"Kau benar-benar—ooh—" Kyungsoo mengerutkan wajahnya, mengerang kesakitan, "—kau benar-benar prajurit yang hebat. Walaupun kau telah menjadi seorang Omega, kau masih bisa berlaga dengan baik."
"Semuanya karena Jungkook. Dia yang mengajariku semuanya." Keduanya sama-sama tersenyum. "Aku tahu kau sedang kesakitan, tapi semuanya akan baik-baik saja setelah ini."
"Aku tahu aku tidak akan baik-baik saja setelah ini. Anak yang akan kulahirkan ini—dia akan mati—dan kemungkinan terburuknya, aku juga akan mati—"
"Ssh, Soo, kau akan baik-baik saja. Kami akan menemanimu."
"Aku akan membantu tentara perawat di sini memonitor keadaanmu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Seokjin menambahkan. Ia bangkit dari sisi Kyungsoo untuk menghampiri Jaehwan yang sedang memperhatikan sesuatu di antara selangkangan sang Omega.
"Kau baru berdilasi pada lima senti. Kita masih harus menunggu sebentar lagi, bersabarlah," kata Jaehwan padanya seraya menepuk-nepuk lutut Kyungsoo.
Kyungsoo hanya bisa mengeluh frustasi.
Taehyung tidak sedetik pun melepaskan tangannya dari Kyungsoo, membayangkan dirinya berada di posisi yang sama dengan Omega itu selama delapan tahun. Setitik airmata turun di pipinya.
Ia merindukan Jihoon.
09.42 p.m
Namjoon, Won-sik, dan Jackson telah berhasil mencapai destinasi mereka, gudang penyimpanan lain yang menyimpan barang-barang beserta persenjataan yang mereka butuhkan. Setelah memasukkan semua keperluaan masing-masing ke dalam tiga tas, ketiganya bergegas keluar ruangan dengan hati-hati dan sewaspada mungkin.
Selama mereka melintas, mereka tidak berpapasan dengan satu orang tentara pun. Namun tidak jauh dari posisi mereka sekarang, suara geraman masih terus sahut menyahut. Sudah pasti para Chugyeokja telah membuat para tentara Korea Utara terpaksa menangani mereka. Beberapa tentara dengan penanda medis di lengan kiri mereka baru tampak saat mereka hendak menyeberang ke lorong lain, berlarian kalang kabut dengan membawa kotak-kotak obat.
"Tampaknya banyak tentara Korea Utara yang berjatuhan. Memangnya seberapa banyak jumlah para Chugyeokja ini?" celetuk Won-sik penasaran.
"Lebih baik kau tidak perlu repot-repot memikirkan nyawa orang-orang yang jelas-jelas telah membuat hidup kita kesulitan," balas Jackson agak sengit daripada yang ia harapkan.
Letupan senjata api membahana di belakang mereka. Sejenak, ketiganya mengira mereka tengah dikejar oleh tentara Korea Utara. Begitu membalikkan tubuh, mereka melihat pemandangan tentara Korea Utara yang sedang baku hantam dengan para tahanan yang telah bertransformasi menjadi Chyugyeokja. Para tentara melemparkan bom dan melepaskan tembakan, tapi jumlah Chugyeokja yang bermunculan semakin bertambah. Bahkan yang paling mengejutkan, terlihat beberapa di antaranya mengenakan seragam tentara Korea Utara.
"Astaga, tampaknya banyak tentara yang juga terkontaminasi—"
Namjoon menarik Won-sik menjauh, "Jangan pikirkan itu, kita harus lari sekarang!"
Mereka melanjutkan pelarian, sementara di belakang mereka para prajurit Korea Utara mulai berjatuhan bersamaan dengannya kemunculan Chugyeokja yang jumlahnya tak kurun berkurang.
10.15 p.m
Erangan kesakitan milik Kyungsoo mulai jarang terdengar, dan Jungkook berasumsi presensi Taehyung dan Seokjin telah menenangkan rekannya tersebut. Bersama dengan Yoongi dan Hoseok, ketiganya menunggu di area tunggu yang jauh lebih sepi dibandingkan area yang lebih umum dilalui oleh sarana transportasi antar ruangan lainnya. Suara erangan milik Kyungsoo kini digantikan oleh jerit dan teriakan antara tentara dan perawat, mengindikasikan jika situasi di dalam unit kesehatan mulai ramai. Suara gesekan roda dengan lantai linoleum menandakan beberapa brankar bergerak bolak-balik antar ruangan, bersamaan dengan langkah kaki.
"Apakah situasinya segenting ini? Suasana di dalam sini benar-benar sibuk," komentar Hoseok sembari mengintip ke luar area.
"Baguslah. Artinya senjata biologis yang dikeluarkan oleh Daetonglyeongnim bekerja," tukas Yoongi sarkastik.
"Tapi bagaimana dengan yang lain di luar sana? Bagaimana kalau mereka bertemu dengan kawanan Chugyeokja?"
"Tidak ada yang bisa lakukan," respon Jungkook pada Hoseok. "Kita tidak punya senjata untuk membantu mereka di luar sana. Lagipula, kita juga tidak bisa meninggalkan Tae-hyungie dan Jin-hyung di tempat ini. Dan kalau salah satu dari kita memaksakan diri pergi keluar sendirian, akan terlalu berbahaya."
Mendadak suasana di dekat mereka bertambah pikuk dan riuh. Terdengar suara teriakan milik tentara Korea Utara.
"Katakan, di mana pasukan penyusup itu sekarang?!"
Jungkook merasakan kuduknya meremang, begitu pula dengan Yoongi dan Hoseok.
"Mereka menemukan kita," bisik Hoseok gugup.
"Aku harus mengabarkan Tae-hyungie dan Jin-hyung."
Jungkook bergegas memasuki ruang operasi saat ia mendengar suara tembakan dilepaskan tepat di belakangnya. Sontak ia berguling ke sisi lain, menyelamatkan diri. Ia lihat, Alpha pimpinan tertinggi yang ia temui beberapa jam lalu, kini berjalan memasuki ruangan diiringi oleh sekumpulan tentara. Hoseok dan Yoongi saling bertukar pandangan ke arah Jungkook, berkomunikasi apa yang harus mereka lakukan setelah ini. Tak ayal, suara langkah kaki berat milik pimpinan Korea Utara tersebut kian mendekat.
"Tunjukan diri kalian sekarang atau kami akan menembaki tempat ini—"
Jaehwan tiba-tiba memunculkan diri dengan kedua tangan terentang. "Tunggu, Jongin-ah! Apa yang kau lakukan?! Ini adalah zona instansi kesehatan! Kau menyalahi protokol kalau sampai mempergunakan senjata di tempat ini!"
Jungkook mengamati interaksi keduanya dari jauh.
"Menyingkir, Hyung. Aku tahu kau menyembunyikan tentara Korea Selatan di tempat ini."
"Apa kau sinting?! Mana mungkin aku menyembunyikan tentara musuh di tempat seperti ini!"
"Lalu apa perlu aku menunjukkan rekaman kamera pengawas di tempat ini padamu?"
Hening. Jungkook bisa melihat Jaehwan kelabakan, tertangkap basah.
"T-tidakkah kau lihat? Mereka itu tentara kita, bagaimana mungkin—"
Jongin menembak ke arah meja dokter jaga yang terletak di belakang Jaehwan, membuat Yoongi dan Hoseok tersentak kaget di posisi mereka. Alpha itu mendekat bersama bawahannya yang mulai ikut melepaskan timah panas secara beruntun, berteriak, "Tunjukkan wujud kalian! Aku tahu kalian ada di tempat ini! Aku akui, aku terlalu menyepelekan prajurit-prajurit hebat seperti kalian, tapi sekarang aku tidak akan main-main!" ia mendorong Jaehwan hingga Beta itu terpental, tampak belingsatan ingin menghentikan aksi Jongin.
Jungkook tahu kalau Jongin tidak akan menghentikan tembakan sampai mereka benar-benar memunculkan diri atau sampai meja resepsionis dan meja dokter jaga yang menjadi barikade pelindung hancur hingga menjadi serpihan kayu. Ia pun memberi isyarat pada Hoseok dan Yoongi untuk mundur ke balik lemari kabinet yang terletak di belakang meja resepsionis dan berlindung di baliknya.
Hoseok membalas isyaratnya, Apa yang akan kau lakukan, Jungkookie babo?
Jungkook hanya mengibaskan tangan dan mau tak mau Hoseok mengikutinya.
Langkah kaki Jongin kian mendekat dan Jungkook masih menunggu. Wajahnya masih terasa nyeri setelah dihantam berkali-kali oleh Beta brengsek berkepala botak yang kini telah tewas dihajar oleh Omeganya. Walaupun demikian, ia masih bisa menggunakan kedua tangannya untuk mengadu kekuatan dan juga kemampuannya di medan perang.
Sewaktu tubuhnya berada satu garis sejajar dengan Jongin, Jungkook mendongakkan kepalanya dan mendapati Alpha itu juga sedang menatap dirinya. Baru saja Jongin mengarahkan pistolnya ke arah Jungkook saat ia merasakan tangannya ditarik menuju pusat gravitasi, membuat tubuhnya limbung ke atas lantai dengan muka menghadap duluan. Jungkook memuntir tangannya, membuat Jongin berteriak pilu, dan mengarahkan senjata laras panjangnya tersebut ke sekeliling tentara, membuat hujan darah di sekitar.
"Hyung! Sekarang!"
Hoseok dan Yoongi langsung keluar dari kabinet, melompati meja resepsionis dan melucuti senjata dari para tentara yang telah bergelimpangan di sekitar area tunggu. Jaehwan yang masih meringkuk di antara mayat-mayat tentara Korea Utara, berteriak ke arah mereka, "Tunggu! Masih ada banyak tentara yang akan datang ke sini!"
Sebentar kemudian, seperti yang dikatakan, para tentara memasuki area tunggu. Hoseok dan Yoongi tidak mau menanti untuk melancarkan tembakan ke arah mereka, berguling setiap kali ada tembakan yang diarahkan pada mereka.
"Berhenti! Kalau kalian menembak, kalian juga akan membunuhku!" tiba-tiba Jongin berteriak pada bawahannya yang lain.
Sesuai perintahnya, tentara Korea Utara menghentikan serangan. Jungkook mengangkat tubuh Jongin, menjadikannya sebagai tawanan. Ia meletakkan punggung senapan di bawah leher Alpha itu, dengan Yoongi, Hoseok, dan Jaehwan mengekor di belakangnya. Tentara Korea Utara membuka barisan, bersiap-siap kalau terjadi sesuatu.
Mereka telah sepenuhnya hilang dari pengawasan Korea Utara, tapi di saat yang bersamaan, pasukan prajurit mulai memenuhi fasilitas kesehatan. Mereka bersiaga dengan persenjataan masing-masing, membuat Jungkook dan yang lain mulai kehilangan akal. Situasi saat ini sudah jauh lebih berbahaya karena dengan semakin banyaknya tentara yang mengitari mereka, akan semakin pula bagi Jungkook dan yang lain untuk bergerak tanpa mengalami luka serius.
Jungkook sedang memikirkan siasat saat Jongin balas memutar tubuhnya dengan bantuan tulang punggung, lalu membantingnya dengan sentakan keras ke atas tanah. Kepala dan bagian torso atas Jungkook membentur permukaan keras linoleum dengan bunyi keras, membuat Alpha itu mengaduh keras-keras. Hoseok dan Yoongi tidak memiliki kesempatan untuk menembaki Jongin karena semua moncong senjata api tertuju ke arah mereka, memaksa keduanya untuk kedua kalinya rela untuk menurunkan senjata. Bahkan Jaehwan harus mengangkat tangannya karena Jongin telah memerintahkan beberapa orang tentara untuk mengawasi Beta tersebut, mengecapnya sebagai pengkhianat.
"Jangan pikir kalian sudah menang sekarang, Korea Selatan sialan!" bentak Jongin memaki, menekan ganggang senapan ke leher Jungkook.
Jungkook berusaha menahan dengan satu tangannya yang belum terasa kebas.
Jeritan kepayahan Kyungsoo mencapai telinga mereka, meski teredam oleh tembok. Jungkook, Hoseok, Yoongi, termasuk pula Jongin, menyentakkan kepala mereka ke sumber suara tersebut. Sekilas Jungkook dapat melihat aura berbinar terpancar dari kedua mata Alpha itu—perpaduan rasa haru dan juga rasa bangga. Aneh sekali, melihat ekspresi tersebut di wajah tentara Korea Utara yang tampak bengis seperti dirinya.
"Ah—? Aku lupa kalau hari ini aku akan menjadi seorang ayah," katanya dengan ringan, terdengar antusias. Jungkook tidak paham apakah Jongin bersungguh-sungguh mengatakannya secara terang-terangan tanpa malu sedikit pun di hadapan dirinya yang seorang tentara musuh, tapi dari raut mukanya, ia tahu Jongin mengatakannya dengan penuh kejujuran. Alpha pemimpin tertinggi daerah perbatasan tersebut menekan ganggangnya sekali lagi ke leher Jungkook, "Aku lupa, ada kau di sini untuk sesaat. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuh Kyungsoo maupun anakku. Mereka adalah milikku."
Jungkook menyeringai, meledek. Ia berusaha menahan rasa sakit di mulutnya yang berkedut-kedut nyeri setiap kali ia berusaha berbicara. "Persetan. Kau sudah tahu, kan, apa yang terjadi pada Kyungsoo begitu ia melahirkan? Kalaupun anakmu hidup, petinggi-petinggi di tempatmu akan mengambilnya untuk dijadikan percobaan. Sama seperti yang mereka lakukan pada Jihoon."
Jongin merasa tersinggung dengan ucapan Alpha itu dan menekan ganggang senapan semakin kuat—sampai suara letupan senjata yang bukan berasal dari sekitarnya membahana. Gerungan kuat yang hanya disuarakan oleh para Chugyeokja, memenuhi seisi ruangan. Tentara yang semula bersiaga untuk menembak para kawanan tentara Minguk di hadapan mereka, mengalihkan atensi ke kawanan Chugyeokja yang berdatangan, mengamuk.
Para Chugyeokja menancapkan kuku-kuku dan rahang mereka dalam-dalam ke sekujur tubuh tentara yang hendak menghadang, sebagian lainnya ambruk saat timah panas menembus kepala mereka.
Karena situasi yang berbalik, Jongin terpaksa membiarkan tentaranya untuk terlibat dalam pertahanan diri, menembaki para Chugyeokja yang Nampak di mata.
"Daejangnim! Jumlah mereka terlalu banyak—"
Seorang tentara di depan mereka berteriak saat perutnya dibelek hidup-hidup dengan kedua rahang.
"Hadang mereka! Lakukan apapun yang kalian bisa lakukan sekarang! Sepuluh tentara lainnya tetap berjaga di sini untuk berjaga-jaga kalau tentara Korea Selatan ini melakukan sesuatu!"
"Daejangnim! Beberapa di antara mereka masuk ke dalam ruang operasi!"
Mendengar kabar tersebut, lantas Jongin bangkit dari Jungkook dan berkata pada seorang Beta, "Awasi mereka. Apabila terjadi sesuatu yang membahayakan, tembak saja kepala mereka dan Hyung," ia berhenti pada Jaehwan. "Aku berniat untuk menembakmu mati setelah kau membantu kelahiran anakku."
Jaehwan memandang horor saat Jongin menariknya ikut bersamanya.
Sementara Jungkook, Yoongi, dan Hoseok, hanya bisa memandanginya dengan tatapan iba tanpa bisa berbuat apapun. Larut-larut, Jaehwan dan Jongin menghilang ke balik tembok.
10.48 p.m
"Kenapa Jaehwan tidak kunjung kembali?! Aku sudah hampir bisa melihat kepala bayinya!"
"Hyung, percuma kau meneriaki perawat di sana. Dia pasti benar-benar tidak tahu kenapa Jaehwan keluar tadi."
Perawat yang dimaksudkan oleh Taehyung hanya bisa meringkuk di bawah tatapan galak Seokjin, merasa sepenuhnya tersudut oleh Beta tersebut. "T-tadi ada keributan di unit pelayanan gawat darurat, dan Jaehwan-uisanim meminta izin untuk pergi memeriksa—"
Pintu ruang operasi tanpa diduga menutup dengan sendirinya. Semua orang yang berada di dalam ruangan berjengit kaget. Taehyung secara naluri langsung pergi memeriksa pintu otomatis tersebut, mengguncang-guncangkan handle pada pintu dan berusaha menggesernya sekuat tenaga dan sia-sia. Dengan kesal, ia mendobrak pintu tersebut dari dalam.
"Apa-apaan ini?! Kenapa pintunya mendadak menutup sendiri?!"
Seorang perawat di sebelahnya menjerit dan melangkah mundur sewaktu sebuah wajah menampakkan diri tepat di kaca pintu. Wajah tersebut—berwarna hitam kelam dengan sepasang mata merah menyala. Wajah lainnya kembali bermunculan dan mulai memukul-mukul kaca pada pintu sekuat tenaga.
"Mundur! Semuanya mundur!" teriak Taehyung panik. Ia berusaha meraih-raih sesuatu dan teringat senapannya masih ada pada Jungkook.
Puluhan kepala Chugyeokja memenuhi pintu kaca ruang operasi, membuat pemandangan gelap mengerikan dengan banyak titik berwarna merah menyala. Lenguhan milik Kyungsoo pun langsung berbaur dengan suara geraman dan gerungan milik para Chugyeokja tersebut, membuat situasi semakin meresahkan. Taehyung melirik pada dua orang perawat dan juga Seokjin, "Bantu aku memindahkan benda-benda berat untuk menahan pintu! Setidaknya kita harus menahan mereka untuk sementara!"
Semuanya bergerak patuh, menjalankan ucapan sang Omega. Mereka bekerja sama mendorong dua buah lemari dan setidaknya satu brankar serta sebuah meja instrumen yang tidak digunakan. Begitu selesai, ritme detak jantung semua orang di dalam ruangan tidak kunjung mereda, justru bertambah cepat karena seorang Chugyeokja berhasil memecahkan kaca pintu operasi dengan tangan kosong. Beberapa Chugyeokja lain menyusul aksinya, membuat pintu akhirnya mulai bergeser terbuka. Taehyung beringsut mengambil sebuah pintu bedah yang dapat ia temukan dan mengacungkannya ke depan mulut pintu, menunggu. Di sebelahnya, Seokjin mengangkat sebuah kursi, dan dua orang perawat lainnya masih berusaha mencari-cari sesuatu yang dapat menolong mereka.
Gerakan pertama para Chugyeokja terhalang oleh beban lemari, tapi hanya butuh beberapa detik sebelum pintu sepenuhnya lingsir menumbuk lantai.
Jungkook, kau di mana?!
Taehyung tidak dapat sepenuhnya memikirkan Jungkook karena seorang Chugyeokja menyerang dirinya. Ia berusaha menghindar seefektif mungkin, menggerakkan kedua kakinya untuk berkelit, lalu membuka sebaret luka panjang di leher makhluk tersebut. Darah menyembur ke sebagian wajahnya saat seorang Chugyeokja kembali menyerang. Ia berhasil melawan untuk kali kedua, dan menyadari sebagian besar Chugyeokja mengincar Kyungsoo yang tengah berjuang untuk melahirkan.
Seorang perawat menjerit saat bahunya terkoyak oleh rahang seorang Chugyeokja, sebelum limbung karena dikerubungi oleh lebih banyak Chugyeokja, sementara temannya tidak bisa menolong karena ia sedang berhadapan dengan tiga Chugyeokja. Seokjin pun masih sibuk bergumul dengan dua orang Chugyeokja, menghantam kepala mereka satu persatu dengan kursi lipat. Tidak ada satu orang pun yang dapat melindungi Kyungsoo yang rentan akan berbagai serangan.
Matanya membulat sempurna saat empat orang Chugyeokja berlarian menuju ranjang yang ditiduri oleh Kyungsoo. Ia berusaha berlari menuju tempat Omega itu sebelum Chugyeokja lain mencapainya.
"KYUNGSOO—"
Dua orang Chugyeokja yang berada di barisan paling belakang ambruk dengan isi otak berceceran di atas lantai. Dua orang lainnya menoleh ke arah sumber tembakan tersebut berasal dan mendapatkan tembakan yang sama di kepala.
Jongin bersama tentara Korea Utara lainnya menembaki para Chugyeokja tanpa ampun, menghabisi mereka.
"Tembak tahanan yang menyerang tapi jangan sampai ada yang melukai Omegaku!" perintah Jongin dengan garang.
Sepintas Taehyung dan Alpha itu saling berpandangan, tapi Jongin memilih untuk tidak melakukan apapun hingga ruang operasi sepenuhnya bebas dari Chugyeokja yang masih berkeliaran.
Jaehwan muncul di belakang Jongin sesudah situasi kembali aman, melangkah cepat-cepat ke kaki ranjang Kyungsoo. "Aku benar-benar minta maaf, meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini—aku akan meminta perawat bawahanku untuk menyuntikkanmu cairan epidural setelah ini." Ia mencari-cari dua perawat yang bertugas sebagai asistennya—sampai tergagap saat mendapati keduanya telah tewas bersimbah darah.
"Biar aku membantumu," kata Seokjin turun tangan.
Taehyung hanya berdiri menunggu dengan canggung, mengarahkan pisau bedah seperti orang bodoh ke arah Jongin yang hanya mematung memandangi keadaan Omeganya. Alpha itu tampak ragu-ragu untuk mendekat, lalu memutuskan untuk meninggalkan ruangan bersama kawanan tentara pengikutnya.
Tindakan yang dilakukan oleh Jongin membuat Taehyung terheran-heran.
Kenapa ia tidak menginstruksi bawahannya untuk menangkap kami?
Ia bertanya-tanya dalam hati.
11.32 p.m
Baru saja beberapa menit Alpha pemimpin tentara perbatasan tersebut pergi meninggalkan mereka, para Chugyeokja yang menginvasi markas perbatasan telah menyeruak masuk ke dalam area tunggu. Sepuluh orang tentara yang bertugas untuk menjaga mereka justru kewalahan menghadapi bejibun banyaknya Chugyeokja yang datang menyerbu.
Saat jumlah tentara yang menjaga mereka tersisa menjadi 5 orang, barulah Jungkook, Hoseok, dan Yoongi ikut angkat tangan. Mereka mengambil senjata api dari tentara Korea Utara yang telah tak bernyawa, menembakkannya ke kepala para Chugyeokja.
"Kalian mengata-ngatai kami sebagai pecundang, tapi kalian sendiri tidak bisa menghabisi makhluk-makhluk seperti ini?!" ledek Yoongi sesudah ia menyelamatkan seorang tentara dengan menembaki dua orang Chugyeokja yang hendak menyerang.
"Kalian memang pecundang! Kami di sini kewalahan harus menghadapi kalian sekaligus mereka semua karena jumlah mereka terus bertambah!" teriak salah seorang tentara yang berhasil menjatuhkan seorang Chugyeokja lagi.
Jungkook juga mulai merasakan seluruh tubuhnya kebas. Entah sudah berapa lama ia tidak meminum air mineral dan memakan makanan berprotein tinggi sejak beberapa jam lalu. Tubuhnya sudah sepenuhnya terkuras, dan gerakannya pun kian melambat. Sejak suara teriakan berasal dari Kyungsoo mulai teredam oleh suara gerungan milik Chugyeokja, pikirannya pun tidak bisa berhenti memikirkan keadaan Omeganya.
Ia pun menyadari, para Chugyeokja yang berdatangan ke fasilitas kesehatan tidak kurun berkurang dan justru semakin bertambah. Ia tidak dapat lagi mengira-ngira berapa jumlah Chugyeokja di tempat ini—karena sebagian dari mereka berpakaian ala tentara Korea Utara. Yang pasti, jumlahnya mencapai lebih dari ribuan—jauh lebih banyak dari kota tua yang ia datangi beberapa hari lalu. Lebih menyulitkan lagi, beberapa Chugyeokja tampak mahir menggunakan senjata berupa benda tumpul dan sebagian lagi benda tajam—mengacungkan benda-benda tersebut untuk menyerang kawanan tentara.
Mereka telah berhasil menyisir habis kawanan Chugyeokja. Hanya tersisa dirinya, Hoseok, Yoongi, dan dua tentara lain di satu tempat.
Tapi tidak butuh waktu lama untuk kedua tentara tersebut ikut tewas seperti pasukan Korea Utara lainnya karena lima Chugyeokja kembali menyerang dengan menancapkan pecahan beling ke leher pada seorang tentara dan satunya memukul tentara lain di bagian dada menggunakan potongan kayu, sebelum kawanannya yang lain mengerubungi tentara malang tersebut dan menyantapnya. Hoseok dan Yoongi menembakkan peluru mereka ke kepala lima Chugyeokja tersebut tanpa pikir panjang.
"Peluruku sudah habis," ujar Yoongi sedikit kesal, melempar pistol tangannya dan mencari-cari senjata lain dari antara mayat lainnya. Peluh sudah membasahi wajah Alpha berambut perak tersebut.
"Kita akan mati di tempat ini karena kehabisan tenaga melawan para Chugyeokja yang jumlahnya tidak kurun berkurang," Hoseok menyetujui. "Setidaknya aku butuh istirahat selama beberapa menit dan mendapatkan asupan makanan yang cukup. Gerakanku sudah mulai tidak stabil."
Jungkook tidak mengidahkan ucapan keduanya dan merayap pergi ke ruang operasi berada. Jantungnya seperti mengancam untuk berhenti mendadak melihat pemandangan kuburan masal telah terbentuk tepat di hadapannya. Ada banyak jasad-jasad yang berasal dari prajurit Korea Utara, sebagian lagi berasal dari Chugyeokja yang tubuhnya telah diselimuti warna hitam. Jungkook menelan ludahnya dengan susah payah, berharap ia masih menemukan Taehyung di dalam ruang operasi.
Tidak. Dia akan baik-baik saja. Dia adalah Kim Taehyung.
Tepat seperti yang ia harapkan, di dalam sana Omeganya tampak masih hidup, meski ada sebagian noda darah mengotori wajahnya. Mata Omega itu membulat oleh buncahan rasa panik, membuat Jungkook menjuruskan pandangannya ke situasi yang sedang terjadi.
Seokjin bolak-balik membuka lemari yang tergeletak begitu saja di atas lantai, mencari-cari sesuatu. Sementara di ujung tempat tidur, Jaehwan berkali-kali mengecek sesuatu di balik selangkangan Kyungsoo yang kini separuhnya terselimuti oleh selimut berwarna putih yang sudah sedikit ternodai darah. Ada sebuah mesin patient monitor, ventilator, dan juga sebuah IV pole yang tampaknya terpasang ke sebagian tubuh Kyungsoo.
"V—Taehyung, bantu aku memasangkan masker oksigen pada Kyungsoo!"
Taehyung sempat ragu dan baru menjalankan perintah setelah menerka-nerka bagaimana cara memasangnya, dipandu oleh Seokjin yang telah mengumpulkan beberapa handuk bersih.
Jungkook ikut beralih ke sebelah Omeganya, "Tae—"
Taehyung terkejut menjumpai Jungkook sudah berada di belakangnya. "Aku senang kau baik-baik saja, Kook-ah!" Ekspresi senang Omega itu hanya berlangsung sesaat sebelum kembali muram. Wajahnya tertuju pada Kyungsoo, "Tempat ini diserang oleh Chugyeokja beberapa saat lalu—"
Kyungsoo merintih kesakitan di balik masker oksigen yang ia kenakan, memotong ucapan Taehyung. Jungkook pun berlari mengitari ranjang rumah sakit dan ikut memegangi sebelah tangan Omega yang sedang bergulat dengan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Kyungsoo sama sekali belum menyadari kedatangan Jungkook sampai Alpha itu benar-benar memegangi tangannya.
"Jungkook—?" Omega itu terbata-bata.
Jungkook memaksakan diri untuk tersenyum meski wajahnya masih terasa perih. "Kami semua masih di sini bersamamu, Hyung."
00.16 a.m
Namjoon terpaksa menghentikan pergerakan karena jalur di hadapan mereka diblokir oleh kumpulan Chugyeokja yang sedang menyantap jasad-jasad tentara yang telah gugur. Tubuhnya sekarang bukan hanya dipenuhi keringat cairan perspirasi, tapi juga dari rasa mencekam yang bertebaran di sekeliling mereka.
"Joon. Tampaknya kita menemui jalan buntu. Jaebeom juga sudah tidak dapat dihubungi."
Kabar yang disampaikan oleh Jackson membuatnya Namjoon lagi-lagi harus berpikir keras, memikirkan bagaimana caranya ia dapat tiba ke instalasi kesehatan seaman dan seefisien mungkin tanpa menarik perhatian para Chugyeokja. Mereka sudah berkali-kali berjuang melewati beberapa jalur alternatif yang diberikan oleh Jaebeom, dan berkali-kali pula harus menghindar dari jalur yang sama setelah menemukan banyaknya Chugyeokja yang berkeliaran. Ia curiga, Chugyeokja yang terkontaminasi oleh gas senjata biologis Korea Selatan bukan hanya berasal dari tahanan, tapi juga berasal dari kalangan tentara. Jumlah mereka begitu banyak, dan hanya sedikit persediaan amunisi yang berhasil mereka ambil dari ruang penyimpanan.
Mereka terjebak dalam situasi yang menyulitkan.
Para Chugyeokja yang sedang berpesta pora dengan santapan dari limpahan jenazah di koridor, menyentakkan kepala sewaktu mendengar suara letusan, menyita perhatian. Lantai dan langit-langit di sekeliling mendadak berguncang hebat. Namjoon segera menyadari apa yang sedang terjadi dan berujar tertahan, "Mundur! Sekarang waktunya mundur sejauh mungkin!"
Bersama dengan Won-sik dan Jackson, mereka berbalik arah, menyelamatkan diri dari ledakan yang tak disangka-sangka. Telinga mereka berdenging ngilu, membuat semua jenis suara teredam selama beberapa detik. Sewaktu Namjoon tersadar, mereka sudah terpental beberapa meter dari sumber ledakan. Koridor panjang yang sebelumnya dipenuhi oleh Chugyeokja telah tertanam di antara puing-puing runtuhan beton dan bebatuan bahan bangunan. Di atas langit-langit, terbentuk lubang besar yang menampilkan koridor lain di atasnya.
Tidak lama kemudian, tentara Korea Utara berderap memeriksa puing-puing runtuhan, "Daejangnim! Sebagian dari mereka terkubur di dalam sini!"
"Periksa lagi kalau-kalau masih ada di antara mereka yang berkeliaran!"
Baru saja Alpha pimpinan tentara Korea Utara berkata demikian, sekelompok Chugyeokja menyerbu dari arah yang tak terduga—melompat dari lubang yang terbentuk antara langit-langit dengan struktur lantai atas. Chugyeokja tersebut menggerayangi para tentara yang terlalu syok menyadari situasi yang terjadi terlalu cepat.
Namjoon, Jackson, dan Won-sik hanya bisa menyaksikan dalam diam, melihat para tentara yang berusaha membela diri kebanyakan gugur karena jumlah Chugyeokja yang terlalu banyak, bermunculan dalam satu waktu. Suara tembakan dan jeritan memilukan benar-benar terhenti setelah waktu seperti berputar dalam jangka yang lama. Chugyeokja yang sibuk memakan mayat-mayat tentara, teralihkan atensinya saat bunyi senjata api kembali bergema. Mereka menghilang dan berlarian menuju sumber suara tersebut dilepaskan.
Merasa situasi telah aman, Namjoon memerintahkan kedua rekannya untuk keluar dari persembunyian mereka, sampai terdengar bunyi pelatuk.
"Kalian masih hidup rupanya, eo?"
Namjoon mengangkat kepala, menyadari Alpha yang beberapa saat lalu ia lihat sudah berada di hadapannya dengan mengangkat senjata tepat ke mukanya. Alpha itu jugalah yang telah menangkapnya beserta kawanan tentara Minguk lain. Peluh dan noda darah mengotori wajah sang Alpha, membuat ekspresinya tampak terlihat bengis walaupun tidak sebengis Hyung-sik. Di belakang Alpha tersebut, barisan tentara yang masih hidup dan berperalatan lengkap ikut angkat senjata.
Terdesak; Namjoon, Won-sik dan Jackson menurunkan senjata dan mengangkat tangan mereka. Tapi Alpha di hadapan mereka justru berucap, "Kalau kalian berhasil meloloskan diri dari penjara bawah tanah sekaligus melarikan diri dari kejaran para tahanan yang mengamuk seperti tadi, sepertinya aku akan membutuhkan tenaga kalian."
"Apa yang inginkan dari kami?" tanya Namjoon mewakili kedua teman-temannya, memberanikan diri.
Alpha itu membuang ludah, "Aku tidak ingin meminta macam-macam, aku hanya ingin kalian membantu kami mengurus para tahanan yang menggila ini. Yang rupanya sebagian juga berasal dari bawahanku. Entah bagaimana mereka ikut menggila dan menyerang kami."
"Lalu setelah ini kalian akan membunuh kami, kan? Atau kalian hanya mempersuasi dan menjebak kami setelahnya?" Jackson ikut angkat bicara di belakang Namjoon.
"Kalian adalah tentara musuh, buronan yang kami incar. Tapi mengingat kalian berhasil menghancurkan beberapa gudang persediaan senjata kami dan juga berhasil lolos dari makhluk-makhluk mengerikan ini, aku tidak punya pilihan selain meminta bantuan. Kalian memang pasukan terpilih dari Pasukan Brigade Khusus ke 13, huh? Bahkan sampai-sampai bergabung dengan tentara Yeokjuk?"
"Daejangnim—kau tidak mungkin—"
Jongin membentak seorang tentara yang tidak sependapat dengan ajuan idenya. "Aku paham betul apa yang kulakukan!"
Ketiga tentara Minguk hanya bisa saling melirik, menyusun rencana apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Jackson berbisik ke telinga Namjoon, tapi kapten mereka tersebut sudah menentukan pilihan. "Baiklah. Kami akan menerima tawaran kalian tersebut. Tapi persediaan senjata kami terbatas."
Alpha pemimpin daerah perbatasan tersebut mendengus, "Aku punya banyak amunisi kalau kalian membutuhkannya. Apabila kalian berkhianat sebelum menuntaskan tugas ini, aku tidak akan main-main dengan ancaman untuk membunuh kalian."
"Yah, lebih baik bunuh kami sekarang sebelum omonganmu menjadi omong kosong," gumam Won-sik, membuat Namjoon memelototinya, menyuruh Beta itu untuk menutup mulut. Merasa tidak bersalah, Won-sik hanya mengangkat bahu dengan sikap main-main.
Beberapa tentara tampak mendua hati saat diminta harus memberikan persediaan amunisi pada ketiganya. Namjoon dan yang lain pun sama tidak percayanya dengan mereka. Siapa saja bisa menyerang duluan. Yang menjadi persamaan mereka saat ini adalah harus berhadapan dengan ganasnya para tahanan yang bertransformasi sebagai Chugyeokja. Namjoon telah bersikukuh dalam hati tidak akan membocorkan tentang senjata biologis yang dilepaskan oleh presiden Korea Selatan dan menyebabkan perubahan perilaku tahanan yang menjadi liar dan tidak terkendali.
Ada setidaknya belasan Chugyeokja yang bertemu dengan mereka setelah menjalin aliansi sementara antara tentara Korea Selatan dan tentara Korea Utara. Namjoon masih sedikit tercengang melihat pasukan Korea Utara benar-benar bekerja sama bahu membahu untuk menuntas Chugyeokja tanpa sedikit pun membuat keyakinan mereka goyah. Satu koridor pun berhasil mereka bersihkan dari Chugyeokja yang menggila.
Alpha yang namanya sebelumnya tidak mereka ketahui itu akhirnya secara tidak resmi memperkenalkan dirinya sebagai Kai. Kai mengajak Namjoon mendiskusikan rencana mereka selanjutnya, yakni menggiring para Chugyeokja ke area steril di dekat barak—di mana terdapat sebuah lapangan luas yang biasa dipergunakan sebagai zona latihan militer. Di tempat itu, mereka akan menjebak para Chugyeokja sebanyak-banyaknya dan membakar mereka hidup-hidup.
Kai menunjuk pada layar Pad yang menggambarkan bentuk 3D dari peta jalur dan fasilitas di Hanbando Bimujang Jidae—persis seperti yang diberikan oleh mendiang Seojoon pada tentara Minguk sekarang. "Aku akan mengirimkan pasukanku untuk berjaga di sini, mempersiapkan bom dan juga banyak barel persediaan bensin untuk membuat ledakan besar."
Namjoon tidak menyukai ide yang dipaparkan oleh Kai. "Jadi—kau ingin salah satu dari kami menjadi umpannya?"
Kai menatap Namjoon, tercenung sejenak, dan terbahak-bahak. "Kalau kau ingin melakukannya, tentu saja aku tidak akan keberatan. Tapi tidak. Kita akan bersama-sama menjadi umpannya. Aku dan tentaraku yang sedang bersamaku saat ini—yang berjumlah setidaknya tiga puluh orang—juga kalian, akan mencari tempat yang sekiranya dilalui oleh para orang-orang gila ini, lalu bertemu di titik ini. Kita akan menetapkan waktu kapan akan berkumpul di tempat ini. Dan sesampainya di meeting point, kita membuat satu jalan untuk melarikan diri dan BAM! Kita ledakkan mereka!"
Jackson dan Won-sik melempar pandangan pada Namjoon, menggeleng keras-keras. "Kami rasa, ini bukanlah ide yang baik," Namjoon menuturkan pendapatnya. "Kita akan membuang amunisi dengan percuma, dan juga akan mengirim lebih banyak korban jiwa daripada yang seharusnya."
"Lalu, apa rencana lainnya yang kau ajukan?"
Namjoon tidak dapat menjawab, membuat Kai kembali tertawa. "Justru ini akan menjadi rencana penyerangan yang bagus. Kita tidak punya pilihan lain kecuali menggiring mereka ke satu tempat yang terpencil dan menghabisi mereka dalam satu waktu! Bom yang kami gunakan juga berasal dari bom nuklir berjenis neutron, sehingga tidak akan menghancurkan struktur sekitar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Mereka pun tidak dapat menolak ide tersebut dengan dalih tidak memiliki rencana penyerangan lain. Namjoon menyeka keringatnya yang terus bercucuran. Adrenalinnya tidak kunjung mereda setiap kali ia melihat ataupun sekadar mendengar kata Chugyeokja. Saat ini ia terpisah dari Seokjin dan juga kawan-kawannya yang lain, tidak tahu bagaimana keadaan mereka saat ini, dan beberapa waktu lalu ia mendengar instalasi kesehatan diserang oleh kaum Chugyeokja. Walaupun Kai telah meyakinkannya kalau tentara Korea Utara sebagaian berjaga di sana untuk melindungi Kyungsoo yang sedang berjuang untuk melahirkan, ia tetap tidak bisa berhenti mengidahkan rasa khawatir yang berkecamuk di dadanya. Setelah beberapa hari lalu dilanda ketakutan kekasihnya dilukai oleh Chugyeokja, sekarang ia tidak punya pilihan selain menerima ajakan dari tentara musuh untuk memberangus makhluk-makhluk tersebut.
Entah apa jadinya kalau ia benar-benar berhasil memberantas habis para Chugyeokja. Apakah Kai akan membebaskannya? Kedengarannya tidak semudah itu. Dan tampak juga Kai bukanlah orang yang dengan sukarela bersedia melepaskan orang yang berperang dengannya tanpa syarat yang memberatkan.
"Aku penasaran. Kenapa kalian tidak menggunakan senjata bom ini dari tadi," cecar Namjoon, menarik arah pembicaraan dengan Kai.
Kai menatapnya seolah-olah Alpha itu telah mengatakan sesuatu yang terdengar janggal untuk dikatakan. "Jumlah bom ini terbatas. Butuh lebih banyak peneliti untuk membuat bom yang sama. Dan sebagian peneliti kami sudah kalian luluh lantakkan di Pyongyang."
"Hoo," sahut Namjoon, "Aku penasaran. Apakah bom nuklir yang kalian kembangkan juga hanya berjumlah terbatas?"
Lagi-lagi Kai menatapnya dengan tatapan yang sama, hanya saja kali ini terlihat lebih gusar. Sang Alpha berperawakan tinggi tersebut mengacungkan ujung senapannya pada Namjoon selama beberapa saat, dan memutuskan untuk menurunkan moncong senapannya. "Kau ingin aku membeberkan semuanya, huh? Jangan pikir semudah itu mengorek informasi dariku."
"Kuasumsikan bom nuklir milik kalian ada berada di suatu tempat di bangunan ini. Aku hanya ingin tahu, kenapa kalian tidak langsung saja mengebom kami dengan bom nuklir yang kalian miliki. Dengan begitu, kalian dapat memiliki wilayah kami dengan lebih mudah."
Suara tawa Kai terdengar meledek, "Tentu saja kami punya bom nuklir terbesar di seluruh dunia. Tapi kami tidak akan menggunakannya untuk satu tujuan bodoh."
Namjoon berdehum mendengar perkataan Alpha itu.
Berarti memang ada bom nuklir di suatu tempat di dalam bangunan ini, kan?
Selepas memaparkan semua rencana dan mempersiapkan persenjataan masing-masing, mereka berpencar di beberapa titik yang sudah ditentukan. Namjoon menyentuh pundak Won-sik dan Jackson secara bersamaan, mendoakan keselamatan keduanya sekaligus meyakinkan mereka untuk melaksanakan tugas masing-masing.
"Kau yakin ini bukan jebakan yang dipersiapkan oleh mereka untuk kita?" tanya Jackson masih waswas.
"Kalau mereka memang bertindak mencurigakan, jangan sungkan untuk menembak. Lagipula, tampaknya mereka bersungguh-sungguh meminta bantuan dari kita. Apa yang bisa dilakukan oleh orang yang berputus asa kecuali meminta?"
Namjoon memikirkan ucapannya itu sendiri sampai tiba di titik yang dilalui oleh kawanan Chugyeokja. Tempat ia berdiri berada di bawah jembatan yang menghubungkan blok sel C dengan fasilitas lainnya, tidak terlalu jauh dari penjara bawah tanah berada. Detak jantungnya mulai terpacu dengan tempo cepat saat ia merasakan keberadaan para Chugyeokja mulai bermunculan di sekelilingnya. Desahan napas dan suara langkah kaki yang bukan miliknya terus berdentum-dentum di gendang telinganya, menandakan Chugyeokja yang mulai mendekat.
Namjoon menghitung tiap detiknya, menunggu hingga semua Chugyeokja menampakkan diri. Rasanya benar-benar seperti ketika ada seekor mangsa yang dilepaskan begitu saja ke kendang singa. Ada banyak mata berwarna merah yang menyorotnya dari balik kegelapan, mengintainya. Jumlah mereka—jika ia menerka-nerka—setidaknya ada lebih dari dua puluh orang Chugyeokja. Namjoon memundurkan langkahnya, menghadap arah berkumpulnya para Chugyeokja. Jumlah pasang mata kian bertambah, hingga akhirnya Namjoon tidak dapat lagi mengira-ngira berapa jumlah total mereka.
Namjoon melihat ke arah arloji yang terpasang di lengan kanannya. Masih ada waktu dua menit sebelum ia kembali menuju titik pertemuan. Dua menit yang berlangsung begitu lama—seolah-olah ia sudah menghabiskan waktu selama berhari-hari melihat begitu banyak mata menyorotnya dengan tatapan mengancam. Giginya baru mulai bergemeletuk ketakutan saat empat orang Chugyeokja berlari untuk menyerangnya. Namjoon pun mulai menembak, berusaha untuk tetap tenang, menunggu-nunggu hingga sampai pada dua menit yang dijanjikan.
Empat orang Chugyeokja yang ambruk ke atas lantai, mengundang amarah Chugyeokja lainnya. Dua tiga dari mereka mulai ikut menyerang, Namjoon menembak. Empat lima dari mereka kembali menyerang, Namjoon pun kembali menembak. Sampai akhirnya semua Chugyeokja yang bersembunyi di balik gelap seluruhnya menampakkan diri mereka dengan berteriak, menggeram bak hewan liar, menerjang ke arah Namjoon.
Namjoon membalikkan tubuhnya dan mulai berlari. Ia berusaha untuk tidak menoleh saat mendengar suara derap langkah kaki kian berimbuh di belakangnya. Dekat, semakin dekat, ia pun tiba di meeting point yang telah disepakati. Dari beberapa lorong yang berseberangan—Jackson, Won-sik, dan beberapa orang tentara ikut berlari menuju titik tersebut dengan diikuti oleh sekumpulan Chugyeokja.
Suara erangan ngeri tidak tertahankan saat ia melihat jumlah Chugyeokja yang berdatangan lebih banyak daripada yang ia kira—mencapai ribuan—melolong dan menggeram seperti binatang nokturnal yang sering ia temui malam hari di masa kecilnya. Para tentara yang sudah siap sedia di meeting point, mulai menembaki para Chugyeokja yang berada terlalu dekat dengan mereka. Jackson dan Won-sik berdiri memunggungi satu sama lain, ikut menembak.
Chugyeokja mengerumuni mereka seperti sekelompok semut, sementara Namjoon dan yang lain berusaha menghadang mereka. Tidak jauh dari tempat mereka berada, di atas sebuah balkon yang terletak pada puncak barak, berdiri Kai yang mengamati. Sepintas Namjoon mengira Alpha itu akan berkhianat, tapi kemudian ia memberi instruksi pada mereka untuk mulai membuka jalur keluar dari kerumunan Chugyeokja. Rencana mereka berjalan mulus sampai pada akhirnya balkon yang ditempati oleh Kai ikut dikerumuni oleh makhluk mengerikan tersebut.
Para tentara berusaha melindungi pimpinan mereka dan Kai pun ikut turun tangan untuk menembak.
Semuanya berlangsung seperti di dalam mimpi buruk. Meskipun Namjoon dan yang lainnya berhasil melepaskan diri dari Chugyeokja, justru mereka terkepung di suatu sudut, membuat mereka tidak dapat menyelamatkan diri dari dampak ledakan. Kai pun masih ikut bergelut dengan Chugyeokja yang sudah memenuhi seisi balkon, sebagian tentaranya tidak mampu menguasai jumlah Chugyeokja yang terus berdatangan.
"Aku sudah tahu ini ide buruk!" teriak Won-sik, terus menembakkan senapannya. Tinggal menghitung waktu sampai peluru mereka benar-benar habis.
"Panjat! Mulai panjat dinding ini! Aku bisa melihat ada beberapa undakan yang bisa kita pijaki!" teriak Namjoon pada semuanya.
Ia mulai memanjat duluan, diikuti oleh Jackson dan Won-sik. Para tentara yang mengekor justru tidak dapat menyusul karena para Chugyeokja telah menelan mereka hidup-hidup. Lolongan memilukan tidak kunjung berhenti—yang seluruhnya berasal dari para tentara yang gugur.
Setelah sampai di permukaan, mereka berlari ke arah balkon di mana Kai berada—membantu menembaki kawanan Chugyeokja yang kian beringas. "Kai! Kenapa kau tidak menginstruksikan bawahanmu untuk mulai meledakkan bom?!" seru Namjoon pada Kai.
Kai tampak terkejut mendapati Namjoon dan yang lain sudah ikut berjuang bersama mereka. "Aku tidak bisa melakukannya! Tentaraku yang bertugas meledakkan bom semuanya telah dilahap habis oleh makhluk-makhluk ini!"
Tiba-tiba pijakan pada balkon mulai bergetar hebat. Struktur di bawahnya sudah tidak mampu menyangga beban Chugyeokja dan juga tentara lainnya, hingga akhirnya lantai mulai retak pada beberapa bagian. Para tentara di sisi lain mulai berjatuhan dari balkon, berteriak-teriak meminta pertolongan sebelum jatuh ke dasar di mana para Chugyeokja menunggu. Kai pun memekik terkejut saat dirinya mulai meluncur turun dari permukaan miring balkon.
Namjoon mengikuti nalurinya untuk merentangkan tangan, hendak menarik Alpha itu. Tapi sebelum Namjoon bisa meraih tangannya, Kai sudah terjembab di atas gelimpangan tubuh mayat tentara dan Chugyeokja.
"KAI!" teriak Namjoon pada Alpha itu.
Jackson dan Won-sik ikut menoleh ke tempat Kai terjatuh, sebelum kembali beraksi menembaki para Chugyeokja yang kian bermunculan.
Kai masih dalam keadaan hidup, walaupun sekelilingnya dikerubungi oleh barisan Chugyeokja yang mulai menuju padanya. Kai tampak panik. Ia berusaha menembak bersama dengan tentara bawahannya yang masih sepenuhnya bernapas.
"Kau!" teriak Kai memanggil Namjoon. Namjoon mengalihkan atensinya pada Alpha itu, "Lindungi aku hingga mencapai ke tempat sumber ledakan!"
"Apa yang akan kau lakukan?!"
"Apa?! Tentu saja meledakkan tempat ini!"
"Kau gila?! Kau akan mati sebelum mencapai ke sana!"
"Makanya aku ingin meminta bantuanmu!" ucap Kai, terus menembaki kepala Chugyeokja. Satu persatu tentaranya mulai berjatuhan. "Aku sudah berada di bawah sini, maka aku tidak punya pilihan kecuali melakukannya sendiri!"
Ini pertama kalinya Namjoon mendengar ucapan tersebut mengalir dari seorang tentara Korea Utara—yang jelas-jelas sebelumnya telah berusaha membunuhnya, menyiksa teman-temannya hingga tewas, dan masih banyak lagi. Seharusnya Namjoon membenci Alpha itu, tapi mendengar Kai mengatakan ingin mengorbankan dirinya tanpa keraguan sedikit pun, ada rasa kagum yang perlahan-lahan tumbuh di dalam diri Namjoon.
"Kalau begitu, percayakan padaku!"
"Sebelum itu, berjanjilah satu hal padaku—" kata Kai masih berteriak padanya—berusaha menghindar dari seorang Chugyeokja yang hendak menerkam tangannya dan secara bersamaan melepaskan tembakan ke kepala makhluk itu, "—bawa Kyungsoo keluar dari tempat ini bersama kalian!" ia mulai berlari menuju tempat pusat ledakan diletakkan sementara Namjoon melindunginya dari atas balkon, "—aku seperti idiot saat mengatakan ini, tapi kalau seandainya aku diberi pilihan untuk memilih pihak mana yang akan aku bela, seharusnya sejak awal aku ikut bergabung dengan Seojoon-junjangnim—dan dengan demikian maka aku tidak perlu berperan sebagai orang jahat di hadapan Kyungsoo—"
"Berhentilah berbicara sebelum kau menggigit lidahmu, Kai!"
Kai tidak mempedulikannya dan terus berteriak, "—aku hanya ingin membahagiakan Kyungsoo, membuatnya mau menerimaku, sayangnya aku terus keras kepala untuk menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya. Aku ingin—apabila anak kami terlahir selamat—dia bisa hidup bahagia di tempat lain bersama anak kami. Aku berharap Kyungsoo punya cerita yang dapat disampaikan pada anak kami—tidak masalah kalau dia menceritakan keburukanku dan juga negaraku sendiri, asalkan dia bisa mengingatku—"
Kai telah sampai di tempat yang ia tuju—di sebuah bilik yang dikelilingi oleh dinding kawat. Ia mulai memanjat. Beberapa orang Chugyeokja mengejarnya, tapi Namjoon menembaki mereka satu persatu. Saat menyadari senjatanya kehabisan peluru, Namjoon menyumpah keras-keras dan berlari ke sisi lain untuk mengambil senjata dari tentara yang telah gugur, lalu kembali melepaskan peluru ke makhluk beringas yang tidak berhenti mengikuti Kai.
Setelah perjuangan yang terasa begitu lama, akhirnya Kai telah memasuki bilik yang dikelilingi oleh dinding berkawat tersebut.
"Kalian punya waktu tiga menit untuk meninggalkan tempat ini sekarang!" Kai berseru pada Namjoon dan yang lainnya.
"Bagaimana denganmu?!" balas Namjoon. "Kami tidak mungkin mengeluarkanmu dari situ!"
"Aku memang tidak ingin diselamatkan! Setidaknya biarkan aku mati di sini karena aku sudah tidak punya muka lagi untuk menemui Kyungsoo! Dia terlalu membenciku dan sudah tidak mungkin baginya memaafkanku!"
Namjoon terhenyak selama beberapa saat.
"Perlu kau ketahui, kami bukanlah tentara Korea Selatan ataupun pasukan Yeokjuk lagi, melainkan sudah tergabung sebagai tentara Minguk!"
Kai hanya tertawa mendengar penuturan Namjoon, membalas dengan berteriak, "Ah, begitukah? Apakah ini agenda Seojoon-junjangnim untuk menyatukan Korea? Kalau begitu, dia berhasil. Dan ngomong-ngomong, nama asliku adalah Kim Jongin. Terima kasih sudah mau bekerja sama denganku. Kupikir kalian akan benar-benar membiarkanku di makan oleh para makhluk sialan ini." Sebelum ia membalikkan tubuh ke dinding yang dipenuhi oleh panel, Kai melambaikan tangan. "Annyeonghi gaseyo."
Namjoon hanya bisa tersenyum—tersenyum dengan perasaan bercampur aduk. Ia pun tidak berlama-lama untuk memanggil Jackson dan Won-sik, meminta perhatian mereka. Mereka menembaki beberapa Chugyeokja lagi, sebelum kemudian berlari menuju sisi yang belum sepenuhnya ambruk, menjauh dari balkon. Won-sik yang terakhir berlari, menahan gedoran yang ditimbulkan oleh Chugyeokja sekaligus mengunci pintu yang memisahkan antara balkon dengan koridor dan lanjut berlari mengekor kedua temannya.
Saat arloji di tangannya tepat menunjukkan pukul 2, Namjoon mendengar bunyi debuman yang memekakkan telinga disertai sedikit guncangan. Ia pun memutar kepalanya ke belakang, melihat para Chugyeokja yang berada di balik pintu berbingkai besi dan berlapis kaca, mulai dilahap oleh asap berwarna putih. Chugyeokja tersebut menggerung kesakitan, sebelum menghilang di balik kabut yang memenuhi seantero bangunan di belakang mereka.
Sebentar Namjoon teringat akan kematian Seojoon—yang sama-sama mengorbankan diri seperti halnya Kai, Kim Jongin—demi orang yang mereka kasihi.
"Sayang sekali," kata Won-sik seperti membaca pikirannya, "Aku sama sekali tidak merasa bersimpati dengan kematiannya. Dia sudah membunuh banyak teman kita, menyiksa Jongdae, Junmyeon, Kyungsoo, Hyunwoo. Terlalu banyak dosa yang sudah ia perbuat. Rasanya terlalu mudah untuk memaafkannya."
"Kupikir juga begitu," balas Namjoon.
Tapi setidaknya Alpha itu menyadari kesalahannya di saat-saat terakhir. Apakah itu cukup sebagai tebusan dosa? Setelah semua yang telah ia lakukan selama hidupnya?
Mereka kehilangan arah selama beberapa saat dan Namjoon meminta kedua rekannya berhenti. Mereka menimbang-nimbang jalur apakah yang harus dilalui, mewanti-wanti kalau ternyata ada Chugyeokja yang muncul ataupun tentara Korea Utara lainnya, kalaupun sebagian dari mereka masih hidup. Seperti mukjizat, tiba-tiba saja dari arloji milik Jackson, sinyal kembali hidup.
"Jaebeom!" pekik Jackson senang melihat koneksi telah menyala.
"Jackson?! Kalian masih hidup?! Aku baru saja akan pergi bersama Jinyoung kembali ke basis!"
"Ya, kami memang sempat tertangkap tadi oleh pasukan Korea Utara, tapi Taehyung berhasil menyelamatkan kami. Sekarang, lebih baik kau carikan kami jalur ke instalasi kesehatan!"
Jaebeom dengan senang hati mengirimkan mereka jalur menuju instalasi kesehatan dalam selang waktu beberapa menit kemudian.
Tidak ada satupun di antara mereka yang sesampainya di destinasi yang mereka tuju, mengira akan mendapatkan kabar yang tak terduga.
02.46 a.m
Jungkook sebelumnya berpikir adegan persalinan yang dilalui oleh Taehyung adalah adegan paling menegangkan sekaligus mengerikan setelah usaha pelarian diri dari kejaran para Chugyeokja. Meskipun ada terbersit harapan kalau hidup akan terus berkelanjutan, Jungkook tidak bisa melepaskan rasa waswasnya melihat pemandangan mengerikan seseorang yang sedang berjuang untuk menyambut kedatangan generasi baru.
Seprai dan selimut berwarna putih yang semula menutupi permukaan ranjang dan sebagian tubuh Kyungsoo, sudah bersimbah darah saat ia kembali memasuki ruang operasi. Teriakan yang berasal dari Kyungsoo sudah mereda menjadi rintihan kecil—terdengar terlalu lemah. Semua orang yang berada di dalam sana pun sudah putus asa setelah berusaha menyemangati Kyungsoo untuk terus mengejan, mengeluarkan anak di dalam perutnya.
Taehyung yang semula masih meneriakkan kata-kata pengharapan pada Kyungsoo, mulai tergugu melihat keadaan temannya yang terlihat memprihatinkan.
Bau amis darah sudah bercampur dengan bau bangkai di dalam ruangan, membuat situasi semakin menyedihkan.
"Soo, kau harus membuka matamu—kau tidak bisa menyerah seperti ini—" ujar Taehyung dengan wajah yang basah oleh air mata. Sia-sia karena Kyungsoo sudah terlalu letih untuk mengangkat kedua kakinya.
"Kau tidak mengerti, Tae—ini terlalu menyakitkan—" desis Kyungsoo, kehilangan napas.
"Aku pernah mengalami hal sepertimu, tapi aku bisa melewatinya. Jika aku bisa melakukannya, kau juga pasti bisa!"
Kyungsoo kembali menggeleng, menolak permintaan Omega itu.
Seokjin juga hampir menangis melihat keadaan temannya tersebut. Ia menyelipkan satu tangannya ke bawah lutut Kyungsoo, membuat kedua kaki Omega itu tetap bertahan pada posisi yang diharuskan. Sesekali ia melempar pandangan khawatir pada Jaehwan setelah gagal meyakinkan Kyungsoo untuk kembali mendorong, "Apa epiduralnya tidak bekerja? Kenapa ia masih kesakitan?"
"Aku tidak tahu—seharusnya obatnya sudah bekerja. Dan seharusnya rasa sakitnya tidak sesakit ini."
Jungkook hanya berdiri mematung di sebelah Taehyung, terlalu bingung untuk melakukan apa. Yoongi dan Hoseok berjaga di depan pintu, sama-sama kebingungan seperti dirinya, merasa tidak berguna. Hoseok pun telah berkali-kali keluar ruangan untuk memuntahkan isi perut, tidak tahan dengan pemandangan mengerikan di depan mereka. Persis seperti yang ia lakukan saat Taehyung melahirkan jasad anaknya.
"Kyungsoo, kau harus mendorong sekarang, atau kau akan semakin kesakitan," cecar Jaehwan. Keringat mulai berkumpul di dahi Beta itu.
Kyungsoo dengan lemah, menggelengkan kepalanya, "Aku sudah tidak bisa—tenagaku sudah terkuras—" seperti yang ia katakan, bunyi mesin monitor pasien semakin turun. Napasnya pun semakin tidak teratur meskipun masker gas medis telah membantunya untuk bernapas.
"Kau bisa melakukannya, Hyung," ujar Jungkook pada akhirnya, mengalihkan perhatian sang Omega. Taehyung ikut mendongak ke arahnya, mengerutkan dahi. "Kau masihlah seorang anggota Pasukan Brigade Khusus ke-13. Ada banyak luka yang lebih menyakitkan yang pernah kau alami—"
"Ini adalah pengalaman yang paling menyakitkan, Kook-ah—"
"Yah, kalaupun diakumulasikan lukamu selama di medan perang pasti lebih menyakitkan. Intinya, kau sudah dilatih untuk menahan segala jenis hempasan seperti apapun, kan? Kau lihat Tae-hyungie? Dia sudah melewati semua hal sepertimu selama 8 tahun, berkali-kali mengalami terpaan dan kau bisa amati bagaimana dia sekarang? Dia masih berdiri di sini, bergabung bersama kami untuk menyelamatkanmu."
"Aku bukan Taehyung!" desis Kyungsoo, "Aku tidak punya kekuatan lagi—"
"Hyung, kau ingin pulang, kan? Pulang bersama kami?" tanya Jungkook. "Setelah melalui ini—kalau anakmu pun selamat—kami akan membawamu ke tempat yang bahkan jauh lebih baik daripada basis militer kita terdahulu. Kita masih punya harapan untuk melanjutkan dunia ini ke arah yang lebih baik, Hyung. Ini adalah salah satu perjuangan yang harus kau lalui, dan setelah kau berhasil melewati ini, kita akan kembali pulang bersama-sama."
Taehyung ikut menimpali ucapan sang Alpha. "Soo. Begitu kita keluar dari tempat ini, kami akan membawamu ke distrik Sariwon. Di sana kami bergabung dengan pasukan pemberontak yang dipimpin oleh mendiang Alphaku, Seojoon. Tempat itu jauh lebih baik dari pada tempat yang pernah kita kunjungi sebelumnya. Kau akan bertemu banyak orang. Kau juga akan bertemu dengan putraku, Jihoon. Aku ingin sekali mengenalkannya padamu," bisik Omega itu lirih, suaranya terdengar serak. "Terkadang dia memang menyulitkan, tapi kau akan menyukainya. Aku berjanji—kalau anakmu terlahir dengan selamat, mungkin kita bisa membuat mereka menjadi teman bermain."
Kyungsoo menangis mendengar perkataan Jungkook dan juga Taehyung, "A-aku tidak bisa—" meskipun berkata demikian, ia mulai balas meremas tangan Taehyung, mengejan kuat-kuat.
Jungkook menyeringai melihat perkembangan yang terjadi pada Kyungsoo, "Hyung! Kau bisa melakukannya!"
"Soo, sedikit lagi!"
Mereka mengantisipasi skenario berikutnya dengan perasaan bercampur aduk. Hampir semua orang di dalam ruangan tidak bersuara kecuali Jaehwan yang masih berteriak pada Kyungsoo—menyuruhnya mendorong—lalu Kyungsoo yang menggerung tertahan—serta mesin monitor pasien yang berbunyi tidak teratur. Omega itu harus mengulang proses yang sama selama tiga kali, sampai kemudian semua mata bisa menangkap kepala kecil menyembul di antara selangkangan Kyungsoo.
Bayi Kyungsoo terlahir pada dorongan kesekian kalinya, dengan tubuh berlumuran darah. Semua orang termasuk Jungkook tidak berhenti memandangi bayi yang walaupun terlihat lemah, berusaha menggerakkan tangannya yang hanya sepanjang jari telunjuk milik orang dewasa. Mereka sama-sama tercengang mendapati bayi tersebut mampu hidup meski dalam kondisi yang memprihatinkan. Sementara Seokjin membersihkan darah dan membantu Kyungsoo untuk mengeluarkan plasenta, Jaehwan berjalan menuju baskom berisi air bersih, membersihkan bayi tersebut.
"Lihat, kau berhasil melakukannya, Soo," kata Taehyung dengan mata beruraian air pada Kyungsoo, "Kau bisa melakukannya, kan?"
Kyungsoo berusaha untuk membuka matanya, menggertakkan gigi melawan rasa sakit, "Dia—dia hidup?"
"Dia hidup," kata Jaehwan membenarkan, "Walau harus berjuang keras."
Yoongi dan Hoseok pun ikut mendekat, mengamati bayi tersebut. Keduanya sama-sama mengeluarkan seruan takjub. Jungkook memilih melihat dari dekat Taehyung, ikut memberi ketenangan pada Kyungsoo.
Jaehwan mendekat ke arah Kyungsoo. "Kau ingin melihat putramu?"
"Putra? Aku memiliki seorang putra?" desis Kyungsoo, nyaris tidak terdengar. "Aku ingin melihatnya—" Jaehwan membungkus putranya tersebut dengan kain yang masih bersih, lalu meletakkannya di atas dada Kyungsoo. Bayinya menggeliat selama beberapa saat. "Aku menyesal pernah mengatakan aku tidak menginginkan anak ini. Tapi aku juga menyesal telah melahirkannya saat dunia sedang sekarat seperti ini—" Kyungsoo berusaha untuk tetap membuka matanya. "Kuakui, wajahnya terlalu banyak kerutan, tapi dia adalah bayi paling tampan yang pernah kulihat. Bagaimana dengan tubuh sekecil ini kau bisa bergerak begitu aktifnya di dalam perutku?"
Jungkook bisa melihat Taehyung berusaha untuk tidak menumpahkan air matanya dan gagal. Sang Alpha melingkarkan tangannya di sekeliling sang Omega, bertekad untuk tidak menangis. Seokjin hanya bisa menutupi sebagian wajah agar bisa menutupi kesedihan yang terpatut di sana, seperti halnya yang dilakukan oleh Hoseok. Yoongi pun tampak menyeka matanya beberapa kali, berusaha tampak tegar meski berujung dengan wajah beruraian air mata. Sementara Jaehwan menundukkan kepalanya—berusaha tidak mengedarkan pandangan ke sekeliling sekaligus masih berjuang untuk menghentikan pendarahan dari Kyungsoo dengan percuma.
Taehyung teringat saat ia melahirkan Jihoon. Ia begitu membenci putranya untuk terlahir ke dunia. Tapi begitu ia mendengar suara tangisan anaknya tersebut, ia langsung mencintainya. Seperti halnya yang terjadi pada Kyungsoo.
"Aku tidak peduli siapapun ayahmu, karena kau juga adalah sebagian dari diriku. Kau berhak mendapatkan hidup yang lebih baik. Jangan pernah berakhir seperti dirinya ataupun seperti diriku—"
Mesin monitor berbunyi tidak teratur dan yangan Kyungsoo yang semulai merangkul tubuh putranya, mulai jatuh lunglai di sisi ranjang.
"Aku benar-benar turut menyesal," ucap Jaehwan sembari melihat pada Seokjin yang memastikan Kyungsoo benar-benar telah pergi meninggalkan mereka. "Sekalipun aku berusaha menjahit luka robek di jalan lahir, aku tidak bisa menghentikan pendarahan."
Jungkook hanya bisa mengusap punggung Taehyung. Sudah pasti kematian Kyungsoo kembali membuka lama di masa lalu Omega itu. "Dia sudah beristirahat tenang sekarang, Hyung."
"Tunggu—" Seokjin bergumam pelan. Saat ia hendak mengambil bayi Kyungsoo dari tubuh sang ibu, ia merasakan sesuatu yang tidak beres. "—bayinya—tubuhnya mulai mendingin—"
Jaehwan kembali turun tangan, "Pindahkan dia ke mesin infant warmer yang sudah kusiapkan!"
Seokjin mengikuti instruksi langsung dari Jaehwan dibantu oleh Hoseok. Wajah Beta itu berubah panik beberapa saat kemudian, "Warna tubuhnya tidak juga berubah! Semakin biru!"
"Oh—shibal—" Jaehwan bergegas menghampiri mesin infant warmer yang terletak di dekat tembok. Ia memindai keadaan bayi Kyungsoo dibantu oleh Seokjin.
"Apa? Apa terjadi sesuatu dengan bayinya?!" tanya Taehyung, kehilangan sebagian suaranya. Jungkook berusaha memegangi tangan sang Omega agar tidak limbung sewaktu ia berusaha bangkit.
Suasana terasa mendebarkan. Jaehwan berusaha keras mengembalikan suhu tubuh bayi Kyungsoo sampai akhirnya ia berucap dengan berat hati, "Aku—aku tidak bisa menyelamatkannya. Suhu tubuhnya sudah terlalu dingin—dia kesulitan bernapas—"
Yoongi menyumpah sekeras mungkin di dalam ruangan, tidak memedulikan masih ada kawannya yang lain di dalam sana bersamanya. "Ini semua karena ulah kalian! Menjadikan para tentara dan juga warga sipil sebagai percobaan kalian, padahal hanya Taehyung yang berhasil sebagai hasil uji coba! Kalian telah membunuhnya!" tuduh Yoongi marah, menuding ke arah Jaehwan.
Hoseok menarik mundur Yoongi menjauhi Jaehwan yang diliputi rasa bersalah, "Hyung. Hentikan. Kau hanya memperumit situasi."
"Kalau saja dia dan tentara lainnya tidak mengalterasi kromosom Kyungsoo, sudah pasti hal ini tidak terjadi!"
Seokjin ikut angkat bicara, "Kau melantur, Yoongi-yah. Kyungsoo sebelumnya sudah ditangkap oleh pasukan tentara Korea Utara dan hanya karena situasi di dalam sinilah yang membuatnya berakhir seperti ini."
"Tidak—dia benar," Jaehwan menyelak. "Aku ikut dalam penyerangan yang menyebabkan keempat teman kalian ditawan oleh tentara kami. Aku pulalah—yang menyuntikkan cairan yang mengalterasi kromosom Kyungsoo menjadi seorang Omega. Aku—secara tidak langsung akulah yang membunuhnya."
Jungkook kali ini ikut menahan Yoongi sebelum Alpha itu menyerang Kyungsoo. "Yoongi-hyung. Biasanya kau memintaku untuk mengendalikan diri dan sekarang kau yang kehilangan emosi. Kita harus menyelesaikan masalah langsung dari sumbernya, itu katamu, kan? Percuma saja kau marah-marah seperti ini."
Yoongi menolak untuk memandangi Jungkook dan menyentak tangan Alpha muda itu dengan kasar.
Mereka baru saja akan memikirkan apakah akan memindahkan tubuh Kyungsoo beserta anaknya ke tempat lain bersamaan dengan datangnya Namjoon, Won-sik dan Jackson. Tubuh mereka bermandikan darah dan membuat Hoseok serta Seokjin menjerit kaget melihat keadaan ketiganya.
"Joon-ah?" panggil Seokjin, menghampiri kekasihnya dan mengusap darah yang mengotori wajah Alpha itu. "Kenapa kau lama sekali? Apa—apa terjadi sesuatu? Kau terluka? Kalian semua terluka?"
Won-sik dan Jackson hanya melihat ke arah Namjoon, menyuruh Alpha itu angkat bicara.
"Ini bukan darah milik kami. Ini darah para Chugyeokja yang kami habisi beberapa waktu lalu." Namjoon menjelaskan. Ia melihat ke sekeliling sampai kemudian melihat tubuh Kyungsoo yang sudah tidak bernyawa, bersimbah darah. Raut mukanya berubah terpukul memahami situasi yang terjadi, "—kapan?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
"Barusan saja. Dia kehabisan banyak darah—" Seokjin tidak dapat melanjutkan karena tangisannya pecah.
"Lalu, di mana bayinya?"
Hoseok berbalik menghadap Namjoon, menunjukkan tubuh bayi Kyungsoo yang hampir sepenuhnya berwarna biru. "Kami juga tidak berhasil menyelamatkan bayinya."
Namjoon menatap ke satu persatu personil timnya, menatap duka yang menyelimuti wajah satu persatu dari mereka. Tanpa sadar, air matanya ikut menetes. Ia pun beranjak ke sisi ranjang Kyungsoo, mengusap kepala temannya yang masih sedikit terasa hangat. "Kau sudah berjuang dengan sangat baik, Kyungsoo. Kau adalah prajurit yang terlatih, dan sudah pasti semua perjuanganmu patut untuk diingat oleh semua orang." Alpha itu berhenti untuk mengumpulkan kalimat selanjutnya. "Seandainya saja kau masih bisa bertahan hidup, aku ingin mengatakan ada orang menginginkan dirimu mengingatnya dengan baik. Kalau saja dia juga diberi pilihan sepertimu untuk memilih, mungkin kalian bisa saling menerima satu sama lain. Mungkin kalian akan hidup bahagia bersama-sama."
"Siapa yang kau maksud, Hyung?" tanya Jungkook pada Namjoon, tidak memahami penuturan Namjoon.
Namjoon tidak melepaskan matanya dari wajah Kyungsoo, "Hanya seseorang yang kukenal selama beberapa jam." Lalu ia memutar menghadap Jaehwan, "Aku punya kabar duka untukmu. Jenderal kalian—yang bernama Kim Jongin—sudah gugur beberapa saat yang lalu."
Mulut Jaehwan menganga lebar-lebar seperti halnya kedua matanya. Ia gelagapan, "M-maksudmu? Kalian yang membunuhnya?"
"Tidak. Dia gugur setelah mengorbankan diri untuk memicu bom neutron—dalam upaya kami untuk menghadang Chugyeokja."
"Apa yang kau maksud dengan Chugyeokja ini?" Jaehwan masih tampak bingung.
"Para tahanan kalian yang menggila," sahut Jackson, menyelak. Ia hendak lanjut menjelaskan saat dari kejauhan terdengar lolongan riuh. "Yang benar saja, kita sudah menghabisi mereka segitu banyaknya, tapi kenapa mereka masih berkeliaran?"
Namjoon menginstruksikan Won-sik dan Jackson untuk membuka isi backpack mereka masing-masing, mengeluarkan masker dan persediaan senjata pada tentara Minguk di dalam ruangan. "Kita harus segera bergegas menyelamatkan diri dari sini. Kau juga Jaehwan. Sebaiknya kau juga ikut bersama kami dari tempat ini."
Jaehwan tersentak kaget mendengar tawaran Alpha itu. "Kau—yang benar saja, kalian bersungguh-sungguh ingin mengajakku pergi dari sini?"
"Apa salahnya dengan itu? Aku tidak yakin ada tentara Korea Utara di tempat ini selain dirimu yang masih hidup, apalagi setelah pimpinanmu gugur. Apa kau ingin mati kelaparan sampai para Chugyeokja menemukan dan memangsamu di tempat ini?"
Taehyung menegakkan diri di sebelah Jungkook. "Kau sendiri bilang kau ingin berada di pihak yang benar, kan? Ini peluang terbaik bagimu meninggalkan tempat ini."
Beta itu menimbang-nimbang ajakan Namjoon dan yang lain. Sesekali ia melihat ke wajah para tentara Minguk yang lain, tapi taka da satupun dari mereka yang menyanggah. "B-baiklah kalau begitu," ia menjawab. "Aku akan ikut bersama kalian."
Dobrakan pintu dari kejauhan terdengar hingga ke ruang operasi. Jungkook mengajukan diri untuk pergi ke koridor, memeriksa keadaan. Ia kembali dengan raut pucat, "Para Chugyeokja sudah menerobos masuk, mereka memenuhi koridor utama. Bagaimana kita bisa melarikan diri?"
"Kita bisa melalui jalanan rahasia, aku bisa menunjukkannya kalau kalian mau."
"Tunjukkan jalannya pada kami, kalau begitu," ujar Namjoon.
"Tunggu sebentar!" Taehyung menghentikan mereka, "Mungkin sebaiknya kita membakar tempat ini," kata Omega itu, memeranjatkan semua orang. "Aku—aku tidak ingin para Chugyeokja ini menyentuh mayat Kyungsoo dan anaknya. Mereka butuh beristirahat dengan tenang."
"Kita harus melakukannya," Seokjin mengangguk setuju. "Aku lihat ada persediaan oksigen cair di dalam ruangan ini. Kita bisa memanfaatkannya sebagai bahan bakar nyala api."
Jungkook, Namjoon, Jackson, Hoseok, Yoongi dan Won-sik saling membahu menahan para Chugyeokja yang telah menguasai sebagian area di instalasi medis. Sementara Taehyung dan Seokjin membantu Jaehwan mempersiapkan mayat Kyungsoo.
Taehyung terus memandang sedih ke arah jasad Kyungsoo. Dengan hati-hati ia meletakkan jasad bayi mendiang Omega itu di atas tubuh sang induk, lalu menaruh kedua tangan Kyungsoo di atas tubuh bayinya, membuat gambaran seorang ibu yang tengah memeluk anaknya dalam tidur. Ia teringat akan kematian Bogum, Ilhoon, Minjae, dan semua orang yang pernah muncul sebagai Omega di kehidupannya.
Setelah berduka selama sekian detik, ia pun ikut serta Seokjin untuk menyiramkan cairan oksigen ke sekitar ruangan. Jaehwan menunggu mereka sampai selesai sebelum memberikan aba-aba untuk mulai menyalakan pemantik api.
Lidah api mulai menjalar tak lama kemudian. Selama beberapa saat api mulai menyebar, Taehyung mengamati jasad Kyungsoo di mulut ruangan, memejamkan matanya, dan berdoa. Sesudah kedua matanya bergolak terbuka, ia telah mendapati kaki ranjang yang ditempati oleh dua sosok yang telah tak bernyawa mulai terlalap oleh api.
"Aku sudah menyalakan api. Kita pergi sekarang!"
Bersesuaian dengan aba-aba Jaehwan, mereka segera berlari ke sisi yang tidak dilalui oleh kumpulan Chugyeokja. Di belakang mereka, api mulai merayap dengan cepat, diikuti oleh bertambah banyaknya Chugyeokja yang menjamah instalasi unit kesehatan. Asap berwarna hitam diikuti percikan api merangsang fire sprinkler menyemprotkan air, membuat Chugyeokja kesulitan untuk mengejar mereka. Alarm kebakaran berbunyi tidak lama kemudian, berdenging memberi mereka petunjuk untuk keluar melalui jalur darurat. Jaehwan semula mengikuti penunjuk arah jalur darurat, sebelum memandu mereka menuju ke sisi pintu lain.
Mereka beristirahat selama beberapa saat di suatu ruangan tertutup yang cukup jauh dari para Chugyeokja, mengisi energi yang sebelumnya terbuang dengan mengonsumsi protein bar dan meminum air dari botol-botol yang telah tersedia di dalam backpack. Selama beberapa menit tersebut, Namjoon menceritakan semuanya. Bagaimana mereka yang berusaha merebut kembali persediaan mereka yang terlucuti dari ruang penyimpanan lalu dihadang oleh sekelompok Chugyeokja yang memaksa mereka untuk berganti haluan, sampai mereka bertemu dengan Kim Jongin. Namjoon menceritakannya sedetail mungkin, sampai mereka menyadari asap mulai mengalir masuk ke dalam ruangan.
"Lalu, Chugyeokja ini—kalian belum menceritakannya padaku," kata Jaehwan.
"Chugyeokja ini—kami menyebutnya demikian karena mereka sebelumnya adalah para manusia yang kehilangan naluri dan insting mereka sebagai manusia seutuhnya. Mereka pun memiliki kecenderungan untuk menjadi agresif, menyerang siapapun yang mereka lihat, termasuk mengkanibalisasi sesamanya," Namjoon menerangkan.
"Tapi, bagaimana mereka bisa menjadi seperti ini?"
Jungkook ikut bergabung dengan pembicaraan, "Presiden kami—beliau mengirimkan salah satu mata-mata ke dalam tempat ini dan memasukkan senjata biologis di dalamnya. Senjata biologis ini berupa gas yang apabila dihirup, dapat menyebabkan yang menghirupnya mengalami gejala aneh dan seperti mati rasa dalam waktu 3 hari. Gejalanya adalah demam dan timbulnya bercak-bercak mencurigakan yang akan berkembang menjadi luka bakar."
"…gas?" air muka Jaehwan berubah keruh.
Taehyung yang semula hanya mendengar percakapan mereka, tiba-tiba melihat warna aneh yang timbul di balik seragam bertugas yang dikenakan Jaehwan. Omega itu menyentakkan tangan sang Beta, mengamati permukaan kulit Jaehwan lebih teliti. "Jaehwan—kulitmu—kenapa kulitmu—"
Semua orang menyelisipkan kepala mereka untuk mengamati tangan Jaehwan dari dekat. Seokjin menjadi orang pertama yang mengeluarkan erangan kaget. "I-ini—kenapa bercak di kulitmu ini berwarna hitam? Seperti bekas luka? Apa kau juga menghirup gas yang sama seperti para tahanan?!"
Jaehwan buru-buru menarik tangannya dari Taehyung, "Tidak mungkin aku terjangkit penyakit yang sama!" bantah Beta itu. "Presiden kalian—dia bilang kalau tahanan kami hanya akan terprovokasi untuk melakukan perlawanan pada tentara kami setelah menghirup gas ini dan, dan—"
Suasana berubah tegang saat Yoongi meremas leher Jaehwan, membuat Beta itu terpaku di tempatnya. "Jadi, ini semua pun juga hasil perbuatanmu?"
Jungkook berusaha membantu Jaehwan melepaskan tangan Yoongi, berusaha mengendalikan emosi Alpha itu, "Hyung! Apa-apaan kau ini!?"
"Turunkan tanganmu, Hyung," Namjoon ikut menambahkan, "Dia belum selesai menceritakan semuanya."
Jaehwan terbatuk-batuk dan buru-buru Taehyung mengangsurkan air minum padanya. Hoseok terpaksa membawa Yoongi menjauh dari Jaehwan, khawatir apabila Alpha itu sekali lagi naik pitam.
Dari Jaehwan, semuanya tergambar jelas. Bermula dari pesan terenkripsi yang ia terima beberapa tahun lalu, memaparkan situasi perang antara dua negara Korea yang saling berseberangan. Semuanya dijelaskan sama persis seperti yang dijelaskan oleh Namjoon pada Jungkook, hanya saja disisipkan oleh sedikit sudut pandang milik Jaehwan. Awalnya Jaehwan berniat memberitahukan pesan tersebut pada Hyung-sik, tapi setelah membaca tentang ambisi presiden Moon Jae-in untuk membangun dunia yang baru, bebas dari perselisihan dan secercah harapan mengembalikan kondisi bumi seperti semula. Pesan itu terus berdatangan setiap beberapa bulan sekali, menjelaskan sepotong demi sepotong kisah lain yang berhubungan dengan situasi dunia saat ini. Termasuk fakta perjanjian damai antara dua negara pada tahun 2018.
"Gas emisi hasil reaksi nuklir yang diluncurkan oleh negaraku setelah presiden kami menerima tawaran Amerika Serikat untuk menghancurkan negara lain, berdampak begitu besar terhadap keseimbangan alam. Lapisan ozon kian menipis akibat peningkatan jumlah gas-gas bersifat merusak. Tidak tanggung-tanggung lagi, membuat senjata biologis dengan tujuan mengendalikan jumlah populasi negara lain."
Jaehwan pun mulai mengetahui keterlibatan antara Korea Selatan dengan Korea Utara dan alasan di balik pembuatan substansi yang mampu mengalterasi kromosom manusia menjadi Omega, mengembalikan populasi manusia seperti sedia kala. "Ayah Hyung-sik-daejangnim, yang memprakarsai penelitian ini. Selama bertahun-tahun, dia mengembangkan subtansi ini dan mengujinya pada para tahanan. Percobaannya baru berhasil dilakukan begitu aku memulai karirku sebagai tentara medis praktis beberapa sepuluh tahun yang lalu. Tapi hingga saat ini, tidak ada yang berhasil kecuali—"
Taehyung tidak menghindar dari tatapan Jaehwan, "Aku tahu. Itu aku, kan?"
"Ya. Tapi penyebab para Omega selalu keguguran atau berakhir dengan kematian saat melahirkan, karena kami menyuntikkan cairan yang sama ke janin mereka. Sejauh ini, hanya V—Taehyung yang berhasil selamat dari percobaan, juga anaknya, Jihoon. Kami juga yakin, suatu saat nanti Jihoon akan tumbuh menjadi Omega secara natural, makanya kami mengirimnya ke Pyongyang. Lalu saat dia sudah tumbuh sebagai Omega yang telah matang, Hyung-sik sudah mempersiapkan rencana untuk menghamili Jihoon—dan mengulang percobaan yang sama."
Mendengar cerita tersebut, Taehyung mengepalkan kedua tangannya. Perutnya mulai terasa tidak karuan. Ia mempelototi Jaehwan dengan amarah yang berkobar, "Kalian—kalian benar-benar monster. Aku tidak akan pernah menyerahkan Jihoon pada kalian lagi—"
"Aku bersumpah, aku tidak pernah sepenuhnya setuju dengan apa yang ia pikirkan!" Jaehwan bersikeras. "Aku hanya menjalankan tugasku, karena kalau sampai aku membangkang, aku pasti akan dibunuh. Aku sama seperti kalian, tidak pernah menginginkan perang ini terjadi! Aku pun menginginkan para subjek percobaan bisa memilih hak mereka masing-masing! Karenanya, aku langsung tergiur oleh rencana yang ditawarkan oleh presiden kalian—mengirimkan gas ini pada tahanan kami sendiri. Dia bilang, dia sudah berkali-kali mengujinya dan meyakinkanku kalau dua Korea akan bersatu dengan gas ini. Para tahanan akan kehilangan kendali mereka sedikit, menyerang tentara kami, dan barulah nanti dia yang akan mengirimkan pasukan untuk menghentikan kekacauan. Setidaknya gas ini akan menjadi langkah pertama untuk memulai perjanjian perdamaian dengan negara kami."
Jackson tertawa mengejek, "Kau sebodoh itu, percaya pada ucapannya? Tidak bisakah kau sekadar mengira-ngira bagaimana gas ini bekerja secara akurat sebelum sepenuhnya menerima idenya? Beliau pun harus mengebom dan membakar desa yang telah menjadi subjek uji cobanya akibat dampak yang tak terduga dari gas ini. Warga sipil menjadi gila, saling membunuh, saling memakan satu sama lain. Perang tidak akan dengan semudah itu berakhir."
Jaehwan tampak menyesali perbuatannya. Beta itu memegangi kepalanya dengan frustasi, "A-aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku hanya ingin kembali hidup tenang, seperti sebelum perang terjadi. Aku juga tidak pernah bermaksud untuk membunuh begitu banyak orang dengan kedua tanganku—"
Jungkook memberi isyarat dengan tangannya, menyuruh yang lain untuk tidak ikut campur dan semakin membuat Beta tersebut merasa bersalah. "Sejak kapan kau mulai menyebar gas ini?"
"Aku sudah melakukannya sejak sekitar tiga hingga empat bulan yang lalu, sebelum presiden kalian mulai berhenti menghubungiku. Dia memintaku mengambil gas-gas ini di sebuah desa dekat perbatasan diam-diam. Menyebarnya ke blok sel. Kupikir efeknya tidak semengerikan ini—"
"Apa kau tahu kenapa kau juga bisa ikut menghirupnya?" Jungkook kembali bertanya.
"A-aku tidak tahu. Seharusnya, aku hanya menyebar gas ini melalui jaringan pipa yang memfilter pasokan oksigen dari luar."
"Apa jangan-jangan gas ini sudah menyebar ke jaringan pipa lainnya?" Hoseok berujar pada yang lain, terdengar sama cemasnya dengan yang lain.
"Kalau begitu kenakan masker kalian," kata Namjoon mewanti-wanti. "Kalau kita menghirup udara di dalam sini terlalu lama, kemungkinan besar kita ikut terjangkit juga akan lebih besar. Aku juga sudah melihat para Chugyeokja yang berkeliaran berasal dari tentara Korea Utara sendiri. Sudah pasti gas ini telah menyebar lebih lama daripada yang kita perkirakan."
Mereka semua mengenakan masker, menyisakan Jaehwan yang tidak bisa berhenti gelisah di tempatnya. "Apa kalian akan membunuhku setelah ini? Aku hanya punya waktu tiga hari sebelum aku menjadi monster seperti para tahanan yang lain?"
Namjoon memagut dagunya, "Melihat banyaknya tentara yang sudah menjadi Chugyeokja, kemungkinan besar kau sudah terjangkit cukup lama."
"Apapun jawabannya, kami akan membawamu keluar dari tempat ini terlebih dahulu," sahut Jungkook menambahkan.
Jaehwan mengangguk pasrah dan lanjut memandu mereka menuju jalan keluar. Di belakang mereka, suara gedoran pintu ikut menyusul. Suara gedoran tersebut akhirnya berubah semakin keras dan membludak menjadi bunyi derap langkah kaki yang menggema sampai ke tempat mereka berada. Jungkook melongokkan kepalanya ke ratusan Chugyeokja yang mengejar mereka. Mereka hampir sampai ke mulut pintu dekat tangga besi—di mana Jaehwan menggesek kartu dan memindai retinanya.
"Bantu aku mendorong pintu ini!" teriak Jaehwan.
Won-sik dan Jungkook langsung berinisiatif membantunya, mendorong pintu ke arah luar. Pintu langsung terbuka lebar-lebar. Namjoon yang berdiri paling belakang, mendorong satu persatu anggota tim, "Cepat, cepat! Mereka sudah berada beberapa ratus meter dari kita!"
Saat semua orang telah keluar menyisakan Jungkook, Won-sik, Namjoon dan Jaehwan di dalamnya, tiba-tiba saja tanpa disangka-sangka Jaehwan mendorong tubuh Namjoon ke arah datang para Chugyeokja dan meninju wajah Alpha itu berkali-kali. Semua orang memekik kaget melihat kejadian yang tak mereka duga tersebut.
"JOON-AH!" teriak Seokjin.
"Hyung!" Jungkook berlari menuju Jaehwan, menghajar wajah Beta itu hingga terpental ke sisi lain. Ia membantu Namjoon yang terlepas dari maskernya untuk bangun, "Apa yang kau lakukan?!" ia masih sepenuhnya mengira Jaehwan berkhianat saat melihat kedua sklera Beta itu yang sebelumnya berwarna putih mulai memerah.
"A-aku—ooh—" Jaehwan terlihat berupaya melawan dirinya sendiri dengan menahan salah satu tangannya dengan tangan yang lain. Justru tubuhnya malah mengalami tremor yang hebat, "Aku—aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri—" ia berteriak sekeras-kerasnya.
Sesuatu pemandangan yang menakutkan melihat orang yang mereka kenal sebelumnya berubah menjadi sosok monster sungguhan—yang selalu diceritakan oleh para orang tua di masa kanak-kanak. Ruam-ruam berwarna merah mulai memenuhi tubuh Jaehwan, sebelum warna merah tersebut menghitam pekat seperti luka bakar. Matanya yang semula masih memiliki sklera berwarna putih, mendadak diisi oleh guratan berwarna merah, membara. Suara lolongan pilu meluncur keluar dari mulut Beta itu, mengakhiri transformasinya sebagai Chugyeokja.
Jungkook menyeret tubuh Namjoon menjauh dari Jaehwan, tapi lagi-lagi Jaehwan menahan pergelangan kaki Alpha itu, menyentaknya ke arah sebaliknya.
Chugyeokja di belakang mereka kian mendekat. Jungkook bisa merasakan hempasan timah yang dilepaskan oleh kawan-kawannya yang lain ke arah para Chugyeokja. Beberapa peluru dilepaskan ke arah Jaehwan, tapi Beta itu masih hidup dan mulai menyerang Namjoon menggunakan rahangnya. Jungkook berupaya menjauhkan Jaehwan dengan menembak, tapi tangannya yang sudah terlalu kebas menolak untuk bekerja sama. Berkali-kali tembakan yang ia lepaskan meleset, hanya melukai sebagian kecil tubuh Jaehwan.
Setelah tembakan ke sekian kali, pelurunya mengenai pergelangan tangan Jaehwan, membuat Beta itu memekik kesakitan. Jungkook mengira situasi aman saat ia menyadari kawanan Chugyeokja sudah berada di sekeliling mereka. Ia berteriak pada rekannya yang lain yang membantu menghabisi para Chugyeokja yang terus berdatangan, "Seseorang! Panggil Jaebeom ke sini untuk menjemput kita!"
Namjoon buru-buru bangkit sampai ia merasakan dirinya kembali tertarik oleh Chugyeokja lain. Alpha itu memekik kaget.
"Hyung!" panggil Jungkook kepadanya, mengejar.
"Joon-ah!" Seokjin ikut berteriak kalang kabut, melihat tubuh kekasihnya terseret-seret masuk ke dalam kumpulan Chugyeokja.
"Jungkook! Kau mau ke mana?!" seru Taehyung pada Jungkook, terkaget-kaget melihat Jungkook menyeruak ke dalam kumpulan Chugyeokja.
"Aku harus merebut kembali Namjoon-hyung dari mereka!"
Jaehwan yang sebelumnya terkapar di atas lantai, bangkit dan turut mengejar seperti Chugyeokja yang lain. Yoongi dan Won-sik bergantian berusaha menembaknya, meneriakinya. Situasi berjalan tidak terkendali. Taehyung menyelamatkan Hoseok dari terkaman seorang Chugyeokja, "Hobi! Bantu aku menahan pintu!" Hoseok bergerak mengikuti idenya dan sesudahnya Omega itu berteriak pada yang lain, "Semuanya! Keluar sekarang! Biar Jungkook menyelamatkan Namjoon!"
"Aku harus ikut menyelamatkan Namjoon juga!" teriak Seokjin padanya.
"Tidak, kau harus keluar sekarang! Percayakan Namjoon pada Jungkook!"
Seokjin berdiri terpaku, menimbang-nimbang dengan gelagat gelisah, sebelum memilih meninggalkan koridor panjang tersebut setelah menembaki dua kepala Chugyeokja.
Mereka keluar dari bangunan mengerikan tersebut dengan meninggalkan Jungkook beserta Namjoon di dalamnya. Taehyung dan Hoseok menjadi yang terakhir keluar setelah menutup pintu di belakang mereka. Pintu tersebut menutup dan terkunci rapat-rapat secara otomatis, mengurung kawanan Chugyeokja yang masih berupaya menggedor-gedor pintu.
Taehyung jatuh terduduk di atas hamparan pasir kering di belakang bangunan Hanbando Bimujang Jidae, tidak henti-hentinya memikirkan keadaan Jungkook di dalam sana. Sewaktu ia mendapati Seokjin terduduk lemas, ia ikut mendudukkan diri di sebelah dan berbisik pelan pada Beta itu, menenangkannya.
"Mereka akan baik-baik saja. Aku tahu mereka akan baik-baik saja," bisiknya pada Seokjin.
Ia seperti kembali ke waktu di mana Seojoon dan Jungkook mengajukan diri untuk menyelinap masuk ke dalam gudang persediaan senjata di Pyongyang, mengingat-ingat bagaimana Seojoon tidak pernah kembali selamat dari rencana yang ia ajukan sendiri.
Sekarang Taehyung hanya bisa berharap seperti yang ia lakukan sebelum-sebelumnya. Harapannya kali ini diiringi oleh suatu keyakinan yang tak tergoyahkan setiap kali ia memegangi bekas klaim di lehernya. Sebelumnya, ia merasa takut dan penuh keragu-raguan. Tapi sekarang ia memutuskan untuk selalu percaya.
Ia akan baik-baik saja. Ia bukanlah Seojoon. Ia akan baik-baik saja.
Sedangkan Yoongi, Hoseok, Jackson, dan Won-sik berdiri tepat di depan pintu. Menunggu.
Bunyi desingan mesin dan roda menyambut mereka tak lama sesudah matahari yang berwarna merah mulai merayap muncul pada garis horizon.
05.37 a.m
Jungkook hanya memiliki satu granat di tangannya setelah ia menggunakan satu yang lain untuk mengubur Chugyeokja yang mengejar. Hampir semua Chugyeokja yang mengejarnya mengenakan seragam tentara Korea Utara dan Jungkook menduga udara di dalam tempat ini sudah sepenuhnya terkontaminasi oleh senjata biologis milik Korea Selatan. Kemungkinan pula sudah lebih dari beberapa hari, mengingat Jaehwan telah mengalami perubahan sikap agresif yang mencengangkan semua orang.
Membuang pikirannya jauh-jauh, Jungkook memusatkan perhatian pada kumpulan Chugyeokja yang berduyun-duyun pada suatu titik. Samar-samar, suara panik Namjoon menarik atensinya. Dari jauh, Namjoon sedang kepayahan menembaki sekaligus menghindari serangan dari Chugyeokja di sekelilingnya. Jungkook pun melemparkan tubuhnya ke arah Chugyeokja dengan bertumpu pada kaki belakangnya.
"Menyingkir brengsek!" teriaknya marah, menimbulkan rentetan tembakan senjata api. Jalan menuju Namjoon terbuka setelah satu persatu Chugyeokja yang menghalangi jalurnya ambruk ke atas lantai. Ia pun segera memanjangkan tangannya pada Alpha itu, "Hyung!"
Namjoon balas menerjang ke arah Jungkook, menyambut uluran tangan Alpha itu seraya tidak berhenti menembakkan senjata submachine gunnya ke sekitar.
"Ini adalah misi terpanjang yang pernah kita lewati tanpa tidur sama sekali dan hanya dengan satu kali makan," keluh Namjoon begitu Jungkook berhasil menyelamatkannya.
"Kau masih hidup, itulah yang terpenting," sahut Jungkook. "Sekarang kita pergi dari sini! Yang lain sudah menunggu di luar!"
Keduanya berlari secepat kaki mereka mampu melakukannya. Sayangnya masalah mereka masih berujung pada sekumpulan Chugyeokja yang berdiri tepat di depan pintu keluar. Jungkook dan Namjoon saling berpandangan, merasa otak mereka terlalu buntu untuk mulai berpikir jernih. Pada akhirnya, mereka bersembunyi pada cerukan pertemuan antar dinding, memikirkan siasat selanjutnya.
"Kalau pintu dibuka, para Chugyeokja ini juga pasti akan ikut keluar dan mengejar teman-teman kita yang lain," komentar Namjoon.
"Kita tidak mungkin juga mencari jalan keluar yang lain, kan?" Jungkook menambahkan ucapan Namjoon.
Seolah-olah kebingungan mereka didengar oleh Tuhan, perhatian para Chugyeokja teralihkan pada sosok Chugyeokja yang mengenakan jas lab berwarna putih. Jungkook dan Namjoon nyaris tidak dapat mempercayai apa yang mereka lihat tapi jelas sekali sosok yang sedang menyita perhatian para Chugyeokja adalah Jaehwan. Beta itu sudah sepenuhnya diselimuti oleh lepuhan kulit berwarna hitam. Jaehwan berlari ke sisi yang berlawanan sembari berteriak, membuat para Chugyeokja kini memburunya seperti hewan-hewan yang kelaparan.
Saat melalui mereka, Jaehwan sempat bertatap muka dengan keduanya—menyelidik dengan kedua matanya yang merah, dan segera menghilang di pertigaan yang terletak berates-ratus meter di depan mereka. Beta itu menjatuhkan sesuatu tepat di cerukan kedua Alpha tersebut bersembunyi. Setelah menunggu kawanan Chugyeokja menghilang di pertigaan, Jungkook mengambil barang yang dijatuhkan oleh Jaehwan di atas lantai.
Sebuah kartu tanda pengenal, berisikan identitas Jaehwan.
Jungkook mengamati kartu itu dengan wajah masih yang sedang kebingungan mencerna situasi. "Dia—dia menjatuhkan kartu ini dengan sengaja?"
Sedangkan Namjoon sibuk mengamati tempat yang dituju oleh Jaehwan dari jauh.
Sebuah simbol dengan 3 seksi berukuran sama berwarna hitam dan latar kuning, bertuliskan dalam bahasa inggris langsung Namjoon pahami artinya hanya dalam sekali pindai. Simbol tersebut terpampang di dinding pertigaan yang terhubung dengan fasilitas kesehatan.
CAUTION: RADIATION AREA. BIOMASS AND NUCLEAR LABORATORY. 800 M AHEAD. SAFETY EQUIPMENT ARE REQUIRED.
Ia merasakan tangannya ditarik oleh Jungkook, "Hyung, sekarang saatnya!"
Namjoon berlari di belakang Jungkook sampai di depan pintu keluar. Jungkook mengakses pintu tersebut dengan kartu yang entah sengaja atau tidak sengaja dijatuhkan oleh Jaehwan.
Tidak sampai sedetik untuk Alpha itu mengerang panik, "Astaga, aku lupa kita harus memindai retina! Bagaimana kalau pintu ini tidak mengenaliku?!"
"Coba saja dahulu!"
Jungkook mengarahkan matanya mengenakan mesin pemindai. Mulutnya berkomat-kamit, mengharap agar mesin tersebut mengenalinya. Terdengar bunyi 'piip' kecil dan Namjoon bersorak senang di sebelahnya.
"Kita berhasil!"
Keduanya mendorong pintu dari pelat baja tersebut dengan sekuat tenaga sampai akhirnya benar-benar terbuka.
Yang pertama kali mereka lihat adalah wajah kawan-kawan mereka yang bercampur haru, menyambut kemunculan sang kedua pimpinan dengan sukacita. Seokjin melemparkan dirinya pada Namjoon, mengecup kedua pipi sang Alpha walaupun ia masih mengenakan masker, seperti sepasang kekasih yang melepas rindu setelah satu dekade tidak pernah bertemu.
"Joon-ah! Joon-ah!"
"Aku baik-baik saja, Hyung," kata Namjoon, tertawa melihat reaksi Beta itu. "Tapi kuakui. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa ketakutan akan mati dan tidak pernah bisa bertemu dirimu. Kupikir justru akulah yang malah pergi mendahuluimu."
Seokjin meremas wajahnya dan menyatukan kedua dahi mereka. "Itulah yang kurasakan saat para Chugyeokja menangkapku. Tapi aku menyesal aku jadi tidak bisa melindungimu dan malah harus mengandalkan kemampuan Jungkook."
"Mungkin kita memang ditakdirkan untuk mati bersama-sama," balas Namjoon, terkekeh pelan, merasakan adrenalinnya masih belum sepenuhnya mereda.
Taehyung pun tidak kalah antusiasnya saat melihat Jungkook. Hari ini mereka dua kali terpisah di saat yang tak terduga, dan dua kali kembali karena suatu mukjizat. Begitu melihat Alphanya berlari keluar dari bangunan Hanbando Bimujang Jidae, Omega itu meninju dada Jungkook cukup keras hingga sang Alpha terpaksa memundurkan langkahnya dan mengerang kesakitan.
"Kenapa kau malah memukulku?! Kenapa tidak merangkulku atau apapun—"
Taehyung pun menarik pundak sang Alpha sehingga tubuh mereka saling bersidekap, "Soalnya kau selalu bertindak bodoh! Berapa kali kau bersikap sok heroik, sok pahlawan? Kau ini bukan kucing yang memiliki sembilan nyawa, babo!"
Jungkook memutar bola matanya dengan dramatis, "Ne, ne, aku sudah pernah kehilangan satu nyawa sebelumnya. Terima kasih sudah mengingatkan."
"Aku tidak main-main dengan ucapanku, Jungkook. Bagaimana kalau kau terluka parah dan tidak sadarkan diri seperti saat itu?"
Jungkook menggendong tubuh Omega itu dan mengendus leher sang Omega, meski masker yang ia kenakan menghalangi aroma pekat susu dan pepohonan menguar dari tubuh Taehyung. "Aku terluka parah. Kau seharusnya ingat wajahku sudah sehancur apa setelah tentara Korea Utara menghajarku."
Yoongi meneriaki keempat orang tersebut. "Cepat naik ke mobil kalau kalian tidak ingin kami tinggal!"
Jungkook, Taehyung, Seokjin dan Namjoon segera berlari menyusul dua kendaraan yang terdiri dari satu kendaraan recoinnaissancedan satu mobil van.
Dalam satu van tersebut, Jungkook duduk bersama dengan Taehyung, Seokjin, Namjoon serta Won-sik. Karena Won-sik terlalu lelah untuk mengemudi ditambah luka pada lengan kirinya, pada akhirnya Jaebeom menggantikannya untuk mengemudikan van. Won-sik hanya mendengus saat melihat keempatnya memasuki van, sebelum kemudian tertidur di atas kursi sembari memeluk backpack miliknya yang berhasil diselamatkan.
Namjoon dan Seokjin pun menyusulnya tidur tak berselang lama setelahnya dengan kepala yang saling tindih.
Jungkook dan Taehyung tetap terjaga. Bahu mereka saling berembuk, berbagi kehangatan.
"Kurasa misi kali ini—adalah misi yang gagal untuk pertama kalinya," ujar Jungkook dengan nada sedih. "Kita tidak berhasil menyelamatkan siapapun."
"Yang terpenting kita semua sudah menjalankan tugas dengan baik. Memang ada banyak halangan tapi kita berhasil melaluinya," balas Taehyung. "Tak ada satupun dari kita yang menduga kalau Kyungsoo menjadi Omega, ataupun menduga Jongdae telah menghirup gas ini dan mengubahnya menjadi Chugyeokja."
"Ya. Tetap saja rasanya sedih. Kupikir kita bisa kembali lengkap seperti dulu, dalam keadaan utuh. Setidaknya sampai semua anggota resmi Pasukan Brigade Khusus ke 13 lengkap berkumpul. Kematian mereka—rasanya hidup tidak adil. Mereka harus mati dengan cara yang mengenaskan."
"Hidup memang tidak terduga, Jungkook," Taehyung menyandarkan kepalanya pada Jungkook, "Mungkin hidupku pun akan berakhir seperti mereka kalau aku tidak pernah punya keinginan untuk hidup. Untuk bisa bertemu denganmu, dengan semua orang. Aku yang dulu—aku kehilangan jati diriku selama delapan tahun—dan sekarang kau telah mengembalikannya. Hidup memang tidak terduga, tapi terkadang ada momen indah yang terselipkan di dalamnya."
Jungkook berdehum, "Kau keren, Hyung. Aku berpikir, sebenarnya kaulah yang sudah banyak berjuang hari ini. Kau menyelamatkan kami. Padahal markas perbatasan adalah sumber mimpi terburukmu. Dan kau berhasil melaluinya."
Taehyung hening sejenak. "Aku pikir aku bisa melakukannya karena aku tidak berhenti memikirkanmu. Dan juga Jihoon. Kalian berdua adalah orang terpenting dalam hidupku saat ini. Kalau sampai terjadi sesuatu di antara kalian, aku—aku akan kehilangan harapan untuk melanjutkan hidup."
"Kalau begitu aku akan hidup selamanya," kekeh Jungkook. "Aku akan hidup selamanya. Sehingga kau dan Jihoon pun akan hidup selamanya."
Tawa mengalir dari mulut sang Omega, "Aku jadi penasaran, apa yang akan ia katakan saat tahu kita sudah saling berikatan sebagai pasangan."
"Kuharap dia mau menerimaku sebagai Alpha darimu."
"Pasti dia akan bersedia menerimamu, Jungkook. Kau sudah merasakan seperti apa Jihoon kalau dia sudah bermain terlalu lama bersamamu."
Perkataan tulus Taehyung membuat suasana hati Jungkook kembali tenteram. Alpha itu mengecup dahi sang Omega sebelum memejamkan mata. "Ayo kita menjadi keluarga baru. Kau, aku, dan juga Jihoon."
Taehyung terperanjat saat Jungkook menawarkan hal tersebut padanya. Ia melongokkan kepalanya untuk bersitatap dengan sang Alpha, ingin kembali memastikan apa yang ia dengar, dan cuma tersenyum simpul sewaktu melihat damai menyelimuti wajah lelap Jungkook. Ia ikut menyandarkan kepalanya di bahu sang Alpha, dan ikut terbawa mimpi tidak lama kemudian.
Sesaat ia melupakan kenyataan kalau Hyung-sik masih hidup—di suatu tempat yang tidak akan pernah ia jangkau lagi.
Hari itu adalah tidur terpanjang dan ternyenyak yang pernah Taehyung lewati setelah delapan tahun lamanya.
07.10 a.m
Namjoon terbangun begitu saja dari tidur singkatnya. Saat ia melihat ke sekeliling, ia mendapati Seokjin sudah berpindah posisi ke atas pangkuannya. Di sudut kursi, Won-sik masih terlelap sambil memeluk backpack. Di kursi hadapannya, Jungkook dan Taehyung tertidur dengan bahu saling berembuk satu sama lain. Ia pun melayangkan pandangan ke luar jendela dan membelalakkan mata begitu melihat kepulan asap berwarna putih mengudara dari arah Hanbando Bimujang Jidae berada, membuat langit kelabu berwarna putih seperti kumpulan jamur. Sesekali kepulan asap berwarna putih tersebut menyala-nyala dengan warna oranye, membuat warna langit ikut berubah bersamanya.
Dengan hai-hati, Namjoon mengganjal kepala Seokjin dengan rompi miliknya yang telah dilepas dan menggeser posisi duduk dekat dengan kursi kemudi.
"Jaebeom?"
"Oh, Joon? Kau sudah bangun? Singkat sekali waktu tidurmu—"
"Apa kau lihat kepulan asap di belakang sana? Apakah asap itu berasal dari Korean Peninsula?"
Jaebeom baru menjawab beberapa saat setelahnya, "Kau benar! Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, tapi tadi memang ada sedikit guncangan. Dan tampaknya—entah bagaimana Hanbando Bimujang Jidae meledak? Aku ingin memberitahu kalian tadi, tapi pasti kalian kelelahan. Tampaknya ledakan yang terjadi begitu besar—aku sampai bisa merasakan udara sedikit berubah hangat karenanya."
Namjoon tertegun. "Ah. Tidak masalah. Terima kasih sudah membiarkan kami beristirahat," Namjoon kembali ke tempat duduk asalnya dan meletakkan kepala Seokjin kembali di antara kedua pahanya.
Ia pun teringat pada Jaehwan yang berlari ke arah laboratorium nuklir tepat sebelum ia dan Jungkook melarikan diri. Apakah Beta itu memang masih bisa mengenali Namjoon dan Jungkook—makanya di saat-saat terakhirnya, ia mengorbankan diri untuk menyelamatkan mereka dan memberikan kartu identitas miliknya pada Namjoon dan Jungkook? Apa mungkin Jaehwan pula lah yang meledakkan bom nuklir di markasnya sendiri? Namjoon tidak akan pernah mengetahui jawabannya dan ia membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu berlarut dalam otaknya, terlupakan. Ia hanya berasumsi kalau Jaehwan putus asa karena telah kehilangan banyak rekan dan masih belum menerima kenyataan ia terjangkit sebagai Chugyeokja, sehingga membunuh dirinya dan juga satu populasi Chugyeokja di markas perbatasan dengan satu ledakan bom nuklir.
(Ternyata memang, di dunia ini tidak ada yang sepenuhnya hitam atau putih. Semuanya merupakan perpaduan warna keduanya—warna abu-abu.)
Namjoon menguap lebar-lebar setelah cukup lama berlarut-larut dalam pikirannya, berniat kembali tidur—saat ia menyadari ia sama sekali tidak mengenakan maskernya selepas dirinya diseret pergi oleh sekumpulan Chugyeokja.
Ia kehilangan maskernya saat Jaehwan menyerangnya, membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
Beringsut Namjoon menegakkan diri—nyaris membangunkan Seokjin—dan mengamati seluk beluk tubuhnya, khawatir kalau-kalau ia melihat perubahan pada dirinya. Ia pun mengangkat tangan untuk memegangi dahinya, berharap tidak ada perubahan suhu pada tubuhnya.
Tidak ada perubahan apapun dan Namjoon menghela napas lega.
Rasa lega dalam hatinya mendadak meredup sewaktu sudut matanya menangkap ruam-ruam berwarna merah pada ujung pergelangan tangan.
10 November 2045, North Korea Central Military Commision, Sadong-guyok District, Pyongyang
07.21 a.m
Hiruk pikuk memenuhi seisi bangunan bertembok tinggi yang dibangun dari bebatuan gunung dan material konkret yang berfungsi penuh sebagai pusat militer Korea Utara. Para tentara dan petinggi militer yang baru saja kembali bekerja secara fungsional, dikejutkan oleh berita tentang hancurnya Hanbando Bimujang Jidae—markas dan pangkalan militer terbesar kedua yang berperan besar sebagai tombak dalam melakukan agresi militer ke desa-desa dan juga basis militer kecil milik Korea Selatan. Yang mengejutkan, hancurnya Hanbando Bimujang Jidae disebabkan oleh ledakan bom nuklir yang bisa dipastikan dipicu oleh orang dalam.
Untuk pertama kalinya setelah hampir setahun lamanya, dua panglima tertinggi di Korea Utara yang juga dikenal sebagai Choi bersaudara—Choi Siwon dan Choi Seunghyun, dua kakak sedarah dari Choi Minho—menampakkan diri mereka di dalam markas militer utama Korea Utara setelah dikirim keluar Korea Utara untuk membantu penyerangan militer Amerika Serikat ke negara-negara kecil.
"Aku tahu seharusnya aku tidak pernah mengangkat Hyung-sik sebagai daejang di perbatasan. Dia labil dan terlalu agresif. Lihat apa yang terjadi setelah kita meninggalkan semua tanggung jawab padanya dan juga Seojoon. Tidak hanya markas utama yang diserang, bahkan markas di perbatasan pun hancur lebur!" Seunghyun—Alpha bertubuh kekar dan paling tinggi yang menjadi anak kedua dari tiga Choi bersaudara, mengomel tanpa henti saat ia menyelidiki situasi yang terjadi dan mengadakan rapat darurat antar petinggi militer. "Enam puluh ribu orang tentara semuanya hancur bersama markas terpenting yang kita miliki!"
"Seojoon juga telah berkhianat dengan bergabung bersama kelompok militer Yeokjuk, Hyung," Minho menyahut perkataan kakak sulungnya. "Dialah yang menyelinap ke tempat ini dan meledakkan gudang persenjataan kita."
"Lalu kalian tidak bisa menangkapnya? Kalian berjumlah sepuluh ribu orang di sini! Bagaimana mungkin kalian dikelabui oleh mereka yang paling-paling hanya berjumlah seratus orang?!" Seunghyun kembali meninggikan suaranya. "Aku dengar para subjek percobaan juga berhasil kabur. Kenapa bodoh sekali kalian sampai kehilangan subjek percobaan kita yang berharga? Para Omega—dan juga Park Jihoon! Padahal Hyung-sik sudah menjanjikan kami dan juga Songun kalau Jihoon bisa dipastikan akan tumbuh menjadi Omega seperti induknya. Lihat sekarang, dia hilang direbut oleh musuh! Ini artinya kita tidak hanya kehilangan percobaan kita yang berharga, tapi juga sebagian aset dalam jumlah besar!"
Minho hanya bisa berdiam diri di kursinya, memutuskan untuk tidak berkata apa-apa. Di seberangnya, Seungwan sama bisunya di hadapan dua panglima tertinggi militer tersebut. Meskipun mereka tidak semengerikan dan sebengis Hyung-sik, posisi mereka membuat semua kata-kata yang keduanya ucapkan tidak terbantahkan.
Siwon menyela ucapan adiknya, "Aku juga mendengar rumor mengenai kelompok Yeokjuk yang melakukan aliansi dengan Korea Selatan. Apa benar begitu, Minho?" ia bertanya dengan takzim pada adik bungsunya yang sedari tadi duduk dalam postur tubuh tegang.
Buru-buru Minho membungkukkan tubuh. "Ye. Mereka menyerang tempat ini pada bulan Juni dan saat kami selidiki, Seojoon membawa serta Pasukan Brigade Khusus ke 13. Wajah salah satu dari mereka terekam oleh kamera. Dia dikenal sebagai Heugpyobeom Korea Selatan."
"Lalu di mana Hyung-sik sekarang? Apa dia masih belum sadarkan diri?"
"Kami membawanya ke fasilitas kesehatan di tingkat atas sesuai dengan instruksi dari Songun."
Siwon menegakkan diri dari kursi, "Kalau begitu bawa kami ke tempatnya berada sekarang."
Minho kembali membungkukkan tubuh dan ikut menegakkan diri sebelum mengantar kedua kakaknya ke unit kesehatan yang terletak pada lantai tiga bangunan Komisi Militer Korea Utara. Dalam unit kesehatan tersebut, perawat dengan pakaian berwarna putih mondar-mandir dengan tugas masing-masing. Beberapa di antara mereka memberi salam pada tiga bersaudara tersebut dan beralih lagi pada kewajibannya.
Ketiganya berhenti di depan sebuah ruangan yang dikelilingi oleh tembok kaca transparan tempered glass, di mana Hyung-sik masih dalam keadaan koma dan harus dibantu oleh tabung-tabung sebagai penyokong kehidupannya. Seorang perawat bernama Minseok memaparkan mereka tentang keadaan terkini Hyung-sik. "Luka-luka di tubuhnya mulai membaik. Aktivitas otak dan detak jantungnya juga sudah jauh lebih normal daripada kemarin. Tinggal menunggu kapan ia akan membuka matanya."
Siwon mengangguk paham dan menoleh pada adik bungsunya. "Kalau begitu segera kabari kami setiap kali ada berita terbaru tentang Hyung-sik. Salah satu dari kami harus segera kembali ke pangkalan militer Amerika di Asia Tenggara. Aliansi pasukan kita dengan mereka terpaksa dipukul mundur oleh tentara Thailand. Kabarnya mereka dibantu oleh negara pecahan Cina dan menyulitkan operasi militer di sana."
Minho menegakkan tubuh dan memberi salam militer pada kedua kakaknya, melihat keduanya pergi meninggalkan unit kesehatan tak lama kemudian. Minho bertukar beberapa patah kata dengan Minseok dan menyusul keluar sesudahnya.
Minseok yang kini hanya sendirian di dalam ruang sunyi berisikan tabung gas medis dan mesin penyokong kehidupan Hyung-sik, bermaksud mengecek kembali detak jantung Hyung-sik ketika tiba-tiba saja monitor pasien berdenging nyaring. Ia menekan beberapa tombol, mengernyitkan dahi karena merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan monitor tersebut sampai ia merasakan lehernya dicekik oleh seseorang. Minseok berusaha melepaskan diri dari jeratan tangan di lehernya tersebut, menyadari kalau yang mencekik tak lain dan tak bukan adalah Hyung-sik.
Alpha itu spontan membuka matanya—yang tampak berwarna merah saat menyorot ke sekeliling ruang. Ia menarik Minseok hingga Beta itu bisa merasakan desahan napas panas milik Hyung-sik di telinganya.
"Katakan. Di mana mereka?"
TBC
Catatan Penulis:
Karakter di dalam bagian cerita ini adalah sebagai berikut:
Kelompok Minguk:
Jeon Jungkook aka JK (25), Kim Taehyung (27), Kim Namjoon aka RM (27), Kim Seokjin aka Jin (29), Jung Hoseok aka Hobi (27), Min Yoongi aka Suga (28), Park Chanyeol aka Yeol (26), Kim Yugyeom aka Brown (25), Kim Won-sik aka Ravi (28), Park Jinyoung (27), Lim Jaebeom (27), Wang Jackson aka Jackson (27).
Pasukan Brigade Khusus ke 13 yang gugur:
Do Kyung-soo aka DO (27), Kim Jongdae aka Chen (28)
Pasukan Korea Utara yang gugur:
Kim Jong-In aka Kai (26), Lee Jae-hwan aka Ken (28), Seo Eunkwang (28), Shin Dong-geun aka Peniel (27), Yook Sungjae aka Sungjae (27)
Pasukan Korea Utara di Pyongyang:
Park Hyung-sik (31), Choi Siwon (37), Choi Seunghyun (36), Choi Minho (31), Son Seungwan (27).
Awalnya saya berpikir bagian ini akan berakhir sampai 20k words, tapi ternyata malah berakhir di 40k words. Jadi inilah alasan keterlambatan saya mengupdate. Alasan lainnya sekarang rutinitas udah kembali sibuk dan cuma kebagian nulis di atas jam 5 sore. Sekarang juga kecepatan saya menulis menurun—yang biasanya sehari bisa dapat beribu-ribu words seperti waktu menulis Balameun, sekarang cuma dapat 2k words sehari udah bersyukur banget :") apalagi kalau saya nulis, pasti saya akan baca lagi untuk memperhatikan ceritanya ga monoton dan dialog antartokohnya mengalir. (Cuma kayaknya di bagian ini ada beberapa dialog antartokohnya yang terlalu dipaksakan ya? haha) Dan jujur bagian ini adalah bagian yang paling saya benci dan paling menguras otak karena plot yang terlalu banyak, ada banyak karakter yang muncul dan juga dibunuh, makanya pengembangan karakter Taehyung dan Jungkook banyak berkurang. Jadi kalau membosankan, harap dimaklumi.
Ah ya, soal glosarium, mulai sekarang saya akan update di akhir bagian catatan penulis, tapi hanya istilah dalam bahasa Korea, ya (kalau bahasa Indonesia, kalau kalian sering baca nanti akan paham kok hehe). Soal revisi buat bagian cerita sebelum-sebelumnya, saya sedang mulai lakukan. Jadi kalau ada yang menyadari sedikit perubahan pada cerita di bagian lama, harap-harap waspada haha.
Untuk spoiler, pola cerita ini akan mirip-mirip dengan Balameun dan akan berakhir di bagian 16 kalau sesuai ekspetasi. Jadi harap-harap mempersiapkan diri.
Sampai jumpa di bagian selanjutnya! (yang entah kapan bisa saya update. Saya usahakan secepatnya)
Glosarium:
Bandolier: Sabuk bersaku, berfungsi menyimpan amunisi.
Chugyeokja: Sekumpulan orang yang terjangkit dampak dari senjata biologis. Secara harafiah, artinya orang gila—sinting.
Chung-ui: Salam hormat Korea Selatan. Diucapkan oleh lawan bicara yang sudah mengucapkan Dangyeol. Artinya loyalty.
Daehanminguk Gukgun: Angkatan Bersenjata Korea Selatan
Daehwi: Kapten
Daejang: Pasukan Jenderal
Daetonglyeong: Presiden, pimpinan kepala negara
Daewonsu: Wakil Marsekal
Dangyeol: Salam hormat Korea Selatan. Artinya unity
Hanbando Bimujang Jidae: Korean Demilitariazed Zone, zona demiliterisasi Korea
Heugpyobeom: pantera hitam, julukan Jungkook
Wonsu: Marsekal atau perwira tinggi MIliter Korea
Songun: Military First, bisa berarti juga kepala negara Korea Utara
Terima kasih yang sudah mereview sebelumnya, xoxo: Serdadu Hatsuki, teman minum kopi, , Reinacchi, blankook, nInEtAILf0X, bulanagustus, Abcd-san, drei.z13, ras, vitch9795, secrella, Shouharaku, NF, Violetta Rett, , Mpus, KINDA ASDFGHJL (kok namanya susah diketik ya), kirscthein, sangjoon61
