PUZZLE

Pair : WonKyu, HaeBum, HanChul

Genre : Romance, family

Disclaimer : All is belong to God, Super Junior belong to Elf

Warning : miss typos, OOC, YAOI (Except Heechul female), fast chennel, bad language, etc.

.

.

::[]::

PUZZLE

By JojoHye

::[]::

.

.

Seorang namja kecil menangis dengan kerasnya di bandara Incheon pagi itu. Ia yang terpisah dari gandengan ummanya terus saja memanggil-manggil nama sang umma sembari mencari-carinya.

"Umma, eodiga? Hae mau pulang..." Rengekannya yang semakin keras itu tidak membuat seorangpun dari pengunjung bandara Incheon untuk merasa iba. Ckckck, serendah inikah rasa kepedulian mereka?

"Umma..."

PLUK

Ia menoleh saat tiba-tiba bahunya serasa ditepuk pelan dari arah belakang. Dan disana berdirilah seorang namja kecil lain berkaos biru yang tengah tersenyum manis padanya.

"Nuguya? Hiks, hiks..."

"Uljimma...," kata namja kecil itu. "Jangan menangis, ne?"

"Tapi ummaku hilang, dan aku mau pulang..." Ia menjawab pertanyaan namja kecil itu masih dengan sesenggukan.

"Ne, aku tahu, sekarang ulurkan tanganmu."

Ragu-ragu ia menuruti perkataan namja kecil berkaos biru itu, tapi akhirnya ia tetap mengulurkan tangannya.

"Ini, untukmu."

"Apa ini? Aneh..."

Ia menatap sebuah bongkahan kayu berbentuk aneh yang diberikan sang namja kecil di telapak tangannya. Aneh sekali, seorang namja asing tiba-tiba memberinya benda yang tak kalah asing.

"Ini akan membawa keajaiban, percayalah padaku," ujar namja kecil itu masih dengan terus tersenyum.

"Jinjja?" Ia sejak tadi menangis, tapi sekarang matanya berbinar senang.

"Ne. Sekarang pejamkan matamu," perintah namja kecil itu lagi padanya, dan ia lagi-lagi menurut begitu saja.

Dirasakannya tubuhnya diputar 90 derajat oleh namja kecil itu, mungkin ia yang tadi menghadap ke selatan telah mengahadap ke arah barat sekarang.

"Buka matamu sekarang..."

Perlahan ia membuka matanya, mengerjapkannya beberapa kali. Sayup-sayup ia melihat seorang yeoja berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa.

"UMMA!" teriaknya senang. Yeoja yang tengah berlari itu memang ummanya yang tadi menghilang dari pandangannya. Ia begitu gembira melihatnya. Senyumannya terkembang sangat lebar menandakan ia sangat lega menemukan kembali ummanya berkat bantuan namja kecil itu.

"Benar'kan apa kataku, ini membawa keajaiban."

"Ne, jeongmal gomawoyo... eum... hyung?"

"Ne. Hae-ah, simpan ini baik-baik ne? Appaku bilang ini akan membawa keajaiban jika aku berhasil menyatukannya dengan potongan-potongan yang lain." Namja itu memegang bahunya, seperti memberinya sebuah kepercayaan besar.

Tunggu, 'Hae-ah'?

Darimana namja kecil itu bisa tahu? Kenal saja tidak.

Ck, biarkanlah, setidaknya ia merasa senang karena namja kecil itu membantunya untuk menemukan kembali ummanya.

"Kalau begitu, kenapa kau memberikan ini padaku? Bukankah kau harus menyatukannya?"

"Arra, jika kau bertemu lagi denganmu, aku akan mengambilnya. Dan potongan yang kau miliki ini akan menjadi pelengkap puzzle-ku, arraseo?"

"Ne, hyung. Aku akan menyimpannya baik-baik, gomawo..."

"Aku harus pergi Hae-ah, pay-pay... Adikku pasti mencariku..." Namja kecil itu mengusap kepalanya lembut lalu berjalan menjauh.

"Ne, hyung, hati-hati..." Ia menatap namja kecil itu yang sudah melangkah jauh darinya. Ia tersentak sendiri saat disadarinya ia belum menanyakan siapa nama namja kecil itu. Dan akhirnya ia hanya bisa melambaikan tangannya dari jauh.

"Donghae-ah, kemana saja? Umma sangat khawatir..." Ummanya yang baru saja tiba, menepuk-nepuk bahunya seolah meluapkan rasa khawatir yang mendera. "Eh? Siapa itu?"

"Dia, hyung baru Hae, umma..."

"Hyung?" tanya ummanya bingung.

'Donghae-ah, simpanlah puzzle itu dengan baik. Aku akan membutuhkannya nanti. Percayalah, itu akan membawa keajaiban. Percaya padaku...'

.

::[]::

Flashback End

::[]::

.

Donghae masih bergelut di atas ranjangnya. Ia tersenyum sendiri sembari menimang-nimag potongan kayu kusam ditangannya. Matanya menerawang, mengingat-ingat memorinya. Mengingat kembali wajah manis namja kecil yang memberikan potongan puzzle kayu untuknya dan mengatakan jika puzzle itu membawa keajaiban.

"Dasar bodoh, kenapa tidak tanyakan namanya, Hae?!" rutuknya pada diri sendiri.

Ia kembali menatap potongan puzzle itu. "Apa benar ini membawa keajaiban? Kenapa hyung itu sangat yakin akan bertemu denganku lagi? Haha, konyol!"

Tok tok tok. Tiba-tiba suara pintu kamarnya seperti diketuk oleh seseorang. Terpaksa ia bangun untuk membukanya. Sebelumnya ia meletakkan kembali potongan puzzle yang digenggamnya ke dalam kotak dan ditaruhnya di atas meja.

"Umma?" Ibunya kini telah berdiri di depan pintu dengan senyum paling menawan, tapi Donghae tahu senyuman itu pasti ada maunya.

"Hae, ayo ikut umma." Benar'kan...

"Eodiga?"

"Umma, harus pergi ke rumah sakit menjenguk seseorang."

"Arraseo..."

.

Sepasang suami istri itu -Tan Hangeng dan Kim Heechul- hanya saling diam satu sama lain. Tak ada satu suarapun yang terdengar sejak satu jam yang lalu. Saling menatap saja tidak apalagi untuk bersikap lembut dan mesra seperti biasanya. Keduanya menatap ke satu arah yang sama. Menatap namja yang terbujur lemah di hadapan mereka, kosong, iba, sedih, atau menyakitkan? Entahlah.

"Jebal..." Dan satu suara akhirnya memecah hening. Suara seorang Kim Heechul mampu membuat Hangeng tersadar dari gulatan pikirannya.

"Jebalyo, Hangeng-ah, jebal... Jangan benci anak ini."

DEG

Ada seberkas rasa sakit saat Hangeng menangkap kalimat sesederhana itu. Hatinya bagai teremas oleh kata-kata manis yeoja di depannya ini. Yeoja penipu ini memang perangkai kata yang baik. Mudah sekali ia membuat hati Hangeng terenyuh.

"Jebal... Dia hanya kesepian, dia terluka, Hangeng-ah."

"..."

"Kau tahu, ini semua karena kesalahanku." Yeoja bernama lengkap Kim Heechul itu lagi-lagi berhasil membuat Hangeng merasa terhempas jauh. Air mata yang mulai menggenang itu, sungguh Hangeng ingin menghapusnya, tapi tidak bisa.

"Ini semua salahku, bukan Kibum atapun Kyuhyun, percayalah..."

"..."

"Kyuhyun sangat mencintaimu, jangan buat dia terluka lagi untuk kesekian kalinya, jebal..."

DEG

Namja paruh baya itupun akhirnya tidak mampu menahan air matanya untuk turun. Tak sadarkah wanita itu jika ia juga terluka? Tan Hangeng, lelaki bodoh ini juga ingin menangis karenamu, Kim Heechul. Tak sadarkah betapa sulitnya untuk kembali mempercayai kata-katamu? Mempercayai seseorang yang kau cintai tapi justru menyakitimu. Itu sangat menyesakkan.

Tidak membenci Kyuhyun? Entah Hangeng bisa melakukannya atau tidak. Lelaki bodoh ini tidak mau tertipu lagi, tidak mau merasakan sakit yang hampir membunuhnya lagi.

"Jebal, pahami hatiku juga, Heechul-ah."

DEG

Satu kalimat itu mampu membuat Heechul terhenyak. Sungguh ia lupa jika ia juga telah menyakiti hati suaminya. Segala hal baik yang diberikan oleh suaminya hanya dibalas luka olehnya. Semua yang ia lakukan memang serasa tidak berguna. Wanita sebrengsek dirinya memang selalu salah. Ia tahu, ia sadar.

Ia menatap mata sayu suaminya itu penuh rasa bersalah. Manik mata yang mulai memerah dengan air bening yang tergenang banyak. Sorot kepedihan. Itu juga membuat Heechul merasa sesak.

'Hannie...' Ia menyesal, sungguh. Cinta yang diberikan oleh suaminya setulus hati, ternodai oleh perilaku kotornya. Kebohongan dan kemunafikan yang selama ini menjadi topengnya berhasil membuat Hangeng hancur.

Ia tahu, ia tak berhak menangis. Tapi melihat genangan air di kelopak mata yang sedang ditatapnya kini juga telah membuat hatinya bagai disayat belati.

"Mianhae... Jeongmal mianhaeyo, jeongmal mianhaeyo..." Itulah kata yang hanya mampu ia ucapkan untuk suaminya yang terlanjur terluka ini. "Mianhae..."

Tuhan... kenapa bisa serumit ini? Dua orang itu sebenarnya sama-sama terluka. Semua yang ada dalam kisah ini terluka. Wae? Kenapa selalu harus ada air mata disini?

"Han, mianhae... hiks hiks." Kim Heechul, katakan saja, jika sebenarnya kau juga diam-diam mencintainya. Memendam cintamu untuk mencapai tujuan utamamu untuk mendapatkan materi sekarang justru menjadi boomerang untukmu. Menyakitkan bukan? Kau selalu bilang ini demi anakmu, tapi anakmu juga tidak akan senang jika kau terluka seperti ini. Mereka pasti juga tidak mau ibu mereka mengesampingkan kebahagiaannya hanya untuk melakukan hal keji dengan alasan demi kehidupan mereka.

Katakan saja, maka dia akan mengerti. Jangan sampai ada kepalsuan lagi, Kim Heechul. Katakan bagaimana kau sesak memendam cintamu.

"Han... Hangeng-ah-"

"Arraseo, Chullie-ah. Berpura-puralah seperti tidak terjadi apa-apa!"

BRAK

Pintu tertutup dengan suara yang sangat keras, hampir saja meruntuhkan kayunya –dan meruntuhkan hati Heechul-. Hangeng keluar dengan langkah sedikit berlari. Namja itu bahkan tak memberikan kesempatan untuk yeoja-nya berbicara.

DEG

DEG

DEG

Ia menatap kepergian suaminya, Kim Heechul dengan ekspresi terlukanya. Ia belum sempat bicara. Ia belum sempat mengatakannya. Belum sempat mengucapkan 'Aku mencintaimu, Hangeng-ah...' Kali ini benar, cintanya sepenuh hati, bukan lagi kepalsuan seperti kemarin-kemarin. Tapi kenapa? Kenapa suaminya itu tidak memberikannya kesempatan sekali ini saja?

'Han, sungguh maafkan aku. Saranghae...'

.

Nyonya Choi masih sibuk membuka lembar-lembar majalah terbitan minggu ini dengan santainya sebelum tiba-tiba anak semata wayangnya datang dengan langkah kasar ditambah sebuah dobrakan pintu yang membuatnya terjengit kaget.

"Aish... SIWONNIE, UMMA TIDAK MENGAJARKANMU UNTUK BERBUAT TIDAK SOPAN SEPERTI INI! Kau membuat umma kaget!" Wanita itu membanting majalahnya lalu menatap sang anak kesal. Namun sayang, tatapan kemarahannya tak sebanding dengan tatapan milik anaknya. Kemarahan dengan kadar yang melebihi batas maksimal, bahkan nyonya Choi yang awalnya ingin mengomel jadi bungkam.

"W...wae chagi? Apa kau punya masalah? Katakan pada umma, barangkali umma bisa membantumu," katanya dengan sedikit rasa takut melihat wajah putranya yang biasa tersenyum itu kini terlihat sangat... err menyeramkan.

"Umma, wae?"

"Huh? Mworago? Apa maksudnya? Umma tidak mengerti. Apanya yang wae?"

"Kenapa umma tidak bilang?"

"Apa maksudmu, Siwonnie?"

"Kenapa umma berbohong seperti ini? Kenapa umma bisa membohongiku?"

DEG

Bohong? Masalah apa Nyonya Choi berbohong pada anaknya?

"Bohong apa, Wonnie?"

"Kenapa umma tidak mengakui jika aku adalah putra kandung umma?"

DEG

DEG

"Siwonnie..." Nyonya Choi hanya bisa membatu. Rahasia yang selama ini ditutupinya akhirnya terbongkar dengan sendirinya. Ia yang mencoba sekeras mungkin menutupi rahasia ini agar nama baik keluarganya tidak tercemar, tapi akhirnya sia-sia. Anaknya sendiri yang telah mengetahuinya.

Namja itu jatuh berlutut di hadapan sang umma. Namja yang bernama Siwon itu menunduk dalam kesedihan dan kemarahannya pada sang umma. "Wae, umma?"

Pertanyaan dari sang putra yang terus menanyakan 'kenapa?' membuat Nyonya Choi kebingungan setengah mati. Mana mungkin ia akan menjawab jujur dengan mengatakan ia sengaja menyembunyikan Siwon karena Siwon adalah putra hasil hubungan gelapnya dengan sang suami sebelum mereka menikah untuk menjaga nama baik keluarganya yang terlalu termasyur di seluruh Korea itu? Mana mungkin?! Yang benar saja! Bisa-bisa anaknya akan mati bunuh diri.

"Aniya, Wonnie... Umma tidak mengatakannya karena umma menunggu waktu yang tepat." Ia merangkul tubuh anaknya namun selalu ditepis. "Jangan begini, Siwonnie..."

Siwon mendongak, matanya sudah berair banyak dengan warna merah yang kentara. "Waktu yang tepat? Kapan? Bahkan sampai aku sebesar ini umma anggap bukan waktu yang tepat?"

Benar, ini salah Nyonya Choi. Ia selalu mengulur-ulur waktu untuk mengungkap rahasianya. Ia selalu mencari-cari alasan agar rahasianya itu berhasil disembunyikannya dari sang putra.

"Apa umma tahu, kebohongan ini sudah membuat seseorang terluka, umma..."

'Mwo?'

"Mungkin aku tak apa jika umma membohongiku. Tapi, seseorang terluka parah karena perbuatan umma... Perbuatan kita..."

Benarkah? Jika begitu kenapa Siwon bisa sampai menangis seperti ini? Bukankah yang terluka bukan Siwon?

"Dia sakit, umma, dan ini karena kita." Nyonya Choi menatap putranya yang tengah memukul-mukul dadanya sambil menangis itu. Ia sedih, tak pernah sebelumnya ia meihat putranya menangis seperti ini. Kenapa anaknya bisa menjadi namja lemah seperti ini? Choi Siwon yang ia kenal, adalah namja yang selalu tersenyum meski ia mendapat masalah, tapi kali ini berbeda. Ia sebagai seorang ibu tahu jika sekarang ini anaknya merasa benar-benar berduka.

"Nugu? Nuguya, Siwon-ah?" Ia bertanya namun putranya malah masih menangis sesenggukan.

Jangan salahkan Siwon jika ia tak mampu berkata-kata hanya karena sedih yang terlalu dalam. Bagaimana tidak sedih, jika orang yang kau cintai tersakiti karena ulah keluargamu? Dan sekarang orang terkasihnya itu sedang dalam kondisi sakit dan terluka parah. Bagaimana Siwon bisa menahan air matanya jika begini?

"Dia terluka karena aku..."

"Mian, mianhae, Siwon-ah. Maafkan umma..." Nyonya Choi kali ini mencoba memeluk Siwon lagi, dan akhirnya putranya itu tidak menolak. Sekarang dirasakannya bahunya basah oleh air mata sang putra. Ia mengambil tindakan dengan menepuk-nepuk bahu anaknya, sekedar menenangkan dan meminta maaf.

"Bagaimana ini, umma? Aku sudah terlanjur melukainya, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Hiks, hiks...," kata Siwon seolah mengadu pada sang umma, menyalurkan kegelisahan dan kesedihannya yang ia rasakan begitu bergemuruh di hatinya.

Hm... Ya, ibunya tahu jika Siwon bernar-benar merasa terpuruk saat ini. Nyonya Choi paham, orang yang dimaksud Siwon adalah orang yang sangat dicintai oleh anaknya itu. Semua masalah ini adalah akibat kesalahpahaman Siwon yang berakar pada satu kebohongan yang dibuat oleh Nyonya Choi. Dan ia berjanji akan menebus semua kekecauan akibat kesalahannya itu.

"Jangan menangis, chagi... Maafkan umma, ne? Umma akan memperbaiki semuanya. Ini kesalahan umma, jadi jangan salahkan dirimu. Kau mau memaafkan umma?"

"Bisakah aku mempercayai umma?"

"Percayalah, chagi, kali ini umma tidak akan berbohong lagi padamu."

Bersabarlah sedikit Choi Siwon, semuanya akan segera membaik, dan bisa dipastikan luka kekasihmu itu akan segera sembuh. Tunggu sebentar saja, maka keajaiban itu akan datang.

.

Donghae mengikuti langkah ummanya dari belakang. Sejak tadi ia memperhatikan jalan di lorong rumah sakit ini, dan sepertinya ia pernah melalui jalan itu. Tapi, apa iya?

"Umma, sebenarnya siapa yang akan umma jenguk?" tanyanya sekedar mengusir rasa penasaran.

"Dia anak sahabat umma yang sudah lama tidak bertemu dengan umma, Hae-ah."

"Eum...," jawab Donghae dan selanjutnya ia tak lagi bertanya pada ummanya.

Jika dilihat-lihat, jalan ini seperti jalan yang menuju ke ruang rawat seseorang. Donghae yang sejak tadi sudah merasa aneh, kini bertambah yakin saat melihat nomor ruang rawat yang ada di hadapannya ini. Ia yakin sekali, ini kamar rawat KYUHYUN?

"Umma... ini..."

"Sudah cepat ayo masuk, umma akan memperkenalkanmu dengan Tuan Tan, sahabat umma, kemarin umma bertemu dengannya saat di bursa saham. Kajja!"

Donghae berdiri diam di depan pintu sementara ummanya sudah melangkah masuk. Ia masih meimirkan sesuatu tentang kaitan antara ummanya, Tuan Tan, dan Kyuhyun. Tuan Tan? Sahabat ummanya? Ini kamar rawat Kyuhyun dan marga Kyuhyun adalah Tan. Jadi ayah Kyuhyun itu... sahabat ummanya. Setelah beberapa detik ia berfikir akhirnya ia mengikuti ummanya masuk.

"Annyeong... Hangeng-ah?" sapa Nyonya Lee ramah. Setibanya ia di dalam ruangan, sang sahabat langsung saja menyambutnya dengan sebuah pelukan.

"Ah, annyeong, Sora-ah, lama tak bertemu bagaimana kabarmu?"

"Ah, kau ini berlebihan, kemarin kita 'kan baru bertemu."

"Kau benar hahaha..."

Dua sahabat itu saling bercengkrama, hampir saja melupakan sesosok yeoja yang duduk di tepi ranjang sembari menatap keakraban mereka dengan sedikit rasa cemburu.

"Oh iya, bagaimana keadaan anakmu? ASTAGA, NYONYA KIM!" Wanita bernama lengkap Lee Sora –ibu Donghae- itu begitu terkejut tatkala mendapati seorang yeoja yang begitu lama tak ia jumpai tengah duduk di hadapannya. Yeoja yang dicarinya bertahun-tahun itu kini telah muncul di depan matanya dengan tak disengaja.

Donghae yang menyusul di belakangnya tak kalah terkejut setelah mendapati sosok Kyuhyun ada di dalam kamar itu. Perkiraannya jika ia pernah melewati lorong rumah sakit itu memang benar adanya. Ia sering melewatinya jika ingin menjenguk Kyuhyun.

"Nyonya Lee?" Yeoja yang duduk di tepi ranjang itu –Heechul- juga akhirnya bangkit dari duduknya karena keterkejutannya akan kehadiran sosok yeoja yang dulu pernah bersimpuh sujud untuk meminta maaf kepadanya akan kesalahan anaknya yang membuat suatu kefatalan.

"Nyonya Kim, bagaimana bisa anda...?"

"Dia istriku, Sora-ah...," potong Hangeng cepat. Dan ia membuktikan jika ia benar-benar sedang berpura-pura jika tidak terjadi apa-apa saat ini. Membuat yeoja-nya semakin bersedih.

"Istri? Jadi..."

"Ne, aku menikah dengan Hangeng, Nyonya Lee."

"Nyonya Kim, senang sekali bisa bertemu dengan anda. Anda kemana saja? Kami mencari anda selama ini." Nyonya Lee menjabat tangan Heechul kemudian memeluknya erat.

"Kalian saling kenal?"

"Tentu, kami sudah saling kenal sejak sebelas tahun yang lalu. Ah, iya, perkenalkan ini putraku Lee Donghae. Donghae-ah ayo beri salam."

"Ne, annyeong..."

"Kau, teman sekelas Kyuhyun 'kan? Bukankah kau sering berkunjung kesini?" tanya Heechul.

"Ne, ahjumma." Rasanya ada sedikit rasa senang saat Heechul mengajaknya bicara seramah ini, Donghae merasa jika Heechul memperhatikannya dari emarin saat mengunjungi Kyuhyun.

"Nyonya Lee, apa ini putra anda yang dulu?" tanya Heechul.

"Ne, Nyonya Kim, dia adalah putraku. Donghae-ah, kau tak ingat pada Heechul ahjumma?" Nyonya Lee menatap mata anaknya, meminta Donghae kembali mengingat kejadian sebelas tahun lalu.

"Eum, memang ahjumma ini siapa, umma?"

DEG

Astaga, Donghae... ingatanmu buruk sekali tentang seseorang. Bisa-bisanya kau melupakan ahjumma ini.

"Donghae-ah, kau tak ingat kecelakaan sebelas tahun yang lalu?"

.

::[]::

Flashback

::[]::

.

"Donghae, chagi, jangan bermain dekat dengan jalan raya, dan masukan mainanmu itu ke saku-mu." Perintah ibunya seolah tak di gubris oleh Donghae. Ia masih saja bermain di tepi jalan sembari memainkan potongan kayu yang didapatnya tiga hari yang lalu dari seorang namja kecil manis yang mengatakan jika potongan kayu itu akan membawa keajaiban.

"Lalala," nyanyinya riang sembari melompat-lompat bolak-balik dari kanan ke kiri lalu berbalik lagi. Ia bosan menunggu ibunya yang sedang memilih booklet di toko bunga, jadi ia memutuskan untuk bermain sendiri saja.

Tak disadarinya ia melompat-lompat terlalu jauh dari ibunya. Terus ia bernyanyi riang dan tak memperhatikan jalan. Ia terus saja bermain dengan teledor akan bahaya hingga akhirnya ia jatuh tersungkur karena tersandung oleh batu yang entah kenapa bisa ada di tepi jalanan bersapal seperti itu.

BRUK~ Ia jatuh tersungkur.

"Hua... puzzle, puzzle..." Potongan kayu itu terlepas dari tangannya, terus menggelinding ke tengah jalan raya. Ia yang meskipun sakit karena terjatuh dengan sedikit keras namun segera saja berdiri dan berlari guna mendapatkan puzzle-nya kembali.

Lagi-lagi ia teledor. Anak kecil seperti dirinya memang tak mengerti bagaimana bahayanya jalan raya, hingga ia menyeberang dengan seenaknya sendiri. Donghae yang masih berusaha mengejar potongan puzzle-nya yang terus menggelinding jauh, tak menyadari sebuah mobil melaju ke arahnya.

Tin... tin... Beberapa kali mobil itu mengklakson, namun Donghae menghiraukannya. Nyonya Lee yang akhirnya juga sadar jika putranya sedang dalam bahaya hanya mampu menjerit-jerit histeris memanggil nama anaknya untuk segera minggir namun hasilnya nihil.

"DONGHAE-ah..."

TIN... TIN...

BRAK!

"Aish, kau nakal ne, puzzle. Kau pikir aku tak bisa menangkapmu? Eoh?"

Ya Tuhan bocah kecil itu selamat. Ia jutru tersenyum senang karena telah mendapatkan potongan kayu-nya kembali. Dasar anak kecil, ia tak tahu malapetaka apa yang baru saja dibuat oleh tingkah konyolnya ini. Mobil yang tadi hampir saja menabraknya kini sudah remuk menabrak pagar pembatas jalan. Mobil yang sudah sangat dekat dengan tubuhnya itu terpaksa banting setir tampa mempedulikan keselamatan penumpangnya sendiri hanya demi seorang anak kecil.

Nyonya Lee diam membatu di tempatnya berdiri. Ia tak mampu berkata apapun setelah melihat kejadian yang baru saja di akibatkan oleh kecerobohan anaknya. Ia terpaku melihat sebuah mobil yang hancur menabrak pagar pembatas jalan untuk menghindari tabrakan dengan tubuh putra kecilnya.

Mobil itu mengeluarkan asap tebal, hingga beberapa saat kemudian muncul seorang yeoja berpakaian hanbok warna hitam dengan seorang anak kecil. Yeoja itu keluar dari pintu mobil sembari menggandeng tubuh si namja kecil. Keduanya memiliki keadaan yang sama, luka di sekujur tubuh mereka dengan banyak darah. Yeoja itu lalu berjalan ke arah kanan lalu tampak mengetuk-ketuk kaca pintu mobil itu.

"Kyunnie... Kyunnie-ah, kau dengar umma? Ayo keluar chagi..." Kira-kira seperti itulah kalimat yang diucapkan yeoja itu di tengah isakannya. Kemudian beberapa orang datang membantunya mendobrak pintu mobil yang terkunci rapat itu dan berhasil mengeluarkan tubuh namja kecil yang sempat terjebak di dalamnya. Sepertinya namja kecil itu terluka parah.

"Kyunnie-ah, bangunlah chagi, ini umma, kau tak boleh tidur..." Yeoja itu memeluk erat tubuh putra kecilnya sembari menepuk-nepuk pipi sang anak. Sementara namja kecil lain yang berdiri di sampingnya terus menangis menggumamkan nama 'Kyunnie...'

'Donghae-ah, ini masalah besar.'

.

Nyonya Lee duduk di bangku rumah sakit dengan resah. Di sebelahnya telah duduk seorang yeoja yang tengah memejamkan kedua matanya sembari memanjatkan do'a untuk putranya yang sedang berjuang menghadapi maut.

Dua orang namja kecil juga duduk berhadapan disana. Satunya berjongkok di timur lorong dan satunya duduk di kursi barat lorong. Namja kecil yang sedang berjongkok itu sedari tadi menangisi sang adik yang sedang diperiksa oleh dokter. Ia tak mempedulikan perih yang melandanya karena luka lecet akibat kecelakaan beberapa jam yang lalu. Sementara namja yang duduk di sebelah sang umma menatap namja kecil di hadapannya dengan tatapan bingung. Ia tak mengenali jika namja kecil yang tengah menangis itu adalah namje kecil yang memberinya sebuah potongan puzzle tiga hari yang lalu di bandara Incheon. Wajahnya yang berlumuran darah membuat tampang manis dan imut milik namja kecil itu tertutupi.

Tak lama dokter keluar. Nyonya Lee dan yeoja itupun sontak berdiri menghampiri dokter.

"Uisa, bagaimana putra saya?" tanya yeoja itu buru-buru, saking khawatirnya.

"Nyonya, maafkan saya. Putra anda mengalami cidera parah di daerah sekitar pita suaranya. Putra anda mengalami cacat permanen. Pita suaranya tidak akan dapat berfungsi lagi dengan baik."

DEG

DEG

DEG

Seketika itu juga Nyonya Lee menutup mulutnya, ia sangat terkejut akan apa yang dikatakan dokter. Ia menatap yeoja yang sejak tadi ada di sampingnya itu prihatin. Yeoja itu terduduk lemas, perlahan air matanya turun. Ingin sekali Nyonya Lee merangkulnya, tapi apa yang bisa ia lakukan? Putranyalah penyebab semua ini.

"Nyonya..."

"Hiks, hiks, Kyunnie..."

Sungguh rasanya tidak enak sekali, Nyonya Lee hanya ingin bermaksud meminta maaf. Tapi kenapa begitu sulit?

"Nyonya, mianhamnida, maafkan saya karena kecerobohan anak saya."

"HIKS, HIKS, KYUNNIE..." Tangisan yeoja itu bahkan semakin keras sampai tak menanggapi kalimat Nyonya Lee.

Seolah kehabisan akal dan saking frustasinya, Nyonya Lee akhirnya berlutut di depan yeoja itu sembari meminta maaf. Ia tak sanggup lagi menahan rasa bersalahnya. Ia yang teledor menjaga sang putra hingga bermain di jalanan dan menyebabkan kecelakaan separah ini.

Yeoja itu masih bertahan dalam tangisnya, ia tak berminat sedikitpun menanggapi Nyonya Lee di tengah rasa sedih mendalamnya ini. Suaminya baru saja meninggal karena kecelakaan pesawat dan sekarang putranya harus memikul beban berat seperti ini. Perusahaannya sebentar lagi akan bangkrut dan ia tak tahu harus pergi kemana. Beban hidupnya begitu berat dan ia sungguh lelah tapi Tuhan masih saja memberinya cobaan. Ini tidak adil!

"Nyonya, kami benar-benar minta maaf, kami akan bertanggung jawab."

.

Ini sudah minggu kedua Keluarga Lee selalu berkunjung ke rumah sakit. Mereka berkewajiban menanggung seluruh biaya pengobatan korban kecelakaan dua minggu lalu akibat tingkah ceroboh putra mereka, Lee Donghae. Mereka benar-benar merasa bersalah kepada keluarga Kim –korban kecelakaan itu- apalagi setelah mendengar jika kepala keluarga itu baru saja meninggal dunia.

Dan hari ini seperti biasa mereka datang membawa buah-buahan dan bunga untuk namja kecil putra bungsu keluarga Kim yang divonis menderita luka paling parah. Cacat permanen, pita suaranya rusak, itu berarti... dia bisu untuk selamanya. Ck, kasihan sekali anak itu, rasanya Nyonya Lee saja ingin menggantikan posisinya.

"Annyeong..." Nyonya Lee membuka pintu ruangan rawat itu. Setelah ia masuk ruangan itu didapatinya ruangan yang kosong, tidak ada seorangpun berada disana. Ia terperangah akan menghilangnya keluarga Kim dalam waktu satu malam.

.

::[]::

Flashback End

::[]::

.

"U... umma... ini?"

"Ne, Donghae-ah, ahjumma ini adalah ahjumma Kim yang mengalami kecelakaan sebelas tahun yang lalu. Kau ingat sekarang?"

DEG

Benarkah semua ini? Donghae kembali bertemu dengan orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan sebelas tahun lalu yang diakibatkan olehnya. Ia dulu masih sangat kecil. Namja sekecil dirinya dulu pasti belum mengerti akibat fatal dari kecerobohannya. Dan sekarang ia sudah sebesar ini, sekarang ia sudah tahu seberapa besar kesalahan yang ia lakukan. Bagaimana ia telah membuat sebuah keluarga kehilangan kebahagiaannya, bagaimana ia telah membuat seorang namja kecil kehilangan suaranya, bagaimana ia membuat semua kekacauan ini.

"Nyonya Lee, tolong jangan mengungkit lagi kejadian itu. Aku ingin melupakannya," kata Heechul, auranya berubah dingin dan seperti dikelilingi awan mendung.

"Aniya, Nyonya Kim. Kami ingin menebus semua kesalahan kami. Mianhamnida atas kejadian itu, maafkan kami."

Hangeng memandang dua wanita yang sedang bercakap itu dengan bingung. Apa yang mereka maksud? Kejadian sebelas tahun yang lalu? Kejadian apa? Kecelakaan?

"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" tanyanya pada dua yeoja itu.

"Hangeng-ah, sebenarnya dulu kami pernah bertemu tanpa sengaja dalam sebuah kecelakaan. Waktu itu Donghae anakku menyeberang tanpa melihat jalan dan mobil milik keluarga Nyonya Kim berjalan dari arah timur. Mobil itu lalu menabrak pagar pembatas jalan karena menghindari Donghae. Hiks, hiks, mianhae, Nyonya..."

DEG

Hati Donghae mencelos. Benar, kecelakaan waktu itu memang seperti yang diceritakan oleh ummanya. Ialah penyebab kecelakaan yang membuat seorang namja kecil kehilangan pita suaranya. Penyebab kecelakaan hanya karena mengejar sepotong kayu tak berguna.

"Umma... mi... mianhaeyo... Mianhaeyo, ahjumma... ini semua salahku..."

DEG

"Hae-ah..."

"Mianhae, jeongmal mianhaeyo. Jeongmal mianhamnida, ahjumma... Aku bersalah, aku bersalah, maafkan aku..." Namja itu –Donghae-, ia memberanikan diri membungkuk dalam di hadapan Heechul. Meminta maaf sepenuh hatinya atas kesalahan yang mungkin tak bisa dimaafkan. Air matanya bisa terlolos dengan mudah tanpa halangan. Ia akan melakukan apapun yang dia bisa untuk menebus semua luka yang didapat oleh keluarga Kim karenanya.

Sementara itu Nyonya Lee menatap anaknya dengan sangat terhenyak. Ia sedih melihat anaknya seperti itu. Namun ia juga tak mampu melarangnya, ia juga merasa bersalah pada keluarga Kim. Terutama pada namja kecil itu.

"Mianhaeyo, ahjumma, jeongmal mianhae... Bolehkah aku bertemu dengan putra ahjumma yang terluka parah waktu itu? Biarkan aku meminta maaf padanya. Aku sudah membuat hidupnya hancur, maafkan aku...," tangisnya semakin menjadi, Donghae yang masih memohon dengan penuh rasa bersalah. Ia menatap mata Heechul dalam, meminta yeoja itu mengabulkan permintaannya.

"Aniya..."

DEG

Tangisan Donghae terhenti sejenak setelah satu kata yang diutarakan Heechul, ia merasa terkejut mendengar jawaban yang jauh dari bayangannya. Ia kira Heechul akan menjawab 'iya', tapi nyatanya tidak. Kata itu, apa artinya Donghae dilarang untuk bertemu dengan namja kecil itu?

"Ahjumma, aku mo..."

"Dia sedang tidur, dia sakit parah saat ini, kau tidak akan bisa meminta maaf padanya meski kau memaksa beberapa kali padaku. Lihat saja sekarang, dia tak mau membuka matanya."

DEG

DEG

Nyonya Lee, Donghae, Hangeng, tadinya mereka hanya terbawa suasana duka, tapi sekarang raut wajah mereka menampakan keterkejutan yang tak terkira. Manik mata ketiganya membulat sempurna, terhenyak oleh kalimat yang mereka dengar barusan.

Mereka akhirnya sadar, namja yang tengah tertidur di atas ranjang, namja itu...

Kyuhyun,

adalah namja kecil korban kecelakaan sebelas tahun yang lalu,

anak kecil yang kehilangan pita suaranya,

namja kecil yang terluka paling parah.

"Ahjumma..."

"Kalian lihat 'kan sekarang, anakku sedang sakit, tolong jangan ganggu dia, biarkan dia tidur." Yeoja bernama Heechul itu menghapusi air matanya yang turun bergantian dengan cepat. Ia sudah terlalu sedih bila mengingat kembali kejadian menyakitkan sebelas tahun lalu yang menimpa anaknya.

"Ja... jadi... Kyuhyun?"

"Ne, dia, anakku yang sedang sakit ini adalah namja kecil itu. Kau lihat bagaimana dia terluka karenamu? Apa kau akan meminta maaf padanya sekarang sementara dia saja tak mau bangun dari tidurnya."

DEG

Donghae, andai saja ia tahu sejak awal jika ia mencintai namja yang terluka karena ulahnya, ia akan pergi menjauh. Ia mencintai orang yang jelas-jelas pasti sangat membencinya. Selama ini ia bertanya 'KENAPA KYUHYUN MEMBENCIKU?' dan ia tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu. Namja yang selalu ditanyai olehnya selalu saja bungkam dan menghindarinya tanpa mau menjelaskan. Ia bingung harus melakukan apa sementara namja itu selalu saja menangis di depannya dengan air mata penuh luka. Andai saja, Tan Kyuhyun yang ia cinta mengatakan apa kesalahannya sejak awal, Donghae akan tahu diri sedikit dan memilih pergi.

Ia telah mendapatkan jawabannya sekarang, mengapa Kyuhyun selalu menatapnya penuh benci dan menghindarinya. Itu karena mungkin Kyuhyun sudah tahu jika Donghaelah yang menjadikan keadaannya seperti itu. Itu salah Donghae, ya kesalahan yang fatal.

"Kyu... Kyunnie..."

Tan Kyuhyun, kau, kau yang selama ini terluka. Maafkan semuanya yang tak pernah mengerti hatimu. Bangunlah sekarang dan katakan pada mereka bagaimana hatimu merintih, bagaimana kau menyembunyikan tangisanmu. Jelaskan semuanya pada mereka, jangan seperti ini. Kau membuat umma-mu semakin merasa bersalah. Kau membuat appa-mu juga akhirnya membencimu. Kau membuat hati namja yang mencintaimu juga akhirnya tersakiti.

Namja ikan itu, yang sangat kau benci ingin sekali bertemu denganmu. Dia ingin meminta maaf, dia ingin mengungkapkan seberapa besar rasa bersalahnya. Dia ingin memperbaiki semuanya, mengobati semua lukamu. Jadi tolong bangunlah.

Umma-mu, Kim Heechul. Dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Dia sudah mengerti sakitnya kau selama ini. Dia sudah tahu apa kesalahan terbesarnya dalam hidup, membiarkanmu terluka. Maaf, atas semua kepedihan yang kau rasakan karenanya. Dia menyesal.

Tan Hangeng, ayah angkatmu ini, memang rasanya dia akan sulit mempercayaimu lagi. Tapi sesungguhnya dia sangat mencintaimu meski kau bukan putra kandungnya. Dia tidak membencimu, jadi jangan takut. Dia hanya butuh sedikit penjelasan dan pengertian, maka dia akan mengerti.

Dan seorang namja yang sangat kau cintai, Choi Siwon. Ya, memang dialah yang membuat hatimu sangat terluka. Dia namja brengsek yang kau cinta. Dia namja pemilik senyuman manis yang sering membuatmu tersipu, membuatmu merasa nyaman berada di dekatnya, membuatmu lukamu terasa sedikit ringan. Namun sayang, dia menghina keadaanmu, melempar jauh perasaanmu, lalu semakin mengeruk lukamu yang hampir sembuh. Choi Siwon yang ingin sekali kau menjadikannya sebagai malaikat pelindung namun justru menjadi malaikat maut bersayap hitam bagimu.

Maaf. Ini semua hanya kesalahpahaman belaka. Siwon sudah mengerti sekarang, ia salah telah melukai hatimu, Tan Kyuhyun. Ia pria terbodoh yang menyakiti hati namja-nya. Ia pria terbrengsek di dunia, membuat janji lalu mengingkarinya sendiri. Membiarkanmu dalam kesakitan seperti ini, ia menyesal. Tapi, biarkan dia memelukmu kembali, memberi cinta yang pernah sempat memberimu luka. Kali ini dia akan memberimu sejuta cinta penuh rasa bahagia dan ketulusan tanpa ada keraguan lagi. Cepatlah bangun dan kembali tersenyum untuknya, Kyuhyun. Namja ini sudah sangat merindukanmu. Dia mencintaimu...

.

'Kyunnie, chagi, kau dengar appa?'

'Kyunnie-ah, buka matamu, ini umma, kau tidak rindu pada umma?'

Suara-suara itu, dari mana asalnya? Itu suara appa dan ummanya. Ya, Kyuhyun bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

'Appa, umma...'

'Buka matamu Kyunnie...'

Perlahan ia mulai mengangkat kedua kelopak matanya yang tertutup. Mulai merasakan bagaimana angin sedikit merasuk, membuat bola matanya sedikit merasakan dingin. Kyuhyun melihat ke sekeliling setelah berhasil membuka matanya secara penuh.

Gelap.

Disini bahkan tak ada cahaya sedikitpun. Ia tak bisa melihat dalam gelap seperti ini, ini dimana?

'Appa, umma, tolong Kyunnie, Kyunnie takut sendirian, disini gelap sekali,'mohonnya dengan wajah panik.

Tiba-tiba ada dua tangan dingin yang menggenggamkedua tangannya. Dan muncul dua sosok dari arah samping kanan dan kirinya. Appa dan ummanya, mereka seperti cahaya yang tiba-tiba menerangi gelapnya. Dua orang yang begitu ia rindukan itu kini muncul dihadapannya dengan senyuman yang membuat Kyuhyun begitu terharu dan bahagia sampai rasanya ingin menangis.

'Appa...'

'Kyunnie, kau ini sudah besar, jangan menangis terus.'

'Tapi aku merindukan appa, kenapa appa selalu pergi dariku dan membohongiku?'

'Kau ini, appa selalu bersamamu, kau tidak merasakannya?'

'Aniya, appa bohong. Appa bilang tidak akan meninggalkanku lagi, tapi apa nyatanya appa pergi tanpa pamit.'

'Hahaha, dasar anak manja, kau tidak pernah berubah sejak dulu, hanya saja kau lebih cengeng.'

'Appa...'

'Kyunnie-ah, jangan terus merajuk pada appamu."

"Umma juga, kenapa umma lama sekali tak pulang, aku merindukan umma setengah mati.'

'Ah, jeongmal? Umma juga sama.'

'Lalu kenapa tidak pulang? Eoh?'

'Kau ini. Bagaimana kau tanpa umma? Apa kau sudah lebih disiplin?'

'Tentu, umma tidak lihat aku setampan apa sekarang?'

'Yak! Wajah tampanmu itu karena aku!'

'Mwoya? Appa itu tidak tampan!'

'Dasar anak kurang ajar.'

Tiga sosok itu terus saja bercengkrama dengan sedikit candaan. Ini begitu menyenangkan, hal yang begitu Kyuhyun rindukan.

'Kyunnie, sekarang umma akan berbicara serius padamu.'

'Ne?'

'Kau harus memilih, Kyunnie.'

'Memilih? Apanya yang harus dipilih, appa?'

'Lihatlah dua pintu disana.'

Ya, Kyuhyun lihat. Dua pintu bercahaya itu, kenapa?

'Ne?'

'Pilih salah satu.'

'Memangnya kenapa?'

'Pilih saja, jangan banyak tanya. Kau harus memilih dengan baik, itu adalah pintu dimana jalan hidupmu akan di tentukan.'

'Mwo?'

'Kyunnie, umma akan bertanya sekarang padamu. Apa keinginanmu? Ikut bersama dengan umma dan appa, atau kembali pada umma-mu dan appa-mu?'

'Aku tidak mengerti, umma.'

'Kyunnie, kau tak menyadarinya sejak tadi?'

'Apa? Ya Tuhan, aish, pabbo Kyuhyunnie. Ne, umma, aku... bisa berbicara, apa ini...?'

'Ne, sekarang aku tahu 'kan? Pilihlah sekarang Kyu, waktumu tidak banyak.'

'Jika aku salah memilih pintu, bagaimana?'

'Semua bisa saja berubah. Kau akan kehilangan salah satu diantara kami, umma dan appa atau keluargamu sekarang.'

'MWO? ANIYA, AKU INGIN BERSAMA KALIAN SEMUA.'

'Tidak bisa, Kyu, jika begitu kau serakah. Kau harus memilih salah satu, cepat, waktumu semakin sedikit.'

'Tapi, umma...'

Kyuhyun menghembuskan nafasnya berat. Ia menatap kedua pintu itu dan ia harus memilih salah satu, tapi yang mana? Keduanya sama-sama akan membuatnya terpisah dari umma dan appanya.

'Umma, aku takut kehilangan umma dan appa...'

'Mantapkan hatimu, maka pilihanmu adalah yang terbaik.'

'Arraseo, umma.'

Ia berjalan meninggalkan appa dan ummanya, terus hingga di depan dua pintu itu. Ia memegang kenop salah satu pintunya. Merasa ragu dengan pilihannya, ia beralih pada pintu yang satunya. Ia menoleh ke belakang, dilihatnya appa dan ummanya menganggukan kepala mereka mendukungnya.

CKLEK

Dan ia membukanya lalu perlahan sosok appa dan ummanya itu menghilang. Ia tersentak, ia memanggil-manggil nama appa dan ummanya namun suaranya tak terdengar. Ia menangis, ia rasa appa dan ummanya akan benar-benar meninggalkannya. Ia ingin kembali keruangan gelap itu, namun pintu itu secepat kilat tertutup rapat.

'Hiks... kenapa seperti ini? Apa kalian akan meninggalkanku selamanya? Aku ingin bersama kalian... Aku selalu menangis tanpa kalian disisiku...'

Kyuhyun menangis, menyembunyikan wajahnya dibalik lututnya yang ia peluk sendiri. Ia akan kesepian lagi setelah ini.

"Kyunnie..."

'Umma, appa, Bummie hyung, Wonnie hyung, Hae?'

.

.

::[]::

TBC

::[]::

.

.

Apa ini terlalu panjang? Hehehe, mian ya udah nunggu lama banget... (^_^)v Bener-bener banyak tugas sekolah dan gak sempat pegang laptop. Mian juga untuk ketidakmunculan uri Kibum di chap ini dan feel yang gak begitu kerasa ky chap 7 dan 8. Mianhae...

Tolong keep review... jangan patahkan semangat author...

Ayo-ayo review...