Main Cast :

Jung Dae Hyun (B.A.P)

Miss Chubby-Cakes (Yoo Young Jae – B.A.P)

Park Chanyeol (EXO)

Other Cast :

Bang Yongguk (B.A.P)

Miss Eyes-Puppet (Kim Himchan - B.A.P)

Bunhong(?)

Tao (EXO)

My Sweety Chubby-Cakes(Byun Baekhyun - EXO)


Sebelumnya: "baik, apa yang kita…ani…aku lakukan terhadapmu, ya?" Daehyun menyeringai ke arah Baekhyun, membuat makhluk cantik itu menatap horror Daehyun. "m-m-mwo?" tanpa pikir panjang Daehyun langsung mengangkat Baekhyun kedalam rangkulannya dalam sekali hentakan dan berhasil membuat makhluk cantik itu hampir berteriak karena aksi tiba-tiba yang dilakukan Daehyun dan Daehyun sendiri hanya tersenyum melihatnya.

Aku menangis karena Daehyun? Lalu Daehyun menangis karena apa? Dan karena siapa? Kau akan terjatuh, jae, jika tidak meperhatikan langkahmu. Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka, menuruni anak tangga menuju kelas Youngjae.

"aku jalan-jalan sajalah. Menunggu mereka berdua pulang duluan, setelahnya aku baru pulang." Yongguk mengacak rambutnya kasar, frustasi untuk kejadian yang dialaminya hari ini. Yongguk berjalan berlawanan jalur dari jalur jalan Himchan dan Tao.

Seperti biasa, kau selalu menggodaku seperti ini. Kau sangat menyebalkan, Mr. Tao! "hei." "mwo!" "anak tangganya ada disebelah sini –tangan kiri menunjuk koridor yang ada disebelah kanan Tao-, cantik. Kenapa kau terus berjalan maju ke depan -menunjuk kearah depan, arah yang Himchan tuju- sana? Kau tidak lupa dimana letak kelasku dan kelasmu dimana, bukan?" "kau lupa dimana letak kelasmu sendiri, chanie? Parah." ucap Tao, sambil membalikan badannya dan mulai berjalan mengikuti Himchan yang sudah jalan mendahuluinya. "yak! Jangan banyak bicara kau! Palliwa!" teriak Himchan yang sangat memekkan telinga.


"ya ampun. Apaseo. Ssshhh…" Chanyeol yang ditarik dan diseret dari anak tangga oleh pemilik kelas yang sedang dituju –Youngjae- dengan cukup keras dan cepat sampai keduanya harus berlari, kini merasa lengan kanannya terasa seperti ingin lepas dari tempatnya.

"kita sudah sampai. Hyung?" Youngjae cukup–bisa dibilang khawatir-kaget saat melihat korban tarikannya kini tengah memegangi bahu kanannya. "eung?" sedangkan yang sedang diperhatikan, ternyata pikirannya terhanyut oleh rasa sakit yang dibuat oleh Youngjae sendiri. Lain kali ingatkan aku untuk menggendongmu, jae. Jika seperti ini, kalau kau akan menarik dan menyeretku seperti tadi. Apaseo… pikir Chanyeol sambil memperhatikan raut wajah cemas Youngjae. "neo, waeyo?" sekali lagi, Youngjae terkejut -tapi rasa khawatirnya lebih terlihat jelas-karena Chanyeol seperti ini.

"ah, aniyo. Masuklah aku akan tunggu kau diluar." Ucap Chanyeol sambil menyunggingkan senyum andalannya-menunjukan dia memang baik-baik saja- ke Youngjae untuk tidak khawatir. Mungkin hanya orang bodoh-menurut Chanyeol- yang akan membiarkan makhluk cantik menangis-meski karena ulahnya sendiri-didepannya. "eung? Wae? Hyung, tidak ingin masuk?" Youngjae tetaplah Youngjae. Jika dia sudah khawatir ya akan tetap seperti itu. Apalagi jika Chanyeol sudah berkata seperti itu padanya.

"ani, kau saja. Cepat, ini hampir lewat dari biasanya." Lanjut Chanyeol sambil melihat jam dipergelangan tangannya dan disambut anggukan paham oleh Youngjae. "ne, gidaryeo." Putus Youngjae yang dilanjutkan dengan berlari masuk kedalam kelasnya. "eo, palliwa!" teriak Chanyeol saat pintu kelasnya sudah tertutup rapat. Disisi lain makhluk cantik nan manis kini sudah berada didalam kelasnya dan disisi lainnya makhluk tinggi nan tampan menyenderkan punggungnya kedinding. "iya, bawel." Sungut Youngjae setelah mendengarnya sedengkan yang disungut hanya tersenyum dan hanya menggelengkan kepalanya.

"dimana tasku?" ucap Youngjae panik. "kau tidak menemukan tasmu?" walau Chanyeol mendengarnya namun dia masih tidak bergeming dari posisi enaknya. "tidak." Teriak Youngjae yang terdengar sampai keluar kelas. "apa kita salah kelas?" terdengar lagi suara Youngjae, tapi kini dengan nada suara kebingungan atau bisa dibilang frustasi. "aish, kau ini!" Chanyeol yang kembali mendengar suara frustasi-atau Chanyeol sendiri yang frustasi karena Youngjae lupa dengan kelas dan letak tasnya entah dimana- Youngjae mulai menegakkan badanya-merasa cemas dan juga gondok; karena Youngjae sudah terlalu lama dan bawel didalam. "hyung, bantu aku. Akan aku bunuh jika memang ada yang menyembunyikan tasku. Lihat saja." Akhirnya Youngjae memutuskan untuk meminta bantuan dan merasa kesal sendiri karena sedari tadi dia tidak menemukan tasnya.

"Yak! Jaga bicaramu Miss Chubby-Cakes!" Chanyeol pun bangkit-diahrus cepat jika tidak ingin Youngjae marah padanya- dari posisinya dan mulai memarahi Youngjae setelah mendengar kalimat terakhir yang diutarakan oleh Youngjae. "aish, disini gelap. Tentu saja kau tidak menemukan apapun disini." Ucap Chanyeol ketika dia sudah membuka pintunya dan mencari saklar lampu yang ada disamping pintu-mencari yang ada didekatnya terlebih dahulu.

.

Cklek…

.

"a, gomapta hyung." UCap Youngjae singkat setelah semua terlihat jelas semua-baginya dan Chanyeol tentunya. "kau ini…" Chanyeol tidak meneruskan kalimat jengkelnya setelah melihat semua kelas Youngjae. "ini dia tasku. Hahaha ketemu…hyung?" Youngjae yang sudah menemukan tasnya kini dia menemukan Chanyeol mematung didekat pintu masuk kelas dengan memasang wajah, seperti…

"…ini kelasmu, jae-ah?" ucap Chanyeol sambil melemparkan pandangannya keseluruh sudut ruangan tanpa menoleh atau pun melirik ke arah Youngjae yang tengah memasang wajah bingung untuknya saat ini.

…Tidak percaya. "ne, ini tasku berarti ini benar kelasku. Wae?" Chanyeol jangan kau buat teka-teki tentang kelasku. Lanjut Youngjae, dalam pikirannya. Yang masih ditanya-Chanyeol- masih dengan kegiatan yang sama-tidak melirik kearah Youngjae sebarang pun-.

"kau sekelas dengan namja bernama…eekkhhem…Byun Baekhyun?"

"eu-eum, sepertinya nama itu ada diabsen. Yak! Hyung! Jawab pertanyaanku!" pertanyaan berikutnya dan tidak ada jawaban dari Chanyeol beserta tatapan yang tiba-tiba yang diberikan Chanyeol cukup membuat Youngjae terkisap untuk menjawabnya dan gondok juga untuk meminta jawaban dari Chanyeol.

"dan juga dengan Jung Daehyun?" masih tidak ada jawaban dan hanya pertanyaan yang ada.

"ani, tapi dia dikelas sebelah. Wae?" dan Youngjae masih setia untuk tetap bertanya.

"aniya. Sudah ketemu, kan'?" seperti mesin rusak atau apa, Chanyeol hanya menjawab sekali dan mengeluarkan pertanyaan lagi. Kau menyebalkan hyung, terkadang. Pikir Youngjae.

"eum. Hyu…"

"kajja. Sudah pukul 5.00." Sebelum melanjutkan kalimatnya, Youngjae sudah ditarik lagi dari ruangan kelasnya oleh Chanyeol ke parkiran sepeda untuk pulang bersama. Dan…

"Yak!"

…Youngjae hampir kehilangan tasnya jika dia tidak memegangnya tepat waktu karena dia belum menggendong tasnya dengan benar.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Langkah Himchan sudah tidak terlalu cepat lagi sekarang, justru dia semakin melambat langkahnya ketika sampai dilantai dua. "Himchan?" Tao berhati dan bertanya setelah dia berada diatas dan melihat Himchan mematung didepan ruangan pertama setelah menaiki anak tangga. "kelasku disana, Tao." Ucap Himchan sambil menoleh dan tak lupa untuk menunjuk lorong yang ternyata lampunya sudah dipadamkan aliran listriknya. "dan kelasku disini, chanie." Ucap Tao singkat dengan kepala dimiringkan sedikit-melirik ke kelasnya-dan juga tidak lupa menunjuk untuk menunjuk kelasnya yang ada disamping kirinya.

"ish aku tahu!" Himchan berbalik dan menatap malas namja yang member tanggapan seperti itu, mulai jengkel. "lalu?" sekali lagi. Himchan hanya menarik nafasnya gusar. "gelap" tapi kini Tao yang mendesah gusar setlah mendengar pertanyaan singkat Himchan.

"dasar kau ini. Aku ambil tasku dulu setelahnya kita kesana. Ke kelasmu." Himchan masih mematung ditempat tapi Tao terus berjalan perlahan sampai masuk dikelasnya. Tapi sampai dia berjalan menjauhi pintu, Tao berhenti dan kembali berjalan mundur keluar dan…

"eung, apa kau akan tetap berdiri sana, chanie?"

… ternyata Himchan tidak mengikutinya untuk masuk, bahkan tetap tidak bergerak sedikitpun. Hanya matanya saja yang bergerak memperhatikan Tao. "mungkin, palliwa! Aku ingin pulang!" final. "baiklah." Tao menganggukan kepala dan kembali masuk. "masuk saja atau berteriaklah, jika ada sesuatu itu juga." lanjut Tao sambil terus berjalan menuju meja belajarnya. "s-s-sesuatu? Yak! Tao! Gidaryeo!" dan Himchan yang mendengarnya pun langsung menoleh kesekitarnya-sampai lama untuk arah tangga dan kebelakangnya yang gelap- dan setelahnya dia berlari kedalam.

"what?" Suara Himchan sangatlah terdengar apa lagi saat berteriak seperti tadi. Pastilah terdengar. Tao yang sedang merapikan barang-barangnya dipojok-belakang teralihkan oleh tingkah Himchan yang sudah mulai ketakutan. "Shut up! No comment!" Himchan yang merasa sedang diperhatikan, kembali berteriak.

"berisik. Lebih berisik dari Chanyeol ataupun Youngjae." Ucap Tao pelan, sambil melanjutakan rapi-rapinya. "apa kau bilang?!" suara Tao memang pelan tapi Himchan masih dapat mendengarnya./mereka hanya berdua, ingatkan Tao untuk itu./ "nothing. Berbaliklah kesana." Sekali lagi, Tao berucap ucuk pelan, tapi kini dengan jari telunjuknya menujuk kearah papan tulis yang ada dibelakang Himchan. "why?" Himchan yang diperintahkan merasa bingung dengan perintah yang dilantunkan oleh Tao padanya.

"aku ingin mengganti baju seragamku dengan baju seragam olahraga." Tao yang ditanya hanya menjawab santai sambil mengangkat baju gantinya. "w-wae?" "berbalik atau kau ingin melihatku berganti baju?" manik mata Himchan mebulat sempurna tidak percaya atas jawaban Tao dan kembali bertanya. Tapi Tao sudah menyergahnya duluan dan malah kembali bertanya dengan polosnya. "Yak!"

Bluuuusssshh~

Himchan mulai merasakan hal yang aneh pada kedua pipinya yang tiba-tiba terasa panas sampai ketelinganya. "ya sudah, berbalik saja." Sekali lagi Tao menggerakan tangannya mengisyaratkan untuk berputar dan Himchan langsung berputar sambil memegangi kedua pipinya. "ke-kenapa kau tidak me-menggantinya setelah sampai dirumah sa-saja?" Himchan benar-benar dibuat salah tingkah oleh Tao.

Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan chanie. Kenapa kau sangat manis jika kukerjai seperti ini huh? Aku menyukaimu. Sangat. Ketahuilah itu chanie. Tao yang melihat Himchan seperti ini hanya menyimpulkan senyum suka.

"diam, atau aku akan membuatmu benar-benar tidak seperti du~lu~, othe?" goda Tao

Jeeddeeerr…

"m-m-maksudmu apa?! Yak! Tao! Jika kau macam-macam akan aku bunuh kau." Himchan mulai kembali panic tapi dia tidak berani untuk membailkan badannya. Pipinya semakin memanas dan dia yakin wajahnya seperti lobster rebus yang sudah matang. Sedengkan Tao hanya menggelengkan kepalanya sambil menyeringai puas.

.

Zzrreeeet…

.

"sudah." Ucap Tao singkat yang telah selesai berganti dan menutup tasnya rapat. "huh?" namun, sepertinya Himchan masih belum mengerti apa yang dimaksud 'sudah'

Apa maksudnya 'sudah' ? apa yang sedang kau lakukan huh Tao!? Kau benar-benar menyebalkan!

"berbalik lah. Aku sudah rapih." Himchan tidak bergeming sama sekali. Tas yang sudah bertengger dipunggung tegapnya, bersiap untuk untuk pulang tapi yang disuruh berbalik masih diposisinya. Menghadap papan tulis. "kau tetap ingin berbalik?" masih sibuk dengan pemikirannya, Himchan benar tidak perduli dengan ucapan Tao. "baiklah." .

Tak… / Yak!

Tak… / Tao!

Tak… / A-apa yang…

Tak… / ya-yang akan kau lakukan huh?

"bye~bye~"

1detik

2detik

3detikTao?

Himchan langsung membailkan badannya dan melemparkan pandangannya kesekelilingnya, setelah ia yakin tidak ada suara langkah kaki Tao dan dia hanya mendengar ucapan 'bye~bye~' Tao.

"Ta-Tao?"

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Hening, suasana Daehyun yang menggendong namja cantiknya dalam sekali hentakkan cukup membuat keduanya terdiam, sampai makhluk cantik membuka suara. "seharusnya kau tidak kemari, dae." seperti dihantam sebuah benda yang menyakitkan, dada Daehyun terasa sangat nyeri setelah mendengar pernyataan Baekhyun. "dan melupakanmu begitu? tidak, terima kasih." Sambung Daehyun sambil menurunkan perlahan tubuh milik Baekhyun keranjangnya.

"aku menyayangimu, dae. Sangat. Tapi, kenapa kau seperti ini? Ini akan membuatmu terluka." Lanjut Baekhyun, tanpa melihat kearah Daehyun yang sendirinya juga memaling wajahnya keluar jendela setelah menempalkan bokongnya dibangku dekat ranjang Baekhyun. Bersalah? Iya, tapi ini bukan salah Baekhyun sepenuhnya ataupun Daehyun, tentunya. Ini adalah takdir.

"aku akan lebih terluka jika aku tidak berada disampingmu disaat-saat seperti ini. Jangan memaksaku untuk melakukan ini, chagi. Nado saranghae, Baekhyun-i. Sangat menyayangimu lebih dari apapun." Masih posisi yang sama-Baekhyun tertunduk dan Daehyun masih melihat keluar jendela dan terkadang menundukan kepalanya juga.

Baekhyun, namja cantik yang sedari tadi tertunduk akhirnya dengan cepat dia mengangkat kepalanya. "baik, jika itu mau mu, dae…" dengan cepat Daehyun menoleh kearah makhluk cantik yang tengah melihatnya, secepat ia mendengarnya. "apa maksudmu, Baekhyun?" Daehyun menatap intens mata doe milik Baekhyun, mencari semua jawaban didalam mata doe Baekhyun. Tapi, Daehyun juga menunggu jawaban langsung dari mulut sang kekasih.

Baekhyun hanya menarik nafas panjang dan juga terpejam. "biarkan aku masuk sekolah (?) dan biarkan aku bermain seperti yang lain yang bermain bermain bersamamu dan dengan yang lain juga (?)"

"My Sweety, listen to me…" Daehyun merubah posisi duduknya untuk membiarkan namja cantik itu benar-benar melihatnya, melihat matanya.

"You still sick, we know that. You can't look out from here if in your condition like that. Kau harus pulih sepenuhnya dan setelahnya kau boleh kemana saja yang kau mau. Aku tidak akan melarangmu, chagi." Daehyun berucap lemah lembut, berusaha untuk tetap seperti itu.

"sudah kuduga, dae. kau akan berkata seperti itu. Geurae, nal jebal, dae-ah. ini permintaan terakhirku…" kecewa untuk pernyataan Daehyun, Baekhyun tetap mencoba untuk membujuk Daehyun.

"jangan berkata seperti itu, bae-ah. Kau pasti akan sembuh. Pasti." Daehyun langsung memotong ucapan Baekhyun yang benar-benar membuat Daehyun harus berpikir 'dia' akan 'pergi'.

"…jika kau tetap tidak ingin pergi dariku, maka biarkan aku bersekolah lagi dan bermain bersamamu. Aku tidak ingin bertemu denganmu disini. Aku ingin bertemu denganmu disekolah, dirumahmu atau dirumahku." Lanjut Baekhyun yang sempat terpotong ucapannya oleh Daehyun dan Daehyun menganggap ini sangat menyakiti hatinya ketika sang kekasih terbaring lemah dihadapannya dan sekarang dia sedang memohon padanya dengan tulus.

"Bae…" Daehyun menggenggam tangan Baekhyun yang dingin disaat setelah Daehyun merasakan hatinya benar-benar terasa perih untuk mendengar ucapan Baekhyun yang memohon padanya seperti sekarang ini.

"pulanglah, dae. Langit sudah hampir gelap. I love you My Prince-Cakes." Sergah Baekhyun cepat sebelum Daehyun mengatakan apa yang tidak dia inginkan.

Bukan hati Daehyun saja yang sakit tapi Baekhyun juga. Baekhyun menyayangi Daehyun, dan begitu juga sebaliknya. Tapi, apa yang harus mereka lakukan saat ini dan untuk kedepannya? Baekhyun mengidap sakit kanker leukimia, kanker darah yang ternyata sudah menggerogoti tubuh cantiknya sejak ia duduk dibangku kelas 3 sekolah menengah pertama dan sampai sekarang, sudah hampir 3 tahun dia mengidap penyakit yang menyakitkan.

Tidak ada seorang pun yang menduga tentang penyakit ini akan menggerogoti tubuh Baekhyuhn. Keluarganya, Daehyun, bahkan pemilik tubuhnya sendiri-Baekhyun-juga tidak menduga tubuhnya sudah menunjukan gejala-gejala penyakit tersebut. Dan mereka hanya menganggap itu hanya penyakit biasa. Tapi ternyata bukan.

"ne, nado My Sweety Chubby-Cakes. Mianhae." Kata Daehyun pelan dan bangkit dari kursinya, memajukan kepalanya untuk mendekatkan bibirnya dengan bibir milik Baekhyun.

Chuu~

"jaljja Byun-ssi. Wish you have be nice dream to night." Lanjutnya setelah mengecup lembut bibir milik sang kekasih sambil mengusap-mengusap pelan pipi Baekhyun. Walau sebentar, setidaknya ini dapat menenangkan pikirannya dan menurutnya itu juga dapat menenangkan Baekhyun.

"ne, jaljja Jung-ssi. You too." Sahut Baekhyun, dengan senyum manisnya.

Daehyun melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut beserta penghuninya, Baekhyun didalam sana sendirian.

.

Ceklek…

.

"Mianhae dae/Mianhae Bae"

.

"haksaeng, apa kau sudah bertemu dengan tuan muda?" hampir saja Daehyun ingin memukul wajah seseorang yang secara tiba-tiba menepuk pundaknya, meski pelan itu membuat Daehyun terkejut.

"aish, suster aku pikir siapa, huh." Daehyun benar-benar ingin sendiri sekarang. Tapi suster ini? Datang tiba-tiba seperti hantu.

"hehehe mianhae haksaeng. Habisnya sejak aku melihatmu kamu keluar dari ruangan ini. Kau hanya melamun dan tetap berdiri disini, membelakangi pintu. Apa terjadi sesuatu?" penjelasan yang cukup panjang dari suster namun Daehyun sepertinya tidak terlalu mendengarkan. Aku ingin pulang. Pikir Daehyun.

"ah, ani. Dia baik-baik saja. Aku mau pulang. Permisi." Ucap Daehyun malas dan meninggalkan suster itu dengan wajah sedikit heran akan sikap yang ditunjukan dari haksaeng yang ia temui. Tubuh dan pikiran Daehyun sudah lelah untuk hari ini. Aku lelah, kuharap suster ini akan memahaminya. Pikir Daehyun.

Daehyun terus berjalan keluar rumah sakit dan menghampiri sepeda milik Bunhong yang pinjam tadi. "aku benar-benar lelah." Daehyun hanya bergumam seperti itu sampai dia berada ditempat terparkirnya sepeda pinjamannya itu.

Aku sangat lelah, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Semua benar-benar berubah, kuharap tidak semua. Tapi…apa yang harus aku lakukan? Apa yang terjadi nanti?

Selama perjalanan kerumah pemilik sepeda, Daehyun hanya berkutat dengan otaknya yang penuh dengan pikiran-pikiran aneh. Hatinya sakit dan otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia benar-benar lelah.

Terkadang dia memberhentikan kayuhan sepedanya kepinggir jalan dan memutuskan untuk berjalan dan menuntun sepedanya. Menoleh kekiri dan kekanan, mencoba mencari tempat peristarahatan. "taman." Dia sampai ditempat yang mungkin bisa menjadi tempat peristirahatannya dari kelelahannya hari ini.

"tempat ini sepi sekali. Apa tidak ada yang datang kemari? Bukankah disini sangat…cantik?" Daehyun terus berjalan kedalam area taman, yang menurutnya cantik. "semoga aku tidak terlalu pergi jauh kedalam taman ini." Daehyun terus berjalan dan juga melemparkan pandangannya kesekitarnya. Berharap untuk tidak tersesat.

"lebih baik aku kembali dan meneruskan perjalanan kerumah Bunhong. Ini sudah malam, aku harap dia tidak sedang menunggu sepedanya untuk dipakai." Daehyun memutuskan untuk meneruskan perjalanannya. Meski dia tidak melemparkan bokongnya ke salah satu bangku panjang ditaman.

Jika ini mimpi, tolong bangunkan aku. Ini adalah mimpi buruk, aku tidak menyukainya. Aku menginginkan aku selalu disisinya dan dia juga seperti itu.

Banyak bayang, bahkan terlalu banyak bayangan orang disekitarnya -yang bisa saja juga terluka- dalam pikirannya hari ini.

Pertama; Himchan, Himchan adalah hyung kesayangan Daehyun sejak dia menginjakan kakinya dikelas Himchan dan tepat menabraknya tanpa sengaja dan juga tanpa alasan saat sekolah dasar dulu.

Kedua; Bunhong, entah apa yang terjadi padanya, menurut Daehyun, dia juga terluka. Tapi, karena apa dan siapa Daehyun tidak tahu.

Ketiga; Youngjae, entah kenapa wajah Youngjae selalu saja menghantui Daehyun hari-hari ini.

Daehyun menganggap Baekhyun tengah bercanda padanya saat itu- saat mereka masih kelas 1 SMA. digedung tua, meja dengan sepasang kursi bercat putih temuan mereka berdua-, memintanya untuk pergi meninggalkannya dan melupakannya. Tentu saja, Daehyun menganggap ini hanya lelucon, yang benar saja, Daehyun tahu Baekhyun menyayangi dirinya. sangat.

Sedangkan Baekhyun? Dia memang seperti itu, tapi dia harus melakukannya. Mengakhirnya meski dia tidak ingin melakukannya. Dan akhirnya saat Daehyun masih terkikik dengan ucapannya, Baekhyun menangis tanpa suara. Hanya terisak. Daehyun baru menyadari sang kekasih hampir terjatuh kelantai dan menangkap tubuhnya dengan sigap, walau pada akhirnya dia harus terduduk dilantai dan memangku tubuh Baekhyun sudah lemas.

Daehyun akan mengingat ini. Dia tidak akan melupakan ini. Baekhyun, kekasihnya, sedang sakit. Daehyun mengetahuinya, alasan Baekhyun berkata seperti itu padanya tadi.

Aku mohon untuk yang terjaga, tolong bangunkan aku dari tidur yang melelahkan ini. Ini sudah membuatku terluka, dan luka ini sangatlah menyedihkan.

Dan sampai dirumah Bunhong, Daehyun masih berkutat dengan pemikirannya yang menjengkelkan dirinya sendiri.

.

Ting-tong~

.

Setelah menekan tombol Daehyun hanya berharap, Bunhong sendiri yang keluar. Ini hampir pukul 7.00 malam.

.

Cklek...
.

.

.

*TBC*


annyeong... hahahaha mianhae buat yang menunggu T^T *kaya ada aja*

oke, mianhae untuk typo yang bertebaran. *bow*

mohon R&R ne, :)