Catch Me, If You Can

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, Mushi cuma numpang minjem

Rated T semi M

Pairing : SasufemNaru

Genre : Romance, Family,Drama, Hurt/Comfort

Warning : Typo, OOC, OC, a little bit violence, dan teman-teman lainnya, semoga bisa dimengerti.


Informasi Umur :

Sasuke : 27 tahun

Naruto : 26 tahun

Menma : 7 tahun


OOoOoOoOoOOoOoOoOOoO


Chapter 10 : The Truth


Mengucapkan kalimat singkat, Naruto masih tidak berniat untuk bergerak dari posisinya. Dirinya hanya berdiam diri di dekat pintu ruangan yang kini sudah tertutup kembali. Menyisakan dirinya dan Sasuke di dalam sana.

Apa tidak ada yang datang ke sini? Atau suatu kebetulan saat dirinya datang kemari, semua anggota keluarganya tidak hadir?

Tersenyum miris dalam hati, kedua tangannya mengepal tanpa ia sadari.

"…."

Tapi tidak apa-apa, kalau memang Kami-sama tidak mau mempertemukannya dengan semua anggota keluarganya. Cukup melihat Sasuke baik-baik saja sudah menenangkan hatinya. Dalam hati menghela napas lega. Ternyata perkiraannya melenceng, dan Naruto bersyukur karena itu.

Walau laki-laki raven di sana masih memiliki selang infus di salah satu tangannya, sang Uchiha ternyata sudah bisa bangkit dan duduk dari tempat tidurnya. Luka yang tidak terlalu banyak, perban di sekitar kepala, lecet di tangan dan kaki yang kini sudah terbalut selimut.

Sosok itu sukses membuat senyuman kecil terpampang di wajah wanita itu.

'Yokatta Teme~' membatin pelan,

Dengan pikiran yang melayang jauh, menatap lekat Sasuke terus menerus. Tanpa ia sadari, kedua manik Coklat itu menatap wajah sang Uchiha lebih detil. Keningnya berkerut sekilas, apa yang ia lihat di sana?

Cukup mengagetkan Naruto untuk yang kesekian kalinya.

'Jangan bilang,' menampakkan raut khawatir, menggigit bibir bawahnya singkat.

Bekas hapusan air mata, kedua mata yang terlihat datar itu sembab serta memerah, pipi yang kini semakin tirus dan tubuh Sasuke, baru ia sadari mengalami penurunan berat badan yang cukup membuatnya kaget.

Di saat ingatannya kembali, dan keberadaan Sasuke muncul lagi di pikirannya. Naruto baru sadar saat itu juga.

Apa suaminya itu habis menangis?

Kenapa?

Tanpa sang Uzumaki sadari, kedua kakinya melangkah perlahan. Ingin memperhatikan lebih dekat, dan tidak perlu waktu yang lama membuatnya kini berdiri tepat di samping tempat tidur Sasuke.

Masih menatap khawatir sang Uchiha-

Seakan lupa dimana ia berada, bibir itu berujar pelan, diiringi dengan salah satu tangan yang terangkat perlahan hendak menyentuh pipi laki-laki di dekatnya.

"Sasuke-san, apa kau tidak makan selama beberapa hari ini? Tubuhmu terlihat kurus sekali." Masih mempertahankan pikiran warasnya, ia bertanya kecil.

Sukses menyentakkan pikiran sang Uchiha, laki-laki yang tadinya mengalihkan perhatian ke arah televisi di ruangan itu kini berbalik menatapnya. Dengan kedua Onyx yang menatap heran, sedikit kaget tercetak di sana.

Sasuke terdiam, entah kenapa membiarkan sosok wanita coklat di sana menyentuh pipinya lembut, dirinya sudah terlalu lelah dan sentuhan tangan Kitsune terasa sangat hangat.

"…"

Naruto tersadar setelahnya, wanita itu terpekik pelan dan reflek menarik tangannya dari pipi Sasuke. Sedikit kikuk dan mencoba tertawa kecil, "A…ah! Gomen,"

"Hn." Gumaman khas Uchiha terdengar mengalun, ia terlihat tenang dan dingin seperti biasanya.

Menghilangkan kecanggungan, Naruto berusaha keras mencari topik pembicaraan yang menarik. Dirinya tidak boleh menyia-nyiakan waktu seperti apapun, meski kini Kabuto hanya memasangkan penyadap suara di pakaiannya, bukan berarti dia akan langsung begitu saja memberitahu Sasuke tentang dirinya.

Ia tidak ingin suaminya terkejut dan membuat kesalahan. Sasuke baru saja sembuh, mungkin akan ada waktu yang tepat untuk itu dan ia harus mencari celahnya.

Teringat tentang Menma tiba-tiba, membuatnya ingin bertemu dengan pemuda kecil itu sekarang. Sedikit menunduk, sang Uzumaki mencoba untuk duduk di tempat duduk kecil yang sudah tersedia di dekat pasien.

"Nee, Sasuke-san. Apa kabar Menma baik-baik saja?" dirinya bertanya langsung,

"…."

Tanpa memikirkan respon apa yang akan di katakan Sasuke padanya. Ya, sama sekali tidak.

Mendengar kata Menma, sosok raven itu kembali memfokuskan diri padanya, beriringan dengan wajah Naruto yang mengadah perlahan membuat kedua pandangan mereka saling bertemu.

Wajah Sasuke semakin terlihat datar-

Naruto akhirnya sadar-

Apa yang ia katakan?!

"Hn, kau menanyakan tentang Menma?" dengan nada sinis, dan dengusan. Kini sang Uchiha benar-benar membuka suaranya. Naruto semakin kalut.

"…" wanita itu terpaksa diam, tidak ingin mengangguk ataupun menjawab. Dirinya sadar kalau saat ini tengah menginjak ranjau.

Sekali lagi dengan penekanan yang kuat, "Kau menanyakan putraku setelah pergi tanpa mengatakan apa-apa dan membuatnya menangis?"

Semakin tertekan, wajahnya kembali tertunduk. Menma menangis? Tunggu dulu, kenapa dia menangis?!

Naruto tidak pernah memikirkan sampai ke sana. Ia pikir..ia pikir Menma akan baik-baik saja saat ia pergi.

Dengusan kembali terdengar, "Aku mendengarnya dari Kyuubi, saat dia mengajakmu ke rumahnya dan kau pergi diam-diam layaknya pencuri tanpa mengatakan alasan." Nada suara Sasuke yang sedikit naik membuat sang Uzumaki makin terpojok.

Dia benar-benar menginjak ranjau dengan membuat ayah overprotective ini marah. Naruto tahu sekali seberapa marahnya Sasuke jika ada yang berani membuat putranya menangis atau kesakitan.

Dan sekarang yang hanya bisa ia katakan hanya kalimat maaf, "Gomen, Sasuke-san. Aku..aku tidak tahu kalau Menma akan menangis." Berujar pelan.

"Kaulah yang membuat Menma bergantung padamu, saat kau berjanji akan menginap bersamanya sekali lagi tapi kau malah menghilang." Mendengar ucapan panjang dari Sasuke merupakan hal yang langka bagi setiap orang. Dan dia mengalaminya.

"Aku-" ucapannya terpotong seketika, saat hendak mengadah dan mengatakan alasannya.

"Saat aku sadar dan langsung melihat putraku menangis keras karenamu. Kau kira aku tidak marah?"

Ugh-

Naruto menunduk lagi.

"Aku minta maaf."

Melihat gerak-gerik sang Uchiha yang kini bersidekap dengan kedua tangan di depan dada, boleh kah ia tertawa kali ini. Naruto rindu sekali dengan sikap protective laki-laki ini, sangat sampai-sampai merasa marah atau kesal saja tidak.

Malah dia senang, sebuah tarikan garis bibirnya terlihat. Mencoba mengadahkan wajah sekali lagi, "Apa kondisimu sudah membaik sekarang, Sasuke-"

"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku belum selesai berbicara." Nada mutlak dan datar Sasuke ucapkan dengan cepat.

Membuat Naruto bungkam,

Gawat-

'Kau masih tidak berubah Teme~'

Naruto tidak bisa menahan rasa rindunya, senyuman itu makin terlihat beriringan dengan suara tawa yang terdengar tipis tapi cukup di dengar oleh sang Uchiha.

Kening Sasuke berkerut,

"Pff, Maaf Sasuke-san." Mencoba untuk tidak tertawa, wajah sang Uzumaki reflek mengadah menatap sosok Uchiha di sana.

"Kenapa tertawa?" dengusan kesal, dan delikan tajam ia dapatkan.

Ini dia, sosok sang suami yang sudah lama tak ia lihat. Naruto sangat rindu, kalau saja tidak ada penyadap suara di pakaiannya mungkin saja ia sudah menerjang tubuh Sasuke dan memeluk erat sosok laki-laki tampan di dekatnya.

Suara tawa sukses lepas dari bibirnya, "Ahaha, kau benar-benar lucu Sasuke-san, sikap seriusmu kali ini malah membuatku tertawa, ahaha~" Naruto tertawa lepas untuk yang pertama kalinya.

"….."

Dan Sasuke memperhatikan sosok wanita berambut coklat itu dalam diam.

Seolah tidak ingin menghentikan tawanya sama sekali.

Membiarkan Kitsune tertawa lepas.

"….."

Sampai akhirnya-

Tess

Kedua Onyx itu membulat saat melihat setitik air mata turun membasahi pipi Kitsune, entah kenapa perasaan panik menjalarinya.

Sedangkan Naruto, dirinya sadar dengan air mata itu,"Ahaha, maaf..maaf Sasuke-san." Menghapus air mata yang tidak sengaja malah keluar dari pelupuknya. Sang Uzumaki sama sekali tidak tahu kalau ia akan tertawa sampai menangis seperti ini.

"Maaf..aku ahaha malah tertawa sampai menangis seperti ini, ahaha~" masih mencoba menghapus air matanya.

Tess-

Tess-

Lho?

'Ke..kenapa tidak mau berhenti?' dirinya membatin bingung saat menyadari keanehan, air matanya sama sekali tidak mau berhenti?!

Dia pasti tertawa dan saking semangatnya sampai-sampai menangis seperti ini. Benar kan?!

"I..ini pasti gara-gara aku banyak tertawa, maaf Sasuke-san, ahaha~" perlahan tawanya semakin menghilang, di gantikan dengan kepanikan sesaat, menghapus tetesan air itu dari pipinya.

Tapi tidak bisa!

Dia tidak mungkin menangis-

"Maaf..maaf," berujar tanpa sadar, masih melakukan kegiatan dadakannya.

Sasuke terdiam-

"…."

"Maaf..Sasuke-san..maaf-hiks-aku..aku kenapa menangis seperti ini? Ahaha..aneh ya-hiks-ini..ini pasti hukuman karena-hiks aku sudah menertawakanmu-hiks Sasuke-san, ahaha~" masih mempertahankan tawa lemahnya, tapi isakan demi isakan perlahan terdengar semakin keras.

Ia tidak ingin Kabuto tahu! Tidak Kabuto tidak Sasuke!

Jangan sampai-

"Kenapa kau menangis, bodoh."

Terlalu fokus dengan pikirannya sampai-sampai tidak menyadari sebuah sentuhan hangat mengusap dan menghapus air matanya dengan lembut, membuat wajahnya mengadah tanpa sadar. Menatap tak percaya ke arah sang raven yang kini berjarak sangat dekat dengannya.

Laki-laki itu-

Tersenyum tipis-

Membuat tangisan, sang Uzumaki,

"Hiks-Sasuke-san," semakin keras.

.

.

.

.

.

.


Kembali Pada Kabuto~


Berdiam diri di dalam mobil dengan pikiran yang fokus mendengarkan setiap percakapan Naruto dengan Sasuke.

Menangkap dengan jelas isakan tangis Naruto di sana, kerutan alisnya terlihat perlahan. Sasuke mengenal Naruto tapi dalam bentuk Kitsune. Wanita coklat itu, jadi itu berarti sang Uchiha sama sekali tidak sadar kalau wanita di depannya adalah istrinya sendiri?

"Kh, Uchiha bodoh." Mendengus pelan, dan tertawa senang. Menganggap bodoh kepolosan sang Uchiha.

Pemikirannya ternyata benar kalau ingatan Naruto kembali karena dia pernah bertemu dengan keluarganya saat itu, membuat perlahan-lahan ingatan sang Uzumaki kembali datang dan pada akhirnya ia ingat semuanya.

"Beruntung aku datang tepat waktu saat itu," menyeringai kecil, dan kembali memfokuskan diri pada percakapan kedua orang di sana.

Ya, Uchiha benar-benar bodoh karena bisa tertipu dengan mudahnya. Sang laki-laki perak tertawa dalam hati.

.

.

.

.

.

.

Masih membiarkan tangan Sasuke menyentuh pipinya, tetesan liquid bening itu coba ia tahan. Isakan yang semakin terdengar lemah, sampai akhirnya sang Uzumaki tersadar kembali.

Menatap sosok laki-laki yang kini terlihat sangat dekat dengannya. Apa Sasuke memang perhatian dengan orang selain dirinya? Sampai menyentuh dan mau menghapus air matanya, tapi setahu Naruto sang Uchiha sangat jarang melakukan hal itu. Ya, ia yakin sekali.

"…."

Tapi kenapa sekarang-

Sret-

"A..ah, ahaha kenapa aku menangis seperti tadi, gomenne Sasuke-san~" tersentak dengan pikirannya sendiri, Naruto reflek menjauhkan wajahnya, menggunakan salah satu tangan untuk menghapus air mata di pipinya.

Sedangkan sang Uchiha-

"….." laki-laki itu masih diam, tidak merespon. Hanya melihat wajahnya saja.

Ada yang aneh, dan Naruto sadar itu.

Mengadahkan wajah setelah yakin tangisannya tidak akan pecah, kembali mencari cara agar bisa mengalihkan suasana tadi. Menatap sekitar, sampai akhirnya melihat buah-buahan yang berada dekat dengan posisi Sasuke. Mungkin ada kerabat yang datang menjenguknya,

Jadi tanpa menunggu lama-lama, dengan pikiran yang masih panik. Sedikit tertawa kikuk, "Ka..karena kau terlihat kurus akhir-akhir ini, mungkin aku akan mengupaskanmu apel Uchiha-san." Menjulurkan tangannya hendak mengambil pisau yang sudah tersimpan rapi di sana,

Dan mengambil apel tentu saja.

Tapi gerakan sang Uzumaki reflek terhenti saat tatapan dan kerutan heran dari Sasuke tak menghilang-hilang sejak tadi.

Menatap takut-takut sang empunya, "Ta..tadi jangan di pikirkan Uchiha-san, aku menangis karena terlalu banyak tertawa itu saja, ahaha~" masih mencoba tertawa.

Tapi laki-laki itu tidak ikut serta, malah tatapan sang raven makin lekat.

Dia tidak ada salah bicara kan?! Kenapa suasana berubah tegang seperti ini?!

Terlihat sekali kikuk, Naruto segera mengambil apel dan mengupasnya. Kembali ke tempat duduknya semula dan menunduk, sengaja menghindari kontak mata dengan Sasuke. Jantungnya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi sekarang, antara takut, dan malu karena setelah lima tahun ingatannya tidak pernah melihat Sasuke, kini mereka berdua bisa berada di ruangan ini.

Berdua saja.

'Tenang Naruto! Jangan panik, jangan panik! Jangan sampai Kabuto tahu gerak-gerikku, jangan sampai-' sebelum sempat menyelesaikan pikirannya.

"Kita hanya bertemu satu kali, dan kau sudah bisa melihat penurunan berat badanku sejauh mana, Kitsune."

DEG!

Jantung itu kembali berdetak kencang, kedua maniknya membulat. Kegiatannya terhenti sejenak,

Shit!

Kenapa dia bisa lupa tentang kepintaran sang Uchiha. Bagaimana ia bisa lupa kalau pertemuan mereka tidak lebih hanya berkisar satu hari saja. Dalam hati merutuk terus menerus.

"A..ahaha, benarkah? Mu..mungkin saja selama tiga hari ini, kau tidak makan dengan teratur jadi berat badanmu berubah Sasu-" kalimatnya terpotong.

"Selama tiga hari ini berat badanku sama sekali tidak berubah."

Skak Mat!

Naruto makin panik, keringat dingin mengalir perlahan dari pelipisnya. "Mu..mungkin itu hanya perasaanku saja kalau begitu, ahaha~" kembali melanjutkan kegiatannya, walau dalam hati dia sudah ketar-ketir.

"Hn, apa perasaanmu sekuat itu?" dengan dengusan nada remeh, sukses menegangkan tubuh Naruto sekali lagi.

"…."

Mencoba tenang, dan bersikap wajar, sengaja ia biarkan matanya tertutup singkat, 'Tenang~'

Mengeluarkan senyuman kecil, dan mengadahkan wajahnya, mengembalikan keceriaan palsunya yang bisa terbentuk hanya dengan waktu beberapa detik-

Kemampuan yang ia kuasai-

"Ya, perasaanku memang sekuat itu Sasuke-san. Sejak dulu sampai sekarang tidak akan berubah." Menjawab dengan pelan, sukses memperlihatkan kerutan kening sang Uchiha singkat.

Pandangan Onyxnya kembali datar, menatap ke arah sosok berambut coklat yang kini melanjutkan acara mengupas apelnya.

Aktingnya masih terus berjalan, Naruto mengupas apel itu dengan cepat, keahliannya dalam memasak atau hal semacam ini masih belum berubah. Tentu saja karena putranya Menma, lima tahun yang lalu saat dirinya masih belum berpisah dengan keluarganya.

Putranya yang masih berumur dua tahun suka sekali dengan rubah, jadi sedikit iseng mengasah kemampuan pisaunya. Saat pemuda kecil itu tidak mau makan ketika sakit, ia sengaja mengupas apel dengan membiarkan sedikit kulitnya masih berada di sana, dan membentuknya dengan gambaran rubah kecil.

Tanpa Naruto sadari, sampai sekarang pun ia masih mengingatnya, dan tersenyum kecil. Bibir itu berujar pelan-

"Supaya kau mau makan dengan teratur, aku akan memberikanmu apel ini Sasuke-san," menatap apelnya yang kini sudah memiliki gambar rubah kecil di sana. Apel merah yang menyisakan sedikit kulitnya.

Sang Uzumaki mengangkat apel itu tanpa sadar, tersenyum lebar, dan sedikit memicingkan maniknya, "Hm, sempurna!" berteriak kecil, menaruh apel itu di atas piring kecil yang tersedia di sana, sengaja memberikan sang Uchiha.

"….." Sasuke tidak merespon, dirinya hanya melihat apel yang berada di piring, dan kini sudah berada di pangkuannya.

"Tunggu, sebentar lagi aku akan melakukan hal yang sama dengan pir ini~" sedikit senang dengan kegiatannya dan mengambil buah pir.

"…"

Sampai-

Sang Uchiha merespon, "Hn, aku bukan anak kecil lagi yang harus kau berikan apel seperti ini." laki-laki itu berujar datar, membuat Naruto tersentak.

Menatap Sasuke dengan wajah memerah, "A…aa! Gomen! Aku lupa, ahaha!" sedikit kikuk, ingin mengambil kembali apel di sana.

Tapi-

Sret-

Kedua manik itu mengerjap saat melihat sendiri sosok yang berujar angkuh tadi kini memakan sendiri apel kupasannya, tanpa di potong sama sekali.

"Sasuke-san?"

"Aku sudah bosan dengan potongan buah-buahan yang biasanya, jadi terpaksa kumakan. Lakukan hal yang sama dengan buah lainnya." Berujar singkat.

"…."

Barulah Naruto sadar, kalau sifat dan harga diri sang Uchiha sangat tinggi. Tidak berubah, laki-laki yang tidak mau kalah dan harus selalu menang. Padahal tingkah lakunya sudah seperti anak kecil.

Tertawa dalam hati-

Prilaku yang mirip dengan Menma.

"….."

Terkikik pelan, mencoba mengupas pir di tangannya, sebelum-

"Ahaha, kau benar-benar mirip dengan Menma~" mengatakan kalimat itu dengan enteng.

Tanpa tahu sama sekali resikonya, sang Uchiha sukses terdiam. Menghentikan kegiatan makannya, kedua maniknya kini berbalik memicing ke arah wanita yang sampai saat ini masih fokus dengan pir di tangannya.

"…."

"Darimana kau tahu kebiasaanku dengan Menma mirip?" bertanya cepat.

Naruto sadar dengan perkataannya sendiri, menjawab cepat, "Tentu saja harga diri kalian yang sama-sama tinggi, padahal mau tapi pura-pura tidak suka~"

"Kapan kau tahu Menma suka dengan apel seperti itu?"

"Menma suka dengan binatang rubah," menghela napas panjang, sengaja menghentikan perkataannya.

'…' dalam hati ia tahu betul kalau limit perkataannya hampir rusak. Dan mengucapkan kebohongan terus menerus tidak akan bisa ia lakukan. Mungkin kali ini ia akan sedikit demi sedikit memberikan sinyal kepada Sasuke. Ya, Naruto tidak bisa menahan diri lagi, waktunya yang tinggal sedikit.

Dan ia harus memberitahu sang suami.

Mengadahkan wajahnya, dan menatap sosok di hadapannya dengan senyuman lemah, melanjutkan perkataannya, "Dan aku pernah sekali mengupaskan apel seperti itu padanya, saat aku menginap di rumahmu Sasuke-san." Suara yang lemah, dan pandangan yang menyakitkan bisa Sasuke rasakan.

Kedua bola Onyx itu membulat tanpa sadar-

Ucapan Kitsune yang membuat otak jeniusnya semakin berputar cepat.

Wanita ini-

Saat menginap di rumahnya, sama sekali tidak pernah mengupaskan apel pada Menma. Ia tahu itu, Kitsune hanya pernah membuatkan Ramen. Bahkan Sasuke yakin kalau hari dimana sang wanita coklat menginap, di dapurnya tidak ada persediaan apel merah sama sekali.

Dan perkataan Kitsune tadi.

Kedua maniknya semakin menatap sosok di dekatnya.

Hanya satu orang saja yang pernah membuat apel bergambar rubah pada putranya. Saat Menma sakit dan tidak mau makan, hanya satu wanita yang bisa membuat putranya kembali semangat, membuatnya makan dengan lahap hanya karena satu buah apel.

Perlahan-

Menatap dengan jelas bagaimana wanita coklat di sana, memperlihatkan senyuman perih, dan mengangkat salah satu tangannya.

Dengan pelan tertuju padanya, sebuah jari telunjuk yang kini berhenti tepat di depan bibirnya.

Membuatnya bungkam dan hanya melihat sosok di sana kembali meneteskan air mata, dengan bibir yang berbicara pelan tanpa suara, seolah memberinya syarat.


"Jangan berbicara, Teme."


Ia mengerti dengan jelas apa yang di katakan wanita itu. Sasuke paham. Pikirannya masih tersambung,

Sampai akhirnya-

"…."


"Dobe."


Tanpa suara, memanggil sosok di hadapannya. Raut wajah yang kini semakin terlihat rapuh, dengan tangisan tanpa bunyi dan tubuh gemetar.

.

.

.

.

.

.

.


Di Luar Ruangan~


Kyuubi melihat sosok pemuda kecil yang kini berlari di lorong rumah sakit, setelah menjemputnya dari sekolah. Sosok itu benar-benar terlihat tidak sabaran untuk menjenguk sang ayah yang sudah sadar sejak kemarin.

Berteriak kecil memanggil ayahnya berkali-kali dengan senyuman lebar. Mau tak mau membuatnya menghela napas panjang.

Dengan Itachi di sampingnya yang kini berusaha menegur pelan pemuda kecil di sana.

"Oi, Menma jangan berlari-lari!" memanggil keponakannya, dan mendapatkan senyuman lebar sang empunya.

"Ahaha, ayo Kyuu-jisan Itachi-jisan cepat jalannya!" Menma berteriak balik, tanpa mengurangi langkah kakinya.

"….."

Menggeleng kecil, percuma menghentikan sosok mungil itu sekarang. Jadi yang bisa ia lakukan hanya membiarkan dan mencoba kembali fokus dengan sebuah tablet yang sejak tadi berada di tangannya.

Dengan kedua mata yang fokus, memperhatikan sebuah peta Konoha, mengecek berkali-kali. Berdecak kesal,

"Aku sudah mengeceknya berkali-kali, tapi kenapa tempat persembunyian mereka belum di temukan!" dengan intonasi naik, berbicara pada Itachi di sampingnya.

Laki-laki berambut hitam panjang itu seolah masih berpikir, "Tadi aku sempat bertanya pada receptionist di bawah, kalau ada wanita berambut coklat yang mencari nomor kamar Sasuke. Kau tahu kan itu artinya siapa?" senyum tipis terpampang, beriringan dengan reaksi sahabatnya yang menghentikan langkah. Dengan kedua bola mata membulat, menatapnya lekat-lekat.

"Kau serius?!"

"Tidak ada waktu untuk bercanda saat ini." menjawab cepat,

Pandangan sang Uzumaki kembali terfokus ke depan, dengan tangan yang mengepal tabletnya. "Kita harus cepat ke kamar Sasuke." Berujar, seraya melangkahkan kaki secepat mungkin.

Sang Uchiha mengangguk paham.

.

.

.

.

.

.

Menghapus air matanya, sebisa mungkin Naruto berusaha menjauhkan diri dari Sasuke. Wanita itu menggeleng terus menerus saat tangan kekar milik sang Uchiha ingin menyentuhnya. Tidak mau berbicara-

Sedangkan sang Uchiha-

Jujur Sasuke masih tidak percaya, meski perkataan Itachi dan Kyuubi kemarin sudah membuatnya bersiap tentang hal ini. Tapi tetap saja kenyataannya dia tidak bisa diam saja, apalagi melihat sosok wanita di hadapannya menangis dalam diam.

Bahkan mencoba kembali tersenyum, dan berbicara pelan.

"Ahaha, kau tahu..Menma…suka sekali dengan buah yang ku-kupaskan." Berujar pelan, berusaha keras agar mencegah isakan tangisnya terdengar oleh Kabuto di seberang sana.

"…." Laki-laki raven itu masih diam,

Naruto menatap jam di dinding yang menunjukkan kalau waktunya tinggal satu jam lagi. Sedikit panik ia bangkit dari posisi duduknya, dengan bibir yang terus berbicara. Sekarang giliran dia yang mendekat,

"Maaf kalau aku sempat membuat Menma…menangis, Sasuke-san." Salah satu tangan terangkat, dan dengan lembut mengusap puncak kepala sang Uchiha. Dadanya sesak, Naruto ingin sekali berteriak, menangis sekencang-kencangnya.

Tapi ia tidak bisa-

"…"

"Mungkin nanti aku akan membuatkan Ramen andalanku untuk kalian berdua," menggigit bibir bawahnya keras, jemarinya perlahan gemetar. Pelan-pelan turun hingga menyentuh pipi tirus Sasuke.

"…"

"Ah…atau..aku bisa menginap di rumah kalian lagi nanti, ahaha~" tersenyum perih, hendak menjauhkan tangannya dari sang Uchiha.

Sebelum-

Sret,

Tangan kekar Sasuke reflek menarik pinggangnya, tanpa suara laki-laki raven itu membuat tubuhnya masuk ke dalam kukungan protective sang Uchiha. Kedua lengan yang memeluk pinggang rampingnya seolah tidak mau lepas.

Tidak berbicara, tapi dapat ia rasakan gemetar tubuh Sasuke, "Sasuke-san, kau aneh, ahaha~" tertawa di paksakan, membiarkan sosok raven di hadapannya menenggelamkan diri di dadanya. Membuatnya melihat sendiri sekilas, saat sang Uchiha menahan isak tangis, dan kembali mengeluarkan air matanya.

"…"

Naruto benar-benar tidak bermaksud membuat suaminya menangis, bagaikan sosok yang kembali menjadi anak kecil. Perlahan dan di paksakan, Naruto mendorong lembut Sasuke agar menjauh darinya.

Semakin terlihat kedua manik Onyx dengan liquid bening menetes terus menerus, dirinya mencoba tersenyum kecil. Sosok yang masih terduduk di tempatnya dan ia yang berdiri, membuat Naruto bisa mensejajarkan diri dengan tinggi badan Sasuke.

Memudahkannya untuk menghapus air mata sang Uchiha-

Mungkin sampai saat ini hanya dirinya lah yang bisa melihat sosok angkuh dengan harga diri tinggi di hadapannya menangis. Seperti tembok kuat yang runtuh perlahan.

Mengisyaratkan Sasuke agar tidak menangis, dengan gumaman tanpa suaranya.


"Jangan menangis, Teme. Kau seperti anak kecil."


Dan saat dirinya hendak menatap lebih lama sosok di hadapannya. Kedatangan seorang bocah kecil membuat semuanya menghilang dalam sekejap.

Krek-

Pintu ruangan terbuka cepat, tangan Naruto tertarik menjauh dari Sasuke. Menolehkan wajah ke arah sumber suara, dan mendapati-

"Kitsune-neesan?!"

"Me..Menma?!" sosok mungil yang ia rindukan berdiri di depan pintu.

.

.

.

.

.

.

.

Pandangan Kyuubi semakin menyipit saat mendengar teriakan kecil Menma, pemuda kecil itu membuka pintu kamar Sasuke dan mendengar sang Uchiha meneriakkan nama Kitsune dengan senang.

"Che! Tebakanku benar," mendengus kecil, dan berniat untuk mempercepat langkahnya.

Sebelum-

Pip! Pip! Pip!

Langkah kaki sang Uzumaki terhenti begitu juga dengan Itachi, keduanya mendengar suara kecil dari tablet yang sejak tadi di berada di tangan Kyuubi.

Alis kedua laki-laki itu mengernyit kompak, cepat-cepat membuka password tabletnya.

"Ada apa Kyuu?"

"Sensor penyadapku bereaksi, berarti di sekitar sini ada yang menggunakan penyadap lain." Berujar cepat, dengan membuat aplikasi sendiri untuk mengecek penyadap yang tak jauh dari posisinya. Ia beruntung, Kyuubi jadi bisa mengetahui dengan cepat apa di sekitarnya ada yang tengah menggunakan penyadap atau tidak.

Kerutan Itachi semakin terlihat, "Aku punya firasat kalau Kitsune lah yang tengah menggunakan penyadap sekarang, pastikan tabletmu tidak mengeluarkan suara kali ini Kyuu."

"Oke," mengubah tabletnya ke dalam mode 'silent' kedua jenius itu kembali melangkahkan kaki mereka.

Tentu saja kali ini dengan senyuman tipis dari Kyuubi dan Itachi yang terlihat sekilas, 'Kali ini kita akan memastikan sendiri, apa tebakan kita benar atau tidak.'

"Kitsune adalah sosok Naruto yang berubah," menghentikan kalimatnya dan menatap Itachi di sampingnya.

"Atau tidak sama sekali."

.

.

.

.


Flash Back :


Malam itu, tepatnya saat Kyuubi menemukan sendiri sosok adiknya yang ternyata tengah di kejar oleh bodyguard Sasuke. Sang Uzumaki masih tidak percaya, kedua maniknya menatap lekat gambar yang terpampang di hadapannya.

Begitu juga Itachi-

"Naruto membantu Orochimaru? Setahuku dia sama sekali tidak ada niat untuk membantu laki-laki brengsek itu selama ini." menatap tajam.

Itachi ikut berpikir, berusaha mengingat sesuatu, "Ada kemungkinan kalau dia di ancam? Satu-satunya hal yang bisa membuat wanita keras kepala sepertinya bungkam."

"….." terdiam sejenak, masih memikirkan perkataan Itachi.

Ya, setahunya, adiknya itu pantang merubah keyakinannya. Sekali dia bilang tidak maka hasilnya tetap saja tidak. Keras kepala yang menurun dari sang ibu.

"Diancam, tapi ancaman apa?" bertanya tanpa sadar.

Itachi mengendikkan bahunya, "Ancaman keselamatan seseorang atau bisa saja benda berharganya. Yang kita tahu kalau Orochimaru sangat mengerti betul seluk beluk keluarga kita, baik Uchiha ataupun Uzumaki. Selama ini pesta yang sering kau buat, mereka berdua pasti hadir di sana."

Membenarkan ucapan Itachi, mencoba mencari hal-hal penting di dalam foto itu.

Sampai-

Untuk yang kesekian kalinya kedua manik itu memicing tajam, "Itachi,"

"Hm?"

"Tanggal berapa foto ini di ambil?"

"…"

"Ternyata kau punya pemikiran yang sama denganku, foto itu di ambil persis sekali sama dengan hari dimana Kitsune muncul. Hari minggu, saat Menma bertemu dengan wanita itu. Apa yang masih kupikirkan sekarang adalah hubungan Naruto dengan kemunculan Kitsune yang tiba-tiba."

"Kalau tidak salah, Menma bertemu dengan Kitsune di taman kan?" laki-laki orange itu semakin gencar mencari celah.

"Hn."

"Dan kupikir kalau foto ini di ambil oleh bodyguard adikmu, tempatnya tidak terlalu jauh dengan taman. Lihat toko ini, aku masih ingat dimana tempatnya." Menunjuk ke arah toko yang sedikit blur,

Mengangguk paham, "Aku akan mencoba mencari clue yang lain lagi. Dan jika Sasuke sadar, mungkin kita bisa menanyakan kotak apa yang tengah di bawa oleh Naruto. Mengingat bagaimana adikku itu sangat gencar mencarinya tanpa memberitahu kita sama sekali."

Mendecih kesal, sukses Kyuubi menghentakkan kakinya kuat, "Ck, adikmu itu benar-benar mengesalkan persis sepertimu, Keriput!" berdecak terus menerus, sedangkan sang Uchiha yang mendengarkan hanya bisa tersenyum tipis.

Ya, Sasuke yang hampir jarang memberitahu apapun pada mereka, kecuali di saat dirinya benar-benar tertekan. Terlalu memforsir diri untuk melakukan semuanya sendirian.


Flash Back Off


.

.

.

.

.


Kembali pada Naruto~


Kaget, sang Uzumaki benar-benar tidak menyangka kalau Menma akan muncul begitu saja tanpa ia sadari.

Sosok mungil yang masih belum tahu jati dirinya yang sebenarnya, kini tersenyum lebar dan berlari ke arahnya dengan cepat.

"Huaa! Neesan!" sedikit mengerjap saat mendengar tangisan kecil dari Menma, tubuh mungil itu langsung saja menerjangnya. Memeluk kedua kakinya erat.

"Me..Menma? Kenapa malah nangis?" panik, cepat-cepat ia mensejajarkan tubuhnya di hadapan sang mungil. Sosok itu masih menggeleng keras, menangis sesenggukan dan memeluk lehernya erat.

"Hiks-Neesan..Neesan kemana saja dari kemarin-kemarin? Hiks-Menma khawatir-hiks-Neesan menghilang tiba-tiba-persis-hiks-seperti Kaasan." Dengan nada terbata-bata, perkataan Menma sukses menohok hatinya.

Persis seperti dirinya yang menghilang dulu?

Membalas pelukan sang Uchiha kecil, ah betapa ia rindu dengan suara ini walaupun dirinya sempat bertemu dengan Menma sebelumnya. Mengusap puncak kepala Menma, jadi inilah yang sempat ia rasakan saat bertemu dengan sang Uchiha beberapa hari lalu.

Merasakan kedekatan yang sangat erat dari sosok mungil ini.

Karena Menma memang putranya sejak awal, dan perasaannya tidak pernah salah.

Dengan ingatan yang kini sudah kembali sempurna, tentu saja sikapnya semakin berubah. Tidak ada lagi kecanggungan ataupun rasa risih.

"Ssh, Neesan ada di sini sekarang. Jangan menangis lagi," mengecup dan mengusap puncak raven itu lembut.

Menma malah semakin mengeraskan tangisannya, "Hiks-hiks-Neesan..Neesan jangan tinggalin Menma lagi ya? Hiks-Menma takut-"

"….." perkataan polos itu membuatnya terdiam.

Tidak meninggalkan putra kecilnya lagi?

Mana bisa ia memberikan janji seperti itu padanya, kalau pada faktanya setelah satu jam nanti dia akan pergi lagi dari sini.

Miris-

Naruto hanya tersenyum kecil, tidak menjawab pertanyaan sang Uchiha kecil. Malah mencoba menjauhkan tubuh mungil persis seperti yang ia lakukan pada Sasuke.

"Sudah jangan menangis lagi, Menma kan sudah besar jadi jangan cengeng." Menghapus air mata di kedua pelupuk Menma.

Isakan itu masih terdengar, "Menma…Menma hanya-"

"Ssh, kalau nanti Menma menangis terus, nah ayah Menma melihat terus lho. Nanti di tertawai lagi~" menghibur, hendak mengadah dan tersenyum ke arah Sang Uchiha di sana.

Tapi-

Tatapan Onyx itu masih melihatnya seakan-akan bisa ikut menangis kapan saja, meredup dan tidak dingin seperti biasanya.

"….."

Memalingkan pandangan cepat-

Dan saat menoleh menatap Menma kembali, berharap kalau pemuda kecil dengan harga diri tinggi itu mau mengerti tapi malah berkebalikan dengan pemikirannya.

Gelengan kuat ia lihat-

Grep!

"Biarin, Menma akan menangis terus sampai-hiks-Neesan janji bakal diam di sini sama Menma terus!" tubuh mungil itu kembali memeluknya, berteriak kecil dan mengeluarkan sikap keras kepalanya.

Mengerjapkan kedua manik Coklatnya,

"Ta..Tapi Menma..Neesan harus-" dan kali ini giliran perkataannya yang terpotong,

"Kau harus kemana, hm?" mendengar suara yang sangat di kenalnya, mengadahkan wajah pelan, dan melihat dengan jelas sosok Kyuubi yang tengah bersidekap di depan dada, dan Itachi yang berdiri di sampingnya.

Kedua kakaknya-

Hampir saja kelepasan bicara, "Kyuu…Kyuubi-san, Itachi-san, kenapa bisa ada di sini?" bertanya tanpa sadar saat melihat kedua laki-laki itu berjalan mendekatinya.

Naruto reflek berdiri sembari menggendong Menma di pelukannya, menatap sosok yang sangat ia rindukan.

Menahan tangisan untuk yang kesekian kalinya,

Sosok angkuh berambut orange itu mengernyitkan alisnya, dan mendengus singkat, "Kenapa kau bilang? Tentu saja untuk menjenguk Sasuke."

"Eh?"

Itachi ikut andil, "Justru kamilah yang seharusnya bertanya, untuk apa kau kemari Kitsune, setelah menghilang tiba-tiba beberapa hari lalu?"

Sedikit terpojok, dirinya mencoba tertawa kikuk, "A..ah, i…itu karena aku ada urusan,"

"Urusan apa sampai-sampai membuatmu harus pergi tanpa permisi, bahkan sampai meloncati tembok rumahku?"

"Eh?! Eee..ka..kalau itu kebetulan aku cepat-cepat ingin..pergi," tertawa kecil, mencoba mencari alasan lagi. Pandangan Coklatnya benar-benar berpaling sekarang, menatap ke arah lain sebelum akhirnya berhenti tepat di pada Sasuke.

Laki-laki raven yang yang ternyata memperhatikan semua gerak-geriknya, tidak ada niat untuk berbicara mengingat dirinya sudah memberi peringatan tadi.

Kening Itachi dan Kyuubi semakin berkerut, sosok Uzumaki berambut orange itu tanpa aba-aba langsung saja menghampiri Kitsune. Mengidahkan jalan mundur yang secara reflek wanita di sana berikan.

"Kyu..Kyuubi-san, maaf kalau aku tidak sopan saat..berada di rumahmu, sekali lagi maaf-" perkataan sang Uzumaki berhenti saat menoleh dan mendapati sebuah tablet kini berada tepat di hadapannya, menunjukkan tulisan yang di ketik di sana.

Membaca tanpa sadar-

Sampai akhirnya dirinya terperanjat kaget nyaris tersedak.


"Kau memakai alat penyadap kan?"


Tidak tahu harus bicara apa, sekarang dirinya benar-benar berhadapan dengan Kyuubi. Keringat dingin mengucur deras, 'Kenapa Kyuu-nii tahu?!'

"A..apa maksudnya Kyuubi-san?" bertanya pelan,

Sosok di sana masih menatapnya datar, dan kembali mengetik kalimatnya, memberikannya lagi pada Kitsune-


"Tablet ini punya aplikasi sensor yang bisa melacak penyadap lain. Jawab pertanyaanku, apa penyadap yang kau pakai itu jenis penyadap suara?"


Berniat untuk mengakali orang yang tengah mendengarkan percakapan mereka, Kyuubi langsung berbincang dengan sosok wanita di depannya.

"Lupakan apa yang mau kukatakan tadi, sejak kapan kau ada di sini?" dia bertanya cepat.

Otak jenius Naruto segera berputar, mengerti maksud perkataan kakaknya, pelukannya pada Menma mengerat,

Kalau memang Kyuubi tahu ada penyadap di pakaiannya, kenapa dia tidak curiga atau mengusirnya dari sini. Kenapa yang Naruto dapatkan sekarang bukanlah tatapan dingin ataupun waspada lagi.

Tidak hanya Kyuubi, bahkan sampai Itachi pun sama. Laki-laki raven di sana malah tersenyum, membuatnya semakin rapuh.

Dirinya mengangkat tangan salah satu tangannya dan memberi isyarat yang menunjukkan arti 'Ya', beriringan dengan suara yang sengaja di keluarkan untuk menjawab pertanyaan Kyuubi tadi.

"Sejak satu jam yang lalu, maaf kalau aku mengganggu Sasuke-san di sini."

Dan Sasuke melihat sendiri isyarat yang di berikan wanita coklat itu, pantas saja tadi ia tidak di bolehkan untuk mengeluarkan suara.

Menma yang masih tidak tahu situasi di dalam ruangan ini, langsung saja menjauhkan tubuhnya sedikit dari Kitsune, menatap berbinar sosok yang kini menggendongnya,

"Neesan, nanti janji ya menginap lagi di rumah Menma~" dengan polosnya bertanya, tidak mau kalah sebelum menerima kata setuju dari kakak coklat ini.

"…."

Naruto kaget mendengar permintaan Menma yang semakin menjadi-jadi.

"Ta..tapi Menma, Neesan benar-benar harus pergi setelah ini," menjawab singkat, dan mendapat rengutan bibir dari sang empunya.

"Hanya malam ini saja, Neesan. Ya?" mengeluarkan tatapan bak anak kucing terlantarnya. Dan kali ini tidak sukses menyihir Naruto. Pandangan sang Uzumaki berbalik meredup. Ingin sekali ia menjawab 'iya' tapi mana mungkin.

Berniat untuk menolak lebih tegas Menma, "Tidak bisa, Menma-" perkataannya terhenti.

"Kitsune akan menginap lagi di rumahmu Menma, tenang saja." Kedua manik Coklat itu membulat tanpa aba-aba mendengar perkataan Kyuubi.

"Ya, dan itu adalah hukuman karena membuat keponakanku menangis." Tidak hanya Kyuubi bahkan Itachi ikut andil.

Dan sekarang-

"Hn, kau bisa memintanya untuk menginap di rumah sampai kapan pun kau mau." Sasuke tidak mau kalah.

Ketiga laki-laki di ruangan itu sukses membuatnya kaget, tidak tahu harus berkata apa, dirinya hanya menoleh hendak memberikan deathglare pada ketiganya, terutama Kyuubi dan Itachi.

"Kyuubi-san, Itachi-san!" hendak mengeluarkan ceramahannya.

Sebelum-

Tubuh itu menegang, kaget bersamaan saat kembali melihat tulisan yang tertera di benda yang kini tengah Kyuubi perlihatkan padanya.


"Apa Kau Uzumaki Naruto?"


Apa?

Kenapa Kakaknya tiba-tiba mengetik kalimat itu di sana?

Bukannya yang baru ia beritahu jati dirinya hanya Sasuke? Tapi kenapa? Kerutan alis Naruto semakin dalam.

Menatap cepat ke arah Kyuubi, tubuhnya gemetar tanpa sadar, menggigit bibir bawahnya kuat, tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.

Sosok laki-laki orange di sana, masih menatapnya lekat, kembali mengetik cepat.

Dan memperlihatkan sekali lagi padanya.


"Sekali lagi aku bertanya kalau memang tebakan ini benar, apa wanita coklat yang kini berdiri di depanku ini adalah Uzumaki Naruto? Tolong berikan kami kepastian."


Tidak tahu harus melakukan apa, kedua laki-laki di hadapannya seolah menunggu jawaban. Apakah tebakan mereka benar?

"…"

Dan ternyata-

Naruto benar-benar tidak bisa menahan tangisannya lagi. Tubuhnya gemetar, wanita itu menunduk dan menelusupkan wajahnya pada perpotongan leher Menma. Pemuda kecil di pelukannya mengerjap aneh.

"Neesan?"

Ahh, kenapa Naruto lupa? Kalau selama ini, dia memiliki dua orang kakak yang sangat jenius bahkan melebihinya. Apa sikap Sasuke aneh padanya tadi juga karena laki-laki itu tahu tentangnya?

Dia benar-benar bodoh.

Menahan isakan, tidak mau berbohong lagi. Tidak kuat dengan tekanan yang selama ini membebaninya.

Tanpa menunggu lama-

Sang Uzumaki mengangguk kecil, memberitahu dengan gerakan tubuhnya kalau ini memang Naruto.

Dia Naruto Uzumaki.

"…"

"…"

Tidak ada respon, wanita itu mencoba mengadah. Mendapati sosok sang kakak kini menggunakan salah satu tangannya untuk menyembunyikan wajah. Tubuh kekar itu bahkan reflek menyender di dinding seolah bisa jatuh kapan saja.

Tentu saja Naruto panik,

Berniat untuk menghampiri kakaknya, sebelum ia melihat sang Uzumaki orange menatap ke arah Itachi, seolah memberinya isyarat dengan bisikan yang sangat pelan.

Laki-laki raven itu mengangguk paham,

Menatapnya sejenak, dan mencoba mengambil Menma dari pelukannya, "Nah, Menma bagaimana kalau kita membeli es krim untuk Kitsune-neesanmu~"

"Eh? Tapi Menma masih mau peluk Neesan!" pemuda kecil itu terlihat tidak mau.

Naruto memperhatikan gerak-gerik Itachi yang dengan gampangnya menyogok putranya, "Kita berikan hadiah karena Kitsune mau ke sini lagi ya?"

"Hadiah?"

"Ya, mau kan?"

Menimang-nimang sejenak, dan menatap wajahnya sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil, "Oke! Menma akan beli es krim yang banyak untuk Neesan, tunggu di sini ya!" pemuda kecil itu mau berpindah ke pelukan pamannya. Tidak lupa mengecup pipi wanita coklat di dekatnya singkat.

Itachi menatapnya, laki-laki yang jarang menunjukkan ekspresinya itu kini dengan mudahnya tersenyum lembut, menepuk kepalanya tiba-tiba dan mengusapnya pelan.

"Kami akan kembali nanti." Berujar cepat, mengidahkan tatapan kagetnya.

"Jangan lama Itachi!" Kyuubi berteriak kecil, di jawab anggukan paham sang Uchiha yang perlahan melangkahkan kaki keluar dari ruangan.

"Tunggu ya Neesan!"

"…"

Kedua orang itu pergi dan meninggalkannya bertiga dengan Kyuubi dan Sasuke.

.

.

.

.

.

.

Hendak menghampiri Kyuubi di sana, "Kyuubi-san," melangkahkan kakinya cepat.

Sosok orange itu tanpa aba-aba menarik tangannya cepat, membuatnya tertarik dan semakin dekat dengan kakaknya. Kedua manik Coklatnya melihat jelas bagaimana wajah frustasi Kyuubi saat ini.

Laki-laki itu sukses mendecih dalam diam, masih menggenggam tangannya erat, salah satu tangan yang masih bebas sekarang langsung saja mengambil sesuatu di dalam tas yang sejak tadi ia bawa.

Kerutan alis Naruto terlihat sekejap,

Suasana yang masih hening, dirinya seperti menunggu apa yang hendak dilakukan kakaknya, sampai-

Kedua manik Ruby itu menatapnya dan menariknya semakin dekat, dengan menggenggam sebuah alat kecil di tangannya.

Naruto tahu itu-


"Dimana alat penyadap itu tertempel?"


"Eh?" melihat bibir Kyuubi yang bergerak tiba-tiba, sedikit membuatnya kaget. Mengerjap sekilas, saat mendapatkan tatapan tajam sang kakak.


"Cepat katakan!"


Wajah itu terlihat kesal, sukses membuat bibirnya mengerucut satu senti.

Menjawab pertanyaan sang kakak cepat, tentu saja tanpa suara,


"Di kerah bajuku."

"Hn, bagus."


Tanpa aba-aba Kyuubi menarik pelah kerah baju adiknya, dan melihat sebuah penyadap kecil di sana. Kedua maniknya menatap semakin tajam, cepat-cepat ia menempelkan alat temuan yang sempat di buatnya, dengan persiapan yang matang setiap hari tentunya ia harus membawa semua temuan yang di anggapnya penting.

Mengaktifkan benda itu dengan sigap.

"….."

"…"

"Ini alat peretas yang pernah aku buat bersamamu, Naruto. Kita punya waktu sepuluh menit saat sinyal dari penyadap ini menghilang dan sebelum orang yang berada di balik semua ini melakukan sesuatu untuk mengembalikan semuanya seperti semula."

Tidak menyangka dengan segala persiapan yang di buat kakaknya, Naruto benar-benar terkejut di buatnya.

Wanita coklat itu mengangguk paham, mengira bahwa laki-laki orange ini sempat marah padanya, mengingat bagaimanan sikapnya tadi.

"Maaf Niisan." Menunduk perlahan, dirinya bisa berbicara seperti biasa. Tapi tidak dengan suaranya,

Nada yang terdengar gemetar, beriringan dengan sesosok laki-laki raven yang tanpa ia sadari ternyata kini sudah mencabut selang infus di tangannya dan berlari cepat menghampirinya.

Grep-

Memeluk tubuhnya dari belakang, merasakan kukungan sang Uchiha sekali lagi, mendengar bisikan pelan yang masuk ke dalam telinganya,

"Aku merindukanmu Dobe," mendengar nada suara yang mampu membuat tangisannya pecah seketika.

"Ceritakan intinya pada kami Naruto, apa benar Orochimaru yang menculikmu selama ini, bagaimana kau bisa tidak mengenali kami semua, dan kenapa kau malah membantu kedua orang itu."

Merasakan sebuah tepukan lembut di kepalanya. Laki-laki orange itu pun turut andil kini memeluknya.

Kedua laki-laki yang memeluknya secara bersamaan,

"….."

"Ya..akan kuceritakan semuanya, waktu sepuluh menit ini tidak akan kusia-siakan." Memantapkan hatinya, dengan kedua manik yang sedari tadi mengeluarkan tetesan bening. Kedua tangan mengepal, dan tanpa membuang-buang waktunya lagi.

Sekarang lah waktunya mengatakan semuanya kelicikan Orochimaru dan Kabuto selama ini.

.

.

.

.

.

.


Di lain Tempat~


Kabuto mendecih terus menerus, jemarinya mengetik dengan cepat. Kedua maniknya fokus menatap laptop di hadapannya.

"Ck, kenapa sinyalnya tiba-tiba hilang?!" berteriak keras, ingin membanting benda di hadapannya kalau saja ia tidak lupa diri.

Otak yang berputar dengan cepat, menggunakan kepintarannya untuk mengembalikan penyadap itu seperti semula. Mengembalikan sinyal yang hilang,

Jangan kira dia bisa di kalahkan hanya karena sebuah sinyal!

"Siapapun yang melakukan ini, akan kubuat dia menyesal!"


TO BE CONTINUED~


A/N :


Yess, Mushi bisa apdet lagi :D Sesuai janji chap ini penuh dengan moment SasuNaru :3 #senyum sendiri pas ngetik#muahaha :v Chap depan semuanya akan selesai, dan di chap 12 semoga aja bisa mushi buatkan epilognya #yah moment mereka udah ngumpul lagi lah, terutama buat ketiga orang itu#SasuNaruMenma#biar ada bahagia-bahagianya gitu :v#

Berminat kah? Siapa yang mau?! #angkat kaki# :v


Jawab pertanyaan dulu deh :9

Naruto Trauma? Semoga aja enggak #nah lho#

Happy End? :9

Maksud kata "-" mushi taruh hampir berlebihan itu cuman pengganti koma saja kok :) kebiasaan sih, cocok aja di pake muahaha :v :v #maafkan author labil ini#tapi sudah di usahakan pengurangannya, meski masih ada dikit-dikit :3 #tendang#

Kolaborasi ItaKyuu akan ada di chapter depan :3 saat ini mushi mau fokusin ke SasuNaru dulu :3

Karena fic ini udah mau tamat, jadi mushi nggak mau nambahin character lain dulu ahaha :v

Dari chap depan ada yang nanya kalau judul fic ini mirip sama lagu girlband korea, kebetulan atau sengaja? Ahahaha, kebetulan aja kok, Mushi aja baru tahu kalau ada nama lagu yang mirip sama cerita mushi, mana tanggal rilisnya cuman beda satu hari sama fic ini #beneran nggak?# wuaoo kebetulan banget itu mah XD :v #habis mushi nggak terlalu suka sama band-band korea, taunya paling nama Bandnya aja kayak Girl Generation #mana anggotanya kagak tau sama sekali# sama EXO, itu pun gara-gara adik sepupu yang addict banget sama Korea :3#

Fic ini mushi ambil judulnya "Catch Me If You Can" karena temanya memang Naruto yang coba-coba kabur dari Sasuke dan Sasuke yang ngejar-ngejar dia. Cuman itu aja makanya ini cerita langsung muncul di otak #jadi semoga bisa ngerti# :3


OoOoOoOoOoOo


Next Chap? Catch You Dobe~

Ide ItaKyuuSasu di lancarkan, berhasil atau tidak ketiga orang itu menyelamatkan Naruto?

Saat sang Uzumaki pirang kini terpaksa kembali pada Orochimaru dan Kabuto, setelah menceritakan semuanya pada Kyuubi dan Sasuke.

"Aku takut Niisan."

"Tenanglah, kami akan menolongmu secepat mungkin. Tunggu kami, Naruto."

Berhasil?

"Hh, kau kira jika nanti kau kembali kepada keluargamu, mereka semua akan menerimamu lagi? Setelah menghilang selama lima tahun, dan sekarang tiba-tiba muncul kembali? Kau mempermainkan perasaan mereka sampai selama itu. Kau bodoh Naruto. Coba pikirkan lagi perkataanku tadi."

"…."

"Kalian Siapa?"

Stoppppp :9

Apa Naruto akan kehilangan ingatannya lagi, atau?


Fic ini tidak ada mushi cek jadi kalau ada typo mohon maaf :)

Arigatou buat kalian yang masih mau mendengar kelanjutan cerita ini biarpun alurnya udah ketebak muahaha :v

Yoshh riview kalian sangat berharga untuk mempercepat apdetnya fanfic ini :D

Untuk akhir Kata, Mushi nggak akan capek-capek bilang~

SILAKAN RIVIEW~ \^0^/\^V^7

JAA~