Jihand Setyani Mempersembahkan :

Second Fict

"Sasuke itu AYAH-ku"

Rate : M *nyempil lemon dikit2*

Genre : Romance/ Family/ Hurt/Comfort

Characters : Sasuke U. & Sakura H.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

==oOo==

Summary :

Akasuna Cherry adalah Puteri tunggal Haruno Sakura yang lebih sering tinggal bersama dengan Akasuna Sasori, Pamannya. Ia hidup dengan segala penyakit yang menimpahnya demi sebuah harapan dan keyakinan. Yaitu, bertemu dengan Ayah kandungnya.

==oOo==

KONOHAGAKURE, 14 FEBUARI 2013

Matahari tampak tak keluar dari ufuk timur. Sedangkan hujan rintik-rintik mulai membasahi kota Konoha sejak dini hari tadi. Tak ada suara kicauan burung, kehangatan sang mentari, atau bahkan bunga-bunga yang tumbuh dengan warna-warni cerahnya di pagi hari ini. Seorang gadis kecil tengah bersiap dengan seragam sekolahnya, sepatu Supra hitamnya sudah melekat pada kakinya yang putih, ia berdiri dibalik kaca jendela besar yang menghubungkan antara kamar Ayahnya dengan pemandangan diluar.

"Cherry, turunlah ke bawah. Kau harus sarapan"

Gadis kecil yang dipanggil Cherry itu menoleh mendapati sang Ayah yang muncul di balik pintu kamarnya. Gadis kecil itu tetap tak bergeming, ia malah menatap kembali hujan yang sedang mengguyur Konoha.

TAP TAP TAP

Langkah kaki Pria itu semakin mendekat pada tubuh Puterinya. Ia membungkukkan tubuhnya seraya mensejajarkan tingginya dengan gadis kecilnya. Tangannya bergerak seakan melilitkan sebuah benda pada leher Puterinya. Pantulan tubuh mereka di balik jendela kaca itu kini menjadi pusat perhatian Cherry, ia terkejut saat mendapati senyum yang mengembang dari bibir Ayahnya.

"Ini hadiah untukmu", kata Sasuke sembari menatap jendela kaca.

"Cantiknya~"

Cherry menggenggam liontin berbentuk lambang keluarga Uchiha itu dengan senyum manisnya. Ia membalikkan tubuhnya dan memeluk Sasuke dengan gencar. Kalau saja Sasuke tidak langsung menjaga keseimbangan, bisa dipastikan mereka akan terjerembab ke lantai. Dengan senyum bahagianya, Ayah muda itu kini mengangkat tubuh Puterinya dan membawa tas ransel merah dengan gambar Angry Bird di depannya.

"Bersiap untuk sarapan dan pergi ke sekolah?", tanya Sasuke.

"Um, aku siap! Keep Fighting! ", jawab Cherry dengan setengah berteriak.

==oOo==

"Ngghh…"

Seorang wanita tengah membuka matanya secara perlahan, seakan terasa berat karena kelopaknya sudah lama tak terbuka. Jemarinya bergerak secara perlahan dan saat mata emerald itu tengah terbuka secara utuh, ia menerka-nerka letak keberadaannya disini. Ia terbaring di atas kasur, dengan selang infuse di tangan kirinya, lalu selang oksigen juga bertengger di hidungnya. Ia merasa pusing dan tubuhnya seakan terasa kaku untuk digerakkan.

'Aku berada dimana? Kenapa semuanya berwarna putih? Apa aku sudah mati? Bukan, aku tak mungkin mati kalau semua peralatan medis ini masih menempel di tubuhku. Aku pasti berada di rumah sakit. Tapi, kenapa? Kenapa aku berada disini? Dimana Sasuke-kun dan juga Cherry?', Inner Sakura.

Matanya masih menjelajahi ruangan yang terbilang cukup besar ini. Ia mencoba mengingat kembali semua kejadian yang terakhir kali terjadi sampai ia bisa berada disini.

DOR!

Suara tembakan terngiang dalam benaknya. Benar, ia tertembak. Tertembak oleh Kakaknya sendiri, lalu bagaimana dengan Sasuke? Pikirannya mulai berkecamuk, dirasakan kepalanya mulai terasa sakit. Suaranya tidak bisa keluar, seakan tercekat di kerongkongan.

SREG

Suara pintu yang digeser membuatnya bernafas lega, setidaknya akan ada yang melihat dan menolongnya. Benar saja, Nyonya Uchiha itu tengah melihat Sakura dengan tatapan kaget sekaligus tak percaya.

"Sa-Sakura-chan?! Astaga! Tunggu sebentar, aku akan panggilkan dokter"


"Huh~ hujannya tidak mau berhenti, kalau begini pasti tidak akan olah raga di luar!"

Cherry menatap Konohamaru yang sedang menggeram sambil menatap hujan yang belum juga reda, ia mendekatkan diri pada bocah itu dan menatapnya dengan bingung.

"Konohamaru-kun, kenapa?", tanya Cherry dengan suaranya yang pelan.

"Loh, kamu? Kamu kan anaknya Sasuke-sensei "

Cherry menunduk seraya menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Identitasnya sebagai Puteri tunggal Uchiha Sasuke sudah diketahui oleh seantreo sekolahan.

"Kamu jangan pemalu begitu, nanti tidak punya teman loh"

Cherry menoleh mendapati seorang gadis kecil dengan rambut merah muda pendeknya. Gadis itu memiliki mata berwarna jingga dengan manik hitam di tengahnya, ia tersenyum seraya menjulurkan tangannya pada Cherry.

"Namaku Mina, salam kenal"

*kalo gak ada yang tahu, Mina ini adalah anak yang ditampilkan di Naruto Shippuden Eps.291*

Cherry menerima jabatan tangan itu dan tersenyum malu-malu, kemudian menerima jabatan tangan dari murid-murid lainnya. Sudah hampir satu bulan ia menginjak sekolah dan hanya menyendiri di dalam kelas, sudah saatnya ia kembali percaya pada orang lain dan memiliki teman-teman baru. Mereka berbicara banyak dan menerima kehadiran Cherry. Tanpa mereka sadari, sepasang mata onyx menatapnya dari lantai tiga dengan lembut. Onyx milik Sasuke Uchiha, Ayahnya.

"Kau sepertinya sudah melihat perkembangan Puterimu, Teme"

Sasuke menoleh dan mendapati sahabat baiknya berdiri di belakangnya, kemudian berjalan dan kembali memperhatikan kejadian di koridor A, tepat di depan kelas dimana anaknya belajar. Masih diselingi dengan tawa dan suasana hangat dari murid-murid yang berkumpul di koridor A, Naruto dan Sasuke hanya tersenyum memandang kumpulan murid-muridnya.

"Keponakanmu itu memang tahu caranya menghadapi Puteriku", ujar Sasuke tetap pada posisi menatap koridor A.

"Hm, aku kan pamannya"

"Dulu, kau juga yang menyelamatkan aku dari kesepian"

"Masa lalu ya?", Naruto hanya tertawa kecil menanggapinya.

"Dan karena kau juga, aku mengenal Sakura-chan", sambung Sasuke dengan matanya yang menerawang pada masa lalu.

"Hahaha, aku sangat ingat kau pernah membentaknya karena ia terlalu cerewet"

Sasuke hanya tersenyum mengingat masa lalunya dengan Naruto dan Sakura. Masa dimana mereka masih sangat kecil dan selalu bermain bersama kemana-mana. Masa dimana saat mereka menginjak kelas tiga SMP, berjanji akan tetap satu sekolah di SMA nanti. Naruto yang memang selalu optimis akan segala hal, entah karena keberuntungannya sedang tinggi atau apa, ia berhasil masuk ke sekolah ternama seperti Sasuke. Kalau Sakura? Ia ingat kalau wanita itu adalah wanita paling cengeng sekaligus cerewet. Bahkan saat ia sudah tak lagi memiliki harapan untuk dapat satu sekolah dengan kedua sahabatnya, ia menangis sepanjang hari. Biaya adalah kendala utama baginya. Keadaan Sakura juga tidak terlalu baik saat itu, mengingat kedua orang tuanya masih dalam keadaan koma. Tapi, Sasuke dan Naruto akhirnya mengatakan kepada orang tua mereka masing-masing untuk membantu Sakura, dan semua hal itu terjadi dengan mudahnya.

"Hey, Teme! Lihat!"

Suara Naruto menyadarkannya dari ingatan masa lalu yang terbilang cukup indah itu. Iris onyxnya terbelalak lebar saat ia melihat murid-murid mulai turun ke lapangan yang masih diguyur oleh hujan, wajah polos mereka begitu menikmati hujan. Sebenarnya bukan itu yang membuat Sasuke terkejut, tapi sosok gadis kecil dengan rambut panjang hitamnya yang ia ikat satu kearah kanan, tengah berjalan secara takut-takut karena tangannya ditarik oleh teman-temannya untuk merasakan hujan.

"Dobe, kau harus lakukan sesuatu pada Cherry! Kau guru dalam bidang olah raga, kalau terjadi apa-apa padanya kau-"

"Lihat dulu, Teme", tukas Naruto dengan santai.

"Tapi aku tidak bisa olah raga, Himeko~"

Kata Cherry sambil menatap wajah teman-temannya. Tubuhnya sudah mulai basah oleh air hujan, rasa panik mulai menjalar pada dirinya. Ia takut kalau ia akan pingsan, atau penyakitnya akan segera kambuh. Ia menutup matanya demi menghilangkan rasa takut yang sudah menjalar.

"Jangan berpikir negatif, rilex saja! Rentangkan tanganmu dan nikmatilah hujan ini"

Cherry membuka matanya secara perlahan saat mendengar Konohamaru berkata demikian. Tiba-tiba, ia merasakan sensasi lain saat ia mulai membiasakan diri pada hujan yang menyentuhnya. Senyumnya mengembang saat teman-temannya menatapnya dengan memberi semangat. Cherry tersenyum, ia yakin ia akan baik-baik saja. Kerumunan murid-murid itu akhirnya berbaris membentuk barisan yang rapih, kemudian menggerakan tubuhnya sesuka hati mereka. Suara canda dan tawa tengah memenuhi lapangan outdoor Konoha Elementary School. Lagi-lagi, iris onyx itu dibuat kagum oleh pemandangan murid-muridnya. Tanpa ia sadari, senyumnya begitu lebar menatap murid-muridnya yang bernyanyi sembari menggerakan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.

"Puterimu sudah tumbuh, Teme"

Pernyataan Naruto barusan ada benarnya, Puterinya memang sudah tumbuh begitu cepat. Ia berharap Sakura akan segera sadar dan melihat ini semua. Tiba-tiba, muncul sebuah ide menarik baginya, Sasuke segera berlari menuju tangga dan beranjak menuju lantai dasar. Naruto yang kebingungan hanya mengejar langkah sahabatnya itu. Setelah sampai, Sasuke ternyata berlari menuju kantornya. Sasuke meraih Canon hitamnya dan berlari ke arah koridor A, Naruto yang masih bingung hanya bisa mengejarnya.

"Hey, Teme! Pelan-pelan! Memangnya kau mau apa sih?", tanya Naruto dengan nafas terengah-engah.

KLICK KLICK KLICK

Sasuke memutar-mutarkan lensa cameranya bak seorang fotografer, Naruto hanya ber-oh ria saat ia menyadari kalau sahabatnya ini pasti sedang mengabadikan moment special yang sedang terjadi pada Puterinya. Setelah puas mengambil angel yang tepat, ia segera menatap layar cameranya dan tersenyum puas.

DRRT DRRT DRRT

Getaran Bold hitam di saku kemejanya menghentikan aktifitasnya, ia menatap layar handphonenya yang menampilkan nama Ibunya. Segera saja Sasuke menekan tombol hijau dan segera mengangkatnya.

"Kaasan, ada apa?"

"Sasuke-kun, datanglah.. Sakura-chan, dia.. dia sudah sadar dan ingin bertemu denganmu"

DEG

Sasuke segera menutup sambungan telefonnya dan meremas handphonenya. Perasaannya seakan bergemuruh menahan emosi, entah ia harus berteriak atau apa yang jelas ia masih membatu ditempat. Doanya semalam telah didengar oleh Kami-sama.

"Teme, kau kenapa?", tanya Naruto dengan wajah bingung.

"Sa-Sakura, dia sudah sadar"

Naruto tersenyum sumringah, kemudian menepuk dengan kencang bahu sahabatnya, "Tunggu apa lagi?! Cepat ke rumah sakit!"

Sasuke mengangguk dan menyerahkan cameranya pada Naruto, kemudian setengah berlari menuju pelataran parkir bawah tanah. Saat ia akan membuka pintu mobilnya, sebuah suara menghentikannya. Suara yang memanggilnya dengan sebutan 'Ayah'. Ia menoleh dan mendapati tubuh Puterinya yang sudah basah akan air hujan, dan dengan nafas yang tersengal seperti habis berlari mengejarnya.

"Ayah mau kemana? Apa yang terjadi dengan Ibuku?"

Sasuke tersenyum dan memeluk tubuh Puterinya, kemudian menggandeng tangan kecil itu kembali ke sekolah.

"Kalau kau mau ikut, kau harus ganti pakaian. Ayo ambil tasmu dan kita pulang terlebih dahulu"

Cherry tersenyum mendengar hal itu, bagaimana pun Ayahnya tetap menjadi seorang Ayah yang perhatian. Ia pikir, Ayahnya akan tetap membawanya dengan keadaan basah kuyup, atau tidak membawanya sama sekali. Saat mereka baru saja mengambil tas merah milik Cherry di kelas, sosok wanita dengan rambut pirangnya menghampiri mereka dengan membawa jaket tebal dengan aksen bulu-bulu di kerahnya.

"Kau pasti kedinginan sehabis mandi hujan, pakailah ini setidaknya untuk menghangatkanmu", ujar wanita itu dengan lembut.

Cherry tersenyum dan mengangguk, kemudian menatap wajah wanita itu, "Terima kasih, Ino-sensei"

Sasuke membungkukkan tubuhnya dan segera berlalu dari tempat itu. Sedangkan iris aquamarine itu tengah menatap mereka dengan bibir yang tersenyum hangat.

"Kalian semakin kompak"

==oOo==

TAP TAP TAP TAP

Sasuke tak henti-hentinya berlari dengan Cherry yang berada di dalam dekapannya. Meski ia berlari, Ayah muda itu masih sangat hati-hati dalam melangkah mengingat Puterinya berada dalam pelukannya. Ia terus menyusuri koridor Rumah Sakit dan segera menuju ke kamar Sakura, ia membuka pintu kamar itu dengan terburu-buru dan menutupnya kembali. Dengan perasaan yang tidak ia mengerti, ia berjalan menapaki lantai marmer kamar itu. Sampai pada saat sosoknya berhadapan langsung dengan sosok wanita yang sedang terduduk sambil menatapnya dengan tatapan terkejut. Tak ada lagi selang-selang yang membuat Sasuke resah melekat di tubuh wanita itu. Hanya ada perban yang masih melilit mengelilingi keningnya. Ia menurunkan Cherry dengan perlahan, lalu tersenyum menatap wajah wanita itu.

"Hey, Jidat! Kau sudah sembuh, eh?", tanya Sasuke dengan nada meremehkan.

Walaupun ia tersenyum, tapi air mata dari manik onyx itu turun juga. Wanita yang ia panggil jidat itu membuang mukanya dan melipat tangannya di depan dada.

"Huh, aku tidak mengenalmu!"

Tanpa diberi aba-aba, Sasuke segera berlari dan memeluknya dengan erat. Ia tertawa sambil menangis, meski pada akhirnya tangan wanita itu sudah terulur untuk mengusap punggung Sasuke, tetap tak bisa meredamkan tangis Bungsu Uchiha itu.

"Sudah, Sasuke-kun, kau tidak tahu malu!"

"Ibu,"

Wanita itu menoleh dan melepaskan pelukan Sasuke saat seorang gadis kecil memanggilnya Ibu. Mengerti dengan situasi, dan dengan langkah pelan, Sasuke meraih tubuh anaknya dan mendudukkannya tepat disamping wanita itu, Sakura Haruno.

"Kau sudah kembali, Cherry? Bagaimana kabarmu?", tanya Sakura sembari menyibakkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Puterinya. Cherry tersenyum dan mengangguk menandakan kalau ia baik-baik saja.

"Tak disangka, di hari kasih sayang ini Tuhan memberikan hadiah untuk keluarga kita"

Ucap Mikoto memecah keheningan. Semua yang ada di ruangan itu hanya tersenyum dan menatap satu sama lain.

"Baiklah kalau begitu, Ibu dan Ayah akan pulang duluan. Aku rasa aku harus masak banyak mengingat besok sudah harus menyambut kepulanganmu"

Ucapan Mikoto lagi-lagi menambah kehangatan diantara keluarga Uchiha itu. Sakura tersenyum, ia begitu bahagia hidup dikelilingi dengan orang-orang yang mencintainya dan menerima kehadirannya dengan sangat baik.

"Aku juga, aku mau belajar dengan Nenek untuk membuat kue pelangi! Ayo kita pulang", teriak Cherry penuh semangat.

"Baiklah, Sasuke. Aku pulang dulu, jaga Sakura baik-baik", ucap Fugaku dengan wajah datarnya.

Selepas kepergian mereka, Sasuke hanya tersenyum mengingat besok pasti akan ada pesta besar sekaligus mengumumkan pernikahan mereka berdua yang telah disiapkan. Tak lama, bibirnya menyeringai menatap Sakura yang mulai kebingungan menatap wajahnya.

"Kau kenapa, Sasuke-kun?"

"Hn, entah kenapa aku sangat merindukanmu", katanya dengan suara yang bisa dibilang…..lembut?

GLUK

Sakura dengan susah payah menelan ludahnya sendiri, firasat tak enak mulai menjalar dalam benaknya. Benar saja, Bungsu Uchiha itu mulai mendekatkan diri pada Sakura.

"S-Sasuke-kun, bagaimana kalau ada perawat yang masuk?"

"Aa, aku lupa"

Sasuke segera beranjak menuju pintu dan menguncinya. Masih dengan seringainya, ia kembali menghampiri Sakura dan mendekatkan wajahnya pada wanita yang sangat ia cintai itu.

"S-Sasu…mmhhh~"

Sasuke mengulum lembut bibir ranum milik Sakura yang sudah lama tak ia jamah, menekan pelan kepala calon isterinya untuk memperdalam ciuman mereka. Membiarkan hawa panas mulai menjalar di tubuh dua manusia yang tengah bergulat, karena lamanya tak saling menyentuh. Sasuke Uchiha merengkuh pipi wanitanya dengan lembut sambil tetap memperdalam ciuman mereka.

"Sasu….nggghhh…"

Bibir Sasuke menyeringai lagi saat ia mendapat kesempatan untuk semakin memimpin ciumannya. Ia memasukkan lidahnya untuk mengecap segala rasa yang sudah lama tak ia rasakan dari wanitanya. Tangannya mulai bergerak menyusuri tenguk hingga dada yang bahkan sudah lama tak ia jamah. Pria itu tersenyum, lalu menurunkan ciumannya pada tenguk putih wanitanya, menghisap dengan sekuat tenaga demi menciptakan kiss mark untuk menandai bahwa wanita itu adalah wanitanya. Itu berarti, tak satu orang pun boleh menyentuh selain dirinya.

"Pelan-pelan, Sasuke-kun…sss..sakit~"

Sakura menarik kepala Sasuke dengan kedua tangannya, ia menatap wajah Pria itu dengan kesal dan pipi yang menggembung. Sasuke tertawa kecil dan mengecup singkat bibir Sakura. Tangannya dengan terampil membuka kancing baju pasien yang Sakura kenakan, tiga kancing saja sudah cukup untuk memperlihatkan apa yang ada dibalik piamanya.

"Kau tidak memakai bra, eh?", tanya Sasuke dengan wajah nakalnya.

Sakura membuang mukanya lagi, wajahnya sudah memerah karena malu, "Aku ini pasien!"

"Siapa yang memakaikanmu baju?"

"Bibi Mikoto, memangnya kenapa?"

"Hn, ku kira pria lain", jawab Sasuke sembari mengecup tenguk Sakura.

"Sekalipun itu dokter?", tanya Sakura yang masih menikmati hembusan nafas Sasuke pada tenguknya.

"Aku akan membuatnya dipecat dari Rumah Sakit ini", jawab Sasuke sembari meraih payudara Sakura.

"Aaaahhhnn…Sas-sukeeeeehh…"

Sasuke meraih kedua payudara Sakura dan melumatnya, sementara tangannya memijat-mijat pelan payudara yang satu lagi. Lama dalam keadaan seperti itu, Sasuke meraba selangkangan Sakura yang sudah mulai basah.

"Cepat sekali," ,ujarnya dengan wajah datar.

Sasuke melepas celana Sakura, lalu melepas celana dalamnya dan membiarkan bagian bawah Sakura tak ditutupi sehelai benang pun, dengan seringai yang penuh percaya diri, ia segera menghadap pada selangkangan Sakura, menyesap aroma cherry blossom yang sudah lama tak ia hirup. Sasuke menyukai kegiatan ini, baginya liang kenikmatan Sakura itu selalu harum. Dengan perlahan, ia menempelkan lidahnya dan menjelajahi daerah intim calon isterinya itu.

"Aahh~ Sasuke-kun…aaahhh…aahhhh"

Tubuh Sakura bergoyang ke sembarang arah saat ia merasakan lidah Sasuke menjelajahi daerah kewanitaannya. Tangannya meremas kencang sprei tempat tidur dan kepalanya sedikit terangkat saat merasakan lidah Sasuke mengoyak dalam-dalam kewanitaannya.

"Aaaah…! Hhh…hhh….aaahhn…mmhh…Sasu~"

Sasuke menyeringai saat ia rasakan tubuh Sakura mulai menegang, jemarinya meremas rambut Sasuke dan meronta meminta dilepaskan.

"Ahh…lepaskan aku, Sasuke-kun…ahhh…ahh…ahhh~ Lepaskan!"

"Memohonlah, Hime"

"Ku mohh…oohh….aahhh..hooon, Sasuke-kun"

Bukannya melepaskan, Sasuke justru semakin memperdalam ciumannya dan menghisap semua cairan milik Sakura, hal ini tentu saja membuat Sakura menggelinjang hebat.

"Aaaah….aaaaaahhhh~ oohh…Sasuke-kun~"

Sakura mendesah nikmat saat dirasa klimaksnya yang pertama sudah terjadi, nafasnya terengah-engah dan kepalanya terasa sedikit sakit. Sasuke mengecup singkat kewanitaan Sakura, lalu mengelap sisa cairan yang ada di mulutnya dengan sapu tangan. Sasuke berdiri dan mengecup kening Sakura dengan lembut.

"Tak ada permainan inti, mengingat kondisimu belum begitu baik. Aku rasa permainan inti akan lebih terasa saat melakukannya di malam pertama, mengingat sudah sangat lama tidak berhubungan, pasti rasanya akan sama saat waktu pertama kali"

Ucap Sasuke dengan seringainya. Sedangkan wajah Sakura sudah memerah seperti tomat, ia membuang wajahnya lagi seraya membiarkan Sasuke memakaikan pakaiannya lagi.

"Beristirahatlah, Hime! Aku yakin Minggu depan tenagamu sudah pulih"

Melihat seringai dari bibir Sasuke, Sakura mengeryit dan menatap sengit Pria yang ada di hadapannya, "dasar Ayam PERVERT!"

.

.

*TBC


COMING SOON

Sasuke itu AYAH-ku Chapter 11

"Mengingat hal itu, memangnya apa yang terjadi sampai aku harus terbaring di rumah sakit?"

"Kau lupa? Tentang insiden gagalnya pembunuhanku oleh Kakakmu, lalu kau mengejar peluru yang ia tembakkan untukku?"

"Peluru? Kakakku?-"

"Hn,"

"Lalu dimana Sasori-nii?! Cepat katakan dimana Sasori-nii!"

"Kau ini kenapa jadi membentak-membentak, hah?! Dia sudah mendekam di penjara!"

"APA?! KAU GILA! KAU AKAN MENIKAHIKU SEDANGKAN KAKAKKU BERADA DI DALAM PENJARA?!"

"Itu sudah peraturan hukum di Negara ini"

"AKU TIDAK AKAN MENIKAH DENGANMU SEBELUM KAU MEMBEBASKAN KAKAKKU!"


AUTHOR AREA :

Banyak yang silent reader (teman-teman saya) yang membaca tanpa memberi review, tapi mereka mengirim banyak SMS/BBM dan bertanya, "Dari pisau belati ke peluru gimana ceritanya?"

Tapi, ada satu reader yang bertanya demikian, saya akan jawab sekarang :))

Deshe Lusi : Tuhan sudah mengabulkan doanya ko, kan dia anak kecil. Hahaha. Makasih udah review kakak u,u

Nina317Elf : Selera kita sama berarti ya? Entah kenapa saya juga suka aja sama fict yang ada unsure Family atau yang udah ada anaknya gitu. Haha, feel udah berasa? Alhamdulillah~ Hahaha, makasih ya reviewnya :D

Diella NadiLa : Namanya seorang Ibu, pasti akan mendidik anaknya dengan sebaik mungkin kan ya? XD, untuk soal itu akan dibahas dichapter depan. Untuk Chapter 10 ini, biarkan keluarga mereka harmonis dulu. Thanks for review XD

Ayano Futabatei : Ne, Ayano-san. Sudah saya lanjutkan~ Terima kasih atas reviewnya

Shirokawa Ayumu : Ini sudah saya update XD haha, maklum saya kelas 3 SMA, jadi mungkin cuma update hari Sabtu-Minggu. Haha, Nah! Pertanyaanmu sama dengan pertanyaan teman-temanku. Akan kita bahas di Chapter 11, karena chapter 10 ini biarkan keluarga mereka harmonis dulu. Haha, btw makasih atas review anda yang membangun :D

nadja violyn : Sudah saya lanjutkan. Entah kenapa melihat nama nadja, mengingatkan saya pada teman sebangku saya yang suka ngomong "Ganbattte" untuk saya hahaha. Terima kasih reviewnya

Karasu Uchiha : Yah, bagaimanapun Fict ini adalah Fict Indonesia. Hahaha, terima kasih atas reviewnya

Yaaaaaaah~ persembahan lagi dari saya! Bagaimana dengan Chapter 10 ini? Saya benar-benar minta maaf untuk keterlambatannya. Mungkin nanti malam saya akan publish lagi Chapter 11 buat para readers yang jomblo, yang malam minggu gak kemana-mana, biar ada bacaan. Saya bikin yang panjang sekalian *Digaplok Readers*

Mind To Review Again? Gomawo~