KaiRei Fanfiction

Disclaimer: I love Kai and Rei but unfortunately they are NOT mine TT_TT neither are the other beyblade characters. But I DO have the other characters in this fic :)

Warning! This story may contain slightly BL elements. Don't like don't read!

No flame please m(_ _)m

Enjoy :D

Chapter 10

"Kali ini aku pasti bisa!" kata Rei meyakinkan dirinya sendiri. Keningnya berkerut, tangannya terjulur ke arah vas bunga.

"Ahhh! Aku bisa gila kalau begini terus?!" teriak Rei frustasi saat tangannya menembus vas bunga.

Rei menghela napas panjang. "Ayo jangan menyerah! Harus bisa!" seru Rei, lagi-lagi, pada dirinya sendiri.

=Dua hari yang lalu=

"Thunder pegasus?" ulang Kai bingung.

"Ya! Aku yakin, nama itu punya hubungan dengan orang yang kucari," kata Rei bersemangat.

Kai mengangkat alis sambil menatap tidak percaya pada Rei.

"Namanya ada di situ!" kata Rei sambil menunjuk kertas di tangan Kai.

Kai menatap kembali daftar nama yang ada di tangannya. Memang ada seseorang yang menggunakan nama thunder_pegasus, tapi tidak ada data apapun tentangnya.

"Selamat akhirnya kau sudah bisa mengingat sesuatu tapi tidak ada data apapun tentang orang ini," kata Kai sinis.

Rei menyeringai. "Itulah gunanya kau!"

Kai mendengus sebal mendengar jawaban Rei, tapi saat dia akan membalas perkataan Rei ponselnya berdering. Kai melihat nomor yang menghubunginya.

"Apa maumu?" tanya Kai kasar.

Setelah diam beberapa saat, Kai menghela napas dalam.

"Apa aku punya pilihan lain?" tanyanya sinis pada orang di seberang telepon. "Kau yang memaksaku! Ukh.. Ya.. Ya.. Baiklah. Aku akan datang besok... Hn."

Akhirnya dia mengakhiri pembicaraan. Kai melirik Rei yang memasang wajah tidak setuju.

"Apa?"

"Apa kau selalu kasar begitu?"

"Aku hanya kasar pada orang yang memang harus dikasari."

"Misalnya?"

"Misalnya kau!"

Rei mengerucutkan bibirnya. "Jahat! Memangnya apa salahku?!"

"Karena kau selalu mencampuri urusanku."

"Aku tidak pernah mencampuri urusanmu, aku cuma memberi saran agar kau bisa lebih sopan."

Kai berdecak sebal. "Sudahlah aku tidak mau mendengar lagi apapun alasanmu. Nah, sebelum kau mulai menceramahiku lagi, dengar baik-baik! Besok aku akan pergi, mungkin aku baru pulang seminggu lagi. Jangan coba-coba mengikutiku!"

"Kau mau kemana?" tanya Rei penasaran.

"Bukan urusanmu. Ingat! Jangan mengikutiku!" kata Kai tegas.

"Huh siapa juga yang mau mengikuti orang brengsek sepertimu?!" seru Rei sebal sambil berlalu pergi.

Kai memijit keningnya, migrainnya kambuh. "Hantu bodoh," gumamnya sambil masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan semua barang untuk kepergiannya besok.

Sementara itu, Rei melayang keluar menuju atap flat. Di sana dia duduk di pinggir pagar pembatas sambil menatap kota di bawah setengah melamun. Lampu-lampu di bawah sana mulai dinyalakan. Biasanya Rei selalu bertanya-tanya apakah mungkin salah satu dari cahaya itu adalah rumahnya. Tapi kali ini pikirannya dipenuhi dengan hal lain.

"Cih! Dasar brengsek! Siapa juga yang mau mengikutimu!" teriaknya kesal ke udara kosong. "Kenapa dia selalu bersikap begitu padaku sih?!" gerutu Rei kesal walaupun di dalam hati dia tahu kalau Kai bersikap seperti itu pada semua orang.

"Mungkin benar apa kata Kai, aku terlalu ikut campur," kata Rei setelah merenung beberapa saat. "Tapi aku 'kan cuma ingin membantu supaya kejadian dengan kakeknya tidak terulang lagi."


Karena bosan setengah mati menunggu Kai pulang, akhirnya Rei memutusan untuk melatih kemampuan untuk memadatkan tubuhnya. Sudah seharian dia mencoba tapi belum ada kemajuan.

Rei menghela napas panjang dan memandangi tangannya. "Apa yang salah ya?" tanyanya pada diri sendiri. "Hmm kurasa aku akan berkeliling daerah sini dulu, siapa tahu aku bisa mendapatkan inspirasi di tengah jalan nanti."

Maka Rei pun melayang dan keluar menembus pintu.


Kai duduk bersandar di tempat duduknya. Sepupunya, Tala, sedang memberikan presentasi omong kosong tentang motivasi dan semangat bermain shogi. Kai tidak peduli pada apa yang dikatakan oleh sepupunya di depan sana. Tala bisa sangat terdengar persuasif dan bijaksana kalau dia mau. Tapi Kai sudah sangat mengerti sifat Tala. Dia datang ke sini hanya untuk mengalahkan orang sebanyak mungkin.

"Hobi yang buruk," kata Kai pelan.

Dua hari yang lalu, Tala menghubunginya dan mengabarkan kalau dia harus menemaninya ke pertemuan tahunan antar klub shogi tingkat SMU. Dan sebagai juara pertama pertandingan tahun lalu, sekolah mereka wajib menghadiri pertemuan menyebalkan ini untuk berbagi rahasia sukses bermain shogi. Sebenarnya, dia tidak ingin datang tapi sayangnya Tala adalah ketua klub shogi dan Kai (dipaksa menjadi) wakilnya. Dia tidak punya pilihan lain kalau tidak ingin diganggu Tala selama (minimal) dua minggu kedepan.

Kai menghela napas dalam, dia merasa sangat bosan karena sudah tiga jam dia tidak melakukan apapun selain mendengarkan presentasi Tala yang seperti tidak ada habisnya.

"Sampai kapan si bodoh itu akan berhenti berbicara?" tanya Kai pada dirinya sendiri. Setelah perkataan tadi keluar dari mulutnya, tanpa sadar Kai menunggu teguran yang biasa dia terima dari Rei. Namun tentu saja tidak ada yang menegurnya. Kai menghela napas lagi.

'Apa yang sedang dilakukan hantu bodoh itu sekarang?' pikirnya.

Saat Tala menghubunginya dua hari yang lalu Kai melarang Rei ikut karena dia berpikir dia tidak membutuhkan satu lagi orang (atau hantu) yang bisa membuatnya pusing tapi sekarang Kai mulai bertanya-tanya apakah keputusannya itu tepat atau tidak. Setidaknya kalau Rei ikut akan ada seseorang yang dia kenal di tempat asing ini. Kai tidak pernah merasa nyaman mengunjungi tempat asing. Sialnya Tala atau kakeknya selalu berhasil menggiringnya ke tempat atau situasi yang tidak disukainya.

"Kai!" seru Tala mengganggu lamunan Kai.

"Hn."

"Ayo kita makan," kata Tala ceria. Walaupun dari luar dia sama sekali tidak terlihat ceria tapi dari sinar matanya Kai tahu Tala sedang gembira.

"... Apa ada sesuatu yang membuatmu gembira?"

Tala hanya tersenyum miring.

"Apa?"

"Hari ini Bryan akan datang!" serunya kali ini senyumnya melebar menjadi sebuah seringai.

Bryan, kalau boleh dibilang, dialah wakil ketua klub shogi yang sebenarnya. Dia yang membantu Tala menjalankan klub shogi di lapangan sementara Kai mengerjakan tugasnya sebagai wakil ketua hanya sebatas urusan administrasi saja atau kalau ada acara seperti sekarang barulah Kai ikut dengan Tala.

"Ukhh lalu kenapa kau mengajakku kalau Bryan juga akan datang?"

"Ayolah Kai jangan muram terus seperti itu. Mulai besok tidak akan ada lagi presentasi membosankan, mulai besok sampai empat hari kedepan kita akan bertanding sho.."

"Maksudmu kita akan membimbing mereka 'kan," kata Kai sambil memutar bola matanya.

"Ya, ya, terserah kau saja. Kita akan membimbing mereka bagaimana cara bermain shogi yang baik. Kali ini aku harus mengumpulkan point lebih banyak dari Bryan! Terakhir kali aku kalah satu point darinya," ujar Tala bersemangat sambil mengambil beberapa potong roti.

"Apa kalian bisa berhenti membantai orang-orang saat bermain shogi? Banyak diantara peserta yang baru belajar shogi. Apa kalian tidak punya belas kasihan?" kata Kai sambil menyesap kopinya.

"Sudah berapa kali harus kukatakan. Kalau kita tidak melawan mereka dengan segenap kekuatan berarti kita tidak menghormati lawan kita, siapapun dia."

"Hn. Terserah sajalah."

Tiba-tiba Tala terkekeh. Hal yang selalu membuat Kai sebal.

Kai menatapnya galak.

"Kai, Kai, Kai, kau selalu saja menyuruhku dan Bryan untuk menahan diri padahal kau lah yang paling banyak membantai orang-orang malang yang menjadi lawanmu. Dan alasanmu mengalahkan mereka dengan cepat adalah karena kau bosan bermain dengan orang bodoh!" ujar Tala sambil tergelak seperti sedang menceritakan sesuatu yang lucu. Kai tidak pernah mengerti selera humor Tala.

Kai tidak mengatakan apapun lagi, dia berbalik pergi.

"Hei Kai! Kau mau kemana?" panggil Tala.

Kai tidak menjawab panggilan Tala. Dia pergi menuju ruangan tempat mereka akan bermain shogi nanti bermaksud menyendiri namun saat dia tiba, di dalam sudah banyak orang disana. Mereka mengerumuni sebuah meja dan sibuk berbisik satu sama lain.

"Sepertinya Bryan sudah datang," gumam Kai.

Salah satu pemain di meja tadi mendongakkan kepalanya dan mata mereka bertemu.

"Kai," sapa Bryan datar.

Kai menganggukkan kepalanya.

Tidak sampai lima menit kemudian permainan selesai. Bryan berdiri menghampiri Kai, senyum sadis tersungging di bibirnya.

"Hari ini aku yang akan menang!" desisnya.

Tiba-tiba saja dia merindukan Rei. Kai merasa kecenderungan Rei memberi nasihat setiap 15 menit sekali lebih baik dibandingkan dengan kepribadian dua orang maniak shogi yang selalu mengganggu dan membuatnya pusing.


Rei melayang mengitari meja makan entah untuk yang keberapa kalinya. Dia melirik jam.

"Aku bersumpah pasti jam itu rusak!" gerutunya saat melihat posisi jarum jam yang masih belum berubah dibandingkan dengan saat terakhir kali dia melihat jam yaitu 30 detik yang lalu.

Lalu Rei mendengar suara kunci dibuka. Rei menyentakkan tubuhnya dan melesat menuju pintu.


Kai membuka pintu flatnya, dia bersyukur akhirnya dia bisa pulang dan melepaskan diri dari dua orang gila yang selalu menempelnya selama lima hari terakhir ini.

"Okaeri Kai!" sahut Rei sambil tersenyum lebar.

"..."

"Kai?" panggil Rei saat melihat wajah kaget Kai.

"... Tadaima," jawab Kai setelah jeda beberapa saat.

Sejujurnya, Kai tidak terbiasa disambut begini saat pulang. Sudah terlalu lama, tidak ada yang menyambutnya pulang. Rasanya aneh. Dia tidak tahu apa harus senang atau tidak.

Rei menaikkan alisnya dan memandang bertanya pada Kai.

"Apa kau sudah menjaga rumah dengan baik?" tanya Kai berusaha menghentikan apapun itu yang akan segera ditanyakan oleh Rei.

"Hmmph tidak sopan! Kau pikir aku ini apa?!" seru Rei kesal sambil mengikuti Kai masuk.

"Hm.. Apa aku harus menjawab pertanyaan itu? Jawabannya sangat mudah. Kau mau tahu?"

Rei menggertakkan giginya, dia tahu Kai hanya akan mengusilinya lagi.

"Jawabannya: Hantu bodoh," kata Kai tanpa menunggu jawaban dari Rei.

Rei terlihat marah tapi kemudian dia menelengkan kepalanya. "Kai, apa kau sedang senang?"

"Apa maksudmu?"

"Karena kau tersenyum-senyum seperti itu," jawab Rei.

Mendengar jawaban Rei, senyuman di wajah Kai langsung sirna kemudian wajahnya merona. Rei tersenyum jahil melihat Kai salah tingkah.

"Ne, ne, ne ada berita gembira apa? Beritahu aku! Beritahu aku!"

"Berisik!" bentak Kai sambil membanting pintu kamarnya.


Ohisashiburiiiii~ m(_ _)m

Yoow akhirnya bisa update lagi setelah seabad *lebay

Makasih untuk Faye Calderonne, Laila Saksatori 24 dan Dark Angel yang udah review ;)

Maafkan walaupun udah lama banget tapi cuma bisa update dikit banget hikss T^T semoga chappy ini ga terlalu mengecewakan...

Hmm kayaknya banyak yang penasaran ya gimana Rei-chan bisa meninggal (*ge er :p) fufufu jangan takut jangan resah karena jawabannya nanti muncul sendiri *sok misterius

Makanya ikutin terus cerita ini sampe akhir (semoga) *promosi promosi promosi*

Jyaa nee~