Baekhyun mencengkeram gaun yang dikenakannya erat-erat. Tak peduli jika hal itu akan membuat gaun berat berbahan brokat dengan gaya klasik itu akan basah oleh keringat yang membasahi telapak tangannya. Ia gugup. Teramat gugup. Teater akan berlangsung kurang dari dua puluh menit lagi tapi ia merasa masih belum siap.

"Kemarilah."

"Huh?" Chanyeol menatap Baekhyun yang memucat. Wanita mungil itu melemparkan tubuhnya ke pelukan sang kekasih.

"Gugup sekali hum?" Baekhyun mengangguk.

"Bagaimana jika nanti aku melakukan kesalahan?"

"Kau sudah berlatih begitu keras. Itu tidak akan terjadi."

"Bagaimana jika aku tiba-tiba lupa dialognya?"

"Um, ucapkan apa saja. Kau juga boleh merayuku di atas sana nanti." Baekhyun memukul kecil punggung Chanyeol.

"Aku serius."

"Aku juga. Kau terlalu banyak berpikir. Kasihan sekali kepala mungilmu ini. Kau tidak takut akan meledak?"

"Menyebalkan."

"Tarik nafas dan keluarkan secara perlahan. Lakukan berulang kali." Baekhyun melepas pelukannya dan mematuhi saran Chanyeol.

Tiba-tiba saja pria itu menangkup wajah si mungil dan melumat bibir tipis si mungil membuat jantung si mungil berdetak begitu cepat.

"Bagaimana sekarang?"

Baekhyun menatap Chanyeol. "Kau memang benar-benar mesum Park. Bagaimana jika ada orang lain yang melihatnya?"

"Bukankah kau kekasihku. Tidak masalah."

"Tapi terima kasih. Sekarang aku lebih baik."

"Eiyy, bilang saja kau mau ku cium lagi."

"Park Chanyeol!"

"Cepatlah bersiap Baek, lima menit lagi kau akan keluar!" Yixing berseru. Dan tentu saja itu bohong karena nyatanya acara ditunda karena tamu kehormatan -Menteri Kebudayaan yang akan memberikan sambutan datang terlambat karena suatu hal-. Yixing tidak tega melihat pemain teater lainnya terlantar, mereka duduk bahkan berjongkok di sepanjang lorong hanya demi sepasang love bird itu.

Bicara soal mengapa hanya ada mereka berdua di ruang make up. Itu karena Chanyeol mengusir pemain lain dengan iming-iming makan malam bersama di sebuah restaurant berbintang -yang harganya sangat mahal tentunya- setelah pementasan selesai.

.

.

Miss Right

EXO's Fanfiction

ANNOTATION

Ide cerita sepenuhnya milik ©Curloey Smurf.

Apabila tokoh, alur, tipe cerita, dll kurang berkenan. Cukup klik icon silang di halaman. Be a wise readers!

Hanya sebatas manusia biasa, typos, sedih dapat bash, kemampuan berhayal terbatas, fiktif keterlaluan dll. Jadi mohon pengertiannya. Thank You~

This is an EXO's fanfiction, Genderswitch, Byun Baekhyun and Park Chanyeol as main cast, other EXO member, guest star (?), etc as support cast. Pairing Chanbaek. Genre Romance, Friendship. Chapter: 10 of ?. Rate: M for safe.

I'm not a writer but I love to write.

e)(o

She might a good woman, but still not a right woman for you

.

.

.

Beberapa hari sebelumnya

"Aku tidak mengerti."

"Hum?" Chanyeol mendongakkan kepalanya menatap kekasihnya.

Keduanya tengah berada di apartemen Chanyeol. Baekhyun membantu pria itu mengeringkan surainya dengan handuk -tidak ada hair dryer di apartemen ini-. Baekhyun duduk di atas sofa sedangkan Chanyeol duduk dibawahnya di atas karpet tebal.

"Apa kau mengencani seluruh wanita di Hyundae?"

Chanyeol tergelak. "Aku tidak mengencanimu."

"Ya. Kau menolakku terang-terangan." Cibir Baekhyun. Chanyeol menggoyangkan beberapa lembar kertas ditangannya.

"Ada 15 orang wanita yang berasal dari Hyundae. Sisanya 10 dari luar Hyundae."

"Kau memiliki 25 mantan kekasih hanya dalam waktu tiga tahun? Lalu, bagaimana dengan London? Apa kau juga memiliki kekasih di sana?"

"Tidak. Aku sama sekali tidak memiliki waktu untuk itu di sana. Lagi pula, katakan padaku. Wanita mana yang tertarik dengan pelayan café dengan uang pas-pasan?" Chanyeol tergelak.

"Pelayan café?" Beo Baekhyun.

"Ya. Untuk biaya hidup aku bekerja menjadi pelayan café di London. Ayahku hanya memberikan bantuan biaya hidup di tahun pertama. Aku bahkan harus berusaha keras agar bisa mendapat beasiswa kuliah di tahun kedua kuliahku sampai aku lulus. Bekerja, mempertahankan kestabilan nilai akademik, kesibukan di beberapa club kampus. Kapan aku bisa memiliki teman kencan?"

Baekhyun sedikit tertegun mendengarnya. "Apa kau pernah berpikir itu karma?" Tanyanya ragu.

"Sesekali ya. Tapi bukankah dari pada karma, kau lebih baik menyebutnya sebagai pelajaran hidup? Aku menikmatinya."

"Um, Chanyeola?"

"Hum?"

"Bagaimana dengan kutukan 10 hari yang kau maksud?"

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Sejak kapan itu terjadi?"

Chanyeol nampak bergumam untuk beberapa saat. "Aku tidak terlalu ingat. Itu terjadi begitu saja. Saat itu aku baru menyelesaikan kuliahku di LBS. Abeoji memintaku untuk kembali dan mulai bergabung dengan perusahaan. Saat itu eomma tiba-tiba saja merencanakan kencan buta dengan putri salah satu teman perkumpulannya." Chanyeol menatap Baekhyun yang juga menatapnya.

"Lalu?"

"Seingatku ia wanita yang baik, kami juga berbicara dengan nyaman satu sama lain. Meski aku lebih suka menganggapnya sebagai teman bicara. Tapi karena eomma terus mendesak akhirnya kami setuju melakukan pertunangan. Lalu sepuluh hari sebelum pertunangan terjadi, tiba-tiba saja ia menemuiku sambil terisak. Kami membatalkannya. Setelahnya, beberapa wanita lain yang dikenalkan eomma atau appa juga melakukan hal yang sama."

"Apa kau merasa ada yang aneh tentang itu? Maksudku, siapa yang percaya itu kutukan di zaman seperti ini?"

"Um, kurasa satu-satunya hal yang aneh adalah mereka meminta pembatalan pertunangan dengan alasan yang hampir sama."

"Huh? Apa yang mereka katakan?"

"Aku tidak begitu ingat. Hanya saja mereka terlihat seperti sedang ketakutan dan merasa hubungan kami tidak sepantasnya dilanjutkan. Sesuatu seperti itu."

Dahi Baekhyun secara refleks berkerut. "Aneh sekali." Gumamnya.

"Hum. Sangat aneh." Chanyeol tergelak. "Wajahmu sangat aneh jika sedang berpikir keras seperti itu." Lanjutnya. Baekhyun mencembikkan bibirnya.

"Keringkan saja sendiri." Baekhyun melempar handuk Chanyeol.

"Eiyy, begitu saja marah. Kemarilah Baekhyunee." Chanyeol membuka kedua tangannya untuk meminta sebuah pelukan. Baekhyun mendengus sebal dan memilih berjalan keluar dari kamar Chanyeol. "Ya! Kau mau meninggalkanku sendiri? Baekhyunee jangan tinggalkan aku! Aku takut ada hantu di sini."

Baekhyun memijit pelipisnya. "Orang itu benar-benar." Gerutunya tak habis pikir.

.

e)(o

.

Baekhyun baru saja selesai memesan minumannya saat seseorang tiba-tiba saja membentur bahunya begitu keras bahkan menumpahkan cairan panas berwarna coklat kehitaman ke blouse putihnya.

"Arh!" Teriaknya tertahan. Bagaimana tidak, cairan panas itu mengenai sebagian lengannya.

Baekhyun tersentak mundur beberapa langkah karenanya. Dan hal itu membuat seseorang dibelakangnya terhantam punggungnya. Wanita mungil itu tidak begitu mengerti apa yang terjadi, hanya saja ketika ia mendongakkan kepalanya. Seseorang yang menabrak bahunya tadi sudah basah kuyup dengan cairan yang sama dengan yang membasahi blousenya.

"Oh! Gayoung-ssi, maafkan aku!" Seru Baekhyun secara refleks. Wanita yang berdiri dibelakangnya adalah Moon Gayoung.

Keduanya secara tidak sengaja bertemu di depan café dan memutuskan untuk berbincang sebentar setelah memesan minuman. Tentunya tidak memikirkan kemungkinan kejadian ini akan terjadi.

"Ya! Kau pikir apa yang kau lakukan huh!" Seru wanita di depan Baekhyun pada Baekhyun. Baekhyun sedikit tersentak.

"Maafkan aku." Baekhyun buru-buru membungkukkan tubuhnya.

"Untuk apa kau meminta maaf? Wanita ini yang dengan sengaja menabrakmu." Gayoung segera menarik Baekhyun ke sisinya. "Ya! Tidakkah kau merasa harus meminta maaf pada Baekhyun-ssi?" Ucap Gayoung pada wanita itu.

"Yuan Sanshan-ssi?" Gumam Baekhyun.

Diam-diam Baekhyun menggertakkan giginya. Sudah pasti wanita itu sengaja. Tapi di saat yang sama Baekhyun ingin sekali tertawa melihat bagaimana wajah, surai hingga pakaian wanita itu basah terkena kopi milik Gayoung.

"Kau yang harusnya minta maaf." Sinis Yuan.

"Apa kau sengaja melakukan ini Yuan-ssi?" Tanya Baekhyun datar.

"Kau bercanda? Untuk apa aku melakukannya?"

"Baguslah, karena aku tak segan-segan akan membawa masalah ini ke pihak berwajib jika kau sengaja melakukannya." Baekhyun berucap sinis.

"Wanita miskin sepertimu ingin berhadapan hukum denganku? Tidakkah kau memiliki kaca di rumah?"

Baekhyun menahan diri untuk tidak menarik surai Yuan keras-keras. "Yuan Sanshan? Ah, bukankah kau seorang aktris dari Cina itu? Apa aku benar?" Gayoung bertanya.

"Kau ingin meminta tanda tanganku?" Sinis Yuan.

Gayoung terkekeh geli. "Aku belum lama ini pergi ke Cina dan mendengar berita memalukan darimu. Sesuatu seperti skandal dengan pejabat publik? Itukah alasanmu datang ke Korea?" Wajah Yuan seketika berubah menjadi merah padam.

"Tutup mulutmu!"

"Ups!" Gayoung bersuara. "Baekhyun-ssi, sebaiknya kita mencari apotek untuk membeli obat untuk lenganmu. Itu bisa meninggalkan bekas luka bakar di sana." Saran Gayoung dan disetujui oleh Baekhyun.

.

.

"Ah, maafkan aku. Pertemuan kita menjadi tidak nyaman." Ucap Baekhyun usai wanita dihadapannya selesai dengan krim luka bakar dan lengannya.

"Bukan masalah. Lagi pula wanita itu yang memulainya." Gayoung menggedikkan bahu. "Juga, tempat ini tidak begitu buruk untuk bertemu teman lama." Gayoung tertawa kecil.

Baekhyun mengangguk setuju. Keduanya berakhir di sebuah minimarket pinggir jalan. "Kau benar."

"Kau mau memesan sesuatu? Kimbab? Sosis? Ramen? Ku dengar makanan di toko seperti ini tidak kalah dengan makanan restoran." Gayoung bertanya.

"Hum, haruskah kita memesan sesuatu?"

"Tentu saja."

Keduanya terkikik geli sebelum sibuk dengan makanan cepat saji di toko itu. Baekhyun meraih ponselnya yang bergetar. "Ah tunggu sebentar. Chanyeol menelfonku." Gayoung mengangguk. Menatap kepergian Baekhyun sampai menghilang di balik rak snack ringan.

"Hum?"

"Kau di mana? Kenapa tidak menungguku dan pulang bersama?"

Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Tadinya aku hanya ingin membeli kopi atau coklat hangat selagi menunggumu. Tapi aku bertemu teman lama dan memutuskan untuk berbicara sebentar."

"Jadi nona Byun, di mana aku bisa menjemput kekasihku ini hum?"

"Uh, kau tahu café di depan kantor kita? Cloud 9."

"Café di seberang subway? Ku pikir aku tahu itu."

"Beberapa toko dari tempat itu ada sebuah minimarket. Aku akan menunggumu di sini."

"Aku akan segera sampai. Tunggu aku di dalam. Di luar pasti dingin sekali."

"Ay ay captain!"

Chanyeol tergelak sebelum memutuskan sambungan. Lalu, saat sambungan benar-benar terputus, Baekhyun segera berlari ke arah Gayoung yang nampak sibuk mengamati sebungkus potato chips.

"Gayoung-ssi, maafkan aku tapi Chanyeol akan datang menjemputku karena kami harus segera pergi ke suatu tempat."

"Ah benarkah? Sayang sekali."

"Hum, mungkin kita bisa bertemu lain kali dengan keadaan yang lebih layak."

"Tentu."

"Oh, aku akan berpartisipasi dalam sebuah pagelaran teater beberapa hari lagi. Ini acara amal, kalau kau bisa datang aku akan senang melihatmu di sana."

"Tentu saja. Kemana aku harus datang?"

Baekhyun mengacak isi tasnya sebelum mengulurkan dua lembar kertas berupa leaflet dan tiket. "Kau bisa mengetahuinya di sini."

"Aku akan pastikan untuk melihatmu."

"Terima kasih Gayoung-ssi."

"Tentu."

"Oh, Chanyeol sudah di depan. Aku akan pergi lebih dulu." Baekhyun berlari kecil keluar toko setelah melambaikan tangan ringan.

.

.

"Yah! Kenapa dengan pakaianmu?" Tanya Chanyeol.

"Um, sesuatu terjadi. Ini hanya karena kopi."

"Lenganmu juga terluka. Katakan padaku sebelum aku mencari tahu sendiri."

Baekhyun menatap Chanyeol yang juga menatapnya. "Aku bertemu Yuan dan ia tidak sengaja menumpahkan kopi padaku. Hanya itu. Bukan masalah besar." Chanyeol menggeram marah tapi pria itu tak mengucapkan apapun.

Chanyeol membuka jas luarnya lalu menyampirkannya ke tubuh Baekhyun. "Kita akan pergi ke toko pakaian terdekat. Lain kali jangan memakai pakaian berwarna putih seperti itu lagi. Lihat, semua orang bisa melihat tubuhmu jika basah seperti itu."

Baekhyun tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya. Ia senang Chanyeol mengkhawatirkannya. "Hum. Akan ku ingat-ingat."

Sebenarnya Chanyeol ingin sekali marah saat ini tapi pria itu menahannya. Kemarahannya hanya akan membuat Baekhyun semakin menyembunyikan apapun darinya dan hanya menyimpannya di dalam kepala kecil wanita itu sendiri.

.

e)(o

.

Tuk tuk tuk

Bunyi ketukan ujung bolpoin yang menumbuk permukaan meja terdengar di ruangan kecil itu. Si pemilik jari penggerak bolpoin nampaknya tidak berniat menghentikan kegiatannya. Meski begitu, sudah jelas jika pikirannya melayang jauh bukan pada kegiatannya.

"Sekretaris Byun?"

Tidak ada tanggapan.

"Sekretaris Byun?"

Masih tidak ada tanggapan.

Brak

"Ya! Byun Baekhyun!"

Baekhyun mengerjapkan matanya, mulutnya membuka tertutup seperti gerakan mulut ikan di dalam air.

"Ya! Kau mengagetkanku!" Pekik Baekhyun kesal.

Chanyeol mendudukkan dirinya di atas meja kerja Baekhyun. "Apa yang kau pikirkan sampai tidak mendengar panggilanku sama sekali hum?"

"Hanya sesuatu." Baekhyun menggedikkan bahu.

"Kau tidak berniat melewatkan makan siangmu bukan?"

Baekhyun mengerjapkan matanya. "Ah, sudah waktunya?"

"Ya. Kau terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri tadi. Jadi, mau makan siang di kafetaria atau kita keluar saja?"

"Aku sedang tidak ingin makan apapun."

"Tapi aku tidak akan membiarkan kekasihku melewatkan makan siangnya." Chanyeol segera menarik lengan Baekhyun.

"Menyebalkan." Gerutu yang lebih mungil.

.

.

"Bukankah ini sangat berlebihan jika hanya untuk makan siang? Berdua?" Chanyeol meletakkan garpunya yang beberapa detik lalu ia gunakan untuk mengambil potongan daging yang kemudian ia letakkan di piring Baekhyun.

"Tidak. Pekerjaanmu terlalu banyak akhir-akhir ini. Kita bahkan masih harus datang ke gedung teater untuk berlatih. Wajahmu pucat dan semakin tirus setiap waktunya. Oh, beberapa hari belakangan kau lebih sering tertidur setelah mandi. Itu sedikit menyebalkan."

Baekhyun mendengus geli mendengar keluhan panjang Chanyeol. "Hum, aku tidak tahu kalau bermain peran ternyata sangat sulit. Tapi, bukankah lusa semua akan kembali seperti semula?"

"Ya. Jadi, makanlah dan jangan buat aku menghabiskan semua ini sendirian."

"Haruskah kita mengundang yang lain?"

"Ya! Kita sedang berkencan." Protes Chanyeol. Baekhyun hanya bisa tertawa kecil mendengarnya.

"Lagi pula kita tidak akan bisa menghabiskan semua ini berdua saja." Cibir Baekhyun.

Bagaimana tidak, potongan ikan salmon segar yang mengisi hampir setengah meja, daging sapi terbaik, salad buah dan sayuran, juga kudapan yang belum disajikan. Chanyeol benar-benar tidak berpikir untuk menghemat uangnya.

.

e)(o

.

"Hey! Kau melamun lagi." Luhan berdecak.

Baekhyun yang ditegur hanya bisa tersenyum masam. "Maafkan aku."

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Itukah alasan kau memintaku datang?" Luhan bertanya.

"Ya. Sebenarnya aku tidak ingin memikirkannya tapi belakangan aku justru tidak bisa berhenti memikirkannya."

"Jadi? Apa itu? Katakan padaku."

Baekhyun menghela nafas. "Ini soal Yuan."

"Yuan? Ah! Mantan tersayang Park Chanyeol-nim." Luhan terkekeh.

"Hum. Kau bahkan menyebutnya begitu. Apa mungkin benar perkataan Irene-ssi kalau mereka mungkin saja bisa kembali bersama?"

Luhan terkekeh. "Itu hanya kata kiasan Baek. Chanyeol benar-benar um membenci wanita itu?" Gumam Luhan ragu.

"Huh?"

"Kau harus tahu betapa menyebalkannya dia. Tapi tenang saja, aku akan selalu berada dipihakmu. Ah bukan, tapi kami."

"Tapi tetap saja ini menggangguku. Kenapa ia memperlakukanku dengan buruk? Bahkan setelah kami tidak bertemu untuk waktu yang sangat lama."

"Itu karena ia memang memperlakukan siapapun seperti itu. Aku mengenal baik Chanyeol dan kurasa ia bukan pria yang bodoh untuk masuk perangkap rubah betina seperti wanita itu."

"Ia bahkan tinggal di apartemen yang sama dengan Chanyeol sekarang."

"Eiyy, Chanyeol bahkan hanya akan tinggal di apartemennya satu kali dalam seminggu. Ia lebih memilih tinggal seapartemen denganmu."

"Tetap saja itu sedikit membuatku tidak nyaman."

"Kalau begitu, katakan saja pada Chanyeol." Luhan menatap Baekhyun lekat-lekat. "Jangan hanya menyimpannya sendiri."

Baekhyun kembali menghela nafas panjang. "Hubungan kami sedikit rumit."

"Huh?"

"Ah, kurasa kita harus ke gedung teater Yixing sekarang. Semua orang sudah menunggu kita untuk persiapan pentas besok."

"Hum. Kau benar."

.

e)(o

.

Baekhyun baru saja selesai dengan bagiannya. Ia memilih untuk bergabung dengan Minseok yang duduk di salah satu kursi penonton sembari menunggu suaminya beraksi di atas panggung, sebagai astrada.

"Minseok eonni."

"Hum?"

"Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu? Ah, maksudku calon ibu."

Minseok menghentikan gerakannya membelai perutnya yang masih belum membesar. "Um, sejujurnya aku sedikit takut. Tentu saja aku senang sekali saat mengetahui bahwa aku akan segera memiliki bayi. Tapi aku sedikit takut jika tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk bayiku."

Baekhyun mengangguk. "Melihat eonni aku jadi teringat dengan Kim Jiwon."

"Huh?"

"Ia salah satu mantan kekasih Chanyeol. Jiwon-ssi sedang hamil dan ia akan segera melahirkan dalam hitungan hari. Eonni tahu? Ia berada dalam kehidupan yang sulit. Tapi wanita itu terlihat begitu bahagia saat melihat perutnya, bayinya. Ah, itu sedikit membuatku iri sekaligus heran."

"Kenapa begitu?"

"Eonni, dalam hitungan bulan usiaku akan menginjak 28 tahun. Dan aku belum pernah berkencan dengan siapapun sebelumnya."

"Eiyy, bagaimana dengan Chanyeol."

"Maksudku sebelum berkencan dengan Chanyeol." Baekhyun tertawa kering. "Eonni, bisakah eonni merahasiakan ini dari siapapun?"

"Katakan."

Dengan begitu semua cerita mengenai pertemuan Chanyeol dengan si mungil sampai keadaan saat ini meluncur mulus dari bibir tipis favorit Chanyeol itu.

"Aku tidak tahu apa hubungan kami sebenarnya dan itu membuatku cemas. Aku menyukainya. Chanyeol." Baekhyun menangkupkan kedua tangannya pada pipinya yang bersemu merah. "Tapi aku juga tidak yakin apa aku benar-benar menyukainya ataukah ini hanya rasa nyaman setelah sekian lama aku begitu kesepian?" Gumam Baekhyun setengah menerawang.

"Apa yang membuatmu ragu?"

"Um. Sebelum bertemu dengan Chanyeol, aku bahkan tidak sempat memikirkan kemungkinan akan dekat dengan pria manapun. Atau juga berpikiran untuk berkencan. Tapi aku merasa begitu bergantung pada Chanyeol semenjak kami bersama. Lalu aku merasa takut. Bagaimana jika suatu hari nanti kami harus berpisah."

"Bagaimana dengan Chanyeol yang pergi ke London waktu itu?"

"Uh, aku sampai tidak mengenal siapa diriku sendiri. Aku merasa takut ia tidak akan kembali padaku. Mengerikan sekali. Dan lagi, aku menjanjikannya miss right yang mungkin saja akan ia nikahi suatu hari nanti." Dalam hati Baekhyun merutuki dirinya sendiri.

Minseok terkekeh. "Kenapa kau tidak mengajukan dirimu sendiri sebagai wanita itu hum?"

"Chanyeol mungkin berpikiran lain."

"Kau hanya terlalu takut Baek."

"Eonni, kau tahu apa yang paling kutakuti?"

"Huh?"

"Bagaimana jika aku benar-benar menyukai Chanyeol dan sampai ia menemukan wanita itu, aku tidak berani mengatakannya. Itu yang ku takutkan."

.

e)(o

.

Saat ini

Gedung teater malam itu terlihat lebih megah dari biasanya. Panggung utama sudah mulai penuh dipadati oleh penonton dan tamu undangan. Acara penutupan program pagelaran amal akan segera dimulai. Para pemain teater nampak sibuk mengatasi kegugupannya di ruang make up -mereka sudah diperbolehkan masuk oleh Chanyeol-. Di sisi lain, staff yang bertugas namapk berlalu-lalang di sekitar gedung.

"Apa kalian semua sudah siap?" Yixing sang sutradara berseru lantang.

"Ya!" Seru pemain teater yang juga teman-temannya.

"Jangan terlalu gugup. Kalian sudah melakukan yang terbaik selama ini dan ini akan menjadi panggung kalian. Apapun yang terjadi di atas nanti, itu adalah hasil kerja keras kalian." Yixing kembali bersuara. Ia melirik suaminya. "Terima kasih."

"Tentu saja. Kau yang terbaik." Gumam Joonmyeon.

"Eiyy, ini bukan saatnya untuk bemesraan!" Jongin berseru.

Pria itu sejujurnya masih bersungut sebal karena selalu diejek Sehun mengingat perannya sebagai kurcaci tapi postur tubuhnya bahkan melebihi tinggi pemain teater yang berperan sebagai pohon. Sehun menjulukinya sebagai kurcaci disorder (kurcaci yang memiliki kelainan).

"Kurasa ini sudah waktunya." Yixing menatap pemainnya satu per satu. Memberikan sebuah senyum cantik dibibir kissablenya. "Mari kita akhiri semuanya di panggung nanti."

Dengan begitu, kru yang bertugas dan pemain pada adegan pembuka segera menempatkan diri sesuai arahan.

.

e)(o

.

Chanyeol berlari tergesa menuruni panggung. Langkah panjangnya terus ia arahkan menuju ruang make up yang kini tampak ramai dengan kru. Bahkan Yixing meninggalkan tempatnya untuk ikut berada dalam kumpulan itu.

"Baekhyun-a!" Seruan Chanyeol berhasil mengalihkan atensi hampir separuh manusia yang berada di dalam ruangan itu. "Apa yang terjadi?" Tanyanya begitu berhasil mencari jalan mendekati kekasihnya.

Baekhyun tidak menjawab, hanya melemparkan sebuah senyum kecil pada Chanyeol. "Hanya terkilir. Tapi kurasa ini tidak begitu baik. Adegan berikutnya adalah aku memakan apel itu lalu tertidur." Sesal Baekhyun.

"Katakan padaku bagaimana kau bisa terkilir seperti ini?" Pria itu bisa melihat bengkak di kaki Baekhyun.

"Dokter datang!" Seru salah seorang kru, dengan terpaksa Chanyeol menyingkir dari hadapan Baekhyun. Memberi ruang untuk dokter wanita paruh baya itu memeriksa keadaan kaki kekasihnya.

"Aku melihatnya! Wanita itu mendorong Baekhyun-ssi." Chanyeol mengernyitkan dahinya mendengar suara samar seseorang kru yang berdiri tak jauh darinya. Seorang kru wanita yang surainya diikat asal.

"Kau mungkin salah lihat! Baekhyun-ssi bilang ia terjatuh." Seorang pria yang berada disampingnya menyuarakan pendapatnya.

"Ya! Tentu saja Baekhyun-ssi terjatuh, tapi itu karena wanita itu mendorongnya. Baekhyun-ssi baru saja menuruni tangga, tapi wanita itu tiba-tiba muncul lalu mendorong Baekhyun-ssi. "

"Apa kau yakin? Apa ada kru lain yang melihatnya?"

"Hum, aku tidak yakin tapi seharusnya ada meskipun saat itu keadaan cukup kacau di pintu keluar panggung. Oh! Minhyuk melihatnya! Ia yang pertama kali menolong Baekhyun-ssi sebelum aku sempat berlari."

"Lalu di mana wanita itu? Maksudku yang mendorong Baekhyun-ssi."

"Sepertinya ia salah seorang penonton, ia langsung berlari pergi ke arah bangku penonton. Ini aneh, bagaimana ia bisa menyelinap seperti itu?"

"Apa kau mengingat seperti apa wanita itu?"

"Aku tidak tahu wajahnya tapi Baekhyun-ssi sempat meneriakkan sesuatu saat bertatap muka dengan wanita itu. Terdengar seperti Wuan? Kuan? Yoan?"

Nafas Chanyeol memburu. "Apa yang kau maksud adalah Yuan? Wanita bersurai pendek berwarna pirang?" Tanya Chanyeol. Dua orang yang sedang berbicara itu terkejut tapi kemudian si wanita mengangguk.

"Ya. Wanita itu bersurai pendek. Ah mungkinkah itu Yuan?" Gumam wanita itu tak yakin.

"Chanyeola." Chanyeol memejamkan matanya, menghembuskan nafas agar emosinya mereda. Panggilan Baekhyun yang membuatnya harus melakukan itu.

"Hum?" Pria itu segera melangkah mendekat. Berlutut untuk menyamai tinggi Baekhyun yang duduk di sebuah kursi.

"Kurasa kita harus mengubah ceritanya." Baekhyun nampak begitu sedih. "Padahal kita semua sudah berlatih. Tapi aku justru mengacaukannya."

"Kita bisa membuat cerita ini lebih bagus."

"Huh?"

Chanyeol melirik ke arah Yixing saat seorang kru nampak membisikkan sesuatu. "Apa kami boleh melakukannya? Sedikit improvisasi?"

"Hum. Kurasa tak masalah." Chanyeol melemparkan kerlingan nakal ke arah Yixing dan wanita itu tertawa geli, seolang mengerti maksud kode yang diberikan Chanyeol.

.

e)(o

.

Alih-alih putri tidur bertemu dengan ratu yang juga ibu angkatnya di hutan lalu memakan apel beracun yang sengaja disiapkan untuknya, kemudian sang putri tertidur lalu datang seorang pangeran untuk membangunkannya. Sang putri tidur justru datang bersama pangeran dengan ia berada di dalam gendongan bridal pangeran itu, mereka tiba-tiba saja sudah menikah -ini diceritakan oleh narrator-. Sang pangeran membaringkan putri tidur di ranjangnya. Lalu tak lama, sang ratu datang dengan membawa sekeranjang buah apel. Belum sempat sang ratu yang menyamar sebagai nenek tua renta itu mengucapkan sepatah katapun, si kurcaci raksasa sudah merebut keranjang apel itu dan memakannya sampai tak tersisa. Si kurcaci raksasa pun tertidur.

"Oh tidak! Apa yang harus kita lakukan? Ia tertidur! Nenek itu adalah penyihir jahat dan apel ini beracun!" Seru salah seorang kurcaci bermata bulat. "Apa yang harus kita lakukan tuan putri?" Tanyanya pada sang putri.

"Ohohoho! Kalian tidak perlu khawatir!" Sang Pangeran bersuara.

"Apa maksudmu Pangeran? Bagaimana kami tidak khawatir?" Sang Putri bertanya.

"Ia akan segera terbangun."

"Bagaimana caranya?" Si kurcaci bermata bulat kembali bertanya.

"Ia adalah kurcaci tidur, jadi yang bisa membangunkannya adalah kurcaci lainnya. Bukankah benar begitu tuan putri?" Sang pangeran melirik tuan putri yang terbaring di ranjang.

"Anda benar pangeran."

Adegan demi adegan berlanjut dan diakhiri dengan seluruh pemeran yang memberikan penghormatan di atas panggung. Tak terkecuali Baekhyun yang berdiri dengan bantuan Chanyeol.

.

.

"Yaish! Kalau bukan karena Baekhyun aku tidak akan mau mencium Jongin di atas sana." Umpat Kyungsoo.

Jongin yang namanya disebut hanya bisa menahan tawa gelinya. Kyungsoo memang sudah bertunangan dengannya tapi wanita itu sama sekali tidak suka segala jenis skinship di depan umum. Public display affection adalah hal yang paling dihindarinya selama ini. Terlebih dengan profesi keduanya yang harus mengedepankan tindakan penuh kesopanan, etika dan segala tetek bengeknya.

"Oh maafkan aku Soo. Jika saja aku berhati-hati dan tidak harus terkilir." Sesal Baekhyun.

"No, aku justru berterima kasih padamu Baek dan Chanyeol. Oh, di mana Chanyeol? Aku tidak melihatnya sejak tadi." Jongin bersuara.

"Um, mungkinkah ia sudah kembali ke ruang make up. Ia terus mengeluh kepanasan dengan pakaiannya tadi." Baekhyun terkikik. "Biarkan aku menyusulnya."

"Mau ku bantu berjalan Baek?" Tawar Kyungsoo.

"Aku bisa sendiri."

.

e)(o

.

"Apa kau akan berhenti mengganggunya jika aku kembali padamu?"

Baekhyun menghentikan langkahnya. Ia berjalan begitu pelan untuk sampai di lorong ini. Jika ia berbelok ke kanan dan berjalan beberapa langkah lagi ia akan menemukan pintu ruang make up. Tapi suara Chanyeol terdengar tepat sebelum ia berbelok. Baekhyun kembali melangkah untuk memastikan apa yang didengarnya.

Dari tempatnya berdiri sekarang, si mungil bisa melihat Yuan menatap Chanyeol marah. Tapi ia tidak bisa melihat ekspresi Chanyeol yang berdiri membelakanginya. "Ya." Yuan berkata.

"Kalau begitu, mari kita berkencan. Jadi jangan ganggu Baekhyun lagi!" Seru Chanyeol setelah membanting gelas kaca tepat dihadapan Yuan.

Tubuh Baekhyun menegang mendengarnya. Sudah pasti orang yang sedang mereka bicarakan adalah dirinya sendiri. Baekhyun hampir saja meninggalkan tempat itu, jika bisa ia ingin berlari sejauh mungkin karena ia merasa ucapan Chanyeol berhasil menjatuhkan jantungnya ke kaki. Tapi kakinya yang terkilir mencegahnya. Lalu saat Chanyeol berbalik akan pergi menjauhi Yuan, Baekhyun bisa melihat tatapan Chanyeol yang tajam. Tapi saat kedua netranya bertemu pandang dengan milik Chanyeol, tatapan itu berubah dengan tatapan nanar.

"Kau menemukannya?" Ucap Baekhyun hampir berbisik.

"Baekhyunee." Bisik Chanyeol.

"Kau mendengarnya bukan? Ia memilihku." Yuan bersuara dari tempatnya berdiri. "Jadi, penuhi janjimu."

Baekhyun menatap datar pada Yuan. "Aku tidak menjanjikan apapun. Dan jangan bersikap seolah kita mengenal baik satu sama lain."

"Kita pulang sekarang?" Chanyeol bergerak mendekati Baekhyun.

"Hum. Aku ingin segera tidur."

Chanyeol mengangguk. "Ya, besok pagi sebelum ke kantor kita harus memastikan kakimu baik-baik saja. Dan sepertinya malam ini kita harus melewatkan pesta perayaan keberhasilan acara malam ini." Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

"Padahal aku ingin makan hanwoo juga."

"Aku akan membuatkannya lain kali. Naiklah." Chanyeol berjongkok di depan Baekhyun.

.

e)(o

.

Bohong jika mengatakan tidak ada yang berubah di dalam hubungan Chanyeol dan Baekhyun setelah malam itu. Jelas sekali jika Baekhyun perlahan menjaga jarak dari Chanyeol. Wanita mungil itu akan diam-diam menghindari Chanyeol di setiap kesempatan. Lalu saat Chanyeol datang berkunjung, Baekhyun akan berpura-pura tidur. Pesan dan panggilan dari Chanyeol juga lebih sering diabaikan. Dan hal itu membuat Chanyeol frustasi.

"Kau menungguku? Ku kira kau sudah pulang."

"Aku ingin menonton film malam ini."

"Huh?"

"Besok akhir pekan."

Baekhyun menggeleng. "Aku lelah sekali. Telfon saja kekasihmu untuk menemanimu." Chnayeol menghela nafas lelah.

"Kau benar. Bukankah aku memang seharusnya berkencan dengan kekasihku? Aku akan menelfonnya."

Baekhyun mengangguk. "Kalau begitu aku akan pergi lebih dulu."

Baru beberapa langkah, Baekhyun terpaksa menghentikan langkahnya karena sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Park Chanyeol. Melihat nama itu membuat Baekhyun membalikkan tubuhnya ke arah Chanyeol. Pria itu tengah menatapnya dengan ponsel berada di telinganya.

"Kenapa kau-"

"Ah, kekasihku yang menggemaskan itu sepertinya sedang marah dan ia tidak ingin mengangkat panggilan dariku. "

Sambungan telfon terputus. Tanpa melepas tatapan dari Baekhyun. Chanyeol kembali menekan tombol memanggil.

"Aku akan menelfon selingkuhanku saja kalau begitu."

Lagi, ponsel Baekhyun menerima panggilan dari orang yang sama. Melihat hal itu, Baekhyun tak mampu menahan senyumannya.

"Kau benar-benar menyebalkan." Gerutu Baekhyun.

Chanyeol terkekeh. Berjalan mendekat ke arah Baekhyun. Mencuri satu kecupan di bibir yang lebih mungil. "Jadi, bisa kita pergi sekarang? Bisa kita sudahi permainan petak umpet ini?" Baekhyun mengangguk.

"Hum."

"Masuklah." Chanyeol menggiring Baekhyun masuk ke mobilnya.

"Park Chanyeol!"

Seruan itu membuat Baekhyun dan Chanyeol secara refleks menoleh.

"Yuan-ssi?" Itu Baekhyun.

"Berhenti di sana. Dan kau Byun Baekhyun, kalau kau lupa Chanyeol adalah kekasihku."

.

.

To Be Continue.

e)(o

[Interaction Corner]

Spoiler: Chapter depan akan lebih dominan scene Chanyeol-Baekhyun, si direktur keuangan dan selingkuhannya. Juga Baekhyun-Gayoung, Gayoung bukan sekedar tokoh figuran di ff ini. Irene dan tokoh wanita lain di part sebelumnya itu murni figuran.

Btw adegan drama pas di teater itu absurd sekali ya. Haha sejujurnya saya kehabisan ide dan butuh waktu berhari-hari buat mikirin bagian itu dan akhirnya terciptalah adegan aneh. Saya kecewa sama tulisan saya sendiri di bagian itu heu. Tapi saya post juga karena mentok. Uh!

Special thanks to: narsihamdan, veraparkhyun, Pcy61, ssuhoshnet, LordLoey, Pcyrealwife, chogiwagirl, Bee Payol, Oohdiah614, hulas99, yousee, sindijulia, Asti2717, PiggY614, Loeyin, FreezingUnicorn180, ay, Lisha231, loeybee6104, freshmyeon, hokage614, Cbhsii, misslah, googirl, joruri, moonlight90921, herlina9412gmail,com, Guest, rizkaa, Oci, Kimmuth, kai'serigom, KimDo Yoon (aw seriusan walaupun saya gak bilang, saya selalu nunggu kamu kasih review. *bow*), chilsai20261, BaekHill, agnesnes, vhacbhs, baebepcy, Lyra Pcy, raniLoey, beestar27, Jeonharu, Guest (Heu, gak nyangka kamu bisa sampai segitunya nunggu FF ini. Thank you so much), MeAsCBHS, LOEYBEE614, rly.

Keberatan untuk meninggalkan jejak (lagi)?

Enjoy!

Sincerely,

Curloey Smurf