Seventeen belong to God, Pledis and their parents

Fall For You © Bianca Jewelry

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)

Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)

Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)

Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS)

Yao Mingming X Wen Junhui

Rating: M for safe

Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.

.

Note: Rated M for nightlife, mention of light rape, and alcohol. Lelaki kardus bertebaran, siapkan foto bias dan asupan gula berlebih untuk mengurangi iritasi hati setelah membaca ini. Bayar hutang lagi sama Meanie shipper. Enjoy!

.

"Kenapa sih, semua orang hari ini melihatku? Kalian juga," tanya Wonwoo bingung setelah duduk di sebelah Jun. Soonyoung dan Jihoon ada di hadapannya.

"Kau pacaran dengan Mingyu?" tanya Soonyoung.

"Hah?"

"Apakah kau pacaran dengan kardus itu, Wonwoo sayang?" Jihoon mengulang pertanyaan Soonyoung.

Wonwoo menggeleng. "Tentu saja tidak, memangnya kenapa?" tanya Wonwoo dengan wajah polosnya.

"Benar? Kami dengar dari orang-orang, Mingyu punya pacar baru. Tatapannya dingin, rambutnya panjang dan berkacamata," kata Jun.

"Oh." Wonwoo mengangguk paham. "Kemarin aku hanya membantunya. Seorang perempuan menggodanya dan begitulah," lanjut Wonwoo.

Soonyoung dan Jun mengangguk sementara Jihoon menghela napas lega.

"Seandainya Mingyu memintamu jadi pacar bagaimana?" tanya Soonyoung.

"Eh?" Wonwoo mengangkat bahunya. "Memang dia suka padaku?"

"Kau ini tidak peka atau bagaimana sih Nona Jeon," ujar Soonyoung sambil memutar bola matanya.

Wonwoo hanya meringis lalu mengganti topik pembicaraan.

.

Ketika Wonwoo sedang refreshing di kawasan Myeongdong akibat tugas yang menumpuk, dari tempat duduknya ia melihat seorang lelaki berpostur tinggi yang sangat dikenalnya. Ia mendengus dan memutar bola matanya. Setengah kesal karena melihat lelaki itu merangkul wanita lain dan setengahnya, Wonwoo tidak tahu harus mendeskripsikannya bagaimana. Lalu Wonwoo bangkit dari tempat duduknya dan bersiap keluar dari café ketika lelaki itu mendekati café. Ketika lelaki itu hampir sampai di dekat pintu café, Wonwoo keluar dan sengaja menabraknya.

"Ah maaf, aku tidak sengaja," ucap Wonwoo sambil membungkukkan badannya karena ia menumpahkan minuman yang dipegangnya ke baju lelaki itu.

"Iya, tidak apa-apa," kata lelaki itu sambil membersihkan bajunya yang terkena noda minuman walaupun dalam hati merutuk karena bajunya basah. "Wonwoo-noona?"

"Oh, kau Kim. Maaf ya, aku benar-benar tidak sengaja," kata Wonwoo sambil tersenyum.

Di depan Wonwoo, Kim Mingyu sedang merangkul seorang perempuan yang terlihat dewasa. Wonwoo melirik tangan Mingyu yang berada di bahu perempuan itu.

"Temanmu Gyu?" tanya perempuan itu.

"Iya noona," jawab Mingyu.

"Kalau begitu aku permisi Kim," kata Wonwoo dingin.

"Noona tunggu!" seru Mingyu dan mencekal pergelangan tangan Wonwoo.

"Bisa tolong lepaskan tanganmu? Dan kali ini aku benar-benar serius, jangan ganggu aku lagi. Aku tidak ingin berurusan lagi dengan buaya sepertimu," kata Wonwoo. Ia menepis tangan Mingyu dan meninggalkannya.

Mingyu shock, lalu ia menoleh ke arah perempuan yang sejak tadi bersamanya karena perempuan itu tertawa.

"Dia cemburu," ujar si perempuan yang tak lain tak bukan hanyalah kakak sepupu Mingyu—Lee Kaeun.

Mingyu tersenyum miring. "Aku berterima kasih untuk itu. Tapi kau harus bertanggung jawab noona. Akan sangat susah untuk mendekatinya lagi kalau dia sudah begitu."

Kaeun hanya tertawa.

"Dan terima kasih, karena kau aku jadi disiram olehnya," gerutu Mingyu sambil memutar bola mata malas. "Punya tisu tidak?"

Kaeun memberikan beberapa lembar tisu kepada Mingyu. "Kau sih, pakai acara merangkulku."

Mingyu menerima tisu itu dan membersihkan bajunya. "Kok jadi aku?"

"Woman is always right, ya 'kan?"

"Ya ya ya, wanita memang selalu benar. Pokoknya kau harus membantuku!" rengek Mingyu kesal.

.

Minseo yang sedang membaca majalah lama-lama kesal mendengar helaan napas kakaknya yang sedang mengerjakan laporan praktikumnya. "Kau niat kerja tugas tidak? Menghela napas terus, berisik tahu."

"Aku menghela napas bukan karena tugasku."

"Terus?"

"Wonwoo-noona."

"Oh," ujar Minseo cuek sambil membalik majalahnya.

"Cuma oh?"

"Lalu kau mau aku merespon bagaimana?"

"Beri saran pada oppa tampanmu ini."

Minseo memutar bola matanya malas. "Salah sendiri, kenapa merangkul Kaeun-eonni. Wonwoo-eonni jadi salah paham 'kan."

"Kenapa jadi aku lagi?!" seru Mingyu tidak terima.

"Kau genit sih!"

"Ya ya ya, aku yang salah. Puas kau!"

Minseo terkekeh. Lalu keduanya terdiam.

"Minseo-ya," panggil Mingyu setelah keheningan menyelimuti keduanya cukup lama.

"Hm?"

"Wonwoo-noona bukan pacarku."

"Aku tahu."

Mingyu reflek memutar kepalanya dan menatap Minseo. "Kau tahu darimana?"

"Aku adik yang peka ya, oppa. Tidak sepertimu," sindir Minseo.

Mingyu meringis dan kembali mengerjakan laporannya.

"Oppa," panggil Minseo. "Sabtu besok temani aku ke toko buku."

"Oke."

"Tapi aku harus mengurus sesuatu. Kau pergi dulu, nanti aku menyusul."

"Siap!"

.

Hari Sabtu, seperti yang dikatakan Minseo, dia harus mengurus sesuatu terlebih dahulu sebelum pergi ke toko buku. Setelah Mingyu pergi ke toko buku, Minseo pergi ke suatu tempat—ke sebuah apartemen. Ia memencet bel, lalu tak lama kemudian sang empunya apartemen membukakan pintu.

"Hai, Wonwoo-eonni."

"Oh, Minseo. Ada apa?" tanya Wonwoo setengah terkejut karena mendapat tamu tidak diundang.

"Hanya ingin berbincang-bincang dan mengajakmu pergi kalau tidak keberatan," kata Minseo sambil terkekeh.

Wonwoo tersenyum. "Ayo masuk."

Minseo masuk ke apartemen Wonwoo dan Wonwoo mengikutinya. Lalu adik Kim Mingyu itu duduk di sofa sementara Wonwoo ke dapur untuk mengambil minum.

"Terima kasih eonni," kata Minseo setelah Wonwoo meletakkan segelas air di hadapan Minseo.

Wonwoo tersenyum lalu duduk di depan gadis itu. "Sendirian saja?"

"Mencari kakakku?" goda Minseo sambil tersenyum.

Wonwoo buru-buru menggeleng. "Tidak, hanya bertanya."

Minseo terkekeh. "Eonni."

"Hm?"

"Menurutmu Mingyu-oppa itu bagaimana?"

"Bagaimana apanya?"

"Ya sifatnya."

"Baik?"

"Terus?"

"Hanya itu… Sepertinya," kata Wonwoo ragu.

"Tidak bohong?"

"Tidak." Wonwoo menggeleng.

"Aku tahu kok kau bukan pacar kakakku."

Wonwoo menghela napas. "Maaf."

"Tidak apa-apa." Minseo tersenyum. "Tapi aku berharap kau bisa menjadi pacar kakakku."

Wonwoo hanya tersenyum menanggapi Minseo.

"Semenjak Mingyu-oppa bertemu denganmu, dia berubah. Dia sudah tidak pernah pergi ke klub malam dan menggoda perempuan lagi."

"Kau tahu dia sering ke klub malam?"

Minseo mengangguk.

"Tapi terakhir aku bertemu dengannya, dia pergi bersama perempuan."

"Kapan?"

"Seminggu atau dua minggu yang lalu kalau tidak salah. Aku lupa."

"Oh, yang waktu kau menyiram oppa ya?" tanya Minseo. Ia tersenyum lalu tertawa kecil.

Wonwoo meringis. "Kenapa tertawa?" Ia mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Ah, pantas… Kalau oppa bilang kau salah paham," ujar Minseo di sela tawanya.

"Memangnya kenapa?"

"Itu kakak sepupu kami, Kaeun-eonni."

"Oh, begitu," kata Wonwoo mengangguk paham. Pipinya merona.

Minseo terkekeh. "Kau cemburu, eonni?"

"Tidak!" seru Wonwoo.

Minseo tersenyum tipis. "Eonni sedang sibuk tidak?"

Wonwoo menggeleng. "Kenapa?"

"Aku bosan di rumah, mau menemaniku ke toko buku?"

"Sekarang?"

"Iya."

"Aku ganti baju dulu ya," kata Wonwoo lalu beranjak ke kamarnya.

Di ruang tamu, Minseo tersenyum licik sambil membayangkan apa yang sudah direncanakannya. Pokoknya kalau rencananya berjalan mulus, ia harus minta traktiran kepada kakaknya.

Lalu setelah Wonwoo ganti baju, mereka berdua pergi ke toko buku. Sesampainya di toko buku, mereka pergi ke bagian novel dan Minseo menelepon kakaknya.

"Kau di mana?" tanya Minseo pelan setelah panggilannya tersambung dan ia mengendap-endap menjauhi Wonwoo.

"Di bagian kedokteran. Kau di mana?"

"Cepat sini ke bagian novel. Rak pertama."

"Oke," kata Mingyu lalu mengakhiri panggilan.

Wonwoo terlalu asyik membaca sinopsis sebuah novel sampai ia tidak sadar kalau Minseo sudah menghilang. Lalu ia mengalihkan pandangan dari novel yang dibacanya. "Min—" Tapi yang dilihatnya adalah kakak dari Kim Minseo.

"Oh, hai noona. Sedang apa di sini?" tanya Mingyu sedikit terkejut ketika melihat Wonwoo, matanya mencari sosok adik kecilnya. "Lihat Minseo tidak?"

Wonwoo berdecih. Dua bersaudara yang menyebalkan, pikirnya. Ia jadi merasa bodoh sudah dua kali ditipu seperti ini.

"Aku tidak tahu," kata Wonwoo lalu mengembalikan buku pada rak dan pergi dari sana.

Dari balik rak, Minseo memperhatikan mereka dan ia menghentakkan kaki karena sebal melihat Wonwoo menjauh. Lalu ia tersenyum, karena Mingyu tidak diam saja dan mengikuti Wonwoo.

Seperti biasa jika datang ke toko buku, Wonwoo akan memutari toko itu dan melihat-lihat, ia yang awalnya biasa saja jadi kesal karena Mingyu mengikutinya terus.

Wonwoo membalikkan badannya dan berseru. "Bisa tidak mengikutiku Kim?!"

Mingyu terkejut karena Wonwoo tiba-tiba membalikkan badannya sehingga ia hampir menabrak gadis itu. Mingyu meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya dan berdesis. "Pelankan suaramu noona! Malu dilihat orang," kata Mingyu pelan.

"Kau seperti penguntit! Tahu tidak?!" seru Wonwoo kesal.

"Maaf."

"Pergi sana!" usir Wonwoo lalu ia membalikkan badannya.

Mingyu menghadang Wonwoo dan mencekal pergelangan tangannya. "Tunggu noona!"

"Apa lagi?" Wonwoo menatapnya dengan pandangan dingin.

Mingyu meneguk ludahnya dengan susah payah. "Itu… Perempuan yang kapan hari itu kakak sepupuku. Ya, aku cuma mau bilang begitu sih walaupun aku tahu kau pasti menjawab tidak peduli," kata Mingyu sambil tertawa canggung.

"Seperti katamu, aku tidak peduli. Sana pergi."

Mingyu tersenyum sedih. "Sampai jumpa noona," katanya lalu mencari Minseo.

Wonwoo menghela napas. Ia jadi berpikir mungkin ia sudah keterlaluan sudah mengusir Mingyu. Namun ia tetap melanjutkan langkahnya untuk melihat buku-buku yang lain.

Minseo emosi melihat Mingyu dan Wonwoo. Lalu ia keluar dari persembunyiannya dan mendekati kakaknya kemudian memukulnya. "Kau ini bagaimana sih?!"

Mingyu mengaduh. "Kenapa aku dipukul?!"

"Sudah?! Begitu saja usahamu? Aku sudah susah-susah mengajaknya ke sini, kau tahu!"

"Ya terus aku harus bagaimana?!" seru Mingyu putus asa.

Minseo menghela napas. "Ikuti dia diam-diam. Tapi jangan sampai mengganggunya."

Mingyu bergeming. "Sana!" kata Minseo sambil mendorong Mingyu. Lalu mereka berdua mengikuti Wonwoo diam-diam.

Ketika mereka melihat Wonwoo keluar dari toko buku dan menunggu di depan, Minseo memberi kode kepada Mingyu untuk mendekati Wonwoo.

Wonwoo yang menyadari Mingyu mendekat bertanya. "Belum pulang?"

"Belum noona, menunggu siapa?"

"Adikku."

Mingyu hanya mengangguk. Dan lima belas menit sudah terlewati tanpa adanya percakapan.

"Katakan sesuatu," ujar Wonwoo.

"Apa?"

Wonwoo mengangkat bahunya.

"Noona sudah tidak marah padaku?"

"Aku tidak pernah marah padamu."

Hening lagi. Dan hampir setengah jam mereka menunggu di depan toko buku itu. Lalu ponsel Wonwoo berbunyi, ia memajukan bibirnya ketika membaca chat dari adiknya. Bohyuk tidak jadi menjemputnya karena ada shift tambahan.

"Aku pulang dulu Kim," pamit Wonwoo.

"Biar aku antar noona."

Wonwoo tersenyum tipis. "Tidak usah. Sampai jumpa," kata Wonwoo lalu ia melangkahkan kakinya.

Mingyu menghadang Wonwoo dan menarik tangannya. "Please noona, sekali ini saja."

"Permintaanmu itu tidak akan ada habisnya kalau aku turuti terus Kim."

"Aku janji ini yang terakhir," kata Mingyu dengan pandangan memelas.

Wonwoo menghela napas. "Ayo cepat. Sudah mau hujan."

Dari balik persembunyiannya, Minseo tersenyum puas. Lalu ia menunggu Mingyu dan Wonwoo pergi kemudian setengah berlari menuju ke stasiun untuk pulang ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen Wonwoo, hujan rintik-rintik mulai turun.

"Untung belum deras," kata Mingyu setelah sampai di depan apartemen Wonwoo. Lalu hujan menjadi lebat sepersekian detik setelah Mingyu mengucapkan kalimat itu. Ia jadi merutuk dalam hati.

Wonwoo mengembalikan helm kepada Mingyu. "Mau berteduh dulu Kim? Sepertinya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat," tawar Wonwoo.

"Tidak apa-apa?"

Wonwoo mengangguk. "Parkir motormu di basement. Aku tunggu di lobi."

Mingyu menurut dan menuju basement untuk memarkir motornya sementara Wonwoo memasuki lobi apartemennya. Setelah memarkir motornya, Mingyu menemui Wonwoo di lobi dan mereka naik ke apartemen Wonwoo. Sesampainya di ruang tamu, Wonwoo pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk dan memberikannya pada Mingyu.

"Terima kasih," ujar Mingyu lalu mengelap badannya yang sedikit basah terkena air hujan.

"Bajumu basah tidak? Mau ganti? Aku punya baju adikku, mungkin cukup untukmu."

"Tidak usah repot-repot noona."

Lalu terdengar suara petir menyambar dan lampu apartemen Wonwoo mati mendadak. Wonwoo terkejut. "K-Kim? Kau masih di sana?" tanya Wonwoo.

Mingyu tidak menjawab.

"K-Kim?"

Mingyu masih tidak menjawab.

"Mingyu?"

Mingyu menyinari wajahnya dengan senter dari ponselnya dan berseru. "Dor!"

Wonwoo terkejut lalu berteriak. Ia mendekati Mingyu dan memukul lelaki itu.

Mingyu tertawa keras-keras melihat reaksi Wonwoo. "Kau takut gelap noona?" tanya Mingyu setelah berhasil menghentikan tawanya.

"Ti-tidak kok," ujar Wonwoo.

"Punya lilin atau lampu portable tidak?"

"Ada lilin, di dapur."

"Sebentar aku ambilkan," kata Mingyu dan hendak beranjak menuju dapur.

"Ikut!" seru Wonwoo sambil menarik baju Mingyu.

Mingyu tersenyum tipis lalu pergi ke dapur diikuti oleh Wonwoo untuk mencari lilin. "Dimana noona?'

"Rak kedua."

Mingyu membuka rak dan mengambil sekotak lilin dari sana. Ia juga menemukan korek api dan mengambilnya. Lalu mereka berdua kembali ke ruang tamu.

"Di sini tidak ada genset noona?" tanya Mingyu sambil menyalakan sebuah lilin.

"Seharusnya ada," jawab Wonwoo kemudian mendudukkan diri di lantai.

"Mungkin rusak ya, kok belum nyala juga," gumam Mingyu lalu duduk di samping Wonwoo.

Keduanya hanya diam. Lalu Mingyu memainkan game di ponselnya dan berhenti ketika mendapat peringatan bahwa baterainya akan habis.

"Dari tadi diam saja, tidak bosan noona?" tanya Mingyu. Lalu ia menoleh karena tak juga mendapat jawaban dari Wonwoo dan tersenyum ketika melihat gadis itu. Wonwoo sudah memejamkan matanya sambil bersandar pada sofa dan kepalanya hampir menyentuh bahu Mingyu. Gadis itu tertidur. Lalu Mingyu menggendong Wonwoo ke kamar dan menyelimutinya. Mingyu menarik kursi meja belajar yang ada di kamar Wonwoo ke samping kasur gadis itu. Lalu ia tersenyum, ketika melihat ke ruang tamu yang lampunya sudah menyala dari pintu kamar yang terbuka. Mingyu menyalakan lampu kemudian ia duduk di kursi itu. Kemudian ia menggenggam tangan Wonwoo dan memperhatikan wajah si gadis. Akhirnya Mingyu ikut tertidur sambil terus menggenggam tangan Wonwoo.

Hampir tiga jam Mingyu tertidur lalu ia membuka matanya perlahan. Waktu menunjukkan pukul dua belas tengah malam dan Wonwoo masih tidur. Mingyu tersenyum tipis dan perlahan melepas genggamannya. Kemudian ia pergi menuju dapur dan mengecek kulkas untuk membuat sesuatu. Ia membuat tumis sayur telur lalu memakannya dan menyisakan setengah untuk Wonwoo. Kemudian Mingyu ke kamar setelah membereskan isi dapur dan mencari sticky notes di meja belajar Wonwoo. Setelah selesai menuliskan sesuatu pada sticky notes itu, Mingyu menempelkannya pada kening Wonwoo. Lalu Mingyu mendekati gadis itu dan mencium tangannya.

"Aku pulang dulu, sampai jumpa Tuan Putri."

.

"Aku pulang," kata Doyoon saat memasuki rumahnya. Lalu ia terkejut ketika sampai di ruang tamu dan mendapati Jeonghan sedang duduk di sofa berhadapan dengan ibunya. "Jeonghan? Kenapa tidak bilang kalau akan datang?"

Jeonghan menatap Doyoon lalu menghambur memeluk gadis itu dan mulai menangis. Sementara Nyonya Jang hanya tersenyum lalu pergi ke kamarnya.

"Kenapa Han? Seungcheol menyakitimu?"

Jeonghan jadi terisak makin keras ketika mendengar perkataan Doyoon.

"Ayo ke atas," ajak Doyoon dan menuntun Jeonghan untuk naik ke kamarnya.

"Kenapa?" tanya Doyoon setelah mendudukkan Jeonghan di kasurnya dan mengusap kepala Jeonghan.

"Kau bohong," ujar Jeonghan sambil terisak.

"Tentang?"

"Kau bertemu Seungcheol pertama kali saat di klub."

Tangan Doyoon berhenti mengusap kepala Jeonghan lalu ia meremas tangannya sendiri dan menundukkan kepala. "Tahu dari mana?"

"Tidak penting aku tahu dari siapa! Kau dijodohkan dengan Seungcheol 'kan?! Kenapa tidak bilang padaku?!" seru Jeonghan. Air matanya mengalir makin deras.

Air mata Doyoon ikut mengalir lalu ia menghapusnya dengan punggung tangan. Lalu Jeonghan memeluk Doyoon dari samping. Doyoon balas memeluk Jeonghan dan mengucapkan kata maaf berkali-kali sambil terisak.

"Aku akan memutuskan Seungcheol!" seru Jeonghan setelah puas menangis. Ia melepas pelukannya dan menghapus air matanya.

"Aku mungkin juga akan meminta appa dan eomma untuk membatalkan perjodohanku," ujar Doyoon. Ia juga menghapus air matanya.

"Kenapa?" tanya Jeonghan sambil menaikkan kakinya ke atas tempat tidur dan duduk menghadap Doyoon. "Padahal menurutku kalian cocok!"

"Mencari yang lebih baik?" jawab Doyoon sambil tersenyum tipis dan ikut menaikkan kakinya dan duduk menghadap Jeonghan.

"Kau dengan Myunghoon-oppa saja!" seru Jeonghan.

Doyoon hanya mengangkat bahunya.

"Tapi Do… Kau menyukai Seungcheol?"

Doyoon terdiam sebentar kemudian mengangguk.

"Atau jangan-jangan dia itu cinta pertamamu yang dulu pernah kau ceritakan?" goda Jeonghan.

Doyoon terdiam kemudian mengangguk lagi. Pipinya merona.

"Astaga Do! Kenapa kau bisa suka orang macam begitu sih," ujar Jeonghan heboh.

"Memang kenapa?"

"Playboy. Suka menggoda perempuan dan gonta-ganti pacar. Tapi yang paling awet sama Jihoon sih, tiga tahun. Sekarang Jihoon itu pacarnya sepupuku."

Doyoon hanya tertawa. "Kau juga, sudah tau dia playboy. Kenapa mau pacaran dengannya?"

"Tampan sih," kata Jeonghan kemudian tertawa kecil.

"Dasar," katar Doyoon sambil memajukan bibirnya.

"Cemburu ya, kubilang calonmu tampan?" tanya Jeonghan.

"Tidak," jawab Doyoon lalu memalingkan wajahnya.

"Aigoo, Nona Jang, malu-malu begitu. Atau mau dipanggil Nyonya Choi?"

"Apa sih, Han!"

Jeonghan tertawa lalu ia tersenyum tipis dan menggenggam kedua tangan Doyoon. "Aku minta maaf."

Doyoon menggeleng dan tersenyum. Ia membalas genggaman tangan Jeonghan.

"Boleh menginap malam ini?"

Doyoon tersenyum senang dan mengangguk. "Tentu saja!"

.

TBC

.

Halo, saya mau minta maaf kepada para pembaca sekalian khususnya Meanie shipper, saya sadar saya bukan author yang bertanggung jawab dan php (nulis Meanie paling depan tapi isinya banyakan 95line), kesannya jadi ingin mengeksiskan 95line dengan mengatasnamakan Meanie, mohon maaf yang sebesar-besarnya!

Maka dari itu, mungkin 2 chapter lagi tamat (1 chapter + epilog rasa spoiler). Tamat, selesai *kemudian ditimpuk* iya tamat tapi masih ada season 2 kok. Nanti Meanie ama Soonhoon (Mingry bakal nyelip dikit, tapi diusahakan gak banyak-banyak amat di Meanie-Soonhoon) bakal dipublish terpisah ama 95line+Mingry, masih nyambung, tapi boleh dibaca boleh nggak. Saya tau kok yang mampir kesini mayoritas Meanie shipper.

Dan apakah disini Wonu terlalu gampangan (terlalu gampang diajak Mingyu pergi maksudnya)? Salah gak sih? Duh, kok saya terlalu khawatir ya sama pairing satu ini *kok jadi curhat, ini udah chapter berapa, kamu baru tanya ginian*

Terima kasih, buat kalian yang masih setia ngikutin series ini dan sudah meninggalkan pendapat di kolom review, berminat untuk meninggalkan jejak lagi? :)