A/N: Yah, baru bisa garap fic ini kemarin, dimana hari itu memang lagi senggang-senggangnya waktu. Maaf atas kesibukan saya yang tidak bisa di bendung, dan salahkan remidial ujian saya yang ternyata menumpuk seperti gunung yang membuat saya harus mendengarkan sebuah ceramah panjang dari wali kelas saya. Memalukan memang, hahaha.
Oke, kembali ke topik.
Chapter kali ini hanya akan membahas permasalahan baru yang menjadi Arc kedua fic ini. Apa yang terjadi?
Tak banyak bacod lagi, selamat membaca.
Disclaim: Semua karakter yang ada dalam cerita ini bukan milik saya, saya hanya sedikit meminjamnya untuk hobi menulis saya yang masih abal-abal.
Warning: penuh typo, banyak kata yang tidak baku, perubahan karakter, dan lain-lain.
Summary: Karena ucapan kasar Sakura, Naruto berniat merubah segala sesuatu yang menurutnya sudah tak lagi menjadi sebuah hal penting dalam hidupnya sebagai seorang shinobi.
~o~
Chapter 10: Persiapan!
"Haah~"
Helaan napas itu keluar secara spontan setelah lebih dari tiga puluh menit sepasang indera pendengarannya menerima pidato panjang dari wanita berambut pirang yang sudah ia anggap sebagai neneknya sendiri.
Sepertinya waktu tengah malam bukan menjadi sebuah penghalang bagi sang Godaime untuk terus menceramahi dirinya yang entah mengapa perbuatannya tadi seperti menjadi pemicu kemarahan sang Nenek yang kelihatannya juga sedang setengah mabuk.
"...Baik." Naruto menjawab lesu.
"...Dan lagi, jangan pernah sekalipun meniru kelakuan dari si tua bangka mesum itu! Kalau umurmu masih belum menginjak tujuh belas tahun, aku sendiri yang akan menghentikanmu. Kau mengerti itu, Naruto~!?"
Entah kenapa panggilan yang memiliki nada panjang itu seperti mengandung sebuah ancaman yang menjanjikan, membuat Naruto makin menunduk pasrah, "Iya, aku mengerti."
Sementara di samping kanan remaja pirang itu, tiga manusia yang bergender perempuan hanya bisa terkekeh pelan, diam mengamati dengan pandangan tak mengerti, serta geleng-geleng kepala heran.
Naruto kemudian bangkit kembali, berdiri lesu dan selanjutnya berjalan kearah tiga perempuan yang tadi disebutkan dengan langkah yang lesu juga. Di tariknya tangan berkulit putih milik gadis yang sedari tadi yang hanya diam mengamati, gadis itu hanya menurut, bahkan tak memprotes sedikitpun.
Tepat setelah Naruto sudah tak terlihat, Kurenai yang sedari tadi hanya bisa geleng-geleng kepala menengok kearah Tsunade yang sedang bersidekap menopang buah dadanya.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tadi sempat terlambat sedikit."
Tsunade menghela nafas, "Tanyakan pada anak didik perempuan di timmu, dia yang paling tahu kejadian detilnya." Wanita pirang yang menjabat sebagai pimpinan tertinggi desa Konoha itu berjalan kearah kursinya berada, lalu dia mendesah kembali sembari memijit pelipisnya.
Kurenai hanya menatap datar apa yang dilakukan Tsunade, kemudian pandangan itu beralih ke muridnya. "Jadi, Hinata. Bisa kau meceritakan apa yang tadi terjadi?"
~Change~
Dalam perjalanan pulangnya Naruto terus saja menggerutu tidak jelas sambil menarik tangan gadis yang beberapa menit yang lalu berhasil ia bawa keluar dari bangunan rumah sakit atau lebih tepatnya rumah penangkaran. Pikirannya terus saja berkecamuk karena amarah konyol yang ditimbulkan oleh Ero-sennin, dirinya saja baru tahu kalau yang memberikan misi level A itu adalah tua bangka itu, dalam artian dirinya sudah dijebak dari awal. Tapi kenapa Tsunade-baachan sampai tidak tahu maksud dari misi ini? Entahlah, Naruto sama sekali tidak memikirkan itu.
"Ero-sennin brengsek! Awas saja sampai kau kembali ke desa, aku pasti akan membalasnya." Gerutu Naruto, membuat gadis yang ia tarik hanya bisa memandang heran dengan tatapan polosnya.
"Naruto?"
"Ada apa —" Naruto seketika berhenti berjalan saat otaknya baru menyadari sesuatu. Kemudian dia berbalik dengan cepat, dan menatap gadis yang dibawanya sedari tadi dengan mata melebar. "K-kau memanggil namaku?"
Gadis itu memiringkan sedikit kepalanya, "Naruto?"
Mendengar panggilan yang memang benar-benar keluar dari mulut gadis bersurai orange didepannya, Naruto jadi terharu. Pasalnya saat pertama kali bertemu gadis ini di rumah penangkaran, tak ada lagi yang bisa diucapkannya selain kata; Jiraiya dan Namamu, ini sebuah keajaiban.
Tiba-tiba Naruto bersujud tepat didepan gadis itu sambil menangis gaje dengan hidung yang mengucurkan ingus berwarna putih kehijauan yang terlihat menjijikkan, "OH TUHAN, TERIMA KASIH!"
Gadis itu hanya bisa berkedip tak mengerti.
Naruto tiba-tiba berdiri kembali, lalu ia pegang lagi satu tangan yang sempat ia tarik tadi, "Kita harus merayakannya, dengan makan ramen!" Pemuda itu tersenyum lebar, membuat gadis ia pegang tangannya juga ikut tersenyum.
"Ramen?"
~Change~
Sasame terus saja mengedarkan pandangannya ke seluruh seluk beluk apartemen yang Naruto tempati, gadis itu kini sedang duduk di kursi meja makan dengan memasang wajah yang terlihat kebingungan. Tentu saja, berada di tempat asing yang belum pernah kau masuki, pasti sukses membuatmu bingung, hal yang sama terjadi pada Sasame.
"Maaf sudah menunggu..."
Sasame menoleh ke asal suara, dan didapatinya Naruto datang dengan membawa dua cup ramen di kedua tangannya. Arah pandang gadis itu selanjutnya hanya tertuju pada cup ramen yang Naruto sodorkan tepat di depannya, dia terus saja menatap isi cup tersebut dengan pandangan tak mengerti.
Naruto baru saja menyedot helaian mi ke dalam mulutnya, tapi dia tak mendengar suara yang sama disampingnya, itulah alasan kenapa dia menoleh. "Hei, kenapa hanya dilihat saja? Cepat makan, mumpung masih panas."
Sasame menoleh ke arah Naruto, "Makan?"
Naruto mendesah. Tak pernah terpikirkan olehnya kalau sekarang ini dirinya akan memulai karir sebagai ayah jadi-jadian yang mengajari segala sesuatu kepada anaknya yang polos, sangat menjengkelkan.
Sabar-sabar.
Ini sebuah cobaan.
Cobaan besar.
Sangat berat.
Tak punya pilihan lagi, Naruto meletakkan cup ramen yang di makannya ke atas meja, dan beralih ke arah cup ramen milik Sasame. Di ambilnya sepasang sumpit yang masih setia tergeletak tepat disamping cup ramen milik Sasame, ia belah sumpit itu menjadi dua, lalu ia gunakan untuk menjepit helaian mi dari cup ramen milik Sasame.
"Ayo, bilang aaa..."
Sasame dengan polosnya menuruti suruhan Naruto, "Aaa..."
Naruto perlahan-lahan memasukkan ujung sumpit yang menjepit mi tersebut ke dalam mulut Sasame, "Bagaimana? Enak?"
Sambil mengunyah, Sasame kembali memiringkan kepalanya. "Enyak?"
Naruto cuma bisa mendesah kembali.
Sabar-sabar.
Ini cobaan.
~Change~
"Selamat pagi, Hime."
Tsunade hampir saja terlonjak dari tempat duduknya ketika dia tidak menyadari kedatangan Jiraiya yang masuk dari daun jendela, "Tidak bisakah kau masuk dengan normal?" Tsunade berkata dengan nada yang tidak bersahabat.
"Ada masalah apa?" Jiraiya menghampiri sang Godaime.
Tsunade tak perlu melihat keberadaan mantan rekan satu timnya, karena dari suaranya saja dia sudah tahu kalau Jiraiya sedang berbicara serius. "Ini soal kasus di Nonso no Kuni, pihak Kirigakure meminta sebuah pertanggung jawaban atas apa yang sudah terjadi disana. Kalau tidak mereka akan menyatakan perang pada Konoha." Wanita berambut pirang pucat itu memijit pilipisnya dengan tujuan agar rasa pusing di kepalanya bisa sedikit meringan.
"Meskipun kau sudah menyatakan kalau si bungsu Uchiha itu sudah bukan bagian dari desa ini lagi?"
"Sebelum kau bertanya sedemikian rupa, aku sudah melakukan apapun yang aku bisa untuk mencegah perang ini. Tapi tetap saja, Kirigakure masih tidak terima, dan mereka menginginkan sebuah donasi untuk membangun kembali desa yang sudah di bantai penduduknya tersebut."
Jiraiya hanya bisa terdiam sambil bersandar di meja kerja Tsunade. Apa yang ia pikirkan kali ini akan menjadi sebuah solusi untuk kedepannya, "Aku akan pergi ke Otogakure."
"Eh!?" Tsunade hanya bisa menatap Jiraiya dengan wajah cengo, "Untuk apa?"
"Aku akan menagih sebuah hutang."
~Change~
Dok! Dok!
Baru saja Naruto selesai melakukan ritual paginya, indera pendengarannya langsung disambut oleh sebuah ketukan di pintu masuk apartemennya. "Iya, sebentar." Dengan hanya berbalutkan handuk di pinggangnya, Naruto sama sekali tak merasa malu saat menemui orang yang mungkin saja akan menjadi tamu di pagi hari yang cerah ini.
Tapi Naruto harus cepat-cepat menarik kembali kesimpulan diatas karena saat dirinya membuka pintu seorang Anbu tengah berdiri tegap di depannya. "Ada apa?"
"Naruto-sama, ada pesan dari Jiraiya-sama supaya anda harus secepatnya datang menemui beliau di kantor hokage. Dan anda juga disuruh untuk membawa Sasame-sama juga."
Setelah Anbu tersebut menghilang, sebuah aura misterius berwarna kehitam-hitaman menguar dari seluruh tubuh Naruto. Tak hanya itu, urat kekesalan di pelipis dahinya membentuk sebuah perempatan besar, "Ero-sennin..."
.
.
Selang beberapa menit, Jiraiya masih duduk bersantai di daun jendela kantor hokage. Pria paruh baya itu menatap dalam diam suasana damai desa tempat kelahirannya, tak ada yang lebih indah dari ini.
Namun suasana indah sang Gama Sennin akhirnya pupus saat pintu masuk ruangan hokage terjerembab dengan lebarnya, diapun menoleh, dan mendapati bahwa anak didiknya yang berambut pirang datang dengan membawa Sasame dibelakangnya.
Jiraiya turun dari tempat duduknya dan menghampiri Naruto, "Oh, Naruto, apa kabar —uogh!"
Dan balasan yang Jiraiya terima dari sapaan yang ia lontarkan hanyalah sebuah pukulan telak yang bersarang tepat di perutnya.
"Jadi, kau sudah merencanakan hal itu hah!?"
Jiraiya meringkuk. Tak menggubris pertanyaan Naruto karena pria paruh baya itu lebih mementingkan rasa sakit yang berpusat di perutnya, tapi perlakuan itu semakin membuat Naruto kesal.
Dengan tak segan Naruto langsung mencekal kerah baju sang Sennin, "Brengsek! Kenapa kau malah mengacuhkanku!? Apa kau tidak pernah tahu susahnya di kejar satu batalion Anbu di tengah malam, hah!? Aku kemarin bahkan hampir kencing di celana gara-gara ulah usilmu itu, tua bangka mesum!" Setelah berteriak seperti itu (yang mungkin saja terdengar sampai di lantai bawah), Naruto akhirnya terpaksa berhenti karena nafasnya sudah terengah-engah. Remaja pirang yang usianya beranjak empat belas tahun itu melepaskan cekalan pada baju Jiraiya, dan membuat sang empunya baju tersedak karena secara tidak langsung cekalan yang Naruto lakukan juga mengandung sebuah cekikan.
Setelah beberapa menit kedua pihak itu masing-masing melakukan sesi istirahat, akhirnya pihak ketiga yang menjadi pusat permasalahan yang dibahas ikut bergabung dalam pembicaraan mereka.
Sasame pun berjalan ke tengah-tengah mereka berdua, kemudian dia tersenyum. "Jiraiya, Naruto!" Sasame berteriak penuh akan semangat, membuat kedua belah pihak yang awalnya berseteru akhirnya bisa tertawa bersama.
~Change~
"Jadi, untuk apa kau mengundangku kali ini?"
"Itu akan kujelaskan jika dua anggota yang masih belum datang tiba kesini."
Tepat setelah Jiraiya bicara seperti itu, pintu masuk ruangan hokage terbuka, dari sana terlihat sang Godaime berdiri tegap dan dibelakangnya terdapat seorang Anbu yang menggendong seseorang yang sepertinya sedang memberontak.
"Aku sudah membawa pesananmu!" Tsunade berbicara dengan nada yang terdengar sedikit kesal, sementara Jiraiya yang menjadi lawan bicaranya hanya bisa menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa hambar.
Tsunade kemudian berjalan masuk, di ikuti oleh Anbu di belakangnya. Di saat yang bersamaan dengan masuknya Anbu tersebut, mata Naruto tiba-tiba melebar karena rasa tidak percaya yang berhasil menguasai hatinya.
"Lepaskan aku, lepaskan aku!"
Anbu tersebut menurunkan orang yang sedari tadi ia bawa dengan satu tangan, kemudian ia bersujud. "Hamba permisi, Hokage-sama"
Tsunade hanya perlu sedikit melambaikan tangan sebagai tanda memberikan persetujuan Anbu tersebut. Lalu wanita berdada besar itu berjalan mendekati Jiraiya, dia berhenti tepat beberapa centimeter di depan Jiraiya, satu telunjuknya kemudian ia letakkan tepat di dada Jiraiya. "Kau tahu, sangat menyusahkan membujuk satu gadis puber yang baru patah hati. Balasan dari ini harus sesuai harganya, mengerti!?"
Jiraiya mendesah ringan, "Iya-iya, aku mengerti."
Tsunade sedikit mendengus, lali wanita itu berjalan kembali ke arah meja kerjanya.
"Jiraiya... Naruto...?"
Baru saja Jiraiya ingin mendesah kembali, tapi panggilan serta tarikan di bajunya mengalihkan perhatiannya. Pria salah satu anggota Densetsu no Sannin tersebut menoleh, melihat Sasame sedang menunjuk Naruto yang sedang terpaku menatap Sakura yang juga sama seperti Naruto.
Jiraiya akhirnya tersadar, "Oh, sial."
"Ero-sennin, apa maksudnya semua ini!?" Ada nada geram dan marah dari ucapan Naruto. Sebagaimana perasaan Naruto yang masih tidak ingin bertemu dengan sosok yang paling ingin ia hindari di desa ini, ada rasa ketidakpercayaan yang mendalam karena yang mempertemukan dirinya dengan Sakura adalah guru mesumnya sendiri.
"Aku akan menjelaska —"
Tiba-tiba saja pintu masuk terbuka, menampilkan Kakashi yang sedang menunjukkan senyum mata andalannya. "Maaf aku terlambat, tadi aku tersesat di jalan bernama kehidupan."
Tiba-tiba ruangan hening seketika.
"Err, aku salah bicara ya?"
~Change~
Setelah berhasil meluruskan permasalah yang terjadi antara dua remaja yang masih terjerat dalam permasalahan internal yang juga melibatkan perasaan, akhirnya Jiraiya dapat mensejejerkan anggotanya dengan rapi, pria yang usianya lebih dari setengah abad itu menghela nafas lega, entah yang ke berapa kalinya untuk pagi ini.
"Kita akan pergi ke Otogakure." Jiraiya berucap.
"Untuk apa?"
Jiraiya sedikit melirik ke arah Naruto yang mengajukan pertanyaan, kemudian dia menatap lurus kembali. "Hanya urusan kecil, menagih hutang pada kenalanku." Ucapnya santai. Tapi ninja sekelas Kakashi langsung menyadari siapa yang dimaksud oleh Jiraiya, tidak lain dan tidak bukan, Orochimaru.
Bahkan sekarang ini Tsunade baru menyadari tentang maksud Jiraiya yang berkata tentang [Menagih Hutang], karena itulah yang kini dirasakan Tsunade tak lebih dari kekagetan yang luar biasa besar. 'Jiraiya...!"
"Hanya untuk menagih hutang? Lalu kenapa sampai repot-repot membawa anggota sebanyak ini? Kupikir dua orang saja sudah cukup."
Jiraiya menoleh ke arah Naruto, "Hei, bocah semprul, kau ingin bertambah kuat atau tidak? Dalam perjalanan kali ini, aku ingin mengajarimu sebuah teknik baru."
Mendengar kalimat Teknik Baru, mata Naruto langsung berbinar, tak sedikitpun menghiraukan apa maksud dari ucapan Jiraiya sebelumnya. "BAIKLAH, AYO BERANGKAT!"
Jiraiya hanya bisa sweatdrop melihat bagaimana kepergian Naruto yang dibarengi dengan Sasame dan semangat yang menggebu-gebu, kemudian dia beralih menatap mantan guru tim 7 yang juga sedang menatapnya serius.
Sesi saling tatap itu hanya bertahan selama lima detik, sampai Jiraiya tiba-tiba nyengir lebar. "Kalau nanti sampai terjadi sesuatu, aku yang akan melindungi kalian semua dengan nyawaku."
To be Continued...
A/N: Ahh, akhirnya bisa kembali mengejar ketertinggalan chapter, hampir tiga bulan ya? Hahaha, maafkan saya yang hanya seorang pelajar smp kelas dua yang sekaligus ketua kelas, banyak kesibukannya.
Selesai UAS, akhirnya sedikit bersantai meskipun banyak nilai yang haru kena remidial, hahaha... namanya juga laki-laki, pasti gitu.
Pasti banyak yang ngomong kalau alurnya gak bisa di tebak ya? Memang itulah yang saya rencanakan dari awal, gak bisa di tebak.
Dan untuk kejadian penculikan Sasame, akan di bahas saat masuk era Shippuden. Karena sekarang masih menjadi sebuah rahasia.
Bingung? Pusing? Stres? Jangan salahkan saya yang masih pemula ini.
See you next time on the Next Chapter, Adios~
