Title : You Wouldn't Answer My Hearts

Author : DandelionLeon (Aleyna Park)

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol,Choi Zelo, Sandara Park, Xi Luhan, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kim Jongin(Kai), Kim Jongdae(Chen), Kim Minseok(Xiumin), Jung Krystal, and other cast temukan sendiri.

Rate : T++++ (buat umpatan kasar dan juga sedikit adegan ciuman yang uhhukk).

Genre : Romance, Fluff gagal , School Life , Yaoi (boyxboy).

Pairing : Chanbaek and other pairing bakal muncul di saat-saat tertentu.

Disclaimer : Semua cast disini author cuma pinjam nama. Isi cerita milik author. Jika ada kesamaan nama, tempat atau kejadiannya itu hanya kebetulan semata *sinetron kale -_-*. Dan author gak pernah nyontek tulisan orang, maaf 'nyontek is not my style' :p.

Summary : Chanyeol memaksa Baekhyun menjadi kekasihnya hanya karena sebuah buku harian milik Baekhyun yang berisi tentang dirinya. Dengan niat membuat hati Baekhyun tersiksa saat bersamanya, Chanyeol selalu bermesraan dengan yeoja-yeoja disekelilingnya tepat dihadapan Baekhyun. Dan saat Baekhyun telah lelah meminta hubungan itu berakhir, Chanyeol menolaknya mentah-mentah. Sebenarnya apa mau anak itu? *Sumarry gagal*

Warning : Typo, ejaan yang kurang disempurnakan, judul gak nyambung sama cerita. Buat yang gak senang dengan FanFic Chanbaek atau pun percintaan sesama jenis, kalian boleh tekan tombol close. Gak terima bash dan kritikan yang menjatuhkan! DLDR! Dan buat tangan-tangan jail yang gak kreatif + gak punya ide, mohon jangan copy cerita butut ini, karena kalian juga yang akan rugi, kkkk~

[Recommended song : please don't say – FIX feat. Eunhyuk]

Oke, selamat membaca~ ^o^

.

.

Seminggu sudah sejak kejadian tersebut. Baekhyun selalu menghindar dari Chanyeol. Bahkan saat mereka secara tak sengaja berpapasan, Baekhyun selalu menghindar. Chanyeol juga demikian. Ia mencoba tak peduli. Toh, bukankah ini hanya permainan yang ia buat dengan Sehun dan Jongin? Namun jauh didasar lubuk hatinya, ia ingin Baekhyun menatapnya seperti dulu. Mengatakan ia mencintainya. Bukankah ia terlalu egois?

Sehun dan Jongin tertawa terpingkal-pingkal kala itu saat melihat wajah babak belur Chanyeol. Mereka mengatakan Chanyeol masuk ke dalam permainannya sendiri. Namun Chanyeol seolah tak peduli.

Chanyeol berjalan menuju kediaman keluarga Park. Rumah besar yang terasa kian hampa. Ia membuang tasnya asal. Membanting tubuhnya ke atas sofa. Ia memijit pelipisnya dengan kuat. Mulutnya berkomat-kamit, menggumam berulang kali.

'Aku kenapa?' Hanya kata itu yang terdengar. Tatapannya kosong. Ia juga bingung, apakah ia merasa bersalah? Atau justru ia mulai menerima kehadiran si namja mungil?

Di dalam mimpi, saat ia duduk sendiri, dalam renungannya. Selalu wajah itu, wajah terluka yang ia sia-siakan. Senyuman cantik yang ia lihat saat Baekhyun di atas panggung beberapa waktu lalu.

Chanyeol merasa dirinya sudah gila. Bahkan ia mengacuhkan Sandara. Ia jadi semakin sering bercinta dengan yeoja-yeoja sialan pemujanya. Namun ia merasa kosong. Fikirannya melayang entah kemana. Belum lagi masalah keluarganya yang kian pelik.

PRANGGG….Chanyeol menoleh ke belakang saat mendengar suara benda pecah. Ternyata itu adalah guci yang di banting oleh ayahnya, Nickhun.

"Kau sialan! Beraninya kau berselingkuh?" Sang ayah menampar keras pipi ibunya. Wanita itu menangis terisak. Chanyeol merasa déjà vu. Kejadiannya sama persis ketika ia melakukan kekerasan terhadap Baekhyun. Ia meremas dada kirinya.

"Aku? Bagaimana denganmu hah? Kau selalu bersama namja jalang itu! Bahkan aku melihatmu bercinta dengannya. Kenapa aku tidak bisa? Bahkan Changmin sangat baik terhadapku, tidak sepertimu!"

"Jika ia lebih baik, kenapa kau menikah denganku hah? Semua karenamu! Kau menjebakku dulu! Aku tak pernah mencintaimu sekali pun!"

Sifat keras Chanyeol menuruni sifat sang ayah, bukankah sudah jelas. Chanyeol memperhatikan kedua orang tuanya dengan tatapan nanar. Ia selalu melihat hal ini sejak ia berumur sebelas tahun. Ayahnya yang ia idolakan, ibunya yang ia sayangi. Mereka menghilang sejak saat itu.

FLASHBACK

Chanyeol yang berumur sebelas tahun saat itu berjalan riang memasuki rumahnya. Ia membawa sebuah piala kemenangan dari hasil lomba melukis yang ia ikuti di sekolahnya. Chanyeol ingin meminta hadiah pada kedua orang tuanya. Mata bulatnya dengan pancaran kehangatan itu menilik isi rumahnya. Senyum lebarnya tak pernah lekang.

"Eomma~ Appa~" Teriaknya. Namun masih tak ada sahutan sama sekali.

"Mungkin saja appa belum pulang kerja ya? Aisshh! Eomma dimana sih?" Sungutnya kesal. Ia mendapati sticky note yang tertempel di depan pintu kulkas.

'Eomma pergi ke rumah pamanmu sayang. Bibi melahirkan. Nanti eomma pulang, arra? Saranghae~'

Chanyeol merengut kesal. Ayolah, ia ingin memamerkan pialanya. Tapi ia kembali tersenyum, berarti ia mempunyai keponakan bukan? Ia menganggukkan kepalanya. Rambut berponinya itu mengayun lembut seiring langkahnya menuju kamar. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, kakinya terhenti saat mendengar sebuah suara aneh dari kamar kedua orang tuanya.

"Engghh~ ahh…." Suara seorang pria, namun ini bukan suara ayahnya. Dengan langkah berani, Chanyeol mendekati pintu kamar ayah dan ibunya. Tangannya memegang kenop pintu dan membukanya perlahan. Matanya membulat saat menyaksikan adegan dihadapannya. Ayahnya tengah berhubungan intim bersama orang lain. Terlebih itu adalah seorang…namja.

"Appa…" Lirihnya pelan. Kakinya melemas, seluruh persendiannya seakan mati rasa. Mata indahnya mengeluarkan air mata. Ia masih bingung dengan semuanya. Ayahnya masih tak menyadari keberadaan Chanyeol. Chanyeol kecil berlari dengan terisak. Ia segera menelpon sang ibu.

'Yeobeoseyo?'

"Hiks…eomma….eomma…hiks…" Ucapnya dengan tangisan keras. Eommanya tentu saja bingung.

'Wae geurae? Channie? Kau kenapa sayang? Uljima~ kau tau? Keponakanmu baru saja lahir, ia laki-laki_'

"Aku tidak peduli! Hiks… eomma cepat pulang!" Teriaknya frustasi.

'Channie, kau kenapa sayang? Kau tidak boleh begitu.'

"Hiks…Eomma tidak mengerti! Cepat pulang! Appa jahat! Appa membawa orang lain ke rumah. Chanyeol tak tau mereka sedang apa. Mereka ada di kamar…cepat pulang! Hiks…"

Victoria membulatkan matanya. Dengan tergesa-gesa ia mematikan sambungan sang anak. Tanpa pamit terlebih dulu,Victoria langsung mengemudi mobilnya dengan kencang.

Chanyeol terduduk dilantai, menutupi wajahnya sambil menangis kencang. Ia mual, seakan isi perutnya hampir keluar. Victoria memasuki rumahnya dengan wajah memerah. Tak ia pedulikan sang anak yang terduduk dilantai sambil menatapnya sedih.

BRAKKK….. Selanjutnya yang Chanyeol dengar hanyalah pekikan dari sang ibu. Ia berjalan dengan langkah terhuyung-huyung mendekati tiga manusia disana.

"Bajingan! Kau…beraninya kau melakukannya di rumah ini? " Teriak Victoria dengan wajah penuh air mata. Si namja yang bertubuh lebih mungil dari Nickhun itu mencoba mendekatinya.

"A-aku bisa jelaskan Victoria_"

"Diam kau! Jangan sentuh aku! Jang Wooyoung sialan!"

Namja bernama Wooyoung itu menunduk. Nickhun menggeram kesal, ia menampar pipi Victoria. Untuk pertama kalinya Chanyeol melihat sang ayah memukul ibunya. Biasanya ia hanya melihat kehangatan diantara keduanya.

"Kau yang sialan! Jika kau tak datang ke kehidupanku, maka aku akan bahagia! Kau tak ingat? Aku sangat membencimu. Kau memaksaku menikah denganmu. Aku muak!"

"Kau muak? Terserah kau mau membenciku atau apa. Tetapi kita bukan anak remaja lagi, kita bukan berumur 20 tahun lagi. Kita telah memiliki anak. Kau lupa? Dan kau tau? Anakmu melihat kegiatan nistamu ini!"

Nickhun menatap Chanyeol yang tak jauh darinya. Anak lelakinya itu terlihat bergetar. Ia terkejut, sungguh. Perlahan kaki panjangnya mendekati sang anak.

"Berhenti. Jangan dekati aku." Ucap Chanyeol dingin.

"Chanyeol, apa minta maaf sayang."

"Kau menjijikkan! Kau menyakiti hati ibuku. Kau menjijikkan! Kenapa kau bersama namja? Ternyata ayahku seorang abnormal. Aku membencimu! "

"Chanyeol! Chanyeol!"

Chanyeol berlari menjauhi rumahnya. Sungguh, ini sangat mengguncang mentalnya. Ia hanyalah anak polos, ia tak tau apa-apa. Chanyeol menangis terisak di sebuah taman.

"Hiks…Aku benci appa. Aku benci eomma. Aku benci paman itu. Hiks…mereka jahat."

PUKK.. Sebuah tangan mungil berada di pundaknya.

"Kau kenapa?" Tanya suara lembut itu. Chanyeol mendongak untuk menatap wajah yang ternyata sangat cantik itu.

"Hiks…Aku tidak apa-apa." Ucapnya. Namun si mungil itu ikut duduk disebelahnya.

"Jangan menangis, kau jadi jelek. Kenapa kau benci orang tuamu? Kau tak boleh seperti itu."

"Tau apa kau tentang aku hah! Pergi kau yeoja sialan!"

Si mungil itu mengerutkan dahinya bingung.

"Aku ini namja, aku bukan yeoja." Protesnya. Chanyeol menatapnya berang.

"Terserah! Aku tak peduli! Pergi sana atau aku yang pergi!"

"Baiklah, aku akan pergi. Tak perlu membentak seperti itu juga kan? Hish! Dasar cengeng!"

Chanyeol hanya menatap kepergian namja itu dengan mata hampa. Andai saja kejaidan ini tak terjadi, mungkin ia akan bertingkah baik tadi.

Hal itu, membuatnya menjadi si pemarah. Membuatnya menjadi namja dingin. Membuatnya menjadi namja yang tak percaya dengan cinta sejati. Dan membuatnya membenci namja lemah dan juga namja gay. Seperti ayahnya yang mengkhianatinya dan juga ibunya.

Flaschback off

Chanyeol menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Para maid disana terdiam, tak berani ikut campur. Namun mereka tak tega mendengar tangis pilu dan melihat nyonya mereka di pukuli oleh sang tuan.

"CUKUP!" Teriak Chanyeol menggema. Semua yang ada disana terdiam. Ayahnya menatapnya berang.

"Berhenti kalian berdua. Kalian sama saja, sama-sama mengkhianati aku. Kalian sama-sama brengsek. Aku pusing, bisakah kalian diam?" Ucap Chanyeol sinis. Ia berjalan menaiki tangga. Ibunya menahan tangannya.

"Chanyeol, kau tak percaya dengan ayahmu bukan?"

"Cih, aku melihatmu bersama paman Changmin. Bukankah sangat lucu? Saat aku pergi ke hotel bersama perempuanku, aku melihatmu disana. Menjijikkan."

"Lihat? Bahkan anakmu sendiri juga mengakuinya!" Teriak Nickhun.

"Kau tutup mulutmu. Kau juga sama sepertinya. Dasar gay…"

"Park Chanyeol! Berhenti kau!"

BLAMMMM….. Chanyeol membanting pintu kamarnya dengan keras. Ia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu yang tertutup dibelakangnya. Perlahan tubuhnya merosot jatuh. Ia meninju lantai kamarnya yang dingin berulang-ulang.

"Hiks…Sialan! Brengsek! Damn!" Umpatnya berulang-ulang. Chanyeol menangis dengan keras. Menangisi kehidupannya yang menyedihkan. Menangisi takdirnya. Dan juga sebuah penyesalan yang membuatnya semakin gila…

'Byun Baekhyun, aku lebih menyedihkan dan menjijikkan dari pada dirimu.' Ucapnya dalam hati. Hari itu, ia hanya menangis. Menangis di dalam kamarnya yang gelap dan juga sunyi.

.

.

Baekhyun memindahkan channel tv dengan wajah cemberut. Ayahnya menatapnya dengan wajah datar.

"Yak! Sudah datang seenaknya. Memindah-mindah channel televise lagi."

Baekhyun menatap ayahnya tak kalah datar.

"Appa, aku bosan."

Kibum ingin menjambak rambutnya sekarang juga. Anaknya mungkin saja sudah gila, fikirnya.

"Kau kenapa Baekhyunnie? Ceritakan pada appa."

Baekhyun hanya menggeleng. Ia menyesap teh hangatnya dengan gaya angkuh.

"Hish! Berhenti bertingkah seperti itu. Kau mengerikan." Ucap sang ayah. Sekilas, mereka seperti sepasang kakak-beradik bukan? Terlebih wajah Kibum yang awet muda. Benar-benar keluarga yang aneh.

"Baekhyunnie, appa ingin membicarakan sesuatu denganmu." Baekhyun menatap ayahnya dengan tatapan bertanya.

"Mwoya appa?"

"Appa mendapat promosi di Swiss."

Mata Baekhyun berbinar senang. Ia mendekati ayahnya.

"Jinjja? Appa~ chukkae~" Pekiknya sambil tersenyum manis. Kibum mengusak rambut anaknya senang.

"Tapi Baek, appa tak bisa pergi sendiri. Kita akan pindah kesana."

DEG! Perkataan sang ayah membuat senyum Baekhyun memudar.

"Tapi…aku tak ingin pindah appa." Gumamnya dengan lirih. Baekhyun menundukkan wajahnya dalam.

"Wae? Bukankah sedari kecil kau ingin tinggal di Swiss? Appa diberi pilihan, Belanda, Inggris dan juga Swiss. Karena kau ingin tinggal di Swiss, maka appa memilihnya."

"Aku masih bingung appa."

"Hmm…geurae? Kau fikirkan saja dulu ne? Nanti kita bicarakan lagi."

.

.

Baekhyun duduk di salah bangku café-nya sambil termenung. Pakaian ala pegawai café masih melekat ditubuh mungilnya. Ia tak mempedulikan teriakan Chen dan juga Xiumin yang memanggilnya sedari tadi. Bahkan Jiyeon yang menggodanya sedari tadi tak ia pedulikan . Yeoja itu merengut tak suka.

"Oppa! Kenapa hanya diam? Aku capek bercerita panjang lebar. Kenapa hanya diam?" Protesnya tak suka.

"Memangnya ada yang menyuruhmu bercerita eoh? Diamlah Jiyeon, kepalaku sakit."

Jiyeon berjalan mendekati Baekhyun. Dengan tiba-tiba ia memijat kepala Baekhyun.

"Masih sakit?" Tanyanya imut. Baekhyun hanya terkekeh pelan lalu menggeleng. Jika saja ia tak mencintai Chanyeol, jika saja ia normal, mungkin Jiyeon sudah berpacaran dengannya sejak lama. Yeoja mengesalkan yang dapat membuatnya tersenyum.

"Eh? Krystal?" Gumam yeoja itu. Baekhyun menatap Jiyeon heran. Yeoja itu sibuk menerima panggilan dari Krystal.

"Kau kenal Krystal?" Tanya Baekhyun setelah Jiyeon selesai bertelpon ria. Ia mengambil soda lalu meneguknya.

"Tentu saja, dia itu sepupuku. Dan dia rivalku karena ia juga menyukaimu oppa."

"Uhhhukkk…uhhukkk…MWO?" Baekhyun tersedak dengan soda yang diminumnya. What the hell? Yeoja yang menimbulkan masalah hidupnya menyukainya? Tidak masuk akal!

"Gwaenchana? Aku serius oppa. Hanya saja aku yang beruntung bisa berdekatan denganmu. Krystal terlalu kaku, hahahaha."

Baekhyun hanya meringis. Masih shock dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya. Pantas saja dulu ketika ia melihat Baekhyun hendak berganti baju wajahnya merona. Ternyata…

Baekhyun menghela nafasnya.

'Ternyata uke sepertiku dicintai wanita juga ya? Ckckckck' Batinnya.

KLIINNGGG…. Bel yang berada di atas pintu café nya berbunyi. Dua orang manusia tepatnya dua orang namja paruh baya masuk. Yang satu berwajah imut dan terlihat lebih mungil. Sedangkan yang satunya bertubuh tegap dan berwajah tampan, mirip seseorang.

'Bukankah itu Nickhun Park? Ayah Chanyeol?' Batin Baekhyun bertanya-tanya. Ia terus memperhatikan kedua namja itu. Namun ia melihat kejanggalan disini. Nickhun mengusap rambut namja itu sambil tersenyum manis. Jantungnya seakan terhenti saat mendengar kata 'sayangku' terlontar dari bibir ayah Chanyeol tersebut.

"Mwoya ahjussi itu? Bermesraan ditempat umum, ckckck. Tapi lucu juga ya? Aku foto saja_"

"Jangan." Titah Baekhyun. Jiyeon mengerutkan dahinya bingung. Padahal itu moment langka, fikirnya. Terlebih ia seorang fujoshi akut.

other side

"Bagaimana hubunganmu dan Chanyeol? " Tanya Wooyoung si namja imut.

"Dia masih belum bisa memaafkanku. Dan aku semakin gila karena Victoria berselingkuh di belakangku."

Wooyoung yang hendak menyesap mocca latte yang ia pesan, mengurungkan niatnya.

"Benarkah?" Nickhun mengangguk lemah.

"Kau kecewa dia berselingkuh?" Tanya Wooyoung sambil tersenyum menggoda.

"Tentu saja_ maksudku, entahlah… rasanya sakit."

Wooyoung mengangguk-anggukan kepalanya. Sedetik kemudian ia tersenyum manis.

"Itu tandanya kau cemburu Nickhun-a. Kau mulai mencintainya."

"Aku hanya mencintaimu_"

"Berhentilah Khun-a. Kau tau bukan? Cintamu itu semu untukku? Aku sudah menikah bahkan aku telah memiliki anak. Dan juga, aku sudah mencintai Lee Ji Eun-istriku."

Nickhun mengangguk lemah.

"Aku tau, aku tau." Ucap Nickhun, ia menyesap kopi hitam yang ia pesan.

"Jika difikir-fikir kita ini lucu sekali bukan? Mengartikan cinta seenak kepala kita saja. Karena sebuah kesalahan, dan kita ketagihan. Lalu mengartikan semua dengan cinta. Sangat lucu." Gumam Wooyoung, Nickhun hanya mengangguk sebagai jawaban.

Baekhyun mendengar semuanya. Namun ia masih tak mengerti, masih bingung. Namun ia dapat menyimpulkan bahwa ternyata selama ini ayah Chanyeol…gay?

'Apa itu yang membuatnya membenciku?' Tanya Baekhyun dalam hati.

KRINNG… Bel didepan pintu kembali berbunyi. Seorang namja jangkung berwajah tampan. Wajah angkuh dan juga tatapan itu. Baekhyun sempat terhenyak sejenak. Namun sepertinya Chanyeol-namja itu tak menyadari keberadaannya.

"Woah, siapa namja itu? Tampan juga~ kau kalah tampan." Gumam Jiyeon. Baekhyun hanya menatap Jiyeon datar. Ia kembali menatap pemandangan di hadapannya.

"Wow, berduaan ditempat ini ya?" Sinis Chanyeol. Wooyoung dan Nickhun menatap Chanyeol terkejut.

"Kau mengikuti kami?" Tanya Nickhun bingung.

"Ani, hanya kebetulan. Aku akan berterima kasih terhadap Jongin setelah ini karena ia menyuruhku membeli kopi. Dan well… aku menemukan dua makhluk menjijikkan."

Wooyoung menghela nafasnya. Cukup sudah kesalah pahaman ini, fikirnya.

"Chanyeol, aku ingin meluruskan ini semua. Kau salah paham, aku dan Nickhun tak memiliki hubungan apapun lagi, aku_"

"Tutup mulutmu ahjussi brengsek! "

BUAGGHH…. Chanyeol meninju pipi Wooyoung hingga namja itu tersungkur. Wooyoung mengusap bibirnya yang berdarah lalu tertawa remeh. Bisa-bisanya bocah ini berbuat tak sopan, fikirnya.

Pengunjung café mendadak riuh karena kegaduhan tersebut. Terlebih saat Nickhun membalas Chanyeol dengan menamparnya. Rasanya panas, sakit, kesal bercampur menjadi satu. Chanyeol menatap ayahnya tajam.

"Berhenti bertindak tidak sopan Park Chanyeol. Kau memalukanku, kau … bisakah kau mendengar penjelasan dulu? Kenapa kau selalu bertindak seenak hatimu? "

Chanyeol membuang wajahnya ke arah lain. Matanya membulat saat ia menatap Baekhyun yang juga menatapnya dengan tatapan sedih dan kasihan.

"B-Baekhyun…" Gumamnya.

Baekhyun hendak berjalan mendekat, tetapi Chanyeol menjauh. Ia berlari meninggalkan café itu dengan keributan yang ia buat. Nickhun mengusap wajahnya kasar. Ia hendak mengejarnya, namun tangan Baekhyun menahannya.

"Ahjussi, biar aku saja yang mengejarnya." Ucap Baekhyun. Nickhun hanya mengangguk bingung.

.

.

Baekhyun berlari mengejar Chanyeol. Ia butuh penjelasan. Ia juga tau bahwa Chanyeol malu. Malu dengan Baekhyun yang mengetahui cacatnya keluarganya.

Namja mungil itu terus saja mencari Chanyeol. Namun nihil.

"Chanyeol!" Teriaknya. Tak ia pedulikan tatapan orang-orang yang melihatnya aneh. Baekhyun terus berjalan menyusuri sudut kota. Tak ia pedulikan pakaian yang ia kenakan sudah basah terkena hujan yang turun beberapa menit yang lalu. Ia berjalan melewati sebuah taman. Taman dimana ia sering bermain sejak kecil. Taman yang mempertemukannya dengan si tampan, pangeran impiannya.

Entah dorongan darimana ia berjalan kesana. Ia melihat siluet namja tinggi memakai jaket berwarna hitam disana. Ia berjalan mendekatinya.

"Chanyeol-ssi.." Ucapnya. Chanyeol mendongak untuk menatapnya. Ia membuang wajahnya ke arah lain. Tubuhnya menggigil karena terlalu lama berada di bawah guyuran hujan. Keadaan Baekhyun tak jauh beda, bibir merahnya bahkan telah memucat.

"Pergi kau dari sini!" Teriaknya. Namun bukannya menurut, Baekhyun malah ikut duduk disebelah namja yang 'masih' ia cintai itu.

"Kenapa malah duduk? Bukankah beberapa waktu yang lalu kau bilang membenciku hah? Pergi sana! Berdekatan denganmu membuatku muak!"

Baekhyun menutup matanya rapat. Ia mengusap punggung Chanyeol.

"Kau ingin menertawakanku bukan? Aku menyedihkan bukan? Hahaha….aku lebih menyedihkan darimu." Ucap Chanyeol sambil tertawa pedih. Baekhyun tau, namja jangkung itu tengah menangis, hanya saja tersamarkan dengan air hujan. Baekhyun masih bungkam, ia masih terus mengusap punggung lebar itu. Namun tak lama kemudian Chanyeol menepis tangannya, membuat Baekhyun tersentak.

"Pergi Baekhyun! Aku muak melihat wajahmu!"

"Kenapa? Aku juga muak melihatmu kok. Namun aku tak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Aku mengerti kau sakit hati Chanyeol-ssi. Dan…tak ada sebersit rasa ingin menertawakanmu sedikit pun."

Chanyeol menatap Baekhyun tajam.

"Lalu? Kau ingin mengasihaniku? Begitu bukan?" Tanyanya sakartis dengan bibir bergetar karena dingin.

"Aniya. Bukan kasihan, tetapi aku peduli denganmu."

Lama mereka terdiam dibawah guyruan hujan. Hingga Chanyeol mulai membuka suara lagi.

"Jangan seperti ini. Aku semakin merasa bersalah denganmu. Kau tak perlu bersikap baik terhadapku, aku…aku semakin merasa bersalah. Ku mohon."

Untuk pertama kalinya Baekhyun mendengar kata memohon dari kedua belah bibir itu. Sebegitu putus asanya kah Chanyeol saat ini?

"Lalu, kau mau aku bertindak kasar? Sudahlah, lebih baik kau pulang dan berbicara baik-baik terhadap ayahmu. Mengerti?"

Baekhyun hendak beranjak, namun tangan Chanyeol menahannya.

"Ikut aku." Ucapnya. Baekhyun memiringkan kepalanya dengan lucu.

"Kemana?"

.

.

Wajah Baekhyun merona. Ini tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Ia berada dengan Chanyeol berdua di dalam hotel? Apa maksud Chanyeol membawanya kemari? Namun, karena rasa kesalnya masih besar terhadap namja jangkung itu, ia tak mau terlalu senang. Justru ia semakin kesal. Baekhyun merasa Chanyeol mengajaknya kemari hanya untuk bahan pelampiasan. Dipukuli atau parahnya dipaksa memuaskan hasratnya.

"Kenapa membawaku ke hotel?" Tanya Baekhyun dengan nada suara kembali dingin. Chanyeol menatapnya dengan tajam.

"Wae? Aku kedinginan. Aku sudah tak punya rumah lagi sekarang." Ucap Chanyeol seraya membenarkan bathrobe yang ia kenakan.

"Ck! Kau punya rumah. Jika kau tak ingin pulang ke rumahmu, kau bisa bilang. Aku akan membawamu ke rumahku. Untuk apa ke hotel? Ingin menghabiskan uang?" Ucap Baekhyun dengan cerewet, sifat aslinya mulai tampak. Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.

"Setelah memukulku, kau jadi semakin berani terhadapku ya?" Ucap Chanyeol tenang.

"Kenapa harus takut? Bahkan kau bukan siapa-siapaku lagi."

"Kau masih kekasihku. Camkan itu!" Teriak Chanyeol. Baekhyun mendesah frustasi.

"Sebenarnya apa tujuanmu hah? Maumu apa? "

"Entahlah, aku juga tak tau. Sekarang lebih baik kau mandi sebelum kau sakit dan merepotkanku!"

Baekhyun memijat pelipisnya. Ia berjalan memasuki kamar mandi hotel itu. Mengumpat kesal pada dirinya sendiri. Bukankah ia menghindari Chanyeol? Baekhyun menenggelamkan dirinya di dalam bath up berisi air hangat itu. Berharap stressnya bisa hilang. Semoga saja.

.

.

Namja mungil itu keluar dengan pakaian lengkap. Hanya saja kaos yang diberikan Chanyeol kebesaran ditubuhnya. Belum lagi celananya yang kelewat panjang itu. Ia jadi seperti orang bodoh-menurutnya.

Chanyeol terduduk di pinggiran ranjangnya. Kepalanya menunduk sangat dalam. Baekhyun mencoba tak peduli, ia takut terkena amukan secara mendadak dari namja itu. Tidak, ia cukup tau perilaku arogan Chanyeol yang suka meluapkan emosinya pada siapapun yang ia temui. Baekhyun duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari tempat Chanyeol berada.

"Kemari…" Ucap Chanyeol pelan, tangannya mengibas-seperti memanggil Baekhyun mendekat. Dengan ragu Baekhyun berjalan mendekati namja itu. Tubuhnya tersentak saat Chanyeol menggenggam tangannya secara tiba-tiba.

"Apa kau tau? Aku ini memalukan. Ayahku menjijikkan Baekhyun-a."

Apakah ini benar Chanyeol? Fikir Baekhyun. Tutur katanya sangat lembut, tak seperti biasanya. Namja jangkung itu masih menunduk. Baekhyun bingung harus apa, ia hanya diam. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap lengan Chanyeol.

"Aku… harus apa?"

Lirihannya masih dapat telinga Baekhyun dengar. Namja tampan itu sebenarnya hanya tak tau harus berbuat bagaimana. Ia tak memiliki siapapun yang bisa di jadikannya sandaran.

"Ceritakan jika kau merasa hatimu lelah dan kau sudah terlalu jenuh dengan semuanya , Chanyeol-ssi."

Layaknya sebuah mantra, Chanyeol menceritakan segalanya. Namun tetap saja kepalanya menunduk. Poninya yang hitam legam itu semakin menutupi wajahnya.

"Aku hanyalah anak kesepian. Kedua orang tuaku tak pernah akur. Aku hidup dengan semua kepalsuan. Aku…entahlah, kau lihat sendiri tadi. Ayahku seorang…gay. Aku membencinya."

"Dan kau membenciku karena hal itu? "Tanya Baekhyun dengan senyum getir. Chanyeol mengangguk lemah.

"Aku tak tau bagaimana caranya mengekspresikan perasaan kesalku. Maaf, kau menjadi korban pelampiasanku selama ini. kau boleh membenciku semaumu Baekhyun. Aku tak tau bagaimana kasih sayang. Aku_"

GREPP… Baekhyun menarik Chanyeol ke pelukannya. Chanyeol sempat tertegun sejenak. Baekhyun mengusap punggung tegap itu dengan gerakan pelan.

"Kau menyesal? Kau hanya tak bisa memaafkan lukamu sendiri Chanyeol-ssi, makanya kau melukai orang lain untuk menutupi luka dihatimu. Kau tau arti kasih sayang? Secara tak langsung kau telah menyia-nyiakannya selama ini."

Entah itu nasehat atau sindirian. Chanyeol hanya terdiam dengan tubuh bergetar. Matanya mengeluarkan liquid bening yang jarang sekali lolos dari matanya. Baekhyun merasakan pundaknya sedikit basah. Ia tau Chanyeol menangis.

Tubuhnya dipeluk erat oleh lelaki jangkung itu. Mungkin ini pertama kalinya mereka berdekatan dengan keadaan membaik. Chanyeol mengeratkan pelukannya lagi. Ia tak pernah senyaman ini sebelumnya jika dipeluk orang lain. Harum tubuh Baekhyun yang seperti anak bayi membuatnya semakin nyaman.

"Kau…menangis?"

Tanya Baekhyun dengan suara bergetar. Chanyeol menatapnya dengan mata berair. Melepaskan pelukannya.

"Wae? Ingin mengejekku? Anggap impas Baekhyun. Biasanya aku yang selalu melihatmu menangis. Untuk malam ini kau orang pertama yang melihatku menangis seperti remaja cengeng yang ditinggal mati kekasihnya."

Baekhyun mencoba tersenyum. Ini berat, kenapa disaat ia mulai melupakannya justru Chanyeol bertingkah seperti ini? Ia mengusap air mata Chanyeol dengan kedua ibu jarinya.

"Tak ada salahnya dengan menangis. Terkadang menangis juga diperlukan, terlebih untuk membuat hatimu lega."

Chanyeol terdiam. Baekhyun tampak manis dimatanya. Ia begitu polos dan juga baik. Ini kah sosok namja yang selama ini dia benci tanpa alasan? Ia merasa bodoh. Keduanya terdiam dengan fikiran masing-masing.

"Jangan panggil aku 'Chanyeol-ssi' lagi." Gumam Chanyeol. Baekhyun menaikkan kedua alisnya seolah bertanya. Chanyeol tak mempedulikannya. Ia bergelung memasuki selimutnya. Baekhyun bertanya dalam hati. Sebenarnya Chanyeol memiliki berapa sifat? Ia kembali bertingkah dingin.

Chanyeol mencoba memejamkan matanya sambil berselimut. Bibirnya bergetar hebat.

"D-dingin…" Gumamnya. Baekhyun mendekatinya.

"Chanyeol, kau baik-baik saja? Astaga! Tubuhmu panas!" Pekik Baekhyun heboh.

"Diamlah! Kau berisik!" Sudah sakit, masih saja membentak. Baekhyun terdiam sambil mengigit bibirnya sendiri.

"Terserahmu saja. Aku mau pulang. Ayahku pasti sudah menungguku. Jika ada apa-apa, kau hubungi saja dua sahabatmu itu."

GREP…Chanyeol menatap Baekhyun diam. Ia membawa namja mungil itu ke dalam pelukannya. Hati Baekhyun sempat terenyuh di buatnya.

"Jangan tinggalkan aku seorang diri. Ku mohon…" Lirih Chanyeol. Baekhyun tertegun, fikirannya terus bergelut. Apa ia harus menuruti Chanyeol? Atau ia meninggalkannya dengan kondisi seperti ini? Tidak, Baekhyun masih memiliki hati nurani. Sekuat apapun tekadnya untuk melupakan Chanyeol, anggap saja ini terakhir kalinya. Setelah ini ia takkan mau berdekatan dengan Chanyeol lagi.

Baekhyun mengompres kepala Chanyeol dengan air dingin. Dipandangnya wajah tampan yang terlelap itu dengan sayu. Baekhyun merasa sedih melihat Chanyeol seperti ini. Ia pasti kesepian, makanya Chanyeol menjadi anak yang liar dan suka semaunya. Namja mungil itu menghela nafasnya.

Panas Chanyeol perlahan menurun membuat Baekhyun sedikit lega dibuatnya. Namun Chanyeol masih tertidur pulas.

Hujan diluar sana mulai reda. Langit mulai berwarna hitam, menunjukkan malam telah hadir. Baekhyun melirik jam yang tergantung tak jauh dari hadapannya. Pukul setengah sembilan malam. Ia harus pulang, walau sang ayah akan lembur malam ini. Ia tak ingin berada lama-lama disini.

Namja mungil itu dengan cepat mengganti pakaiannya dengan seragam khas pegawai café miliknya yang sudah kering. Ia melipat pakaian yang sempat ia kenakan tadi. Meletakkannya di meja di dekat sofa. Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol yang tertidur. Ia mengusap wajah itu.

CUP…lalu mengecup pipi Chanyeol lembut. Setelahnya ia pergi meninggalkan Chanyeol seorang diri.

"Annyeong, Chanyeol-a. Mimpi indah. "

.

.

[ToBeContinued]

Astaga…ember mana ember? Oh my Chanyeol! Lebay banget ya? Apalagi flashbacknya itu. Picisan. Maklum, ini buatnya pas jam satu malam. Author terbangun dari tidur langsung ngetik karena dapet ilham /author sinting/

oh iya, author bingung mau ubah rate jadi M atau enggak. Soalnya umpatannya kasar-kasar banget ya? *jedotin kepala ke tembok* .

Oh iya, jangan bash Chanyeol lagi ya? kasian dia, dia hanya khilaf *buaggh* . btw, author nyisipin 'sedikit' moment manis chanbaek. Kan gak enak kalo chanyeol kerjanya bentakin baekhyun doang. Abis suaranya teriak-teriak mulu -_- .

Buat yang minta chanyeol di siksa. Tenang aja, author gak bakal siksa dia secara fisik nanti, tapi secara batin. Hahahaha. Buat fans zelo, maaf sayang… zelo gak ada di chap ini. chapter ini dikhususkan buat nyeritain masa lalu kelam bang chanyeol. -3-

Ayo…ayo review… masih banyak konflik yang belum tampak disini , muahahahaha *ketawa setan* / abaikan author sinting ini/

Thanks buat adek-adek, kakak-kakak, abang-abang dan readersdeul semua yang udah review. Kalian semua luar biasa *duagghh*. Mian, kalo ada yang belum di bales reviewnya.

Thank's buat yang review di chap 8: [exindira] , [Mr KHC] , [gdtop] , [Dennis Park] , [hwangyiu] , [fuawaliyaah] , [yusnizhecewek'kempong] , [yeolliepop] , [Yuan Lian] , [EarthDO] , [Ancient Kyungmyeon] , [Maple fujoshi2309] , [oktaviarita'rosita] , [20Gag] , [lolamoet] , [Melissa'luph] , [AnjarW] , [obs29] , [nonabaozi] , [vivi'putri'108] , [Yeollbaekk] , [Nenehcabill] , [pijels] , [ayuputeri] , [adnanmizura] , [natsuko Kazumi] , [ChanBaekLuv] , [rizkyamel63] , [nidayjshero] , [FriederichOfficial] , [rizqibilla] , [nam minggyu] , [Baekhyunniee] , [realkkeh] , [overdosebcsexo] , [Najika Alamanda] , [sunggi'chan] , [Tsuchiya Keda] , [Zelo ChanBaek] , [chanbaekship] , [Linkz] , [lee sunri hyun] , [Tabifangirl] , [Chanbaek] , [Guest1] , [lyadparkyu] , [ryanryu] , [changyu] , [Parkbyun0627] , [ChenZel 21] , [BLUEFIRE0805] , [devrina] , [none] , [Re'Tao] , [guest2] , [Khasabat04] , [Wu Zi Rae KTS] , [Guest3] .

.

.

Thanks buat yang review di chap 9: [Byun-Dogii] , [babesulay] , [RLR14] , [EarthDo] , [ Nenehcabill] , [Yuan Lian] [rizkyamel63] [Fuji jump910] [obs29] [ShinCan] [nidayjshero] [TrinCloudSparkyu] [febricajusty] [FriederichOfficial] [AnjarW] [melissa'luph] [Ayuu Byunnie] [Park Chan Gyu] [Titan18] [Ancient Kyungmyeon] [oktaviarita'rosita] [devrina] [Natsuko Kazumi] [Dennis Park] [Maple fujoshi2309] [Khasabat04] [NajikaAlamanda] [exindira] [yeollbaekk] [Linkz account] [kezialie31] [NyunSehun] [otomeharu22] [nam minggyu] [Rachel suliss] [Re'Tao] [doctorbaek] [reiasia95] [vivi'kim'967] [Guest] [rosita'atika] [lolamoet] [sunggi'chan] [Tsuchiya Keda] [90Rahmayani] [indrisaputri] [ayuputeri] [nur991fah] [15] [miyuk] [nonabaozi] [ninosjexo] [lee sunri hyun] [Guest2] [ryanryu] [Rina972] [byuntae92] [Chanbaek] [love exo] [azloef] [Ohxibye] [luexoluu] [mellisaangie] [xxxdngam] [Guest3] [xlkslb'ccditaks] [baekkevinka] [Guest4] [overdokai] [chanbaekship] [Babyexotic] [Pcy] [baekyeolxx] [byun baekri] [lyasparkyu] [HChY] [Guest5] [Mizukami sakura'chan] [ChanBaekLuv] [PCYloveBBH] [BLUEFIRE0805] [Lim Shixun] [Baby's Kyumin] [Kaisoo addicted] [Senpaice] [arwinda'cahya'5] [Su Hoo] [KT CB] [Wenny] [exonderwear] [fida] [Guest6] .

Dan buat semua yang udah review sejak awal, aku berterima kasih sekali pada kalian semua. Tanpa kalian fanfic ini gak akan ada apa-apanya. Makasih sekali lagi. :'D

.

.

Read and review jusseyo~~ saranghaeyo… *love sign*