Part 9 update! Have a good day ^^
.
.
.
Part 9
Do Kyungsoo House. Saturday, 09.30 AM.
Akhir pekan. Setelah lima hari yang melelahkan di kantor, Kyungsoo hanya ingin menghabiskan akhir pekannya dengan santai di rumah. Namun sepertinya tidak kali ini. Ia kembali menemukan sebuah amplop besar di dalam kotak posnya. Selama berjam-jam ia hanya memandang amplop besar itu, ia ingin membukanya tetapi takut melihat hadiah "kejutan" seperti apa yang menunggunya di dalam. Ia menuangkan segelas es teh dan duduk serta mempelajari benda itu, seolah-olah ia dapat menebak apa yang ada di dalamnya tanpa harus membukanya. Sebenarnya, hadiah-hadiah itu bisa jadi menyenangkan bahkan menimbulkan rasa sayang, jika ia tidak berpikir bahwa Suho mempermainkannya, berhubungan dengannya sementara laki-laki tampan itu juga menemui orang lain.
Bukalah dan cari tahu, Kyungsoo memerintahkan dirinya.
Akhirnya Kyungsoo membuka amplop itu dan merogoh ke dalamnya. Isinya sebuah cincin, sebuah catatan tanpa namanya dan beberapa sketsa lagi. Kyungsoo memperhatikan cincin itu sesaat, kemudian meletakkannya di atas meja dan beralih pada catatan. Ia membaca catatannya sebelum melihat pada sketsa.
Aku memimpikanmu seperti ini, memimpikan kita bersama. Aku memimpikan kau menyukai apa pun yang kulakukan padamu.
Kyungsoo menemukan tiga sketsa di dalam amplop. Tiap sketsanya lebih kasar dan menjijikan daripada yang sebelumnya, dan ketiganya menggambarkan Kyungsoo telanjang dan menggoda dalam berbagai tampilan S&M (Sado Masokhis). Kyungsoo dicambuk, diikat, terbaring dirantai pada sebuah tempat tidur besi, sebuah sex toys di mulutnya dan ujung sex toys lainnya terjulur keluar di antara kakinya yang terbuka. Itu benar-benar mengerikan.
Kyungsoo merobek sketsa dan pesan itu hingga menjadi serpihan, memasukkan serpihannya dan cincin itu kembali ke dalam amplop, lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia beranjak ke kamarnya mengambil kalung, cologne, semua foto, catatan, dan sketsa dari atas lemari dimana ia menyimpannya. Ia meletakkan benda-benda yang bukan kertas di kantong celananya dan mengapit catatan juga sketsa dibawah ketiaknya, lalu membawa semua barang itu ke dapur. Ia mengambil korek api, kemudian beranjak keluar. Ditaruhnya kertas-kertas di dalam panggangan bata besar dan menyalakan korek api itu hingga membakar tepian-tepian kertas, lalu ia melemparkan benda-benda yang lain ke dalam tempat sampah.
Kim Suho bukan kekasih idaman. Dia bukan . Bukan laki-laki yang sopan. Ia orang gila. Orang cabul. Dan Kyungsoo tidak ingin berhubungan dengan laki-laki itu. Lay bisa memilikinya jika dia menginginkannya. Jika Lay menyukai gaya bercinta Suho.
Hari itu Kyungsoo mengirimkan pesan peringatan yang singkat dan jelas untuk Suho melalui ponselnya, sebelum kemudian ia memblokir nomor Suho, memperingatkan jika laki-laki itu mengirimkan paket lain seperti apapun untuknya, ia akan menelepon polisi. Ia berpikir itu akan mengakhiri segalanya. Ini sudah cukup.
*ChanBaek*
Present Day.
Setelah makan malam bersama di hari sabtu, Chanyeol membangunkan Baekhyun pada pukul enam minggu pagi dengan menyiram jendela kamarnya dengan selang air, lalu memanggil pemuda manis itu keluar untuk membantunya mencuci Pikapnya. Baekhyun pun cepat-cepat memakai pakaiannya, meneguk secangkir kopi, dan bergabung dengan Chanyeol di luar. Chanyeol ingin Pikapnya bukan hanya dicuci; ia juga ingin Pikapnya dilapis dan dikilapkan, dengan krom bersih dan mengkilat, bagian dalamnya disedot dengan penyedot debu, semua jendelanya dicuci. Setelah dua jam kerja keras, Pikap itu nampak berkilauan. Kemudian Chanyeol memasukkannya ke garasi dan bertanya apa yang akan dimasak Baekhyun untuk sarapan.
Mereka melewatkan hari itu bersama. Bertengkar, tertawa, menonton permainan bola di TV dan siap untuk keluar makan malam ketika ponsel Chanyeol berbunyi. Dan sebelum Baekhyun sadar, Chanyeol menciumnya sekilas lalu berkata,
"Aku tak tahu kapan aku kembali."
Saat melihat Chanyeol melangkah keluar dari pintu rumahnya Baekhyun mengingatkan dirinya sendiri, pria itu adalah polisi. Selama Chanyeol tetap menjadi polisi, hidupnya akan terdiri atas serangkaian gangguan dan panggilan darurat. Kencan-kencan batal akan termasuk dalam paket itu. Baekhyun sudah memikirkannya dan memutuskan untuk tidak akan memperdulikannya. Ia kuat, ia dapat mengatasinya. Tetapi kalau Chanyeol dalam bahaya...Baekhyun tidak tahu apakah ia dapat mengatasinya sebaik mungkin. Masihkah Chanyeol bertugas pada satuan gugus tugas itu? Apakah itu tugas tetap, atau semacam tugas sementara?
Baekhyun hanya tahu sedikit sekali tentang penegak hukum, tapi jelas ia akan mencari tahu lebih banyak. Chanyeol kembali hari senin malam, lelah, uring-uringan, dan kelihatan tidak ingin membicarakan apa yang dikerjakannya. Baekhyun tidak ingin mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan, namun membiarkan lelaki itu tidur di kursi santainya yang besar sementara ia sendiri membaca, bergelung di sofa dengan bersandar pada satu dari dua bantal yang masih tersisa.
Bersama dengan Chanyeol seperti ini, bukan berkencan atau apa pun, hanya bersama, entah bagaimana terasa... pas. Memandanginya tidur. Menikmati bunyi napasnya. Dan Baekhyun tidak—belum berani mengucapkan kata yang berawalan huruf C untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya. Terlalu cepat, dan Baekhyun masih terlalu takut akibat pengalaman-pengalamannya di masa lalu untuk percaya begitu saja bahwa perasaan menggebu-gebu ketika ia bersama Chanyeol akan berlangsung selamanya. Rasa takutnya juga akan menjadi alasan sebenarnya mengapa ia ragu-ragu tidur dengan lelaki itu. Ya, membuat Chanyeol frustasi memang menyenangkan dan ia menikmati tatapan panas lelaki itu ketika memandangnya, namun jauh dalam lubuk hatinya Baekhyun masih takut membiarkan Chanyeol terlalu dekat dengan dirinya.
Barangkali minggu depan.
*ChanBaek*
Kyungsoo berpikir bahwa semuanya sudah selesai. Ia telah mengirim pesan peringatan pada Suho dan membakar hadiah-hadiah sialan itu. Tapi rupanya ia salah, benar-benar salah. Beberapa hari kemudian sebuah amplop kembali muncul di kotak pos saat Kyungsoo pulang. Selama berjam-jam Kyungsoo hanya memandangi amplop itu, ia ingin membukanya tetapi takut melihat hadiah "kejutan" seperti apa yang menunggu di dalam. Perasaan senang dan tersanjung yang dulu ia rasakan saat menerima hadiah-hadiah itu, kini telah berubah menjadi perasaan takut. Mengetahui bahwa ia tidak bisa menyimpan rahasia kelamnya sendiri lebih lama lagi, akhirnya Kyungsoo menelepon Baekhyun dan memintanya untuk datang secepat mungkin. Dan saat Baekhyun datang, Kyungsoo menceritakan segalanya, di mulai dengan "pesan cinta" pertama dan berakhir dengan menunjukkan pada Baekhyun amplop tertutup yang tergeletak di tengah-tengah meja dapur.
"Kau seharusnya tidak membuang benda-benda lainnya, Kyungie," Baekhyun berkata padanya. "Kau seharusnya menyimpannya untuk polisi. Mereka akan memerlukan semua bukti yang bisa di dapat untuk menahan Kim Suho."
"Aku...aku tidak memikirkan itu," kata Kyungsoo mengaku. "Aku hanya ingin semuanya hilang, keluar dari rumah, keluar dari penglihatanku selamanya."
"Kau ingin aku membukanya?" tanya Baekhyun, menunjuk pada amplop itu.
"Tidak, aku akan melakukannya. Aku hanya ingin kau di sini bersamaku sebelum aku melakukannya," jawab Kyungsoo.
"Silahkan," Baekhyun berdiri di belakang kursi Kyungsoo dan menekan tangan ke bahu sang sahabat untuk menenangkannya. "Aku di sini."
Tangan Kyungsoo bergetar hebat hingga ia berhenti sebentar setelah mengangkat amplop itu. "Aku gugup sekali. Ini yang telah dia lakukan padaku dan aku membiarkannya melakukan itu. Aku bodoh sekali."
Tersulut oleh kemarahan Kyungsoo merobek amplop itu, membaliknya dan melihat saat dua amplop kecil juga tiga lembar kertas gambar terbang keluar, mengambang ke meja. Ia memperhatikan bahwa salah satu amplop itu tipis dan satunya lagi menggelembung, seolah-olah di dalamnya berisi gelembung plastik.
"Dia selalu mengirimkan pesan," kata Kyungsoo meraih amplop yang tipis terlebih dahulu.
"Mungkin kau harus membuka yang satu lebih dulu dan melihat sketsanya, lalu membaca pesan itu," usul Baekhyun.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya, merobek amplop tipis dan mengeluarkan pesan itu. Ia membaca pesan itu dalam hati,
Aku tahu kau mencintaiku dan ingin menyenangkanku. Segera, secepat mungkin, kita akan bersama dan kau dapat menunjukkan padaku betapa pedulinya dirimu.
Kyungsoo menyerahkan catatan itu pada Baekhyun. "Bukankah kita harus memakai sarung tangan atau sesuatu? Jika ada sidik jari..." kata Baekhyun sedikit ragu menerima catatan itu.
"Baca saja pesannya, oke?" kata Kyungsoo memotong, air mata menggenangi matanya.
Baekhyun mengambil pesan itu, berhati-hati memegangnya di pinggir, lalu membacanya. "Buka amplop yang satunya," katanya pada Kyungsoo kemudian.
Kyungsoo membuka amplop yang menggelembung dan mengeluarkan sebuah plastik kotak. Ia merobek lapisan luarnya dan mengeluarkan sebuah gelang kaki. Ia menjatuhkannya di atas meja seolah-olah memegangnya dapat membakar jari-jarinya.
"Sekarang sketsanya," Baekhyun berkata lagi pada Kyungsoo.
Kyungsoo membaliknya dan melihatnya satu-persatu, lalu menyerahkan pada Baekhyun. Hanya dengan melihat pada sektsa itu saja membuatnya mual. Baekhyun terkejut saat melihat sketsa-sketsa itu.
"Oh, Kyungie, ini menjijikan," Baekhyun berkata. "Jika Kim Suho yang menggambar ini, dia gila. Dan jika dia ingin melakukan semua ini padamu, dia berbahaya."
Baekhyun mengibaskan sketsa ketiga di udara. "Sketsa ini menggambarkan kau dengan leher tersayat dan darah menetes ke dadamu," ia menyingkirkan sketsa itu, lalu bergegas melintasi dapur dan mengambil telepon. "Aku akan menelepon Chanyeol sekarang. Dia polisi. Jika dia tidak dapat menahan Kim Suho dengan dakwaan lain, dia dapat menahan Kim Suho dengan tuduhan melecehkanmu."
"Tunggu!" Kyungsoo memanggil Baekhyun.
"Tidak, aku tidak akan menunggu. Aku akan menelepon polisi. Seperti yang sudah seharusnya kau lakukan," Baekhyun bersiap menekan nomor kantor polisi.
"Kita akan menelepon polisi dan menceritakan semuanya. Tapi...tapi aku tidak bisa membuktikan bahwa Suho adalah orang yang mengirimkan sketsa, hadiah, dan pesan-pesan itu padaku."
"Siapa lagi yang bisa? Dia juga seorang seniman dan butuh seorang seniman yang sangat berbakat untuk menggambar sketsa-sketsa yang kasar dan menjijikan itu. Dan dia menggodamu selama berapa lama? Berminggu-minggu? Berbulan-bulan? Dan saat dia menerima pesanmu hari itu, dia tidak datang padamu dan menyangkal bahwa dia adalah orang yang mengirimkan semua ini padamu."
"Tidak, dia tidak melakukannya. Tapi..."
"Kita akan menelepon Chanyeol, mengatakan semuanya dan membiarkannya mengambil alih. Katakan saja padanya bahwa kau pikir benda-benda ini dikirimkan oleh Kim Suho, tetapi kau tidak yakin."
"Itulah, Baekie. Aku tidak yakin. Tidak sekarang. Bagaimana jika orang lain yang mengirimkannya?"
"Maka polisi akan menemukan orang itu."
"Benarkah? Bagaimana? Bagaimana mereka akan menemukannya? Bagaimana jika orang itu terus mengirimkan benda-benda ini? Bagaimana jika..."
"Yang terpenting lebih dulu. Mari libatkan polisi dan kita berlanjut dari sana."
Kyungsoo mengangguk. "Aku harus kembali ke kantor untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal, lalu menjemput ibuku di rumah nenek pukul tujuh," ia melirik arlojinya. "Ini sudah pukul enam lewat. Mungkin aku harus menunggu hingga besok untuk menelepon polisi."
"Tidak, kau tidak akan menundanya. Telepon dan batalkan rencanamu untuk kembali ke kantor. Kau bisa mengambil berkas-berkas itu besok pagi," usul Baekhyun.
"Aku tidak bisa. Aku harus mengerjakan berkas-berkas itu malam ini untuk rapat besok siang."
"Oke, begini saja. Kita akan pergi ke kantor polisi terlebih dulu. Kau pakai mobilmu dan aku akan mengikuti dengan mobilku. Kita akan bicara pada polisi, menceritakan pada mereka apa yang terjadi, dan meninggalkan benda-benda ini," Baekhyun melirik pada isi amplop yang tergeletak di atas meja. "Lalu, apa pun laporan yang perlu diisi, kau bisa melakukannya besok. Tapi, lebih cepat polisi mengetahui ini, lebih baik untukmu."
Kyungsoo mengangguk. Ia mengumpulkan benda-benda itu, memasukkannya kembali ke dalam amplop yang terbuka, mengambil kunci mobilnya, lalu berkata, "Ayo."
*ChanBaek*
Hari itu Yunho datang dan ikut bergabung dalam diskusi tim Kai tentang kasus Victoria. Meskipun ini bukan kasus miliknya, tapi Yunho tidak keberatan untuk membantu Kai dan timnya. Yunho mengetuk jarinya pada berkas yang tergeletak di atas meja dan berkata,
"Aku membawa laporan pendahuluan tentang Victoria. Seperti yang kita semua tahu, kematiannya disebabkan arteri karotisnya terluka saat si penyerang menyayat lehernya, lebih kurang dari ujung ke ujung. Lehernya disayat dari kiri ke kanan dengan cara yang mengindikasikan pembunuhnya ada di belakang, mungkin di atasnya, dan pembunuh itu menarik lehernya ke belakang dan mengiriskan pisaunya melintang ke bawah. Tidak ada tanda-tanda luka perlawanan, jadi sepertinya Victoria tidak melawan orang itu. Pisaunya bermata halus, yang berarti tidak ada tanda-tanda pisau yang jelas di leher Victoria. Pembunuhnya mungkin memastikan ketajaman benda itu karena tujuannya adalah mengakhiri hidup Victoria dengan cepat dan tanpa rasa sakit."
"Kupikir kita telah memutuskan bahwa dia telah menyiksa Victoria, lalu mengapa dia harus peduli jika kematian Victoria cepat dan tidak sakit?" Lay bertanya.
"Pertanyaan yang bagus," kata Yunho melihat pada Chanyeol.
"Dia telah mendapatkan segala yang diinginkannya dari Victoria, dengan memperkosa dan menyiksa Victoria," Chanyeol berkata. "Ketika tiba saat untuk mengakhiri segalanya, dia telah selesai dengan Victoria. Yang diinginkannya adalah menyingkirkan Victoria secepat mungkin. Kurasa dia berpikir bahwa caranya membunuh Victoria adalah hadiah bagi Victoria karena telah memberikan apa yang dia inginkan."
"Pikiran sakit macam apa yang akan melihatnya seperti itu, percaya bahwa Victoria akan memberikan semua bagi laki-laki itu?" kata Kai mengerutkan dahi. "Victoria tidak memberi, laki-laki itu mengambil segalanya darinya, bahkan nyawanya.
"Laki-laki kita ini tidak hanya sakit jiwa, tetapi juga pintar," Yunho berkata. "Dia memotong kuku-kuku jari tangan dan kaki Victoria, serta membersihkan kotoran di bawah kuku Victoria, tidak meninggalkan jejak bukti. Dia juga mencuci rambut dan tubuh Victoria sebelum membuangnya."
"Jadi dia bukan orang gila yang membabi buta," Kai melingkarkan tangan kanan ke pinggangnya, lalu menyangga siku kirinya dengan kepalan tangan kanan dan menempelkan dagu di atas tangan kirinya yang terangkat.
"Kau benar, dia gila, tapi jelas tidak membabi buta," kata Yunho setuju. "Siapa pun dia, dia menyukai seks yang kasar, dia membuat korbannya menderita dan dia cukup pintar untuk memindahkan semua bukti pada mayat."
"Bagaimana dengan bukti di tempat mayat itu ditemukan?" Lay bertanya.
"Yunho menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, paling tidak untuk saat ini," jawabnya.
"Dan hanya itu yang kita punya," Chanyeol berkata. "Tidak ada. Kita sudah menyisihkan dua tersangka yang paling memungkinkan. Sang suami dan mantan kekasih."
"Yah, alibi mereka terbukti benar," Lay berkata. "Jadi, itu membawa kita kembali ke titik awal."
"Jika saja seseorang telah melihat sesuatu pada malam Victoria diculik," kata Kai menggosokkan ibu jarinya ke bibir. "Terakhir kali seseorang melihatnya adalah saat dia baru saja keluar dari gym dan berjalan ke mobilnya. Jadi apa yang terjadi di antara gedung gym dan mobil Victoria? Tidak ada bukti bahwa dia tiba di mobilnya, tetapi juga tidak ada bukti yang mengindikasikan dia tidak ke sana."
"Kalian semua tidak menemukan sesuatu milik Victoria di lapangan parkir, bukan? Tidak ada buku catatan, atau kertas yang terserak, atau tas tangannya, atau..." kata Yunho.
"Tida ada," kata Kai. "Dan tas serta buku-buku milik Victoria juga tidak ada di dalam mobil, yang menurut kita berarti dia membawa benda-benda itu bersamanya."
"Kecuali laki-laki yang menculiknya mengumpulkan semua benda milik Victoria setelah dia menangkap Victoria," Chanyeol mengetukkan jari-jarinya pada meja sambil memikirkan segalanya dengan seksama dalam pikirannya. "Jika Victoria membawa benda-benda itu bersamanya, aku punya satu pertanyaan. Jika dia sedang diculik, mengapa dia memegang tas dan benda-benda lainnya dengan erat, bukannya mencoba melawan laki-laki itu?"
"Dia tidak melawan laki-laki itu ya?" Kai menghembuskan napas saat memikirkan teori Chanyeol. "Sial, Victoria mengenal laki-laki itu. Dan karena suatu alasan, dia pergi bersama laki-laki itu dengan sukarela," ia menatap lurus ke arah Chanyeol. "Apakah aku benar? Apakah itu yang kau pikirkan?"
Chanyeol mengangguk. "Dimana mobil Victoria?" tanyanya.
"Mobil derek sudah mengambil dan membawanya ke sini," jawab Lay. "Mereka sudah memeriksa mobil itu dengan teliti dan tidak menemukan sesuatu yang aneh, jadi mereka menyerahkannya ke tempat rongsokan Tedy. Yang terakhir kudengar, tidak ada satu pun anggota keluarga Victoria yang datang dan mengambilnya."
"Apa kalian meminta mekanik untuk memeriksa mobil itu?" tanya Chanyeol.
Lay menatap Chanyeol dengan heran. "Mengapa kita perlu mekanik untuk memeriksanya? Mobil itu tidak ada hubungannya dengan hilangnya Victoria."
"Teleponlah ke tempat rongsokan Tedy," Chanyeol berkata. "Minta mereka untuk memeriksa apakah mobil itu bisa dihidupkan, dan jika tidak, mengapa?"
"Oh, sial!" Kai mengutuk pelan tiba-tiba.
"Ada apa, Kai?" Chanyeol bertanya, setitik senyum terbentuk di tepian bibirnya.
"Kau tahu benar apa itu," Kai menatap ke arah Chanyeol. "Mengapa seorang wanita tidak mengemudikan mobilnya sendiri? Mengapa dia menerima tumpangan dari orang lain? Karena mobilnya mogok."
"Yap," senyum Chanyeol melebar.
"Tersangka kita dengan sengaja merusak mobil Victoria, lalu dia menunggu untuk berpura-pura menolong saat mobil itu mogok," Kai mengerang. "Ooh...Victoria mengenalnya. Siapa pun dia, Victoria mengenalnya dan cukup mempercayainya untuk menerima pertolongan darinya."
"Jika dia menikmati apa yang diperbuatnya pada Victoria, mungkin hanya masalah waktu sebelum dia memilih korban kedua," kata Chanyeol, kembali mengetukkan jari ke meja.
"Aku setuju," Yunho berkata pada Chanyeol. "Tetapi itu jika kita menyimpulkan bawha Victoria adalah korban pertama."
"Apa kita kembali pada teori pembunuh berantai?" tanya Lay.
"Ya," jawab Chanyeol. "Jadi Lay hyung, aku ingin kau menghubungi departemen-departemen kepolisian wilayah sekitar dalam radius seratus mil, dan cari tahu apakah ada pembunuhan lain yang mirip dengan Victoria dalam jangka waktu enam bulan. Tidak, buat itu menjadi setahun terakhir."
*ChanBaek*
Diskusi akhirnya selesai tiga puluh menit kemudian. Yunho beranjak pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya yang lain. Kai, Chanyeol dan Lay memutuskan untuk mengisi perut mereka sejenak di cafe favorit mereka. Namun baru saja Kai berdiri dari kursi, terdengar suara pintu yang diketuk. Lalu sosok petugas Daniel muncul di ambang pintu yang terbuka dan berkata,
"Maaf mengganggu, detektif Kai. Saya ingin melapor."
"Ada apa?" tanya Kai. Chanyeol dan Lay ikut memperhatikan petugas muda itu dari kursi mereka.
"Ada seorang pemuda yang datang melapor tentang kasus penguntit. Katanya ada seseorang yang mengirimkan pesan-pesan, hadiah-hadiah, dan gambar-gambar mengerikan padanya," lapor Daniel.
"Hadiah, pesan dan gambar-gambar mengerikan seperti apa?" tanya Kai lagi.
"Pemuda itu membawa gelang kaki, tetapi mengatakan dia membuang barang-barang lainnya," jawab Daniel.
"Apakah dia mengatakan, apa benda-benda itu?" Chanyeol ikut bertanya.
"Ya, tunggu sebentar. Aku mencatatnya," petugas muda itu memeriksa catatannya sejenak. "Hadiah-hadiah itu adalah sebuah kalung, sebotol cologne dan sebuah cincin."
Kai dan Chanyeol saling memandang sesaat. "Apakah dia masih ada di sini sekarang?" tanya Kai kemudian, mengalihkan perhatiannya kembali pada si petugas muda.
Daniel menggelengkan kepalanya. "Tidak. Dia dan temannya datang mengatakan pada kami apa yang terjadi, dan dia akan kembali besok untuk mengajukan laporan resmi melawan seorang rekan kerjanya di kantornya," jawabnya.
"Siapa nama pemuda itu dan siapa rekan kerja yang dia percaya telah mengirimkan benda-benda itu padanya?" Chanyeol bertanya.
Daniel kembali memeriksa catatannya. "Namanya Do Kyungsoo. Dia adalah seorang akunting di Navilla Corp. Dan nama rekan kerjanya itu adalah Kim Suho. Dia adalah direktur di tempat Do Kyungsoo ini bekerja."
Lay yang sejak tadi hanya diam mendengarkan terkejut saat mendengar nama kekasihnya disebut. Ia segera mengangkat kepalanya, memandang Daniel dengan mata melotot. Chanyeol yang menyadari itu hanya diam. Kai melirik saat Lay beranjak pergi sambil mengeluarkan ponselnya. Mungkin pria itu ingin segera menelepon kekasihnya, untuk memastikan.
"Baiklah, terima kasih. Kau boleh pergi, Daniel," perintah Kai.
Setelah petugas muda itu pergi Chanyeol berkata pada Kai, "Dalam kasus Victoria, nama Kim Suho juga disebut karena Victoria pernah bekerja di galeri milik Kim Suho. Dan sekarang nama Kim Suho kembali disebut."
"Yah, sepertinya direktur muda itu cukup terkenal. Tapi ini baru dugaan, kan? Aku akan meminta Daniel mengatur pertemuan dengan Kim Suho secepatnya. Kita akan kembali bicara dengannya," kata Kai.
"Lalu bagaimana dengan Lay hyung? Kim Suho itu kekasihnya," ujar Chanyeol.
Kai mendesah sesaat. "Yah, dia pasti sudah mengerti tentang ini. Dalam penyelidikan, perasaan pribadi harus dikesampingkan," sahutnya.
*ChanBaek*
Ternyata cukup memakan waktu lama bagi Kyungsoo untuk menemukan berkas-berkas penting miliknya. Setelah akhirnya ia berhasil menemukan berkas-berkas itu, ia segera memasukkan ke dalam tasnya, lalu bergegas pergi. Ia memacu mobilnya meninggalkan area gedung kantor Navilla Corp, menuju rumah neneknya yang terletak cukup jauh dari pusat kota, untuk menjemput ibunya.
Tuhan tahu ia telah mencoba sekuat tenaga untuk melupakan Suho, catatan-catatan itu, hadiah-hadiah, dan sketsa-sketsanya. Dalam perjalanan menuju rumah neneknya Kyungsoo dapat sedikit memikirkan hal yang lain. Langit yang mulai gelap tertutup awan, atau fakta bahwa lebih dari separuh perjalanan dari pusat kota Seoul ke rumah neneknya adalah sebuah jalan desa yang panjang, tidak dapat membantunya. Musik di radio sedikit membantunya dari kesendirian dan rasa tersingkir. Tetapi tak ada sesuatu pun yang dapat menghapus bayangan sketsa-sketsa yang dikirimkan Suho padanya hari ini, terutama sketsa yang menggambarkan tenggorokannya tersayat, dengan darah mengalir dari luka itu menuju ke dadanya yang telanjang. Pikiran sakit macam apa yang dapat menghasilkan karya mengerikan seperti itu?
Jika Suho adalah pengagum rahasianya, maka laki-laki itu perlu dimasukkan ke rumah sakit jiwa, bukannya menjadi direktur di Navilla Corp. Kyungsoo terdiam saat ia berpikir dengan takut,
Tapi bagaimana jika itu bukan Suho? Bagaimana jika aku menghabiskan satu minggu memanjakan diriku dengan fantasi yang bahkan sangat-sangat tidak mungkin? Bagaimana jika polisi tidak dapat menemukan laki-laki itu? Bagaimana jika dia terus menguntitku?
Kyungsoo menarik napas ketika di kejauhan ia melihat kilat membelah langit yang kelabu. Perasaan ngeri merayap di tengkuknya. Ia merasa sangat gugup. Untung saja ia mendengarkan nasihat Baekhyun dan melapor ke polisi. Jika saja ia tidak mengijinkan sisi romantis dirinya yang bodoh membawa imajinasinya melayang tinggi saat ia menerima pesan pertama, ia tidak akan ada dalam posisi seperti sekarang ini. Tetapi tidak ada gunanya menoleh ke belakang dan menyesali apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Besok ia akan kembali ke kantor polisi dan mengajukan pengaduan resmi. Petugas polisi itu menyarankan pada Kyungsoo untuk meminta seseorang selalu menemaninya hingga pihak berwajib memiliki wewenang untuk menyelidiki. Jika Suho adalah penguntit itu, maka kunjungan dari seorang polisi akan menghentikan pengejaran laki-laki itu terhadapnya.
Dan bagaimana jika itu bukan Suho?
Kyungsoo terkejut saat gelegar guntur menggoyangkan mobilnya. Ia menjerit dan mencengkram kemudi erat-erat. Saraf-sarafnya tegang, hal terakhir yang membuatnya tidak tenang. Lagipula, apa yang membuatnya demikian gelisah? Ia berada di dalam mobilnya sendiri, dengan pintu terkunci, menyusuri jalur yang ia kenal dan berada di jalan yang aman.
Kyungsoo melirik pada jam digital yang menyala di dashboard. Pukul tujuh kurang dua belas menit. Ia akan terlambat. Tiba-tiba, tanpa peringatan, mobilnya mengarah ke sebelah kanan. Secara bersamaan ia mendengar gemuruh dan merasakan goyangan yang menandakan ban mobilnya bocor.
"Tidak! Ini tidak mungkin terjadi. Dari semua hari, mengapa harus malam ini?" kata Kyungsoo merasa kesal, sekaligus semakin gelisah. Dalam hati ia terus berdoa pada Tuhan.
Mengetahui bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain berhenti, Kyungsoo mengurangi kecepatan dan mencari-cari tempat dimana ia dapat menepi dengan aman. Tentu saja, ban mobilnya bocor di tengah antah-berantah, tidak ada satu rumah pun yang terlihat. Yang dapat ia lihat di sekelilingnya hanyalah pepohonan dan berhektar-hektar tanah persawahan.
Di sana ada tempat, Kyungsoo berkata pada dirinya sendiri saat melihat sebidang tanah yang mungkin pernah menjadi jalan desa, tetapi sekarang sebagian telah tertutup rumput dan ilalang. Cepat-cepat ia berbelok ke kanan, menepikan kendaraannya dari jalan raya lalu berhenti. Ia membiarkan mesin dan lampu mobil tetap menyala, lalu menyetel perseneling dalam keadaan diam. Sembari mengangkat tangan dari kemudi, ia menarik napas panjang.
Kau tidak sedang dalam bahaya. Kau bisa menelepon minta tolong, Kyungsoo berkata pada dirinya sendiri.
Ia mengambil tasnya dari kursi penumpang, membukanya, lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor telepon rumah neneknya. Saat ibunya mengangkat teleponnya pada dering ketiga, Kyungsoo menghembuskan napas lega dan mengecilkan suara radio.
"Eomma? Oh, syukurlah," kata Kyungsoo.
"Kyungie, apa kau baik-baik saja? Kau terdengar aneh," tanya ibunya. Suaranya terdengar mulai cemas di ujung telepon.
"Aku baik-baik saja, eomma. Tetapi ban mobilku bocor, sepertinya aku akan terlambat sampai di sana."
"Kalau begitu aku akan minta sepupumu Minho untuk mencarimu. Dimana kau tepatnya?"
"Aku kira-kira satu mil dari kantorku. Di jalan 157."
"Baiklah. Aku akan minta Minho datang secepatnya ke tempatmu. Hati-hati dan tetap kunci pintumu, kau dengar?"
"Ya, eomma. Aku mengerti."
"Aku akan meneleponmu kembali saat Minho berangkat, jika kau mau."
"Telepon saja jika dia tidak dapat datang secepatnya karena suatu alasan, dan jika aku tidak bisa datang menjemput eomma malam ini, sebaiknya eomma menginap di rumah nenek saja."
"Oke. Apa kau ingin terus bicara denganku untuk sementara waktu?"
"Tidak, eomma. Aku akan menutup teleponnya sekarang. Telepon aku jika Minho tidak bisa datang."
Tidak menunggu jawaban dari ibunya, Kyungsoo segera menutup teleponnya, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia duduk di mobil, sendirian dalam keheningan kelabu jalan yang sepi. Di kejauhan petir bergemuruh dan kilat menyambar zig-zag di langit. Ia berharap Minho akan tiba secepatnya, dan sedikit memaki dirinya sendiri karena tidak mengerti cara mengganti ban bocor. Yah, itu fakta kecil yang menyebalkan.
Kyungsoo melirik pada alat pengukur bensin dan tersenyum saat melihat bahwa ia masih memiliki lebih dari setengah tangki bensin. Ia membiarkan mesin, lampu mobil dan radio menyala. Ia memperbesar volume radio dan mengetuk-ngetukkan jarinya ke kemudi, mengikuti irama musik. Saat ia mulai bernyanyi, ketegangan segera terangkat dari otot-ototnya dan ia merasa santai. Ia berkonsentrasi pada alunan musik, menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian, saat Kyungsoo sedang menyanyikan lagu cinta klasik, ia melihat sepasang lampu mobil menyala terang mendekatinya dari arah berlawanan. Yah, itu tidak mungkin Minho—karena dua alasan. Pertama, mobil itu datang dari arah yang salah. Dan yang kedua, belum ada lima menit sejak ia menelepon ibunya.
Jangan panik. Tetap tenang, Kyungsoo berkata pada dirinya sendiri.
Kendaraan tersebut mendekat ke samping mobilnya, kemudian memperlambat lajunya. Jantung Kyungsoo berdegup kencang. Tetapi saat si pengemudi melihat ke arahnya, tersenyum hangat dan melambaikan tangan, Kyungsoo menarik napas lega karena ia mengenali laki-laki tersebut. Kendaraan itu menepi tepat di depan mobil Kyungsoo. Sang pengemudi memarkir mobilnya, membuka pintu dan keluar. Saat laki-laki itu berjalan ke arah jendela mobilnya, Kyungsoo melihat ke arah laki-laki itu dan tersenyum, lalu menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Hai," Kyungsoo berkata. "Kau tidak tahu betapa leganya aku saat kau datang."
"Kulihat ban mobilmu bocor," laki-laki itu melihat ke sekeliling area tersebut. "Tempat yang buruk untuk terjadi hal seperti ini."
"Sepupuku sedang menuju kemari. Apa kau keberatan menemaniku hingga sepupuku datang?"
"Jika kau mau, aku dapat mengganti ban mobilmu."
"Oh, itu bagus sekali. Bagaimana aku dapat berterima kasih padamu? Aku sudah hampir telat menjemput eomma di rumah nenekku."
"Hei, aku punya ide yang lebih baik. Tinggalkan saja mobilmu di sini dan aku akan mengantarkanmu ke rumah nenekmu untuk menjemput eomma-mu," saran laki-laki itu. "Aku yakin sepupumu dan aku dapat memikirkan sebuah cara untuk membawa mobilmu ke rumah nenekmu nanti."
Kyungsoo tersenyum setuju. "Itu ide yang bagus. Kau penyelamat hidupku," ujarnya.
Kyungsoo mematikan lampu, radio dan mesin mobil, lalu mengambil tasnya sebelum menutup pintu dan keluar dari mobil. Setelah mengunci pintu, ia memberikan kunci mobilnya kepada sang penyelamat.
"Kau dan Minho, sepupuku, akan membutuhkan ini," katanya.
Laki-laki itu menaruh tangannya di punggung Kyungsoo dan menggiring pemuda berwajah innocent itu ke mobilnya. Sebelum Kyungsoo masuk ke dalam mobil, laki-laki itu mengambil kotak pendingin dan kantong belanja kecil dari kursi penumpang dan membawa benda-benda itu bersamanya ke sisi yang lain. Segera setelah Kyungsoo duduk, ia melemparkan kantong belanja ke belakang sebelum kemudian membuka kotak pendingin.
"Coke atau beer ?" ia bertanya. "Aku punya dua-duanya.
"Oh, terima kasih. Coke saja," jawab Kyungsoo.
Di sini lumayan panas," laki-laki itu berkata seraya memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin. "Perlu waktu beberapa saat sebelum udaranya menjadi dingin."
"Aku benar-benar senang kau datang. Aku sudah gelisah sebelum aku menelepon eomma-ku."
Laki-laki itu mengambil sekaleng Coke dari kotak pendingin, membuka tutupnya dan memberikannya pada Kyungsoo. Kuharap kau tahu kau aman bersamaku."
"Tentu saja aku tahu itu," merasa benar-benar aman Kyungsoo mengambil kaleng tersebut, mengangkatnya ke mulut, lalu meneguknya.
"Duduk dan bersantailah. Aku akan mengantarmu ke rumah nenekmu secepat kilat," laki-laki itu mengedip ke arahnya.
Kyungsoo tersenyum, bersyukur masih tersisa segelintir orang yang benar-benar baik di dunia ini. Laki-laki itu menempatkan kotak pendingin di antara mereka, menggerakkan perseneling, dan mengarahkan mobilnya ke jalan. Perlahan mobil itu melaju pergi.
*ChanBaek*
Kyungsoo terbangun di ruangan yang temaram, kepalanya berdenyut dan pandangannya kabur. Apa yang telah terjadi pada dirinya? Mengapa ia berada di sini? Dimanakah ini?
Ia mengangkat kepalanya dari bantal, dan pada saat itu ia menyadari bahwa ia terbaring pada sesuatu yang tampaknya sebuah tempat tidur. Ia mencoba untuk duduk tetapi tidak bisa. Mengapa ia tidak bisa bangun?
Ia mencoba untuk mengangkat tangannya, tetapi segera menyadari bahwa pergelangan tangannya diikat ke atas kepalanya. Ia membuka mulutnya untuk berteriak, tetapi tidak bisa. Seseorang telah mengikat tangan dan menyumbat mulutnya. Ia benar-benar tidak berdaya. Menolehkan kepala ke satu sisi, ia melihat ke sekeliling ruangan kecil dan temaram itu. Hanya ada sesuatu yang ia pikir adalah sebuah lampu tidur yang menerangi ruangan tersebut. Ia sendiri. Benar-benar sendiri.
Berpikirlah Do Kyungsoo, ayo berpikir!
Ia sedang dalam perjalanan untuk menjemput ibunya di rumah neneknya saat ban mobilnya mengalami kebocoran. Lalu ia menelepon ibunya, yang mengatakan akan menyuruh Minho untuk mengganti ban mobil tersebut. Tetapi sebelum Minho muncul...
Oh, Tuhan! Tidak!
Laki-laki itu datang dan menawarkan untuk mengantarkannya ke rumah neneknya, lalu kembali dan menolong Minho mengganti ban. Ia tidak memiliki alasan apa pun untuk tidak mempercayai laki-laki itu, dan banyak alasan untuk percaya bahwa ia aman bersama laki-laki itu.
Laki-laki itu memberinya Coke dan ia meminumnya hingga hampir habis ketika mereka berkendara sepanjang jalan 157. Selama perjalanan, ia berpikir laki-laki itu akan membawanya ke rumah neneknya. Mereka bercakap-cakap dan tertawa, dan ia merasa sangat aman dan damai bersama lelaki itu. Tetapi apa yang terjadi kemudian?
Secara samar ia teringat merasa mengantuk. Apakah laki-laki itu menaruh sesuatu di minumannya? Tetapi bagaimana caranya? Ia melihat laki-laki itu membuka tutup kalengnya, bukan?
Tidak, ia tidak benar-benar memperhatikan. Laki-laki itu mungkin saja menaruh sesuatu pada meninumannya dengan mudah. Laki-laki itu mungkin saja membiusnya. Tetapi kenapa? Apakah dia laki-laki yang telah mengiriminya semua pesan-pesan cinta, hadiah-hadiah, dan sketsa-sketsa itu? Apakah laki-laki itu adalah pengagum rahasianya?
Rasa ketakutan murni menerpa Kyungsoo selintas saat ia terbaring di sana, di tempat tidur dalam ruang temaram yang lembab dan sunyi. Sendiri. Dimanakah laki-laki itu? Kapan laki-laki itu akan kembali? Apa yang akan dilakukan laki-laki itu padanya?
Tbc
