TITLE : This Kind Of Love

GENRE : Romance, Humour

LENGTH : 10 of (..)

RATE : M

CAST : Wonwoo (GS), Mingyu

DISCLAIMER : semua tokoh punya YME, yang saya punya Cuma plot dan typo yang bertebaran di ff gaje ini. Jika ada kesamaan plot, nama tempat, dll. Itu semua murni Cuma kebetulan.

.

.

.

.

Setelah kami melewati pintu pembatas untuk para penjemput, Jeonghan noona dan Seunghceol hyung segera berlari menghambur, memeluk putri kesayangan mereka, membuatku sedikit tersenyum miris.

Jeonghan noona bahkan membolak balik tubuh Wonwoo, seolah takut ada sedikitpun goresan ditubuh berharga anak gadisnya, membuatku agak jengah.

"aku tidak melakukan apa-apa padanya, noona! Kenapa kau bertingkah seolah aku baru saja menjahati Wonwoo?" tanyaku jengkel, membuat Seungcheol hyung terkekeh pelan.

"yah, itu wajar saja, Mingyu. Jeonghan sudah lama tidak bertemu dengan Wonwoo. Jadi ia pasti sangat merindukannya, bukankah begitu, hannie?" ucap Seungcheol sambil mengelus pelan pundak Jeonghan noona.

Jeonghan noona hanya menganggukan kepalanya, lalu menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kuartikan, membuatku sedikit ngeri melihatnya.

Namun sejurus kemudian, ia segera meraih kedua tanganku, lalu menggerakkannya keatas dan kebawah.

"terima kasih, Mingyu-ya. Kau sudah menjaga Wonwoo dengan sangat baik. Aku sangat bersyukur Wonwoo bisa memiliki samchon sebaik dirimu." Ucap Jeonghan noona.

Aku tersenyum menatap Jeonghan noona dan juga Wonwoo, lalu sedikit kuusak rambut keponakanku itu dengan gemas.

"tidak masalah, noona. Wonwoo adalah anak yang manis. Ia tidak membuat masalah sama sekali. Malah sepertinya aku yang sudah meyulitkannya." Wonwoo tersenyum manis mendengar ucapanku, membuatku sedikit gemas.

"aku juga tidak keberatan untuk menjaga Wonwoo jika hyung dan noona mau kembali berbulan madu untuk yang kesekian kalinya. Ia benar-benar gadis yang manis." Tambahku lagi, membuat Jeonghan noona sedikit terkekeh.

Namun tidak dengan Seunghceol hyung. Ia menatapku dengan sedikit aneh, membuatku merutuki diri dalam hati.

Dasar bodoh! Bagaimana jika Seungcheol hyung menyadari maksud terselubungku dari kata-kata barusan?! Makiku pada diri sendiri didalam hati.

Namun tidak lama kemudian aku bisa segera menghela nafas lega saat mendengar ucapan Seungcheol hyung selanjutnya.

"apa ini benar-benar Kim Mingyu yang kukenal? Tidak biasanya ia mau membantu hyungnya sendiri. Hey! Tunjukkan jati dirimu yang sesungguhnya!" ucap Seungcheol hyung sambil meninju dadaku pelan, membuat kami semua tertawa.

Syukurlah. Sepertinya ia belum menyadarinya. Ups, aku perlu lebih berhati-hati.

.

.

.

.

Kutiup poniku keatas dengan malas. Huh! Ini membosankan!

Yah, bukannya aku tidak senang jika eomma-ku sudah pulang, hanya saja..

Aku dan Mingyu oppa masih memerlukan waktu agar kami bisa semakin dekat. Yah, kau tahu maksudku, kan?

"ada apa, sayang? Kau terlihat kesal?" tanya eomma karena melihat wajahku yang mungkin sudah tertekuk sepuluh.

"aniya, eomma. Aku hanya bosan.."

Eomma tidak menjawab apapun lagi setelahnya. Ia hanya melongok kearah appa tiriku yang tengah memainkan ponselnya di sofa depan TV.

"EHEM!"

"Wonwoo-ya, apa kau bosan?" tanya appa tiriku yang sepertinya menyadari deheman kode eomma barusan.

Aku menganggukan kepalaku. Aku ingin.. entahlah, aku juga tidak tahu apa yang sedang kuinginkan.

Mengobrol dengan Mingyu oppa, mungkin?

Ah, ngomong-ngomong, kekasih dewasaku itu langsung pergi ke kantor setelah kami pulang dari bandara. Sekretarisnya menelepon, dan terjadi sesuatu yang cukup memusingkan disana. Sehingga mau tidak mau ia harus pergi ke kantor.

Appa tiriku tiba-tiba memberiku sebuah amplop. Cukup besar, dengan logo sebuah universitas ternama di Seoul pada bagian depan amplop tersebut.

"ini hadiah untukmu."

"ah, aku tidak tahu apakah ini bisa disebut hadiah atau tidak, tapi semoga kau senang.." ucap appa tiriku sambil tersenyum tulus.

Kulirik eomma yang juga tengah tersenyum sambil bergandengan tangan dengan appa. Aku hanya mengedikkan bahu, lalu membuka amplop tersebut, dan membaca isinya.

1 menit.

2 menit.

5 menit kemudian.

"a-apa ini sungguhan?" tanyaku tidak percaya sambil menatap eomma dan appa tiriku bergantian.

Eomma hanya mengangguk pelan, dan appa masih dengan senyuman bangganya.

"ya, sayang. Kau bilang kau suka jurusan sastra, bukan? Atau kau ingin ambil jurusan yang lain?" tanya appa.

Aku menggeleng menjawab pertanyaannya.

Tidak! Tidak! Ini adalah yang terbaik! Aku cinta dunia sastra!

"selamat Wonwoo sayang, mulai senin besok kau akan segera menjadi seorang mahasiswi.." ucap eomma lembut, lalu memelukku erat.

Ah, apakah ini mimpi?

Kupikir seumur hidupku aku tidak akan pernah bisa meneruskan pendidikanku. Tapi ternyata salah satu impianku sudah diwujudkan. Dan itu semua berkat appa tiriku.

Yah, sejak awal bukannya aku membencinya, hanya saja aku tidak memiliki afeksi khusus pada orang yang melamar eomma itu. Aku belum terlalu bisa menerima keberadaannya.

Namun sekarang, sepertinya aku mulai bisa menerimanya menjadi bagian dari keluargaku.

Terlepas dari kenyataan bahwa dia adalah kakak lelaki dari kekasihku.

"jeongmal gomawo, appa.. aku sangat senang.." ucapku berterima kasih. Sungguh, aku mengatakannya dengan tulus.

Appa tiriku menepuk bahuku dengan pelan, lalu berkata bahwa ini adalah salah satu kewajibannya sebagai kepala keluarga; menyekolahkan anaknya.

"ah, ngomong-ngomong, kau bisa bertanya pada Mingyu samchon tentang kampusmu itu." Ucap appa tiriku lagi, membuatku mengernyit bingung.

"Mingyu samchon adalah alumni di universitas itu. Dia bahkan menjadi wisudawan terbaik disana saat kelulusan dulu. Mingyu samchon juga yang merekomendasikan kampus itu padaku. Jadi jika kau ada pertanyaan, kau bisa bertanya padanya."

Mendengar kenyataan baru tersebut membuatku sedikit berdebar senang.

Benarkah?

Wah, ini bagus sekali. Aku jadi mempunyai kesempatan untuk mengobrol dengannya.

.

.

.

.

Kepalaku penat. Sungguh, kenapa investor dari Cina itu senang sekali menyebabkan masalah di perusahaanku?!

Aarrggghh!

Kubanting tubuhku diatas kasur yang empuk, dan aku hampir saja jatuh tertidur jika saja pintu kamarku tidak diketuk oleh seseorang.

Dengan malas kubuka pintu tersebut, dan cukup kaget saat mengetahui bahwa sang pengetuk adalah Wonwoo.

Kekasihku.

"ada apa, Wonwoo-ya?" tanyaku bingung. Tidak biasanya ia berani mendatangi kamarku duluan jika sedang ada kedua orang tuanya di rumah ini.

"o-oppa.." panggilnya pelan.

"apa kau sedang sibuk? Boleh aku berbicara denganmu?"

Tanpa kata apapun lagi, segera kubuka lebar pintu kamarku, mempersilahkan Wonwoo agar ia masuk kedalam.

Ia duduk diatas sofa yang sengaja kuletakkan didalam kamar. Tingkah lakunya sedikit aneh, namun wajahnya terlihat girang.

Aku segera duduk dihadapannya dan bertanya maksud dari kedatangannya tersebut.

Dan tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah amplop dari belakang tubuhnya yang tidak kusadari bahwa itu ada sebelumnya.

"TADA!"

"Oppa! Aku akan segera menjadi mahasiswi!" ucapnya senang. Senyuman lebarnya bahkan membuat kedua mata sipitnya menjadi semakin sipit. Ah, aku gemas sekali.

Kuusak lembut rambutnya, lalu mengucapkan selamat.

"jeongmal? Waaaah, selamat chagi... kekasihku mulai dewasa sekarang.."

Tapi Wonwoo malah mendengus mendengar ucapanku barusan.

"oppa aku memang sudah dewasa! Buktinya aku sudah melakukan 'itu' denganmu!" ucapnya seolah kesal.

Membuatku terkekeh nyaring.

"ya, ya.. kekasih oppa yang sudah dewasa, oppa mengerti.."

"nah sekarang, apa ada yang ingin kau tanyakan soal kampus barumu itu?"

Kupikir tadinya Wonwoo datang kemari karena ingin bertanya mengenai kampus almamaterku, tapi ternyata bukan.

Ia menggelengkan kepalanya tanpa merasa bersalah.

"aniya. Bukan itu."

"lalu?" tanyaku bingung.

"aku hanya ingin bertemu denganmu. Memangnya tidak boleh?"

Ah, sial. Sekarang aku semakin penasaran pada apa yang Jeonghan noona idamkan saat sedang mengandung Wonwoo dulu?

Kenapa anak gadisnya bisa semenggemaskan ini?

Kucubit kedua pipinya dengan gemas, lalu tertawa.

"dasar gadis nakal. Kalau ketahuan orang tuamu bagaimana?"

Ia ikut terkekeh.

"karena itulah aku membawa amplop ini. aku tinggal berkata pada mereka kalau aku sedang bertanya mengenai kampus baruku pada oppa." Ucapnya tanpa rasa bersalah.

"eyy.. dasar tukang bohong."

"tapi itu cukup cerdas, kuakui."

"HAHAHA! Tentu saja!" tawa Wonwoo terdengar, membuat seluruh capek ku rasanya hilang entah kemana.

Setelah itu, kami berbincang cukup lama. Mungkin sekitar 1 jam, hingga suara ketukan lainnya di pintuku, membuatku serta Wonwoo merasa siaga sekaligus.

"o-oppa.." cicit Wonwoo ketakutan.

Hah! Aku mendengus melihatnya. Dimana Wonwoo yang tadi begitu percaya diri bisa membohongi orang tuanya? Namun aku tetap menenangkan gadis itu.

"tenanglah, bersikaplah natural oke?" aku menepuk pelan bahunya, lalu segera membuka pintu kamar.

"eoh? Hyung? Ada apa?" tanyaku bingung saat mendapati Seungcheol hyung berdiri didepan kamar.

"aku ingin membicarakan sesuatu – "

"Wonwoo? Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Seungcheol hyung, membuat Wonwoo segera berdiri dari duduknya, dan berjalan menghampiri kami.

"appa, aku baru saja bertanya pada Mingyu samchon soal universitasku ini, dan Mingyu samchon menjelaskan banyak. Kami berbincang mengenai kampus, itu saja." Ucap Wonwoo sambil mengangkat amplop besarnya.

Seungcheol hyung hanya menganggukan kepalanya pelan. Wajahnya..

Entahlah, aku tidak pernah bisa membaca ekspresi wajah Seungcheol hyung yang kadang tak bisa ditebak.

Saat ini wajahnya terlihat biasa saja, namun entah kenapa aku merasakan suatu perasaan yang kurang mengenakkan.

"sekarang sudah malam, kembalilah mengobrol besok. Sekarang ayo kembali ke kamarmu, Wonwoo.." ucap Seungcheol hyung lembut dan sedikit tersenyum menatap anak tirinya.

Diperlakukan begitu sopan membuat Wonwoo tidak memiliki pilihan lain selain menurut. Sehingga ia segera menganggukan kepalanya dan berterima kasih padaku, lalu pergi dari kamarku dengan gerakan cepat.

Meninggalkan aku dan Seungcheol hyung berdua didalam kamarku dengan atmosfer yang kurang mengenakkan.

"hyung, apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku sambil melepas kancing kemeja yang sedari tadi masih menempel di tubuhku.

Seungcheol hyung tidak segera menjawab. Ia hanya terus menatapku dengan tatapan dinginnya.

"aku tidak tahu ada apa denganmu, tapi kau bertingkah cukup aneh, Mingyu." Ucap Seungcheol hyung akhirnya mau membuka mulutnya.

Aku berusaha memasang wajah netral, seolah tidak mengerti dengan maksud ucapannya.

"aneh? Aneh bagaimana maksudmu?"

"jika yang kau maksud aneh adalah karena aku membiarkan Wonwoo masuk kekamarku barusan, adalah karena dia adalah keponakanku, dan gadis itu membutuhkan bantuan. Itu saja."

Ah, kuharap aku bisa membuatnya percaya.

Seungcheol hyung mengangkat kedua alisnya, lalu mengangguk pelan.

"yah, kau benar. Lagipula gadis itu tidak punya siapapun lagi yang bisa ia tanyakan mengenai masalah perkuliahan selain dirimu."

Fyuhh, jawaban Seungcheol Hyung barusan membuatku bernafas sangat lega. Syukurlah ia percaya.

"tapi kuharap lain kali kau bisa menjaga sikapmu, Mingyu."

Eh?

"berbincang dengan seorang gadis dewasa didalam kamar seorang pria, siapapun bisa salah sangka, bukan? Dan ini bukan yang pertama kalinya.."

"berlibur berdua ke Maldives, meskipun untuk urusan pekerjaan, tapi itu bisa menimbulkan banyak spekulasi. Jeon Wonwoo sama sekali tidak ada hubungan darah apapun dengan keluarga kita, tapi sekarang dia adalah anakku. Jadi kumohon, jaga sikapmu."

Seungcheol hyung masih berkata dengan raut wajah dinginnya.

Inilah salah satu sisi Seungcheol hyung yang tidak banyak diketahui orang. Ia mungkin terlihat hangat dan lembut di luar, namun didalamnya, ia bisa saja menyimpan ratusan kata menusuk yang siap ia lontarkan kapanpun.

"kalau memang kau tertarik padanya sebagaimana pria tertarik pada wanita, maka harus kusarankan. Carilah perempuan lain. Karena sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan kalian berdua."

Aku menggeram kesal mendengar ocehan Seungcheol hyung saat ini. sungguh, kalau saja ia bukan kakak kandungku, sudah pasti mulutnya itu sobek karena telah kuhajar.

"memangnya kenapa? Bukankah kau sendiri yang mengatakannya, bahwa ia sama sekali tidak ada hubungan darah dengan keluarga Kim?" tantangku pada Seungcheol hyung.

Dan seketika itu juga aku tahu bahwa pilihanku untuk berkata demikian adalah salah, karena dapat kulihat Seungcheol hyung yang sedang menatapku marah.

"dia anakku, bajingan!"

"dan kau adalah adikku. "

Apa? Hanya itu alasannya?

Jangan bodoh! Aku tidak akan berhenti hanya karena alasan itu. Aku mencintai Wonwoo, dan aku akan terus memperjuangkan gadis itu sampai ia benar-benar jadi milikku.

Aku berdecih kencang, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan pikiran, menghiraukan keberadaan Seungcheol Hyung yang masih terdiam di sofa.

"alasanmu konyol dan tidak relevan, hyung.. memangnya kenapa kalau Wonwoo itu anakmu? Toh ia hanya anak tirimu, bukan? Aku masih punya banyak kesempatan untuk menjadikannya milikku." Ucapku sambil membuka seluruh pakaianku.

Seungcheol hyung terlihat memijat keningnya. Aku hampir saja menutup pintu kamar mandi, namun teriakan Seungcheol hyung menahanku.

"eomma tidak akan menyetujui hubungan kalian!"

"karena ia juga melakukan hal itu padaku."

TBC

Hayolohhhhh.. Wonu sama Kiming ga direstuin sama babeh.

Yah, padahal udah diapa-apain beh, anak gadisnya. Gimana dong?

Makin lama cerita ini makin pendek ya? IYA.

Gatau kenapa aku ud gabisa lagi nulis panjang-panjang kayak dulu.

Dulu bisa sekali chap itu 3-4k words, sekarang 2,5k words aja rasanya ud banyak bgt :((

Guys, sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya, karena baru update cerita ini setelah setengah tahun ditelantarkan begitu saja. Iya. Aku juga baru sadar, setelah kalian komen. Hahahaha.

Maapin yak.

Dan ada satu kabar buruk lagi, yaitu...

Aku bakal balik hiatus lagi setidaknya sampai bulan maret selesai, karena aku lagi sibuk mengerjakan TA. Akhir maret aku sidang awal, dan tugas-tugas menumpuk, berteriak minta dijamah. Huhuhu :((

Aku minta doanya, semoga TA dan sidang aku lancar. Sumpah, awal April aku pasti balik lagi kok. Tungguin aja yaaaa...

Daaaaannn.. bagi kalian yang punya akun instagram, bisa follow akun aku, tjngdevi
aku baru bikin akun itu untuk menyalurkan inspirasi yang kadang suka muncul kapan aja. Mungkin aja aku juga bakal nulis ff disana, karena ig memang gampang bgt, dan ga ribet.

Bukan akun pribadi sih, tapi setidaknya kalian bisa merongrong aku buat cepetan apdet, iyakan? Aku pasti bakal balesin semua komen dan dm yang masuk, setiap aku punya waktu senggang..

Udah ah bacotannya, aku udah mau tepar ini.. huhuhu

Jangan lupa review cinta cintakuh, sampai jumpa awal april! Mwah!