Love Is Never Wrong

.

.

.

10

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

Klontang

Pyar

Baekhyun berjengit kaget, reflek dia menoleh, menatap ke sekitar kamarnya. Dahinya berkerut, lalu dia beranjak dari duduknya. Baekhyun kembali memendarkan matanya ke seluruh penjuru kamarnya.

"Nuguseyo?" seru Baekhyun, dia kemudian melangkah keluar kamar.

Baekhyun menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan keadaan sekitar rumahnya. Tak ada siapapun di rumahnya saat ini, lalu darimana suara itu berasal?

"Kris-ssi!" panggil Baekhyun, dia melangkah ke dapur, memperhatikan sekitar dapur. Dia tak menemukan apapun yang menimbulkan bunyi sekeras tadi.

"Kris-ssi!" panggil Baekhyun sekali lagi, dia melangkah mendekati ruang tengah, lalu tatapannya fokus ke jendela kaca yang menghubungkan ruangan itu dengan balkon.

Ternyata, suara tadi dari jendela kaca itu. Yang sudah pecah menyisakan serpihan.

"Kris-ssi! Anda disana?" sekali lagi Baekhyun memanggil guardnya itu, namun tak ada sahutan sama sekali.

Ssssttttt!

Baekhyun menajamkan pendengarannya, ada desis yang cukup mengganggu pendengarannya. Matanya kembali berpendar, dan dia menemukan sebuah benda kecil tergeletak dekat dengan jendela kacanya yang sudah pecah itu.

Baekhyun melangkah pelan mendekati benda itu. Dahinya berkerut melihat benda itu berdesis dan mengeluarkan asap tipis.

Dia hampir kembali melangkah ketika sebuah tangan tiba-tiba membekap mulut hingga hidungnya, lalu membawanya paksa meninggalkan tempatnya berdiri saat ini.

"Uuuuhhhmmmm!"

Baekhyun meronta dari bekapan itu, bahkan dia memukul keras lengan yang membekapnya itu, namun hasilnya nihil. Seiring semakin menebalnya asap yang keluar, dia pun di tarik semakin menjauh hingga keluar dari unit apartemennya.

Meninggalkan Baekhyun yang masih meronta, di luar area apartemen Baekhyun, Jongdae terlihat berlari cukup kencang, mengejar seseorang yang berpakaian serba hitam, yang terlihat cukup mencurigakan.

Orang itu terlihat gesit berlari, tak jauh beda dengan Jongdae. Pria itu tak menyerah untuk mengejar si penguntit itu.

Kris sedang turun menemui Jongdae, ketika telinga mereka menangkap suara gemerisik daun kering yang terinjak. Lalu tak berapa lama, mereka mendengar sebuah benda di lempar dan tepat mengenai kaca apartemen Baekhyun.

Kris langsung melesat masuk kembali ke dalam apartemen, sedangkan Jongdae memilih mengejar orang yang baru saja melempar benda itu.

Aksi kejar-kejaran itu masih berlanjut, Jongdae cukup hapal dengan jalan tikus di sekitar wilayah apartemen Baekhyun. Kemarin, dia dan Kris baru mempelajari peta wilayah apartemen Baekhyun, lengkap dengan blueprintnya.

Apa yang dipelajarinya kemarin, ternyata cukup bermanfaat. Tebakannya tak meleset, orang yang dikejarnya, tak cukup tahu kondisi wilayah ini, terbukti dengan beberapa kali dia hampir tertangkap Jongdae.

Dan kali ini, melihat lawannya mengambil jalur bawah, Jongdae melakukan hal sebaliknya, dia tahu ada jalan tembus di sebelah kirinya. Strateginya berhasil, sudah cukup bermainnya, sekarang, dengan langkah cepat, Jongdae menerjang bagian punggung sosok itu hingga terjungkal ke tanah.

"Aku tak tahu siapa yang menyuruhmu, tapi kau salah kalau berpikir bisa bermain-main dengan kami, lebih lama dari ini." Jongdae meludah kasar, lalu mendekati sosok itu.

Perhitungan Jongdae sedikit meleset, dia pikir orang itu sudah tak berdaya, tapi nyatanya saat dia mendekat, orang itu dengan cepat menggoreskan pisau lipatnya pada lengan Jongdae. Cukup dalam dan panjang. Hingga beberapa detik kemudian, darah segar mengucur deras.

Jongdae meringis, menahan perih akibat luka itu. Kedua matanya, semakin nyalang menatap musuhnya itu.

Buagh!

Jongdae kembali melayangkan tendangan, kali ini mengenai perut lawannya, tak cukup sampai disitu, melihat lawannya yang sempoyongan, dia kembali menyarangkan pukulan dengan membabi buta, mulai dari wajah, perut, kaki, punggung, semua menjadi sasaran Jongdae, hingga kemudian tak berselang lama, tubuh itu sudah tergeletak lemas di tanah.

Jongdae mendekat dengan waspada. Setelah memastikan lawannya tak berdaya, dia duduk berjongkok dan dengan kasar melepas topeng yang menutupi wajah penguntit itu.

"Soo Jung-ah! Kau bisa mengidentifikasi dia?"

"Nde."

"Aku tunggu jawaban cepatmu."

Jongdae bicara singkat dengan Soo Jung, melalui alat yang terpasang di telinganya, yang tersambung dengan ruangan tempat Soo Jung bekerja di rumah Chanyeol.

.

.

.

Baekhyun menghirup dalam-dalam oksigen dari alat bantu pernafasan yang diberikan Kris padanya. Dia duduk di kursi penumpang, di sebuah mobil yang tak pernah dia lihat sebelumnya.

Kejadian yang baru dialaminya, cukup membuatnya syok. Siapa yang tak paham hal itu, dia tak merasa sendirian di rumahnya karena satu minggu terakhir ini, Kris selalu ada di ruang tengah rumahnya, menunggunya sampai dia tidur, lalu pria itu akan pindah ke unit sebelah setelah memastikan kondisi rumahnya aman.

Makanya tadi, saat telinganya menangkap suara benda keras yang sepertinya sengaja dilempar ke arah rumahnya, dia langsung keluar kamar dan memanggil Kris, namun ternyata tak ada siapapun disana, dan saat dia penasaran dengan benda yang baru di lemparkan itu, yang mengeluarkan asap tipis, tiba-tiba sebuah tangan membekapnya dan pemiliki tangan itu menyeretnya keluar dari unit apartemennya. Dia dibiarkan meronta.

Jujur, Baekhyun sempat mengira dia akan di culik. Sampai kemudian mereka tiba di mobil itu dan Kris langsung memberinya alat bantu nafas. Ya, si pembekap itu adalah Kris, guard yang dipilih Chanyeol untuk melindunginya.

Baekhyun cukup bisa bernafas lega, hanya saja, kejadian yang begitu cepat itu, masih menyisakan tanda tanya besar, sebenarnya apa yang keluar dari benda kecil itu? Kenapa Kris langsung membekapnya dan menyeretnya keluar dari rumahnya?

"Jeoseonghamnida Nona, karena saya harus membawa anda keluar dari rumah anda seperti itu. Asap itu beracun, kalau terhirup dalam jumlah banyak, kematianlah akibat paling buruk yang terjadi."

Baekhyun membulatkan matanya tak percaya, asap beracun? Untuknya?

"Jangan khawatir, anda aman sekarang."

Baekhyun menggeleng pelan. Bukan itu, dia tak hanya merasa khawatir, tapi juga tiba-tiba merasakan ketakutan.

Apa karena hubungannya dengan Chanyeol?

"Kenapa orang itu melempar benda mengerikan seperti itu padaku?"

Kris menatap Baekhyun, yang berusaha menghalau mata basahnya.

"Kami belum tahu motifnya apa? Tapi yang jelas, semua ada hubungannya dengan Tuan muda. Jangan takut, saya ada bersama anda, Nona Byun."

Baekhyun mengalihkan pandangannya dan saat itu juga, airmatanya leleh dari sudut matanya.

Dia tak pernah merasakan ancaman bahaya seperti saat ini. Hidupnya tenang dan berjalan normal sebelum mengenal Chanyeol, namun sekarang, bahkan dirumahnya sendiri, dia tak aman lagi.

"Jongdae-ssi!"

Baekhyun menegakkan badannya, mendengar Kris memekikkan nama Jongdae, dia melongokkan kepalanya keluar jendela mobil.

Dari Jauh dia melihat Jongdae berjalan tergopoh mendekati Kris dan dia.

Darah?

Baekhyun melihat jelas darah yang mengucur deras dari sela jari-jari Jongdae yang menutupi lengannya.

Pria itu pasti terluka parah.

Baekhyun tak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan yang terjadi antara dua orang itu, hanya saja, beberapa saat setelah saling berbincang, Kris berlari ke arah yang di tunjuk Jongdae. Sedangkan pria itu mendekati mobil yang di dudukinya.

"Jeoseonghamnida Nona."

Baekhyun memperhatikan wajah Jongdae, lalu lengan yang mengucurkan banyak darah itu.

"Apakah tidak sakit?"

Jongdae menatap lengannya, lalu menatap Baekhyun dan menggeleng pelan.

"Nona! Bisakah anda memakai penutup mata berwarna hitam itu?" Jongdae menunjuk dengan isyarat matanya, benda hitam persegi yang tergeletak di dashboard mobil itu.

Baekhyun mengerutkan dahinya, apalagi sekarang?

"Kami akan membawa anda ke rumah besar, namun sebelum itu, ada urusan yang harus kami selesaikan lebih dulu. Jangan melihat yang kami lakukan, jadi tolong pakai penutup mata itu dan juga, tolong pasang headset itu."

Baekhyun masih menatap Jongdae, lalu menatap penutup mata serta iPod dan headset yang dimaksud Jongdae. Dia semakin bingung dengan situasi yang dihadapinya saat ini.

"Palliwa Nona!"

Baekhyun tak lagi diijinkan melongok keluar, saat Jongdae mengatakan dia harus cepat.

Baekhyun menuruti Jongdae, dia memakai penutup mata itu, lalu memasang headset pada kedua telinganya, setelah itu dia menyetel musik dengan volume keras.

Baekhyun tak tahu apa yang terjadi setelah itu, yang dapat dia rasakan, bagian belakang mobil itu bergoyang pelan, seperti ada benda yang jatuh disana, entahlah!

Lalu tak berapa lama, mobil itu sepertinnya mulai bergerak. Setelah itu, dia tak tahu apa yang selanjutnya terjadi.

Sekitar lima belas menit kemudian, pintu penumpang terbuka, ada tangan yang membuka penutup matanya.

Dan betapa leganya dia, saat tahu siapa yang membuka penutup mata itu.

Chanyeol menatapnya lembut.

"Sayang."

Mata Baekhyun berkaca-kaca, Chanyeol tersenyum padanya, lalu membopongnya keluar dari mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah itu.

Sementara itu, di ruang tengah rumah besar itu, Irene memekik keras mengetahui Jongdae terluka.

Gadis itu mendekati Jongdae, tanpa bertanya kenapa atau ada apa? Dia tahu apa yang sedang terjadi. Soo Jung sudah menjelaskan semua tadi. Yang tak diketahuinya, Jongdae ternyata terluka.

"Song Qian ahjumma! Apa perlu dijahit lukanya?" tanya Chanyeol yang baru datang dan mendudukkan Baekhyun tak jauh dari tempat Jongdae duduk.

"Lukanya cukup dalam dan panjang, sepertinya memang harus dijahit. Soo Jung! Ambilkan peralatanku!"

Soo Jung mengangguk lalu melesat ke ruangan samping tangga, dia kembali dengan satu kotak peralatan yang diperlukan Song Qian.

Saat Song Qian mulai membuka peralatannya, Kris mendekati Chanyeol, lalu membisikkan sesuatu. Entah apa itu, yang jelas, setelah mendengar apa yang dikatakan Kris, tangan Chanyeol yang bebas langsung terkepal erat.

"Kau sudah mengirim peringatan pada mereka?" Kris mengangguk.

"Soo Jung-ah!"

Soo Jung menatap Chanyeol. Dia mengangguk mengerti setelah Chanyeol memberinya isyarat untuk kembali ke ruangannya.

Sudah dijelaskan sejak awal, Chanyeol memilih orang-orang yang tepat untuk berada di sisinya.

Soo Jung tumbuh baik menjadi hacker handal dengan bimbingan dan pengawasan Kyuhyun, istri Changmin.

Jongdae, orang kepercayaan yang selalu bisa bertindak sesuai perhitungan cermatnya.

Taecyeon, selain sopir, dia juga guard yang mahir dan memiliki ketrampilan yang sama dalam bela diri seperti dia maupun Jongdae.

Song Qian, wanita paruh baya yang di titipkan sang nenek padanya, bukanlah orang yang lemah lembut seperti yang terlihat. Dia dokter yang jasanya di sewa sang nenek sejak masih muda.

Sedangkan ketiga orang yang baru satu minggu bergabung dengannya itu adalah orang yang kemampuannya tak diragukan lagi di dunia bawah daratan China.

Jadi, meski memiliki pengawal tak sebanyak yang dimiliki ayahnya, Chanyeol percaya diri untuk memulai perang.

.

.

.

Kami mendapatkanmu!

Bermainlah lebih halus setelah ini. Katakan pada orang yang menyuruhmu, kami tahu siapa kalian. DAN KAU! Kami mengawasimu, jadi berhati-hatilah dalam tindakanmu.

"Sicca-ah! Siapa yang datang?" tanya perempuan yang rambutnya di cepol ke atas, pada perempuan lain yang adalah pemilik rumah itu.

"Ah! Bukan siapa-siapa. Sepertinya salah alamat, ya, salah alamat." Si pemilik rumah terlihat salah tingkah, dengan cepat dia berusaha menyembunyikan kertas yang baru selesai dibacanya itu.

"Kau yakin?"

Perempuan itu mengangguk pelan.

"Apa yang kau sembunyikan di belakangmu itu?"

"Ani. Bukan apa-apa. Ini sesuatu yang tak begitu penting."

"Benarkah?"

"Iya. Ehm... Kau sudah selesai masak? Ayok makan, aku sudah sangat lapar, Fanny-ah."

"Aaahh... Kajja!"

.

.

.

Kali ini, kami masih melepaskanmu,...

Tapi lain kali, jangan berharap bisa bernafas dengan baik.

Berhati-hatilah!

Tubuh Sooyoung bergetar hebat, membaca secarik kertas yang di selipkan di saku baju seorang pria yang teronggok di depan rumahnya dengan begitu banyak luka.

Pria yang dibayarnya untuk mencelakai Baekhyun, kembali dengan keadaan yang jauh dari kata baik dan lagi dalam keadaan seperti apapun, dia memerintahkan pada pria itu untuk tak menyebut namanya, tapi kenyataannya, dari secarik surat yang dibacanya, sepertinya kebusukannya sudah tercium.

.

.

.

Jangan terlalu jauh melangkah

Kalau kau tak ingin terluka lebih banyak.

Kesempatan untukmu, tak akan datang untuk yang kedua, jadi... Saat kami mengawasimu seperti ini, berhati-hatilah!

Wajah Seulgi pucat pasi membaca secarik kertas yang baru di berikan pelayannya padanya.

"Si-siapa yang memberikan ini?" tanyanya dengan tergagap pada pelayannya.

"Saya tidak tahu Nona. Penjaga di depan mengatakan, seseorang dengan pakaian serba hitam dan memakai topi yang menyerahkannya."

"A-aku ingin melihat cctv yang di depan gerbang!"

"Maaf, kami sudah memeriksanya. Pada saat orang itu menyerahkan surat ini, cctv di seluruh rumah ini, tak berfungsi dengan baik."

"Mwo?"

"Dari monitor pantau, semua gambar yang dihasilkan buram."

Seulgi diam, memutar otaknya. Kemudian meraih ponselnya dan mendial sebuah nomor.

"Yeoboseyo!"

"Saat kami memintamu mencari seseorang untuk misi rahasia ini, kau tak menyebutkan nama kami bukan?"

"Sama sekali tidak Nona Kang."

"Lalu bagaimana bisa surat seperti ini datang padaku?"

"Su-surat? An-anda juga mendapatkannya?"

"Apa maksudmu? Kau juga mendapatkannya?"

"Nde."

Seulgi memutus sambungan telponnya. Wajahnya terlihat kesal karena menahan kemarahan.

"Cari pembunuh bayaran yang handal, aku tak ingin dia hidup enak, sementara aku disini terluka. Cari sekarang!"

.

.

.

"Saya baik-baik saja Nona. Bisakah anda keluar sekarang? Saya mau mandi dan istirahat setelah itu." Jongdae berdiri tak jauh dari Irene yang terus memperhatikan setiap gerak-geriknya.

"Aku tak melihat oppa baik-baik saja. Luka itu dalam, seharusnya oppa ke rumah sakit, bukan hanya mengandalkan pengobatan yang dilakukan Song Qian ahjumma."

"Song Qian ahjumma juga dokter, Nona."

"Dokter yang tak lagi berpraktek, apa masih bisa di sebut dokter?"

Jongdae mendesah berat. Pria itu kemudian duduk di samping Irene, lalu mengambil tangan kanan Irene, dan menggenggamnya erat dengan tangan kirinya.

"Kami, disini, sudah biasa dengan pengobatan Song Qian ahjumma. Tak perlu terlalu khawatir dengan keadaan saya."

Irene menatap Jongdae.

"Kalau aku tak memiliki perasaan apapun padamu, aku tak akan peduli apapun yang terjadi padamu, kau mati tersungkur di kakiku pun, aku hanya akan melihatnya saja. Tapi aku menyayangimu oppa, aku mencintaimu, ini pertama kalinya aku melihatmu terluka, lalu sebagai kekasihmu apa aku tak boleh khawatir? Seribu kali pun kau mengatakan kau baik-baik saja, bagiku kau tetap tidak baik-baik saja!" pekik Irene kesal.

Irene menepis tangan Jongdae, lalu berdiri dari duduknya. Baru beberapa langkah dia meninggalkan Jongdae, kekasihnya itu sudah menghentikannya dengan sebuah pelukan dari belakang.

"Mian."

"Aku berusaha menguatkan hatiku, saat aku tahu siapa dirimu dan resiko apa yang ku hadapi ketika aku menjalin hubungan denganmu. Tapi..."

"Aku berjanji, lain kali tak akan terluka lagi."

Jongdae mengeratkan pelukannya pada tubuh kekasihnya itu. Tak berapa lama, tangannya yang tak terluka, meraih dagu Irene, kemudian sedikit menariknya ke belakang, dengan sedikit usaha keras, Jongdae berhasil mendaratkan bibirnya diatas bibir Irene. Pertama hanya diam, lalu kemudian bergerak perlahan.

Ciuman itu tak berlangsung lama. Satu menit Jongdae rasa cukup untuk membuat kekasihnya itu yakin, bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan dari keadaannya.

"Uljima. Bukankah aku berjanji akan lebih hati-hati setelah ini?"

Irene membalik badannya, lalu menarik lembut tangan Jongdae yang terluka dan sudah di bungkus perban itu.

Dengan polosnya, Irene mencium dan kemudian meniup luka Jongdae, berharap luka itu akan sembuh dengan cepat. Seperti yang dulu sering dilakukan Minseok padanya.

Jongdae tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Irene dengan tangannya yang bebas.

Dengan gemas, dia menarik tubuh Irene agar lebih dekat dengannya.

Irene cukup terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Jongdae. Matanya mengerjap beberapa kali.

"Kau ini umur berapa sayang? Masih juga percaya hal-hal seperti itu?"

"Ish! Apa salahnya? Siapa tahu memang benar cepat sembuh."

"Ehm... Lukanya selebar ini, paling cepat sembuhnya ya sekitar dua minggu."

Irene mempoutkan bibirnya.

"Aigo." Jongdae mencubit gemas pipi Irene. Daripada melihat Irene menangis, dia lebih suka Irene yang seperti ini, sedikit mengumbar sikap manja padanya.

.

.

.

"Kemarilah! Biar aku yang membantumu mengeringkan rambut."

Chanyeol menepuk bagian samping tempat dia duduknya, senyumnya mengembang meminta Baekhyun untuk duduk disana. Hampir satu jam dia menunggu Baekhyun mandi.

Baekhyun melangkah dan mengambil tempat duduk di samping Chanyeol. Pria itu kemudian menarik handuk kecil yang di pegang kekasih hatinya itu.

"Kau bisa menghadap kesana?"

Baekhyun menuruti perintah Chanyeol, dia memutar tubuhnya hingga kini menghadap ke jendela besar di kamar Chanyeol.

Dapat dirasakannya, Chanyeol mulai menggosok pelan kepalanya.

Tak ada pembicaraan yang terjadi, sejak turun dari mobil tadi, Baekhyun memang tak banyak bicara. Terlalu banyak hal baru yang dialaminya malam ini. Mulai percobaan pembunuhan yang dialamatkan padanya, lalu dia harus menutup mata dan telinganya selama perjalanan ke rumah ini kemudian operasi kecil yang dilakukan Song Qian ahjumma pada Jongdae di ruang tengah. Semua terasa begitu menyesakkan untuknya yang baru pertama kali mengalami semua itu.

"Kenapa kau diam? Kau tidak suka berada disini?"

Chanyeol menarik tubuh Baekhyun, kemudian memeluknya erat dari belakang.

Chanyeol dapat melihat dari samping, sudut bibir Baekhyun tertarik ke samping, membentuk segaris senyum tipis.

"Kau masih merasa takut?"

"Aku tak pernah berada di situasi seperti saat ini. Semua yang ku lihat hari ini... Hhhhhh..."

Baekhyun mendesah pelan. Banyak hal yang ingin dia ketahui, tapi untuk bertanya, dia tak tahu harus memulainya darimana.

Mungkin, seharusnya memang dia tak terlibat apapun dengan Chanyeol kecuali pekerjaan.

"Kau aman disini sayang. Orang-orang yang berada disini akan selalu melindungimu."

Baekhyun membalik badannya, menatap Chanyeol dengan tatapan tertekan.

"Mencintaimu ternyata sangat mengerikan Park Chanyeol."

Chanyeol membelai pipi Baekhyun.

"Jangan berkata seperti itu sayang, kau membuatku semakin terlihat buruk."

"Tapi kenyataannya begitu. Aku hidup tenang tanpa gangguan apapun sebelum mengenalmu, tapi sekarang... Bahkan ada yang berusaha membunuhku." Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol yang masih menyentuh pipinya.

"Kau menyesal mencintaiku?"

Menyesalkan Baekhyun mencintai Chanyeol?

Tidak sama sekali, tapi mencintai Chanyeol membuatnya merasa begitu takut seperti saat ini, seharusnya cukup baginya mencintai pria itu dalam diam.

"Aku tak menyesalinya."

Chanyeol tersenyum mendengar jawaban itu.

"Bagiku itu lebih dari cukup sayang. Kau tak membenciku saja, itu sudah membuatku bahagia. Sedikit saja, bertahanlah untukku sayang. Aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat."

Baekhyun menatap Chanyeol dalam, mencari kebohongan dari kalimat yang terucap dari bibir kekasihnya itu. Tapi, semakin dalam dia menatap, yang dia dapati adalah kejujuran dan ketulusan.

"Aku boleh bertanya sesuatu?"

Chanyeol mengangguk.

"Kau menyuruh anak buahmu membunuh orang itu?"

"Nugu?"

"Yang melempar benda beracun itu."

"Aku dan anak buahku, tidak akan mengotori tangan kami dengan tindakan tak manusiawi seperti itu. Percayalah! Tak ada yang terbunuh atau membunuh disini. Kami hanya mengirim peringatan untuk orang yang menyuruh penguntit itu."

"Berarti kau tahu siapa orang yang berusaha membunuhku?"

Chanyeol menatap Baekhyun cukup lama, sebelum mengangguk.

"Nuguya?"

"Maaf aku belum bisa memberitahumu."

"Waeyo?"

Chanyeol menundukkan kepalanya.

"Karena aku tak ingin melukaimu."

"Apa maksudnya? Kenapa kau berpikir bahwa dengan mengatakan yang sebenarnya kau akan melukaiku?"

Chanyeol membuang nafas pelan. Kemudian menatap Baekhyun.

"Sampai semuanya jelas, bisakah kau menunggu sayang. Aku akan menjawab semua tanyamu nanti, saat sudah jelas bahwa orang ini terlibat dalam percobaan pembunuhan terhadapmu."

"Aku mengenalnya?"

Chanyeol mengusap kasar wajahnya. Belum saatnya dia membuka semuanya, meski Kris tadi sempat mengatakan bahwa Baekhyun perlu tahu siapa yang sembunyi di balik selimut pertemanan yang dimilikinya.

Chanyeol tahu, Baekhyun akan sangat terluka kalau dia sampai tahu ada salah satu temannya yang terlibat dalam percobaan pembunuhan terhadapnya itu.

"Aku akan mengatakannya nanti, jadi bersabarlah sayang."

Chanyeol hendak meraih tangan Baekhyun, namun gadis itu menolaknya.

"Katakan saja sekarang. Aku perlu tahu, agar aku waspada terhadap musuhku."

Chanyeol kembali mendesah pelan. Setelah berpikir sejenak, pada akhirnya dia memilih mengatakan yang sebenarnya pada kekasihnya itu.

"Jessica Jung."

Baekhyun menutup mulutnya tak percaya. Tidak mungkin! Dia mengenal Jessica cukup lama, sekitar dua tahun terakhir ini. Jessica orang yang cukup baik dalam pekerjaannya bahkan dalam hubungan pertemanan mereka, jadi mana mungkin Jessica ikut ambil bagian dalam insiden yang menimpanya.

"Kau pasti salah orang. Jessica eonni tidak seperti itu."

Baekhyun menggeleng pelan.

"Kenyataannya dia memang seperti itu. Kau ingin melihat yang kami temukan hingga kami menyimpulkan hal ini?"

Baekhyun tak menjawab. Hanya matanya yang masih memancarkan ketidakpercayaannya akan apa yang baru saja di dengarnya.

"Ikutlah denganku, aku akan memberitahu semuanya padamu."

Chanyeol berdiri dari duduknya, lalu menggandenga Baekhyun keluar dari kamarnya.

Melewati ruang tengah, Baekhyun di hela ke sebuah ruangan dengan pintu berwarna abu-abu.

Ketika pintu itu di buka, ada Soo Jung yang duduk di depan sekitar lima monitor ukuran besar, serta beberapa yang ukuran kecil. Ada Jongdae juga disana.

Jongdae dan Soo Jung berdiri dari duduknya, lalu membungkuk dihadapan Chanyeol dan Baekhyun.

"Kenapa kau tak istirahat? Aku menyuruhmu istirahat 'kan?"

"Saya tidak apa-apa Tuan muda."

"Mana Irene?"

"Heh!"

"Jangan terkejut, dia yang tadi merengek minta menemanimu istirahat."

Jongdae membulatkan matanya tak percaya, sedangkan Soo Jung tersenyum tipis mendengar hal itu.

"Hah! Aku rasa, aku harus segera menikahkan kalian. Adikku cukup agresif ternyata dalam mendekatimu." Chanyeol mengambil duduk di tempat yang tadi di duduki Soo Jung, kemudian dia menarik Baekhyun agar duduk di atas pangkuannya.

Jongdae menggaruk kepala belakangnya. Salah tingkah dengan ucapan Chanyeol.

"Kalian duduk!"

Jongdae menyeret kursi lain, membiarkan Soo Jung duduk di tempatnya tadi.

"Soo Jung-ah! Tunjukkan padanya tentang keterlibatan Jessica-ssi."

Soo Jung mengangguk, lalu mengutak-atik keyboardnya. Baekhyun tak paham apa saja yang di ketikkan jari lincah Soo Jung di atas benda itu, yang jelas, tak butuh waktu lama, dia bisa melihat beberapa foto Jessica di monitor.

Foto Jessica saat bertemu dengan kakak Chanyeol, lalu saat Jessica menyerahkan amplop coklat pada seseorang yang berada di dalam mobil. Kemudian Baekhyun juga melihat percakapan mereka melalui pesan singkat.

Satu pertanyaan Baekhyun, dendam apa yang membuat Jessica nekad berbuat seperti itu padanya?

Baekhyun menatap Chanyeol sebentar, lalu kemudian memilih menyembunyikan kepalanya di bahu Chanyeol.

"Aku salah apa pada Sicca eonni? Selama ini, aku tak pernah menyakitinya, kenapa dia bisa seperti itu padaku." Lirih Baekhyun diantara isakannya.

Chanyeol mengusap pelan punggung gadis yang sangat di cintainya itu.

Kecurigaan Chanyeol berawal ketika Kris menemukan sebuh kamera dan alat penyadap yang terpasang di ruangan Baekhyun, saat dia menyisir ruangan itu, memastikan keamanan untuk Baekhyun.

Tidak mungkin orang luar yang memasang benda itu, tak banyak yang bebas keluar masuk ruangan Baekhyun, kecuali Tiffany, Jessica dan Jonghyun.

Kris sudah menyelediki Tiffany diam-diam. Asisten Baekhyun itu tak memiliki motif apapun untuk bertindak senekad itu. Dia orang baik, sangat baik malah.

Karena Jessica tak berada di Seoul saat itu, penyeledikan berlanjut ke Jonghyun. Pria itu mempunyai kemungkinan besar untuk di curigai, karena menurut Baekhyun, Jonghyun sering menghabiskan waktunya di kantor, bahkan kadang menginap. Tapi, hasil dari penyelidikan pada Jonghyun nihil. Pria itu terlalu acuh untuk mengurusi hal-hal yang tak memberinya kesenangan.

Yang terakhir Jessica, penyelidikan dimulai dari lingkungan tempat tinggal gadis itu yang bisa dikatakan sangat sederhana. Lalu latar belakang keluarga yang berantakan serta gaya hidup gadis itu yang dinilai cukup wah untuk orang yang bekerja sebagai pegawai biasa di sebuah perusahaan jasa. Jessica memiliki alasan kuat untuk berbuat senekad itu.

Kecurigaan Kris tak salah, ketika mereka mulai mendapatkan bukti akan kejahatan yang dilakukan gadis itu. Jessica tak sendirian, ternyata dia menjual informasi pada kedua orang yang paling tak terima kalau pertunangan antara Chanyeol dan Seulgi gagal.

Chanyeol masih bermain halus, beberapa waktu ini, dia masih membiarkan hal itu terjadi, tapi setelah malam ini. Dia tak akan membiarkan ketiga orang itu bernafas dengan baik.

"Kesalahanmu hanya satu sayang, kau terlalu baik jadi orang."

Baekhyun masih terisak. Dan Chanyeol masih mengusap lembut punggung kekasihnya itu.

"Mulai saat ini, kau tinggal disini, selain Kris, Zhoumi hyung akan ikut denganmu ke kantormu."

.

.

.

TBC

.

.

Note : Terimakasih untuk Cinta dan perhatian kalian pada cerita ini.

Ada yang tegang membaca chapter ini?

Semoga saja ada... Ehehhehehe

Chap ini pendek ya? Mian #bow

Ada yang tanya kenapa bisa memasangkan Irene dan Chen? Saya juga tak tahu, tiba-tiba saja pengen begitu. Maaf kalau merasa kurang nyaman dengan pasangan ini.

Big Love For You Guys 3

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^