My love begins with unlucky
Disclaimer: Furudate Haruichi
By: Step129807
Warning: Ooc, Ic, Typo
Chapter 10
Sugawara menyilangkannya tangan, dengan wajah yang cemberut namun tetap terlihat manis lima belas menit ia menunggu kedatangan Daichi, namun sang suami- bukan maksud Author adalah sang sahabat belum juga datang.
Ia kedinginan, butuh kehangatan pemanas mobil. Ia bersumpah akan memukul pria kekar itu kalau datang. Suara klakson menghentikan hanyalannya, pria bertahi lalat dibawah mata sebelah kanan itu langsung menaruh tas ranselnya di kursi belakang dan mendudukan badannya disamping supir.
"Maaf Suga, aku tadi harus menggantri di SPBU."
"Maaf, tapi aku sudah berjanji memukul mu."
"Ouch!" teriak Daichi yang mendapatkan pukulan sayang diperutnya.
Mereka pun pergi ke Tokyo jam 10 pagi dari Sendai dan mungkin akan sampai jam 3 atau jam 4 sore nanti.
"Nanti kita menginap di hotel mana?"
"Tidak di Hotel mana pun..."
"Huh?"
Sugawara hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya sebelum menjawab kebingungan Daichi. "Kita itu punya banyak Kohai di Tokyo jadi tidak perlu mencari penginapan lagi."
"Kalau begitu kita menginap di tempat Tsukish-"
"Hinata."
"Huh?!"
"Hinata."
CHITTT!
Daichi langsung mengerem mobilnya secara mendadak saat mendengar perkataan Sugawara.
"Daichi, kenapa kamu mengerem mobilnya secara mendadak ?! Bagaimana mana dibelakang kita ada mobil!"
"Kau gila!"
"Kenapa kau berteriak kepada ku!"
"Tentu saja! Kenapa harus di tempat Hinata? Hinata itu perempuan, tidak baik kalau kita yang lelaki ini menginap ditempatnya, Apa lagi dia tinggal sendiri."
"Karena aku ingin! Cepat jalan." ujar Sugawara ngotot.
'Ini orang, kalau menyangkut Hinata kelakuannya lebih parah dari pada Ibu-ibu yang ada di sinetron deh!'
Daichi pun memilih mengalah, karena emak emak selalu benar.
.
.
.
.
.
Shouyou terkejut saat keluar gerbang kampusnya dan mendapati Kenma yang sedang bersandar disamping mobil mewah milik pria itu. Menghiraukan mahasiswi yang menatapnya kagum, dan ia hanya menatap Shouyou dengan senyum tipis yang lembut.
"Kenma, apa yang kau lakukan disini?"
Kenma merasa dadanya bergemuruh saat menatap wajah heran Shouyou, betapa ia merindukan gadis manis bersurai Orange yang ada didepannya.
"Menjemput mu..."
"Maaf, aku tidak bisa ... PACAR ku akan menjemputku." Ujar Shouyou yang menekankan kata pacar, sungguh walaupun ia pacaran dengan Om itu karena kesialan atau karena kecerobohannya, namun dia mencoba menghargai perasaan Osamu yang sudah bersikap baik dan lembut kepadanya.
"Oh... Siapa yang perduli." ujar Kenma dengan nada dinginnya.
"Sayang..." Shouyou berani bersumpah kalau ini adalah pertama kalinya ia merasa sangat bahagia mendengar suara Osamu, ia langsung menghampiri lelaki jangkung yang hanya lima langkah darinya itu Ialu memeluk erat lengan kekar kekasihnya yang cukup membuat Osamu berbunga-bunga bahagia walaupun raut wajahnya tetap datar.
"Are, Kenma-san tumben sekali ketemu disini?" tanya Osamu dengan nada malas ciri khasnya.
"Konnichiwa, aku hanya ingin bertemu dengan Shouyou." ujar Kenma pura-pura tidak peka dengan kerutan didahi Osamu.
"Eh, ada keperluan apa den-"
"Aku dengan Kenma adalah teman lama dan kami sudah lama tidak bertemu jadi kami ingin mengobrol sedikit, Osamu-kun!" potong Shouyou yang berbicara dengan cepat.
"Oh, begitu yah..."
Sedangkan Kenma hanya berwajah datar seperti biasanya, ia berpikir mungkin tidak baik terlalu memaksa sekarang, sebaiknya ia akan melakukan pendekatan secara perlahan kepada gadis orange itu.
"Terima kasih kerana sudah meluangkan waktu Shouyou, kalau begitu aku Permisi dulu..." ujar Kenma dan tidak lupa sedikit membungkuk kepada rekan bisnisnya yang merupakan pacar mantannya itu.
"Ya, sampai jumpa di rapat besok."
.
.
.
.
.
"Apa kau sudah makan?" tanya Osamu saat memikirkan mobilnya.
"Belum..."
"Bagus, aku membawa bahan makanan untuk kita..." ujar Osamu sambil menunjukan kantong plastik besar di jok belakang. Well, sepertinya sejak jadi kekasih Osamu... Shouyou tidak pernah kekurangan makanan.
"Rupanya micin bukanlah penyebab kebodohan seperti yang digosipkan selama ini, kita sudah salah menyalahkan micin... Saya akan menyampaikan apa yang micin rasakan. 'Kami lahir dan tumbuh di Jepang. Kami hidup bersama generasi cerdas, kami tidak pernah dipuji. Tapi kenapa sekarang kami dibilang penyebab kebodohan? Apakah ini pengaruh dari tren yang sedang marak di Indonesia? Mereka hanya mencari kambing hitam untuk menutupi kebodohan mereka! Mereka sebenarnya adalah anak non micin! Jadi, anak-anak Jepang yang cerdas... Lihatlah sekeliling mu, pasti ada orang jenius yang suka makan micin... Dan lihatlah orang yang cerdas dari negara yang membuat tren yang buruk bagi kami itu... Disana ada anak cerdas yang suka makan micin... Jadi intinya kami ingin mengatakan bahwa micin bukanlah penyebab kebodohan namun membuat anda cerdas! Jangan lupa makan micin tiga kali sehari, salam generasi micin!' Inilah yang disampaikan micin kepada kita, Saya Akaashi Keiji melaporkan." ujar Akaashi dari televisi Shouyou yang sedang ditonton sepasang kekasih itu, sepertinya sehabis makan mereka berdua memutuskan untuk santai sambil menonton televisi. Shouyou hanya menatap kagum senpai nya yang sekarang sudah menjadi reporter ternama di Jepang.
"Dia itu senpai ku loh, Osamu-kun..." ujar Shouyou dengan mata berbinar-binar, sedangkan Osamu sedang asik memikirkan Papa nya.
'Jadi benar kata Papa, pantas saja Papa rajin mengomsumsi micin...'
"Nee, Osamu-kun! Kau dengar aku!"
Merasa dikacangi Shouyou pun menusuk pinggang Osamu dengan jarinya dan sukses membuat Osamu terlonjak karena geli.
"Heh, jadi Osamu-kun merasa geli yah." ujar Shouyou dengan nada mengejek. Ia pun menggelitik pinggang Osamu dan membuat pria itu tertawa dan merebahkan dirinya disofa, seperti Shouyou tidak menyadari sekarang tubuhnya sudah berada di atas tubuh besar Osamu. Sebenarnya Osamu sengaja membiarkan Shouyou menggelitik dirinya supaya bisa berada pada posisi ini. Hmm, kesempatan dalam kesempitan itu namanya bang Samu. Sadar akan posisinya Shouyou hendak bangkit dari atas tubuh Osamu, namun sebuah tangan kekar menahan pinggang nya dan membuatnya menduduki perut six-pack itu. Tangannya masuk ke dalam kaos Shouyou, menyentuh kulit punggung gadis itu dengan lembut. Membuat bulu kuduk Shouyou langsung bergidik. Ia lalu menarik tali mengait bra lalu menghempaskannya. Bunyi Tak! terdengar mengiringi keterkejutan Shouyou.
"Osamu- kun!" Sakura memukul dada Osamu, dengan lemah lembut tentunya, "Kau seperti remaja mesum. Mereka suka menarik bra anak perempuan."
"Mereka pernah menarik bramu?" Osamu menautkan alisnya.
"Ya. Waktu di SMA dan mereka habis ditanganku." Shouyou mengepalkan tangannya.
Dan di seberang sana Kageyama, Tsukishima, dan Kenma langsung bersin.
"Kau mengancamku?" Tak! Osamu menarik tali bra Shouyou untuk kedua kalinya.
"Hentikan itu!" omel Shouyou, Osamu menarik tekungan leher Shouyou dengan lembut dan menempelkan mulutnya ke mulut Shouyou. Bekecupan mesra sambil tersenyum, terus menerus seperti tidak ada yang ingin menyudahinya sampai.
"Hinata kenapa kau tidak kunci pin- Huh?! " suara Sugawara yang mengintrusi kegiatan mereka dan membuat sepasang kekasih itu terkejut bukan main atas kehadiran tiba-tiba Sugawara di Tokyo tepatnya di apartemen kecil milik Shouyou.
.
.
.
.
.
Sugawara menyilangkan tangannya, sebelah kakinya di hentak-hentakkan karena marah dan kesal, sekarang perasaan Sugawara bagaikan seorang ibu yang tidak sengaja mencyduk anaknya yang berbuat asu sila dengan pacar saat ditinggal sendirian dirumah.
Gampang tinggal kawaninkan masalah selesai kok Mama Suga.
"Lihat, Daichi! Ini lah kenapa aku bersikeras hendak ke tempat Hinata. Coba kita tidak kesini! Pasti anak mu sudah kehilangan keperwanannya!" omel Sugawara. Sedangkan Daichi hanya berbatin sejak kapan ia punya anak tanpa seorang istri?
"Kau!" jari telunjuk Sugawara menuding tepat di hidung Osamu, "Kau bilang tidak akan macam-macam pada Hinata! Tapi apa yang kulihat ini?!"
Dalam hati Osamu hanya membatin, 'Aku kan tidak janji...'
"Sudahlah Suga, mereka itu sudah besar! Tidak perlu diperlakukan seperti ini." tegur Daichi yang meresa tidak enak dengan Osamu, sepertinya Daichi mengetahui kalau umur Osamu lebih tua dari mereka.
Dan si mata malas itu sekali lagi membatin betapa mereka mirip seperti sepasang suami istri tua.
"Kau diam saja!"
"Dan kau Osamu! Dengarkan yah, Hinata itu masih kecil! Dia masih terlalu muda, bagaimana nanti kalau dia hamil! Apa kata orang di Miyagi nanti?! Pasti Hinata dicap anak nakal... Bukannya sekolah yang bener! Pasti begitu pikiran orang disana nanti..."
Dan seharian itu mereka hanya mendengar omelan Sugawara, poor Osamu.
.
.
.
.
.
Setelah satu jam nonstop tidak berhenti mengomel, Sugawara akhirnya berhenti karena lapar dan haus. Melihat hal itu Osamu berinisiatif memanaskan sop miso olahannya dan membuatkan Sugawara mapo tofu pedas yang kebetulan makanan kesukaan Sugawara.
Hati siapa yang tidak senang dimasakan makanan kesukaan? Sepertinya Mood Sugawara sudah membaik kembali, ia sudah berhenti menatap Osamu dengan tajam.
Kedua tamu dadakan itu memakan masakan Osamu dengan lahap diruang tamu Shouyou yang kecil.
"Jadi, berapa lama Suga-san disini?" tanya Shouyou.
"Besok malam kami sudah harus pulang..." ujar Sugawara dari raut wajahnya sepertinya lelaki manis ini ingin berlama-lama, setidaknya dua hari.
"Wah, sebentar sekali... Padahal aku ingin berlama-lama dengan Suga-san dan Daichi-san."
"Iya, Sayang banget... Tapi Ibu ku harus berobat sepulang aku dari sini..." ujar Sugawara dengan nada yang sedih, karena penyakit Ibu nya yang mendadak kambuh dan dia baru mendapatkan kabar itu setiba di Tokyo.
"Gula darah bibi sering naik lagi yah?"
"Iya, apalagi Ibu minum obatnya engga teratur... Susah banget kalau dibilangin."
Daichi dan Osamu hanya diam dan mendengarkan obrolan mereka berdua.
Tidak lama kemudian terdengar suara ringtone handphone Osamu yang membuat Daichi speechless, 'Nih orang badannya gagah ko, suara handphone kaya anak Tk sih...' batin Daichi. Setelah melihat layar handphonenya, Osamu izin dulu untuk menerima telepon dari Atsamu.
"Apa?" ujarnya, lelaki tampan dengan surai abu-abu itu menduduki dirinya disofa milik Shouyou.
"Hm... Baiklah, aku akan segera kesana." Osamu pun kembali kedapur, ia mendekati Shouyou dan mengecup pipi gadis mungil itu.
"Hoi!" tegur Sugawara.
"Aku permisi dulu, ada pekerjaan yang harus aku lakukan." ujarnya.
"Iya, terimakasih untuk makannya Miya-san." ujar Daichi yang tidak perduli dengan Sugawara yang sedang mengelap pipi Shouyou dengan tisu basah.
.
.
.
.
.
"Perusahaan Kozume protes, mereka meminta semua desain diubah karena tidak sesuai dengan minat pasaran anak muda zaman sekarang. Aku marah! Itu sama saja mereka mengatai hasil kerja keras karyawan kita kuno." ujar Atsumu kepada si kembarannya yang baru saja masuk kedalam ruangan mereka.
"Bukankah asalnya mereka setuju-setuju saja..."
Atsumu mengangkat kedua bahunya, ia berjalan kemeja nya dan bersandar dengan kedua kaki di atas meja.
"Naa Samu," panggilnya kepada sang kembara. "Apakah ini hanya perasaan ku saja atau memang dari pihak Kozume seperti sedang mempersulit kita."
Ada jeda sesaat, Osamu seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum menjawab perkataan Atsumu. "Aku juga merasa begitu, kemarin-kemarin mereka protes karena bahannya tidak bagus, padahal merek kita terkena dengan kualitas bahan yang top class dan desain yang menarik..."
"Jadi, bagaimana menurutmu... Mau diteruskan?"
"Kita terpaksa meneruskannya, si Kozume itu adalah pemilik mall terbesar di Jepang... Kita bisa rugi besar kalau membatalkannya."
"Heh, menyedihkan sekali... Padahal kita ini perusahaan maju nomor dua setelah mereka, aku merasa mereka meremehkan kita... Padahal hampir semua baju klub voli lokal memakai merek kita, bahkan baju Timnas di sponsori oleh kita." ujar Atsumu dengan nada mencemoh.
"Kau benar..."
"Setelah ini, ayo kita perbesar toko utama dan membuat desain yang lebih menarik dan tidak ada di Kozume Plaza... Desain itu hanya bisa didapatkan ditoko utama..." ujar Atsumu yang terlihat sekali tengah mengeluarkan aura yang tidak nyaman.
"Iya, ayo kita lakukan itu..."
"Kenma-sama, kami sudah menyampaikan protes anda kepada Miya-san." ujar Yaku.
"Hn, kerja bagus." ujar Kenma yang tengah asik bermain Mobile Legends di handphonenya.
"Ano, Kenma-sama... Maafkan bila aku lancang, bukankah anda bilang tidak akan membawa masalah pribadi ke pekerjaan."
Kenma menghentikan kegiatannya yang sedang mengerakkan Fanny yang mengunakan skin Campus Youth, sementara. Ia menatap Yaku dengan pandangan biasa dia lakukan namun entah mengapa suasananya menjadi kurang nyaman.
"Aku pernah berkata seperti itu yah, aku lupa..." ujar Kenma. Ia kembali fokus bermain Mobile Legends.
YOU HAVE SLAIN AN ENEMY!
DOUBLE KILL! TRIPLE KILL!
MANIAC!
SAVAGE!
Waduh, dengan mudahnya Kenma Savage dalam waktu yang singkat...
Hebat memang.
"Jangan bahas itu lagi, atau ku pecat kau..." ujarnya dengan dingin.
"Maafkan saya Kenma-sama, saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya juga menyampaikan sesuatu, ada dua pria yang datang berkunjung ke apartemen Hinata-san..." Yaku pun meletakkan sebuah ampol coklat diatas meja kerja Kenma. "Kalau begitu saya Permisi dulu..."
VICTORY!
Hanya suara dari Mobile Legends di Handphone Kenma yang terdengar seperti menyahut ucapan Permisi Yaku.
.
.
.
.
.
"Apakah Suga-san dan Daichi-san lelah?"
"Tidak..." jawab Daichi.
"Ayo ke Disneyland, kita masih sempat melihat kembang api kalau pergi sekarang. Aku sedang mengajak kalian berdua kencan loh..." ajak Shouyou yang sudah siap, ia memakai dress manis berwarna biru muda.
"Kau benar, kita kesini untuk liburan... Ayo Suga." ujar Daichi sedikit bersemangat sedangkan yang diajak tengah bermalas-malasan.
"Eeeh, aku kesini cuma mau ketemu Hinata kok..." balas Sugawara dengan nada yang kentara sekali sedang mengantuk karena kekecangan makan.
"Ayo Hinata, kita tinggalkan saja dia."
"Woi!"
"Setelah melihat kembang api, kita kemana?"
"Ke Tokyo Tower juga masih sempat..."
Yah sepertinya kedua orang itu tidak memperdulikan teriakan protes dari Sugawara dan dengan terpaksa lelaki yang memiliki senyum yang manis itu mengikuti keduanya.
"Bagaimana dengan besok? Mau kesuatu tempat sebelum pulang..."
"Aku ingin membeli oleh-oleh untuk Ibu ku." ujar Sugawara.
"Bagaimana kalau kita ke Asakusa, disana banyak barang dan makanan yang bagus untuk oleh-oleh." saran Daichi.
"Okey!" sahut keduanya.
.
.
.
.
.
"Wah, antriannya cukup panjang..."
"Di musim libur seperti ini, ini masih sepi, Daichi-san. Mungkin seminggu lagi tempat ini akan penuh sesak."
Saat ini mereka tengah mengantri untuk masuk Disneyland, dan saat mengantri selalu terdengar suara bisik-bisik cewek-cewek penuh hormon. Mereka sedang menatap lapar Sugawara yang selalu terlihat bersinar dan sepertinya yang dibisik-bisikin enggak peka, ia malah seenak jidatnya aja meluk Shouyou dari belakang.
"Hinata,Daichi... Ini dingin banget loh, enak dirumah hangat..." ujar Sugawara yang dari awal emang sudah malas keluar rumah dan dia dikacangi oleh Daichi dan Hinata.
"Daichi, nanti didalam belikan aku sovenir dong..."
"Aku hanya akan membelikan buat bibi saja..."
"Eeeh..."
"Tapi aku akan membalikan mu bando rusa natal, Hinata." ujar Daichi sambil membelai kepala Shouyou lembut dan ia sukses membuat wanita disekitar mereka merasa iri, karena ia dikelilingi oleh dua pria yang menggoda iman.
.
.
.
.
.
"Tsamu, aku lapar kau yang masak makanan." ujar Osamu yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa, sedangkan yang disuruh mendecak karena sedikit kesal.
"Bukankah kemarin aku sudah! Sekarang giliran mu."
"Aku akan membelikan mu selusin puding besok..."
"Okey!"
Tidak lama setelah Atsamu pergi ke dapur, handphone Osamu bergetar karena sebuah email yang masuk, Ia membukanya. Rupanya Sugawara mengirimkan sebuah foto mereka bertiga yang sedang berfoto dengan Luffy One Piece di Tokyo Tower. Lelaki bersurai abu-abu itu tersenyum, rasanya semua bebannya terangkat. Ia pun membalas email Sugawara, dan memberi pujian betapa manisnya kekasih hatinya dan langsung bangkit dari sofa untuk membantu Atsamu.
.
.
.
.
.
"Sugawara-san, tahu hubungan Shouyou dan Osamu-san ya? Padahal dia dulu adalah orang yang paling menentang hubungan ku dengan Hinata..."
Kenma bergumam, ia sedang berendam di bathtub mewahnya.
"Apa aku harus pura-pura, kalau aku hanya ingin berteman saja dengan Shouyou?"
"Pertama-tama aku harus minta maaf dulu dengan Shouyou..." ia pun berdiri dan berjalan keluar dengan badan yang walaupun kurus tapi tetap memiliki roti sobek, jadi ayo kita mimisan masal.
Pria berambut puding itu pun melilitkan handuknya di pinggang, menutupi sesuatu yang pasti bikin kita teriak teriak alay.
Kenma mengambil handphonenya dan mencari kontak Kuroo, dan menelponnya.
"Kuroo, kau sibuk? Ayo kita bertemu..."
"Hmm, baiklah..."
"Aku akan segara kesana."
Kenma pun mencari baju yang pas untuk bertemu dengan Kuroo dilemarinya yang sangat besar.
"Oi, Kenma disini..." panggil Kuroo dari kedai udon kecil di pinggir jalan kecil dipingiran kota.
"Kenapa harus ditempat yang jauh hanya untuk minum?"
"Tapi Oden disini adalah yang terbaik di Jepang, nee Ennoshita-san..." ujar Kuroo sambil mengedipkan matanya kepada penjual oden itu dan sepertinya ia mulai mabuk.
"Kau terlalu memuji Kuroo-san, ini aku beri satu porsi oden gratis karena sudah memecahkan kasus pembunuhan sekitar ini sehingga aku bisa berjualan dengan tenang sekarang..."
"Hehehe, makasih Ennoshita-san..."
"Eee Polisi malas sepertimu bisa diandalkan rupanya..." ujar Kenma dengan nada sedikit mengejek.
"Aku ini memang bisa diandalkan tau..." Kuroo pun menuangkan sake kedalam gelas Kenma dan lelaki bersurai kuning kehitam-hitaman itu melakukan yang sama kepada sahabatnya itu.
"Kuroo, aku tidak bisa minum sampai mabuk malam ini..."
"Hm, tentu saja kau kan menyetir..."
"Besok," Kenma meminum sakenya sekali lagi sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku akan ke apartemen Shouyou dan meminta maaf numpung ada Sugawara-san disana..."
"Kenapa kau meminta maaf dan apa hubungannya dengan Sugawara?" tanya Kuroo tapi Kenma tidak menjawab dan memilih memakam setusuk oden, Kuroo pun menghela nafas karena tanggapan Kenma.
"Kenma, kau itu terlalu memaksa kan kehendak mu... Apa kau tidak lihat sekarang Chibi-chan sudah memiliki kekasih? Lagi pula itu adalah salah mu karena meninggalkan dia begitu saja apa pun alasannya..."
Kenma hanya diam sambil menatap gelas kecil yang berisi cairan bening itu, dengan pandangan yang sulit untuk di jelaskan.
.
.
.
.
.
"Jadi kalian akan pulang lebih cepat?" tanya Shouyou dengan Sugawara yang tengah sibuk memasukkan oleh-oleh dari Disneyland dan Tokyo Tower ke dalam tas nya.
"Iya, Bibi ku menelepon tadi dan bilang Ibu ku masuk Rumah sakit dan harus dirawat disana..."
"Giliran mu mandi Suga..." ujar Daichi yang baru saja selesai mandi, ia pun duduk disamping Shouyou yang tengah berpikir sesuatu.
"Aku ingin menjenguk Bibi juga..."
"Tidak perlu Hinata, Bibi pasti baik-baik saja... Kau harus masuk kuliah mu hari ini." Shouyou hanya bisa menganguk sedih karena bagaimana pun Ibu Sugawara juga sangat baik dengannya.
Tidak lama kemudian Sugawara keluar dari kamar mandi dengan memakai kemeja biru, ia terlihat terburu-buru sekali.
"Daichi kau sudah siap?"
"Sudah, ayo..."
Daichi mengambil tas dan kunci mobilnya, ia dan Sugawara pun berjalan menuju pintu dengan Shouyou yang mengikuti dari belakang, dan saat Sugawara membuka pintu mereka di kejutkan dengan kehadiran Kenma.
"Ohayo..."
"Kenma-san kau sudah kembali?" tanya Daichi dengan mimik wajah yang dipaksakan supaya terlihat ramah, sebenarnya ia juga membenci lelaki ini karena meninggalkan Shouyou dulu.
"Iya..."
"Hinata apakah tidak apa-apa kau kami tinggal sekarang..." tanya Sugawara yang tidak dapat menutupi kewahatirannya.
"Tidak apa Suga-san, Bibi sedang menunggu mu..." ujar Shouyou dengan memberikan senyuman yang dapat meyakinkan senpai favorit nya itu.
"Kami pergi dulu yah, jaga dirimu baik-baik..." ujar Sugawara sambil memeluk Shouyou dengan erat.
Setelah Sugawara dan Daichi berjalan cukup jauh dari mereka Shouyou menatap Kenma seperti bertanya untuk apa kau kemari...
"Aku mau berbicara sambil berjalan-jalan..."
"Tunggu aku mengambil jaket ku dulu."
"Sekalian ambil tas mu, aku akan mengantar mu kuliah..."
.
.
.
.
.
"Untuk yang kemarin, aku minta maaf..." ujar Kenma.
Mereka sedang menelusuri jalan trotoar yang dipenuhi dengan dekorasi khas natal yang sangat indah, pantas saja Kenma mengajaknya untuk berjalan-jalan.
"Waktu itu aku hanya terbawa emosi saja, ayo kita mulai semua dari awal sebagai teman..." ujar Kenma dengan lembut, ia berhenti berjalan dan menatap mata coklat besar itu.
"Kau mau kan berteman dengan ku Shouyou..."
Shouyou pun mengangguk sambil tersenyum manis.
"Teman..." ujar Shouyou dengan yakin tanpa sadar ada maksud lain dari sang mantan.
.
.
.
.
.
To be continued
CERITA TAMBAH HAIKYUU!
"Akan menjadi sangat bagus kalau kau tumbuh lebih tinggi saat kita bertemu lagi, Chibi-chan..." ujar Kuroo yang membuat Shouyou menjadi kesal, dengan wajah merah ia menatap Kuroo dengan berapi-api.
"Aku masih tahap pertumbuhan, Kau sialan! Aku akan membalap tinggi badan mu dalam waktu singkat, jadi Kuroo-san harus ingat perkataan ku ini!"
Kuroo pun tertegun dan sekilas ia mengingat pernah mengejek Kenma dengan kata-kata pedek tapi dia tidak pernah dapat balasan seperti ini yang ada dia hanya dapat balasan perkataan terserah dengan nada malas khas Kenma, sungguh cewek didepannya ini sangat...
MOE!
Dengan mata tajam bagaikan kucing hitam yang membuat Shouyou mengidik takut, Kuroo pun menangkap pergelangan tangan gadis itu dan menggendongnya bagaikan karung.
Dengan santainya kapten Voli Nekoma itu membawanya pergi dan seolah menulikan telinganya dengan teriakan-teriakkan Shouyou. Sampai saat ia keluar dari gym hedak membawa Shouyou pulang. Seseorang langsung mengambil alih Shouyou dari tangannya dan membawa gadis itu dibahunya.
"Ah..." desah Kuroo kecewa.
Sedangkan sang pencuri berteriak marah dari kejauhan.
"Tak akan ku biarkan kau menculik Hinata, Sialan!"
Sedikit saran untuk mu Kuroo, kalau kau ingin membawa Shouyou pulang pastikan membawa karung supaya tidak ketahuan Sugawara.
.
.
.
.
.
END
Author note:
Sebenarnya chapter ini sudah selesai dari tanggal 20 tadi, tapi berhubung saya lagi pulkam dan menghabiskan natal dengan Kakek dan Nenek :D
Dan dikampung saya itu terletak di Kalimantan Tengah tepatnya di Buntok, dan disana tidak ada jaringan kartu tri, jadi saya tidak bisa Update deh :v
Dan baru sekarang bisa Update lagi...
Dan saya ingin mengucapkan :
Semoga dunia Ini selalu dipenuhi dengan kehangatan dan cinta natal. Semoga di tahun baru yang akan datang kita semua diberkati.
SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU.
.
.
.
.
.
Do not Forget to Review
