CHAPTER 10

ITS HARD TO LET YOU GO

(NC PART INCLUDE)

"Kepalamu tidak demam" kataku sambil menempelkan kompres padanya.

"Yang benar?, tadi aku merasa kepalaku sangat berat dan panas" balasnya mencoba meyakinkanku, tentu saja aku tidak bodoh ia hanya pura-pura agar aku berada didekatnya.

"Baiklah kalau begitu kau ke dokter saja besok" kataku kesal sambil mencoba pergi, ia menahan tanganku.

"Aku akan sembuh kalau kau yang merawatku"

"Ah kau ini menyebalkan, kau akan tambah sakit jika kurawat" ujarku kesal.

"Aku ini sedang sakit kenapa kau masih menyebalkan?" balas yunho kemudian. Ia lalu melanjutkan

"Aku mengemudi sampai hampir menabrak diriku sendiri karena takut tidak akan menemukanmu lagi di rumah, apa kau tidak khawatir padaku?"

"Aku tidak menyuruhmu berbuat demikian"

"Jae!…"

Aku mengambil baskom es keluar ruangan, menghela nafas panjang lalu terduduk di sofa, entah mengapa hatiku sakit sekali, bukan karena pertengkaranku dan yunho tapi aku tidak mengerti mengapa aku tidak bisa menghentikan rasa kesalku terhadapnya.

"Kau kenapa?" Tanya Yunho yang tiba-tiba sudah duduk disampingku.

"Aku tidak apa-apa" kataku sambil memaksakan senyum dan bangkit dari sofa sebelum pria didepanku itu berlutut.

"Maafkan aku" ujarnya

"Berdirilah, aku tidak memintamu berlutut".

"Aku mohon maaf untuk segala perbuatanku padamu, aku tidak tahu bagaimana mengambil hatimu lagi, tolong maafkan aku sekali ini saja" lanjutnya

Aku menghela nafas.

"Kenapa kau sangat menyukaiku? aku egois, tidak melakukan tugasku sebagai istri, aku bertindak semauku, kenapa kau masih menyukaiku?!" tanyaku

"Karena kau Kim Jaejoong…kau yang membuatku ingin berada disampingmu".

"Omong kosong apa itu. Kau punya segalanya yang akan membuatmu bosan padaku. Aku benci pria sempurna sepertimu!". Ucapku kesal

"Aku hanya ingin disampingmu"

"Aku tidak mudah terharu, jika boleh jujur aku juga menerimamu bukan karena aku suka padamu tapi karena aku harus menyelamatkan keluargaku, kau tahu itu kan?".

"Aku tahu"

"Tapi itu bukan berarti kau bisa bertindak seenaknya padaku, kau tahu aku ini tidak suka dipermainkan"

"Aku tahu, maafkan aku" ujarnya lagi sambil menunduk, aku pun jadi kasihan padanya namun aku tak ingin semudah itu memaafkannya.

"Aku ini miskin tapi harga diriku sangat tinggi, sangat tinggi sampai kau tidak mampu menjangkaunya, aku tidak akan membiarkan orang yang akan merendahkan harga diriku" kataku kemudian sambil berdecak pinggang, aku merasa menang darinya.

"Iya, aku tahu itu" katanya dengan wajah tenangnya yang membuatku jadi kesal.

"Berdirilah bukankah kau sedang sakit?"

"Ah kurasa lututku keram" ujarnya dengan sedikit kesakitan

"Jangan banyak alasan cepat berdiri!"

Ia lalu berdiri dan melangkahkan kakinya ke pintu

"Hei Kau mau kemana?"

"Bukankah kau tidak ingin melihatku?" ujarnya

"A-apa? aku...aku" ujarku gelagapan

"Kalau begitu boleh aku tetap disini?"

"Yah kau ini sedang sakit, mana boleh kau keluar sembarangan malam-malam!"

Yunho tersenyum lalu dengan seketika ia memelukku.

"….."

"….."

Momen panjang saat kami berdua tidak berkata apa-apa, aku tiba-tiba sedih sekali.

"Apa kau tidak akan sedih jika kehilanganku?" tanyanya yang membuatku menggeleng.

"Kau tidak bisa memaafkanku sampai rela berpisah denganku?" tanyanya kemudian yang membuatku menggeleng kepalaku lagi

Ia kemudian memegang wajahku yang mulai berurai air mata.

"Kau masih mencintaiku kan?"

Aku mengangguk

"Aku mencintaimu Jae, aku tidak ingin melepaskanmu walaupun kau benci padaku"

"Kau pembohong"

"Aku janji tidak akan membuatmu bersedih lagi, aku janji...kau bisa memukulku sampai mati dan membuangku ke jalan kalau aku mengecewakanmu lagi"

"Mana bisa begitu, aku akan ditangkap polisi"

"Berikan aku kesempatan untuk membuktikan kesungguhanku" katanya memohon.

"Baiklah"

"Dan jangan pernah berpikir untuk berpisah denganku karena aku akan menangkapmu lagi ke dalam pelukanku"

Aku mengangguk pelan kemudian ia menciumku.

oOo

Kami lalu melanjutkan ciuman kami diatas ranjang dengan lebih intens, lidahnya mengulumku dengan sangat kuat, tak berapa lama kemudian ia melepaskanku sambil menempelkan dahinya didahiku.

"Jae kau mungkin akan memukulku tapi aku ingin melakukannya denganmu sekarang" ujarnya dengan nafas yang tersenggal-senggal menahan hasratnya yang mengebu-gebu.

"Baiklah" jawabku singkat.

Ia seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar lalu ia bertanya ulang untuk memastikan.

"Kau sungguh-sungguh?...kau mau melakukannya?"

"Iya, asal kau harus melakukannya pelan-pelan" balasku yang kemudian disusul oleh ciuman bertubi-tubi darinya.

.

.

.

Sebelum melakukan malam pertama kami, kami membasuh diri kami berdua di kamar mandi, mataku tidak dapat menatapnya karena malu apalagi saat ia mengoleskan sabun ke seluruh tubuhku dengan penuh semangat..

"Hei jangan malu, kau punya tubuh yang indah" ujarnya berbisik di telingaku yang semakin membuat wajahku semakin merah, matanya terus menerawangi tubuhku.

"Si—siapa yang malu!" teriakku kesal padanya, ia malah tertawa padaku

"Kau lucu sekali"

Ia kemudian membalikkan badanku menghadap dinding, ia menyabuniku dari belakang sambil menciumiku, lama-kelamaan ia meraih juniorku dan mengolesinya dengan sabun.

"Ah! Hei apa yang kau lakukan!"

"Sshhh kau diam saja"

Aku menutup mulutku saat juniorku digosok-gosok dengan tangannya yang licin, belum lagi yunho merapatkan tubuhnya denganku menempelkan juniornya yang perlahan membesar ke belahan pantatku, di geseknya perlahan seirama dengan aksi tangannya meremas juniorku

Kepalaku mulai pusing, aku tidak bisa fokus, hanya bisa mendengar desahan keluar dari mulutku yang tidak disengaja.

"Ayo kedalam" ujarnya berbisik, yunho sepertinya sudah tidak tahan untuk beraksi di ranjang.

Setelah membasuh bersih tubuh kami berdua Ia menarik tanganku dan membaringkanku diranjang, menyuruhku agar rileks namun ketegangan luar biasa menyelimutiku bak prajurit yang siap melawan di medan perang..

Ia menciumku bertubi tubi seperti tidak akan melihat hari esok, lidahnya menjamah seluruh bagian tubuhku tak tersisa, tubuhku dibalikan kemudian ia menciumiku lagi sambil tangannya memelintir nippleku yang merekah, kakiku kelu saat juniornya bergesekan dengan pantatku

"Aarghh Yunho tunggu!"

Suaraku tak didengarnya, ia membalikkanku lagi lalu menciumku, menghisap leherku kuat-kuat sambil jari-jarinya beraksi di balik selangkanganku.

"Hnggg...nnn"

Aku meringis saat benda tumpul menembus lubang pantatku, karena sakit sekali aku menamparnya kuat-kuat, ia menahan tanganku sambil jarinya terus beraksi.

"Yunho…nnnggg hentikan, sakit sekali!"

"Tahan sebentar Jae…ah…ini sebentar lagi"

Ia meraih cairan pelumas dan mengeluarkan hampir separuh isinya ke tangannya sebelum mengorek-ngorekku lagi dengan dua jarinya.

"AAAHHH!"

Aku meraih bantal dan kugigit sekuat tenaga, ia memintaku untuk santai tapi tubuhku tidak bisa berkompromi, rasanya benar-benar sakit seperti ditusuk berkali-kali.

Ia kemudian mengangkat kedua kakiku dan memasukkan juniornya yang sudah tegak kedalam lubang pantatku.

"Ngghhh hentikan!" protesku sambil menekan wajahnya.

"Aku tidak mau"

Yunho kian mendorong pahaku kebawah untuk melawan juniornya yang dipaksa masuk ke lubang pantatku

"Yah Yunho!...Aaarghhh, jangan!"

Aku tidak henti berteriak sampai tenggorokanku kering dan mata berkunang-kunang saat kusadari juniornya sudah sepenuhnya masuk di dalamku.

"Jae kau bisa merasakannya?" Tanya Yunho dengan nafas tersenggal di telingaku.

"Tentu saja, kau bodoh! Sakit tahu!" kataku sambil mencoba melayangkan tinjuku ke wajahnya tapi ia dengan cepat meraihnya dan menekan tanganku

"Kau tidak mau diam ya Jae"

"Yah Yunho kau!"

Bibirnya membungkam bibirku. Jari-jari kami saling bertautan, perlahan-lahan suhu tubuh kami meninggi dengan Juniornya yang perlahan bergerak-gerak di dalam tubuhku, kakiku terangkat sendiri dan aku mendekapnya dengan kuat .

"Nggg…nggghh"

Aku tak kuasa menangis merasakan semua rasa nyeri itu, yunho kembali menciumku sambil menggerakan bagian bawah tubuhnya dengan lebih cepat. Juniornya kian membesar dan kian dalam.

Hampir setengah jam ia menggenjot bagian bawahnya padaku dengan berbagai posisi, aku sampai lupa berapa kali tubuhku berganti posisi untuk memuaskan hasratnya yang tak kunjung padam.

"HAAHHH!" Yunho berteriak sesaat sebelum jatuh lemas ke pundakku, cairan putih meleleh di sekitar pantatku, kami lantas berciuman dengan lembut untuk mengungkapkan rasa sayang kami terhadap satu sama lain.

"Jae kau luar biasa" bisiknya ditelingaku sebelum ia tertidur dan mulai mendengkur.

"Yah! kau mau mati! Keluarkan dulu Pe**smu dari tubuhku!"

oOo

Waktu berlalu dengan sangat cepat saat kusadari kami telah melewati satu hari dengan berbaring ditempat tidur, Yunho masih tertidur pulas layaknya bayi, jari-jariku menyingkap rambutnya yang berantakan untuk memperhatikan wajah yang telah membuatku tergila-gila padanya.

"Hei kau sudah bangun?" ujarnya mengejutkanku, ternyata dari tadi ia sudah terbangun tapi pura-pura tidur..

"Kau seperti kerbau". Kataku.

"Aku tahu kau memperhatikanku, pesonaku tidak bisa dilewati begitu saja, iya kan?" katanya yang langsung membuatku mencubit lengannya yang berotot.

"Bangunlah, carikan makan untukku…aku lapar"

"Aku akan mentraktirmu makan, kita keluar yuk"

"Aku tidak bisa, tubuhku sakit sekali, kau belikan aku saja"

"Baiklah…Hoooaaam"

Yunho pura-pura menggeliat kemudian ia mengambil pinggangku dan membaringkan tubuhku.

"Jae kita harus mencobanya lagi" ujarnya sambil menciumiku.

"Bulan depan ya" kataku dengan santai, matanya langsung terbelalak

"Yah! Pengantin baru akan melakukannya setiap hari" protesnya

"Aku tidak mau, itu sangat sakit sekali"

"Kalau begitu seminggu 5 kali, kau bisa istirahat dua hari" ujar Yunho

"Itu masih terlalu banyak, sebulan 2 kali saja, itu pun jika kau tidak menyebalkan"

"Yah mana bisa begitu, 4 hari seminggu" yunho protes lagi

"Baiklah 2 minggu sekali titik, kalau kau tidak mau kita ganti jadi sebulan sekali"

"Ah baiklah sebulan dua kali tidak terlalu buruk" kata Yunho buru-buru walaupun kelihatan ia tidak rela.

"Kau manis sekali" kataku sambil menempelkan hidungku dihidungnya, ia lalu memegang wajahku dan mencium bibirku.

"Jae, aku sudah tidak sabar untuk memiliki rumah besar dengan anak-anak kita berlarian di dalamnya…Aku akan sungguh-sungguh belajar agar kelak bisa jadi dokter" katanya lagi sebelum menciumku lagi.

"Baguslah agar aku segera bisa memakai uangmu"

"Kau ini!"

Kami berpelukan, seharian ini kami menghabiskan waktu diranjang mencandai satu sama lain.

"Bagaimana denganmu kau akan kuliah dimana?" Tanya Yunho, jari-jariku menari diatas lengkungan otot tubuhnya yang membentuk, tipe pria seperti dirinya yang tidak kusuka, sudah kaya, tampan, playboy juga punya tubuh bagus, benar-benar dunia tidak adil.

"Yunho aku sepertinya tidak akan meneruskan kuliah" jawabku kemudian

"Kenapa? Kalau soal uang keluargaku yang akan membiayaimu"

"Aku ingin bekerja, aku ingin menghasilkan uang untuk Umma dan Junsu"

"Mereka bisa mengurus dirinya masing-masing".

"Aku tidak usah khawatir karena aku punya dirimu yang akan mengurusku tapi Junsu dia tidak akan bisa kuliah karena orangtuanya tidak bisa membiayainya belum lagi ia harus membantu merawat adik-adiknya yang masih kecil"

"Apa kau tidak ingin pergi ke kampus bersama denganku? Akan menyenangkan jika kita bisa pergi dan pulang bersama-sama"

"Aku tidak bisa sekampus denganmu lagipula dengan nilaiku sekarang mustahil aku masuk ke universitas pilihanmu"

"Kau bisa masuk universitas yang dekat dengan kampusku"

"Aku sudah bosan belajar…lagipula untuk apa aku belajar toh aku punya dirimu, ya kan?"

"Ya itu masuk akal karena kau akan jadi istri dokter dan pengusaha terkenal nanti, kau tidak perlu bekerja keras"

"Pasti semua wanita akan mengejarmu, menyebalkan…awas kalau kau coba-coba bermain di belakangku"

"Memangnya aku berani, kau kan galak"

"Tentu saja"

"Bagaimana dengan anak?"

"Lebih baik kita menundanya sampai beberapa tahun lagi, aku masih ingin bermain-main, kalau aku punya anak aku tidak bisa menemani junsu bekerja" kataku.

"Baiklah, aku juga ingin menundanya setidaknya sampai kuliahku tingkat akhir, kita akan bersabar sampai semuanya siap"

"Iya"

Yunho lalu memelukku lagi seperti guling sambil menciumiku, aku sebenarnya hanya ingin cuddling seperti ini dengannya namun sepertinya lelaki disebelahku ini otak mesumnya tidak pernah berhenti, entah bagaimana caranya ia sudah membuatku menggeliat seperti cacing kepanasan dengan sentuhannya dan yang lebih parahnya aku membiarkan pantatku dibobolnya lagi untuk kedua kalinya.

OoO

Karena Yunho belum juga pulang aku mencari-cari makanan di kulkas seperti tikus, aku lapar sekali karena seharian ini kami belum makan apa-apa karena waktu kami habis di ranjang seperti kelinci.

Tak lama kemudian ia datang dengan membawa beberapa orang, semua memberi salam padaku, aku mengenal mereka semua, sahabat-sahabat Yunho serta Junsu ada disini.

"Kau, bagaimana Yunho bisa menghubungimu?" tanyaku seketika pada Junsu yang datang bersama Yoochun dan Changmin

"Aku yang menelepon Chunnie agar menjemputnya kesini" balas Yunho sambil meletakkan bawaannya ke meja.

"Memangnya untuk apa ia mengundang kalian semua?"

"Sepertinya ia ingin merayakan kesuksesannya telah tidur denganmu" canda Changmin yang langsung membuka pizza.

"Yunho janji pada kami akan mengadakan pesta jika tidur denganmu" ujar Yoochun yang diiyakan oleh changmin.

"Wah kau harus seperti ini setiap tidur dengannya" canda Junsu

"Kau sudah baikan sayang?" Tanya yunho lembut padaku, ketiga orang yang memperhatikan kami serentak tertawa melihat tingkah kami.

"Duh yang sekarang sedang mesra bikin iri saja" seru changmin

"Asal besok jangan ada pengumuman perang lagi saja" ujar Junsu menyela yang disambut tawa yang lainnya.

"Ah kau menyeballkan, kenapa membawa mereka kemari!" kataku sambil menyikut Yunho.

"Aku juga menyesal" balas Yunho lalu menciumku.

"Hei! masih ada kami disini jangan mesra-mesraan didepan kami". protes Changmin dengan mulut penuhnya.

TOS!

Gelas kami bersentuhan, rasanya menyenangkan bisa berkumpul seperti ini, dulu kami adalah dua kelompok yang saling bermusuhan, siapa sangka kali ini kami bisa duduk berbarengan dengan damai seperti ini.

"Yah Yunho bagaimana rasanya bercinta dengannya apakah memuaskan?" Tanya Yoochun menyelingi acara makan-makan kami.

"Iya, lebih hebat daripada bercinta dengan wanita, kau harus mencobanya juga Chunnie-ah" canda Yunho padanya.

"Benarkah? Hei Jun, bagaimana jika kita mencobanya?" Ujar Yoochun sambil merangkul pundak Junsu, sahabatku itu pun langsung tersedak.

"Apa kau gila!, untuk apa aku coba-coba tidur denganmu, kau coba tidur saja dengan Changmin!"

"Aku tidak mau, ia itu bukan manusia, lagipula badanmu lebih menarik" balas yoochun sambil melihat bagian bawah belakang Junsu, ia benar-benar playboy kelas kakap seperti Yunho..

"Hei kau berani merusak junsu ku akan kupatahkan lehermu!". Seruku

"Wah Junsu aku lupa kau punya bodyguard, kalau begitu lain kali saja, nanti kutelepon ya"

"Yah awas kau, berani mengganggunya!"

Aku langsung meraih leher Yoochun dan seperti hendak mematahkannya, semua tertawa melihat kami.

Kami semua hari itu bercanda dan tertawa sampai lelah, kami lalu bercerita tentang rencana kami kedepan setelah kami lulus. Yoochun, Changmin, dan Yunho sepakat akan meneruskan kuliah, Yoochun bahkan akan kuliah keluar negeri sedangkan Junsu lebih memilih untuk bekerja demi membantu keluarganya.

Tentu saja karena kami masih muda, masih banyak angan-angan kami kedepan namun siapa tahu apa yang akan menghadang kami dalam perjalanan menuju masa depan.

Setahun kemudian

Mobil Yunho berhenti di depan sebuah karaoke bar, sebelum aku hendak keluar ia memberiku ciuman perpisahan

"Kau mau kujemput jam berapa?" tanyanya

"Aku akan meneleponmu, aku takutnya disuruh lembur" ujarku

"Baiklah, jaga kesehatan dan jangan kerja yang berat-berat ya"

"Iya, kau juga belajar yang rajin!"

"Baik bos"

Ia menciumku lagi sebelum pergi

.

Di tempat karaoke

Aku baru saja sampai ke ruang loker disana sudah terjadi kehebohan, Junsu sedang diinterogasi oleh pemilik karaoke tempat kami bekerja.

"Kau kusuruh menyiapkan stok makanan untuk hari ini kenapa kau tidak melakukannya?! Bagaimana kita bisa menjual menu kita hari ini kalau begini?" ujar pemilik tempat kami bekerja pada Junsu.

"Maafkan aku, kemarin malam aku harus mengantar adikku ke rumah sakit" jawab Junsu

"Alasan saja, kau memang selalu kerja tidak benar!" teriak pemilik restoran sambil mengayunkan tangannya tapi aku segera menahannya.

"Hei lepaskan tanganmu darinya!" ujarku menyela, pria gemuk itu nampak tidak senang dengan kehadiranku.

"Kau berani melawanku!"

"Walaupun ia bersalah bukan berarti ia pantas ditampar, ia sudah mengaku salah, kenapa kau masih ingin memukulnya?!"

"Masalahnya karena ia selalu kerja tidak benar, kau pikir aku membayarnya untuk melakukan kesalahan!"

"Ayo pergi Jun kita tidak perlu kerja disini" kataku kesal sambil menarik tangan Junsu namun ia melepaskan tanganku.

"Aku harus terus bekerja Jae" katanya

"Yah kau ini bodoh apa? Untuk apa kerja di tempat yang tidak menghargai kita?"

"Tapi aku harus tetap kerja" jawabnya tidak menghiraukan ajakanku untuk pergi.

"Karena kesalahan si otak bodoh ini ia harus bekerja 2 hari tanpa digaji, kalau tidak aku tidak akan mengeluarkan gaji kalian untuk bulan ini" ujar bos kami lagi dengan nada tinggi.

"Bagaimana kau bisa begitu?!"

"Sudahlah Jae, kita mengalah saja" ujar Junsu dengan wajah memelas lalu ia mengiyakan semua cercaan yang diberikan padanya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Istirahat siang

Saat jam makan siang aku terus saja mengomel pada Junsu

"Kau ini kenapa mau saja dicekoki oleh pria seperti itu?"

"Aku butuh uang untuk keluargaku; tidak seperti dirimu kau bisa keluar masuk kerjaan manapun dengan mudah, bahkan kau tidak perlu kuatir jika tidak bekerja"

"Aku tahu tapi bukan berarti kau diam saja jika hendak dipukul" kataku.

"Aku hanya tidak ingin kehilangan pekerjaan"

"Ya sudahlah kali ini aku memaafkannya, jika kulihat ia melayangkan lagi tangannya padamu aku tidak akan tinggal diam"

"Iya terserah dirimu saja" sahut Junsu.

"Ah coba kalau kita punya kerjaan bagus pasti kita tidak akan direndahkan seperti ini"

"Memangnya kerjaan bagus apa yang cocok untuk kita, kita kan hanya lulusan SMU, keahlian lain pun kita tidak punya" ujar Junsu

"Ya itu dia, kakakku sampai rela dipukuli demi menjadi penagih hutang dengan bayaran yang lumayan"

"Aku tidak mau bekerja seperti itu…"

"Haah coba kalau kita punya sedikit uang, kita bisa berjualan di jalan"

"Bagaimana kita bisa menabung, Adikku saja masih menunggak uang sekolah, apalagi Junho sekarang sakit" ujar Junsu dengan wajah sedih, adiknya yang kedua barus aja mengalami kecelakaan karena ditabrak seseorang pada saat menyebrang jalan.

Tanpa sengaja mataku melihat lembaran poster dimeja yang kami duduki.

"Bagaimana kalau kita ikutan ini?" ujarku sambil menunjukkan selebaran lomba karaoke di tempat kami.

"Untuk apa kita ikut lomba menyanyi? lagipula pegawai seperti kita tidak boleh mengikutinya"

"Ah boleh saja, itu biar kuatur"

"Tapi untuk apa kita mengikutinya?"

"Tentu saja untuk mendapatkan hadiahnya…lihat disini tertulis kalo juara tiga saja kita bisa menutup biaya sekolah adikmu selama dua bulan dan membeli tongkat untuk Junho, dengan begitu kita akan bisa menabung untuk usaha kita sendiri"

"Iya tapi memangnya kau akan menang kalau mengikutinya?"

"Tentu saja, suaraku ini cukup bagus…kita kan selalu karaokean jika sepi, aku juga punya wajah menarik, para juri pasti akan menyukaiku"

"Yaah...percaya dirimu ini tinggi sekali, hati-hati nanti sakit sekali kalau jatuh"

"Baiklah Junsu…kita akan mengikutinya!" kataku dengan penuh semangat.

"Kau memang gila!"

oOo

Reader yang baik selalu meninggalkan jejak

Buat FF sebelah nanti dulu ya update ya