Sesuai janji, update habis lebaran, hehehe...

Silahkan dinikmati


Memulai sesuatu kadang terasa sangat sulit daripada menjalaninya. Timbul kekhawatiran yang tidak perlu, juga rasa takut pada sesuatu yang tidak pasti. Itulah yang dirasakan Gaara. Rasanya seperti kehilangan hasil save bermain game sehingga harus memulainya lagi dari awal. Ia dan Naruto mundur jauh, terlalu jauh dari hubungan mereka sebelumnya. Sampai saat ini ia masih belum bisa membiarkan Naruto menyetubuhinya.

Ia sudah tidak merasa takut bersentuhan dengan orang lain, namun tetap saja rasa trauma itu masih bersisa.

Andai masalahnya tidak begitu serius, ia mungkin akan tertawa melihat Naruto kembali mengalami mimpi basah secara rutin. Tentu saja sebelumnya karena rutin berhubungan dengan Gaara, sudah sekian tahun Naruto berhenti mengalami mimpi basah.

Ia merasa bersalah tapi juga kagum dengan rasa sabar Naruto.

Meski tentu saja, ia juga mulai merindukan sifat mesum Naruto yang biasanya tak bisa dikontrol. Gaara bahkan sudah lama berhenti meminum obat anti kesuburan miliknya, sudah siap untuk dihamili Naruto kapan saja.

Tapi... trauma secara mental memang tak semudah itu sembuh...

Sayangnya, yang frustasi bukan cuma Naruto...

Ya, andai saja Gaara tahu.

IoI

"Tadaima!"

Ucapan yang selalu Naruto katakan ketika pulang bekerja sebagai Hokage yang melelahkan, yang biasanya akan selalu disambut ucapan manis 'okaeri' dan bonus ciuman malu-malu di pipi dari sang istri atau pelukan kecil dari sang buah hati kini hanya disambut keheningan.

"Kaa-san? Ryuuki?" Naruto memanggil istri dan anaknya, ia harus berusaha membiasakan diri untuk tidak memanggil nama Gaara di rumah, karena sang buah hati sudah pandai diajak bicara. Ia masuk dengan perasaan khawatir. Tidak mungkin kan mereka diculik...lagi?

Naruto segera masuk melesat ke dalam rumah dan menghampiri kamar Ryuuki lebih dulu.

Kekhawatirannya berkurang saat melihat anak semata wayangnya itu tertidur pulas di tempat tidur kecilnya.

Apa hari ini Ryuuki main sampai kelelahan jadi tidur lebih cepat?

Naruto mencari sosok sang istri di dapur dan merengut ketika tak melihat satu piring pun makanan ada di meja. Bertahun-tahun menikah dengan Gaara membuatnya terbiasa disambut dengan makan malam setiap pulang ke rumah. Ada apa ya? Apa Gaara sakit?

Naruto langsung berlari menuju kamar dan membukanya dengan tergesa-gesa.

"Gaara! Kau ti-"

Dan ucapannya mengambang di udara ketika melihat bagaimana keadaan Gaara sekarang.

Seseorang berambut pirang dengan sembilan ekor oranye seperti tengah memerangkap Gaara dengan kedua kaki dan tangannya.

"Oh... kau sudah pulang?" suara itu juga familiar. Saat menoleh Naruto bertemu dengan sepasang mata berwarna merah dengan pupil tajam.

Sementara Gaara tak bisa bicara karena mulutnya disumpal dengan chakra berbentuk ekor.

"Ku...Kurama? Bagaimana...?" Naruto tak bisa menyelesaikan perkataannya saking syoknya.

Kurama menyeringai khas rubah, pandangan matanya yang tajam dan sedikit dingin membuat Naruto memucat dan bersiap mengambil ancang-ancang. Kurama sekali pun, ia tak akan membiarkan rubah mesum itu menjamah Gaara!

"Karena kalian mulai membuat kami frustasi... jadi tinggal mencuri sebentar chakra kalian untuk membuat kagebunshin yang lebih padat supaya kami bisa keluar," jawab Kurama dengan santai.

"... kami? Kalian?" Naruto tentu sadar dengan penggunaan kata subjek jamak.

"Ya... kami..."

Naruto segera menoleh ke belakang dan bertemu dengan sosok Gaara yang lain... uhm, Shukaku? Mata berwarna emas lengkap dengan telinga dan ekor yang terbuat dari pasir.

Seperti Gaara namun auranya begitu berbeda, Naruto mengambil langkah mundur. Jujur ia lebih terbiasa menghadapi Kurama dibanding Shukaku, si monster rakun itu lebih jarang keluar. Terakhir kali Naruto berhadapan dengannya hanya saat ketika masa kawin bijuu dulu.

Tenang... tenang... sekarang yang penting adalah menyelamatkan Gaara dulu.

Pakaian Gaara yang sudah terbuka dan berantakan serta selangkangannya terbuka lebar membuat alarm di kepala Naruto berdering sejak tadi. Ia tahu Kurama itu mesum kuadrat, sama seperti dirinya, tapi tak pernah menyangka ia tega melakukan hal seperti ini.

"Lepaskan Gaara!" hardik Naruto berbalik untuk menatap Kurama dengan marah.

"Tenang saja... aku cuma akan bermain sedikit dengan istrimu. Salah sendiri kalian membuatku frustasi," kata Kurama, mencium leher Gaara dengan mata jahil.

Naruto siap untuk menerjang namun tiba-tiba sekumpulan pasir menggelung badannya dan menariknya ke lantai. Ia kemudian berhadapan dengan Shukaku yang memandangnya dengan pandangan yang... oh sial, seperti anak kecil yang senang menemukan mainan baru.

Ia tahu Gaara sangat menakutkan saat marah, Gaara juga bisa mendominasi bila ingin. Namun, pandangan yang Shukaku berikan padanya melebihi semua itu.

Dan itu membuat Naruto takut dengan apa yang akan terjadi pada tubuhnya.

"Tenang dan lihat saja, kau bermain denganku sebentar...," katanya, menarik dagu Naruto.

Perasaan Naruto sangat kompleks, Shukaku memang menggunakan kagebunshin tubuh Gaara namun Naruto tahu dia bukan Gaara.

"Lepaskan!" Naruto berusaha melawan namun pasir yang mengelilingi tubuhnya justru mengekangnya lebih kuat.

"Jangan memberontak, aku tak keberatan menghancurkan beberapa tulangmu supaya kau bisa diam," ancam Shukaku membuat Naruto berkeringat dingin.

"Hei bocah, kusarankan kau turuti saja apa katanya. Shu bisa sangat menyeramkan kalau ia marah," saran Kurama sambil tertawa kecil.

Naruto segera menghentikan pemberontakannya dan berusaha untuk tenang. "Kalian sebenarnya mau apa?" tanya Naruto.

"Cuma ingin bermain-main dan mendorong kalian agar menyudahi 'permainan kecil' kalian," jawab Shukaku. Naruto berusaha untuk duduk meski tangan dan dadanya digelung oleh pasir. Ia menatap kedua monster yang mencuri wujud dirinya dan Gaara dengan tajam.

"Tenang... aku tak akan melukai istrimu tersayang," kata Kurama.

Naruto bersiap untuk protes lagi sebelum pusaran pasir menutup mulutnya.

"Dia berisik sekali," kata Shukaku membuat Kurama tertawa.

"Kau tak tahu seperti apa rasanya mendengar pikirannya setiap hari," balas Kurama. Sang bijuu ekor sembilan kemudian beralih pada 'mangsa'nya yang ada di bawah tubuhnya.

Harus ia akui, selera Naruto tidak buruk. Bijuu sepertinya tak peduli soal gender, jadi ia tidak peduli Gaara itu laki-laki tapi memang Gaara itu sangat 'menggiurkan'. Seandainya saja Shukaku lebih submissive seperti Gaara, mungkin hidupnya akan lebih mudah.

"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Shukaku dengan mata tajam.

"Tidak...," Kurama berbohong. Yah, pasangannya itu memang mengerikan.

"Hmmph... hmpph...," Gaara berusaha memberontak namun ekor-ekor Kurama membelit kedua tangan dan kakinya, bahkan mulutnya pun disumpal.

Mimpi apa ia tadi malam? Saat hendak menyiapkan makan malam tiba-tiba Kurama muncul dan menangkapnya seperti nelayan menangkap ikan.

"Nikmati saja... tak perlu tegang begitu," kata Kurama dengan lembut namun hal itu justru membuat Gaara semakin takut.

"Aku janji yang memasuki 'lubangmu' hanya suamimu yang bodoh itu," bisik Kurama ke telinga Gaara.

Hal itu membuat Gaara sedikit tenang, namun juga takut. Karena itu masih berarti Kurama bisa bermain-main dengan tubuhnya semaunya.

Gaara sangat ketakutan namun karena tak bisa bergerak ia tak bisa melawan saat berat tubuh Kurama menekan tubuhnya. Selangkangannya yang terbuka lebar pun membuatnya panik.

"Untuk menghilangkan trauma, kalau tidak bisa dengan cara lembut, harus dengan cara paksa," kata Kurama sambil menyeringai lebar.

Itu istilah ngaco darimana?

Namun Gaara tak bisa melawan saat ekor yang ada di mulutnya digantikan oleh bibir Kurama. Meski memakai tubuh kagebunshin Naruto, tapi dari cara menciumnya saja Gaara bisa mengetahui kalau ia memang beda dengan suaminya. Lebih kasar dan ganas, taringnya yang tajam tak segan mencabik dinding mulut dan bibir Gaara hingga berdarah. Naruto seagresif apapun tak pernah melakukan itu.

Tapi, ciuman itu memabukkan. Meski enggan, Gaara luluh di bawah ciuman itu. Bibir dan mulutnya memang sakit namun badannya jadi panas.

"Meski kau takut, tubuhmu juga sebenarnya sama frustasinya dengan si bocah itu. Kau hanya terlalu takut untuk menyadarinya," kata Kurama, menjilat darah yang mengalir dari bibir Gaara.

Gaara tak mampu mengatakan apapun. Ia hanya memekik pelan saat kaus yang ia gunakan di tarik lebih jauh ke atas dan menampakkan dadanya.

"Lihat, belum disentuh pun sudah tegang," kata Kurama, menarik puting susu Gaara.

Gaara hanya mampu mengerang, tubuhnya seperti di aliri listrik kenikmatan dan badannya makin panas. Penisnya dengan cepat menegang. Meski ia masih takut, ia tak mampu menolak rasa nikmat ketika Kurama menyentuh tubuhnya. Sosoknya yang seperti Naruto membuat semuanya makin mudah.

Sementara sang istri sedang terbuai dengan rasa nikmat, Naruto hanya mampu memandangnya dengan mata terbelalak tanpa mampu mengedip.

Ia sedikit merasa... terkhianati. Tapi, ia juga malu menyadari celananya makin ketat melihat keadaan Gaara juga mendengar erangannya.

Namun, ia melonjak ketika Shukaku duduk di pangkuannya, begitu dekat dengan bagian celananya yang menggembung.

Shukaku tak mengatakan apapun, hanya menyeringai. Pasir yang membungkam mulut Naruto perlahan terlepas. Sang bijuu rakun kemudian menggigit dan mencium bibir Naruto, tak begitu keras namun membuat darah beberapa tetas mengalir.

Meski enggan, Naruto akhirnya merespon. Ia kenal betul dengan bentuk mulut ini, deretan gigi yang rapi dan bibir yang lembut itu, namun rasanya berbeda. Shukaku menciumnya seperti kelaparan, menghisap lidahnya dengan kasar. Tubuhnya yang bergerak-gerak di pangkuan Naruto membuat si pirang tak bisa mengontrol tubuhnya.

"Aku kagum, si rubah tolol itu bilang kau sama mesumnya dengan dirinya namun kau mampu menahan dirimu selama ini? Memang tidak punya otak atau terlalu baik?" tanya Shukaku padanya. Naruto hanya memandangnya dengan wajah masam.

Meski memakai tubuh Gaara, ternyata memang beda.

"Nah, perhatikan istrimu baik-baik dan nikmati saja pertunjukannya," kata Shukaku, menggeser sedikit tubuhnya agar Naruto bisa melihat Gaara yang ada di tempat tidur.

"Ngh... ah... hmm...," Gaara mendesah dengan penuh nikmat, Kurama menghisap dan mengigit lembut puting susunya. Membuatnya keras kemudian perlahan membengkak karena terus dimainkan. Rasanya sedikit sakit namun penis Gaara semakin tegang dan mulai meneteskan precum.

"Tubuhmu sensitif sekali, masa iya kau bisa datang hanya dari putingmu dimainkan?" kata Kurama, menarik kedua puting Gaara setinggi mungkin.

"Aaahh!" Gaara mengerang namun penisnya semakin basah tak terkendali. Kurama melepaskan puting susunya, puas melihat keduanya berdiri dengan tegak dan membengkak.

Sementara tangan Shukaku membuka risleting celana Naruto, membebaskan penis yang sedari tadi terperangkap. Naruto mendesah, merasa lega karena penisnya terbebaskan namun tersentak saat Shukaku memijat penisnya.

"Uugh..," Naruto mengigit bibirnya, menahan agar desahan tak keluar.

Naruto melihat Kurama beralih ke selangkangan Gaara yang sedari tadi sudah bebas dari pakaian. Penis Gaara yang tegak dan basah tak dipedulikan, sang bijuu memperhatikan lubang anus Gaara yang berwarna pink berkedut-kedut.

Ekor-ekor yang melilit tangan Gaara menarik Gaara agar duduk, kemudian Kurama duduk di belakang Gaara dan membuka selangkangan Gaara lebar-lebar.

"Hei bocah, lihat lubang istrimu sudah kelaparan seperti ini," kata Kurama, membuka lubang Gaara dengan dua jarinya.

Wajah Gaara segera memerah seperti tomat, ia menatap Naruto yang wajahnya juga memerah. Mata Naruto yang seperti penuh nafsu menatapnya membuat lubang Gaara terasa kosong. Ia jadi ingin segera diisi, ingin dipeluk dan dimasuki Naruto kemudian merasakan benih-benih suaminya itu mengisi rahimnya.

"Ah! Ngh! Kurama!" Gaara memekik saat tiba-tiba satu ekor Kurama memasuki lubangnya. Ia pernah merasakan ini dulu, tapi saat masa kawin bijuu itu indra perasanya seperti menyatu dengan Shukaku jadi ia tak begitu ingat.

Ekor yang terbuat dari chakra itu terasa panas, namun bentuknya fleksibel dengan mudah masuk dan membuka lubang anus Gaara.

"Katamu...ngh... kau tak akan... memasukiku...ah!" Gaara mengerang saat ekor itu maju mundur di dalam anusnya, memberikannya sensasi yang sudah lama tak ia rasakan.

"Maksudku dengan penis," kata Kurama santai.

Mulut Naruto hanya menganga. Ekor oranye itu cukup transparan sehingga ia bisa melihat isi anus Gaara. Sepertinya begitu ketat karena sudah lebih dari sebulan tak dimasuki. Bagaimana tubuh Gaara mengejang dan mulutnya tak bisa berhenti mendesah membuat penis Naruto semakin basah.

"Pemandangan yang bagus ya... kau melatih istrimu cukup hebat juga selama ini," bisik Shukaku, memijat penis Naruto makin kencang.

"Uh... ngh...," Naruto tak bisa mengontrol diri. Melihat Gaara seperti itu dengan penisnya dimanja seperti ini...

"Ngh! Ah! Ngggh!" Gaara mendesah tak terkendali, ekor Kurama menyentuh titik prostatnya seperti membakar dan menstimulasi kenikmatan yang tak terhingga. Gerakan itu dilakukan berkali, seperti menghukum tubuhnya tanpa henti. Penis Gaara semakin basah dan tegang, sama sekali tak tersentuh. Namun, tubuhnya melilit dan penisnya seperti ingin meledak.

Ia tak mau datang bila bukan oleh Naruto, tak mau, tak mau-

"Naruto!" panggilnya, tak mampu menahan semburan semen yang keluar.

Melihat Gaara ejakulasi, Naruto tak mampu menahan dirinya dan datang di tangan Shukaku, mengigit bibirnya hingga berdarah.

"Oh... hebat... memang kau sudah dilatih Naruto dengan baik, bisa datang hanya dari anusmu saja...," puji Kurama, mencium leher Gaara sambil menyeringai.

"Yah, kau juga hebat... masih tegang," kata Shukaku, menjilat semen yang ada di tangannya sambil menatap penis Naruto yang masih tegang.

"Sepertinya yang ini juga masih lapar...," kata Kurama, menunjuk anus Gaara yang masih berkedut-kedut.

Saat pasir yang mengekang Naruto mengendur, ia segera melesat menerjang Gaara, mendorong Kurama mundur dengan kasar.

Tanpa basa-basi, ia mencium Gaara dengan agresif namun penuh cinta. Gaara yang terlepas dari ikatan Kurama segera mendekap Naruto erat dan membalas ciuman yang membara dari suaminya.

Siapa yang tahan diberi pertunjukan seperti itu? Naruto masih bersyukur Kurama tidak menyetubuhi Gaara, meski menggunakan tubuh kagebunshinnya, ia tetap tak akan rela.

"Naruto...," gumam Gaara saat Naruto melepaskan ciumannya.

Naruto hanya tersenyum namun segera menoleh ke belakang dengan wajah masam.

"Kau tak boleh menyentuh Gaara lagi," kata Naruto, memeluk Gaara dengan posesif seakan menunjukkan bahwa Gaara itu adalah propertinya.

"Kita kan berbagi tubuh, secara literal dia itu milikku juga," kata Kurama dengan santai. Naruto mendelik marah dan sang rubah tertawa namun berhenti ketika ekor pasir menampar wajahnya.

"Kau memang menyebalkan," kata Shukaku ketus.

Naruto berbalik dan tak mau mendengarkan perkelahian rutin Kurama dan Shukaku yang terjadi bila mereka bertemu. Ia kembali mencium Gaara, lagi, lagi dan lagi hingga sang istri kehabisan napas.

"Naruto... cepat...," gumam Gaara dengan mata setengah terbuka, ia membuka selangkangannya lebar-lebar, memperlihatkan lubang anusnya yang membuka-menutup.

Siapa yang bisa menolak permintaan itu?

Naruto segera mengambil botol lube di samping tempat tidur dan menuangkannya dengan terburu-buru ke penisnya.

Meski Kurama tadi belum membuka anus Gaara sampai siap, namun Naruto sudah menyetubuhi Gaara bertahun-tahun. Anus Gaara yang ketat pasti mampu menerima penisnya.

"Aaahhh... Naruto!" Gaara mengerang kesakitan.

Sial! Dia ketat seperti perawan! Naruto berhenti setengah jalan, anus Gaara begitu sempit hingga menjepitnya. Sedikit sakit namun nikmat sekali...

"Kau membiarkan lubang itu tak tersentuh sebulan lebih, tentu saja jadi ketat," komentar Kurama seperti menusuk Naruto. Sial, mereka belum pergi juga?

Kurama menghampiri Gaara, menarik Gaara untuk duduk kemudian membuka selangkangannya lebar-lebar.

"Ah... auh...," Gaara mengerang karena penis Naruto masuk makin dalam.

"Jangan ikut-ikutan!" hardik Naruto pada Kurama dengan kesal, namun sang rubah hanya menyeringai lebar.

"Ini bukan 'ikut-ikutan', cuma membantu," balas Kurama dengan wajah kurang meyakinkan, ekor-ekor di belakangnya sudah meliuk kesana kemari.

Namun Naruto hanya mencoba untuk tidak mempeludikannya. Ia kembali memasukkan penisnya hinngga masuk ke anus Gaara sepenuhnya.

"Ngh... aaah!" Gaara mengejang, tak mampu menahan rasa nikmat ketika akhirnya setelah sekian lama anusnya diisi secara penuh oleh Naruto. Penisnya kembali mengucurkan semen, membuat anus Gaara seperti memeras penis Naruto.

"Argh... sial, Gaara...," Naruto tak mampu menahan rasa nikmat bagaimana anus Gaara melilit penisnya seperti itu. Ia segera bergerak tanpa memberikan anus Gaara waktu untuk menyesuaikan diri, menarik penisnya hampir keluar dan memasukkannya kembali dengan cepat.

"Aaahh... Naruto! Ngh!" Gaara mengerang, anusnya terasa panas namun ia segera melihat bintang saat penis Naruto menghantam titik prostatnya.

"Wah... dia orgasme berkali-kali dalam waktu singkat...," komentar Shukaku melihat penis Gaara masih menyemburkan semen hingga bentuknya cair.

"Aku memang menstimulasi titik prostatnya tadi... mungkin sedikit berlebihan," komentar Kurama yang sudah kembali berpindah di sisi Shukaku, menikmati pertunjukkan.

"Ngh... Gaara...," Naruto mempenetrasi Gaara membabi-buta. Prostat Gaara yang sensitif terus dihantam tanpa ampun, membuat Gaara tak bisa mengendalikan diri.

"Aaaahh! Naruto!" Gaara kembali datang untuk kesekian kalinya. Kali ini, Naruto tak mampu menahan diri dari anus Gaara yang berkontraksi. Ia menyemburkan semennya di dalam tubuh Gaara, mengisi istrinya untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Naruto berhenti sebentar, memberikan ruang untuk bernapas.

"Kau tak apa-apa? Aku agak kelepasan...," tanya Naruto, membelai lembut pipi Gaara.

Sang istri mengangguk. Ia memeluk sang suami dengan erat. Naruto menarik kaki Gaara, membuat penisnya kembali masuk sepenuhnya di anus Gaara.

"Ah, Naruto!" Gaara mengerang, ia tahu kalau Naruto pasti akan mengisinya hingga penuh malam ini. Ia mungkin akan terus datang hingga semennya habis dan ia hanya bisa orgasme kering sepanjang waktu.

Namun Gaara tak keberatan.

Karena tubuhnya juga frustasi karena sekian lama tak disentuh.

Naruto memutar tubuh Gaara agar sang istri bertumpu pada kedua siku dan lututnya. Bagaimana ia bisa bertahan selama sebulan lebih ini tanpa menyetubuhi istrinya? Kadang Naruto heran dengan dirinya sendiri.

"Gaara kau itu benar-benar...," Naruto mulai menggerakkan pinggangnya, memaju mundurkan penisnya di dalam anus istrinya yang nikmat.

"Ngh... ah...," Gaara merasakan penisnya kembali menegang. Ia ingin kembali diisi. Diisi sampai penuh dan kembali hamil dengan anak kedua Naruto. Membayangkan hal itu membuat penis Gaara tegang sempurna.

Naruto menarik kedua belah bokong Gaara agar ia bisa memasuki anus Gaara lebih jauh, sampai ke pangkal penisnya. Merasakan dan melihat bagaimana anus Gaara melahap penisnya yang besar. Meski sudah dimasuki hingga datang tadi, anus Gaara tetap sempit. Mencengkram begitu kuat, Naruto terpaksa harus mempentrasi dengan tenaga ekstra dan menghantam prostat Gaara dengan kuat.

"Aaaahh!" Gaara mengejang, tak tahan prostatnya dihantam sekuat itu. Penisnya sudah terasa sakit karena terus mengucurkan semen. Tapi, ia tak bisa menahan gelombang kenikmatan yang menghantam tubuhnya.

Naruto hanya tersenyum saat Gaara juga ikut menggerakkan pinggangnya. Naruto membungkuk dan mencium punggung sang istri tercinta.

Naruto menggenggam pinggang Gaara dengan kuat kemudian menarik pinggang Gaara agar mundur dengan bertemu dengan dorongan pinggangnya, membuat prostat Gaara dihantam keras.

Pandangan Gaara menjadi putih untuk sekejap sebelum ia kembali orgasme dan datang, membuat anusnya kembali meremas isi penis Naruto.

"Ngh...," Naruto mengeluarkan semennya, kembali mengisi sang istri.

Gaara tertunduk lemas, hanya pinggangnya yang masih digenggam Naruto. Ia bisa merasakan bagaimana hangatnya semen Naruto mengalir ke dalam dirinya.

Gaara mencuri lihat Naruto dari balik bahunya, sang suami tersenyum penuh sayang.

'Aku cinta kamu,' gerakan bibirnya tanpa suara, karena si rubah dan si rakun masih berada di kamar, menikmati pertunjukan mereka.

'Aku juga,' balas Gaara tanpa suara.

Ini akan jadi malam panjang. Namun, Gaara akan menikmatinya dengan sepenuh hati.

IoI

"Hm.. To-chan?"

Ryuuki membuka matanya saat ia merasakan ada seseorang yang memeluknya ketika ia tidur. Ia melihat ayahnya, namun baunya beda dengan ayah yang ia kenal. Tapi, rasanya sangat familiar sehingga ia tidak peduli dan kembali tertidur.

"Bocah ini tidak buruk...," kata Kurama sambil menyeringai, ia mengelus rambut Ryuuki yang tertidur di pangkuangannya.

Shukaku hanya memandangnya dengan ekspresi tak bisa dibaca.

"Kalau sudah bebas dari tubuh mereka, kita bikin keturunan juga, bagaimana?"

Dan ekor pasir kembali menampar wajah Kurama.

Sang bijuu ekor sembilan hanya mengelus wajahnya, memandang sang rakun berjalan keluar kamar. Si rubah menyeringai, ia menidurkan kembali Ryuuki di tempat tidur dan mengekori pasangannya itu.

"Lain kali... giliran kita...," kata Kurama, tak sabar menanti saat ia bisa mengambil alih tubuh Naruto dan bersetubuh dengan Shukaku yang ada di tubuh Gaara.

IoI

"Kau pikir kenapa mereka bisa keluar dalam bentuk kagebunshin ya? Aku masih tidak mengerti...," gumam Naruto, sambil membelai lembut punggung Gaara. Sang istri berbaring beralaskan dadanya.

"Entah, menurutmu?" jawab Gaara justru balik bertanya. Ia menyamankan dirinya yang berbaring dengan dada Naruto sebagai bantalnya.

"Yah, kurasa manusia maupun bijuu kalau sudah kepepet memang mengerikan," kata Naruto. Ia bersyukur Shukaku tidak 'mempermainkan' tubuhnya keterlaluan... bila dalam hubungan mereka, Naruto lah yang memegang kendali. Sepertinya, dalam hubungan bijuu mereka, Shukaku yang pegang kendali.

Tapi, entah lah. Dua monster itu kelihatan sama-sama dominan, tidak heran kalau masa mereka kawin itu merupakan bencana bagi umat manusia jaman dulu...

"Ehm... Naruto?"

"Ya?" Naruto terbangun dari pikirannya, matanya yang tadinya menerawang langit cerah di luar jendela berbalik ke istrinya.

"Aku tidak mengatakan ini tadi malam tapi... uhm...," Gaara berhenti bicara kemudian merangkak lebih tinggi agar mencapai telinga suaminya.

"Aku sudah berhenti minum obat anti kesuburan," bisiknya.

Naruto terpaku beberapa saat. Kemudian menatap Gaara, kemudian menatap perutnya, kemudian menatap Gaara lagi. Sang istri pipinya sedikit kemerahan dan senyum Naruto semakin mengembang.

"Tapi, sepertinya belum ada ya...," kata Naruto, meraba perut Gaara. Mencoba mencari pancaran kehidupan mungil di perut Gaara.

"Mungkin tadi malam sudah lewat masa suburku...," kata Gaara. Sang suami memandangnya dengan bingung.

"Kau punya masa subur?" tanya Naruto. Gaara hanya tersenyum kemudian kembali membaringkan diri.

"Mungkin," kata Gaara, Naruto hanya menggaruk kepalanya tidak mengerti. Namun ia memeluk Gaara dan kembali terlelap.

Hah... masa bodoh dengan pekerjaan Hokage, ia mau tidur bersama istrinya dulu.

"Ka-chan! To-chan!"

Atau tidak... untung ia dan Gaara sudah merapikan tempat tidur dan memakai piyama.

"Ah... Ryuu-chan udah bangun?" tanya Gaara, memberi isyarat agar Ryuuki datang mendekat. Sang buah hati berjalan menuju mereka dengan ekspresi ngantuknya seperti biasa.

Dengan susah payah ia menaiki tempat tidur kemudian berbaring di antara ibu dan ayahnya. Hanya butuh satu detik sebelum si kecil kembali terlelap.

"Kukira dia datang karena lapar atau apa gitu...," gumam Naruto bingung.

"Bagi Ryuu-chan, tidur lebih penting daripada makan," kata Gaara, mengusap lembut rambut anaknya dan memeluknya.

"Kalau kita punya anak lagi, pasti manis seperti Ryuuki...," kata Naruto, mencium pipi Ryuuki namun tertegun saat tangan anaknya menghalaunya.

Dia lagi tidur kok tahu kalau Naruto yang menciumnya?

"Ya, pasti...," kata Gaara kembali mengantuk kemudian terlelap sambil memeluk Ryuuki. Naruto hanya tersenyum dan memeluk Gaara, mengapit Ryuuki di tengah-tengah mereka.

Dan mereka tertidur lelap.

Sampai seorang ninja berambut pink datang mengamuk karena Naruto bolos kerja.

Tbc


Ok, beres! Silahkan reviewnya

Awalnya mau kubikin Gaara hamil tapi... kayaknya dilain chapter dulu deh. Ntar ya.

Ok review! Review! Review!