Fate/Abnormal
Pride of Emperor
Haloo! Zhitachi muncul lagi nih!
Bagaimana tentang chapter sebelumnya, masih kurang pertarungan epic dari Karin? Tenang, Zhitachi masih punya banyak surprise untuk kalian semua loh! Tunggu saja yah...
Ehem, sebenarnya skill dari God Eyes itu sendiri merupakan bawaan lahir yang dimiliki oleh keluarga Taira. Kemampuan ini merupakan satu dari ribuan jenis sihir alami yang pernah ada dalam tubuh manusia sejak mereka masih bayi hingga dewasa. Layaknya seperti kutukan, kemampuan ini memaksa penggunanya untuk melihat sekilas kejadian yang akan terjadi di waktu ke depan (Sama seperti Eye of Future). Karin hanya bisa memprediksi serangan musuh dalam waktu 15 detik ketika menggunakan skill ini, 15 detik sendiri sudah sangat cukup untuk melakukan serangan balik. Untuk Servant sendiri (Kita asumsikan untuk para Servant di Fict ini yah) yang memiliki kemampuan ini adalah Caster dan Rider, lalu terakhir Servant misterius yang akan hadir di Fict ini dalam waktu dekat.
Sebenarnya Zhitachi punya naskah kasar tentang chapter 8-10. Dimana di chapter tersebut justru Archer dan Machi datang untuk menyelamatkan Taira dari pengaruh Gilgamesh. Saat chapter 8 mencapai pertengahan cerita, hal menariknya adalah makhluk Sphinix yang dipanggil Rider justru mati oleh pedang Sul-Sagana (Pedang api berbentuk sayap naga) milik Gilgamesh (Ini sangat berbeda di chapter 8 versi baru karena yang membunuh Sphinix itu sendiri adalah Karin, bukan Taira). Dari serangan pedang tersebut menghasilkan kebakaran hebat, sehingga memaksa Archer dan Machi untuk segera datang menyelamatkan Taira dari Rider. Karin datang tepat setelah Taira terbebas dari pengaruh Gilgamesh (Artinya Taira mampu mengembalikan kesadarannya sendiri tanpa dibantu siapapun, ini sangat berbeda di chapter 8 versi baru). Mereka bekerja sama di chapter 9 dengan Machi dan Archer dan berencana untuk memburu Rider beserta Masternya. Yang menariknya di sini, di chapter 10, secara tidak terduga Saber membuat KONTAK SEMENTARA dengan Karin untuk membantunya mengalahkan Rider. Rider di beberapa chapter ke depan bakalan menjadi Servant ter OP sekaligus Servant yang akan di targetkan diburu oleh seluruh Servant dan Master yang tersisa.
Namun sialnya tiga chapter itu malah hilang dan memaksa Zhitachi bikin lagi -_-.
And so, daripada kelamaan mending langsung baca aja yah...
Disclaimer: Type-Moon, Ufotable, Delight Work Inc.
Genre: History, Supranatural, Tragedy, Action.
Character: All Classes Servant, OC, Chara in Fate Stay Night UBW.
Rate: K+ up to M.
Sinopsis: Kekacauan Grail Wars kelima telah selesai secara tidak terduga, membuat Emiya Shiro menjadi bintang utama dalam Grail Wars ini. 5 tahun kemudian, keluarga Satou masih tidak menerima kekalahan telak pada Grail Wars sebelumnya dan bertekad mendatangkan kembali perang tersebut. Tanpa ada bimbingan pengatur perang, Grail Wars keenam menjadi tidak seimbang, sehingga tragedi 5 tahun yang lalu kembali terulang, di waktu yang sama, namun di tempat berbeda. Siapakah yang mampu menghentikan kekacauan Grail Wars kali ini?.
*A/N: Cerita ini Zhitachi ambil dari alur sesudah Emiya Shiro menyelesaikan sekolah sihirnya di inggris bersama Rin Tohsaka*.
~Not Like, Don't Read~
Opening : Kyoumei no True Force ( Opening Seirei Tsukai no Blade Dance).
- Kono mune ni michite yuke…
Taira mengarahkan tangan kanannya ke samping wajah dengan memperlihatkan segel perintah ke kamera.
- Kedakaki kyoumei no True force…
Servant Saber mengulurkan tangan ke kamera dengan senyuman lembut.
-Look into your inner light-
Memperlihatkan sekilas para Servant beserta Master mereka dan juga judul di setiap jeda.
- I must be gone and die, or stay and alive…
Memperlihatkan suasana kelam masa lalu Saber sampai akhir kematiannya.
- So, your decision is the same as I believe…
Ia percaya kepada keyakinannya sampai akhirnya ia terjatuh ke dalam kegelapannya sendiri.
- Every light has its shadow, I'll bet…
Suasana menjadi cerah ketika bertemu dengan Taira.
- Let's be optimistic, fear not…
Memperlihatkan pertama kali Saber bertemu dengan Taira, serta beberapa inti adegan di cerita selanjutnya.
- "Tsuyosa ni imi wa aru no ka" to…
Terlihat Machi tengah berdiri di tengah luar ruangan dojo beserta Servantnya.
- Owari no nai chihei ga waratta…
Memperlihatkan seorang pemuda berambut biru tengah duduk santai di atas gedung dengan ditemani oleh Servant.
- Umareta riyuu nado jibun de kimeru mono sa…
Servant Lancer muncul dari atas dan mendarat dengan gerakan halus sembari berjalan ke depan, di sampingnya ada gadis berambut kuning sedang membenarkan sarung tangan kanan.
- 'He that fears death lives not'…
Terlihat Rin Tohsaka tengah berjalan dengan tergesa-gesa.
- So take a step towards me, dear…
Ada adegan dimana Servant milik Rin mengibaskan rambutnya sekali.
- Wasurerarenai kako sae…
Terlihat ada dua Servant tengah duduk di sebuah batu dengan berlawanan arah.
- Sutesareru basho ga mieru kai?
Servant sebelah kanan perlahan tersenyum tipis.
- Kirisake yo sora mo umi mo daichi mo tamashii mo…
Servant Saber dan Lancer dengan dibantu Servant Archer tengah berlari dan bertarung dengan Servant Rider.
- Seigi mo shinjitsu mo nani mo kamo wo Terase yo Shimmering light…
Sementara itu Servant Caster dibantu oleh Servant misterius tengah berhadapan dengan Servant Berserker. Terjadi dua ledakan besar secara bersamaan di dua pertarungan.
- Ikusen oku no toki wo mo koete…
Di lain tempat, Shiro, Rin, dan Taira tengah menghadapi Servant Assasin yang dibantu 'Dark Grail'.
- Kimi to deaeta kono guuzen wo…
Serangan dari 'Dark Grail' mengenai Taira dan mengirimnya ke kegelapan.
- Mune ni dakishimeru yo…
Ia mendarat di tempat mimpi yang pernah ia alami.
- Me ni utsuru wa arasoi darou ka…
Taira melangkah ke sebuah pedang aneh yang tertancap di tanah, terlihat beberapa hologram kesedihan dari wajah Machi dan Karin.
- Soretomo kanau ka douka mo shirenai kibou na no ka…
Dengan sekecil harapan di tangannya, ia menarik pedang itu. Seketika seluruh ruangan berubah menjadi terang.
- Michibike yo Holy silver light…
Ledakan besar muncul di tempat terakhir Taira menghilang.
- Seinaru yaiba wo nuki Shoudou wo…
Taira Muncul dengan beberapa zirah emas yang mirip seperti seseorang di mimpinya. Ia mengarahkan pedang tumpul itu ke arah Assasin.
- Mo tenazuke shouri e to…
Tatapan Taira menjadi tajam dengan dibalas senyuman iblis dari Assasin.
- True Force!
Muncul judul "Fate/Abnormal : Pride of Emperor" dengan kobaran api melingkari setiap huruf.
Chapter Ten : A Little Dream.
Inikah dunia gelap itu, alam mimpi yang berulang kali aku kunjungi ini kini seakan tengah memandangiku kembali. Kali ini, aku tidak mampu berkomentar apapun ketika tengah terombang-ambing di dalamnya. Dengan tatapan tajam bagai pisau, hentakan udara yang tidak berbunyi maupun bertiup, inilah alam mimpi yang disebut neraka.
Ketika aku memejamkan mata, gambaran neraka tersebut terasa seperti menarikku secara paksa. Dunia yang aku tinggali seperti sesuatu yang telah hampa di mataku. Setiap kali aku melangkah, jutaan keputusasaan manusia terdengar olehku. Setiap aku menoleh, jutaan doa dari manusia seakan tengah membisikku. Saat aku menutup kedua telingaku, jeritan orang akan terus bergema di otakku.
Layaknya mereka berdoa kepada bintang di tengah malam, doa mereka akan terus terkikis selama bintang itu tidak selalu bersinar.
Inilah mimpi buruk... Yang akan selalu menghantuiku selama aku hidup.
Andai waktu itu aku tidak menerima kekuatan ini, apa yang akan terjadi setelahnya. Andai waktu itu aku tidak berharap untuk kehadirannya karena keegoisanku, mungkin aku akan hidup bahagia dengan orang yang mencintaiku.
Namun... Perasaan bersalah ini perlahan terus menusukku.
Mimpi yang terus aku lihat selama ratusan kali ini terus memaksaku untuk menjadi gila. Mimpi yang seharusnya aku hilangkan, mimpi yang seharusnya aku lupakan... Kenapa mimpi ini kembali.
Ketika keputusasaan itu terus menggangguku. Cahaya kecil bersinar di depanku... Kenangan yang tersembunyi di balik kegelapan itu telah merubah jalan hidupku.
Aku bersyukur telah memohonmu untuk kembali...
Wahai adikku...
Taira.
"Nee-chan!".
Seorang anak berumur 6 tahun berambut ungu memanggil namaku.
Aku menoleh ke arahnya, tersenyum lembut sembari mengelus rambut halusnya.
"Apa kau akan lama di sana, Nee-chan?".
Ia mengatakannya dengan nada sedih, seakan aku akan pergi untuk waktu yang lama.
"Tidak, Taira. Nee-chan akan bekerja di Amerika tidak lama kok... Taira mau apa ketika Nee-chan pulang?".
"Um~ Taira gak mau apapun, asal Nee-chan pulang selamat Taira senang kok!".
Aku tersenyum tipis mendengarnya.
"Nee-chan usahakan akan pulang cepat".
Taira mengangguk sekali dengan senyum bahagia.
Namun, senyuman itulah merupakan senyuman terakhir baginya...
Diriku berada di dalam mobil sembari memegang boneka anjing putih berukuran kecil. Sejak dulu Taira menyukai benda lembut seperti ini. Dia pasti akan senang menerimanya. Terlebih lagi aku membeli oleh-oleh terlalu banyak.
Setelah begulat dengan pekerjaanku di Amerika selama dua tahun, akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi.
Aku menoleh ke sampingku, ratusan kado yang telah terbungkus tengah berjejer rapih. Aku hanya menghela nafas pelan. Diriku berpikir, kapan yah aku beli kado sebanyak ini?.
Mobil telah sampai di tempat dojo, dimana kini Taira sedang bermain di tempat kakek. Setiap weekend, aku dan Taira menghabiskan sisa waktu tersebut untuk berlatih ilmu Kendo. Dan kebetulan sekali aku pulang di waktu weekend.
Aku membuka pintu mobil sembari memegang boneka anjing di bawah dada. Aku sudah tidak sabar melihat wajah bahagianya.
Beberapa orang berpakaian serba hitam tengah berjalan memasuki rumah ini, layaknya sedang berduka. Aku berjalan bergesa-gesa ketika merasakan firasat buruk.
Aku menabrak pelan beberapa orang yang ada di ruangan, perasaanku semakin tidak menjadi ketika berada di sebuah ruangan yang terdapat banyak sekali bunga di sekitaran peti.
Kakekku segera berdiri ketika diriku tiba. Aku menoleh perlahan ke arahnya sembari bernafas agak berat.
"Jii-san... Siapa yang tidur di peti itu?".
"Sebelum kau mendengarnya, aku harap kau menerimanya dengan lapang dada, Karin".
"JAWAB AKU, JIJI!".
Kakekku terdiam ketika mendengar nada bentakku.
Aku berjalan pelan ke arah peti tersebut. Langkahku terhenti tepat di depan tiga peti mati.
*Pruk!*.
Aku menjatuhkan boneka anjing yang sempat aku pegang, tubuhku seakan tidak menerima respon apapun ketika kedua mataku melihat ke arah tiga foto di tengah tumpukan bunga.
*Tap!*.
Kakek berhenti di belakang diriku,
"Kedua orang tua beserta Adikmu tewas dalam kecelakaan di kota Fuyuki, sehari sebelum kau tiba di sini".
Aku melebarkan kedua mataku dengan tatapan kosong ke arah foto Taira, pikiranku terasa tidak mampu memikirkan apapun ketika melihat foto tersebut berada di tengah tumpukan bunga.
"Tai.. ra".
Senyuman itu... Tingkah lakunya... Kelucuan wajahnya... Untuk sekali saja, biarkan aku ingin melihatnya. Kenapa takdir begitu kejam terhadapku?.
*Bruk!*.
Aku menjatuhkan tubuhku dengan kedua siku kaki mengenai tanah untuk menahan diriku. Aku menoleh ke arah atas dengan tatapan kosong. Aku sudah tidak mampu membuka suara maupun berbicara, hanya ada satu kalimat yang ingin aku katakan ketika mulutku terasa terkunci...
"Untuk apa manusia diberi kehidupan jika kematian terus mengganggunya?".
Ucapan itu terus kuingat bahkan sampai sekarang. Rasa takut dari kematian ini perlahan mulai menghilang di dalam diriku. Disusul oleh seluruh perasaan yang berada di hatiku.
"Aku akan mengorban apapun untuk kebangkitan adikku. Entah itu berupa kutukan yang mampu membunuhku, aku tidak peduli! Jika kau ingin tubuhku, silakan! Jika kau ingin jiwaku, ambil saja! Aku tidak peduli! Jika itu bisa mengembalikan adikku, maka aku akan bersedia".
Sejak saat itu, perasaanku seakan telah lenyap. Senang, sedih, bahagia, berduka, aku tidak merasakan apapun. Diriku layaknya seperti boneka hidup, yang hidup tanpa ada apapun di dalamnya.
Rasa egois itu perlahan mulai mengambil semua kebahagianku... Duniaku, perasaanku, orang di sekitarku, tubuhku, bahkan jiwaku perlahan mulai lenyap. Diriku seperti makhluk tanpa kehidupan di dunia ini.
Selama hal itu bisa mengembalikan dirinya, aku ihklas memberikan semuanya...
Semua itu terjawab ketika perang bernama perang Cawan Suci ada, perang yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
Dari ribuan doaku, dari jutaan harapanku... Hanya satu doa dan harapanku yang dikabulkan. Dengan tubuh dan jiwaku yang hampir hancur, aku mampu tersenyum setelah sekian kalinya ketika kau terlahir kembali.
Itu karena untukmu, adikku...
Aku mengorbankan segalanya hanya untukmu, adikku...
Aku selalu mencintaimu dan menyayangimu, adikku...
Untuk sekarang dan selamanya...
Mindscape End...
Karin membuka mata perlahan sembari membangunkan dirinya. Ia menoleh ke arah dua tangannya yang tengah di perban.
Ia mencoba berdiri sembari membuka selimut yang sempat menutupi tubuhnya. Pakaiannya telah berganti dengan pakaian piyama biru polos.
*Kriet!*.
Karin membuka pintu ruang tengah. Diana menoleh ke arah suara, setelah itu ia berjalan perlahan ke arah Karin. Lancer dan Saber masih berdiam diri tak jauh di belakang Diana.
"Bagaimana keadaanmu, Senpai?".
"Aku baik-baik saja".
Kedua matanya menoleh ke arah samping kanan dan samping kiri sekali.
"Dimana Taira?".
"Taira masih istirahat di ruangannya. Ia masih belum siuman sejak dua hari yang lalu" Jelas Diana.
"Jadi begitu".
Karin lalu menoleh ke arah perban tangan kanan. Ia menarik ujung perban dengan perlahan. Beberapa lipatan perban mengendur dengan memperlihatkan tangannya kembali seperti semula, Nampak seakan luka bakar yang ia terima waktu lalu hanya ilusi.
"Benar-benar regenerasi yang menakjubkan" Puji Lancer.
"Lalu bagaimana situasi perang ini, Diana?" Tanya Karin sembari membuka perban di tangan kiri.
"Rider masih belum menampakkan dirinya usai pertarungan sengit itu waktu lalu".
"Lalu, para warga?".
"Mereka masih belum menyadari keanehan sebenarnya dari fenomena ini".
"Hm, bagus kalau begitu".
"Senpai... Ardas ingin berbicara denganmu usai dirimu sembuh".
"Katakan padanya aku masih belum siuman, aku tidak mau berdebat panjang dengannya sekarang" Balas Karin sembari berjalan ke arah kamar Taira.
Sesaat setelah Karin pergi...
"Bagaimana langkah selanjutya, Master?".
*Tap! Tap! Tap!*.
Diana berjalan ke arah kursi hitam, setelah itu duduk.
"Biarkan mereka saling bertemu, kita langsung menentukan rencana untuk mencari siapa Master dari Rider".
Karin duduk di samping Taira terbaring dengan posisi kaki sebagai alas. Tangannya mengelus pelan rambut adiknya, ia tersenyum pahit sembari memandang wajah Taira.
Untuk kali ini ia tidak terlambat menyelamatkan adiknya dari bahaya. Masa lalu tentang adiknya seakan mengganggu pikirannya. Tidak salah jika ia memakai kemampuan terlarang itu untuk menyadarkan adiknya dari pengaruh orang jahat.
Apapun yang ia lihat sekarang, itu sudah cukup...
Ia tidak akan segan untuk menggunakan kemampuannya hanya untuk menyelamatkan adik tercinta. Seberapa pun luka yang ia dapat, sebanyak apapun darah yang keluar dari tubuhnya, jika hal itu mampu melindungi Taira dari bahaya, ia ikhlas menerimanya.
Hati kecilnya pernah berkata, jika ia tidak mampu menyelamatkan adiknya waktu lalu, apa yang akan ia lakukan?. Tentu jawaban itu tidak mampu ia jawab...
Ia menyadari bahwa dirinya terlalu overprotektif ke adiknya, ia tidak ingin kehilangan dirinya untuk kedua kalinya. Ia mengorbankan hampir seluruh hal yang dia punya hanya demi kebahagiaan adik tercinta.
Ia seakan terendam dalam lautan pengorbanan tanpa akhir... Jika raganya tidak cukup untuk dikorbankan demi keselamatan adiknya, ia akan menjual jiwanya. Entah itu kepada dewa ataupun iblis sekalipun, ia bersedia.
Itulah tipikal seorang kakak yang rela berkorban untuk adiknya, begitulah jawabannya...
Ia hampir tidak pernah merasakan kebahagiaan selain bersama Taira. Ia memperlajari arti hidup ketika bersama Taira, ia mempelajari arti kepedulian ketika bersama Taira. Namun, hanya satu yang belum sempat ia rasakan selama bersama Taira...
Arti kebahagiaan sebagai seorang kakak.
Dunia ini luas serta memiliki ilmu yang tiada batas, begitu ucapnya. Ia ingin memperlihatkan dunia ini kepada Taira yang belum sempat ia perlihatkan waktu Taira kecil. Ia ingin lebih berguna sebagai seorang kakak, bukan sebagai seorang teman. Ia ingin lebih memberikan perhatian sebagai seorang kakak, bukan sebagai seorang kekasih. Ia ingin Taira bahagia lebih dari kebahagiaan dirinya.
Namun, itu seperti mimpi seorang gadis yang tengah tidur di siang hari...
Ia meneteskan air matanya, mengingat masa lalu yang sempat ia buang jauh-jauh kini teringat kembali. Rasa kehilangan yang pernah ia rasakan, rasa bersalah yang terus menghantuinya seakan berada di satu titik di hatinya. Ratusan pengorbanannya seakan masih belum dibalas apapun oleh hal yang ia terima sekarang.
Ia membuka mulut secara perlahan,
"Maafkan kakakmu yang bodoh ini, Taira".
Sementara itu...
"Apa lebih baik aku menemani Masterku di dalam?" Ucap Saber sambil merasa khawatir memikirkan Taira.
"Selama Senpai ada di dalam, tidak akan ada masalah... Lebih bagusnya kau ada di sini, Saber" Balas Diana sembari membuka beberapa lembaran kertas.
"Baiklah-Baiklah" Balas Saber sembari memiring wajah ke samping dengan memejamkan mata sembari tangan kanannya dihempaskan pelan sekali ke belakang.
"Lalu, rencana apa yang sedang kau pikirkan, Master?" Tanya Lancer.
"Kita akan mengejar jejak Rider, aku memperkirakan Masternya berada tak jauh di posisi kita ketika Rider memulai penyerangan. Jika dugaanku benar, maka ia masih berada di sekitar kota ini untuk melancarkan serangan balas dendam".
"Jadi, kita akan menyelusuri setiap sudut kota ini?".
"Benar".
"Maaf menyela pembicaraan kalian, jika kalian ingin mencari posisi Rider. Kemungkinan lain kalian akan bertemu dengan Master dari Archer".
Diana memegang dagunya sembari mengelusnya sekali.
"Benar juga, aku dan Lancer mungkin saja bisa mengalahkan Archer beserta Masternya itu, yang menjadi pertanyaannya adalah... Siapa yang akan mengalahkan Rider?".
"Aku yang akan mengalahkannya".
Mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara.
"Senpai?".
*Tap! Tap! Tap!*.
"Aku masih punya hutang pertarungan mati dengannya" Balas Karin sembari berjalan ke arah Diana.
*Set!*.
"Ta-Tapi... Tanpa Servant, kau tidak mungkin mampu mengalahkannya dalam dua atau tiga serangan mematikan tanpa perencanaan yang matang" Balas Diana sembari berdiri dengan wajah gelisah. Ia tahu bahwa Senpainya sangat keras kepala jika sudah menentukan sesuatu.
"Aku balik bertanya... Apa kau mampu mengalahkan Rider? Apa kau mampu menahan panasnya cahaya laser itu dengan tubuhmu?".
"I-Itu...".
"Aku mengajukan untuk melakukan kontak sementara dengan Saber" Ucap Lancer sembari mencairkan suasana. Saber seketika menoleh ke arahnya.
"Hah! Apa maksudmu, Lancer! Kesetiaan pada Masterku tidak akan kuberikan kepada siapapun!" Balas Saber dengan marah.
"Kau benar, aku tidak butuh seorang Servant lemah dan pengecut sepertimu" Ucap Karin dengan nada dingin, kali ini sasaran kemarahannya beralih ke arah Karin.
"Kau meremehkan kekuatanku!".
*Set!*.
Lancer mengarahkan tangan kirinya ke samping, tepat dimana Saber berada. Ia menahan tubuh Saber yang ingin berjalan ke arah Karin.
"Tenangkan dirimu, Saber".
Saber menepis keras tangan kiri Lancer dan melangkah ke depan Karin.
"Te-Tenangkan amarahmu, Saber. Ka-Kau tidak boleh melakukan pertarungan di tempat ini" Ucap Diana sembari mencegah hal yang mungkin bisa terjadi hal buruk.
"Kau ingin menantangku... Menantang orang yang pernah membuat Rider sekarat ! ? ".
Saber menggigit giginya dengan keras. Ia berjalan pergi meninggalkan ruangan, Diana bernafas lega. Entah apa yang akan terjadi jika mereka bertarung.
Karin memandangi kepergian Saber dengan tatapan dingin.
"Aku tidak butuh orang lemah seperti itu".
Saber duduk di atas atap ditemani dengan gemerlap cahaya bintang malam. Ia memandanginya dengan wajah ngambek.
"Apa-Apaan orang itu" Balasnya sembari mengembungkan pipi.
Karin membaca beberapa tulisan yang diberikan oleh Diana. Ia telah mengganti piyamanya dengan jas hitam yang sama seperti ia pakai waktu lalu.
"Bagaimana kau akan menemukan Rider, Diana?".
"Aku akan menyelusuri jejak sihir yang sempat Rider tinggalkan sebelum sampai di sini".
"Orang itu juga tidak bodoh untuk meninggalkan jejak seperti itu, Diana. Daya serangannya sangat kuat, bahkan hampir saja membunuhku kalau saja aku terlambat melakukan peningkatan ke tanganku. Dia mungkin berada di kelas teratas dalam peringkat tiga Servant sihir".
"Jika Rider membunyikan jejaknya melalui sihir, berarti ia bisa dilacak melalui tekanan di wilayah ia berada" Ucap Lancer. Mereka berdua menoleh ke arah Lancer.
"Rider memiliki jangkauan kekuasaan wilayah yang luas ketika ia tengah melakukan serangan. Ketika serangan terakhir yang Karin kerahkan waktu lalu, Rider mampu mematahkan beberapa kelemahan dari serangan tersebut. Ia bisa memprediksi sebuah serangan sekuat itu dalam kurun waktu yang sangat singkat. Dalam ajaranku, hal itu sangat mustahil... Kecuali jika mereka keturunan langsung dari dewa".
"Aku pernah melawannya sekali ketika perang Cawan Suci di Sumeria. Jujur saja kekuatannya sekarang hanya 10% dari total kekuatan yang pernah ia kerahkan dalam perang waktu lalu. Jika saja Gilgamesh tidak menghancurkan NP nya, mungkin saja dia akan jadi pemenang dalam perang Cawan Suci di Sumeria" Balas Diana.
"Aku hampir saja memenggal lehernya ketika ia hampir tidak berdaya di tangan Gilgamesh. Disaat itu juga sebuah serangan dari langit membebaskan dirinya dan membakar seluruh daratan".
"Serangan dari langit?" Tanya Lancer.
"Jangkauan serangannya sungguh luar biasa. Dibandingkan dengan serangan dari Senpai yang mampu membelah daratan, serangan tersebut mampu mengoyak langit beserta bumi dalam satu tembakan".
"Rider langsung tewas ketika terkena serangan tersebut. Namun sebagai gantinya enam Servant seketika lenyap dalam serangan tersebut".
"Serangan bunuh dirinya, yah".
"Mungkin aku akan bertemu dengan Archer ketika menyelidiki jejak Rider".
"Archer? Seperti apa dia?" Tanya Karin.
"Dia seorang gadis berambut putih dengan pakaian tertutupi zirah samurai. Dari pengamatanku, ia bisa menggunakan pedang dan tombak dalam pertempuran, walau daya serang dari senjata tersebut masih kalah jauh dari kelas Saber dan Lancer".
Karin kembali menoleh ke arah kertas yang ia pegang,
"Pedang dan tombak, apa kau tahu identitas dari Archer tersebut?".
"Maaf Senpai, aku belum sempat menganalisa identitas asli dari Archer".
"Begitu".
Karin menoleh ke arah Lancer.
"Apa kau bisa menganalisa tekanan sihir di sekitarmu?".
"Selama itu tidak mencakup lebih dari 2 Km, aku masih sempat merasakannya".
"Hm... Kemampuan yang lumayan".
Karin menaruh lembaran kertas ke meja.
"Laporan yang dikirim oleh Ardas sama sekali tidak ada hubungannya dalam penyerangan Rider ke kota Adachi".
"Senpai... Aku ingin berbicara empat mata denganmu" Ucap Diana sembari menoleh sedikit ke Lancer.
Lancer mengangguk sekali, ia segera pergi meninggalkan Karin dan Diana.
"Apa yang kau bicarakan denganku?".
"Kali ini apa yang kau korbankan demi melawan Rider, Senpai" Ucap Diana dengan nada serius.
Karin mendorong pelan dirinya ke belakang, sehingga bagian belakang tubuhnya menyentuh bagian kursi.
"Aku sudah cukup banyak mengorbankan sesuatu yang aku miliki, kali ini hanya pengorbanan kecil".
*Set!*.
Diana mengarahkan tangan kanannya ke tangan kiri Karin dan memegangnya.
"Aku tahu Senpai ingin menggunakan kekuatan itu untuk menyelamatkan Taira. Tapi pikirkan lagi Senpai, jika kau berkorban sampai kau tidak memiliki apapun untuk dikorbankan, bagaimana kau akan menyelamatkannya lagi".
Karin menoleh ke arah atas sembari memejamkan mata.
"Selama Taira bahagia, sebanyak apapun pengorbanan itu, aku akan bersedia".
Diana menarik kembali tangannya ke posisi semula.
"Jawabanmu masih belum berubah, Senpai".
Karin membuka matanya, ia menoleh ke arah Diana.
"Bukannya kau sedang ada di Bali untuk liburan?".
Diana tersenyum sekilas, ia menunjukkan pola segel di belakang telapak tangan kanan.
"Selama segel ini terus ada, mana mungkin aku menikmati liburan".
Karin juga ikut tersenyum.
"Jika masalah ini selesai, kita liburan ke sana bersama-sama".
Diana mengangguk sekali dengan senyuman tipis.
"Um!".
~ZHITACHI~
Lancer mendarat di belakang Saber, ia sempat melihat Saber tengah duduk di atap sendirian. Ia melangkah pelan ke samping Saber.
"Kenapa kau ke sini, Lancer?".
"Sama sepertimu, aku juga di usir" Balas Lancer.
Saber menoleh ke arah wajah Lancer.
"Tatapan dinginmu seakan mengatakan sebaliknya".
Lancer tersenyum tipis, ia duduk di samping Saber.
"Kenapa orang yang bernama Karin itu membenci Servant" Ucap Saber sembari membuka keheningan.
"Aku tidak tahu".
Saber hanya membalasnya dengan menghela nafas pelan. Ia mendorong sedikit tubuhnya ke belakang, sementara kedua tangannya berada di belakang dirinya untuk menahan tubuh.
"Sepertinya aku terlalu sial dalam pemanggilan perang kali ini".
"Ne Lancer, kenapa kau menerima panggilan sebagai seorang Servant?".
"Selama hidupku aku tidak pernah satu pun mengalami kekalahan atau kematian. Mungkin alasan itu yang membuatku berada di sini" Balas Lancer sembari menatap kota malam.
"Jadi... Kau ingin dikalahkan dalam perang ini?".
"Hm, bisa jadi".
Saber menegakkan tubuhnya lalu menoleh ke arah Lancer.
"Umu, kebetulan sekali orang yang bisa mengalahkanmu ada di sini" Balas Saber dengan senyuman, ia mengarahkan tangan kanannya ke dada.
Lancer tersenyum sekali, sudah lama ia tidak mendengar candaan seperti itu.
"Hoo... Mungkin saja kau bisa melukaiku, tidak dengan mengalahkanku".
"Kita buktikan di pertarungan tunggal kita, antara kau dengan aku".
Saber mengulurkan kepalan tangan kirinya ke samping Lancer. Lancer terkejut sekilas, ia tersenyum sekali.
"Ya" Balas Lancer sembari membalas genggaman tangan Saber dengan dengan genggamannya.
"Lalu, apa harapanmu, Saber?".
Saber menurunkan tangannya, disusul juga Lancer.
"Aku hanya ingin mengikuti kata hatiku. Perasaan yang sudah sangat lama terbendung di hati ini yang ingin aku lepaskan".
Ia mengarahkan pandangannya ke langit.
"Mungkin ini sudah saatnya untuk membuka hati ini".
Taira tengah terbaring tanpa ada gerakan apapun darinya. Perlahan, jari tangan kanannya bergerak sekali.
~TBC~
Ending : Edelweiss (Ending Centaur no Nanami).
- If as Edelweiss, Scaring for the dark…
Awan kelabu menutupi cahaya matahari, perlahan meneteskan air matanya. Saber berdiri memandangi rerumputan luas di temani batu berukuran sedang di sampingnya dengan pakaiannya bukan berwarna putih melainkan merah.
- Soshite sekai ga, boku no koto wasurete mo…
Pandangannya masih ke arah depan, tidak peduli walau hujan akan turun. Ia menoleh pelan ke arah batu di sampingnya, layar mulai terangkat ke udara sambal merekam hujan datang. Terlintas ada beberapa adegan Saber tengah memimpin rakyat dan berakhir tertidur di atas batu sembari dengan leher berlumuran darah.
- Nandome no, magarikado darou…
Di suatu tempat, Saber tengah memimpin rakyatnya dengan anggun.
- Boku ga mita, kibou nara koko de…
Tempat berganti di depan ruangan atas istana, Saber berdiri sembari meregangkan tangan ke arah kota, tidak lupa ia tersenyum ke arah kota tersebut.
- Dare demo nai, kimi ga iru sore dake de ii…
Terlihat beberapa perajurit sedang mendiskusi untuk melakukan rencana pembakaran kota.
- Waratte…
Penduduk kota berlarian karena seluruh kota tengah terbakar dengan kobaran api yang besar.
- Yagate!
Saber tersenyum puas ke arah kobaran api, ia seperti menikmati pemandangan yang dianggap indah itu.
- Rasen no you ni meguttemo…
Saber tengah meninjau kontruksi pembangunan Damestus Aurea yang dibangun di atas kota yang telah terbakar.
- Hana wa…
Ia menoleh sekilas ke arah samping.
- Kage no katachi o shiranai…
Seluruh warga mengecam pembangunan tersebut dan menyudutkan Saber. Waktu dan tempat berpindah, Saber duduk di dekat batu sembari memegang sebuah belati dan berniat mengarahkannya ke leher.
- If as Edelweiss, tenohira ni…
Waktu kembali ke awal, aliran waktu perlahan menjadi lambat. Saber menyentuh butiran air hujan dengan telunjuk kanan.
- If as Edelweiss, Scaring in the dark…
Beberapa cahaya perlahan muncul dari langit kelabu, menghapus beberapa bagian dari awan kelabu.
- Soushite sekai ga, boku no koto wasurete mo kidzukenai…
Ia perlahan menyadari bahwa perilakunya di masa lampau memang salah. Waktu di sekitar Saber mulai berjalan seperti semula.
- Kaze ni obieteta…
Dunia yang di tempati saber perlahan berubah, pakaiannya juga ikut berubah menjadi pakaian awal yaitu gaun putih.
- Boku mo mata, kawatteiku yo!
Di depannya kini ada Taira sembari mengulurkan tangan kanan dengan senyuman tipis ia tunjukkan ke Saber. Saber membalasnya dengan senyuman bahagia.
~OTHER STORY~
Lancer mendarat di belakang Saber, ia sempat melihat Saber tengah duduk di atap sendirian. Tiba-tiba saja senyuman jahat terlukis di wajah Lancer. Sepertinya dia akan melakukan niat jahat terhadap Saber.
Ia berjalan dengan mengendap-endap layaknya seorang maling. Ketika sudah berada di belakang Saber, ia menarik kaki kanannya.
"Surprise!".
*Duak!*.
Lancer dengan sekuat tenaga menendang Saber ke arah depan. Saber yang masih belum merespon sepenuhnya tendangan tersebut hanya membalasnya dengan dua kali kedipan mata.
"Eh!".
*Bruk!*.
Saber jatuh dengan posisi tidak elit. Sementara si pelaku tertawa terbahak-bahak.
*Slep!*.
"Apa-apaan itu Lancer!" Balas Saber usai menarik kepalanya dari tanah.
"Hahaha, maaf... Lagian ngapain lu bengong di atap".
"Kau ngajak berantem, Lancer!" Ucap Saber sembari memanggil pedang hitam. Ia sudah bikin gondok sama ucapan si Karin, kali ini malah dibikin gondok oleh Lancer.
"Oke, siapa takut!" Balas Lancer sembari memanggil dua tombak.
*Set!*.
*Dum!*.
Benturan serangan mereka menghasilkan ledakan besar, tidak lupa menghancurkan bagian depan rumah.
*Set!* *Set!*.
Mereka berdua mendarat usai melakukan serangan.
"Sepertinya kau punya tekad yang besar untuk menantangku... Lancer, Saber" Ucap seseorang dari balik gumpalan asap.
Karin beserta Diana berdiri tak jauh dari posisi mereka usai gumpalan asap menghilang. Empat siku besar muncul di dahi Karin, membuat Lancer dan Saber merinding disko.
"A-A-Ano... I-Ini...".
Lancer seketika melarikan diri meninggalkan Saber.
"Woi Lancer mau ke-".
*Duak!*.
Karin memukul kuat bagian dagu Saber dan mengangkatnya ke langit.
"Sudah kubilang jangan membuat kekacauan di rumahku" Balas Karin dengan tatapan dingin ke Saber.
"MAAA... AAAF!" Balas Saber di saat dirinya terbang ke langit, Diana tidak berkomentar apapun selain sweatdrop level 3.
*Tling!*.
Saber masih terus terbang ke langit dan menimbulkan cahaya kecil seperti bintang, Lancer hanya memandanginya dengan tatapan datar seolah ia tidak salah (Padahal dia si pelaku utama).
~END~
Cyaa, akhirnya selesai juga... Bagaimana mereka berdua akan mencari keberadaan Rider? Halangan serta rintangan apa saja yang akan mereka temukan? Tunggu saja yah...
Oh ya, untuk beberapa chapter ke depan Berserker bakal muncul dan akan bertarung dengan salah satu dari 6 Servant. Di pertarungan itu bakal sama buruknya seperti pertarungan Rider melawan Diana, Saber, dan Lancer (Sebelum Karin datang) ataupun pertarungan Diana melawan Archer.
Mungkin saja di pertarungan tersebut akan ada Servant yang akan gugur, namun Zhitachi akan berusaha untuk memberi yang terbaik buat para readers sekalian, oke!. Semoga saja tidak ada satupun Servant yang akan gugur sebelum mencapai klimaks.
Oke, mungkin itu saja yang Zhitachi sampaikan, sampai jumpa di minggu depan...
*Kritik dan Review dari Reader sekalian akan sangat memotivasi Zhitachi untuk menjadi lebih baik*.
