Sakura tidak habis pikir saat tiba-tiba Temari membawanya ke sebuah ruangan beraroma terapi yang ada di bagian tenggara Istana. Dan semakin bingun saat ia didandani layaknya model yang mau ikut kontes kecantikan. Ia di lulur, di creambath, di padicure dan manicure, di suruh pakai Kimono besar berwarna putih yang sangat indah, di sanggul, dan yang terakhir ia disuruh minum berbagai macam ramuan yang 'katanya' untuk kesehatan.
Dan begitu pula yang mungkin dirasakan Sasuke saat tiba-tiba Kakashi menyuruhnya untuk meminum setidaknya tiga ramuan berbeda yang rasanya pahit dan panas semua. Lalu Kakashi menyuruhnya istirahat dan menyiapkan mental, entah untuk apa.
Sasuke baru saja akan berkunjung ke kamar Sakura saat Kakashi menyuruhnya untuk pergi ke paviliun barat, tempat yang bahkan belum pernah Sasuke datangi sebelumnya. Dulu ia sempat ingin ke sana, tapi ibu melarangnya, katanya itu tempat suci dan sakral, hanya bisa didatangi orang-orang yang sudah menikah saja.
"Sebenarnya kita mau apa ke sini?" tanya Sasuke saat Kakashi yang sepertinya tidak berniat menjelaskan apapun tanpa ditanya terlebih dahulu. Saat ini mereka sudah sampai di depan paviliun.
Paviliun barat merupakan tempat tertua dan paling jarang didatangi dibanding bagian manapun di Istana. Tempat itu sepertinya terbuat dari kayu semua, dan aksen Jepang sangat kental di sana.
"Anda akan tahu nanti, Yang Mulia," ujar Kakashi lugas.
.
The Days of The Princess
Naruto © Masashi Kishimoto
This story © 'UCHIHA
Rated T
Genre : Romance, Drama
.
~Do you hate me?~
.
Sasuke baru akan membuka mulutnya saat di dengarnya derap kaki mendekat, disusul dengan suara Sakura yang sadang bertanya kepada Temari, pertanyaan yang sama dengannya. "Hn, Sakura?"
"Eh, Sasuke? Sedang apa di sini?" ujar Sakura, nada kaget bercampur bingung terdengar jelas dalam suaranya.
Sasuke mendengus, "Jangan tanya aku, tanyakan saja pada orang di sampingmu itu, atau orang di sampingku ini," ucap Sasuke sambil menunjuk Temari dan Kakashi bergantian.
"Aa, lebih baik kalian segera masuk. Kita bicarakan di dalam saja Yang Mulia," ucap Temari cepat sambil membuka pintu utama paviliun.
"Kau berdandan, eh?" gumam Sasuke pada Sakura yang ada di sebelahnya.
Yang ditanya hanya mendengus dan memberikan pandangan penuh arti yang sarat akan kejengkelan. Rasanya seperti berkata 'Pengetahuanku untuk ini tidak lebih maju dari pengetahuanmu, Sasuke.'
"Silahkan anda berdua masuk ke ruangan ini," ucap Temari dari arah depan mereka. Beberapa pelayan segera membukakan pintu untuk mereka.
Sasuke dan Sakura memasuki ruangan itu dengan canggung, entah apa yang membuat mereka tiba-tiba canggung seperti itu. setelah duduk, beberapa pelayan datang membawakan dua cangkir teh dan satu poci yang mengepul kan asap beraroma teh melati. Juga beberapa kue yang terlihat sangat manis.
Ruangan itu terdiri dari sebuah lemari kayu, meja kayu kecil di sudut ruangan yang diatasnya di taruh beberapa batang lilin yang menguarkan harum lavender, tatami, sebuah kasur yang cukup untuk dua orang, sebuah pintu geser, dan sebuah jendela kayu–yang saat ini terkunci rapat.
"Tunggu sebentar, Kakashi," panggil Sasuke pada Kakashi yang akan keluar dari ruangan itu. "Apa maksudnya dengan semua ini? Bukankah ini tempat 'itu'? untuk apa kalian membawa kami kemari?" tanya Sasuke sedikit panik.
"Ah, aku hanya menuruti perintah Yang Mulia Ibu Suri. Beliau ingin kalian mempercepat ritual tersebut, Yang Mulia Pangeran," jelas Kakashi lalu tanpa penjelasan lebih detail apa yang sebenarnya harus mereka lakukan, ia menutup pintu. Meninggalkan Sasuke dan Sakura berdua di dalam ruangan.
Sakura menatap Sasuke tajam, seakan meminta penjelasan. "Sebenarnya apa yang terjadi sih? Dan tempat apa ini?" tanya Sakura akhirnya karena Sasuke tak kunjung menjelaskan padanya.
"Huh, apa kau tidak pernah membaca buku tentang sejarah Istana?" tanya Sasuke balik membuat Sakura merengut kesal.
"Kalaupun aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu, Tuan-Sok-Pintar," balas Sakura pedas.
Sasuke mendengus, "Hn, kau yakin mau tahu?"
Sakura mengagguk cepat dan Sasuke melanjutkan. "Menurut buku sejarah Istana Paviliun Barat merupakan salah satu tempat tertua dan sangat sakral, tidak bisa didatangi sembarang orang. Hanya–"
"Siapa saja yang boleh datang? Siapa–" BELETAK! "Aduh!" Sakura spontan mengaduh saat Sasuke menjitak kepalanya.
Sasuke mendengus, "Jangan potong ucapanku, bodoh!"
Sakura memberengut kesal, tangannya tidak lepas dari kepalanya, sibuk mengusap-usap agar sakitnya hilang. Jitakan Sasuke tadi memang cukup keras. "Baiklah, baiklah. Lanjutkanlah cerita anda, Yang Mulia."
"Huh. Ini tempat sakral dan suci, jadi tidak bisa di datangi sembarang orang. Hanya sepasang pengantin baru beserta iring-iringannya saja yang boleh datang ke sini, kau mengerti?" jelas Sasuke panjang lebar. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya dari Sakura untuk menutupi semburat merah yang ada di pipi pucatnya.
"Lalu, apa yang dilakukan mereka di sini?" tanya Sakura polos, membuat Sasuke kembali menatapnya, kali ini dengan pandangan tajam dan sorot penuh keputus asaan.
"Kau ini memang polos atau bodoh sih?"tanya Sasuke pedas dan di balas dengan leletan lidah dari Sakura. "Apa lagi, ya melakukan 'itu'."
BLUSH
"Eh, ta-tapi kita kan.. kita masih kecil... dan kita masih sekolah! Ya, sekolah!" ujar Sakura panik, tangannya sudah mulai dingin.
Sasuke yang masih berdiri di depan Sakura menyeringai jahat lalu mulai bergerak mendekat kearahnya, membuat si pink semakin panik dan bersemu, "Lalu kenapa memangnya, hm? Kita kan sepasang suami istri, Sakura," Sasuke mulai memain-mainkan ujung rambut Sakura.
"Kau, apa yang kau lakukan. Aku tidak akan mau melakukannya denganmu.." lirih Sakura sambil menundukan kepalanya yang memerah.
Sasuke mendengus, lalu tidak lama berubah menjadi tawa. "Mmmpfft, kau.. kau harusnya lihat mukamu itu. Ahahahaha, seperti kepiting rebus saja."
Sakura semakin memberengut, dengan sekuat tenaga didorongnya tubuh Sasuke sampai si empunya terjengkang kebelakang, namun tawa tak meninggalkan bibirnya.
"Aduduh, hei hei. Kau itu kasar sekali sih. Tenang saja, tak perlu panik begitu," ujar Sasuke sambil mengelus sikutnya yang tadi terbentur dengan lantai kayu. "Hei, mau kuberi tahu sebuah rahasia?" tambahnya saat Sakura tidak merespon sama sekali.
Sakura mendongak cepat, lalu memberi Sasuke tatapan tajam. "Ini bukan akal-akalan mu kan?"
Sasuke menggeleng sambil berusaha menahan tawanya, "Aku janji, kali ini serius. Kau boleh pegang janjiku."
"Baiklah, apa?" tanya Sakura, keraguan masih sedikit tersirat di matanya.
"Mendekatlah, hanya kau yang kuijinkan tahu," ujar Sasuke dengan nada misterius, dan itu membuat Sakura spontan mendekatkan telinganya ke muka Sasuke, "Nah, begitu..sebenarnya, aku ini.. tidak akan tertarik padamu. Gadis bodoh yang masih 'kecil', dimana sisi menariknya?"
CETAK
"Aduh!" Sasuke mengaduh saat Sakura memberinya sentilan pada jidatnya. "Apa yang kau lakukan sih!"
Sakura mendengus kesal, "Kau yang apa-apaan? Dasaaar menyebalkaaan!"
Sasuke terkekeh geli, "Ahahahaha, baiklah baiklah, aku kan hanya bercanda. Kau sudah tidak tegang lagi kan?"
'Eh?' Sakura sedikit terkejut dengan penuturan Sasuke barusan. Apa begitu terlihat ya kalau dia tadi sangat tegang?
"Huh, dasar, aku tidak akan memaafkanmu!" sungut Sakura pada Sasuke yang sekarang mulai menatapnya dengan geli bercampur prihatin.
"Siapa juga yang minta maaf, dasar Jidat-tuli!"
"Apa kau bilang? AYAAAM!"
"Pink-bodoh."
"Jel – AAH! Sudahlah, lebih baik kita main kartu saja. Aku bosan bertengkar denganmu," ucap Sakura akhirnya, ia memang sedang malas berdebat.
Sasuke mendengus, "Main kartu? Huh, ini kan bukan di rumahmu. Mana ada tempat sakral yang menyimpan permainan kartu, dasar bodoh!"
Pelipis Sakura berkedut marah, sudah berapa kali Ayam bodoh itu mengatainya bodoh? "Aku juga tahu itu, makanya... Nah, ini!" ujar Sakura setelah mengambil segepok kartu dari dalam kaus kakinya.
"Dari mana kau dapat itu semua?" Sakura mengagguk puas, nada tidak percaya dari Sasuke kali ini setara dengan tepuk tangan beribu-ribu orang untuk lukisannya di tahun-tahun mendatang.
"Yah, sebenarnya aku sudah ada feeling tidak enak saat di dandani," Sakura menghela nafas dengan dramatis. "Dan entah kenapa aku ingin sekali membawa kartu, dan yah, seperti yang kau lihat. Aku terpaksa menyelundupkan kartu itu di balik kaus kakiku, hehe." Tutupnya dengan cengiran lebar, sementara Sasuke hanya mengangguk-angguk.
"Baiklah, karena sekarang kita sudah punya kartu. Kau mau main yang seperti apa?" tanya Sasuke sambil berusaha menutupi sedikit kekaguman di suaranya.
Sakura diam sejenak, keningnya berkerut seperti sedang berpikir keras. "Ah begini saja! Waktu itu aku pernah baca di sebuah blog milik seorang anak dari Indonesia –kalau aku tak salah, disana dia pernah menulis permainan menggunakan kartu yang sering ia mainkan bersama teman-temannya. Mereka semua bernama– "
"Stop, stop, stop. Apa kau ingin mendongeng? Katakan saja apa nama permainannya dan bagaimana cara mainnya," potong Sasuke kesal.
"Huh baiklah. Namanya 'Tepuk nya– nyanyuk? Nyanyak? Tepuk apa ya? Aku lupa namanya, hehe," ujar Sakura sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"..."
"Baiklah, baiklah. Kita langsung ke cara mainnya. Jadi pertama kita akan bagi dua kartu ini sampai habis, lalu mulai menghitung dari As sampai joker sambil melemparkan kartu yang kita punya secara berurutan, jika hitungan yang kita sebutkan sama dengan isi kartu yang dilemparkan maka kita harus menepuk kartu itu, yang terakhir menepuk yang kalah dan harus dapat sentilan di dahi, kau mengerti?" jelas Sakura panjang lebar.
Sasuke diam, dahinya berkerut bingung. "Bagaimana kau bisa membaca isi blog anak ini, bukankah dia dari negara lain?"
"Yah, aku menggunakan Google Translete, karena kurasa ceritanya mungkin menarik," ujar Sakura lugas sambil mengangkat bahu.
Sasuke mengagguk, lalu mulai mengocok kartu dan masih dengan wajah datarnya. Tak berapa lama ia pun membagikan kartu tersebut menjadi dua sama banyak. Dan mereka segera memulai permainan untuk menghilangkan rasa bosan yang tengah melanda mereka.
.
.
Sementara itu, mari kita lihat keadaan di luar paviliun. Terlihat sekali para pelayan istana sedang duduk manis dengan baju tradisional Jepang. Temari dan pelayan wanita lainnya masih setia menunggu Sasuke dan Sakura. Mereka bertugas untuk mengawasi kegiatan mereka dan nanti paginya mereka akan memberi laporan kepada Ibu Suri, Raja dan Ratu.
Sudah 1 jam lebih mereka menunggu di luar dan sepertinya beberapa pelayan tersebut sudah mencapai batas kekuatan matanya. Kepala mereka mulai mengangguk-angguk menandakan kalau mereka saat ini sudah sangat mengantuk sekali. Mengingat sedari tadi mereka tidak melakukan apa-apa kecuali Temari yang masih sibuk dengan buku laporannya.
"KYAAAAA," tiba-tiba suara Sakura terdengar dari dalam, sontak membuat para pelayan langsung melek kembali dan mencoba untuk menguping keadaan di dalam.
"Jangan di sebelah situ Sasuke, ke kiri sedikit," tutur Sakura dengan suara yang sedikit keras dan tentu saja membuat para pelayan yang di luar gigit jari.
"Kumohon pelan-pelan," pinta Sakura. Para pelayan di luar semakin panas mendengarnya. (Jadi bingung kok malah yang di luar yang panas?)
"Ya aku akan pelan-pelan, tahan sedikit," kali ini suara Sasuke mulai terdengar. Kalimatnya barusan telah sukses membuat para pelayan semakin menempelkan telinganya di pintu paviliun tersebut.
"KYAAAA," teriak Sakura dan sontak membuat penghuni di luar paviliun semakin terkejut.
"Sepertinya Pangeran tidak sejahat yang selama ini ya? Hehehe," tutur salah satu pelayan dengan berbisik diiringi dengan tawa kecil dari pelayan lainnya.
"Kupikir mereka pasti mabuk obat-obatan," tanggap pelayan lainnya.
"Oh ya? Waaaaaahhhh, malam ini pasti malam yang menarik ya?"
"Khukhu, sepertinya begitu," akhirnya para pelayan pun mulai menggosip di luar (mungkin lebih tepatnya nge-bokep? Hehehe)
Sekarang mari kita lirik kembali keadaan di dalam paviliun.
.
.
"KYAAAAA," teriak Sakura sambil menutup matanya tepat saat Sasuke baru meletakkan tangannya di depan dahi Sakura.
"Kau ini, padahal aku belum melakukan apa-apa kau sudah berteriak," umpat Sasuke dengan suara kecil sehingga hanya Sakura yang bisa mendengarnya dan hanya dibalas oleh Sakura dengan wajah cemberut.
"Jangan di sebelah situ Sasuke, ke kiri sedikit," Sasuke segera menggeser tangannya sesuai dengan perintah Sakura mengingat dahi Sakura sudah dihujani dengan bekas merah yang begitu banyak, salahnya yang sedari tadi selalu kalah dari Sasuke. Bayangkan saja sampai detik ini Sasuke baru kalah 2 kali sementara Sakura sudah kalah 15 kali.
"Kumohon pelan-pelan," pinta Sakura sebelum Sasuke menyentil dahinya yang kesekian kalinya.
"Ya aku akan pelan-pelan, tahan sedikit," tutur Sasuke dengan nada yang sedikit keras karena ia sudah sedikit kesal terhadap Sakura yang banyak permintaan.
Sakura pun menutup matanya siap menerima sentilan dari Sasuke, sementara Sasuke dengan wajah antusias bersiap memberikan sentilan pada dahi Sakura.
CTAK
"KYAAAA," Sakura kembali berteriak tepat setelah Sasuke menyentilnya. Ia segera mengusap-usap dahinya sementara Sasuke hanya duduk memperhatikannya dengan wajah penuh kemenangan.
Permainan pun dimulai kembali, kali ini Sakura sudah bosan dengan kekalahannya sehingga ia akan serius dalam permainan kali ini. Dengan penuh konsentrasi ia memperhatikan kartu-kartu yang keluar dan bersiap untuk menepuknya.
Tepat saat Sasuke mengeluarkan sebuah kartu dan ternyata kartu yang baru saja dikeluarkannya itu sama dengan urutannya. Sakura dengan segera menepuknya dan ternyata Sasuke kurang sigap kali ini, setelah dilihat ternyata jari kelingking Sakura berada di bawah tangan Sasuke yang berarti bahwa Sakura yang memenangkan permainan ini.
Sakura segera menyunggingkan senyum puasnya sementara Sasuke masih menatap tangannya dengan wajah tidak percaya. Akhirnya Sasuke menerima kekalahannya dengan sangat tidak ikhlas.
Sakura dengan antusias bersiap untuk menyentil Sasuke. Tangannya sudah tak sabar memberikan sebuah sentilan yang paling keras untuk membalaskan dendamnya. Dengan segera Sakura menyentil Sasuke.
CETAK
Sasuke hanya meringis setelah menerima sentilan tersebut, mana mungkin ia berteriak layaknya anak perempuan. Sementara Sakura masih tak lepas dari senyum puas dan kemenangannya.
"Aku sudah bosan dengan permainan ini," tutur Sasuke sambil membereskan kartu-kartu yang sedikit berserakan di depannya. Tampaknya ia kesal karena baru saja kalah, mengingat ego seorang Uchiha yang tinggi memang sulit untuk menerima sebuah kekalahan.
"Hey, apa-apaan kau, cepat kembalikan kartuku," bentak Sakura pada Sasuke yang tiba-tiba membereskan kartu-kartu tersebut.
"...,"
"Kau tidak dengar ya? Cepat kembalikan kartuku, aku tahu kau pasti kesal karena tadi kau kalah kan?"
"Tidak, aku hanya bosan dengan permainan ini,"
"Sudah jujur saja, aku tahu itu. Cepat kembalikan kartuku," Sakura berusaha merebut kartu-kartu tersebut dari tangan Sasuke, namun tetap saja Sasuke tidak membiarkan Sakura merebutnya.
"Cepat kembalikan," Sakura segera merangkak maju mendekati Sasuke dan mencoba untuk mengambil kartunya. Akhirnya terjadi peristiwa saling rebut antara pasangan suami istri ini.
Sakura dengan susah payah masih mencoba untuk mengambil kartunya, sementara Sasuke masih berusaha menahan tangan Sakura yang mencoba menggapai tangannya. Dengan keras Sasuke mencoba mendorong Sakura dan ternyata Sakura yang hampir jatuh kebelakang segera memegang kerah baju Sasuke.
BRUAAK
Karena sudah kehilangan keseimbangan, tiba-tiba mereka berdua jatuh. Lebih tepatnya Sakura berada di bawah Sasuke dengan wajah yang hanya berjarak beberapa centi, pandangan mereka pun bertemu, Onyx dan Emerald.
Saat ini Sakura sudah tenggelam jauh di dalam mata onyx sehitam batu obsidian milik Sasuke, memang tidak dapat dipungkiri bahwa onyx tersebut mampu menarik siapapun ke dalamnya. Benar-benar pesona seorang Uchiha tidak dapat dihindari.
Namun kali ini Sasuke juga tidak dapat memungkiri bahwa Emerald tersebut memang sesuatu yang indah. Buktinya detik ini ia sangat tidak bisa memalingkan matanya dari Emerald tersebut. Sepertinya ia sudah terperangkap di dalamnya.
Tanpa sadar Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Sementara Sakura masih diam menatap wajah Sasuke. Wajah mereka pun semakin lama semakin dekat. Dan tindakan tersebut segera disadari Sakura, dengan cepat ia memukul kepala Sasuke dengan tangannya yang bebas.
BLETAAKK
"AAAAkkhh," Sasuke segera bangkit dan memegangi kepalanya yang sakit, ternyata Sakura memukulnya dengan mangkuk kayu yang berada di dekatnya. 'Pantas sakit sekali,' batin Sasuke yang mengetahui hal tersebut.
"Apa yang kau lakukan, hah?" tanya Sakura yang masih mengatur napasnya. Ia panik terhadap apa yang baru saja dilakukan Sasuke padanya.
"Kau gila, apa kau tidak tahu rasanya dipukul dengan benda itu apa?" Sasuke dengan kesal menanggapi Sakura, ia masih memegangi kepalanya yang sakit. Sambil berguling-guling di lantai.
"Kau yang gila, aku ini kan panik," jawab Sakura sambil menunjuk-nunjuk Sasuke yang masih kesakitan.
Ruangan itu pun hanya diisi dengan suara rintihan Sasuke, untuk beberapa saat Sakura sepertinya sibuk mencari sesuatu. Setelah ia menemukan barang yang ia cari ia segera menghampiri Sasuke yang sedang bersender di tembok dan masih memegangi kepalanya.
"Ini, letakkan di kepalamu," Sakura memberikan Sasuke sebuah piring kecil yang terbuat dari alumunium, mengingat ruangan yang dingin maka barang-barang yang terbuat dari besi dan sejenisnya pun otomatis akan ikut menjadi dingin. Lumayan untuk mengompres dalam keadaan darurat seperti ini.
'Ternyata ia tidak begitu bodoh,' batin Sasuke yang sedikit terkejut dengan tindakan Sakura. Dengan segera ia menerima piring tersebut dan meletakkan di atas kepalanya. Memang tidak sedingin es, tapi paling tidak cukup untuk menghentikan pendarahan di kepalanya agar tidak menimbulkan benjolan.
Sakura pun akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Sasuke. Mungkin ia merasa sedikit bersalah dengan tindakannya beberapa saat yang lalu, mungkin seharusnya ia tidak memukul Sasuke dengan mangkuk.
"Maafkan aku tadi," Sakura memulai pembicaraan.
"...,"
"Aku hanya tidak mau melakukannya dengan orang yang tidak mencintaiku," tutur Sakura dengan suara selembut mungkin. Sasuke hanya melihat Sakura dalam diam.
"Kau masih mencintai Ino kan?" tanya Sakura tiba-tiba dan sontak membuat Sasuke sedikit terkejut mendengarnya.
"Jangan pikirkan hal itu," jawab Sasuke singkat. Ia sepertinya sedang tidak mau membahas masalahnya itu. Ia tidak enak hati jika membicarakannya di depan Sakura.
"Apa kau membenciku, Sasuke?"
"...,"
"Aku tahu, sepertinya kehadiranku memang mengganggu hub—"
"Sudah kubilang jangan katakan itu," potong Sasuke sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya. Sakura hanya bisa membelalakan matanya, ia tak tahu kenapa Sasuke kesal jika ia mengatakan kalimat itu. Tapi bukankah memang itu kenyataannya?
Sakura meremas bajunya menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Rasanya dadanya sesak sekali, sebenarnya apa yang Sasuke inginkan. Sebenarnya saat ini apa yang dibenci oleh Sasuke?
Hening beberapa saat, tidak ada salah satu dari mereka yang berniat untuk memulai pembicaraan kembali. Mereka telah tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
.
"Huh kenapa di sini berubah menjadi panas," suara Sakura menginterupsi keheningan. Ia pun segera mengipas-ngipaskan tubuhnya menggunakan kerah bajunya guna mengalihkan pembicaraan.
Entah apa yang ada di pikiran Sasuke, ia yang sedari tadi memperhatikan Sakura tiba-tiba mimik wajahnya berubah tepat saat Sakura mengibaskan kerah bajunya menampilkan lehernya yang putih mulus. Seperti ada yang menari-nari di dalam perut Sasuke, dan tiba-tiba ia juga menjadi panas.
'Sial ini pasti gara-gara obat yang diberikan Kakashi tadi siang,' batin Sasuke. Sepertinya sekarang ia sudah tahu apa sebenarnya obat yang diberikan Kakashi, mengingat memang Sasuke adalah seorang yang pintar.
Berlama-lama dalam posisi itu membuatnya semakin panas, dan tiba-tiba ide gila pun keluar di kepalanya dan langsung saja ia keluarkan lewat mulutnya.
"Sakura, bagaimana kalau kita lakukan apa yang mereka mau?" tanya Sasuke dengan wajah datar namun sebenarnya samar-samar ada semburat tipis di pipi pucatnya. Diikuti dengan Sakura yang blushing mendengarnya.
"Ap-pa maksud-mu?" tanya Sakura dengan gugup. Wajahnya sudah berubah merah seperti buah tomat.
"Mereka bahkan sudah menyiapkan semuanya,"
"Aku kan sudah bilang tadi, aku tidak mau melakukannya dengan orang yang tidak mencintaiku," Sakura sudah mulai kesal dengan Sasuke.
"Kau tidak tahu ya?" tanya Sasuke dengan seringai di wajahnya.
"Apa?" tanya Sakura dengan ketus.
"Pria dan wanita itu berbeda, pria bisa melakukannya dengan wanita mana pun,"
BLUUSSSHHH
"Apa kau bilang?" tanya Sakura dengan nada tak percaya sambil melihat ke arah Sasuke.
"...,"
"Jika kau mendekatiku, aku akan memukulmu lagi, bahkan lebih keras dari yang tadi," tutur Sakura sambil mengacungkan mangkuk kayu yang tadi ia pakai untuk memukul Sasuke.
"Bagaimana kau bisa melakukan itu pada suamimu sendiri?"
"Aku bisa melakukannya pada siapa pun," tuturan Sakura kali ini membuat Sasuke tidak bisa membalasnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk diam dan suasana kembali hening kembali.
.
Setelah beberapa saat sepertinya Sakura sudah mulai mengantuk, mengingat saat ini memang sepertinya sudah lewat tengah malam.
"Lebih baik kita tidur saja, toh malam ini kita memang terkunci di sini," tutur Sakura.
Kemudian ia segera beranjak dari duduknya menuju tempat tidur tipis dengan satu selimut, jika dilihat-lihat tempat tidur ala Jepang itu memang disediakan untuk satu orang.
Belum sempat ia berdiri dengan sempurna, tiba-tiba tangannya ditarik oleh tangan Sasuke. Ia pun segera kehilangan keseimbangannya dan jatuh di depan Sasuke.
Belum sempat ia mengeluarkan suara, mulutnya sudah terlebih dahulu dikunci oleh sesuatu yang lembut. Kepalanya ditahan oleh tangan Sasuke yang lain.
Dengan cepat Sakura membelalakkan matanya mengetahui apa yang sedang terjadi. Di hadapannya terlihat wajah putih pucat dengan mata tertutup yang sudah tak asing lagi. Bibirnya pun merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sebuah sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Jarak diantara mereka pun sudah tidak ada lagi. Bibirnya masih menyatu dengan bibir pemilik wajah pucat nan tampan tersebut.
'Dia menciumku?'
.
To Be Continue
Haloooo para readers setia, hehe maaf jika ceritanya tidak sesuai yang diharapkan. Sumpah kami ga berani bikin Rate-M. Jadi cukup di rate ini aja, malah mungkin kayaknya yang ini Semi-M ya? Hehehehe...
Maaf juga kalo masih ada miss typo di sini, tapi kami udah berusaha semaksimal mungkin kok.. Dan maaf kalo ada kata-kata yang kurang berkenan dan kata-kata yang ancur..
Untuk chapter depan kami tak tahu kapan bisa update, mengingat sekarang kami udah kelas 9 *bangga, hehehe jadi Gomen banget ya.. Tapi kami usahakan masih tetep update lagi kok..
Makasih banget yang udah merelakan sedikit waktunya untuk membaca cerita aneh bin GaJe ini *plaaakkk dan makasih juga yang udah ngasih review, terima kasih buat kritik dan sarannya..
Special thanks for:
Tomoko Kunogami : Ino nya terlalu bashing yah? Wahduh padahal kami ga bermaksud begitu kok, maafkan kami *digebukin Ino FC.. Makasih buat kritiknya ya, dan jangan lupa tetep review dan baca lagi
Just Ana : Yap emang agak mirip sama aslinya kalo yang chap ini, habis kami ngerasa kayaknya susah diubah, dan emang so sweet banget pas mereka di dalem berdua.. Gomen kalo mirip banget, hehehe
lawranakaido : oke deh nanti akan diusahakan kalo akhirannya punya bayi, tapi masalah ehem-ehem nya sepertinya tidak sekarang ya, masih ada banyak waktu di depan, hehehe.. Review lagi ya!
uchiha ney-chan : kok bisa sampe nangis sih? aduuh aku juga sampe terharu jadinya, hiks hiks.. Makasih banget udah review ya, dan jangan lupa review lagi..
Kazuki Namikaze, Ichi yuka, Airhy santi, viechan, riachan-uciha, ss holic, laluna, via-princezz, ichi yuka, Violet-Yukko, lovestar96, 4ntk4-ch4n, haruno gemini-chan, uchihaiykha, Kikyo Fujikazu, Tachi Edogawa, kyu m, princess 2, natsume, mikan, kimimaru k, chibi uca, mikan, Matsumoto Rika, Himawari Edogawa, ChickenBlossomchan, Leader Kimmi, halspen1-24, agnes BigBang.
Dan juga silent readers! Tapi usahain review ya.. *maksa
.
R
E
V
I
E
W
PLEASE!
